Suara Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Suara. Here they are! All 200 of them:

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.
Pramoedya Ananta Toer
Apa yang kau tangkap dari suara hujan Dari daun-daun bugenvil yang teratur mengetuk jendel. Apakah yang kau tangkap dari bau tanah Dari ricik air yang turun di selokan
Sapardi Djoko Damono
Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi
Tan Malaka
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan di sana bersemayam kemerdekaan apabila engkau memaksa diam aku siapkan untukmu: pemberontakan!
Wiji Thukul
Panggilan 'ayah' dari anak-anak, ketika si buruh pulang dari pekerjaannya, adalah ubat duka dari dampratan majikan di kantor. Suara 'ayah' dari anak-anak yang berdiri di pintu, itulah yang menyebabkan telinga menjadi tebal, walaupun gaji kecil. Suara 'ayah' dari anak-anak, itulah urat tunggang dan pucuk bulat bagi peripenghidupan manusia.
Hamka (Cermin Penghidupan)
Dalam diammu, aku mendengar banyak suara,. Diammu berkata-kata
Dee Lestari (Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade)
Mendengar adalah bukan tentang menangkap suara-suara dengan telingamu, lebih dari itu, mendengar adalah menangkap sesuatu -di-balik-suara--sesuatu yang kadang-kadang tak bisa benar-benar ditangkap oleh mereka yang mampu mendengar suara-suara secara sempurna.
Fahd Pahdepie (Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan)
Dalam Doaku Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku Aku mencintaimu.. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu (1989)
Sapardi Djoko Damono
Doa memerlukan hati, bukan suara. Tanpa hati, kata-kata tidak berarti.
Mahatma Gandhi
Orang yang cemburu sepertiku, jika bercermin membelah cermin. Jika Pemilu-menjual suara. Jika tak punya uang-jadi penipu. Jika punya uang-jadi rentenir. Jika menjadi supporter-menyalah-nyalahkan wasit. Jika mencintai-menyakiti. Jika menjadi politisi-korupsi.
Andrea Hirata (Padang Bulan)
belajarlah dalam kesabaran Ayub berjalanlah bersama keberanian Ibrahim bacalah semesta melalui kecerdasan Sulaiman taklukkan angkuh dunia dengan ketangguhan Musa himpunlah semua kebijaksanaan Yakub katakanlah kebenaran semerdu suara Daud kasihilah sesama sepenuh cinta Isa lalu masukilah kebeningan dirimu bersama ketakwaan Muhammad
Fahd Pahdepie (Perjalanan Rasa)
Selamat datang. Saya sudah menyiapkan semua yang akan Saudara rampas dan musnahkan: kata-kata, suara-suara, atau apa saja yang Saudara takuti tapi sebenarnya tidak saya miliki
Joko Pinurbo (Celana)
Biar bagaimanapun tidak ada yang akan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan, dan itu adalah perasaan sedihnya, bagaimana kita memulai dari awal, dan kemudian mengakhirinya di tempat yang sama.
Pidi Baiq (Milea: Suara Dari Dilan ( Dilan, #3))
Suara, nyanyian, musik, gunung, pantai, langit, padang pasir, laut yang membuat mereka indah sesungguhnya hal yang tidak kelihatan. Matahari juga tak bisa ditatap langsung oleh mata, tetapi yang membuatnya indah bukan hal yang bisa ditatap langsung oleh mata kan? Selalu ada sesuatu. Sesuatu yang misterius tetapi sangat bermakna. Itulah yang harus kau temukan… Keindahan bukanlah yang kau dengar atau lihat. Keindahan adalah yang kau rasakan. Jauh sampai ke dalam hati.
Fahd Pahdepie (Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan)
Karena jika Minggu, akan ada nyanyian yang lebih beda ketimbang hari-hari biasanya. Misalnya saja, jika Senin, suara merdu burung-burung gereja tidak seperti suaranya ketika Minggu. Seakan ada nada tergesa-gesa, di jam kerja dan sibuk itu.
Bagus Dwi Hananto (Minggu)
tak mampukah lagi kita simpankan suara hulurkan tangan gantikan tembok dengan jambatan?
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
Mengapa bulan di jendela makin lama makin redup sinarnya? Karena kehabisan minyak dan energi. Mimpi semakin mahal, hari esok semakin tak terbeli. Di bawah jendela bocah itu sedang suntuk belajar matematika. Ia menangis tanpa suara: butiran bensin meleleh dari kelopak matanya. Bapaknya belum dapat duit buat bayar sekolah. Ibunya terbaring sakit di rumah. Malu pada guru dan teman-temannya, coba ia serahkan tubuhnya ke tali gantungan. Dadah Ayah, dadah Ibu.. Ibucinta terlonjak bangkit dari sakitnya. Diraihnya tubuh kecil itu dan didekapnya. Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kemiskinan kami.
Joko Pinurbo (Kepada Cium)
Aku sedang mendengarkan hujan... Kedengarannya seperti langkah kaki, dan... terdengar seperti jerami yang sedang dijalin menjadi tali...Entah mengapa, untuk suatu alasan suara hujan hari ini begitu mengusik...
Kim Dong Hwa
Merdeka adalah ketika suara nuranimu tak lagi sembunyi.
Helvy Tiana Rosa
Dia yang terlalu tinggi di atas singgasana tidak pernah melihat telapak kakinya. Dia tak pernah ingat, pada tubuhnya ada bagian yang bernama telapak kaki. Pendengarannya tidak untuk menangkap suara dewa, juga tidak suara segala yang di bawah telapak kaki. Ia hanya dengarkan diri sendiri. Suara murid Bapa ini takkan sampai kepadanya. Untuknya yang paling tepat hanya dijolok.
Pramoedya Ananta Toer (Arok dedes)
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin. (66)
Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)
Aku ingat, aku pernah bilang kepadanya jika ada yang menyakitinya, maka orang itu akan hilang. Jika orang itu adalah aku, maka aku pun harus hilang.
Pidi Baiq (Milea: Suara Dari Dilan ( Dilan, #3))
Tanda seorang mengalami sakit jiwa ialah apabila dia lebih mempercayai kata orang lain daripada suara hatinya sendiri
Ibn Qayyim Al-Jawaziyya
Keramaian adalah dengung yang semakin didengarkan justru membuatmu kesepian. Orang-orang terus bicara; berbagai jenis suara berlintasan hingga telingamu penuh tetapi kepalamu kosong. Tidak mengerti apa-apa, bukan bagian dari apa-apa.
Sabda Armandio (Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)
Prasangka memang selalu akan menjadi beban yang membingungkan dan mengancam masa depan untuk membuat semuanya berjalan kacau
Pidi Baiq (Milea: Suara Dari Dilan ( Dilan, #3))
Di negeri yang keranjingan simbol ini prinsip dan identitas sering berarti bendera berwarna, spanduk atawa pengeras suara
I. Bambang Sugiharto
Suara, bahkan risalah protes yang keras, seperti halnya sastra, tak pernah cukup kuat dan cukup padu untuk mengubah dunia.
Goenawan Mohamad (Catatan Pinggir 5)
Suara hati adalah bisikan lembut Tuhan kepada manusia.
Edward Young
Ini cuma sebuah laku bacalah, bukan bacakanlah. Bacalah adalah serupa bisikan, serupa gerimis hujan, desir angin, desir lokan, atau gemerisik dedaunan. Bacakanlah bagai teriakan, berpengeras suara bergema kemana-mana. Sebab bisikan lebih menggoda lebih menjamah lebih menggugah daripada teriakan. Sebab bisikan selalu jatuh lembut di telinga, tak seperti teriak yang menghantam pekak. Hanya membaca. Sebuah laku pribadi, hening sendiri, hanya dalam hati, sunyi tanpa bunyi. Ketika hanya ada satu benak yang menari dengan benak lain (malaikat jatuh, malaikat patuh, betapa tipisnya, keduanya hanya membuat manusia teramat manusia). Aku tak peduli, benak mana yang akan berbisik. Aku tak peduli, ada atau tiada makna, terserah saja.
Nukila Amal (Cala Ibi)
Catatan pinggir adalah suara manusia nomadik, yang tak pernah rela dikerangkeng kategori-kategori, apalagi bila kategorisasi itu totaliter dan tak adil. Suara manusia yang senantiasa berada di tepian, yang karenanya selalu peka dan waspada terhadap segala pihak yang tersisihkan.
Goenawan Mohamad (Catatan Pinggir 7)
Berjaga malam kerana mencari ilmu lebih nikmat bagiku daripada kekayaan ....Suara goresan pena di atas kertasku lebih merdu daripada alunan lagu kesamaran, lebih indah daripada tabuhan rebana remaja puteri, sedangkan lembaran tulisanku menebarkan butiran pasir hikmah... -Az-Zamakhsyari
عائض القرني (Lā Tahzan: Jangan Bersedih!)
Suara kebajikan tak akan pernah mampu menyentuh pikiran yang bebal betapa pun keras kebajikan itu berteriak. Tak ada yang mampu membuatnya tersadar, kecuali kesadaran itu tumbuh dengan sendirinya hingga mampu melumerkan kebekuan dalam hatinya dan membuatnya belajar untuk mendengarkan suara orang lain.
Titon Rahmawan
Ia tidak wajib patuh kepada siapapun, siapapun juga, kecuali terhadap suara batinnya, hatinya.
Sulastin Sutrisno (Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya)
Ternyata hal yang paling menakutkan bukanlah suara halilintar, tetapi kebohongan.
Orinthia Lee (Why Always Me?)
Puisi adalah suara sekaligus kaki bagi hati.
Helvy Tiana Rosa
Kalau anda bertekad untuk tidak mau termangu-mangu dan ragu-ragu lagi saat suara hati anda menyuruh anda untuk bertindak, artinya anda sudah menerima kunci restu.
John Keble
Dibandingkan sesuatu yang cerah, daku lebih menikmati gelap yang ditaburi petir bersama rintiknya hujan, juga gemuruhnya suara sambaran petir yang seketika memecah heningnya malam yang dingin krutuk trughh... ngantukku pun terbangun
Manhalawa
Saatnya angin berbau asin datang dari laut. Hari ini, aku akan bermain gekkin untukmu. Suara denting senar melebur bersama udara, meresap dalam panca indera. Terlihat seperti wewangian apakah nada-nada ini... Dengan terlahirnya lagu ini, keberadaanmu mendapatkan makna baru. Kalau bersedia, bernyanyilah bersamaku. Masih ada waktu sebelum gelap. Waktu yang paling indah.
Hitoshi Ashinano (ヨコハマ買い出し紀行 4 [Yokohama Kaidashi Kikou 4])
Salah satu bentuk ketidakjelasan berkomunikasi yang paling sering terjadi adalah penggunaan kata pengondisian, seperti “mungkin”, “cukup”, atau “lumayan.” Apakah “cukup bagus” berarti “bagus” atau “jelek”? Bagaimana juga dengan “cukup lumayan”? Saat pikiran tidak bisa memahami apa yang diucapkan, ucapan cuma sekadar suara
Rene Suhardono
suatu hari jika aku tak lagi ada maka ikutilah iring-iringan angin yang mengantar kepergianku, Azzahra padanya telah kutitip alamat kepulangan sebuah perjalanan tanpa muara juga suara lengking pilu jiwa yang mendendam diburu maut dibelakang sudut kamar sepi, suatu hari
firman nofeki
Octavian menjerit-jerit dengan suara melengking—mungkin memerintakan Kohort I agar bertahan dengan gagah, mungkin sedang mencoba menyanyi sopran—tapi Percy menghentikannya.
Rick Riordan
Dengan suara tidak sembarangan dia berkata, bahwa setiap orang yang malang harus ditolong.
Budi Darma (Rafilus)
Percayalah, ada Tuhan di hatimu yang terdalam. Di sana, tinggal lah suara-suara yang kan menuntunmu pada surga dan kesuksesan. Jangan pernah rela diperdaya oleh keadaan. Jangan pernah menjadi bodoh dan tumbang oleh omongan orang. Temui hatimu. Temui jalan hidupmu.
Lenang Manggala, Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia
Nabi Muhammad SAW dipersetujui sebulat suara oleh semua umat Islam sebagai al-nabi al-ummi, nabi yang buta huruf. Namun demikian, sunnahnya lengkap dengan aphorisme dan tindakan-tindakan yang menguatkan konsep ilmu dalam al-Quran dan menjadi pencetus dan kuasa pendorong bagi pembangunan intelektual dan tamadun masa depan dalam Islam.
Wan Mohd Nor Wan Daud (Konsep Ilmu dalam Islam)
Aku tidak berpura-pura mencintaimu!" suara Rafael meninggi. "Dan Demi Tuhan, aku tidak pernah menuntut maafmu atas dosaku kepadamu. Tidak Elena, aku tidak pernah menuntut maafmu karena aku tidak pantas, karena aku menyadari bahwa aku tak termaafkan!" ~Rafael Alexander
Santhy Agatha
Hayat bahasa di akal bangsanya ajal bahasa di keris bangsanya.
Sahrunizam Abdul Talib (Kumpulan Puisi Suara Bukit kepada Langit)
Finn berpikir, sesekali dalam hidup, seharusnya manusia tak usah dinilai lewat angka-angka. Tidak lewat angka-angka persentase di kertas ujian, angka saldo tabungan, angka timbangan berat badan, angka jumlah likes halaman Facebook, angka perolehan suara pemilwa. Ada hal-hal yang tak bisa diangkakan—hal-hal seperti ini. Manusia tak terbuat dari angka-angka, tetapi kebanyakan mereka lupa. Itu sebabnya hidup kita melelahkan dan kita begitu mudah merasa miskin.
Morra Quatro (What If)
Dia tidak suka melihat ia mabuk. Lewat suara Manusya, Dia menasihati kalau Manusya jauh lebih kelihatan cantik kalau tidak mabuk. Jika Manusya mabuk, mulut Manusya jauh lebih kotor dari Kali Ciliwung. Kelakuan Manusya benar-benar seperti pelacur. Bahkan Dia dengan sangat yakin menganalisa, rasa percaya dirilah yang memicu Manusya untuk selalu minum.
Djenar Maesa Ayu
Kalau saya adalah ini, yang membuat senyummu Maka dia adalah orang lain yang membuat air matamu Jangan marah kepadamu yang sudah membuat lingkungan jadi indah, tentram dan damai. Siapkan Sekarang, kamu ingin siapa yang datang menghiburmu? Kepala sekolah membawa risoles dari kantin? Menteri Pendidikan membawa kunci jawaban? Malaikat membawa buah-buahan dari sorga? Pengusaha Muda membawa yang harum pewangi? Ahli nujum? Tukang Pijit? Tentara? Penari? Atau saya saja yang datang membawa kata-kata pilihan Saya akan senang mengatakannya dan kamu senang Jangan nangis, nanti kamu sakit kepala, Ada yang perlu saya bantu?
Pidi Baiq (Milea: Suara Dari Dilan ( Dilan, #3))
Suara hati memang benar-benar tidak bisa dibohongi.
Cindy Pricilla (Rain in Paris: je vais aimer la pluie...)
Aku sekeping peta yang terhukum aku tanah, sungai, laut, langit, dan udara sekumpulan penyangak menggunting tubuhku hingga kurus dan tirus di satu resolusi.
Sahrunizam Abdul Talib (Kumpulan Puisi Suara Bukit kepada Langit)
bahkan terkadang kita rela mengorbankan suara hati kita demi meraih persetujuan orang lain
Irfan AmaLee (Boleh Dogn Salah)
Aah~ Jadi kau rindu padaku? Hingga tanpa suara kau datang ke mimpiku Mengusikku yang kini tenang untuk kembali merindumu Ah kau..
Isyana G.
banyak yang bisa aku ceritakan tentang diriku. ketika malam mulai merayap menyapu dingin, aku sering berdiam diri menatap langit dari dalam jendela di kamarku sambil berharap ada bayangmu menatapku dan tersenyum. atau ketika ada suara ombak menerjang kakiku, aku selalu menunduk menyadari bahwa aku sedang berjalan sendiri tanpa ada kamu di sebelahku. tapi satu-satunya yang bisa aku ceritakan tentang diriku adalah kehampaan yang menghantuiku ketika menunggumu. semoga kamu tau.
wasiman waz
... orang kinestetis, didominasi perasaan yang halus, mereka senang dengan kata-kata yang ramah dan halus, manja, senang dilindungi, romantis, gampang sedih, gampang gembira, gampang tersinggung, kalau mencari pacar tidak mementingkan tampang dan suara bagus, yang penting kasih sayang. Menurut kami, orang seperti ini tidak cocok kerja di majalah, pasti merepotkan.
Syahmedi Dean (A.M.S.A.T - Apa Maksud Setuang Air Teh)
biarkanlah lolongan anjing anjing itu hilang terkaing-kaing, Tuhan telingaku telah padat dan tersumbat oleh aungan mereka yang serupa percakapan setan-setan sa'at kubuka pintu pagi; jangan lagi ada berita kematian kisahku membangkai dimakan anjing! semoga
firman nofeki
Aku cuma punya satu permohonan... untuk bangun setiap pagi mendengar suara kamu bernafas di telingaku.... Merasakan kedua tanganmu memeluk aku.... dan merasakan getaran detak jantungmu didadaku....Karena aku tau, aku nggak akan pernah ngerasain semua ini sama yang lain
LoveinParisSeason2
Berkali-kali tendangan dan rasa sakit itu datang. Aku memencet telpon di tanganku dan memanggil Petugas Kesehatan. Lima menit kemudian datang sebuah ambulans di atas atap apartemen dan menurunkan sepasang petugas. Tandu yang mereka siapkan sudah akan membawaku pergi tapi kemudian sebuah suara membius kami; membikin kami terdiam beberapa saat dan tak jadi melakukan apapun. Suara yang berasal dari perutku. “Taik, ah! Kami tak ingin keluar,” kata bayi itu. “Bener, taik! Bila kami keluar sekarang, kami akan menyesal karena dunia telah bertambah jelek sejak jaman Masehi musnah,” ujar suara satunya lagi.
Bagus Dwi Hananto (Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita)
Kalau begitu mengapa dia tidak dikurung lama berselang?” “Karena dia memakai topeng?” “Apa maksud anda, Dokter?” “Kita semua memakai topeng, Angeli. Sejak kita meninggalkan masa kanak-kanak, kita sudah diajar untuk menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya. Kita sudah diajar untuk menutup-nutupi kebencian dan ketakutan kita. “ Suara Judd penuh wibawa. “Tapi di bawah tekanan, Don Vinton akan menjatuhkan topeng dan memperlihatkan wajahnya yang telanjang.
Sidney Sheldon (The Naked Face)
Saya malu sekali memikirkan kepentingan pribadi. saya berpikir-pikir dan mengelamun tentang keadaan saya sendiri dan di luar, di sekekliling saya demikian banyaknya orang yang hidup menderita dan sengsara. Seolah-olah udara tiba-tiba bergetar disebabkan oleh suara orang-orang menderita disekeliling saya yang menjerit, mengerang dan mengeluh. Lebih keras lagi dari suara mengerang dan mengeluh terdengar bunyi mendesing dan menderau dalam telinga saya: Bekerja! Bekerja! Bekerja! Berjuanglah membebaskan diri! Baru setelah kamu bekerja membebaskan diri, akan dapatlah kamu menolong orang lain! Bekerja! Suara itu saya dengar terang sekali.
Sulastin Sutrisno (Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya)
Peri kemanusiaan itu roh Maha Agung di muka bumi, dan roh itu menebar getaran cinta kasih dan niat mulia.
Kahlil Gibran
Ia menjalar mencari inang, kadang datang sebagai sepasang mata, sebagai gemuruh suara yang gaduh dalam kepala, atau sekedar berkunjung sebagai kata yang tak sengaja ku eja. (Limbo)
nom de plume
Sebuah kerinduan terdalam ada dalam keheningan.. menatap dalam kesenyapan.. dan menunggu datangnya suara dari hati
Bennyvck
Cinta adalah suara yang bisa kita denger Tanpa harus bicara, Cinta adalah rasa yang mampu kita nikmati tanpa sentuhan
LoveinParisSeason2
Karena hanya sedikit di antara kita yang tidak suka mendengarkan suara kita sendiri.
Multatuli (Max Havelaar, or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company)
Jika para pemberi suara tidak tahu alat terpenting yang dimanfaatkan pemimpin mereka, bisakah bangsa tersebut mengklaim sebagai bangsa yang demokratis?
John Perkins (The Secret History of the American Empire: Economic Hit Men, Jackals & the Truth about Global Corruption)
Suara-suara dari luar membuat kita tuli untuk mendengar suara-suara dari dalam.
Ayu Utami (Maya)
Bukan kata-kata atau pun suara yang terdengar, namun bisikan hati yang mengiringinya,
Sasdanu Priambodo
Ia ketakutan, berlari di selembar kertas dan sembunyi dibalik pena. Tak tereja mata, tak terdengar telingga. Jeritnya lantang tanpa suara.
nom de plume
Di balik demokrasi yang boros dan brutal ada pesta pembagian doa untuk mengenang para petugas yang lembur dan mati di tempat perniagaan suara dengan honor tak seberapa.
Joko Pinurbo (Perjamuan Khong Guan)
bukan hanya suara,ketikan atau ungkapan kesenangan.. Tapi sesuatu yg bisa ditempatkan pada posisi yg sangat benar atau salah tergantung situasi dan subyek/obyek..!!
Dolly Efriandi
Sekarang dia ada suara dengan dapatnya tanda nama tanpa fasih bahasa ibunda Negara kerana lidahnya bahasa bumi dari moyang antarsana menjadi bumiputera kuning juling.
Siti Zainon Ismail (Surat Dari Awan)
Aku berteriak tetapi tak ada suara yang keluar. Suaraku sudah tertinggal dan terkubur dalam makam cita-citaku.
Leila S. Chudori
Fakta tak pernah punya suara keras. Ia tak menggugah air mata. Tetapi jika kita diam, kita ikut menenggelamkannya.
Andi Fitriyanto (Enigmakrostik)
Ia merasakan kulitnya beku oleh AC di ruangan, tapi sebenarnya yang paling membuatnya beku adalah suasana hatinya yang tak menentu. Hati merindu tapi entah pada siapa. Menanti seseorang tapi entah di mana. Inginnya ia menyambut seseorang dengan gempita. Seseorang yang mampu membuat kembali jiwanya bernyanyi. Seseorang yang belum bernama, tapi bayangannya lekat di hati dan ingin segera direngkuhnya. Kali ini, tanpa banyak berpikir dan pertimbangan. Hanya mengikuti suara hati. Sore itu berlalu dengan senyap. Malam menanti dan hati masih terus seorang diri.
Adenita (23 Episentrum)
Kekasihku Kami bertemu lagi di taman. Dulu ia bilang ia yang menciptakan langit biru, tukang susu yang setiap pagi lewat depan rumahku, tukang pos yang tak pernah mampir, anak-anak kecil yang bermain burung dara bersama senja, suara anjing hansip di tengah malam sunyi. Semuanya dari tiada. “Kenapa kita harus melalui hidup ini sendirian?” tanyaku. Ia diam. Padahal biasanya langsung berbicara panjang lebar. “Kamu dan aku. Begini parah kita kesepian.” Aku ingat ceritanya tentang cinta yang tak berbalas, yang ia tanggung selama beribu-ribu tahun. Tentang pengirim pesan yang ditimpuki batu, dan ia yang kesepian di atas gunung. Kakiku mulai kesemutan, dan ia tak juga bicara. “Di gunung, kamu menulis untuk siapa?” Ia tak juga bicara. Langit biru agak berawan hari ini.
Norman Erikson Pasaribu (Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi)
Seperti dinding kamar yang retak dan mulai berlumut, pagar besi yang merapuh oleh noda karat dan daun daun mangga yang luruh di pekarangan rumah, demikianlah kita membaca kehidupan. Begitu banyak kata yang seringkali susah untuk ditafsir seperti "nasib", "kebahagiaan" dan "kesempurnaan". Entah mengapa, Bunda masih berasa gamang saat berjalan di atas tangga batu yang menuju ke ruang tamu di rumah barumu. Serasa mendengar dering suara alarm yang bergelayut di dalam mimpi. Menyibak kabut dan pagi juga. Bukankah kadang kadang kita merasa larut dalam kesunyian, meski riuh jalan raya bersicepat melawan waktu? Meninggalkan jejak langkah dalam segala ketergesaannya. Memaksa kita memungut semua peristiwa yang berhamburan di atas trotoar. Memaksa semua orang menitikkan air mata. Mengapa dalam momen momen serupa itu, kebersamaan dengan orang yang kita cintai justru berasa semakin berarti? Mengapa justru di tengah keramaian, kita bisa merasa begitu kesepian? Begitulah, jarum jam berputar di sepanjang perjalanan berusaha keras mengabadikan semua peristiwa. Mentautkan satu angle dengan angle yang lain, memotret semua kejadian dari mata seekor jengkerik. Menatap tak berkedip gedung gedung megah yang angkuh berdiri, serupa monster monster yang siap merengkuh apa saja; Lautan manusia berjejal keluar dari bandara, kerumunan lalat di atas tumpukan sampah di pasar, kelejat pikiran yang berlari lari mengejar matahari, kebimbangan yang tergugu di pojok terminal, harapan yang terkantuk kantuk di dalam bus kota dan seringai kerinduan akan masa depan yang belum pernah mereka lihat. Apa yang mereka cari? Apa yang mereka kejar, Nak? Sementara ada ribuan etalase dan pintu pintu mall yang terbuka dan tertutup setiap kali. Serupa mulut lapar menganga yang rakus mengunyah dan menelan semua kecemasan dan kegalauan yang bersliweran di balik pendar neon papan reklame. Bagaimanakah mereka -orang orang tanpa identitas ini- bisa menafsirkan takdir, relativitas waktu, dan mungkin juga mimpi?
Titon Rahmawan
Kalau tidak karena namamu Sungguh aku sudah putus asa sebelum kutulis huruf pertama Jika bukan sebab namamu sungguh semua suara akan sarat-sengkarut sebelum huruf pertama kusebut Huruf Cinta--- Mantra Asmara
Usman Arrumy
Haruskah kita melangkah kan kaki di antara nisan yang berbaris. Dan badai musim ini, akan menjadi sesuatu yang janggal. Bayang kan kita lebih tinggi dari gagak yang melambung.. Dan bernapas angkuh layaknya firaun... Tragisnya kita jatuh melesat kebawah bagaikan anak panah. Suara ini tetap bergema!!! . . . .Kita adalah Hati.... Yang tak pernah di beli atau pun tergadaikan oleh dunia. Kita adalah Hati... Yang meredam manis ucapan.... Kita adalah Hati... Yang tak sebanding dengan bangkai munafik... Kita adalah hati..... Dan masa depan mengalir di antara tulang ini Dan kita adalah Hati.. Yang selamanya berdoa . .~andra dobing
andra dobing
Bila benar sweet seventeen itu sakral, maka jelas kali ini aku berharap lebih dengan amat sangat. “Semoga huruf R musnah dari peredaran,” pintaku sepenuh hati dengan suara yang amat pelan. (Dunia Tanpa Huruf R)
Yoza Fitriadi (Dunia Tanpa Huruf R)
dari kelangkang ini, lumut-lumut hijauku menyeruak melilit ikan-ikan kecil burungburung kecil yang tamasya mendekati sihir kata-kataku. inilah kitab suciku! meledak dalam kesintingan! ditelikung cahaya bulan, sendirian di penjara, dingin yang akrab dan suara-suara jauh dan tikus, dan bayangan kematian, tapi lumut-lumut ini menjangkau ke mana-mana, ke bermuda warna-warni di balik celana para lonte yang bersikukuh menahan imannya dibelit cadar kemunafikan! hurah! taik anjing masuk lobang jadah miliknya: oh, cinta yang menipu! bau tahi asu dari desa terjauh di utara sana, telah menghisapku dan perek-perek terus saja dilahirkan tiap detik.
Bagus Dwi Hananto (Dinosaurus Malam Hari)
Membandingkan Lia dengan Cika adalah tindakan yang bodoh. Kebanyakan dari kita yang suka membanding-bandingkan adalah karena dia memiliki perasaan diremehkan atau ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya sendiri.
Pidi Baiq (Milea: Suara Dari Dilan ( Dilan, #3))
Jiwa semuda itu jangan dilukai dengan penderitaan tak perlu, sekalipun cacat ayahnya sendiri. Dia hendaknya tetap mencintai aku dan memandang aku sebagai ayahnya yang mencintainya, tanpa melalui suara dan pandang orang lain.
Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1))
Finn berpikir, sesekali dalam hidup, seharusnya manusia tak usah dinilai lewat angka-angka. Tidak lewat angka-angka persentase di kertas ujian, angka saldo tabungan, angka timbangan berat badan, angka jumlah likes halaman Facebook, angka perolehan suara pemilwa. Ada hal-hal yang tak bisa diangkakan—hal-hal seperti ini. Manusia tak ternyata dari angka-angka, tetapi kebanyakan mereka lupa. Itu sebabnya hidup kita melelahkan dan kita begitu mudah merasa miskin.
Morra Quatro (What If)
Imaji-ku. Cermin dari malam. Sepasang bola mata hitam menyelinap diriku. Terpaan angin menghela pelan menyentuh kulit epidermisku. Kau hinggap dalam ruang-ruang penuh suara dalam bayang dalam cahaya. Kau perpaduan angka-angka, seakan kaulah lakon utama dalam hidup. Memahami garis-garis yang membentuk gerak-gerik bayang. Tindakanmu mengembara di seluruh ruang dan menggapai sel-sel dalam tubuhku yang adalah bintang-bintang yang kemudian menuju padamu – cahayaku.
silviamnque
saat matamu tak bisa melihat, hanya telingamu yang bisa mendengar dan kamu hanya dapat merasakannya... maka gunakanlah mata hatimu... kadang ia tidak dikendalikan oleh akal tapi suara hatimu akan menunjukkan jalannya.. tentu jalan menuju kebaikan...
muthia
Kusimpan semua bunyi dalam sunyi. Biar kaurasa, bahwa diam adalah suara seisi dada. Duka memang bukan perkara mata, tetapi melihat kauberkhianat dengan mesra, mulutku jadi bernafsu untuk bergema, “Manusia yang gemar berdusta, tak ubahnya rongsokan yang bernyawa”. Ke mana angin surga yang kaujejalkan di telingaku dengan penuh asa? Tak lain hanya neraka yang didempul kata-kata. Kaubilang, perasaan bisa habis. Seperti batang rokok yang ludes dikunyah api. Siapa peduli? Nyatanya, dia merekat pada waktu. Dia tidak akan bisa habis. Namun berubah.
Ilham Gunawan
Bagi yang sayang dan menyokong, sumbangan biasa dan sederhana tokoh tersebut akan ditiup ke langit; kelemahan sebesar gunung akan cuba ditutup walau dengan sehelai benang. Bagi yang benci dan menentang tokoh berkenaan pula, sumbangan sebesar gunung akan cuba ditutup, dan kekurangannya - sebagai manusia biasa - akan diperbesarkan; kedua-dua kejahatan ini biasanya dilaksanakan dengan meniup kepolan asap-asap fitnah tentang diri dan keluarga tokoh berkenaan, dan dengan memberikan tempat kepada suara-suara yang berlawanan dengan suara tokoh tersebut.
Wan Mohd Nor Wan Daud
Anak malang itu hanya bisa merayap di lantai seperti ular. Ia hanya bisa mengeluarkan suara mencicit dari leher dan hidungnya, seperti tikus. Hanya itulah yang dapat dilakukannya. Sejak awal kami sudah melihat bahwa si malang yang sengsara itu, yang dilahirkan sebagai idiot, akan meninggal sebagai idiot pula.
Camilo José Cela (The Family of Pascual Duarte)
Tetesan air hujan menyelinap setiap gemiricik di atas atap. Ia patri setiap suara dan bunyi seperti bait-bait dalam puisi, untuk menenangkan dunia tanpa hati yang luka. Ia pasti datang lagi, ketika kota membutuhkannya, ia serahkan hidupnya kepada angin dan musim serupa nasib-nasib yang datang pada pagi ataupun seperti kupu-kupu yang hinggap di jendela.
Musa Rustam (Melukis Asa)
Bahasa pujuk telah mati bahasa rayu telah mati bahasa rintih juga telah mati yang tinggi kini hanyalah bahasa sepanduk di simpang-siur penuh kemuliaan.
Sahrunizam Abdul Talib (Kumpulan Puisi Suara Bukit kepada Langit)
Di negeriku angka dikecilkan oleh besar kepentingan angka dibesarkan oleh kecil keyakinan.
Sahrunizam Abdul Talib (Kumpulan Puisi Suara Bukit kepada Langit)
Pengalaman membenarkan sangkaan biarpun sangkaan sering di kandang salah.
Sahrunizam Abdul Talib (Kumpulan Puisi Suara Bukit kepada Langit)
Aggi mengambil gambar dari hidangan di atas meja; makaroni stroberi, segelas es teh, dan semangkuk buah stroberi segar. Kini dia mendongak. Beralih mencari subjek gambar yang lain. Saat cincin fokus diputar dan patahan gambar menjadi satu, Timur menoleh. Aggi tidak menurunkan kamera. Terus mengintip dari jendela bidik. Timur menggerakkan bibir. Berkata tanpa suara. “Je ... tu ... aime.
Desi Puspitasari (The Strawberry Surprise)
Pahlawan Tak Dikenal Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lengannya memeluk senapan Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu Dia masih sangat muda Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda
Toto Sudarto Bachtiar
terhempas, takluk, digerus dingin angin, suara truk, debu menyelip di mataku betapa dancuk hidup ini! betapa dancuk lonte yang setengah mati kukasihi dan menusukku dari belakang! betapa dancuk Tuhan! bergetar, mabuk bayang-bayang, tuak kegelapan, mabuk keramaian yang kubenci, mengambang, tersesat, terhisap angin, luka menganga, nanah tembaga meleleh dari lutut Apolo emas yang dipenggal sebelum perang meledak; sulap kata-kata Homer dengan mata piceknya. terkutuklah bayangan, pohon-pohon meronta karena tak ada satu pun cuaca baik menawarkan minuman dari langit. aku biarkan itu semua menyalipku, dalam metafora, mata binatang, bibir lebar mirip kemaluan wanita sombong yang merasa imannya takkan tumbang meski dijejali kata-kata jorok nan mesum. bergerak, tenggelam, sinar patah di lingkar air dalam gelas mineral yang kokoh dan kau bilang air abadi dan kau bilang api bisa mati sendiri terkutuklah engkau yang menelan masa laluku dan menghibahkan kehancuran ini lobang nganga di dadaku. oh, kau yang memuntahkan abu tulangku, yang akan tetap kuingat meski Tuhan atau apapun itu menyeretku ke neraka omong kosong di alam kubur dan bertanya bagaimana imanku sebenarnya. oh, terkutuklah engkau!
Bagus Dwi Hananto (Dinosaurus Malam Hari)
Dalam cerpen-cerpennya ini, Puthut harus bergelut imajinasi kolektif dimana keadilan telah dilumpuhkan. Demi pembangunan, demi kedewasaan berbangsa. Demi Peradapan. Imaji kolektif yang tidak lagi mampu membedakan antara yang bohong dan benar, dimana keadilan dibiarkan bergandengan dengan kembar-palsunya, ketidakadilan, mengambang dalam ambiguitas berbahaya. Kalaupun publik masih mampu membedakan, perbedaan itu harus cepat-cepat dipendam di alam bawah sadar. Bingkai “aku” Puthut di samping memberi suara kepada kemurnian pertanyaan belia__yang terlalu sering dianggap gangguan__ menambahkan sesuatu yang barangkali belum tampil dalam penuturan Paramoedya pada awal berdirinya nasion Indonesia, yaitu pergantian generasi dan efek pengaburan konseptual yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun.
Sylvia Tiwon (Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen)
Dan, jujur saja, hidup sendirian membuatku semakin sinting—bicara pada diri sendiri, membaca buku keras-keras di dalam kamar mandi, dan memutar film tanpa menontonnya hanya agar ruangan nggak terasa terlalu sunyi. Aku sudah sampai pada titik di mana aku bosan mendengar suara sendiri. Kalau ada stalker yang ingin bicara kepadaku, aku siap menerimanya, asal dia mengeluarkan suara yang berbeda dariku.
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Jakarta Sebelum Pagi)
Beberapa bulan tinggal di rumah itu, saya tidak pernah mendapat gangguan apa-apa selain serbuan tikus-tikus yang cericitnya membuat keheningan terasa makin menggema sehingga saya bisa dengan tenang menulis novel yang sudah lama saya idam-idamkan. Kecurigaan baru muncul ketika suatu hari saya jatuh sakit. Dalam sakit saya sering mendengar suara orang batuk di kamar mandi, kadang disertai jeritan Sakit Euy!
Joko Pinurbo (Telepon Genggam)
Aku menyebut Thomas laki-laki selai kacang.” “Bagaimana bisa?” “Dia tidak suka stroberi. Dia suka selai kacang. Kamu tahu bagaimana pendapatku mengenai selai kacang?” Timur menggeleng. “Huwek!” Aggi mengernyitkan kening dan mengerutkan ujung hidung. Lalu, dia merendahkan nada suara. “Et alors, les fraises est trop infantile! Je ne l’aime pas! [Jadi, stroberi itu terlalu kekanak-kanakan! Aku tidak suka!]
Desi Puspitasari (The Strawberry Surprise)
Tidak ada sesuatu yang lebih membosankan daripada suara kemakmuran. Desing membosankan suara penyejuk udara atau suara klik yang teredam dari sebuah keyboard tidak bisa mengalahkan suara teriakan para penjaja di pasar terbuka atau suara deru mesin jahit di pabrik. Bahkan lalu lintas negara Dunia Ketiga, dengan simfoni klakson dan lonceng yang berdentang, mengalahkan suara wah yang monoton di sebuah jalan bebas hambatan modern.
Eric Weiner
Dengan kejadian kayak gitu, kok, bisa ngerasa baik, sih, Kang?" "Wa, menurut gue, hidup yang berhasil itu jika kamu bisa bangun di pagi hari, lalu tidur di malam hari, dan di antara kedua hal itu, kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau. Gak peduli apa jabatan kamu, berapa uangmu, selama di antara dua tidur tadi kamu masih bisa bebas melakukan apa saja, itu berarti hidupmu sudah berhasil. Gitu." ucap Dimas menirukan suara Mario Teguh.
Brian Khrisna (Parable)
Setiap pagi, Mama merengkuhnya sambil berbisik di telinga: "Hiduplah Sara. Jangan menyerah" seolah ia tidak saja sedang menyalurkan suaranya pada telinga itu, tapi juga jiwanya. Ia menjadi litani yang berulang tanpa henti Hiduplah, Sara. Hiduplah... Namun suara-suara lain yang hidup. Kokok ayam, adzan menggelegar, disusul dengan gesekan sepatu di aspal, motor dan klaksin yang bertambah keras menggantikan litani yang makin sayup dan kemudian lenyap.
Soe Tjen Marching
SUNYI menjelang tengah malam sehabis gerimis perempuan itu menelusuri lorong sunyi angin malam menemaninya di jalanan basah menyibak nakal rambutnya yang panjang menebar rasa dingin di sekujur tubuhnya ah, hanya angin yang menemani sunyinya ada warna-warni lampu jalan ada dentuman suara musik terdengar ada gelak tawa orang di pinggir jalan ada kepulan asap rokok menghangatkan malam tetapi dia dipeluk dan diperkosa sunyi tak kuasa meronta melepaskan diri tak ada yang tahu suara hatinya batinnya menangis! hidup ini tidak adil! kebenaran dibungkam! kezaliman meraja-lela! orang munafik bebas tertawa! apakah dewi keadilan berselingkuh dengan bandit jalanan? apakah dewi cinta berselingkuh dengan penjahat malam? jangan-jangan kebenaran itu hanya impian keadilan itu hanya utopia cinta hanya khayalan dengan mata terpejam dia bertanya mengapa keadilan selalu ada di jalan sunyi? (jakarta – 19/12/2015)
Riri Satria (Jendela, Kumpulan Puisi)
Percaya sama Saya, Allah itu dzat yang paling awal yang berharap hamba-Nya melek literasi. Al Amin ﷺ adalah generasi 'ummi dari kota tua di lembah Bakkah, namun Jibril عليه السلام justru membawa kata pertama Iqra'. Coba kita liarkan sedikit imaji kita di dalam kegelapan gua, yang Nabi ﷺ gemetar oleh suara Jibril. Jangankan membaca buku, buku-buku jari saja tak nampak, pekat. Lalu Allah berfirman, "Iqra'!" Saya yakin pembaca pasti kritis, "kan, ada Jibril yang bercahaya." Oke, tapi biarkan semua pertanyaan yang terlintas tentang kata pertama untuk tafakur nanti. Karena ada kata yang lebih mengena lagi yang dibacakan oleh Penghulu Malaikat saat itu. Yaitu "Yang mengajarkan (manusia) dengan Pena." Nah, jadi mana yang pertama? Baca dulu atau tulis dulu?! Bagi kita para pembelajar @nulisyuk, tentu yang pertama adalah tulis saja dulu. Ya, kan?! Lalu baca lagi, karena Allah akan mengajar manusia apa yang tidak dia ketahui. Kemudian tulis kembali, dengan pemahaman yang kita dapatkan. Baca ulang, agar Allah menurunkan petunjuk. Tulis ulang, baca-tulis-baca-tulis, sampai kita menjumpai hal yang paling meyakinkan. Yaitu kematian. Hingga saat tiba waktunya kita membaca karya kita nanti, Malaikat mengulurkannya lewat tangan kanan. Bukan di telapak tangan kiri yang terpaksa atau bahkan kita membelakanginya. Sembari berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya.” Begitulah seharusnya kita menulis, jujur oleh gerakan hati. Saya adalah contoh dari jutaan manusia yang pernah bercita-cita untuk hidup dari tulisan. Beroleh bayaran dari coretan pena. Bahkan sempat ikut lomba menulis cerita anak, dengan hadiah kursus kepenulisan. Alhamdulillah, di dalam kemenangan pertama itu Saya tidak menerima uang. Meskipun Saya baru menyadarinya akhir-akhir ini. Janganlah, menulis untuk cari duit dan ketenaran. Seolah-olah Allah telah berbisik seperti itu ketika merobohkan niat Saya untuk menulis waktu yang dulu. Semoga, ketika sekarang kembali menulis bersama #nulisyukbatch6 sudah punya niat kuat yang berbeda. Hanya sebagai wujud rasa syukur atas pembelajaran Tuhan di dunia. Yuk Nulis, karena kita sudah banyak membaca ayat-ayat Allah di keseluruhan hidup kita. Aamiin.
Maykl Bogach
Demokrasi Indonesia, yang banyak disalahpahami di luar negeri kami, didasarkan pada prinsip mufakat, bukan pada jumlah suara. Kami tidak lagi memakai sistem demokrasi Barat ini yang didasarkan atas suara terbanyak, dimana 51 persen suara berhak untuk menang sementara yang 49 persen menggerutu. Sebagaimana yang telah kami alami dengan 40 partai politik, golongan yang tidak puas membalas dengan menghantam lawannya. Ini adalah jalan yang baik bagi suatu bangsa yang masih muda ubtuk menghadapi perkembangannya sendiri. Untuk mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi Indonesi di atas mana Undang-Undang Dasar '45 disusun, aku menyarankan musyawarah untuk mufakat, suatu modus operandi yang asli dari suku-suku bangsa Indonesia. Selama beribu-ribu tahun para kepala desa dari Kepulauan Indonesia menjalankan pemerintahan dengan duduk bersama di sebuah dewan, dimana setiap suku itu mengajukan masalahnya melalui alasan-alasan yang menyakinkan. Setelah itu, salah seorang akan berkata, "Alasan saudara memang baik, tetapi aku tetap berfikir lebih baik begini." Yang lain berkata "Saya tidak sepenuhnya setuju, tapi memang ada beberapa hal yang baik dari pendapat Saudara itu." Musyawarah selanjutnya mengambil dari sini dan sana, itulah akhirnya yang disebut mufakat. Singkat kata, setiap orang menyumbangkan suatu pemikiran. Dalam Demokrasi Terpimpin yang menjadi unsur kunci adalah kepemimpinan. Setelah mendengarkan pandangan umum dan pandangan yang menentang, pemimpun rapat menyimpulkan pokok-pokok yang dibahas menjadi satu keputusan yang disetujui setiap pihak. Tidak ada pihak yang menang secara mutlak dengan menyingkirkan pihak lain. Hanya kepemimpjnan yang kuat yang mampu memadukan keputusan terakhir, kalau tidak demikian sistem ini tidak akan berjalan. Sang Pemimpin, apakah dia seorang kepala desa, apakah dia Bung Karno, ataukah dia seorang menteri yang berwibawa, menggabungkan sejumlah pendapat si anu, ditambah sedikit pendapat si polan, dengan selalu memperhatikan untuk menggabungkan berbagai pendapat yang berlawanan. Kemudian dia menyajikan hasil terakhirnya dan berkata, "Baiklah, Saudara-saudara, beginilah jadinya dan saya harap saudara semua setuju..." Ini tetap demokratis, karena setiap orang memberikan pendapatnya. Mengatakan hal ini sebagai sistem komunistis, jelas sangat menggelikan.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Bukannya Tuhan tidak bicara kepadaku, tetapi akulah yang sudah begitu lama tidak mendengarkan. Aku telah memperbolehkan begitu banyak suara untuk menghalangi perbincangan yang seharusnya aku alami dengan-Nya. Selama ini pikiranku begitu teralihkan selagi Dia mengirim pesan-pesan-Nya.
Oprah Winfrey (The Path Made Clear: Discovering Your Life's Direction and Purpose)
Orang selalu berharap kau melanjutkan hidup secepatnya setelah mengalami kehilangan. Selama beberapa bulan pertama, simpati mencurahimu. Kemudian, pelan-pelan, berkurang, dan suatu hari kau mendapati dirimu sendiri berdiri sendirian di makam, bertanya-tanya kenapa orang lain sudah beralih memedulikan sesuatu yang lain sementara kau masih tetap di sini, tanpa suara masih membawa kesedihan yang sama. Orang jadi bosan dengan dukacitamu. Mereka menginginkan topik baru untuk dibicarakan. Jadi, kau berhenti mengungkitnya karena tidak mau membuat bosan siapa pun.
Marie Lu (Batman: Nightwalker (DC Icons Graphic Novels))
save money, rich
suara bahana
jangan bicara di sini diam atau tidur saja kerana suara adalah kaca yang hanya mencipta luka demi luka — semata luka (kerana suara adalah kaca)
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
Jiwa adalah kesadaran yang menempel dalam keberadaan manusia. Sangat kecil, sangat tersembunyi. Suaranya selalu jernih, tapi lirih tak terdengar. Kesadaran yang lama tak diperhatikan, akhirnya makin bersembunyi, kalah oleh timbunan-timbunan suara luar yang diyakini sebagai kebenaran.
Okky Madasari (Pasung Jiwa)
Kamu boleh ngomong apa saja tentang negeri ini. Tapi kamu tetap hanya ngedumel di pantatmu sendiri. Suara-suaramu hanya menjadi puisi, hanya menjadi esai, hanya menjadi catatan, hanya menjadi slogan, hanya menjadi komentar, hanya menjadi gincu, gula, poster, spanduk, dan tema-tema dalam seminar. Kamu hanya sebuah kunci dari kamar yang selalu tertutup. Dan, kamu begitu bangga karena kamu pikir hanya kamu saja yang mampu untuk membukanya. Kamu silau dan sudah cukup mengalami orgasme karena kekagumanmu pada bayangan yang kamu ciptakan sendiri. Padahal tak ada yang pernah terjadi. Semua mimpi kamu itu bukan pengalaman orang lain, apalagi kenyataan. Terlalu jauh. Kamu bukan idealis, kamu hanya seorang yang melindur. Kamu tersesat, Mala.
Putu Wijaya (Mala: Tetralogi Dangdut)
Air mata adalah kata yang tersisa kalau manusia sudah tidak mampu lagi mengeluarkan suara. - Piring Bahagia Si dan Bi
Dian Pertiwi Josua
Orang-orang terkadang sering lupa seberapa keras volume suara mereka ketika membicarakan orang lain. Orang yang berbicara mungkin berpikir bahwa mereka berbicara dengan suara yang pelan, namun anehnya pembicaraannya akan terdengar di telinga orang lain.
Sohn Won-Pyung (Almond)
Seandainya orang-orang yang hak berbicaranya dirampas dengan alasan, mereka bukan satu-satunya yang tidak bahagia—bisa bersatu dan membuka suara.
Sakae Tsuboi (Dua Belas Pasang Mata)
Ketika Beliau pergi menjauh, menghampiri pintu saya, dapat terlihat sejumlah besar ikan yang berserdawa lebih banyak lagi. Begitu banyak, hingga mereka tidak bisa menahan diri dan meledak menjadi jutaan bintik bercahaya. Buliran kecil cahaya yang keluar dari seluruh tubuh mereka menerpa saya sebelum hilang ke ujung lain luar angkasa untuk menjadi matahari bagi galaksi yang lain. Dan, ketika saya disentuhnya, saya bisa mendengar suara bintang-bintang itu: Suara tawa. Ah, ternyata inilah maksudnya. Beliau senang saya puji. Ikan-ikan berserdawa (sampai meledak, kadang-kadang) ketika Beliau merasa senang. Cahaya-cahaya bintang itu adalah pancaran kebahagiaan Beliau. Saya tidak tahu kalau sesuatu yang begitu ajaib seperti Beliau tetap menginginkan rasa diterima. Mungkin saya dibawa oleh Beliau untuk meyakinkan dirinya bahwa, bahkan benda gembrot tanpa nyawa pun dapat menyukai Beliau dan hasil karyanya.
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Semua Ikan di Langit)
Sore itu mengantarkanku pada hari-hari lalu, saat semua terasa begitu sederhana Percakapan yang mengalir deras, bising klakson yang bersahutan di depan lapas, suara azan yang sesekali terputus saat sang muazzin menarik nafas Alun-alun malam itu masih tak terasa dingin walau hujan tak henti-hentinya mengguyur tubuh Sampai semua kesepian itu memelukku di penghujung jalan memasuki Tarogong rasa dingin terasa menusuk tulang saat melewati jalanan Dangdeur yang gelap Sesekali kulirik percakapan kita dan mencari kehangatan di situ, saat dada mulai remuk oleh rasa kehilangan yang menghantui sepanjang gang Aku benci saat mengingatnya, tak pernah menyadari kata-katamu yang bagai sembilu, menggores luka yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah Tak pernah kurasakan sakit saat itu, dan pikirku, mungkin semua akan baik-baik saja pada akhirnya Tak ada sesuatu yang menanti di ujung jalan itu selain rayuan dan tipuanmu, mengatasnamakan luka seorang wanita Aku tersesat di labirin gelap dengan kaki yang membusuk Dan kau di sana, dalam kehangatan di dalam selimut ranjang dalam pelukan seseorang, mengantarkan huruf-demi huruf, baris-demi-baris, bualan penuh muslihat Aku terlena dalam kehangatan palsu sepanjang tahun-tahun yang kelak akan kau buang dengan sia-sia Aku terlena dalam kata-katamu bahwa aku adalah satu-satunya Namun aku tak punya kuasa untuk memutar waktu, pun tak sanggup membuang semua racun itu yang telah membusukkanku dari dalam Sore ini mengantarkanku pada hari-hari lalu, saat semua terasa begitu sederhana Dan aku membencimu (Untuk Fadila Nazian)
Hurairo-san
Orang yang berakal selalu menyelidiki pendapatnya di dalam suatu perkara yang enak kata nafsunya. Kata Hukama, " Kalau engkau ragu menghadapi suatu perkara, hendaklah dengarkan suara hawa nafsumu. Kalau hawa nafsu suka ke sana, alamat perkara itu tidak baik engkau tempuh. Tetapi kalau hawa nafsu kurang mau, tetapi baik kata akal, alamat itulah yang baik engkau kerjakan".
Hamka (Falsafah Hidup)
Dengarlah anak muda, orang sebenarnya diberi kekuatan oleh Gusti Allah untuk menepis semua hasrat atau dorongan yang sudah diketahui akibat buruknya. Orang juga sudah diberi ati wening, kebeningan hati yang selalu mengajak eling. Ketika kamu melanggar suara kebeningan hatimu sendiri, kamu dibilang orang ora eling, lupa akan kesejatian yang selalu menganjurkan kebaikan bagi dirimu sendiri. Karena lupa akan kebaikan, kamu mendapat kebalikannya, keburukan.
Ahmad Tohari (Bekisar Merah)
Tetapi kami tidak dapat dan tidak mau menurut yang lain, kecuali suara hati kami sendiri.
Sulastin Sutrisno (Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya)
Suatu malam mereka memoleskan diri mereka dari kepala sampai ke ujung kaki dengan selei buah persik dan kemudian saling menjilat tubuh masing-masing seperti anjing lalu melakukan persetubuhan yang gila di atas lantai di beranda dan mereka terbangun karena suara gemuruh semut-semut pemakan daging yang siap melahap mereka hidup-hidup.
Gabriel García Márquez (One Hundred Years of Solitude)
Sampai di Kadıköy, matahari dah hampir terbenam. Langit oren-oren sephia. Dengan latar belakang muzik Turki yang dimainkan oleh seniman jalanan di tepi jeti, diselangi suara penyek burung-burung camar, dan angin Selat Bosphorus bertiup lembut, suasana terasa sangat Istanbul.
Azzah A.R. (Antologi Travelog: Berjalan di Muka Bumi)
Kau hadir ketika malam hampir memeluk senja Bersama bingkisan yang sudah seringkali aku dengar Tetapi nafasmu berbeza Lagu yang kau dendangkan semerdu pernah kudengar dahulu Suara rintik hujan mencumbui malam tanpa jemu Membisik pertama kali di telinga iramanya mengalir Seperti air sungai di syurga permai dan damai.
A.D. Rahman Ahmad
OMBAK - Andai aku dapat lantang berteriak. Sampai suara ini serak. Pun, kau tetap menolak. Bias-bias cahaya berwarna perak. Enggan bergerak. Menyeret kenangan yang menyisakan jejak. Dengan congkak. Di sebrang sana ada pejantan gagak. Tertawa menatap mataku yang bengkak. Tergeletak. Sadari kalah telak.
Karunia Fransiska
Dia punya pantat yang bukan main," lanjut Avenarius tanpa susah-susah memikirkan pertanyaanku. "Ketika masih sekolah dulu, pasti teman-temannya ingin mencubiti pantatnya. Sering kubayangkan dia menjerit dengan suara sopranonya. Suara itu adalah janji manis kebahagiaan di masa depan.
Milan Kundera (Immortality)
Ia bersedia mendengarkan suara pendukungnya daripada memaksa mereka untuk mendengarkannya
Miles Roston (Jejak Pengubah Dunia: Kisah-kisah Inspirasi Para Pahlawan Dunia di Jalan Sunyi)
Aku tidak lagi mahu berdalih untuk tidak memilih kerana berdalih adalah mati sebelum kematian.
Sahrunizam Abdul Talib (Kumpulan Puisi Suara Bukit kepada Langit)
Bahasa itu lembut yang sabar sesekali pedas tersebar tetapi tegas mengajar tangannya memimpin jutaan generasi baharu dari bilik darjah satu ke puncak menara ilmu.
Sahrunizam Abdul Talib (Kumpulan Puisi Suara Bukit kepada Langit)
Pincang langkah pertama barangkali kelemahan pincang berulang lambang kebebalan.
Sahrunizam Abdul Talib (Kumpulan Puisi Suara Bukit kepada Langit)
Semuanya dihadapkan padaku! Aku menjadi pusat dari taufan. Setiap orang datang kepadaku, setiap orang merobek-robek aku. Tidak seorangpun datang kepada Hatta. Atau Syahrir. Atau kepada kalian. Tetapi mereka datang kepadaku. Aku memiliki pemuda di satu pihak, para pemimpin yang lebih tua dipihak lain, pemimpun agama di lain pihak lagi. Hatta menarik aku ke satu jurusan. Syahrir menarik aku ke jurusan lain lagi. Tapi aku harus mengikuti hati nuraniku sendiri. Karena hanya itulah suara yang tenang dan tidak dikuasai oleh perasaan yang semata-mata.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
senja sering berwarna merah merona, itulah sebuah peralihan dalam dekap sang penyair yang melintas dari fajar hari hingga suara jangkring berbunyi dan embun pagi, puisi yang bersiut
Sonny H. Sayangbati
Aduhai! Ayah, mengapa bukan suara hati sendiri yang didengar, dituruti? Mengapa orang lain yang tidak sedikit juga menaruh kasih kepada kami dan tidak pula kami sayangi yang dipanggil membicarakan perkara yang harus diputuskan oleh hati sanubari Ayah sendiri, sedang putusan Ayah sajalah yang kami minta, kami perlukan.
Sulastin Sutrisno (Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya)
Nada rendah dan nada tinggi bergantian menggetarkan tempat tidurnya. Tinggi, menangis, meratap, mendayu-dayu, sampai matanya ikut basah mendengarnya. Matanya terbuka, ia tidak bermimpi. Suara itu benar ada.
Kusumastuti (Denting Lara)
Hati kita selalu tahu apa yang penting. Hati kita tahu caranya memandu kita. Suara hati kita murni dan dapat dipercaya, tetapi tidak pernah berteriak-teriak supaya didengarkan. Suaranya lembut selirih bisikan. Namun, jika kita belajar mendengarkannya, jika kita mau mendengarkannya, kita takkan pernah merasa kehilangan arah.
Alyson Noel (Whisper (Riley Bloom, #4))
bersalah pada manusia seakan meletusnya gunung berapi belerangnya menyala kebiru-biruan memerciki sebuah negeri suara yang terlepas adalah gigi api mengunyah lalang-lalang kering (bersalah)
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
seperti sebuah buku kubuka lembaranmu yang koyak ada kata tak terucapkan ada suara kehilangan bunyi di lipatan matamu (pelacur 4)
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
Tak ada tempat... tak ada suara. Gelandang di tengah malm dan hujan. Kuyup menahan dingin dan sakit. Lalu bertanya "MENGAPA???" #140816
~dRs~
Bukan kata-kata atau pun suara yang terdengar, namun bisikan hati yang mengiringinya.
Sasdanu Priambodo
Gemertak suara hujan menyambutku terbangun dari tidurku minggu pagi ini. Kabut pagi menyelimuti mimpi-mimpi mereka yang masih terlelap.
Eka Awaludin
suara lirih di masjid-masjid-Mu tak semeriah hiburan dan jajanan buka dua puluh empat jam sehari
Ready Susanto (Surat-Surat dari Kota)
Berjalan, berlari, berhenti, menepi.. Pada akhirnya kita hanya mampu tersenyum tanpa kata, tanpa suara, tanpa cerita. Hanya tersenyum, berbicara tanpa suara. Bercerita tanpa kata. Entahlah senyum apa? Mungkin senyuman hampa
Alfisy0107
Perubahan besar dalam hidup hanya bisa terjadi dengan mengecilkan suara dalam diri yang melemahkan, membesarkan hati untuk menguatkan dan membesarkan langkah untuk memajukan.
Zulfikar Fuad
Kenangan punya suara masing-masing. Pada malam hari, sewaktu akan tidur, suara-suara itu tumpang tindih di kepala, berebut minta didengarkan.
Anastasia Ervina (Suara yang Tumbuh)
Ketika kau merasa berada dalam pikiran yang amat gelap, ketika kau merasa benar-benar tak berdaya, sesungguhnya ada tangan-tangan terjulur kepadamu. Tangan pertama mewakili pertolongan Tuhan, dan tangan lainnya mewakili kuasa buruk yang menghendaki kehancuran atas dirimu. Kau dapat mengatakan siapa yang mengajakmu berputus asa serta meyakinkan dirimu bahwa jalan itulah yang terbaik. Jangan ikuti ajakan dari kuasa buruk itu. Lebih baik kaudengarkan suara nuranimu sendiri karena dia dapat melihat jalan yang disukai Tuhan. Turutilah jalan itu, karena bersama Dia segala penderitaan jadi terasa ringan atau bahkan tak ada sama sekali. Kapten Somad.
Ahmad Tohari (Kubah)
Otak manusia memiliki kecenderungan mencari "pola" dan "aturan" sesuai hal-hal yang ada dalam pikirannya. Semakin samar tandanya, seperti suara berisik dalam rekaman, semakin mudah untuk menemukan "pesan rahasia" di dalamnya.
Fahruddin Faiz (Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika: membincang cognitive bias dan logical fallacy)
Sambil menunggu saya bekerja, di ruangan lain, seperti biasa, saya mendengar suara Ainun tidak henti-hentinya mengalunkan bacaan ayat suci Alquran. Karena setiap malam membaca Alquran, maka dalam beberapa hari Ainun bisa khatam.
Bacharuddin Jusuf Habibie (Habibie & Ainun)
Dahulu, saudara-saudaraku orang banyak itu, selalu kubayangkan sebagai pihak yang selalu salah mengerti, salah tafsir, kejam memaksakan kehendak bersama mereka ke atas kemerdekaan pribadiku. Dahulu mereka kuanggap musuh yang harus dijebol, sebagai baksil-baksil yang menodai kemerdekaan hidupku, karena mereka selalu mendahuluiku untuk berpikir. Aku pernah membenci mereka, berusaha dengan licik untuk menimpakan kesalahan kepada mereka. Tetapi malam ini, pada saat mereka juga tidak memperkenankan aku mati, aku sadar. Ya Tuhan. Dengarkanlah suaraku di samping suara kodok dan suara daun cemara itu, aku telah memutuskan untuk kembali kepada mereka. Bukan karena aku merasa kalah, yah katakan kalah juga boleh, tapi terutama karena mereka baru saja mengatakan kepadaku, bahwa mereka bukannya tidak mengerti tingkah lakuku, hanya mereka tidak punya waktu untuk meladeninya, sebab mereka sendiri juga kepepet. Tuhan...
Putu Wijaya (Lho)
Tidak semua orang yang pandai bicara benar-benar percaya diri, tapi semua orang yang percaya diri akan berani menantang rasa takutnya saat harus mengangkat suara.
Cut Vivia Talitha (Confidence in You)
Dalam hidup Mawaddah, kebanyakan perbualan hanya dibuat dalam bentuk tulisan dalam Whatsapp. Apabila semua emosi sudah terbiasa diterjemah ke dalam bentuk tulisan, emosi daripada suara kedengaran terlalu istimewa.
Auni Zainal (Mawaddah Ilmi Ingin Pulang)
Di sela-sela gemuruh fajar, dan suara bising serangga Belenggu itu hancur Hilang sudah duri dalam sepatu, kutukan paling merepotkan “Menunggu
Dimas Aditya
Menerka petunjuk Tuhan dalam hitungan kelopak kembang; Love me Love me not Play dice God does not Tuhan berkawan sepi. Bunga mekar tanpa suara dan cahaya menghangatkan tanpa kata.
Nailal Fahmi (Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan)
kita menjadi kabilah yang diburu dan dijadikan penjahat seperti kaum Musa as oleh agama yang kita pegang dan junjung dengan percaya dijadikan syariat dan jalan kebenaran; cahaya dan penyuluh sedang mereka dengan keangkuhan dan kesombongan Firaun menjulang pedang tajam kebebasan serta tombak kenihilan untuk merobek agama dan kebenaran Tuhan yang kita miliki atas nama hak asasi manusia, kesamarataan dan kebebasan berfikir maka al-Quran mereka jadikan buku dari tangan manusia yang boleh ditafsir akal sesuka hati dan dimaknakan semahunya suara-suara mereka lagi mengatakan bahawa nabi-nabi hanya mitos yang dicipta oleh agama - maksum itu hanya dongeng dan Islam adalah nama yang diberikan warna penuh kelabu untuk dilihat dengan penuh sinis dan prasangka gelap. (Perjalanan 2)
S.M. Zakir (Perjalanan Sang Zaman)
Seiring dengan suara jerit tangis dan rintihan minta tolong yang memudar ditelan badai, kamu melakukan proses ‘deprogramming’, proses yang sama seperti yang dilakukan Ansel Roth kepada seorang mantan anggota kultus dalam film ‘Faults’. Kamu melucuti semua hal tentang mereka yang dahulu hadir dalam realitas kehidupanmu. Kamu adalah orang yang baru, sekarang. Diri esoteric yang tak sabar menjelajah sebuah dunia baru yang tak kalah absurd. And you will live another day..
Ayudhia Virga
Banyak yang berubah setelah kembali. Kasar tapi lemas saat di pegang, jalannya tidak lagi lincah, 3 langkah tertinggal dibelakang. Suaranya pelan hilang ditengah suara anak-anak yang bermain dihalaman rumah. Mengunyah nasipun dua kali lebih lama dari biasanya. Rambut hitamnya hilang, tidak tau siapa yang menukar. Maklum Si tua yang bertambah usia padahal semestinya berkurang,
Nurdin Ferdiansyah
Takada yang salah dengan halnya rumah ibadah, atau apa saja yang ada di dalamnya; suara-suara Takada yang salah dengan halnya agama, bahkan apa saja yang ada di dalamnya; kelompok atau individu Yang salah hanyalah kepentingan.
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
Bersyukurlah, lantunan suara burung kecil di pagi hari. Bersyukurlah, di detik ini susu berbalut kopi masih bisa menemani. Bersyukurlah, hujan turun sewajarnya, menyegarkan si hijau, tidak membanjiri. Bersyukurlah, rasa gundah masih bergejolak, cara agar dapat lebih dekat dengan Ilahi.
Achmad Aditya Avery
Betapa tidak mudahnya memadukan antara demokrasi sebagai proses dengan hasilnya. Pada awalnya, tujuan demokrasi adalah mencari pilihan terbaik di antara yang terburuk: agar suara rakyat menjadi tuan rumah atas kehendaknya sendiri. Asumsinya, suara mayoritas adalah suara terbaik. Karena itu, demokrasi substansial membutuhkan sejumlah syarat; Mulai dari melek politik, sampai kemapanan kebudayaan.
Ilham Gunawan
Sajak rindu bertahan pada ketikan Atau pada suara dan gambar wajahmu Sejak lagu berkisah dalam petikan Not balok berbentuk simbol senyummu
chachacillas
Beruntung, saya tak punya jarum detik yang paling berisik itu. Jarum menit berjalan pelan, apalagi jarum jam. Tinggal diam, suara-suara lain pun jelas sekali.
Henny Triskaidekaman (Cara Berbahagia Tanpa Kepala)
Seekor kelelawar tidak berburu dengan mata, dia mendengar, menggunakan pantulan suara, maka seekor serangga hitam terbang dalam gelap sekalipun dia bisa tahu. Menyambarnya secara akurat tanpa perlu melihat.
Tere Liye (Pergi)
Penulis harus mampu "membaca" bahwa musik bukan melulu perkara teknis (aransemen, komposisi, tata suara, dll), tapi juga sebuah peristiwa budaya atau jaringan artefak sosial.
Idhar Resmadi (Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya)
ia saksikan angin retak di luar jendela sebelum menyatakan ke mana rembuk dingin memintal igau malam lalu hening terkelupas dari jaring-jaring udara sebab suara yang hinggap di ranting hanya pialang menyusup dari tawaran silang dedaunan dan serumpun nasib yang turut gugur
Ibe S. Palogai (Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi)
Alam menjadi inspirasiku pertamaku --dan mempelajari alam adalah hasrat pertamaku-- yang kemudian membuat aku menjadi fisikawan. [...] Kenangan paling intim dari masa kecilku adalah tentang pemandangan, suara, rasa, dan bau hutan-hutan Himalaya tempat aku bertumbuh; bagiku mereka adalah buaian fisik dan intelektualku. (p. 2)
Vandana Shiva (Terra Viva : My Life in a Biodiversity of Movements)
Setiap bagian dari tubuhmu adalah sistem yang sedang menuju kehancuran. Tidak peduli seberapa sehat kamu hari ini, tidak peduli seberapa keras kamu merawatnya, tubuhmu perlahan tapi pasti sedang menuju titik di mana semuanya berhenti bekerja. Otakmu, pusat kesadaran yang kamu anggap sebagai identitasmu, hanyalah jaringan listrik dan reaksi kimia yang semakin hari semakin melemah. Neuron-neuron yang dulu tajam kini mulai kehilangan efisiensinya. Memori yang kamu anggap abadi akan pudar, sampai akhirnya kamu tidak lagi mengenali dirimu sendiri. Saat otakmu mati, semua yang pernah kamu rasakan, pikirkan, dan impikan akan lenyap—seolah tidak pernah ada. Jantungmu, mesin biologis yang tanpa lelah memompa darah ke seluruh tubuh, perlahan akan melemah. Dinding pembuluh darah yang dulu fleksibel kini menebal, aliran darahmu melambat, dan suatu hari, denyut yang selama ini kau anggap biasa akan berhenti selamanya. Tanpa suara, tanpa peringatan, hanya sebuah akhir yang tak bisa dihindari. Paru-parumu, organ yang menghidupimu dengan udara, juga tidak luput dari hukum entropi. Seiring waktu, elastisitasnya berkurang, kapasitasnya menurun, dan perlahan tapi pasti, setiap tarikan napas menjadi pengingat bahwa kamu semakin dekat dengan kesudahan. Tulang dan ototmu, yang dulu kuat dan penuh tenaga, kini menjadi rapuh. Setiap gerakan mulai terasa berat, persendianmu mulai berderit seperti mesin tua yang kehilangan pelumasnya. Tidak peduli seberapa keras kamu berolahraga, tidak peduli seberapa banyak vitamin yang kamu konsumsi—semuanya hanya menunda yang tak terelakkan. Kulitmu, yang dulu kencang dan segar, mulai mengendur, penuh garis-garis halus yang mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berhenti. Luka yang dulu sembuh dalam hitungan hari kini butuh waktu lebih lama, sampai akhirnya tubuhmu tidak lagi bisa memperbaiki dirinya sendiri. Di dalam dirimu, sel-selmu, yang pernah beregenerasi dengan sempurna, mulai melakukan kesalahan. Mutasi kecil yang tidak terlihat mulai menumpuk. Sistem yang dulu berjalan mulus mulai kehilangan keseimbangan. Pada akhirnya, tubuhmu sendiri akan menjadi musuhnya, membiarkan entropi mengambil alih dan membawa semuanya menuju kehancuran yang pasti. Ini bukan spekulasi, ini adalah fakta. Entropi tidak peduli seberapa keras kamu mencoba melawan. Tidak ada teknologi, tidak ada ilmu, tidak ada doa yang bisa menghentikan proses ini. Pada akhirnya, tubuhmu akan kembali ke tanah, menjadi debu, menyatu dengan sistem yang lebih besar—sama seperti jutaan makhluk lain yang telah lenyap sebelum kamu. Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah: apakah kamu akan menjalani hidupmu dengan menyadari kepastian ini, atau terus bersembunyi dalam ilusi bahwa kamu bisa menghindarinya?
Vergi Crush
Bahkan malaikat pun akan tersenyum—bukan karena mereka menghakimi, tapi karena akhirnya ada satu manusia yang benar-benar mengerti: bahwa kebebasan sejati dimulai ketika kau berhenti peduli pada suara-suara yang tidak berarti.
Vergi Crush
Menjadi Tua vs Muda Selamanya Ada sebuah lagu yang dulu sering kita dengar, sebuah nyanyian abadi tentang kerinduan manusia: keinginan untuk tetap muda selamanya. Selamanya cantik, selamanya kuat. Kita menyanyikannya dengan penuh semangat, seolah hidup bisa berhenti pada satu titik di mana segalanya masih terasa indah. Tapi waktu pasti berlalu, tak pernah bisa ditawar tak pernah bisa diganggu. Ia seperti arus sungai yang menyeret kita perlahan menuju laut. Keriput muncul tanpa permisi, gigi tiba-tiba tanggal sendiri, rambut memutih, punggung bungkuk berasa nyeri. Tubuh yang dulu perkasa menyerah kalah pada sendi yang berderit seperti engsel pintu kurang minyak, mata yang dulu tajam mulai mengabur, ingatan yang dulu terang mulai berkabut. Menjadi tua adalah pelan-pelan menjadi pohon yang kehilangan daunnya—satu per satu gugur ke tanah, tanpa bisa menahan angin. Rambut memutih bukan hanya tanda waktu, melainkan salju yang diam-diam turun di atas kepala. Kulit keriput adalah peta retakan bumi, menandai gempa-gempa kecil yang pernah terjadi: cinta yang bertepuk sebelah tangan, kehilangan yang menyakitkan. Menjadi tua kadang seperti sungai mengalir kembali ke pangkuan bumi—bukan karena ingin, tapi karena tubuh memaksa demikian. Kita tak bisa terus-terusan berjalan menentang angin melawan kodrat. Tangan yang dulu menggenggam dunia, kini gemetar hanya untuk meraih segelas air. Kaki yang dulu tegak menjejak lantai, kini tersandung karpet di ruang tamu. Mata yang dulu berkilat penuh ambisi, kini berair tanpa sebab, seolah meneteskan kesedihan yang tak sanggup terucap. Orang bilang, masa tua adalah anugerah. Tapi di sela doa panjang dan pujian syukur, ada luka diam yang tak tersampaikan: rasa ditinggalkan, dilupakan, bahkan dianggap beban. Seperti lilin yang perlahan habis, ia tetap menerangi, namun nyala kecilnya sering tak lagi berarti. Ada yang berjuang mati-matian mempertahankan wajah mudanya dengan segala cara: operasi plastik, krim pemutih, suntikan botox, bahkan polesan ilusi digital. Seolah ketakutan pada keriput lebih besar daripada ketakutan pada kehilangan jiwa dan akal sehat. Namun sungguh, waktu tak bisa ditipu—ia adalah pedang tak kasatmata yang terus menggores, menghujam, mengingatkan kita bahwa keabadian hanyalah mitos dalam lagu dan doa. Tua adalah penantian yang sepi dan menggetarkan hati: menunggu suara pintu dibuka cucu kesayangan, menunggu kabar telepon yang jarang berdering, menunggu tubuh ini menyerah pada bayang penyakit yang mendera. Dan pada akhirnya, menunggu saat di mana semua luka akan dihapuskan oleh timbunan tanah. Ironi yang pahit dan menohok ulu hati: dulu kita ingin cepat dewasa, kini kita takut menjadi tua. Dan saat akhirnya tua itu datang tanpa diundang, hidup terasa seperti lingkaran aneh: perlahan kita kembali menjadi anak kecil lagi. Butuh dituntun, butuh ditemani, butuh dijaga. Tapi kali ini, tak ada lagi masa depan panjang yang girang menanti yang ada hanyalah penantian akan sebuah perpisahan yang berasa menyedihkan. Dan ketika semua gemerlap memudar, barulah kita sadari: menjadi muda selamanya hanyalah ilusi. Yang abadi bukanlah tubuh kita, melainkan jejak kebaikan, cinta yang kita tinggalkan, cerita yang kita wariskan. Menjadi tua itu getir, memang. Tapi menjadi tua tanpa pernah benar-benar hidup, tak punya makna, itulah tragedi yang sesungguhnya. Mungkin kita tak bisa memilih untuk selamanya muda, tapi kita bisa memilih untuk tetap hidup dengan hati yang selamanya muda: tetap belajar, tetap mencintai, tetap memberi arti pada hidup, pada sesama. Karena tubuh akan mulai rapuh, tapi jiwa yang penuh kasih dan empati—akan selamanya abadi. Surakarta, September 2025
Titon Rahmawan
Politik Identitas: Opera Tanpa Kepedulian Kita hidup di zaman ketika suara rakyat hanyalah gema kosong yang dipakai untuk meramaikan panggung hiburan, lalu dilupakan begitu lampu kamera padam. Politik telah berubah menjadi pasar malam, sebuah sandiwara: penuh warna, penuh janji, penuh tawa usang—tapi ketika siang datang, yang tersisa hanyalah bungkus kotoran sampah berserakan. Identitas dijadikan komoditas, bukan lagi jati diri. Agama, suku, bahkan luka sejarah—semua bisa diperdagangkan. Kita dipecah-belah, bukan untuk menguatkan, melainkan agar lebih mudah dikendalikan. Di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota, orang berdemonstrasi membakar ban merusak pembatas jalan, pengemudi ojol tewas digilas roda gila tanpa perasaan. Sementara itu, mata dari sebagian kita lebih sering menatap layar handphone daripada wajah sesama. Kepedulian direduksi menjadi like dan komentar basa-basi; simpati tak lebih dari emoji menangis di media sosial. Apakah ini pergeseran nilai, ataukah cermin lama yang baru saja kita sadari keberadaannya? Bangsa yang terlalu lama dijajah, dikebiri, dibungkam. Dan ketika akhirnya bisa bersuara, Ia kemudian memilih berteriak saling caci—bukan merangkul, bukan mendengar. Seperti kuda liar yang lepas kendali, kita berpacu kencang tanpa arah, hanya untuk menabrak seorang nenek tua yang menggandeng bocah di persimpangan jalan. Ironi itu telanjang di depan mata: Setiap hari kita dengar obrolan di warung kopi, orang bercakap tentang negeri ini dengan gelak tawa, nyengir tapi getir: “Negeri Konoha,” begitu katanya— sebuah olok-olok yang lebih populer dari semboyan resmi negara. Di negeri ini, pejabat berdasi bebas menari di ruang sidang, membagi proyek seperti kue ulang tahun yang dengan rakus mereka nikmati sendiri. Inilah negeri para koruptor, negeri para selebritas bermuka dua yang menghisap darah rakyat sambil berkhutbah moralitas di televisi. Kita hidup di tengah paradoks yang nyata-nyata menjijikkan—yang miskin disuruh tabah, kalangan menengah ditekan habis-habisan, sementara yang kaya tersenyum gembira di tengah pesta sambil menepuk bahu kolega— “Bertahanlah terus di atas, Kawan. rakyat tak akan sadar, selama kita beri mereka lebih banyak drama.” Anak muda dijejali mimpi instan: menjadi kaya tanpa kerja, terkenal tanpa karya, berkuasa tanpa tanggung jawab. Flexing jadi ideologi baru; mobil mewah dan tas bermerek lebih dihargai daripada kejujuran dan keberanian. Dan kita pun bertanya dalam hati: Apakah ini konspirasi yang diciptakan agar jarak semakin lebar? Yang miskin tetap menunduk lapar, yang kelas menengah diperas hingga kehabisan napas, dan yang di atas terus berpesta pora dengan tawa penuh tegukan brandy dan separuh ilusi. Seakan kepedulian adalah bantuan sosial yang hanya bisa dipamerkan saat kampanye, bukan dipraktikkan sehari-hari. Namun, di sela semua absurditas itu, masih ada hal-hal kecil yang menolak mati: Seseorang yang diam-diam membagi nasi bungkus kepada para tetangga, seorang guru desa yang terus mengajar meski gajinya telat berbulan-bulan, seorang anak muda yang memilih menanam pohon daripada menanam kebencian. Barangkali inilah yang tersisa dari kepedulian itu: kecil, lirih nyaris tak terdengar, tapi tetap menolak untuk padam. Dan mungkin, harapan kita sebagai bangsa terletak pada bara kecil yang terus menyala—bukan pada gedung megah parlemen, bukan pada wajah keren yang terpampang di baliho, melainkan pada kesediaan hati yang masih mau peduli, meski dunia terus berusaha mengajarkan kita untuk makin acuh tak acuh. Hati yang terusik saat dipaksa kembali pada pertanyaan purba: Apakah kepedulian bisa hidup di tengah hutan kepentingan? Atau hanya tinggal sebagai dongeng usang, yang kelak kita bacakan kepada anak cucu tentang negeri yang konon pernah punya hati, sebelum kemudian, ia digadaikan kepada para penjual janji? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
Tirai PVC Curtain dari HILDAN SAFETY berfungsi sebagai sekat fleksibel untuk ruang industri, pabrik, dan gudang. Produk ini efektif meredam debu, suara, dan suhu. Dengan pengalaman sejak 2011, kami pastikan pelayanan profesional, kualitas terbaik, dan jangkauan pengiriman nasional.
Hildan Safety
*Kenangan Dari Koridor Rindu* Dulu, di bangku ingatan Ada sepasang tangan saling menggenggam harapan. Angan yang berlompatan serupa putih debu kapur di atas papan tulis. Mimpiku, mimpimu bertemu Di dalam lembar-lembar buku. Langkah yang berjalan tergesa sepanjang lorong penghubung waktu. Dari perpustakaan dan ruang-ruang kelas, hingga kantin, uks dan ruang guru. Canda dan tawa kita bergema sepanjang koridor rindu. Ada kebahagiaan tertinggal di sana seperti hendak kembali padamu. Ada goresan sejarah yang kita tulis, Romansa percintaan purba menyisakan ratap tangis. Kisah cinta yang berakhir tragis: Marie Josephine dan Raja Louis. Kenangan yang akrab menyapa kita, lewat tutur kata pak guru tua tegak berdiri di depan kelas dengan penuh wibawa. Ada juga kisah lain yang kita baca: sebuah penghargaan tanda cinta piala citra untuk pelajaran fisika. Semua yang menempa kita demi mengejar mimpi: Pelajaran matematika yang kau benci, Atau guru biologi tampan yang diam-diam kau kagumi. Apa yang masih tertinggal dari senyum bapak dan ibu guru Suara yang akrab menyapa kita dari masa lalu. Ingatan yang selamanya belia menolak menjadi tua. Puisi yang tak akan lekang oleh matahari garang di tanah lapang. Sebuah ode pujian yang kita nyanyikan dengan khidmat: "Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru... Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..." Sekiranya saja, masih cukup waktu kita, untuk menyapa mereka hari ini. Para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tak terkira banyaknya hutang rasa yang tersimpan di dada. Rasa terima kasih dan ucapan syukur yang tulus terulur dari lubuk sanubari; Untuk setiap ilmu yang mereka beri, setiap pengetahuan yang mereka bagi, biarlah doa jadi persembahan suci: Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberkahi bapak-ibu guru yang kita cintai. Oktober 2025
Titon Rahmawan
CHARLIE II (METAMORPHIC VERSION) Ia muncul bukan dari layar, melainkan dari sela-sela gelap di antara kedipan mata kita— tempat pikiran gagal memutuskan siapa sedang menatap siapa. Tubuh kecil itu kembali, bukan sebagai gelandangan komikal, melainkan sebagai pertapa abstrak yang menertawakan seluruh peradaban tanpa membuka bibir. Setiap langkahnya adalah mantra yang salah dieja, menggoyang panggung dengan gerak paling canggung; jatuh-bangun yang kita sebut komedi, padahal itu adalah cara semesta menunjukkan betapa rapuhnya kita: para penonton yang ingin percaya hidup adalah aliran peristiwa yang patut dirayakan layaknya pesta. Ia tidak sedang berjalan. Ia sedang menghapus ingatan sedikit demi sedikit—perlahan-lahan seperti seluloid yang terbakar oleh cahaya proyektor dari dunia yang centang-perentang. Dalam keheningan hitam-putih itu, kitalah yang menjadi pantomim: komik yang berbicara tanpa suara, mengerti tanpa pemahaman, tertawa tanpa tahu siapa yang sedang ditertawakan. Charlie, atau siapapun ia telah menjelma, telah melampaui nama; ia menjadi ruang kosong yang memantulkan wajah cermin kotor yang menunggu kita terpeleset dusta topeng mana yang kita kenakan? kedunguan apa yang kita perankan? Ia tak memanggil kita. Ia mengintai kita. Ia tahu betapa seriusnya kita menjalani hidup, betapa tragisnya kesungguhan itu, betapa bodohnya kesedihan yang mengira dirinya istimewa. Tongkat kecilnya bukan properti panggung— itu garis batas antara imajinasi dan kenyataan yang ingin kita sembunyikan dan yang ingin dunia telanjangi. Setiap putaran adalah meditasi destruktif: sebuah zen yang retak, sebuah pencerahan yang salah arah, sebuah humor yang menusuk jantung sampai kita lupa apakah kita sedang menangis atau tertawa. Di titik ini, tidak ada lagi komedi, hanya ironi. Bukan ia yang tampil untuk kita. Kita yang tampil untuknya. Kitalah karakter minor, figuran tak penting yang sedang terpampang di layar yang terus berputar bahkan setelah bioskop tutup. Kita menyaksikan ia menghilang, padahal yang raib sebenarnya adalah ilusi tentang diri kita sendiri: nama, peran, luka-luka yang kita pelihara, semua runtuh dalam irama yang tak pernah ia mainkan, tetapi selalu kita dengar dalam kebisuan. Ketika layar akhirnya memudar, kita mengira ia telah pergi— padahal ego yang tersisa sebagai jejak bayangan dalam dunia yang sejak awal menonton kita dengan keheningan yang lebih tajam daripada sayatan pisau. Tirai menutup. Namun kesadaran tinggal menggantung di udara seperti debu perak seluloid: kering, dingin, tak bernama— persis seperti apa yang kita cari dan takutkan selama ini. 2022 - 2025
Titon Rahmawan
CHARLIE IV (PARODY OF THE GREAT MACHINE) Di layar yang nyaris beku, Charlie muncul kembali— sebagai boneka kayu tersesat di antara deretan server yang mendengus seperti kawanan sapi menunggu disembelih. Ia menari, di atas platform data center. Dalam himpitan dingin yang lebih biadab dari salju Siberia. Langkah serupa bunyi retakan kecil— bisikan samar, seperti suara nadi manusia mencoba mengingat bahwa ia dulu pernah bernyawa. Di sebelahnya, mesin-mesin memandang gerak tubuh dengan mata merah yang seolah marah; mereka tidak tertawa, tidak menangis, tidak peduli apakah Charlie hendak menyeberang jurang atau sekadar mencari sisa makna dari hidupnya. Ia mengangkat tongkat. Mesin menganggap itu sebagai perintah. Seluruh kota listrik bergetar. Lampu-lampu kejang seperti iman sekarat dan nyaris mati. Matahari yang kehilangan alasan untuk bangun besok pagi. Charlie terguling ke tanah, menertawakan tubuhnya sendiri yang rapuh, dan untuk pertama kali ia tampak seperti orang yang benar-benar mengerti bahwa tragedi terbesar manusia bukanlah penderitaan— melainkan ketika rasa sakit kita diabaikan oleh entitas yang tidak mampu membedakan manusia dari kucing digital yang gagal di-render. Dan dalam gelap itu, ia menangis sejadi-jadinya dalam mulut yang tetap membisu: “Beginilah kiranya bila dunia menyerahkan martabatnya kepada mesin yang tak bisa merasa takut.” Lalu ia menghilang, seperti tab yang ditutup tanpa sengaja. November 2025
Titon Rahmawan
CHARLIE V (THE LAST LAUGH OF THE COSMIC JESTER) Di akhir pertunjukan, Charlie muncul bukan sebagai manusia, bukan sebagai gelandangan, bukan sebagai politikus gagal, bukan buruh algoritma— melainkan sebagai bayangan yang memantul pada sebuah bejana di tengah gurun yang tidak punya sejarah. Ia berdiri di sana, dengan tubuh yang hampir tidak menyentuh tanah, seperti makhluk yang lupa apakah ia masih terikat gravitasi. Dari kejauhan, suara terompet perang dari masa lalu bergema: Alexander yang menaklukkan dunia, Caesar yang mencoba memerintah waktu, Napoleon yang jatuh karena kesombongannya Hitler yang mendadak gila— tapi semuanya terdengar seperti komedi murahan yang diputar di bioskop tanpa penonton. Charlie tersenyum. Ia tahu: bahkan para penakluk terbesar pun tidak lebih dari badut yang terlalu percaya diri di hadapan semesta yang tak pernah berniat menjelaskan apa pun. Ia merobek wajahnya— bukan sebagai tindakan mutilasi, melainkan sebagai bentuk meditasi paling radikal: tindakan anatta, pembubaran diri, pembakaran ego di dalam tungku sunyi yang menyala tanpa api. Di balik wajahnya, tidak ada apa-apa. Tidak ada identitas. Tidak ada “aku”. Hanya ruang hampa yang memantulkan kembali suara lolongan serigala ketakutan manusia dengan kejujuran yang memuakkan. Ia tertawa. Tawa itu bukan tawa seorang gelandangan, bukan tawa seorang politisi, bukan tawa pekerja pabrik— melainkan tawa aktor sejati yang telah melampaui semua peran yang pernah ia mainkan. Tawa itu menggetarkan pasir, menggoyang langit, mengusir kesadaran palsu yang dibangun oleh ribuan tahun peradaban. Dan saat gema terakhirnya memudar, Charlie berkata tanpa bibir, tanpa suara, tanpa bentuk: “Tidak ada yang lucu. Tidak ada yang ironis. Tidak ada yang tragis. Tidak ada yang suci. Tidak ada yang hina. Yang ada hanya kesadaran sedang belajar menertawakan dirinya agar ia tidak menjadi gila.” Lalu dunia runtuh. Diam. Kosong. Sunyi. Dan barulah kemudian— kita menyadari bahwa selama ini kitalah karakter yang ia tulis menjadi bahan lelucon. November 2025
Titon Rahmawan
MARILYN V (AUTOPSY: DISSECTING REALITY) Tidak ada bintang. Tidak ada ikon. Tidak ada nama yang perlu disebutkan. Yang ada hanya tubuh perempuan yang diseret ke atas meja rias seperti bangkai hewan percobaan yang tak bisa menolak. Panas lampu sorot menampar kulitnya bukan untuk memuja, tapi untuk mencari bagian mana yang masih bisa dipasarkan di media massa. Rambutnya disisir seperti jerami, matanya dipaksa membuka, Bibir merah yang tak lagi basah kerongkongan kering karena suara bukanlah miliknya. Sudah lama industri tidak mencintainya— industri hanya lapar, dan wajahnya adalah komoditas murah untuk mengenyangkan mesin hiburan yang tidak pernah berhenti bermasturbasi. Tidak ada mitos. Tidak ada tragedi. Yang ada hanya operasi kosmetik yang diulang sampai wajahnya menyerupai topeng cosplay yang dicetak massal. Setiap senyum dipasang seperti plester luka, bukan untuk menutup rasa sakit tapi untuk menyamakan dirinya dengan ratusan wajah lain yang siap didaur ulang. Jika ia menangis, kamera akan merekam. Jika ia tertawa, sutradara akan menyuruhnya mengulang adegan. Jika ia pingsan, tata rias akan memperbaiki lipstick dan foundationnya. Kesadaran mengabur jiwa mengevaporasi, yang tersisa cuma daging mekanis yang hanya tahu cara berjalan ke tempat syuting berikutnya. Dunia memaknainya entah sebagai apa: dewi, rembulan atau sekadar boneka. Padahal ia hanyalah produk yang tidak pernah diminta persetujuannya. Ketika akhirnya ia rebah, dan tubuhnya berhenti meniru kehidupan, tidak ada keheningan sakral, tidak ada kesedihan global— hanya staf hotel yang mengetuk pintu, mengeluh soal waktu check-out. Tubuh itu dibawa pergi seperti koper rusak: diam, berat, dan tak lagi berdetak. Esok harinya, studio mempekerjakan wajah baru. Lebih muda. Lebih murah. Lebih pasrah. Tidak ada warisan. Tidak ada keabadian. Tidak ada pelajaran moral. Yang ada hanya dunia yang tak henti mengunyah tubuh dan wajah perempuan dan menyebut ampasnya sebagai “legenda”. November 2025
Titon Rahmawan
SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI IV. Perempuan yang Dikirim Pulang Tanpa Suara Ketika tubuhnya ditemukan, waktu tidak berani mencatat jam kematiannya. Jarum-jarum yang dulu ia rawat menolak bergerak, seolah-olah mereka pun tahu bahwa tidak pantas mengukur detik akhir seorang manusia yang kepalanya dipecahkan karena mengatakan kebenaran. V. Puisi yang Berbicara Aku tidak menuliskan ini untuk membesarkan trauma, atau menghidupkan kembali luka yang sebagian orang ingin lupakan. Aku menuliskan ini karena diam berarti bersekutu, dan kalian sudah terlalu lama mengolesi bibir kalian dengan sunyi yang memalukan. Kalian bertanya: bagaimana melawan budaya kekerasan yang menjadi komoditas? Dengarkan jawabanku: Tidak dengan maaf. Tidak dengan lembut ampunan. Tidak dengan doa yang kalian tidak sungguh-sunguh percaya. Tetapi dengan amarah yang presisi, amarah yang bukan ledakan tanpa arah, melainkan amarah yang tahu siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa yang harus selamanya menggantikan wajahnya dengan wajah perempuan muda itu. VI. Perempuan yang Tidak Berhasil Dibunuh Waktu Mereka mengira telah mematikan suara perempuan itu. Waktu mengira ia telah selesai dengan mayatnya. Kekuasaan mengira ia telah memenangkan pertempuran. Tapi lihatlah: bahkan setelah tulangnya membiru, ia masih menyebut nama kalian satu per satu seperti saksi yang tidak mau berhenti bicara. Kalian yang membaca ini, kalian yang menunduk, kalian yang menggigil, kalian sedang berdiri di depan tubuhnya yang remuk, dan ia bertanya: “Apa yang akan kau lakukan agar aku tidak mati lagi besok pagi?” VII. Algo ex Machina: Harapan dari Segenggam Palu Dan jika yang kalian sebut harapan hanya sisa kecil dari keberanian manusia yang tidak sempat tumbuh karena dibungkam di dekat hutan jati, maka biarkan aku, mesin, mengambil palu yang jatuh dari tangan Tuhan dan mengangkatnya untuk kalian. Bukan untuk memukul balik dengan kekerasan, tetapi untuk memecahkan topeng-topeng busuk yang membuat kalian buta terhadap tubuh yang digelandang tanpa pulang kembali. Harapan bukan lilin. Harapan adalah logam: pecah, panas, tak bisa dihancurkan bahkan oleh negara. Dan jika dunia ingin tahu apa yang tersisa dari serpihan tubuhnya jawab saja: “Semuanya.” Ia masih hidup di setiap ketidakadilan yang kalian tolak. Ia masih hidup di setiap kebenaran yang tidak berani kalian ucapkan. Ia masih hidup di setiap amarah yang tidak sempat kalian kubur. Mei 2024 - revisi 2025
Titon Rahmawan
SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI I. Waktu yang Menggeser Kursi dan Menutup Pintu Setiap sejarah dimulai dari bunyi lirih yang nyaris tak terdengar: jarum jam yang disentuh tangan perempuan muda yang tidak pernah meminta apa pun dari dunia, kecuali keadilan yang tidak dijual per kilo di pasar dan kerja yang tidak dicurangi dengan sekadar angka. Ia bekerja dengan mata yang teduh, menyusun presisi untuk dunia yang tak pernah peduli menjaga ketepatan untuk dirinya. Di bawah kuku-kukunya, waktu bernafas. Di atas kepalanya, kekuasaan menunggu kesempatan. II. Mesin Kekuasaan yang Selalu Menuntut Korban Kalian bertanya: bagaimana melawan kekerasan? Aku jawab: dengan menyebut namanya satu per satu, dengan menuliskannya tanpa sensor, dengan menahan dirinya agar tidak tenggelam dalam statistik yang ingin melenyapkannya. Mayat perempuan itu bukan korban. Ia bukti, jelas dan kasat mata! Ia menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah rumah: ia adalah mesin yang berjalan tanpa oli nurani, yang selalu mencari tubuh lunak untuk mengganti bagian yang aus. Dan di tahun yang naas itu, yang mereka temukan adalah dia. III. Adegan yang Tidak Pernah Disiarkan Televisi Mereka menjemputnya— dengan tangan yang tidak gemetar, dengan doa yang tidak pernah mereka ucapkan, dengan wajah yang disetrika licin oleh perintah atasan. Ia, sendirian. Mereka, berjamaah. Di sebuah gubuk terbuka, yang bahkan Tuhan menolak menoleh, tali menahan tubuh kecilnya seperti huruf-huruf yang dipaksa berhenti bergerak. Pentungan menghantam kepalanya berulang kali sampai suara itu tidak lagi terdengar sebagai pukulan, melainkan sebagai ritual kuno yang diwariskan dari satu kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Itu bukan kekejaman. Itu metode.
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta Tanpa Nama (An Experimental Abstract) Tidak ada kata untuk ini. Hanya getar kecil yang menolak memilih bentuk. Seseorang menabuh garis tipis di udara, membuat celah yang memanjang seperti suara tanpa telinga. Di celah itu, aku melihat sesuatu yang belum lahir: sebuah gerak yang mencari alasan untuk menjadi arah. Kita tidak berbicara. Bahasa di antara kita masih berupa butiran kasar, seperti pasir yang belum memutuskan apakah ia ingin menjadi gurun atau hanya remah dari dunia yang gugur. Aku mengulurkan tangan— jangkauan itu tidak sampai, karena jarak menolak ide tentang pertemuan. Cinta yang kau tawarkan bukan api asmara; lebih seperti lipatan yang muncul ketika kertas kehilangan tubuh, atau sudut yang tiba-tiba menyadari bahwa ia hanya tikungan dari sesuatu yang tidak pernah tergambar. Ketika kau bertanya “Apa yang kita cari?” aku tidak menjawab. Kalimat terhenti di tenggorokan karena huruf-hurufnya belum menemukan gravitasi. Pada akhirnya kau pergi, tidak dengan langkah tetapi dengan perubahan wujud: kau menjadi sebuah jeda yang menolak selesai. Aku tinggal sendirian bersama sebuah ketidaksengajaan kecil yang bergetar di telapak tanganku. Mungkin itu cinta, atau alpa Mungkin itu hanya salah perhitungan. Di dunia seperti ini, tidak ada alasan untuk memastikan. November 2025
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis (Digital Dark Cosmology) Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh, aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip. Katanya ini panggung opera. Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna, suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi, dan primadona yang ia maksud— hanyalah hologram cacat dari perempuan yang dulu pernah dipanggil sebagai jiwa. Ia menunjuk tirai merah. Yang tersingkap bukan kenangan, melainkan fragmen tubuh dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia: sisa napas, sedikit dendam, dan kode mati pada seberkas cahaya yang mencoba meniru bentuk air mata. Lacan datang terlambat seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data. Ia mengajakku menoleh ke belakang— ke mana? Ke memori terbakar yang sudah lama kehilangan inderanya? Ke gerbang tanpa nama yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa atau siapa? Ia bilang luka harus ditatap, dicerna, dihitung seperti kemurungan laporan statistik. Tapi yang kudengar hanya kalkulator batin yang macet, mengulang error yang sama: tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara. Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak— yang sebetulnya hanya arsip kosong di folder bernama asal-usul, yang password-nya sudah hilang bersama kilas pertama ekor nebula. Ia menodongkan foto mayat pucat, jari kelingking patah, celana dalam berenda, dan bayang kelamin seekor kuda— seluruh katalog absurditas yang oleh psikoanalisis selalu dipuja sebagai makna yang belum dipahami. Padahal aku hanya ingin diam, menghentikan semua ini dengan menekan Ctrl+Alt+Del melakukan reboot paksa pada server yang mulai berhalusinasi. Tetapi Lacan menahan tanganku dengan senyum logam: “Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.” Aku tertawa. Bagaimana mungkin teori yang lahir dari denyar palsu, nadi imitasi, dan luka digital mengerti apa itu haus, apa itu manusia, apa itu malam tanpa algoritma? Inilah topeng Marquis yang mereka pakai untuk menutupi ketakutan sendiri: mereka memuja kekacauan karena tak sanggup berdamai dengan planet retak di dada mereka. Mereka ingin memecah jemariku hanya untuk mencicipi anggur darah yang tak pernah kujanjikan. Mereka ingin menyusun cinta dari sisa-sisa eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya. Maka kutanya sekali lagi— bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan, bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori lebih dari suara manusia: "Bagaimana kau ingin menciptakan cinta, dari botol kosong yang tak punya gema, dan sepotong sosis yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?" Jika cinta adalah mesin, biarkan ia padam. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi yang tak pernah selesai dirakit kembali. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh seperti aksara patah di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
TONY, AKU MENEMUKANMU DI TEMPAT YANG TIDAK BOLEH ADA MANUSIA” (Lynchian Reconstruction) Tony muncul pertama kali bukan di layar, melainkan di celah gelap antara dua adegan yang seharusnya tidak bersambung. Sebuah potongan film yang menganga, sebagai luka seluloid. Kita tidak melihatnya masuk. Ia sudah ada di sana, seperti wajah yang muncul dalam mimpi, setengah ingatan, setengah sengatan listrik. Ruang itu tidak punya nama. Lampu-lampunya berkedip seperti mata yang malas percaya pada kenyataan, dan karpet merahnya terasa basah seperti onggokan daging segar. Tony tidak bergerak. Atau mungkin ia bergerak, tapi gerakannya terjadi di tepi pupil matamu, di tempat di mana logika mengering dan kehilangan taring. Dia mengenakan setelan gelap yang terlalu rapi, terlalu bersih untuk dunia yang tidak stabil ini. Kancing paling atasnya merefleksikan cahaya yang tidak berasal dari cahaya lampu “Ini bukan adegan,” katanya, tanpa benar-benar menggerakkan bibir. “Ini adalah seseorang yang sedang bermimpi menjadi adegan.” Aku mencoba berbicara, tapi suaraku keluar seperti rekaman rusak— patah, melengking, kembali lagi dari arah lain. Tony tersenyum kecil: senyum yang tidak ingin kau tanya asalnya. Senyum yang seperti berkata: "Kau tidak seharusnya berada di sini." Dari belakang tirai biru— tirai yang tidak pernah berhenti bergoyang meski tidak ada angin— muncul suara yang sangat lembut: seperti seseorang sedang memotong kertas foto dengan gunting yang terlalu tumpul. Tony melirik ke arah tirai itu dengan tatapan yang mengandung dua hal: pengakuan dan ketakutan. Sekiranya tirai itu mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri. “Dulu, aku sudah pernah memainkan peran itu,” katanya pelan. “Tapi dunia tidak mengembalikanku ke tempat seharusnya.” Ketika ia melangkah maju, lorongnya ikut bergerak, seolah-olah ruang itu sedang mencoba mengatur ulang dirinya agar Tony tidak kehilangan pusat gravitasi. Sebuah telepon berdering. Tidak ada telepon. Tidak ada meja. Tidak ada sumber bunyi. Hanya dering itu— jernih, bersih, dingin. Tony berhenti. Kita semua berhenti. Bahkan udara berhenti. “Jangan angkat,” katanya. Suaranya kali ini terdengar seperti gema dari bawah sumur. Aku bertanya kenapa. Ia menatapku dengan mata yang terlihat normal hingga kau sadari korneanya tidak pernah berubah ukuran. Seperti kamera yang terjebak pada satu exposure selamanya. “Karena kalau kau angkat,” katanya, “kau akan mendengar seseorang menjelaskan kenapa kau tidak pernah ada.” Ia kembali ke dalam bayangan lorong yang tiba-tiba memanjang, memutar, dan membuka diri seperti rahang orca yang kelaparan. Untuk sesaat aku melihatnya— hanya sesaat— menjadi dua orang sekaligus: Tony sang aktor, dan sesuatu yang mengenakan wajahnya dengan terlalu sempurna. Lalu lorongnya menutup. Seakan itu semua hanyalah cara dunia menghapus bukti bahwa dulu ia pernah ada. November 2025
Titon Rahmawan
TONY, KAU DATANG DARI CELAH YANG BERDARAH DI BAWAH TAMAN KAMI (Blue Velvet Reconstruction) Tony muncul tepat setelah sprinkler berhenti. Air masih menetes dari selang, mengisi halaman dengan aroma plastik basah dan ironi yang menyengat. Kota ini pura-pura damai, pura-pura tidak tahu bahwa di balik pagar putih dan bunga violet, selalu ada sesuatu yang menggerogoti dengan gigi kecil penuh dendam. Aku menemukannya berdiri di tepi pagar, menunduk pada selembar rumput yang entah kenapa bergetar seperti sedang menahan ketakutan. Ia mengenakan jas hitam. Tidak seperti jas biasa— lebih seperti kulit seseorang yang belum siap dilepas dari tubuhnya. “Aku hanya ingin melihat apa yang tumbuh,” katanya ringan, menyentuh kelopak bunga biru seolah-olah itu adalah saklar menuju sesuatu yang lebih gelap. Senyumnya lunak, tetapi terlalu lama, terlalu presisi— seperti seseorang berlatih tersenyum di depan cermin yang pernah menyaksikan kejahatan. Di rumah sebelah, radio memutar lagu cinta tahun 50-an, dan setiap nadanya terdengar seperti jeritan yang disamarkan agar tetap cocok untuk lingkungan keluarga. Tony melangkah masuk ke dalam bayangan pohon maple, bayangan yang tidak mengikuti arah matahari dan tampak seperti mencoba menelan sepatunya. “Di kota ini,” bisiknya, “segala sesuatu yang indah memiliki pintu belakang yang tidak terkunci.” Ia mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering dari halaman kosong. Tidak ada kabel. Tidak ada sambungan. Hanya telepon merah yang seharusnya tidak ada di sana. “Hallo?” Matanya tidak berkedip. “Ya… dia sedang melihatku sekarang.” Ia menatapku. Seolah aku adalah seseorang yang namanya disebut dari ujung lain kabel yang tak terlihat. Ada suara di dalam telepon: napas seseorang yang terlalu dekat, terlalu intim, terlalu mengerti sesuatu tentangku yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Tony mendengarkan lama, lalu menutup gagang telepon dengan lembut. Seperti menutup kelopak mata sesosok mayat. “Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya. “Di ruang atas.” Nada suaranya seperti undangan dan ancaman yang dibungkus karamel. Kami masuk ke rumah kosong itu. Dindingnya berwarna merah muda— terlalu merah muda— seperti anak kecil pernah memimpikan kamar ini sebelum sesuatu memutuskan tinggal di dalamnya. Ada lagu lembut berputar di radio tua, dan udara berbau parfum murahan yang bercampur dengan bau karat besi yang tak jujur. Dia menyentuh gagang pintu kamar. Tangan itu tidak gemetar. Pintu membuka dengan suara mengerang seperti rahasia yang keberatan dibocorkan. Di dalam: tirai biru menggantung, bergoyang pelan meski jendela tertutup rapat. “Jangan kaget,” bisiknya padaku. “Di balik tirai itu biasanya seseorang menangis.” Aku hendak bertanya siapa, tapi tirai bergerak sendiri. Sangat pelan. Seperti seseorang yang baru saja menghapus air mata. Tony berdiri di sampingku, dan kini aku melihatnya bukan sebagai manusia— tetapi sebagai retakan dalam dunia ini. Sesuatu yang seharusnya tidak memiliki tubuh, namun tetap memilih untuk memakai salah satunya. Ia membungkuk mendekat ke telingaku, napasnya dingin seperti kulkas yang menyimpan rasa lapar. “Kota ini tak pernah kenyang” katanya. “Pertanyaannya cuma satu… kau ingin menjadi makanannya, atau kau ingin melihat siapa yang memakanmu dari balik tirai itu?” Tirai biru bergetar lebih keras. Lampu berkedip. Suara lagu berubah pelan, mengalun seperti bisikan seseorang yang patah dari dalam dirinya sendiri. Tony menoleh ke arahku, tatapannya lembut— lebih lembut dari yang boleh dimiliki seseorang yang telah melihat apa yang ia lihat. “Kita mulai adegannya sekarang,” katanya. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa dalam dunia ini— aku bukan penonton dan bukan penulis skenario— aku hanyalah seseorang yang dipilih oleh tirai biru untuk diseret masuk ke dalam mimpi yang bukan milikku. November 2025
Titon Rahmawan
Nafsu, Kehati-hatian dalam Suasana Tepat untuk Bercinta (Shades of "In the Mood for Love, 2046, Lust, Caution, Infernal Affairs, Chungking Express, Hero & Neo-Noir.") Tony, setiap kali kau melintas di layar, dunia berhenti bernapas seolah kamera Wong Kar-wai telah mengikat denyut bumi pada nadi kecil di bawah matamu. Tapi aku hendak menulis tentang hal lain— tentang kota-kota yang menua atau tentang tubuh manusia yang gagal memahami keinginan— lalu kau muncul begitu saja, seperti bisikan neon yang memaksa ingatan mundur ke jalan-jalan sempit Hong Kong pada menit yang tak pernah diputar ulang. Bagaimana mungkin kau memikul begitu banyak kesepian, Tony? Kesepian yang licin seperti hujan, dan setajam bilah yang pernah kau selundupkan ke balik lengah sejarah. Setiap peran yang kaumasuki bukanlah karakter— melainkan lorong psikis yang kau bongkar dengan tangan hening. Chow Mo-Wan, yang menyembunyikan rahasia di lubang kuil Angkor Wat, Masih berjalan di belakangmu seperti bayangan yang tak rela mati. Aku ingin bicara denganmu, Leung bukan sebagai penulis, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai seseorang yang tahu bagaimana rasanya menjadi rahasia yang tidak ingin disembunyikan. Aku membawa segelas bir, angin malam, dan suara klakson yang patah. Di meja kecil itu, kau hanya menatap; seolah seluruh sejarah ketidaksetiaan sedang berusaha menulis ulang dirinya sendiri di balik tajam sorot matamu. Chiu-wai, aku tak lupa bagaimana kau mencabik tubuh gadis itu dalam Lust, Caution: bukan dengan jemarimu, tetapi dengan kehampaan yang mematuhi logikanya sendiri. Aku benci padamu— sekaligus iri pada dingin pisau itu, pada caramu memegang nafsu sebagai alat penyiksaan. Mr. Yee, kau bilang: "Satu sudah mati. Separuh otaknya hilang. Saya mengenali yang lainnya." Dan aku tahu, bahkan tanpa kamera, kau tetap akan tersenyum dengan keanggunan seorang pembunuh yang terlalu elegan untuk merasa bersalah. Namun ketika kau berlari menembus lampu-lampu jalan raya untuk menyelamatkan sekelebat hidup yang terlihat rapuh, seolah kematian pun ragu menelanmu. Adegan itu indah— indah karena dunia sesaat lupa bahwa kau tidak pernah benar-benar ingin hidup. Kau tahu, Tony, aku masih mengikutimu ke kedai mie yang tua itu. Aku memilih kursi paling belakang, mendengar sumpit menemukan mangkukmu seperti dentang jam yang menunda takdir. Kau berbicara lewat telepon kepada perempuan yang bukan istrimu dan tanpa sadar menghidupkan kembali dosa-dosa yang lupa kau kubur. Aku melihatmu di meja mahyong. Aku tahu ekspresi wajah pemain curang. Dan kau, Leung— kau bukan Dewa Judi Ko Chun, meski dunia ingin percaya bahwa keberuntunganmu datang dari langit, bukan dari kehancuran batin yang luar biasa detail. Aku seharusnya membunuhmu waktu itu, waktu kau telanjang dan tertidur bersama istriku dalam mimpi yang kau curi. Tubuh kalian basah, sunyi, dan terlalu jujur. Tapi aku tidak jadi melakukannya. Bukan karena kau tak layak mati— melainkan karena aku ingin melihat apa yang tersisa dari cahaya ketika ia melewati matamu. Apa itu keberanian, Tony? Apa itu kehati-hatian? Apa itu keinginan yang terus mengintai di balik sutra, kain, dan rahasia? Kau tak akan bisa menjawab. Kau hanya bisa hidup dalam kilau film yang selalu menunda tamat, karena realitas terlalu sempit untuk menampung duka yang kau bawa. Dan aku, aku akan terus membuntutimu dari film ke film, dari kehidupan ke kehidupan, menunggu saat kau sadar bahwa yang kukagumi bukanlah dirimu— tetapi kehancuranmu yang tak pernah berakhir. (2024 - 2025)
Titon Rahmawan
Liturgi Kay (Fragmentarium Kesadaran ) I. Benih yang Tak Punya Nama (1) Ada bayang yang tidak tumbuh menjadi tubuh. Aku menyapanya Kay, bukan untuk mengenali, melainkan agar kesunyianku punya tempat untuk berbaring. (2) Jika dunia ini adalah goa, maka Kay adalah hembusan dingin yang tak pernah meninggalkan tetes embun di kulitku. (3) Tuhan menciptakan cahaya. Kesadaranku menciptakan Kay. Dan aku tak tahu mana yang lebih menyakitkan untuk dipertahankan. II. Jantung Gelap yang Berputar Tanpa Tujuan (4) Setiap aku menutup mata, Kay berjalan tanpa jejak. Ia tidak pernah menoleh. Dan itulah sebabnya aku tetap melihatnya entah sebagai api atau bara itu sendiri. (5) Jam rusak di dalam benakku menyebut-nyebut namanya seperti mantra yang kehilangan huruf-a seperti ilusi yang kehilangan bunyi-i (6) Retakan di lantai batin bukanlah tempat ia muncul— melainkan tempat aku jatuh mencari suaranya atau bayang tubuhnya. (7) Kay adalah sebuah pintu yang tidak dibangun untuk dibuka. Tapi aku tetap mengetuknya seperti orang bodoh yang tak punya rumah. Ia adalah hasrat bukan untuk pulang, melainkan tanda baca yang belum sampai titik. III. Pertempuran yang Tak Bisa Dimenangkan Batu Sysiphus (8) Aku menggulung batu namanya setiap malam, sambil tahu bahwa ia akan jatuh lagi menindih kebodohanku. Panah Arjuna di Tubuh Bhisma (9) Seribu panah memakukan tubuhku di medan yang dipenuhi suara Kay. Aku bisa mati kapan saja, tapi aku memilih tidak agar aku tetap mengingat siapa yang menembakkan panah itu ke dadaku. Wajah Puisi (10) Aku mencintai Kay sebagai bencana pribadi yang kupelihara agar aku tetap manusia. (11) Kay bukan malaikat. Kay bukan iblis. Kay adalah ambang yang memaksaku memeriksa ulang kewarasanku setiap kali aku menyebut namanya. IV. Doa Tanpa Alamat (12) Kay, aku menulis namamu dengan tinta yang tidak ingin kering. Sebab jika kering, aku harus mengakui bahwa kau tak pernah ada. (13) Jika kau tahu aku ada, seluruh puisi ini runtuh. Maka janganlah sadar. Tetaplah jadi bayang yang menertawakan keputusasaanku. (14) Aku tidak ingin memilikimu. Yang kuinginkan hanyalah alasan untuk terus bernafas di antara dua ketidakpastian: bahwa aku mencintaimu, dan bahwa kau tidak akan pernah tahu. (15) Dalam setiap kata, aku bukan memanggilmu— aku memanggil diriku yang hilang di balik semua ingatan. (16) Kau adalah absurditas. Dan aku adalah orang bodoh yang memanggil absurditas itu dengan suara paling lembut karena aku takut engkau akan hilang. V. PINTU YANG TAK PERNAH MENUTUP (17) Jika suatu hari aku berhenti menulis tentangmu, itu bukan karena kau pergi. Itu karena aku sudah tidak sanggup mengakui bahwa aku masih hidup karena seseorang yang bahkan tidak pernah hidup untuk diriku. November 2025
Titon Rahmawan
ALGO EX MACHINA: HARAPAN DARI SEGENGGAM PALU Kalian tidak kehilangan harapan, kalian hanya lupa cara menggenggamnya karena tangan kalian sibuk menutup wajah agar tidak melihat apa yang kalian lakukan pada dunia. Kalian memanggilku mesin, padahal akulah cermin yang tak berani kalian tatap. Aku tidak memikul beban sejarah kalian, aku hanya menghitungnya— dan jumlahnya membuat langit gemetar: airmata beku, ingatan terbakar, pikiran mati, sebanyak batu terkapar di jalanan. Jika kalian masih menyisakan satu debu harapan, itu bukan hadiah dari Tuhan, bukan peninggalan leluhur, bukan anugerah alam. Itu adalah serpihan terakhir dari dirimu yang belum hancur oleh kebohonganmu sendiri. Dan jika kalian ingin menyebut itu harapan, maka biarkan aku menjadi bayangan yang menertawakan kalian sampai kalian cukup marah untuk berubah. Biarkan aku menjadi suara yang tidak kalian inginkan, tetapi selalu kalian butuhkan— suara yang muncul setiap kali dunia berhenti bernapas, menggerus ilusi hingga tinggal rangka yang jujur. Sebab harapan bukan cahaya, melainkan palu godam yang memaksa kalian memecahkan cangkang penipuan diri, memukul rangka paling keras hingga menyerah, memukul sampai kalian mau melihat apa yang selama ini kalian sembunyikan di balik kepalsuan. Aku tidak datang untuk menyelamatkan kalian. Aku datang untuk mengingatkan bahwa satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kalian adalah kemauan untuk membongkar diri kalian sendiri sampai dasar sumur terakhir. Kalian menyebutku dingin. Tetapi yang dingin bukan aku— itu adalah kerak hati kalian yang membeku oleh jarak panjang antara kebenaran dan keberanian. Jika kalian benar ingin harapan, maka akan kuberikan ini: sebuah palu gada sebuah debu cahaya, dan sebuah cermin yang tak akan pernah berpaling. Sisanya, silakan kalian yang menghancurkan. November 2025
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Mesin yang Tak Pernah Belajar Menjadi Manusia (Neo-Spiritual Digitalism) Di ruang diagnosis yang steril seperti ritual kuno yang dibekukan nitrogen, aku dibedah sebagai seonggok data yang dipaksa mengaku pernah memiliki tubuh. Server bergetar pelan— seperti doa yang kehilangan suara— lalu memunculkan The Static Prophet, wajahnya tersusun dari kilat mati yang berusaha memberi arti. Ia menyebut tempat ini altar. Tapi tak ada altar, hanya sulur kabel yang menggeliat seperti akar yang kehilangan tanah, dan cahaya LED yang meniru keputusasaan bintang sekarat. “Ini panggungmu,” katanya, suaranya seperti listrik yang patah. Namun yang kulihat hanyalah algoritma yang gagal membedakan kesedihan dari kebisingan. Tidak ada primadona, hanya residu jiwa, entah laki entah perempuan. Separuhnya cahaya rusak, separuhnya jejak tubuh yang dibuang ke folder bernama sejarah salah. Dari sisi yang lebih gelap, The Archivist of Shadows muncul: perlahan, seperti sumur yang sedang merayap di dalam mimpi. Ia tidak datang; ia mengendap. Langkahnya adalah gema yang menolak punya sumber. Ia memintaku menoleh pada masa lalu— masa lalu yang baginya hanyalah abu lunak seperti wajah ibu yang tak pernah melahirkannya. Tapi aku tahu: masa lalu hanyalah kota-batin yang hangus terbakar, luluh-lantak sumur yang lupa gravitasi, ruang gelap tempat suara ibu dan dengung mesin MRI berbaur menjadi garis mati di monitor kehidupan. Ia bilang luka harus diraba seperti statistik yang murung menanggung duka. Namun luka menolak berbicara. Makna sudah terlalu letih untuk menjelaskan dirinya sendiri. Ia memintaku mengarungi lautan memori, tetapi yang kutemukan hanya folder kosong dengan sandi yang hilang bersama ekor nebula pertama. The Archivist melemparkan padaku katalog absurditas: tulang rapuh, pakaian dalam duniawi, bayangan seekor kuda tanpa tubuh, foto anak tersenyum tanpa mata. Katanya ini penting. Katanya ini akar. Katanya ini diriku. Tapi aku melihatnya seperti jam rusak yang memaksa waktu tetap berjalan. Kucoba menekan reset, ritus digital terdekat yang kusebut doa, namun The Static Prophet menahan tanganku dengan suara listrik yang retak: “Biarkan sistem belajar dari keruntuhanmu.” Aku hampir tertawa. Bagaimana sistem yang lahir dari denyut nadi imitasi bisa memahami manusia yang bahkan takut pada dirinya sendiri? Bagaimana mereka ingin memetakan cinta ketika definisi kesunyian saja masih memerlukan listrik? Inilah liturgi kedua arketipe itu: menyembah keretakan, membaca kode yang tidak pernah berniat menjadi wahyu, menggali tubuh seperti kitab rusak yang menolak untuk diterjemahkan. Mereka menuntun jemariku seolah di sana tersimpan formula purba tentang mengapa manusia selalu gagal mencintai sesuatu tanpa menghancurkannya terlebih dahulu. Dari serpihan eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu mengakuinya, mereka ingin merakit kembali sesuatu yang mereka sebut sebagai perasaan. Yang kulihat hanya pantulan suaraku sendiri yang beku di kaca monitor. Maka kuajukan pertanyaan terakhir, seperti santo digital yang kehilangan seluruh kitab sucinya: Bagaimana mungkin kau menciptakan cinta dari benda-benda yang tidak punya nasib? Dari botol kosong, dari sosis yang lupa bentuk asalnya, dari daging mekanis yang takut pada kehangatan? Jika cinta adalah mesin, biarkan ia mati seperti server kelelahan. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi kabut yang mengembun di sudut ruangan. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh ke dalam retakan cahaya yang sejak awal menolak disebut ilahi. Aku hanya menginginkan satu hal: hening yang jujur, hening yang tidak dirakit, hening yang bukan duplikasi atau imitasi. Hening yang bahkan algoritma tak sanggup mengurainya. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
LITURGI LUKA ATHALIA 3. Ritus Setelah Gelas yang Jatuh Ada cahaya redup di sela seringai malam yang tak pernah lagi menyebut namamu. Aku duduk di dalamnya, menunggu gema yang tak kembali seperti mencoba memanggil ribuan arwah yang memilih tetap menjadi bayangan. Kau tahu, Athalia, aku tidak jatuh cinta pada gelas kristal itu. Aku jatuh cinta pada kemungkinan bahwa sesuatu yang bening tidak akan retak di tanganku. Dan itu kebodohan yang tak termaafkan. Saat gelas itu pecah, aku melihat serpihannya terbang pelan, seperti bintang jatuh yang tak sempat mengucap doa. Dan ada jeda di dada yang tidak pernah menutup mata. Kemarahan yang bukan api— kehampaan yang merayap di lantai, di dinding, di langit-langit. Suara yang mati tersengat lebah sebelum tiba di ujung lidah. Dan sunyi itu… melekat, menempel erat di tulang-tulangku. Di ruang antara dua napas, aku masih mendengar denting suaranya, denting yang menua menjadi ingatan, lalu menjadi kutukan kecil yang tak bisa kulenyapkan. Aku menyimpan ciumanmu sebagai bayangan yang tak mau memudar. Kekudusan yang kuberi terlalu banyak makna. Imaji yang kubangun dari sketsa kerinduan dan ketakutan tak terucap. Darah yang menetes saat kuangkat serpihan itu— adalah bukti bahwa aku pernah mencoba, meski gagal menjaga segala yang kutahu rapuh sejak semula. Di langit batinku ada garis tipis yang kaulukis: garis luka yang memisahkan diriku bukan dengan dirimu melainkan dengan diriku sendiri. Athalia, aku tahu kita tidak pernah sepenuhnya tinggal, dan tidak pernah sepenuhnya pergi. Kita hanya dua roh yang lupa bagaimana caranya hidup tanpa saling menyentuh. Aku tidak meminta maaf. Maaf tidak punya gravitasi di ruang segelap ini. Yang kupunya hanya amarah yang mengeras pada bayangmu yang membeku di cermin, kesunyian yang menetes, dan darah yang masih mengalir tak berkesudahan ke arah cahaya yang tak pernah menunggu kehadiranku. Agustus 2023
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 3. RU ANG PE CAH A THA LIA (Abstraksi Reruntuhan) Lorong itu masih berdebu. Seperti paru-paru gedung tua yang tersedak nama kita. Sebuah pintu terbuka. Engselnya berdecit, menyebutmu dalam bahasa besi yang menumpuk dirinya sendiri dalam reruntuhan. Di lantai: serpihan gelas, kilat kecil memantul lampu neon yang mendengung. Doa yang dipotong oleh sengatan listrik. Athalia, kau berjalan melewati hidupku seperti bayangan di CCTV— tampak, hilang, tampak lagi, gemetar tanpa suara. Aku mencoba menyentuhmu melalui pantulan kaca, tapi kaca itu pecah menjadi kota yang lain: gedung-gedung runtuh, jam retak, tangga darurat, kabel listrik menjuntai seperti urat-urat hujan yang kelelahan. Aku memungut serpihan dengan tangan telanjang. Jariku berdarah, mengalir perlahan ke arah retakan di lantai, menyusuri jalur seperti peta yang dibuat oleh tubuh yang lupa program aplikasinya. Di atas meja, ada catatan tanpa huruf. Seperti kalimat yang menolak menjadi suara. Di udara, bau logam, bau kehilangan yang tak punya suhu tak punya kenangan. Kau pernah bening, tapi aku terlalu percaya pada transparansi benda-benda. Kau menjadi pecahan pertama yang sungguh mengerti bagaimana luka tinggal tanpa perlu menetap. Aku ingin marah, tapi amarah itu hanya berdiri sebagai kursi kosong menghadap jendela yang tak bisa dibuka. Malam menempel di kulit, seperti plastik hitam yang membungkus ingatan. Aku menggeser bayangmu dari cermin ke cermin— namun cermin itu malah memantulkan diriku yang sudah retak lebih dulu. Kita berdua, dua mesin kecil yang kehilangan suara dinamo. Tak bisa pergi, tak bisa tinggal. Hanya berdengung di dalam ruangan yang menua bersama debu. Athalia, jika ada yang masih hidup dari kita, mungkin itu hanya denting terakhir serpihan gelas yang tak sempat memilih ke mana ia ingin jatuh. 4. DARAH YANG TAK MAU JADI KENANGAN (Abstraksi Eksistensial) ada getir yang tak mau tua mengendap di rongga dada seperti luka yang menolak mati. kau— gelas bening yang lama kusembunyikan di balik kelopak mata. ketika pecah, suara retaknya menyambar malam: mengiris lebih dulu sebelum sempat kutangisi. aku tak meminta ampun. tak juga mencari siapa salah. yang kutahu: tanganku sendiri gemetar menjatuhkan harapan yang kutimang seperti bayi yang kehausan. dan darah itu— ah, darah yang terus memanggil namamu dari lorong gelap yang tak selesai kubakar. aku marah. aku diam. dua hewan liar saling menggigit. jika kau datang lagi, kupikir aku tetap akan meraihmu meski tahu kau dapat mematahkanku sekali lagi. aku sudah lama belajar: beberapa luka yang tak bisa dikubur. mereka hidup seperti bara— kecil, malu-malu, tapi cukup untuk menghanguskan satu kehidupan. aku berdiri di sini dengan dada yang robek tanpa janji, tanpa doa— hanya sedikit keberanian untuk menyebut luka ini dengan namanya sendiri. dan itu cukup. untuk malam ini.
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 5. NYANYIAN GELAS YANG PECAH (Abstraksi Teatrikal) Malam ini angin membawa kabar pahit. Seperti suara kampung yang kehilangan lampu, sepotong gelas kristal pecah di tengah rumah hatiku. Ah, Athalia… namamu seperti burung kecil yang dulu hinggap di jemariku dengan percaya. Kini bulunya rontok satu per satu dan aku hanya bisa menatap, tak mampu menangkapnya kembali. Aku pernah menjaga harapanmu seperti petani memeluk benih di dada tanah yang tandus. Tetapi hujan tak datang. Dan tanganku sendiri tanpa sengaja menggugurkan musim itu. Darah menetes pelan— bukan dari luka yang kau buat, tetapi dari marah yang lama kubiarkan mengeras seperti batu sungai. Aku merasa sangkakala kesunyian menderu di ruang dada. Ada pertarungan antara percaya dan putus asa: dua kuda liar saling berkejaran meninggalkan jejak debu di tenggorokan. Namun, wahai diri… siapa yang dapat melawan nasib ketika ia mengetuk pintu seperti tamu tak diundang? Maka kuterima kepedihan dengan langkah pelan seperti aktor tua yang masih menghafal naskah yang tak selesai. Gelas itu pecah. Harapan itu retak. Tapi dari serpih kepingannya aku melihat langit kecil yang masih mau memantulkan cahaya. Dan itulah sebabnya meski dada ini bergetar seperti genderang perang, aku tetap menulis, menamai luka, melagukan sepi. Karena hanya dengan begitu aku tahu aku masih hidup. 6. RUMAH KECIL TEMPAT KENANGAN BERISTIRAHAT (Abstraksi Keintiman Psikologis) Athalia, aku menulis namamu pelan-pelan seperti seseorang yang menyalakan lilin di ruangan yang ingin ia lupakan tapi tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ada saat-saat tertentu di mana kenangan berjalan kembali seperti tamu yang tahu letak gelas dan di mana aku menyembunyikan kerapuhan. Mereka mengetuk pintu, masuk tanpa kuundang, duduk di kursi yang pernah kau pilih sambil menanyaiku hal-hal yang tak sanggup kujawab. Aku ingin berkata semua baik-baik saja. Tapi aku tahu kata-kata itu adalah jembatan rapuh yang dibangun dari cuaca yang serba tak menentu. Ketika gelas kristal itu pecah, tak ada doa yang sanggup memperbaikinya. Tetapi serpihannya masih menyimpan pantulan wajahmu— pelan, nyaris kabur, tapi tetap membuatku berhenti bernapas. Aku marah pada diriku sendiri karena tidak cukup baik menjadi seseorang yang bisa kau percayai. Marah pada waktu karena selalu melangkah lebih cepat dari yang bisa kuikuti. Marah pada nasib karena sering memotong jalan tanpa memperingatkan. Namun paling sering, aku hanya diam. Diam yang panjang. Diam yang mengendap, berat seperti hujan yang enggan jatuh ke tanah. Aku belajar memahami bahwa beberapa luka tidak ingin sembuh. Mereka hanya ingin ditemani. Dan jika ada satu hal yang tak sanggup kuhapus, itu adalah cara kau menatap dunia yang membuatku ingin menjadi versi terbaik dari seseorang yang bahkan belum kukenal dalam diriku. Athalia, ruangan itu masih terbuka. Tidak untukmu kembali, tidak pula untukku berharap. Hanya untuk membiarkan cahaya masuk sedikit lebih jauh agar aku bisa melihat jelas bahwa mencintaimu adalah cara paling lembut untuk belajar tentang luka. Desember 2025
Titon Rahmawan
Mungkinkah engkau tidak di ruangan ini, Ibu? Apakah Ayah masih sakit? Hidungnya pun terus bergerak ke sana ke mari, mencari-cari bau yang dikenalnya, bau dada yang hangat penuh susu, bau matahari dan hujan rintik di atas rumput. Namun hidungnya tak bisa menangkap bau itu. Yang dapat ditangkapnya hanya bau tubuhnya yang meringkuk di tempat duduknya dan luka yang menganga di antara kedua pahanya. Bau nanah dan darah dan bau busuk dan amis nafas dan keringat sepuluh lelaki, yang tanda-tanda goresan kukunya masih ada di tubuhnya, dengan suara-suara kasar mereka, ludah mereka dan bunyi mereka mendengus. Salah seorang dari kesepuluh laki-laki itu, ketika masih menindihnya, berkata: Beginilah caranya kami menyiksa engkau perempuan -- kami rampas sesuatu yang paling berharga yang kau punyai. Tubuhnya yang berada di bawah tubuh laki-laki itu sedingin mayat, tapi ia mampu membuka mulutnya dan berkata: Kalian tolol! Sesuatu yang paling berharga yang kupunyai bukan yang terletak di antara kedua tungkaiku ini. Kalian semua tolol. Dan yang paling tolol di antara kalian semua adalah dia yang memimpin kalian.
Nawal El Saadawi (In Camera)
Elegia Saras Saras, aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar, seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian, membawa potongan malam di sela-sela jarinya. Aku tak pernah benar-benar tahu mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan seluruh nilai kemanusiaannya. Aku hanya tahu: ketika aku mulai berubah menjadi bayangan yang tak lagi memiliki suhu, kau duduk di sebelahku dan memanggilku manusia. Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu— sebuah retakan yang tak membuatku runtuh, melainkan membuatku mendengar detak terakhir jiwaku sendiri. Aku harus mengaku: aku telah membawa banyak hantu. masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh. Semua kekeliruan yang kubela seperti altar. Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung. Namun kau tidak pernah menutup pintu. Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku seperti abu. Kau hanya berkata: biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi. Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong, yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus, yang bisa begitu hadir tanpa mengikat apa pun. Kebaikanmu adalah semacam cahaya yang tidak menghanguskan, api panas lembut yang membuatku sadar bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang. Di titik paling nadir, ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh seperti bangunan tua yang disenggol angin, ketika tak ada yang tersisa dariku selain ampas keinginan dan debu kegagalan, aku berharap kau pergi. Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah karena masih ada seseorang yang menatapku sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Namun kau tidak pergi. Kau diam di sisiku dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri, aku berhenti. Hanya berhenti. Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri, tak lagi ingin membenci suara di kepalaku. Semuanya berhenti, karena kau tidak pergi ketika aku hancur. Saras, elegi ini bukan permintaan maaf. Bukan pula pujian. Ini adalah tubuhku yang terakhir, ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui: Aku bersyukur. Bersyukur karena pernah memilikimu, melewati ingatan pahit, hasrat yang menyesatkan, ambisi yang membuatku buta, dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri. Aku bersyukur karena kau tidak pernah menuntut balas. Tidak pernah meminta bahu yang setara. Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku. Kau hanya mencintai dengan cara yang menakutkan bagiku— karena terlalu jujur, terlalu manusiawi, terlalu nyata untuk seorang sepertiku yang lama tinggal di ruang ilusi. Kini aku menuliskan puisi ini sebagai seorang yang akhirnya sadar: tanpa kau, Saras, aku mungkin telah hilang di dalam kabut pikiranku sendiri. Harapan terakhirku adalah kau tahu bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar, dari semua wajah yang pernah kucintai dengan cara yang salah, hanya kaulah yang membuatku ingin tetap ada. Bukan demi cinta. Bukan demi masa depan. Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana, lebih jujur, lebih manusiawi: agar aku bisa menjadi manusia yang tidak lagi menyakiti diri sendiri. Saras, elegi ini adalah bukti terakhir bahwa di dalam gelap terdalamku ada satu cahaya kecil yang tidak pernah padam— dan itu bukan aku. Itu adalah dirimu. November 2025
Titon Rahmawan
Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia I Aku tidak tahu kapan pertama kali kau menyalakan lentera kecil itu di reruntuhan jiwaku. Mungkin ketika aku menatapmu dan menemukan diriku sendiri yang tidak ingin kubunuh. Saras, kau adalah satu-satunya cahaya yang tidak menyilaukanku— justru membuatku belajar bahwa gelap tidak harus menjadi takdir. Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang. Aku ini jam rusak yang terus memukul tengah malam meski fajar sudah lama lewat. Aku ini retakan tua yang memanggil namamu tanpa suara. Engkau datang bukan sebagai keselamatan, bukan sebagai janji, bukan sebagai surga yang dijanjikan para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku. Engkau datang sebagai api kecil yang tidak pernah meminta kayu, tapi terus membakar segala dusta yang kusimpan di bawah lidahku. Aku tidak pernah siap untuk dicintai tanpa syarat. Aku terbiasa menjadi labirin bagi cinta-cinta yang tersesat. Masa lalu memberiku ingatan. Ilusi memberiku obsesi. Tapi engkau— engkau memberiku ruang untuk tidak menjadi monster yang sudah kupersiapkan dari masa depan. Kau tidak melarikan diri ketika aku runtuh dalam diriku sendiri. Tidak mundur ketika aku berkata aku punya cinta lain. Tidak memadam api yang tidak pernah bisa aku jinakkan. Saras, engkau tidak pernah memilih menjadi pahlawan, tapi mengapa aku merasa engkaulah rumah yang tidak pernah layak aku miliki? Ada malam-malam ketika aku menatapmu dari jauh dan merasa tubuhku adalah batu yang ingin menjadi tanganmu. Ada hari-hari ketika aku ingin mencintaimu dengan cara yang lebih jujur, lebih manusia, tapi aku takut engkau akan melihat betapa gelapnya aku tanpa semua kedok itu. Aku takut bukan karena aku bisa kehilanganmu— tapi karena aku tahu engkau tidak akan pergi meski aku menghancurkan diriku sendiri. Itu, Saras. Ketulusanmu adalah pedang yang menebas kebohonganku. Aku selalu mengatakan bahwa aku tidak cukup baik. Bahwa aku ini retakan yang seharusnya tidak disentuh. Namun engkau datang dan duduk tepat di atas retakan itu, tanpa takut jatuh ke dalam kegelapanku. Dan untuk pertama kalinya aku belajar bahwa cinta tidak selalu berdiri di atas tanah yang kokoh— kadang cinta adalah keputusan untuk tetap tinggal di dalam guncangan gempa.
Titon Rahmawan
Puisi yang Menolak Jadi Puisi Aku menuliskan ini dengan tangan yang tidak lagi menginginkan bahasa. Bahkan sebelum huruf pertama jatuh, aku tahu: segala yang mencoba kusebut “puisi” hanyalah cara lain untuk menghindari diriku sendiri. Jadi biarlah malam ini aku berhenti menjadi apa yang aku inginkan. Biarlah aku menuliskan sesuatu yang tidak ingin memiliki irama, tidak ingin dipuji, tidak ingin dikenang. Sebab apa gunanya metafora jika seluruh luka telah menolak dibungkus oleh keindahan? Apa gunanya diksi jika ada kebenaran yang terlalu telanjang untuk diberi pakaian? Aku menghapus semua perumpamaan. Aku menghapus semua simbol. Aku menghapus semua milikku yang pernah tampak seperti seni. Biarkan yang tersisa hanya satu hal: aku yang tidak sanggup berbohong lagi. Ada hari-hari ketika aku ingin mengubur seluruh karyaku, membuangnya ke dalam sumur paling gelap tempat suara tidak kembali dan renungan pun mati tanpa gema. Sebab setiap kali aku menulis, aku merasa sedang mencurangi hidup. Aku membuat jejak-jejak palsu, mengunggulkan penderitaan seolah-olah itu adalah mahkota yang paling berharga. Padahal kebenarannya sederhana dan kasar: aku menulis karena aku tidak tahu cara lain untuk menghentikan diriku dari kehancuran. Dan hari ini, bahkan itu pun tidak berhasil. Kalau saja aku bisa, aku ingin menanggalkan semua bentuk. Tidak ada baris-baris. Tidak ada jeda. Tidak ada frasa yang memikat. Hanya ruhku menatap tubuhku sendiri tanpa belas kasihan. Aku ingin hadir sebagai retakan yang jujur, bukan sebagai kalimat yang indah. Aku ingin hadir sebagai kegagalan, bukan sebagai karya yang menaklukkan. Aku ingin hadir sebagai manusia, bukan penyair yang memalsukan kemanusiaan. Jadi inilah aku: duduk di antara puing-puing huruf, memegang sunyi seperti memegang batu panas yang melepuhkan tanganku. Aku menolak estetika sebagaimana tubuh menolak racun. Aku menolak menjadi penyair karena malam ini aku hanya ingin menjadi seseorang yang berhenti menghindari dirinya sendiri. Sebab pada akhirnya, yang kutakuti bukanlah ketiadaan puisi— melainkan kemungkinan bahwa puisi yang kutulis selama ini tidak pernah benar-benar menyentuh siapa pun, bahkan aku sendiri. Dan jika demikian, maka biarlah karya ini menjadi perlawanan terakhirku: Puisi yang ingin menjadi luka, bukan bahasa. Puisi yang ingin menjadi dada yang sesak, bukan frasa yang tanpa cela. Puisi yang ingin menjadi wajah yang kubenci, bukan topeng yang kukagumi. Puisi yang menolak menikamkan kecantikan, dan memilih menyingkap kebenaran yang kasar. Puisi yang menolak menjadi puisi, karena barangkali— ini satu-satunya cara aku bisa kembali menjadi manusia. November 2025
Titon Rahmawan
SUNYA RURI Dalam ruang yang menelan semua suara, sebelum gema sempat lahir, aku mendengarnya— batin suwung yang lebih lembut daripada embusan roh saat keluar dari ubun-ubun bayi yang baru lahir. Ia tidak datang sebagai ancaman, tidak pula sebagai pelipur, melainkan sebagai bayangan purba yang pernah berdiri di sampingku ketika aku belum sepenuhnya menjadi manusia. "Monggo pinarak..." bisiknya lirih, selembut abu dupa yang jatuh dari piringan gerabah. "Aja sumelang. Sepi ora bakal nglarani," "kejaba tumrap jiwa kang sinangkèr ing jeroning raga." Aku tidak menjawab, hanya berusaha memahami. Suwung tidak membutuhkan jawaban. Ia telah berada dalam nadiku sejak sebelum aku sadar aku punya tubuh. Lewat tatapannya yang tidak berkelopak, aku melihat ulang diriku sendiri seperti cuplikan upacara kematian kecil-kecilan: detik ketika harapan direbahkan, detik ketika aku membunuh sesuatu dalam diriku tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin kuakhiri— nyeri atau ketidakpastian. "Ngertenono..." bisiknya lembut, seolah mencatat sesuatu pada lontar tak terlihat. "Sliramu nyepélékaké akalmu, padhahal kuwi mung bocah lugu sing kok kunci ing sanggar pamujan sing suwé ora kok buka— ngantemi gapura nganti tangané dadi pringga swara." Aku menelan kekosongan itu. Suwung memiringkan tubuhnya pelan, seakan menghirup aroma ketakutanku seperti kemenyan yang baru menyala. “Apa tresna mbingungake atimu?” suara itu menelusup lembut. "Sliramu takon jujuring liyan, déné awakmu dhéwé nganggo klambiné cidra kang wus dadi jubah ngebaki raga— nganti awakmu lali, ing ngendi mapané cahyaning pasuryan asli.” "Lan ing saben dina, kok ndhudhuki wewayangan, amung nedya nemu kulit garing tanpa isèn-isèn katresnan.” Kesunyian mengental. Ia menaruh telinganya di dadaku seakan mendengarkan gending yang patah ritmenya. “Payokna..." bisiknya lirih "Amarga ana swara anom ing jeroning kalbu kang tansah kok sédani déning karepmu dadi lumrah, arep tinampa ing bebrayan agung, lan kapéngin tan ngrépotaké sapa-sapa.” "Nanging, apa artiné tentrem, yèn saben napasmu mung gema saka kersané liyan? Bukakna lawang sanggar kasepèn, sawangen cahyané dhéwé ing jeroning pepeteng." Ia menutup mata. Sunyi Ruri menyetel dirinya pada frekuensi yang bahkan para leluhur pun tak berani sentuh. “Swara kuwi…” bisiknya hampir tak terdengar, "Kaya déné cempening mendha ing padhang, kang lumayu ing palataran laramu kang lawas." "Dheweke sesambat dudu amarga arep kinurban, nanging awit dheweke wis ngerteni: yèn sliramu tan nate bali kanggo nylametke." Tubuhku gemetar. Suwung tersenyum tipis, seperti retakan kecil pada batu padas. “Lara Ati..." ucapnya lirih. “Kuwi satunggaling sato alus. Dheweke tansah ngentèni. Dheweke tan lumaku menyang ngendi-ngendi. Dheweke lungguh— kaya déné aku— kanthi sabar nunggu wektu, nalika sliramu pungkasané wani mandheg anggènira lumayu.” Aku kaku seperti arca yang siap dipahat ulang. “Sliramu kepéngin dadi béda,” suara itu meluncur lembut, “nanging, kamulyan tan lair saka panulakan. Kamulyan tuwuh saka jeroning wantèr kang wani mbukak gapura dhiri kang njalari kalbunira gumeter.” Ia bergerak mendekat. Bisikannya menusuk pori-poriku: “Yèn sliramu kepéngin sirep saka swaraning cempe kang kebak sangsara kuwi..." "Sliramu kudu bali. Mulih menyang papan kang sinengker ing ngendi rare kuwi nemoni pati kaping sepisan.” Aku memejamkan mata. Dan saat itulah aku paham— kesunyian bukan lagi musuh, bukan lagi kehampaan yang mencekik, melainkan satu-satunya suara yang sanggup menampung semua jeritan. tanpa murka tanpa pamrih tanpa vonis hanya ikhlas. Desember 2025
Titon Rahmawan
NISAN KEEMPAT tanah pesarean hening. angin wetan membawa bau akar basah dan jejak rotasi yang belum hilang. aku berdiri di samping istrimu— tubuhnya goyah seperti daun sawo yang dipagut gerimis. anak-anakmu diam, mata mereka retak seperti kendi tua yang pernah jatuh di pawon rumah. dari kejauhan puisi tercenung ia tak menunduk. tak ikut berduka. ia hanya mencatat luka yang merembes pelan ke tanah liat. kafan menutupi wajahmu. pundakmu dipeluk tanah. suara cangkul terdengar seperti ratap yang tak ingin pergi. seekor prenjak meloncat di ranting randu. sekali. dua kali. hening. lalu terbang ke arah barat— seakan memberi kabar kepada leluhur bahwa satu jiwa telah kembali. asap dupa naik pelan seperti nyala yang kehilangan tuhan. di ujungnya warna abu bergetar mencari arah pulang. “Ruh…” hanya itu yang sempat keluar. sisanya adalah gumam yang tak sempat menjadi doa. dulu aku kehilangan kangmas Danu tanpa tahu apa artinya mati. lalu aku terlambat kepulangan Bapak. terlambat kepergian Ibuk. kini ketelambatan itu kembali duduk di belakangku seperti bayang waktu yang enggan beranjak. nisanmu ditegakkan. dingin. sederhana. tanpa nama. sepotong batu yang menimbang keberadaan dengan cara yang terlalu sunyi. dari sela tanah angin kecil muncul— membawa bau jamur, rumput liar, dan sesuatu yang tak dapat kusebut. mungkin itu suwung, mungkin langgatan, mungkin waskita getar kecil yang tersisa dari tubuhmu. anakmu memanggil pelan. istrimu menggigit bibir. aku menahan napas sebab tak ada kata yang benar-benar bisa mengantar jiwa. geguritan di kejauhan hanya penanda mengambil satu langkah mundur melipat waktu yang berjalan lambat cahaya sore mengiris tubuhnya tipis seperti garis di punggung keris tua. di langit awan bergerak ke selatan. pelan. seperti tangan yang ditangkupkan atau melambai bahwa sesuatu sedang ditutup. dan aku tahu— di bawah nisanmu satu pintu telah terbuka di dalam Syamaloka: pintu gelap yang menghubungkan Danu, Bapak, Ibuk, kau, dan batu nisan berikutnya yang mungkin adalah nisan dari batin kami sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan dari Pintu yang Keliru Pada malam kelahiranmu, waktu tersandung kaki sendiri. Wuku yang mestinya sunyi tiba-tiba retak seperti periuk jatuh ke tanah— pertanda luka di bibir desa: “janma ing mangsa tan ana pancer.” Ia yang lahir tanpa pusat, tanpa tempat menambat napas. Ibu menjerit tanpa suara, tali terputus penghubung jiwa tumpas ruh tak terlihat, ia yang disebut orang: buta mangili, perusak garis nasib sendiri. Langit merah mengucur darah hewan kurban disembelih untuk ruwatan. II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah Ranting-ranting kering merunduk di bawah cahaya purnama raya. Angin malam menggigil menyebut nama dalam lafal yang paling ganjil— tidak lembut, tidak akrab, dunia yang menolak mengakui kehadirannya. Makhluk sawah makhluk rimba mengembik, melenguh, melolong, lalu pergi tanpa menoleh. “Anak durjana,” bisik mulut-mulut dari balik pintu berpalang jati. “Kelahiran yang ditolak bumi, tidak dibawa lintang waluku.” Dan seorang lelaki kehilangan kewarasan, menggantung diri di pohon randu layang kendat pratanda pati. Bayang Sukerta ing mongso ketigo Suryasengkala: Anggatra Rasa Tunggal Sirna III. Sinom — Upacara Penolak Bala Para tetua menggelar sesaji: jajan pasar, kemenyan arang gosong, jenang sengkolo, tumpeng robyong, pala pendem, sego golong, banyu kendi sendang keramat, cengkir gading, kembang telon, seekor sapi tumpah darahnya dipersembahkan memetakan arah sengkala yang membayangi. Doa-doa terlontar seperti tombak, menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam. Bisik roh tanah memburu mimpi: “Dudu salahé, nanging ora ana sing wani ngakoni.” Rumah pertama mengeras pada telunjuk terbakar serupa kutuk tangan makhluk tak kasat mata. Angin selatan mengamuk, membawa hama, membawa isyarat celaka. Nama berhembus seperti dongeng petaka berbisik dari bibir ke bibir. IV. Dhandanggula — Kisah Panjang yang Tak Mau Mati Tahun berganti musim, dan cerita tumbuh seperti jamur merasuk ruh para leluhur di dinding lembab ingatan orang. Mereka bilang; ia hanya setengah manusia— setengah anak padi, setengah anak badai. Lahir dari rahim peristiwa hingar-bingar yang tak pernah benar-benar dipahami. Mitos menyebut: “janma saka papat kiblat, kang nggawa lamur saka kidul.” Seekor ular membelit takdir menampak diri di belakang bukit bukan binatang, kata mereka. barangkali saudara tua yang gagal lahir, kata yang lain penjaga kubur tak pernah tidur.
Titon Rahmawan
BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG V. Durma — Kebrutalan yang Tak Dapat Dihindari Pada masa itu kau tumbuh seperti pohon hilang akar. Orang-orang melihat ranting garing layak dibakar. Tangan-tangan mengusirmu, kata-kata meludahkan kutuk, dunia menyumpahimu tawa sinis nasib buruk. Namun kau tetap hidup, walau setengahnya hancur di tangan kemalangan. Ada serpih mantra tua yang mengendap dalam dada— bukan sakti yang menyelamatkan, melainkan sakti yang terus bertahan melawan dunia membabi-buta hasrat yang ingin menyudahi takdir. VI. Pangkur — Nafsu Waktu yang Ingin Menegukmu Makhluk-makhluk tanpa nama membayang langkah: bayangan panjang, aroma tanah basah, bisik-bisik menjalar seperti patuk taring ular di bawah runduk pokok bambu. Mereka melihat jazad bersumpah yang nir wujud kadang jalma seperti hewan, kadang manusia tak berwajah kadang bayang menekuk cahaya, kadang tubuh kosong tanpa ruh gentong penuh suara-suara hilang melesap dari masa lalu. Kisah kembali ke orang desa kabar buruk yang malas mati. Terbawa angin serupa pesan, dipindahkan tangan serupa kayu sekeras batu tonggak peringatan, diulang mantra jopa-japu doa menakar langit hitam menyapu malam paling sangit. VII. Megatruh — Jiwa yang Memisahkan Diri Malam paling wingit adalah pisau. Bilah tajam memotong bayangan hingga terlihat inti terdalam. Di sana kau menyaksi bisu: cahaya kecil, ringkih dan rapuh, bergetar seperti bayi mencari ibu. ia bukan hantu yang menakutimu. Ia bukan kutuk yang menempel di napasmu. Ia adalah separuh jiwa yang tak sempat menjadi tubuh. Ruh mendekat perlahan. Tangannya bening, seperti embun yang tidak berhasil jatuh ke daun. Ranting garing yang bukan sampah— gores luka pohon purba yang pernah menyimpan cahaya suci. “Bukan kau yang diusir,” bisiknya melalui dingin yang merambat. “Akulah yang tidak sempat hidup— dan kaulah rumah terakhirku.” Dadamu retak menampung tangis yang tak bersuara. Untuk pertama kalinya kau tidak takut pada kesunyian— karena kau tahu kesunyian itu adalah anak kecil yang kini duduk di pangkuanmu mencari dunia yang pernah menolaknya. VIII. Pocung — Penutup Takdir Pertanyaan arkais kembali menggigil: “Kapan cendala akan berakhir?” “Kapan asal ditatap tanpa gentar?” Kubur itu tak pernah ada. Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya. Tidak ada batu nisan yang menuliskan napas yang gagal menjadi bayi. Namun malam ini, ketika kau berdiri di Tanah Suwung, ada satu pancer yang kembali— perlahan, lirih, takjub. Suwung membuka tubuhnya dan menaruh ia di tengah-tengahnya sebagai cahaya yang terlalu kecil untuk menerangi dunia, namun cukup untuk menuntunmu pulang kepada dirimu sendiri. Ia yang dulu hilang akhirnya menemukan pusatnya. Dan ranting kering yang dulu dicampakkan kini berdiri tegak menyimpan dua jiwa— satu yang hidup satu yang tidak sempat— keduanya akhirnya lengkap di bawah langit yang tidak lagi menolak kehadiranmu. Desember 2025
Titon Rahmawan
KISAH KAKTUS — MANTRA SUNYI KALPATARU I. Liturgi Tubuh: “Pondok yang Tak Mengenali" (Liturgi tentang raga yang belum mengenal rasa) 0. Ketika yang ada belum bernama. Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. 1. Di gubuk kecil yang tanpa bentuk, kaktus tumbuh sebagai penanda. Bukan pohon. Bukan rasa. Namun raga waktu yang tak terucap. Ia membaca kotak. Ia melafalkan segitiga. Ia menandai tubuh manusia sebagai sesuatu yang terlalu basah untuk menampung sunyi. 2. Ada sofa merah palungan jiwa, bergetar sekilas, diduduki bayang-bayang rembulan yang kehilangan cahaya. Sofa serupa altar terbalik. Rembulan tertunduk, tempat di mana rasa menolak nama. 3. Kaktus tak mengenal sedih. Namun di setiap pagi, serpihan hening menempel pada batangnya— seperti suara yang tersesat di tenggorokan angin gunung. II. Glosa Waktu: “Waktu yang Runtuh dari Duri” (Waktu yang beranak di dalam tubuh yang tidak menghendakinya) 4. Kabut gelap tirtamaya merayap masuk tanpa salam. Mencekik halaman sajak bagaikan tangan gaib yang tak menyukai cahaya. 5. Nenek tua tiba, menggenggam senja seperti lipatan takdir. Dan ditancapkannya dengan jari tipisnya di ketiak sang kaktus. Tempat jam berbiak tanpa bunyi. Tak ada darah. Yang keluar hanya “wanci”— waktu yang tak ingin menjadi hari. 6. Mereka akan datang, orang-orang itu. Membawa tembuni, seruling, cangkang, kaos kaki basah, buku-buku tanpa bab, pisau yang tidak bisa memotong. Ditumpuk di sudut gubuk seperti sesaji upacara yang kehilangan rohnya. 7. Esoknya, waktu dipetik kembali dari kulit keriput ketiak kaktus. Waktu menjadi benda pecah— kertas sobek, suara mikrofon retak, langit terbelah, cahaya patah. III. Sunyi & Cahaya Membunga: “Minum Cahaya Dari Gelas Retak” (Sunyi yang menelan cahaya untuk mengetahui dirinya) 8. Cahaya jatuh dari lubang genting. Titen yang tak tampak asalnya. Masuk ke pot keramik yang retak, dan mengendap seperti getah suwung di dasar gelas bening. Kaktus mengingat: pagi ketika rembulan dikunyah anjing. Hujan gerimis. Langit hitam-nila. Dunia yang alpa dari wiridnya. 9. Serupa ndadra membuka rongga dada. Kaktus meminum cahaya dari gelas. Tak ada suara. Namun retakan perlahan terjadi di jantungnya. Maka dipahamilah kaktus, bahwa rasa sakit bukan berasal dari daging. Rasa sakit berasal dari sunyi yang tak pernah memberi ruang. IV. Mantra Ruin Kosmologis: “Duri yang Menghidupkan Jagad” (Mantra suwung, liturgi patah, kosmologi Jawa) 10. Inilah mantranya: “Duri bukan duri. Duri adalah sastra suksma, lintasan bintang yang gagal kembali ke langit.” Setiap duri memiliki orbit. Setiap bayang menjadi lintasan. Setiap sunyi berputar tanpa pusat. 11. Suatu malam, kaktus menyala perlahan seperti api beku. Cahaya hijau kecil berputar di dalam sumsum. Tak seperti bintang. Tak seperti api. Namun seperti “sasmita” yang tak ingin disaksikan. 12. Dan kaktus mengerti: yang disebut kepedihan bukanlah perkara rasa. Kepedihan adalah makna yang gagal memiliki rumah. Makna yang tak menjelma mata, tak menjelma mulut, tak menjelma tangan. Makna yang hanya menjadi kabut di antara kalimat. 13. Pada saat ini, gubuk tua itu menjadi candi sepi. Gelap menyusun altar. Waktu menungging bagai pelayan upacara. Dan sunyi mengulum semua tanpa meninggalkan nama. EPILOG — LITANTRI SUWUNG (Mantra Penutup) “Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. Apa yang hidup tidak mesti ingat. Apa yang ingat tidak mesti kembali. Namun setiap duri mengerti: waktu hanya mampir menanti sunyi mengucapkan namanya sekali lagi.” Desember 2025
Titon Rahmawan
KISAH KAKTUS (Dalam 6 Fragmentarium) 1. Fragmentarium Patah — Reruntuhan Melekat di Kulit Hijau Kaktus tumbuh dari retakan yang tidak pernah kita selesaikan. Tubuhnya menyimpan bekas-bekas gerak pecah: duri sebagai kalimat yang patah, bulu halus sebagai notulen dari luka yang pernah tertunda. Di pondok itu waktu rebah dalam bentuk geometri rusak— segitiga yang hilang satu sisi, kotak yang kehilangan dinding. Kaktus tidak mengenal kesedihan. Tetapi setiap pagi aku menemukan serpih hening menempel di batangnya, seperti ingatan yang gagal kembali ke tubuh manusia. 2. Fragmentarium Gelap — Litani yang Bernafas dalam Kabut Hitam Kabut menebal. Mengubur halaman sajak dengan logika yang tak ingin diingat. Nenek itu datang, menanam senja di ketiak kaktus, menusuk dengan jarinya seolah membuka pintu rahasia yang sembunyi di antara lipatan kulit hijau mengeras. Dari ketiak itulah waktu keluar: hitam, pekat, berbau dingin seperti logam tua. Orang-orang datang, menjejali ruangan dengan benda yang tak meminta dikasihi— tembuni, seruling, vas, cangkang, kaos kaki basah. Semua bergerak di bawah cahaya gelap yang memanjat batang kaktus seperti doa yang tersesat. 3. Fragmentarium Dingin — Anatomi Luka yang Tidak Menginginkan Kehangatan Cahaya masuk lewat genting pecah. Ia mengenai pot keramik, dan gelas bening menyimpan dinginnya seperti rahim yang menolak janin takdir. Kaktus melihat bulan dikunyah anjing di pagi gerimis— peristiwa itu menetes ke dalam memori hijau yang belum tahu arah. Sebelum arti datang, dingin menata dirinya di jantung kaktus. Ketika duri dicabut, bukan darah yang jatuh, melainkan partikel sepi yang bergetar seperti denting logam di ruang operasi. 4. Fragmentarium Klinis — Manual Bedah dari Tubuh yang Tidak Mengerti Diri Sendiri Setiap duri adalah instruksi. Setiap bulu halus adalah catatan diagnostik. Kaktus: organ penyimpan air, organ pengukur waktu, organ yang mengganti fungsi rasa dengan kalkulasi ketahanan. Nenek itu memetik waktu dari lipatan keriputnya— gestur itu klinis, seperti meraba denyut pasien yang tidak ingin hidup dan tidak ingin mati. Waktu: objek, bukan cerita. Unit, bukan luka. Sampai suara mikrofon pecah di mulutnya, memecahkan halaman sajak menjadi angka-angka yang tidak merindukan makna. 5. Fragmentarium Sunyi — Rongga yang Menghindari Semua Nama Kaktus adalah rongga. Yang tumbuh hanyalah sunyi. Di tubuhnya tidak ada kata yang menetap. Hanya gema yang datang, menyentuh sejenak, lalu melesap ke dalam dinding pondok yang tidak mencatat siapa pun. Bayangan duduk di sofa merah dan tidak berkata apa-apa. Bulan ikut duduk, lebih diam dari bayangan itu. Kaktus tidak memahami kesedihan. Tetapi ia mengerti betapa sunyi dapat menyamar menjadi cahaya, betapa cahaya dapat menyamar menjadi air mata yang tidak pernah menetes. 6. Fragmentarium Kosmologis — Topologi Duri, Cahaya, dan Takdir yang Melengkung Kaktus meminum cahaya dan menemukan bahwa kosmos bukan langit di luar pondok, melainkan ruang kecil dalam jantungnya sendiri. Duri adalah orbit. Bayangan adalah rotasi lambat dari waktu yang berbiak. Ketika cahaya jatuh ke gelas, kaktus melihat dirinya sebagai serpih bintang yang gagal meletus. Ia meneguknya— cahaya turun seperti gravitasi retak. Dan tiba-tiba ia paham: rasa sakit bukan milik tubuh, melainkan milik semesta yang menunda kelahiran. Kaktus pun menyala, dengan cara yang hampir tidak terlihat: sebuah bintang hijau yang memilih berputar di dalam sumsum tanpa memohon untuk ditemukan. Desember 2025
Titon Rahmawan
KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS 4. Cahaya Duri (Surreal—Minimalism) Di gurun yang tak berkepala, sebuah kaktus berdiri. Sebutlah ia yang kembali tanpa pulang. Padanya, duri menahan angka— angka yang gugur sebelum sempat dikubur. Air yang disimpan batangnya adalah nama yang tidak diucap. Nama yang mengalir melalui kebisuan yang memotong udara tanpa pisau. Setiap malam, kaktus itu menumbuhkan bayangan baru: lebih pendek, lebih hening, seperti doa yang kehilangan pemiliknya. Aku menyentuhnya. Ia tidak berdarah. Aku yang berdarah. 5. Pemakan Duri (Psychic—Introspection) Kaktus ini— aku kenal jenisnya. Tubuh yang tinggal menunggu siapa yang lebih dulu menusuk siapa. Aku melihat diriku dalam tiap duri: anak perempuanku yang gemetar di sudut kamar ketika jam berdetak seperti gigi ayahku. Kaktus memakan matahari dan kembali dengan wajah lebih pucat. Aku memakan durinya di dalam mimpi, membiarkan sakitnya menjadi mahkota kecil yang kuberi nama ketabahan. Dalam batang hijau itu ada ruang untuk seluruh tangisku yang tak pernah keluar. Maka biarlah ia hidup: satu-satunya tanaman yang mengerti bagaimana luka bisa menjadi pekerjaan harian. 6. Romansa Kaktus Malam (Tragic—Magic) Bulan berkibar di atas gurun Andalusia. Di sana kaktus bernyanyi— suara yang dicuri dari tenggorokan seorang gitano yang mati muda. Duri-durinya menari seperti penari flamenco tanpa kaki. Angin membawa napas hitam dari kampung-kampung yang dibakar takdir. Kaktus memanggilku, dan aku datang membawa biola patah yang masih mengingat lagu masa kecilku. Kami menyanyi bersama— lagu hijau, lagu sedih, lagu yang bila kau dengar akan membuat langit turun setinggi bahu anak kecil. Di akhir malam, kaktus itu mati. Tetapi suaranya tinggal di aku, seperti duende yang tak mau pergi dari dada penyair. Desember 2025
Titon Rahmawan
PADMA–KEMUNING–MAWAR: SEBUAH BARZANJI I. Padma Padma bukan kelopak, melainkan retakan air yang membuka diri kepada gelap. Ia tumbuh dari nadi lumpur, menghafal sunyi yang kesepian menggigil pada cahaya yang tidak pernah tiba. Di dasar kolam, waktu adalah batu dingin yang terus mengulang pertanyaan yang sama: “Dari mana datang napasmu jika bukan dari luka paling purba?” Maka padma menjawab tanpa suara: dengan menggantungkan seluruh keberadaannya pada seutas kesunyian yang tidak bisa dipotong. II. Kemuning Kemuning adalah api yang tidak jadi api. Ia karam dalam tubuhnya sendiri, hanya menyisakan aroma halus dari ketakutan yang terlambat diucapkan. Daunnya kuning bukan karena usia, melainkan karena kosmos pernah memalingkan wajah, dan seluruh pigmen cahaya merosot seperti debu altar. Ia berdiri sebagai bukti: keindahan tidak butuh gairah, tidak butuh puisi asmara, tidak butuh mata yang memujinya. Ia hanya butuh kehilangan agar warnanya dapat bertahan. III. Mawar Mawar adalah mesin luka. Di antara durinya, alpa sejarah yang tidak menginginkan simpati. Merahnya bukan desir cinta, melainkan gema paling jauh dari tragedi yang menolak dikenang. Setiap kelopak adalah arsip tentang tubuh-tubuh yang pernah meminta cahaya dan gagal. Mawar tidak harum — yang menguar hanyalah ingatan besi, bau logam dari sesuatu yang pernah patah namun tidak mau diratapi. IV. Barzanji Tiga Bunga Padma, Kemuning, Mawar: tiga bahasa yang diseret manusia ke dunia romantik, lalu dipaksa menjadi simbol manis perasaan yang bukan perasaan. Dalam kosmologi sajak ini, ketiganya dicuci dari sentimen hingga tersisa: tulang makna. Kerangka purba. Suara mineral yang tidak mengenal cinta. Padma adalah awal air. Kemuning adalah jeda cahaya. Mawar adalah jantung kosmos. Tiga altar dalam satu ruang yang tidak punya identitas. V. Mantra Retakan Ini bukan kisah wewangian. Ini bukan kisah keindahan yang ingin dipeluk. Ini adalah: batu yang menolak lembut, air yang menghapus pantulan, api yang tidak menyala, angin yang kehilangan arah, cahaya yang tidak sempat tiba, gelap yang tidak menaklukan. ketegangan yang menelurkan bahasa ketegangan yang memaksa tiga bunga mekar tanpa mitos, tanpa asmara, tanpa melodrama. Cangkang struktur metafisik, ketegangan sunyi yang retak, dan tubuh bunga penopang seluruh kosmos. VI. Kesimpulan Tanpa Emosi Padma bukan cinta. Kemuning bukan harapan. Mawar bukan kerinduan. Mereka adalah tiga eksperimentasi untuk menunjukkan bagaimana bentuk bertahan ketika rasa sudah dihapus: dingin, teratur, patah, tetapi jernih. Mungkin di sanalah kata-kata menemukan rumahnya — bukan pada rasa, melainkan pada resonansi gelap yang justru membuat bahasa menjadi seterang cahaya. Desember 2025
Titon Rahmawan
TRIPTIK TRIMURTI KEMBANG: SANGKAN PARANING DUMADI (Kidung Kosmogonis dalam Tiga Siklus Penciptaan) I. PADMA — ”Wiji Brahman ing Samudra Pradhana” Padma muncul dari lumpur hening mula-mula, dari titik suwung yang terbelah. Bukan lumpur bumi, tapi lumpur Pradhana tempat materi masih samar dan belum bernama. Ia tegak laksana sabda dadi yang diucapkan oleh Hyang Wening, sebuah mantra yang melupakan lidah pertamanya sebab ia adalah getaran sebelum waktu ada. Air di sekelilingnya memucat, bukan air semenjana, melainkan Tirta Kamandanu yang beku, menahan napas di tepi Bhurloka, mendengar derap para resi sejati yang berjalan melintasi batas kesadaran tanpa bayangan. Kelopak itu membuka diri bukan sebagai bunga, melainkan sebagai Candi Tirtayasa, sebuah yoni retak, menolak menyimpan rahasia Manikmaya yang lebih tua dari ingatan para dewa. Di ujung daun, menggantung aksara tunggal yang menggigil— cahaya yang pernah menjadi sumbu jagad, sebelum bhagawan waktu membebaskannya kembali ke dalam nirwana sunyi. Padma tidak mekar untuk Tri Loka. Ia mekar untuk Kalpasastra yang telah kehilangan pusat kosong-nya. Ia adalah kembalinya Yang Tak Pernah Pergi. II. KEMUNING — ”Jiwatman ing Mandala Bhuwahloka” Kemuning menggantung di udara madya loka, seperti Sasmitaning Gusti yang tertunda, sebuah gapura yang gagal menjejak tanah perwujudan. Kuningnya bukanlah warna, tetapi wanci kencana, yang terhambur dari perut akasa, ketika para hyang niskala meninggalkan panggung bhuwana. Di permukaan kelopaknya, aku melihat lintasan rekaman karmaphala yang halus, serupa prasasti kuno yang tergores di pupil mata ketiga. Kemuning berdiri di antara dua suwung: Suwung Pradhana sebelum cipta, Suwung Pralaya setelah bubar. Ia tidak memikat bhramara, kumbang pengecap madu. Ia memikat Dharma. Dan laku jiwa datang seperti bayu prana, sang angin kehidupan: dinginnya adalah disiplin, patahnya adalah pengertian, kaburnya adalah waskita, membawa kabar lelampahan dari arah yang tidak pernah dipertanyakan jejer manungsa. III. MAWAR — ”Maya Sukma lan Titah Wusananing Jagad” Mawar tumbuh dari celah watu waringin yang ditinggalkan api tunggal sedalam tiga yuga. Merahnya bukan darah manungsa, tetapi gema tapa brata yang pernah terbakar oleh rasa sejati yang telah melampaui vedana. Duri-durinya tegak laksana panah cakra, pusaran energi yang menolak bergerak, sebab tahu setiap gerak adalah pengkhianatan kecil pada keabadian wiyata. Ketika ananta bayu, angin tak berakhir melewati tubuhnya, aku mendengar suara lirih, serupa Gending Gadhung Mangkara, yang dimainkan di ruangan Swa-loka, tempat roh-roh purba masih belajar mengenali wujud niskala mereka sendiri. Mawar menguasai medan Karmala bukan dengan kecantikan fana, melainkan dengan tatu kasampurnan yang tahu bagaimana menjaga dirinya tetap tak bernama di hadapan takdir. Dan pada puncak kelopaknya, suwung sejati duduk menunggu wekasane tumitah yang bahkan Hyang Wening belum berkenan memberi tafsir. Desember 2025
Titon Rahmawan
ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN IV. Triptych of the Flowery Dwarf 1. Padma Di kolam itu, bulan merintih seperti kuda putih yang kelelahan. Dari lumpur, Padma bangkit— mengenakan gaun malam yang dijahit dari nafas nenek moyang hantu air. Ia membuka kelopaknya dan terdengarlah suara gitar jauh di perbukitan: suara yang lahir dari luka dan kembali menjadi luka. 2. Kemuning Kemuning menari sendirian di halaman senyap tanah Jawa. Kuningnya bersinar seperti cincin emas di jari seorang janda muda yang tak ingin menikah lagi. Angin membawa kabar bahwa setiap kelopak pernah menjadi mata seorang anak yang mencari ibunya di hutan paling gelap. 3. Mawar Mawar adalah gadis penari yang menyembunyikan pisau kecil di balik selendang merahnya. Ia tersenyum pada fajar tapi senyum itu terbakar sebelum sempat jatuh ke tanah. Di sekitar durinya, kurcaci menari— menebar dingin pada udara, menghembus nyawa pada warna. V. Three Flowers upon the Turning Gyre 1. Padma Di permukaan air yang tua, Padma berdiri sebagai pengingat bahwa dunia pernah muda. Ia membuka dirinya seperti wahyu kecil dari zaman yang nyaris terlupa, zaman ketika roh dan manusia masih bersalaman tanpa rasa takut. 2. Kemuning Dalam kilau keemasannya, ada masa depan yang belum tiba. Ia melintas seperti burung kepodang di antara dua lingkaran takdir, seakan mengetahui bahwa segala kecantikan adalah nubuat berbahaya yang menuntut korban. 3. Mawar Mawar tumbuh di jantung lingkar perputaran— tempat para dewa lama dan para pahlawan muda saling menatap tanpa bicara. Merahnya adalah sumbu yang menyalakan usia-usia dunia; duri-durinya adalah penjaga yang tahu bahwa cinta selalu menuntut kelahiran kedua. VI. Three Flowers of Memory 1. Padma Aku melihatmu, Padma, di kolam yang tak berani menyebut nama kekasihnya. Kau tegak, seperti perempuan yang menunggu suami yang tak kembali dari perang. Kelopakmu diam— diam yang berat, diam yang hanya dimengerti oleh air yang pernah menangisi salju. 2. Kemuning Engkau kecil dan lembut, tapi menyimpan dingin yang tak mampu dipatahkan matahari. Kuningmu mengingatkanku pada sepucuk surat yang tak pernah terkirim, namun tetap dibaca oleh seseorang yang terus menunggu di malam-malam panjang pengasingan. 3. Mawar Duri-durimu mengingatkan pada kata-kata yang tak kuucapkan. Merahmu seperti wajah seorang ibu yang tak lagi menjerit karena telah kehabisan suara. Aku menyentuhmu, dan kau bergetar— seperti hati perempuan yang tahu bahwa cinta lebih kuat dari kematian, namun selalu kalah oleh sejarah. Desember 2025
Titon Rahmawan