Rindu Pada Yang Tiada Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Rindu Pada Yang Tiada. Here they are! All 4 of them:

aneh apabila difikirkan. semakin engkau jauh daripada apa yang engkau sayang, semakin engkau lari daripada sesuatu yang engkau tahu dan kenal, maka rasa rindu itu akan menjadi semakin kuat. itulah masanya engkau tenggelam dalam kepasrahan. dan engkau tidak mahu apa-apa kecuali masa itu diputar semula agar engkau dapat kembali pada segala-galanya yang telah tiada. tetapi semua orang tahu, bahawa tidak ada sesiapa yang dapat kembali ke zaman silam. lalu engkau akan kecewa.
John Norafizan (Odisi Bulan Biru)
Duhai Pemilik waktu dari arusMu usiaku terlahir dan mengalir pada muara mautMu aku berakhir dan menyerah'' Engkaulah dermaga tempat ikrar perjalananku melunasi batas rantau pulang kala jiwa tersesat di pintu dunia Engkaulah samudera tempat senjaku membenamkan usia melarungkan maut yang membadai di pantai jiwa Tuhan.... jagalah hati dan jiwa ini seperti telah Engkau jaga planet-planet yang beredar pada tiap galaksi menurut keteraturannya biar tiada berbenturan akhiratku dengan dunia sebelum akhir masa nyaris menyelesaikan lahat sebelum aku dan waktu menyeduh pamit dari secangkir hayat di perahu sepi kuamini gelombang maghfirahMu Di kedalaman sujudku kuselami putihnya do'a menghanyutkan dosa yang mnghitami muara ruhku di rimba raka'atku, ada rindu yang merimbun sebagai Kamu Engkau geriap hujan di kemarau tubuhku akulah kegersangan angin yang memanjati tebing-tebing grimisMu Tuhan... di hujan ampunan tak henti kuburu gemuruhMu kupaku telinga di pintuMu moga kudengar Kau mengetuk bertamu ke bilik sepi sunyiku
firman nofeki
PUCUNG — EPITAF LENGANG (Fragmentarium Ragawi / Penutup yang Menghapus Semua Jejak) Bisik batu, diam waktu. Tiada nama kekal di permukaan, hanya guratan angin yang lesap ke dalam lipatan. Rentang nadi semesta tak pernah menjawab tanya pertama. Pengetahuan tak bermuara, cahaya tak sanggup menembus batas dinding antara tidur dan mati. Jiwa adalah gema yang lupa asal. Akal adalah lampu kecil, tersulut di dalam kabut, padam sebelum tebing subuh luruh menjadi hening. Tenang batu, tenang bayang. Diri yang menjulur ke pusat galaksi kini diameter sebutir debu, tanpa arah, rindu, atau bentuk. Di bawah kelopak langit yang retak, seekor burung terakhir melintas: tanpa pesan, bukan pertanda apa-apa. Pada akhirnya, tak ada yang tinggal. Tak ada yang menanti. Hanya fajar terkikis di halaman sunyi semesta mengabsahkan baris sederhana: “Di sini pernah lewat sebuah diri. Ia mencari batas, tak jumpa. Lalu ia pun berhenti. Tidak pernah menjadi apa-apa.” Desember 2025
Titon Rahmawan
MALIN (Melayu - Arkais) I. Perginya si Anak Rantau Sudah berapa lama kau lautkan zikir, nyaring bunyi circir, genta suara sir, atau tuah gentala jir, wahai ibu yang tak lelah menunggu? Meski semak pikir, rumit membelit ke sirat santir mata anakmu yang kini pergi jauh merantau. Demi sebutir telur kedasih, selaksa biji ketapang dibawanya terbang. Melenting-lenting dari ranting ke ranting hingga puncak mempening. Melaju lekas lagi cergas, bagai sekandung benih paling bernas, paling beringas. Betapa lugas ia menimba pulas, mencabar daras pada deras air mata sujudmu. II. Doa dan Harapan Bunda Jangan kau kira bisa Iepas Iapar hausnya dari surut air matamu, meski neka daras nekat kau hunjam ke tubir sair, angin pasir. Pasir namamu satu yang sungguh ibu. Di ujung rantau si anak hilang, kau temui cindai dari luka patera bibirmu. Sepasang mata tua yang tak jemu meramu melumat rindu, panasea ke jantung awang. Damba bertemu sepasang mata anakmu, si Malin Kundang. Tangan yang tak Ielah menggarit Ieka usia, menguji tabularasa. KeIesah-kelusuh kabut di rekah mulut yang menggigit remang miang jelatang, dicancang cangkrang pohon jangkang. Pada dahan tempatmu menautkan gamat, bunga Alfatah dan buah ratapan. Di mana tersemat doa pinta selamat kepada Yang Gafar. Di mana selama ini engkau menggantungkan mata harapan ke hamparan selebu laut itu. Bandar yang dulu semuIa jadi tempat kapal anakmu singgah dari balau amarah. Halau jerih tengkarah, sayap letih-letah berpindah-pindah. III. Penantian dan Kerinduan Buyung, lekap susu ibunya. Puting luka yang ternyata masih kau jejalkan kepada mulut tanah yang harus tengadah, Jejak karimah, atau mungkin kemah tempat bernaung kawanan rubah. Segala akar berpilin pada sang waktu; cinta buta ibu pada anaknya, atau hela rampak pohon tumbang. Biar saja usia senja menakar renjis ludah yang cuma berkawan sirih dan pinang, Mengurut kerut-merut dahi yang tiada letih menanti. Mengukur rentang kasih-sayang yang engkau ulurkan sepanjang hayat. Sejauh lebuh, hingga sampai ke tanah seberang. Sebab pagut laut itu tidak bersudu hati pada akarmu. Pohon Temberang, di mana Malin lelap tertidur, berkarang mimpi. IV. Anak yang Melupakan Ibunya Sudah semestinya bebat lajat mengikat basat di rumah adat. Tempat diri memanjangkan rahmat munajat dan api cerawat dari Yang Maha Kuasa. Tapi mengapa justru tak tunduk batu hibuk, membaca isyarat pucuk daun tanpa alamat. Terlalu banyak hujah lamun nasihat. Terlupa semua pitawat bunda, lewat sengkela begitu rupa. Menujah helat tangan ibu yang patah. Yang dulu selalu setia merawat dan menemani. Yang senantiasa cermat menjerumat hati yang robek.
Titon Rahmawan