“
TONY, KAU DATANG DARI CELAH YANG BERDARAH DI BAWAH TAMAN KAMI
(Blue Velvet Reconstruction)
Tony muncul tepat setelah sprinkler berhenti.
Air masih menetes dari selang,
mengisi halaman dengan aroma plastik basah dan ironi yang menyengat.
Kota ini pura-pura damai,
pura-pura tidak tahu
bahwa di balik pagar putih dan bunga violet,
selalu ada sesuatu yang menggerogoti
dengan gigi kecil penuh dendam.
Aku menemukannya berdiri di tepi pagar,
menunduk pada selembar rumput yang
entah kenapa bergetar seperti sedang menahan ketakutan.
Ia mengenakan jas hitam.
Tidak seperti jas biasa—
lebih seperti kulit seseorang
yang belum siap dilepas dari tubuhnya.
“Aku hanya ingin melihat apa yang tumbuh,” katanya ringan,
menyentuh kelopak bunga biru
seolah-olah itu adalah saklar menuju sesuatu yang lebih gelap.
Senyumnya lunak,
tetapi terlalu lama, terlalu presisi—
seperti seseorang berlatih tersenyum
di depan cermin yang pernah menyaksikan kejahatan.
Di rumah sebelah, radio memutar lagu cinta tahun 50-an,
dan setiap nadanya terdengar seperti jeritan
yang disamarkan agar tetap cocok untuk lingkungan keluarga.
Tony melangkah masuk ke dalam bayangan pohon maple,
bayangan yang tidak mengikuti arah matahari
dan tampak seperti mencoba menelan sepatunya.
“Di kota ini,” bisiknya,
“segala sesuatu yang indah memiliki pintu belakang yang tidak terkunci.”
Ia mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering dari halaman kosong.
Tidak ada kabel. Tidak ada sambungan.
Hanya telepon merah yang seharusnya tidak ada di sana.
“Hallo?”
Matanya tidak berkedip.
“Ya… dia sedang melihatku sekarang.”
Ia menatapku.
Seolah aku adalah seseorang yang namanya
disebut dari ujung lain kabel yang tak terlihat.
Ada suara di dalam telepon:
napas seseorang yang terlalu dekat,
terlalu intim,
terlalu mengerti sesuatu tentangku
yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun.
Tony mendengarkan lama,
lalu menutup gagang telepon dengan lembut.
Seperti menutup kelopak mata sesosok mayat.
“Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya.
“Di ruang atas.”
Nada suaranya seperti undangan dan ancaman yang dibungkus karamel.
Kami masuk ke rumah kosong itu.
Dindingnya berwarna merah muda—
terlalu merah muda—
seperti anak kecil pernah memimpikan kamar ini
sebelum sesuatu memutuskan tinggal di dalamnya.
Ada lagu lembut berputar di radio tua,
dan udara berbau parfum murahan
yang bercampur dengan bau karat besi yang tak jujur.
Dia menyentuh gagang pintu kamar.
Tangan itu tidak gemetar.
Pintu membuka dengan suara mengerang
seperti rahasia yang keberatan dibocorkan.
Di dalam:
tirai biru menggantung,
bergoyang pelan meski jendela tertutup rapat.
“Jangan kaget,” bisiknya padaku.
“Di balik tirai itu biasanya seseorang menangis.”
Aku hendak bertanya siapa,
tapi tirai bergerak sendiri.
Sangat pelan.
Seperti seseorang yang baru saja menghapus air mata.
Tony berdiri di sampingku,
dan kini aku melihatnya bukan sebagai manusia—
tetapi sebagai retakan dalam dunia ini.
Sesuatu yang seharusnya tidak memiliki tubuh,
namun tetap memilih untuk memakai salah satunya.
Ia membungkuk mendekat ke telingaku,
napasnya dingin seperti kulkas yang menyimpan rasa lapar.
“Kota ini tak pernah kenyang” katanya.
“Pertanyaannya cuma satu…
kau ingin menjadi makanannya,
atau kau ingin melihat siapa yang memakanmu dari balik tirai itu?”
Tirai biru bergetar lebih keras.
Lampu berkedip.
Suara lagu berubah pelan,
mengalun seperti bisikan seseorang yang patah dari dalam dirinya sendiri.
Tony menoleh ke arahku,
tatapannya lembut—
lebih lembut dari yang boleh dimiliki seseorang
yang telah melihat apa yang ia lihat.
“Kita mulai adegannya sekarang,” katanya.
Dan untuk pertama kalinya,
aku sadar bahwa dalam dunia ini—
aku bukan penonton
dan bukan penulis skenario—
aku hanyalah seseorang
yang dipilih oleh tirai biru
untuk diseret masuk
ke dalam mimpi
yang bukan milikku.
November 2025
”
”