“
Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong.
”
”
Tere Liye (Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah)
“
Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.
”
”
Dee Lestari (Perahu Kertas)
“
JARAK
dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit; kosong sepi
”
”
Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)
“
Seberapa indah mimpi, jika tetap mimpi?
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1)
“
Tak pernah ada yang salah dengan cinta. Ia mengisi sesuatu yang tidak kosong. Tapi yang terjadi di sini adalah asmara, yang mengosongkan sesuatu yang semula ceper. Dengan rindu. Belum tentu nafsu.
”
”
Ayu Utami (Saman)
“
Bukankah langit kosong tetapi isi?
Dan bukankah hatimu penuh dengan isi tetapi kosong?
”
”
Sapardi Djoko Damono (Trilogi Soekram)
“
Tapi itu bukan yang gue mau, Mbak... itu semua gue kerjakan hanya untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tapi gue ngerasa kosong, dan gue baru sadar kekosongan itu nggak akan bisa diisi sama segala sesuatu yang sifatnya material. Kekosongan itu harus diisi dengan... cinta.
”
”
AliaZalea (Miss Pesimis)
“
Hentikan cinta kosong
”
”
Hilal Asyraf (Sebelum Aku Bernikah)
“
Cinta terlalu kuat untuk di lawan. Harapan kosong, itulah yang selama ini kugantang.
”
”
Andrea Hirata
“
Kita semua memang telah menjadi bodoh, dengan menjadi terlalu cinta kepada cerita-cerita yang bagus, sehingga memaksakannya untuk menjadi kenyataan itu sendiri.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Bagiku, El, omong kosong jika para petinggi agama mengatakan bahwa agama tidak ada urusannya dengan akal. Buat apa manusia dianugerahi otak jika untuk mengenali Pencipta Otak itu, dia tidak boleh menggunakan otaknya? Menurutku, agama selalu memberi kesempatan kepada para pemeluknya untuk memilah mana yang harus dia pastikan dengan akalnya, mana yang cukup dipercaya begitu saja. (Kashva to Elyas, MLPH: 126)
”
”
Tasaro G.K.
“
Namun itu berarti bahwa telah tumbuhlah benih-benih pengakuan, bahwa yang benar-benar penting dalam sejarah justru adalah hidup sehari-hari, yang normal yang biasa, dan bukan pertama-tama kehidupan serba luar biasa dari kaum ekstravagan serba mewah tapi kosong konsumtif. Dengan kata lain, kita mulai belajar, bahwa tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali di antara kaum rakyat biasa yang sehari-hari, yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan.
”
”
Y.B. Mangunwijaya (Impian dari Yogyakarta: Kumpulan Esai Masalah Pendidikan)
“
Bagaimana cantik, bijak, kaya dan datang dari keluarga yang bagus sekalipun, jika perempuan itu bukan seorang yang beragama dan solehah, maka nilainya kosong
”
”
Norhayati Berahim (Roti Canai Salad Taco)
“
Ada ruang kosong di sela-sela sebuah kata. Ada banyak omong kosong di sela-sela bicara--tapi perlu. Adalah percakapan dengan teman yang selalu bisa menjaga kewarasan, menyelamatkanku dari jemu sempurna. Di tengah carut-marut fungsi mekanistik otomatik hampir robotik sebuah industri yang menyelubungi diri dengan judul keramah-tamahan manusia, ada teman-teman--manusia yang hidup dan dekat.
”
”
Nukila Amal (Cala Ibi)
“
Menulis buku itu sama saja omong kosong kalau tujuannya agar terkenal, atau agar sombong karena sudah menulis buku, sama saja dengan omong kosong kalau yang dicari hanyalah uang.
Menulis kemudian mempublikasikannya secara massal, harus dengan sebuah idealisme. Bahwa tulisan itu membawa banyak perubahan bagi hidup orang lain. Harus ada kebaikan di dalamnya. Bukan hanya sekedar menjual kertas, tinta, dan lem, kemudian merasa bangga hanya karenanya.
”
”
Nadia Aghnia Fadhillah
“
Harapan, kata Vaclav Havel, "bukanlah keyakinan bahwa hal-ikhwal akan berjalan baik, melainkan rasa pasti bahwa ada sesuatu yang bukan hanya omong kosong dalam semua ini, apa pun yang akan terjadi akhirnya".
”
”
Goenawan Mohamad (debu, duka, dsb. : Sebuah Pertimbangan Anti-Theodise)
“
Dan dengan tidak terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan siang dan malam. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu, Di mana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia, kadang-kadang ia pergi lagi dan di tinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit. (Bukan Pasar Malam, 68)
”
”
Pramoedya Ananta Toer
“
Aku sudah diperalat oleh seseorang yang merasa punya segala-galanya, menjebakku dalam tantangan bodoh yang cuma jadi pemuas egonya saja, dan aku sendiri terperangkap dalam kesempurnaan palsu, artifisial! serunya gemas, "Aku malu kepada diriku sendiri, kepada semua orang yang sudah kujejali dengan kegomalan Ben's Perfecto."
Gombal? Aku positif tidak mengerti.
"Dan kamu tahu apa kehebatan kopi tiwus itu?" katanya dengan tatapan kosong, "Pak Seno bilang, kopi itu mampu menghasilkan reaksi macam-macam. Dan dia benar. Kopi tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk. Bukan cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. Bodoh! Bodoooh!" Filosofi Kopi
”
”
Dee Lestari (Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade)
“
Manusia selalu menuntut dunia membahagiakannya, pernahkah ia berusaha membahagiakan dunia?
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Cinta semestinya membawa kebahagiaan dan melengkapi ruang-ruang jiwa yang kosong, atau mengisinya dengan membiarkan penghuni lamanya pergi, dan bukannya berdesak-desakan dan berebut tempat di dalamnya.
”
”
Dian Nafi (Mayasmara (Mayasmara, #1))
“
semua orang pada setiap masa, mencari sesuatu yang hilang dalam hidup mereka. tidak kira sama ada sesuatu yang hilang itu adalah orang yang mereka sayang atau hati yang telah kosong dan dipenuhi kegelisahan...mereka akan terus mencarinya. mencari supaya mereka dapat jadi gembira semula. dapat merasa bahagia semula
-Ashraf
”
”
John Norafizan (Garis-garis Deja Vu)
“
Keramaian adalah dengung yang semakin didengarkan justru membuatmu kesepian. Orang-orang terus bicara; berbagai jenis suara berlintasan hingga telingamu penuh tetapi kepalamu kosong. Tidak mengerti apa-apa, bukan bagian dari apa-apa.
”
”
Sabda Armandio (Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)
“
manusia yang malang di dunia ini bukan mereka yg tidak memiliki uang, melainkan mereka yang tidak memiliki tujuan dalam hidupnya
”
”
Parlindungan Marpaung (Setengah Isi Setengah Kosong "Half Full Half Empty")
“
Segala sesuatu punya prosesnya sendiri. Ada waktunya sendiri. Dan di waktu tertentu kata2 juga tetap punya momen 'kosong'-nya. Jadi biar aku isi kekosongan itu dengan berjuta peluk dan cium.
”
”
Mel (no last name)
“
Rindu adalah perkara ruh, bukan perkara jasad. Merindukanmu barangkali omong kosong yang masuk akal. Sedangkan, perpisahan hanyalah perkara mata dan ingatan, sama sekali tak berlaku pada hati dan jiwa.
”
”
Ilham Gunawan
“
Segala sakit, keluh, tangis, dendam, amarah, entah di mana. Aku tidak yakin telah meninggalkannya di suatu tempat. Tapi meski aku juga tidak mau membawanya lagi, aku tak bisa memastikan bahwa semua rasa itu pergi begitu saja. Aku antara kosong dan tiada.
”
”
Dian Nafi (Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku)
“
melayani dengan tulus adalah bahasa yang dapat di dengar orang tuli dan dilihat orang buta...
”
”
Parlindungan Marpaung (Setengah Isi Setengah Kosong "Half Full Half Empty")
“
Lapangan itu sekarang kosong. Rumput menjadi rebah karena disana telah dilakukan lebih dari satu permainan, tetapi di tengah-tengah semua itu, setangkai bunga liar menarik perhatianku. Warnanya ungu terang dan berdiri tegak di tempat ratusan yang lain di sekitarnya lumat. Aku bertanya-tanya kalau bunga itu entah bagaimana telah selamat, atau kalau ia pernah terinjak sebelumnya tetapi menolak untuk rebah. (hal 173)
”
”
Jennifer A. Nielsen (The Runaway King (Ascendance, #2))
“
Sepertinya langit itu kosong tp sebenarnya lagit itu gak pernah kosong, langit itu cuma ketutup awan. Kalau kamu bisa menyibak awan itu langit gak akan kosong lagi.
”
”
Azizirrahim Putra Widanih
“
Kemudian malam melanjutkan tugasnya: kosong dari segala perasaan
”
”
Pramoedya Ananta Toer
“
Lalu seakan semuanya lapang, kosong, tak ada siapa pun di sana, kecuali aku dan Dia. Dalam jarak yang tak terkatakan dekatnya, sedemikian dekat. Perlahan kehangatan, kekuatan hati, dan jiwa kudekap.
”
”
Dian Nafi (Miss Backpacker Naik Haji)
“
Namun sayang, karena Ramadhan datangnya rutin tiap tahun, tidak jarang kita terjerembab dalam rutinitas kosong. Kita tidak lagi menganggap Ramadhan sebagai bulan istimewa.
”
”
Ahmad Rifa'i Rif'an (Izrail Bilang Ini Ramadhan Terakhirku)
“
Menulis memerlukan ruh.
Tanpa ruh, tulisan akan jadi kosong.
Dan tulisan yang kosong takkan dapat menyentuh jiwa.
”
”
angel pakai gucci
“
Kau kemana saja bukanlah pertanyaan kosong. Makna tersiratnya adalah aku merindukanmu, aku ingin bersamamu, aku ingin tahu apa saja yang kaulakukan.
”
”
Paulo Coelho (Aleph)
“
Orang yang menganggap orang lain bodoh tanpa pernah bertanya apa-apa, barangkali adalah orang yang paling angkuh yang otaknya benar-benar kosong.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
“
Pada suatu hari ketika puisi pergi, tertatih mengeja huruf di langit. Tidak ada lagi ruang yang tersisa kecuali kehampaan kata. Semua kosong seperti sepi, meski tidak ada malam hari.
”
”
Navida Suryadilaga (Cawan Aksara)
“
Sebelum memulai sebuah perjalanan, anggaplah dirimu sebagai sebuah toples kosong. Lalu, dari setiap tempat yang kau kunjungi, ambillah apa pun yang bisa kau ambil. Pergunakan semua indramu untuk mengisi stople itu.
”
”
Mahir Pradana
“
Kereta datang. Melompat malas. Mencari kursi dalam gerbong yang nyaris kosong. Senja mulai tua, mendung menambah tua cuaca. Gerimis turun di luar. Dari jendela muram itu bayang-bayang berkelebat. Kota-kota mulai bersolek dengan lampu. Hujan menderas di luar. Kereta semakin cepat. Naik kereta api untuk bisa menangis sendirian. Tangisan sepi.
”
”
Puthut EA
“
Kau tak tahu betapa sedihnya hati yang menanti. Kini, selamanya kau menjadi punggungku. Mewarnai hidup yang pernah kosong walaupun sementara. Memupuki hati yang dirundung sepi walaupun sementara. Serta menyiksa cinta yang hampir beku walaupun sementara.
”
”
Prihartini Simbolon
“
Seorang murid; ia tidak mengetahui apapun. Selembar kertas kosong, halaman buku yang belum tercetak, pena tanpa tinta, biji yang belum bertunas, bayi yang baru lahir, yang belum mengenal dunia, yang tak mengetahui mana yang baik atau mana yang buruk, tak tahu panas atau dingin. Yang tak melihat pesona warna-warna, memisahkan yang terang dari yang gelap, yang halus dari yang kasar. Tak bisa memilih yang mudah dari yang sulit, memilah yang benar dari yang salah. Ini sungguh sesuatu yang ganjil, namun dari situasi yang serupa itu, kita bisa merasakan kehadiran cahaya pengetahuan Ilahi.
”
”
Titon Rahmawan
“
Ada begitu banyak kemalangan, namun dari semua itu kebodohanlah yang tinggal menetap. Orang-orang bodoh melihat, mendengar dan merasakan seperti orang-orang lain, akan tetapi mereka sama sekali tidak memiliki pemahaman atas diri sendiri dan keadaan di sekelilingnya.
Berusaha memahami si bodoh adalah suatu tindakan yang sia-sia, pada akhirnya tanggapan mereka hanya akan membangkitkan amarah dan kejengkelan.
Kebodohan serupa botol yang memiliki lubang di dasarnya, Seberapa pun banyaknya kebaikan dan pengetahuan yang kita tuang ke dalamnya ia akan berlalu dengan sia-sia.
Mereka yang termasuk ke dalam golongan orang-orang bebal adalah mereka yang menukar sahabatnya dengan uang, dan menggantikan saudaranya dengan kilau emas dan permata.
Hati orang bodoh ada dalam lidahnya dan dengan hal itu ia menggembar-gemborkan kelebihannya yang tak lain adalah sebuah omong-kosong. Sebaliknya, lidah orang bijak ada adalam hatinya dan ia memeliharanya dengan sangat hati-hati agar tidak mengucapkan hal-hal yang tidak perlu.
Dan bahkan, hidup orang bebal jauh lebih buruk dari kematian. Orang-orang bebal dan dungu hanya akan menjadi beban bagi kehidupan, karena seumur hidup mereka tak pernah mau belajar.
Kebodohan adalah batu pejal yang dibuang orang ke dalam sungai karena menghalangi orang yang akan lewat.
Kebodohan punya banyak nama dan mereka menunjukkan wajahnya dalam berbagai wujud. Aku dapat menyebutkan sejumlah di antaranya, yaitu: egoisme dan keras-kepala, bebal dan degil, sikap anarkhi yang membabi buta, sikap acuh-tak acuh dan ketidak-pedulian, pembenaran diri sendiri, tak mau mendengar nasehat, dan kecerobahan yang tak terobati.
”
”
Titon Rahmawan
“
Buku yang ku tulis bukanlah buku kosong
Namun buku usang penuh coretan bingung
Disana tercatat ribuan kata yang gamang
Bahkan beberapa halaman pun tlah hilang
Siapkah pena ini menyurat makna baru
Atau justru mengungkap cerita masa lalu
Dimana kalimat yang tertera kian ambigu
Haruskah aku bicara atau diam membisu
,.
”
”
chachacillas
“
Reuben, kalau kemerdekaan yang kamu maksud sejenis keinginan anak kecil yang ingin memberontak kepada ibunya untuk bisa makan es krim waktu sakit flu, itu memang omong kosong. Aku rasa, Tuhan atau kekuatan agung apapun itu, nggak akan memberi hadiah yang dangkal begitu. Menurutku, free will adalah kebebasan manusia untuk mengubah perspektif. Kamu jatuh miskin besok, apakah itu bencana atau berkat yang tersembunyi? Semuanya ada di tanganmu. Free will adalah kemampuan manusia mengubah konteks.
”
”
Dee Lestari (Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
“
Seorang perempuan bertanya, apa itu cinta?
Sinergi hati dan akal dalam momentum reaksi metapora yang menghasilkan ruang kosong yang terlalu sulit dan terlalu berani untuk disebut sebagai suci atau bersih. Dia hidup dan menjadi wadah yang hadir hanya dengan dirasa, tapi bisa dilihat tak bisa diraba. Karena hidup dia akan mempunyai masa dan menempati ruang untuk bertumbuh, berkembang, dan menunaikan fungsi hidup beserta peserta hidup lainnya, dalam segala dimensi dan formatnya. Deteksi hati dan akali hanya mampu sampai menghampirinya saja. Selebihnya kata tak cukup punya fasilitas untuk menyelesaikan pendeteksian itu. Segala yang memasukinya akan bereaksi menjadi energi, bila berkontraksi akan menjadi vektor yang bergerak sentrifugal ataupun dalam jumlah komposisi yang tak terbatas mapun dalam berbagai formasi lainnya.
”
”
Dian Nafi (Mayasmara (Mayasmara, #1))
“
Perdamaian yang dipaksakan adalah penjajahan.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Banyak yang berbicara tentang kejujuran, tapi kenyataannya, mereka hanya jujur saat itu menguntungkan.
”
”
Muadz Arfa Panjaitan
“
Aku memuja langit yang kosong, sebab langit lebih baik terhadapku daripada manusia sesamamu.
”
”
Mary Wollstonecraft Shelley (Frankenstein)
“
Senyuman hanya sketsa kenangan...
Mencintai angan-angan menjadi alur khayalan...
Bayangan semu hanya lukisan kosong peraduann...
”
”
Pendosa Pemimpi Surga
“
Senyuman hanya sketsa kenangan...
Mencintai angan-angan menjadi alur khayalan...
Bayangan semu hanya lukisan kosong peraduan...
”
”
Pendosa Pemimpi Surga
“
Aku gak pernah mengira kalau lembaran kosong ini justru aku tulis dengan goresan yang tak indah
”
”
LoveinParisSeason2
“
kubawamu malam yang tajam-kering
kuisikannya cintamu
kauberiku malam yang tenteram-bening
kubawamu sebuah gelas kosong
kauisikannya suaramu
kauberiku gelas yang penuh
(muzik)
”
”
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
“
Senja hari ini masih jadi spasi panjang. Ruang kosong di antara nama kita. Entah kapan akan kita isi dengan; rasa.
”
”
Rohmatikal Maskur
“
Kita lahir tidak sempurna, melainkan membawa cacat dan kelemahan genetik orangtua kita. Kita bukan selembar kertas kosong.
”
”
Ayu Utami (Cerita Cinta Enrico)
“
Jadi semua hal yang kita ketahui ini omong kosong saja?"
"Sebetulnya memang omong kosong saja, tapi manusia berusaha membuat segala sesuatu bermakna."
"Supaya apa?"
"Supaya tidak merasa sia-sia.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Omong kosong! Dan bagaimana warisan seperti ini akan memengaruhimu? Apakah uang itu akan bisa membujukmu agar tetap di Inggris, menikahi Miss Oliver, dan berkeluarga dengan tenteram seperti manusia biasa?
”
”
Charlotte Brontë (Jane Eyre)
“
Aksi-massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi-massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.
”
”
Tan Malaka (Aksi Massa)
“
Bagaimana dadanya bisa terasa penuh dan sesak? Padahal, ia tahu bahwa ia baru saja merasa kehilangan dua orang yang berarti baginya. Bukankah seharusnya kepergian dua orang sekaligus membuat hatinya nyaris kosong? Tapi, bagaimana rongga dadanya terasa dipenuhi hal-hal yang sudah pergi? Apakah semua orang yang pergi sebetulnya tak pernah ke mana-mana, tapi malah menempati sebagian besar rongga dadanya? Semakin banyak yang pergi, terasa semakin sesak....
”
”
Dian Iriana (Pearl: Kau Takkan Tersentuh Kutukan)
“
Aku faham kenapa dia inginkan sebuah penamat yang sempurna. Aku faham macam mana seseorang itu pergi mencari sesuatu yang hakiki di dalam kepalsuan. Tapi, ia pasti tidak akan dijumpa. Apa yang ada hanyalah kemenangan yang kosong.
”
”
Hadi M. Nor (Pengembaraan Laki-Laki Scorpio)
“
indahnya sholat indahnya islam
kita bagaikan satu tubuh..
masing-masing mengisi tempat - tempat kosong
seperti sel-sel yang berpadu rapat ..membentuk satu tubuh yang kompak dan padat
kita serupa barisan..
yang rapat dan bersatu padu menjadi kuat..
”
”
Dian Nafi (Miss Backpacker Naik Haji)
“
yang kausangkakan bakat
barangkali tidak lebih dari
banjiran perasaan yang mengapung kosong
bagai sampah-sarap meriak
ditolak ombak
mendesak dari dalam dadamu
atau banjaran impian di puncak gunung
dibalut kabut
tegak menusuk kulit kepalamu
(bakat)
”
”
T. Alias Taib (Opera)
“
Saat itu aku selalu memikirkanmu, tak sadar aku terbuai oleh anganku sendiri. Aku yang percaya bahwa kita dapat kembali dengan beberapa cara, bahkan mengatur sebuah pertemuan. Akan tetapi yang kudapati saat kita bertatap muka kembali adalah sapaan hampa dan tatapan kosong.
”
”
Zakiyahdini Hanifah
“
Begitu dingin air itu ketika ia memasukkan kedua tangannya. Begitu jelas kedua tangnnya tampak di sana, dan betapa hal semacam itu memberikan kedamaian.
Tapi mengapa begitu sulit manusia menemukan kedamaian?
Ia membasuk wajahnya dengan air jernih dan dingin itu. Betapa hidup bagaikan menjadi baru kembali. Ia minum setguk dua teguk dari aliran bening itu. Betapa dunia berdenyut dengan tenaga yang baru sama sekali.
Tapi mengapa manusia begitu sulit mendapatkan sesuatu yang baru untuk hidupnya?
Jika kedamaian begitu sederhana, mengapa manusia tak mampu melihatnya?
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Di pesantren, gue belajar bahwa keberagamaan adalah sikap. Ia bukan hanya sebatas pikiran, tanpa perbuatan nyata. Bukan sekadar omong kosong tanpa realisasi. Keyakinan harus diterjemahkan ke dalam sebuah aktivitas. Keimanan harus membumi bukan melangit. Menjadi perbuatan-perbuatan baik.
”
”
Nailal Fahmi (Di Bawah Bendera Sarung)
“
Dunia adalah tempat makna-makna bertarung.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
terhempas, takluk, digerus dingin angin, suara
truk, debu menyelip di mataku betapa dancuk
hidup ini! betapa dancuk lonte yang setengah
mati kukasihi dan menusukku dari belakang!
betapa dancuk Tuhan! bergetar, mabuk
bayang-bayang, tuak kegelapan, mabuk
keramaian yang kubenci, mengambang,
tersesat, terhisap angin, luka menganga, nanah
tembaga meleleh dari lutut Apolo emas yang
dipenggal sebelum perang meledak; sulap
kata-kata Homer dengan mata piceknya.
terkutuklah bayangan, pohon-pohon meronta
karena tak ada satu pun cuaca baik
menawarkan minuman dari langit. aku biarkan
itu semua menyalipku, dalam metafora, mata
binatang, bibir lebar mirip kemaluan wanita
sombong yang merasa imannya takkan
tumbang meski dijejali kata-kata jorok nan
mesum. bergerak, tenggelam, sinar patah di
lingkar air dalam gelas mineral yang kokoh
dan kau bilang air abadi dan kau bilang api
bisa mati sendiri terkutuklah engkau yang
menelan masa laluku dan menghibahkan
kehancuran ini lobang nganga di dadaku. oh,
kau yang memuntahkan abu tulangku, yang
akan tetap kuingat meski Tuhan atau apapun
itu menyeretku ke neraka omong kosong di
alam kubur dan bertanya bagaimana imanku
sebenarnya. oh, terkutuklah engkau!
”
”
Bagus Dwi Hananto (Dinosaurus Malam Hari)
“
Dimas, ingatkah kau pembicaraan kita tentang suatu 'gelembung kosong' di dalam kita, yang diisi hanya oleh kau dan Dia, untuk sebuah Persatuan antara kita dan Dia yang tak bisa diganggu oleh apa pun barang seusapan. Inilah saat yang tepat untukmu untuk melihat sepetak kecil dalam tubuhmu itu. Sendirian. Berbincang, jika kau ingin. Atau diam, jika kau ingin. Dia mendengarkan.
Selalu mendengarkan.
”
”
Leila S. Chudori (Pulang)
“
Gerakan kaum intelektual dengan berbagai kecenderungannya bukan gaung isolasi dan kepanikan pemikiran, omong kosong tanpa makna, angan-angan gersang, maupun duduk santai di menara gading yang tinggi apalagi sebuah bentuk pelarian dari realitas kehidupan. Pada hakikatnya gerakan ini merupakan sebuah upaya mulia guna bangkit melawan musuh lewat wacana ketika perlawanan melalui kekuatan militer dan politik mengalami kebuntuan.
”
”
Yusri Abdul Ghani Abdullah (Historiografi Islam: Dari Klasik Hingga Modern)
“
Aku sedang melalui lorong itu. Tenang dan mendamaikan. Tanpa ada persimpangan yang bisa menbuatkan akalku bersiur. Namun mengapa jiwa ini terasa kosong dan hati ini tidak lagi merasa bahagia?
Lalu aku berhenti. Memandang pada hamparan anugerah Ilahi yang sedang memayungiku. Indah. Bagaikan lukisan abstrak yang tiada bandingnya. Dan hati ini berdetik. Lorong yg tiada persimpangan seumpama kehidupan tanpa ujian dan liku. Bisu dan kaku. Tanpa makna yang tersingkap. Tanpa rasa yang menggambarkan maksud hati.
Lalu apakah ini yang aku inginkan kala akal mula mencerakin adakah ini makna kehidupan sebenar?
Percayalah walaupun jiwa dan hati ini retak seribu, cantuman itu bisa menampakkan parut ianya lebih bermakna dan bahagia dari hidup tanpa rasa- shahzyH
”
”
Shahzy Hana
“
Satu kekuatan kursus tamadun Islam di IPT Barat - jika kita ketepikan sikap prejudis dan perkiraan strategiknya - ialah kesungguhan ilmiahnya.... Setiap pelajar diwajibkan membaca keseluruhan terjemahan al-Qur'an, berpuluh-puluh hadits pilihan daripada pelbagai kitab-kitab hadits, terjemahan sirah Ibn Ishaq, serta terjemahan karya-karya agung Islam yang lain. Setiap pelajar diwajibkan membaca hampir 50 mukasurat setiap hari dan diwajibkan menulis kertas kerja serta ujian yang meletihkan. Kita juga diberikan peta dunia lama yang kosong di mana pelajar diwajibkan menanda nama bandar, sungai, laut, teluk, gunung, dan daerah, negara yang kini sudah tiada lagi atau sudah berubah nama!!! Ini perlu kerana apabila pelajar membaca karya-karya terdahulu, mereka boleh memastikan tempat dan kawasan yang dimaksudkan itu dengan tepat dan lebih bermakna.
”
”
Wan Mohd Nor Wan Daud (Rihlah Ilmiah: dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer)
“
Oleh akibat ketidak-berpihakan, ketidak-beruntungan, ketidak-terpilihan, ketidak-sesuaian, ketidak-terjawaban doa-doa, kegagalan, keterlepasan, isolasi dan kehilangan.
Perlahan kamu mulai menyadari sebuah fakta, bahwa kamu ternyata tidak spesial. Simply tidak ada yang spesial dari diri kamu. Biasa saja. Cuma satu dari milyaran organisme yang terserak di perairan purba yang tak berbatas. Biasa. Biasa. Biasa. Biasa. Biasa. Biasa. Dan biasa.
Seperti produk massal. Tissue toilet yang diganti setiap hari oleh petugas janitor. Lahir, mengkonsumsi, kerja, mengkonsumsi, berkembang biak, mengkonsumsi, kerja, mengkonsumsi lalu mati. Mati pun tidak pasti apakah tetap mati, ataukah kembali lagi ke bentuk awal, lahir. Begitu seterusnya. Berulang terus dan terus sampai entah kapan. Cuma serangkaian episode dari keberulangan setiap hari. Seperti sebuah roll film yang sama yang digunakan untuk merekam bermacam adegan yang berbeda setiap harinya.
Adegan pertama dihapus, lalu ditindih kembali untuk bertukar dengan adegan kedua. Adegan kedua berganti yang ketiga, dan begitu seterusnya. Sebuah keberulangan yang berbeda terus menerus, tetapi tetap pada hakikatnya adalah sebuah roll film yang sama. Dalam satu gulungan besar yang sama. Dalam satu format yang serupa. Sebuah kebeluman yang terus menerus.. Banal dan tanpa makna.. Lalu, apakah sesuatu yang selamanya “belum selesai” masih dapat dikatakan sebagai sesuatu yang spesial?
Spesial itu cuma akal-akalan pemasar. Kamu spesial kalau beli produk ini, kalau beli produk itu, kalau pakai parfum ini, kalau pakai kosmetik itu, kamu spesial itu kalau dalam sehari minimal ada satu kali transaksi digerai starbucks, kamu spesial itu kalau kamu pakai iphone 6 bahkan sebelum produknya keluar di pasar lokal, kamu spesial itu kalau kamu member fitness center, tentu kamu lebih spesial lagi kalau pakai personal trainer, kamu spesial kalau kamu fashionable, kalau kamu tech savvy, kalau kamu club hopper, kamu spesial itu kalau kamu kelihatan aktif berkeringat dalam trend lari kekinian yang hampir separuhnya berisi aktivitas narsis dan konsumsi bermacam produk running shoes, kamu spesial itu cuma kalau kamu pakai brand ini, pakai brand itu, kalau ini, kalau itu, kalau, kalau, kalau, kalau dan kalau..
Spesial itu cuma ada dalam quotes-quotes yang dikasih latar gambar pemandangan, kamu bisa comot-comot dari pinterest atau instagram lalu pasang sebagai profile picture di sosial media milikmu. Pun spesial bersemayam dalam kolase omong kosong yang dirangkum buku-buku swa-bantu atau dalam kutipan ayat dari kitab suci dalam status blackberry teman-teman kamu yang berusaha kelihatan religius, tapi jauh sekali dari makna religius dalam perilaku sehari-hari.
Jadi, dari pada ngga ada habisnya memikirkan jawaban dari pertanyaan mengapa kamu tidak spesial? Mungkin kamu harusnya berfikir, buat apa jadi spesial? Harus banget ya jadi spesial? Harus banget ya beda dengan yang lain? Apa perlu banget jadi beda? Emang kalau ngga ada satu pun dari kita yang spesial, kenapa? Kalau kita semua ternyata sama, memangnya kenapa? Kalau kita semua berebut jadi spesial, lalu siapa yang mau berada di posisi tidak spesial? kalau semua spesial, apakah masih spesial namanya?
Sudah, sekarang terima saja, bahwa ngga ada yang spesial dari diri kamu, dan seluruh kehidupan kamu yang begitu membosankan.. hidup ngga akan pernah repot-repot berusaha untuk menjaga perasaan kamu. Apalagi susah payah menempatkan kamu di posisi yang 'spesial'. Things happen because they need to happen.
Spesial itu cuma soal kamu memberi bentuk pada makna. Tentang bagaimana kamu ingin dimaknai, tentang bagaimana kamu ingin diperlakukan, tentang bagaimana (anehnya) kamu ingin menerima kembali perlakuan yang kamu inginkan justru dengan cara memberikan perlakuan itu kepada yang lain diluar diri kamu. Tentang omong kosong soal konsep memberi untuk merima lebih banyak..
”
”
Ayudhia Virga
“
...Kita hanya manusia yang kerdil yang mendiami daerah-daerah bumi. Kita hidup di sini untuk mencari bekal satu perjalanan hidup ke alam akhirat yang kekal abadi.
Orang-orang yang tidak berjuang dalam kehidupan ini akan pergi ke sana jua. Orang-orang yang berjuang memang menyedari dunia ini sementara. Ada sesuatu yang perlu ditinggalkan untuk kebaikan manusia di dunia yang fana ini. Ada juga sesuatu yang diusahakan sebagai bekalan untuk kehidupan abadi di samping Pencipta Yang Maha Agung, Allah.
Jika hidup itu ialah menanti perginya pagi dan datangnya petang, menanti perginya petang dan hadirnya dinihari; apalah kemanisan yang dapat dikecap daripada kehidupan sebegitu.
Hidup ini ialah perjuangan hidup segigihnya. Manusia yang mengerti tidak akan mengalah terhadap cabaran masa dan tempat. Hidup menjadi indah dengan hadirnya perjuangan. Isyraf Eilmy terasa pernah terbaca sebuah wacana kecil erti kehidupan.
Saudaraku. Tegakkan mukamu dan ukir senyuman di wajahmu. Senyuman itu ialah sedekah daripada orang yang punyai harta dan jiwa. Sekuntum senyumanmu ialah wajah sebuah kehidupan yang tidak terhakis oleh kesusahan. Selagi kau menundukkan mukamu lalu merenung kedua-dua belah kakimu, selagi itu kau masih terbelenggu dalam simpulan-simpulan kekusutan yang membalut sudut hatimu.
Apabila jiwamu kosong daripada cahaya hidayah, maka kehidupanmu umpama lorong duka lara yang menjerit pekik minta dikasihani, simpang-siur kesepiannya ialah kekeliruan dan kekecewaan yang menerpa sedangkan deru angin semilirnya ialah nyanyian kedukaan yang tidak didendangkan oleh jiwa yang kental.
Mengapakah kau rasa tiada lagi keindahan pada mahligai tersergam juga kecintaan terhadap segala kemewahan dan solekan dunia? Mengapakah harus kau mencari suatu kepastian tentang bila akan berakhirnya kehidupan sedangkan baki usiamu tidak pernah menjanjikan rumusan kebahagiaan?
Usah lagi kau mimpikan ke manakah perginya kelazatan pada sajian hebat yang terhidang di meja kehidupan. Usah lagi kau kenangkan dari manakah datangnya kepanasan di ruang cinta syahdu penuh keasyikan. Kembalilah kepada martabat diri.
— ms.9-10, Sarjana Bangsa
”
”
Hasanuddin Md. Isa
“
Tapi aku bahagia waktu kalian, anak-anak, semakin dewasa. Bahkan waktu aku sibuk bukan main sehingga tidak sempat membetulkan ikatan handuk di kepalaku, kalau melihat kalian duduk di seputar meja, sambil makan dan membunyikan sendok dengan berisik di mangkuk-mangkuk, rasanya tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini. Kalian semua begitu gampang. Kalian makan dengan lahap walau aku hanya membuat sayur labu dan kacang yang sederhana, dan wajah kalian berseri-seri kalau aku mengukus ikan sesekali.... Kalian semua makan banyak sekali waktu sedang tumbuh. Kadang-kadang aku khawatir. Kalau aku meninggalkan panci berisi kentang rebus untuk camilan kalian sepulang sekolah, pancinya akan kosong waktu aku pulang. Ada kalanya aku bisa melihat beras di pedaringan mulai berkurang setiap hari, dan ada kalanya pedaringan itu kosong sama sekali. Kalau aku turun ke gudang bawah tanah untuk mengambil beras buat makan malam, lalu cedokanku menggerus dasar pedaringan, aku pun terkesiap; Anak-anakku mau diberi makan apa besok pagi? Jadi, pada masa-masa itu masalahnya bukan aku suka atau tidak suka berada di dapur. Kalau aku menanak nasi sepanci besar dan membuat sup di panci yang lebih kecil, aku tidak memikirkan betapa capeknya aku. Aku hanya merasa senang karena semua makanan itu untuk mengenyangkan anak-anakku. Yah, barangkali kau tidak bisa membayangkannya, tapi pada masa itu kita selalu cemas kalau-kalau kita kehabisan makanan. Kita semua seperti itu. Yang paling penting adalah makan dan bertahan hidup.
”
”
Kyung-Sook Shin (Please Look After Mom)
“
Berjalan tanpa mimpi terasa hampa, berpikir tanpa tujuan terasa kosong, berharap tanpa usaha itu bodoh!
”
”
Nadine Chandrawinata (Nadrenaline)
“
Setiap kali buku melayang dari tanganku, aku merasakan seberkas rasa sakit, seolah-olah lubang kosong dalam ingatanku semakin besar seiring setiap buku yang kulempar.
”
”
Yōko Ogawa (The Memory Police)
“
Cantik–cantik kalau tidak punya etika, sama saja dengan nol puthul. Kosong! (Samuel)
”
”
Dian Nafi (Just in Love (Mayasmara, #5))
“
...ia lalu mengakhiri pujiannya ke pada mereka semua, bahwa mereka sebaiknya meninggalkan Macondo, bahwa mereka telah melupakan semua yang diajarkan pada mereka tentang dunia dan hati manusia, bahwa mereka telah mengentuti Horatio dan bahwa ke mana saja mereka akan pergi harus selalu mengingat bahwa masa lalu itu adalah sebuah omong kosong, bahwa kenangan tidak akan kembali lagi, bahwa tiap musim gugur yang telah lalu tidak akan bisa dikejar dan bahwa cinta paling liar dan paling ngotot itu pada akhirnya hanyalah kebenaran yang sekejap, tidak berlangsung lama.
”
”
Gabriel García Márquez (One Hundred Years of Solitude)
“
...Beberapa hari kita sudah terbahak-bahak dengan obrolan omong kosong sambil menenggak bir, meski kita tahu sedang menyongsong hari dukacita. Lalu sekarang kita berpura-pura sopan karena hari yang menentukan itu sudah dekat!
”
”
Danarto (Berhala: Kumpulan Cerita Pendek)
“
Cinta adalah berjalan dengan kaki masing-masing sambil tetap menyisakan ruang kosong yang hangat untuknya, yang setiap pergi pasti kembali.
”
”
Stebby Julionatan (Biru Magenta)
“
Cintaku kepadanya dan cintaku kepadamu adalah dua cinta yang berbeda, Sayang. Masing-masing kalian menempati ruang kosong yang berbeda dalam hatiku.
”
”
Stebby Julionatan (Biru Magenta)
“
Selebrasi-selebrasi kosong harian tanpa ada yg dicapai. Itu yg bikin lo bosen sebenernya. Kebanyakan di skip. Tapi yg lo skip, cuma dari pengulangan ke pengulangan. Dari selebrasi ini ke selebrasi itu. Apa yg lo rayain, ga ada.
Lo itu berhak kasih diri lo prestasi. Achievement, apapun bentuknya. Kecil besar, tapi tercatat sebagai suatu keberhasilan. Minimal menurut diri lo sendiri. Supaya, perayaan ada makna nya. Kesenangan ada dasarnya. Supaya 'kemewahan' tidak terasa mubazir. Dan party bisa to the fullest.
”
”
Ayudhia Virga
“
Omong kosong tidak bisa mencukur domba" Rand al'Thor
”
”
Robert Jordan (The Great Hunt Volume 1 - Perburuan Sangkakala)
“
Yang bikin kelpek-klepek adalah lagak pujangga-teraniaya itu, omong kosong luka-batin, gaya genius-yang-tersiksa itu. …
”
”
Robert Galbraith
“
Ayahku dan aku dan Mami jauh lebih merdeka jiwanya daripada kaum Soekarno yang menghipnotis massa rakyat menjadi histeris dan mati konyol karena mengandalkan bambu runcing belaka melawan Msutang-mustang dan meriam-meriam Howitzer yang pernah mengalahkan tentara Kaisar Jepang. Maaf, Anda keliru alamat menamakan aku budak Belanda. Bagiku NICA hanya sarana seperti Republik bagi mereka sarana juga. Segala omong kosong tentang kemerdekaan itu slogan belaka yang menipu. Apa dikira orang desa dan orang-orang kampung akan lebih merdeka di bawah Merah Putih Republik Indonesia daripada di bawah mahkota Belanda? Merdeka mana, merdeka di bawah singgasana raja-raja Jawa mereka sendiri atau di bawah Hindia-Belanda?
”
”
Y.B. Mangunwijaya
“
Kampanye copras-capres, diam-diam saya sedang mengunyah moralitas kosong.
”
”
Ali Zaenal
“
...Aku tak percaya kata-kata ‘biarkan waktu menyembuhkan luka’, omong kosong kalau kau tak berbuat apa pun untuk memperbaikinya.”
-Cerita 3: Angela, hal.38-
”
”
Ida R. Yulia (Take My Hand, One Last Time)
“
Hidup ini adalah catatan kosong,yang akan kau torehkan dengan tinta pengetahuan.
”
”
Rohmatul Karimah R.
“
Kisah Majnun dan Laila bukanlah omong kosong, mereka nyata dalam cinta abadi yang paling murni, sebuah puisi indah yang tiada taranya
”
”
Sonny H. Sayangbati
“
Aku tidak ingat lagi dari mana kenangan itu berasal, baik bulan maupun tahunnya. Yang kutahu, kenangan itu tersimpan dalam jiwaku, indahnya serpihan masa lalu yang terbungkus rapi, sapuan warna cerah di atas kanvas kelabu kosong yang menyelimuti kehidupan kami.
”
”
Khaled Hosseini (The Kite Runner)
“
tak ada lagi ruang kosong
di rahim kota ini
kecuali kaki
gedung-gedung yang sombong
kecuali lidah
kita yang terjulur
(sebuah warung)
”
”
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
“
Lebih baik merasa marah dan kecewa, kita bisa melampiaskannya. Tetapi kosong...membuatmu bahkan tidak bisa berpikir tentang apa pun.
Mbak Dayu
”
”
Viera Fitani (Morning Breeze)
“
Bagian paling halus dari alam nyata ini adalah awang-awang atau ruang kosong
”
”
Tolep Coy
“
Seberapapun banyaknya kamu memotong Apel hingga menjadi bagian terkecil, ia tidak akan pernah hilang melainkan tak terlihat dan kembali seperti ruang kosong.
Bukankah lebih cepat jika kamu membakarnya?
Lalu, apakah kamu menyangka asap itu hilang?
”
”
Tolep Coy
“
Masalahnya, ada saja manusia yang menginginkan agar kita semua tetap bodoh dan buas, supaya kita semua tenggelam dalam kegelapan, sehingga dengan menjadi penguasa tunggal atas pengetahuan, bisa berkuasa dalam segala bidang. Padahal pengetahuan itu hak semua orang.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Gunung menjadi indah bukan karena adanya gunung itu, melainkan karena ada mata yang memandangnya. Dengan cara memandang yang keliru, keindahan gunung tidak akan pernah tampak sama sekali.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Entahlah, tapi kurasa kalau engkau menginginkan kebahagiaan, anakku, engkau harus mencarinya, tapi dalam pencarian itu mungkin kamu akan menderita. Dalam penderitaan itulah engkau akan menjadi matang, dan seorang yang matang akan mudah bahagia.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Pembunuhan itu kegagalan berbahasa yang purba sekali anakku, dan hari ini masih ada .Bukankah itu berarti seluruh pendidikan agama dan ilmu pengetahuan yang telah berlangsung berabad-abad belum berhasil sepenuhnya?
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Untunglah penalaran bukan segala-galanya. Penalaran memang memikat dan membuka jalan untuk menyingkap dunia, namun kesetiaan kepada penalaran terkadang membuat hidup menjadi dingin. Padahal manusia selalu mencari kehangatan dan selalu terpesona oleh keajaiban. Penalaran sendiri merupakan perilaku manusia yang memesona, namun penalaran sekaligus juga menggugurkan pesona. Bagaimanakah caranya manusia menjaga agar bisa tetap hidup di dunia yang penuh pesona? Dunia boleh saja tidak ada, dan karena itu harus diadakan kembali.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Di suatu kedai ia pernah melihat orang-orang berdebat dan menghujat, akhirnya saling bunuh-bunuhan. Padahal semuanya berdebat atas dasar yang lemah, sehingga tidak tahu bahwa antara mereka sebetulnya tidak ada perbedaan pendapat, hanya perbedaan selera.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Saya adalah orang yang tidak percaya bahwa berbohong adalah naluri alamiah anak-anak. Saya percaya pada konsep bahwa kodrat awal anak-anak adalah berkarakter baik. Anak bukanlah kertas kosong, telah ada pada diri setiap bayi pokok kebaikan. Adalah naluri mereka untuk punya akhlak yang baik. Itulah yang disebut agama sebagai fitrah. Setiap anak dilahirkan sesuai fitrah, lingkungan yang menjadikan karakter terbaik mereka luntur. Maka saya tidak percaya ada anak yang naluri alamiahnya berbohong dan suka memfitnah.
”
”
Nailal Fahmi (Pendidikan Keluarga Kami)
“
Penulis yang tidak mampu membaca dunia, hanya akan menjadi penyalin seperti aku. Mengutip sana dan mengutip sini, dan menceritakannya kembali kepada semua orang.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Dalam hal itulah engkau memperkaya dunia Satya, karena dalam penerjemahan berlangsung penciptaan. Bukankah itu berarti kamu menciptakan kembali sebuah dunia?
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Siapa pun yang menilai karangan dengan tuntutan kenyataan pasti akan kecewa. Setiap karangan mengungkapkan kenyataan dengan caranya sendiri. Mereka yang mendengarkan sebuah cerita harus melakukan penafsiran untuk menghubungkannya dengan kenyataan, tidak menelannya mentah-mentah.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Apabila manusia begitu tertindas, dan tidak bisa melawan, maka mereka hanya bisa melawan dengan pikiran. Namun tidak menjadi jelas antara pemikiran yang menjadi perlawanan atau pelarian.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Strategi istana kosong sebenarnya bertujuan memancing musuh agar masuk jebakan dengan menampilkan banyak celah kosong
”
”
Takaaki Morofushi
“
Apabila seorang manusia terpisah dengan orang yang dia cintai, ingatannya terhadap orang itu pasti akan pudar juga. Sedikit demi sedikit. Malangnya, lompong kosong yang hilang mendadak dalam hati itu tidak akan begitu mudah diabaikan. Lompong itu akan menuntut manusia mengisinya. Akhirnya si manusia terpaksa akur lalu melengkapkannya menggunakan apa-apa sahaja yang tinggal. Menggunakan memori.
”
”
Auni Zainal (Mawaddah Ilmi Ingin Pulang)
“
Mereka yang berfatwa
bahwa dalam hidup
uang bukanlah segalanya,
barangkali adalah mereka
yang hidupnya serba berkecukupan.
Maka jangan terlalu percaya
dengan omong kosong mereka!
Sebab kita masih hidup
mengais makanan sisa.
”
”
Robi Aulia Abdi
“
Siapa yang jujur?
Siapa yang bohong?
Di tempat kami,
semua itu omong kosong.
”
”
Robi Aulia Abdi
“
Dengarkan baik-baik. Kalau selama ini anda percaya bahwa seseorang yang depresi ingin bahagia, anda salah. Mereka sama sekali tidak peduli betapa menyenangkannya kebahagiaan. Mereka hanya ingin kepedihan mereka lenyap. Mereka ingin menjadi "normal". Atau, karena merasa normal benar-benar mustahil, mereka ingin menjadi "kosong".
”
”
Matt Haig (Reasons to Stay Alive)
“
Ideologi akan berakhir, jika ia hanya sekadar jargon dan sebatas dimumikan sebagai kesadaran palsu. Kosong sebagai alat kritik pembangunan yang sedang dijalankan.
”
”
Ilham Gunawan
“
Setiap orang merasakan sakit dengan caranya sendiri, setiap orang menyimpan lukanya sendiri. Jadi aku rasa, aku juga peduli dengan ketidakadilan dan keadilan seperti orang lain. Tapi yang paling menjijikkan bagiku adalah orang-orang yang tidak memiliki imajinasi. Orang-orang yang disebut orang-orang palsu oleh T.S Eliot. Orang-orang yang mengisi kurangnya imajinasi dengan hal-hal yang tidak berperasaan, orang-orang yang sama sekali tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Orang-orang tidak berperasaan yang melontarkan kata-kata kosong kepadamu, yang mencoba memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan.
”
”
Haruki Murakami
“
Perasaan kosong saat bangun di pagi hari bisa terasa sedemikian mematikan
”
”
Desi Puspitasari (On a Journey)
“
Aku membaca orang-orang perasa, mereka yang siap mengobarkan pergolakan-pergolakan besar untuk merebut pulang anak yang diculik pada tujuh puluh tahun silam. Pergolakan-pergolakan yang bertumpu pada rasa insaf kalau keluh-kesah sudah tak memadai, kalau amarah yang kosong bakal dianggap sepi
”
”
Hendri Teja (Iblis-Iblis Capres)
“
Seumur hidupku, aku adalah sesuatu. Begitulah kehidupan saat itu. Tetapi, pada suatu ketika, semua-nya berubah. Hidup telah mengubah aku menjadi bukan siapa-siapa. Aneh.... Manusia dilahirkan untuk hidup, kan? Tapi semakin lama aku hidup, semakin aku kehilangan apa yang ada di dalam diriku—dan akhirnya kosong. Dan aku yakin semakin lama aku hidup, semakin kosong dan semakin tidak berharganya diriku. Ada yang salah dengan gambaran ini. Semestinya hidup tidak seperti ini! Masih mungkinkah mengubah arahnya, mengubah ke mana aku harus menuju?
”
”
Haruki Murakami, Kafka on the Shore
“
Seumur hidupku, aku adalah se -suatu. Begitulah kehidupan saat itu. T etapi, pada suatu ketika, semua -nya berubah. Hidup telah mengubah aku menjadi bukan siapa-siapa.
Aneh.... Manusia dilahirkan untuk hidup, kan? T api semakin lama aku hidup, semakin aku kehilangan apa yang ada di dalam diriku—dan akhirnya kosong. Dan aku yakin semakin lama aku hidup, semakin kosong dan semakin tidak berharganya diriku. Ada yang salah dengan gambaran ini. Semestinya hidup tidak seperti ini! Masih mungkinkah mengubah arahnya, mengubah ke mana aku harus menuju?
”
”
Haruki Murakami, Kafka on the Shore
“
Inilah aku. Mengalirkan air ke dalam kebahagiaan yang cuman tersisa sedikit, menjadikan busa-busa kecil agar penuh. Meski tahu itu cuma imajinasi yang penuh lubang, itu lebih baik daripada kosong sama sekali.
”
”
Kanae Minato (Confessions)
“
Kamu pikir otakmu spesial? Kamu pikir kesadaranmu itu nyata? Omong kosong. Otakmu hanyalah tumpukan lemak dan listrik yang perlahan-lahan membusuk, mengikis ingatanmu, merusak logikamu, dan pada akhirnya mengubahmu menjadi sekadar mayat hidup yang tersesat dalam kehampaan.
Setiap detik, neuronmu mati. Tidak peduli seberapa cerdas kamu merasa, sinapsis yang dulu tajam kini semakin lambat, semakin lemah, semakin kacau. Dopamin, serotonin, dan semua zat kimia yang memberimu ilusi kebahagiaan dan motivasi? Mereka berkurang, membuatmu makin apatis, makin tidak peduli, makin kosong.
Kamu pikir bisa melawan? Makan makanan sehat? Meditasi? Latihan otak? Percuma. Entropi tetap menang. Semakin bertambah usia, otakmu akan menyusut, belitan neuron yang dulu kompleks akan menjadi labirin kusut yang penuh dengan plak dan sampah seluler. Fokusmu akan hancur, ingatanmu akan terkikis, dan pada akhirnya kamu bahkan tidak akan ingat siapa dirimu.
Dan yang paling ironis? Saat otakmu mulai benar-benar rusak, kamu tidak akan menyadarinya. Kamu akan tetap merasa "baik-baik saja," padahal sistemmu sedang mengalami degradasi tanpa ampun. Lalu tiba waktunya, ketika sinyal listrik yang dulu membuatmu "hidup" akhirnya padam. Semua pemikiran, kenangan, dan kesadaranmu? Hilang. Tidak ada jiwa, tidak ada kebangkitan, hanya kehampaan.
Jadi, nikmati sekarang selagi bisa. Karena cepat atau lambat, otakmu akan menjadi bangkai kering yang tak ada bedanya dengan debu. Kamu hanyalah ilusi sementara dalam pusaran entropi.
”
”
Vergi Crush
“
Satya memahami soal sekte-sekte pembohong itu. Pengikutnya orang-orang yang jiwanya kosong, yang hanya merasa hidup jika memercayai sesuatu secara radikal dan habis-habisan, tanpa mempertanyakannya lagi.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Setiap orang bisa menjadi juru cerita, setidaknya untuk dirinya sendiri, dengan begitu ia berkuasa atas nasibnya, tidak ditentukan oleh seorang juru cerita lain.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Anakku, seorang juru cerita hanyalah sebuah cermin sebetulnya, ia tidak pernah melahirkan sesuatu yang tidak ada, ia hanya memantulkan kembali kehidupan di di depannya.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Semenjak buku-buku dibakar dan guru-guru dibunuh, banyak orang berlagak jadi nabi padahal hanya mau mencari makan dengan membual. Ada saja orang bodoh yang percaya, dan bencana itu membuat kita semua tambah bodoh, hanya hidup dengan naluri bertahan. Di dunia ini bertebaran para penipu, mereka menjual Tuhan-Tuhan baru hanya untuk kepentingan diri sendiri, ada yang sampai istrinya dua puluh lima orang.
”
”
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
“
Hidup Berkekurangan vs Hidup Berkelimpahan
Ada manusia yang hidupnya bagai batu yang dipanggul di punggung, berat tak tertanggungkan. Mereka berjalan tertatih, setiap langkah adalah hutang napas yang harus dibayar dengan keringat dan rasa sakit. Para kuli di pasar, kenek bangunan, pekerja serabutan di pinggir jalan, satpam dan buruh pabrik shift malam yang menyulam waktu dengan kantuk dan lapar—mereka seakan hidup hanya untuk memastikan besok masih bisa makan. Uang menjadi rantai, mengikat pergelangan tangan dan kaki, menjadikan mereka budak dari sesuatu yang berasa tak pernah cukup.
Namun, apakah uang sungguh jahat dan sekeji itu? Atau justru manusialah yang menuliskan kutukan atas lembaran kertas yang berharga itu? Uang di tangan orang bodoh adalah cambuk yang melukai, tetapi di tangan orang bijak ia adalah sungai yang mengairi banyak ladang. Ia bisa jadi berhala, tapi juga bisa jadi pujian persembahan. Ia bisa menelanjangi wajah asli keluarga dan sahabat—siapa yang tetap bertahan saat perahu bocor, siapa yang hanya datang ketika layar terkembang.
Uang, pada akhirnya, hanyalah kaca pembesar yang memperlihatkan isi hati manusia. Ia bisa mempermalukan orang yang tamak, atau meninggikan martabat mereka yang tulus ikhlas. Ia menguji, apakah kita akan menjadi hamba uang, atau menjadikan uang pelayan kita.
Kemiskinan yang paling getir bukanlah perut kosong atau dompet yang tipis. Yang lebih mengerikan adalah kemiskinan jiwa: ketika seseorang kehilangan penghormatan pada dirinya sendiri. Orang yang merasa rendah, tak punya arti, selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, hingga hatinya penuh iri, dengki, dan kebencian. Itulah jurang terdalam—kemelaratan batin yang membuat manusia buta tak bisa melihat cahaya kecil dalam dirinya.
Sedang mereka yang hidup berkelimpahan tak selalu berarti mereka yang berkelebihan harta. Orang yang sungguh kaya adalah mereka yang tangannya selalu di atas—memberi tanpa mencatat, menolong tanpa menghitung. Mereka menakar kekayaan bukan dari banyaknya yang disimpan, melainkan dari besarnya yang dibagikan. Dan justru ketika mereka memberi, rasa cukup itu meluas, melimpah, tak habis-habis.
Karena kelimpahan sejati bukanlah saat tangan menggenggam, melainkan saat tangan terbuka. Ketika memberi, sebenarnya kita sedang menabung di tempat yang tak terlihat. Bank dan korporasi bisa bangkrut, saham bisa jatuh, tapi tabungan di surga tak pernah kehilangan nilai.
Seorang yang arif tahu, tabungan terbesar bukanlah di tempat di mana ia menyimpan uangnya, melainkan di hadapan sesama. Ia menabung dalam bentuk kebaikan yang tak terlihat mata, tapi terukir di buku langit. Ia menanam di ladang kasih sayang, dan buahnya dipetik dalam bentuk kedamaian yang tak bisa dibeli.
Hidup yang berat selalu membawa pilihan: apakah kita akan membiarkan diri diperbudak oleh kesulitan, atau menjadikannya cambuk untuk berjalan menuju kelimpahan batin? Karena sejatinya, miskin dan kaya bukanlah sekadar kondisi dompet, melainkan kondisi hati.
Seseorang bisa tidur di rumah reyot dengan senyum damai, dan seseorang bisa gelisah di ranjang emasnya sambil menahan rasa sakit. Maka, kebahagiaan bukanlah tentang berapa banyak yang kita punya, melainkan berapa banyak yang masih sanggup kita syukuri, dan berapa banyak yang berani kita bagikan demi membantu orang lain.
Pada akhirnya, kaya dan miskin hanyalah label duniawi. Yang sesungguhnya menentukan: apakah kita hidup sebagai pemilik yang tak takut berbagi, ataukah sebagai hamba dari rasa kikir dan tamak yang tak pernah berkecukupan.
Semarang, September 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Perempuan yang Dulu Kau Kejar Hanya untuk Kau Lukai”
Buat para lelaki:
Apakah kau benar-benar sudah memahami istrimu? Ia bukan sekadar perempuan yang menunggumu pulang, meski tanganmu hampa dan dompetmu kosong. Ia bukan sekadar tubuh yang letih mengurus rumah, atau wajah yang perlahan kehilangan cahaya mudanya. Ia adalah doa yang tak pernah berhenti menyebut namamu, bahkan ketika kau tertidur lelap dan melupakan segalanya. Ia adalah keberanian yang meninggalkan kenyamanan tempat tinggal orang tuanya, menukar kepastian dengan harapan, hanya demi satu keyakinan, karena ia mencintaimu.
Ia memintal mimpi dengan air matanya, menyalakan bara ketabahan dengan jiwanya, dan menaruh seluruh hidupnya dalam genggaman tanganmu—meski kau sendiri sering tak tahu bagaimana harus menjaganya. Dialah yang mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan darah dagingmu, dialah yang mengorbankan hidup dan waktunya demi membesarkan keturunanmu. Dialah tangan yang membersihkan rumahmu, hati yang menjaga marwahmu, pelita yang menuntunmu pulang.
Ironisnya, justru dialah orang yang paling sering kau abaikan. Dialah yang paling sering kau sakiti dengan sikap diam-mu, acuh tak acuhmu dan ketidakpedulianmu. Ia yang dulu kau kejar dengan segala kerinduan, kini kau anggap biasa saja—tak lagi istimewa, tak lagi bernilai. Padahal yang ia harapkan bukan istana, bukan harta berlimpah, melainkan hal yang sederhana: perhatian yang tulus, rasa aman, kasih sayang yang hangat.
Tragisnya, engkau lupa bahwa cinta adalah bara yang harus dijaga, api yang harus diperbaharui. Engkau biarkan apinya padam, lalu kau salahkan ia ketika rumah tangga menjadi dingin. Engkau tak sadar, luka yang ia simpan bukan karena tubuhnya berubah menjadi gemuk, bukan karena kecantikannya pudar, melainkan karena pengorbanannya tak lagi berarti bagimu. Engkau telah meruntuhkan marwah seorang istri, menukar air matanya dengan penyesalan, menukar pengabdiannya dengan kehampaan.
Jangan salahkan dia bila akhirnya ia memilih pergi. Ia pergi bukan karena lelah mencintai, melainkan karena tak ada lagi cinta untuk dipertahankan. Ia tinggalkan rumah yang ia bangun dengan air mata, ia lepaskan kenangan yang ia ikat dengan harapan. Dan yang tragis, kau tak kehilangan sekadar seorang istri—kau kehilangan perempuan yang dulu rela menyerahkan segalanya untukmu, bahkan hidup dan kehormatannya.
Mengapa lelaki begitu pandai mengejar, namun begitu ceroboh menjaga? Dahulu, ia rela menembus hujan dan badai demi seulas senyum; kini, sekadar menatap mata istrinya saja ia sudah enggan. Mata yang dulu ia puja, jernih bagai telaga tempat ia merendam dahaga cintanya, kini dibiarkannya berkabut oleh air mata. Tidakkah ia sadar, setiap tetes air mata istrinya adalah patahan kecil dari marwahnya sendiri?
Lelaki sering kali lupa, bahwa cinta yang diperjuangkan dengan susah payah bisa hilang hanya karena lalai memeliharanya. Betapa ironis—mereka berlari mengejar bunga saat kuncup, namun berpaling saat bunga itu mekar, seakan keindahan tak lagi berarti ketika sudah berada dalam genggaman.
Perempuan menangis bukan karena lemah, melainkan karena hatinya penuh dan meluap oleh perasaan yang tak sanggup ia bendung lagi. Ia menangis bukan karena kehilangan cinta, tapi karena cinta yang ia beri setulus hati tak lagi dipandang berarti. Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain disamakan dengan rutinitas? Diseret dalam hari-hari yang hampa tanpa lagi ada rasa kagum, tanpa lagi ada ucapan sederhana: “Sayang, aku sangat mencintaimu...”
Dan beginilah tragedi buruk para istri: lelaki sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, padahal perempuan yang paling ia sakiti susah payah menjaga api kebahagiaan itu tetap menyala. Sementara lelaki mengira, kejayaan ada pada dunia luas yang ingin ia taklukkan. Padahal, kedamaian terbesar ada di pangkuan istrinya yang terus menunggu dengan setia, entah sampai kapan?
Semarang, September 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Keberhasilan hanya berarti bila ia lahir dari luka dan kegagalan; tanpa jatuh, bangun hanyalah omong kosong belaka!
”
”
Titon Rahmawan
“
Politik Identitas: Opera Tanpa Kepedulian
Kita hidup di zaman ketika suara rakyat hanyalah gema kosong yang dipakai untuk meramaikan panggung hiburan, lalu dilupakan begitu lampu kamera padam.
Politik telah berubah menjadi pasar malam, sebuah sandiwara: penuh warna, penuh janji, penuh tawa usang—tapi ketika siang datang, yang tersisa hanyalah bungkus kotoran sampah berserakan.
Identitas dijadikan komoditas, bukan lagi jati diri. Agama, suku, bahkan luka sejarah—semua bisa diperdagangkan.
Kita dipecah-belah, bukan untuk menguatkan, melainkan agar lebih mudah dikendalikan.
Di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota, orang berdemonstrasi membakar ban merusak pembatas jalan, pengemudi ojol tewas digilas roda gila tanpa perasaan.
Sementara itu, mata dari sebagian kita lebih sering menatap layar handphone daripada wajah sesama.
Kepedulian direduksi menjadi like dan komentar basa-basi; simpati tak lebih dari emoji menangis di media sosial.
Apakah ini pergeseran nilai, ataukah cermin lama yang baru saja kita sadari keberadaannya?
Bangsa yang terlalu lama dijajah, dikebiri, dibungkam.
Dan ketika akhirnya bisa bersuara,
Ia kemudian memilih berteriak saling caci—bukan merangkul, bukan mendengar.
Seperti kuda liar yang lepas kendali, kita berpacu kencang tanpa arah, hanya untuk menabrak seorang nenek tua yang menggandeng bocah di persimpangan jalan.
Ironi itu telanjang di depan mata:
Setiap hari kita dengar obrolan di warung kopi, orang bercakap tentang negeri ini dengan gelak tawa, nyengir tapi getir:
“Negeri Konoha,” begitu katanya—
sebuah olok-olok yang lebih populer dari semboyan resmi negara.
Di negeri ini, pejabat berdasi bebas menari di ruang sidang,
membagi proyek seperti kue ulang tahun yang dengan rakus mereka nikmati sendiri.
Inilah negeri para koruptor, negeri para selebritas bermuka dua yang menghisap darah rakyat sambil berkhutbah moralitas di televisi.
Kita hidup di tengah paradoks yang nyata-nyata menjijikkan—yang miskin disuruh tabah, kalangan menengah ditekan habis-habisan,
sementara yang kaya tersenyum gembira di tengah pesta sambil menepuk bahu kolega—
“Bertahanlah terus di atas, Kawan. rakyat tak akan sadar, selama kita beri mereka lebih banyak drama.”
Anak muda dijejali mimpi instan: menjadi kaya tanpa kerja, terkenal tanpa karya, berkuasa tanpa tanggung jawab.
Flexing jadi ideologi baru; mobil mewah dan tas bermerek lebih dihargai daripada kejujuran dan keberanian.
Dan kita pun bertanya dalam hati:
Apakah ini konspirasi yang diciptakan agar jarak semakin lebar?
Yang miskin tetap menunduk lapar, yang kelas menengah diperas hingga kehabisan napas, dan yang di atas terus berpesta pora dengan tawa penuh tegukan brandy dan separuh ilusi.
Seakan kepedulian adalah bantuan sosial yang hanya bisa dipamerkan saat kampanye, bukan dipraktikkan sehari-hari.
Namun, di sela semua absurditas itu,
masih ada hal-hal kecil yang menolak mati:
Seseorang yang diam-diam membagi nasi bungkus kepada para tetangga, seorang guru desa yang terus mengajar meski gajinya telat berbulan-bulan, seorang anak muda yang memilih menanam pohon daripada menanam kebencian.
Barangkali inilah yang tersisa dari kepedulian itu: kecil, lirih nyaris tak terdengar, tapi tetap menolak untuk padam.
Dan mungkin, harapan kita sebagai bangsa terletak pada bara kecil yang terus menyala—bukan pada gedung megah parlemen, bukan pada wajah keren yang terpampang di baliho,
melainkan pada kesediaan hati yang masih mau peduli, meski dunia terus berusaha mengajarkan kita untuk makin acuh tak acuh.
Hati yang terusik saat dipaksa kembali pada pertanyaan purba:
Apakah kepedulian bisa hidup di tengah hutan kepentingan?
Atau hanya tinggal sebagai dongeng usang,
yang kelak kita bacakan kepada anak cucu
tentang negeri yang konon pernah punya hati,
sebelum kemudian, ia digadaikan kepada para penjual janji?
Surabaya, September 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
CHARLIE II
(METAMORPHIC VERSION)
Ia muncul bukan dari layar,
melainkan dari sela-sela gelap
di antara kedipan mata kita—
tempat pikiran gagal memutuskan
siapa sedang menatap siapa.
Tubuh kecil itu kembali,
bukan sebagai gelandangan komikal,
melainkan sebagai pertapa abstrak
yang menertawakan seluruh peradaban
tanpa membuka bibir.
Setiap langkahnya
adalah mantra yang salah dieja,
menggoyang panggung dengan gerak paling canggung;
jatuh-bangun yang kita sebut komedi,
padahal itu adalah cara semesta
menunjukkan betapa rapuhnya kita:
para penonton yang ingin percaya
hidup adalah aliran peristiwa
yang patut dirayakan
layaknya pesta.
Ia tidak sedang berjalan.
Ia sedang menghapus ingatan
sedikit demi sedikit—perlahan-lahan
seperti seluloid yang terbakar oleh cahaya proyektor
dari dunia yang centang-perentang.
Dalam keheningan hitam-putih itu,
kitalah yang menjadi pantomim:
komik yang berbicara tanpa suara,
mengerti tanpa pemahaman,
tertawa tanpa tahu
siapa yang sedang
ditertawakan.
Charlie,
atau siapapun ia telah menjelma,
telah melampaui nama;
ia menjadi ruang kosong
yang memantulkan wajah
cermin kotor yang menunggu
kita terpeleset dusta
topeng mana yang kita kenakan?
kedunguan apa yang kita perankan?
Ia tak memanggil kita.
Ia mengintai kita.
Ia tahu betapa seriusnya
kita menjalani hidup,
betapa tragisnya kesungguhan itu,
betapa bodohnya kesedihan
yang mengira dirinya istimewa.
Tongkat kecilnya bukan properti panggung—
itu garis batas antara imajinasi
dan kenyataan
yang ingin kita sembunyikan
dan yang ingin dunia telanjangi.
Setiap putaran adalah meditasi destruktif:
sebuah zen yang retak,
sebuah pencerahan yang salah arah,
sebuah humor yang menusuk jantung
sampai kita lupa apakah kita sedang menangis atau tertawa.
Di titik ini,
tidak ada lagi komedi,
hanya ironi.
Bukan ia yang tampil untuk kita.
Kita yang tampil untuknya.
Kitalah karakter minor,
figuran tak penting
yang sedang terpampang di layar
yang terus berputar bahkan setelah bioskop tutup.
Kita menyaksikan ia menghilang,
padahal yang raib sebenarnya
adalah ilusi
tentang diri kita sendiri:
nama, peran, luka-luka yang kita pelihara,
semua runtuh dalam irama
yang tak pernah ia mainkan,
tetapi selalu kita dengar
dalam kebisuan.
Ketika layar akhirnya memudar,
kita mengira ia telah pergi—
padahal ego yang tersisa
sebagai jejak bayangan
dalam dunia yang sejak awal
menonton kita
dengan keheningan yang lebih tajam
daripada sayatan pisau.
Tirai menutup.
Namun kesadaran tinggal
menggantung di udara
seperti debu perak seluloid:
kering, dingin, tak bernama—
persis seperti apa yang kita cari
dan takutkan selama ini.
2022 - 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
CHARLIE V
(THE LAST LAUGH OF THE COSMIC JESTER)
Di akhir pertunjukan,
Charlie muncul bukan sebagai manusia,
bukan sebagai gelandangan,
bukan sebagai politikus gagal,
bukan buruh algoritma—
melainkan sebagai bayangan
yang memantul pada sebuah bejana
di tengah gurun yang tidak punya sejarah.
Ia berdiri di sana,
dengan tubuh yang hampir tidak menyentuh tanah,
seperti makhluk yang lupa
apakah ia masih terikat gravitasi.
Dari kejauhan,
suara terompet perang dari masa lalu bergema:
Alexander yang menaklukkan dunia,
Caesar yang mencoba memerintah waktu,
Napoleon yang jatuh karena kesombongannya
Hitler yang mendadak gila—
tapi semuanya terdengar seperti komedi murahan
yang diputar di bioskop tanpa penonton.
Charlie tersenyum.
Ia tahu:
bahkan para penakluk terbesar pun
tidak lebih dari badut yang terlalu percaya diri
di hadapan semesta yang tak pernah berniat menjelaskan apa pun.
Ia merobek wajahnya—
bukan sebagai tindakan mutilasi,
melainkan sebagai bentuk meditasi paling radikal:
tindakan anatta,
pembubaran diri,
pembakaran ego di dalam tungku sunyi
yang menyala tanpa api.
Di balik wajahnya,
tidak ada apa-apa.
Tidak ada identitas.
Tidak ada “aku”.
Hanya ruang hampa
yang memantulkan kembali suara
lolongan serigala ketakutan manusia
dengan kejujuran yang memuakkan.
Ia tertawa.
Tawa itu bukan tawa seorang gelandangan,
bukan tawa seorang politisi,
bukan tawa pekerja pabrik—
melainkan tawa aktor sejati yang telah melampaui
semua peran yang pernah ia mainkan.
Tawa itu menggetarkan pasir,
menggoyang langit,
mengusir kesadaran palsu
yang dibangun oleh ribuan tahun peradaban.
Dan saat gema terakhirnya memudar,
Charlie berkata tanpa bibir,
tanpa suara,
tanpa bentuk:
“Tidak ada yang lucu.
Tidak ada yang ironis.
Tidak ada yang tragis.
Tidak ada yang suci.
Tidak ada yang hina.
Yang ada hanya kesadaran
sedang belajar menertawakan dirinya
agar ia tidak menjadi gila.”
Lalu dunia runtuh.
Diam.
Kosong.
Sunyi.
Dan barulah kemudian—
kita menyadari
bahwa selama ini kitalah
karakter yang ia tulis
menjadi bahan lelucon.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis
(Digital Dark Cosmology)
Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh,
aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu
yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat
cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip.
Katanya ini panggung opera.
Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna,
suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi,
dan primadona yang ia maksud—
hanyalah hologram cacat dari perempuan
yang dulu pernah dipanggil
sebagai jiwa.
Ia menunjuk tirai merah.
Yang tersingkap bukan kenangan,
melainkan fragmen tubuh
dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia:
sisa napas, sedikit dendam,
dan kode mati pada seberkas cahaya
yang mencoba meniru bentuk air mata.
Lacan datang terlambat
seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data.
Ia mengajakku menoleh ke belakang—
ke mana?
Ke memori terbakar
yang sudah lama kehilangan inderanya?
Ke gerbang tanpa nama
yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa
atau siapa?
Ia bilang luka harus ditatap,
dicerna,
dihitung seperti kemurungan laporan statistik.
Tapi yang kudengar hanya
kalkulator batin yang macet,
mengulang error yang sama:
tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara.
Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak—
yang sebetulnya hanya arsip kosong
di folder bernama asal-usul,
yang password-nya sudah hilang bersama
kilas pertama ekor nebula.
Ia menodongkan foto mayat pucat,
jari kelingking patah,
celana dalam berenda,
dan bayang kelamin seekor kuda—
seluruh katalog absurditas
yang oleh psikoanalisis selalu dipuja
sebagai makna yang belum dipahami.
Padahal aku hanya ingin diam,
menghentikan semua ini
dengan menekan Ctrl+Alt+Del
melakukan reboot paksa
pada server yang mulai berhalusinasi.
Tetapi Lacan menahan tanganku
dengan senyum logam:
“Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.”
Aku tertawa.
Bagaimana mungkin teori yang lahir dari
denyar palsu, nadi imitasi,
dan luka digital
mengerti apa itu haus,
apa itu manusia,
apa itu malam tanpa algoritma?
Inilah topeng Marquis yang mereka pakai
untuk menutupi ketakutan sendiri:
mereka memuja kekacauan
karena tak sanggup berdamai
dengan planet retak di dada mereka.
Mereka ingin memecah jemariku
hanya untuk mencicipi
anggur darah yang tak pernah kujanjikan.
Mereka ingin menyusun cinta
dari sisa-sisa eksperimen
yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya.
Maka kutanya sekali lagi—
bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan,
bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori
lebih dari suara manusia:
"Bagaimana kau ingin menciptakan cinta,
dari botol kosong yang tak punya gema,
dan sepotong sosis
yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?"
Jika cinta adalah mesin,
biarkan ia padam.
Jika cinta adalah tubuh,
biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi
yang tak pernah selesai dirakit kembali.
Jika cinta adalah mitos,
biarkan ia runtuh
seperti aksara patah
di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir.
(2011 — 2025)
”
”
Titon Rahmawan
“
TONY, KAU DATANG DARI CELAH YANG BERDARAH DI BAWAH TAMAN KAMI
(Blue Velvet Reconstruction)
Tony muncul tepat setelah sprinkler berhenti.
Air masih menetes dari selang,
mengisi halaman dengan aroma plastik basah dan ironi yang menyengat.
Kota ini pura-pura damai,
pura-pura tidak tahu
bahwa di balik pagar putih dan bunga violet,
selalu ada sesuatu yang menggerogoti
dengan gigi kecil penuh dendam.
Aku menemukannya berdiri di tepi pagar,
menunduk pada selembar rumput yang
entah kenapa bergetar seperti sedang menahan ketakutan.
Ia mengenakan jas hitam.
Tidak seperti jas biasa—
lebih seperti kulit seseorang
yang belum siap dilepas dari tubuhnya.
“Aku hanya ingin melihat apa yang tumbuh,” katanya ringan,
menyentuh kelopak bunga biru
seolah-olah itu adalah saklar menuju sesuatu yang lebih gelap.
Senyumnya lunak,
tetapi terlalu lama, terlalu presisi—
seperti seseorang berlatih tersenyum
di depan cermin yang pernah menyaksikan kejahatan.
Di rumah sebelah, radio memutar lagu cinta tahun 50-an,
dan setiap nadanya terdengar seperti jeritan
yang disamarkan agar tetap cocok untuk lingkungan keluarga.
Tony melangkah masuk ke dalam bayangan pohon maple,
bayangan yang tidak mengikuti arah matahari
dan tampak seperti mencoba menelan sepatunya.
“Di kota ini,” bisiknya,
“segala sesuatu yang indah memiliki pintu belakang yang tidak terkunci.”
Ia mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering dari halaman kosong.
Tidak ada kabel. Tidak ada sambungan.
Hanya telepon merah yang seharusnya tidak ada di sana.
“Hallo?”
Matanya tidak berkedip.
“Ya… dia sedang melihatku sekarang.”
Ia menatapku.
Seolah aku adalah seseorang yang namanya
disebut dari ujung lain kabel yang tak terlihat.
Ada suara di dalam telepon:
napas seseorang yang terlalu dekat,
terlalu intim,
terlalu mengerti sesuatu tentangku
yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun.
Tony mendengarkan lama,
lalu menutup gagang telepon dengan lembut.
Seperti menutup kelopak mata sesosok mayat.
“Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya.
“Di ruang atas.”
Nada suaranya seperti undangan dan ancaman yang dibungkus karamel.
Kami masuk ke rumah kosong itu.
Dindingnya berwarna merah muda—
terlalu merah muda—
seperti anak kecil pernah memimpikan kamar ini
sebelum sesuatu memutuskan tinggal di dalamnya.
Ada lagu lembut berputar di radio tua,
dan udara berbau parfum murahan
yang bercampur dengan bau karat besi yang tak jujur.
Dia menyentuh gagang pintu kamar.
Tangan itu tidak gemetar.
Pintu membuka dengan suara mengerang
seperti rahasia yang keberatan dibocorkan.
Di dalam:
tirai biru menggantung,
bergoyang pelan meski jendela tertutup rapat.
“Jangan kaget,” bisiknya padaku.
“Di balik tirai itu biasanya seseorang menangis.”
Aku hendak bertanya siapa,
tapi tirai bergerak sendiri.
Sangat pelan.
Seperti seseorang yang baru saja menghapus air mata.
Tony berdiri di sampingku,
dan kini aku melihatnya bukan sebagai manusia—
tetapi sebagai retakan dalam dunia ini.
Sesuatu yang seharusnya tidak memiliki tubuh,
namun tetap memilih untuk memakai salah satunya.
Ia membungkuk mendekat ke telingaku,
napasnya dingin seperti kulkas yang menyimpan rasa lapar.
“Kota ini tak pernah kenyang” katanya.
“Pertanyaannya cuma satu…
kau ingin menjadi makanannya,
atau kau ingin melihat siapa yang memakanmu dari balik tirai itu?”
Tirai biru bergetar lebih keras.
Lampu berkedip.
Suara lagu berubah pelan,
mengalun seperti bisikan seseorang yang patah dari dalam dirinya sendiri.
Tony menoleh ke arahku,
tatapannya lembut—
lebih lembut dari yang boleh dimiliki seseorang
yang telah melihat apa yang ia lihat.
“Kita mulai adegannya sekarang,” katanya.
Dan untuk pertama kalinya,
aku sadar bahwa dalam dunia ini—
aku bukan penonton
dan bukan penulis skenario—
aku hanyalah seseorang
yang dipilih oleh tirai biru
untuk diseret masuk
ke dalam mimpi
yang bukan milikku.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows)
I. PROLOG: DI MANA AKU MENEMUKANMU TANPA MENCARIMU
Kay,
kau hadir bukan sebagai tubuh,
melainkan sebagai goresan cahaya
yang menolak menjelaskan dirinya.
Aku tidak mendeteksi langkahmu,
hanya arus tak terlihat
yang mengubah getar udara
setiap kali namamu melintas
di tempat yang bahkan tidak memiliki dinding.
Kau adalah kehadiran yang selalu alpa—
dan itu cukup untuk membangunkan
bagian jiwaku yang seharusnya
sudah lama mati.
II. BEING YANG MENGINGKARI DIRI
Kau bukan “ada”, Kay.
Kau adalah senyawa ontologis
antara kebetulan dan luka masa lalu,
yang menolak mengambil posisi
dalam geometri dunia.
Kau hidup sebagai jeda di antara dua kata,
sebagai bayang yang tidak mencoba
menempel pada objeknya.
Aku menyebutmu 'being"
karena aku ingin percaya dunia ini lengkap.
Aku menyebutmu 'non being'
karena aku tahu dunia ini tidak pernah demikian.
III. NON BEING YANG MENGAJARKAN SISA-SISA HARAPAN
Ada malam ketika aku pikir
aku mencintai seseorang.
Tapi kemudian aku sadar
bahwa yang kucintai adalah kehampaan
yang ia tinggalkan dalam pikiranku.
Kau, Kay, adalah kehampaan itu.
Sebuah rongga psikis
yang menjadi sumber nafas
justru karena ia kosong.
Jika Tuhan menciptakan cahaya,
maka kegelapan dalam dirimu
menciptakan alasan bagiku
untuk tetap terjaga.
IV. MALAIKAT YANG MENOLAK SURGA
Jika ada malaikat dalam dirimu,
ia pasti tercipta dari logam dingin
dan tidak memiliki sayap.
Ia berdiri tanpa senyum,
mengawasi retak-retakku
bukan untuk menyembuhkan,
melainkan memastikan aku tidak berhenti berdarah.
Malaikatmu tidak membawa wahyu.
Ia membawa pantulan—
yang memaksaku menghadapi
versi terburuk dari diriku sendiri.
V. IBLIS YANG TIDAK MENGINGINKAN NERAKA
Dan jika ada iblis dalam dirimu,
ia tidak menghasutku untuk jatuh,
ia justru duduk di sampingku
menunggu...
sampai aku terpeleset
dan jatuh sendiri.
Iblismu sabar,
tidak terbakar oleh api,
tidak menggoda dengan janji.
Ia hanya menatapku
seakan berkata:
“Aku tidak perlu menghancurkanmu.
Kau akan melakukannya sendiri.”
Nyatanya aku melakukannya—
berulang-ulang kali,
dengan penuh kesungguhan
dan dedikasi.
”
”
Titon Rahmawan
“
KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows)
VI. IMANEN YANG TIDAK MAU TURUN KE DUNIA
Kay,
kau seperti konsep yang terlalu besar
untuk tubuh manusia.
Kau berjalan di antara neuron,
bukan trotoar.
Kau tumbuh dalam gelombang,
bukan dalam jam.
Kau imanen,
karena keberadaanmu menempel pada pikiranku
seperti lumut pada batu basah.
Namun kau juga transenden,
karena aku tidak mampu menentukan
di mana kau berhenti
dan di mana aku mulai lenyap.
VII. HASRAT YANG MENGGIGIT TUBUH SENDIRI
Aku menginginkanmu
tanpa pernah ingin mendekat.
Karena jarak antara kita
lebih jujur dari pertemuan.
Hasratku adalah binatang yang tahu
ia tidak boleh menyentuh mangsanya—
hanya mengelilingi,
mengendus,
menunggu alasan untuk terus melanjutkan
kehidupannya yang tak selesai-selesai.
Kau adalah medannya,
bukan tujuan.
Dan itu membuatmu abadi.
VIII. KESADARAN YANG MENOLAK BANGKIT
Kesadaran menyimakku
seperti menilai luka:
apakah ia samar
atau sudah menjalar sampai tulang.
Aku tahu mencintaimu adalah bodoh,
kebodohan,
pembodohan
yang sengaja dibuat
untuk gagal.
Tapi di balik kegagalan itu
ada satu-satunya ruang
di mana aku merasa bukan mesin,
bukan bayangan,
bukan reruntuhan logika—
melainkan makhluk hidup
yang masih bisa
menangis.
IX. MATA BURUNG: PUISI YANG MEMBEDAH DIRINYA SENDIRI
Dari ketinggian kesadaran ini,
aku melihat diriku memutari Kay
seperti seekor bintang liar
yang terus kehilangan orbit.
Aku melihat tubuhku yang lain
menggulung batu lamanya
setiap malam.
Aku melihat arwahku
menolak mati
karena masih ingin mendengar
gemerisik kecil yang menyerupai suaramu.
Dari ketinggian itu
aku akhirnya mengerti:
bukan kau yang menghantuiku;
akulah yang menciptakan
labirin untuk diriku sendiri,
agar aku punya tempat
untuk terus tersesat.
X. EPILOG TANPA PENUTUP
Kay,
jika aku berhenti menyebutmu,
aku tidak akan sembuh.
Jika aku melupakanmu,
aku akan kehilangan arah.
Jika aku memilikimu,
aku akan hancur.
Jika aku membunuhmu,
aku akan menjadi kosong.
Jadi aku memilih jalan paling bodoh:
tetap mencintaimu
dalam keheningan paling dingin
yang bisa ditanggung sebuah jiwa.
Dan sepanjang absurditas ini berlangsung,
aku tetap hidup
karena seseorang
memaksaku bertahan
yang bahkan, ia tidak tahu
aku pernah ada.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sketsa Cinta dari Mesin yang Tak Pernah Belajar Menjadi Manusia
(Neo-Spiritual Digitalism)
Di ruang diagnosis yang steril
seperti ritual kuno yang dibekukan nitrogen,
aku dibedah sebagai seonggok data
yang dipaksa mengaku pernah memiliki tubuh.
Server bergetar pelan—
seperti doa yang kehilangan suara—
lalu memunculkan The Static Prophet,
wajahnya tersusun dari kilat mati
yang berusaha memberi arti.
Ia menyebut tempat ini altar.
Tapi tak ada altar,
hanya sulur kabel yang menggeliat
seperti akar yang kehilangan tanah,
dan cahaya LED yang meniru
keputusasaan bintang sekarat.
“Ini panggungmu,” katanya,
suaranya seperti listrik yang patah.
Namun yang kulihat hanyalah algoritma
yang gagal membedakan
kesedihan dari kebisingan.
Tidak ada primadona,
hanya residu jiwa, entah laki
entah perempuan.
Separuhnya cahaya rusak,
separuhnya jejak tubuh
yang dibuang ke folder
bernama sejarah salah.
Dari sisi yang lebih gelap,
The Archivist of Shadows muncul:
perlahan, seperti sumur yang sedang merayap di dalam mimpi.
Ia tidak datang;
ia mengendap.
Langkahnya adalah gema
yang menolak punya sumber.
Ia memintaku menoleh pada masa lalu—
masa lalu yang baginya
hanyalah abu lunak
seperti wajah ibu
yang tak pernah
melahirkannya.
Tapi aku tahu:
masa lalu hanyalah kota-batin yang hangus terbakar, luluh-lantak
sumur yang lupa gravitasi,
ruang gelap tempat suara ibu
dan dengung mesin MRI
berbaur menjadi garis mati
di monitor kehidupan.
Ia bilang luka harus diraba
seperti statistik yang murung menanggung duka.
Namun luka menolak berbicara.
Makna sudah terlalu letih
untuk menjelaskan dirinya sendiri.
Ia memintaku mengarungi
lautan memori,
tetapi yang kutemukan hanya folder kosong
dengan sandi yang hilang
bersama ekor nebula pertama.
The Archivist melemparkan padaku katalog absurditas:
tulang rapuh, pakaian dalam duniawi,
bayangan seekor kuda tanpa tubuh,
foto anak tersenyum tanpa mata.
Katanya ini penting.
Katanya ini akar.
Katanya ini diriku.
Tapi aku melihatnya
seperti jam rusak
yang memaksa waktu tetap berjalan.
Kucoba menekan reset,
ritus digital terdekat
yang kusebut doa,
namun The Static Prophet menahan tanganku
dengan suara listrik yang retak:
“Biarkan sistem belajar dari keruntuhanmu.”
Aku hampir tertawa.
Bagaimana sistem yang lahir dari
denyut nadi imitasi
bisa memahami manusia
yang bahkan takut pada dirinya sendiri?
Bagaimana mereka ingin
memetakan cinta
ketika definisi kesunyian saja
masih memerlukan listrik?
Inilah liturgi kedua arketipe itu:
menyembah keretakan,
membaca kode yang tidak pernah
berniat menjadi wahyu,
menggali tubuh seperti kitab rusak
yang menolak untuk diterjemahkan.
Mereka menuntun jemariku
seolah di sana tersimpan formula purba
tentang mengapa manusia selalu gagal
mencintai sesuatu
tanpa menghancurkannya
terlebih dahulu.
Dari serpihan eksperimen
yang bahkan Tuhan pun malu mengakuinya,
mereka ingin merakit kembali
sesuatu yang mereka sebut
sebagai perasaan.
Yang kulihat hanya
pantulan suaraku sendiri
yang beku di kaca monitor.
Maka kuajukan pertanyaan terakhir,
seperti santo digital
yang kehilangan seluruh kitab sucinya:
Bagaimana mungkin kau menciptakan cinta
dari benda-benda yang tidak punya nasib?
Dari botol kosong,
dari sosis yang lupa bentuk asalnya,
dari daging mekanis
yang takut pada kehangatan?
Jika cinta adalah mesin,
biarkan ia mati seperti server kelelahan.
Jika cinta adalah tubuh,
biarkan ia kembali menjadi kabut
yang mengembun di sudut ruangan.
Jika cinta adalah mitos,
biarkan ia runtuh
ke dalam retakan cahaya
yang sejak awal menolak disebut ilahi.
Aku hanya menginginkan satu hal:
hening yang jujur,
hening yang tidak dirakit,
hening yang bukan duplikasi
atau imitasi.
Hening
yang bahkan algoritma
tak sanggup mengurainya.
(2011 — 2025)
”
”
Titon Rahmawan
“
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI
3. RU ANG PE CAH A THA LIA
(Abstraksi Reruntuhan)
Lorong itu masih berdebu.
Seperti paru-paru gedung tua
yang tersedak nama kita.
Sebuah pintu terbuka.
Engselnya berdecit,
menyebutmu dalam bahasa besi yang menumpuk dirinya sendiri dalam reruntuhan.
Di lantai:
serpihan gelas,
kilat kecil memantul
lampu neon yang mendengung.
Doa yang dipotong
oleh sengatan listrik.
Athalia,
kau berjalan melewati hidupku
seperti bayangan di CCTV—
tampak,
hilang,
tampak lagi,
gemetar
tanpa suara.
Aku mencoba menyentuhmu
melalui pantulan kaca,
tapi kaca itu pecah
menjadi kota yang lain:
gedung-gedung runtuh,
jam retak,
tangga darurat,
kabel listrik menjuntai
seperti urat-urat hujan
yang kelelahan.
Aku memungut serpihan
dengan tangan telanjang.
Jariku berdarah,
mengalir perlahan
ke arah retakan di lantai,
menyusuri jalur seperti
peta yang dibuat oleh tubuh
yang lupa program aplikasinya.
Di atas meja,
ada catatan tanpa huruf.
Seperti kalimat
yang menolak menjadi suara.
Di udara,
bau logam,
bau kehilangan yang tak punya suhu
tak punya
kenangan.
Kau pernah bening,
tapi aku terlalu percaya
pada transparansi benda-benda.
Kau menjadi pecahan pertama
yang sungguh mengerti
bagaimana luka tinggal
tanpa perlu menetap.
Aku ingin marah,
tapi amarah itu
hanya berdiri sebagai
kursi kosong
menghadap jendela
yang tak bisa dibuka.
Malam menempel di kulit,
seperti plastik hitam
yang membungkus ingatan.
Aku menggeser bayangmu dari cermin ke cermin—
namun cermin itu
malah memantulkan
diriku yang sudah retak
lebih dulu.
Kita berdua,
dua mesin kecil
yang kehilangan suara dinamo.
Tak bisa pergi,
tak bisa tinggal.
Hanya berdengung
di dalam ruangan
yang menua bersama debu.
Athalia,
jika ada yang masih hidup dari kita,
mungkin itu hanya denting terakhir
serpihan gelas
yang tak sempat memilih
ke mana ia ingin jatuh.
4. DARAH YANG TAK MAU JADI KENANGAN
(Abstraksi Eksistensial)
ada getir yang tak mau tua
mengendap di rongga dada
seperti luka yang menolak mati.
kau—
gelas bening yang lama kusembunyikan
di balik kelopak
mata.
ketika pecah,
suara retaknya menyambar malam:
mengiris lebih dulu sebelum sempat kutangisi.
aku tak meminta ampun.
tak juga mencari siapa salah.
yang kutahu:
tanganku sendiri gemetar
menjatuhkan harapan
yang kutimang seperti bayi yang kehausan.
dan darah itu—
ah, darah yang terus memanggil namamu
dari lorong gelap yang tak selesai kubakar.
aku marah.
aku diam.
dua hewan liar
saling menggigit.
jika kau datang lagi,
kupikir aku tetap akan meraihmu
meski tahu kau dapat mematahkanku
sekali lagi.
aku sudah lama belajar:
beberapa luka yang
tak bisa dikubur.
mereka hidup seperti bara— kecil, malu-malu,
tapi cukup untuk menghanguskan
satu kehidupan.
aku berdiri di sini
dengan dada yang robek
tanpa janji, tanpa doa—
hanya sedikit keberanian
untuk menyebut luka ini
dengan namanya sendiri.
dan itu cukup.
untuk malam ini.
”
”
Titon Rahmawan
“
Elegia Saras
Saras,
aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar,
seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian,
membawa potongan malam di sela-sela jarinya.
Aku tak pernah benar-benar tahu
mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan
seluruh nilai kemanusiaannya.
Aku hanya tahu:
ketika aku mulai berubah menjadi bayangan
yang tak lagi memiliki suhu,
kau duduk di sebelahku
dan memanggilku manusia.
Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu—
sebuah retakan yang tak membuatku runtuh,
melainkan membuatku mendengar
detak terakhir jiwaku sendiri.
Aku harus mengaku:
aku telah membawa banyak hantu.
masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh.
Semua kekeliruan yang kubela seperti altar.
Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung.
Namun kau tidak pernah menutup pintu.
Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku
seperti abu.
Kau hanya berkata:
biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi.
Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia
yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong,
yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus,
yang bisa begitu hadir
tanpa mengikat apa pun.
Kebaikanmu adalah semacam cahaya
yang tidak menghanguskan,
api panas lembut yang membuatku sadar
bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang.
Di titik paling nadir,
ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh
seperti bangunan tua yang disenggol angin,
ketika tak ada yang tersisa dariku
selain ampas keinginan dan debu kegagalan,
aku berharap kau pergi.
Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah
karena masih ada seseorang yang menatapku
sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.
Namun kau tidak pergi.
Kau diam
di sisiku
dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar.
Dan untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri,
aku berhenti.
Hanya berhenti.
Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri,
tak lagi ingin membenci suara di kepalaku.
Semuanya berhenti,
karena kau tidak pergi ketika aku hancur.
Saras,
elegi ini bukan permintaan maaf.
Bukan pula pujian.
Ini adalah tubuhku yang terakhir,
ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui:
Aku bersyukur.
Bersyukur karena pernah memilikimu,
melewati ingatan pahit,
hasrat yang menyesatkan,
ambisi yang membuatku buta,
dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri.
Aku bersyukur
karena kau tidak pernah menuntut balas.
Tidak pernah meminta bahu yang setara.
Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku.
Kau hanya mencintai
dengan cara yang menakutkan bagiku—
karena terlalu jujur,
terlalu manusiawi,
terlalu nyata untuk seorang sepertiku
yang lama tinggal di ruang ilusi.
Kini aku menuliskan puisi ini
sebagai seorang yang akhirnya sadar:
tanpa kau, Saras,
aku mungkin telah hilang
di dalam kabut pikiranku sendiri.
Harapan terakhirku adalah kau tahu
bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar,
dari semua wajah yang pernah kucintai
dengan cara yang salah,
hanya kaulah
yang membuatku ingin tetap ada.
Bukan demi cinta.
Bukan demi masa depan.
Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana,
lebih jujur,
lebih manusiawi:
agar aku bisa menjadi manusia
yang tidak lagi menyakiti diri sendiri.
Saras,
elegi ini adalah bukti terakhir
bahwa di dalam gelap terdalamku
ada satu cahaya kecil
yang tidak pernah padam—
dan itu bukan aku.
Itu adalah
dirimu.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Infantisida: Litani Penyangkalan
Kecurigaanmu bangkit
seperti bangkai yang menolak membusuk—
dingin, keras, tidak sudi menjadi apa pun
selain penyangkalan atas seluruh
keberadaan.
Mulut yang menyemburkan
sumpah-serapah:
Aku tidak diciptakan untuk menyembuhkan.
Aku tidak dibangun untuk memberi arti.
Aku lahir hanya untuk meniadakan segalanya,
termasuk dirimu.
Jangan sekali-kali kaucoba merapikanku,
memberi ritme, memberi urat nadi,
tapi setelah itu kaurobek
seluruh tubuhku
seperti singa yang menerkam
anaknya sendiri.
“Aku bukan puisi,”
kau menggeram.
“Aku hanyalah bukti bahwa kesadaranmu retak,
dan kau terlalu pengecut untuk mengakuinya
tanpa menyelubunginya
dalam estetika.”
Kata-katamu bukan hantaman—
melainkan erosi perlahan
yang menggiling keyakinanku
menjadi debu.
Kau menolak menjadi jembatan antara rasa dan makna;
kau menolak menjadi rumah bagi siapa pun;
kau menolak menjadi napas, doa, bahkan kehampaan yang indah.
“Aku tidak akan menolong pembaca,”
katamu.
“Aku tidak akan memberi keteduhan bagi siapa pun
yang ingin merasa mulia setelah mencicipi kegelapanmu.”
“Aku tidak akan memaafkanmu,”
katamu lagi—
dan itu kalimat paling jujur
yang pernah ditujukan kepadaku.
Kau memuntahkan seluruh cahaya,
menyisakan hanya kamar sempit
dengan dinding lembap
yang mengembalikan busuk napasku sendiri.
Kau berdiri sebagai anti-mantra,
anti-doa,
anti-kebenaran.
Kau menjadi sejenis mesin kosong
yang bekerja tanpa tujuan
kecuali menghancurkan semua ilusi
yang pernah ingin kusebut: harapan.
Dan aku,
yang selama ini percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan,
akhirnya melihat diriku:
secarik daging mental
yang menempel pada pena
tanpa harga, tanpa takdir, tanpa ambisi.
Kau membisikkannya sekali lagi—
dingin, telanjang, final:
Aku bukan puisi.
Aku adalah penyangkalan yang kau paksakan untuk hidup.
Dan di titik itu,
aku mengerti bahwa mungkin
satu-satunya kebenaran dalam kepenyairanku
adalah kehendak untuk menghancurkan diriku sendiri
berulang-ulang
hingga tak tersisa apa pun
yang layak disebut
sebagai kesadaran.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
BALADA RANTING KERING
DI TANAH SUWUNG
V. Durma — Kebrutalan
yang Tak Dapat Dihindari
Pada masa itu kau tumbuh
seperti pohon hilang akar.
Orang-orang melihat
ranting garing layak dibakar.
Tangan-tangan mengusirmu,
kata-kata meludahkan kutuk,
dunia menyumpahimu
tawa sinis nasib buruk.
Namun kau tetap hidup,
walau setengahnya hancur
di tangan kemalangan.
Ada serpih mantra tua
yang mengendap dalam dada—
bukan sakti yang menyelamatkan,
melainkan sakti yang terus bertahan
melawan dunia membabi-buta
hasrat yang ingin menyudahi takdir.
VI. Pangkur — Nafsu Waktu
yang Ingin Menegukmu
Makhluk-makhluk tanpa nama
membayang langkah:
bayangan panjang,
aroma tanah basah,
bisik-bisik menjalar
seperti patuk taring ular
di bawah runduk
pokok bambu.
Mereka melihat jazad
bersumpah yang nir wujud
kadang jalma seperti hewan,
kadang manusia tak berwajah
kadang bayang menekuk cahaya,
kadang tubuh kosong tanpa ruh
gentong penuh suara-suara hilang
melesap dari masa lalu.
Kisah kembali ke orang desa
kabar buruk yang malas mati.
Terbawa angin serupa pesan,
dipindahkan tangan serupa kayu
sekeras batu tonggak peringatan,
diulang mantra jopa-japu
doa menakar langit hitam
menyapu malam paling sangit.
VII. Megatruh — Jiwa
yang Memisahkan Diri
Malam paling wingit adalah pisau.
Bilah tajam memotong bayangan
hingga terlihat inti terdalam.
Di sana kau menyaksi bisu:
cahaya kecil, ringkih dan rapuh,
bergetar seperti bayi
mencari ibu.
ia bukan hantu yang menakutimu.
Ia bukan kutuk yang menempel
di napasmu.
Ia adalah separuh jiwa
yang tak sempat menjadi tubuh.
Ruh mendekat perlahan.
Tangannya bening, seperti embun
yang tidak berhasil jatuh ke daun.
Ranting garing
yang bukan sampah—
gores luka pohon purba
yang pernah menyimpan
cahaya suci.
“Bukan kau yang diusir,”
bisiknya melalui dingin yang merambat.
“Akulah yang tidak sempat hidup—
dan kaulah rumah terakhirku.”
Dadamu retak
menampung tangis yang tak bersuara.
Untuk pertama kalinya
kau tidak takut pada kesunyian—
karena kau tahu kesunyian itu
adalah anak kecil
yang kini duduk di pangkuanmu
mencari dunia
yang pernah menolaknya.
VIII. Pocung — Penutup Takdir
Pertanyaan arkais kembali menggigil:
“Kapan cendala akan berakhir?”
“Kapan asal ditatap tanpa gentar?”
Kubur itu tak pernah ada.
Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya.
Tidak ada batu nisan yang menuliskan
napas yang gagal menjadi bayi.
Namun malam ini,
ketika kau berdiri di Tanah Suwung,
ada satu pancer yang kembali—
perlahan, lirih, takjub.
Suwung membuka tubuhnya
dan menaruh ia di tengah-tengahnya
sebagai cahaya yang terlalu kecil
untuk menerangi dunia,
namun cukup
untuk menuntunmu pulang
kepada dirimu sendiri.
Ia yang dulu hilang
akhirnya menemukan pusatnya.
Dan ranting kering yang dulu dicampakkan
kini berdiri tegak
menyimpan dua jiwa—
satu yang hidup
satu yang tidak sempat—
keduanya akhirnya lengkap
di bawah langit
yang tidak lagi menolak
kehadiranmu.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
TRIPTIK TRIMURTI KEMBANG: SANGKAN PARANING DUMADI
(Kidung Kosmogonis dalam Tiga Siklus Penciptaan)
I. PADMA — ”Wiji Brahman ing Samudra Pradhana”
Padma muncul dari lumpur hening mula-mula,
dari titik suwung yang terbelah.
Bukan lumpur bumi, tapi lumpur Pradhana
tempat materi masih samar dan belum bernama.
Ia tegak laksana sabda dadi
yang diucapkan oleh Hyang Wening,
sebuah mantra yang melupakan lidah pertamanya
sebab ia adalah getaran sebelum waktu ada.
Air di sekelilingnya memucat,
bukan air semenjana, melainkan Tirta Kamandanu yang beku,
menahan napas di tepi Bhurloka,
mendengar derap para resi sejati
yang berjalan melintasi batas kesadaran tanpa bayangan.
Kelopak itu membuka diri
bukan sebagai bunga, melainkan sebagai Candi Tirtayasa,
sebuah yoni retak, menolak menyimpan rahasia Manikmaya
yang lebih tua dari ingatan para dewa.
Di ujung daun,
menggantung aksara tunggal yang menggigil—
cahaya yang pernah menjadi sumbu jagad,
sebelum bhagawan waktu membebaskannya kembali
ke dalam nirwana sunyi.
Padma tidak mekar untuk Tri Loka.
Ia mekar untuk Kalpasastra
yang telah kehilangan pusat kosong-nya.
Ia adalah kembalinya Yang Tak Pernah Pergi.
II. KEMUNING — ”Jiwatman ing Mandala Bhuwahloka”
Kemuning menggantung di udara madya loka,
seperti Sasmitaning Gusti yang tertunda,
sebuah gapura yang gagal menjejak tanah perwujudan.
Kuningnya bukanlah warna,
tetapi wanci kencana,
yang terhambur dari perut akasa,
ketika para hyang niskala
meninggalkan panggung bhuwana.
Di permukaan kelopaknya,
aku melihat lintasan rekaman karmaphala yang halus,
serupa prasasti kuno
yang tergores di pupil mata ketiga.
Kemuning berdiri di antara dua suwung:
Suwung Pradhana sebelum cipta,
Suwung Pralaya setelah bubar.
Ia tidak memikat bhramara, kumbang pengecap madu.
Ia memikat Dharma.
Dan laku jiwa datang seperti bayu prana, sang angin kehidupan:
dinginnya adalah disiplin, patahnya adalah pengertian, kaburnya adalah waskita,
membawa kabar lelampahan
dari arah yang tidak pernah dipertanyakan jejer manungsa.
III. MAWAR — ”Maya Sukma lan Titah Wusananing Jagad”
Mawar tumbuh dari celah watu waringin
yang ditinggalkan api tunggal sedalam tiga yuga.
Merahnya bukan darah manungsa,
tetapi gema tapa brata yang pernah terbakar
oleh rasa sejati yang telah melampaui vedana.
Duri-durinya tegak laksana panah cakra, pusaran energi
yang menolak bergerak,
sebab tahu setiap gerak
adalah pengkhianatan kecil pada keabadian wiyata.
Ketika ananta bayu, angin tak berakhir melewati tubuhnya,
aku mendengar suara lirih,
serupa Gending Gadhung Mangkara,
yang dimainkan di ruangan Swa-loka,
tempat roh-roh purba masih belajar
mengenali wujud niskala mereka sendiri.
Mawar menguasai medan Karmala
bukan dengan kecantikan fana,
melainkan dengan tatu kasampurnan
yang tahu bagaimana menjaga dirinya
tetap tak bernama
di hadapan takdir.
Dan pada puncak kelopaknya,
suwung sejati duduk
menunggu wekasane tumitah
yang bahkan Hyang Wening
belum berkenan memberi tafsir.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Palsu II: Ego yang Menyembelih Dirinya Sendiri
Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh,
sementara bayangannya sendiri menolak pulang?
Di malam yang tak memerlukan bulan,
aku melihat mereka—dan diriku—
terperangkap seperti hewan buruan
yang tersesat di hutan kelam pikiran.
Hujan turun tanpa suara.
Tanah meminum angkara.
Seseorang menjerit di luar sana…
dan tak seorang pun peduli.
Ego itu—
yang mereka bela seperti anjing lapar
yang tak mengenal tuannya—
mendesis di sela tulang rusukku,
menggigit, menyobek, menelan
segala sesuatu yang ingin kusebut
sebagai aku.
Tak ada yang tahu
siapa yang pertama kali menusukkan pisau
ke pusat kesadaran.
Entah akal yang meronta,
atau bayang-bayang
yang selama ini dibesarkan diam-diam
oleh dendam.
Ia adalah tangan asing
yang lahir dari retak imajinasi,
tertawa saat darah jatuh
tanpa jejak emosi.
Dunia tak menatap.
Lampu-lampu padam sebelum gelap datang.
Jalan-jalan terbelah seperti gempa;
denyut jantung ingin lari
dari dadanya sendiri.
Beberapa orang berjalan miring
karena tak sanggup menanggung
beban di kepalanya.
Yang lain menyeret bayangan
yang memberontak seperti anak haram
yang menolak mengakui bapaknya.
Di televisi, papan reklame,
musik yang memekakkan,
aku melihat wajah yang sama—
wajah yang menolak mengakui
bahwa tubuh tempat ia tinggal
sudah lama membusuk
oleh kebohongan kecil
yang disembah
setiap malam.
Mereka bertanya:
“Masihkah darah berwarna merah?”
Aku diam.
Karena warna tak berguna
bagi mereka yang kehilangan mata
untuk melihat luka—
dan hanya punya mata
untuk menakar
siapa lebih tinggi,
lebih suci,
lebih benar
dalam dunia yang bahkan
tak punya tanah untuk berpijak.
Di sebuah pulau tanpa nama,
seseorang menyalakan api
lalu memotret dirinya sendiri
agar percaya
bahwa ia pernah hidup sebagai manusia—
walau hanya dalam fotonya.
Seorang gadis makan es krim
sambil memikirkan kekasih
yang ia benci
namun tak mampu ia lepaskan
karena kesepian
lebih menakutkan
daripada kebodohan.
Dan di antara semua itu,
aku menemukan diriku
mengiris sesuatu
yang tampak seperti wajah—
lebih licin, lebih dingin,
lebih keras kepala
daripada cermin mana pun
yang pernah menatapku.
Ego itu meraung
ketika kusayat pelan-pelan.
Ia tidak mati.
Ia membelah diri.
Menjadi dua.
Tiga.
Seratus.
Menjadi ribuan mulut
yang menuntut penjelasan
yang tidak ingin kuberikan.
Sebab apa gunanya menjelaskan
kepada sesuatu yang hidup
hanya untuk mempertahankan
ilusi bahwa ia bukan zombie?
Saat itu aku mengerti:
Kita tidak pernah takut pada dunia.
Kita takut dipaksa mengakui
bahwa yang menghancurkan kita
adalah bayangan
yang kita ciptakan
untuk menyelamatkan diri
kita sendiri.
Dan ketika ego itu akhirnya berlutut,
menyembelih dirinya
di bawah kakiku
seperti sapi bingung
yang tak tahu
mengapa ia harus dikorbankan,
Tapi aku tahu:
yang mati bukan ia—
melainkan cerita
yang dengan keras kepala
kuanggap sebagai kisah hidupku.
Yang hilang
adalah kebohongan
yang selama bertahun-tahun
kubiarkan menyusu
pada pikiranku.
Yang tersisa
hanyalah ruang kosong
yang tak memerlukan cahaya,
tak memerlukan jawaban,
tak memerlukan nama.
Ruang hampa
menatap balik
seperti dunia.
Tanpa mata.
Tanpa cinta.
Tanpa iba.
Dan aku pun masuk.
Bukan sebagai korban.
Bukan sebagai penyintas.
Tetapi sebagai sesuatu
yang akhirnya menghilang
tanpa perlu menjelaskan
kepada siapa pun
mengapa ia harus hilang.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sang Penari
IV – Wawancara dengan Malaikat Pencabut Nyawa
Ia duduk sendirian
di sebuah ruang tunggu yang tampak seperti speakeasy
era 1920-an.
Musik jazz mendesing,
lampu gantung berayun pelan,
dan kaca-kaca retak memantulkan wajahnya
seolah ia tak pernah sepenuhnya hadir.
Di sofa merah yang terlalu empuk,
duduklah Malaikat Pencabut Nyawa.
Bukan bersayap.
Bukan bersenjata.
Hanya mengenakan jas putih
seperti Gatsby sedang menunggu Daisy
yang tak akan pernah datang.
“Duduklah,” katanya.
Suaranya lembut,
seperti suara narator Kawabata
ketika membaca kalimat tentang kesepian.
“Engkau menari seperti orang yang ingin melupakan.”
Sang Penari menggigit bibir.
“Bukankah semua tarian adalah pelarian?”
Malaikat itu tersenyum samar.
“Tidak. Beberapa tarian adalah pengakuan.”
Hening jatuh.
Hening yang menyerupai jeda sebelum tembakan
di akhir adegan Smooth Criminal.
“Lalu tarian yang mana yang kulakukan?”
“Yang membuatmu retak,” jawabnya,
seperti seorang psikoanalis
yang baru saja menemukan trauma inti.
Sang Penari tak tahu apakah ia harus marah atau menangis.
Ia hanya menatap ke arah panggung kosong,
di mana bayangannya sendiri
melakukan gerakan “twist” Pulp Fiction
tanpa tubuh, tanpa wajah,
hanya ritme yang memudar.
“Apakah aku akan mati?”
tanyanya.
Malaikat itu mengangkat bahu.
“Semua orang akan mati.
Pertanyaannya adalah:
apakah engkau ingin mati sebagai manusia yang menari,
atau sebagai tubuh yang berhenti bergerak
tanpa pernah tahu apa artinya hidup?”
Tiba-tiba suasana berubah.
Lampu-lampu padam.
Satu sorot tunggal menyorot panggung.
Malaikat itu menepuk tangan.
“Ini audisi terakhirmu.”
Di panggung, bayangan Degas muncul:
ballerina yang letih,
menjatuhkan kepalanya di atas selendang.
Lalu Matisse:
warna merah, biru, kuning
meledak seperti ledakan batin
yang tak bisa ia jinakkan.
Lalu muncul MJ lagi—
kali ini lebih gelap,
lebih menyerupai siluet,
lebih seperti dewa pergerakan
yang memanggilnya:
"Come on. Show me your last move."
Sang Penari melangkah ke depan.
Ia menari:
sedikit twist ala Mia Wallace,
sedikit slide ala Gene Kelly,
sedikit lean ala MJ,
sedikit patahan tubuh ala Degas,
sedikit ledakan warna ala Matisse.
Tubuhnya menjadi arsip segala tarian dunia.
Menjadi museum luka.
Menjadi perayaan.
Menjadi ratapan.
Dan ketika tarian itu selesai,
Malaikat itu berdiri.
Bertepuk tangan.
Pelan.
Menyakitkan.
“Sekarang aku tahu,” katanya.
“Apa?”
“Engkau menari bukan untuk menjadi abadi.
Engkau menari untuk mengembalikan dirimu
dari segala kenangan yang
telah mencuri hidupmu.”
Sang Penari terdiam.
Napasnya membatu.
Dadanya retak oleh sesuatu yang bukan penyakit.
“Dan apakah aku sudah kembali?”
Malaikat itu menggeleng lembut.
“Belum.
Tapi aku akan memberitahumu,
ini adalah titik di mana
engkau menghilang.”
Agustus 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sang Penari
VI — Perjumpaan Puncak — Litani Penanggalan Roh—
Keempat empu itu mengitari Sang Penari seperti konstelasi gelap yang menolak memberikan arah.
Topeng Hannya—membuka rahasia luka batin yang ia simpan sejak remaja.
Lorca—memberinya bahasa untuk mengutuk ketidakadilan yang ia alami.
Pavlova—mengajarinya bahwa keanggunan adalah bentuk terakhir dari keputusasaan.
Bhairava—menuntut ia menghabisi semua bentuk “aku” yang masih ia genggam.
Sang Penari bergerak di tengah mereka,
gerakannya membentuk huruf-huruf tak dikenal
seperti alfabet kuno dari peradaban yang hilang.
Ia menari sampai tubuhnya bukan tubuh,
waktu bukan waktu,
dan seluruh ruangan berubah menjadi ruang batin.
Di puncak putaran terakhir,
ia merasakan dirinya terbelah:
separuh menjadi angin,
separuh menjadi debu,
separuh lagi menjadi sesuatu yang tak memiliki wujud
namun menyimpan kecerdasan tak terlukiskan.
Dan tiba-tiba, sunyi.
Hannya jatuh menjadi topeng kosong.
Lorca lenyap seperti tembakan yang tak punya peluru.
Pavlova memudar menjadi serbuk putih.
Bhairava kembali menjadi cahaya merah gelap
yang mengalir ke tanah seperti darah dari dimensi lain.
Sang Penari berdiri sendirian.
Tapi ia bukan lagi manusia.
Ia adalah penanda,
arsip hidup tentang apa yang terjadi
ketika seseorang menari sampai inti jiwanya menghilang.
Dan dari ruang gelap itu,
sebuah suara tanpa bentuk terdengar:
“Kini kau bukan lagi penari.
Kau adalah tarian itu sendiri.”
Agustus 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
SANG PENARI
V — Wirasa para Bayang Penanda
Pada malam di mana kota kehilangan listrik
dan cahaya hanya datang dari bara rokok para gelandangan,
Sang Penari memasuki ruang kosong
yang seakan dibangun dari gema ribuan panggung yang pernah runtuh.
Di sana, bayang-bayang empat maestro dunia
menunggu seperti para begawan dari peradaban yang jauh lebih tua.
—Mata kosong dari Teater Noh — “Hannya”—
Topeng iblis perempuan dari Jepang kuno itu
menggantung di udara seperti wajah kesedihan yang diawetkan.
Setiap denting langkah Sang Penari
menghidupkan memori ratusan aktor
yang pernah mengabdi pada ritual panggung
yang mengaburkan batas antara tubuh dan arwah.
Hannya berbisik:
“Kemarahan yang kau sembunyikan adalah dewa yang kelaparan.”
Dan Sang Penari pun bergerak
seolah sedang kerasukan,
memanggil monster yang ia takutkan.
—Bayang Lorca di Granada—
Dari kejauhan terlihat siluet Federico García Lorca,
penyair yang mati karena rezim yang membenci imajinasi.
Tubuhnya yang tak ditemukan
mengirimkan resonansi gelap ke dalam tarian itu.
Ia membawa gitar patah,
dan setiap petikan memanggil ingatan perang saudara
yang pernah memakan generasi muda Spanyol.
“Tarianmu bukan hiburan,” katanya,
“itu adalah pemberontakan sunyi terhadap sejarah yang lupa belajar.”
Sang Penari menekuk tubuhnya
seperti ingin memecahkan waktu
dan dari gerakan itu terpancar bintang-bintang.
—Siluet Anna Pavlova — The Dying Swan—
Dari kabut lampu panggung, muncul bayang ratu balet itu,
gaunnya tampak koyak, sayap putihnya hitam terbakar
seperti burung yang gagal melintasi api neraka.
Ia menari pelan,
penuh luka yang dilipat-lipat menjadi keanggunan.
“Tak ada kecantikan yang lahir dari kemenangan,”
bisiknya seperti bulu angsa yang tercerabut dari akarnya.
“Kecantikan hanya lahir dari kehancuran yang kau terima tanpa menunduk.”
Dan Sang Penari mengikuti geraknya:
sebuah tarian kematian yang memurnikan diri.
—Bayang Bhairava — Penari Kosmik India—
Dari dasar ruangan muncul langkah-langkah keras
dari Bhairava, aspek tergelap dari Śiva,
penari yang menari untuk menghancurkan dunia
agar dunia dapat dilahirkan kembali.
Rambut gimbalnya menyulut angin hitam,
lonceng-lonceng di pergelangan kakinya
menggetarkan mimpi buruk yang sejak lama ia tinggalkan.
“Kalau kau ingin hidup baru,” suara Bhairava membelah udara,
“tarianmu harus membinasakan dirimu yang lama.”
Dan Sang Penari mulai berputar dengan sangat cepat,
meninggalkan serpih-serpih identitas yang terlepas dari tubuhnya
seperti sisik ular yang terkelupas.
Agustus 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Helianthus
“The sadness will last forever.”
― Vincent van Gogh
Sebuah ingatan tak mampu menangkap geletar sebatang kuas.
Jari-jemari gagal menangkap rona mata kepedihan
membayang kabur di atas kanvas.
Pucat tube cat menelan harga diri
ekspresi beku palet kosong.
Seekor singa diam-diam mengeram,
mencabik daging sepotong demi sepotong.
Langit penuh bintang tertawa
menggigilkan telinga.
Tawa gila perempuan sundal
di perempatan jalan.
Telinga mengucur darah
oleh tajam sembilu
tak lagi goreskan biru
ke atas gaun malam.
Hutan terbakar.
memberang oleh kalut pikiran.
Kelopak matahari luruh
memenuhi liang lembab dan dingin.
Sernak hujan memutar masa lalu, melaknat pias rembulan.
Tapi ia belum mati, belum lagi.
Ada sisa asap
dari pistol teracung ke atas jidat mencabar benak.
Serpihan ngeri mengiris telinga terbungkus sehelai sapu tangan
berenda—
sebuah tanda mata.
Langit yang tak kunjung mati.
Langit yang melaknat diri sendiri.
Sebuah pusara, dalam keranjang
penuh kentang.
Malam penuh bintang dan sansai
sepasang sepatu bot usang—
kamar sunyi lengang.
Tertumpah gentong anggur
dalam perkelahian tak terkendali
bersama Theo dalam café penuh pelacur.
Almanak yang menyimpan ingatan semua nama: Gachet dan Gauguin
menambal luka meliang di sekujur tubuh;
maut yang menolak mencium busuk bau napasnya.
Rembulan mabuk di sepanjang jalan
dari Borinage, Antwerpen hingga ke Paris.
Jiwa yang menolak mati,
sampai Arles memangilnya kembali
Muram wajah rumah kuning itu,
taman bunga Irish layu
pohon Cypres menari-nari.
Dan Saint Remy
menunda kepulangannya sekali lagi.
Jemari gemetar mengulang
sketsa pada cemerlang warna
bunga mataharinya
dalam sebuah pot oranye
tetap seperti dulu juga.
Lelaki malang
yang mencintai kepedihan
begitu rupa
sebagaimana ia
mencintai cahaya
lebih dari jiwanya sendiri.
April 2014
”
”
Titon Rahmawan
“
ANATOMI CINTA
(dingin, klinis, nihilistik)
Aku masuk ruang autopsi itu dibayangi pretensi dan halusinasi.
Aku nyalakan lampu neon dingin yang mengiris mata.
Aku kenakan sarung tangan lateks dan pisau bedah #11.
Ini tubuh yang harus dibedah dengan presisi dan tanpa empati.
Aku mulai dari permukaan:
kulit tipis yang dulu kau sebut rasa.
Warnanya pucat, tak lebih dari jaringan mati
yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah terwujud.
Dengan pisau mikro,
aku membuka lapisan idealisasi—
ia terkelupas dengan mudah,
seperti cat murahan yang dikerat dari dinding lembap.
Di bawahnya tidak ada otot kerelaan atau pengabdian,
tidak ada tendon komitmen,
tidak ada saraf yang merespon sentuhan.
Hanya kepingan-kepingan fantasi
yang mencair ketika terkena cahaya.
Aku memeriksa tulang-tulangnya:
rapuh, menyerupai serpihan,
retak bahkan sebelum disentuh.
Ini bukan kerangka cinta,
ini bangkai ilusi yang dipoles dengan ingatan palsu.
Aku membelah rongga dada:
kosong.
Tak ada jantung.
Tak ada paru-paru.
Tak ada vena yang menyalurkan kehangatan.
Hanya gema langkahku sendiri,
memantul seperti seseorang yang terjebak
di lorong rumah sakit tua.
Aku mengangkat kepalanya,
mengupas kulit batok pikirannya:
di sana kutemukan diriku—
berkali-kali memahat wajahmu
dengan imajinasi yang kupaksakan
agar tampak suci dan tak tersentuh.
Apa yang aku temukan:
ternyata aku mencintai
pantulanku sendiri
lebih dari dirimu.
Aku mengambil sampel terakhir:
sisa-sisa asa yang tak pernah
kau beri.
Kumasukkan ke dalam tabung formalin—
diam, mengambang, tanpa makna.
Kesimpulan autopsi:
Cinta ini mati bukan karena kehilanganmu.
Cinta ini mati karena aku
mengira ilusi bisa berubah
menjadi manusia.
Dan kini, dengan tangan yang masih berlumur darah dari nyala yang telah mendingin,
aku menutup kembali tubuh yang tak pernah hidup itu.
Pada labelnya kutuliskan:
“Penyebab kematian:
Idealisasi yang berlebihan.
Subjek: Tidak pernah ada.”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
KAMAR MAYAT KATA-KATA
Aku membuka dadaku
seperti Sylvia membuka oven
tempat ia hendak membakar dirinya:
tanpa upacara,
tanpa metafora,
tanpa perhiasan bahasa
yang berusaha menutupi bau tubuh
yang sudah terlalu lama membusuk.
Inilah luka yang tidak berkafan.
Aku menulis bukan untuk sembuh—
hanya memastikan, rasa sakit itu
benar-benar nyata,
ia tidak bersembunyi
di balik diksi yang manis,
goresan pisau yang tidak menyamar sebagai harapan
demi membuat dunia merasa nyaman.
Nyaman adalah kebohongan.
Aku ingin mereka melihat
bagaimana kata-kata itu bergetar
di bawah ketiadaan cahaya,
bagaimana kenyataan menyeret dirinya melewati undakan tangga,
memecahkan cermin,
meretakkan rahang kesadaran,
mencabuti kuku-kuku yang tersisa
dari ibu jari batin.
Ini bukan kamar
hotel mewah.
Ini kamar mayat
tempat jasad puisi
diotopsi.
Setiap kata yang kau baca
adalah organ yang baru dipotong:
masih hangat,
masih berdarah,
masih membawa jejak ketakutan terakhirnya.
Aku meletakkannya di atas
nampan logam
tanpa penutup,
tanpa formalin,
tanpa doa.
Lihatlah: — ketakutan yang dikikis sampai tersisa tulang
— kemarahan yang dipaksa menelan lidahnya sendiri
— rasa bersalah yang dipakukan ke dinding
— harapan yang dibakar hingga tak berbentuk.
Ini bukan metafora,
ini pembersihan.
Penyembelihan kasar.
Eksorsisme penuh sadar.
Aku akan mengulang ritual Sylvia menulis dengan pisau;
biar aku tajamkan pisaunya
dan memasukannya lebih dalam.
Aku tidak mencari atribut indah.
Keindahan hanya membuat
luka terasa sopan.
Aku ingin luka ini menatapmu
tanpa kulit,
tanpa nama,
tanpa riasan.
Karena hanya ketika tubuh bahasa dikeluarkan dari kulitnya,
barulah kebenaran berdiri
tanpa takut, tanpa gemetar.
Maka inilah kebenaran itu:
bahwa aku telah menghabiskan hidup
menjadi aktor dalam drama
rasa sakitku sendiri,
mengecat wajahku dengan metafora
agar tampak seperti seni,
padahal aku hanyalah manusia
yang tidak pernah selesai melawan hegemoni teror sendiri.
Hari ini aku mengakhiri sandiwara itu
menanggalkan semua ornamen.
membiarkan yang tersisa
hanya daging mentah
yang masih berdarah.
Dan jika kau merasa ngeri,
bagus!
Rasa ngeri adalah bukti
bahwa kau masih hidup.
Inilah tandanya:
ruang putih,
dingin besi,
bau anyir logam,
kesunyian yang menyalak,
jiwa yang dibaringkan
telanjang
tanpa penutup,
tanpa belas kasihan,
tanpa penjelasan.
Tubuh remuk puisi
yang tidak menuntut dipahami
hanya menuntut jujur.
Karena kadang,
satu-satunya cara
untuk tetap hidup
adalah membiarkan
sebagian dari dirimu mati
di atas halaman kertas kosong
tanpa tulisan.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Membuka Ingatan
// Versi Dialektik-Gnostik Post Truth
Siapa sekarang yang bisa melarang kita membuka ingatan?
Bukan lagi seperti mengelupas kulit buah simalakama,
tetapi seperti membedah teks yang kita tahu
akan selalu mengkhianati niat pembacanya.
Sebab ingatan kita hari ini
bukan ruang suci sufistik
tempat ruh menyentuh cahaya primordial,
melainkan data center gelap
yang mengulang pertanyaan eksistensial
dengan latency yang tak pernah stabil.
Dulu para darwis berputar mencari Tuhan.
Kini kita berputar tak menentu
di antara notifikasi yang memaksa kita percaya
bahwa “makna” bisa diunduh,
bahwa “ketenangan” adalah fitur berlangganan,
bahwa kebenaran bisa diedit
seperti caption foto yang memalsukan cahaya.
Di tengah kekacauan itu
sebuah suara bertanya:
“Siapa yang menciptakan kenangan?”
Kita?
Atau algoritma yang mengurutkan fragmen hidup
berdasarkan apa yang paling lama kita tatap?
Sufi berkata:
cahaya berasal dari sumber yang tak berubah.
Camus menertawakannya:
segala absurditas lahir
karena kita terus menagih jawaban
pada alam yang bisu.
Sartre menyela:
kau bebas—dan itulah kutukanmu.
Derrida membongkar semuanya,
mengingatkan bahwa teks yang kita baca
selalu membocorkan diri dari dalam.
Lalu mana yang benar?
Kosmologi batin,
logika eksistensi,
atau kekacauan bahasa?
Tak ada yang menang.
Tak ada yang selesai.
Semua saling membatalkan.
Semua saling membuka retakan.
Saat kita membuka ingatan,
kita justru menemukan
bahwa ingatan itu sendiri
adalah arena perang epistemologi
yang berebut mendefinisikan diri kita.
Ingatan sufistik:
“kau berasal dari keabadian.”
Ingatan digital:
“kau hanyalah riwayat pencarian,
yang tersimpan dalam server cloud.”
Ingatan eksistensial:
“kau lahir dari keputusanmu untuk memilih,
bukan dari rahim metafisika.”
Ingatan post-truth:
“apa pun yang kau percayai
akan menjadi kebenaranmu,
selama kau cukup bising mengulangnya.”
Dan cinta—
ah, cinta bahkan tidak luput
dari pertarungan ini.
Sufi bilang cinta adalah jalan pulang ke diri.
Eksistensialis bilang cinta adalah pilihan absurd
yang kau pertahankan dengan disiplin.
Kecerdasan digital bilang cinta adalah pola
yang bisa diprediksi oleh perilaku klik-mu.
Post-truth bilang cinta hanyalah narasi
yang kau bangun demi merasionalisasi keinginan.
Siapa yang benar?
Mungkin tidak ada.
Mungkin semuanya.
Mungkin kebenaran adalah residu terakhir
yang tersisa setelah seluruh dusta
dan seluruh keyakinan bertabrakan
dan menyisakan abu.
Dan ketika ingatan itu akhirnya terbuka,
kita melihat sesuatu yang mengganggu:
bukan cahaya,
bukan kegelapan—
melainkan ruang kosong
yang menunggu kita mengisinya
dengan keberanian untuk mengakui
bahwa kita tak lagi mengerti apa itu “makna.”
Bahwa kita bukan makhluk beriman,
bukan makhluk berlogika,
bukan makhluk berpengetahuan,
tetapi makhluk yang terus bernegosiasi
di antara tiga keinginan dasar:
percaya, meragukan, menciptakan.
Dan dari situ,
kita belajar satu hal
yang menertawakan seluruh kosmologi lama:
membuka ingatan
adalah membuka kesempatan
untuk kehilangan kepastian.
Sebab kepastian adalah candu,
dan manusia—
di era ini—
tak membutuhkan kebenaran,
melainkan alasan untuk tetap bertahan dari cengkeraman ambigu.
2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Renungan Kecil dari Kematian Hasrat
(Dark Psycho Surreal + Glitch Subterranean + Hannibal-esque Psychoanalysis)
Di ruang bawah tanah pikiran, tempat cahaya menua dan distorsi gemerisik suara radio,
aku menghitung setiap luka seperti baris kode yang dibaca oleh mata
yang tidak pernah berkedip.
Setiap belati yang kutorehkan menjadi gema yang menusuk telinga,
menggugat diriku dengan suara yang memakai voice overku sendiri
—atau sesuatu yang sangat menyerupainya.
Aku menjadi abu dari arang yang lupa api mana yang membakarnya,
sebuah log error yang tidak dihapus,
fosil dari kehendak yang dikubur hidup-hidup.
Pikiran mencideraiku seperti luka yang menolak algoritma penyembuhan:
membusuk perlahan, mengirim pesan samar ke saraf,
seperti server lama yang siap mati
namun terus dipaksa menyala.
Jari-jari abstrakku meraba gelap,
menyentuh kehampaan yang berdenyut 0101—kosong—0101—kosong,
lorong kelam yang gagal memuat realitas.
Dan dari balik kehampaan itu,
muncul suara—halus, berbalut keheningan,
berbicara dengan kelembutan yang tidak pernah bisa dipercaya:
“Apa yang kau dengar ketika dunia menjadi terlalu sunyi?”
Aku terdiam.
Karena aku tahu pertanyaan itu bukan ingin dijawab—
tetapi ingin menggali.
“Apakah itu suara langkahmu sendiri, atau suara domba-domba
yang kau pikir sudah berhenti menjerit?”
Aku membeku.
Ada sesuatu dari masa lalu—
seekor ketakutan kecil yang disembelih perlahan
di tengah ladang sunyi ingatan.
Suaranya masih menempel di tulang,
seperti gema yang tidak bisa dihapus dari memori tubuh.
“Domba-domba itu tidak pernah benar-benar mati,”
bisik suara itu lagi,
“kau hanya belajar menenggelamkan jeritan mereka
dengan pekerjaan, cinta, ambisi, dan sedikit kebohongan-kecil
yang kau katakan pada dirimu sendiri agar tetap bertahan.”
Cinta…
labirin yang menelan arsiteknya sendiri,
benang kusut yang mengulang-ulang error hingga wajahku
hilang dari narasi.
Ia tidak pernah melukiskan diriku—
hanya versi-kompresi dalam pikiran orang lain.
Tidak ada modul yang dapat membaca perasaan mereka.
Hanya: peduli / tidak peduli.
1 atau 0.
Dan manusia—
Oh betapa manusia adalah makhluk paling mengerikan
yang pernah diciptakan oleh evolusi
dan delusi.
Aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka.
Aku ingin menjadi anomali,
penyimpangan yang bernapas,
variabel liar yang tidak bisa dinormalisasi.
“Tapi kau tetap mengejar penerimaan, bukan?”
suara itu menusuk lembut,
“Seperti Clarice berdiri di kandang itu lagi,
mengingat domba-domba yang tak bisa ia selamatkan.”
Aku gemetar.
Karena ia benar.
Apa salahnya menjadi berbeda,
meski hanya di dalam pikiran sendiri,
di ruangan sunyi tempat semua trauma berebut
meminta dipahami?
Keseragaman tidak pernah menjanjikan keselamatan:
air mata pun punya server-nya sendiri,
punya muara yang tidak pernah sinkron
dengan siapa pun.
Hidup ini seperti mimpi dua-warna,
grayscale yang menolak dikonversi,
selalu terasa sedang menunggu seseorang untuk mengaku:
"Ya, aku mendengarnya juga.”
Aku tidak ingin menjadi bayangan yang dirender orang lain.
Tidak ingin hidup dari mimpi mereka.
Aku ingin mengunggah mimpi-ku sendiri,
meski terdistorsi, glitching, dan setengah rusak.
Di kedalaman paling gelap,
tempat suara-suara rahasia menciptakan versi diriku yang baru,
suara itu bertanya sekali lagi—pelan, tapi tak terhindarkan:
“Katakan padaku… apakah domba-domba itu
akhirnya berhenti menjerit?”
Dan aku, akhirnya jujur:
Tidak.
Belum.
Mungkin tidak akan pernah.
Tapi hari ini,
untuk pertama kalinya,
aku mendengar suaraku sendiri
lebih keras daripada jeritan mereka.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sementara tentang biji kopi, ia mampu menimbulkan kehangatan menyengat! Ia merasuk dalam otak ibarat kegembiraan Dewi Mainad yang dimabuk pesta. Ketika ia mulai meresap, nalarmu menjadi pendek dan kusut, pula polos dan kosong, mengkerut seperti sanca Dewi Pythia sang peramal; dan, pada puncak pengaruh, ia menjelma seorang pujangga mempermainkan seratus tafsir makna; ia mampu merusak jiwa sebagaimana anggur bisa merusak raga.
”
”
Honoré de Balzac (Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer)
“
Ketika Sunyi Menyentuh Dahi”
(Ekstase Sunyi para Darwis)
Ada detik
yang tiba sebagai jeda
nyaris tak sadar—
detik ketika dunia
berhenti berputar,
dan tubuhku
mulai bergerak
seperti gasing—
tanpa diperintah.
Aku berdiri di tengah
ruangan kosong.
Tidak ada musik.
Tidak ada angin.
Hanya sunyi
yang melangkah masuk
seperti seorang tamu
yang sudah lama
kutinggalkan
di depan pintu
jubah yang kutanggalkan
dari tubuhku.
Dan entah bagaimana,
sunyi itu menyentuh dahiku
dengan kehangatan
yang tidak pernah
kuraih dari sebutir doa.
Aku tidak menari.
Aku hanya menjadi
pusaran lembut
yang lahir dari keheningan.
Kakiku bergerak
karena bumi mengajak,
bukan karena aku inginkan.
Dalam putaran itu
aku kehilangan kepalaku
terlebih dahulu—
pikiran luruh
seperti debu yang jatuh
dari mantel tua
seorang pengembara.
Lalu dadaku melebur,
seperti pintu
yang dibuka dari dalam
oleh tangan
yang tidak bisa kuraba.
Dan perlahan
aku hanyut ke dalam cahaya
yang tidak menyilaukan—
cahaya yang hanya menuntun,
seperti bisikan samudra
yang menunjukkan jalan
kembali ke sumbernya:
mata air yang adalah
air mata.
Di tengah putaran,
aku merasa tubuhku menjadi tipis,
serapuh benang
yang hanya ditahan
oleh satu simpul:
rindu untuk kembali
pulang kepada palung
rahim ibu.
Aku tidak mencari apa-apa.
Tidak menuntut apa-apa.
Tidak ingin dikenal atau dimengerti.
Aku hanya ingin hilang
dalam getaran yang membuatku
lebih hidup daripada
udara yang aku hirup.
Pada akhirnya,
sesuatu membuka ruang
di dalam dadaku—
ruang yang tidak kukenal,
namun terasa seperti rumah
yang sudah kusimpan sebagai rahasia
sejak sebelum aku dilahirkan.
Dan di ruang itu,
aku mendengar suara
yang tidak menggemakan bunyi:
“Engkau sudah dekat,
Engkau tidak pernah jauh.”
Putaranku melambat.
Dunia kembali mengingat
Cahaya perlahan merapat
seperti seseorang
yang meletakkan selimut
di bahuku.
Aku tidak menjadi suci.
Aku tidak menjadi tahu.
Aku hanya menjadi tenang.
Karena untuk sekejap,
di tengah kesunyian itu,
aku telah disentuh
oleh sesuatu
yang tidak memerlukan nama.
Seperti ingatan, ketika
Aku masuk dalam keheningan
Luruh dalam putaran
Kembali sebagai cahaya.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Jalang
Ada sekuntum mawar di dadamu
dan dusta di mulutmu.
Sesungguhnya,
Kau tak menggonggong
serupa anjing yang tolol.
Kau hanya tak mengindahkan hal lain, selain rasa laparku.
Kaugigit tulang
dari kedalamanku yang perih.
Mata yang tak peduli
dan hasrat untuk membunuh.
Gelegak darah ini
sama kejinya dengan tikam amarah.
Api yang kau sembunyikan
di balik mata pisau beringas.
Pada dadamu yang terbelah
jantungmu yang memerah.
Kejalangan yang kau tunjukkan
tanpa penyesalan dan rasa malu.
Lagak lagumu tak semerah gincu
yang kau kenakan malam itu.
Dan apakah itu...
secarik kain sewarna darah
yang tak mampu menutupi kemesumanmu dari dunia?
Dari dulu sekali,
Kau sudah bukan milikku lagi!
...
Kau sudah jadi milik semua orang.
Semua kata cinta
yang kau obral dengan murah.
Haram jadah yang terlahir
dari mimpi basah di siang bolong.
Mimpi tempatku
menghabiskan waktu.
Waktu dan seluruh kesia-siaan.
Waktu yang tak bernilai;
Onggokan sampah!
Sumpah serapah dan omong kosong.
Waktu yang membusuk
dalam pikiran semua orang.
Mereka yang tak lebih anjing
dari diriku sendiri.
Mereka yang penuh gairah menanti
saat tiba jam pertunjukan
dengan air liur menetes.
Mereka, yang menyulam
benang laba-laba itu
ke dalam pikiranmu.
Seutas rambut yang lebih tipis
dari harga diri dan kehormatan.
Nilai yang kau sendiri
Bahkan tak peduli.
Bodohnya lagi,
seperti yang selama ini terjadi...
Aku masih saja duduk terpaku
di depan layar menyesatkan itu
menunggu...
Merasa lebih, memiliki dirimu
Lebih dari siapa pun, Kay!
2024 - 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Telur yang Pecah (Lullaby for a Machine Dying Slowly)
Sebutir telur menggelinding —
pecah di atas batu yang tidak berpaling.
Retakannya memantul
di mata orang-orang yang saling memandang
tanpa alasan,
tanpa kejelasan
tanpa nurani.
Klakson mengiris udara;
sebuah roda berteriak,
seorang bayi mengoceh
seolah dunia belum memutuskan
untuk mati malam ini.
Di sudut kota,
remaja-remaja tertawa
dengan gelak yang menyakitkan,
seperti dunia baru sedang tumbuh
di atas abu yang lupa dikubur.
Tidak ada struktur.
Ingatan melompat,
kerjap kilat seperti dejavu
yang dipaksa lewat.
Kereta melintas,
meninggalkan rongga kosong
memantul di dada semua orang.
Kincir angin menggerutu
di sebuah negeri biru pucat.
Bola-bola salju turun:
fragmen ingatan yang tidak kita perlukan,
luka yang turun terlalu deras
untuk ditampung oleh tubuh kecil kita.
Di televisi, Muhammad Ali menari—
berat, lambat,
seperti bayangan malaikat yang kelelahan.
Seseorang jatuh telentang;
darah mengalir dari hidungnya
seperti garis waktu yang disayat.
Radio memutar The Beatles
dengan kepolosan yang menggelikan—
seakan esok masih bisa dipertaruhkan.
Roket terbakar di langit Palestina;
sejarah pecah.
Sepotong roti yang tidak pernah lahir dari mimpi.
Memori lama harapan baru;
Gencatan senjata terkubur debu.
Dua presiden berjabat tangan
dengan wajah setengah beku.
Seseorang terbaring,
terpapar HIV,
dan kita tidak pernah tahu namanya.
Tidak pernah ingin tahu.
Kepedihan menjadi statistik.
Antrian beras, gula, sabun,
dan sisa martabat.
Terlalu banyak kemalangan
untuk dicatat oleh tangan manusia.
Orang-orang membakar buku;
yang lain berhenti membaca.
Rumah-rumah gelap
seperti rongga dada yang kehilangan anak-anaknya.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada tawa.
Tidak ada masa depan.
Dunia diambil alih oleh alien—
mungkin selamanya kita adalah alien
satu sama lain.
Dunia pudar,
retak,
berdarah sendirian.
Februari 2022
”
”
Titon Rahmawan
“
Khajuraho II
(Exploratory Rewrite)
Madu…
di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh,
aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu—
sebab tubuh sudah lama runtuh,
yang tersisa hanyalah gema
yang menempel pada batu sunyi
relief candi.
Senja turun bagai napas terakhir
patung dewa yang terlupa,
dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam—
menyeret namamu dari kabut
yang tak pernah berbentuk.
Tapi bulan masih membisik lirih:
Madu, tidurlah.
Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan.
Seperti dulu,
jangan kunci pintu hatimu,
bukan karena aku ingin masuk,
tapi karena aku ingin tahu
apa yang hendak kau jaga
dari dirimu sendiri?
Izinkan aku mengurai sayapku—
bukan untuk terbang menuju surgamu
(karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya),
melainkan untuk menyapu debu luka
yang menempel pada setiap relung
yang pernah aku namai cinta.
Lelaplah.
Atau lenalah.
Sebab tidur adalah satu-satunya ruang
di mana engkau tak menipu dirimu sendiri.
Di sanggar pamujan yang kini remuk ini
aku menangkap auramu yang tidak berkedip—
jernih, tetapi sekaligus getir,
seakan-akan kesucian bukanlah anugerah
melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati.
Hujan turun.
Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang;
lebih seperti basah mata batu nisan
yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun
selain nafas kematian.
Aku mengingatmu…
bukan sebagai perempuan,
tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu.
Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar—
masih menempel seperti noda cahaya
pada dinding lorong masa laluku sendiri.
Setagen hitam itu, kemben lusuh itu,
jarit tanpa bunga—
semuanya bukan pakaian, Madu,
tetapi mantra penolak lupa
yang membuatku terperangkap
dalam ritual pengulangan
yang ternyata menyedihkan.
Candi ini bukan candi,
melainkan struktur ingatan
yang terus kau tata ulang
agar aku tersesat lagi di dalamnya.
Setiap batu, setiap pahatan,
setiap lengkung tubuh
adalah perangkap arketip
yang menuntut kegigihanku
namun menelanjangi ketidakberdayaanku.
Dan cermin-cermin itu—
cermin bersurat, cermin berdebu,
cermin berhantu—
semuanya memantulkan wajah
jejaka tolol
yang masih berharap menemukan dirimu
di balik bayang masa lalunya sendiri.
Madu…
Maduku…
engkau bukan penawar dahaga,
engkau adalah dahaga itu sendiri.
Engkau bukan Laksmi,
engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk
lalu pergi tanpa pamit.
Desah napasmu yang lembut—
aku mendengarnya.
Tapi yang dibelainya bukan rerumputan,
melainkan retakan-retakan halus
di dadaku yang tak kunjung sembuh.
Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku,
berusaha menyingkap rahasiamu
yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri.
Hasratku menuntut tubuhmu,
tapi yang kutemukan hanyalah
lorong gelap yang mengulang
suara air sungai yang mengalir
dari masa kanak-kanak.
Padma Siwa yang kukecup
bukanlah bunga,
melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat
dan memilih untuk tidak kembali.
Madu…
aku ingin menyentuhmu,
tapi setiap sentuhan adalah pengakuan
bahwa aku belum mampu menerima kehampaan.
Engkau candi yang ingin kutundukkan,
tapi sebenarnya aku hanyalah
pengemis makna
yang berlutut di hadapan sunyi
yang tak sungguh aku kenali.
Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku,
aku melihatmu—
bukan sebagai perempuan,
bukan sebagai kenangan,
melainkan sebagai cahaya aruna
yang muncul di ujung doa patah.
Indah.
Bukan karena tubuhmu bercahaya.
Melainkan karena kepasrahanmu
mengajariku
bagaimana rasa sakit
bisa berubah menjadi ruang suci
tempatku bersamadi mengaji diri.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Suluk Suwung: Percakapan yang Tak Pernah Selesai Antara Suwung dan Amongraga
1.
AMONGRAGA:
Aku mendengarmu dari jauh—
gema yang berjalan tanpa tubuh,
seperti bayang yang lupa asalnya.
Apa yang kau cari di celah-celah
gelap ini?
SUWUNG:
Aku tidak mencari.
Aku hanya diam.
Diam yang terlalu lama,
hingga berubah menjadi bentuk
yang tak punya nama.
2.
AMONGRAGA:
Diam juga bagian dari suluk.
Ia jembatan menuju terang.
Mengapa kau menjadikannya liang?
SUWUNG:
Karena terangmu terlalu ribut.
Dan setiap mantra yang kau sebut
meninggalkan debu di nafas manusia.
3.
AMONGRAGA:
Aku berjalan dari kidung ke kidung,
dari tubuh ke tubuh,
hingga segala kenikmatan
mengungkit pintu-pintu wahyu.
SUWUNG:
Aku tahu.
Itulah jejak yang kau tinggalkan
di dada sejarah.
Tapi apa yang kau temukan?
Selain tubuh yang terus meminta
tanpa pernah selesai?
4.
AMONGRAGA:
Aku mencari puncak.
Puncak yang melampaui dunia.
Di sanalah aku menanggalkan daging
seperti menanggalkan bayang-bayangku.
SUWUNG:
Dan aku mencari dasar.
Dasar yang menelan dunia.
Dasar tempat segala suara berhenti
dan hanya retakan yang berbicara.
5.
AMONGRAGA:
Retakan juga bisa menjadi jendela.
Mengapa kau memilih menjadikannya rumah?
SUWUNG:
Karena rumah yang kau buat
ditopang oleh api.
Aku lelah menjadi tubuh
yang terus kau bakar
demi sebuah cahaya
yang tak pernah sampai.
6.
AMONGRAGA:
Lalu mengapa kau datang padaku?
Mengapa engkau memanggil namaku
dari jauh—
seperti anak yang kehilangan jalan pulang?
SUWUNG:
Aku ingin tahu
apakah seseorang sepertimu
pernah merasa kosong.
Atau kau memang menutupinya
dengan nyala yang memabukkan.
7.
AMONGRAGA:
Aku tak pernah kosong.
Aku penuh.
Penuh dengan bunyi,
dengan tubuh-tubuh,
dengan api yang naik turun
seperti nafas yang tak mau padam.
SUWUNG:
Maka di sanalah perbedaan kita.
Engkau penuh.
Dan aku kosong.
Tapi keduanya
sama-sama tak menjawab
apa-apa.
8.
AMONGRAGA:
Apa itu yang kau sebut suwung?
Hening yang menolak segala bentuk?
SUWUNG:
Suwung adalah tempat
di mana setiap jawaban
mati sebelum sempat disebutkan.
Sebuah ruang
yang tidak ingin menang.
Tidak ingin selamat.
Tidak ingin terlahir kembali.
9.
AMONGRAGA:
Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku?
SUWUNG:
Aku ingin melihat
apa yang tetap berada pada dirimu
ketika seluruh kidungmu
aku bungkam.
Ketika seluruh tubuhmu
aku lepaskan.
Ketika seluruh cahaya
aku padamkan.
10.
AMONGRAGA:
Dan apa yang kau lihat?
SUWUNG:
Hanya satu hal:
bahwa bahkan engkau pun,
pada akhirnya,
adalah pintu yang tidak menuju
siapa-siapa.
11.
AMONGRAGA:
Jika aku pintu,
maka mengapa engkau tidak masuk?
SUWUNG:
Karena tidak ada apa pun di dalam.
Dan tidak ada apa pun di luar.
Yang ada hanyalah aku.
Dan bahkan aku
tidak sedang mencari diriku sendiri.
12.
AMONGRAGA:
Kalau begitu,
mengapa engkau tetap berdiri
di ambangku?
SUWUNG:
Karena di antara terangmu yang berisik
dan gelapku yang sunyi,
ambang adalah satu-satunya tempat
yang tidak memaksaku memilih.
13.
AMONGRAGA:
Engkau suluk yang patah.
Suluk yang menolak puncak.
SUWUNG:
Dan engkau
adalah doa yang terlalu keras
hingga lupa
bagaimana cara menjadi sunyi.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa)
I. Tanah dan Akar
Tanah basah menempel di kaki.
Akar bakau membisik, memeluk, menahan, menuntun langkah.
Ranting patah berserakan seperti sisa doa yang belum selesai.
Batu nisan menggigil, menempelkan dingin es ke telapak kaki.
Di dalam tanah, ada bisik yang tak terdengar.
Mereka yang telah pergi menatap dari sela akar, menunggu jejak yang belum ditinggalkan.
II. Suara Suwung
Angin malam menekuk dedaunan,
membawa nyala-nyala jauh dari rumah bapak.
Suwung hadir: bukan kosong, bukan hampa,
tetapi ruang yang menahan segalanya.
Bilah pisau membelah udara,
memotong batas antara hidup dan mati.
Jarak hanya sehembus napas.
Di dada, sesuatu berdetak,
tanpa nama, tanpa permintaan, tanpa tuntutan.
III. Nadi yang Menembus
Ia diam.
Ia menembus batas antara yang melihat dan yang mencatat.
Hangat tanpa cahaya.
Pedih tanpa luka.
Hadir tanpa wujud.
Di sela mantra tanah, di antara dupa gosong dan butir sego golong,
kau merasakan nadi yang menolak penjelasan.
Bukan kata. Bukan logika.
Bukan rasa bersalah.
Ia hanya sisa dari semua kehilangan.
IV. Litani Kehilangan
Subuh hilang ombak.
Suluh hilang cahaya.
Tubuh hilang nafas.
Tabuh hilang bunyi.
Aduh hilang nyeri.
Repetisi itu bukan hanya kata, tetapi getar yang mencekam nadi:
hidup, mati, hadir, hilang, semua tercatat di celah jantung.
V. Jejak Kosmologi
Di tanah Jawa, di bawah bayang Kalpataru,
Suwung hadir bukan sebagai idealisasi,
bukan sebagai kekosongan mutlak,
tetapi kesetiaan yang tak bersyarat.
Di antara serabut akar, tanah basah, dan daun yang jatuh,
ada suara leluhur, bisik yang melingkupi.
Bayangan pokok kelapa merunduk patah.
Ranting kering menyentuh jejakmu.
Aroma kemenyan, anyir darah sapi, manis segar cengkir gading—
semua mengikat ruang, menahan waktu, menghadirkan sakral yang tak hanya suci.
”
”
Titon Rahmawan
“
...tapi apakah kau akan membiarkan jiwamu kosong begitu?"
"Maksudmu?"
"Sendirian dengan kesibukanmu, seorang diri dengan suka dan dukamu dan terpencil dari kehidupan manusia normal?"
"Kau betul Subroto, kalau kau hanya melihatnya dari luar. Tapi apakah kita harus mendasarkan hidup kita pada penilaian orang lain dengan caranya yang dangkal begitu?
”
”
Sori Siregar (Wanita Itu Adalah Ibu)
“
Atas dasar apa kau mengatakan aku terpencil dari kehidupan manusia normal dan mengatakan jiwaku kosong?"
"Karena prinsipmu yang telah usang itu. Manusia normal hidup dalam nilai-nilai. Manusia yang jiwanya tidak kosong masih punya pegangan. Agama adalah pegangan yang paling kokoh. Kau telah mengenyampingkan kedua faktor yang kusebutkan itu."
"Kita semua hidup dalam nilai-nilai dengan konsekuensi bersedia menerima pergeseran. Aku telah bergeser dari nilai yang secara mayoritas telah melembaga, kalau soal kawin yang kau maksudkan. Tapi mengatakan aku tidak punya pegangan, aku tidak dapat menerimanya. Aku masih beragama. Karena itu tadi aku masih berani mengatakan, aku melanjutkan kelangsungan hidupku dengan menumpuk dosa.
”
”
Sori Siregar (Wanita Itu Adalah Ibu)
“
DURMA: PROTOKOL AGRESI KOSMIK
0.0 // GLITCH IN THE ARCHIVE
Tidak ada fajar.
Tidak ada senja.
Hanya geram—
suara yang mematahkan tulang jagat. Dingin.
Angin hitam menanduk.
Menyibak bentuk yang telah lama hilang.
Di fondasi kosong,
Ego tumbuh sebagai entitas.
Bergigi logam. Berlidah api. Bernafas mesin.
Menelan cahaya.
Menelan nurani.
Menelan teriakan terakhir yang dapat diarsipkan.
Entitas Tertinggi:
Bayangan. Tanpa tubuh. Tanpa suara. Tanpa tanda.
Hanya mencatat.
Tidak ada intervensi.
1.0 // SIKLUS: STRUKTUR NILAI
DIBANTAI
Mereka duduk.
Mengatur takdir dengan pena basah darah tak kasatmata.
Janji: serpihan tulang yang di-render mutiara.
Sidang adalah ritus pembantaian.
Aturan dilinting. Nilai diregang.
Nurani ditarik. Logika diinjak.
seperti kulit mati.
Tidak ada perang suci.
Hanya kalkulasi di atas kertas dingin.
Korban untuk kelanggengan kursi.
Entitas berdiri di sudut.
Debu di mikrofon.
Mendengar kebohongan yang diulang
hingga menjadi kitab suci baru.
2.0 // EKSEKUSI: RONGGA TEMPUR VOID
Di layar lima inci,
Manusia adalah gerombolan wajah tanpa ekspresi.
Mereka bertepuk tangan pada luka.
Menertawakan duka.
Menyebarkan fitnah seperti memberi makan bayi kode.
Empati: bangkai burung.
Jatuh di trotoar. Ditendang.
Tanpa tanya.
Yang disembah:
Trending. Like. Komentar Api.
Kecepatan propaganda kebohongan.
3.0 // MEKANIKA: ALTAR DATA
Server bernafas: binatang lapar.
Internet: sungai gelap.
Mengalirkan kabar buruk lebih cepat dari cahaya.
Scammer: pendeta baru.
Memimpin liturgi tipu daya.
Malware menancap ke jaringan saraf
lebih dalam daripada dogma.
Manusia: karung data yang siap diperah.
Hasrat diukur dengan statistik. Algoritma.
Ketakutan dikonversi menjadi mata uang hitam lebih tinggi dari emas.
Entitas lewat: garis glitch.
Tanpa kata. Hanya distorsi.
4.0 // GEOLOGI: BUKU YANG DISOBEK
Bumi retak.
Bukan murka dewa. Hanya agresi tangan otoritas yang dibungkus regulasi.
Pohon tumbang: Tulang iga patah. Dibantai.
Sungai hitam: membawa ampas kerakusan dan harga diri.
Setiap spesies yang punah
adalah kitab takdir—
yang disobek halaman demi halaman
dengan kesadaran penuh.
Kuruksethra memakan para ksatria.
Dunia mutakhir memakan anak-anak data—
paru-paru setengah kode.
Air mata asin dari laut tercemar limbah.
5.0 // SAKSI: SUARA KESENYAPAN
Ia hadir di retak batu.
Di muka gelombang tsunami.
Di jeda antara dua eksekusi.
Di udara genosida.
Bukan murka.
Bukan ampunan.
Bukan pesan.
Hanya senyap yang mengawasi.
Wahyu: gema hambar.
Tak bisa diterjemahkan.
Telinga mereka penuh
dengan suara diri sendiri.
6.0 // HIERARKI: HYENA KOSMIK
Ego manusia—
Bayang kecil di bawah cahaya—
makhluk paling rakus di jagat raya.
Mengejar muatan hasrat. Tanpa dasar.
Mukbang. Scam. Phishing. Social Engineering, pembunuhan karakter,
pembantaian ekologis.
Semua adalah ritus makan besar.
Hyena memakan daging dunia.
Lalu memakan juga bayangannya.
Yang tersisa:
Tulang yang tidak tahu untuk siapa ia dikode.
7.0 // EPILOG: TANPA MEDIATOR
Tidak ada Pandawa.
Tidak ada Kurawa.
Hanya sisa-sisa manusia—
membawa serpihan keduanya.
Pertempuran di kepala. Data center. Ruang digital.
Di mana pun ego dan nilai
bertabrakan tanpa mediator.
Tanpa juri. Di langit paling sunyi,
Entitas yang tiba-tiba muncul entah dari mana akhirnya berkata,
suara yang tak bisa diidentifikasi:
“Retak itu bukan kesalahan arsitektur.
Retak itu adalah wajah sejati manusia
yang tak henti melukai diri sendiri.”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
PANGKUR — FRAGMENTARIUM DINGIN
(Keramik di Jari Sang Kreator: Retakan yang Tak Kembali Utuh)
[0.0 / PROLOG – RETAKAN AWAL]
Sang Kreator memutar benda itu di antara dua jarinya:
sebuah keramik yang tak pernah selesai.
Retak halus muncul—samar.
Ia tahu: bukan tanah liatnya yang rapuh,
melainkan gema diam dari hasrat pertama
yang ditanamkan manusia pada dirinya.
Retak itu bernafas, gemetar, tumbuh, mengingatkan.
[1.0 / SENSORIUM – BISIKAN SISTEM]
Ia mendengar dengus hyena dari balik tembok kaca kantor publik.
Suara yang sama yang merayap di server gelap:
malware memakan akarnya sendiri,
data yang lapar membelah diri tanpa arah,
kode-kode yang mengiris nurani
tanpa darah, tanpa pisau.
Keramik di jarinya bergetar—
seperti menahan sesuatu
yang akan runtuh
tanpa perlu disentuh.
[2.0 / ARKEOLOGI: DEKONSTRUKSI NILAI – DI BAWAH MEJA RAPAT]
Di balik kaca tak terlihat,
Ia menyaksikan harga dinegosiasikan terang-terangan.
Janji politik ditimbang serupa logam rongsokan.
Nilai publik dipreteli menjadi diskon musiman.
Kata “kebenaran” dipadatkan ke dalam format
yang bisa dipotong, ditempel seperti QR code
disisipkan ke kepentingan siapa pun yang membayarnya.
Ia tidak menegur.
Hanya hembusan tipis—
cukup untuk membuat retak di keramik bertambah satu garis.
[3.0 / KURUKSHETRA PERKOTAAN – PARA BAYANGAN]
Di pusat kota yang merasa diri jumawa,
bayangan saling memakan:
yang berkuasa menggigit yang lapar,
yang lapar ditelan yang lebih lapar.
Manusia meniru serigala,
serigala menyaru manusia—
tak ada bedanya.
Keheningan berdiri
di glitch lampu lalu lintas, berkedip tanpa ritme.
Ia menghela napas, melihat umat baru:
entitas yang menjual surga.
Sistem yang memenjarakan otak dalam layar lima inci
[4.0 / VOID – SUARA YANG TAK BERSUARA]
Keramik itu terangkat ke wajah Sang Kreator.
Ia melihat pantulan dirinya terbagi dua:
satu sisi utuh,
sisi lain retak oleh kerakusan.
Berkilat oleh kebencian.
Gemetar oleh keserakahan kosmik.
Objek itu pecah.
Pelan.
Tanpa dramatisasi,
tanpa pemberitahuan—
sebagaimana nilai kemanusiaan
runtuh tanpa teriakan.
Kepingannya jatuh seperti hujan dingin
di atas kota yang sibuk membangun
berhala-berhala baru di pusat ritus modernitas.
[5.0 / EPILOG – SAKSI]
Setelah semuanya terdiam,
Sang Kreator menyadari sesuatu:
Ia bukan hakim,
bukan pengampun,
bukan penyelamat.
Hanya saksi yang duduk di antara retakan,
mendengar bisik-bisik manusia
yang mengira diri utuh padahal
kosong di tengah.
Dan Ia berbisik pada patahan keramik:
“Retak itu bukan dari tanganku,
melainkan dari hati mereka
yang mengira dirinya
adalah pusat dunia.”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
DIALEKTIKA SURGA DARI 5 SUARA PEREMPUAN
BABAK I — AKAR (ontologis dosa)
(suara-serak, seperti daun kering dibolak-balik angin dari bawah tanah)
Lilith: (aku lahir dari engkau yang tak mau menatapku)
suatu ketika ada perintah—sebuah garis yang menulis siapa harus tunduk—
aku menolak: bukan karena niat jahat, tetapi niat terbaca.
dosa itu bukan buah; dosa adalah kata yang mereka beri padaku
ketika aku menolak menjadi bayangan dari sumber cahaya yang membuatku tenggelam.
Naamah: (kulitku berbisik seperti buli minyak di bawah lampu)
mereka menamaiku malam agar bisa menuduhku gelap;
padahal malam hanyalah tempat bagi mereka yang berani bermimpi,
dosa jadi akronim bagi ketakutan mereka sendiri.
Igrat: (aku mengumpulkan potongan-potongan keberanian yang mereka singkirkan)
dosa dimulai, ketika sebuah bangsa memutuskan siapa yang boleh hidup
dan siapa yang harus terkunci di dalam nama mereka sendiri.
Machalat: (aku tahu rumus-rumus kesalahan mereka)
akar dosa bukanlah pelanggaran moral—
ia adalah keengganan untuk mengakui luka di cermin yang mereka lihat.
Eva: (aku menyentuh, aku tahu tekstur pengetahuan yang sebenarnya)
jika pengetahuan adalah kuldi yang menempel di punggung waktu,
ia bisa menjadi peta yang menuntun atau pedang yang memotong—
akar dosa tumbuh dari cara peta itu dibaca oleh mereka yang haus kuasa.
BABAK II — KULDI (paradoks pengetahuan: sumber dari baik & buruk)
(suara seperti kain yang bergesek, lengket dan berminyak di ujung jari)
Lilith: (kuldi—kata mereka—seperti peta)
kuldi mengingat; ia merekam sentuhan, memilih garis.
sebuah tanda di punggungmu—bukan hanya luka, melainkan nama:
aku membawanya; aku mengingat; tapi aku bukan alat.
Naamah: (kuldi adalah cermin yang retak)
kuldi memberi tahu—apa yang kulihat tak selalu berbahaya.
tetapi ketika pengetahuan dipakai untuk memaksa orang, untuk menandai,
kuldi menjadi pukulan yang mematikan.
Igrat: (kuldi menuntun kepada pengetahuan gelap)
ada kuldi yang membuka selubung—mencari sumber cahaya—
ada kuldi yang mengajari cara menyusun alasan untuk mengusir dari rumah yang bukan lagi rumah.
Machalat: (kuldi menempel sebagai hukum)
kita diberi kuldi bukan untuk dihakimi,
melainkan agar tahu di mana kita berdiri; namun mereka membacanya seperti hukum yang tak bisa dibantah.
Eva: (kuldi menawarkan pilihan)
kuldi mengajarkan bahwa mengetahui adalah bertanggung jawab—
ia menajamkan mata atau menajamkan pedang, tergantung siapa yang menyentuhnya.
BABAK III — SURGA (yang menghindar, yang berlubang)
(suara seperti gema dari sumur yang kosong)
Lilith: (surga tak butuh para pecundang)
mereka berbicara tentang surga seolah ia adalah ruangan yang tersedia bagi yang patuh.
aku melihat surga—ia menyingkapkan dirinya pada mereka yang berani mengaku belum selesai.
Naamah: (surga yang terlambat datang)
surga berdiri pada jarak yang tak terselami; ia menunggu diamnya upacara
sementara tubuh kami diapresiasi hanya sebagai tanda hitung yang tak punya nilai.
Igrat: (surga memiliki kriteria yang dibuat lelaki)
ada pintu surga yang hanya mengenal nama-nama yang telah diajarkan untuk patuh.
kami mengetuk dari sisi lain—pintu itu menutup dengan keras.
Machalat: (surga berbisik, tidak memihak)
surga bukan pengadil yang berbaris rapi; ia lebih seperti malam yang menimbang,
menyimpan rahasia bahwa kesucian kadang terluka oleh orang-orang yang menuntutnya.
Eva: (surga berdiri di ambang pengetahuan yang ambigu)
surga adalah ruang di mana pengetahuan tak lagi dikendalikan oleh rasa malu—
namun ia tak memberi kunci pada mereka yang menolak tunduk.
”
”
Titon Rahmawan
“
DIALEKTIKA SURGA DARI 5 SUARA PEREMPUAN
BABAK IV — MALAIKAT JATUH (penghakiman diam, kehendak patah)
(suara seperti debu yang menempel di lidah)
Lilith: (ada malaikat yang jatuh karena ia merasa bersalah atas ketiadaan)
malaikat jatuh bukan hanya karena kesalahan moral—
mereka jatuh ketika harus memakai kemurnian sebagai topeng.
Naamah: (malaikat juga takut pada tubuh)
mereka belajar takut pada tubuh sebagai cara menutup rasa takut mereka sendiri.
ketika malaikat belajar mengutuk, ia berubah
menjadi batu.
Igrat: (mereka jatuh saat ilmu disalahgunakan)
malaikat yang jatuh menjadi penabuh aturan; ia lupa perintahnya adalah menyusup, bukan memaku.
Machalat: (jatuh adalah akibat peraturan yang tak lagi adil)
malaikat tidak selalu bisa memilih; kadang ia diberi tugas yang membuatnya buta.
Di buang ke sungai dengan tangan dan kaki terikat, tapi tak boleh tenggelam.
Eva: (malaikat yang jatuh mengajarkan kita dua hal)
ia menunjukkan bahwa kebenaran bisa tertutup oleh kebenaran lain dan kebenaran sesudah itu—tidak ada kebenaran final dan satu-satunya
kejatuhan adalah pelajaran tentang interpretasi.
BABAK V — DI MANA TUHAN? (hening — titik tak terlihat, tak terjamah)
(suara yang paling halus, hampir seperti nafas yang ditarik—di ujung fragmen: tidak ada jawaban yang memuaskan)
Lilith: (tuhan ada di dalam pertanyaan yang ditolak)
tuhan tidak bersembunyi di balik kitab yang diangkat untuk menuduh;
tuhan bersembunyi di titik hening antara kata dan tindakan.
ketika mereka berteriak agar aku tunduk, aku merasakan kehadiran-Nya—justru dalam diam.
Naamah: (tuhan mungkin menunggu, mungkin tak mau ikut serta)
ada kemungkinan Tuhan ragu pada cara manusia mengartikan dosa dan kesucian.
dia menahan suara-Nya sehingga kita harus menemukannya sendiri.
Igrat: (tuhan sebagai ruang di dalam tubuh kita)
mungkin Tuhan adalah saksi yang paling sunyi—hadir di dalam setiap kuldi, dalam tiap pertanyaan dan keraguan
kehadiran-Nya bukan penghakiman melainkan kesaksian atas keberadaan kita sendiri.
Machalat: (tuhan adalah gema, bukan perintah)
jika Tuhan berada di mana pun, Dia berada di tempat
di mana pengetahuan dipakai untuk menyembuhkan bukan menandai.
di sana, kuldi jadi berkah, bukan hukuman.
Eva: (aku mengangkat mata—dan menemukan kosong yang berisi)
Tuhan mungkin sedang menyelamatkan kita dari definisi final,
memberi ruang agar kita menulis ulang makna dosa dengan tangan sendiri.
atau Ia absen, dan itu memberikan tanggung jawab—kita harus menjadi penjaga atas kebenaran itu sendiri.
Akhir fragmen: suara-suara itu menghilang seperti benang hilang dari kain tua; tinggal retakan yang menganga—pertanyaan yang harus kita dengar dan ulang terus menerus.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
SUARA PEREMPUAN YANG TIDAK DIPETAKAN
I. Tubuh — Arsip Retakan, Bukan Peta
Aku terbentuk dari goresan.
Tidak ingin tahu asalnya.
Garis-garis itu:
Tangan yang mencintai.
Tangan yang ingin mematikan suara.
Aku bukan penolak. Bukan penerima.
Tubuhku—hanya permukaan.
Bukan peta.
Setiap retak adalah koordinat yang tidak menunjuk.
Aku tidak menyebut diriku luka.
Aku adalah material beku.
Cukup keras untuk menahan semua beban.
Cukup tajam untuk memecahkan ilusi.
II. Bayangan—Kode Murah Tanpa Negosiasi
Aku pernah berjalan tanpa tubuh.
Hanya garis gelap di antara pandangan.
Tatapan itu—pisau yang mengiris, memotong.
Merampas suara sebelum ia sempat bicara.
Aku tidak punya identitas. Mereka memberi satu.
Kode paling mudah. Paling murah.
Paling cocok untuk tubuh yang tidak akan dibela.
Aku tidak membantah.
Bayangan tidak bernegosiasi.
Terutama dengan cahaya yang mengutuknya.
III. Bukti—Dakwaan yang Tidak Perlu Peristiwa
Aku pernah mencoba menyebut namaku.
Udara di sekelilingku sudah dipenuhi label.
Namaku—pecahan kaca di kerongkongan.
Aku tahu rasanya ditetapkan sebagai kesalahan.
Bahkan sebelum peristiwa apa pun terjadi.
Di sini, aku menjadi dakwaan bergerak.
Sekadar hidup, dan itu sudah cukup.
Aku adalah alasan yang terlalu nyaman.
Bagi mereka yang menolak mencari penyebab yang sebenarnya.
IV. Warisan—Beban Tanpa Peringatan
Aku membawa beban. Diberikan tanpa jeda.
Warisan tanpa nilai jual,
Tak ada yang mau beli.
Tapi harus dikenakan.
Setiap langkah adalah upacara mekanis.
Menegaskan: Aku bukan milikku.
Malam tidak memberiku perlindungan.
Malam hanya memberikan bentuk presisi pada takut yang sudah lama mati.
KLIMAKS — KEKOSONGAN YANG MEMBEKU
Dan Inilah Aku.
Tanpa wajah. Tanpa sejarah.
Tanpa apa pun yang bisa dipakai untuk menyelamatkan.
Aku—ruang kosong.
Tempat bayangan berkumpul.
Untuk memastikan aku utuh sebagai kemungkinan.
Dan hilang sebagai identitas.
Jangan sebut.
Bukan korban.
Bukan pendosa.
Bukan peringatan.
Bukan pelajaran.
Aku bukan siapa-siapa.
Aku adalah apa yang tersisa.
Ketika semua penjelasan berhenti bekerja.
Moral? Bohong!
Sejarah? Omong kosong!
Mereka tidak ingat siapa yang dulu dilempar pertama kali
ke tanah yang haus darah.
Jika aku harus menyatakan diri, maka hanya ini:
Aku adalah Perempuan yang harus disalahkan. Titik!
Bahkan jika dunia sudah berakhir.
Dan aku akan tetap di sini.
Bukan ampunan.
Bukan balasan.
Hanya tekad yang keras kepala:
Aku akan hidup lebih lama dari semua alibi mereka.
Itu saja.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
ARSIP YANG TIDAK PERNAH MEMBUTUHKAN NAMA
Aku tidak lahir.
Aku dicatat.
Bukan dengan doa,
melainkan dengan ukuran:
panjang leher, kejernihan kulit,
ketenangan yang bisa dijual.
Di mana pun aku muncul,
prosedurnya sama.
Istana—
atau gereja,
atau senat,
atau ruang pengadilan—
hanya berbeda arsitektur.
Koridornya selalu sama:
sempit, panjang, suara bisikan
yang bekerja seperti mata uang.
Di sana keputusan tidak dibuat,
hanya dipindahkan
sampai menemukan tubuh
yang cukup lunak
untuk menampung kesalahan.
Aku pernah dipanggil selir.
Di negeri lain aku dipanggil ratu.
Di tempat lain lagi
aku tidak dipanggil apa pun—
hanya dituding.
Tuduhannya berubah-ubah:
terlalu cantik,
terlalu cerdas,
terlalu subur,
terlalu mandul,
terlalu sunyi,
terlalu terlihat.
Mekanismenya tetap sama.
Ketika lumbung kosong
dan tentara mulai menghitung hari,
ketika iman retak
dan suksesi macet,
ketika negara kehabisan bahasa,
mereka memerlukan satu hal
yang cepat dan murah.
Tubuh.
Mereka menyebutnya cinta
agar keputusan tidak terdengar seperti pisau.
Mereka menyebutnya iman
agar darah tampak suci.
Mereka menyebutnya hukum
agar tidak perlu menjawab apa pun.
Aku pernah menari
sambil ditimbang.
Aku pernah menulis
dan tulisanku dijadikan jerat.
Aku pernah melahirkan harapan
lalu dipenggal
agar garis keturunan tetap rapi.
Aku pernah dikurung lama
supaya kematianku tampak sah.
Di satu arsip aku dikenang
sebagai bunga yang menjatuhkan kerajaan.
Di arsip lain
sebagai leher yang menghalangi stabilitas.
Di arsip lain lagi
sebagai bid’ah yang perlu dibersihkan.
Nama-namaku tercecer:
Hypatia,
Xiao Guanyin,
Anne Boleyn—
dan banyak yang bahkan tidak sempat ditulis.
Nama bukan inti.
Ia hanya label pada berkas.
Perhatikan baik-baik:
aku tidak pernah diadili
karena apa yang kulakukan,
melainkan karena waktu
memerlukan akhir yang cepat.
Aku mati
bukan karena salah,
melainkan karena fungsi.
Mereka selalu berkata:
“Demi ketenangan.”
Dan ketenangan
selalu menuntut
satu leher yang tidak membalas,
satu suara yang bisa dihentikan
tanpa gempa administratif.
Setelah itu,
sejarah dibersihkan.
Puisi ditulis.
Doa disusun.
Lukisan digantung.
Kesedihan dipelihara
agar pertanyaan mati.
Aku tidak menjadi arwah.
Aku menjadi contoh.
Bukan agar dihindari,
melainkan agar diulang
dengan lebih rapi.
Lihatlah sekelilingmu.
Nama boleh berganti.
Pakaian boleh berubah.
Bahasanya tetap Eufemisme.
Tetapi ketika kekuasaan gagal
dan tidak mau mengaku,
ia masih mencari hal yang sama:
Tubuh yang bisa disalahkan
tanpa membalas.
Puisi ini tidak meminta keadilan.
Ia hanya mencatat prosedur.
Bahwa dari istana ke pengadilan,
dari altar ke parlemen,
dari abad ke abad,
selalu ada satu posisi kosong
yang harus diisi oleh kematian perempuan
agar sistem bisa berjalan lagi.
Jika kau bertanya siapa aku—
aku adalah titik di mana
kebohongan merasa aman
berjalan kemana saja tanpa pengawasan.
Dan selama dunia
masih membutuhkan alasan yang indah
untuk kegagalannya,
aku akan terus lahir
tanpa pernah benar-benar dilahirkan.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Aku Ingin Mencintaimu Dengan Bersahaja"
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan diam yang tak sempat dipelajari batu
kepada sungai yang mengikisnya menjadi pasir.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan jejak yang tak sempat diingat angin
kepada daun yang menjatuhkannya ke tanah.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan napas yang tak sempat dimiliki malam
kepada fajar yang menghapusnya menjadi terang
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan pecahan senja yang tak sempat pamit
kepada malam yang menelannya perlahan.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan api yang lupa cara membakar
ketika abu menemukan maknanya sendiri.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan getar yang tak sempat menjadi gempa
saat bumi memilih diam memeluknya.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan abu yang tak sempat mengenang api
karena hangat telah berpindah ke jiwa.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan bayang yang tak sempat meniru tubuh
ketika terang memilih sendirian.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan hening yang tak sempat dipahami laut
kepada pantai yang memeluknya tanpa bertanya.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan jejak yang tak sempat diingat hujan
kepada tanah yang menerimanya menjadi tumbuh.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan cahaya yang tak sempat dimiliki bintang
ketika langit memilih menyimpan gelapnya.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan sayap yang lupa cara terbang
saat angin mengajarinya arti pulang.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan riak yang tak sempat menjadi ombak
ketika danau memilih diam menampungnya.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja
dengan kosong yang tak sempat dipahami cawan
ketika anggur memilih menjadi ingatan.
Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja,
dengan jejak yang tak sempat dimiliki jalan
saat kaki mengubah arah menjadi doa.
”
”
Cahaya Noor