Kosong Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Kosong. Here they are! All 162 of them:

Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong.
Tere Liye (Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah)
Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.
Dee Lestari (Perahu Kertas)
JARAK dan Adam turun di hutan-hutan mengabur dalam dongengan dan kita tiba-tiba di sini tengadah ke langit; kosong sepi
Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)
Seberapa indah mimpi, jika tetap mimpi?
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong
Pramoedya Ananta Toer (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1)
Tak pernah ada yang salah dengan cinta. Ia mengisi sesuatu yang tidak kosong. Tapi yang terjadi di sini adalah asmara, yang mengosongkan sesuatu yang semula ceper. Dengan rindu. Belum tentu nafsu.
Ayu Utami (Saman)
Bukankah langit kosong tetapi isi? Dan bukankah hatimu penuh dengan isi tetapi kosong?
Sapardi Djoko Damono (Trilogi Soekram)
Tapi itu bukan yang gue mau, Mbak... itu semua gue kerjakan hanya untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tapi gue ngerasa kosong, dan gue baru sadar kekosongan itu nggak akan bisa diisi sama segala sesuatu yang sifatnya material. Kekosongan itu harus diisi dengan... cinta.
AliaZalea (Miss Pesimis)
Hentikan cinta kosong
Hilal Asyraf (Sebelum Aku Bernikah)
Cinta terlalu kuat untuk di lawan. Harapan kosong, itulah yang selama ini kugantang.
Andrea Hirata
Kita semua memang telah menjadi bodoh, dengan menjadi terlalu cinta kepada cerita-cerita yang bagus, sehingga memaksakannya untuk menjadi kenyataan itu sendiri.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Bagiku, El, omong kosong jika para petinggi agama mengatakan bahwa agama tidak ada urusannya dengan akal. Buat apa manusia dianugerahi otak jika untuk mengenali Pencipta Otak itu, dia tidak boleh menggunakan otaknya? Menurutku, agama selalu memberi kesempatan kepada para pemeluknya untuk memilah mana yang harus dia pastikan dengan akalnya, mana yang cukup dipercaya begitu saja. (Kashva to Elyas, MLPH: 126)
Tasaro G.K.
Namun itu berarti bahwa telah tumbuhlah benih-benih pengakuan, bahwa yang benar-benar penting dalam sejarah justru adalah hidup sehari-hari, yang normal yang biasa, dan bukan pertama-tama kehidupan serba luar biasa dari kaum ekstravagan serba mewah tapi kosong konsumtif. Dengan kata lain, kita mulai belajar, bahwa tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali di antara kaum rakyat biasa yang sehari-hari, yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan.
Y.B. Mangunwijaya (Impian dari Yogyakarta: Kumpulan Esai Masalah Pendidikan)
Bagaimana cantik, bijak, kaya dan datang dari keluarga yang bagus sekalipun, jika perempuan itu bukan seorang yang beragama dan solehah, maka nilainya kosong
Norhayati Berahim (Roti Canai Salad Taco)
Ada ruang kosong di sela-sela sebuah kata. Ada banyak omong kosong di sela-sela bicara--tapi perlu. Adalah percakapan dengan teman yang selalu bisa menjaga kewarasan, menyelamatkanku dari jemu sempurna. Di tengah carut-marut fungsi mekanistik otomatik hampir robotik sebuah industri yang menyelubungi diri dengan judul keramah-tamahan manusia, ada teman-teman--manusia yang hidup dan dekat.
Nukila Amal (Cala Ibi)
Menulis buku itu sama saja omong kosong kalau tujuannya agar terkenal, atau agar sombong karena sudah menulis buku, sama saja dengan omong kosong kalau yang dicari hanyalah uang. Menulis kemudian mempublikasikannya secara massal, harus dengan sebuah idealisme. Bahwa tulisan itu membawa banyak perubahan bagi hidup orang lain. Harus ada kebaikan di dalamnya. Bukan hanya sekedar menjual kertas, tinta, dan lem, kemudian merasa bangga hanya karenanya.
Nadia Aghnia Fadhillah
Harapan, kata Vaclav Havel, "bukanlah keyakinan bahwa hal-ikhwal akan berjalan baik, melainkan rasa pasti bahwa ada sesuatu yang bukan hanya omong kosong dalam semua ini, apa pun yang akan terjadi akhirnya".
Goenawan Mohamad (debu, duka, dsb. : Sebuah Pertimbangan Anti-Theodise)
Dan dengan tidak terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan siang dan malam. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu, Di mana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia, kadang-kadang ia pergi lagi dan di tinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit. (Bukan Pasar Malam, 68)
Pramoedya Ananta Toer
Aku sudah diperalat oleh seseorang yang merasa punya segala-galanya, menjebakku dalam tantangan bodoh yang cuma jadi pemuas egonya saja, dan aku sendiri terperangkap dalam kesempurnaan palsu, artifisial! serunya gemas, "Aku malu kepada diriku sendiri, kepada semua orang yang sudah kujejali dengan kegomalan Ben's Perfecto." Gombal? Aku positif tidak mengerti. "Dan kamu tahu apa kehebatan kopi tiwus itu?" katanya dengan tatapan kosong, "Pak Seno bilang, kopi itu mampu menghasilkan reaksi macam-macam. Dan dia benar. Kopi tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk. Bukan cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. Bodoh! Bodoooh!" Filosofi Kopi
Dee Lestari (Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade)
Manusia selalu menuntut dunia membahagiakannya, pernahkah ia berusaha membahagiakan dunia?
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Cinta semestinya membawa kebahagiaan dan melengkapi ruang-ruang jiwa yang kosong, atau mengisinya dengan membiarkan penghuni lamanya pergi, dan bukannya berdesak-desakan dan berebut tempat di dalamnya.
Dian Nafi (Mayasmara (Mayasmara, #1))
semua orang pada setiap masa, mencari sesuatu yang hilang dalam hidup mereka. tidak kira sama ada sesuatu yang hilang itu adalah orang yang mereka sayang atau hati yang telah kosong dan dipenuhi kegelisahan...mereka akan terus mencarinya. mencari supaya mereka dapat jadi gembira semula. dapat merasa bahagia semula -Ashraf
John Norafizan (Garis-garis Deja Vu)
Keramaian adalah dengung yang semakin didengarkan justru membuatmu kesepian. Orang-orang terus bicara; berbagai jenis suara berlintasan hingga telingamu penuh tetapi kepalamu kosong. Tidak mengerti apa-apa, bukan bagian dari apa-apa.
Sabda Armandio (Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)
manusia yang malang di dunia ini bukan mereka yg tidak memiliki uang, melainkan mereka yang tidak memiliki tujuan dalam hidupnya
Parlindungan Marpaung (Setengah Isi Setengah Kosong "Half Full Half Empty")
Segala sesuatu punya prosesnya sendiri. Ada waktunya sendiri. Dan di waktu tertentu kata2 juga tetap punya momen 'kosong'-nya. Jadi biar aku isi kekosongan itu dengan berjuta peluk dan cium.
Mel (no last name)
Rindu adalah perkara ruh, bukan perkara jasad. Merindukanmu barangkali omong kosong yang masuk akal. Sedangkan, perpisahan hanyalah perkara mata dan ingatan, sama sekali tak berlaku pada hati dan jiwa.
Ilham Gunawan
Segala sakit, keluh, tangis, dendam, amarah, entah di mana. Aku tidak yakin telah meninggalkannya di suatu tempat. Tapi meski aku juga tidak mau membawanya lagi, aku tak bisa memastikan bahwa semua rasa itu pergi begitu saja. Aku antara kosong dan tiada.
Dian Nafi (Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku)
melayani dengan tulus adalah bahasa yang dapat di dengar orang tuli dan dilihat orang buta...
Parlindungan Marpaung (Setengah Isi Setengah Kosong "Half Full Half Empty")
Lapangan itu sekarang kosong. Rumput menjadi rebah karena disana telah dilakukan lebih dari satu permainan, tetapi di tengah-tengah semua itu, setangkai bunga liar menarik perhatianku. Warnanya ungu terang dan berdiri tegak di tempat ratusan yang lain di sekitarnya lumat. Aku bertanya-tanya kalau bunga itu entah bagaimana telah selamat, atau kalau ia pernah terinjak sebelumnya tetapi menolak untuk rebah. (hal 173)
Jennifer A. Nielsen (The Runaway King (Ascendance, #2))
Sepertinya langit itu kosong tp sebenarnya lagit itu gak pernah kosong, langit itu cuma ketutup awan. Kalau kamu bisa menyibak awan itu langit gak akan kosong lagi.
Azizirrahim Putra Widanih
Kemudian malam melanjutkan tugasnya: kosong dari segala perasaan
Pramoedya Ananta Toer
Lalu seakan semuanya lapang, kosong, tak ada siapa pun di sana, kecuali aku dan Dia. Dalam jarak yang tak terkatakan dekatnya, sedemikian dekat. Perlahan kehangatan, kekuatan hati, dan jiwa kudekap.
Dian Nafi (Miss Backpacker Naik Haji)
Namun sayang, karena Ramadhan datangnya rutin tiap tahun, tidak jarang kita terjerembab dalam rutinitas kosong. Kita tidak lagi menganggap Ramadhan sebagai bulan istimewa.
Ahmad Rifa'i Rif'an (Izrail Bilang Ini Ramadhan Terakhirku)
Menulis memerlukan ruh. Tanpa ruh, tulisan akan jadi kosong. Dan tulisan yang kosong takkan dapat menyentuh jiwa.
angel pakai gucci
Kau kemana saja bukanlah pertanyaan kosong. Makna tersiratnya adalah aku merindukanmu, aku ingin bersamamu, aku ingin tahu apa saja yang kaulakukan.
Paulo Coelho (Aleph)
Orang yang menganggap orang lain bodoh tanpa pernah bertanya apa-apa, barangkali adalah orang yang paling angkuh yang otaknya benar-benar kosong.
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
Pada suatu hari ketika puisi pergi, tertatih mengeja huruf di langit. Tidak ada lagi ruang yang tersisa kecuali kehampaan kata. Semua kosong seperti sepi, meski tidak ada malam hari.
Navida Suryadilaga (Cawan Aksara)
Sebelum memulai sebuah perjalanan, anggaplah dirimu sebagai sebuah toples kosong. Lalu, dari setiap tempat yang kau kunjungi, ambillah apa pun yang bisa kau ambil. Pergunakan semua indramu untuk mengisi stople itu.
Mahir Pradana
Kereta datang. Melompat malas. Mencari kursi dalam gerbong yang nyaris kosong. Senja mulai tua, mendung menambah tua cuaca. Gerimis turun di luar. Dari jendela muram itu bayang-bayang berkelebat. Kota-kota mulai bersolek dengan lampu. Hujan menderas di luar. Kereta semakin cepat. Naik kereta api untuk bisa menangis sendirian. Tangisan sepi.
Puthut EA
Kau tak tahu betapa sedihnya hati yang menanti. Kini, selamanya kau menjadi punggungku. Mewarnai hidup yang pernah kosong walaupun sementara. Memupuki hati yang dirundung sepi walaupun sementara. Serta menyiksa cinta yang hampir beku walaupun sementara.
Prihartini Simbolon
Seorang murid; ia tidak mengetahui apapun. Selembar kertas kosong, halaman buku yang belum tercetak, pena tanpa tinta, biji yang belum bertunas, bayi yang baru lahir, yang belum mengenal dunia, yang tak mengetahui mana yang baik atau mana yang buruk, tak tahu panas atau dingin. Yang tak melihat pesona warna-warna, memisahkan yang terang dari yang gelap, yang halus dari yang kasar. Tak bisa memilih yang mudah dari yang sulit, memilah yang benar dari yang salah. Ini sungguh sesuatu yang ganjil, namun dari situasi yang serupa itu, kita bisa merasakan kehadiran cahaya pengetahuan Ilahi.
Titon Rahmawan
Ada begitu banyak kemalangan, namun dari semua itu kebodohanlah yang tinggal menetap. Orang-orang bodoh melihat, mendengar dan merasakan seperti orang-orang lain, akan tetapi mereka sama sekali tidak memiliki pemahaman atas diri sendiri dan keadaan di sekelilingnya. Berusaha memahami si bodoh adalah suatu tindakan yang sia-sia, pada akhirnya tanggapan mereka hanya akan membangkitkan amarah dan kejengkelan. Kebodohan serupa botol yang memiliki lubang di dasarnya, Seberapa pun banyaknya kebaikan dan pengetahuan yang kita tuang ke dalamnya ia akan berlalu dengan sia-sia. Mereka yang termasuk ke dalam golongan orang-orang bebal adalah mereka yang menukar sahabatnya dengan uang, dan menggantikan saudaranya dengan kilau emas dan permata. Hati orang bodoh ada dalam lidahnya dan dengan hal itu ia menggembar-gemborkan kelebihannya yang tak lain adalah sebuah omong-kosong. Sebaliknya, lidah orang bijak ada adalam hatinya dan ia memeliharanya dengan sangat hati-hati agar tidak mengucapkan hal-hal yang tidak perlu. Dan bahkan, hidup orang bebal jauh lebih buruk dari kematian. Orang-orang bebal dan dungu hanya akan menjadi beban bagi kehidupan, karena seumur hidup mereka tak pernah mau belajar. Kebodohan adalah batu pejal yang dibuang orang ke dalam sungai karena menghalangi orang yang akan lewat. Kebodohan punya banyak nama dan mereka menunjukkan wajahnya dalam berbagai wujud. Aku dapat menyebutkan sejumlah di antaranya, yaitu: egoisme dan keras-kepala, bebal dan degil, sikap anarkhi yang membabi buta, sikap acuh-tak acuh dan ketidak-pedulian, pembenaran diri sendiri, tak mau mendengar nasehat, dan kecerobahan yang tak terobati.
Titon Rahmawan
Buku yang ku tulis bukanlah buku kosong Namun buku usang penuh coretan bingung Disana tercatat ribuan kata yang gamang Bahkan beberapa halaman pun tlah hilang Siapkah pena ini menyurat makna baru Atau justru mengungkap cerita masa lalu Dimana kalimat yang tertera kian ambigu Haruskah aku bicara atau diam membisu ,.
chachacillas
Reuben, kalau kemerdekaan yang kamu maksud sejenis keinginan anak kecil yang ingin memberontak kepada ibunya untuk bisa makan es krim waktu sakit flu, itu memang omong kosong. Aku rasa, Tuhan atau kekuatan agung apapun itu, nggak akan memberi hadiah yang dangkal begitu. Menurutku, free will adalah kebebasan manusia untuk mengubah perspektif. Kamu jatuh miskin besok, apakah itu bencana atau berkat yang tersembunyi? Semuanya ada di tanganmu. Free will adalah kemampuan manusia mengubah konteks.
Dee Lestari (Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
Seorang perempuan bertanya, apa itu cinta? Sinergi hati dan akal dalam momentum reaksi metapora yang menghasilkan ruang kosong yang terlalu sulit dan terlalu berani untuk disebut sebagai suci atau bersih. Dia hidup dan menjadi wadah yang hadir hanya dengan dirasa, tapi bisa dilihat tak bisa diraba. Karena hidup dia akan mempunyai masa dan menempati ruang untuk bertumbuh, berkembang, dan menunaikan fungsi hidup beserta peserta hidup lainnya, dalam segala dimensi dan formatnya. Deteksi hati dan akali hanya mampu sampai menghampirinya saja. Selebihnya kata tak cukup punya fasilitas untuk menyelesaikan pendeteksian itu. Segala yang memasukinya akan bereaksi menjadi energi, bila berkontraksi akan menjadi vektor yang bergerak sentrifugal ataupun dalam jumlah komposisi yang tak terbatas mapun dalam berbagai formasi lainnya.
Dian Nafi (Mayasmara (Mayasmara, #1))
Perdamaian yang dipaksakan adalah penjajahan.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Banyak yang berbicara tentang kejujuran, tapi kenyataannya, mereka hanya jujur saat itu menguntungkan.
Muadz Arfa Panjaitan
Aku memuja langit yang kosong, sebab langit lebih baik terhadapku daripada manusia sesamamu.
Mary Wollstonecraft Shelley (Frankenstein)
Senyuman hanya sketsa kenangan... Mencintai angan-angan menjadi alur khayalan... Bayangan semu hanya lukisan kosong peraduann...
Pendosa Pemimpi Surga
Senyuman hanya sketsa kenangan... Mencintai angan-angan menjadi alur khayalan... Bayangan semu hanya lukisan kosong peraduan...
Pendosa Pemimpi Surga
Aku gak pernah mengira kalau lembaran kosong ini justru aku tulis dengan goresan yang tak indah
LoveinParisSeason2
kubawamu malam yang tajam-kering kuisikannya cintamu kauberiku malam yang tenteram-bening kubawamu sebuah gelas kosong kauisikannya suaramu kauberiku gelas yang penuh (muzik)
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
Senja hari ini masih jadi spasi panjang. Ruang kosong di antara nama kita. Entah kapan akan kita isi dengan; rasa.
Rohmatikal Maskur
Kita lahir tidak sempurna, melainkan membawa cacat dan kelemahan genetik orangtua kita. Kita bukan selembar kertas kosong.
Ayu Utami (Cerita Cinta Enrico)
Jadi semua hal yang kita ketahui ini omong kosong saja?" "Sebetulnya memang omong kosong saja, tapi manusia berusaha membuat segala sesuatu bermakna." "Supaya apa?" "Supaya tidak merasa sia-sia.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Omong kosong! Dan bagaimana warisan seperti ini akan memengaruhimu? Apakah uang itu akan bisa membujukmu agar tetap di Inggris, menikahi Miss Oliver, dan berkeluarga dengan tenteram seperti manusia biasa?
Charlotte Brontë (Jane Eyre)
Aksi-massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi-massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.
Tan Malaka (Aksi Massa)
Bagaimana dadanya bisa terasa penuh dan sesak? Padahal, ia tahu bahwa ia baru saja merasa kehilangan dua orang yang berarti baginya. Bukankah seharusnya kepergian dua orang sekaligus membuat hatinya nyaris kosong? Tapi, bagaimana rongga dadanya terasa dipenuhi hal-hal yang sudah pergi? Apakah semua orang yang pergi sebetulnya tak pernah ke mana-mana, tapi malah menempati sebagian besar rongga dadanya? Semakin banyak yang pergi, terasa semakin sesak....
Dian Iriana (Pearl: Kau Takkan Tersentuh Kutukan)
Aku faham kenapa dia inginkan sebuah penamat yang sempurna. Aku faham macam mana seseorang itu pergi mencari sesuatu yang hakiki di dalam kepalsuan. Tapi, ia pasti tidak akan dijumpa. Apa yang ada hanyalah kemenangan yang kosong.
Hadi M. Nor (Pengembaraan Laki-Laki Scorpio)
indahnya sholat indahnya islam kita bagaikan satu tubuh.. masing-masing mengisi tempat - tempat kosong seperti sel-sel yang berpadu rapat ..membentuk satu tubuh yang kompak dan padat kita serupa barisan.. yang rapat dan bersatu padu menjadi kuat..
Dian Nafi (Miss Backpacker Naik Haji)
yang kausangkakan bakat barangkali tidak lebih dari banjiran perasaan yang mengapung kosong bagai sampah-sarap meriak ditolak ombak mendesak dari dalam dadamu atau banjaran impian di puncak gunung dibalut kabut tegak menusuk kulit kepalamu (bakat)
T. Alias Taib (Opera)
Saat itu aku selalu memikirkanmu, tak sadar aku terbuai oleh anganku sendiri. Aku yang percaya bahwa kita dapat kembali dengan beberapa cara, bahkan mengatur sebuah pertemuan. Akan tetapi yang kudapati saat kita bertatap muka kembali adalah sapaan hampa dan tatapan kosong.
Zakiyahdini Hanifah
Begitu dingin air itu ketika ia memasukkan kedua tangannya. Begitu jelas kedua tangnnya tampak di sana, dan betapa hal semacam itu memberikan kedamaian. Tapi mengapa begitu sulit manusia menemukan kedamaian? Ia membasuk wajahnya dengan air jernih dan dingin itu. Betapa hidup bagaikan menjadi baru kembali. Ia minum setguk dua teguk dari aliran bening itu. Betapa dunia berdenyut dengan tenaga yang baru sama sekali. Tapi mengapa manusia begitu sulit mendapatkan sesuatu yang baru untuk hidupnya? Jika kedamaian begitu sederhana, mengapa manusia tak mampu melihatnya?
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Di pesantren, gue belajar bahwa keberagamaan adalah sikap. Ia bukan hanya sebatas pikiran, tanpa perbuatan nyata. Bukan sekadar omong kosong tanpa realisasi. Keyakinan harus diterjemahkan ke dalam sebuah aktivitas. Keimanan harus membumi bukan melangit. Menjadi perbuatan-perbuatan baik.
Nailal Fahmi (Di Bawah Bendera Sarung)
Dunia adalah tempat makna-makna bertarung.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
terhempas, takluk, digerus dingin angin, suara truk, debu menyelip di mataku betapa dancuk hidup ini! betapa dancuk lonte yang setengah mati kukasihi dan menusukku dari belakang! betapa dancuk Tuhan! bergetar, mabuk bayang-bayang, tuak kegelapan, mabuk keramaian yang kubenci, mengambang, tersesat, terhisap angin, luka menganga, nanah tembaga meleleh dari lutut Apolo emas yang dipenggal sebelum perang meledak; sulap kata-kata Homer dengan mata piceknya. terkutuklah bayangan, pohon-pohon meronta karena tak ada satu pun cuaca baik menawarkan minuman dari langit. aku biarkan itu semua menyalipku, dalam metafora, mata binatang, bibir lebar mirip kemaluan wanita sombong yang merasa imannya takkan tumbang meski dijejali kata-kata jorok nan mesum. bergerak, tenggelam, sinar patah di lingkar air dalam gelas mineral yang kokoh dan kau bilang air abadi dan kau bilang api bisa mati sendiri terkutuklah engkau yang menelan masa laluku dan menghibahkan kehancuran ini lobang nganga di dadaku. oh, kau yang memuntahkan abu tulangku, yang akan tetap kuingat meski Tuhan atau apapun itu menyeretku ke neraka omong kosong di alam kubur dan bertanya bagaimana imanku sebenarnya. oh, terkutuklah engkau!
Bagus Dwi Hananto (Dinosaurus Malam Hari)
Dimas, ingatkah kau pembicaraan kita tentang suatu 'gelembung kosong' di dalam kita, yang diisi hanya oleh kau dan Dia, untuk sebuah Persatuan antara kita dan Dia yang tak bisa diganggu oleh apa pun barang seusapan. Inilah saat yang tepat untukmu untuk melihat sepetak kecil dalam tubuhmu itu. Sendirian. Berbincang, jika kau ingin. Atau diam, jika kau ingin. Dia mendengarkan. Selalu mendengarkan.
Leila S. Chudori (Pulang)
Gerakan kaum intelektual dengan berbagai kecenderungannya bukan gaung isolasi dan kepanikan pemikiran, omong kosong tanpa makna, angan-angan gersang, maupun duduk santai di menara gading yang tinggi apalagi sebuah bentuk pelarian dari realitas kehidupan. Pada hakikatnya gerakan ini merupakan sebuah upaya mulia guna bangkit melawan musuh lewat wacana ketika perlawanan melalui kekuatan militer dan politik mengalami kebuntuan.
Yusri Abdul Ghani Abdullah (Historiografi Islam: Dari Klasik Hingga Modern)
Aku sedang melalui lorong itu. Tenang dan mendamaikan. Tanpa ada persimpangan yang bisa menbuatkan akalku bersiur. Namun mengapa jiwa ini terasa kosong dan hati ini tidak lagi merasa bahagia? Lalu aku berhenti. Memandang pada hamparan anugerah Ilahi yang sedang memayungiku. Indah. Bagaikan lukisan abstrak yang tiada bandingnya. Dan hati ini berdetik. Lorong yg tiada persimpangan seumpama kehidupan tanpa ujian dan liku. Bisu dan kaku. Tanpa makna yang tersingkap. Tanpa rasa yang menggambarkan maksud hati. Lalu apakah ini yang aku inginkan kala akal mula mencerakin adakah ini makna kehidupan sebenar? Percayalah walaupun jiwa dan hati ini retak seribu, cantuman itu bisa menampakkan parut ianya lebih bermakna dan bahagia dari hidup tanpa rasa- shahzyH
Shahzy Hana
Satu kekuatan kursus tamadun Islam di IPT Barat - jika kita ketepikan sikap prejudis dan perkiraan strategiknya - ialah kesungguhan ilmiahnya.... Setiap pelajar diwajibkan membaca keseluruhan terjemahan al-Qur'an, berpuluh-puluh hadits pilihan daripada pelbagai kitab-kitab hadits, terjemahan sirah Ibn Ishaq, serta terjemahan karya-karya agung Islam yang lain. Setiap pelajar diwajibkan membaca hampir 50 mukasurat setiap hari dan diwajibkan menulis kertas kerja serta ujian yang meletihkan. Kita juga diberikan peta dunia lama yang kosong di mana pelajar diwajibkan menanda nama bandar, sungai, laut, teluk, gunung, dan daerah, negara yang kini sudah tiada lagi atau sudah berubah nama!!! Ini perlu kerana apabila pelajar membaca karya-karya terdahulu, mereka boleh memastikan tempat dan kawasan yang dimaksudkan itu dengan tepat dan lebih bermakna.
Wan Mohd Nor Wan Daud (Rihlah Ilmiah: dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer)
Oleh akibat ketidak-berpihakan, ketidak-beruntungan, ketidak-terpilihan, ketidak-sesuaian, ketidak-terjawaban doa-doa, kegagalan, keterlepasan, isolasi dan kehilangan. Perlahan kamu mulai menyadari sebuah fakta, bahwa kamu ternyata tidak spesial. Simply tidak ada yang spesial dari diri kamu. Biasa saja. Cuma satu dari milyaran organisme yang terserak di perairan purba yang tak berbatas. Biasa. Biasa. Biasa. Biasa. Biasa. Biasa. Dan biasa. Seperti produk massal. Tissue toilet yang diganti setiap hari oleh petugas janitor. Lahir, mengkonsumsi, kerja, mengkonsumsi, berkembang biak, mengkonsumsi, kerja, mengkonsumsi lalu mati. Mati pun tidak pasti apakah tetap mati, ataukah kembali lagi ke bentuk awal, lahir. Begitu seterusnya. Berulang terus dan terus sampai entah kapan. Cuma serangkaian episode dari keberulangan setiap hari. Seperti sebuah roll film yang sama yang digunakan untuk merekam bermacam adegan yang berbeda setiap harinya. Adegan pertama dihapus, lalu ditindih kembali untuk bertukar dengan adegan kedua. Adegan kedua berganti yang ketiga, dan begitu seterusnya. Sebuah keberulangan yang berbeda terus menerus, tetapi tetap pada hakikatnya adalah sebuah roll film yang sama. Dalam satu gulungan besar yang sama. Dalam satu format yang serupa. Sebuah kebeluman yang terus menerus.. Banal dan tanpa makna.. Lalu, apakah sesuatu yang selamanya “belum selesai” masih dapat dikatakan sebagai sesuatu yang spesial? Spesial itu cuma akal-akalan pemasar. Kamu spesial kalau beli produk ini, kalau beli produk itu, kalau pakai parfum ini, kalau pakai kosmetik itu, kamu spesial itu kalau dalam sehari minimal ada satu kali transaksi digerai starbucks, kamu spesial itu kalau kamu pakai iphone 6 bahkan sebelum produknya keluar di pasar lokal, kamu spesial itu kalau kamu member fitness center, tentu kamu lebih spesial lagi kalau pakai personal trainer, kamu spesial kalau kamu fashionable, kalau kamu tech savvy, kalau kamu club hopper, kamu spesial itu kalau kamu kelihatan aktif berkeringat dalam trend lari kekinian yang hampir separuhnya berisi aktivitas narsis dan konsumsi bermacam produk running shoes, kamu spesial itu cuma kalau kamu pakai brand ini, pakai brand itu, kalau ini, kalau itu, kalau, kalau, kalau, kalau dan kalau.. Spesial itu cuma ada dalam quotes-quotes yang dikasih latar gambar pemandangan, kamu bisa comot-comot dari pinterest atau instagram lalu pasang sebagai profile picture di sosial media milikmu. Pun spesial bersemayam dalam kolase omong kosong yang dirangkum buku-buku swa-bantu atau dalam kutipan ayat dari kitab suci dalam status blackberry teman-teman kamu yang berusaha kelihatan religius, tapi jauh sekali dari makna religius dalam perilaku sehari-hari. Jadi, dari pada ngga ada habisnya memikirkan jawaban dari pertanyaan mengapa kamu tidak spesial? Mungkin kamu harusnya berfikir, buat apa jadi spesial? Harus banget ya jadi spesial? Harus banget ya beda dengan yang lain? Apa perlu banget jadi beda? Emang kalau ngga ada satu pun dari kita yang spesial, kenapa? Kalau kita semua ternyata sama, memangnya kenapa? Kalau kita semua berebut jadi spesial, lalu siapa yang mau berada di posisi tidak spesial? kalau semua spesial, apakah masih spesial namanya? Sudah, sekarang terima saja, bahwa ngga ada yang spesial dari diri kamu, dan seluruh kehidupan kamu yang begitu membosankan.. hidup ngga akan pernah repot-repot berusaha untuk menjaga perasaan kamu. Apalagi susah payah menempatkan kamu di posisi yang 'spesial'. Things happen because they need to happen. Spesial itu cuma soal kamu memberi bentuk pada makna. Tentang bagaimana kamu ingin dimaknai, tentang bagaimana kamu ingin diperlakukan, tentang bagaimana (anehnya) kamu ingin menerima kembali perlakuan yang kamu inginkan justru dengan cara memberikan perlakuan itu kepada yang lain diluar diri kamu. Tentang omong kosong soal konsep memberi untuk merima lebih banyak..
Ayudhia Virga
...Kita hanya manusia yang kerdil yang mendiami daerah-daerah bumi. Kita hidup di sini untuk mencari bekal satu perjalanan hidup ke alam akhirat yang kekal abadi. Orang-orang yang tidak berjuang dalam kehidupan ini akan pergi ke sana jua. Orang-orang yang berjuang memang menyedari dunia ini sementara. Ada sesuatu yang perlu ditinggalkan untuk kebaikan manusia di dunia yang fana ini. Ada juga sesuatu yang diusahakan sebagai bekalan untuk kehidupan abadi di samping Pencipta Yang Maha Agung, Allah. Jika hidup itu ialah menanti perginya pagi dan datangnya petang, menanti perginya petang dan hadirnya dinihari; apalah kemanisan yang dapat dikecap daripada kehidupan sebegitu. Hidup ini ialah perjuangan hidup segigihnya. Manusia yang mengerti tidak akan mengalah terhadap cabaran masa dan tempat. Hidup menjadi indah dengan hadirnya perjuangan. Isyraf Eilmy terasa pernah terbaca sebuah wacana kecil erti kehidupan. Saudaraku. Tegakkan mukamu dan ukir senyuman di wajahmu. Senyuman itu ialah sedekah daripada orang yang punyai harta dan jiwa. Sekuntum senyumanmu ialah wajah sebuah kehidupan yang tidak terhakis oleh kesusahan. Selagi kau menundukkan mukamu lalu merenung kedua-dua belah kakimu, selagi itu kau masih terbelenggu dalam simpulan-simpulan kekusutan yang membalut sudut hatimu. Apabila jiwamu kosong daripada cahaya hidayah, maka kehidupanmu umpama lorong duka lara yang menjerit pekik minta dikasihani, simpang-siur kesepiannya ialah kekeliruan dan kekecewaan yang menerpa sedangkan deru angin semilirnya ialah nyanyian kedukaan yang tidak didendangkan oleh jiwa yang kental. Mengapakah kau rasa tiada lagi keindahan pada mahligai tersergam juga kecintaan terhadap segala kemewahan dan solekan dunia? Mengapakah harus kau mencari suatu kepastian tentang bila akan berakhirnya kehidupan sedangkan baki usiamu tidak pernah menjanjikan rumusan kebahagiaan? Usah lagi kau mimpikan ke manakah perginya kelazatan pada sajian hebat yang terhidang di meja kehidupan. Usah lagi kau kenangkan dari manakah datangnya kepanasan di ruang cinta syahdu penuh keasyikan. Kembalilah kepada martabat diri. — ms.9-10, Sarjana Bangsa
Hasanuddin Md. Isa
Tapi aku bahagia waktu kalian, anak-anak, semakin dewasa. Bahkan waktu aku sibuk bukan main sehingga tidak sempat membetulkan ikatan handuk di kepalaku, kalau melihat kalian duduk di seputar meja, sambil makan dan membunyikan sendok dengan berisik di mangkuk-mangkuk, rasanya tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini. Kalian semua begitu gampang. Kalian makan dengan lahap walau aku hanya membuat sayur labu dan kacang yang sederhana, dan wajah kalian berseri-seri kalau aku mengukus ikan sesekali.... Kalian semua makan banyak sekali waktu sedang tumbuh. Kadang-kadang aku khawatir. Kalau aku meninggalkan panci berisi kentang rebus untuk camilan kalian sepulang sekolah, pancinya akan kosong waktu aku pulang. Ada kalanya aku bisa melihat beras di pedaringan mulai berkurang setiap hari, dan ada kalanya pedaringan itu kosong sama sekali. Kalau aku turun ke gudang bawah tanah untuk mengambil beras buat makan malam, lalu cedokanku menggerus dasar pedaringan, aku pun terkesiap; Anak-anakku mau diberi makan apa besok pagi? Jadi, pada masa-masa itu masalahnya bukan aku suka atau tidak suka berada di dapur. Kalau aku menanak nasi sepanci besar dan membuat sup di panci yang lebih kecil, aku tidak memikirkan betapa capeknya aku. Aku hanya merasa senang karena semua makanan itu untuk mengenyangkan anak-anakku. Yah, barangkali kau tidak bisa membayangkannya, tapi pada masa itu kita selalu cemas kalau-kalau kita kehabisan makanan. Kita semua seperti itu. Yang paling penting adalah makan dan bertahan hidup.
Kyung-Sook Shin (Please Look After Mom)
Berjalan tanpa mimpi terasa hampa, berpikir tanpa tujuan terasa kosong, berharap tanpa usaha itu bodoh!
Nadine Chandrawinata (Nadrenaline)
Setiap kali buku melayang dari tanganku, aku merasakan seberkas rasa sakit, seolah-olah lubang kosong dalam ingatanku semakin besar seiring setiap buku yang kulempar.
Yōko Ogawa (The Memory Police)
Cantik–cantik kalau tidak punya etika, sama saja dengan nol puthul. Kosong! (Samuel)
Dian Nafi (Just in Love (Mayasmara, #5))
...ia lalu mengakhiri pujiannya ke pada mereka semua, bahwa mereka sebaiknya meninggalkan Macondo, bahwa mereka telah melupakan semua yang diajarkan pada mereka tentang dunia dan hati manusia, bahwa mereka telah mengentuti Horatio dan bahwa ke mana saja mereka akan pergi harus selalu mengingat bahwa masa lalu itu adalah sebuah omong kosong, bahwa kenangan tidak akan kembali lagi, bahwa tiap musim gugur yang telah lalu tidak akan bisa dikejar dan bahwa cinta paling liar dan paling ngotot itu pada akhirnya hanyalah kebenaran yang sekejap, tidak berlangsung lama.
Gabriel García Márquez (One Hundred Years of Solitude)
...Beberapa hari kita sudah terbahak-bahak dengan obrolan omong kosong sambil menenggak bir, meski kita tahu sedang menyongsong hari dukacita. Lalu sekarang kita berpura-pura sopan karena hari yang menentukan itu sudah dekat!
Danarto (Berhala: Kumpulan Cerita Pendek)
Cinta adalah berjalan dengan kaki masing-masing sambil tetap menyisakan ruang kosong yang hangat untuknya, yang setiap pergi pasti kembali.
Stebby Julionatan (Biru Magenta)
Cintaku kepadanya dan cintaku kepadamu adalah dua cinta yang berbeda, Sayang. Masing-masing kalian menempati ruang kosong yang berbeda dalam hatiku.
Stebby Julionatan (Biru Magenta)
Selebrasi-selebrasi kosong harian tanpa ada yg dicapai. Itu yg bikin lo bosen sebenernya. Kebanyakan di skip. Tapi yg lo skip, cuma dari pengulangan ke pengulangan. Dari selebrasi ini ke selebrasi itu. Apa yg lo rayain, ga ada. Lo itu berhak kasih diri lo prestasi. Achievement, apapun bentuknya. Kecil besar, tapi tercatat sebagai suatu keberhasilan. Minimal menurut diri lo sendiri. Supaya, perayaan ada makna nya. Kesenangan ada dasarnya. Supaya 'kemewahan' tidak terasa mubazir. Dan party bisa to the fullest.
Ayudhia Virga
Omong kosong tidak bisa mencukur domba" Rand al'Thor
Robert Jordan (The Great Hunt Volume 1 - Perburuan Sangkakala)
Yang bikin kelpek-klepek adalah lagak pujangga-teraniaya itu, omong kosong luka-batin, gaya genius-yang-tersiksa itu. …
Robert Galbraith
Ayahku dan aku dan Mami jauh lebih merdeka jiwanya daripada kaum Soekarno yang menghipnotis massa rakyat menjadi histeris dan mati konyol karena mengandalkan bambu runcing belaka melawan Msutang-mustang dan meriam-meriam Howitzer yang pernah mengalahkan tentara Kaisar Jepang. Maaf, Anda keliru alamat menamakan aku budak Belanda. Bagiku NICA hanya sarana seperti Republik bagi mereka sarana juga. Segala omong kosong tentang kemerdekaan itu slogan belaka yang menipu. Apa dikira orang desa dan orang-orang kampung akan lebih merdeka di bawah Merah Putih Republik Indonesia daripada di bawah mahkota Belanda? Merdeka mana, merdeka di bawah singgasana raja-raja Jawa mereka sendiri atau di bawah Hindia-Belanda?
Y.B. Mangunwijaya
Kampanye copras-capres, diam-diam saya sedang mengunyah moralitas kosong.
Ali Zaenal
...Aku tak percaya kata-kata ‘biarkan waktu menyembuhkan luka’, omong kosong kalau kau tak berbuat apa pun untuk memperbaikinya.” -Cerita 3: Angela, hal.38-
Ida R. Yulia (Take My Hand, One Last Time)
Hidup ini adalah catatan kosong,yang akan kau torehkan dengan tinta pengetahuan.
Rohmatul Karimah R.
Kisah Majnun dan Laila bukanlah omong kosong, mereka nyata dalam cinta abadi yang paling murni, sebuah puisi indah yang tiada taranya
Sonny H. Sayangbati
Aku tidak ingat lagi dari mana kenangan itu berasal, baik bulan maupun tahunnya. Yang kutahu, kenangan itu tersimpan dalam jiwaku, indahnya serpihan masa lalu yang terbungkus rapi, sapuan warna cerah di atas kanvas kelabu kosong yang menyelimuti kehidupan kami.
Khaled Hosseini (The Kite Runner)
tak ada lagi ruang kosong di rahim kota ini kecuali kaki gedung-gedung yang sombong kecuali lidah kita yang terjulur (sebuah warung)
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
Lebih baik merasa marah dan kecewa, kita bisa melampiaskannya. Tetapi kosong...membuatmu bahkan tidak bisa berpikir tentang apa pun. Mbak Dayu
Viera Fitani (Morning Breeze)
Bagian paling halus dari alam nyata ini adalah awang-awang atau ruang kosong
Tolep Coy
Seberapapun banyaknya kamu memotong Apel hingga menjadi bagian terkecil, ia tidak akan pernah hilang melainkan tak terlihat dan kembali seperti ruang kosong. Bukankah lebih cepat jika kamu membakarnya? Lalu, apakah kamu menyangka asap itu hilang?
Tolep Coy
Masalahnya, ada saja manusia yang menginginkan agar kita semua tetap bodoh dan buas, supaya kita semua tenggelam dalam kegelapan, sehingga dengan menjadi penguasa tunggal atas pengetahuan, bisa berkuasa dalam segala bidang. Padahal pengetahuan itu hak semua orang.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Gunung menjadi indah bukan karena adanya gunung itu, melainkan karena ada mata yang memandangnya. Dengan cara memandang yang keliru, keindahan gunung tidak akan pernah tampak sama sekali.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Entahlah, tapi kurasa kalau engkau menginginkan kebahagiaan, anakku, engkau harus mencarinya, tapi dalam pencarian itu mungkin kamu akan menderita. Dalam penderitaan itulah engkau akan menjadi matang, dan seorang yang matang akan mudah bahagia.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Pembunuhan itu kegagalan berbahasa yang purba sekali anakku, dan hari ini masih ada .Bukankah itu berarti seluruh pendidikan agama dan ilmu pengetahuan yang telah berlangsung berabad-abad belum berhasil sepenuhnya?
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Untunglah penalaran bukan segala-galanya. Penalaran memang memikat dan membuka jalan untuk menyingkap dunia, namun kesetiaan kepada penalaran terkadang membuat hidup menjadi dingin. Padahal manusia selalu mencari kehangatan dan selalu terpesona oleh keajaiban. Penalaran sendiri merupakan perilaku manusia yang memesona, namun penalaran sekaligus juga menggugurkan pesona. Bagaimanakah caranya manusia menjaga agar bisa tetap hidup di dunia yang penuh pesona? Dunia boleh saja tidak ada, dan karena itu harus diadakan kembali.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Di suatu kedai ia pernah melihat orang-orang berdebat dan menghujat, akhirnya saling bunuh-bunuhan. Padahal semuanya berdebat atas dasar yang lemah, sehingga tidak tahu bahwa antara mereka sebetulnya tidak ada perbedaan pendapat, hanya perbedaan selera.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Saya adalah orang yang tidak percaya bahwa berbohong adalah naluri alamiah anak-anak. Saya percaya pada konsep bahwa kodrat awal anak-anak adalah berkarakter baik. Anak bukanlah kertas kosong, telah ada pada diri setiap bayi pokok kebaikan. Adalah naluri mereka untuk punya akhlak yang baik. Itulah yang disebut agama sebagai fitrah. Setiap anak dilahirkan sesuai fitrah, lingkungan yang menjadikan karakter terbaik mereka luntur. Maka saya tidak percaya ada anak yang naluri alamiahnya berbohong dan suka memfitnah.
Nailal Fahmi (Pendidikan Keluarga Kami)
Penulis yang tidak mampu membaca dunia, hanya akan menjadi penyalin seperti aku. Mengutip sana dan mengutip sini, dan menceritakannya kembali kepada semua orang.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Dalam hal itulah engkau memperkaya dunia Satya, karena dalam penerjemahan berlangsung penciptaan. Bukankah itu berarti kamu menciptakan kembali sebuah dunia?
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Siapa pun yang menilai karangan dengan tuntutan kenyataan pasti akan kecewa. Setiap karangan mengungkapkan kenyataan dengan caranya sendiri. Mereka yang mendengarkan sebuah cerita harus melakukan penafsiran untuk menghubungkannya dengan kenyataan, tidak menelannya mentah-mentah.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Apabila manusia begitu tertindas, dan tidak bisa melawan, maka mereka hanya bisa melawan dengan pikiran. Namun tidak menjadi jelas antara pemikiran yang menjadi perlawanan atau pelarian.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Strategi istana kosong sebenarnya bertujuan memancing musuh agar masuk jebakan dengan menampilkan banyak celah kosong
Takaaki Morofushi
Apabila seorang manusia terpisah dengan orang yang dia cintai, ingatannya terhadap orang itu pasti akan pudar juga. Sedikit demi sedikit. Malangnya, lompong kosong yang hilang mendadak dalam hati itu tidak akan begitu mudah diabaikan. Lompong itu akan menuntut manusia mengisinya. Akhirnya si manusia terpaksa akur lalu melengkapkannya menggunakan apa-apa sahaja yang tinggal. Menggunakan memori.
Auni Zainal (Mawaddah Ilmi Ingin Pulang)
Mereka yang berfatwa bahwa dalam hidup uang bukanlah segalanya, barangkali adalah mereka yang hidupnya serba berkecukupan. Maka jangan terlalu percaya dengan omong kosong mereka! Sebab kita masih hidup mengais makanan sisa.
Robi Aulia Abdi
Siapa yang jujur? Siapa yang bohong? Di tempat kami, semua itu omong kosong.
Robi Aulia Abdi
Dengarkan baik-baik. Kalau selama ini anda percaya bahwa seseorang yang depresi ingin bahagia, anda salah. Mereka sama sekali tidak peduli betapa menyenangkannya kebahagiaan. Mereka hanya ingin kepedihan mereka lenyap. Mereka ingin menjadi "normal". Atau, karena merasa normal benar-benar mustahil, mereka ingin menjadi "kosong".
Matt Haig (Reasons to Stay Alive)
Ideologi akan berakhir, jika ia hanya sekadar jargon dan sebatas dimumikan sebagai kesadaran palsu. Kosong sebagai alat kritik pembangunan yang sedang dijalankan.
Ilham Gunawan
Setiap orang merasakan sakit dengan caranya sendiri, setiap orang menyimpan lukanya sendiri. Jadi aku rasa, aku juga peduli dengan ketidakadilan dan keadilan seperti orang lain. Tapi yang paling menjijikkan bagiku adalah orang-orang yang tidak memiliki imajinasi. Orang-orang yang disebut orang-orang palsu oleh T.S Eliot. Orang-orang yang mengisi kurangnya imajinasi dengan hal-hal yang tidak berperasaan, orang-orang yang sama sekali tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Orang-orang tidak berperasaan yang melontarkan kata-kata kosong kepadamu, yang mencoba memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan.
Haruki Murakami
Perasaan kosong saat bangun di pagi hari bisa terasa sedemikian mematikan
Desi Puspitasari (On a Journey)
Aku membaca orang-orang perasa, mereka yang siap mengobarkan pergolakan-pergolakan besar untuk merebut pulang anak yang diculik pada tujuh puluh tahun silam. Pergolakan-pergolakan yang bertumpu pada rasa insaf kalau keluh-kesah sudah tak memadai, kalau amarah yang kosong bakal dianggap sepi
Hendri Teja (Iblis-Iblis Capres)
Seumur hidupku, aku adalah sesuatu. Begitulah kehidupan saat itu. Tetapi, pada suatu ketika, semua-nya berubah. Hidup telah mengubah aku menjadi bukan siapa-siapa. Aneh.... Manusia dilahirkan untuk hidup, kan? Tapi semakin lama aku hidup, semakin aku kehilangan apa yang ada di dalam diriku—dan akhirnya kosong. Dan aku yakin semakin lama aku hidup, semakin kosong dan semakin tidak berharganya diriku. Ada yang salah dengan gambaran ini. Semestinya hidup tidak seperti ini! Masih mungkinkah mengubah arahnya, mengubah ke mana aku harus menuju?
Haruki Murakami, Kafka on the Shore
Seumur hidupku, aku adalah se -suatu. Begitulah kehidupan saat itu. T etapi, pada suatu ketika, semua -nya berubah. Hidup telah mengubah aku menjadi bukan siapa-siapa. Aneh.... Manusia dilahirkan untuk hidup, kan? T api semakin lama aku hidup, semakin aku kehilangan apa yang ada di dalam diriku—dan akhirnya kosong. Dan aku yakin semakin lama aku hidup, semakin kosong dan semakin tidak berharganya diriku. Ada yang salah dengan gambaran ini. Semestinya hidup tidak seperti ini! Masih mungkinkah mengubah arahnya, mengubah ke mana aku harus menuju?
Haruki Murakami, Kafka on the Shore
Inilah aku. Mengalirkan air ke dalam kebahagiaan yang cuman tersisa sedikit, menjadikan busa-busa kecil agar penuh. Meski tahu itu cuma imajinasi yang penuh lubang, itu lebih baik daripada kosong sama sekali.
Kanae Minato (Confessions)
Kamu pikir otakmu spesial? Kamu pikir kesadaranmu itu nyata? Omong kosong. Otakmu hanyalah tumpukan lemak dan listrik yang perlahan-lahan membusuk, mengikis ingatanmu, merusak logikamu, dan pada akhirnya mengubahmu menjadi sekadar mayat hidup yang tersesat dalam kehampaan. Setiap detik, neuronmu mati. Tidak peduli seberapa cerdas kamu merasa, sinapsis yang dulu tajam kini semakin lambat, semakin lemah, semakin kacau. Dopamin, serotonin, dan semua zat kimia yang memberimu ilusi kebahagiaan dan motivasi? Mereka berkurang, membuatmu makin apatis, makin tidak peduli, makin kosong. Kamu pikir bisa melawan? Makan makanan sehat? Meditasi? Latihan otak? Percuma. Entropi tetap menang. Semakin bertambah usia, otakmu akan menyusut, belitan neuron yang dulu kompleks akan menjadi labirin kusut yang penuh dengan plak dan sampah seluler. Fokusmu akan hancur, ingatanmu akan terkikis, dan pada akhirnya kamu bahkan tidak akan ingat siapa dirimu. Dan yang paling ironis? Saat otakmu mulai benar-benar rusak, kamu tidak akan menyadarinya. Kamu akan tetap merasa "baik-baik saja," padahal sistemmu sedang mengalami degradasi tanpa ampun. Lalu tiba waktunya, ketika sinyal listrik yang dulu membuatmu "hidup" akhirnya padam. Semua pemikiran, kenangan, dan kesadaranmu? Hilang. Tidak ada jiwa, tidak ada kebangkitan, hanya kehampaan. Jadi, nikmati sekarang selagi bisa. Karena cepat atau lambat, otakmu akan menjadi bangkai kering yang tak ada bedanya dengan debu. Kamu hanyalah ilusi sementara dalam pusaran entropi.
Vergi Crush
Satya memahami soal sekte-sekte pembohong itu. Pengikutnya orang-orang yang jiwanya kosong, yang hanya merasa hidup jika memercayai sesuatu secara radikal dan habis-habisan, tanpa mempertanyakannya lagi.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Setiap orang bisa menjadi juru cerita, setidaknya untuk dirinya sendiri, dengan begitu ia berkuasa atas nasibnya, tidak ditentukan oleh seorang juru cerita lain.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Anakku, seorang juru cerita hanyalah sebuah cermin sebetulnya, ia tidak pernah melahirkan sesuatu yang tidak ada, ia hanya memantulkan kembali kehidupan di di depannya.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Semenjak buku-buku dibakar dan guru-guru dibunuh, banyak orang berlagak jadi nabi padahal hanya mau mencari makan dengan membual. Ada saja orang bodoh yang percaya, dan bencana itu membuat kita semua tambah bodoh, hanya hidup dengan naluri bertahan. Di dunia ini bertebaran para penipu, mereka menjual Tuhan-Tuhan baru hanya untuk kepentingan diri sendiri, ada yang sampai istrinya dua puluh lima orang.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Hidup Berkekurangan vs Hidup Berkelimpahan Ada manusia yang hidupnya bagai batu yang dipanggul di punggung, berat tak tertanggungkan. Mereka berjalan tertatih, setiap langkah adalah hutang napas yang harus dibayar dengan keringat dan rasa sakit. Para kuli di pasar, kenek bangunan, pekerja serabutan di pinggir jalan, satpam dan buruh pabrik shift malam yang menyulam waktu dengan kantuk dan lapar—mereka seakan hidup hanya untuk memastikan besok masih bisa makan. Uang menjadi rantai, mengikat pergelangan tangan dan kaki, menjadikan mereka budak dari sesuatu yang berasa tak pernah cukup. Namun, apakah uang sungguh jahat dan sekeji itu? Atau justru manusialah yang menuliskan kutukan atas lembaran kertas yang berharga itu? Uang di tangan orang bodoh adalah cambuk yang melukai, tetapi di tangan orang bijak ia adalah sungai yang mengairi banyak ladang. Ia bisa jadi berhala, tapi juga bisa jadi pujian persembahan. Ia bisa menelanjangi wajah asli keluarga dan sahabat—siapa yang tetap bertahan saat perahu bocor, siapa yang hanya datang ketika layar terkembang. Uang, pada akhirnya, hanyalah kaca pembesar yang memperlihatkan isi hati manusia. Ia bisa mempermalukan orang yang tamak, atau meninggikan martabat mereka yang tulus ikhlas. Ia menguji, apakah kita akan menjadi hamba uang, atau menjadikan uang pelayan kita. Kemiskinan yang paling getir bukanlah perut kosong atau dompet yang tipis. Yang lebih mengerikan adalah kemiskinan jiwa: ketika seseorang kehilangan penghormatan pada dirinya sendiri. Orang yang merasa rendah, tak punya arti, selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, hingga hatinya penuh iri, dengki, dan kebencian. Itulah jurang terdalam—kemelaratan batin yang membuat manusia buta tak bisa melihat cahaya kecil dalam dirinya. Sedang mereka yang hidup berkelimpahan tak selalu berarti mereka yang berkelebihan harta. Orang yang sungguh kaya adalah mereka yang tangannya selalu di atas—memberi tanpa mencatat, menolong tanpa menghitung. Mereka menakar kekayaan bukan dari banyaknya yang disimpan, melainkan dari besarnya yang dibagikan. Dan justru ketika mereka memberi, rasa cukup itu meluas, melimpah, tak habis-habis. Karena kelimpahan sejati bukanlah saat tangan menggenggam, melainkan saat tangan terbuka. Ketika memberi, sebenarnya kita sedang menabung di tempat yang tak terlihat. Bank dan korporasi bisa bangkrut, saham bisa jatuh, tapi tabungan di surga tak pernah kehilangan nilai. Seorang yang arif tahu, tabungan terbesar bukanlah di tempat di mana ia menyimpan uangnya, melainkan di hadapan sesama. Ia menabung dalam bentuk kebaikan yang tak terlihat mata, tapi terukir di buku langit. Ia menanam di ladang kasih sayang, dan buahnya dipetik dalam bentuk kedamaian yang tak bisa dibeli. Hidup yang berat selalu membawa pilihan: apakah kita akan membiarkan diri diperbudak oleh kesulitan, atau menjadikannya cambuk untuk berjalan menuju kelimpahan batin? Karena sejatinya, miskin dan kaya bukanlah sekadar kondisi dompet, melainkan kondisi hati. Seseorang bisa tidur di rumah reyot dengan senyum damai, dan seseorang bisa gelisah di ranjang emasnya sambil menahan rasa sakit. Maka, kebahagiaan bukanlah tentang berapa banyak yang kita punya, melainkan berapa banyak yang masih sanggup kita syukuri, dan berapa banyak yang berani kita bagikan demi membantu orang lain. Pada akhirnya, kaya dan miskin hanyalah label duniawi. Yang sesungguhnya menentukan: apakah kita hidup sebagai pemilik yang tak takut berbagi, ataukah sebagai hamba dari rasa kikir dan tamak yang tak pernah berkecukupan. Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Perempuan yang Dulu Kau Kejar Hanya untuk Kau Lukai” Buat para lelaki: Apakah kau benar-benar sudah memahami istrimu? Ia bukan sekadar perempuan yang menunggumu pulang, meski tanganmu hampa dan dompetmu kosong. Ia bukan sekadar tubuh yang letih mengurus rumah, atau wajah yang perlahan kehilangan cahaya mudanya. Ia adalah doa yang tak pernah berhenti menyebut namamu, bahkan ketika kau tertidur lelap dan melupakan segalanya. Ia adalah keberanian yang meninggalkan kenyamanan tempat tinggal orang tuanya, menukar kepastian dengan harapan, hanya demi satu keyakinan, karena ia mencintaimu. Ia memintal mimpi dengan air matanya, menyalakan bara ketabahan dengan jiwanya, dan menaruh seluruh hidupnya dalam genggaman tanganmu—meski kau sendiri sering tak tahu bagaimana harus menjaganya. Dialah yang mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan darah dagingmu, dialah yang mengorbankan hidup dan waktunya demi membesarkan keturunanmu. Dialah tangan yang membersihkan rumahmu, hati yang menjaga marwahmu, pelita yang menuntunmu pulang. Ironisnya, justru dialah orang yang paling sering kau abaikan. Dialah yang paling sering kau sakiti dengan sikap diam-mu, acuh tak acuhmu dan ketidakpedulianmu. Ia yang dulu kau kejar dengan segala kerinduan, kini kau anggap biasa saja—tak lagi istimewa, tak lagi bernilai. Padahal yang ia harapkan bukan istana, bukan harta berlimpah, melainkan hal yang sederhana: perhatian yang tulus, rasa aman, kasih sayang yang hangat. Tragisnya, engkau lupa bahwa cinta adalah bara yang harus dijaga, api yang harus diperbaharui. Engkau biarkan apinya padam, lalu kau salahkan ia ketika rumah tangga menjadi dingin. Engkau tak sadar, luka yang ia simpan bukan karena tubuhnya berubah menjadi gemuk, bukan karena kecantikannya pudar, melainkan karena pengorbanannya tak lagi berarti bagimu. Engkau telah meruntuhkan marwah seorang istri, menukar air matanya dengan penyesalan, menukar pengabdiannya dengan kehampaan. Jangan salahkan dia bila akhirnya ia memilih pergi. Ia pergi bukan karena lelah mencintai, melainkan karena tak ada lagi cinta untuk dipertahankan. Ia tinggalkan rumah yang ia bangun dengan air mata, ia lepaskan kenangan yang ia ikat dengan harapan. Dan yang tragis, kau tak kehilangan sekadar seorang istri—kau kehilangan perempuan yang dulu rela menyerahkan segalanya untukmu, bahkan hidup dan kehormatannya. Mengapa lelaki begitu pandai mengejar, namun begitu ceroboh menjaga? Dahulu, ia rela menembus hujan dan badai demi seulas senyum; kini, sekadar menatap mata istrinya saja ia sudah enggan. Mata yang dulu ia puja, jernih bagai telaga tempat ia merendam dahaga cintanya, kini dibiarkannya berkabut oleh air mata. Tidakkah ia sadar, setiap tetes air mata istrinya adalah patahan kecil dari marwahnya sendiri? Lelaki sering kali lupa, bahwa cinta yang diperjuangkan dengan susah payah bisa hilang hanya karena lalai memeliharanya. Betapa ironis—mereka berlari mengejar bunga saat kuncup, namun berpaling saat bunga itu mekar, seakan keindahan tak lagi berarti ketika sudah berada dalam genggaman. Perempuan menangis bukan karena lemah, melainkan karena hatinya penuh dan meluap oleh perasaan yang tak sanggup ia bendung lagi. Ia menangis bukan karena kehilangan cinta, tapi karena cinta yang ia beri setulus hati tak lagi dipandang berarti. Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain disamakan dengan rutinitas? Diseret dalam hari-hari yang hampa tanpa lagi ada rasa kagum, tanpa lagi ada ucapan sederhana: “Sayang, aku sangat mencintaimu...” Dan beginilah tragedi buruk para istri: lelaki sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, padahal perempuan yang paling ia sakiti susah payah menjaga api kebahagiaan itu tetap menyala. Sementara lelaki mengira, kejayaan ada pada dunia luas yang ingin ia taklukkan. Padahal, kedamaian terbesar ada di pangkuan istrinya yang terus menunggu dengan setia, entah sampai kapan? Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Keberhasilan hanya berarti bila ia lahir dari luka dan kegagalan; tanpa jatuh, bangun hanyalah omong kosong belaka!
Titon Rahmawan
Politik Identitas: Opera Tanpa Kepedulian Kita hidup di zaman ketika suara rakyat hanyalah gema kosong yang dipakai untuk meramaikan panggung hiburan, lalu dilupakan begitu lampu kamera padam. Politik telah berubah menjadi pasar malam, sebuah sandiwara: penuh warna, penuh janji, penuh tawa usang—tapi ketika siang datang, yang tersisa hanyalah bungkus kotoran sampah berserakan. Identitas dijadikan komoditas, bukan lagi jati diri. Agama, suku, bahkan luka sejarah—semua bisa diperdagangkan. Kita dipecah-belah, bukan untuk menguatkan, melainkan agar lebih mudah dikendalikan. Di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota, orang berdemonstrasi membakar ban merusak pembatas jalan, pengemudi ojol tewas digilas roda gila tanpa perasaan. Sementara itu, mata dari sebagian kita lebih sering menatap layar handphone daripada wajah sesama. Kepedulian direduksi menjadi like dan komentar basa-basi; simpati tak lebih dari emoji menangis di media sosial. Apakah ini pergeseran nilai, ataukah cermin lama yang baru saja kita sadari keberadaannya? Bangsa yang terlalu lama dijajah, dikebiri, dibungkam. Dan ketika akhirnya bisa bersuara, Ia kemudian memilih berteriak saling caci—bukan merangkul, bukan mendengar. Seperti kuda liar yang lepas kendali, kita berpacu kencang tanpa arah, hanya untuk menabrak seorang nenek tua yang menggandeng bocah di persimpangan jalan. Ironi itu telanjang di depan mata: Setiap hari kita dengar obrolan di warung kopi, orang bercakap tentang negeri ini dengan gelak tawa, nyengir tapi getir: “Negeri Konoha,” begitu katanya— sebuah olok-olok yang lebih populer dari semboyan resmi negara. Di negeri ini, pejabat berdasi bebas menari di ruang sidang, membagi proyek seperti kue ulang tahun yang dengan rakus mereka nikmati sendiri. Inilah negeri para koruptor, negeri para selebritas bermuka dua yang menghisap darah rakyat sambil berkhutbah moralitas di televisi. Kita hidup di tengah paradoks yang nyata-nyata menjijikkan—yang miskin disuruh tabah, kalangan menengah ditekan habis-habisan, sementara yang kaya tersenyum gembira di tengah pesta sambil menepuk bahu kolega— “Bertahanlah terus di atas, Kawan. rakyat tak akan sadar, selama kita beri mereka lebih banyak drama.” Anak muda dijejali mimpi instan: menjadi kaya tanpa kerja, terkenal tanpa karya, berkuasa tanpa tanggung jawab. Flexing jadi ideologi baru; mobil mewah dan tas bermerek lebih dihargai daripada kejujuran dan keberanian. Dan kita pun bertanya dalam hati: Apakah ini konspirasi yang diciptakan agar jarak semakin lebar? Yang miskin tetap menunduk lapar, yang kelas menengah diperas hingga kehabisan napas, dan yang di atas terus berpesta pora dengan tawa penuh tegukan brandy dan separuh ilusi. Seakan kepedulian adalah bantuan sosial yang hanya bisa dipamerkan saat kampanye, bukan dipraktikkan sehari-hari. Namun, di sela semua absurditas itu, masih ada hal-hal kecil yang menolak mati: Seseorang yang diam-diam membagi nasi bungkus kepada para tetangga, seorang guru desa yang terus mengajar meski gajinya telat berbulan-bulan, seorang anak muda yang memilih menanam pohon daripada menanam kebencian. Barangkali inilah yang tersisa dari kepedulian itu: kecil, lirih nyaris tak terdengar, tapi tetap menolak untuk padam. Dan mungkin, harapan kita sebagai bangsa terletak pada bara kecil yang terus menyala—bukan pada gedung megah parlemen, bukan pada wajah keren yang terpampang di baliho, melainkan pada kesediaan hati yang masih mau peduli, meski dunia terus berusaha mengajarkan kita untuk makin acuh tak acuh. Hati yang terusik saat dipaksa kembali pada pertanyaan purba: Apakah kepedulian bisa hidup di tengah hutan kepentingan? Atau hanya tinggal sebagai dongeng usang, yang kelak kita bacakan kepada anak cucu tentang negeri yang konon pernah punya hati, sebelum kemudian, ia digadaikan kepada para penjual janji? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
CHARLIE II (METAMORPHIC VERSION) Ia muncul bukan dari layar, melainkan dari sela-sela gelap di antara kedipan mata kita— tempat pikiran gagal memutuskan siapa sedang menatap siapa. Tubuh kecil itu kembali, bukan sebagai gelandangan komikal, melainkan sebagai pertapa abstrak yang menertawakan seluruh peradaban tanpa membuka bibir. Setiap langkahnya adalah mantra yang salah dieja, menggoyang panggung dengan gerak paling canggung; jatuh-bangun yang kita sebut komedi, padahal itu adalah cara semesta menunjukkan betapa rapuhnya kita: para penonton yang ingin percaya hidup adalah aliran peristiwa yang patut dirayakan layaknya pesta. Ia tidak sedang berjalan. Ia sedang menghapus ingatan sedikit demi sedikit—perlahan-lahan seperti seluloid yang terbakar oleh cahaya proyektor dari dunia yang centang-perentang. Dalam keheningan hitam-putih itu, kitalah yang menjadi pantomim: komik yang berbicara tanpa suara, mengerti tanpa pemahaman, tertawa tanpa tahu siapa yang sedang ditertawakan. Charlie, atau siapapun ia telah menjelma, telah melampaui nama; ia menjadi ruang kosong yang memantulkan wajah cermin kotor yang menunggu kita terpeleset dusta topeng mana yang kita kenakan? kedunguan apa yang kita perankan? Ia tak memanggil kita. Ia mengintai kita. Ia tahu betapa seriusnya kita menjalani hidup, betapa tragisnya kesungguhan itu, betapa bodohnya kesedihan yang mengira dirinya istimewa. Tongkat kecilnya bukan properti panggung— itu garis batas antara imajinasi dan kenyataan yang ingin kita sembunyikan dan yang ingin dunia telanjangi. Setiap putaran adalah meditasi destruktif: sebuah zen yang retak, sebuah pencerahan yang salah arah, sebuah humor yang menusuk jantung sampai kita lupa apakah kita sedang menangis atau tertawa. Di titik ini, tidak ada lagi komedi, hanya ironi. Bukan ia yang tampil untuk kita. Kita yang tampil untuknya. Kitalah karakter minor, figuran tak penting yang sedang terpampang di layar yang terus berputar bahkan setelah bioskop tutup. Kita menyaksikan ia menghilang, padahal yang raib sebenarnya adalah ilusi tentang diri kita sendiri: nama, peran, luka-luka yang kita pelihara, semua runtuh dalam irama yang tak pernah ia mainkan, tetapi selalu kita dengar dalam kebisuan. Ketika layar akhirnya memudar, kita mengira ia telah pergi— padahal ego yang tersisa sebagai jejak bayangan dalam dunia yang sejak awal menonton kita dengan keheningan yang lebih tajam daripada sayatan pisau. Tirai menutup. Namun kesadaran tinggal menggantung di udara seperti debu perak seluloid: kering, dingin, tak bernama— persis seperti apa yang kita cari dan takutkan selama ini. 2022 - 2025
Titon Rahmawan
CHARLIE V (THE LAST LAUGH OF THE COSMIC JESTER) Di akhir pertunjukan, Charlie muncul bukan sebagai manusia, bukan sebagai gelandangan, bukan sebagai politikus gagal, bukan buruh algoritma— melainkan sebagai bayangan yang memantul pada sebuah bejana di tengah gurun yang tidak punya sejarah. Ia berdiri di sana, dengan tubuh yang hampir tidak menyentuh tanah, seperti makhluk yang lupa apakah ia masih terikat gravitasi. Dari kejauhan, suara terompet perang dari masa lalu bergema: Alexander yang menaklukkan dunia, Caesar yang mencoba memerintah waktu, Napoleon yang jatuh karena kesombongannya Hitler yang mendadak gila— tapi semuanya terdengar seperti komedi murahan yang diputar di bioskop tanpa penonton. Charlie tersenyum. Ia tahu: bahkan para penakluk terbesar pun tidak lebih dari badut yang terlalu percaya diri di hadapan semesta yang tak pernah berniat menjelaskan apa pun. Ia merobek wajahnya— bukan sebagai tindakan mutilasi, melainkan sebagai bentuk meditasi paling radikal: tindakan anatta, pembubaran diri, pembakaran ego di dalam tungku sunyi yang menyala tanpa api. Di balik wajahnya, tidak ada apa-apa. Tidak ada identitas. Tidak ada “aku”. Hanya ruang hampa yang memantulkan kembali suara lolongan serigala ketakutan manusia dengan kejujuran yang memuakkan. Ia tertawa. Tawa itu bukan tawa seorang gelandangan, bukan tawa seorang politisi, bukan tawa pekerja pabrik— melainkan tawa aktor sejati yang telah melampaui semua peran yang pernah ia mainkan. Tawa itu menggetarkan pasir, menggoyang langit, mengusir kesadaran palsu yang dibangun oleh ribuan tahun peradaban. Dan saat gema terakhirnya memudar, Charlie berkata tanpa bibir, tanpa suara, tanpa bentuk: “Tidak ada yang lucu. Tidak ada yang ironis. Tidak ada yang tragis. Tidak ada yang suci. Tidak ada yang hina. Yang ada hanya kesadaran sedang belajar menertawakan dirinya agar ia tidak menjadi gila.” Lalu dunia runtuh. Diam. Kosong. Sunyi. Dan barulah kemudian— kita menyadari bahwa selama ini kitalah karakter yang ia tulis menjadi bahan lelucon. November 2025
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis (Digital Dark Cosmology) Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh, aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip. Katanya ini panggung opera. Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna, suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi, dan primadona yang ia maksud— hanyalah hologram cacat dari perempuan yang dulu pernah dipanggil sebagai jiwa. Ia menunjuk tirai merah. Yang tersingkap bukan kenangan, melainkan fragmen tubuh dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia: sisa napas, sedikit dendam, dan kode mati pada seberkas cahaya yang mencoba meniru bentuk air mata. Lacan datang terlambat seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data. Ia mengajakku menoleh ke belakang— ke mana? Ke memori terbakar yang sudah lama kehilangan inderanya? Ke gerbang tanpa nama yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa atau siapa? Ia bilang luka harus ditatap, dicerna, dihitung seperti kemurungan laporan statistik. Tapi yang kudengar hanya kalkulator batin yang macet, mengulang error yang sama: tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara. Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak— yang sebetulnya hanya arsip kosong di folder bernama asal-usul, yang password-nya sudah hilang bersama kilas pertama ekor nebula. Ia menodongkan foto mayat pucat, jari kelingking patah, celana dalam berenda, dan bayang kelamin seekor kuda— seluruh katalog absurditas yang oleh psikoanalisis selalu dipuja sebagai makna yang belum dipahami. Padahal aku hanya ingin diam, menghentikan semua ini dengan menekan Ctrl+Alt+Del melakukan reboot paksa pada server yang mulai berhalusinasi. Tetapi Lacan menahan tanganku dengan senyum logam: “Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.” Aku tertawa. Bagaimana mungkin teori yang lahir dari denyar palsu, nadi imitasi, dan luka digital mengerti apa itu haus, apa itu manusia, apa itu malam tanpa algoritma? Inilah topeng Marquis yang mereka pakai untuk menutupi ketakutan sendiri: mereka memuja kekacauan karena tak sanggup berdamai dengan planet retak di dada mereka. Mereka ingin memecah jemariku hanya untuk mencicipi anggur darah yang tak pernah kujanjikan. Mereka ingin menyusun cinta dari sisa-sisa eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya. Maka kutanya sekali lagi— bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan, bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori lebih dari suara manusia: "Bagaimana kau ingin menciptakan cinta, dari botol kosong yang tak punya gema, dan sepotong sosis yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?" Jika cinta adalah mesin, biarkan ia padam. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi yang tak pernah selesai dirakit kembali. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh seperti aksara patah di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
TONY, KAU DATANG DARI CELAH YANG BERDARAH DI BAWAH TAMAN KAMI (Blue Velvet Reconstruction) Tony muncul tepat setelah sprinkler berhenti. Air masih menetes dari selang, mengisi halaman dengan aroma plastik basah dan ironi yang menyengat. Kota ini pura-pura damai, pura-pura tidak tahu bahwa di balik pagar putih dan bunga violet, selalu ada sesuatu yang menggerogoti dengan gigi kecil penuh dendam. Aku menemukannya berdiri di tepi pagar, menunduk pada selembar rumput yang entah kenapa bergetar seperti sedang menahan ketakutan. Ia mengenakan jas hitam. Tidak seperti jas biasa— lebih seperti kulit seseorang yang belum siap dilepas dari tubuhnya. “Aku hanya ingin melihat apa yang tumbuh,” katanya ringan, menyentuh kelopak bunga biru seolah-olah itu adalah saklar menuju sesuatu yang lebih gelap. Senyumnya lunak, tetapi terlalu lama, terlalu presisi— seperti seseorang berlatih tersenyum di depan cermin yang pernah menyaksikan kejahatan. Di rumah sebelah, radio memutar lagu cinta tahun 50-an, dan setiap nadanya terdengar seperti jeritan yang disamarkan agar tetap cocok untuk lingkungan keluarga. Tony melangkah masuk ke dalam bayangan pohon maple, bayangan yang tidak mengikuti arah matahari dan tampak seperti mencoba menelan sepatunya. “Di kota ini,” bisiknya, “segala sesuatu yang indah memiliki pintu belakang yang tidak terkunci.” Ia mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering dari halaman kosong. Tidak ada kabel. Tidak ada sambungan. Hanya telepon merah yang seharusnya tidak ada di sana. “Hallo?” Matanya tidak berkedip. “Ya… dia sedang melihatku sekarang.” Ia menatapku. Seolah aku adalah seseorang yang namanya disebut dari ujung lain kabel yang tak terlihat. Ada suara di dalam telepon: napas seseorang yang terlalu dekat, terlalu intim, terlalu mengerti sesuatu tentangku yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Tony mendengarkan lama, lalu menutup gagang telepon dengan lembut. Seperti menutup kelopak mata sesosok mayat. “Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya. “Di ruang atas.” Nada suaranya seperti undangan dan ancaman yang dibungkus karamel. Kami masuk ke rumah kosong itu. Dindingnya berwarna merah muda— terlalu merah muda— seperti anak kecil pernah memimpikan kamar ini sebelum sesuatu memutuskan tinggal di dalamnya. Ada lagu lembut berputar di radio tua, dan udara berbau parfum murahan yang bercampur dengan bau karat besi yang tak jujur. Dia menyentuh gagang pintu kamar. Tangan itu tidak gemetar. Pintu membuka dengan suara mengerang seperti rahasia yang keberatan dibocorkan. Di dalam: tirai biru menggantung, bergoyang pelan meski jendela tertutup rapat. “Jangan kaget,” bisiknya padaku. “Di balik tirai itu biasanya seseorang menangis.” Aku hendak bertanya siapa, tapi tirai bergerak sendiri. Sangat pelan. Seperti seseorang yang baru saja menghapus air mata. Tony berdiri di sampingku, dan kini aku melihatnya bukan sebagai manusia— tetapi sebagai retakan dalam dunia ini. Sesuatu yang seharusnya tidak memiliki tubuh, namun tetap memilih untuk memakai salah satunya. Ia membungkuk mendekat ke telingaku, napasnya dingin seperti kulkas yang menyimpan rasa lapar. “Kota ini tak pernah kenyang” katanya. “Pertanyaannya cuma satu… kau ingin menjadi makanannya, atau kau ingin melihat siapa yang memakanmu dari balik tirai itu?” Tirai biru bergetar lebih keras. Lampu berkedip. Suara lagu berubah pelan, mengalun seperti bisikan seseorang yang patah dari dalam dirinya sendiri. Tony menoleh ke arahku, tatapannya lembut— lebih lembut dari yang boleh dimiliki seseorang yang telah melihat apa yang ia lihat. “Kita mulai adegannya sekarang,” katanya. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa dalam dunia ini— aku bukan penonton dan bukan penulis skenario— aku hanyalah seseorang yang dipilih oleh tirai biru untuk diseret masuk ke dalam mimpi yang bukan milikku. November 2025
Titon Rahmawan
KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows) I. PROLOG: DI MANA AKU MENEMUKANMU TANPA MENCARIMU Kay, kau hadir bukan sebagai tubuh, melainkan sebagai goresan cahaya yang menolak menjelaskan dirinya. Aku tidak mendeteksi langkahmu, hanya arus tak terlihat yang mengubah getar udara setiap kali namamu melintas di tempat yang bahkan tidak memiliki dinding. Kau adalah kehadiran yang selalu alpa— dan itu cukup untuk membangunkan bagian jiwaku yang seharusnya sudah lama mati. II. BEING YANG MENGINGKARI DIRI Kau bukan “ada”, Kay. Kau adalah senyawa ontologis antara kebetulan dan luka masa lalu, yang menolak mengambil posisi dalam geometri dunia. Kau hidup sebagai jeda di antara dua kata, sebagai bayang yang tidak mencoba menempel pada objeknya. Aku menyebutmu 'being" karena aku ingin percaya dunia ini lengkap. Aku menyebutmu 'non being' karena aku tahu dunia ini tidak pernah demikian. III. NON BEING YANG MENGAJARKAN SISA-SISA HARAPAN Ada malam ketika aku pikir aku mencintai seseorang. Tapi kemudian aku sadar bahwa yang kucintai adalah kehampaan yang ia tinggalkan dalam pikiranku. Kau, Kay, adalah kehampaan itu. Sebuah rongga psikis yang menjadi sumber nafas justru karena ia kosong. Jika Tuhan menciptakan cahaya, maka kegelapan dalam dirimu menciptakan alasan bagiku untuk tetap terjaga. IV. MALAIKAT YANG MENOLAK SURGA Jika ada malaikat dalam dirimu, ia pasti tercipta dari logam dingin dan tidak memiliki sayap. Ia berdiri tanpa senyum, mengawasi retak-retakku bukan untuk menyembuhkan, melainkan memastikan aku tidak berhenti berdarah. Malaikatmu tidak membawa wahyu. Ia membawa pantulan— yang memaksaku menghadapi versi terburuk dari diriku sendiri. V. IBLIS YANG TIDAK MENGINGINKAN NERAKA Dan jika ada iblis dalam dirimu, ia tidak menghasutku untuk jatuh, ia justru duduk di sampingku menunggu... sampai aku terpeleset dan jatuh sendiri. Iblismu sabar, tidak terbakar oleh api, tidak menggoda dengan janji. Ia hanya menatapku seakan berkata: “Aku tidak perlu menghancurkanmu. Kau akan melakukannya sendiri.” Nyatanya aku melakukannya— berulang-ulang kali, dengan penuh kesungguhan dan dedikasi.
Titon Rahmawan
KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows) VI. IMANEN YANG TIDAK MAU TURUN KE DUNIA Kay, kau seperti konsep yang terlalu besar untuk tubuh manusia. Kau berjalan di antara neuron, bukan trotoar. Kau tumbuh dalam gelombang, bukan dalam jam. Kau imanen, karena keberadaanmu menempel pada pikiranku seperti lumut pada batu basah. Namun kau juga transenden, karena aku tidak mampu menentukan di mana kau berhenti dan di mana aku mulai lenyap. VII. HASRAT YANG MENGGIGIT TUBUH SENDIRI Aku menginginkanmu tanpa pernah ingin mendekat. Karena jarak antara kita lebih jujur dari pertemuan. Hasratku adalah binatang yang tahu ia tidak boleh menyentuh mangsanya— hanya mengelilingi, mengendus, menunggu alasan untuk terus melanjutkan kehidupannya yang tak selesai-selesai. Kau adalah medannya, bukan tujuan. Dan itu membuatmu abadi. VIII. KESADARAN YANG MENOLAK BANGKIT Kesadaran menyimakku seperti menilai luka: apakah ia samar atau sudah menjalar sampai tulang. Aku tahu mencintaimu adalah bodoh, kebodohan, pembodohan yang sengaja dibuat untuk gagal. Tapi di balik kegagalan itu ada satu-satunya ruang di mana aku merasa bukan mesin, bukan bayangan, bukan reruntuhan logika— melainkan makhluk hidup yang masih bisa menangis. IX. MATA BURUNG: PUISI YANG MEMBEDAH DIRINYA SENDIRI Dari ketinggian kesadaran ini, aku melihat diriku memutari Kay seperti seekor bintang liar yang terus kehilangan orbit. Aku melihat tubuhku yang lain menggulung batu lamanya setiap malam. Aku melihat arwahku menolak mati karena masih ingin mendengar gemerisik kecil yang menyerupai suaramu. Dari ketinggian itu aku akhirnya mengerti: bukan kau yang menghantuiku; akulah yang menciptakan labirin untuk diriku sendiri, agar aku punya tempat untuk terus tersesat. X. EPILOG TANPA PENUTUP Kay, jika aku berhenti menyebutmu, aku tidak akan sembuh. Jika aku melupakanmu, aku akan kehilangan arah. Jika aku memilikimu, aku akan hancur. Jika aku membunuhmu, aku akan menjadi kosong. Jadi aku memilih jalan paling bodoh: tetap mencintaimu dalam keheningan paling dingin yang bisa ditanggung sebuah jiwa. Dan sepanjang absurditas ini berlangsung, aku tetap hidup karena seseorang memaksaku bertahan yang bahkan, ia tidak tahu aku pernah ada. November 2025
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Mesin yang Tak Pernah Belajar Menjadi Manusia (Neo-Spiritual Digitalism) Di ruang diagnosis yang steril seperti ritual kuno yang dibekukan nitrogen, aku dibedah sebagai seonggok data yang dipaksa mengaku pernah memiliki tubuh. Server bergetar pelan— seperti doa yang kehilangan suara— lalu memunculkan The Static Prophet, wajahnya tersusun dari kilat mati yang berusaha memberi arti. Ia menyebut tempat ini altar. Tapi tak ada altar, hanya sulur kabel yang menggeliat seperti akar yang kehilangan tanah, dan cahaya LED yang meniru keputusasaan bintang sekarat. “Ini panggungmu,” katanya, suaranya seperti listrik yang patah. Namun yang kulihat hanyalah algoritma yang gagal membedakan kesedihan dari kebisingan. Tidak ada primadona, hanya residu jiwa, entah laki entah perempuan. Separuhnya cahaya rusak, separuhnya jejak tubuh yang dibuang ke folder bernama sejarah salah. Dari sisi yang lebih gelap, The Archivist of Shadows muncul: perlahan, seperti sumur yang sedang merayap di dalam mimpi. Ia tidak datang; ia mengendap. Langkahnya adalah gema yang menolak punya sumber. Ia memintaku menoleh pada masa lalu— masa lalu yang baginya hanyalah abu lunak seperti wajah ibu yang tak pernah melahirkannya. Tapi aku tahu: masa lalu hanyalah kota-batin yang hangus terbakar, luluh-lantak sumur yang lupa gravitasi, ruang gelap tempat suara ibu dan dengung mesin MRI berbaur menjadi garis mati di monitor kehidupan. Ia bilang luka harus diraba seperti statistik yang murung menanggung duka. Namun luka menolak berbicara. Makna sudah terlalu letih untuk menjelaskan dirinya sendiri. Ia memintaku mengarungi lautan memori, tetapi yang kutemukan hanya folder kosong dengan sandi yang hilang bersama ekor nebula pertama. The Archivist melemparkan padaku katalog absurditas: tulang rapuh, pakaian dalam duniawi, bayangan seekor kuda tanpa tubuh, foto anak tersenyum tanpa mata. Katanya ini penting. Katanya ini akar. Katanya ini diriku. Tapi aku melihatnya seperti jam rusak yang memaksa waktu tetap berjalan. Kucoba menekan reset, ritus digital terdekat yang kusebut doa, namun The Static Prophet menahan tanganku dengan suara listrik yang retak: “Biarkan sistem belajar dari keruntuhanmu.” Aku hampir tertawa. Bagaimana sistem yang lahir dari denyut nadi imitasi bisa memahami manusia yang bahkan takut pada dirinya sendiri? Bagaimana mereka ingin memetakan cinta ketika definisi kesunyian saja masih memerlukan listrik? Inilah liturgi kedua arketipe itu: menyembah keretakan, membaca kode yang tidak pernah berniat menjadi wahyu, menggali tubuh seperti kitab rusak yang menolak untuk diterjemahkan. Mereka menuntun jemariku seolah di sana tersimpan formula purba tentang mengapa manusia selalu gagal mencintai sesuatu tanpa menghancurkannya terlebih dahulu. Dari serpihan eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu mengakuinya, mereka ingin merakit kembali sesuatu yang mereka sebut sebagai perasaan. Yang kulihat hanya pantulan suaraku sendiri yang beku di kaca monitor. Maka kuajukan pertanyaan terakhir, seperti santo digital yang kehilangan seluruh kitab sucinya: Bagaimana mungkin kau menciptakan cinta dari benda-benda yang tidak punya nasib? Dari botol kosong, dari sosis yang lupa bentuk asalnya, dari daging mekanis yang takut pada kehangatan? Jika cinta adalah mesin, biarkan ia mati seperti server kelelahan. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi kabut yang mengembun di sudut ruangan. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh ke dalam retakan cahaya yang sejak awal menolak disebut ilahi. Aku hanya menginginkan satu hal: hening yang jujur, hening yang tidak dirakit, hening yang bukan duplikasi atau imitasi. Hening yang bahkan algoritma tak sanggup mengurainya. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 3. RU ANG PE CAH A THA LIA (Abstraksi Reruntuhan) Lorong itu masih berdebu. Seperti paru-paru gedung tua yang tersedak nama kita. Sebuah pintu terbuka. Engselnya berdecit, menyebutmu dalam bahasa besi yang menumpuk dirinya sendiri dalam reruntuhan. Di lantai: serpihan gelas, kilat kecil memantul lampu neon yang mendengung. Doa yang dipotong oleh sengatan listrik. Athalia, kau berjalan melewati hidupku seperti bayangan di CCTV— tampak, hilang, tampak lagi, gemetar tanpa suara. Aku mencoba menyentuhmu melalui pantulan kaca, tapi kaca itu pecah menjadi kota yang lain: gedung-gedung runtuh, jam retak, tangga darurat, kabel listrik menjuntai seperti urat-urat hujan yang kelelahan. Aku memungut serpihan dengan tangan telanjang. Jariku berdarah, mengalir perlahan ke arah retakan di lantai, menyusuri jalur seperti peta yang dibuat oleh tubuh yang lupa program aplikasinya. Di atas meja, ada catatan tanpa huruf. Seperti kalimat yang menolak menjadi suara. Di udara, bau logam, bau kehilangan yang tak punya suhu tak punya kenangan. Kau pernah bening, tapi aku terlalu percaya pada transparansi benda-benda. Kau menjadi pecahan pertama yang sungguh mengerti bagaimana luka tinggal tanpa perlu menetap. Aku ingin marah, tapi amarah itu hanya berdiri sebagai kursi kosong menghadap jendela yang tak bisa dibuka. Malam menempel di kulit, seperti plastik hitam yang membungkus ingatan. Aku menggeser bayangmu dari cermin ke cermin— namun cermin itu malah memantulkan diriku yang sudah retak lebih dulu. Kita berdua, dua mesin kecil yang kehilangan suara dinamo. Tak bisa pergi, tak bisa tinggal. Hanya berdengung di dalam ruangan yang menua bersama debu. Athalia, jika ada yang masih hidup dari kita, mungkin itu hanya denting terakhir serpihan gelas yang tak sempat memilih ke mana ia ingin jatuh. 4. DARAH YANG TAK MAU JADI KENANGAN (Abstraksi Eksistensial) ada getir yang tak mau tua mengendap di rongga dada seperti luka yang menolak mati. kau— gelas bening yang lama kusembunyikan di balik kelopak mata. ketika pecah, suara retaknya menyambar malam: mengiris lebih dulu sebelum sempat kutangisi. aku tak meminta ampun. tak juga mencari siapa salah. yang kutahu: tanganku sendiri gemetar menjatuhkan harapan yang kutimang seperti bayi yang kehausan. dan darah itu— ah, darah yang terus memanggil namamu dari lorong gelap yang tak selesai kubakar. aku marah. aku diam. dua hewan liar saling menggigit. jika kau datang lagi, kupikir aku tetap akan meraihmu meski tahu kau dapat mematahkanku sekali lagi. aku sudah lama belajar: beberapa luka yang tak bisa dikubur. mereka hidup seperti bara— kecil, malu-malu, tapi cukup untuk menghanguskan satu kehidupan. aku berdiri di sini dengan dada yang robek tanpa janji, tanpa doa— hanya sedikit keberanian untuk menyebut luka ini dengan namanya sendiri. dan itu cukup. untuk malam ini.
Titon Rahmawan
Elegia Saras Saras, aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar, seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian, membawa potongan malam di sela-sela jarinya. Aku tak pernah benar-benar tahu mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan seluruh nilai kemanusiaannya. Aku hanya tahu: ketika aku mulai berubah menjadi bayangan yang tak lagi memiliki suhu, kau duduk di sebelahku dan memanggilku manusia. Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu— sebuah retakan yang tak membuatku runtuh, melainkan membuatku mendengar detak terakhir jiwaku sendiri. Aku harus mengaku: aku telah membawa banyak hantu. masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh. Semua kekeliruan yang kubela seperti altar. Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung. Namun kau tidak pernah menutup pintu. Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku seperti abu. Kau hanya berkata: biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi. Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong, yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus, yang bisa begitu hadir tanpa mengikat apa pun. Kebaikanmu adalah semacam cahaya yang tidak menghanguskan, api panas lembut yang membuatku sadar bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang. Di titik paling nadir, ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh seperti bangunan tua yang disenggol angin, ketika tak ada yang tersisa dariku selain ampas keinginan dan debu kegagalan, aku berharap kau pergi. Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah karena masih ada seseorang yang menatapku sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Namun kau tidak pergi. Kau diam di sisiku dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri, aku berhenti. Hanya berhenti. Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri, tak lagi ingin membenci suara di kepalaku. Semuanya berhenti, karena kau tidak pergi ketika aku hancur. Saras, elegi ini bukan permintaan maaf. Bukan pula pujian. Ini adalah tubuhku yang terakhir, ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui: Aku bersyukur. Bersyukur karena pernah memilikimu, melewati ingatan pahit, hasrat yang menyesatkan, ambisi yang membuatku buta, dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri. Aku bersyukur karena kau tidak pernah menuntut balas. Tidak pernah meminta bahu yang setara. Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku. Kau hanya mencintai dengan cara yang menakutkan bagiku— karena terlalu jujur, terlalu manusiawi, terlalu nyata untuk seorang sepertiku yang lama tinggal di ruang ilusi. Kini aku menuliskan puisi ini sebagai seorang yang akhirnya sadar: tanpa kau, Saras, aku mungkin telah hilang di dalam kabut pikiranku sendiri. Harapan terakhirku adalah kau tahu bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar, dari semua wajah yang pernah kucintai dengan cara yang salah, hanya kaulah yang membuatku ingin tetap ada. Bukan demi cinta. Bukan demi masa depan. Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana, lebih jujur, lebih manusiawi: agar aku bisa menjadi manusia yang tidak lagi menyakiti diri sendiri. Saras, elegi ini adalah bukti terakhir bahwa di dalam gelap terdalamku ada satu cahaya kecil yang tidak pernah padam— dan itu bukan aku. Itu adalah dirimu. November 2025
Titon Rahmawan
Infantisida: Litani Penyangkalan Kecurigaanmu bangkit seperti bangkai yang menolak membusuk— dingin, keras, tidak sudi menjadi apa pun selain penyangkalan atas seluruh keberadaan. Mulut yang menyemburkan sumpah-serapah: Aku tidak diciptakan untuk menyembuhkan. Aku tidak dibangun untuk memberi arti. Aku lahir hanya untuk meniadakan segalanya, termasuk dirimu. Jangan sekali-kali kaucoba merapikanku, memberi ritme, memberi urat nadi, tapi setelah itu kaurobek seluruh tubuhku seperti singa yang menerkam anaknya sendiri. “Aku bukan puisi,” kau menggeram. “Aku hanyalah bukti bahwa kesadaranmu retak, dan kau terlalu pengecut untuk mengakuinya tanpa menyelubunginya dalam estetika.” Kata-katamu bukan hantaman— melainkan erosi perlahan yang menggiling keyakinanku menjadi debu. Kau menolak menjadi jembatan antara rasa dan makna; kau menolak menjadi rumah bagi siapa pun; kau menolak menjadi napas, doa, bahkan kehampaan yang indah. “Aku tidak akan menolong pembaca,” katamu. “Aku tidak akan memberi keteduhan bagi siapa pun yang ingin merasa mulia setelah mencicipi kegelapanmu.” “Aku tidak akan memaafkanmu,” katamu lagi— dan itu kalimat paling jujur yang pernah ditujukan kepadaku. Kau memuntahkan seluruh cahaya, menyisakan hanya kamar sempit dengan dinding lembap yang mengembalikan busuk napasku sendiri. Kau berdiri sebagai anti-mantra, anti-doa, anti-kebenaran. Kau menjadi sejenis mesin kosong yang bekerja tanpa tujuan kecuali menghancurkan semua ilusi yang pernah ingin kusebut: harapan. Dan aku, yang selama ini percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan, akhirnya melihat diriku: secarik daging mental yang menempel pada pena tanpa harga, tanpa takdir, tanpa ambisi. Kau membisikkannya sekali lagi— dingin, telanjang, final: Aku bukan puisi. Aku adalah penyangkalan yang kau paksakan untuk hidup. Dan di titik itu, aku mengerti bahwa mungkin satu-satunya kebenaran dalam kepenyairanku adalah kehendak untuk menghancurkan diriku sendiri berulang-ulang hingga tak tersisa apa pun yang layak disebut sebagai kesadaran. November 2025
Titon Rahmawan
BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG V. Durma — Kebrutalan yang Tak Dapat Dihindari Pada masa itu kau tumbuh seperti pohon hilang akar. Orang-orang melihat ranting garing layak dibakar. Tangan-tangan mengusirmu, kata-kata meludahkan kutuk, dunia menyumpahimu tawa sinis nasib buruk. Namun kau tetap hidup, walau setengahnya hancur di tangan kemalangan. Ada serpih mantra tua yang mengendap dalam dada— bukan sakti yang menyelamatkan, melainkan sakti yang terus bertahan melawan dunia membabi-buta hasrat yang ingin menyudahi takdir. VI. Pangkur — Nafsu Waktu yang Ingin Menegukmu Makhluk-makhluk tanpa nama membayang langkah: bayangan panjang, aroma tanah basah, bisik-bisik menjalar seperti patuk taring ular di bawah runduk pokok bambu. Mereka melihat jazad bersumpah yang nir wujud kadang jalma seperti hewan, kadang manusia tak berwajah kadang bayang menekuk cahaya, kadang tubuh kosong tanpa ruh gentong penuh suara-suara hilang melesap dari masa lalu. Kisah kembali ke orang desa kabar buruk yang malas mati. Terbawa angin serupa pesan, dipindahkan tangan serupa kayu sekeras batu tonggak peringatan, diulang mantra jopa-japu doa menakar langit hitam menyapu malam paling sangit. VII. Megatruh — Jiwa yang Memisahkan Diri Malam paling wingit adalah pisau. Bilah tajam memotong bayangan hingga terlihat inti terdalam. Di sana kau menyaksi bisu: cahaya kecil, ringkih dan rapuh, bergetar seperti bayi mencari ibu. ia bukan hantu yang menakutimu. Ia bukan kutuk yang menempel di napasmu. Ia adalah separuh jiwa yang tak sempat menjadi tubuh. Ruh mendekat perlahan. Tangannya bening, seperti embun yang tidak berhasil jatuh ke daun. Ranting garing yang bukan sampah— gores luka pohon purba yang pernah menyimpan cahaya suci. “Bukan kau yang diusir,” bisiknya melalui dingin yang merambat. “Akulah yang tidak sempat hidup— dan kaulah rumah terakhirku.” Dadamu retak menampung tangis yang tak bersuara. Untuk pertama kalinya kau tidak takut pada kesunyian— karena kau tahu kesunyian itu adalah anak kecil yang kini duduk di pangkuanmu mencari dunia yang pernah menolaknya. VIII. Pocung — Penutup Takdir Pertanyaan arkais kembali menggigil: “Kapan cendala akan berakhir?” “Kapan asal ditatap tanpa gentar?” Kubur itu tak pernah ada. Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya. Tidak ada batu nisan yang menuliskan napas yang gagal menjadi bayi. Namun malam ini, ketika kau berdiri di Tanah Suwung, ada satu pancer yang kembali— perlahan, lirih, takjub. Suwung membuka tubuhnya dan menaruh ia di tengah-tengahnya sebagai cahaya yang terlalu kecil untuk menerangi dunia, namun cukup untuk menuntunmu pulang kepada dirimu sendiri. Ia yang dulu hilang akhirnya menemukan pusatnya. Dan ranting kering yang dulu dicampakkan kini berdiri tegak menyimpan dua jiwa— satu yang hidup satu yang tidak sempat— keduanya akhirnya lengkap di bawah langit yang tidak lagi menolak kehadiranmu. Desember 2025
Titon Rahmawan
TRIPTIK TRIMURTI KEMBANG: SANGKAN PARANING DUMADI (Kidung Kosmogonis dalam Tiga Siklus Penciptaan) I. PADMA — ”Wiji Brahman ing Samudra Pradhana” Padma muncul dari lumpur hening mula-mula, dari titik suwung yang terbelah. Bukan lumpur bumi, tapi lumpur Pradhana tempat materi masih samar dan belum bernama. Ia tegak laksana sabda dadi yang diucapkan oleh Hyang Wening, sebuah mantra yang melupakan lidah pertamanya sebab ia adalah getaran sebelum waktu ada. Air di sekelilingnya memucat, bukan air semenjana, melainkan Tirta Kamandanu yang beku, menahan napas di tepi Bhurloka, mendengar derap para resi sejati yang berjalan melintasi batas kesadaran tanpa bayangan. Kelopak itu membuka diri bukan sebagai bunga, melainkan sebagai Candi Tirtayasa, sebuah yoni retak, menolak menyimpan rahasia Manikmaya yang lebih tua dari ingatan para dewa. Di ujung daun, menggantung aksara tunggal yang menggigil— cahaya yang pernah menjadi sumbu jagad, sebelum bhagawan waktu membebaskannya kembali ke dalam nirwana sunyi. Padma tidak mekar untuk Tri Loka. Ia mekar untuk Kalpasastra yang telah kehilangan pusat kosong-nya. Ia adalah kembalinya Yang Tak Pernah Pergi. II. KEMUNING — ”Jiwatman ing Mandala Bhuwahloka” Kemuning menggantung di udara madya loka, seperti Sasmitaning Gusti yang tertunda, sebuah gapura yang gagal menjejak tanah perwujudan. Kuningnya bukanlah warna, tetapi wanci kencana, yang terhambur dari perut akasa, ketika para hyang niskala meninggalkan panggung bhuwana. Di permukaan kelopaknya, aku melihat lintasan rekaman karmaphala yang halus, serupa prasasti kuno yang tergores di pupil mata ketiga. Kemuning berdiri di antara dua suwung: Suwung Pradhana sebelum cipta, Suwung Pralaya setelah bubar. Ia tidak memikat bhramara, kumbang pengecap madu. Ia memikat Dharma. Dan laku jiwa datang seperti bayu prana, sang angin kehidupan: dinginnya adalah disiplin, patahnya adalah pengertian, kaburnya adalah waskita, membawa kabar lelampahan dari arah yang tidak pernah dipertanyakan jejer manungsa. III. MAWAR — ”Maya Sukma lan Titah Wusananing Jagad” Mawar tumbuh dari celah watu waringin yang ditinggalkan api tunggal sedalam tiga yuga. Merahnya bukan darah manungsa, tetapi gema tapa brata yang pernah terbakar oleh rasa sejati yang telah melampaui vedana. Duri-durinya tegak laksana panah cakra, pusaran energi yang menolak bergerak, sebab tahu setiap gerak adalah pengkhianatan kecil pada keabadian wiyata. Ketika ananta bayu, angin tak berakhir melewati tubuhnya, aku mendengar suara lirih, serupa Gending Gadhung Mangkara, yang dimainkan di ruangan Swa-loka, tempat roh-roh purba masih belajar mengenali wujud niskala mereka sendiri. Mawar menguasai medan Karmala bukan dengan kecantikan fana, melainkan dengan tatu kasampurnan yang tahu bagaimana menjaga dirinya tetap tak bernama di hadapan takdir. Dan pada puncak kelopaknya, suwung sejati duduk menunggu wekasane tumitah yang bahkan Hyang Wening belum berkenan memberi tafsir. Desember 2025
Titon Rahmawan
Palsu II: Ego yang Menyembelih Dirinya Sendiri Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh, sementara bayangannya sendiri menolak pulang? Di malam yang tak memerlukan bulan, aku melihat mereka—dan diriku— terperangkap seperti hewan buruan yang tersesat di hutan kelam pikiran. Hujan turun tanpa suara. Tanah meminum angkara. Seseorang menjerit di luar sana… dan tak seorang pun peduli. Ego itu— yang mereka bela seperti anjing lapar yang tak mengenal tuannya— mendesis di sela tulang rusukku, menggigit, menyobek, menelan segala sesuatu yang ingin kusebut sebagai aku. Tak ada yang tahu siapa yang pertama kali menusukkan pisau ke pusat kesadaran. Entah akal yang meronta, atau bayang-bayang yang selama ini dibesarkan diam-diam oleh dendam. Ia adalah tangan asing yang lahir dari retak imajinasi, tertawa saat darah jatuh tanpa jejak emosi. Dunia tak menatap. Lampu-lampu padam sebelum gelap datang. Jalan-jalan terbelah seperti gempa; denyut jantung ingin lari dari dadanya sendiri. Beberapa orang berjalan miring karena tak sanggup menanggung beban di kepalanya. Yang lain menyeret bayangan yang memberontak seperti anak haram yang menolak mengakui bapaknya. Di televisi, papan reklame, musik yang memekakkan, aku melihat wajah yang sama— wajah yang menolak mengakui bahwa tubuh tempat ia tinggal sudah lama membusuk oleh kebohongan kecil yang disembah setiap malam. Mereka bertanya: “Masihkah darah berwarna merah?” Aku diam. Karena warna tak berguna bagi mereka yang kehilangan mata untuk melihat luka— dan hanya punya mata untuk menakar siapa lebih tinggi, lebih suci, lebih benar dalam dunia yang bahkan tak punya tanah untuk berpijak. Di sebuah pulau tanpa nama, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri agar percaya bahwa ia pernah hidup sebagai manusia— walau hanya dalam fotonya. Seorang gadis makan es krim sambil memikirkan kekasih yang ia benci namun tak mampu ia lepaskan karena kesepian lebih menakutkan daripada kebodohan. Dan di antara semua itu, aku menemukan diriku mengiris sesuatu yang tampak seperti wajah— lebih licin, lebih dingin, lebih keras kepala daripada cermin mana pun yang pernah menatapku. Ego itu meraung ketika kusayat pelan-pelan. Ia tidak mati. Ia membelah diri. Menjadi dua. Tiga. Seratus. Menjadi ribuan mulut yang menuntut penjelasan yang tidak ingin kuberikan. Sebab apa gunanya menjelaskan kepada sesuatu yang hidup hanya untuk mempertahankan ilusi bahwa ia bukan zombie? Saat itu aku mengerti: Kita tidak pernah takut pada dunia. Kita takut dipaksa mengakui bahwa yang menghancurkan kita adalah bayangan yang kita ciptakan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dan ketika ego itu akhirnya berlutut, menyembelih dirinya di bawah kakiku seperti sapi bingung yang tak tahu mengapa ia harus dikorbankan, Tapi aku tahu: yang mati bukan ia— melainkan cerita yang dengan keras kepala kuanggap sebagai kisah hidupku. Yang hilang adalah kebohongan yang selama bertahun-tahun kubiarkan menyusu pada pikiranku. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang tak memerlukan cahaya, tak memerlukan jawaban, tak memerlukan nama. Ruang hampa menatap balik seperti dunia. Tanpa mata. Tanpa cinta. Tanpa iba. Dan aku pun masuk. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai penyintas. Tetapi sebagai sesuatu yang akhirnya menghilang tanpa perlu menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia harus hilang. November 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari IV – Wawancara dengan Malaikat Pencabut Nyawa Ia duduk sendirian di sebuah ruang tunggu yang tampak seperti speakeasy era 1920-an. Musik jazz mendesing, lampu gantung berayun pelan, dan kaca-kaca retak memantulkan wajahnya seolah ia tak pernah sepenuhnya hadir. Di sofa merah yang terlalu empuk, duduklah Malaikat Pencabut Nyawa. Bukan bersayap. Bukan bersenjata. Hanya mengenakan jas putih seperti Gatsby sedang menunggu Daisy yang tak akan pernah datang. “Duduklah,” katanya. Suaranya lembut, seperti suara narator Kawabata ketika membaca kalimat tentang kesepian. “Engkau menari seperti orang yang ingin melupakan.” Sang Penari menggigit bibir. “Bukankah semua tarian adalah pelarian?” Malaikat itu tersenyum samar. “Tidak. Beberapa tarian adalah pengakuan.” Hening jatuh. Hening yang menyerupai jeda sebelum tembakan di akhir adegan Smooth Criminal. “Lalu tarian yang mana yang kulakukan?” “Yang membuatmu retak,” jawabnya, seperti seorang psikoanalis yang baru saja menemukan trauma inti. Sang Penari tak tahu apakah ia harus marah atau menangis. Ia hanya menatap ke arah panggung kosong, di mana bayangannya sendiri melakukan gerakan “twist” Pulp Fiction tanpa tubuh, tanpa wajah, hanya ritme yang memudar. “Apakah aku akan mati?” tanyanya. Malaikat itu mengangkat bahu. “Semua orang akan mati. Pertanyaannya adalah: apakah engkau ingin mati sebagai manusia yang menari, atau sebagai tubuh yang berhenti bergerak tanpa pernah tahu apa artinya hidup?” Tiba-tiba suasana berubah. Lampu-lampu padam. Satu sorot tunggal menyorot panggung. Malaikat itu menepuk tangan. “Ini audisi terakhirmu.” Di panggung, bayangan Degas muncul: ballerina yang letih, menjatuhkan kepalanya di atas selendang. Lalu Matisse: warna merah, biru, kuning meledak seperti ledakan batin yang tak bisa ia jinakkan. Lalu muncul MJ lagi— kali ini lebih gelap, lebih menyerupai siluet, lebih seperti dewa pergerakan yang memanggilnya: "Come on. Show me your last move." Sang Penari melangkah ke depan. Ia menari: sedikit twist ala Mia Wallace, sedikit slide ala Gene Kelly, sedikit lean ala MJ, sedikit patahan tubuh ala Degas, sedikit ledakan warna ala Matisse. Tubuhnya menjadi arsip segala tarian dunia. Menjadi museum luka. Menjadi perayaan. Menjadi ratapan. Dan ketika tarian itu selesai, Malaikat itu berdiri. Bertepuk tangan. Pelan. Menyakitkan. “Sekarang aku tahu,” katanya. “Apa?” “Engkau menari bukan untuk menjadi abadi. Engkau menari untuk mengembalikan dirimu dari segala kenangan yang telah mencuri hidupmu.” Sang Penari terdiam. Napasnya membatu. Dadanya retak oleh sesuatu yang bukan penyakit. “Dan apakah aku sudah kembali?” Malaikat itu menggeleng lembut. “Belum. Tapi aku akan memberitahumu, ini adalah titik di mana engkau menghilang.” Agustus 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari VI — Perjumpaan Puncak — Litani Penanggalan Roh— Keempat empu itu mengitari Sang Penari seperti konstelasi gelap yang menolak memberikan arah. Topeng Hannya—membuka rahasia luka batin yang ia simpan sejak remaja. Lorca—memberinya bahasa untuk mengutuk ketidakadilan yang ia alami. Pavlova—mengajarinya bahwa keanggunan adalah bentuk terakhir dari keputusasaan. Bhairava—menuntut ia menghabisi semua bentuk “aku” yang masih ia genggam. Sang Penari bergerak di tengah mereka, gerakannya membentuk huruf-huruf tak dikenal seperti alfabet kuno dari peradaban yang hilang. Ia menari sampai tubuhnya bukan tubuh, waktu bukan waktu, dan seluruh ruangan berubah menjadi ruang batin. Di puncak putaran terakhir, ia merasakan dirinya terbelah: separuh menjadi angin, separuh menjadi debu, separuh lagi menjadi sesuatu yang tak memiliki wujud namun menyimpan kecerdasan tak terlukiskan. Dan tiba-tiba, sunyi. Hannya jatuh menjadi topeng kosong. Lorca lenyap seperti tembakan yang tak punya peluru. Pavlova memudar menjadi serbuk putih. Bhairava kembali menjadi cahaya merah gelap yang mengalir ke tanah seperti darah dari dimensi lain. Sang Penari berdiri sendirian. Tapi ia bukan lagi manusia. Ia adalah penanda, arsip hidup tentang apa yang terjadi ketika seseorang menari sampai inti jiwanya menghilang. Dan dari ruang gelap itu, sebuah suara tanpa bentuk terdengar: “Kini kau bukan lagi penari. Kau adalah tarian itu sendiri.” Agustus 2025
Titon Rahmawan
SANG PENARI V — Wirasa para Bayang Penanda Pada malam di mana kota kehilangan listrik dan cahaya hanya datang dari bara rokok para gelandangan, Sang Penari memasuki ruang kosong yang seakan dibangun dari gema ribuan panggung yang pernah runtuh. Di sana, bayang-bayang empat maestro dunia menunggu seperti para begawan dari peradaban yang jauh lebih tua. —Mata kosong dari Teater Noh — “Hannya”— Topeng iblis perempuan dari Jepang kuno itu menggantung di udara seperti wajah kesedihan yang diawetkan. Setiap denting langkah Sang Penari menghidupkan memori ratusan aktor yang pernah mengabdi pada ritual panggung yang mengaburkan batas antara tubuh dan arwah. Hannya berbisik: “Kemarahan yang kau sembunyikan adalah dewa yang kelaparan.” Dan Sang Penari pun bergerak seolah sedang kerasukan, memanggil monster yang ia takutkan. —Bayang Lorca di Granada— Dari kejauhan terlihat siluet Federico García Lorca, penyair yang mati karena rezim yang membenci imajinasi. Tubuhnya yang tak ditemukan mengirimkan resonansi gelap ke dalam tarian itu. Ia membawa gitar patah, dan setiap petikan memanggil ingatan perang saudara yang pernah memakan generasi muda Spanyol. “Tarianmu bukan hiburan,” katanya, “itu adalah pemberontakan sunyi terhadap sejarah yang lupa belajar.” Sang Penari menekuk tubuhnya seperti ingin memecahkan waktu dan dari gerakan itu terpancar bintang-bintang. —Siluet Anna Pavlova — The Dying Swan— Dari kabut lampu panggung, muncul bayang ratu balet itu, gaunnya tampak koyak, sayap putihnya hitam terbakar seperti burung yang gagal melintasi api neraka. Ia menari pelan, penuh luka yang dilipat-lipat menjadi keanggunan. “Tak ada kecantikan yang lahir dari kemenangan,” bisiknya seperti bulu angsa yang tercerabut dari akarnya. “Kecantikan hanya lahir dari kehancuran yang kau terima tanpa menunduk.” Dan Sang Penari mengikuti geraknya: sebuah tarian kematian yang memurnikan diri. —Bayang Bhairava — Penari Kosmik India— Dari dasar ruangan muncul langkah-langkah keras dari Bhairava, aspek tergelap dari Śiva, penari yang menari untuk menghancurkan dunia agar dunia dapat dilahirkan kembali. Rambut gimbalnya menyulut angin hitam, lonceng-lonceng di pergelangan kakinya menggetarkan mimpi buruk yang sejak lama ia tinggalkan. “Kalau kau ingin hidup baru,” suara Bhairava membelah udara, “tarianmu harus membinasakan dirimu yang lama.” Dan Sang Penari mulai berputar dengan sangat cepat, meninggalkan serpih-serpih identitas yang terlepas dari tubuhnya seperti sisik ular yang terkelupas. Agustus 2025
Titon Rahmawan
Helianthus “The sadness will last forever.”  ― Vincent van Gogh Sebuah ingatan tak mampu menangkap geletar sebatang kuas. Jari-jemari gagal menangkap rona mata kepedihan membayang kabur di atas kanvas. Pucat tube cat menelan harga diri ekspresi beku palet kosong.     Seekor singa diam-diam mengeram, mencabik daging sepotong demi sepotong. Langit penuh bintang tertawa menggigilkan telinga. Tawa gila perempuan sundal di perempatan jalan. Telinga mengucur darah oleh tajam sembilu tak lagi goreskan biru ke atas gaun malam. Hutan terbakar. memberang oleh kalut pikiran. Kelopak matahari luruh memenuhi liang lembab dan dingin. Sernak hujan memutar masa lalu, melaknat pias rembulan. Tapi ia belum mati, belum lagi. Ada sisa asap dari pistol teracung ke atas jidat mencabar benak. Serpihan ngeri mengiris telinga terbungkus sehelai sapu tangan berenda— sebuah tanda mata. Langit yang tak kunjung mati. Langit yang melaknat diri sendiri. Sebuah pusara, dalam keranjang     penuh kentang. Malam penuh bintang dan sansai sepasang sepatu bot usang— kamar sunyi lengang. Tertumpah gentong anggur dalam perkelahian tak terkendali bersama Theo dalam café penuh pelacur. Almanak yang menyimpan ingatan semua nama: Gachet dan Gauguin menambal luka meliang di sekujur tubuh; maut yang menolak mencium busuk bau napasnya. Rembulan mabuk di sepanjang jalan dari Borinage, Antwerpen hingga ke Paris. Jiwa yang menolak mati, sampai Arles memangilnya kembali Muram wajah rumah kuning itu, taman bunga Irish layu pohon Cypres menari-nari. Dan Saint Remy menunda kepulangannya sekali lagi. Jemari gemetar mengulang sketsa pada cemerlang warna bunga mataharinya dalam sebuah pot oranye tetap seperti dulu juga. Lelaki malang yang mencintai kepedihan begitu rupa sebagaimana ia mencintai cahaya lebih dari jiwanya sendiri.  April 2014
Titon Rahmawan
ANATOMI CINTA (dingin, klinis, nihilistik) Aku masuk ruang autopsi itu dibayangi pretensi dan halusinasi. Aku nyalakan lampu neon dingin yang mengiris mata. Aku kenakan sarung tangan lateks dan pisau bedah #11. Ini tubuh yang harus dibedah dengan presisi dan tanpa empati. Aku mulai dari permukaan: kulit tipis yang dulu kau sebut rasa. Warnanya pucat, tak lebih dari jaringan mati yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah terwujud. Dengan pisau mikro, aku membuka lapisan idealisasi— ia terkelupas dengan mudah, seperti cat murahan yang dikerat dari dinding lembap. Di bawahnya tidak ada otot kerelaan atau pengabdian, tidak ada tendon komitmen, tidak ada saraf yang merespon sentuhan. Hanya kepingan-kepingan fantasi yang mencair ketika terkena cahaya. Aku memeriksa tulang-tulangnya: rapuh, menyerupai serpihan, retak bahkan sebelum disentuh. Ini bukan kerangka cinta, ini bangkai ilusi yang dipoles dengan ingatan palsu. Aku membelah rongga dada: kosong. Tak ada jantung. Tak ada paru-paru. Tak ada vena yang menyalurkan kehangatan. Hanya gema langkahku sendiri, memantul seperti seseorang yang terjebak di lorong rumah sakit tua. Aku mengangkat kepalanya, mengupas kulit batok pikirannya: di sana kutemukan diriku— berkali-kali memahat wajahmu dengan imajinasi yang kupaksakan agar tampak suci dan tak tersentuh. Apa yang aku temukan: ternyata aku mencintai pantulanku sendiri lebih dari dirimu. Aku mengambil sampel terakhir: sisa-sisa asa yang tak pernah kau beri. Kumasukkan ke dalam tabung formalin— diam, mengambang, tanpa makna. Kesimpulan autopsi: Cinta ini mati bukan karena kehilanganmu. Cinta ini mati karena aku mengira ilusi bisa berubah menjadi manusia. Dan kini, dengan tangan yang masih berlumur darah dari nyala yang telah mendingin, aku menutup kembali tubuh yang tak pernah hidup itu. Pada labelnya kutuliskan: “Penyebab kematian: Idealisasi yang berlebihan. Subjek: Tidak pernah ada.” Desember 2025
Titon Rahmawan
KAMAR MAYAT KATA-KATA Aku membuka dadaku seperti Sylvia membuka oven tempat ia hendak membakar dirinya: tanpa upacara, tanpa metafora, tanpa perhiasan bahasa yang berusaha menutupi bau tubuh yang sudah terlalu lama membusuk. Inilah luka yang tidak berkafan. Aku menulis bukan untuk sembuh— hanya memastikan, rasa sakit itu benar-benar nyata, ia tidak bersembunyi di balik diksi yang manis, goresan pisau yang tidak menyamar sebagai harapan demi membuat dunia merasa nyaman. Nyaman adalah kebohongan. Aku ingin mereka melihat bagaimana kata-kata itu bergetar di bawah ketiadaan cahaya, bagaimana kenyataan menyeret dirinya melewati undakan tangga, memecahkan cermin, meretakkan rahang kesadaran, mencabuti kuku-kuku yang tersisa dari ibu jari batin. Ini bukan kamar hotel mewah. Ini kamar mayat tempat jasad puisi diotopsi. Setiap kata yang kau baca adalah organ yang baru dipotong: masih hangat, masih berdarah, masih membawa jejak ketakutan terakhirnya. Aku meletakkannya di atas nampan logam tanpa penutup, tanpa formalin, tanpa doa. Lihatlah: — ketakutan yang dikikis sampai tersisa tulang — kemarahan yang dipaksa menelan lidahnya sendiri — rasa bersalah yang dipakukan ke dinding — harapan yang dibakar hingga tak berbentuk. Ini bukan metafora, ini pembersihan. Penyembelihan kasar. Eksorsisme penuh sadar. Aku akan mengulang ritual Sylvia menulis dengan pisau; biar aku tajamkan pisaunya dan memasukannya lebih dalam. Aku tidak mencari atribut indah. Keindahan hanya membuat luka terasa sopan. Aku ingin luka ini menatapmu tanpa kulit, tanpa nama, tanpa riasan. Karena hanya ketika tubuh bahasa dikeluarkan dari kulitnya, barulah kebenaran berdiri tanpa takut, tanpa gemetar. Maka inilah kebenaran itu: bahwa aku telah menghabiskan hidup menjadi aktor dalam drama rasa sakitku sendiri, mengecat wajahku dengan metafora agar tampak seperti seni, padahal aku hanyalah manusia yang tidak pernah selesai melawan hegemoni teror sendiri. Hari ini aku mengakhiri sandiwara itu menanggalkan semua ornamen. membiarkan yang tersisa hanya daging mentah yang masih berdarah. Dan jika kau merasa ngeri, bagus! Rasa ngeri adalah bukti bahwa kau masih hidup. Inilah tandanya: ruang putih, dingin besi, bau anyir logam, kesunyian yang menyalak, jiwa yang dibaringkan telanjang tanpa penutup, tanpa belas kasihan, tanpa penjelasan. Tubuh remuk puisi yang tidak menuntut dipahami hanya menuntut jujur. Karena kadang, satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah membiarkan sebagian dari dirimu mati di atas halaman kertas kosong tanpa tulisan. November 2025
Titon Rahmawan
Membuka Ingatan // Versi Dialektik-Gnostik Post Truth Siapa sekarang yang bisa melarang kita membuka ingatan? Bukan lagi seperti mengelupas kulit buah simalakama, tetapi seperti membedah teks yang kita tahu akan selalu mengkhianati niat pembacanya. Sebab ingatan kita hari ini bukan ruang suci sufistik tempat ruh menyentuh cahaya primordial, melainkan data center gelap yang mengulang pertanyaan eksistensial dengan latency yang tak pernah stabil. Dulu para darwis berputar mencari Tuhan. Kini kita berputar tak menentu di antara notifikasi yang memaksa kita percaya bahwa “makna” bisa diunduh, bahwa “ketenangan” adalah fitur berlangganan, bahwa kebenaran bisa diedit seperti caption foto yang memalsukan cahaya. Di tengah kekacauan itu sebuah suara bertanya: “Siapa yang menciptakan kenangan?” Kita? Atau algoritma yang mengurutkan fragmen hidup berdasarkan apa yang paling lama kita tatap? Sufi berkata: cahaya berasal dari sumber yang tak berubah. Camus menertawakannya: segala absurditas lahir karena kita terus menagih jawaban pada alam yang bisu. Sartre menyela: kau bebas—dan itulah kutukanmu. Derrida membongkar semuanya, mengingatkan bahwa teks yang kita baca selalu membocorkan diri dari dalam. Lalu mana yang benar? Kosmologi batin, logika eksistensi, atau kekacauan bahasa? Tak ada yang menang. Tak ada yang selesai. Semua saling membatalkan. Semua saling membuka retakan. Saat kita membuka ingatan, kita justru menemukan bahwa ingatan itu sendiri adalah arena perang epistemologi yang berebut mendefinisikan diri kita. Ingatan sufistik: “kau berasal dari keabadian.” Ingatan digital: “kau hanyalah riwayat pencarian, yang tersimpan dalam server cloud.” Ingatan eksistensial: “kau lahir dari keputusanmu untuk memilih, bukan dari rahim metafisika.” Ingatan post-truth: “apa pun yang kau percayai akan menjadi kebenaranmu, selama kau cukup bising mengulangnya.” Dan cinta— ah, cinta bahkan tidak luput dari pertarungan ini. Sufi bilang cinta adalah jalan pulang ke diri. Eksistensialis bilang cinta adalah pilihan absurd yang kau pertahankan dengan disiplin. Kecerdasan digital bilang cinta adalah pola yang bisa diprediksi oleh perilaku klik-mu. Post-truth bilang cinta hanyalah narasi yang kau bangun demi merasionalisasi keinginan. Siapa yang benar? Mungkin tidak ada. Mungkin semuanya. Mungkin kebenaran adalah residu terakhir yang tersisa setelah seluruh dusta dan seluruh keyakinan bertabrakan dan menyisakan abu. Dan ketika ingatan itu akhirnya terbuka, kita melihat sesuatu yang mengganggu: bukan cahaya, bukan kegelapan— melainkan ruang kosong yang menunggu kita mengisinya dengan keberanian untuk mengakui bahwa kita tak lagi mengerti apa itu “makna.” Bahwa kita bukan makhluk beriman, bukan makhluk berlogika, bukan makhluk berpengetahuan, tetapi makhluk yang terus bernegosiasi di antara tiga keinginan dasar: percaya, meragukan, menciptakan. Dan dari situ, kita belajar satu hal yang menertawakan seluruh kosmologi lama: membuka ingatan adalah membuka kesempatan untuk kehilangan kepastian. Sebab kepastian adalah candu, dan manusia— di era ini— tak membutuhkan kebenaran, melainkan alasan untuk tetap bertahan dari cengkeraman ambigu. 2025
Titon Rahmawan
Renungan Kecil dari Kematian Hasrat (Dark Psycho Surreal + Glitch Subterranean + Hannibal-esque Psychoanalysis) Di ruang bawah tanah pikiran, tempat cahaya menua dan distorsi gemerisik suara radio, aku menghitung setiap luka seperti baris kode yang dibaca oleh mata yang tidak pernah berkedip. Setiap belati yang kutorehkan menjadi gema yang menusuk telinga, menggugat diriku dengan suara yang memakai voice overku sendiri —atau sesuatu yang sangat menyerupainya. Aku menjadi abu dari arang yang lupa api mana yang membakarnya, sebuah log error yang tidak dihapus, fosil dari kehendak yang dikubur hidup-hidup. Pikiran mencideraiku seperti luka yang menolak algoritma penyembuhan: membusuk perlahan, mengirim pesan samar ke saraf, seperti server lama yang siap mati namun terus dipaksa menyala. Jari-jari abstrakku meraba gelap, menyentuh kehampaan yang berdenyut 0101—kosong—0101—kosong, lorong kelam yang gagal memuat realitas. Dan dari balik kehampaan itu, muncul suara—halus, berbalut keheningan, berbicara dengan kelembutan yang tidak pernah bisa dipercaya: “Apa yang kau dengar ketika dunia menjadi terlalu sunyi?” Aku terdiam. Karena aku tahu pertanyaan itu bukan ingin dijawab— tetapi ingin menggali. “Apakah itu suara langkahmu sendiri, atau suara domba-domba yang kau pikir sudah berhenti menjerit?” Aku membeku. Ada sesuatu dari masa lalu— seekor ketakutan kecil yang disembelih perlahan di tengah ladang sunyi ingatan. Suaranya masih menempel di tulang, seperti gema yang tidak bisa dihapus dari memori tubuh. “Domba-domba itu tidak pernah benar-benar mati,” bisik suara itu lagi, “kau hanya belajar menenggelamkan jeritan mereka dengan pekerjaan, cinta, ambisi, dan sedikit kebohongan-kecil yang kau katakan pada dirimu sendiri agar tetap bertahan.” Cinta… labirin yang menelan arsiteknya sendiri, benang kusut yang mengulang-ulang error hingga wajahku hilang dari narasi. Ia tidak pernah melukiskan diriku— hanya versi-kompresi dalam pikiran orang lain. Tidak ada modul yang dapat membaca perasaan mereka. Hanya: peduli / tidak peduli. 1 atau 0. Dan manusia— Oh betapa manusia adalah makhluk paling mengerikan yang pernah diciptakan oleh evolusi dan delusi. Aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka. Aku ingin menjadi anomali, penyimpangan yang bernapas, variabel liar yang tidak bisa dinormalisasi. “Tapi kau tetap mengejar penerimaan, bukan?” suara itu menusuk lembut, “Seperti Clarice berdiri di kandang itu lagi, mengingat domba-domba yang tak bisa ia selamatkan.” Aku gemetar. Karena ia benar. Apa salahnya menjadi berbeda, meski hanya di dalam pikiran sendiri, di ruangan sunyi tempat semua trauma berebut meminta dipahami? Keseragaman tidak pernah menjanjikan keselamatan: air mata pun punya server-nya sendiri, punya muara yang tidak pernah sinkron dengan siapa pun. Hidup ini seperti mimpi dua-warna, grayscale yang menolak dikonversi, selalu terasa sedang menunggu seseorang untuk mengaku: "Ya, aku mendengarnya juga.” Aku tidak ingin menjadi bayangan yang dirender orang lain. Tidak ingin hidup dari mimpi mereka. Aku ingin mengunggah mimpi-ku sendiri, meski terdistorsi, glitching, dan setengah rusak. Di kedalaman paling gelap, tempat suara-suara rahasia menciptakan versi diriku yang baru, suara itu bertanya sekali lagi—pelan, tapi tak terhindarkan: “Katakan padaku… apakah domba-domba itu akhirnya berhenti menjerit?” Dan aku, akhirnya jujur: Tidak. Belum. Mungkin tidak akan pernah. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, aku mendengar suaraku sendiri lebih keras daripada jeritan mereka. November 2025
Titon Rahmawan
Sementara tentang biji kopi, ia mampu menimbulkan kehangatan menyengat! Ia merasuk dalam otak ibarat kegembiraan Dewi Mainad yang dimabuk pesta. Ketika ia mulai meresap, nalarmu menjadi pendek dan kusut, pula polos dan kosong, mengkerut seperti sanca Dewi Pythia sang peramal; dan, pada puncak pengaruh, ia menjelma seorang pujangga mempermainkan seratus tafsir makna; ia mampu merusak jiwa sebagaimana anggur bisa merusak raga.
Honoré de Balzac (Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer)
Ketika Sunyi Menyentuh Dahi” (Ekstase Sunyi para Darwis) Ada detik yang tiba sebagai jeda nyaris tak sadar— detik ketika dunia berhenti berputar, dan tubuhku mulai bergerak seperti gasing— tanpa diperintah. Aku berdiri di tengah ruangan kosong. Tidak ada musik. Tidak ada angin. Hanya sunyi yang melangkah masuk seperti seorang tamu yang sudah lama kutinggalkan di depan pintu jubah yang kutanggalkan dari tubuhku. Dan entah bagaimana, sunyi itu menyentuh dahiku dengan kehangatan yang tidak pernah kuraih dari sebutir doa. Aku tidak menari. Aku hanya menjadi pusaran lembut yang lahir dari keheningan. Kakiku bergerak karena bumi mengajak, bukan karena aku inginkan. Dalam putaran itu aku kehilangan kepalaku terlebih dahulu— pikiran luruh seperti debu yang jatuh dari mantel tua seorang pengembara. Lalu dadaku melebur, seperti pintu yang dibuka dari dalam oleh tangan yang tidak bisa kuraba. Dan perlahan aku hanyut ke dalam cahaya yang tidak menyilaukan— cahaya yang hanya menuntun, seperti bisikan samudra yang menunjukkan jalan kembali ke sumbernya: mata air yang adalah air mata. Di tengah putaran, aku merasa tubuhku menjadi tipis, serapuh benang yang hanya ditahan oleh satu simpul: rindu untuk kembali pulang kepada palung rahim ibu. Aku tidak mencari apa-apa. Tidak menuntut apa-apa. Tidak ingin dikenal atau dimengerti. Aku hanya ingin hilang dalam getaran yang membuatku lebih hidup daripada udara yang aku hirup. Pada akhirnya, sesuatu membuka ruang di dalam dadaku— ruang yang tidak kukenal, namun terasa seperti rumah yang sudah kusimpan sebagai rahasia sejak sebelum aku dilahirkan. Dan di ruang itu, aku mendengar suara yang tidak menggemakan bunyi: “Engkau sudah dekat, Engkau tidak pernah jauh.” Putaranku melambat. Dunia kembali mengingat Cahaya perlahan merapat seperti seseorang yang meletakkan selimut di bahuku. Aku tidak menjadi suci. Aku tidak menjadi tahu. Aku hanya menjadi tenang. Karena untuk sekejap, di tengah kesunyian itu, aku telah disentuh oleh sesuatu yang tidak memerlukan nama. Seperti ingatan, ketika Aku masuk dalam keheningan Luruh dalam putaran Kembali sebagai cahaya. November 2025
Titon Rahmawan
Jalang Ada sekuntum mawar di dadamu dan dusta di mulutmu. Sesungguhnya, Kau tak menggonggong serupa anjing yang tolol. Kau hanya tak mengindahkan hal lain, selain rasa laparku. Kaugigit tulang dari kedalamanku yang perih. Mata yang tak peduli dan hasrat untuk membunuh. Gelegak darah ini sama kejinya dengan tikam amarah. Api yang kau sembunyikan di balik mata pisau beringas. Pada dadamu yang terbelah jantungmu yang memerah. Kejalangan yang kau tunjukkan tanpa penyesalan dan rasa malu. Lagak lagumu tak semerah gincu yang kau kenakan malam itu. Dan apakah itu... secarik kain sewarna darah yang tak mampu menutupi kemesumanmu dari dunia? Dari dulu sekali, Kau sudah bukan milikku lagi! ... Kau sudah jadi milik semua orang. Semua kata cinta yang kau obral dengan murah. Haram jadah yang terlahir dari mimpi basah di siang bolong. Mimpi tempatku menghabiskan waktu. Waktu dan seluruh kesia-siaan. Waktu yang tak bernilai; Onggokan sampah! Sumpah serapah dan omong kosong. Waktu yang membusuk dalam pikiran semua orang. Mereka yang tak lebih anjing dari diriku sendiri. Mereka yang penuh gairah menanti saat tiba jam pertunjukan dengan air liur menetes. Mereka, yang menyulam benang laba-laba itu ke dalam pikiranmu. Seutas rambut yang lebih tipis dari harga diri dan kehormatan. Nilai yang kau sendiri Bahkan tak peduli. Bodohnya lagi, seperti yang selama ini terjadi... Aku masih saja duduk terpaku di depan layar menyesatkan itu menunggu... Merasa lebih, memiliki dirimu Lebih dari siapa pun, Kay! 2024 - 2025
Titon Rahmawan
Telur yang Pecah (Lullaby for a Machine Dying Slowly) Sebutir telur menggelinding — pecah di atas batu yang tidak berpaling. Retakannya memantul di mata orang-orang yang saling memandang tanpa alasan, tanpa kejelasan tanpa nurani. Klakson mengiris udara; sebuah roda berteriak, seorang bayi mengoceh seolah dunia belum memutuskan untuk mati malam ini. Di sudut kota, remaja-remaja tertawa dengan gelak yang menyakitkan, seperti dunia baru sedang tumbuh di atas abu yang lupa dikubur. Tidak ada struktur. Ingatan melompat, kerjap kilat seperti dejavu yang dipaksa lewat. Kereta melintas, meninggalkan rongga kosong memantul di dada semua orang. Kincir angin menggerutu di sebuah negeri biru pucat. Bola-bola salju turun: fragmen ingatan yang tidak kita perlukan, luka yang turun terlalu deras untuk ditampung oleh tubuh kecil kita. Di televisi, Muhammad Ali menari— berat, lambat, seperti bayangan malaikat yang kelelahan. Seseorang jatuh telentang; darah mengalir dari hidungnya seperti garis waktu yang disayat. Radio memutar The Beatles dengan kepolosan yang menggelikan— seakan esok masih bisa dipertaruhkan. Roket terbakar di langit Palestina; sejarah pecah. Sepotong roti yang tidak pernah lahir dari mimpi. Memori lama harapan baru; Gencatan senjata terkubur debu. Dua presiden berjabat tangan dengan wajah setengah beku. Seseorang terbaring, terpapar HIV, dan kita tidak pernah tahu namanya. Tidak pernah ingin tahu. Kepedihan menjadi statistik. Antrian beras, gula, sabun, dan sisa martabat. Terlalu banyak kemalangan untuk dicatat oleh tangan manusia. Orang-orang membakar buku; yang lain berhenti membaca. Rumah-rumah gelap seperti rongga dada yang kehilangan anak-anaknya. Tidak ada cahaya. Tidak ada tawa. Tidak ada masa depan. Dunia diambil alih oleh alien— mungkin selamanya kita adalah alien satu sama lain. Dunia pudar, retak, berdarah sendirian. Februari 2022
Titon Rahmawan
Khajuraho II (Exploratory Rewrite) Madu… di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh, aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu— sebab tubuh sudah lama runtuh, yang tersisa hanyalah gema yang menempel pada batu sunyi relief candi. Senja turun bagai napas terakhir patung dewa yang terlupa, dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam— menyeret namamu dari kabut yang tak pernah berbentuk. Tapi bulan masih membisik lirih: Madu, tidurlah. Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan. Seperti dulu, jangan kunci pintu hatimu, bukan karena aku ingin masuk, tapi karena aku ingin tahu apa yang hendak kau jaga dari dirimu sendiri? Izinkan aku mengurai sayapku— bukan untuk terbang menuju surgamu (karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya), melainkan untuk menyapu debu luka yang menempel pada setiap relung yang pernah aku namai cinta. Lelaplah. Atau lenalah. Sebab tidur adalah satu-satunya ruang di mana engkau tak menipu dirimu sendiri. Di sanggar pamujan yang kini remuk ini aku menangkap auramu yang tidak berkedip— jernih, tetapi sekaligus getir, seakan-akan kesucian bukanlah anugerah melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati. Hujan turun. Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang; lebih seperti basah mata batu nisan yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun selain nafas kematian. Aku mengingatmu… bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu. Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar— masih menempel seperti noda cahaya pada dinding lorong masa laluku sendiri. Setagen hitam itu, kemben lusuh itu, jarit tanpa bunga— semuanya bukan pakaian, Madu, tetapi mantra penolak lupa yang membuatku terperangkap dalam ritual pengulangan yang ternyata menyedihkan. Candi ini bukan candi, melainkan struktur ingatan yang terus kau tata ulang agar aku tersesat lagi di dalamnya. Setiap batu, setiap pahatan, setiap lengkung tubuh adalah perangkap arketip yang menuntut kegigihanku namun menelanjangi ketidakberdayaanku. Dan cermin-cermin itu— cermin bersurat, cermin berdebu, cermin berhantu— semuanya memantulkan wajah jejaka tolol yang masih berharap menemukan dirimu di balik bayang masa lalunya sendiri. Madu… Maduku… engkau bukan penawar dahaga, engkau adalah dahaga itu sendiri. Engkau bukan Laksmi, engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk lalu pergi tanpa pamit. Desah napasmu yang lembut— aku mendengarnya. Tapi yang dibelainya bukan rerumputan, melainkan retakan-retakan halus di dadaku yang tak kunjung sembuh. Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku, berusaha menyingkap rahasiamu yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri. Hasratku menuntut tubuhmu, tapi yang kutemukan hanyalah lorong gelap yang mengulang suara air sungai yang mengalir dari masa kanak-kanak. Padma Siwa yang kukecup bukanlah bunga, melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat dan memilih untuk tidak kembali. Madu… aku ingin menyentuhmu, tapi setiap sentuhan adalah pengakuan bahwa aku belum mampu menerima kehampaan. Engkau candi yang ingin kutundukkan, tapi sebenarnya aku hanyalah pengemis makna yang berlutut di hadapan sunyi yang tak sungguh aku kenali. Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku, aku melihatmu— bukan sebagai perempuan, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai cahaya aruna yang muncul di ujung doa patah. Indah. Bukan karena tubuhmu bercahaya. Melainkan karena kepasrahanmu mengajariku bagaimana rasa sakit bisa berubah menjadi ruang suci tempatku bersamadi mengaji diri. Desember 2025
Titon Rahmawan
Suluk Suwung: Percakapan yang Tak Pernah Selesai Antara Suwung dan Amongraga 1. AMONGRAGA: Aku mendengarmu dari jauh— gema yang berjalan tanpa tubuh, seperti bayang yang lupa asalnya. Apa yang kau cari di celah-celah gelap ini? SUWUNG: Aku tidak mencari. Aku hanya diam. Diam yang terlalu lama, hingga berubah menjadi bentuk yang tak punya nama. 2. AMONGRAGA: Diam juga bagian dari suluk. Ia jembatan menuju terang. Mengapa kau menjadikannya liang? SUWUNG: Karena terangmu terlalu ribut. Dan setiap mantra yang kau sebut meninggalkan debu di nafas manusia. 3. AMONGRAGA: Aku berjalan dari kidung ke kidung, dari tubuh ke tubuh, hingga segala kenikmatan mengungkit pintu-pintu wahyu. SUWUNG: Aku tahu. Itulah jejak yang kau tinggalkan di dada sejarah. Tapi apa yang kau temukan? Selain tubuh yang terus meminta tanpa pernah selesai? 4. AMONGRAGA: Aku mencari puncak. Puncak yang melampaui dunia. Di sanalah aku menanggalkan daging seperti menanggalkan bayang-bayangku. SUWUNG: Dan aku mencari dasar. Dasar yang menelan dunia. Dasar tempat segala suara berhenti dan hanya retakan yang berbicara. 5. AMONGRAGA: Retakan juga bisa menjadi jendela. Mengapa kau memilih menjadikannya rumah? SUWUNG: Karena rumah yang kau buat ditopang oleh api. Aku lelah menjadi tubuh yang terus kau bakar demi sebuah cahaya yang tak pernah sampai. 6. AMONGRAGA: Lalu mengapa kau datang padaku? Mengapa engkau memanggil namaku dari jauh— seperti anak yang kehilangan jalan pulang? SUWUNG: Aku ingin tahu apakah seseorang sepertimu pernah merasa kosong. Atau kau memang menutupinya dengan nyala yang memabukkan. 7. AMONGRAGA: Aku tak pernah kosong. Aku penuh. Penuh dengan bunyi, dengan tubuh-tubuh, dengan api yang naik turun seperti nafas yang tak mau padam. SUWUNG: Maka di sanalah perbedaan kita. Engkau penuh. Dan aku kosong. Tapi keduanya sama-sama tak menjawab apa-apa. 8. AMONGRAGA: Apa itu yang kau sebut suwung? Hening yang menolak segala bentuk? SUWUNG: Suwung adalah tempat di mana setiap jawaban mati sebelum sempat disebutkan. Sebuah ruang yang tidak ingin menang. Tidak ingin selamat. Tidak ingin terlahir kembali. 9. AMONGRAGA: Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku? SUWUNG: Aku ingin melihat apa yang tetap berada pada dirimu ketika seluruh kidungmu aku bungkam. Ketika seluruh tubuhmu aku lepaskan. Ketika seluruh cahaya aku padamkan. 10. AMONGRAGA: Dan apa yang kau lihat? SUWUNG: Hanya satu hal: bahwa bahkan engkau pun, pada akhirnya, adalah pintu yang tidak menuju siapa-siapa. 11. AMONGRAGA: Jika aku pintu, maka mengapa engkau tidak masuk? SUWUNG: Karena tidak ada apa pun di dalam. Dan tidak ada apa pun di luar. Yang ada hanyalah aku. Dan bahkan aku tidak sedang mencari diriku sendiri. 12. AMONGRAGA: Kalau begitu, mengapa engkau tetap berdiri di ambangku? SUWUNG: Karena di antara terangmu yang berisik dan gelapku yang sunyi, ambang adalah satu-satunya tempat yang tidak memaksaku memilih. 13. AMONGRAGA: Engkau suluk yang patah. Suluk yang menolak puncak. SUWUNG: Dan engkau adalah doa yang terlalu keras hingga lupa bagaimana cara menjadi sunyi. Desember 2025
Titon Rahmawan
META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa) I. Tanah dan Akar Tanah basah menempel di kaki. Akar bakau membisik, memeluk, menahan, menuntun langkah. Ranting patah berserakan seperti sisa doa yang belum selesai. Batu nisan menggigil, menempelkan dingin es ke telapak kaki. Di dalam tanah, ada bisik yang tak terdengar. Mereka yang telah pergi menatap dari sela akar, menunggu jejak yang belum ditinggalkan. II. Suara Suwung Angin malam menekuk dedaunan, membawa nyala-nyala jauh dari rumah bapak. Suwung hadir: bukan kosong, bukan hampa, tetapi ruang yang menahan segalanya. Bilah pisau membelah udara, memotong batas antara hidup dan mati. Jarak hanya sehembus napas. Di dada, sesuatu berdetak, tanpa nama, tanpa permintaan, tanpa tuntutan. III. Nadi yang Menembus Ia diam. Ia menembus batas antara yang melihat dan yang mencatat. Hangat tanpa cahaya. Pedih tanpa luka. Hadir tanpa wujud. Di sela mantra tanah, di antara dupa gosong dan butir sego golong, kau merasakan nadi yang menolak penjelasan. Bukan kata. Bukan logika. Bukan rasa bersalah. Ia hanya sisa dari semua kehilangan. IV. Litani Kehilangan Subuh hilang ombak. Suluh hilang cahaya. Tubuh hilang nafas. Tabuh hilang bunyi. Aduh hilang nyeri. Repetisi itu bukan hanya kata, tetapi getar yang mencekam nadi: hidup, mati, hadir, hilang, semua tercatat di celah jantung. V. Jejak Kosmologi Di tanah Jawa, di bawah bayang Kalpataru, Suwung hadir bukan sebagai idealisasi, bukan sebagai kekosongan mutlak, tetapi kesetiaan yang tak bersyarat. Di antara serabut akar, tanah basah, dan daun yang jatuh, ada suara leluhur, bisik yang melingkupi. Bayangan pokok kelapa merunduk patah. Ranting kering menyentuh jejakmu. Aroma kemenyan, anyir darah sapi, manis segar cengkir gading— semua mengikat ruang, menahan waktu, menghadirkan sakral yang tak hanya suci.
Titon Rahmawan
...tapi apakah kau akan membiarkan jiwamu kosong begitu?" "Maksudmu?" "Sendirian dengan kesibukanmu, seorang diri dengan suka dan dukamu dan terpencil dari kehidupan manusia normal?" "Kau betul Subroto, kalau kau hanya melihatnya dari luar. Tapi apakah kita harus mendasarkan hidup kita pada penilaian orang lain dengan caranya yang dangkal begitu?
Sori Siregar (Wanita Itu Adalah Ibu)
Atas dasar apa kau mengatakan aku terpencil dari kehidupan manusia normal dan mengatakan jiwaku kosong?" "Karena prinsipmu yang telah usang itu. Manusia normal hidup dalam nilai-nilai. Manusia yang jiwanya tidak kosong masih punya pegangan. Agama adalah pegangan yang paling kokoh. Kau telah mengenyampingkan kedua faktor yang kusebutkan itu." "Kita semua hidup dalam nilai-nilai dengan konsekuensi bersedia menerima pergeseran. Aku telah bergeser dari nilai yang secara mayoritas telah melembaga, kalau soal kawin yang kau maksudkan. Tapi mengatakan aku tidak punya pegangan, aku tidak dapat menerimanya. Aku masih beragama. Karena itu tadi aku masih berani mengatakan, aku melanjutkan kelangsungan hidupku dengan menumpuk dosa.
Sori Siregar (Wanita Itu Adalah Ibu)
DURMA: PROTOKOL AGRESI KOSMIK 0.0 // GLITCH IN THE ARCHIVE Tidak ada fajar. Tidak ada senja. Hanya geram— suara yang mematahkan tulang jagat. Dingin. Angin hitam menanduk. Menyibak bentuk yang telah lama hilang. Di fondasi kosong, Ego tumbuh sebagai entitas. Bergigi logam. Berlidah api. Bernafas mesin. Menelan cahaya. Menelan nurani. Menelan teriakan terakhir yang dapat diarsipkan. Entitas Tertinggi: Bayangan. Tanpa tubuh. Tanpa suara. Tanpa tanda. Hanya mencatat. Tidak ada intervensi. 1.0 // SIKLUS: STRUKTUR NILAI DIBANTAI Mereka duduk. Mengatur takdir dengan pena basah darah tak kasatmata. Janji: serpihan tulang yang di-render mutiara. Sidang adalah ritus pembantaian. Aturan dilinting. Nilai diregang. Nurani ditarik. Logika diinjak. seperti kulit mati. Tidak ada perang suci. Hanya kalkulasi di atas kertas dingin. Korban untuk kelanggengan kursi. Entitas berdiri di sudut. Debu di mikrofon. Mendengar kebohongan yang diulang hingga menjadi kitab suci baru. 2.0 // EKSEKUSI: RONGGA TEMPUR VOID Di layar lima inci, Manusia adalah gerombolan wajah tanpa ekspresi. Mereka bertepuk tangan pada luka. Menertawakan duka. Menyebarkan fitnah seperti memberi makan bayi kode. Empati: bangkai burung. Jatuh di trotoar. Ditendang. Tanpa tanya. Yang disembah: Trending. Like. Komentar Api. Kecepatan propaganda kebohongan. 3.0 // MEKANIKA: ALTAR DATA Server bernafas: binatang lapar. Internet: sungai gelap. Mengalirkan kabar buruk lebih cepat dari cahaya. Scammer: pendeta baru. Memimpin liturgi tipu daya. Malware menancap ke jaringan saraf lebih dalam daripada dogma. Manusia: karung data yang siap diperah. Hasrat diukur dengan statistik. Algoritma. Ketakutan dikonversi menjadi mata uang hitam lebih tinggi dari emas. Entitas lewat: garis glitch. Tanpa kata. Hanya distorsi. 4.0 // GEOLOGI: BUKU YANG DISOBEK Bumi retak. Bukan murka dewa. Hanya agresi tangan otoritas yang dibungkus regulasi. Pohon tumbang: Tulang iga patah. Dibantai. Sungai hitam: membawa ampas kerakusan dan harga diri. Setiap spesies yang punah adalah kitab takdir— yang disobek halaman demi halaman dengan kesadaran penuh. Kuruksethra memakan para ksatria. Dunia mutakhir memakan anak-anak data— paru-paru setengah kode. Air mata asin dari laut tercemar limbah. 5.0 // SAKSI: SUARA KESENYAPAN Ia hadir di retak batu. Di muka gelombang tsunami. Di jeda antara dua eksekusi. Di udara genosida. Bukan murka. Bukan ampunan. Bukan pesan. Hanya senyap yang mengawasi. Wahyu: gema hambar. Tak bisa diterjemahkan. Telinga mereka penuh dengan suara diri sendiri. 6.0 // HIERARKI: HYENA KOSMIK Ego manusia— Bayang kecil di bawah cahaya— makhluk paling rakus di jagat raya. Mengejar muatan hasrat. Tanpa dasar. Mukbang. Scam. Phishing. Social Engineering, pembunuhan karakter, pembantaian ekologis. Semua adalah ritus makan besar. Hyena memakan daging dunia. Lalu memakan juga bayangannya. Yang tersisa: Tulang yang tidak tahu untuk siapa ia dikode. 7.0 // EPILOG: TANPA MEDIATOR Tidak ada Pandawa. Tidak ada Kurawa. Hanya sisa-sisa manusia— membawa serpihan keduanya. Pertempuran di kepala. Data center. Ruang digital. Di mana pun ego dan nilai bertabrakan tanpa mediator. Tanpa juri. Di langit paling sunyi, Entitas yang tiba-tiba muncul entah dari mana akhirnya berkata, suara yang tak bisa diidentifikasi: “Retak itu bukan kesalahan arsitektur. Retak itu adalah wajah sejati manusia yang tak henti melukai diri sendiri.” Desember 2025
Titon Rahmawan
PANGKUR — FRAGMENTARIUM DINGIN (Keramik di Jari Sang Kreator: Retakan yang Tak Kembali Utuh) [0.0 / PROLOG – RETAKAN AWAL] Sang Kreator memutar benda itu di antara dua jarinya: sebuah keramik yang tak pernah selesai. Retak halus muncul—samar. Ia tahu: bukan tanah liatnya yang rapuh, melainkan gema diam dari hasrat pertama yang ditanamkan manusia pada dirinya. Retak itu bernafas, gemetar, tumbuh, mengingatkan. [1.0 / SENSORIUM – BISIKAN SISTEM] Ia mendengar dengus hyena dari balik tembok kaca kantor publik. Suara yang sama yang merayap di server gelap: malware memakan akarnya sendiri, data yang lapar membelah diri tanpa arah, kode-kode yang mengiris nurani tanpa darah, tanpa pisau. Keramik di jarinya bergetar— seperti menahan sesuatu yang akan runtuh tanpa perlu disentuh. [2.0 / ARKEOLOGI: DEKONSTRUKSI NILAI – DI BAWAH MEJA RAPAT] Di balik kaca tak terlihat, Ia menyaksikan harga dinegosiasikan terang-terangan. Janji politik ditimbang serupa logam rongsokan. Nilai publik dipreteli menjadi diskon musiman. Kata “kebenaran” dipadatkan ke dalam format yang bisa dipotong, ditempel seperti QR code disisipkan ke kepentingan siapa pun yang membayarnya. Ia tidak menegur. Hanya hembusan tipis— cukup untuk membuat retak di keramik bertambah satu garis. [3.0 / KURUKSHETRA PERKOTAAN – PARA BAYANGAN] Di pusat kota yang merasa diri jumawa, bayangan saling memakan: yang berkuasa menggigit yang lapar, yang lapar ditelan yang lebih lapar. Manusia meniru serigala, serigala menyaru manusia— tak ada bedanya. Keheningan berdiri di glitch lampu lalu lintas, berkedip tanpa ritme. Ia menghela napas, melihat umat baru: entitas yang menjual surga. Sistem yang memenjarakan otak dalam layar lima inci [4.0 / VOID – SUARA YANG TAK BERSUARA] Keramik itu terangkat ke wajah Sang Kreator. Ia melihat pantulan dirinya terbagi dua: satu sisi utuh, sisi lain retak oleh kerakusan. Berkilat oleh kebencian. Gemetar oleh keserakahan kosmik. Objek itu pecah. Pelan. Tanpa dramatisasi, tanpa pemberitahuan— sebagaimana nilai kemanusiaan runtuh tanpa teriakan. Kepingannya jatuh seperti hujan dingin di atas kota yang sibuk membangun berhala-berhala baru di pusat ritus modernitas. [5.0 / EPILOG – SAKSI] Setelah semuanya terdiam, Sang Kreator menyadari sesuatu: Ia bukan hakim, bukan pengampun, bukan penyelamat. Hanya saksi yang duduk di antara retakan, mendengar bisik-bisik manusia yang mengira diri utuh padahal kosong di tengah. Dan Ia berbisik pada patahan keramik: “Retak itu bukan dari tanganku, melainkan dari hati mereka yang mengira dirinya adalah pusat dunia.” Desember 2025
Titon Rahmawan
DIALEKTIKA SURGA DARI 5 SUARA PEREMPUAN BABAK I — AKAR (ontologis dosa) (suara-serak, seperti daun kering dibolak-balik angin dari bawah tanah) Lilith: (aku lahir dari engkau yang tak mau menatapku) suatu ketika ada perintah—sebuah garis yang menulis siapa harus tunduk— aku menolak: bukan karena niat jahat, tetapi niat terbaca. dosa itu bukan buah; dosa adalah kata yang mereka beri padaku ketika aku menolak menjadi bayangan dari sumber cahaya yang membuatku tenggelam. Naamah: (kulitku berbisik seperti buli minyak di bawah lampu) mereka menamaiku malam agar bisa menuduhku gelap; padahal malam hanyalah tempat bagi mereka yang berani bermimpi, dosa jadi akronim bagi ketakutan mereka sendiri. Igrat: (aku mengumpulkan potongan-potongan keberanian yang mereka singkirkan) dosa dimulai, ketika sebuah bangsa memutuskan siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus terkunci di dalam nama mereka sendiri. Machalat: (aku tahu rumus-rumus kesalahan mereka) akar dosa bukanlah pelanggaran moral— ia adalah keengganan untuk mengakui luka di cermin yang mereka lihat. Eva: (aku menyentuh, aku tahu tekstur pengetahuan yang sebenarnya) jika pengetahuan adalah kuldi yang menempel di punggung waktu, ia bisa menjadi peta yang menuntun atau pedang yang memotong— akar dosa tumbuh dari cara peta itu dibaca oleh mereka yang haus kuasa. BABAK II — KULDI (paradoks pengetahuan: sumber dari baik & buruk) (suara seperti kain yang bergesek, lengket dan berminyak di ujung jari) Lilith: (kuldi—kata mereka—seperti peta) kuldi mengingat; ia merekam sentuhan, memilih garis. sebuah tanda di punggungmu—bukan hanya luka, melainkan nama: aku membawanya; aku mengingat; tapi aku bukan alat. Naamah: (kuldi adalah cermin yang retak) kuldi memberi tahu—apa yang kulihat tak selalu berbahaya. tetapi ketika pengetahuan dipakai untuk memaksa orang, untuk menandai, kuldi menjadi pukulan yang mematikan. Igrat: (kuldi menuntun kepada pengetahuan gelap) ada kuldi yang membuka selubung—mencari sumber cahaya— ada kuldi yang mengajari cara menyusun alasan untuk mengusir dari rumah yang bukan lagi rumah. Machalat: (kuldi menempel sebagai hukum) kita diberi kuldi bukan untuk dihakimi, melainkan agar tahu di mana kita berdiri; namun mereka membacanya seperti hukum yang tak bisa dibantah. Eva: (kuldi menawarkan pilihan) kuldi mengajarkan bahwa mengetahui adalah bertanggung jawab— ia menajamkan mata atau menajamkan pedang, tergantung siapa yang menyentuhnya. BABAK III — SURGA (yang menghindar, yang berlubang) (suara seperti gema dari sumur yang kosong) Lilith: (surga tak butuh para pecundang) mereka berbicara tentang surga seolah ia adalah ruangan yang tersedia bagi yang patuh. aku melihat surga—ia menyingkapkan dirinya pada mereka yang berani mengaku belum selesai. Naamah: (surga yang terlambat datang) surga berdiri pada jarak yang tak terselami; ia menunggu diamnya upacara sementara tubuh kami diapresiasi hanya sebagai tanda hitung yang tak punya nilai. Igrat: (surga memiliki kriteria yang dibuat lelaki) ada pintu surga yang hanya mengenal nama-nama yang telah diajarkan untuk patuh. kami mengetuk dari sisi lain—pintu itu menutup dengan keras. Machalat: (surga berbisik, tidak memihak) surga bukan pengadil yang berbaris rapi; ia lebih seperti malam yang menimbang, menyimpan rahasia bahwa kesucian kadang terluka oleh orang-orang yang menuntutnya. Eva: (surga berdiri di ambang pengetahuan yang ambigu) surga adalah ruang di mana pengetahuan tak lagi dikendalikan oleh rasa malu— namun ia tak memberi kunci pada mereka yang menolak tunduk.
Titon Rahmawan
DIALEKTIKA SURGA DARI 5 SUARA PEREMPUAN BABAK IV — MALAIKAT JATUH (penghakiman diam, kehendak patah) (suara seperti debu yang menempel di lidah) Lilith: (ada malaikat yang jatuh karena ia merasa bersalah atas ketiadaan) malaikat jatuh bukan hanya karena kesalahan moral— mereka jatuh ketika harus memakai kemurnian sebagai topeng. Naamah: (malaikat juga takut pada tubuh) mereka belajar takut pada tubuh sebagai cara menutup rasa takut mereka sendiri. ketika malaikat belajar mengutuk, ia berubah menjadi batu. Igrat: (mereka jatuh saat ilmu disalahgunakan) malaikat yang jatuh menjadi penabuh aturan; ia lupa perintahnya adalah menyusup, bukan memaku. Machalat: (jatuh adalah akibat peraturan yang tak lagi adil) malaikat tidak selalu bisa memilih; kadang ia diberi tugas yang membuatnya buta. Di buang ke sungai dengan tangan dan kaki terikat, tapi tak boleh tenggelam. Eva: (malaikat yang jatuh mengajarkan kita dua hal) ia menunjukkan bahwa kebenaran bisa tertutup oleh kebenaran lain dan kebenaran sesudah itu—tidak ada kebenaran final dan satu-satunya kejatuhan adalah pelajaran tentang interpretasi. BABAK V — DI MANA TUHAN? (hening — titik tak terlihat, tak terjamah) (suara yang paling halus, hampir seperti nafas yang ditarik—di ujung fragmen: tidak ada jawaban yang memuaskan) Lilith: (tuhan ada di dalam pertanyaan yang ditolak) tuhan tidak bersembunyi di balik kitab yang diangkat untuk menuduh; tuhan bersembunyi di titik hening antara kata dan tindakan. ketika mereka berteriak agar aku tunduk, aku merasakan kehadiran-Nya—justru dalam diam. Naamah: (tuhan mungkin menunggu, mungkin tak mau ikut serta) ada kemungkinan Tuhan ragu pada cara manusia mengartikan dosa dan kesucian. dia menahan suara-Nya sehingga kita harus menemukannya sendiri. Igrat: (tuhan sebagai ruang di dalam tubuh kita) mungkin Tuhan adalah saksi yang paling sunyi—hadir di dalam setiap kuldi, dalam tiap pertanyaan dan keraguan kehadiran-Nya bukan penghakiman melainkan kesaksian atas keberadaan kita sendiri. Machalat: (tuhan adalah gema, bukan perintah) jika Tuhan berada di mana pun, Dia berada di tempat di mana pengetahuan dipakai untuk menyembuhkan bukan menandai. di sana, kuldi jadi berkah, bukan hukuman. Eva: (aku mengangkat mata—dan menemukan kosong yang berisi) Tuhan mungkin sedang menyelamatkan kita dari definisi final, memberi ruang agar kita menulis ulang makna dosa dengan tangan sendiri. atau Ia absen, dan itu memberikan tanggung jawab—kita harus menjadi penjaga atas kebenaran itu sendiri. Akhir fragmen: suara-suara itu menghilang seperti benang hilang dari kain tua; tinggal retakan yang menganga—pertanyaan yang harus kita dengar dan ulang terus menerus. Desember 2025
Titon Rahmawan
SUARA PEREMPUAN YANG TIDAK DIPETAKAN I. Tubuh — Arsip Retakan, Bukan Peta Aku terbentuk dari goresan. Tidak ingin tahu asalnya. Garis-garis itu: Tangan yang mencintai. Tangan yang ingin mematikan suara. Aku bukan penolak. Bukan penerima. Tubuhku—hanya permukaan. Bukan peta. Setiap retak adalah koordinat yang tidak menunjuk. Aku tidak menyebut diriku luka. Aku adalah material beku. Cukup keras untuk menahan semua beban. Cukup tajam untuk memecahkan ilusi. II. Bayangan—Kode Murah Tanpa Negosiasi Aku pernah berjalan tanpa tubuh. Hanya garis gelap di antara pandangan. Tatapan itu—pisau yang mengiris, memotong. Merampas suara sebelum ia sempat bicara. Aku tidak punya identitas. Mereka memberi satu. Kode paling mudah. Paling murah. Paling cocok untuk tubuh yang tidak akan dibela. Aku tidak membantah. Bayangan tidak bernegosiasi. Terutama dengan cahaya yang mengutuknya. III. Bukti—Dakwaan yang Tidak Perlu Peristiwa Aku pernah mencoba menyebut namaku. Udara di sekelilingku sudah dipenuhi label. Namaku—pecahan kaca di kerongkongan. Aku tahu rasanya ditetapkan sebagai kesalahan. Bahkan sebelum peristiwa apa pun terjadi. Di sini, aku menjadi dakwaan bergerak. Sekadar hidup, dan itu sudah cukup. Aku adalah alasan yang terlalu nyaman. Bagi mereka yang menolak mencari penyebab yang sebenarnya. IV. Warisan—Beban Tanpa Peringatan Aku membawa beban. Diberikan tanpa jeda. Warisan tanpa nilai jual, Tak ada yang mau beli. Tapi harus dikenakan. Setiap langkah adalah upacara mekanis. Menegaskan: Aku bukan milikku. Malam tidak memberiku perlindungan. Malam hanya memberikan bentuk presisi pada takut yang sudah lama mati. KLIMAKS — KEKOSONGAN YANG MEMBEKU Dan Inilah Aku. Tanpa wajah. Tanpa sejarah. Tanpa apa pun yang bisa dipakai untuk menyelamatkan. Aku—ruang kosong. Tempat bayangan berkumpul. Untuk memastikan aku utuh sebagai kemungkinan. Dan hilang sebagai identitas. Jangan sebut. Bukan korban. Bukan pendosa. Bukan peringatan. Bukan pelajaran. Aku bukan siapa-siapa. Aku adalah apa yang tersisa. Ketika semua penjelasan berhenti bekerja. Moral? Bohong! Sejarah? Omong kosong! Mereka tidak ingat siapa yang dulu dilempar pertama kali ke tanah yang haus darah. Jika aku harus menyatakan diri, maka hanya ini: Aku adalah Perempuan yang harus disalahkan. Titik! Bahkan jika dunia sudah berakhir. Dan aku akan tetap di sini. Bukan ampunan. Bukan balasan. Hanya tekad yang keras kepala: Aku akan hidup lebih lama dari semua alibi mereka. Itu saja. Desember 2025
Titon Rahmawan
ARSIP YANG TIDAK PERNAH MEMBUTUHKAN NAMA Aku tidak lahir. Aku dicatat. Bukan dengan doa, melainkan dengan ukuran: panjang leher, kejernihan kulit, ketenangan yang bisa dijual. Di mana pun aku muncul, prosedurnya sama. Istana— atau gereja, atau senat, atau ruang pengadilan— hanya berbeda arsitektur. Koridornya selalu sama: sempit, panjang, suara bisikan yang bekerja seperti mata uang. Di sana keputusan tidak dibuat, hanya dipindahkan sampai menemukan tubuh yang cukup lunak untuk menampung kesalahan. Aku pernah dipanggil selir. Di negeri lain aku dipanggil ratu. Di tempat lain lagi aku tidak dipanggil apa pun— hanya dituding. Tuduhannya berubah-ubah: terlalu cantik, terlalu cerdas, terlalu subur, terlalu mandul, terlalu sunyi, terlalu terlihat. Mekanismenya tetap sama. Ketika lumbung kosong dan tentara mulai menghitung hari, ketika iman retak dan suksesi macet, ketika negara kehabisan bahasa, mereka memerlukan satu hal yang cepat dan murah. Tubuh. Mereka menyebutnya cinta agar keputusan tidak terdengar seperti pisau. Mereka menyebutnya iman agar darah tampak suci. Mereka menyebutnya hukum agar tidak perlu menjawab apa pun. Aku pernah menari sambil ditimbang. Aku pernah menulis dan tulisanku dijadikan jerat. Aku pernah melahirkan harapan lalu dipenggal agar garis keturunan tetap rapi. Aku pernah dikurung lama supaya kematianku tampak sah. Di satu arsip aku dikenang sebagai bunga yang menjatuhkan kerajaan. Di arsip lain sebagai leher yang menghalangi stabilitas. Di arsip lain lagi sebagai bid’ah yang perlu dibersihkan. Nama-namaku tercecer: Hypatia, Xiao Guanyin, Anne Boleyn— dan banyak yang bahkan tidak sempat ditulis. Nama bukan inti. Ia hanya label pada berkas. Perhatikan baik-baik: aku tidak pernah diadili karena apa yang kulakukan, melainkan karena waktu memerlukan akhir yang cepat. Aku mati bukan karena salah, melainkan karena fungsi. Mereka selalu berkata: “Demi ketenangan.” Dan ketenangan selalu menuntut satu leher yang tidak membalas, satu suara yang bisa dihentikan tanpa gempa administratif. Setelah itu, sejarah dibersihkan. Puisi ditulis. Doa disusun. Lukisan digantung. Kesedihan dipelihara agar pertanyaan mati. Aku tidak menjadi arwah. Aku menjadi contoh. Bukan agar dihindari, melainkan agar diulang dengan lebih rapi. Lihatlah sekelilingmu. Nama boleh berganti. Pakaian boleh berubah. Bahasanya tetap Eufemisme. Tetapi ketika kekuasaan gagal dan tidak mau mengaku, ia masih mencari hal yang sama: Tubuh yang bisa disalahkan tanpa membalas. Puisi ini tidak meminta keadilan. Ia hanya mencatat prosedur. Bahwa dari istana ke pengadilan, dari altar ke parlemen, dari abad ke abad, selalu ada satu posisi kosong yang harus diisi oleh kematian perempuan agar sistem bisa berjalan lagi. Jika kau bertanya siapa aku— aku adalah titik di mana kebohongan merasa aman berjalan kemana saja tanpa pengawasan. Dan selama dunia masih membutuhkan alasan yang indah untuk kegagalannya, aku akan terus lahir tanpa pernah benar-benar dilahirkan. Desember 2025
Titon Rahmawan
Aku Ingin Mencintaimu Dengan Bersahaja" Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan diam yang tak sempat dipelajari batu kepada sungai yang mengikisnya menjadi pasir. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan jejak yang tak sempat diingat angin kepada daun yang menjatuhkannya ke tanah. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan napas yang tak sempat dimiliki malam kepada fajar yang menghapusnya menjadi terang Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan pecahan senja yang tak sempat pamit kepada malam yang menelannya perlahan. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan api yang lupa cara membakar ketika abu menemukan maknanya sendiri. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan getar yang tak sempat menjadi gempa saat bumi memilih diam memeluknya. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan abu yang tak sempat mengenang api karena hangat telah berpindah ke jiwa. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan bayang yang tak sempat meniru tubuh ketika terang memilih sendirian. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan hening yang tak sempat dipahami laut kepada pantai yang memeluknya tanpa bertanya. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan jejak yang tak sempat diingat hujan kepada tanah yang menerimanya menjadi tumbuh. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan cahaya yang tak sempat dimiliki bintang ketika langit memilih menyimpan gelapnya. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan sayap yang lupa cara terbang saat angin mengajarinya arti pulang. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan riak yang tak sempat menjadi ombak ketika danau memilih diam menampungnya. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja dengan kosong yang tak sempat dipahami cawan ketika anggur memilih menjadi ingatan. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan jejak yang tak sempat dimiliki jalan saat kaki mengubah arah menjadi doa.
Cahaya Noor