β
Memang rakyat patut diperingatkan. Rakyat lebih bertindak dengan emosinya, lain dengan para cerdik pandai, yang berpikir dengan akalnya. Kendati memiliki kekurangan, rakyat juga mempunyai kelebihan. Emosi mereka memperdalam kegembiraan dan memperluas harapan, setelah celeng tertangkap. Kegembiraan mereka menghancurkan kemuraman dan harapan mereka menenggelamkan ketakutan.
Muram, khawatir, sinis dan skeptis memang perlu, tapi jika keterlaluan, apa hasil dari semuanya itu. Toh zaman sudah berubah, apa salahnya menatap masa depan dengan lebih gembira, cerah dan penuh harapan. Harapan, kegembiraan dan optimisme adalah endapan yang sedang dipunyai rakyat, setelah sekian lama menderita, dan kini boleh berlega karena celeng sudah tertangkap. Orang akan kehilangan moment sejarah, jika harapan, kegembiraan, dan optimisme itu dilindas dengan kekhawatiran, ketakutan, sinisme, dan skeptisme.
Karena itu, si pelukis mengajak, janganlah perubahan itu dilihat hanya dengan akal belaka. Nikmatilah perubahan itu dengan rasa berkesenian. Rasa berkesenian akan mengajak manusia masuk ke dalam pengalaman, bahwa, kendari dan justru karena penderitaan, manusia sesungguhnya selalu mempunyai optimisme dan harapan. Kalkulasi politik, rasio ekonomi mungkin kurang bisa meraba optimisme itu. Tapi rasa berkesenian tak mungkin membatasi keberadaannya. Jika kebebasan itu sudah menyentuh kegembiraan, harapan, dan optimisme yang dipunyai mereka-mereka yang pernah menderita, ia akan terbang sejauh-jauhnya, menari-nari seperti tak ingat diri, persis penthul, tembem, pemain jathilan yang kerasukan itu.
β
β