Gelas Kosong Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Gelas Kosong. Here they are! All 3 of them:

kubawamu malam yang tajam-kering kuisikannya cintamu kauberiku malam yang tenteram-bening kubawamu sebuah gelas kosong kauisikannya suaramu kauberiku gelas yang penuh (muzik)
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
terhempas, takluk, digerus dingin angin, suara truk, debu menyelip di mataku betapa dancuk hidup ini! betapa dancuk lonte yang setengah mati kukasihi dan menusukku dari belakang! betapa dancuk Tuhan! bergetar, mabuk bayang-bayang, tuak kegelapan, mabuk keramaian yang kubenci, mengambang, tersesat, terhisap angin, luka menganga, nanah tembaga meleleh dari lutut Apolo emas yang dipenggal sebelum perang meledak; sulap kata-kata Homer dengan mata piceknya. terkutuklah bayangan, pohon-pohon meronta karena tak ada satu pun cuaca baik menawarkan minuman dari langit. aku biarkan itu semua menyalipku, dalam metafora, mata binatang, bibir lebar mirip kemaluan wanita sombong yang merasa imannya takkan tumbang meski dijejali kata-kata jorok nan mesum. bergerak, tenggelam, sinar patah di lingkar air dalam gelas mineral yang kokoh dan kau bilang air abadi dan kau bilang api bisa mati sendiri terkutuklah engkau yang menelan masa laluku dan menghibahkan kehancuran ini lobang nganga di dadaku. oh, kau yang memuntahkan abu tulangku, yang akan tetap kuingat meski Tuhan atau apapun itu menyeretku ke neraka omong kosong di alam kubur dan bertanya bagaimana imanku sebenarnya. oh, terkutuklah engkau!
Bagus Dwi Hananto (Dinosaurus Malam Hari)
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 3. RU ANG PE CAH A THA LIA (Abstraksi Reruntuhan) Lorong itu masih berdebu. Seperti paru-paru gedung tua yang tersedak nama kita. Sebuah pintu terbuka. Engselnya berdecit, menyebutmu dalam bahasa besi yang menumpuk dirinya sendiri dalam reruntuhan. Di lantai: serpihan gelas, kilat kecil memantul lampu neon yang mendengung. Doa yang dipotong oleh sengatan listrik. Athalia, kau berjalan melewati hidupku seperti bayangan di CCTV— tampak, hilang, tampak lagi, gemetar tanpa suara. Aku mencoba menyentuhmu melalui pantulan kaca, tapi kaca itu pecah menjadi kota yang lain: gedung-gedung runtuh, jam retak, tangga darurat, kabel listrik menjuntai seperti urat-urat hujan yang kelelahan. Aku memungut serpihan dengan tangan telanjang. Jariku berdarah, mengalir perlahan ke arah retakan di lantai, menyusuri jalur seperti peta yang dibuat oleh tubuh yang lupa program aplikasinya. Di atas meja, ada catatan tanpa huruf. Seperti kalimat yang menolak menjadi suara. Di udara, bau logam, bau kehilangan yang tak punya suhu tak punya kenangan. Kau pernah bening, tapi aku terlalu percaya pada transparansi benda-benda. Kau menjadi pecahan pertama yang sungguh mengerti bagaimana luka tinggal tanpa perlu menetap. Aku ingin marah, tapi amarah itu hanya berdiri sebagai kursi kosong menghadap jendela yang tak bisa dibuka. Malam menempel di kulit, seperti plastik hitam yang membungkus ingatan. Aku menggeser bayangmu dari cermin ke cermin— namun cermin itu malah memantulkan diriku yang sudah retak lebih dulu. Kita berdua, dua mesin kecil yang kehilangan suara dinamo. Tak bisa pergi, tak bisa tinggal. Hanya berdengung di dalam ruangan yang menua bersama debu. Athalia, jika ada yang masih hidup dari kita, mungkin itu hanya denting terakhir serpihan gelas yang tak sempat memilih ke mana ia ingin jatuh. 4. DARAH YANG TAK MAU JADI KENANGAN (Abstraksi Eksistensial) ada getir yang tak mau tua mengendap di rongga dada seperti luka yang menolak mati. kau— gelas bening yang lama kusembunyikan di balik kelopak mata. ketika pecah, suara retaknya menyambar malam: mengiris lebih dulu sebelum sempat kutangisi. aku tak meminta ampun. tak juga mencari siapa salah. yang kutahu: tanganku sendiri gemetar menjatuhkan harapan yang kutimang seperti bayi yang kehausan. dan darah itu— ah, darah yang terus memanggil namamu dari lorong gelap yang tak selesai kubakar. aku marah. aku diam. dua hewan liar saling menggigit. jika kau datang lagi, kupikir aku tetap akan meraihmu meski tahu kau dapat mematahkanku sekali lagi. aku sudah lama belajar: beberapa luka yang tak bisa dikubur. mereka hidup seperti bara— kecil, malu-malu, tapi cukup untuk menghanguskan satu kehidupan. aku berdiri di sini dengan dada yang robek tanpa janji, tanpa doa— hanya sedikit keberanian untuk menyebut luka ini dengan namanya sendiri. dan itu cukup. untuk malam ini.
Titon Rahmawan