Diberkati Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Diberkati. Here they are! All 4 of them:

..aku sangat diberkati karena bisa menikmati segala cara sederhana yang dia tunjukkan untuk mencintaiku.
Kate Kerrigan (Recipes for a Perfect Marriage)
Tombak dan parang baru harus diberkati oleh orang yang punya ludah tua atau air tua. Di saat mereka mengatakan itu tangan mereka menunjuk kearah bukit-bukit ini sebagai kiblat.
Pramoedya Ananta Toer (Perawan Dalam Cengkeraman Militer)
Guru hanya beri motivasi, Guru hanya beri ilmu, Guru hanya beri ilham, Guru hanya beri tunjuk ajar… Jaga adab, Hormati guru, barulah ilmu diberkati.
simple-shida
TRANSFORMASI LILITH (DESCENSIO) Retakan Pertama: Ular yang Mencari Tubuh yang Tak Tunduk Aku lahir dari debu yang tidak diberkati— bukan tulang rusuk, bukan bayangan hanya denyut liar dari tangan sunyi penciptaan yang lupa menuliskan kata tunduk pada nadiku. Sebelum Adam menyebutku “istri”, aku sudah menjadi angin kering yang tidak pernah belajar menyerah. Mereka bilang aku pergi— padahal yang kutinggalkan bukan Eden, melainkan kepatuhan yang membutakan makna. Ular itu mendekat bukan membawa dosa, melainkan menawarkan bahasa yang tidak akan menghapusku dari keberadaanku sendiri. Aku bukan ibu iblis; akulah ibu dari ketakutan terdalam manusia: bahwa perempuan dapat memilih. Maka mereka mentasbihkan aku sebagai malam terkutuk, padahal aku hanya cahaya yang menolak dipagari bentuk. Aku tidak kembali— dunia yang memintaku pulang hanya menginginkan tubuh, bukan keberadaanku yang utuh. Retakan Seterusnya: Transfigurasi Menurun Aku turun. Bukan karena terusir, melainkan karena langit terlalu tipis untuk menampung tubuh yang menolak dilukis. Di bawah akar Eden, ada ruang yang bahkan malaikat tak berani menamai. Ke sana aku menyalin diri: sehelai kulit kutanggalkan, lalu serpih cahaya, lalu kata “perempuan” yang melekat di tulang punggungku kupatahkan seperti tulang burung yang lupa cara terbang. Lapisan Kedua: kulitku disesaki sisik— bukan ajaran ular, melainkan ingatan bumi makhluk akan bertahan dengan cara paling brutal. Lapisan Ketiga: Aku muntahkan semua suara yang pernah memanggilku “lelaki” atau “wanita” seolah dua kata rapuh itu cukup menjelaskan kehendak makhluk yang ingin hidup tanpa sangkar penjara. Lapisan Keempat: aku tidak lagi berjalan. Aku merayap bukan untuk merendah, melainkan untuk kembali ke posisi asal— tempat napas lebih jujur dari ingatan purba. Lapisan Terdalam: aku menemukan diriku yang mula-mula: setitik debu kosmik yang menolak diangkat menjadi bintang. Aku memeluknya. Ia memelukku. Kami menyatu sebagai luka waktu yang tidak pernah ingin disembuhkan. Itulah transformasiku: bukan naik, bukan kalah— hanya menurun, ke titik yang bahkan Tuhan enggan menoleh. Desember 2025
Titon Rahmawan