“
TRANSFORMASI LILITH (DESCENSIO)
Retakan Pertama:
Ular yang Mencari Tubuh yang Tak Tunduk
Aku lahir dari debu yang tidak diberkati—
bukan tulang rusuk, bukan bayangan
hanya denyut liar dari tangan sunyi penciptaan
yang lupa menuliskan kata tunduk pada nadiku.
Sebelum Adam menyebutku “istri”,
aku sudah menjadi angin kering
yang tidak pernah belajar menyerah.
Mereka bilang aku pergi—
padahal yang kutinggalkan bukan Eden,
melainkan kepatuhan yang membutakan makna.
Ular itu mendekat bukan membawa dosa,
melainkan menawarkan bahasa
yang tidak akan menghapusku dari keberadaanku sendiri.
Aku bukan ibu iblis;
akulah ibu dari ketakutan terdalam manusia:
bahwa perempuan dapat memilih.
Maka mereka mentasbihkan aku sebagai malam terkutuk,
padahal aku hanya cahaya
yang menolak dipagari bentuk.
Aku tidak kembali—
dunia yang memintaku pulang
hanya menginginkan tubuh,
bukan keberadaanku yang utuh.
Retakan Seterusnya: Transfigurasi Menurun
Aku turun.
Bukan karena terusir,
melainkan karena langit terlalu tipis
untuk menampung tubuh yang menolak dilukis.
Di bawah akar Eden,
ada ruang yang bahkan malaikat
tak berani menamai.
Ke sana aku menyalin diri:
sehelai kulit kutanggalkan,
lalu serpih cahaya,
lalu kata “perempuan”
yang melekat di tulang punggungku
kupatahkan seperti tulang burung
yang lupa cara terbang.
Lapisan Kedua:
kulitku disesaki sisik—
bukan ajaran ular,
melainkan ingatan bumi
makhluk akan bertahan
dengan cara paling brutal.
Lapisan Ketiga:
Aku muntahkan semua suara
yang pernah memanggilku “lelaki” atau “wanita”
seolah dua kata rapuh itu
cukup menjelaskan kehendak makhluk
yang ingin hidup tanpa sangkar penjara.
Lapisan Keempat:
aku tidak lagi berjalan.
Aku merayap
bukan untuk merendah,
melainkan untuk kembali
ke posisi asal—
tempat napas lebih jujur
dari ingatan purba.
Lapisan Terdalam:
aku menemukan diriku yang mula-mula:
setitik debu kosmik yang menolak
diangkat menjadi bintang.
Aku memeluknya.
Ia memelukku.
Kami menyatu sebagai luka waktu
yang tidak pernah ingin disembuhkan.
Itulah transformasiku:
bukan naik, bukan kalah—
hanya menurun,
ke titik yang bahkan Tuhan
enggan menoleh.
Desember 2025
”
”