Ruang Rindu Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Ruang Rindu. Here they are! All 13 of them:

Selamat pagi, kekasih. semalam aku menulis puisi di luar angkasa. Ternyata tempat terbaik menulis puisi bukanlah disana, namun di ruang rindu yang kau cipta setiap kali aku mendoakanmu.
Alfin Rizal (Lelaku)
Rindu: Seluas-luasnya ruang persembunyian memeluk kehilangan.
Ilham Gunawan
yang menjauh dari ceruk hati saat kita jatuh dan saling jauh bukanlah rindu. meski pemalu, ia betah dan tak butuh lagi ruang lain dari orang lain.
Alfin Rizal (Mengunjungi Hujan yang Berteduh di Matamu)
MaghfirahMU Titip rindu untuk RasulMu.. Dengan sejuta shalawat dalam keheningan malam.. Airmataku terlalu keruh untuk diusap... Setidaknya ini sebagai ungkapan taubatku yang tersirat.... Sembari melantunkan kata-kata ini.. Diriku seperti senyap dalam ruang sempit penuh hewan yang tak kukenal... Mungkinkah itu cerminan amalku...??? Ya Rabb........ Betapa congkaknya Aku dalam nestapa.. Sombong menembus atmosfer batas aturan-aturan.... SyariahMu menuntunku .. Kenapa diriku masih bergelayutan dalam hiruk-pikuk hedonisme.. Detik-detik sakral telah Kau buka.. Segenap jiwa dan raga kini kupasrahkan... Aku tak sanggup lagi bersua.. Bahkan berkutik mencari oksigen dunia.. Ya Rabb... Ceburkanlah diriku dalam lautan MaghfirahMu... Astaghfiruka Waatubu ilaik....
Hilaludin Wahid
Aku bicara sama angin, Bertanya mengapa bawa khabar rindu? Aku bicara sama purnama, Mengapa cahaya indah selalu tidak lama? Aku bicara sama langit, Bagaimakah luas ruang tapi terasa sempit? Aku bicara sama laut, Apakah bisa ia melemaskan perenang? Aku bicara sama hujan, Ada insan gembira melihat kau jatuh. Aku bicara sama mentari, Di bawah meraih cahayamu. Aku bicara sama pena, Kubilang sudah bicara sama angin, purnama, langit, laut, hujan dan mentari, Tetap saja yang bicaraku tidak terjawab.
mardia
Apa kabarmu Mungil? Sehat-sehat sajakah disana? Kau tahu, sepagi tadi kusempatkan kakiku menyusuri lorong kelas, tempat biasa ku menemuimu. Ya, ritual yang mungkin akan menjadi kebiasaanku beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan kedepan. Oh ya, tidak ada yang berubah dengan kelasmu, bahkan bayangmu masih tertinggal di pojok ruang itu. Mungil, kau tahu! Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu saat ini. Tentang rutinitasku sekarang, tentang.. Ya, tentang segala hal, Mungil. Tapi.. Ah sudahlah, kau mungkin bahkan takkan membaca catatan ini. Oya Mungil, Ritual 'itu' masih sering kulakukan, seperti yang kau pesankan setiap saat hujan tiba: "Tengadahkanlah wajahmu saat hujan tiba, lalu hitung setiap rintiknya, percayalah sebanyak itulah rindu ini bersemayam di tiap tetesnya," -setiap hujan tiba bahkan. #usaha gagal menulis cerita random tanpa backspace
Alif~
Jika tak ada puisi hari ini, akan kuisi puisi haru hari ini dengan wajah paling murung di muka bumi. Sampai ia jatuh terperangah di ruang kedap harap. Harapan memilikimu.
Alfin Rizal
*Kenangan Dari Koridor Rindu* Dulu, di bangku ingatan Ada sepasang tangan saling menggenggam harapan. Angan yang berlompatan serupa putih debu kapur di atas papan tulis. Mimpiku, mimpimu bertemu Di dalam lembar-lembar buku. Langkah yang berjalan tergesa sepanjang lorong penghubung waktu. Dari perpustakaan dan ruang-ruang kelas, hingga kantin, uks dan ruang guru. Canda dan tawa kita bergema sepanjang koridor rindu. Ada kebahagiaan tertinggal di sana seperti hendak kembali padamu. Ada goresan sejarah yang kita tulis, Romansa percintaan purba menyisakan ratap tangis. Kisah cinta yang berakhir tragis: Marie Josephine dan Raja Louis. Kenangan yang akrab menyapa kita, lewat tutur kata pak guru tua tegak berdiri di depan kelas dengan penuh wibawa. Ada juga kisah lain yang kita baca: sebuah penghargaan tanda cinta piala citra untuk pelajaran fisika. Semua yang menempa kita demi mengejar mimpi: Pelajaran matematika yang kau benci, Atau guru biologi tampan yang diam-diam kau kagumi. Apa yang masih tertinggal dari senyum bapak dan ibu guru Suara yang akrab menyapa kita dari masa lalu. Ingatan yang selamanya belia menolak menjadi tua. Puisi yang tak akan lekang oleh matahari garang di tanah lapang. Sebuah ode pujian yang kita nyanyikan dengan khidmat: "Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru... Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..." Sekiranya saja, masih cukup waktu kita, untuk menyapa mereka hari ini. Para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tak terkira banyaknya hutang rasa yang tersimpan di dada. Rasa terima kasih dan ucapan syukur yang tulus terulur dari lubuk sanubari; Untuk setiap ilmu yang mereka beri, setiap pengetahuan yang mereka bagi, biarlah doa jadi persembahan suci: Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberkahi bapak-ibu guru yang kita cintai. Oktober 2025
Titon Rahmawan
Zikir Malam yang Tak Bernama — (Dark Mystical Visual Spell - Version) I. Takhalli: Panggilan dan Pengosongan pangkal bayang aku datang— tanpa tubuh, tanpa suara, serpih gelap memanggil nama-Mu lewat bisikan lebih tua dari kata. A— L— L— A— H— senyap meregang seperti kulit luka menolak sembuh. retak sunyi cahaya api— menjilat, menelan, memanggilku seperti ibu. II. Pencarian: Kebenaran yang Tersembunyi lorong gelisah perindu langkah gugur di jalan. rah—    mah—       dum— hening runtuh jatuh perlahan langit buta ke dalam dada retak. Rumi tersenyum di balik tirai menggores langit dengan rindu yang suci: “yang kau cari, sedang mencari dirimu…” suara pecah, menjelma hujan menyambar dedaunan dari ada menjelma tiada. raga rapuh— seperti mantra hilang napas, menggelinding jatuh ke dalam jurang tak berdasar. III. Hilang: Peleburan penanggalan diri Kebenaran berjalan sebagai getar tanpa wujud: nyeri yang lembut, sepi yang menggulung, darah yang berzikir nadi yang menggigil. Hallaj datang serupa mimpi, membawa luka yang menyala seperti taring serigala. ia berkata dengan mulut terbungkam: “hilanglah, biar kau ditemukan.” dan aku pun larut— dari wajah, dari ingatan, dari seluruh nama yang pernah kupanggul sebagai takdir. IV. Fana: Puncak fana adalah ruang bening di mana gelap dan terang tidak lagi bertengkar. fa— na— fa— na— fa— pantulannya menggulung diriku seperti kain kafan yang lapar. aku lenyap pelan-pelan, tanpa pamit, tanpa kubur. V. Wahdatul Wujud: Kekekalan dan Pewahyuan ambang baqa dengung lembut menyusup tulang— ia bukan kata, bukan doa: ia adalah diri yang memanggil namanya sendiri melalui aku yang bukan aku. “engkau— adalah aku— yang kusebut— melalui dirimu—” dan sufi-sufi yang hilang itu menari di udara patah, seperti bayang yang lupa siapa yang menyalakan api di dada mereka. aku berdiri di garis tipis antara debu dan cahaya, antara hilang dan pulang, antara fana dan baka. dan ketika langkahku pecah menjadi gelombang menyalakan kegelapan— aku tahu: yang kembali bukan padaku, melainkan rahasia kecil yang Kau biarkan menjadi mantra agar dunia bisa mendengar sedikit saja dari sunyi yang selamanya abadi. November 2025
Titon Rahmawan
Algoritma Sekiranya saja hidup adalah jejak bilangan yang bisa kauhitung seperti matematika. Aku akan membaringkan langit itu di atas peraduanmu Dan kita akan sama-sama melayarkan harapan di atas lautan mimpi. Membangun rumah di antara mega-mega, seolah tak ada istana yang akan menyerupainya. Ruang-ruang simetris yang membentuk pola dalam deretan Fibonacci. Angan-angan yang berlari terlalu jauh Mimpi-mimpi yang tak pernah kembali. Namun ironisnya, cinta dan rindu bukan bagian dari semua itu. Semacam salah perkiraan, Sebuah kalkulasi yang tak pernah kita bayangkan. Perasaan yang penuh berisi angka dan perhitungan: Engkau mendapat apa yang tak kaupinta Aku menerima apa yang tak ikhlas kauberi. Dan kita terjebak selamanya dalam permainan ini: Jumlah, kurang, bagi, kali... Milikku bukan milikmu Milikmu bukan milikku Dan kita bersikeras mempertahankan logika. Harapan dan keinginan yang tak pernah ketemu ujung pangkalnya. Rumah penuh kotoran yang tak pernah kita bersihkan Dan halaman telah jadi tempat sekumpulan dosa, seperti tumpukan sampah tak bertuan. Kita tak tidur Tidak pula terjaga Was-was seperti hantu Yang setiap saat menunggu kematianmu. Dan demikianlah, Kita tak lagi membuat penafsiran Dari apa yang dulu kita percayai. Keyakinan telah jadi tuhan yang bahkan tak sungguh-sungguh kita kenal. Tak ubahnya seperti bunga plastik artifisial, yang bisa kita beli di toko kelontong di pinggir jalan. November 2025
Titon Rahmawan
Ketika Sunyi Menyentuh Dahi” (Ekstase Sunyi para Darwis) Ada detik yang tiba sebagai jeda nyaris tak sadar— detik ketika dunia berhenti berputar, dan tubuhku mulai bergerak seperti gasing— tanpa diperintah. Aku berdiri di tengah ruangan kosong. Tidak ada musik. Tidak ada angin. Hanya sunyi yang melangkah masuk seperti seorang tamu yang sudah lama kutinggalkan di depan pintu jubah yang kutanggalkan dari tubuhku. Dan entah bagaimana, sunyi itu menyentuh dahiku dengan kehangatan yang tidak pernah kuraih dari sebutir doa. Aku tidak menari. Aku hanya menjadi pusaran lembut yang lahir dari keheningan. Kakiku bergerak karena bumi mengajak, bukan karena aku inginkan. Dalam putaran itu aku kehilangan kepalaku terlebih dahulu— pikiran luruh seperti debu yang jatuh dari mantel tua seorang pengembara. Lalu dadaku melebur, seperti pintu yang dibuka dari dalam oleh tangan yang tidak bisa kuraba. Dan perlahan aku hanyut ke dalam cahaya yang tidak menyilaukan— cahaya yang hanya menuntun, seperti bisikan samudra yang menunjukkan jalan kembali ke sumbernya: mata air yang adalah air mata. Di tengah putaran, aku merasa tubuhku menjadi tipis, serapuh benang yang hanya ditahan oleh satu simpul: rindu untuk kembali pulang kepada palung rahim ibu. Aku tidak mencari apa-apa. Tidak menuntut apa-apa. Tidak ingin dikenal atau dimengerti. Aku hanya ingin hilang dalam getaran yang membuatku lebih hidup daripada udara yang aku hirup. Pada akhirnya, sesuatu membuka ruang di dalam dadaku— ruang yang tidak kukenal, namun terasa seperti rumah yang sudah kusimpan sebagai rahasia sejak sebelum aku dilahirkan. Dan di ruang itu, aku mendengar suara yang tidak menggemakan bunyi: “Engkau sudah dekat, Engkau tidak pernah jauh.” Putaranku melambat. Dunia kembali mengingat Cahaya perlahan merapat seperti seseorang yang meletakkan selimut di bahuku. Aku tidak menjadi suci. Aku tidak menjadi tahu. Aku hanya menjadi tenang. Karena untuk sekejap, di tengah kesunyian itu, aku telah disentuh oleh sesuatu yang tidak memerlukan nama. Seperti ingatan, ketika Aku masuk dalam keheningan Luruh dalam putaran Kembali sebagai cahaya. November 2025
Titon Rahmawan
Melting Pot: Litani untuk Tantangan Tiga Jurang (Intertekstual — Neo-Sufistik Digitalism) I Di tepi, dua jurang saling membelai saling melukai— satu gelap seperti malam sebelum nama Tuhan disebut, satu berderak seperti server yang lupa bahwa ia sedang sekarat. Aku berdiri di antara keduanya, akar menancap dalam retakan; akar itu mengirim bisikan ke tulang, lalu sinyal ke motherboard. Di sinilah Agustinus menunduk dan Nietzsche tersenyum: yang satu berdoa agar kesunyian kembali bermakna, yang lain mengangkat palu untuk memahat makna dari kekosongan. Sementara Camus mengetuk jarinya pelan pada kaca realitas, menanyakan: apakah kita memilih untuk terus menanti jawaban, atau memilih absurditas sebagai lampu penerang jalan? Aku menolak belas kasihan orang lain; lebih baik jadi pohon yang berdiri—rentan, bengkok, keras kepala— atau jadi menara yang menuntun doa seperti gelombang radio. Gapura? Ya, gapura juga, tempat orang lewat tanpa tahu alamat tinggalnya. Di tiap gerbang aku melihat rumah ibu: bocor, berderit, rapuh, setia menunggu. Kerinduan menetes, paket data bocor, hujan yang mengunduh rindu dalam format .wav. II Di dalam kabel di bawah tanah, ada lagu yang tak pernah diindeks: ritme akar yang seperti mantra, glitch yang bergumam seperti zikir. Di frekuensi itu, domba-domba trauma berbisik—tidak hening, hanya tergeser: jeritan yang kita bungkus dengan pekerjaan, selfie, dan janji-janji kecil. Ada Lecter di kursi bayanganku, berbisik: "Kembalilah ke ladang yang kau tinggalkan, Clarice." Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menunjukkan bahwa luka tak akan mati bila kau tak pulang hari ini. Kesedihan tidak berwujud satu format; ia multi-protokol: kadang menjadi bug, kadang menjadi palimpsest doa. Aku rooted—akarku telah di-root oleh sejarah—tapi aku masih bisa reboot rasa. Namun reboot tidak membersihkan semua log: beberapa pesan terus menunggu status "read". Dan lelaki perkasa dalam mimpiku? Ia terbang, punggungnya kuda ego—sebuah patch tanpa dokumentasi, meninggalkan jejak yang menjadi gema di sumur-sumur batin. III Maka aku merespon dengan sebuah litani yang terprogram rapi: buka—hapus—simpan—tutup—ulang—(echo)… Suara itu bukan dengung mesin belaka dan bukan pula doa; ia adalah bahasa ketiga: posthuman yang masih menaruh tempat untuk sebatang lilin. Di sini Tuhan jadi kecil—huruf kecil di tengah kode—lilin meleleh yang gagal dirender, tetapi cahayanya cukup untuk membaca peta luka. Kita menerima bahwa kebenaran kini adalah bayang-bayang: ada yang memilih kebenaran yang berulang (post-truth), ada yang memilih kebenaran yang menengok ke belakang (tradisi), ada pula yang membangun kebenaran di atas logikanya sendiri (eksistensi). Puisi ditulis tidak untuk menyelesaikan perdebatan; ia lebih memilih ruang: sebuah melting pot di mana akar, kabel, doa, dan error menjadi satu jamuan. Di akhir perjalanan, aku tidak menyuruhmu percaya— aku hanya mengundangmu pulang: ke gerbang ibu, ke terminal di bawah tanah, ke api kecil yang tak henti berkedip. Datanglah dengan domba-dombamu yang belum berhenti menjerit; biarkan mereka mengajar kita cara bernyanyi lagi— bukan lagu yang sama, tetapi lagu yang baru, gelap, dan setia. Di sana, di ambang ketiga jurang yang menantang itu, aku menyalakan sebatang lilin sendirian: sebuah cahaya yang tak menuntut pencerahan, hanya sedikit terang yang cukup agar induk akar bisa menemukan anak-anak akar yang kehilangan pijakan, dan agar bug-bug bisa belajar berdoa. November 2025
Titon Rahmawan
Khajuraho III (Reinkarnasi Suwung) Khajuraho, di tikungan malam yang menggantung seperti dupa kehilangan napas, aku kembali menapaki jejak yang tak mau pudar. Retakan waktu yang kau tinggal sebagai isyarat bahwa sunyi pun dapat berubah menjadi tubuh —dan tubuh dapat menjadi kutukan yang tak pernah pergi. Madu, engkau bukan lagi perempuan, engkau serpih trauma yang mengapung di atas pusaran batin, suara samar dari lorong yang menelan, mendorong, memuntahkan, lalu menarikku kembali seperti arwah yang lupa jalan pulang. Di pelataran candi batin ini, aku mendengar getar yang dulu disebut hasrat: kini ia hanya bunyi gending rusak yang dipetik jari-jari waktu di atas batu-batu yang tak pernah selesai kautata. Gending yang pernah memancing nafsu, kini hanya menyalakan kabut luka yang menolak mati. Lelaplah, Madu. Atau lenalah engkau di antara reruntuhan ingatanku. Sebab malam ini, aku tidak mencarimu sebagai tubuh, melainkan sebagai mantra yang tercecer dari upacara purba yang gagal. Wajahmu, yang dulu kutatap dengan gairah jejaka, kini kembali sebagai bayangan arkais di permukaan sendang kesadaranku yang paling keruh. Bukan paras: melainkan peringatan bahwa segala yang kusentuh membawa diriku lebih dalam ke liang yang ingin kulupakan. Kembenmu, jarit lusuhmu, setagen yang longgar itu— semua telah bergeser dari erotika menjadi liturgi luka. Setiap lipatan kainmu bukan lagi undangan, melainkan aksara purba yang tak bisa kubaca tanpa gemetar. Betapa jenaka dahulu coreng-morengmu, kini menjadi topeng dewa kecil yang menjaga pintu ke ruang di mana aku terperangkap antara rindu dan penolakan. Candi ini, arkib batin yang kautinggalkan dalam diriku, adalah gua tempat aku didorong ke tepi kesadaran sendiri. Reruntuhan yang kutata ulang setiap malam agar trauma memiliki bentuk, agar hasrat memiliki kubur, agar aku dapat menyebut namamu tanpa berdarah lagi. Madu— Maduku yang tidak lagi lunak dan molek kini engkau batu berlumut yang mengingatkan bahwa tubuh adalah prasasti yang gampang retak. Bahwa hasrat adalah sungai yang menolak diam. Bahwa cinta adalah bayangan yang menolak ditimpa cahaya. Di atas ujung ceruk dadaku yang paling pilu, kutangkap aura suci yang dulu kusebut nafsu. Kini ia hanyalah kunang-kunang tak bercahaya yang hilang di antara dua zaman: zaman ketika aku ingin memilikimu, dan zaman ketika aku ingin melupakanmu. Sayap-sayap Jatayu gemetar di sela jari waktuku, berusaha menyibak rahasiamu yang tidak lagi erotik melainkan mistik. Mantra gelap yang merasuk bukan ke tubuh… tetapi ke ingatan. Betapa ingin aku menyentuhmu, bukan dengan murka lelaki, tetapi dengan ngeri seorang peziarah yang tahu bahwa setiap permukaan yang tampak indah menyimpan sumur yang dapat menelannya hidup-hidup. Khajuraho, saksikanlah aku malam ini. Bukan lagi jejaka kolokan yang kalah oleh tajam tatap matamu, melainkan ruh yang belajar melihat tubuh sebagai batu, batu sebagai ruang, ruang sebagai luka, luka sebagai guru. Dan engkau, Madu— bukan lagi kekasih, melainkan cahaya terakhir yang terjepit di antara dua kelopak mimpi. Aku tidak ingin menelanjangimu. Aku hanya ingin memahami mengapa setiap detakmu masih menggema di rongga candi batinku yang tak pernah selesai kujaga dari keruntuhan. Malam ini, di bawah hujan yang turun seperti kabut peringatan, aku sadar: bahwa hasrat adalah guru gelap, dan trauma adalah kuil tempat aku belajar sujud pada apa yang lebih tinggi dari diriku sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan