Riak Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Riak. Here they are! All 8 of them:

Ikhlas tu bukan kita yang ukur, tu biar Allah yang tentukan. Jangan sampai kita tinggalkan amalan ibadat sebab tak nak riak dengan manusia, kerana tu la tanda kita riak dengan Allah sebenarnya.
Hlovate (Contengan Jalanan)
Tak tahu engkau di mana Tapi, kulihat dirimu, antara bayang pohon willow Kudengar suaramu, dalam riak Sungai Darrow Dan kucium dirimu, dalam angin yang berhembus dari utara
Andrea Hirata
Air yang tenang tak akan ber-Riak jika tak di ganggu, begitupun laut yg luas akan tenang jika tak ada badai
Luddie Affandi
Bapak setiap hari lima waktu berjemaah di masjid. Seminggu bapak akan qiamullail tiga kali. Tahajud bapak buat setiap malam. Dhuha bapak hampir tak pernah tinggal. Solat sunat qobliah dan ba'diah bapak tak tinggal. Kalau kau tak dapat celen bapak semua ni, kau tak payah sembang kencang Aslan!" Aslan terdiam. Dia kalah sepenuhnya. "Itu riak bapak." "Bukan riak. Nak suruh kau contohi bapak.
Ahmad Erhan (Tempur)
Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini? (Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian) /1/ Di ambang cahaya yang gagal menemukan dirinya, aku melihat riak kuning yang tampak seperti sisa doa yang kehilangan tuannya. Seekor angsa liar melintas tanpa tahu apakah ia burung atau hanya gema dari sesuatu yang tak pernah selesai menjadi makna. /2/ Jangan percayai hening yang menggantung di dahan dadap itu. Ia bukan sunyi, melainkan mata ketiga dari kesadaran yang menatap balik pada penafsirnya. Seekor burung hantu buta menjadi penanda yang terlantar— simbol yang dibuang dari mulut bahasa. /3/ Aku bersaksi tentang rusa totol indigo yang lahir dari tawa kanak-kanak, bukan sebagai hewan, tetapi sebagai fragmen kosmik yang melampaui tubuh, sejarah, dan dilatasi waktu. Rumput kelabu bening di kakinya mengajarkan bahwa setiap permainan adalah ritual kecil dari keberadaan yang mencari arti sendiri tanpa pernah menemukan. /4/ Karena sajakmulah, aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi— bukan sebagai air, melainkan sebagai niat kata yang gagal menjelma doa. Di antara lipatan sorban putih itu ada jeda panjang tempat Tuhan pernah sembunyi untuk melupakan nama-Nya sendiri. /5/ Di pelupuk matamu kutemukan bilah luka yang tak tunduk pada bahasa mana pun. Heran luruh menjadi serpihan kaca, mengiris senyum para penjaja cinta. Barangkali itu bukan kesedihan, melainkan alfabet purba yang kehilangan suaranya sebelum sempat menjadi kata. /6/ Ada selaput tipis takjub yang tak pernah disentuh oleh jari Nizhami atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara. Ia bukan cinta, melainkan bayangan semu— penanda yang tersesat di lorong gelap kesadaran yang menolak direstorasi. /7/ Langit keruh kelabu tampak jenuh oleh seluruh tangisanku, tangis yang bernaung di ceruk terdalam jantung kita seperti embun yang takut menjadi air. Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja: menyamar sebagai kesunyian saat dahaga merayap jauh ke gurun paling sunyi di dalam diri. November 2025
Titon Rahmawan
Di Ujung Kanvas, Para Malaikat Jatuh seperti Cermin Retak Pada hari ketika langit meniru sapuan kuas Dali, aku melihat tiga angsa menari di telaga yang tidak pernah ada. Tapi bayangan mereka menjelma jadi sekawanan gajah— yang memikul menara-menara mimpi yang kaki-kakinya memanjang seperti doa yang tak sampai. Di sana, waktu tidak berjalan. Ia tergantung seperti jam yang mencair, mengalir dari dinding kesadaranku menuju lubang kelam tempat malaikat dan iblis berdesakan mempertengkarkan siapa yang lebih dahulu menciptakan cahaya. Serafim mencabut bulunya sendiri dan bulu itu berubah menjadi ular yang menyebut dirinya dengan seribu nama: Ashmedai, Azazel, Ashtaroth— nama-nama yang dahulu kupelajari dengan rasa takut, namun kini bayangan itu datang kepadaku seperti bisikan seorang kawan lama yang ingin dipanggil pulang. Aku bertanya padanya: “Apakah kita sedang bermimpi, atau kita hanyalah mimpi yang sedang diingatkan kembali kepada dirinya sendiri?” Bayanganku menjawab dengan suara yang bukan suaraku: “Di sinilah eros dan tanathos menari. Di sinilah kelahiran selalu meminjam wajah kematian.” Dalam jeda itu, seekor harimau melompat keluar dari rahim buah delima yang meletus seperti planet kecil penuh kutukan. Dari balik taringnya, aku melihat wajahku sendiri— wajah yang telah lama ditinggalkan oleh logika. Dan ketika seekor badak berkaki laba-laba melintas di atas kepalaku, aku menyadari bahwa tuhan mungkin sedang tertidur, dan iblis sedang melukis-nya kembali dengan warna-warna yang terlalu jujur untuk kita mengerti. Malaikat-malaikat yang jatuh itu menabrak permukaan telaga, menjadi riak yang memanggil masa laluku keluar dari persembunyian. Aku mencoba menyentuhnya, namun jari-jari tangan ini berlubang seperti relik yang kehilangan alasan untuk diselamatkan. “Apa yang kau cari?” tanya seekor gajah yang muncul di tengah mimpi dengan mata penuh kesedihan purba. Aku tidak menjawab. Sebab seluruh jawabanku terbakar dalam pusat matahari yang ternyata bukan matahari, melainkan luka yang sedang berevolusi. Dan ketika akhirnya cahaya itu meledak, aku melihat diriku sendiri —telanjang, kehilangan nama— dilahirkan dari pertempuran yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi kilasan mimpi. Aku hanyalah kesadaran yang menetas dari absurditas yang membunuh egoku berulang kali agar aku bisa melihat dengan mata yang tidak lagi meminta untuk dimengerti. November 2025
Titon Rahmawan
Zoyya Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan, Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci Dan lubang menganga dari separuh dunia Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi? Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku? Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan. Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya. Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah; Nama yang sengaja ia lupakan, Identitas yang tak ingin ia bagi Tapi betapa... Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki. Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri Mungkin ia lupa pulang Mungkin ia lupa jalan untuk kembali Sebab rumah hanyalah sebuah kenangan sedih yang sudah lama ingin ia tinggalkan. Oktober 2025
Titon Rahmawan
PUCUNG — EPITAF SINGULARITAS (Debu yang Bernafsu Menggenggam Bintang) Tudung batu. Tudung ilusi. Manusia tegak, tiang ambisi— leher terulur, menjerat horizon yang fana, meyakini langit adalah milik kepala. Cahaya lahir dari kebutaan purba, fatamorgana lelahnya indera. Mengukur semesta dengan benang rapuh, seolah rembulan bisa dibelah hanya dengan memperpanjang tulang. Lupa: ia hanya nyala sekejap, napas pendek, waktu gagal mencari saksi. Renung batu. Renung jurang. Manusia menggali diri, sumur keras kepala, tak sadar kedalaman yang ia takuti hanya pantulan sunyi dirinya sendiri. Ia mencari "akhir," menemukan riak gelap yang tak bernama, menelan semua tanya, tanpa menyisakan gema. Ia mengejar "pengetahuan": tetapi bintang tak tahu mengapa ia harus terbakar menjadi abu. Tenung batu. Tenung kekosongan. Manusia membuka sayap akal, mengira bintang kejora sedekat pendek lengan sendiri. Sepenuhnya lupa: galaksi tidak membungkuk pada akal siapa pun. Pengetahuan hanya serpihan api di pinggir gelap tak bertepi. Saat ia menatap titik paling jauh, ia hanya menemukan void— lubang hitam menelan semua pahlawan tanpa menoleh. Pucung tertulis sebagai epitaf: bukan kabar duka, bukan pujian, hanya goresan kecil bagi spesies yang terlalu percaya diri, mengira dirinya pusat segalanya, namun tak pernah menyentuh apa pun selain bayangan sendiri. Semesta menutup buku tanpa perasaan, tanpa penyesalan. Satu penggal kalimat di cahaya dingin pusat singularitas: “Angkuh tetaplah debu. Pencarian hanya perjalanan pulang. Yang merasa tahu, tak pernah melihat apa pun.” Desember 2025
Titon Rahmawan