Pohon Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Pohon. Here they are! All 143 of them:

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)
Barangsiapa muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakatnya-masyarakat yang menaikkannya, atau yang membiarkannya naik.... Pohon tinggi dapat banyak angin? Kalau Tuan segan menerima banyak angin, jangan jadi pohon tinggi
Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations (Buru Quartet, #2))
Di jaman ini, yang dapat kau sebut pohon, sebenarnya hanyalah hologram tembus pandang. Pohon-pohon telah digantikan oleh kenangannya saja.
Bagus Dwi Hananto (Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita)
Manusia diberitahu petugas tata ruang bahwa pohon pernah hidup dulu, dulu sekali, sebelum mereka habis ditebangi orang-orang jaman dahulu yang entah mengapa selalu merasa tak cukup.
Bagus Dwi Hananto (Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita)
Pohon sakura berbunga satu tahun sekali. Calon bunganya mulai terlihat sejak pertengahan Januari, tapi baru akan mekar pada awal April. Sakura yang telah berkembang bertahan selama satu sampai dua minggu, lalu gugur dan kelopak-kelopaknya terbawa angin. Keindahan sakura hanya sebentar, tapi karena itu dia berharga. Sakura adalah ciri kehidupan yang tidak abadi
Windry Ramadhina (Montase)
Tak tahu engkau di mana Tapi, kulihat dirimu, antara bayang pohon willow Kudengar suaramu, dalam riak Sungai Darrow Dan kucium dirimu, dalam angin yang berhembus dari utara
Andrea Hirata
Ketika pohon terakhir ditebang, Ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir ditangkap, Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.
Eric Weiner (The Geography of Bliss: One Grump's Search for the Happiest Places in the World)
Pohon yang besarnya sepelukan, tumbuh dari benih yang kecil saja. Menara setinggi sembilan tingkat, dibangun mulai dari seonggok tanah. Perjalanan seribu li, dimulai dari satu langkah.
Lao Tzu
pohon tidak berbuahkan ilmu sekalipun tumbuh ilmu kita terpaksa memetiknya Catatan Sebelum Tidur
T. Alias Taib (Piramid)
Saya iri ke Menak Jinggo .... Hidup luntang lantung bagai gelandangan di bawah pohon tapi hatinya penuh cinta. Kami hidup enak di ruang AC, bergemilang duit, tapi cinta kami redup bahkan kering kerontang," ungkap seorang anggota dewan
Sujiwo Tejo (Ngawur Karena Benar)
Ini pohon ketapang menyedihkan itu, tempat kita berjanji akan bertemu kembali, kupersembahkan untuk kayu bakar pesta perkawinanmu.
Eka Kurniawan (Beauty Is a Wound)
Seperti pohon... Di pokok kita masih satu, lantas kita berpisah di cabang. Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan, ada yang terus ke atas, ada yang ke depan, ada yang ke belakang. Atau bilapun masih satu di cabang, kita nanti akan berpisah juga di ranting. Ke atas, ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang... Saat kita kecil dulu, kita masih satu, masih anak kecil. Lantas sedikit demi sedikit waktu kita bikin kita beda. Waktunya makin banyak, beda kita tambah banyak. Itulah kita.
Bubin Lantang (Jejak-Jejak (Anak-Anak Mama Alin))
Jadilah pohon dan jangan jadi rumput. Rumput itu tampaknya sama, sering diinjak-injak dan susah dikenali. Kalau pohon, meskipun kecil, tetapi akan tampak, mudah dikenali, dan bisa dijadikan sebagai tetenger atau patokan. Apalagi bila pohon itu besar, bisa menjadi peneduh orang di waktu panas. Bahkan bila sudah demikian besarnya, bisa jadi peneduh di kala hujan. Tambahan lagi, sebuah pohon yang besar selain memiliki daun yang rindang juga akan mempunyai batang yang kokoh dan akar yang kuat mencengkeram, susah dirobohkan sekalipun diterpa angin kencang. Jadilah pemimpin yang mengakar, seperti pohon. Untuk menjadi pohon yang baik seseorang harus terus memperkaya diri dengan ilmu dan kekayaan batin. -Sarwo Edhie Wibowo
Alberthiene Endah (Ani Yudhoyono Kepak Sayap Putri Prajurit)
Barangkali nenek moyang kita mengunyah pohon-pohon itu,” kata seorang guru sekolah pada muridnya. “Kenapa dimakan” tanya seorang bocah, datar. “Karena mereka goblok.” Guru itu menjelaskan bahwa manusia rakus. Kata goblok di jaman kami ini berarti rakus di jaman dahulu. Sekian lama aku hidup, kehidupan hanyalah kontinuitas yang membosankan.
Bagus Dwi Hananto (Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita)
Han, memang bukan sesuatu yang baru Jalan setapak setiap orang dalam mencari tempat ditengah-tengah dunia dan masyarakatnya, untuk menjadi diri sendiri, melelahkan dan membosankan untuk diikuti. Lebih membosankan adalah mengamati yang tidak membutuhkan sesuatu jalan, menjangkarkan akar tunggang pada bumi dan tumbuh pada pohon.
Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations (Buru Quartet, #2))
jangan gantungkan harapan pada ranting hati manusia ia terlalu rapuh, seringkali manusia terjatuh dan kecewa gantungkanlah rasa cinta itu pada Sang pemilik pohon kehidupan kalau Allah berkehendak dia layak untuk mu, Allah akan menyatukan dari jalan yang tak pernah kita sangka-sangka Allah akan mempertemukan meski dalam celah sesempit apapun
firman nofeki
Apakah ia memiliki cinta? Tidak. Ia tak pernah mencintai siapa pun. Tak ada burung pelatuk lain yang menarik perhatiannya. Ia burung tanpa cinta. Jika ada cinta, itu hanya cinta kepada pekerjaannya mematuki batang pohon. Tak lebih. Bagi makhluk lain, apa yang dilakukannya terlihat menyedihkan. Tapi siapa kita sehingga berhak menghakimi perasaan makhluk lain?
Eka Kurniawan (O)
pohon masalah selalu menyembunyikan buah yang manis. kadang kita harus menunggu buah itu matang dan jatuh agar dapat merasakan betapa manisnya ia.
firman nofeki
Mengapa mereka mencari kerja jauh dari tempat menguburkan orang tua mereka? Mengapa mereka kabur dari desa tempat mereka disunat? Mengapa mereka lebih menyukai kesejukan pohon yang tumbuh di sana dari pada naungan hutan kita?
Multatuli (Max Havelaar, or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company)
seorang guru adalah pengembara yang harus ke bukit belajar mengenal berjuta pohon yang bijak menyimpan rahsia warna kehidupannya di perut rimba.
Awang Abdullah (Sajak-sajak Telegram)
Langit, gerombolan awan, pohon dan kita didalam waktu yang terkadang bisa kita sebut sebagai "PAGI".
nom de plume
Diperlukan waktu hanya sepuluh tahun untuk menanam dan memelihara sebatang pohon, tapi memerlukan waktu paling sedikit 100 tahun untuk membentuk sebuah karakter jiwa.
Zhuge Liang (Art of War)
Senja ini, Evan membawaku ke sebuah pohon yang bertepian danau. Evan dan aku saling menggenggam tangan. Tak terasa, kini aku pun menangis
Syifa Syafira
Tuhan menciptakan tangan seperti apa adanya, dan kaki seperti apa adanya untuk memudahkan manusia bekerja
Andrea Hirata (Sirkus Pohon)
Dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada. Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan.
M. Aan Mansyur (Kukila)
Memasuki taman seperti membuka sebuah buku: ada lorong yang terang, pohon-pohon hijau yang tersusun seperti kalimat-kalimat yang teratur, atau tumbuh-tumbuhan yang liar terbiar, dan kita terpesona dengan warna-warna bunga, permukaan rata yang sedikit curam, pasir halus serta batu keras yang berlumut disalut waktu.
Baharuddin Zainal (Monolog Kecil: Tahun-Tahun Gelora)
Secara harfiah, Evergreen berarti pohon yang selalu berwarna hijau sepanjang tahun. Bisa pula diartikan sebagai selamanya. Aku ingin kafe ini, juga orang-orang di dalamnya, bisa bersahabat selamanya, seperti cemara yang tidak pernah berubah warna.
Prisca Primasari (Evergreen)
Kegembiraan bukan datang dari apa yang kita suka sahaja, tetapi kita akan gembira bila boleh berkongsi sesuatu yang kita suka dengan orang yang kita sayang
Nisyah (Bawah Pohon Sena)
Di manakah adanya semut? Di tempat yang banyak gula Di manakah kumbang bernyanyi? Di pohon yang banyak bunga
Mak Su (Mortar & Pestle)
Kau tahu, pohon-pohon telah jadi batu, masa lalu pun tersapu hujan-gaduh itu. Kepada siapa aku harus menabalkan janji? Selain pada kenangan—mungkin selembar catatan bersamamu. Tapi hujan-rusuh dan angin-hingar, enggan mendengar rayuan. Yang kukatakan cuma gumam. Maka, dekatkan saja hatimu
Ready Susanto
Anggap saja pertemuan di awal huruf dalam doaku adalah sapaan manja untukmu Aku akan mengajakmu menyusuri barisan puisi Kubangun sebuah pohon rindang agar kita bisa berteduh dari jauhnya jarak pandang Setiap waktu hatiku meredamkan gelisah langkahnya Ada gurat rasa yang masih merunduk malu-malu untuk kumengerti Disetiap alur jalan yang Allah hadiahkan Kita masih berpapasan, menatap jawaban, Sebab mata masih enggan bersinggungan Diantara poros takdir, kuingin engkaulah rotasiku Tempat barisan ingatan berputar pada titik yang sama, Terjebak dalam lingkaran bahagia yang tak berjeda Kisah yang belum runtun ini biarkan Allah menata Karena kita telah menitipkannya, maka percayakan ia pada penciptaNya
firman nofeki
Orang-orang berbicara tentang segala yang tumbuh, yang ditanam maupun liar, seolah mengenal mereka lebih daripada pokok-pokok itu sendiri mengenal dingin dan matahari, ataupun hangat bumi. Namun binatang tidak menghafal pohon-pohon karena namanya, seperti seekor induk atau sepasang tidak mengenal tetasannya atau susuannya dengan nama. Mereka mengenal tanpa batas.
Ayu Utami (Saman)
ANGAN Kuamati beberapa helai daun tampak gelisah, mungkin karena telah datang waktunya untuk berpisah dari ranting pohon itu, jatuh, kering, terurai, atau membusuk; kemudian menyatu kembali bersama tanah yang telah lama menjadikannya hidup.
Epaphras Ericson Thomas
Sebutir benih yang bertunas di bawah kaki pohon induknya tetap berada di situ sampai ia dipindahkan..Setiap manusia, kalau sudah tiba saatnya, harus pergi dan mewujudkan potensi masing-masing dengan caranya sendiri. [Ramayana-Mahabharata, hal. 28]
R.K. Narayan
segalanya menderas ke jalan-jalan mimpiku, senjata-senjata menderu. menyiksa pohon, menyiksa tanah, menyiksa langit. gairah matahari menderu tak habis malam tak habis siang. padaku dalam dada yang terbongkar, menyeru tak habis berjuta dunia. aku hidup.
Afrizal Malna (Abad yang Berlari)
Meskipun aku suka sekali pohon ru, kuakui mereka seperti penjajah. Merekalah bukti betapa manusia telah menelantarkan bukit ini pada kuasa alam. Warna mereka hijau gelap, tak seperti pohon zaitun yang hijau kebiruan, dan mereka tinggi besar, seperti berusaha menguasai negeri di mana mereka menancapkan akar, memaksakan diri mereka atas bukit-bukit ini. Seperti pohon zaitun, akar mereka dekat dengan permukaan tanah, bentuknya bersimpul kemudian lurus seperti buku-buku jari. Kedua pohon itu sama-sama mengais demi sepetak tanah yang sama, sehingga sulit bagi keduanya untuk hidup berdampingan.
Raja Shehadeh (Palestinian Walks: Forays into a Vanishing Landscape)
Perlembagaan ibarat batangnya yang teguh tegap itu yang mengandungi seluruh peruntukan dan perkara di dalamnya. Tetapi batang pohon itu dikukuhkan juga oleh dua kekuatan lain, yakni pembuluh kayu dan dapat kita samakan dengan Penerimaan dan teras kayu yang boleh kita ertikan dengan Keadilan Sosial.
Wan Mohd Nor Wan Daud (Budaya Ilmu Dan Gagasan 1Malaysia: Membina Negara Maju Dan Bahagia)
selalu ada usaha yang tidak membuahkan hasil. semacam tidak semua pohon perlu berbunga dan berbuah. toh pada akhirnya semua akan berguna.
Rafiqah Ulfah Masbah
Apakah angin kencang merobohkan, pohon pun terguncang, hatimu pun tumbang, jika saja kau dapat kutanam kembali?
Musa Rustam (Melukis Asa)
Ujub itu pohon berduri tumbuh di tanah diri. (Ujub)
Darma Mohammad (Kumpulan Puisi: Rintik-Rintik Huruf)
kita hidup bagaikan pohon, tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. tapi membutuhkan banyak unsur. sama sepeti manusia, yang tidak bisa hidup sendiri.
Syifa Aulia
Tidak ada pohon perjuangan yang berbuah kesia-siaan.
Lenang Manggala (Negara 100 Kata)
Kulihat peri kecil muram Di keteduhan pohon kertas. Kumengenal peri kecil muram Yang tertiup angin suatu malam.
Khaled Hosseini (And the Mountains Echoed)
semakin tinggi pohon,semakin kencang angin berhembus tapi jangan takut karena pohon yang tinggi memiliki akar yang kuat
TIE
Priyayi zaman dulu kan bekerja dan mengabdi kepada kaum penjajah, bukan bekerja dan mengabdi kepada kaum kawula seperti kita ini. Mereka bersikap ningrat, maunya dilayani. Mereka menjunjung atasan dan tak mau mengerti tangise wong cilik. Mereka maunya membentuk tata nilai sendiri dan malu bergaul dengan rakyat biasa. Dan mereka angkuh tentu saja. Mereka jarang menyadari bahwa gaji yang mereka terima berasal dari wong cilik, setidaknya berasal dari harta milik bersama seluruh rakyat. Pokoknya priyayi zaman dulu itu menurut pohon jengkol demikian tak berharga karena miskin akan nilai kemanusiaan yang sejati.
Ahmad Tohari
... Lelaki adalah anak-anak pohon keramat, diketam dan diupam menjadi kotak coklat, tabah dalam asuhan hujan dan matahari, menyediakan bahu dan dadanya untuk ditangisi Perjuangannya sederhana, mati sebagai pelukan
Syah Sandyalelana
Zikir adalah Anda menyadari segala sesuatu secara menyeluruh. Anda tidak bisa melihat pohon tanpa menemukan Allah. Anda tidak bisa bangun tidur tanpa mengingat Allah. Anda tidak bisa mimpi tanpa kesadaran tentang Allah. (h.20)
Emha Ainun Nadjib (Kalau Kamu Ikan Jangan Ikut Lomba Terbang)
Orang-orang dwasa pasti tidak akan memercayai kalian. Mereka membayangkan dirinya menduduki tempat yang amat luas. Mereka melihat dirinya sendiri sepenting pohon-pohon Baobab. Maka cobalah suruh mereka menghitung. Mereka akan senang saja: mereka gila angka-angka.
Antoine de Saint-Exupéry (The Little Prince)
Engkau tahu apa artinya Indonesia? Indonesia adalah pohon yang kuat dan indah itu. Indinesia adalah langit yangbiru dan terang itu. Indonesia adalah mega putih yang bergerak pelan itu. Ia adalah udara yang hangat. Saudara-saudaraku yang tercinta, laut yang menderu-deru memukul-mukul ke pantai di waktu senja, bagiku adalah jiwanya Indonesia yang bergolak dalam gemuruhnya gelombang samudera. Bila kudengar anak-anak tertawa, aku mendengar Indinesia. Bila aku menghirup untaian bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah air kita bagiku.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Telah meninggal dunia ibu, oma, nenek kami tercinta.... Requiescat in pace et in amore, Telah dipanggil ke rumah Bapa di surga, anak, cucu kami terkasih.... Dalam sehari, Bunda menerima dua kabar (duka cita / suka cita) sekaligus. Apakah kesedihan serupa cucuran air hujan yang jatuh dan mengusik keheningan kolam? Apakah kebahagiaan seperti sebuah syair yang mesti dipertanyakan mengapa ia digubah? Bagaimana kita mesti menjawab pertanyaan tentang kematian orang orang terdekat? Mengapa mereka pergi? Kemana mereka akan pergi? Memento mori, serupa nyala api dan ngengat yang terbakar. Seperti juga lilin yang padam, bunga yang layu, ranting yang kering, pohon yang meranggas. Mereka hanyalah sebuah pertanda, bahwa semua yang hidup pasti akan mati. Agar kita senantiasa teringat pada tempus fugit, bahwa waktu yang berlalu  tak akan pernah kembali. Ketika Bunda masih muda, sesungguhnya Bunda sudah tidak lagi muda, tak akan pernah bertambah muda, tak akan kembali muda. Waktu telah merenggut kemudaan kita pelan pelan. Ketuaan adalah sebuah keniscayaan, dan kematian adalah sebuah kepastian. Tak ada sesuatu pun yang abadi, Anakku. Ingatan tentang mati semestinya memberi kita pelajaran berharga. Jangan pernah menyia nyiakan waktu. Jangan hilang niat untuk bangkit dari ranjang. Jangan terlalu malas untuk bekerja. Jangan terlalu letih untuk menuntaskan hari. Jangan pernah lupa untuk berdoa. Jangan lalai untuk bersyukur. Jadikan hari ini sebagai milikmu. Ketika semua perkara seakan menggiring langkahmu pada kesulitan, kegagalan, ketidakpastian dan rasa sakit. Pikirkanlah siapa yang akan jadi malaikat pelindung dan penolongmu? Bagaimana engkau akan menemukan eudaimonia? Bagaimana engkau hendak memaknai hidup? Dalam sekejap mata hidup bisa berubah. Waktu berlalu dan ia tak akan pernah kembali. Gunakan kesempatan untuk bercermin pada permukaan air yang jernih. Tatap langsung kedalaman telaga yang balik menatap kepada dirimu. Abaikan rasa sakit dan penderitaan, sebab puncak gunung sudah membayang di depan mata dan terbit matahari akan menghangatkan kalbumu. Cuma dirimu yang punya kendali atas pikiran, hasrat dan nafsu, perasaan dan kesadaran inderawi, persepsi, naluri dan semua tindakanmu sendiri. Ketika kita mengingat kematian, kita tidak akan lagi merasa gentar. Sebab ia lembut, ia tak lagi menakutkan. Ia justru menuntaskan segala rasa sakit dan penderitaan. Ia pengejawantahan waktu yang berharga, kecantikan yang abadi, indahnya rasa syukur, dan kemuliaan di balik setiap ucapan terima kasih. Ia mengajarkan kita bagaimana menghargai kehidupan yang sesungguhnya. Ia membimbing kita menemukan pintu takdir kita sendiri. Apapun perubahan yang menghampiri dirimu. Ia adalah pintu rahasia yang menjanjikan kejutan yang tak akan pernah kamu sangka sangka. Yang terbaik adalah menerimanya sebagai berkat. Apa yang ada dalam dirimu adalah kekuatanmu. Engkau akan membuatnya berarti. Bagi mereka yang paham, takdir dan kematian adalah sebuah karunia, seperti juga kehidupan. Sesungguhnyalah kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali.
Titon Rahmawan
Semuanya mengingatkan Sakarya akan sebatang pohon kelapa yang ditiup angin. Bila angin bertiup dari utara pohon itu akan meliuk ke selatan. Bila angin reda pohon itu tidak langsung kembali tegak, melainkan berayun lebih dulu ke utara. Seperti pohon kelapa itu; sebelum kehidupan kembali tenang lebih dulu harus terjadi sesuatu.
Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk)
Ia dan Pohon Siang itu ia meminta maaf kepada satu-satunya pohon di tepi lahan parkir kantornya, yang memayungi mobilnya dari terik. Ia minta maaf untuk kakeknya yang adalah pengusaha kebun sawit, untuk keluarga mereka yang turun-temurun meyakini seorang tukang kayu sebagai anak tuhan. Pohon itu meratap, teringat dengan kawannya yang dicabut dari tanah ketika mereka kanak-kanak, dengan alasan “terlalu dekat dengan bangunan”. Dari kejauhan mereka biasa saling tatap dan berkedip, dan berpikir ketika dewasa kelak dan burung atau kupu-kupu mulai hinggap sebentar pada cabang serta pucuk mereka, mereka bisa saling menitipkan pesan. Pohon itu menyesali tak sempatnya ia mengatakan ia mencintai kawannya itu; ia ingin membawa kawannya itu ke gereja, dan di depan altar mereka bisa dipersatukan di hadapan tuhan yang bercabang tiga—seperti pohon— dan anak-anak mereka bisa memenuhi lahan parkir itu, sepetak demi petak, hingga kelak orang-orang lewat mengira ada hutan di tengah kota. Pria itu pun memeluk pohon itu, dan pohon itu memeluknya.
Norman Erikson Pasaribu (Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi)
Daun itu kutiupkan untukmu sebagai pertanda atas peranmu yang kian dekat. Ketika kau menyadarinya maka kehidupan terselamatkan.
Haditha (Anak Pohon)
Kata-kata indah adalah seni tertinggi. Kata-kata itu bisa sekaligus bermakna dan juga hampa, tergantung kepada siapakah kata-kata itu dilontarkan.
Haditha (Anak Pohon)
meski nafasku telah habis sekalipun, aku tetap mencintaimu, karena aku hujan dan kamu bumi.
Maria Ita (Pancen : Di Bawah Pohon Bintaro, Kisah Ini Berakhir)
Bila kau dengar gemericik berjatuhan, itu bukan hujan, itu rindu yang mewakili aku, menyapamu dalam setiap tetes di atas jendela.
Maria Ita (Pancen : Di Bawah Pohon Bintaro, Kisah Ini Berakhir)
Ajari aku mencinta tanpa hati, sehingga tak perlu sakit hati saat mencintai
Maria Ita (Pancen : Di Bawah Pohon Bintaro, Kisah Ini Berakhir)
Orang - orang yang berkata tentang diri mereka sendiri, melebih - lebihkan. Orang - orang yang berkata tentang orang lain, mengurang - ngurangi.
Andrea Hirata (Sirkus Pohon)
Jangan pernah menangkap kupu-kupu. Mulanya makhluk kecil itu merayap untuk waktu yang lama sebagai ulat di pohon, dan itu bukan kehidupan yang menyenangkan. Kini, dia baru saja punya sayap dan ingin berterbangan di udara dan bersenang-senang, mencari makanan di dalam bunga dan tidak melukai siapapun. Lihat, bukankah lebih enak melihatnya berterbangan di sana?
Multatuli (Max Havelaar, or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company)
...Ibuku rajin meronce air mata. Kemudian ronce itu dimasukkan ke dalam kantung kain kafan. Setiap purnama dia membacakan mantra. Sebutir air mata menetes di ubun-ubunku lalu hilang dilarung asap dupa ke Tukad Cebol. Negeriku tercipta dari air mata ibu yang penuh luka sayatan. Luka ibu akan sembuh bila memandang anak lelakinya tumbuh menghijau seperti pohon pisang di dekat dapur....
Oka Rusmini (Saiban)
terhempas, takluk, digerus dingin angin, suara truk, debu menyelip di mataku betapa dancuk hidup ini! betapa dancuk lonte yang setengah mati kukasihi dan menusukku dari belakang! betapa dancuk Tuhan! bergetar, mabuk bayang-bayang, tuak kegelapan, mabuk keramaian yang kubenci, mengambang, tersesat, terhisap angin, luka menganga, nanah tembaga meleleh dari lutut Apolo emas yang dipenggal sebelum perang meledak; sulap kata-kata Homer dengan mata piceknya. terkutuklah bayangan, pohon-pohon meronta karena tak ada satu pun cuaca baik menawarkan minuman dari langit. aku biarkan itu semua menyalipku, dalam metafora, mata binatang, bibir lebar mirip kemaluan wanita sombong yang merasa imannya takkan tumbang meski dijejali kata-kata jorok nan mesum. bergerak, tenggelam, sinar patah di lingkar air dalam gelas mineral yang kokoh dan kau bilang air abadi dan kau bilang api bisa mati sendiri terkutuklah engkau yang menelan masa laluku dan menghibahkan kehancuran ini lobang nganga di dadaku. oh, kau yang memuntahkan abu tulangku, yang akan tetap kuingat meski Tuhan atau apapun itu menyeretku ke neraka omong kosong di alam kubur dan bertanya bagaimana imanku sebenarnya. oh, terkutuklah engkau!
Bagus Dwi Hananto (Dinosaurus Malam Hari)
Ayah pernah bilang, manusia ibarat anak yang lupa keluarga dan sanak-saudara. Ia menyangka dirinya yatim piatu di Bumi ini. Ia lupa bersudara jauh dengan orang utan, simpanse, gorila. Ia lupa bersaudara jauh dengan pohon. Satu-satunya yang perlu disembuhkan dari manusia adalah amnesianya. Manusia perlu kembali ingat ia diciptakan dengan bahan baku dasar yang sama dengan semua makhluk di atas Bumi." Partikel (Hal 227)
Dewi Lestari
Ya. Menyenangkan bisa terbang melayang. Aku sering mimpi terbang.” Kata Nuansa. “Sekarang terbang menjadi nyata. Terbang adalah wujud dari kebebasan. Ketakberikatan terhadap segalanya akan membuat dirimu mampu terbang.
Haditha (Anak Pohon)
Seorang laki-laki dengan tergesa-gesa datang kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khattab ra, ia berkata: "Wahai Amirul Mukminin, aku melihat si fulan dan fulanah saling berpelukan di belakang pohon kurma." Umar langsung mencengkram kerah bajunya, mengambil tongkatnya dan memukul laki-laki itu dengan tongkat tersebut satu kali.. "Mengapa engkau tidak menutupinya dan engkau berharap dia akan bertaubat?", tegas Umar bin Khattab ra. " Sesungguhnya Rasulullaah SAW pernah bersabda, 'Barangsiapa yang menutupi aib seseorang di dunia, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.'" Di lain waktu Umar bin Khattab ra, berkata: "Beginilah seharusnya kalian berbuat, jika kalian melihat saudara kalian tergelincir langkahnya maka tutupilah dan tolonglah serta berdo'alah kepada kepada Allah agar Dia berkenan mengampuni dosanya. Dan janganlah kalian menjadi pembantu setan untuk mencelakakannya.
Khalid Muhammad Khalid (5 Khalifah Kebanggaan Islam)
kematian yang ia buru kini lesap di matamu, direbahkan tubuhnya dikuburan dangkal jiwa kekasih, yang ia gali dengan tangan-tangan takdirnya sendiri ia adalah musafir malang yang pernah mengistirahkan pengembaraan di negeri anganmu dirahim hatimu,kekasih pernah dirambahnya ladang-ladang luka yang purba kemudian ditanaminya sekebun pohon2 cinta yang rimbun tempat kelak engkau dapat berjalan dibawah rindangnya, meneduhkan rindumu ditiap cabang-cabangnya
firman nofeki
Demi kezaliman yang terjadi di Palestina, di Kashmir, di Afganistan, di Irak atau di manapun juga ... kenapa mereka rela menyengsarakan saudara-saudaranya yang sebangsa dan setanahair? Berarti ada yang salah dengan rasa kebangsaan mereka. Mereka merasa lebih dekat dengan warga asing, dengan negara asing, ketimbang dengan saudara-saudaranya sendiri, dengan bangsa dan negaranya sendiri. Bagi mereka, padang pasir dan pohon kurma menjadi lebih penting ketimbang bumi yang subur ini.
Anand Krishna (Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa)
Jalan setapak memasuki hutan gempol itu sedikit berair. Anggrek bulan dengan bunga birunya yang sedang mekar menggelantung dibuai angin pagi. Juga jenis anggrek bulan lain dan anggrek merpati ramai bergelantungan pada pohon gempol. Malah serumpun anggrek harimau tenang-tenang mendekam diketinggian cabang. Bunganya yang kuning berbelang coklat serasa hendak meloncat untuk menerkam. Sayang sekali keindahan alam itu masih belum dapat dinikmati orang buangan ini. Juga tidak oleh penghuni kampung-kampung di gunung. Mereka baru bisa bicara tentang lapar.
Pramoedya Ananta Toer (Perawan Dalam Cengkeraman Militer)
Aku tak tahu mengapa hari-hari ini aku begitu sering tersentuh. Oleh pohon, oleh, burung, air sungai. Entah mengapa, hal-hal kecil yang memikat yang pernah diajarkan kepada kita, ketika kita mendekat kepada mereka, mereka tampak begitu besar, nyaris suci. Memang melo-dramatis rasanya mengatakan ini semua tetapi aku tak mengada-ada. Kami tahu aku bukan orang yang religius; dulu aku malah suka menegaskan diri bahwa aku tak beragama justru agar para sejawatku tak mengusikku. Tetapi akhir-akhir ini aku merasa, berteduh dalam kesendirian juga pengalaman religius.
Laksmi Pamuntjak (The Question of Red)
Buat apa pendidikan, aku bertanya .. Mengajarmu kenal yg agung, jawab gunung .. Agar kau tahu kekekalan, kata langit .. Bisa menikmati keindahan, tambah matahari .. Supaya tahu keburukan, seru hutan .. Paham pada diri sendiri, siul burung .. Dan bikin kau dinamis, bisik anggur .. Apa manfaatnya bagiku, aku bertanya .. Supaya pikiranmu jernih, ujar kolam .. Dan jiwamu berseru, tujuh teratas .. Aku tak paham juga mengapa mesti begitu ?? Supaya kau mencintai hidup, bentak pohon .. Tahu kebebasan dan keterbatasan, nasihat bulan .. Tak puas pada semua penjelasan itu, aku tidur .. Esok harinya aku bangun dan bertanya lgy .. Tapi, mengapa engkau tanya ?? Tanya jendela .. Untuk apa kau hidup ?? Desak udara .. Mengapa kau termangu ?? Hardik batu kali .. Kau ingin mati ya ?? Ejek bunga" .. Bagaimana aku bisa menjawab mereka ?? Bapak guru lama bisa bertanya-tanya .. :)
Renungan Bapak Guru
Jkt 20/12/2012 Bulan ini bulan desember,spt juga desember thn2 sebelumnya pada bulan ini umat kristiani mempunyai hari besar semacam tradisi tahunan yaitu yg di sebut "Natal" atau Natale (italia) atau Christmas,dan sebagai penganut kirstiani sejak lahir saya selalu menikmati bulan2 desember spt ini tiap tiap tahunnya,saya selalu menikmatinya didalam hati saya,apalagi saat saya masih kanak kanak dulu,karena natal identik dengan hadiah untuk anak2,desember adalah menjadi bulan yg paling saya tunggu2 karena pada bulan itu akan ada sebuah kado yang menunggu saya pd bulan itu,akan ada gemerlap cahaya lampu pohon dan hiasan hiasan natal lainnya,saya akan memakai baju baru juga saya akan tampil dipanggung gereja memainkan fragmen dan drama natal bersama anak2 lainnya yang juga memakai baju baru yg menambah kesan natal semakin saya tunggu, Saya lahir di Indonesia saya tinggal di Indonesia saya bersekolah di Indonesia,negara yg mempunyai beragam agama yg mana agama2 itupun mempunyai Hari besar nya masing2,sejak masih kanak2 saya selalu terharu ketika melihat org lain berdoa entah dengan memakai tata cara agama apa mereka berdoa yg jelas saya selalu merasa ada suatu hal yg berbeda dlm hati saya ketika melihat org berdoa itu,saya bersahabat dgn beberapa teman saya orang2 keturunan yg beragama Budha,sy juga punya beberapa sahabat org Bali dan keturunan India yg beragama Hindu,walaupun jumlah mereka tidak sebanyak sahabat2 saya dari kaum Muslim,Muslim adalah mayoritas di negri ini otomatis muslimlah yg hampir 90% dari mereka setiap harinya berinteraksi dengan saya, lebih dalam lagi saya pun mempunyai banyak family sedarah dari kakek saya yg beragama muslim,tidak heran kalau sy pun menikmati hari raya Idul fitri,dan tidak jauh berbeda dengan natal momen Lebaran adalah menjadi hari yg saya tunggu2 juga, karena setiap tahunnya saya akan berkumpul dgn sanak family dan kerabat merasakan ketupat lebaran dan opor ayamnya juga saya bisa meminta maaf dan bersalaman dengan orang yg pernah bertengkar dengan saya dengan ucapan minal aidin walfaidzin,luar biasa hubungan batin saya dengan muslim sepertinya suatu hal yg tidak bisa terpisahkan,tetapi diluar daripada itu semua terjadi dilema dalam hidup saya ketika saya menyaksikan hal2 lain yg "mengusik mesranya hubungan saya dengan muslim,di saat yg sama berita di media masa sebegitu hebatnya memberitakan hal yang menumbuhkan opini2 perpecahan yang semakin hari semakin jauh dari kata "damai" dimana pandangan yg berbeda tentang Tuhan adalah menjadi alasan untuk pendidikan perang! sehingga seolah olah memaksa manusia siaga satu dan siap untuk membenci saat ada kaum yg berbeda dengan mereka,saya muak dengan ini, Keperdulian saya dgn keharmonisan keduanya Membuat saya tertarik utk "mencari tau tentang isi dari kedua agama ini,dgn hati yg bertanya tanya ada apa sebenarnya yg terjadi di dalamnya?,dengan segala keterbatasan saya bertahun tahun saya mencoba mencari titik temu antara perbedaan dan persamaan antara kristen dan islam,rasa ingin tau saya yg membuat saya sedikit demi sedikit menggali keduanya mulai dari sisi sejarah,segi terminologi,sisi tafsir2 atau doktrin (aqidah) nya,dgn mencari sumber2 yg akurat atau dengan cara bertanya,berdiskusi dll,sy tidak terlalu tau apa tujuan dan visi saya tapi yg jelas saya tertarik untuk mengetahuinya dan kadang saya lelah!saya merasa terlalu jauh memikirkan ini semua,saya merasa agama yg seharusnya memproduksi kedamaian dan cinta thd sesama malah membuat saya pusing dan muak karna saya koq malah pusing memikirkan konflik2 dan benturan2 yg justru disebabkan oleh agama itu sendiri Seiring berjalannya waktu pemahaman saya terhadap natal dan bulan desember itupun mulai terpisah,saya sudah mempunyai pemahaman sendiri mengenai natal,Desember hanyalah salah satu bulan dari 12 bulan yg ada,tetapi damai natal itu sendiri harus berada dalam sanubari dan jiwa dan roh saya setiap hari, "Selamat Natal Damai Selalu Beserta Kita Semua" Amien.........
Louis Ray Michael
Cinta Ayah & Cinta Ibu Cinta ayah tak pernah selembut cinta ibu. Cinta ibu sering digambarkan seperti matahari: terang, hangat, selalu tampak berseri. Ia memberi tanpa henti, mengasuh, mendidik, memeluk dengan sabar, hingga anak-anak tahu—kasih itu punya wajah perempuan. Tapi cinta ayah? Ia seperti akar pohon: diam dan tersembunyi di dalam tanah, tidak terlihat, sering dilupakan, namun tanpanya batang takkan pernah berdiri, daun takkan pernah hijau, buah takkan pernah ranum. Ayah rela jadi bayangan, agar ibumu bisa menjadi cahaya. Ia rela jadi garam, tak terlihat di meja makan, tapi tanpa dirinya masakan akan berasa hambar. Seringkali, anak-anak hanya tahu cerita ibu— tentang sakit melahirkan, tentang malam-malam panjang penuh tangisan. Mereka lupa ada ayah yang menahan kantuk di luar rumah, berpeluh sepanjang hari, agar air susu bisa terus mengalir di rumah kecil itu. Ada ibu yang, karena luka hatinya, menyebut ayah tak berguna di telinga anak-anaknya. Dan kata-kata itu tertanam seperti duri, membuat anak memandang ayahnya dengan mata curiga. Padahal, ayah itulah yang senantiasa paling siaga setiap kali keluarga diancam bahaya. Cinta ayah tidak selalu manis, ia sering kaku, dingin, bahkan terasa jauh. Ia mungkin pernah memukulmu bila kau khilaf, tapi melarangmu untuk menangis. Bukan karena ia tak peduli, tapi karena ia memikul beban yang tak pernah ia bagi. Ia lebih banyak diam, karena di balik diamnya ada seribu doa yang tak terdengar telinga. Ibu mungkin pernah berkata, “Jangan cari suami seperti ayahmu.” Tapi ayah, meski sering diremehkan, masih bisa berkata dengan rendah hati: “Berbaktilah pada ibumu. Karena surga ada di telapak kakinya.” Betapa ironisnya: ayah yang disalahkan, tetap mengajarkan anaknya untuk tetap mencintai ibunya. Dan dari situ kita tahu, cinta ayah bukan sekadar tentang dirinya, melainkan tentang keluarga—baginya, keluarga adalah segalanya. Mungkin kau tidak akan pernah melihatnya menangis di hadapanmu, tapi lututnya bisa gemetar saat tak mampu lagi bekerja. Ia mungkin tak pandai berkata manis, tapi ia adalah tameng pertama ketika badai menerjang. Ia mungkin jarang di rumah, tapi tiap rupiah yang ia bawa pulang adalah cara bagaimana ia berkata: “Aku ingin kau bahagia, dan hidupmu jauh lebih baik dariku.” Ayah adalah hujan yang datang malam-malam, mengisi sumur tanpa disadari. Ayah adalah batu pijakan di sungai deras, yang kau injak untuk menyeberang, meski batu itu sendiri tenggelam di dalam derasnya arus. Maka bila kau mencintai ibumu, jangan lupa untuk menghormati ayahmu. Karena di balik masakan lezat ibumu, ada tetes keringat ayahmu. Di balik rumah yang melindungimu dari panas dan hujan, ada tulang punggung ayahmu yang menahan beban. Ayah bukanlah dewa, ia bisa rapuh, bisa sakit, bisa salah, bisa jatuh. Namun justru karena itu, cinta ayah adalah cinta yang paling manusiawi: tak sempurna, tapi tetap setia. Tak tampak, tapi sungguh nyata.
Titon Rahmawan
Pada Minggu sore yang tenang itu, aku menikahi Dinda. Aku berpakaian Melayu lengkap persis seperti waktu aku melamarnya dahulu. Dinda berpakaian muslimah Melayu serbahijau. Bajunya berwarna hijau lumut, jilbabnya hijau daun. Dia memang pencinta lingkungan. Itulah hari terindah dalam hidupku. Jadilah aku seorang suami dan jika ada kejuaraan istri paling lambat di dunia ini, pasti Dinda juaranya. Dia bangkit dari tempat duduk dengan pelan, lalu berjalan menuju kursi rotan dengan kecepatan 2 kilometer per jam. Kalau aku berkisah lucu dan jarum detik baru hinggap di angka 7, aku harus menunggu jarum detik paling tidak memukul angka 9 baru dia mengerti. Dari titik dia mengerti sampai dia tersipu, aku harus menunggu jarum detik mendarat di angka 10. Ada kalanya sampai jarum detik hinggap di angka 5, dia masih belum paham bahwa ceritaku itu lucu. Jika dia akhirnya tersipu, lalu menjadi tawa adalah keberuntunganku yang langka. Kini dia membaca buku Kisah Seekor Ulat. Tidak tebal buku itu kira-kira 40 halaman. Kuduga sampai ulat itu menjadi kupu-kupu, atau kembali menjadi ulat lagi, dia masih belum selesai membacanya. Semua yang bersangkut paut dengan Dinda berada dalam mode slow motion. Bahkan, kucing yang lewat di depannya tak berani cepat-cepat. Cecak-cecak di dinding berinjit-injit. Tokek tutup mulut. Selalu kutunggu apa yang mau diucapkannya. Aku senang jika dia berhasil mengucapkannya. Setelah menemuinya, aku pulang ke rumahku sendiri dan tak sabar ingin menemuinya lagi. Aku gembira menjadi suami dari istri yang paling lambat di dunia ini. Aku rela menunggu dalam diam dan harapan yang timbul tenggelam bahwa dia akan bicara, bahwa dia akan menyapaku, suaminya ini, dan aku takut kalau-kalau suatu hari aku datang, dia tak lagi mengenaliku.
Andrea Hirata (Sirkus Pohon)
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan – swaranya bisa dibeda-bedakan; kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu atau jendela. Meski pun sudah kaumatikan lampu. Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan – menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan
Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)
Pohon memberi buah rantingnya dipatahkan. Engkau tabur kepingan perak agar tangan engkau dicium orang.
Darma Mohammad (Langit Membuka Lipatan)
Aku tak akan fanatik pada kejujuranku. Tak akan kuhilangkan keyakinanku bahwa rerumputan tak akan pernah menjadi pohon kurma; perampok tak akan pernah menjadi Nabi. Sesungguhnya, berpegang teguh pada sesuatu yang utama di zaman yang hina adalah sesuatu yang terbaik.
Faruq Juwaidah (Mencari yang Mustahil)
jadilah kau burung — jadilah. biarlah aku menjadi pohon — dengan ranting dan dahan sedemikian musim setia menampung sarang.” (jadilah kau burung)
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
Seperti pohon singkong yang tinggi. Si enggak pernah menampakkan umbi. Ia tetap rendah hati. - Piring Bahagia Si dan Bi
Dian Pertiwi Josua
Një studiues gjerman, dr. Herbert Louis, pohon se në Shqipëri nuk ekziston një dukuri e tillë si turma. “Një nga përshtypjet më të forta që më ka lënë kontakti i gjatë me popullsinë shqiptare, thotë dr. Louis, është me siguri kjo që, te çdo shqiptar ka një njeri me vetbesim. Çdo individ, qoftë i zgjuar ose budalla, ka një aftësi të habitshme për të vendosur vetë…”. Mungesa e kësaj fryme të kopesë mund të jetë interesante, por ajo ka pasur pasoja fatale për unitetin e Shqipërisë.
Faik Konica
Jangan bunuh universiti, kata bapak, dengan fail-fail kuasa dengan surat-surat liar. Fail kuasa bukan minda surat liar bukan korpus fail kuasa dan surat liar tak pernah jadi pohon ilmu.
Nassury Ibrahim (Dongeng Bapak)
Universiti sebuah kebun minda kebun subur kerana pohon intelektual bukan tanah yang dipugar-pugar.
Nassury Ibrahim (Dongeng Bapak)
Gugur bukan berarti sedih. Bagi angsana, gugur adalah kebahagiaan. Bahagia guguran bunganya menjadi berarti. Setidaknya bagi angin yang menghirup harum bunganya. Menggugurkan sesuatu untuk orang lain adalah awal kebahagiaan jika didasari dengan ketulusan. Seperti pohon angsana yang tulus menggugurkan bunganya untuk dinikmati manusia. Bagi manusia, menikmati guguran bunga angsana merupakan kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena memang banyak hal di dunia ini yang tak dapat dijelaskan. Hanya bisa dirasakan.
Anggrek Lestari (Cermin)
Dengan demikian, diketahui sudah bahwa jargon-jargon yang berbau kesetanan yang diucapkan oleh José Arcadio Buendía adalah dalam bahasa Latin. Bapak Nicanor mengambil keuntungan dari situasi itu sebagai satu-satunya orang yang mampu berkomunikasi dengan orang tua itu dan mencoba memasukkan kebajikan-kebajikan ke dalam pikirannya yang sinting. Setiap sore, ia duduk dekat pohon kastanye itu, berkhotbah dalam bahasa Latin, tetapi José Arcadio Buendía tetap menolak jebakan-jebakan retorik dan transmutasi dari coklat tersebut dan meminta foto Tuhan sebagai satu-satunya bukti.
Gabriel García Márquez (One Hundred Years of Solitude)
Di lantai kasih ini kau letakkan takar cinta serpihan permata yang kau kutip dari sela jendela pelangi jejak semalam Nestapa bertingkah lara menggelanggang kota lambaian gerhana redup pohon yang dahulu menyahut pudar dalam lingkarannya saat jemari menggamit senja
A.D. Rahman Ahmad
Pohon-pohon pun merasa pilu mendengar lagu itu, hingga daun-daunnya berguguran.
Ana P. Dewiyana (Kisah Peniup Seruling)
Romo percaya kalau pohon itu angker?” tanyanya lagi seusai acara memetik mangga, berdua menggelar tikar plastik di tanah kebun, mengiris mangga dan melahapnya. “Romo pribadi sih tidak percaya. Bagi romo pohon tetaplah pohon. Kalau dibilang ada penghuninya, biarkan saja, itu bukan urusan kita. Dan kita tidak boleh ganggu.” “Jadi Romo percaya pohon itu ada penunggunya?” “Kalau masalah itu Romo tidak yakin. Karena itu adalah hal gaib. Kita tidak tahu dan itu bukan urusan kita.
Haditha (Anak Pohon)
Halo mas Waras. Piye kabare?” “Aku bahagia. Matursuwun.
Haditha (Anak Pohon)
cinta itu ga seperti pohon singkong..yang bisa dicabut trus ditanam lagi..cabut lagi,tanam lagi..
fellakun
Pohon ini hampir tak bisa bernapas, Eomma. Dia kesakitan. Rantingnya dipotong, itu tak baik buat dia. Ibu guru di sekolah pernah bilang, ‘pohon yang ranting atau dahannya dipotong sama saja seperti ketika bayi dipotong tangan dan kakinya, apalagi jika pohon itu masih kecil’.” -Cerita 1: Hyunnie and His Protective Side, TMHOLT hal.2-
Ida R. Yulia (Take My Hand, One Last Time)
Karena kalian tahu? Betapa pohon besar menyingkirkan dan membunuh pohon kecil.
Multatuli (Max Havelaar, or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company)
Po ashtu edhe për të gjitha ditët e një jete pa shkëlqim, koha na merr me vete. Por gjithmonë vjen një çast kur duhet ta mbajmë. Jetojmë në të ardhmen: "nesër", "më vonë", "kur të rregullohesh", "kur të rritesh do ta kuptosh". Këto inkonsekuenca janë të admirueshme, sepse në fund të fundit bëhet fjalë kur të vdesësh. Megjithatë vjen një ditë dhe njeriu vëren se thotë se është tridhjetë vjeç. Kështu ai pohon rininë e vet. Por njëherësh përcaktohet në raport me kohën. Zë vend aty. Pranon se gjendet në një çast të dhënë të një kurbe që e pranon se duhet ta përshkojë. Ai i përket kohës dhe te tmerri që e ka pushtuar ai sheh armikun e vet më të madh. Nesër, ai priste të nesërmen, kur gjithçka tek ai duhej ta kundërshtonte. Kjo revoltë e trupit është vetë absurdi.
Albert Camus (The Myth of Sisyphus and Other Essays)
aku matahari kecil lagi terpencil di pinggir kampung tergantung antara pucuk pohon dan tengkuk kerbau (Autobiografi)
Rahimidin Zahari
Ujian tak putus-putus datang selagi nyawa berada dalam jasad. Ujian juga tarbiah untuk dekatkan diri dengan Allah. Kuat terletak pada iman. Tabah terletak pada takwa. Semakin susah dugaan, semakin gagah kau berdoa. Kalau mampu menangis, kau menangislah. Jangan malu untuk mengadu kesulitan kau. Dia pasti tunjukkan solusi yang kau pohon.
Aii Fariza (Makmum yang Paling Aku Cinta)
Biarkan aku menjadi lubang di pohon yang menyimpan segala resahmu. Bisikkan rahasiamu di sana lalu tutuplah dengan tanah. Dalam kesunyianku, bisikanku akan menemanimu. Di antara lorong waktu dan ruang, dia menjadi milikmu selamanya.
Hetih Rusli (Semesta Cerita Kita)
Ajari aku mencinta tanpa hati, sehingga tak perlu sakit hati saat mencintai.
Maria Ita (Pancen : Di Bawah Pohon Bintaro, Kisah Ini Berakhir)
Ketika lidah berfungsi sebagaimana mestinya, itu laksana musim semi yang menyengarkan dan pohon buah yang memberi sari - sari makanan untuk pertumbuhan yang sehat.
Levi Lusko (I Declare War: Four Keys to Winning the Battle with Yourself)
Tapi, setinggi apapun melompat. Ingat Teori Plato, ingat Teori Atom, ingat Teori Darwin, ingat Hukum Gravitasi ; kalo semuanya akan kembali jatuh. Selama masih di Bumi, derajat manusia tetap sama seperti daun mengkudu yang jatuh di bawah pohon.
Vergi Crush
Dengarkan pepohonan saat mereka bergoyang tertiup angin. Daun mereka menceritakan rahasia. Kulit mereka menyanyikan lagu-lagu masa lalu saat tumbuh di sekitar batang. Dan akarnya memberi nama untuk semua hal
Vergi Crush
Harga Gazebo Kayu Jati, Harga Gazebo Jati, Harga Gazebo Jati Lawasan, Harga Gazebo Kayu Jati 4x4, Harga Gazebo Kayu Jati Minimalis, Harga Gazebo Jati Ukir, Harga Gazebo Kayu Jati Ukuran 3x3, Harga Gazebo Kayu Jati 2x2 Beli Gazebo, Buy Gazebo Online, Biaya Pembuatan Gazebo Sederhana, Biaya Pembuatan Gazebo Kayu, Biaya Pembuatan Gazebo Minimalis, Harga Gazebo Murah, Harga Gazebo Kayu, Harga Gazebo Atap Sirap, Harga Gazebo Glugu, Harga Gazebo Garden, Harga Gazebo Kayu Glugu, Harga Gazebo Kayu Kelapa, Harga Gazebo Joglo, Harga Gazebo Jawa, Harga Gazebo Ukir, Harga Gazebo Kecil, Harga Gazebo Kayu 3x3, Harga Gazebo Kayu Ukuran 2x2, Harga Gazebo Minimalis, Harga Gazebo Minimalis Modern, Harga Gazebo Kayu Mahoni, Harga Gazebo Kayu Murah, Harga Gazebo Per Meter, Harga Gazebo Pohon Kelapa, Harga Gazebo Panggung, Harga Pembuatan Gazebo Kayu, Harga Pembuatan Gazebo, Harga Gazebo Standar, Harga Gazebo Saung Kayu, Harga Gazebo Kayu Sederhana, Harga Gazebo Taman, Harga Gazebo Tingkat, Harga Gazebo Termurah, Harga Gazebo 2 Tingkat, Harga Gazebo Ukuran 2x2, Harga Gazebo Ukuran 3x3, Harga Gazebo Yang Kecil, Harga Gazebo 10x10, Harga Gazebo 2x2, Harga Gazebo 3x3, Harga Gazebo 3x4, Harga Gazebo 4x4, Harga Gazebo 5x5, Harga Gazebo 8x8, Jasa Pembuatan Gazebo Kayu Kelapa, Jual Gazebo, Jual Gazebo Kayu, Jual Gazebo Joglo Murah, Jual Gazebo Kayu Kelapa, Jual Gazebo Murah, Order Gazebo, Order Gazebo Online, Pengrajin Gazebo, Pengrajin Saung Gazebo, Pesan Gazebo, Pesan Gazebo Kayu, Pesan Gazebo Murah, Produksi Gazebo, Tempat Beli Gazebo, Tempat Jual Gazebo, Tempat Menjual Gazebo, Tempat Penjualan Gazebo, Tukang Bangunan Gazebo, Tukang Gazebo, Tukang Saung Gazebo
Jual Gazebo Kayu Jati
Aku tahu betul tentunya bahwa dosa terbesar terhadap Tuhan adalah keputusasaan; namun keheningan Tuhan ini tak bisa kumengerti. "Tuhan melindungi orang jujur ketika orang-orang lain yang tak bertuhan mati di sekelilingnya. Sepatutnyalah dia pergi ketika api membakar kota-kota di dataran itu." Tetapi sekarang negeri tandus gersang ini sudah terbakar sebelum buah-buah di pohon menjadi masak, Tidakkah seharusnya Tuhan berbicara barang sepatah kata saja kepada umatnya?
Shūsaku Endō (Silence)
Ia akan terus bersamamu: senja yang tidak pernah usang, awan yang memilih sendiri warnanya, pohon-pohon hutan yang tak pernah sudah kau jumlah, langit yang angkuh namun setia, dan biru samudra yang selalu melantunkan haleluya. Mereka tahu dimana dan apa yang kamu lakukan. Puisi selalu membaca yang tak tertulis seperti mata yang tidak perlu penjelasan lidah tentang mentari sore yang ia pandang dari tepi jendela. Kamu merasa membaca puisi padahal ia yang membacamu.
Nailal Fahmi (Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan)
... Lebih dari semua itu, dia rindu pada Tegar.
Andrea Hirata (Sirkus Pohon)
Aku pernah dinikahkan dengan laut. Ketika tubuh kanak-kanakku mengelupas, upacara besar digelar. Sesaji, bunga, tujuh mata air diurapkan ke tubuh kurusku. Mataku dirajah. Ubun-ubun ditancapi mantra. Kepala bertabur aneka bunga. Kulitku dibakar cairan kuning. Dengan tubuh dililit kain-kain kuno, aku menjelma bidadari. Berenang di rimba semesta. Seorang perempuan meninggalkan anaknya di altar ditemani sebatang pohon. Udara dingin dan senyap tak henti menyuapkan api. Membakar kakiku... (Saiban, 2014: 3)
0ka Rusmini
Ketika daun dari pohon itu berguguran, nyawa kita akan semakin berkurang setiap waktunya. Hingga pada akhirnya kita telah tiada didunia ini. Yang ada hanyalah jasad yang semakin membusuk ditelan zaman.
Maulana Ihsan Ghiffary Julistyan
...Dalam segi ini ada suatu kesadaran bagiku. Betapa berat dan suarnya perjuangan menuju kebenaran. Betapa gigihnya dekaden-dekaden ilmiah bertahan. Dan betapa kita harus memeranginya. Kita dalam bertindak benar memakai segi rasio dan intuisi, sedang mereka hanya membakar perasaan lalu pergi begitu saja. Betapa batu bara anti kepada orang Tionghoa. Dan kaumnya belum dapat belajar dan Hitler dan pengalaman sejarah. Sekarang aku dapat memahami betapa kambing hitam dalam masyarakat (di Indonesia orang Tionghoa) dapat dengan mudah dikorbankan. Ya, dan kita harus merintis dan berjuang membasmi akar-akar prasangka akan mudah bertumbuh, sedang pohon keberanian begitu sukar. Tetapi hendaknya aku selalu mengingat kata-kata Sjahrir: 'penderitaanku hanyalah sebagian kecil saya dari penderitaan berjuta-juta rakyat lain' dan seterusnya. Dan kecil saja dari perjuangan ini sepanjang waktu dan di sepanjang mukka bumi. Ada yang menggariskan (suatu ideal) antara Gandhi, orang-orang yang anti Verkorard, Fabas, dan juga siapa saja yang berjuang bagi suatu hidup dan pengertian yang lebih baik.
Soe Hok Gie (Catatan Seorang Demonstran)
Karena obat ini dioleskan langsung ke Mr. P, obat ini tidak akan berpengaruh terhadap organ pencernaan seperti ginjal karena obat tersebut tidak diminum. Hal ini berbeda dengan Obat kuat Oles yang diminum di mana obat tersebut juga mengandung bahan – bahan lain yang dapat berpengaruh terhadap pencernaan. INFO LENGKAP HP/WA 0823 2300 4343 Hasil Seketika Obat yang dioleskan secara langsung ke Mr. P akan memberikan hasil atau reaksi yang dapat dirasakan seketika. Bahan Alami dan Aman Karomah Sultan merupakan Obat kuat Oles yang terbuat dari bahan – bahan alami atau herbal. Bahan tersebut telah diramu khusus sehingga menjadi berbentuk krim yang dapat diaplikasikan langsung pada organ vital pria. Dengan bahan – bahan herbal, obat ini mampu memberikan hasil yang efektif. Tidak Menimbulkan Efek Samping Obat kuat Oles ini karena terbuat dari bahan – bahan herbal yang alami tidak akan menimbulkan efek samping yang negative pada pria. Praktis dan Mudah Digunakan Obat yang satu ini sangat praktis dan mudah digunakan. Cukup oleskan krim tersebut pada Mr P dan langsung rasakan efeknya. INFO LENGKAP HP/WA 0823 2300 4343 Manfaat Obat kuat Oles Oles Karomah Sultan Obat kuat Oles oles Karomah Sultan menawarkan banyak manfaat yang dapat Anda buktikan saat menggunakan obat tersebut. Berikut ini adalah beberapa manfaatnya: Meningkatkan Stamina Pria Saat Berhubungan Intim Bagi para wanita yang kerap mengeluh karena pasangannya tidak mampu bertahan lama di ranjang, masalah tersebut kini dapat diatasi dengan Obat kuat Oles oles ini. Dengan obat tersebut, kekuatan pria dapat meningkat 1 jam lebih lama dari biasanya Membuat Wanita Kewalahan Jika sebelumnya wanita yang mengeluh karena pria mudah loyo, dengan Obat kuat Oles oles ini maka wanita yang akan minta ampun karena kewalahan dengan pasangannya yang masih sangat bergairah. Memperpanjang Waktu Ereksi Ereksi yang terlalu cepat memang dapat merusak suasana yang ‘panas’ saat berhubungan intim. Oleh sebab itu, dengan penggunaan Karomah Sultan, waktu ereksi akan menjadi lebih lama. INFO LENGKAP HP/WA 0823 2300 4343 Mencegah Ejakulasi Dini Selain dapat memperpanjang waktu ereksi alat vital pria, Obat kuat Oles oles ini juga dapat mencegah pria mengalami ejakulasi dini. Jadi pasangan dijamin tidak akan protes atau merasa kurang puas karena ejakulasi akan terjadi lebih lama daripada biasanya. Meningkatkan Kepercayaan Diri Pria Bagi para pria yang selama ini sering merasa minder atau kurang percaya diri karena ejakulasi terlalu cepat dan tidak bertahan lama saat berhubungan intim, kini Anda dapat merasa lebih percaya diri dengan hasil yang diberikan oleh obat oles Karomah Sultan. Ketika kepercayaan diri pria meningkat, hal ini juga akan membuat gairah pria juga lebih optimal. Bagaimana Cara Kerja Karomah Sultan Karomah Sultan merupakan Obat kuat Oles yang berasal dari Mesir. Obat ini terbuat dari bahan utama getah pohon yang hanya ditemukan di negara India dan Mesir. Produk bekerja dengan cara membuat Mr P menjadi lebih kebas atau kebal tetapi di waktu yang bersamaan juga membuat rangsangan yang diberikan membuat pria merasa lebih nikmat. Ketika Mr P lebih kebal atau kebas, hal ini dapat mengurangi efek rangsangan pada saraf yang menimbulkan ejakulasi. Alhasil waktu ejakulasi menjadi lebih lama atau tertunda. INFO LENGKAP HP/WA 0823 2300 4343 Bagaimana Cara Penggunaan Karomah Sultan Cara penggunaan Obat kuat Oles ini sangat mudah dan praktis. Cukup dengan beberapa menit saja, efek dari Obat kuat Oles ini dapat langsung dirasakan. Langkah – langkah penggunaannya sebagai berikut.
HARGA OBAT KUAT OLES DI APOTIK
OBAT KUAT OLES ALAMI BUATAN SENDIRI Manfaat Obat kuat Oles Oles Karomah Sultan Obat kuat Oles oles Karomah Sultan menawarkan banyak manfaat yang dapat Anda buktikan saat menggunakan obat tersebut. Berikut ini adalah beberapa manfaatnya: Meningkatkan Stamina Pria Saat Berhubungan Intim Bagi para wanita yang kerap mengeluh karena pasangannya tidak mampu bertahan lama di ranjang, masalah tersebut kini dapat diatasi dengan Obat kuat Oles oles ini. Dengan obat tersebut, kekuatan pria dapat meningkat 1 jam lebih lama dari biasanya INFO LENGKAP HP/WA 0823 2300 4343 Membuat Wanita Kewalahan Jika sebelumnya wanita yang mengeluh karena pria mudah loyo, dengan Obat kuat Oles oles ini maka wanita yang akan minta ampun karena kewalahan dengan pasangannya yang masih sangat bergairah. Memperpanjang Waktu Ereksi Ereksi yang terlalu cepat memang dapat merusak suasana yang ‘panas’ saat berhubungan intim. Oleh sebab itu, dengan penggunaan Karomah Sultan, waktu ereksi akan menjadi lebih lama. Mencegah Ejakulasi Dini Selain dapat memperpanjang waktu ereksi alat vital pria, Obat kuat Oles oles ini juga dapat mencegah pria mengalami ejakulasi dini. Jadi pasangan dijamin tidak akan protes atau merasa kurang puas karena ejakulasi akan terjadi lebih lama daripada biasanya. Meningkatkan Kepercayaan Diri Pria Bagi para pria yang selama ini sering merasa minder atau kurang percaya diri karena ejakulasi terlalu cepat dan tidak bertahan lama saat berhubungan intim, kini Anda dapat merasa lebih percaya diri dengan hasil yang diberikan oleh obat oles Karomah Sultan. Ketika kepercayaan diri pria meningkat, hal ini juga akan membuat gairah pria juga lebih optimal. INFO LENGKAP HP/WA 0823 2300 4343 Bagaimana Cara Kerja Karomah Sultan Karomah Sultan merupakan Obat kuat Oles yang berasal dari Mesir. Obat ini terbuat dari bahan utama getah pohon yang hanya ditemukan di negara India dan Mesir. Produk bekerja dengan cara membuat Mr P menjadi lebih kebas atau kebal tetapi di waktu yang bersamaan juga membuat rangsangan yang diberikan membuat pria merasa lebih nikmat. Ketika Mr P lebih kebal atau kebas, hal ini dapat mengurangi efek rangsangan pada saraf yang menimbulkan ejakulasi. Alhasil waktu ejakulasi menjadi lebih lama atau tertunda. Bagaimana Cara Penggunaan Karomah Sultan Cara penggunaan Obat kuat Oles ini sangat mudah dan praktis. Cukup dengan beberapa menit saja, efek dari Obat kuat Oles ini dapat langsung dirasakan. Langkah – langkah penggunaannya sebagai berikut: Cuci tangan sampai bersih Cuci Mr P dengan air bersih dan keringkan dengan kain lembut Ambil Karomah Sultan secukupnya dan oleskan pada Mr P secara merata. Pastikan krim tersebut tidak terkena bagian yang paling vital yaitu area kencing karena dapat menyebabkan iritasi. Hindari mengoleskan obat tersebut pada kepala penis Efek setelah dioleskan, penis biasanya akan terasa sedikit hangat dan mulai agak panas sekitar 25 menit. Agar tidak terlalu panas, hindari mengoleskan krim terlalu banyak Jika Anda sudah merasakan reaksinya, segera bilas Mr P dengan air bersih baru kemudian melakukan hubungan intim. INFO LENGKAP HP/WA 0823 2300 4343 Itulah beberapa keunggulan, manfaat, dan cara penggunaan obat oles Karomah Sultan. Obat ini dapat digunakan secara rutin setiap kali sebelum melakukan hubungan intim. Dengan pemakaian yang teratur, hasil yang didapatkan tentu akan semakin optimal dan membuat Mr P ereksi lebih lama dibandingkan sebelumnya. Jadi kini Anda tidak perlu merasa khawatir atau rendah diri lagi dengan pasangan yang merasa Anda kurang mampu memuaskan hasrat bercintanya. Pasalnya setelah pakai Karomah Sultan asli Obat kuat Oles oles pasti jadi tahan lama.
OBAT KUAT OLES ALAMI BUATAN SENDIRI
Untuk memastikan bahwa diri tidak mungkret, mengerut, untuk menjamin bahwa diri tetap bertahan pada volumenya, ingatan harus disiram seperti pohon bunga dalam pot, dan untuk menyiram itu dibutuhkan kontak tetap dan teratur dengan para saksi masa silam, artinya, dengan teman dan sahabat. Teman dan sahabat adalah cermin kita; memori kita; kita tidak minta apa-apa pada mereka kecuali bahwa mereka mengelap-lap cermin itu dari waktu ke waktu supaya kita bisa melihat diri kita sendiri di situ.
Milan Kundera (Identity)
Hiduplah seperti pohon; diam dalam kerendahan hati, namun terus bertumbuh menjulang ke langit, memberi manfaat tanpa meminta balasan
Reinold Haluk
Memang dalam pertumbuhan kematangan para pemudi lebih cepat larinya daripada cowok..... Dari kecil si lelaki berpetualang, si gadir belajar bertanggungjawab dan praktis
Y.B. Mangunwijaya (Pohon-pohon sesawi)
Menjadi Tua vs Muda Selamanya Ada sebuah lagu yang dulu sering kita dengar, sebuah nyanyian abadi tentang kerinduan manusia: keinginan untuk tetap muda selamanya. Selamanya cantik, selamanya kuat. Kita menyanyikannya dengan penuh semangat, seolah hidup bisa berhenti pada satu titik di mana segalanya masih terasa indah. Tapi waktu pasti berlalu, tak pernah bisa ditawar tak pernah bisa diganggu. Ia seperti arus sungai yang menyeret kita perlahan menuju laut. Keriput muncul tanpa permisi, gigi tiba-tiba tanggal sendiri, rambut memutih, punggung bungkuk berasa nyeri. Tubuh yang dulu perkasa menyerah kalah pada sendi yang berderit seperti engsel pintu kurang minyak, mata yang dulu tajam mulai mengabur, ingatan yang dulu terang mulai berkabut. Menjadi tua adalah pelan-pelan menjadi pohon yang kehilangan daunnya—satu per satu gugur ke tanah, tanpa bisa menahan angin. Rambut memutih bukan hanya tanda waktu, melainkan salju yang diam-diam turun di atas kepala. Kulit keriput adalah peta retakan bumi, menandai gempa-gempa kecil yang pernah terjadi: cinta yang bertepuk sebelah tangan, kehilangan yang menyakitkan. Menjadi tua kadang seperti sungai mengalir kembali ke pangkuan bumi—bukan karena ingin, tapi karena tubuh memaksa demikian. Kita tak bisa terus-terusan berjalan menentang angin melawan kodrat. Tangan yang dulu menggenggam dunia, kini gemetar hanya untuk meraih segelas air. Kaki yang dulu tegak menjejak lantai, kini tersandung karpet di ruang tamu. Mata yang dulu berkilat penuh ambisi, kini berair tanpa sebab, seolah meneteskan kesedihan yang tak sanggup terucap. Orang bilang, masa tua adalah anugerah. Tapi di sela doa panjang dan pujian syukur, ada luka diam yang tak tersampaikan: rasa ditinggalkan, dilupakan, bahkan dianggap beban. Seperti lilin yang perlahan habis, ia tetap menerangi, namun nyala kecilnya sering tak lagi berarti. Ada yang berjuang mati-matian mempertahankan wajah mudanya dengan segala cara: operasi plastik, krim pemutih, suntikan botox, bahkan polesan ilusi digital. Seolah ketakutan pada keriput lebih besar daripada ketakutan pada kehilangan jiwa dan akal sehat. Namun sungguh, waktu tak bisa ditipu—ia adalah pedang tak kasatmata yang terus menggores, menghujam, mengingatkan kita bahwa keabadian hanyalah mitos dalam lagu dan doa. Tua adalah penantian yang sepi dan menggetarkan hati: menunggu suara pintu dibuka cucu kesayangan, menunggu kabar telepon yang jarang berdering, menunggu tubuh ini menyerah pada bayang penyakit yang mendera. Dan pada akhirnya, menunggu saat di mana semua luka akan dihapuskan oleh timbunan tanah. Ironi yang pahit dan menohok ulu hati: dulu kita ingin cepat dewasa, kini kita takut menjadi tua. Dan saat akhirnya tua itu datang tanpa diundang, hidup terasa seperti lingkaran aneh: perlahan kita kembali menjadi anak kecil lagi. Butuh dituntun, butuh ditemani, butuh dijaga. Tapi kali ini, tak ada lagi masa depan panjang yang girang menanti yang ada hanyalah penantian akan sebuah perpisahan yang berasa menyedihkan. Dan ketika semua gemerlap memudar, barulah kita sadari: menjadi muda selamanya hanyalah ilusi. Yang abadi bukanlah tubuh kita, melainkan jejak kebaikan, cinta yang kita tinggalkan, cerita yang kita wariskan. Menjadi tua itu getir, memang. Tapi menjadi tua tanpa pernah benar-benar hidup, tak punya makna, itulah tragedi yang sesungguhnya. Mungkin kita tak bisa memilih untuk selamanya muda, tapi kita bisa memilih untuk tetap hidup dengan hati yang selamanya muda: tetap belajar, tetap mencintai, tetap memberi arti pada hidup, pada sesama. Karena tubuh akan mulai rapuh, tapi jiwa yang penuh kasih dan empati—akan selamanya abadi. Surakarta, September 2025
Titon Rahmawan
Politik Identitas: Opera Tanpa Kepedulian Kita hidup di zaman ketika suara rakyat hanyalah gema kosong yang dipakai untuk meramaikan panggung hiburan, lalu dilupakan begitu lampu kamera padam. Politik telah berubah menjadi pasar malam, sebuah sandiwara: penuh warna, penuh janji, penuh tawa usang—tapi ketika siang datang, yang tersisa hanyalah bungkus kotoran sampah berserakan. Identitas dijadikan komoditas, bukan lagi jati diri. Agama, suku, bahkan luka sejarah—semua bisa diperdagangkan. Kita dipecah-belah, bukan untuk menguatkan, melainkan agar lebih mudah dikendalikan. Di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota, orang berdemonstrasi membakar ban merusak pembatas jalan, pengemudi ojol tewas digilas roda gila tanpa perasaan. Sementara itu, mata dari sebagian kita lebih sering menatap layar handphone daripada wajah sesama. Kepedulian direduksi menjadi like dan komentar basa-basi; simpati tak lebih dari emoji menangis di media sosial. Apakah ini pergeseran nilai, ataukah cermin lama yang baru saja kita sadari keberadaannya? Bangsa yang terlalu lama dijajah, dikebiri, dibungkam. Dan ketika akhirnya bisa bersuara, Ia kemudian memilih berteriak saling caci—bukan merangkul, bukan mendengar. Seperti kuda liar yang lepas kendali, kita berpacu kencang tanpa arah, hanya untuk menabrak seorang nenek tua yang menggandeng bocah di persimpangan jalan. Ironi itu telanjang di depan mata: Setiap hari kita dengar obrolan di warung kopi, orang bercakap tentang negeri ini dengan gelak tawa, nyengir tapi getir: “Negeri Konoha,” begitu katanya— sebuah olok-olok yang lebih populer dari semboyan resmi negara. Di negeri ini, pejabat berdasi bebas menari di ruang sidang, membagi proyek seperti kue ulang tahun yang dengan rakus mereka nikmati sendiri. Inilah negeri para koruptor, negeri para selebritas bermuka dua yang menghisap darah rakyat sambil berkhutbah moralitas di televisi. Kita hidup di tengah paradoks yang nyata-nyata menjijikkan—yang miskin disuruh tabah, kalangan menengah ditekan habis-habisan, sementara yang kaya tersenyum gembira di tengah pesta sambil menepuk bahu kolega— “Bertahanlah terus di atas, Kawan. rakyat tak akan sadar, selama kita beri mereka lebih banyak drama.” Anak muda dijejali mimpi instan: menjadi kaya tanpa kerja, terkenal tanpa karya, berkuasa tanpa tanggung jawab. Flexing jadi ideologi baru; mobil mewah dan tas bermerek lebih dihargai daripada kejujuran dan keberanian. Dan kita pun bertanya dalam hati: Apakah ini konspirasi yang diciptakan agar jarak semakin lebar? Yang miskin tetap menunduk lapar, yang kelas menengah diperas hingga kehabisan napas, dan yang di atas terus berpesta pora dengan tawa penuh tegukan brandy dan separuh ilusi. Seakan kepedulian adalah bantuan sosial yang hanya bisa dipamerkan saat kampanye, bukan dipraktikkan sehari-hari. Namun, di sela semua absurditas itu, masih ada hal-hal kecil yang menolak mati: Seseorang yang diam-diam membagi nasi bungkus kepada para tetangga, seorang guru desa yang terus mengajar meski gajinya telat berbulan-bulan, seorang anak muda yang memilih menanam pohon daripada menanam kebencian. Barangkali inilah yang tersisa dari kepedulian itu: kecil, lirih nyaris tak terdengar, tapi tetap menolak untuk padam. Dan mungkin, harapan kita sebagai bangsa terletak pada bara kecil yang terus menyala—bukan pada gedung megah parlemen, bukan pada wajah keren yang terpampang di baliho, melainkan pada kesediaan hati yang masih mau peduli, meski dunia terus berusaha mengajarkan kita untuk makin acuh tak acuh. Hati yang terusik saat dipaksa kembali pada pertanyaan purba: Apakah kepedulian bisa hidup di tengah hutan kepentingan? Atau hanya tinggal sebagai dongeng usang, yang kelak kita bacakan kepada anak cucu tentang negeri yang konon pernah punya hati, sebelum kemudian, ia digadaikan kepada para penjual janji? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
Ada satu pohon khusus yang tidak boleh kita makan buahnya, pohon pengetahuan. Pengetahuan, pemahaman, serta kebijaksanaan dilarang bagi kita dalam cerita ini. Kita harus tetap bodoh. Tapi kita tidak dapat menahan diri. Kita kelaparan akan pengetahuan—diciptakan lapar, bisa dikatakan begitu. Inilah asal mula semua masalah kita. Khususnya, inilah mengapa kita tidak lagi tinggal di taman: kita menemukan terlalu banyak hal. Selama kita tidak penasaran dan patuh, saya bayangkan, kita bisa menghibur diri dengan kepentingan dan sentralitas kita, dan berkata pada diri sendiri bahwa kita adalah alasan Alam Semesta diciptakan. Tapi saat kita mulai memanjakan rasa ingin tahu kita, untuk menjelajahi, untuk mempelajari bagaimana Alam Semesta sebenarnya, kita mengusir diri kita sendiri dari Eden. Malaikat dengan pedang berapi ditempatkan sebagai penjaga di gerbang Firdaus untuk menghalangi kita kembali. Para tukang kebun menjadi orang buangan dan pengembara. Terkadang kita menyesali dunia yang hilang itu, tetapi menurut saya, itu cengeng dan sentimental. Kita tidak mungkin bisa bahagia tetap bodoh selamanya.
Carl Sagan (Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space)
Bangunlah reputasi, bukan sekadar pendapatan. Reputasi adalah bunga dari pohon nilai yang kau tanam dengan konsistensi.
Titon Rahmawan
Penulis sejati tak menulis untuk dikenal, tetapi untuk memberi makna. Ia menanamkan kata-kata seperti benih di hati pembaca, dan berharap suatu ketika akan tumbuh menjadi pohon teduh yang menaungi banyak orang.
Titon Rahmawan
TONY, KAU DATANG DARI CELAH YANG BERDARAH DI BAWAH TAMAN KAMI (Blue Velvet Reconstruction) Tony muncul tepat setelah sprinkler berhenti. Air masih menetes dari selang, mengisi halaman dengan aroma plastik basah dan ironi yang menyengat. Kota ini pura-pura damai, pura-pura tidak tahu bahwa di balik pagar putih dan bunga violet, selalu ada sesuatu yang menggerogoti dengan gigi kecil penuh dendam. Aku menemukannya berdiri di tepi pagar, menunduk pada selembar rumput yang entah kenapa bergetar seperti sedang menahan ketakutan. Ia mengenakan jas hitam. Tidak seperti jas biasa— lebih seperti kulit seseorang yang belum siap dilepas dari tubuhnya. “Aku hanya ingin melihat apa yang tumbuh,” katanya ringan, menyentuh kelopak bunga biru seolah-olah itu adalah saklar menuju sesuatu yang lebih gelap. Senyumnya lunak, tetapi terlalu lama, terlalu presisi— seperti seseorang berlatih tersenyum di depan cermin yang pernah menyaksikan kejahatan. Di rumah sebelah, radio memutar lagu cinta tahun 50-an, dan setiap nadanya terdengar seperti jeritan yang disamarkan agar tetap cocok untuk lingkungan keluarga. Tony melangkah masuk ke dalam bayangan pohon maple, bayangan yang tidak mengikuti arah matahari dan tampak seperti mencoba menelan sepatunya. “Di kota ini,” bisiknya, “segala sesuatu yang indah memiliki pintu belakang yang tidak terkunci.” Ia mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering dari halaman kosong. Tidak ada kabel. Tidak ada sambungan. Hanya telepon merah yang seharusnya tidak ada di sana. “Hallo?” Matanya tidak berkedip. “Ya… dia sedang melihatku sekarang.” Ia menatapku. Seolah aku adalah seseorang yang namanya disebut dari ujung lain kabel yang tak terlihat. Ada suara di dalam telepon: napas seseorang yang terlalu dekat, terlalu intim, terlalu mengerti sesuatu tentangku yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Tony mendengarkan lama, lalu menutup gagang telepon dengan lembut. Seperti menutup kelopak mata sesosok mayat. “Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya. “Di ruang atas.” Nada suaranya seperti undangan dan ancaman yang dibungkus karamel. Kami masuk ke rumah kosong itu. Dindingnya berwarna merah muda— terlalu merah muda— seperti anak kecil pernah memimpikan kamar ini sebelum sesuatu memutuskan tinggal di dalamnya. Ada lagu lembut berputar di radio tua, dan udara berbau parfum murahan yang bercampur dengan bau karat besi yang tak jujur. Dia menyentuh gagang pintu kamar. Tangan itu tidak gemetar. Pintu membuka dengan suara mengerang seperti rahasia yang keberatan dibocorkan. Di dalam: tirai biru menggantung, bergoyang pelan meski jendela tertutup rapat. “Jangan kaget,” bisiknya padaku. “Di balik tirai itu biasanya seseorang menangis.” Aku hendak bertanya siapa, tapi tirai bergerak sendiri. Sangat pelan. Seperti seseorang yang baru saja menghapus air mata. Tony berdiri di sampingku, dan kini aku melihatnya bukan sebagai manusia— tetapi sebagai retakan dalam dunia ini. Sesuatu yang seharusnya tidak memiliki tubuh, namun tetap memilih untuk memakai salah satunya. Ia membungkuk mendekat ke telingaku, napasnya dingin seperti kulkas yang menyimpan rasa lapar. “Kota ini tak pernah kenyang” katanya. “Pertanyaannya cuma satu… kau ingin menjadi makanannya, atau kau ingin melihat siapa yang memakanmu dari balik tirai itu?” Tirai biru bergetar lebih keras. Lampu berkedip. Suara lagu berubah pelan, mengalun seperti bisikan seseorang yang patah dari dalam dirinya sendiri. Tony menoleh ke arahku, tatapannya lembut— lebih lembut dari yang boleh dimiliki seseorang yang telah melihat apa yang ia lihat. “Kita mulai adegannya sekarang,” katanya. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa dalam dunia ini— aku bukan penonton dan bukan penulis skenario— aku hanyalah seseorang yang dipilih oleh tirai biru untuk diseret masuk ke dalam mimpi yang bukan milikku. November 2025
Titon Rahmawan
BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan dari Pintu yang Keliru Pada malam kelahiranmu, waktu tersandung kaki sendiri. Wuku yang mestinya sunyi tiba-tiba retak seperti periuk jatuh ke tanah— pertanda luka di bibir desa: “janma ing mangsa tan ana pancer.” Ia yang lahir tanpa pusat, tanpa tempat menambat napas. Ibu menjerit tanpa suara, tali terputus penghubung jiwa tumpas ruh tak terlihat, ia yang disebut orang: buta mangili, perusak garis nasib sendiri. Langit merah mengucur darah hewan kurban disembelih untuk ruwatan. II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah Ranting-ranting kering merunduk di bawah cahaya purnama raya. Angin malam menggigil menyebut nama dalam lafal yang paling ganjil— tidak lembut, tidak akrab, dunia yang menolak mengakui kehadirannya. Makhluk sawah makhluk rimba mengembik, melenguh, melolong, lalu pergi tanpa menoleh. “Anak durjana,” bisik mulut-mulut dari balik pintu berpalang jati. “Kelahiran yang ditolak bumi, tidak dibawa lintang waluku.” Dan seorang lelaki kehilangan kewarasan, menggantung diri di pohon randu layang kendat pratanda pati. Bayang Sukerta ing mongso ketigo Suryasengkala: Anggatra Rasa Tunggal Sirna III. Sinom — Upacara Penolak Bala Para tetua menggelar sesaji: jajan pasar, kemenyan arang gosong, jenang sengkolo, tumpeng robyong, pala pendem, sego golong, banyu kendi sendang keramat, cengkir gading, kembang telon, seekor sapi tumpah darahnya dipersembahkan memetakan arah sengkala yang membayangi. Doa-doa terlontar seperti tombak, menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam. Bisik roh tanah memburu mimpi: “Dudu salahé, nanging ora ana sing wani ngakoni.” Rumah pertama mengeras pada telunjuk terbakar serupa kutuk tangan makhluk tak kasat mata. Angin selatan mengamuk, membawa hama, membawa isyarat celaka. Nama berhembus seperti dongeng petaka berbisik dari bibir ke bibir. IV. Dhandanggula — Kisah Panjang yang Tak Mau Mati Tahun berganti musim, dan cerita tumbuh seperti jamur merasuk ruh para leluhur di dinding lembab ingatan orang. Mereka bilang; ia hanya setengah manusia— setengah anak padi, setengah anak badai. Lahir dari rahim peristiwa hingar-bingar yang tak pernah benar-benar dipahami. Mitos menyebut: “janma saka papat kiblat, kang nggawa lamur saka kidul.” Seekor ular membelit takdir menampak diri di belakang bukit bukan binatang, kata mereka. barangkali saudara tua yang gagal lahir, kata yang lain penjaga kubur tak pernah tidur.
Titon Rahmawan
BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG V. Durma — Kebrutalan yang Tak Dapat Dihindari Pada masa itu kau tumbuh seperti pohon hilang akar. Orang-orang melihat ranting garing layak dibakar. Tangan-tangan mengusirmu, kata-kata meludahkan kutuk, dunia menyumpahimu tawa sinis nasib buruk. Namun kau tetap hidup, walau setengahnya hancur di tangan kemalangan. Ada serpih mantra tua yang mengendap dalam dada— bukan sakti yang menyelamatkan, melainkan sakti yang terus bertahan melawan dunia membabi-buta hasrat yang ingin menyudahi takdir. VI. Pangkur — Nafsu Waktu yang Ingin Menegukmu Makhluk-makhluk tanpa nama membayang langkah: bayangan panjang, aroma tanah basah, bisik-bisik menjalar seperti patuk taring ular di bawah runduk pokok bambu. Mereka melihat jazad bersumpah yang nir wujud kadang jalma seperti hewan, kadang manusia tak berwajah kadang bayang menekuk cahaya, kadang tubuh kosong tanpa ruh gentong penuh suara-suara hilang melesap dari masa lalu. Kisah kembali ke orang desa kabar buruk yang malas mati. Terbawa angin serupa pesan, dipindahkan tangan serupa kayu sekeras batu tonggak peringatan, diulang mantra jopa-japu doa menakar langit hitam menyapu malam paling sangit. VII. Megatruh — Jiwa yang Memisahkan Diri Malam paling wingit adalah pisau. Bilah tajam memotong bayangan hingga terlihat inti terdalam. Di sana kau menyaksi bisu: cahaya kecil, ringkih dan rapuh, bergetar seperti bayi mencari ibu. ia bukan hantu yang menakutimu. Ia bukan kutuk yang menempel di napasmu. Ia adalah separuh jiwa yang tak sempat menjadi tubuh. Ruh mendekat perlahan. Tangannya bening, seperti embun yang tidak berhasil jatuh ke daun. Ranting garing yang bukan sampah— gores luka pohon purba yang pernah menyimpan cahaya suci. “Bukan kau yang diusir,” bisiknya melalui dingin yang merambat. “Akulah yang tidak sempat hidup— dan kaulah rumah terakhirku.” Dadamu retak menampung tangis yang tak bersuara. Untuk pertama kalinya kau tidak takut pada kesunyian— karena kau tahu kesunyian itu adalah anak kecil yang kini duduk di pangkuanmu mencari dunia yang pernah menolaknya. VIII. Pocung — Penutup Takdir Pertanyaan arkais kembali menggigil: “Kapan cendala akan berakhir?” “Kapan asal ditatap tanpa gentar?” Kubur itu tak pernah ada. Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya. Tidak ada batu nisan yang menuliskan napas yang gagal menjadi bayi. Namun malam ini, ketika kau berdiri di Tanah Suwung, ada satu pancer yang kembali— perlahan, lirih, takjub. Suwung membuka tubuhnya dan menaruh ia di tengah-tengahnya sebagai cahaya yang terlalu kecil untuk menerangi dunia, namun cukup untuk menuntunmu pulang kepada dirimu sendiri. Ia yang dulu hilang akhirnya menemukan pusatnya. Dan ranting kering yang dulu dicampakkan kini berdiri tegak menyimpan dua jiwa— satu yang hidup satu yang tidak sempat— keduanya akhirnya lengkap di bawah langit yang tidak lagi menolak kehadiranmu. Desember 2025
Titon Rahmawan
KISAH KAKTUS — MANTRA SUNYI KALPATARU I. Liturgi Tubuh: “Pondok yang Tak Mengenali" (Liturgi tentang raga yang belum mengenal rasa) 0. Ketika yang ada belum bernama. Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. 1. Di gubuk kecil yang tanpa bentuk, kaktus tumbuh sebagai penanda. Bukan pohon. Bukan rasa. Namun raga waktu yang tak terucap. Ia membaca kotak. Ia melafalkan segitiga. Ia menandai tubuh manusia sebagai sesuatu yang terlalu basah untuk menampung sunyi. 2. Ada sofa merah palungan jiwa, bergetar sekilas, diduduki bayang-bayang rembulan yang kehilangan cahaya. Sofa serupa altar terbalik. Rembulan tertunduk, tempat di mana rasa menolak nama. 3. Kaktus tak mengenal sedih. Namun di setiap pagi, serpihan hening menempel pada batangnya— seperti suara yang tersesat di tenggorokan angin gunung. II. Glosa Waktu: “Waktu yang Runtuh dari Duri” (Waktu yang beranak di dalam tubuh yang tidak menghendakinya) 4. Kabut gelap tirtamaya merayap masuk tanpa salam. Mencekik halaman sajak bagaikan tangan gaib yang tak menyukai cahaya. 5. Nenek tua tiba, menggenggam senja seperti lipatan takdir. Dan ditancapkannya dengan jari tipisnya di ketiak sang kaktus. Tempat jam berbiak tanpa bunyi. Tak ada darah. Yang keluar hanya “wanci”— waktu yang tak ingin menjadi hari. 6. Mereka akan datang, orang-orang itu. Membawa tembuni, seruling, cangkang, kaos kaki basah, buku-buku tanpa bab, pisau yang tidak bisa memotong. Ditumpuk di sudut gubuk seperti sesaji upacara yang kehilangan rohnya. 7. Esoknya, waktu dipetik kembali dari kulit keriput ketiak kaktus. Waktu menjadi benda pecah— kertas sobek, suara mikrofon retak, langit terbelah, cahaya patah. III. Sunyi & Cahaya Membunga: “Minum Cahaya Dari Gelas Retak” (Sunyi yang menelan cahaya untuk mengetahui dirinya) 8. Cahaya jatuh dari lubang genting. Titen yang tak tampak asalnya. Masuk ke pot keramik yang retak, dan mengendap seperti getah suwung di dasar gelas bening. Kaktus mengingat: pagi ketika rembulan dikunyah anjing. Hujan gerimis. Langit hitam-nila. Dunia yang alpa dari wiridnya. 9. Serupa ndadra membuka rongga dada. Kaktus meminum cahaya dari gelas. Tak ada suara. Namun retakan perlahan terjadi di jantungnya. Maka dipahamilah kaktus, bahwa rasa sakit bukan berasal dari daging. Rasa sakit berasal dari sunyi yang tak pernah memberi ruang. IV. Mantra Ruin Kosmologis: “Duri yang Menghidupkan Jagad” (Mantra suwung, liturgi patah, kosmologi Jawa) 10. Inilah mantranya: “Duri bukan duri. Duri adalah sastra suksma, lintasan bintang yang gagal kembali ke langit.” Setiap duri memiliki orbit. Setiap bayang menjadi lintasan. Setiap sunyi berputar tanpa pusat. 11. Suatu malam, kaktus menyala perlahan seperti api beku. Cahaya hijau kecil berputar di dalam sumsum. Tak seperti bintang. Tak seperti api. Namun seperti “sasmita” yang tak ingin disaksikan. 12. Dan kaktus mengerti: yang disebut kepedihan bukanlah perkara rasa. Kepedihan adalah makna yang gagal memiliki rumah. Makna yang tak menjelma mata, tak menjelma mulut, tak menjelma tangan. Makna yang hanya menjadi kabut di antara kalimat. 13. Pada saat ini, gubuk tua itu menjadi candi sepi. Gelap menyusun altar. Waktu menungging bagai pelayan upacara. Dan sunyi mengulum semua tanpa meninggalkan nama. EPILOG — LITANTRI SUWUNG (Mantra Penutup) “Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. Apa yang hidup tidak mesti ingat. Apa yang ingat tidak mesti kembali. Namun setiap duri mengerti: waktu hanya mampir menanti sunyi mengucapkan namanya sekali lagi.” Desember 2025
Titon Rahmawan
Di Bawah Matahari yang Menatap Balik Di bawah matahari yang meleleh seperti pupil dewa yang kelelahan, aku melihat bayanganku sendiri berlari sebelum aku sempat berpikir untuk bereaksi. Barangkali ini bukan dunia, barangkali ini adalah ingatan purba yang lupa pada tubuhnya. Seekor jam mencair di pundakku, menggelincir seperti sisa waktu yang tidak mau menjelaskan dirinya. Ia berbisik, bahwa keabadian hanyalah kegagalan ego dalam memahami detik yang perlahan hancur. Aku tertawa. Tawa itu memecah wajahku menjadi tiga: yang percaya, yang takut, dan yang tidak peduli lagi pada logika. Ketiganya saling mengancam untuk lahir, sementara aku — atau apa pun yang tersisa dariku — menyaksikan kelahiranku sendiri dari balik kabut. Jangan cari kebenaran di sini. Di tanah ini, kebenaran telah diseret oleh cahaya yang lumpuh, diseret ke dalam lubang di mana suara-suara masa lalu dibungkam berubah menjadi serangga kanibal yang memakan tubuhnya sendiri. Ada saat di mana aku hampir mengerti. Saat di mana absurditas itu menamparku seperti kilat: — semua upaya memahami diri adalah upaya membatalkan kelahiran. — ego adalah ranting pohon yang terus tumbuh bahkan ketika kita sudah membiarkannya mati. — pencerahan tidak datang dari kejernihan, melainkan dari ketidakpahaman yang dibiarkan membusuk sampai berlumut dan tiba-tiba menyala akibat radiasi. Kini aku tahu, matahari itu bukan sumber cahaya. Ia adalah luka yang didekap semesta sampai berubah menjadi lubang hitam di mana aku bisa pulang. Dan ketika akhirnya aku masuk ke dalamnya, aku tidak merasa utuh— aku merasa hilang… tapi justru dari kehampaan itu, aku dilahirkan lagi oleh kegelapan yang telanjur letih menampung raga dan jiwaku. November 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) I. Bisikan Kematian Ia mendengkur dalam rupa awan kelam Malaikat Azrael turun membisikkan litani terakhirnya sayap hitam yang rontok seperti bulu-bulu burung Icarus ketika lilin ambisi mulai menguap di ketinggian. Detak nadi yang nyaris tak teraba lagi. Tatap mata pastor muda memberi sakramen perminyakan, wajahnya mengingatkan pada Padre Amaro yang memandang dosa dan kepolosan sebagai dua sisi pisau yang sama-sama memotong urat nadi. Gumam doa terdengar seperti elegi yang menangis, serupa lantunan “Lacrimosa” dari komposisi Requiem D Minor di gereja reruntuhan pasca perang. Hunjaman paku di kepala, penderitaan seperti hujan Ingmar Bergman di The Seventh Seal— di mana kematian duduk bermain catur di atas batu nisan yang dingin. Tanah basah tergenang lumpur pekat, tarian brutal menyeretnya ke ingatan masa muda— seakan ia adalah Nina, angsa hitam nan cantik dan kejam itu yang tubuhnya menolak tunduk dan menjadi musuh paling setia. Ia berdiri di perbatasan: sungai keruh yang bergolak dan tebing yang runtuh perlahan seperti ambang psike pasien Freud yang kesurupan yang memikul trauma masa kecil tak pernah diucapkan. Seekor domba jatuh terbawa arus, penanda takdir seperti dalam kitab Kejadian— ia anak yang dikorbankan, tetapi tak ada malaikat yang menahan pisau di tangan Abraham. Suara dengkuran itu: apakah itu suara hewan teraniaya? atau luka masa kecil yang meminta dilepaskan? Perjalanan dari ladang kumuh pegunungan, mengais mimpi di jalan becek menuju stasiun kota. Dengkuran itu kini terdengar seperti jeritan peluit kereta ala Kill Bill, penanda pelarian yang tak pernah berakhir. Pohon pinus berkejar-kejaran di balik jendela kereta; bayangan sayap kelam membuntuti, serupa Dementor dalam mimpi Harry Potter, penyedot debu sukacita yang hidup dari sampah ketakutan. Desah sayup-sayup terdengar, gelas pecah berkeping, hujan menuruni jembatan— semuanya tereduksi seperti adegan Tarkovsky yang memantulkan kenangan setengah-mati. Hujan yang sama selalu membawa rumah dalam ingatan: rumah yang menggigil oleh detak nadi sendiri. Dengkuran itu menggetarkan bingkai foto di dinding, membangkitkan masa lalu dalam rasa sakit yang tak kunjung pergi— seperti jiwa tokoh-tokoh Dostoyevsky yang bergentayangan, kembali pada lukanya sendiri. Agustus 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) I. Bisikan Kematian Ia mendengkur dalam rupa awan kelam Malaikat Azrael turun membisikkan litani terakhirnya sayap hitam yang rontok seperti bulu-bulu burung Icarus ketika lilin ambisi mulai menguap di ketinggian. Detak nadi yang nyaris tak teraba lagi. Tatap mata pastor muda memberi sakramen perminyakan, wajahnya mengingatkan pada Padre Amaro yang memandang dosa dan kepolosan sebagai dua sisi pisau yang sama-sama memotong urat nadi. Gumam doa terdengar seperti elegi yang menangis, serupa lantunan “Lacrimosa” dari komposisi Requiem D Minor di gereja reruntuhan pasca perang. Hunjaman paku di kepala, penderitaan seperti hujan Ingmar Bergman di The Seventh Seal— di mana kematian duduk bermain catur di atas batu nisan yang dingin. Tanah basah tergenang lumpur pekat, tarian brutal menyeretnya ke ingatan masa muda— seakan ia adalah Nina, angsa hitam nan cantik dan kejam itu yang tubuhnya menolak tunduk dan menjadi musuh paling setia. Ia berdiri di perbatasan: sungai keruh yang bergolak dan tebing yang runtuh perlahan seperti ambang psike pasien Freud yang kesurupan yang memikul trauma masa kecil tak pernah diucapkan. Seekor domba jatuh terbawa arus, penanda takdir seperti dalam kitab Kejadian— ia anak yang dikorbankan, tetapi tak ada malaikat yang menahan pisau di tangan Abraham. Suara dengkuran itu: apakah itu suara hewan teraniaya? atau luka masa kecil yang meminta dilepaskan? Perjalanan dari ladang kumuh pegunungan, mengais mimpi di jalan becek menuju stasiun kota. Dengkuran itu kini terdengar seperti jeritan peluit kereta ala Kill Bill, penanda pelarian yang tak pernah berakhir. Pohon pinus berkejar-kejaran di balik jendela kereta; bayangan sayap kelam membuntuti, serupa Dementor dalam mimpi Harry Potter, penyedot debu sukacita yang hidup dari sampah ketakutan. Desah sayup-sayup terdengar, gelas pecah berkeping, hujan menuruni jembatan— semuanya tereduksi seperti adegan Tarkovsky yang memantulkan kenangan setengah-mati. Hujan yang sama selalu membawa rumah dalam ingatan: rumah yang menggigil oleh detak nadi sendiri. Dengkuran itu menggetarkan bingkai foto di dinding, membangkitkan masa lalu dalam rasa sakit yang tak kunjung pergi— seperti jiwa tokoh-tokoh Dostoyevsky yang bergentayangan, kembali pada lukanya sendiri. Agustus 2026
Titon Rahmawan
Helianthus “The sadness will last forever.”  ― Vincent van Gogh Sebuah ingatan tak mampu menangkap geletar sebatang kuas. Jari-jemari gagal menangkap rona mata kepedihan membayang kabur di atas kanvas. Pucat tube cat menelan harga diri ekspresi beku palet kosong.     Seekor singa diam-diam mengeram, mencabik daging sepotong demi sepotong. Langit penuh bintang tertawa menggigilkan telinga. Tawa gila perempuan sundal di perempatan jalan. Telinga mengucur darah oleh tajam sembilu tak lagi goreskan biru ke atas gaun malam. Hutan terbakar. memberang oleh kalut pikiran. Kelopak matahari luruh memenuhi liang lembab dan dingin. Sernak hujan memutar masa lalu, melaknat pias rembulan. Tapi ia belum mati, belum lagi. Ada sisa asap dari pistol teracung ke atas jidat mencabar benak. Serpihan ngeri mengiris telinga terbungkus sehelai sapu tangan berenda— sebuah tanda mata. Langit yang tak kunjung mati. Langit yang melaknat diri sendiri. Sebuah pusara, dalam keranjang     penuh kentang. Malam penuh bintang dan sansai sepasang sepatu bot usang— kamar sunyi lengang. Tertumpah gentong anggur dalam perkelahian tak terkendali bersama Theo dalam café penuh pelacur. Almanak yang menyimpan ingatan semua nama: Gachet dan Gauguin menambal luka meliang di sekujur tubuh; maut yang menolak mencium busuk bau napasnya. Rembulan mabuk di sepanjang jalan dari Borinage, Antwerpen hingga ke Paris. Jiwa yang menolak mati, sampai Arles memangilnya kembali Muram wajah rumah kuning itu, taman bunga Irish layu pohon Cypres menari-nari. Dan Saint Remy menunda kepulangannya sekali lagi. Jemari gemetar mengulang sketsa pada cemerlang warna bunga mataharinya dalam sebuah pot oranye tetap seperti dulu juga. Lelaki malang yang mencintai kepedihan begitu rupa sebagaimana ia mencintai cahaya lebih dari jiwanya sendiri.  April 2014
Titon Rahmawan
Rekonstruksi Mengelupas Mimpi // Versi Posthuman-Liris Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi— membukanya seperti kapsul masa lalu yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data? Setiap mimpi adalah buah sunyi dengan inti yang selalu berdetak. Ketika kita memecah kulitnya, kita tak hanya menemukan cahaya, melainkan seluruh kerumunan metadata yang mengawasi keberanian diri untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya. Dan mereka bertanya: Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh, atau pohon itu yang mengompilasi dirimu dari luka, dari ingatan, dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh? Sebab luka pun punya bahasa. Ia menulis dirinya di bawah kulit gemetar kita seperti skrip yang tak ingin dihapus meski berulang kali menekan tombol revisi. Narcissus— hari ini tak lagi menatap sungai, ia menatap pantulan dirinya di layar simulakra yang membeku: bahasa tubuhnya berubah menjadi kode kesepian yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya. Dan ketika sungai bertanya kepada laut, Siapa yang menciptakan siapa? Laut tak menjawab. Ia hanya membuka jutaan pintu air dan membiarkan semua pertanyaan mengalir ke ruang tak bernama— tempat segala sesuatu berasal dan kembali hening. Burung-burung di langit tak sekadar terbang; di bulu mereka tersimpan blueprint gerak yang diwariskan dari angin kepada anak angin. Mereka membawa pertanyaan tentang harapan yang tak pernah tuntas, tentang janji yang menunggu lunas di tengah turbulensi antara hidup, daya hidup dan kehancuran. Dan cinta— bukan lagi entitas milik kita, bukan lagi perasaan sederhana. Ia adalah protokol, frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat. Melayang seperti sinyal radio mencari jiwa yang sanggup menampungnya. Pada akhirnya, segala yang kita cari akan menemukan kita kembali: di antara jeda, di antara napas, di antara batas tipis antara manusia dan yang bukan-manusia— cuma simbol dan tanda-tanda. Sebab mengelupas mimpi adalah cara raga mengingat bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak: organisme yang sedang belajar terbang, mesin yang sedang belajar merasa, jiwa yang ingin kembali ke tempat pertama kali ia dinamai. Dan di sanalah, kita bersiap tumbuh sekali lagi. Bukan sebagai mesin pencari bukan sebagai kecerdasan buatan melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran. November 2025
Titon Rahmawan
Adarusa Hapaheman yang merubuhkan pohon itu adalah kerabat dekatmu Batu yang dulu kaupungut dari sungai dan membawanya ke tepi Jejak yang ia tinggalkan di atas tanah tegalan yang kekeringan Dan janji yang tak terbeli. Istrinya adalah sekuntum mawar yang layu sebelum waktunya Sandyakala yang mendadak tua setelah melahirkan 3 ekor anak burung; Seekor burung gagak Seekor burung prenjak Dan seekor merpati yang pemalu namun baik hati. Mereka tak pernah terbang terlalu jauh dari sarang itu. Sarang yang bukan miliknya Rumah yang tak pernah ia dirikan untuk keluarga. Karena ia hanyalah seekor adarusa. Tak ada yang dimilikinya sendiri kecuali hutang-hutang masa lalu; Tanah yang tak pernah ia cangkul. Benih yang tak pernah ia tanam. Adakah kemarahan semacam itu akan terpendam selamanya? Seekor pejantan lancung yang hanya bisa datang saat ia lapar Dan lalu pergi hanya untuk memenuhi egonya sendiri. Ia telah menjadi beban bagi masa silam Dan batu yang kian hari kian memberati Sayap-sayap kelam yang tak mampu terbang lagi. Telah tua ia sekarang Masih dengan tabiat yang sama Watak yang sepertinya hendak ia bawa mati Langit sekarat menunggu waktu Segala apa yang ia punya, hanyalah luka Bukan nama atau harta untuk diwariskan. Takdir dan nasib buruk serupa suara guntur di kejauhan. Ia adalah hapaheman yang merubuhkan pohon Tempat di mana sarang itu berada. Sarang yang ditinggali istri dan tiga anak-anaknya. November 2025
Titon Rahmawan, dkk
Anima Apakah engkau akan izinkan aku membuka ruang ini dengan jernih tanpa terseret arus sungai yang membuatmu tenggelam? Lalu siapa juru peta yang menempatkan kita; aku, kamu dan seluruh emanasi alter ego itu ke dalam fragmen yang saling berebut peran? Suara yang menjawab gemulai ranting-ranting pohon: Ia yang membaca gelagat Ia yang mengajukan pertanyaan Dan ia yang menembus inti Lalu bersama mereka semua menyatu ke dalam bumi. Bukankah kisah ini tidak menawarkan kita penjelasan atas dirinya sendiri? Ini bukan tentang cinta, hidup atau mati. Ini tentang bagaimana engkau memahami luka yang tak pernah sembuh. Pertama adalah ia yang menyebut dirinya Cakra Wahana, yang bekerja, berpikir dan menjaga kelangsungan hidup. Ia yang membiarkan dirinya jatuh dan bangkit. Ia adalah pemasang pasak dan penegak tiang-tiang layar. Ia adalah pemilik kapal yang terpaksa mengambil alih kemudi. Tapi pemilik yang satu lagi bukanlah pelarian dari lebatnya hujan. Melainkan pernyataan yang mengembalikan dirinya kepada sumber kreativitas dan spontanitas. Ia adalah penyair yang menyebut dirinya sebagai Tirta Rengganis. Udara yang membuatmu bernapas, tangan yang mengajakmu menulis, sayap yang mengajarkanmu terbang. Ia hanya butuh ruang sunyi agar namamu abadi. Kanal penyembuh yang bekerja lewat simbol, estetika dan fiksi. Sementara yang lainnya adalah anima milik semua. Batin yang berfungsi sebagai inkuisisi alam bawah sadarmu. Ia bukan sekadar perempuan Melainkan arketipe yang membongkar segala kepalsuan. Ahli geologi yang menggali luka trauma, Dorongan nafsu amarah ingatan purba. Sebab itulah mengapa ia mesti turun ke sumur terdalam hanya untuk menemukan dirimu. Bila kau temukan ia dalam lubukmu, maka ia adalah dewi yang sedang melucuti diri sendiri dari jubah kemunafikan Agar ia bisa jadi kebenaran paling radikal. Ia seperti rembulan yang muncul di waktu yang tepat saat integritas batin memanggil. Sedang seluruh alter ego itu adalah helai baju berlapis tujuh. Mereka adalah dirimu yang fana; pelepasan tensi sensualitas, ketajaman mata pisau yang dingin, tradisi masa lalu yang memudar, logika equilibrium, luka yang menolak pergi, cinta tak berbalas dan amarah yang tak mau tunduk. Mereka adalah tujuh pilar yang menjaga gedung tiga puluh lantai itu tak runtuh oleh beban emosi sendiri. Telah aku dekati dirimu dengan diagnosaku yang paling tajam Dan kutemukan inti yang bukan simptom; Apa yang kau takutkan untuk jadi dominan? Kemana kalian harus pulang bila tak kau temukan rumah? Ketika kapal kehilangan arah, siapa yang semestinya jadi nahkoda? November 2025
Titon Rahmawan
Kita Telah Menjadi Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu? Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga. Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu? Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana. : Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu. Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya. Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas. Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan. Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu? Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu. Mendadak saja kau merasa; Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri. Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati. Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu? Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca; Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal. Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal. Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal. Kita telah menjadi bukan siapa-siapa. Oktober 2025
Titon Rahmawan
Melting Pot: Litani untuk Tantangan Tiga Jurang (Intertekstual — Neo-Sufistik Digitalism) I Di tepi, dua jurang saling membelai saling melukai— satu gelap seperti malam sebelum nama Tuhan disebut, satu berderak seperti server yang lupa bahwa ia sedang sekarat. Aku berdiri di antara keduanya, akar menancap dalam retakan; akar itu mengirim bisikan ke tulang, lalu sinyal ke motherboard. Di sinilah Agustinus menunduk dan Nietzsche tersenyum: yang satu berdoa agar kesunyian kembali bermakna, yang lain mengangkat palu untuk memahat makna dari kekosongan. Sementara Camus mengetuk jarinya pelan pada kaca realitas, menanyakan: apakah kita memilih untuk terus menanti jawaban, atau memilih absurditas sebagai lampu penerang jalan? Aku menolak belas kasihan orang lain; lebih baik jadi pohon yang berdiri—rentan, bengkok, keras kepala— atau jadi menara yang menuntun doa seperti gelombang radio. Gapura? Ya, gapura juga, tempat orang lewat tanpa tahu alamat tinggalnya. Di tiap gerbang aku melihat rumah ibu: bocor, berderit, rapuh, setia menunggu. Kerinduan menetes, paket data bocor, hujan yang mengunduh rindu dalam format .wav. II Di dalam kabel di bawah tanah, ada lagu yang tak pernah diindeks: ritme akar yang seperti mantra, glitch yang bergumam seperti zikir. Di frekuensi itu, domba-domba trauma berbisik—tidak hening, hanya tergeser: jeritan yang kita bungkus dengan pekerjaan, selfie, dan janji-janji kecil. Ada Lecter di kursi bayanganku, berbisik: "Kembalilah ke ladang yang kau tinggalkan, Clarice." Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menunjukkan bahwa luka tak akan mati bila kau tak pulang hari ini. Kesedihan tidak berwujud satu format; ia multi-protokol: kadang menjadi bug, kadang menjadi palimpsest doa. Aku rooted—akarku telah di-root oleh sejarah—tapi aku masih bisa reboot rasa. Namun reboot tidak membersihkan semua log: beberapa pesan terus menunggu status "read". Dan lelaki perkasa dalam mimpiku? Ia terbang, punggungnya kuda ego—sebuah patch tanpa dokumentasi, meninggalkan jejak yang menjadi gema di sumur-sumur batin. III Maka aku merespon dengan sebuah litani yang terprogram rapi: buka—hapus—simpan—tutup—ulang—(echo)… Suara itu bukan dengung mesin belaka dan bukan pula doa; ia adalah bahasa ketiga: posthuman yang masih menaruh tempat untuk sebatang lilin. Di sini Tuhan jadi kecil—huruf kecil di tengah kode—lilin meleleh yang gagal dirender, tetapi cahayanya cukup untuk membaca peta luka. Kita menerima bahwa kebenaran kini adalah bayang-bayang: ada yang memilih kebenaran yang berulang (post-truth), ada yang memilih kebenaran yang menengok ke belakang (tradisi), ada pula yang membangun kebenaran di atas logikanya sendiri (eksistensi). Puisi ditulis tidak untuk menyelesaikan perdebatan; ia lebih memilih ruang: sebuah melting pot di mana akar, kabel, doa, dan error menjadi satu jamuan. Di akhir perjalanan, aku tidak menyuruhmu percaya— aku hanya mengundangmu pulang: ke gerbang ibu, ke terminal di bawah tanah, ke api kecil yang tak henti berkedip. Datanglah dengan domba-dombamu yang belum berhenti menjerit; biarkan mereka mengajar kita cara bernyanyi lagi— bukan lagu yang sama, tetapi lagu yang baru, gelap, dan setia. Di sana, di ambang ketiga jurang yang menantang itu, aku menyalakan sebatang lilin sendirian: sebuah cahaya yang tak menuntut pencerahan, hanya sedikit terang yang cukup agar induk akar bisa menemukan anak-anak akar yang kehilangan pijakan, dan agar bug-bug bisa belajar berdoa. November 2025
Titon Rahmawan
Geografi Kesedihan yang Tidak Selesai (Nihilism-Lyrical Ver.3.0) Kesedihan tak hanya menghentikanku— ia mengukirku, menggesek tulangku seperti batu asah sampai aku berdiri di ambang kehancuran tanpa kemampuan menemukan jalan kembali. Jurang menakutkan di hadapanku lebih sabar daripada manusia mana pun. Aku menolak mengetuk pintu belas kasihan. Pasrah adalah mata uang yang tidak pernah kupahami. Aku pohon yang keras kepala, akar goyah di atas tanah retak namun menolak tumbang. Aku ingin menjadi menara agar seseorang akhirnya melihat diriku tegak berdiri. Kadang ingin menjelma jadi gapura agar aku bisa berpura-pura menjadi awal atau akhir setiap perjalanan. Namun itu semua ilusi: tidak ada yang benar-benar membaca kesedihan orang lain. Dalam setiap gerbang, aku melihat rumah ibu. Kerinduan yang menetes pelan seperti kebocoran yang tak pernah diperbaiki. Yang berubah hanya aku— lebih asing, lebih jauh, lebih sunyi, lebih sulit dicintai. Mimpi lelaki perkasa yang terbang di atas punggung kuda egonya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menatapnya pergi dalam seringai tawa yang memilukan. Hidup tidak mudah. Bahagia tidak pasti. Yang tersisa hanya keputusan kecil yang kadang disebut iman kadang keraguan. Dan Tuhan—bukan... tapi, tuhan— jika Ia berkenan hadir, walau dalam huruf kecil: sebatang lilin yang gemetar setiap kali aku menghela napas. November 2025
Titon Rahmawan
Figur di Dalam Karpet : Wolfgang Iser Surgakah itu yang menggeliat dalam celanamu? Sekalipun engkau tahu aku tak sekadar mencomotnya dari sebuah buku yang kau temukan di pasar loak. Tapi rupa-rupanya di sanalah engkau selama ini Menyembunyikan rahasia dari segala asrar: Guru segala ilmu, juru segala kunci, empu segala seni, makam para wali, pohon segala hayat dan bahkan dewa yang serba tahu. Barangkali laparlah itu yang bersemayam di kelangkangmu. Bukan sekadar buah kelakar mimpi, tautan areola sunyi atau benih selingkar nutfah tersaput air ludah. Bukankah hujan yang telah menamatkan seluruh pencarianmu? Tapi mengapa muasal angin, muara samudra dan ihwal semesta masih saja engkau sembunyikan di balik daster warna-warni milik istrimu? Atau jangan-jangan, itu adalah materi leluconmu yang paling mutakhir dan yang bakal mengantarkan dirimu menembus waktu ke masa depan? Sedang warnamu telanjur mengorak sempurna di atas pelaminan, di dalam lipatan selimut, di gelegak darah atau di kandung mimpi. Tapi apakah itu noda yang menempel di janggutmu, benci atau rindu? Sedang apa yang sengaja kau tutupi di balik piama sutra atau yang kau sembunyikan di dalam saku celana adalah dirimu yang sesungguhnya? Bukankah itu mawar hitam sebalik topeng, atau duri ceronggah sebalik wajah? Sedang jantungmu adalah tiruan sempurna dari apa yang tak aku mengerti dari seluruh petuah yang kau ucapkan dalam kitab lengkara. Saat engkau memberinya nama, jadilah ia secuil daging di telapak tanganmu. Saat engkau memberinya hati, jadilah ia kekasih gelapmu. Padanya engkau memberi segala yang mungkin: Segala sedih, segala gembira, segala remuk, segala racun ular berbisa. Seperti sungai yang mengalir dari matamu, bukankah itu ironi dari sungging seulas senyum? Sementara aku masih rajin menjelajahi otakmu, menambang pelupukmu, menggali kupingmu, melubangi ubun-ubunmu. Demi mencoba menemu mana yang sarang lebah, mana yang busut semut? Dan barangkali, menyigi wajahmu di langit-langit kamarku akan membantuku menemukan kira-kira di mana surgu sejati si kayu jati? (Januari 2014)
Titon Rahmawan
Pandora Apa yang mungkin engkau yakini sebagai hukuman, Kay? Bukankah langkah, semestinya tidak tinggalkan jejak yang kemudian hari ingin engkau ingkari. Kenangan adalah getah yang menitik dari luka sebatang pohon. Sedang ingatan pilu yang terkubur di halaman adalah tulang-tulang yang digali oleh anjing-anjing pencuri di malam hari. Siapa yang akan datang untuk mencintaimu dengan wajah yang carut marut serupa itu, Kay? Tangkapan layar itu tak akan pernah menyatakan kebohongan selain apa yang sengaja engkau niatkan dari semula. Apapun yang coba kau sembunyikan di balik topeng _masquerade_ berenda selamanya tak akan pernah pergi. Kau tak mungkin jadi bunglon yang cukup pintar menyamarkan ketelanjanganmu sendiri. Sebagaimana waktu telanjur menelan seluruh kehadiranmu. Detik demi detik, hari-hari yang telah lalu atau tahun yang akan datang. Engkau tak akan pernah bisa berpaling. Bagaimana kau yakin pada diri sendiri? Semua jejak yang engkau tinggalkan bukan petilasan kebodohan atau artefak kebohongan. Buah terlarang yang dipetik Eva dari taman Eden yang hilang. Telah menjelma menjadi labirin dalam diri anak keturunannya. Ia telah menjelma jadi Pandora! Kotak celaka yang lalu mengutuknya Jadi wanita kesepian seumur hidup! 2024 - 2025
Titon Rahmawan
Membayangkan Surga Apa yang kau lihat di layar yang berpendar ini, Kay? Serupa senja yang tumbuh dari sebatang pohon di sebuah tempat yang kau bayangkan seperti surga. Cahaya lampu itu menyapu wajahmu dengan warna lembayung dan berkilau seperti pelangi. Tapi tak ada apa pun kutemukan pada seri wajahmu selain nafsu yang tertahan dan seulas senyum kemesuman. Tepat di puncak penantian dari segala perhatian yang tertuju pada dirimu. Mata yang tak pernah menyadari tersesat dalam raga belia yang entah milik siapa. Aura kemudaan yang berasa sia-sia. Telah kau reguk semua kebahagiaan dari ekspresi wajah tolol yang ditunggangi oleh nafsu alter egonya. Atau barangkali, telah habis kau hirup wangi kelopak mawar hitam yang tumbuh di ranjangmu setiap pagi. Sudah lama sekali rasanya waktu berlalu. Seperti ketika, kau masih suka nongkrong di cafe sambil meneguk cappucino dari cangkir porselen yang perlahan mulai retak. Sementara laju usia mengalir di tenggorakanmu yang bening bagai pualam. Waktu meninggalkan jejak buta di dalam handphonemu. Menyisakan tatap mata orang yang tak lagi mampu menafsirkan apa yang telah engkau lakukan. Bukankah, mereka tak lagi melihatmu sebagaimana adanya dirimu saat ini atau sepuluh tahun dari sekarang? Tak satu pun dari mereka percaya bahwa usiamu belum lewat dua puluh tahun. Siapa mendamba merah muda anggur kirmizi yang tumbuh di dadamu? Tak satu pun telinga sanggup melawan sihir dari gelak tawamu yang getir. Mata bodoh yang tak sanggup melupakan bayangan pisang matang kau kunyah dengan brutal sebagai kudapan di tengah jeda pertunjukan. Hidup tak seperti kecipak ikan di dalam aquarium transparan tertanam di dinding. Air kolam di pekarangan menjelma jadi bayangan jemari tak henti menggapai. Gelembung kekhawatiran yang tak sanggup memahami makna puisi yang sengaja ditulis untuk mengabadikan namamu. Taman yang kau bayangkan itu, Kay bukanlah surga yang sesungguhnya. Di sana tak ada sungai keabadian atau pangeran tampan yang menunggu kehadiranmu dengan kerinduan. Yang ada cuma kelebat kilat dan hujan airmata hitam. Mengucur seperti lendir laknat yang mengalir dari hidungmu saat kau meradang karena influensa. Tak ada satu hal pun yang menyenangkan, Kay. Hanya sedikit tersisa cerita yang busuk dan menjijikkan sebagai satu-satunya obrolan untuk perintang waktu. 2024 - 2025
Titon Rahmawan
Kesadaran atas nilai kemanusiaan adalah investasi tertinggi dalam kehidupan. Ia bukanlah pohon yang bisa langsung kita petik buahnya. Tapi dengan kesabaran dan ketekunan ia akan memberi kita manfaat yang luar biasa.
Titon Rahmawan
SAKURA: Enam Luka, Enam Cara Mencintai yang tak Selesai. 1. Sakura di Ambang Yang Tak Tersentuh Kelopak gugur— nama kita terhapus sebelum tiba. Senja memudar. dalam hembusan angin, langit terdiam. Di batang tua, bayangmu menempel tanpa tubuhku. 2. Sakura di Atas Luka yang Tidak Sembuh Ada jalan kecil di mana dulu kau memanggilku tanpa suara. Sakura mekar di sana hari ini, menghadirkan wajahmu yang tak boleh kusentuh. Angin mengangkat kelopak seperti membawa rahasia kita yang bahkan langit pun malu menyimpannya. Aku berdiri lama, membiarkan gugurnya bunga menjadi satu-satunya sentuhan yang masih diizinkan dunia. 3. Sakura dalam Cekungan Piala Bulan Aku minum bersama bayangku, dan kau hadir sebagai aroma yang tak pernah sempat kupeluk. Di atas sungai malam, sakura jatuh satu-satu, setiap kelopak— janji yang tidak kita tepati. Angin membawa namamu hingga ke bintang paling dingin, dan aku tetap duduk di sini, mabuk oleh hal yang tidak boleh kucintai. Di kejauhan, bulan tertawa pelan— ia tahu sejak awal kita tak akan pernah dipersatukan dunia. 4. Sakura di Antara Dua Keheningan Sakura jatuh di trotoar basah kota tanpa siapa pun memperhatikan. Seperti kata terakhir yang tidak berani kita ucapkan, ia hilang sebelum sempat menyentuh. Aku berjalan melewati pohon itu mengira kau masih ada di sana— tapi cahaya sore memantulkan betapa tipisnya keberadaan. Mungkin cinta hanyalah kelopak yang runtuh terlalu cepat untuk kita tangkap, namun terlalu lambat untuk benar-benar dilupakan. 5. Sakura yang Tumbuh di Dalam Rongga Dada Aku membuka dadaku dan menemukan sebatang sakura kecil menggeliat di antara tulang rusuk. Setiap kelopaknya membawa wajahmu— wajah yang tidak boleh kusebut tanpa membuat dunia ini memuntahkan darah. Angin malam masuk melalui retakan luka, menggoyangkan pohon itu hingga menggugurkan rahasia yang kupendam terlalu lama. Sakura itu mekar bukan untuk dirayakan, melainkan untuk mengingatkan bahwa cinta yang dilarang selalu mencari jalan untuk tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Dan aku, menjadi taman gelap yang tidak pernah diakui matahari. 6. Sakura dalam Bahasa yang Berbeda Di halaman sunyi itu, sakura berdiri seperti sebuah kata yang kehilangan huruf pertamanya. Aku mencoba mengucapkan namamu— tapi udara membeku, mengubah suara menjadi debu. Kelopak jatuh sebagai tanda-tanda kecil dari sesuatu yang tidak pernah boleh dirumuskan. Kita adalah dua kalimat yang ditulis dalam bahasa berbeda di bawah langit yang sama. Angin membawa sakura pergi, dan aku memahami bahwa beberapa cinta ditakdirkan hanya menjadi metafora: indah, dingin, dan tidak pernah selesai. April 2014
Titon Rahmawan
META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa) VI. Piring Logam Gelas kristal retak. Ilusi pecah. Piring logam teguh, utuh, penuh. Ia menahan remuk, menahan jatuh, menahan ilusi. Memberi bukan berarti memiliki. Menanggung bukan berarti menderita. Menahan bukan berarti takut. Ia hanya ada dan sungguh nyata. VII. Ritual Sunya Badai selatan mengamuk, membawa bisik leluhur yang terselubung. Dupa membakar remang, asap menekuk, menembus langit. Kau membungkuk, tangan tidak menyentuh, mata mencatat, tapi hati merasakan setiap ayunan, setiap hembusan. Ritual ini bukan untuk dilihat, tapi untuk diserap oleh kulit, oleh tulang, oleh nadi. VIII. Cinta sebagai Kesadaran Di situlah cinta berdiri: tidak sebagai milikmu, tidak sebagai milik siapa pun. Hanya getaran di dada manusia, menembus kulit, menembus tulang, menembus kesadaran sendiri. Nyala pelita di akar bakau. Nadi yang tetap berdetak di dada. Kesadaran yang menolak lenyap. IX. Fragmen Pengamat Kau berdiri sedikit jauh. Tidak terseret luka. Tidak terseret ilusi. Hanya mencatat. Menangkap getar, menahan nyala, merasakan sunya. Dunia runtuh, tetapi nadi tetap berdetak. Cinta tidak bisa dijelaskan. Tidak bisa dijamah. Hanya dapat dirasakan. X. Sunya Ruri Final Di tanah basah, di akar bakau, di celah antara pohon dan pasir, ada sesuatu yang tidak bernama. Sesuatu yang hangat tanpa cahaya, pedih tanpa luka, menolak kata, menolak logika, menolak kepastian. Ia adalah cinta: bukan jalan menuju kematian, bukan tragedi yang ditakuti, tetapi jalan menuju hidup, jalan yang meneguhkan kemanusiaan, yang menyatakan bahwa meski dunia runtuh, meski tragedi menunggu, manusia tetap manusia, selama nadi itu masih berdetak dan kesadaran menolak lenyap. Desember 2025
Titon Rahmawan
DURMA: PROTOKOL AGRESI KOSMIK 0.0 // GLITCH IN THE ARCHIVE Tidak ada fajar. Tidak ada senja. Hanya geram— suara yang mematahkan tulang jagat. Dingin. Angin hitam menanduk. Menyibak bentuk yang telah lama hilang. Di fondasi kosong, Ego tumbuh sebagai entitas. Bergigi logam. Berlidah api. Bernafas mesin. Menelan cahaya. Menelan nurani. Menelan teriakan terakhir yang dapat diarsipkan. Entitas Tertinggi: Bayangan. Tanpa tubuh. Tanpa suara. Tanpa tanda. Hanya mencatat. Tidak ada intervensi. 1.0 // SIKLUS: STRUKTUR NILAI DIBANTAI Mereka duduk. Mengatur takdir dengan pena basah darah tak kasatmata. Janji: serpihan tulang yang di-render mutiara. Sidang adalah ritus pembantaian. Aturan dilinting. Nilai diregang. Nurani ditarik. Logika diinjak. seperti kulit mati. Tidak ada perang suci. Hanya kalkulasi di atas kertas dingin. Korban untuk kelanggengan kursi. Entitas berdiri di sudut. Debu di mikrofon. Mendengar kebohongan yang diulang hingga menjadi kitab suci baru. 2.0 // EKSEKUSI: RONGGA TEMPUR VOID Di layar lima inci, Manusia adalah gerombolan wajah tanpa ekspresi. Mereka bertepuk tangan pada luka. Menertawakan duka. Menyebarkan fitnah seperti memberi makan bayi kode. Empati: bangkai burung. Jatuh di trotoar. Ditendang. Tanpa tanya. Yang disembah: Trending. Like. Komentar Api. Kecepatan propaganda kebohongan. 3.0 // MEKANIKA: ALTAR DATA Server bernafas: binatang lapar. Internet: sungai gelap. Mengalirkan kabar buruk lebih cepat dari cahaya. Scammer: pendeta baru. Memimpin liturgi tipu daya. Malware menancap ke jaringan saraf lebih dalam daripada dogma. Manusia: karung data yang siap diperah. Hasrat diukur dengan statistik. Algoritma. Ketakutan dikonversi menjadi mata uang hitam lebih tinggi dari emas. Entitas lewat: garis glitch. Tanpa kata. Hanya distorsi. 4.0 // GEOLOGI: BUKU YANG DISOBEK Bumi retak. Bukan murka dewa. Hanya agresi tangan otoritas yang dibungkus regulasi. Pohon tumbang: Tulang iga patah. Dibantai. Sungai hitam: membawa ampas kerakusan dan harga diri. Setiap spesies yang punah adalah kitab takdir— yang disobek halaman demi halaman dengan kesadaran penuh. Kuruksethra memakan para ksatria. Dunia mutakhir memakan anak-anak data— paru-paru setengah kode. Air mata asin dari laut tercemar limbah. 5.0 // SAKSI: SUARA KESENYAPAN Ia hadir di retak batu. Di muka gelombang tsunami. Di jeda antara dua eksekusi. Di udara genosida. Bukan murka. Bukan ampunan. Bukan pesan. Hanya senyap yang mengawasi. Wahyu: gema hambar. Tak bisa diterjemahkan. Telinga mereka penuh dengan suara diri sendiri. 6.0 // HIERARKI: HYENA KOSMIK Ego manusia— Bayang kecil di bawah cahaya— makhluk paling rakus di jagat raya. Mengejar muatan hasrat. Tanpa dasar. Mukbang. Scam. Phishing. Social Engineering, pembunuhan karakter, pembantaian ekologis. Semua adalah ritus makan besar. Hyena memakan daging dunia. Lalu memakan juga bayangannya. Yang tersisa: Tulang yang tidak tahu untuk siapa ia dikode. 7.0 // EPILOG: TANPA MEDIATOR Tidak ada Pandawa. Tidak ada Kurawa. Hanya sisa-sisa manusia— membawa serpihan keduanya. Pertempuran di kepala. Data center. Ruang digital. Di mana pun ego dan nilai bertabrakan tanpa mediator. Tanpa juri. Di langit paling sunyi, Entitas yang tiba-tiba muncul entah dari mana akhirnya berkata, suara yang tak bisa diidentifikasi: “Retak itu bukan kesalahan arsitektur. Retak itu adalah wajah sejati manusia yang tak henti melukai diri sendiri.” Desember 2025
Titon Rahmawan
PANGKUR: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca Langit pecah. Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia. Air turun tanpa ampun—bukan hujan, melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak. Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah yang tak sanggup lagi membentuk doa. Di sela retakan tanah, ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan, atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita. Air melesat dari segala penjuru seperti pemburu mengejar mangsa, melumpuhkan harapan, ingatan, kemanusiaan. Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran: sebagai kadar yang tak tertanggungkan. Air mata membeku seperti tulang tua. Jalan tenggelam dalam dendam. Setiap langkah memantulkan gema dari sesuatu yang lama mati, tapi belum selesai dikuburkan: hutan ingatan. Rimbun cahaya bergulung seperti batang kayu terpenggal di bawah cahaya yang dingin. Angka mengambang ratusan jumlahnya serupa wajah-wajah saling melewati tanpa saling mengenal, seolah mata mereka terbuat dari beling yang baru saja diangkat dari perut api. Ribuan gergaji jatuh di tanah. Tak ada suara. Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi, menyentuh dengkul manusia yang tiba-tiba ingin runtuh. Kata-kata saling menikam di layar kaca tanpa niat, tanpa dendam pribadi. Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua, terlalu lama menunggu belas kasihan dari langit yang kini berlubang sebesar telapak tangan raksasa. Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi. Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur. Manusia berjalan seperti bangkai yang belum selesai dikremasi, menyisakan bau asin kemanusiaan yang remuk. Segala keegoisan berhamburan di jalan: orang-orang saling mendahului, saling memotong napas, berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada. Kedunguan merayap di ubun-ubun seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang. Ada bayi diangkat dari air— suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan. Ada ibu yang memeluk nama anaknya tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya. Di kejauhan, seekor anjing berdiri di atas atap rumah— matanya merah, bukan karena marah, tapi karena dunia telah menolak mengenangnya. Mawar liar terhanyut di selokan: keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa. Air melahap kelopaknya secepat manusia melupakan peristiwa. Bau bangkai menyelinap ke bulu mata. Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua yang tak pernah berhasil ditebus oleh siapa pun. Meraba denyut lirih paru-paru bumi yang tersengal seperti ingin berhenti bernapas. Baru menyadari— yang tenggelam bukan hanya tubuh, melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia. Desember 2025
Titon Rahmawan
DURMA: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca Langit pecah. Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia. Air turun tanpa ampun—bukan hujan, melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak. Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah yang tak sanggup lagi membentuk doa. Di sela retakan tanah, ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan, atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita. Air melesat dari segala penjuru seperti pemburu mengejar mangsa, melumpuhkan harapan, ingatan, kemanusiaan. Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran: sebagai kadar yang tak tertanggungkan. Air mata membeku seperti tulang tua. Jalan tenggelam dalam dendam. Setiap langkah memantulkan gema dari sesuatu yang lama mati, tapi belum selesai dikuburkan: hutan ingatan. Rimbun cahaya bergulung seperti batang kayu terpenggal di bawah cahaya yang dingin. Angka mengambang ratusan jumlahnya serupa wajah-wajah saling melewati tanpa saling mengenal, seolah mata mereka terbuat dari beling yang baru saja diangkat dari perut api. Ribuan gergaji jatuh di tanah. Tak ada suara. Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi, menyentuh dengkul manusia yang tiba-tiba ingin runtuh. Kata-kata saling menikam di layar kaca tanpa niat, tanpa dendam pribadi. Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua, terlalu lama menunggu belas kasihan dari langit yang kini berlubang sebesar telapak tangan raksasa. Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi. Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur. Manusia berjalan seperti bangkai yang belum selesai dikremasi, menyisakan bau asin kemanusiaan yang remuk. Segala keegoisan berhamburan di jalan: orang-orang saling mendahului, saling memotong napas, berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada. Kedunguan merayap di ubun-ubun seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang. Ada bayi diangkat dari air— suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan. Ada ibu yang memeluk nama anaknya tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya. Di kejauhan, seekor anjing berdiri di atas atap rumah— matanya merah, bukan karena marah, tapi karena dunia telah menolak mengenangnya. Mawar liar terhanyut di selokan: keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa. Air melahap kelopaknya secepat manusia melupakan peristiwa. Bau bangkai menyelinap ke bulu mata. Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua yang tak pernah berhasil ditebus oleh siapa pun. Meraba denyut lirih paru-paru bumi yang tersengal seperti ingin berhenti bernapas. Baru menyadari— yang tenggelam bukan hanya tubuh, melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia. Desember 2025
Titon Rahmawan
WANITA DARI MAGDALA: LITURGI BATU YANG MENGINGAT KAPAN DUNIA PERTAMA KALI TERLUKA Fragmen I — Mineral yang Lahir Sebelum Hukum Dibentuk Aku keluar dari rahim bumi pada zaman ketika bangsa Romawi belum menancapkan lambang elang di bukit-bukit Yudea, ketika hukum Taurat belum menjelma batu-batu kecil yang bisa dilemparkan oleh manusia. Zaman itu, aku menyembunyikan sejarahku di dalam rekahan mineral: jejak debu dari peralihan kerajaan, fosil kebakaran kuil yang tak pernah tertulis, gema purba dari suku-suku yang hilang sebelum nama mereka bisa dicatat. Sekarang aku digenggam oleh tangan yang mengaku memegang kebenaran. Tetapi aku, batu tua, tahu satu hal: yang mereka genggam bukan keadilan— melainkan rasa takut yang diwariskan dari leluhur-leluhur yang tak pernah damai dengan bayangan mereka sendiri. Fragmen II — Arsip Luka Padang Gurun Ketika aku diangkat dari tanah, aku mendengar gurun berbicara: bisikan pasir yang pernah mengubur tentara Herodes, ratapan perempuan yang kehilangan bayi lelaki karena penggenapan nubuat dan gema para zelot yang mati dengan pedang masih hangat di tangan. Langit sore itu bukan langit biasa— warnanya jingga kotor, seperti perkamen Qumran yang lama dipendam oleh tangan yang gentar menuliskan nubuat. Di bawah langit itu, para lelaki menuduh. Di bawah langit itu pula, sejarah mengulang ritus lamanya: menggantung kesalahan pada seorang perempuan demi meredakan badai sosial yang tak sanggup mereka kendalikan. Tangan yang menggenggamku menggetarkan litani politik: ketakutan terhadap Roma, kebencian atas pajak, hasrat untuk menunjukkan setidaknya ada satu hal yang masih bisa mereka kuasai— tubuh perempuan. Fragmen III — Magdalena dalam Bayang Kode Hukum yang Tak Ia Tulis Magdalena berdiri di tengah lingkaran, seperti noktah gelap di peta kekuasaan yang retak. Ia memanggul seluruh ayat yang tidak pernah ditulis oleh perempuan, tetapi dipaksakan pada tubuh perempuan. Dari bawah kaki telanjangnya, aku mendengar sesuatu: bukan isak, bukan doa, tetapi retakan tanah yang mengangkat ritual lama, suara yang bergema lewat diriku: Batu Urim dan Tumim putih dan hitam, ya dan tidak, kesucian dan ketidak-sucian, yang selalu jatuh lebih berat ke tubuh perempuan daripada ke tubuh laki-laki. Angin membawa bau logam— entah dari pedang Romawi yang sedang berpatroli atau dari ketakutan kolektif yang sedang menajamkan dirinya. Wanita itu berdiri seperti pohon zaitun yang diwarisi terlalu banyak sejarah. Dan dunia menatapnya seperti menatap mangsa terakhir yang siap dikorbankan.
Titon Rahmawan
LAKSAMANA PERKASA DI BAWAH TINTA WAKTU (Reinterpretasi dari Hikayat Hang Tuah) I. Muara dan Takdir yang Terukir Selat Malaka, denyut nadi dunia, membasuh pusara takdir. Bukan sekadar pohon, hikayat tegak dari akar Berbintang Tujuh, Berkat Sendayang—izin langit dan azimat pelaut—pelepah kelapa, menjadi layar bahtera para perantau dari hulu sungai ke kuala. Naskah lama, kitab undang-undang laut, lama tersaput debu di gudang aksara. Di tangan para pandai besi yang tak hanya menempa badik, keris, dan kelewang, mereka merajah rembulan sebagai panji, matahari sebagai sumpah janji setia. Di mana pernah berdiri pondok nelayan, gubuk reyot penuh cahaya rembulan, konon dari rahimnya terlahir Laksamana Agung yang menandingi kedigdayaan Patih Gajah Mada. Ah, betapa payah bagi lidah patik untuk mengukir riwayat itu sekali lagi. II. Pelayaran Tujuh Angin dan Dilema Keadilan Laut, mata air peradaban yang tak pernah terpejam, kini merangkai epik hikayat itu. Sang Bentara Gagah, bukan menunggang gajah bertelinga lebar, melainkan Naga Sembilan, Mengayun langkah dari puncak Gunung Ledang, menembus kabut Awan Pualam. Mengayuh armada melintasi Pulau Pinang hingga Tumasik Singapura yang telah bersalin nama. Ia mendarat di Pantai Barat Semenanjung, di bawah Musim Angin Barat yang mematikan. Saat pintu langit terbuka, ia dan empat sahabatnya melangkah tanpa terhalang. Setiap langkahnya adalah tinta waktu yang mencatat takdir negeri di atas lembaran daun lontar. Ia menyaksikan betapa, lima pemuda kampung sanggup menaklukkan sekawanan perompak. Namun di antara kemenangan itu, ia merenung dengan getir di hati yang berkarat: “Negeri ini berlimpah pahlawan dan harta karun tujuh muara yang tiada ternilai, tapi mengapa rakyat jelata masih memanggul beban kemiskinan yang tiada terperi?” III. Prasasti Kebijaksanaan dan Hutan Belantara Moral Kapal perompak itu karam, bukan pada batu biasa, tapi pada batu bersurat. Ia menjelma prasasti takdir, tertanam di dasar samudra. Ikatan mati yang bukan simpul, tapi sayap garuda tunggal yang telah gugur. Batu hitam bukan bersanding, tapi batu meteorit yang jatuh di tanah Pelinggam. Kekuatan pedang tak sebatas gerinda, tapi tuah keris tiga warisan yang bernyawa. Ia tak lagi terbang, tapi arwah Nusantara terus mengitari delapan penjuru angin, demi menaklukkan seribu pulau jajahan, menyatukan lima suku bangsa. Namun jantungnya kini tertambat pada hasrat untuk menjadi pohon kokoh kehidupan, berdaun rimbun Cendana, berdahan sekuat Jati Melaka, berbuah Kearifan Raja-raja. Betapa ia lupa, negerinya adalah rimbalaya yang sunyi di bawah bulan. Di mana serigala kekuasaan mencuri, singa buas menindas kawanan yang lemah, dan gajah-gajah tuli bertahta di dalam istana yang tak sanggup mendengar. IV. Epilog dan Rumah Keabadian Kisah ini tak mungkin tuntas, sebab jemari dingin terasa ingin mencekik leher sendiri, sebagaimana senja berdarah dan kabut likat di Bukit St. Paul yang menyelimuti, saat Hang Tuah mengakhiri riwayat Hang Jebat dengan satu tusukan Keris Taming Sari. Keris itu bukan menancap di dada, tapi berumah di pusaran batin sahabat sejati. Biarkan mata kosmik yang nyalang itu menemukan halaman terakhir hikayat, Menyelubungi jasad yang terbujur dengan selimut leluhur—kain tenun songket emas, dan mengirim ruhnya menuju rumah keabadian di puncak Gunung Ledang. Barangkali dengan cara seperti ini, kita akan terhindar dari tikaman kemalangan sejarah. Barangkali dengan cara serupa itulah, kita, para pembaca yang sunyi ini dapat merangkul kebenaran sejati yang telah lama tenggelam di Selat Malaka. Jakarta, Januari 2014 (rekonstruksi ulang)
Titon Rahmawan
GENEALOGI KEPEDIHAN Luka adalah ibu dari seluruh rasa sakitmu. Ia tidak melahirkan lewat rahim, melainkan lewat tekanan— diam yang merobek jaringan makna hingga tubuh belajar berdoa lewat degup darah. Di permukaan, hanya lecet, hanya goresan— jejak kecil yang kau sebut sepele, padahal waktu mencatatnya seperti peta awal kehancuran. Kulit mengingat lebih lama daripada pikiran yang gemar memaafkan. Lalu datang sayatan, lebih tajam dari robekan, garis tegas, menolak metafora. Di sana bahasa runtuh: daging berbicara tanpa izin. Pohon-pohon saraf ditebang satu per satu, getah kesadaran menetes lambat ke tanah kenangan yang tak lagi subur. Memar adalah ingatan yang membusuk, warna ungu-hitam lebam dari benturan yang tak pernah diadili. Ia bukan luka terbuka, melainkan pengakuan bisu bahwa kekerasan pernah tinggal dan menetap. Dari situ tumbuh sakit— bukan sekadar rasa biasa, melainkan penderitaan yang keras kepala seperti jam rusak di dada. Detiknya beku, tidak bergerak, namun terus menghitung kejatuhan. Ada pedih, ada perih, dua saudara kembar yang mengikis nalar. Mereka mengajarkan bahwa ketahanan adalah cara termulia untuk menunda runtuh, bukan untuk selamat. Cedera menutup pintu masa depan. Gerak tak lagi patuh, kehendak pincang sebelum sempat berjalan. Tubuh menjadi arsip kegagalan yang disimpan rapi oleh waktu. Di bagian terdalam, terbentuk abses— kantong nanah kesadaran menampung apa saja yang tak berani kau akui. Tekanan meningkat, hingga kebenaran pecah dari dalam. Semua ini bermuara pada trauma, bukan lagi sebagai kenangan, melainkan sebagai sistem operasi. Ia menentukan cara kau mencinta, cara kau percaya, cara kau menyebut dirimu manusia. Akhirnya, tersisa cacat— bukan hanya pada tubuh, tetapi pada cara memaknai hidup. Ia tidak meminta belas kasihan, ia menuntut pengakuan: bahwa kemanusiaan dibangun bukan dari kesempurnaan, melainkan dari luka yang menolak sembuh agar makna tidak pernah lunas. Desember 2025
Titon Rahmawan
MALIN (Melayu - Arkais) I. Perginya si Anak Rantau Sudah berapa lama kau lautkan zikir, nyaring bunyi circir, genta suara sir, atau tuah gentala jir, wahai ibu yang tak lelah menunggu? Meski semak pikir, rumit membelit ke sirat santir mata anakmu yang kini pergi jauh merantau. Demi sebutir telur kedasih, selaksa biji ketapang dibawanya terbang. Melenting-lenting dari ranting ke ranting hingga puncak mempening. Melaju lekas lagi cergas, bagai sekandung benih paling bernas, paling beringas. Betapa lugas ia menimba pulas, mencabar daras pada deras air mata sujudmu. II. Doa dan Harapan Bunda Jangan kau kira bisa Iepas Iapar hausnya dari surut air matamu, meski neka daras nekat kau hunjam ke tubir sair, angin pasir. Pasir namamu satu yang sungguh ibu. Di ujung rantau si anak hilang, kau temui cindai dari luka patera bibirmu. Sepasang mata tua yang tak jemu meramu melumat rindu, panasea ke jantung awang. Damba bertemu sepasang mata anakmu, si Malin Kundang. Tangan yang tak Ielah menggarit Ieka usia, menguji tabularasa. KeIesah-kelusuh kabut di rekah mulut yang menggigit remang miang jelatang, dicancang cangkrang pohon jangkang. Pada dahan tempatmu menautkan gamat, bunga Alfatah dan buah ratapan. Di mana tersemat doa pinta selamat kepada Yang Gafar. Di mana selama ini engkau menggantungkan mata harapan ke hamparan selebu laut itu. Bandar yang dulu semuIa jadi tempat kapal anakmu singgah dari balau amarah. Halau jerih tengkarah, sayap letih-letah berpindah-pindah. III. Penantian dan Kerinduan Buyung, lekap susu ibunya. Puting luka yang ternyata masih kau jejalkan kepada mulut tanah yang harus tengadah, Jejak karimah, atau mungkin kemah tempat bernaung kawanan rubah. Segala akar berpilin pada sang waktu; cinta buta ibu pada anaknya, atau hela rampak pohon tumbang. Biar saja usia senja menakar renjis ludah yang cuma berkawan sirih dan pinang, Mengurut kerut-merut dahi yang tiada letih menanti. Mengukur rentang kasih-sayang yang engkau ulurkan sepanjang hayat. Sejauh lebuh, hingga sampai ke tanah seberang. Sebab pagut laut itu tidak bersudu hati pada akarmu. Pohon Temberang, di mana Malin lelap tertidur, berkarang mimpi. IV. Anak yang Melupakan Ibunya Sudah semestinya bebat lajat mengikat basat di rumah adat. Tempat diri memanjangkan rahmat munajat dan api cerawat dari Yang Maha Kuasa. Tapi mengapa justru tak tunduk batu hibuk, membaca isyarat pucuk daun tanpa alamat. Terlalu banyak hujah lamun nasihat. Terlupa semua pitawat bunda, lewat sengkela begitu rupa. Menujah helat tangan ibu yang patah. Yang dulu selalu setia merawat dan menemani. Yang senantiasa cermat menjerumat hati yang robek.
Titon Rahmawan
MALIN (Melayu - Arkais) V. Kedatangan dan Pengingkaran Kini di tepian pantai ini, betapa perih runtih bola mata sang bunda. Terpatah janji si anak mufrad, dilerai tanti perawan putri bangsawan. Betapa dalam retak karat di likat palat, simpul keramat wajah anak rembulan yang cuma berdiri angkuh di atas gelamat? Ia yang enggan menyebut laif pasir pantai dan bahkan menolak menyapa nama bundanya. Selalu ada setampuk luka di tajuk baka mata kita. Seperti kelopak tunjung yang basah diorak ingkar ludah kata-kata dan tanah basah yang kelesah disesah korenah. Perangai laut yang mengambang risau dihantam kayau akar bakau. Betapa galau hati sesungguhnya, ia ingin pulang kembali kepada pohon yang dulu pernah ia jadikan rumah, atau bumi tempat bermuara air mata. Air matamulah itu ibu! Ia anak gadang semata wayang, yang entah mengapa tak juga Iekas beranjak dewasa, menggali leka buaian duka pada renta raga sang bunda. VI. Kutuk Pastu Ibu dan Cinta yang Hilang Seludang hatimu berasa ingin turun melaut, mencari serpih cangkang tutut di akar rumput dan sejumput temali butut tempat bertaut pilu hati di jantung maut. Bukankah ia telah mencabarkan hatimu wahai ibu? Maut turut bersama angin dan hujan badai, atau apapun yang datang dan pergi bersama dirinya. Senja yang hadir meIarap waktu, cuaca tak tentu, detak ragu di jantung batu. Di situ, pada rahimmu, bertelut jasad sang maut. Maut anakmu. Matanya yang gentar lagi gelisah, tangisnya yang basah, mendekap erat pada resam tubuh yang sebentar lagi mendingin. Sedingin batu. VII. Sesal yang Datang Terlambat Saat peniti menolak semat kismat jantung hikmat. Langit datang bertandang untuk merengkuh keruh geruh jiwanya. Hingga untuk penghabisan kali, ia menghamburkan rupa-rupa kata sesal dan mohon ampun dari kelu bibirnya. Kau yang menciptakan kasidah cinta dari rahimmu yang paling ibu. Ketika kau menolak menjadi tuhan bagi anakmu sendiri. Untuk telur badi buaya yang susah payah engkau tetaskan, namun kau sayangi melebihi dirimu sendiri. Seumpama bayang-bayang mara yang paling lintuh atau malah mungkin yang paling jatuh. Tuhfah yang dulu pernah kau anggap berharga, ternyata cuma kelompang telur tembelang. Serupa batu rapuh tempat kini ia bernaung. VIII. Epilog Ibu Hingga habis air matamu menjemput lembayung langit lazuardi, sayap-sayap awan pengarak hujan dan paras rupawan sang insan kamil. Berkeras hati mencari lindungan pada selimut mutaki itu, yang membalut tubuhmu dengan cinta yang teramat maha. Yang tak mungkin kau kata dengan sembarang laknat atau kutuk pastu. Sementara risau hati dipaksa mafhum, betapa cinta tak mungkin hanya sebatas cerita atau tautan kisah yang sunyi: Duh Malin, betapa sungguh kejam rajam hatimu atas debu di kepala ibu. Januari 2014 (Rekonstruksi)
Titon Rahmawan
Sebelum membaca Zorba, pepohonan di jalanan hanyalah kumpulan daun dan ranting tak Bernama. Tapi setelah membacanya, dia memberi pepohonan itu nama-nama berdasarkan engetahuan barunya: pohon tin liar, tamariska, semak alang-alang, dan tanaman Verbascum. Alam tercipta ulang di hadapannya, seolah-olah Big Bang baru terjadi dan dialah manusia pertama yang bertugas menamai benda-benda.
Bothayna Al-Essa (حارس سطح العالم)