Pewaris Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Pewaris. Here they are! All 21 of them:

β€œ
Indonesia.... seKali langitmu tempat wajahku mengadah sekali tanahmu menjadi tubuh yg melekati arwah maka selamanya kita padu dalam satu Dirgahayu indonesiaku... walau beribu watak pewaris tahtamu tetap satu tanah juangku kami mencintaimu lebih lama dari selamanya
”
”
firman nofeki
β€œ
Seorang lelaki biasa yang tidak sebijak Abu Bakar, tidak sekuat 'Umar, tidak sekaya Usman, tidak secerdas 'Ali. Hanya pemuda dhaif yang menyongsong kebangkitan. -Rasyiduddin
”
”
Sinta Yudisia (The Road to the Empire: Kisah Takudar Khan, Pangeran Muslim Pewaris Mongol)
β€œ
Janganlah terlambat, majulah, cepatlah, dan jadilah pewaris Isma'il
”
”
Muhammad Ar-Rasyid (Titik Tolak)
β€œ
ibu kuatir kamu memilih perempuan sembarangan.
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Lihatlah baik-baik, Gadisku, jika nazar tak mau menyantap mayat artinya manusia yang mati berjiwa buruk.Nazar-nazar kelaparan, bukankah tak tertinggal manusia baik kecuali beberapa gelintir?
”
”
Sinta Yudisia (The Road to the Empire: Kisah Takudar Khan, Pangeran Muslim Pewaris Mongol)
β€œ
Kekayaan Indonesia selama ratusan tahun dirampok oleh perusahaan asing, tak ada dari keuntungan itu ditanamkan lagi di bumi Indonesia. Berbeda dengan seorang patriot yang mencintai tanah tumpah darahnya, bangsa yang menjajah kami tidak memelihara tanah jajahan itu. Mereka menghancurkannya. Kami tidak terlibat dalam hal ini, tetapi kami menjadi pewaris-pewarisnya.
”
”
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
β€œ
Shaykh al-Jundi hanya seorang dari pewaris sastera jenis ini di dalam sejarah sastera Sufi yang muncul di dalam abad ke-19. Tema utama qasidah ini kekal di dalam rangka tradisi sastera Islam yang lampau oleh kerana tidak mungkin kekal 'tamaddun Islam' itu jika ia diasingkan dari tradisi yang menerbitkan jenis puisi yang sebegini rupa. Umumnya tamaddun agama berasaskan prinsip asal dengan aspek-aspek dan ciri-ciri baharu yang ditambah tanpa penambahan prinsip.
”
”
Baharudin Ahmad (Al-Qasidah Al-Maymunah)
β€œ
Hati-hati, Nak. Jangan lupa niatmu dan persaudaraan kalian. Inna ma'al usri yuso. Kalian akan menemukan kemudahan jika telah menghadapi kesulitan. Jangan pernah berpikir bahwa hambatan dapat menghentikan langkah, karena seringkali kemenangan sejalan dengan banyaknya rintangan.
”
”
Sinta Yudisia (The Road to the Empire: Kisah Takudar Khan, Pangeran Muslim Pewaris Mongol)
β€œ
Dengan gayanya sendiri yang berbeda dan kemandirian, dia meneruskan pesantren peninggalan orang tuanya
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Kamu anak sulung. Musti menjadi penerus pesantren keluarga ini
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Banu menjadikan kegilaannya menabuh drum sebagai pelarian dari banyak masalahnya
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Semakin sedikit beban yang kita miliki, semakin ringan kita membawanya. Toh kematian tak mengijinkan kita membawa apapun kecuali jejak kebaikan
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Semakin sedikit beban yang kita punya, semakin santai saja kita membawa ataupun meninggalkannya
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Ibunya sangat nriman dan hampir tidak punya ambisi kecuali menjaga nyala api dalam diri untuk menjaga hafalan Alquran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Dia telah menjadi pelopor sejak dari masa remajanya. Makin menjadi-jadi ketika dia dewasa. Semangatnya tidak pernah surut meski menjadi seorang istri dan seorang ibu.
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Ini tempat baru, penuh orang baru. Banu bisa mengaku jadi siapa saja yang dia inginkan. Tapi dia tidak mau bertopeng.
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Yang Banu pedulikan hanya kebersamaan dan keutuhan sebagai sebuah keluarga dengan kenangan almarhum ayah yang senantiasa bersama mereka.
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Karena keberlimpahan sepertinya juga tidak selalu menjanjikan sesuatu semacam kebahagiaan ataupun kepuasan.
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Aku belum mau menikah. Masih muda, ingin belajar, bekerja dan berkarya dulu.
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
Apa cinta bisa dipaksakan?
”
”
Dian Nafi (BANU Pewaris Trah Pesantren)
β€œ
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran) Aku menemukan pecahan itu di dalam ruangan tanpa pintu: bersih, presisi, seperti bukti awal sebuah kesalahan yang tidak memerlukan saksi. Bening ituβ€”yang pernah kusangka hidupβ€” kini hanya memantulkan jarak antara tangan yang gemetar dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi. Athalia, namamu masih menempel pada permukaan kaca, seperti sebutir nadi yang menolak menjadi tubuh. Tidak ada tragedi di sini. Hanya perhitungan yang meleset dari sesuatu yang sedari awal terlalu rapuh untuk kuasaku yang terbiasa mengukur dunia dengan ketidakpastian. Darah di jari-jariβ€” itu pun bukan pengakuan, melainkan residu dari percobaan yang belum selesai. Tubuhku sekadar catatan kaki bagi retakan yang bekerja lebih cermat daripada perasaan. Aku mencatat: bahwa bening tidak dapat dipanggul seperti gagasan. Bahwa harapan tidak memiliki sendi untuk menahan tekanan. Bahwa cinta, pada saat tertentu, adalah objek yang menolak takdirnya sendiri. Kau jatuh, Athalia, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai fenomena: gerakan singkat cahaya yang gagal mempertahankan bentuknya. Dan akuβ€” aku hanya pewaris sunyi yang diam-diam menimbang apakah retakan ini adalah bukti rusaknya dirimu, atau rusaknya aku yang percaya sesuatu dapat disembuhkan hanya dengan sekadar memegangnya. 2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian) Ada jejak cahaya di lantai yang mengingat langkahmu lebih baik daripada diriku. Pagi tadi, aku menemukan secuil bening yang pernah memantulkan wajahmu. Ia diam saja, seperti hendak mengatakan bahwa pecah tak selalu harus bersuara. Athalia, aku memanggilmu dalam hati β€”dan seperti biasaβ€” angin yang datang menjawab. Ia membawa sedikit debu, yang menempel pada namamu di kaca yang perlahan mengabut. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Kadang benda yang rapuh memilih retak sebelum kita sempat menjaganya. Kadang hati lebih dahulu mengerti apa yang tidak ingin ia akui. Sejak itu, aku belajar duduk lebih pelan di ruangan yang kau tinggalkan terbuka. Tidak ada yang berubah di sini, kecuali cahaya yang semakin tipis lurus menyusuri tembok, mencari sesuatu yang tak bisa kembali. Aku masih menyimpan suaramu di sela napas yang lewat begitu saja. Dan jika aku meletakkan telapak tanganku di atas serpihan itu, aku tahu yang terasa bukan sakitβ€” melainkan ingatan yang belum selesai pergi. Begitulah cinta bekerja, bukan? Ia tinggal lebih lama daripada mereka yang pernah merawatnya. Dan pada akhirnya, kita adalah dua nama yang saling kehilangan secara perlahan, tanpa pernah benar-benar mengucapkannya.
”
”
Titon Rahmawan