Lepaskan Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Lepaskan. Here they are! All 24 of them:

Mendapatkan uang merupakan sarana untuk mencapai tujuan: untuk menyokong rumah tangga dan agar keluarga mereka hidup bahagia. Tapi masyarakat kapitalis menipu dengan membuat kita percaya bahwa upah kita merupakan adalah tujuan itu sendiri, mengubah kita menjadi budak uang. Kita lupa sepenting apa pun uang, ada hal-hal lebih penting yang tak bisa kita lepaskan.
Chan Ho-Kei (Second Sister)
Keburukan prasangka hanya akan mendekatkan manusia kepada fitnah. Dan tidak ada yang lebih membahayakan jiwa manusia selain daripada sebuah fitnah yang keji. Lepaskan dirimu dari beban-beban prasangka atau bayang-bayang kegelapan akan meliputi jiwamu dan kau akan kehilangan cahaya kemanusiaan
Titon Rahmawan
Kehidupan hanyalah ilusi yang harus kau lepaskan. Ketika makin tua, kau menyadari perubahan posisimu sehubungan dengan kematian. Di masa muda topik kematian adalah filosofis, di usia tiga puluhan topik itu tidak bisa diterima, dan di usia empat puluhan topik itu tidak terhindarkan. Di usia lima puluhan, kau menghadapinya dengan cara-cara yang lebih rasional : mengatur surat wasiat, menghitung aset dan harta warisan, menjelaskan donasi organ tubuhmu, merinci kata-kata yang tepat untuk surat wasiat. Kini di usia enam puluhan, kau kembali jadi filosofis.
Amy Tan
Kegetiran itu, wajah sayu diantara gemerlap lampu-lampu. kepura-puraan untuk ketidaktahuan yang mutlak kita tahu. Kenapa tidak kita lepaskan saja? mari berbagi wajah, entah senyum atau tangis yang ada dibalik topeng kita. bukankah kita manusia yang sama?
nom de plume
Apa yang kita pikir bisa membuat kita bahagia, nyatanya tidak mampu menggantikan apa yang selama ini kita punya dan lepaskan.
Irin Sintriana (Love Story)
Sebab hanya kau yang ada untuk aku bila aku perlukan seseorang. Takkan aku nak lepaskan semua ni untuk cinta yang aku tak tahu sampai bila?
Abstrakim (INTROVERT)
Rebahkan tangguhmu, lepaskan perlahan, kau akan mengerti, semua.
Sheila On 7
Jangan lepaskan aku lagi seperti tiga hari ini. Jangan lepaskan aku demi siapapun - Ozcar.
Shandy Tan (Shine on Me)
Pagi yang datang tak perlu menunggu senja yang tak ingin pulang. Seperti hidup ini, kita tak harus menunggu sesuatu yang tak akan kembali. Lepaskan, ikhlaskan dan terus maju ke depan.
Anggita Ramani
....Kalau di antara lima puluh orang cuma tiga orang yang ingin jadi guru, siapakah yang akan mengajar anak-anakmu nanti?.... ....Kalau engkau tidak yakin betul, lepaskan cita-citamu untuk jadi guru itu.... ....seorang guru adalah kurban -- kurban untuk selama-lamanya. Dan kewajibannya terlampau berat -- membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa.
Pramoedya Ananta Toer
Kami manusia, seperti halnya orang laki-laki. Aduh, berilah izin untuk membuktikannya. Lepaskan belenggu saya! Izinkan saya berbuat dan saya akan menunjukkan, bahwa saya manusia. Manusia seperti laki-laki.
Sulastin Sutrisno (Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya)
Memberi itu bisa disebut sebagai 'memberi' hanya jika kita tidak mengharap apapun kembali. Kalau sudah mengharap sesuatu kembali, namanya bukan lagi disebut memberi, melainkan 'bertukar'. Dalam memberi terdapat sebuah kesadaran untuk melepaskan. Melepaskan sesuatu dari diri kita, untuk yang lain diluar diri kita. Jadi (misalnya) kamu memberi sejumlah uang (alat tukar dunia manusia) kepada seorang pengemis, dengan maksud memperoleh/mengharap pahala (alat tukar dunia akhirat) untuk bekal hidupmu kelak. Tindakanmu tersebut, tidak bisa disebut sebagai 'memberi', karena yang kamu inginkan sesungguhnya adalah 'pertukaran'. Kamu melepaskan sesuatu dari dirimu (sejumlah uang) dengan harapan memperoleh sesuatu yang lain dari luar dirimu (pahala) untuk bertukar dengan apa yang tadi telah kamu lepaskan. Dengan demikian tindakanmu tersebut masuk ke dalam domain 'bertukar', bukan 'memberi'. Janganlah dulu terlalu jauh bicara soal ikhlas dan tidak ikhlas, jika membedakan antara memberi dan bertukar saja kita seringkali masih keliru.
Ayudhia Virga
Saudariku.. pernahkah ada seorang yang melukaimu, menuduhmu atas suatu hal yang tidak anda lakukan ? memanggilmu dengan sebutan yang tidak layak dilontarkan, mengatakan hal – hal yang sangat tidak pantas diucapkan kepada sesama muslimah… mungkin dia adalah keluarga dekatmu, mungkin dia adalah temanmu, atau bahkan..... keluarga dari calon pendampingmu… :) Jangan bersedih ! tidak hanya anda yang mengalaminya… saya pun pernah mengalaminya.. duhai saudariku… Tidak semua orang mampu memahami kesalahan yang telah dilakukannya, Tidak semua orang mampu menerima kesalahan,dan tidak semua orang mampu meminta maaf kepada anda, meskipun dia sudah menyadari kesalahannya… Duhai saudariku…Lepaskan keegoisanmu agar cahaya iman masuk kedalam nuranimu, maafkanlah mereka dengan tulus…. jangan menunggu permintaan maaf mereka kepadamu!... Saudariku… apakah masih ingat dengan kisah Rasululloh SAW berikut ini : ” Suat saat ketika Rasulullah SAW sedang duduk – duduk bersama sahabatnya, Rasulullah SAW bersabda, “Sebentar lagi,salah satu ahli surga akan muncul di hadapan kalian.” Tak lama, seorang laki-laki dari kaum Anshar muncul dengan sisa air wudhu masih menetes dari janggutnya. Ia menenteng terompah di tangan kirinya. Hari berikutnya, Rasulullah SAW mengulang perkataannya dan orang itu kembali melintas seperti pada kali pertama. Di hari ketiga, Rasulullah SAW mengulang perkataannya, dan kejadian itu kembaliterulang. Mendengar ucapan Rasulullah SAW, Abdullah bin Amr mengikuti lelaki yang dimaksud Rasulullah SAW lalu berkata kepadanya, “Aku bertengkar dengan ayahku, aku tidak akan menemuinya tiga hari, apakah engkau berkenan memberiku tempat menginap?” lelaki itu menjawab, “Silahkan, dengan senang hati.” Abdullah bin Amr pun menginap di rumah lelaki itu hingga tiga malam berlalu dan Abdullah belum melihat dari laki-laki itu melakukan amal yang disebut sebagai penghuni surga. Sehingga Abdullah memberanikan diri bertanya, “Sudah tiga hari disini, aku tidak melihatmu mengerjakan amal yang membanggakan. Mengapa Rasul menyebutmu sebagai salah satu calon penghuni surga?”. Lelaki itu menjawab, “Aku memang tidak melakukan amalan-amalan yang istimewa, tetapi sebelum tidur, aku mengingat kesalahan-kesalahan saudaraku seiman, lalu aku berusaha untuk memaafkannya. Aku hilangkan rasa dengki dan iri terhadap karunia Allah yang diberikan kepada saudaraku.” Setelah mendengar itu, Abdullah berkata, “Ya,itulah yang menyebabkan engkau disebut sebagai calon penghuni surga.” Subhanallah ! Begitu dahsyatnya efek memaafkan,saudariku… semoga Allah menjadikan kita para pemaaf, yang mampu membalas keburukan dengan kebaikan… Semoga Bermanfaat.. :)
Nuci Priatni
Jika kau tidak bersahabat dengan cintanya maka lepaskan dan jadikan lagi dia kawan agar kau dapat merasakan hidupmu kembali
Galih Agus Pradana
Lepaskan. Bila menggenggam hanya melukai tangan. Ikhlaskan. Bila memendam hanya melukai perasaan.
Ajeng Pipit
Jangan lepaskan aku lagi seperti tiga hari ini. Jangan lepaskan aku demi siapapun - Ozcar
Shandy Tan (Shine on Me)
Saat kau lelah dengan pikiran dan duniamu, tenanglah...lepaskan semua itu dengan keikhlasan... maka menguaplah semua itu....
Iwan Suryanto
Reda kena ikhlas, ikhlas daripada rasa terkilan. Seumpama macam kita masuk tandas lepas tu kita flush! Di mana kita tak tengok apa yang dah dibuang tu. Lepaskan rasa sakit tu tanpa rasa terkilan. Ikhlaskan hati jadi hamba, ikhlaskan hati menerima aturan-Nya.
Ezza Mysara (Bukan Cinta Secondhand)
Dispose the old one to earn the new one. Lepaskan yang lama agar terima yang baru.
Toba Beta (Master of Stupidity)
Lepaskan yang tak bisa diubah, fokus pada apa yang bisa diperbaiki. Nikmati saja prosesnya.
Unknown
Perempuan yang Dulu Kau Kejar Hanya untuk Kau Lukai” Buat para lelaki: Apakah kau benar-benar sudah memahami istrimu? Ia bukan sekadar perempuan yang menunggumu pulang, meski tanganmu hampa dan dompetmu kosong. Ia bukan sekadar tubuh yang letih mengurus rumah, atau wajah yang perlahan kehilangan cahaya mudanya. Ia adalah doa yang tak pernah berhenti menyebut namamu, bahkan ketika kau tertidur lelap dan melupakan segalanya. Ia adalah keberanian yang meninggalkan kenyamanan tempat tinggal orang tuanya, menukar kepastian dengan harapan, hanya demi satu keyakinan, karena ia mencintaimu. Ia memintal mimpi dengan air matanya, menyalakan bara ketabahan dengan jiwanya, dan menaruh seluruh hidupnya dalam genggaman tanganmu—meski kau sendiri sering tak tahu bagaimana harus menjaganya. Dialah yang mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan darah dagingmu, dialah yang mengorbankan hidup dan waktunya demi membesarkan keturunanmu. Dialah tangan yang membersihkan rumahmu, hati yang menjaga marwahmu, pelita yang menuntunmu pulang. Ironisnya, justru dialah orang yang paling sering kau abaikan. Dialah yang paling sering kau sakiti dengan sikap diam-mu, acuh tak acuhmu dan ketidakpedulianmu. Ia yang dulu kau kejar dengan segala kerinduan, kini kau anggap biasa saja—tak lagi istimewa, tak lagi bernilai. Padahal yang ia harapkan bukan istana, bukan harta berlimpah, melainkan hal yang sederhana: perhatian yang tulus, rasa aman, kasih sayang yang hangat. Tragisnya, engkau lupa bahwa cinta adalah bara yang harus dijaga, api yang harus diperbaharui. Engkau biarkan apinya padam, lalu kau salahkan ia ketika rumah tangga menjadi dingin. Engkau tak sadar, luka yang ia simpan bukan karena tubuhnya berubah menjadi gemuk, bukan karena kecantikannya pudar, melainkan karena pengorbanannya tak lagi berarti bagimu. Engkau telah meruntuhkan marwah seorang istri, menukar air matanya dengan penyesalan, menukar pengabdiannya dengan kehampaan. Jangan salahkan dia bila akhirnya ia memilih pergi. Ia pergi bukan karena lelah mencintai, melainkan karena tak ada lagi cinta untuk dipertahankan. Ia tinggalkan rumah yang ia bangun dengan air mata, ia lepaskan kenangan yang ia ikat dengan harapan. Dan yang tragis, kau tak kehilangan sekadar seorang istri—kau kehilangan perempuan yang dulu rela menyerahkan segalanya untukmu, bahkan hidup dan kehormatannya. Mengapa lelaki begitu pandai mengejar, namun begitu ceroboh menjaga? Dahulu, ia rela menembus hujan dan badai demi seulas senyum; kini, sekadar menatap mata istrinya saja ia sudah enggan. Mata yang dulu ia puja, jernih bagai telaga tempat ia merendam dahaga cintanya, kini dibiarkannya berkabut oleh air mata. Tidakkah ia sadar, setiap tetes air mata istrinya adalah patahan kecil dari marwahnya sendiri? Lelaki sering kali lupa, bahwa cinta yang diperjuangkan dengan susah payah bisa hilang hanya karena lalai memeliharanya. Betapa ironis—mereka berlari mengejar bunga saat kuncup, namun berpaling saat bunga itu mekar, seakan keindahan tak lagi berarti ketika sudah berada dalam genggaman. Perempuan menangis bukan karena lemah, melainkan karena hatinya penuh dan meluap oleh perasaan yang tak sanggup ia bendung lagi. Ia menangis bukan karena kehilangan cinta, tapi karena cinta yang ia beri setulus hati tak lagi dipandang berarti. Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain disamakan dengan rutinitas? Diseret dalam hari-hari yang hampa tanpa lagi ada rasa kagum, tanpa lagi ada ucapan sederhana: “Sayang, aku sangat mencintaimu...” Dan beginilah tragedi buruk para istri: lelaki sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, padahal perempuan yang paling ia sakiti susah payah menjaga api kebahagiaan itu tetap menyala. Sementara lelaki mengira, kejayaan ada pada dunia luas yang ingin ia taklukkan. Padahal, kedamaian terbesar ada di pangkuan istrinya yang terus menunggu dengan setia, entah sampai kapan? Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Palsu II: Ego yang Menyembelih Dirinya Sendiri Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh, sementara bayangannya sendiri menolak pulang? Di malam yang tak memerlukan bulan, aku melihat mereka—dan diriku— terperangkap seperti hewan buruan yang tersesat di hutan kelam pikiran. Hujan turun tanpa suara. Tanah meminum angkara. Seseorang menjerit di luar sana… dan tak seorang pun peduli. Ego itu— yang mereka bela seperti anjing lapar yang tak mengenal tuannya— mendesis di sela tulang rusukku, menggigit, menyobek, menelan segala sesuatu yang ingin kusebut sebagai aku. Tak ada yang tahu siapa yang pertama kali menusukkan pisau ke pusat kesadaran. Entah akal yang meronta, atau bayang-bayang yang selama ini dibesarkan diam-diam oleh dendam. Ia adalah tangan asing yang lahir dari retak imajinasi, tertawa saat darah jatuh tanpa jejak emosi. Dunia tak menatap. Lampu-lampu padam sebelum gelap datang. Jalan-jalan terbelah seperti gempa; denyut jantung ingin lari dari dadanya sendiri. Beberapa orang berjalan miring karena tak sanggup menanggung beban di kepalanya. Yang lain menyeret bayangan yang memberontak seperti anak haram yang menolak mengakui bapaknya. Di televisi, papan reklame, musik yang memekakkan, aku melihat wajah yang sama— wajah yang menolak mengakui bahwa tubuh tempat ia tinggal sudah lama membusuk oleh kebohongan kecil yang disembah setiap malam. Mereka bertanya: “Masihkah darah berwarna merah?” Aku diam. Karena warna tak berguna bagi mereka yang kehilangan mata untuk melihat luka— dan hanya punya mata untuk menakar siapa lebih tinggi, lebih suci, lebih benar dalam dunia yang bahkan tak punya tanah untuk berpijak. Di sebuah pulau tanpa nama, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri agar percaya bahwa ia pernah hidup sebagai manusia— walau hanya dalam fotonya. Seorang gadis makan es krim sambil memikirkan kekasih yang ia benci namun tak mampu ia lepaskan karena kesepian lebih menakutkan daripada kebodohan. Dan di antara semua itu, aku menemukan diriku mengiris sesuatu yang tampak seperti wajah— lebih licin, lebih dingin, lebih keras kepala daripada cermin mana pun yang pernah menatapku. Ego itu meraung ketika kusayat pelan-pelan. Ia tidak mati. Ia membelah diri. Menjadi dua. Tiga. Seratus. Menjadi ribuan mulut yang menuntut penjelasan yang tidak ingin kuberikan. Sebab apa gunanya menjelaskan kepada sesuatu yang hidup hanya untuk mempertahankan ilusi bahwa ia bukan zombie? Saat itu aku mengerti: Kita tidak pernah takut pada dunia. Kita takut dipaksa mengakui bahwa yang menghancurkan kita adalah bayangan yang kita ciptakan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dan ketika ego itu akhirnya berlutut, menyembelih dirinya di bawah kakiku seperti sapi bingung yang tak tahu mengapa ia harus dikorbankan, Tapi aku tahu: yang mati bukan ia— melainkan cerita yang dengan keras kepala kuanggap sebagai kisah hidupku. Yang hilang adalah kebohongan yang selama bertahun-tahun kubiarkan menyusu pada pikiranku. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang tak memerlukan cahaya, tak memerlukan jawaban, tak memerlukan nama. Ruang hampa menatap balik seperti dunia. Tanpa mata. Tanpa cinta. Tanpa iba. Dan aku pun masuk. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai penyintas. Tetapi sebagai sesuatu yang akhirnya menghilang tanpa perlu menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia harus hilang. November 2025
Titon Rahmawan
Mendedah Realitas // Versi Ironis–Tragis–Nihilistik Tidak ada yang benar-benar melarang kita mendedah realitas. Yang melarang hanyalah rasa takut yang tak nyata yang kita bungkus rapi seolah kesunyian punya moralitasnya sendiri. Ketika kita membukanya, kita menemukan sesuatu yang lebih menyakitkan dari rahasia apa pun— bukan makna, tapi ketiadaan makna yang berbaring seperti jasad yang sudah dingin, menunggu siapa yang berani menyentuhnya. Nietzsche berbisik dari suatu tempat yang tak bertuhan: “Realitas bukan sesuatu yang kau temukan, tapi sesuatu yang kau paksa untuk bernapas.” Namun ia sendiri pun terperosok ke dalam jurang kata-kata yang ia ciptakan untuk membebaskan diri. Agustinus menjawab dengan getir, seperti seseorang yang terlalu lama menyesali masa mudanya: “Yang nyata hanyalah yang ditopang iman keyakinan.” Tapi ia pun gemetar ketika malam terlalu sunyi dan doanya memantul kembali tanpa jawaban. Zen Buddhis tertawa pelan, bukan karena ia menemukan pencerahan, tapi karena ia tahu bahwa pertanyaan semacam itu selalu kalah oleh kekosongan. “Realitas hanyalah bayangan pikiran.” Namun pikiran— adalah tempat pertama di mana semua luka tumbuh. Dan kita? Kita hanya duduk di antara mereka seperti anak terlambat belajar yang tak tahu harus mempercayai siapa: dia yang membunuh Tuhan, dia yang memeluk Tuhan, atau dia yang mengatakan tak ada apa-apa sejak awal mula. Semakin dalam kita membuka realitas, semakin terasa bahwa yang tersingkap bukan cahaya, bukan kebenaran, tetapi lapisan-lapisan ironi tragis yang menertawakan keinginan kita sendiri untuk mengerti sesuatu yang bahkan tidak memiliki pusat gravitasi. Barangkali realitas adalah semacam pembusukan yang berlangsung teramat lambat— kita mengendus aromanya, berpura-pura itu adalah parfum filsafat. Atau mungkin ia hanya cermin yang memantulkan wajah kita yang lelah, yang pucat oleh harapan, yang terjerat antara ingin percaya dan ingin berhenti peduli sama sekali. Zen berkata: lepaskan. Nietzsche berkata: tumbuhkan kehendak. Agustinus berkata: bertobatlah. Skeptisisme modern berkata: klik refresh dan lanjutkan hidup. Namun malam tetap datang dengan kesenyapan yang tak bisa kita tawar. Ia membongkar pikiran kita tanpa belas kasihan, meninggalkan sisa diri yang tak lagi padat, tak lagi utuh, sekadar debu yang tahu bahwa keberadaannya pun hanya sementara. Pada akhirnya, mendedah realitas bukan tentang menemukan apa atau siapa. Ini adalah latihan kehilangan: kehilangan jawaban, kehilangan harapan, kehilangan tumpuan yang selama ini kita yakini sebagai fondasi. Dan dari kehilangan itu muncul sejenis ketenangan muram— seperti lampu jalan yang terus menyala di jalan terpencil, meski tak ada seorang pun yang benar-benar membutuhkannya. November 2025
Titon Rahmawan
Suluk Suwung: Percakapan yang Tak Pernah Selesai Antara Suwung dan Amongraga 1. AMONGRAGA: Aku mendengarmu dari jauh— gema yang berjalan tanpa tubuh, seperti bayang yang lupa asalnya. Apa yang kau cari di celah-celah gelap ini? SUWUNG: Aku tidak mencari. Aku hanya diam. Diam yang terlalu lama, hingga berubah menjadi bentuk yang tak punya nama. 2. AMONGRAGA: Diam juga bagian dari suluk. Ia jembatan menuju terang. Mengapa kau menjadikannya liang? SUWUNG: Karena terangmu terlalu ribut. Dan setiap mantra yang kau sebut meninggalkan debu di nafas manusia. 3. AMONGRAGA: Aku berjalan dari kidung ke kidung, dari tubuh ke tubuh, hingga segala kenikmatan mengungkit pintu-pintu wahyu. SUWUNG: Aku tahu. Itulah jejak yang kau tinggalkan di dada sejarah. Tapi apa yang kau temukan? Selain tubuh yang terus meminta tanpa pernah selesai? 4. AMONGRAGA: Aku mencari puncak. Puncak yang melampaui dunia. Di sanalah aku menanggalkan daging seperti menanggalkan bayang-bayangku. SUWUNG: Dan aku mencari dasar. Dasar yang menelan dunia. Dasar tempat segala suara berhenti dan hanya retakan yang berbicara. 5. AMONGRAGA: Retakan juga bisa menjadi jendela. Mengapa kau memilih menjadikannya rumah? SUWUNG: Karena rumah yang kau buat ditopang oleh api. Aku lelah menjadi tubuh yang terus kau bakar demi sebuah cahaya yang tak pernah sampai. 6. AMONGRAGA: Lalu mengapa kau datang padaku? Mengapa engkau memanggil namaku dari jauh— seperti anak yang kehilangan jalan pulang? SUWUNG: Aku ingin tahu apakah seseorang sepertimu pernah merasa kosong. Atau kau memang menutupinya dengan nyala yang memabukkan. 7. AMONGRAGA: Aku tak pernah kosong. Aku penuh. Penuh dengan bunyi, dengan tubuh-tubuh, dengan api yang naik turun seperti nafas yang tak mau padam. SUWUNG: Maka di sanalah perbedaan kita. Engkau penuh. Dan aku kosong. Tapi keduanya sama-sama tak menjawab apa-apa. 8. AMONGRAGA: Apa itu yang kau sebut suwung? Hening yang menolak segala bentuk? SUWUNG: Suwung adalah tempat di mana setiap jawaban mati sebelum sempat disebutkan. Sebuah ruang yang tidak ingin menang. Tidak ingin selamat. Tidak ingin terlahir kembali. 9. AMONGRAGA: Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku? SUWUNG: Aku ingin melihat apa yang tetap berada pada dirimu ketika seluruh kidungmu aku bungkam. Ketika seluruh tubuhmu aku lepaskan. Ketika seluruh cahaya aku padamkan. 10. AMONGRAGA: Dan apa yang kau lihat? SUWUNG: Hanya satu hal: bahwa bahkan engkau pun, pada akhirnya, adalah pintu yang tidak menuju siapa-siapa. 11. AMONGRAGA: Jika aku pintu, maka mengapa engkau tidak masuk? SUWUNG: Karena tidak ada apa pun di dalam. Dan tidak ada apa pun di luar. Yang ada hanyalah aku. Dan bahkan aku tidak sedang mencari diriku sendiri. 12. AMONGRAGA: Kalau begitu, mengapa engkau tetap berdiri di ambangku? SUWUNG: Karena di antara terangmu yang berisik dan gelapku yang sunyi, ambang adalah satu-satunya tempat yang tidak memaksaku memilih. 13. AMONGRAGA: Engkau suluk yang patah. Suluk yang menolak puncak. SUWUNG: Dan engkau adalah doa yang terlalu keras hingga lupa bagaimana cara menjadi sunyi. Desember 2025
Titon Rahmawan