β
MALIN
(Melayu - Arkais)
V. Kedatangan dan Pengingkaran
Kini di tepian pantai ini,
betapa perih runtih bola mata sang bunda.
Terpatah janji si anak mufrad, dilerai tanti perawan putri bangsawan.
Betapa dalam retak karat di likat palat,
simpul keramat wajah anak rembulan yang cuma berdiri angkuh di atas gelamat?
Ia yang enggan menyebut laif pasir pantai dan bahkan menolak menyapa nama bundanya.
Selalu ada setampuk luka di tajuk baka mata kita.
Seperti kelopak tunjung yang basah diorak ingkar ludah kata-kata dan tanah basah yang kelesah disesah korenah.
Perangai laut yang mengambang risau dihantam kayau akar bakau.
Betapa galau hati sesungguhnya,
ia ingin pulang kembali kepada pohon yang dulu pernah ia jadikan rumah,
atau bumi tempat bermuara air mata.
Air matamulah itu ibu!
Ia anak gadang semata wayang, yang entah mengapa tak juga Iekas beranjak dewasa,
menggali leka buaian duka pada renta raga sang bunda.
VI. Kutuk Pastu Ibu dan Cinta yang Hilang
Seludang hatimu berasa ingin turun melaut,
mencari serpih cangkang tutut di akar rumput
dan sejumput temali butut tempat bertaut pilu hati di jantung maut. Bukankah ia telah mencabarkan hatimu wahai ibu?
Maut turut bersama angin dan hujan badai,
atau apapun yang datang dan pergi bersama dirinya.
Senja yang hadir meIarap waktu, cuaca tak tentu,
detak ragu di jantung batu.
Di situ, pada rahimmu, bertelut jasad sang maut. Maut anakmu.
Matanya yang gentar lagi gelisah, tangisnya yang basah,
mendekap erat pada resam tubuh yang sebentar lagi mendingin. Sedingin batu.
VII. Sesal yang Datang Terlambat
Saat peniti menolak semat kismat jantung hikmat. Langit datang bertandang untuk merengkuh keruh geruh jiwanya. Hingga untuk penghabisan kali,
ia menghamburkan rupa-rupa kata sesal dan mohon ampun dari kelu bibirnya.
Kau yang menciptakan kasidah cinta dari rahimmu yang paling ibu. Ketika kau menolak menjadi tuhan bagi anakmu sendiri.
Untuk telur badi buaya yang susah payah engkau tetaskan,
namun kau sayangi melebihi dirimu sendiri.
Seumpama bayang-bayang mara yang paling lintuh atau malah mungkin yang paling jatuh.
Tuhfah yang dulu pernah kau anggap berharga, ternyata cuma kelompang telur tembelang.
Serupa batu rapuh tempat kini ia bernaung.
VIII. Epilog Ibu
Hingga habis air matamu menjemput lembayung langit lazuardi,
sayap-sayap awan pengarak hujan dan paras rupawan sang insan kamil.
Berkeras hati mencari lindungan pada selimut mutaki itu,
yang membalut tubuhmu dengan cinta yang teramat maha.
Yang tak mungkin kau kata dengan sembarang laknat atau kutuk pastu. Sementara risau hati dipaksa mafhum,
betapa cinta tak mungkin hanya sebatas cerita
atau tautan kisah yang sunyi:
Duh Malin, betapa sungguh kejam rajam hatimu atas debu di kepala ibu.
Januari 2014
(Rekonstruksi)
β
β