Kewajiban Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Kewajiban. Here they are! All 41 of them:

Hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Karenanya, kita perlu melakukan kewajiban kita untuk menjalaninya sebaik mungkin.
Winna Efendi (Happily Ever After)
Jangan bekerja sama dengan kejahatan, sebab kewajiban kita adalah bekerja sama dengan kebaikan.
Mahatma Gandhi
Alam semesta tidak punya kewajiban untuk membuatmu merasa berharga; aku yang harus melakukannya untuk diriku sendiri.
Annisa Ihsani
Saya akan lebih mendulukan kebenaran-kebenaran universal, bukan hutang budi, bukan kewajiban moral dan bukan juga pengabdian buta.
Putu Wijaya (Gres)
Saya yakin bahwa rasa cinta adalah guru yang lebih baik ketimbang kewajiban, paling tidak bagi saya." -Einstein-
Walter Isaacson (Einstein: His Life and Universe)
Hidup menjadi rentetan upacara dan kewajiban tanpa makna
Seno Gumira Ajidarma (Penembak Misterius: Kumpulan Cerita Pendek)
Penegakan sistem Islam dan pemberlakuan syariat Islam tidak dapat dilakukan dengan cara merebut kekuasaan yang datang dari lapisan atas. Akan tetapi, melalui perubahan masyarakat secara keseluruhan—atau pemahaman beberapa kelompok masyarakat dalam jumlah yang mencukupi untuk mengarahkan seluruh masyarakat—pada pemikirannya, nilai-nilainya, akhlaknya, dan komitmennya dengan Islam. Sehingga tumbuh kesadaran dalam jiwa mereka, bahwa menegakkan sistem dan syariat Islam itu merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan.
Sayyid Qutb
Kita hidup dalam ajaran Islam. Ada kewajiban memuliakan orangtua.
Desi Puspitasari (Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku)
Laksanakanlah kewajiban anda sebaik-baiknya, selebihnya serahkan kepada Tuhan.
Pierre Corneille
Tetapi dalam hidup selalu ada pilihan antara menikahi orang yang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi. Yang pertama hanyalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban
Salim Akhukum Fillah (Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim)
Banyaknya proletar mesin dan tanah di Indonesia dan kekuatan yang tersembunyi memang sudah cukup kuat buat merebut kekuasaan dari imperialisme Belanda. Tetapi didikannya masih sangat tipis dan tidak cocok dengan keperluan dan kewajiban klasnya di hari depan. Mereka kekurangan filsafat. Mereka masih tebal diselimuti ilmu buat akhirat dan tahyul campur aduk.
Tan Malaka
Begitulah rumus kehidupan. Dalam perkara shalat ini, terlepas dari apakah seseorang itu pendusta, pembunuh, penjahat, dia tetap harus shalat, kewajiban itu tidak luntur. Maka semoga entah di shalat yang ke-berapa, dia akhirnya benar-benar berubah. Shalat itu berhasil mengubahnya. Mamakmu pasti pernah bilang itu kepadamu.
Tere Liye (Pergi)
Satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya.
Paulo Coelho
Cepat atau lamban, kita semua harus melakukan hal-hal yang lebih rendah daripada kewajiban kita.
Sherrilyn Kenyon (Dance with the Devil (Dark-Hunter, #3))
Pasal 4: Bahwa pihak yang berutang budi selayaknya memenuhi kewajiban terhadap pihak yang berpiutang budi, paling tidak sekurang-kurangnya diganti dengan balasan yang setara.
Flazia (The Case We Met)
... secepat itu Indi memvisualisasikan sepasang sepatu tua yang disembunyikan di bawah tangga. Sepatu nyaman yang selalu dipakai ketika kaki pemiliknya letih. Namun, ketika sang pemilik ingin menghadapi dunia, dia tak mungkin memilih sepatu itu. Akan dipakainya sepatu mentereng yang memang diperuntukkan sebagai pendampingnya. Dunia menuntut demikian. Sekalipun tidak nyaman, tapi itu kewajiban.
Dee Lestari (Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade)
Bagaimana tandanya iman kita menurun? Ketika kita tidak lagi takut untuk melakukan larangan-Nya dan juga tidak takut dengan kematian; menjadi acuh dengan kewajiban, maka di situlah iman kita sedang terkikis dengan perlahan; hati jadi karatan.
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
Banyak orang yang menganggap berdakwah itu hanya dengan berceramah, namun amal shaleh yang rutin diperbuat ternyata berpengaruh lebih nyata dimata orang lain. Dengan mengerti kemudian melaksanakan kewajiban dan kebaikan agama, juga merupakan dakwah yang lebih membuat orang lain tertarik terhadap agama ini.
Nailal Fahmi (Selangkah Menuju Surga)
Bukan hanya aku yang kehilangan, tapi seantero sekolah juga merasakan lubang kehampaan. Ia bukanlah sosok guru yang sering mencuri waktu demi kepentingan sendiri. Bukan pula pribadi yang kerap mengambil handphone dalam saku tanpa peduli muridnya pintar atau diam tak mengerti. Ia tak tampak seperti orang kebanyakan. Oknum guru yang tak merasa khianat walau kerap datang terlambat. Mereka yang hanya mengingat hak sementara kewajiban cuma dicatat. Pendidik yang selalu memberi tugas tapi jarang memperjelas. Pegawai yang membanggakan sertifkasi tanpa memikirkan kualitas beriring prestasi. (Pejuang Cinta, Dunia Tanpa Huruf R)
Yoza Fitriadi (Dunia Tanpa Huruf R)
Seorang samurai tidak bekerja sekadar untuk mengisi perut. Dia bukan budak makanan. Dia hidup untuk memenuhi panggilannya, untuk kewajiban dan pengabdian. Makanan hanyalah tambahan, sebuah berkah dari surga. Jangan menjadi laki-laki yang, karena terlalu sibuk mencari makan, menghabiskan hidupnya dalam kebimbangan.
Eiji Yoshikawa (Taiko 1 - Tahun Temmon Kelima 1536)
Lalu, kenapa menikah itu jadi kewajiban?” tanyaku setelah menelan suapan makanan pertamaku. “Asli, gue jadi beneran nggak nafsu makan. Makasih lho, Nin.” Agnes mengerucutkan bibir, menatap makanannya tanpa selera. “Ya udah, maaf. Makan lagi deh, gue diem.” Kataku geli. “Karena menikah itu takdirnya manusia? Manusia kan konon diciptakan berpasang-pasangan.” kata Agnes. Klise.
Okke Sepatumerah (Pre Wedding Rush)
Ya. Sembahyang adalah kewajiban yang datang dari Tuhan untuk setiap pribadi yang percaya. Ya. Kewajiban sembahyang tidak datang dari seseorang untuk orang lainnya. Maka secara pribadi aku tak berani mewajibkan apa-apa kepada orang lain karena aku juga tak mungkin memberinya pahala, tak pula berhak menghukumnya. Lalu bagaimana dengan si Suyud yang seakan-akan mau mewajibkan suatu yang jadi hak Allah, yaitu sembahyang, kepada orang lain? Kiai Ngumar.
Ahmad Tohari (Lingkar Tanah Lingkar Air)
Ketika suatu kebiasaan sungguh penting bagi Anda, Anda harus bersedia mempertahankannya dalam suasana hati apa pun. Profesional bertindak bahkan ketika suasana hati sedang tidak mendukung. Mereka mungkin tidak menikmatinya, tapi mereka punya cara agar kewajiban tetap dijalankan.
James Clear (Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones)
Aduhai, hidup itu penuh dengan keindahan, asalkan saja kita hendak melihatnya biarpun banyak juga perkara yang sungguh-sungguh sedih; maka jadi kewajiban kitalah memperbanyak barang yang indah itu dan mengurangi yang sedih.
Raden Adjeng Kartini (Habis Gelap Terbitlah Terang)
Berada di sini dan mengusir mereka adalah kewajiban kita.
Adania Shibli (Minor Detail)
Tugas ini benar-benar di luar kapasitasku. Dibunuhnya seorang gadis seperempat abad persis seperempat abad sebelum hari kelahiranku bukan berarti kematiannya lantas menjadi urusanku dan menjadi bagian hidupku sehingga aku punya kewajiban untuk menceritakannya.
Adania Shibli (Minor Detail)
Tugasku Hanya Mengatakan yang sebenarnya,Mau percaya atau tidak itu pilihan anda,yang jelas, saya sudah melakukan kewajiban saya untuk mengatakan apa yang harus aku katakan.
Rifki Hidayatullah
Tugasku Hanya Mengatakan yang sebenarnya,Mau percaya atau tidak itu pilihan anda,yang jelas, saya sudah melakukan kewajiban saya untuk mengatakan apa yang harus saya katakan.
Rifki Hidayatullah
Keningratan membawa kewajiban - Indah Yusari
The Dusty Sneakers (Catatan Perjalanan Tur Kartini)
Kepercayaan meletakkan kewajiban besar
Sulastin Sutrisno (Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya)
Tujuan pokok hidup ini ialah hidup sebagai manusia dan berperikemanusiaan. Tapi dunia yang keras ini memaksa orang tidak tahan melakukan kewajiban sebagai manusia yang berperikemanusiaan.
Nasjah Djamin (Gairah untuk Hidup dan untuk Mati)
Tantangan selalu berkembang dan berubah. Tentu kita semua memiliki kewajiban dan tugas suci untuk mempertahankan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk menghalau dan menghadapi setiap bentuk ancaman, baik dari luar maupun dari dalam yang mengancam kedaulatan dan keutuhan negara kita. Itu adalah tugas suci yang akan diemban oleh generasi manapun di negeri kita ini.
Susilo Bambang Yudhoyono
Yang namanya mau merdeka, keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia itu bukan freedom of speech, bukan hak asasi. Itu ya separatisme, harus dihentikan, hukum ditegakkan. Saya mengatakan kepada para pemimpin dunia, Indonesia memiliki hak dan kewajiban untuk menjaga kedaulatan kita, untuk menjaga keutuhan wilayah kita.
Susilo Bambang Yudhoyono
Dan kamu, kaum wanita Indonesia,-akhirnya nasibmu adalah di tangan kamu sendiri. Saya memberi peringatan kepada kaum laku-laki itu untuk memberi keyakinan kepada mereka tentang hargamu dalam perjuangan, tetapi kamu sendiri harus menjadi sadar, kamu sendiri harus terjun mutlak dalam perjuangan" Halaman 326 Naskah sarinah
Sukarno (Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia)
Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang, ikutilah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan nanti jika Republik telah selamat, ikutilah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional. Jangan ketinggalan didalam Revolusi Nasional ini dai awal sampai akhirnya, dan jangan ketinggalan pula nanti di dalam usaha menyusun masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial. Didalam masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial telah engkau nanti menjadi wanita yang bahagia, wanita yang Merdeka!" Halaman 335 naskah sarinah
Sukarno (Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia)
Juga diatas pundak wanitalah terletak kewajiban untuk tidak ketinggalan di dalam perjuangan ini, dalam mana diperjuangkan kemerdekaan mereka dan pembebasan mereka. Mereka sendirilah harus membuktikan, bahwa mereka mengerti benar-benar tempat mereka dalam perjuangan sekarang yang mengejar masa depan yang lebih baik itu" Halaman 332 Naskah sarinah
Sukarno (Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia)
Bu, perpecahan itu selalu terjadi karena hamba Allah itu cenderung sama-sama menuntut hak. Sama seperti perpecahan yang terjadi dengan Islam belakangan ini. Semua ulama masing-masing menuntut haknya. Dalil yang digunakan adalah dalil yang digunakan untuk melegitimasi hak, bukan dalil-dalil yang digunakan untuk melegitimasi kewajiban.
Ahmad Khadafi (Islam Kita Nggak ke Mana-mana Kok Disuruh Kembali)
Bagiku menikah bukan kewajiban, melainkan pilihan. Maka, aku tidak mau salah memilih pasangan. Andai setelah ini aku tidak memiliki jodoh di dunia, aku masih akan baik-baik saja. Hidupku tidak diukur dari itu.
Eki Saputra (Kepada Siapa Ilalang Bercerita)
Jika berprestasi dan berkarya itu kewajiban, mengapa harus ragu untuk melangkah? Kita tak pernah tahu seberapa jauh kita melangkah hingga kita mencobanya, bukan?
Lisa Isabella (The Elang)
Tapi apa yang wajib kita lakukan agar terjadi evolusi karakter dan hasrat? Konflik adalah jawaban singkatnya. Ya, kita punya kewajiban terhadap karakter kita untuk berkonfrontasi dengan dunia dan penolakannya dalam menganugerahkan seluruh keinginan kita seketika, sekaligus konflik dalam diri kita yang dimungkinkan oleh kapasitas kita untuk berpikir sendiri. Aku ingin X tapi apakah sebaiknya Aku ingin X? Kita benci terhadap kekangan tapi pada saat yang sama mengerti bahwa kekangan membebaskan kita, jika pun hanya dengan membantu mempertanyakan motif-motif kita sendiri. Dengan kata lain, kebahagiaan autentik adalah sesuatu yang mungkin tanpa ketidakpuasan maupun kepuasan. Alih-alih diperbudak oleh kepuasan, kita membutuhkan kebebasan untuk tidak terpuaskan.
Yanis Varoufakis (Talking to My Daughter About the Economy: or, How Capitalism Works—and How It Fails)
IKATAN DUA KELANA: HANG TUAH — HANG JEBAT Fragmen I — Dermaga: Air, Darah, Dua Takdir Di dermaga, papan lapuk menulis namanya dengan butiran garam, mengubur sumpah dan huruf-huruf usang yang dikenang para pelaut. Pandangan membeku: tali yang memeluk tiang, bekas sol sepatu, puing janji hampa di bibir kayu. Ada dua tubuh di sini, tegak di perbatasan air dan darat: satu mengikat layar ke Takdir Raja, satu menengadah ke Laut Lepas— mereka berbicara tanpa suara; kata-kata hanyalah air asin yang membakar di ujung kuku. “Apakah engkau Sahabat Sejati?” tanya yang satu, dari cengkeraman dermaga. “Apakah engkau Pengkhianat Busuk?” jawab yang lain, dari balik gelombang amarah. Mereka adalah dua nama yang terukir pada satu tulang rusuk Adam; Tuah dan Jebat, dua bayangan kosmik yang saling menunggu ditelan arus fatalitas. Fragmen II — Pasar & Laut: Jejak Rempah, Harga Nyawa Pasar bernafas di bawah langit emas perdagangan dan debu rempah— adas, kayu manis, cengkih, lada: urat nadi Malaka diikat kecil dengan tali kasar. Pedagang menulis perjanjian darah di atas daun lontar; nama Sultan tertanda dengan Cap Bintang Tujuh yang mengontrol pelayaran nasib. Di antara gerimis untung dan rugi, Suara Undang-Undang Laut merendah kejam: “Setiap layar memberi urusan upeti, tiap sumpah memiliki harga diri.” Jebat menyentuh peta—garis jalur, titik-titik pelabuhan yang seperti luka yang menganga. Tuah memandang Merchant Asing yang menawar masa depan kedaulatan negeri. Lautan modal menelan kata-kata mereka hingga retak, kembali meludahkan jejak-jejak yang jadi alasan mutlak istana bergerak. Fragmen III — Istana Retak: Norma, Nadi, Kematian Batin Di dalam istana, kain Songket berwarna darah pagi, pedang berbisik di kamar yang dindingnya bergetar oleh perintah dingin. Sumpah bukan dikalungkan, tapi dijeratkan di leher seperti tali gantungan. “Kesetiaan adalah batu nisan nurani,” ujar ruang itu, suara tanpa wajah. “Keberanian adalah pengkhianatan yang tak suci,” balas udara yang bergetar. Tuah menekan telapak pada Taming Sari— sebuah benda yang tidak hanya terbuat dari besi, tapi dari kewajiban mutlak Sang Raja. Jebat melihat wajah rakyat yang menahan napas di bawah bayang-bayang tiang hukuman istana. Dan ketika keris menuntun Tuah pada nadi sahabatnya, bukan hanya daging yang pecah di lantai marmer: yang terburai adalah perjanjian panjang antara kedaulatan tiran dan martabat manusia. Fragmen IV — Kabut Ledang & Hening Penghakiman Kabut Ledang bukan embun, ia adalah air mata sejarah yang menutup mata kota. Hanya dingin yang mengingatkan bahwa sesuatu yang besar telah mati. Di antara kabut, dua wajah menyatu di pantulan air—pasang aurut takdir yang sama, namun dua mata yang berlumur darah. Tuhan—jika ada—adalah Kilasan Sunyi di sela-sela kabut, bukan penghakim, tapi Saksi Agung yang memilih Bisu Abadi. Tuah dan Jebat berdiri, tubuh mereka saling menghantui seperti dua kapal terkutuk yang saling bertabrakan di laut malam. Tidak ada Kemenangan Layak, tidak ada Pengampunan Utuh. Hanya Arus Besar: sejarah yang memuntahkan segala yang ditelannya. Kita—penonton, penggugat, penimbang—menyaksikan bagaimana manusia sejati berdiri ketika semua sumpah Telah dinyatakan hampa. Di akhir pertempuran, Laut menelan kata “Benar” dan “Salah” dengan tenang. Yang tersisa hanyalah nama—berulang, retak, dan dingin—sebuah perintah: “Bangunlah! Engkau boleh memilih untuk tak lagi menjadi bayangan. Jadilah Cahaya yang menerangi segalanya!” Desember 2025
Titon Rahmawan