“
ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN
IV. Triptych of the Flowery Dwarf
1. Padma
Di kolam itu, bulan merintih
seperti kuda putih yang kelelahan.
Dari lumpur, Padma bangkit—
mengenakan gaun malam
yang dijahit dari nafas nenek moyang
hantu air.
Ia membuka kelopaknya
dan terdengarlah suara gitar jauh
di perbukitan:
suara yang lahir dari luka
dan kembali menjadi luka.
2. Kemuning
Kemuning menari sendirian
di halaman senyap tanah Jawa.
Kuningnya bersinar
seperti cincin emas di jari
seorang janda muda
yang tak ingin menikah lagi.
Angin membawa kabar
bahwa setiap kelopak
pernah menjadi mata seorang anak
yang mencari ibunya
di hutan paling gelap.
3. Mawar
Mawar adalah gadis penari
yang menyembunyikan pisau kecil
di balik selendang merahnya.
Ia tersenyum pada fajar
tapi senyum itu terbakar
sebelum sempat jatuh ke tanah.
Di sekitar durinya,
kurcaci menari—
menebar dingin pada udara,
menghembus nyawa pada warna.
V. Three Flowers upon the Turning Gyre
1. Padma
Di permukaan air yang tua,
Padma berdiri sebagai pengingat
bahwa dunia pernah muda.
Ia membuka dirinya
seperti wahyu kecil
dari zaman yang nyaris terlupa,
zaman ketika roh dan manusia
masih bersalaman tanpa rasa takut.
2. Kemuning
Dalam kilau keemasannya,
ada masa depan yang belum tiba.
Ia melintas seperti burung kepodang
di antara dua lingkaran takdir,
seakan mengetahui
bahwa segala kecantikan
adalah nubuat berbahaya
yang menuntut korban.
3. Mawar
Mawar tumbuh
di jantung lingkar perputaran—
tempat para dewa lama
dan para pahlawan muda
saling menatap tanpa bicara.
Merahnya adalah sumbu
yang menyalakan usia-usia dunia;
duri-durinya adalah penjaga
yang tahu bahwa cinta
selalu menuntut kelahiran kedua.
VI. Three Flowers of Memory
1. Padma
Aku melihatmu, Padma,
di kolam yang tak berani
menyebut nama kekasihnya.
Kau tegak,
seperti perempuan yang menunggu
suami yang tak kembali dari perang.
Kelopakmu diam—
diam yang berat,
diam yang hanya dimengerti
oleh air yang pernah menangisi salju.
2. Kemuning
Engkau kecil dan lembut,
tapi menyimpan dingin
yang tak mampu dipatahkan matahari.
Kuningmu mengingatkanku
pada sepucuk surat
yang tak pernah terkirim,
namun tetap dibaca
oleh seseorang yang terus menunggu
di malam-malam panjang
pengasingan.
3. Mawar
Duri-durimu mengingatkan
pada kata-kata yang tak kuucapkan.
Merahmu seperti wajah seorang ibu
yang tak lagi menjerit
karena telah kehabisan suara.
Aku menyentuhmu,
dan kau bergetar—
seperti hati perempuan
yang tahu bahwa cinta
lebih kuat dari kematian,
namun selalu kalah
oleh sejarah.
Desember 2025
”
”