Kawan Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Kawan. Here they are! All 95 of them:

β€œ
Di sekitar kita ada kawan yang selalu hadir sebagai pahlawan.
”
”
Andrea Hirata (Edensor)
β€œ
Sudah kukatakan padamu, Kawan, di negeri ini, mengharapkan bahagia datang dari pemerintah, agak sedikit riskan
”
”
Andrea Hirata
β€œ
Kawan, kadang kala, cinta dan gila samar bezanya
”
”
Andrea Hirata (Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang)
β€œ
Kalau yang memuji itu teman baik, itu biasa. Kalau yang mencela itu musuh, juga biasa. Tapi kalau yang memuji itu musuh, dan yang mencela itu kawan, itu menyebabkan saya berpikir-pikir.
”
”
A.A. Navis
β€œ
Kawan, di kampung kami kebenaran harganya hanya seribu lima ratus perak. Warnanya hitam, bergenang di dalam gelas, saban pagi.
”
”
Andrea Hirata
β€œ
Jika ada kawan yang suka menghukum , perlu tahu seni mendidik. Jika ada kawan yang suka merajuk , perlu tahu seni memujuk. Jika ada kawan ynag payah berbincang , perlu tahu seni memulakan. Jika ada kawan yang suka mengata belakang , perlu berhikmah memberi peringatan. Jika ada kawan yang suka berhujah , perlu tahu seni memikat hati.
”
”
Fatimah Syarha Mohd. Noordin (Cinta High Class)
β€œ
Kawan, menurut ketentuan agama, tak boleh diamkan jika orang tua bertanya lebih dari tiga kali.
”
”
Andrea Hirata
β€œ
...Kawan, seandainya kita bisa tahu kepada siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta seperti tak ada lagi hari esok, maka beruk bisa melamar pekerjaan menjadi ajudan bupati.
”
”
Andrea Hirata
β€œ
Sudah tentu seorang pengarang atau penulis manapun juga dan berapapun juga adalah murid dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri atau masyarakat lain. Sedikitnya ia dipengaruhi oleh guru, kawan sepaham, bahkan oleh musuhnya sendiri.
”
”
Tan Malaka (Madilog)
β€œ
Setiap strategi yang sehat dan benar harus selalu berusaha mereduksi pihak lawan seminimum mungkin dan merangkul kawan sebanyak mungkin, sambil membujuk sebanyak mungkin lawan menjadi kawan, terserah apa latar belakangnya. Gerakan yang berkebiasaan membuat musuh di mana-mana amatlah bodoh.
”
”
Y.B. Mangunwijaya (Mengenang Romo Mangun : Surat Bagimu Negeri Berjuang untuk yang Terpinggirkan, Menyapa Hingga yang di Singgasana, Y.B. Mangunwijaya, 1929-1999)
β€œ
Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, pada saat itulah ia memulai suatu perjalanan yang panjang, asing dan penuh tantangan. Dan kita harus sangat yakin bahwa kawan perjalanan kita itu adalah orang yang tepat dan bisa bekerja sama ketika meniti...
”
”
Leila S. Chudori (Malam Terakhir: Kumpulan Cerpen)
β€œ
Kata emak, Junjungan kita berpesan lebih kurangnya begini; kalau kita berkawan dengan tukang besi kita terasa panas percikan apinya, dan kalau kita berkawan dengan penjual minyak wangikita juga terlekat harum wanginya. Sebab itu mestilah hati-hati memilih kawan.
”
”
Noor Suraya
β€œ
Bagi Eropa, planet ini terlampau kompleks untuk diterangkan dengan sebuah 'logika monoteistik yang biner' -- hitam atau putih, mulia atau durjana, kawan atau lawan
”
”
Goenawan Mohamad (Catatan Pinggir 7)
β€œ
Hidup adalah sebuah tamsil agung tentang perjalanan seorang manusia menembus lorong dirinya sendiri, tanpa kawan, tanpa bekal, tanpa lentera.
”
”
Miranda Risang Ayu
β€œ
Kawan-kawan baik di sekolah maupun di bangku kuliah sebaiknya tidak lupa. Bahwa nilai yang tinggi dalam sebuah ujian hanyalah hasil transformasi daya rekam ingatan; bukan nilai dari pertumbuhan pemikiran. Nilai akhir dari proses pendidikan, sejatinya terrekapitulasi dari keberhasilannya menciptakan perubahan pada dirinya dan lingkungan. Itulah fungsi daripada pendidikan yang sesungguhnya.
”
”
Lenang Manggala, Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia
β€œ
Tanah air adalah tempat penindasan diperangi, tempat perang diubah menjadi kedamaian, kira-kira begitu. Tempat kawan manusia diangkat menjadi manusiawi, oleh siapa pun yang ikhlas berkorban. Dan patriotisme masa kini adalah solidaritas dengan yang lemah, yang hina, yang miskin, yang tertindas. (Neti)
”
”
Y.B. Mangunwijaya (Burung-Burung Rantau)
β€œ
Jujurnya saya tak ambil port pada idea untuk bercinta atau mempunyai pasangan istimewa. Bagi saya ia sesuatu yang tidak perlu. Kawan saya balas, cinta adalah suatu pengalaman seawal remaja maka ia berharga. Saya ambil masa dua hari untuk rasionalkan soal pengalaman tersebut. Saya kira jika untuk terlibat adalah berharga, maka untuk tidak terlibat juga berharga – menjadi seawal remaja juga adalah untuk mengalami ketiadaan.
”
”
Syahmi Fadzil (Insta)
β€œ
Janganlah hanya faham erti kata-kata yang tertulis dalam Al-Quran kerna dibawah yang tertulis terdapat erti yang tersembunyi di bawah erti lapis kedua ada lagi erti baru, yang menyilaukan fikiran dan pandangan Erti keempat, kecuali Nabi, tak ada yang pernah memahami kebesaran Tuhan, yang tiada tanding dalam Keghaiban hitunglah erti tersembunyi itu sampai tujuh kisah bermakna yang mengagumkan dari langit Wahai kawan, janganlah memandang jilid Al-Quran. Bagi setan, manusia hanyalah sepotong daging. Bagaikan manusialah Al-Quran itu, Bentuk lahir diluar dengan ruh diam-diam didalamnya.
”
”
Jalal ad-Din Muhammad ar-Rumi
β€œ
Jika anda mampu berkepala dingin saat sekeliling anda kehilangan akal dan menyalahkan anda, Jika anda bisa percaya diri saat orang lain meragukan anda, tetapi memperhatikan juga keraguan mereka, Jika anda bisa menunggu tanpa jemu dan tidak membalas kebohongan dengan kebohongan, atau kebencian dengan kebencian, Jika anda bisa tahan mendengar kebenaran yang anda katakan diplintir oleh orang licik untk mempengaruhi orang-orang bodoh, atau melihat jerih payah anda dihancurkan, tapi gigih bertahan membangunnya kembali dengan peralatan yang morat marit, Jika anda bisa bergaul dengan rakyat jelata tanpa menjadi kampungan, dan dengan raja-raja tanpa menjadi sombong, Jika lawan mau pun kawan tidak bisa merusakkan anda, maka anda adalah sungguh manusia sejati.
”
”
Rudyard Kipling
β€œ
Tanpa kawan, kebebasan hanyalah penjara besar dalam bentuk lain dengan tembok-tembok khayali yang menyiksa.
”
”
Martin Aleida ("Anak ini Mau Mengencingi Jakarta?": Cerpen Pilihan KOMPAS 2015)
β€œ
Eh, itulah gunanya kawan. Bisa dia jadi kawan, kadang bisa jadi bapak, kadang bisa jadi mamak. Jadi sopir pun bisa.
”
”
Ika Natassa (The Architecture of Love)
β€œ
Baik sekali menjadi kaya, baik sekali menjadi kuat, tetapi lebih baik lagi menjadi orang yang dicintai banyak kawan.
”
”
Euripides
β€œ
Kadang-kadang sekali dua kali kita masih akan berpapasan dengan kawan-kawan lama di perempatan jalan kehidupan, tetapi selanjutnya kita akan berjalan dengan kesibukan kita sendiri.
”
”
Umar Kayam (Lebaran di Karet, di Karet...: Kumpulan Cerpen Umar Kayam)
β€œ
Aku suka gelap karena kehidupan ini dimulai dari kegelapan. Aku suka air karena air bisa menenggelamkan ke tempat yang terdalam di mana kegelapan akan cepat menjadi kawan baikmu.
”
”
Ruwi Meita (Rumah Lebah)
β€œ
Pertanyaan memang ditakdirkan untuk menjadi kawan setia bagi manusia, sejalan dengan sifat kita yang tak pernah puas.
”
”
Dini Novita Sari (Get Lost)
β€œ
Aku telah memperhatikan, kalau engkau membelah dada seseorang (laki-laki) termasuk aku sendiri maka akan terbatja dalam dadanja itu bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tertjapai apabila si isteri merupakan perpaduan dari pada seorang ibu, kekasih dan seorang kawan. Aku ingin di ibui oleh teman hidupku. Kalau aku pilek, aku ingin dipidjitnja. Kalau aku lapar, aku ingin memakan makanan jang dimasaknja sendiri. Manakala badjuku kojak, aku ingin isteriku menambalnja.
”
”
Sukarno (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
β€œ
Seorang tukang tak akan bisa membikin gedung, kalau alatnya seperti semen, batu tembok dan lain-lain tidak ada. Seorang pengarang atau ahli pidato, perlu akan catatan dari buku musuh, kawan ataupun guru. Catatan yang sempurna dan jitu bisa menaklukan musuh secepat kilat dan bisa merebut permufakatan dan kepercayaan yang bersimpati sepenuh-penuhnya. Baik dalam polemik, perang-pena, baik dalam propaganda, maka catatan itu adalah barang yang tiada bisa ketinggalan, seperti semen dan batu tembok buat membikin gedung. Selainnya dari pada buat dipakai sebagai barang bahan ini, buku-buku yang berarti tentulah besar faedahnya buat pengetahuan dalam arti umumnya.
”
”
Tan Malaka (Madilog)
β€œ
betapa beruntungnya jadi bintang film terkenal! Lawan dan kawan sama-sama membutuhkan.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Larasati)
β€œ
bagaimana jika kecemburuan&persaingan menggoncang keberadaan komunitas?
”
”
Dian Nafi (threez (Mayasmara, #6))
β€œ
jangan takut kepada musuh yang menyerang kita. takutlah pada kawan-kawan yang mengampu kita
”
”
Bahruddin Bekri (Hati Emak (Diari Mat Despatch #3))
β€œ
Hidupilah hidupmu sendiri, kawan. Tidak ada yang lebih nyaman dari itu.
”
”
Roy Saputra (Lontang-Lantung)
β€œ
Orang tua patut belajar daripada kanak-kanak. Semalam cakap tak nak kawan, hari ini sama-sama masuk kolam tangkap haruan.
”
”
Sofuan Saadon
β€œ
La tahzan. Jangan pernah berputus asa. Karena rahmat dan ampunanNya sungguh luas. Selalu Ada Harapan Bagimu, Kawan.
”
”
Dian Nafi (Muslimah Kudu Happy)
β€œ
Ah, Kawan, usahlah risau dalam menajalni hidup ini, sebab hari ini merugi, lain waktu, beruntung.
”
”
Andrea Hirata (Orang-orang Biasa)
β€œ
Aku belum pernah menceritakan kisah ini. Kawan-kawanku ketika kutemui lagi, sangat gembira melihat aku masih hidup. Aku sedih, tetapi aku katakan: "Hanya lelah saja.
”
”
Antoine de Saint-ExupΓ©ry (The Little Prince)
β€œ
hidup bukanlah soal memoles kilau kulit sepatu, kawan tapi ke mana jejak-jejak sepatumu pernah berpijak
”
”
Stebby Julionatan
β€œ
kawan, kita telah sama-sama mencuba - saling menyiku, saling menerjang tapi kita tidak berupaya juga menjaringkan gol. kita tidak bersalah, bukan? (Sesudah Usai Hukum Narapidana)
”
”
Zaen Kasturi (Katarsis)
β€œ
Kenapa kami menolak? Mungkin karena hati kami adalah Acong, pernah merasakan bagaimana difitnah, diringkus, dan sekarang, dikhianati kawan sejalan
”
”
Hendri Teja (Iblis-Iblis Capres)
β€œ
Kawan-kawan semua, dimasa yang akan datang tidak boleh lagi ada kegelapan, tidak juga desingan peluru. tidak ada lagi kebodohan yang begitu keji atau pertimpahan darah. Karena tak ada lagi setan, maka tak akan ada lagi malaikat. Di masa depan tidak boleh ada lagi manusia membantai sesamanya, bumi akan menjadi terang, umat manusia akan saling mencinta. akan tiba suatu hari ketika semuanya terasa damai, harmonis, terang benderang, menggembirakan dan begitu hidup. Hari itu akan datang dan itulah sebabnya mengapa kita akan menyongsong maut.
”
”
Victor Hugo (Les MisΓ©rables)
β€œ
Ketahuilah Kawan, ini bukan semata mata tentang bagaimana dan mengapa engkau ditolak untuk pertama kali atau bahkan untuk keseratus kali. Ini tentang ketahanan diri. Tentang semangat dan juga komitmen. Lebih dari sekedar bakat, visi atau tehnik penulisan. Ini tentang bagaimana kita sebagai penulis tetap konsisten menulis, dan terus menulis walau berulang kali mengalami penolakan.
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Saat sawah sudah panen dan longsongan padi ditinggalkan begitu saja hingga menggunung, kita semua akan segera menyambutnya dengan gembira. Mencari kadal rumput di belukar sisa panen itu. Atau sekadar mengamatinya sebagai gunung ajaib yang mesti kita lindungi beberapa saat sebagai bagian dari kegembiraan. Sungguh riang tak kenal waktu. Aku, Dodo, Danil, Rudy dan engkauβ€” bersama-sama membuka cahaya kebahagiaan dari senja sore. Bukan tidak ada yang berarti di sana. Di senja itu, makna bisa kita temukan. Waktu yang dipanggil cuit burung di atas langit, menandakan petang datang. Permainan mesti usai sejenak dan disambung selepas magrib. Kawan-kawan meggamit setang sepeda masingmasing; menuntunnya keluar pematang dan pelan mengayun pedal. Langit oranye di belakang mereka memancarkan kehangatan sore.
”
”
Bagus Dwi Hananto (Lintasan Waktu)
β€œ
Tapi aku kira di situlah letak dari kontradiksinya. Perempuan mati - matian merawat tubuh dan wajah agar tampil cantik dan menawan. Biar kulit jadi putih glowing kata mereka. Dan tentu saja, itu mereka lakukan bukan sekedar untuk menyenangkan diri sendiri. Apa lagi kalau bukan untuk memuaskan mata kita laki-laki. Cantik butuh modal katanya. Jadi jangan salahkan perempuan kalau ngomong demikian. Tapi jangan juga salahkan laki laki, kalau kita coba - coba ambil kesempatan. Sebab ini cara paling gampang untuk membuat perempuan senang; bilang saja mereka cantik! Walau semua tahu, itu cuma pujian semu. Kalau kulit mereka putih, cukup bilang kalau mereka punya kulit idaman para lelaki. Kalau agak gelap kecoklatan, tinggal bilang saja betapa eksotisnya tampilan mereka hahaha... Dan gobloknya, masih banyak wanita yang termakan oleh tipuan buaya serupa itu. Seolah segala nilai dan harga diri mesti dipertaruhkan demi persepsi atau pandangan kita para lelaki atas penampilannya. Padahal ada begitu banyak arti untuk memaknai kecantikan, ada banyak tafsir untuk mengartikan keindahan. Bukankah demikian, Kawan?
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Penilaian dari lawan jauh lebih baik ketimbang penilaian dari kawan. Lawan akan menyampaikan kelemahan-kelemahanku sehingga aku mampu memperbaiki diri, ketimbang kawan yang hanya menyampaikan kebaikan-kebaikanku sehingga aku lalai untuk membenahi diri.
”
”
Evan S. Parusa
β€œ
Bukankah hidup itu pilihan, kawan? Memilih untuk dikendalikan atau mengendalikan. Dikendalikan keadaan atau mengendalikan keadaan. Dikendalikan pikiran atau mengendalikan pikiran. Dikendalikan perasaan atau mengendalikan perasaan. Dikendalikan kebebasan atau malah sebaliknya.
”
”
Nailal Fahmi (Badung Kesarung: Santri Badung Tanpa Sarung)
β€œ
Begitulah kehidupan, kawan yang suatu waktu dulu begitu rapat, begitu mesra pada waktu lain menjadi begitu jauh dan malahan tak pernah bertemu. Dalam waktu sama terbentuk pula kawan-kawan yang baru oleh pelbagai sebab - sama ada kerana profesion yang sama ataupun kerana bekerja di pejabat yang sama atau tinggal pada satu kawasan kejiranan yang sama. Sementara itu keluarga terdekat, seperti misalnya sepupu dan seumpamanya, oleh sebab tidak tinggal berdekatan menjadi jauh dan semakin jauh. Anak-anak masing-masing tidak pernah lagi kenal-mengenal antara satu sama lain - masing-masing sibuk dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Kalau berjumpa pun hanya sesekali apabila ada kenduri-kendara ataupun apabila ada sesuatu kematian dalam keluarga.
”
”
Sutung Umar RS (Dia dan Nya)
β€œ
Yang paling sulit adalah menghadapi ketidakpastian. Kami tidak merasa pasti tentang lokasi kami; kami tak merasa pasti apakah kami akan bisa bertemu dengan orangtua, kawan, dan keluarga kami, juga matahari; kami tak pasti apakah kami akan dilepas atau dibunuh; dan kami tidak tahu secara pasti apa yang sebetulnya mereka inginkan selain meneror dan membuat jiwa kami hancur.... Alex
”
”
Leila S. Chudori (Laut Bercerita)
β€œ
Pekatnya malam menyisahkan renungan dibawah bayangΒ hitam dan kelam mencoba menelan asa dan harapan aku terisak dengan sejuta angan gelap yang membawa terang bersama bintang aku berani berangan mengejar bulan tanpa kawan menyusuri deretan batu sandungan tak sadar aku berlari pincang aku butuh pegangan, aku butuh kawan aku yang malang,penuh kehampaan tuhan... izinkan aku bersandar dalam pangkuan aku kesepian...
”
”
virga anwarektino
β€œ
Ya, mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seirang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah manusia, dan orang itu pun mencintai kita. Seperti mendiang kawan kita itu misalnya–mengapa kemudian kita harus bercerai-cerai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Bukan Pasar Malam)
β€œ
Seorang diktaktor memiliki suatu partai di belakangnya yang selalu siap mengambil kekuasaan. Sukarno tidak punya. Sukarno tidak memiliki organisasi yang mendukungnya. Seorang diktaktor memerintah dari tahtanya. Soekarno tidak berada di tengah rakyat. Sukarno adalah rakyat. Tidak, kawan, aku bukan Hitler. Jika benar bahwa seorang pemimpin yang dikaruniai daya tarik dan wibawa untuk menggerakkan orang banyak itu seorang diktaktor, biarlah dikatakan aku seorang diktaktor yang berbuat kebajikan.
”
”
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
β€œ
Kawan kamu pernah bercerita ttg keinginanmu untuk pergi dari kehidupan ini. Iya, aku juga tahu bahwa kamu ingin pulang kawan, entah itu pulang kepada Tuhan. Sungguh, aku tahu kamu lelah kawan. Bahkan kamu nyaris menyerah kepada kehidupan. Tapi, kamu tahu kawan? kamu hanya terlalu lelah melawan padahal kamu hanya butuh diam. diam di dalam kesendirian, diam di dalam kesunyian, diam di dalam kepahitan, bahkan diam di dalam kelelahan. Tidak usah lagi kamu melawan. melawan kehidupan. Melawan Tuhan.
”
”
Alfisy0107
β€œ
Memenuhi permintaan seorang kawanku yang menulis surat dari Timur, aku mengunjungi si tua Simon Wheeler yang cerewet, dan menanyakan mengenai kawan dari kawanku, Leonidas W. Smiley, seperti permintaannya padaku, dan aku di sini untuk melampirkan hasilnya. Aku memiliki kecurigaan samar kalau Leonidas W. Smiley hanyalah sebuah mitos belaka dan kawanku tak pernah mengenal orang itu; dan dia beranggapan jika aku menanyakannya pada si tua Wheeler, hal itu akan mengingatkannya pada Jim Smiley yang terkenal, lantas dia akan berupaya keras dan membuatku bosan setengah mati dengan kenangannya tentang orang itu, yang menjengkelkan, berlarut-larut dan sangat menjemukan serta tak ada gunanya bagiku. Jika itu tujuannya maka dia berhasil.
”
”
Mark Twain
β€œ
Hidup adalah sebuah kebahagiaan yang perlu selalu kita perjuangkan, kita ciptakan, akhirnya kita dapatkan. Tidak akan pernah ada kesedihan apalagi penderitaan di dalam kehidupan karena kita sllu punya Tuhan Allah SWT untuk bertawakkal di akhir ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan. Kawan... Memang tidak akan ada hari yang sllu menyenangkan, ceria dan penuh dengan kebahgiaan. Tapi, tidak ada hari yang begitu menyedihkan, penuh dengan penderitaan kalau kita sudah memahami konsep kehidupan. Kawan... Jika hari ini kamu merasakan kesedihan di sebabkan oleh berbagai alasan-alasan. Seperti belum mendapat pekerjaan, masih ttp seorang pengangguran, untuk tempel ban kereta pun tidak punya uang, apalagi untuk makan. Maka, bersabarlah kawan, karena akhirnya kita akan mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan, kita impikan. Bersabarlah sebentar karena semua akan terlewatkan.
”
”
Alfisy0107
β€œ
Bila kawan-kawan menhingatkan aku untuk beristirahat atau pensiun untuk memelihara diriku, aku menjawab "Pensiun? Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menjalani sisa hidupku dalam keadaan damai dan bebas dari ketakutan akan pembunuhan. Tidak. Aku harus bekerja untuk bamgsaku sampai tarikan nafas terakhirku." Selain itu, kemana aku pergi? Aku tidak memiliki rumah sendiei. Tidak ada tanah. Tidak ada tabungan. Lebih dari sekali aku tidak mempunyai sisa uang untuk pengeluaran rumah tanggaku. Di sebuah negara, Duta Besar kami terpaksa membeli piyama untukku. Satu-satunya piyama presiden sudah sobek. Negara menyediakan tempat tinggal dengan cuma-cuma, bebas pemakaian listrik, empat buah mobil resmi dan tiga di garasi untuk tamu negara, BUKAN 15 mobil pribadi seperti diberitakan oleh sebuah majalah luar negeri, dan mereka membelikan pakaian seragamku. Tetapi akulah satu-satunya presiden di dunia yang tidak punya rumah sendiri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk membangun sebuah gedung buatku, tapi di hati berikutnya aku melarangnya, ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak mau mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka.
”
”
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
β€œ
Mama, Mama pernah berbahagia?" "Biar pun pendek dan sedikit setiap orang pernah, Ann." "Berbahagia juga Mama sekarang?" "Yang sekarang ini aku tak tahu. Yang ada hanya kekuatiran, hanya ada satu keinginan. Tak ada sangkut-paut dengan kebahagiaan yang kau tanyakan. Apa peduli diri ini berbahagia atau tidak? Kau yang kukuatirkan. Aku ingin lihat kau berbahagia." Aku menjadi begitu terharu mendengar itu. Aku peluk Mama dan aku cium dalam kegelapan itu. Ia selalu begitu baik padaku. Rasa-rasanya takkan ada orang lebih baik. "Kau sayang pada Mama, Ann?" Pertanyaan, untuk pertama kali itu diucapkan, membikin aku berkaca-kaca, Mas. Nampaknya saja ia terlalu keras. "Ya, Mama ingin melihat kau berbahagia untuk selama-lamanya. Tidak mengalami kesakitan seperti aku dulu. Tak mengalami kesunyian seperti sekarang ini: tak punya teman, tak punya kawan, apalagi sahabat. Mengapa tiba-tiba datang membawa kebahagiaan?" "Jangan tanyai aku, Ma, ceritalah." "Ann, Annelies, mungkin kau tak merasa, tapi memang aku didik kau secara keras untuk bisa bekerja, biar kelak tidak harus tergantung kepada suami, kalau ya, moga-moga tidak, kalau-kalau suamimu semacam ayahmu itu." Aku tahu Mama telah kehilangan penghargaannya terhadap Papa. Aku dapat memahami sikapnya, maka tak perlu bertanya tentangnya. Yang kuharap memang bukan omongan tentang itu. Aku ingin mengetahui adakah ia pernah merasai apa yang kurasai sekarang. "Kapan Mama merasa sangat, sangat berbahagia?" "Ada banyak tahun setelah aku ikut Tuan Mallema, ayahmu." "Lantas, Ma?" "Kau masih ingat waktu kau kukeluarkan dari sekolah. Itulah akhir kebahagiaan itu. Kau sudah besar sekarang, sudah harus tahu memang. Harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sudah beberapa minggu ini aku bermaksud menceritakan. Kesempatan tak kunjung tiba juga. Kau mengantuk?" "Mendengarkan, Ma." "Pernah Papamu bilang dulu, waktu kau masih sangat, sangat kecil, seorang ibu harus menyampaikan kepada anak perempuannya semua yang harus dia ketahui." "Pada waktu itu..." "Pada waktu itu segala dari Papamu aku hormati, aku ingat-ingat, aku jadikan pegangan. Kemudian ia berubah, jadi berlawanan dengan segala yang pernah diajarkannya. Ya, waktu itu mulai hilang kepercayaan dan hormatku padanya." "Ma, pandai dulu Papa, Ma?" "Bukan saja pandai, tapi juga baik hati. Dia yang mengajari aku segala tentang pertanian, perusahaan, pemeliharaan hewan, pekerjaan kantor. Mula-mula diajari aku bahasa Melayu, kemudian membaca dan menulis, setelah itu juga bahasa Belanda. Papamu bukan hanya mengajar, dengan sabar juga menguji semua yang telah diajarkannya. Ia haruskan aku berbahasa Belanda dengannya. Kemudian diajarinya aku berurusan dengan bank, ahli-ahli hukum, aturan dagang, semua yang sekarang mulai kuajarkan juga kepadamu." "Mengapa Papa bisa berubah begitu Ma?" "Ada, Ann, ada sebabnya. Sesuatu telah terjadi. Hanya sekali, kemudian ia kehilangan seluruh kebaikan, kepandaian, kecerdasan, keterampilannya. Rusak, Ann, binasa karena kejadian yang satu itu. Ia berubah jadi orang lain, jadi hewan yang tak kenal anak dan istri lagi." "Kasihan Papa." "Ya. Tak tahu diurus, lebih suka menggembara tak menentu.
”
”
Pramoedya Ananta Toer
β€œ
Pagi ini, di sebuah musim semi, aku dipaksa untuk menyentuh bagian asing tubuhku. Aku sama sekali tak bersedia mengulik wilayah itu. Mungkin ada beberapa bagian Indonesia yang terasa begitu unik dan eksotik. Jawa, Bali, Sumatra, Ramayana, Mahabharata, Panji Semirang, Srikandi, gamelan, kebaya renda merah kesumba, aroma kopi luwak, pedasnya rendang daging, dan gurihnya gulai kambing. Tetapi Indonesia nampaknya bukan eksotisme kultural. Sejak kecil, aku sudah dihadapkan pada peristiwa politik yang tak pernah dialami kawan-kawan satu kelas di Paris. Sebuah peristiwa yang dihapus di dalam buku sejarah Indonesia.
”
”
Leila S. Chudori (Pulang)
β€œ
Aku iri. Aku cemburu. Pertarungan di Paris saat ini sungguh jelas keinginannya. Jelas siapa yang dituntut dan siapa yang menggugat. Perseteruan ini antara mahasiswa dan buruh melawan pemerintah De Gaulle. Di Indonesia, kami akrab dengan kekisruhan dan kekacauan tetapi tak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Kita bahkan tak tahu apa sesungguhnya yang dicita-citakan oleh setiap pihak yang bertikai, kecuali kekuasaan. Betapa porak-poranda. Betapa gelap.
”
”
Leila S. Chudori (Pulang)
β€œ
Lawan, mana bisa jadi kawan? - Piring Bahagia Si dan Bi
”
”
Dian Pertiwi Josua
β€œ
Dihidup ini keberhasilan di liat dari seberapa banyak kita mencoba, jadi jangan pernah berhenti untuk mencoba kawan.
”
”
BETWIN89
β€œ
Kawan! Kau boleh buta warna, Tapi jangan pada warna hidupmu. Sebab adakalanya kelabu lebih meriah dari pelangi!
”
”
roki j
β€œ
Dalam aku senang berkawan, aku suka bersendirian. Diam dari jauh memerhatikan, siapa kawan, siapa sebenarnya lawan.
”
”
A.D. Rahman Ahmad
β€œ
....... dekat Facebook ni, kau jangan percaya sangatlah dengan sesiapa. Banyak penipu engkau tahu tak? Macam-macam perangai ada. Kaki menyamar ni, janganlah cakap. Berlambak wei! Inilah satu-satunya dunia yang mana dengan sekelip mata saja lelaki boleh jadi perempuan, perempuan pulak boleh jadi lelaki. Semua dengan 'seketik' jari aje. Hati-hati, kawan .......
”
”
A.D. Rahman Ahmad (Bila Cinta Menggila)
β€œ
Jika kau tidak bersahabat dengan cintanya maka lepaskan dan jadikan lagi dia kawan agar kau dapat merasakan hidupmu kembali
”
”
Galih Agus Pradana
β€œ
Cowok dan cewek memang memiliki cara yang berbeda. Nggak hanya ketika menghadapi kawan yang tengah patah hati, tetapi juga ketika mereka sendiri berurusan dengan cinta; sedang jatuh cinta ataupun patah hati. Meskipun cara mereka berbeda, keduanya ternyata punya kesamaan. Sama-sama bisa buta.
”
”
Raditya Dika (Ubur-ubur Lembur)
β€œ
Ketika sebuah perjuangan menghasilkan satu komitmen, ketika sebuah proses menghasilkan satu tujuan, ingat kawan! Hasil tidak akan mengkhianati sebuah proses!
”
”
Arief Subagja
β€œ
Silat Minang ini bukan untuk kalian berkelahi. Sebaliknya. Lahia silek mancari kawan. Batin silek mancari Tuhan. Secara lahirnya, silat itu untuk mencari kawan. Secara batinnya, silat itu untuk mencari Tuhan.
”
”
Ahmad Fuadi (Anak Rantau)
β€œ
Kawan jangan didewakan, lawan jangan dihinakan.
”
”
Iwan Esjepe
β€œ
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat luas, dengan posisi geografis yang amat strategis memerlukan sistem pertahanan yang tangguh. Sistem pertahanan yang didukung oleh tentara yang kuat dan profesional, sehingga memancarkan daya tangkal yang tinggi. Tentara yang ”ditakuti lawan”, ”disegani kawan” dan ”dicintai rakyat”. Tentara yang berada di garda terdepan, dalam mempertahankan setiap jengkal tanah di negeri tercinta ini.
”
”
Susilo Bambang Yudhoyono
β€œ
Kita harus setia kepada Mustafa dan Tuhannya nan baqa apa untungnya terus bertengkar siapa berhak menjadi Raja? Jika Bu Bakar, Umar, Uthman, A'isyah diragui kalian Bolehkah kami, yang lebih adna, lebih hina, dibuat kawan?
”
”
Wan Mohd Nor Wan Daud (Mutiara Taman Adabi : Sebuah Puisi Mengenai Agama, Filsafat dan Masyarakat)
β€œ
Paiso ladhum pata man Paise vartum gahu Gahu dinum gain khe Gain dino kheeru Kheeru dinum aman khe Aman dino lolo Lolo dinum kawan khe Kawan dino khambu Khambu dinum raja khe Raja dino ghoro!
”
”
Saaz Aggarwal (Sindh: Stories from a Vanished Homeland)
β€œ
Ada kebahagiaan istimewa yang hanya bisa kita dapatkan dari pasangan hidup, Nada. Dari orang yang kita cintai dan mencintai kira. Kebahagiaan itu tidak bisa digantikan oleh orang lain, baik orangtua, saudara, kawan yang paling dekat sekalipun.
”
”
Irene Dyah (Love in Marrakech)
β€œ
Ahhh kenapa cerita itu kembali terulang kawan? bukan cerita lama yang telah sekian lama aku tinggalkan tp cerita baru yang baru saja ingin aku mulai. Ahhhh aku mulai malas menceritakan cerita cinta seperti banyak orang???? Hahahaha cintaaaa? Benerkan cerita cinta kawan? ahahaha Kamu mulai lebay kawan.
”
”
Alfisy0107
β€œ
Kawan aku hanya mampu berkata-kata tapi aku tak pernah mampu berbicara karena kata-kata hanyalah kumpulan aksara yang tak mampu bersuara. Namun kata, mampu membentuk cerita, cerita ttg kehidupan kita.
”
”
Alfisy0107
β€œ
Kawan, kamu hanya terlalu lelah melawan kehidupan padahal kamu hanya butuh diam. diam di dalam kesendirian, diam di dalam kesunyian, diam di dalam kepahitan, bahkan diam di dalam kelelahan karena sudah terlalu sering kamu melawan. melawan kehidupan. Melawan Tuhan.
”
”
Alfisy0107
β€œ
Raihlah impian yang telah kamu mimpikan. Jangan mengeluh untuk hal yang tak mampu kamu lakukan. Jika kamu memang sangat menginginkan. Kamu akan menemukan jalan bukan bersembunyi di balik alasan-alasan. Maka, tegaslah dalam memutuskan. Agar tindakan akan berjalan lancar. Tidak terhalang oleh keraguan-keraguan. Bukankah begitu kawan??
”
”
Alfisy0107
β€œ
Setiap kali aku berhubungan dengan tubuh yang masai tanpa daya itu, menyentuh permukaannya yang kesat, kelaminnya yang menyisakan lembab, jemariku, diriku adalah kelunakan dua siput bugil yang tak jantan tak betina, dengan tubuh warna dodol yang berlumur lendir, ketika birahi menggeliatkan jaringan yang semula pipih pada tanah, sebelum berbelitan dalam persetubuhan yang lamban dan menjijikkan dari dua moluska dengan sungut-sungut halus. Lihatlah, kawan, betapa ganjil keintiman antara sepasang makhluk hermafrodit yang memualkan mulut. Pandanglah keindahan yang lahir dari kejijikan. Bukankah hidup adalah kutukan.
”
”
Ayu Utami (Saman)
β€œ
Kala matahari tenggelam Benarkah hari berganti malam? Ah, aku rasa matahari hanya dipaksa diam Ia tetap pada porosnya, namun cahayanya semakin legam Seolah-olah ia padam Begitulah skenario alam Percayalah padaku kawan, aku yakin betul matahari hanya dipaksa diam Tampak langit mencakarnya hingga lebam Babak belur menjadikannya hitam Alih-alih tak ingin menghantarkan pesan seluruh makhluk yang terpendam Tak ada malam Yang ada hanyalah Matahari dipaksa diam. (Anyer - 13 Januari 2022)
”
”
Karunia Fransiska
β€œ
Pada awalnya trauma datang membekap seperti air yang mengisi paru-parumu. Ia menekan dadamu hingga tidak menyisakan ruang untuk udara. Kamu bisa membayangkan kejadian itu seperti kamu terpelosok ke dalam jurang pada malam mendung di dalam hutan. Kakimu patah dan kamu mulai mendengar deru halilintar yang memekakan telinga kemudian hujan mulai turun. Dinding tebing yang sedingin bongkahan es terasa menyentuh kulitmu yang penuh luka gores. Kamu berteriak, menangis sampai kerongkonganmu sakit, sementara di atas tebing kawan-kawanmu bilang untuk bertahan dan kemudian meninggalkanmu untuk mencari bantuan yang kamu tahu tidak akan mereka dapatkan. Air mulai mengisi ceruk di bawah kaki dan perlahan-lahan naik sampai leher sebelum menenggelamkanmu sendirian. Sendirian.
”
”
Nailal Fahmi (Jalan Panjang yang Berangin)
β€œ
Mengapa mereka tidak membunuh semuanya atau melepas semuanya sekaligus? Mengapa mereka harus bermain tebak-tebakan dan mempermainkan emosi anggota keluarga dan kawan dekat?
”
”
Leila S. Chudori (Laut Bercerita)
β€œ
―dengan ini Anda dipanggil untuk mengabdikan diri sebagai seorang misionaris Gereja Yesus Kristus dari Nabi-Nabi Zaman Akhir. Diantisipasi bahwa Anda akan mengabdi untuk jangka waktu 24 bulan, dan Anda ditugaskan untuk bekerja dalam Misi...” Aku terdiam sejenak dan menatap keramaian. β€œ...Misi Kamboja–Phnom Penh.” Sorak-sorai pun menggema, Amanda sampai teriak. Tuhan, Kamboja benar-benar jauh di luar dugaanku. β€œSelamat, kawan! Kudengar tarantula goreng sangat populer.” kata John.
”
”
Deny Setiyadi (Negeri Keajaiban (Trilogi Negeri Keajaiban, #1))
β€œ
Kopi disudut meja, Berharap menjadi penenang saat sedu seda Serta kawan karib saat bahagia.
”
”
Putri Arini
β€œ
Hai kawan, Tidak ada yang sulit di Republik ini, Jangan bersedih, Tersenyumlah !
”
”
Ulilamrir Rahman
β€œ
Kamu tidak gila, kawan. Hanya saja, kamu tidak bisa membedakan antara mimpi dan realita.
”
”
Adia Puja, Konspirasi Hujan
β€œ
Tenang saja kawan, urusan shalatku kau tak perlu risau, urusi saja jadwal shalatmu yang masih kacau!
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Hai kawan bukan ujian tesis nanti yang harus di khawatirkan. Akan tetapi ujian hidup yang akan anda lalui setelah lulus wisuda kelak, "Semoga ilmu yang anda miliki dapat bermafaat bagi orang lain dan bangsa ini
”
”
Kampus-INDO, Revolusi Dekdibud
β€œ
dalam Grup kita yg mulia ini, kalo direnungkan sejenak saja, masih sangat banyak sekali hal-hal yg menarik, lucu, apa saja ada deh, selain dari memperuncing perbedaan sudut pandang pada ilmu keagamaan dan ilmu keTuhanan, jika andai saja anda, jika memang anggap saya kawan (bukan musuh) pasti akan menyikapi argumen saya dgn hati dingin kepala dingin, dan saya yakin kita akan tiba pada kesepahaman bahwa masalah keyakinan dan atau keimanan seseorang bukanlah hal yg perlu anda risaukan, semua pendidik dan orangtua pasti sudah mengajarkan agama, mungkin tidak semua kawan anda setinggi anda ilmu agamanya tapi itu bukan masalah kok, setiap orang akan menentukan jalannya sendiri, coba deh anda sejenak duduk dulu dan renungkan.
”
”
Leo Ausdauer Wirabuana
β€œ
Kawan-kawan yang punya etos kerja baik. Sungguh, bekerja mencari nafkah jauh lebih baik daripada mengemis, meskipun pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan rendah dan bergaji kecil. Kita dapat mencontoh teladan yang ditunjukan sahabat Nabi 'Abdurahman bin 'Auf yang lebih memilih untuk bekerja dalam mencukupi keperluan hidupnya.
”
”
Nailal Fahmi (40 Hadis Kemandirian dan Gotong Royong)
β€œ
Kawan-kawan yang diberikan kelapangan hati untuk suka memberi, marilah bersedekah meskipun hanya sedikit. Bahkan jika kita tidak memiliki harta untuk disumbangkan, mari kita ucapkan kata-kata yang baik sebagai bentuk amal kebaikan agar Allah melimpahkan kasih-Nya.
”
”
Nailal Fahmi (40 Hadis Kemandirian dan Gotong Royong)
β€œ
Kawan-kawan yang diikat dalam tali persaudaraan Islam. Ketahuilah sesama mukmin itu seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasakan sakit maka sakitnya akan terasa pada seluruh tubuh.
”
”
Nailal Fahmi (40 Hadis Kemandirian dan Gotong Royong)
β€œ
Ada kawan yang boleh disifatkan seperti madu beracun tangan kanannya berjabat erat tetapi tangan kirinya menikam di belakang.
”
”
ΨΉΩ„ΩŠ Ψ°ΩˆΨ§Ω„ΩΩ‚Ψ§Ψ± (Ψ­ΩƒΩ…Ψ© Ψ¨Ψ³Ω…Ω„Ω‡)
β€œ
Apabila kedapatan 'kawan jadi lawan' orang tua-tua telah berpesan berjaga-jagalah dari musuh sekali, tetapi berjaga-jaga dari kawan seribu kali, kejahatan musuh dapat ditangkis kejahatan kawan jauh dari persangkaan, banyak manusia yang berhati baik jujur telah menjadi korban kebaikannya.
”
”
ΨΉΩ„ΩŠ Ψ°ΩˆΨ§Ω„ΩΩ‚Ψ§Ψ± (Ψ­ΩƒΩ…Ψ© Ψ¨Ψ³Ω…Ω„Ω‡)
β€œ
Politik Identitas: Opera Tanpa Kepedulian Kita hidup di zaman ketika suara rakyat hanyalah gema kosong yang dipakai untuk meramaikan panggung hiburan, lalu dilupakan begitu lampu kamera padam. Politik telah berubah menjadi pasar malam, sebuah sandiwara: penuh warna, penuh janji, penuh tawa usangβ€”tapi ketika siang datang, yang tersisa hanyalah bungkus kotoran sampah berserakan. Identitas dijadikan komoditas, bukan lagi jati diri. Agama, suku, bahkan luka sejarahβ€”semua bisa diperdagangkan. Kita dipecah-belah, bukan untuk menguatkan, melainkan agar lebih mudah dikendalikan. Di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota, orang berdemonstrasi membakar ban merusak pembatas jalan, pengemudi ojol tewas digilas roda gila tanpa perasaan. Sementara itu, mata dari sebagian kita lebih sering menatap layar handphone daripada wajah sesama. Kepedulian direduksi menjadi like dan komentar basa-basi; simpati tak lebih dari emoji menangis di media sosial. Apakah ini pergeseran nilai, ataukah cermin lama yang baru saja kita sadari keberadaannya? Bangsa yang terlalu lama dijajah, dikebiri, dibungkam. Dan ketika akhirnya bisa bersuara, Ia kemudian memilih berteriak saling caciβ€”bukan merangkul, bukan mendengar. Seperti kuda liar yang lepas kendali, kita berpacu kencang tanpa arah, hanya untuk menabrak seorang nenek tua yang menggandeng bocah di persimpangan jalan. Ironi itu telanjang di depan mata: Setiap hari kita dengar obrolan di warung kopi, orang bercakap tentang negeri ini dengan gelak tawa, nyengir tapi getir: β€œNegeri Konoha,” begitu katanyaβ€” sebuah olok-olok yang lebih populer dari semboyan resmi negara. Di negeri ini, pejabat berdasi bebas menari di ruang sidang, membagi proyek seperti kue ulang tahun yang dengan rakus mereka nikmati sendiri. Inilah negeri para koruptor, negeri para selebritas bermuka dua yang menghisap darah rakyat sambil berkhutbah moralitas di televisi. Kita hidup di tengah paradoks yang nyata-nyata menjijikkanβ€”yang miskin disuruh tabah, kalangan menengah ditekan habis-habisan, sementara yang kaya tersenyum gembira di tengah pesta sambil menepuk bahu kolegaβ€” β€œBertahanlah terus di atas, Kawan. rakyat tak akan sadar, selama kita beri mereka lebih banyak drama.” Anak muda dijejali mimpi instan: menjadi kaya tanpa kerja, terkenal tanpa karya, berkuasa tanpa tanggung jawab. Flexing jadi ideologi baru; mobil mewah dan tas bermerek lebih dihargai daripada kejujuran dan keberanian. Dan kita pun bertanya dalam hati: Apakah ini konspirasi yang diciptakan agar jarak semakin lebar? Yang miskin tetap menunduk lapar, yang kelas menengah diperas hingga kehabisan napas, dan yang di atas terus berpesta pora dengan tawa penuh tegukan brandy dan separuh ilusi. Seakan kepedulian adalah bantuan sosial yang hanya bisa dipamerkan saat kampanye, bukan dipraktikkan sehari-hari. Namun, di sela semua absurditas itu, masih ada hal-hal kecil yang menolak mati: Seseorang yang diam-diam membagi nasi bungkus kepada para tetangga, seorang guru desa yang terus mengajar meski gajinya telat berbulan-bulan, seorang anak muda yang memilih menanam pohon daripada menanam kebencian. Barangkali inilah yang tersisa dari kepedulian itu: kecil, lirih nyaris tak terdengar, tapi tetap menolak untuk padam. Dan mungkin, harapan kita sebagai bangsa terletak pada bara kecil yang terus menyalaβ€”bukan pada gedung megah parlemen, bukan pada wajah keren yang terpampang di baliho, melainkan pada kesediaan hati yang masih mau peduli, meski dunia terus berusaha mengajarkan kita untuk makin acuh tak acuh. Hati yang terusik saat dipaksa kembali pada pertanyaan purba: Apakah kepedulian bisa hidup di tengah hutan kepentingan? Atau hanya tinggal sebagai dongeng usang, yang kelak kita bacakan kepada anak cucu tentang negeri yang konon pernah punya hati, sebelum kemudian, ia digadaikan kepada para penjual janji? Surabaya, September 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Janganlah mencela orang bersuara besar hanya karena telingamu lemah. Hidup ini keras, Kawan, kuatkanlah telingamu sedikit.
”
”
Akaigita (Enigma Pasha)
β€œ
Saya membuka topi kepada musuh yang dinamis, dan menganggap tempe kepada kawan yang tidak dinamis.
”
”
Sukarno (Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam)
β€œ
Di Ujung Kanvas, Para Malaikat Jatuh seperti Cermin Retak Pada hari ketika langit meniru sapuan kuas Dali, aku melihat tiga angsa menari di telaga yang tidak pernah ada. Tapi bayangan mereka menjelma jadi sekawanan gajahβ€” yang memikul menara-menara mimpi yang kaki-kakinya memanjang seperti doa yang tak sampai. Di sana, waktu tidak berjalan. Ia tergantung seperti jam yang mencair, mengalir dari dinding kesadaranku menuju lubang kelam tempat malaikat dan iblis berdesakan mempertengkarkan siapa yang lebih dahulu menciptakan cahaya. Serafim mencabut bulunya sendiri dan bulu itu berubah menjadi ular yang menyebut dirinya dengan seribu nama: Ashmedai, Azazel, Ashtarothβ€” nama-nama yang dahulu kupelajari dengan rasa takut, namun kini bayangan itu datang kepadaku seperti bisikan seorang kawan lama yang ingin dipanggil pulang. Aku bertanya padanya: β€œApakah kita sedang bermimpi, atau kita hanyalah mimpi yang sedang diingatkan kembali kepada dirinya sendiri?” Bayanganku menjawab dengan suara yang bukan suaraku: β€œDi sinilah eros dan tanathos menari. Di sinilah kelahiran selalu meminjam wajah kematian.” Dalam jeda itu, seekor harimau melompat keluar dari rahim buah delima yang meletus seperti planet kecil penuh kutukan. Dari balik taringnya, aku melihat wajahku sendiriβ€” wajah yang telah lama ditinggalkan oleh logika. Dan ketika seekor badak berkaki laba-laba melintas di atas kepalaku, aku menyadari bahwa tuhan mungkin sedang tertidur, dan iblis sedang melukis-nya kembali dengan warna-warna yang terlalu jujur untuk kita mengerti. Malaikat-malaikat yang jatuh itu menabrak permukaan telaga, menjadi riak yang memanggil masa laluku keluar dari persembunyian. Aku mencoba menyentuhnya, namun jari-jari tangan ini berlubang seperti relik yang kehilangan alasan untuk diselamatkan. β€œApa yang kau cari?” tanya seekor gajah yang muncul di tengah mimpi dengan mata penuh kesedihan purba. Aku tidak menjawab. Sebab seluruh jawabanku terbakar dalam pusat matahari yang ternyata bukan matahari, melainkan luka yang sedang berevolusi. Dan ketika akhirnya cahaya itu meledak, aku melihat diriku sendiri β€”telanjang, kehilangan namaβ€” dilahirkan dari pertempuran yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi kilasan mimpi. Aku hanyalah kesadaran yang menetas dari absurditas yang membunuh egoku berulang kali agar aku bisa melihat dengan mata yang tidak lagi meminta untuk dimengerti. November 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Kosmos dalam Cangkang Retak (Telur Ontologis) I. Titik Nol dan Ilusi Gerak Di sudut jalan, di antara debu waktu yang beku, Pesulap nihil dan sorot mata culas menatap ke arah penonton. "Mari kita hilangkan bulatan mula-mula, jejak sebelum aksara?" Maka ruang pun terlipat, massa dicuri udara. Bukan lenyap, hanya kembali ke nol yang kelam, Di mana bentuk adalah sandiwara, hampa yang disulam. Tapi beberapa detik kemudian, ia muncul lagi: arketipe bentuk yang tak pernah pergi, Lengkung abadi, cangkang tipis dari sunyi. II. Transmutasi dan Anatomis Luka "Ubah ia, ukirkan takdir di kulitnya yang diam," seorang bocah berkata. Perintah yang dingin, mencari makna dalam fatamorgana kejam. Maka telur itu pecah, bukan menjadi janin yang utuh, Tapi serpihan semesta, metaforis yang membunuh. Ia jadi mata sapi, tatapan yang melihat ketiadaan, Jadi sayap ayam, hasrat terbang tanpa pesawat. Namun paling akhir, ia menjelma luka yang kental, Luka kosmologis, getah dari pecahan asal. Ada berapa kemungkinan, Kawan? Sebanyak yang kau pikirkan dalam kekosongan. III. Reproduksi, Cinta, dan Geometri Hampa Ia beranak pinak, bukan lagi karena naluri hewani, Tapi karena logika yang memaksa, rekursi yang mengkhianati. Cinta pun dicetak darinya, lapisan bening yang mengeras, Ciuman basah, cetakan raga yang lekas terlepas. Satu jadi dua, dua jadi tanpa batas, deret yang dingin, Geometri hidup yang lahir dari ketiadaan izin. Telur yang menggandakan diri, mengklaim ruang yang sempit, Menjadi jawaban palsu bagi lelapnya waktu. IV. Ontologi Cangkang dan Prioritas Pedih Di antara kerumunan, suara perempuan epistemik menjerit, "Dari mana datangnya inti ini? Di mana ayam, si subjek yang sakit?" Kosmogoni terbalik, asal-usul yang buram dan samar, Bukan ayam, tapi cangkang retak yang lebih dulu terhampar. Telur yang memproduksi lukanya sendiri. Bukan dari nenek moyang, tapi dari retakan sejati. Aku telur yang menghasilkan luka? Atau lukalah yang mendahului, batu nisan primal yang menjadikanku ada? Aku adalah Telur. Aku adalah Luka. Aku adalah jawab yang tak pernah minta ditanya. Desember 2025 ~~~ Telur di Ambang Pecah: (Arkais dan Lelah) I. Cangkang Mula dan Titik Nol Di mana titik mula itu tersimpan, di permukaan atau kedalaman? Telur, lengkung abadi yang menimbang sunyi semesta. Bukan hanya janin, ia adalah nol yang kelam, Geometri pertama yang tak tunduk pada hukum alam. Hanya karbon dioksida yang mampu mengukur hijau-merah aurora Cangkang gemetar menggigil, rapuh. Pesulap nihil merobek ruang, memintal aksara, Membuatnya lenyap, kembali ke asal tanpa suara. Ia tak pergi, hanya bersembunyi di balik makna: Telur arketipe, lahir dari ketiadaan yang sempurna. II. Anatomi Luka dan Jantung yang Terperam Namun retak itu datang, bukan dari waktu, tapi dari perintah. Ia menjelma, bukan menjadi awal, tapi menjadi musibah. Hanya ingatan putih yang menolak kenangan abu-abu Menatap tajam mata setan di sayapnya yang patah. Telur diubah: Ia jadi sayap ayam yang mengutuk penerbangan tanpa raga. ia jadi mata sapi yang menatap hampa, Paling akhir: ia adalah luka kosmologis yang tak mau pergi, Gelegak lendir trauma, di mana substansi adalah perih. Hanya jantung yang telah hilang detaknya dapat memahami pikiran absurd yang menjelma gairah itu. Aku adalah luka yang diproduksi oleh diriku, Sebanyak yang kau pikirkan di ruang tunggu.
”
”
Titon Rahmawan