“
LIMA MONOLOG KOSMIK:
Tubuh yang Dijadikan Alibi
1. Dina — Kota yang Tidak Pernah Mengingat Namaku
Aku bukan perawan yang diperkosa, bukan gadis muda yang diculik, bukan putri Yakub.
Aku adalah retakan di antara dua kota, celah tempat laki-laki menyembunyikan dendam.
Ketika tubuhku disentuh, bumi tidak bergetar;
yang bergetar hanyalah pisau yang disembunyikan saudara-saudaraku Simeon dan Lewi di balik jubahnya.
Mereka bilang mereka mencintaiku,
tetapi cinta mereka menumpahkan darah,
dan darah itu —kau tahu— bukan milikku.
Namaku berubah menjadi dalih,
seperti genderang yang dibunyikan sebelum perang.
Tubuhku menjadi alasan yang tidak kulakukan,
dan kota itu—
terbakar oleh kehendak laki-laki yang memakai aibku sebagai sangkakala pembenaran.
Aku masih berjalan di antara reruntuhan moral yang mereka tinggalkan,
mengumpulkan sisa-sisa tulang,
bertanya kepada angin gurun:
“Di mana yang disebut kehormatan saat aku yang terluka,
tapi mereka yang membunuh?”
Tidak ada jawaban.
Yang ada hanya bayanganku sendiri,
terbelah dua:
yang satu korban,
yang lain—
alasan bagi dunia untuk saling menghancurkan.
3. Susanna — Taman yang Tidak Pernah Memilih untuk Menjadi Saksi
Aku berjalan ke taman untuk mencari air,
bukan untuk menjadi tontonan.
Tetapi laki-laki yang haus kekuasaan selalu melihat tubuh perempuan
sebagai pintu yang bisa didobrak.
Mereka menuduhku—
oh, mereka selalu cepat dalam hal itu—
seolah kebohongan yang diucapkan dua orang tua
lebih berat timbangannya daripada kebenaran
yang keluar dari mulut seorang perempuan yang gemetar.
Tubuhku menjadi jerat hukum,
tempat para hakim menguji integritasnya sendiri.
Aku berdiri sendirian di tengah lingkaran para pengamat,
dan dunia bertanya:
“Benarkah kau tidak bersalah?”
Tetapi tidak ada yang benar-benar ingin mendengar jawabanku.
Mereka hanya ingin alibi;
mereka hanya ingin menyalakan api moral
untuk menghangatkan ego mereka yang dingin.
Namun lihatlah:
kebohongan akhirnya mematahkan dirinya sendiri.
Kebenaran mungkin lambat,
tapi ia selalu membawa mata yang terlatih untuk melihat celah.
Dan aku—
aku tetap menjadi taman,
bukan tanah tempat kehormatan mereka ditanam.
Aku hanya ingin mengatakan:
“Kesucian tidak pernah menjadi milik orang yang menuduh,
melainkan milik orang yang bertahan
meskipun seluruh dunia menatap dengan mata yang menghakimi.
”
”