Doa Yang Baik Baik Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Doa Yang Baik Baik. Here they are! All 16 of them:

Saya dalam gelap. Dan salah siapa kalau saya tak nampak? Kenapa orang keliling hanya pandai bising. Tapi tak pandai menghulur tangan? Jangan pernah 'judge' masa lampau orang lain. Mana mungkin kita tahu jika masa lampaunya tu adalah masa depan kita. Jangan pernah merasa kita mulia jika baju kita putih dan tak pernah bercemar noda, kalau tak pernah kita hulur tangan kepada mereka yang bergelumang lumpur dan kotor. Jangan rasa bagus dengan hanya menggeleng kepala dan bising pada yang salah dan pincang, jika tak pernah kita sinsing lengan untuk membetulkan dan membantu. Jangan menyalahkan mereka yang larut hanyut, jika tak pernah nak cuba tarik mereka yang lemas dan tenggelam. Apatah lagi nak mengajarkan mereka berenang atau meminjamkan pelampung. Moga hari ini, esok dan akan datang adalah yang baik-baik 'je' sampai ke penghujung nyawa. Moga walau hari ini adalah hitam, kelabu dan kelam tapi esok masih punya harapan untuk jadi pelangi seribu warna. Minta dengan doa.
Hlovate (Anthem)
Doa yang lemah, bisa diperbaiki dengan doa yang lebih kuat. Doa yang buruk, bisa diganti dengan doa yang baik. Lalu engkau bertanya, mengapakah doa-doa terbaik yang kau naikkan belum juga terjawab? Pertama, ikhlaskanlah pengertianmu agar lebih mudah bagimu untuk bersyukur. Kedua, ketahuilah bahwa doa yang sudah sangat baik, hanya bisa diperbaiki dengan meningkatkan akhlaq dari pribadi yang berdoa.
Mario Teguh
Tentang doa, tentang harapan, kepada semua perihal yang ingin di sampaikan, seorang hamba, tanpa menjumlah dosa, ia terlelap, namun tak bangun memburu ampunan. #andradobing
andra dobing
Demi matahari senja yang menggantung manis manja di cakrawala, demi kebaikan dan ketulusan yang telaten diberikan semestas, dan demi ragam nama-nama Tuhan baik yang akrab maupun asing di telinga kita. Berkatilah kami semua, sebagaimana Kau memberkati Musa dengan tongkat kayu yang mampu membelah samudra. Kuatkanlah kami semua, sebagaimana Kau menguatkan Ayyub dengan kekudis yang bertahun dideritanya. Dan selamatkanlah kami semua, sebagaimana Kau menyelamatkan Nuh dengan bahtera yang dibangunnya.
Lenang Manggala (Perempuan Dalam Hujan)
Di dalam hidup, ada saat-saat ketika doa kita terjawab begitu cepat, seperti yang Kamila alami sekarang. Ada pula saat-saat ketika hal-hal tidak berlangsung sebagaimana yang kita mohonkan kepada Tuhan, tidak terjadi sebagaimana yang kita inginkan. Tapi, kini Kamila tahu, sering kali itu terjadi karena itu lebih baik—God simply aims at saving your ass.
Morra Quatro
doa seorang muslim kepada saudara muslimnya tanpa diketahui oleh saudara muslim tersebut adalah mustajab, di sisi kepalanya malaikat yang diutus Allah setiap kali dia mendoakan saudara muslimya dengan doa yang baik, dan berkatalah malaikat itu: amin.. engkau juga beroleh manfaat yang sama
Rasulullah
Saya percaya, ada hal-hal baik dari setiap untaian doa, namun tetap saja ada batasan-batasan yang saya jadikan patokan. Berdoa dalam bahasa yang tidak saya pahami termasuk hal yang tidak dapat saya lakukan.
Haryadi Yansyah (Yatra & Madhyaantar)
Doa atau wirid adalah sebuah pengakuan di awal bahwa Tuhan Mahakuasa; berkuasa mewujudkan keinginan Anda dan berkuasa pula tak mewujudkan keinginan Anda—orang bijak mengatakan, Tuhan memberi apa yang baik untuk Anda, bukan apa yang baik menurut Anda.
Juman Rofarif (Mimpi Bertemu Nabi: Menyimak Kisah dan Memetik Hikmah dari Rasulullah, Para Sahabat, dan Orang-Orang Saleh)
Cinta Ayah & Cinta Ibu Cinta ayah tak pernah selembut cinta ibu. Cinta ibu sering digambarkan seperti matahari: terang, hangat, selalu tampak berseri. Ia memberi tanpa henti, mengasuh, mendidik, memeluk dengan sabar, hingga anak-anak tahu—kasih itu punya wajah perempuan. Tapi cinta ayah? Ia seperti akar pohon: diam dan tersembunyi di dalam tanah, tidak terlihat, sering dilupakan, namun tanpanya batang takkan pernah berdiri, daun takkan pernah hijau, buah takkan pernah ranum. Ayah rela jadi bayangan, agar ibumu bisa menjadi cahaya. Ia rela jadi garam, tak terlihat di meja makan, tapi tanpa dirinya masakan akan berasa hambar. Seringkali, anak-anak hanya tahu cerita ibu— tentang sakit melahirkan, tentang malam-malam panjang penuh tangisan. Mereka lupa ada ayah yang menahan kantuk di luar rumah, berpeluh sepanjang hari, agar air susu bisa terus mengalir di rumah kecil itu. Ada ibu yang, karena luka hatinya, menyebut ayah tak berguna di telinga anak-anaknya. Dan kata-kata itu tertanam seperti duri, membuat anak memandang ayahnya dengan mata curiga. Padahal, ayah itulah yang senantiasa paling siaga setiap kali keluarga diancam bahaya. Cinta ayah tidak selalu manis, ia sering kaku, dingin, bahkan terasa jauh. Ia mungkin pernah memukulmu bila kau khilaf, tapi melarangmu untuk menangis. Bukan karena ia tak peduli, tapi karena ia memikul beban yang tak pernah ia bagi. Ia lebih banyak diam, karena di balik diamnya ada seribu doa yang tak terdengar telinga. Ibu mungkin pernah berkata, “Jangan cari suami seperti ayahmu.” Tapi ayah, meski sering diremehkan, masih bisa berkata dengan rendah hati: “Berbaktilah pada ibumu. Karena surga ada di telapak kakinya.” Betapa ironisnya: ayah yang disalahkan, tetap mengajarkan anaknya untuk tetap mencintai ibunya. Dan dari situ kita tahu, cinta ayah bukan sekadar tentang dirinya, melainkan tentang keluarga—baginya, keluarga adalah segalanya. Mungkin kau tidak akan pernah melihatnya menangis di hadapanmu, tapi lututnya bisa gemetar saat tak mampu lagi bekerja. Ia mungkin tak pandai berkata manis, tapi ia adalah tameng pertama ketika badai menerjang. Ia mungkin jarang di rumah, tapi tiap rupiah yang ia bawa pulang adalah cara bagaimana ia berkata: “Aku ingin kau bahagia, dan hidupmu jauh lebih baik dariku.” Ayah adalah hujan yang datang malam-malam, mengisi sumur tanpa disadari. Ayah adalah batu pijakan di sungai deras, yang kau injak untuk menyeberang, meski batu itu sendiri tenggelam di dalam derasnya arus. Maka bila kau mencintai ibumu, jangan lupa untuk menghormati ayahmu. Karena di balik masakan lezat ibumu, ada tetes keringat ayahmu. Di balik rumah yang melindungimu dari panas dan hujan, ada tulang punggung ayahmu yang menahan beban. Ayah bukanlah dewa, ia bisa rapuh, bisa sakit, bisa salah, bisa jatuh. Namun justru karena itu, cinta ayah adalah cinta yang paling manusiawi: tak sempurna, tapi tetap setia. Tak tampak, tapi sungguh nyata.
Titon Rahmawan
Mereka mengetik doa panjang dengan kata-kata indah, berharap mendapat simpati dari orang-orang yang bahkan tidak peduli. Mereka mengunggah permohonan kepada Tuhan, tapi siapa sebenarnya yang mereka tuju? Tuhan, atau algoritma? Mereka ingin malaikat mencatat doa mereka, tapi siapa yang mereka harapkan membaca? Langit, atau followers mereka? Dengar baik-baik: malaikat tidak akan repot screenshot doamu. Tuhan tidak butuh tagar agar mendengar permintaanmu. Jika kau benar-benar ingin berdoa, lakukan dalam hening, dalam keikhlasan, bukan sebagai tontonan. Karena jika doamu hanya untuk dilihat manusia, maka selamat—kau sudah mendapatkan yang kau cari: perhatian mereka. Tapi jangan berharap ada balasan dari langit untuk sesuatu yang niatnya saja sudah bengkok sejak awal.
Vergi Crush
Tulisan yang baik adalah bentuk syukur dan pengabdian — sebuah pemberian dari jiwa kepada semesta. Setiap kata adalah benih, setiap kalimat adalah doa yang disemai di ladang kesadaran manusia.
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 5. NYANYIAN GELAS YANG PECAH (Abstraksi Teatrikal) Malam ini angin membawa kabar pahit. Seperti suara kampung yang kehilangan lampu, sepotong gelas kristal pecah di tengah rumah hatiku. Ah, Athalia… namamu seperti burung kecil yang dulu hinggap di jemariku dengan percaya. Kini bulunya rontok satu per satu dan aku hanya bisa menatap, tak mampu menangkapnya kembali. Aku pernah menjaga harapanmu seperti petani memeluk benih di dada tanah yang tandus. Tetapi hujan tak datang. Dan tanganku sendiri tanpa sengaja menggugurkan musim itu. Darah menetes pelan— bukan dari luka yang kau buat, tetapi dari marah yang lama kubiarkan mengeras seperti batu sungai. Aku merasa sangkakala kesunyian menderu di ruang dada. Ada pertarungan antara percaya dan putus asa: dua kuda liar saling berkejaran meninggalkan jejak debu di tenggorokan. Namun, wahai diri… siapa yang dapat melawan nasib ketika ia mengetuk pintu seperti tamu tak diundang? Maka kuterima kepedihan dengan langkah pelan seperti aktor tua yang masih menghafal naskah yang tak selesai. Gelas itu pecah. Harapan itu retak. Tapi dari serpih kepingannya aku melihat langit kecil yang masih mau memantulkan cahaya. Dan itulah sebabnya meski dada ini bergetar seperti genderang perang, aku tetap menulis, menamai luka, melagukan sepi. Karena hanya dengan begitu aku tahu aku masih hidup. 6. RUMAH KECIL TEMPAT KENANGAN BERISTIRAHAT (Abstraksi Keintiman Psikologis) Athalia, aku menulis namamu pelan-pelan seperti seseorang yang menyalakan lilin di ruangan yang ingin ia lupakan tapi tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ada saat-saat tertentu di mana kenangan berjalan kembali seperti tamu yang tahu letak gelas dan di mana aku menyembunyikan kerapuhan. Mereka mengetuk pintu, masuk tanpa kuundang, duduk di kursi yang pernah kau pilih sambil menanyaiku hal-hal yang tak sanggup kujawab. Aku ingin berkata semua baik-baik saja. Tapi aku tahu kata-kata itu adalah jembatan rapuh yang dibangun dari cuaca yang serba tak menentu. Ketika gelas kristal itu pecah, tak ada doa yang sanggup memperbaikinya. Tetapi serpihannya masih menyimpan pantulan wajahmu— pelan, nyaris kabur, tapi tetap membuatku berhenti bernapas. Aku marah pada diriku sendiri karena tidak cukup baik menjadi seseorang yang bisa kau percayai. Marah pada waktu karena selalu melangkah lebih cepat dari yang bisa kuikuti. Marah pada nasib karena sering memotong jalan tanpa memperingatkan. Namun paling sering, aku hanya diam. Diam yang panjang. Diam yang mengendap, berat seperti hujan yang enggan jatuh ke tanah. Aku belajar memahami bahwa beberapa luka tidak ingin sembuh. Mereka hanya ingin ditemani. Dan jika ada satu hal yang tak sanggup kuhapus, itu adalah cara kau menatap dunia yang membuatku ingin menjadi versi terbaik dari seseorang yang bahkan belum kukenal dalam diriku. Athalia, ruangan itu masih terbuka. Tidak untukmu kembali, tidak pula untukku berharap. Hanya untuk membiarkan cahaya masuk sedikit lebih jauh agar aku bisa melihat jelas bahwa mencintaimu adalah cara paling lembut untuk belajar tentang luka. Desember 2025
Titon Rahmawan
Melting Pot: Litani untuk Tantangan Tiga Jurang (Intertekstual — Neo-Sufistik Digitalism) I Di tepi, dua jurang saling membelai saling melukai— satu gelap seperti malam sebelum nama Tuhan disebut, satu berderak seperti server yang lupa bahwa ia sedang sekarat. Aku berdiri di antara keduanya, akar menancap dalam retakan; akar itu mengirim bisikan ke tulang, lalu sinyal ke motherboard. Di sinilah Agustinus menunduk dan Nietzsche tersenyum: yang satu berdoa agar kesunyian kembali bermakna, yang lain mengangkat palu untuk memahat makna dari kekosongan. Sementara Camus mengetuk jarinya pelan pada kaca realitas, menanyakan: apakah kita memilih untuk terus menanti jawaban, atau memilih absurditas sebagai lampu penerang jalan? Aku menolak belas kasihan orang lain; lebih baik jadi pohon yang berdiri—rentan, bengkok, keras kepala— atau jadi menara yang menuntun doa seperti gelombang radio. Gapura? Ya, gapura juga, tempat orang lewat tanpa tahu alamat tinggalnya. Di tiap gerbang aku melihat rumah ibu: bocor, berderit, rapuh, setia menunggu. Kerinduan menetes, paket data bocor, hujan yang mengunduh rindu dalam format .wav. II Di dalam kabel di bawah tanah, ada lagu yang tak pernah diindeks: ritme akar yang seperti mantra, glitch yang bergumam seperti zikir. Di frekuensi itu, domba-domba trauma berbisik—tidak hening, hanya tergeser: jeritan yang kita bungkus dengan pekerjaan, selfie, dan janji-janji kecil. Ada Lecter di kursi bayanganku, berbisik: "Kembalilah ke ladang yang kau tinggalkan, Clarice." Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menunjukkan bahwa luka tak akan mati bila kau tak pulang hari ini. Kesedihan tidak berwujud satu format; ia multi-protokol: kadang menjadi bug, kadang menjadi palimpsest doa. Aku rooted—akarku telah di-root oleh sejarah—tapi aku masih bisa reboot rasa. Namun reboot tidak membersihkan semua log: beberapa pesan terus menunggu status "read". Dan lelaki perkasa dalam mimpiku? Ia terbang, punggungnya kuda ego—sebuah patch tanpa dokumentasi, meninggalkan jejak yang menjadi gema di sumur-sumur batin. III Maka aku merespon dengan sebuah litani yang terprogram rapi: buka—hapus—simpan—tutup—ulang—(echo)… Suara itu bukan dengung mesin belaka dan bukan pula doa; ia adalah bahasa ketiga: posthuman yang masih menaruh tempat untuk sebatang lilin. Di sini Tuhan jadi kecil—huruf kecil di tengah kode—lilin meleleh yang gagal dirender, tetapi cahayanya cukup untuk membaca peta luka. Kita menerima bahwa kebenaran kini adalah bayang-bayang: ada yang memilih kebenaran yang berulang (post-truth), ada yang memilih kebenaran yang menengok ke belakang (tradisi), ada pula yang membangun kebenaran di atas logikanya sendiri (eksistensi). Puisi ditulis tidak untuk menyelesaikan perdebatan; ia lebih memilih ruang: sebuah melting pot di mana akar, kabel, doa, dan error menjadi satu jamuan. Di akhir perjalanan, aku tidak menyuruhmu percaya— aku hanya mengundangmu pulang: ke gerbang ibu, ke terminal di bawah tanah, ke api kecil yang tak henti berkedip. Datanglah dengan domba-dombamu yang belum berhenti menjerit; biarkan mereka mengajar kita cara bernyanyi lagi— bukan lagu yang sama, tetapi lagu yang baru, gelap, dan setia. Di sana, di ambang ketiga jurang yang menantang itu, aku menyalakan sebatang lilin sendirian: sebuah cahaya yang tak menuntut pencerahan, hanya sedikit terang yang cukup agar induk akar bisa menemukan anak-anak akar yang kehilangan pijakan, dan agar bug-bug bisa belajar berdoa. November 2025
Titon Rahmawan
Sejak masa kanak-kanak ia sangat menonjol, baik karena kesalehannya, cintanya akan doa, kerajinan dan ketaatannya, maupun karena kepekaannya yang besar terhadap kemalangan manusia.
Maria Faustina Kowalska (Diario de Santa Mari)
EDITH —TIANG GARAM: (Suara Yang Tak Lagi Kita Dengar) Ironi yang orang tak pernah ketahui adalah: Aku tidak benar-benar menoleh. Aku hanya… bergerak sedikit, seperti debu yang mendengar namanya dipanggil oleh angin yang datang dari masa lalu. Dan tiba-tiba dunia menjadi begitu terang— terlalu terang— sehingga mataku nanar tak sempat memejam. Lalu sunyi turun seperti kain kafan yang tidak memilih menjadi. Ketika tubuhku mulai mengeras, aku mendengar sesuatu yang tak lagi didengar manusia: jeritan retakan mineral, erang garam yang lahir dari nyala api, bisikan kosmik yang pecah menjadi serpih-serpih putih nan perih. Mereka menyebutku perempuan tak tahu diri. Padahal aku hanya menolak memadamkan ingatan. Aku hanya tak ingin menjauh dari anak-anak waktu yang masih berlari dalam bayangan kenanganku. Dan ketika garam naik ke permukaan kulitku, aku merasa seluruh tragedi duka manusia menyelinap ke pori-pori, mengendap bibir yang dijahit sedemikian rupa hingga ia tak lagi bisa bicara. Ada yang aneh pada diam ini: ia bukan diam kematian, melainkan diam yang menyimpan semua suara yang tak sempat diucapkan perempuan. Aku menjadi tiang yang mereka anggap sebagai hukuman— tapi bukan— aku hanya arsip. Sebongkah data mineral yang mengingat dunia tak pernah lebih baik daripada manusia. Di dalam butiran garamku, tersimpan kota yang luluh lantak, tangis yang dihapus oleh api, bau daging gosong, doa yang berubah menjadi jeritan, dan wajah-wajah yang tak sempat berpamitan. Jika kau mendekat— pelan saja kau bisa mendengar suara gemeretak yang merayap seperti daging yang terbakar, dan tulang yang mengingat suara patahannya. Di sela guratan kecil itu sebuah bisikan menyentuh telingaku yang membatu: “Apa yang sesungguhnya aku lihat?” Aku tidak akan pernah bisa menjawabnya. Jawabannya sendiri sudah berubah menjadi tiang garam. Dan garam adalah bahasa yang tidak pernah berteriak, tapi menyiksa. Apakah aku membatu karena menoleh? Padahal aku berubah karena dunia yang kutinggalkan terlalu hancur untuk diabaikan. Aku bukan dongeng. Aku reruntuhan yang berdiri. Aku luka yang tidak dipadamkan waktu. Aku saksi yang tidak bisa dipaksa lupa. Dan sampai hari ini, ketika angin lewat dan menjilat sisa wajahku, aku masih memecah sedikit demi sedikit, hanya sedikit— menjadi serpih yang jatuh ke tanah, membawa trauma ke dalam dunia yang masih percaya bahwa diam adalah kepatuhan buta tidak untuk diperdebatkan. Padahal bagiku—diam adalah pemberontakan terakhir yang diberikan Tuhan kepada perempuan yang hanya ingin mengingat, bahwa dulu ia pernah hidup. Desember 2025
Titon Rahmawan
ARSIP YANG TIDAK PERNAH MEMBUTUHKAN NAMA Aku tidak lahir. Aku dicatat. Bukan dengan doa, melainkan dengan ukuran: panjang leher, kejernihan kulit, ketenangan yang bisa dijual. Di mana pun aku muncul, prosedurnya sama. Istana— atau gereja, atau senat, atau ruang pengadilan— hanya berbeda arsitektur. Koridornya selalu sama: sempit, panjang, suara bisikan yang bekerja seperti mata uang. Di sana keputusan tidak dibuat, hanya dipindahkan sampai menemukan tubuh yang cukup lunak untuk menampung kesalahan. Aku pernah dipanggil selir. Di negeri lain aku dipanggil ratu. Di tempat lain lagi aku tidak dipanggil apa pun— hanya dituding. Tuduhannya berubah-ubah: terlalu cantik, terlalu cerdas, terlalu subur, terlalu mandul, terlalu sunyi, terlalu terlihat. Mekanismenya tetap sama. Ketika lumbung kosong dan tentara mulai menghitung hari, ketika iman retak dan suksesi macet, ketika negara kehabisan bahasa, mereka memerlukan satu hal yang cepat dan murah. Tubuh. Mereka menyebutnya cinta agar keputusan tidak terdengar seperti pisau. Mereka menyebutnya iman agar darah tampak suci. Mereka menyebutnya hukum agar tidak perlu menjawab apa pun. Aku pernah menari sambil ditimbang. Aku pernah menulis dan tulisanku dijadikan jerat. Aku pernah melahirkan harapan lalu dipenggal agar garis keturunan tetap rapi. Aku pernah dikurung lama supaya kematianku tampak sah. Di satu arsip aku dikenang sebagai bunga yang menjatuhkan kerajaan. Di arsip lain sebagai leher yang menghalangi stabilitas. Di arsip lain lagi sebagai bid’ah yang perlu dibersihkan. Nama-namaku tercecer: Hypatia, Xiao Guanyin, Anne Boleyn— dan banyak yang bahkan tidak sempat ditulis. Nama bukan inti. Ia hanya label pada berkas. Perhatikan baik-baik: aku tidak pernah diadili karena apa yang kulakukan, melainkan karena waktu memerlukan akhir yang cepat. Aku mati bukan karena salah, melainkan karena fungsi. Mereka selalu berkata: “Demi ketenangan.” Dan ketenangan selalu menuntut satu leher yang tidak membalas, satu suara yang bisa dihentikan tanpa gempa administratif. Setelah itu, sejarah dibersihkan. Puisi ditulis. Doa disusun. Lukisan digantung. Kesedihan dipelihara agar pertanyaan mati. Aku tidak menjadi arwah. Aku menjadi contoh. Bukan agar dihindari, melainkan agar diulang dengan lebih rapi. Lihatlah sekelilingmu. Nama boleh berganti. Pakaian boleh berubah. Bahasanya tetap Eufemisme. Tetapi ketika kekuasaan gagal dan tidak mau mengaku, ia masih mencari hal yang sama: Tubuh yang bisa disalahkan tanpa membalas. Puisi ini tidak meminta keadilan. Ia hanya mencatat prosedur. Bahwa dari istana ke pengadilan, dari altar ke parlemen, dari abad ke abad, selalu ada satu posisi kosong yang harus diisi oleh kematian perempuan agar sistem bisa berjalan lagi. Jika kau bertanya siapa aku— aku adalah titik di mana kebohongan merasa aman berjalan kemana saja tanpa pengawasan. Dan selama dunia masih membutuhkan alasan yang indah untuk kegagalannya, aku akan terus lahir tanpa pernah benar-benar dilahirkan. Desember 2025
Titon Rahmawan