Bahagia Itu Sederhana Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Bahagia Itu Sederhana. Here they are! All 16 of them:

β€œ
Bahagia itu sederhana.. Saat aku mampu melepas setiap hal yang membuatku merasa sakit dan menderita
”
”
LoveinParisSeason2
β€œ
Bahagia itu sederhana. Sesederhana Tuhan menciptakan satu hati untuk menyayangi banyak orang
”
”
LoveinParisSeason2
β€œ
Bahwa karena kau menyukai banyak hal sederhana, itu berarti kau akan merasa bahagia karena hal-hal yang sederhana pula.
”
”
Yuli Pritania (Morning, Noon & Night)
β€œ
Bahagia itu sederhana, Gak perlu keramaian, Gak perlu kata-kata dan Gak perlu kemewahan Karna kebahagiaan itu ditangan kita bukan ditangan orang lain
”
”
LoveinParisSeason2
β€œ
Bahagia itu sederhana, bersikap Qona'ah terhadap apapun yang diberikan Allah SWT
”
”
Nuci Priatni
β€œ
Bahagia itu sederhana, mampu mengambil hikmah dari cobaan orang lain, tidak harus menunggu cobaan menimpa kita
”
”
Nuci Priatni
β€œ
Rahasia cinta itu sebenarnya sederhana," ucap papa padaku, "Berusahalah menjadi orang yang tepat bagi orang yang kamu cintai. Ketika kamu berusaha untuk menjadi orang yang tepat, maka kamu tak lagi memikirkan dirimu sendiri. Kamu curahkan energimu sepenuhnya untuk membuat orang yang kamu cintai itu merasakan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan ketika seseorang merasa bahagia, maka tanpa ia sadari ia akan terikat kepadamu. Sebab di mana ada kebahagiaan di situlah cinta bertumbuh. Di mana ada cinta di situlah kebahagiaan bersemi. Di dalam keajaiban cinta itulah kebahagiaan besemayam. Dengan memberi, maka kamu akan menerima. Semakin banyak kamu memberi, sebanyak itu pulalah kamu akan menerima. Jadi, jangan beri ia alasan untuk menyakitimu, untuk menolakmu atau bahkan meninggalkanmu. Namun sebaliknya, beri dia alasan mengapa ia harus mencintaimu setiap hari, setiap saat. Sebab cinta itu mesti diperbaharui dari waktu ke waktu. Agar dengan demikian, posisimu di dalam hatinya tidak akan pernah tergantikan
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Ah, bahagianya membaca tulisannya yang meski hanya pendek tapi menurutku sangat istimewa. Seringkali aku yang meminta dan menanyakan, jadi ketika kabar dan berita itu datang dari diri dan inisiatifnya, sangat berarti untukku. Sederhana ya bahagiaku.
”
”
Dian Nafi (Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku)
β€œ
Seperti kau tahu Nak, langit akan menjatuhkan banyak sekali kejadian dan peristiwa, sebagian untuk diingat dan sebagian lagi untuk dilupakan. Ada yang baik dan ada pula yang tak baik. Ada yang menyenangkan ada pula yang tidak menyenangkan. Bisa jadi, mereka akan menyapamu dengan tawa dan kegembiraan. Persis seperti setumpukan lego yang engkau mainkan waktu engkau masih kecil dulu. Setiap sentuhanmu akan mengubah potongan kardus dan balok balok kecil itu menjadi istana, menjadi benteng, menjadi menara, menjadi masjid dan juga gereja. Bukankah tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraan serupa itu, Nak? Tapi tak setiap sentuhan akan menghasilkan keajaiban keajaiban kecil serupa itu. Ada berapa banyak jejak yang sudah lama kau tinggalkan di halaman rumah? Berbulan bulan Bunda mesti menunggu langkah pertamamu. Ada kecemasan dan kekhawatiran saat mengusap dahimu yang berkeringat. Seperti doa yang belum didengar Tuhan meski Bunda tahu, Ia hanya ingin Bunda belajar bersabar. Mirip dengan sebuah kisah dari Rusia tentang seorang pria yang terpenjara, seorang penunggang nasib celaka yang menunggu waktu kapan ia hendak dibebaskan. Mungkin kesabaran memang harus diuji dengan cara serupa itu, meski sebenarnya ia tidak bersalah. Keajaiban tidak selalu terjadi dalam waktu satu atau dua hari, tapi mungkin butuh waktu bertahun tahun lamanya. Jadi demikianlah Nak, Ia sungguh Maha Tahu tapi Ia sengaja menunggu waktu yang tepat. Banyak orang akan berlalu lalang di hadapanmu, membiarkan diri mereka tenggelam dalam kesibukan. Lupa, bahwa ada yang lebih berharga dari kesibukan itu sendiri. Kamu mungkin akan demikian juga. Bergegas setiap pagi menjemput waktu. Berkeras memaknai kata kerja. Tak punya waktu lagi untuk kesibukan lain seperti mencuci, memasakΒ  mie instan atau sekedar minum teh. Tak terbayangkan betapa sibuknya Tuhan saat ini, Ia mesti melihat, mendengar dan melakukan apa saja. Namun bukankah Ia masih menyempatkan diri untuk mencintai dan melakukan hal hal yang sederhana. Seperti bermain dengan burung burung di taman, atau menemani rumput rumput yang tidur rebahan di pinggir sungai. Ia masih suka mendengar orang menyanyikan lagu pujian di gereja atau menyimak santri santri yang sedang mengaji di musala. Ia tetap membiarkan dirinya sibuk, tapi tak pernah melupakan kegembiraan. Ia selalu menambahkan makna baru pada kata sifat dan juga kata kerja. Rutinitas mungkin hanya sebuah kebiasaan, ia menjebak kita dengan sebuah pola yang sama. Jadilah seperti apa yang engkau mau, tapi jangan pernah lupa untuk membuat dirimu sendiri bahagia.
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Bahagia itu sederhana saat aku mampu melepas setiap hal yang membuatku merasa sakit dan menderita.... Saat aku mampu menerbangkan segala kesedihan dan mengubahnya menjadi senyum dan tawa..... Saat aku tau seseorang akan menungguku diluar sana untuk menjadi bagian dari hidupku...... Bahagia itu sederhana, seperti hari ini, saat aku mewujudkan impian adikku tercinta untuk bisa berlayar di atas sungai di paris ini, meskipun aku hanya mampu melakukannya dengan Hatiku, dan Cuma kasih sayangku padanya yang mampu melihat jiwanya tersenyum di atas Perahu itu..... Bahagia itu sederhana saat keyakinanku akan sebuah cinta yang selalu jadi alasan untuk bertahan, Bertahan untuk tersenyum, Bertahan untuk percaya dan Bertahan untuk hidup..... Kita gak akan pernah mampu sungguh-sungguh bahagia, Jika kita tidak mampu melepaskan hal yang menjadi sumber kesedihan kita... Jadi, Berbahagialah selagi kita bisa karena bahagia itu sederhana sangat sederhana.... Sesederhana tuhan menciptakan kita dengan satu hati yang mampu mencintai begitu banyaknya" - Yasmin
”
”
LoveinParisSeason2
β€œ
Penjual nasi tim sudah mulai membuka pintunya. Dari dalam, keluar buar harum yang sedap. Orang-orang yang pulang dari Missa pertama seringkali singgah ke situ. Mengherankan, tidak ada seorangpun yang teringat untuk berkhotbah terhadap laki-laki setengah tua itu beserta isteri dan anak menantunya. Siapa tahu mereka akan tertarik dan ikut masuk gereja. Namun orang-orang mungkin akan cemas juga: kalau mereka berbondong-bondong menghadiri Missa boleh jadi tidak akan ada nasi tim kalau mereka pulang. Atau: nasi tim itu terlalu enak, membuat orang lupa melakukan sesuatu yang ingin dilakukannya. Bagaimanapun, itulah mereka. Dari hari ke hari, sejak puluhan tahun, dengan setia membuka satu per satu papan-papan di muka rumah pada jam enam pagi. Sebuah meja dan sebuah tungku dikeluarkan. Di atasnya terdapat sebuah panci kaleng, setinggi setengah meter, tempat memasak nasi tim itu. Kemudian mangkuk-mangkuk dikeluarkan dan diletakkan di atas meja. Menantu perempuan memasang taplak-taplak meja seperti yang telah dilakukan sejak ia menikah. Anak laki-laki memeriksa apakah tungku itu cukup arangnya. Sedangkan laki-laki setengah tua itu mulai memotong-motongayam rebus dibantu isterinya yang turut memeriksa kalau-kalau ada bumbu-bumbu yang kurang. Setiap pagi, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, itulah kerja mereka. Anak laki-laki setelah tamat sekolah, tidak mempunyai tujuan lain kecuali belajar mewarisi keahlian masak ayahnya untuk kemudian menggantikannya setelah dia mati. Orang-orang yang sederhana, yang tidak perlu jauh-jauh dalam mencari bahagia. Mereka sudah lama menemukannya: dalam hati mereka sendiri. Monik melirik ke arah warung itu, Dilihatnya laki-laki setengah tua itu. Dilihatnya isterinya. Mereka betul. Mereka tidak perlu ke gereja. Tuhan sudah ada dalam hati mereka.
”
”
Marga T.
β€œ
Masih adakah lagu yang ingin kau nyanyikan untukku, seperti desah suara angin yang sejuk dan membuatku terlena. Jemari tangan embun yang basah menari nari di atas rambutmu. Dan celoteh riangnya bergema di sela sela rerumputan jauh hingga ke tengah perkebunan tebu. Sudah lama sekali rasanya kuingat kembali perasaan serupa itu. Seperti melupakan himpitan kemarau berdebu yang terlanjur menenggelamkan kita pada pecah tanah rengkah. Melumatkan perasaan perasaan yang dulu pernah membuat kita berdua mengecap rasa bahagia dalam sebongkah batok kelapa. Ingin mengingat kembali manis perjalanan, bahwa kita tidak pernah sendirian. Bagiku, suaramu masih seperti dulu. Serupa ricik air dingin yang mengalir dari belik di perbukitan. Kicauan burung yang menghampiriku seperti desau angin yang berhembus dari hutan menerabas pokok pohon sengon dan dedaunan jati. Menyentuh seluruh pori pori tubuhku dengan kenangan dan kerinduan menyibak selimut mimpi yang merebak saat subuh dini hari. Seperti hangat mentari yang turun ke bilik pemandian. Bening air sendang memeluk sepenuh tubuhku dengan cinta yang selamanya mengalir. Membawa kesenangan kecil, kegembiraan sederhana. Perasaan yang aku tahu, tak akan pernah pergi meninggalkan diriku.
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Bahagia bagiku adalah sesuatu yang istimewa, yang tak bisa kunikmati setiap hari. Seperti menghadiri resepsi acara pernikahan di desa; Bahagia saat menikmati lagu dangdut yang diputar lewat pengeras suara sambil menunggu hidangan 'piring terbang' disajikan. Bahagia bisa menerka-nerka, kira-kira makanan apa yang bakalan kami santap bersama para tamu undangan lainnya. Apakah sajian pembuka berupa sup penganten yang selalu dirindukan dalam momen perhelatan serupa itu? Dilanjut makanan kecil seperti jadah, wajik, lemper dan kue bolu. Yang kemudian disusul hidangan utama berupa sego pupuk dengan kerupuk, tempe orek, acar, sambal goreng kentang, ditambah sepotong daging terik dan pindang telur ayam separuh. Lalu disusul sajian penyegar berupa es puter rasa kelapa muda yang jadi favorit anak anak hingga tamu dewasa. Dan baru kemudian ditutup dengan sajian terakhir bubur sumsum yang diberi saus gula jawa. Itulah kebahagiaan sempurna yang sesungguhnya. Yang mengiringi setiap resepsi pernikahan sederhana namun berkesan.
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Soliloqui Sudah ribuan kali aku bertanya pada diriku sendiri; apakah aku sungguh merindukanmu sebagaimana engkau adanya dulu? Ataukah ini hanya sekedar perasaan yang ingin kembali kunikmati seperti ketika kita masih bersama? Apakah sebegitu mudahnya buat kita untuk saling melupakan segala perasaan yang pada mulanya sederhana? Setelah semua kisah kita tamatkan dan seluruh perjalanan cerita kita tuntaskan. Tak ada lagikah catatan yang menyisakan tempat untuk kita terus bertahan? Apakah kita masih mampu belajar untuk peduli? Berusaha keras untuk saling mengerti, berikhtiar untuk saling memahami. Perasaan-perasaan yang dulu sempat kita pertahankan mati-matian, namun pupus di tengah jalan. Haruskah kita tutup buku dan membiarkan semua kenangan itu berlalu? Segampang apapun aku berusaha menyatakannya. Apakah memang tak ada lagi yang patut diingat dari semua perjalanan masa lalu? Asa yang mendekatkan diriku padamu dan mimpi bahagia untuk senantiasa berbagi. Susah senang dijalani bersama, tangis tawa diarungi berdua. Lalu kemana perginya semua harapan itu? Apakah aku harus berpura-pura tak lagi mengenal dirimu? Sekalipun sungguh aku menangis di dalam hati, setiap kali berpapasan denganmu dalam lintasan waktu yang membawaku kembali ke jalan di mana pertama kali kita dipertemukan. Hatiku yang lara hanya bisa bertanya; Apa susahnya untuk menyapaku sebagai teman atau sahabat? Sekalipun jujur bukan itu yang aku inginkan. Apakah aku harus berpura-pura tidak mengindahkanmu, sementara jauh di dalam sana batinku meronta-ronta? Ataukah sebaliknya, kita akan membuang segala kebohongan dan pada akhirnya berdamai dengan diri sendiri. Berani mengungkap seluruh kebenaran walau kita tahu itu bakal menyakitkan. Tapi entahlah, seperti melempar sebutir kerikil ke dalam senyap sebuah telaga. Aku hanya bisa menduga-duga, seberapa dalam batu kerikil itu bakal tenggelam? Setelah sekian waktu lamanya kita tak lagi bertegur sapa, apakah engkau pernah merasa diam-diam merindukan diriku, sebagaimana aku diam-diam merindukanmu?
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Tapi aku bahagia waktu kalian, anak-anak, semakin dewasa. Bahkan waktu aku sibuk bukan main sehingga tidak sempat membetulkan ikatan handuk di kepalaku, kalau melihat kalian duduk di seputar meja, sambil makan dan membunyikan sendok dengan berisik di mangkuk-mangkuk, rasanya tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini. Kalian semua begitu gampang. Kalian makan dengan lahap walau aku hanya membuat sayur labu dan kacang yang sederhana, dan wajah kalian berseri-seri kalau aku mengukus ikan sesekali.... Kalian semua makan banyak sekali waktu sedang tumbuh. Kadang-kadang aku khawatir. Kalau aku meninggalkan panci berisi kentang rebus untuk camilan kalian sepulang sekolah, pancinya akan kosong waktu aku pulang. Ada kalanya aku bisa melihat beras di pedaringan mulai berkurang setiap hari, dan ada kalanya pedaringan itu kosong sama sekali. Kalau aku turun ke gudang bawah tanah untuk mengambil beras buat makan malam, lalu cedokanku menggerus dasar pedaringan, aku pun terkesiap; Anak-anakku mau diberi makan apa besok pagi? Jadi, pada masa-masa itu masalahnya bukan aku suka atau tidak suka berada di dapur. Kalau aku menanak nasi sepanci besar dan membuat sup di panci yang lebih kecil, aku tidak memikirkan betapa capeknya aku. Aku hanya merasa senang karena semua makanan itu untuk mengenyangkan anak-anakku. Yah, barangkali kau tidak bisa membayangkannya, tapi pada masa itu kita selalu cemas kalau-kalau kita kehabisan makanan. Kita semua seperti itu. Yang paling penting adalah makan dan bertahan hidup.
”
”
Shin Kyung-Sook (Please Look After Mom)
β€œ
Bahagia itu sederhana, mampu mencintai apa yang kita kerjakan, bukan mengerjakan apa yang kita cintai
”
”
Nuci Priatni