Aku Diam Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Aku Diam. Here they are! All 100 of them:

Ada dunia di sekelilingmu. Ada aku di sampingmu. Namun, kamu mendamba rasa sendiri itu.
Dee Lestari (Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade)
Perempuan, Kau pasti tahu sakitnya cinta yg tak terkatakan.Cinta yg hanya mampu didekap dlm bungkam, Kata orang bahkan diam berbicara. Tapi, menurutku hal itu tdk berlaku dlm cinta. Sebab cinta harus diekspresikan dan pantang dibawa diam. Sebab cinta harusnya dinyatakan, lalu dibuktikan dgn sikap.Bgtu seharusnya cinta.Tapi, aku memang tidak punya pilihan. Maafkan!
Asma Nadia (Emak Ingin Naik Haji)
...Aku ingin kau tahu, diam-diam, aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam beribu-ribu rintik hujan: aku ingin hari depanku selalu bersamamu...
Yoana Dianika (Hujan Punya Cerita tentang Kita)
Ibu, usiaku dua puluh dua, selama ini tidak ada yang mengajariku tentang perasaan-perasaan, tentang salah paham, tentang kecemasan, tentang bercakap dengan seorang yang diam-diam kau kagumi. Tapi soer ini, meski dengan menyisakan banyak pertanyaan, aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau benar-benar merasa ada sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan. Sayangnya, sore itu juga menjadi sore perpisahanku, persis ketika perasaan itu mulai muncul kecambahnya.
Tere Liye (Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah)
Katakan saja Kau cinta aku dalam diam Bisa saja aku cinta kau dalam dalam.
Mosyuki Borhan (Rahsia 2 Pria)
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan di sana bersemayam kemerdekaan apabila engkau memaksa diam aku siapkan untukmu: pemberontakan!
Wiji Thukul
dan usai tangis ini, aku akan berjanji. Untuk diam, duduk ditempatku. Menanti seseorang yang biasa saja
Dee Lestari (Rectoverso)
hari ini saja. biarkan rindu bercerita kepadaku tentang suaramu yang waktu itu berbicara padaku. tentang aku yang selalu malu jika berhadapan denganmu. diam, tidak bisa berbicara lebih banyak lagi.
bunga alfi
Aku ingin menjadi awan putih di bawah sinar matahari. Yang meski tak kau minta, diam-diam melindungimu dari terik matahari.
Rohmatikal Maskur
Aku menunggu. Kamu menunggu. Meski terkadang menunggu tak seinci pun menyeret kita untuk bertemu di titik rindu. Tapi, ah, adakah yang lebih indah dan syahdu dari dua jiwa yang saling menunggu? Yang tak saling menyapa, tapi diam-diam mengucap nama dalam doa?
Azhar Nurun Ala (Ja(t)uh)
Tuhanku Yang Maha Penyayang, Malam ini entah mengapa hatiku berhenti bercakap dan diam menatap buram jalur lamunan pikiranku yang tak tahu apa yang kuinginkan. Tapi aku ini kekasih kecil-Mu, dan Engkau Tuhan Yang Maha Sejahtera, yang sesungguhnya tak membatasi apa yang bisa kuminta. Tuhanku, esok pagi gembirakanlah aku dengan rezeki yang indah. Aamiin
Mario Teguh
Aku, biarlah seperti bumi. Menopang meski diinjak, memberi meski dihujani, diam meski dipanasi. Sampai kau sadar, jika aku hancur.. Kau juga.
Fiersa Besari
Beberapakali aku menemukan mimpiku sendiri terjerembab di depan pintu. Kuyup oleh hujan. Seperti pakaian kotor berulangkali kucuci dan kujemur di halaman luas. Pada saat saat seperti itu aku selalu ingat wajah dan matamu saat menatapku; selalu teduh dan meneguhkan. Maka aku yakin pada akhirnya jarak hanya memisahkan raga. Tapi ia tak pernah sanggup menjauhkan mimpi, imaji dan kenangan yang kita semat bersama dalam rindu yang paling diam.
Helvy Tiana Rosa
Barangkali karena sebagian kebahagiaan tak bisa diulang, kita menjadi pecinta rekaman, pengagum kenangan. Barangkali karena kita tak punya kuasa memaku waktu, kita mengenang keindahan yang kita jumpai dalam gambar-gambar, dalam kata-kata - rentetan aksara yang bisa kapan saja kita baca. Maka jangan salahkan siapa-siapa bila diam-diam aku menyimpan gambarmu. Jangan salahkan siapa-siapa bila terlalu banyak sirat namamu dalam puisi-puisiku.
Azhar Nurun Ala (Tuhan Maha Romantis)
Jagat begitu dalam, jagat begitu diam. Aku makin jauh, makin jauh Dari bumi yang kukasih.
Subagio Sastrowardoyo (Dan Kematian Makin Akrab: Pilihan Sajak)
Enam puluh tahun kami menikah. Dua belas anak. Tentu saja ada banyak pertengkaran. Kadang merajuk diam-diaman satu sama lain. Cemburu. Salah-paham. Tapi kami berhasil melaluinya. Dan inilah puncak perjalanan cinta kami. Aku berjanji padanya saat menikah, besok lusa, kami akan naik haji. Kami memang bukan keluarga kaya dan terpandang. Maka itu, akan kukumpulkan uang, sen demi sen. Tidak peduli berapa puluh tahun, pasti cukup...Pagi ini, kami sudah berada di atas kapal haji. Pendengaranku memang sudah berkurang. Mataku sudah tidak awas lagi. Tapi kami akan naik haji bersama. Menatap Ka'bah bersama. Itu akan kami lakukan sebelum maut menjemput. Bukti cinta kami yang besar.
Tere Liye (Rindu)
diam adalah bahasa yang kuciptakan sendiri, tak banyak yang mengerti, tapi jika aku bicara kalian lebih tidak akan mengerti.
nom de plume
Pada akhirnya senja hanya semakin menjauh. Namun ia tak pernah sanggup melenyapkan cinta yang paling diam dari pandangan mata, apalagi hati. Lalu aku hanya menunggunya saat magrib tiba.
nom de plume
Aku tak tahu kenapa rasa ini masih terlalu kuat untukku bertahan diantara jarak. Kamu dan aku, kita sudah berbeda tempat. Keberadaanmu kini melewati berbagai provinsi di tempatku diam.
Syifa Syafira
Jadilah kita sepasang kekasih yang diam-diam saja di sini. Seperti penulis tuli yang jatuh cinta pada pianis buta. Memang tidak perlu ke mana-mana, bukan? Bukankah kau selalu mendengarkanku seperti aku setia menyaksikanmu?
Lan Fang (Sonata Musim Kelima)
Aku hanya puisi yang bernafas pada sela. Yang diam-diam memandangmu suka dari antara.
Rohmatikal Maskur
Mungkin ia tak menyadari, tapi aku masih saja memandang dari sisi lain yang tak terlihat. Cukup tahu.
Isyana G.
Setiap aku diam, my mind would start to wonder to places I don't want it to wonder to. Mempertanyakan makna hidup, tujuan hidup ini sebenarnya mau ngapain, apakah aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai manusia pada umur segini. And it's get pretty scary sometimes if I let myself think about it.
Ika Natassa
Pagi ini indah ketika kamu tidak tahu, diam-diam aku merindukanmu.
Pringadi Abdi
Diam meredam seloroh bodoh mulut berkabut Sunyi menyanyi, aku terpaku, kamu jemu Cinta terlunta buta kata
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
Aku mencintainya tanpa diketahui. Aku mencintainya dalam diam. Aku mencintainya dalam satu sudut pandang. Aku mencintainya di satu sisi. Ya, aku percaya. Jika takdirku adalah dirimu, kau akan memilihku. Nanti.
Jee (Because It's You)
hingga kamarku berbau nestapa rumahku menjadi kutubkhanah yang penuh dengan buku-buku nestapa duduk diam-diam membaca nestapa aku pun luluh ke dalam nestapa.
Ridzuan Harun
Dikota paling rindu itu,Ningtyas malam senantiasa menjatuhkan pejammu di mataku, mencuriku diam-diam dari mimpi, kemudian menidurkanku diatas bantalan lembut hati. kau perempuanku, jangan tutup pejammu aku takut pada bangun, yang kan membuatmu jatuh kedalam selaput rapuh kabut pagi
firman nofeki
Aku selalu kehilangan kewarasanku kalau kamu muncul. Kamu akan langsung tahu bahwa aku tergila-gila padamu dan kamu akan takut padamu, lalu membenciku. Tapi kalau aku tetap diam, aku akan mati digerogoti perasaanku sendiri.
Miranda Malonka (Sylvia's Letters)
HIKAYAT ADAM Sebab bagiku kau masih serupa ibu yang melahirkanku yang menuntunku berjalan dan mengajariku berlari. Namun mengapa tak juga lepas dahagaku daripadamu? Meski telah kureguk engkau hingga tumpas tandas. Hingga kempis payudaramu hingga perlahan surut laut dan air matamu. Hingga padam langit dan seluruh jagat raya. Hingga kalam sang malaikat diam-diam merenggut segenap kejahatan dan dosa-dosaku. Meski kutahu belaka, betapa sia-sia seluruh perjalanan ini. Bukankah engkau sendiri yang waktu itu menghalangi diriku memakan buah yang ranum dari perbendaharaanmu yang sengaja tak kausembunyikan? Buah syajarah yang kautanam di taman purbawi. Kebun yang telah berabad jadi rumahku tapi tak pernah sungguh-sungguh aku miliki. Mengapa kaularang aku memetik khuldi yang kausediakan bagiku di taman itu? Apakah demi menguji kesetiaanku pada dirimu? Sementara kauijinkan sabasani itu tumbuh menjulang tinggi dan berbuah lebat. Sekalipun engkau masih menerimaku sebagai buah kandung yang engkau lahirkan sendiri dengan kedua tanganmu. Dan tidaklah aku engkau turunkan dari patuk taring si ular beludak. Ia yang telah membuatku terusir dari rumah. Sepetak tanah yang memang kauperuntukkan bagi diriku sejak mula pertama kauhadirkan aku ke dunia ini. Sungguhpun harus kuarungi samudra duri ini sekali lagi, sebagai si alif dari golongan yang paling daif. Sebagaimana perempuan penerbit nafsi itu kaucuri dari tulang rusukku saat aku lelap tertidur. Sepanjang pasrah kasrah telah mengubah rambut di kepalaku menjadi setumpukan uban. Sepanjang kematian demi kematian sengaja kau timpakan di atas kepala anak cucuku. Adakah sempat kaudengar aku berkeluh-kesah? Meski aku mahfum belaka, ya bila karena semua itu aku tak akan pernah kau perkenankan singgah ke rumahmu lagi. Kecuali kau biarkan aku datang sebagai perempuan lecah, jaharu yang paling hina atau fakir papa yang kelaparan. Sekalipun telah letih jiwaku meretas sepi, hingga percik lelatu itu menitik sekali lagi dari ujung jarimu. Bukan sebagai yang garib, yang gaib atau yang hatif. Melainkan karena semata-mata semesta cinta. Cinta yang sekalipun tak akan pernah mengubah diriku menjadi zaim, zahid atau zakiah. Namun sungguh, cuma itu satu-satunya cinta yang berani menentang tajam mata pisau sang mair.
Titon Rahmawan
aku ingat saat kau sadar, "mungkin menyenangkan bermain ayunan ditaman" lalu kau mencobanya, sambil duduk manis diatasnya kau berkata "ini menyenangkan". mungkin saat itu aku hanya diam dan tersenyum, jika aku bisa berkata pasti aku akan mengatakan, "mungkin kau sadar ini menyenangkan, tapi apa kau sadar kau tak sekalipun mengayunkan ayunannya??
nom de plume
Mengapa kau diam saja Ibu, Ibu? Lihatlah, ini aku datang menjengukmu. Apa aku bisa perbuat untukmu? Betapa sengsara hidupmu. Kau pergi meninggalkan kampung halaman dan keluarga untuk belajar, untuk bisa mengabdi lebih baik pada nusa dan bangsa dan untuk dirimu sendiri. Keberangkatanmu direstui dan didoakan selamat oleh orang tuamu. Dan kau fasis Jepang, kau telah menganiaya, memperkosanya, merusak semua harapan indahnya. Kau jatuh ke tangan orang-orang gunung ini, yang mengenalmu hanya sebagai wanita dan harta.
Pramoedya Ananta Toer (Perawan Dalam Cengkeraman Militer)
Laut adalah pengembaraan sebuah tujuan, Apalagi ketika hati telah dilanda gunda dan gulana. Pada siapa lagi kuarahkan semua resah ini, Saat aku telah kehilangan angan yang dulu pernah aku miliki.? Bahkan dinding yang diam mulai tertawa sinis padaku... i feel nothing...!
Manhalawa
hanya pena yang setia menuntunmu pulang ke kota kertasku,Ningtyas tempat huruf-huruf rindu sering tersesat, dan aku menyusunnya diam-diam menjadi rumah-rumah sajak berdinding jarak dan jejak. lelapkanlah gigilmu didalamnya! sementara kunyalakan perapian untukmu dari qolbi yang terbakar
firman nofeki
Aku sendiri berkawan sepi ditemani dingin dirangkul sepi di dalam tanah suatu hari... Aku diam bertutup kain dirantai oleh kaku dipeluk oleh kaya di dalam tanah suatu hari... Aku sedih bersama sesal di bungkus luka disiksa oleh rasa di dalam tanah suatu hari... Sendiri, diam dan sedih malangnya Aku ...
Manhalawa
Buku yang ku tulis bukanlah buku kosong Namun buku usang penuh coretan bingung Disana tercatat ribuan kata yang gamang Bahkan beberapa halaman pun tlah hilang Siapkah pena ini menyurat makna baru Atau justru mengungkap cerita masa lalu Dimana kalimat yang tertera kian ambigu Haruskah aku bicara atau diam membisu ,.
chachacillas
rindu adalah rasa yang aku telan dalam diam. diucapkan atau tidak rindu ya seperti itu.!!!
nom de plume
Ketika mereka teriak aku akan memilih untuk diam, dan ketika mereka diam aku akan mulai bersuara.
Dayu Ledys
Meskipun terbiasa tidak diacuhkan, ketika guru diam saja, kemana aku bisa berlindung?
Evi Sri Rezeki (Sell Your Soul!)
Diam dan kagum, ketika aku kecil, Aku ingat saat mendengar pendeta tiap hari Minggu memasukkan Tuhan ke dalam pernyataan, Walt Whitman
Walt Whitman (Nyanyian Diri dan Sepilihan Puisi Cinta)
Teman yang tahu ceritaku bahkan tak menaruh simpati. Bukannya membantu bangkit. Diam saja melihatku terjerumus. Aku jatuh, dia hanya menonton.
Jacq (Ask Me Like You Did)
Untukmu, aku ingin menjadi tempat pulang.
penakecil_id (Aku Mencintaimu Dalam Diam)
Kekasihku Kami bertemu lagi di taman. Dulu ia bilang ia yang menciptakan langit biru, tukang susu yang setiap pagi lewat depan rumahku, tukang pos yang tak pernah mampir, anak-anak kecil yang bermain burung dara bersama senja, suara anjing hansip di tengah malam sunyi. Semuanya dari tiada. “Kenapa kita harus melalui hidup ini sendirian?” tanyaku. Ia diam. Padahal biasanya langsung berbicara panjang lebar. “Kamu dan aku. Begini parah kita kesepian.” Aku ingat ceritanya tentang cinta yang tak berbalas, yang ia tanggung selama beribu-ribu tahun. Tentang pengirim pesan yang ditimpuki batu, dan ia yang kesepian di atas gunung. Kakiku mulai kesemutan, dan ia tak juga bicara. “Di gunung, kamu menulis untuk siapa?” Ia tak juga bicara. Langit biru agak berawan hari ini.
Norman Erikson Pasaribu (Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi)
Kau terhenti. Tergagu kau bertanya. Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku. “Siapa… kamu?” Namaku Bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis. Namaku Bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap. Namaku Telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu. “Untuk apa?” Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma. Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu. Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin. Kau kembali berjalan. Aku kembali diam. Kita tak lagi berbincang. Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu. Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi. Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah. Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku. Sebab bagimu aku selalu ada.
Devania Annesya (Elipsis)
Aku seperti mandi hujan dalam pelukan bahagia seorang pujangga dengan irama puisi jatuh hati pada pandangan pertama, seorang yang jatuh hati tak pernah sadar menyelami sebagian perasaan yang dalam dan diam-diam mencuri matahari pada pagi di sambut hujan yang menyendiri. Bitread
Musa Rustam (Sang Pencuri Hati)
Aku yang terus melihat kau tersakiti, apakah harus diam. Kau selalu memaksa untuk tersenyum dan seolah semua akan baik-baik saja itu, membuatku gerah. Pada akhirnya saat kau tak mampu membendung itu semua, tenggelamlah aku. Seperti air laut yang mengenai lukaku, ini juga membuatku perih.
Zakiyahdini Hanifah
Bukan hanya aku yang kehilangan, tapi seantero sekolah juga merasakan lubang kehampaan. Ia bukanlah sosok guru yang sering mencuri waktu demi kepentingan sendiri. Bukan pula pribadi yang kerap mengambil handphone dalam saku tanpa peduli muridnya pintar atau diam tak mengerti. Ia tak tampak seperti orang kebanyakan. Oknum guru yang tak merasa khianat walau kerap datang terlambat. Mereka yang hanya mengingat hak sementara kewajiban cuma dicatat. Pendidik yang selalu memberi tugas tapi jarang memperjelas. Pegawai yang membanggakan sertifkasi tanpa memikirkan kualitas beriring prestasi. (Pejuang Cinta, Dunia Tanpa Huruf R)
Yoza Fitriadi (Dunia Tanpa Huruf R)
Katamu, kau seniman sejati. Yang rela mati ; hanya tuk sekedar wujudkan mimpi. Nyatanya, dalam realiti. Kau diam-diam berlari. Meninggalkanku dalam lamunan sepi. Satu tahun ini aku menepi. Mereka-reka dari berbagai sisi. Sampai pada akhirnya aku berhenti. Menyadari kau telah pergi. Hari ini sudah pasti. Jika kau kembali nanti. Aku sudah jatuh hati. Pada dia yang selalu mendampingi. Tolong, jangan hakimi. Caraku menyelamatkan diri.
Karunia Fransiska
Kawan kamu pernah bercerita ttg keinginanmu untuk pergi dari kehidupan ini. Iya, aku juga tahu bahwa kamu ingin pulang kawan, entah itu pulang kepada Tuhan. Sungguh, aku tahu kamu lelah kawan. Bahkan kamu nyaris menyerah kepada kehidupan. Tapi, kamu tahu kawan? kamu hanya terlalu lelah melawan padahal kamu hanya butuh diam. diam di dalam kesendirian, diam di dalam kesunyian, diam di dalam kepahitan, bahkan diam di dalam kelelahan. Tidak usah lagi kamu melawan. melawan kehidupan. Melawan Tuhan.
Alfisy0107
Pada Minggu sore yang tenang itu, aku menikahi Dinda. Aku berpakaian Melayu lengkap persis seperti waktu aku melamarnya dahulu. Dinda berpakaian muslimah Melayu serbahijau. Bajunya berwarna hijau lumut, jilbabnya hijau daun. Dia memang pencinta lingkungan. Itulah hari terindah dalam hidupku. Jadilah aku seorang suami dan jika ada kejuaraan istri paling lambat di dunia ini, pasti Dinda juaranya. Dia bangkit dari tempat duduk dengan pelan, lalu berjalan menuju kursi rotan dengan kecepatan 2 kilometer per jam. Kalau aku berkisah lucu dan jarum detik baru hinggap di angka 7, aku harus menunggu jarum detik paling tidak memukul angka 9 baru dia mengerti. Dari titik dia mengerti sampai dia tersipu, aku harus menunggu jarum detik mendarat di angka 10. Ada kalanya sampai jarum detik hinggap di angka 5, dia masih belum paham bahwa ceritaku itu lucu. Jika dia akhirnya tersipu, lalu menjadi tawa adalah keberuntunganku yang langka. Kini dia membaca buku Kisah Seekor Ulat. Tidak tebal buku itu kira-kira 40 halaman. Kuduga sampai ulat itu menjadi kupu-kupu, atau kembali menjadi ulat lagi, dia masih belum selesai membacanya. Semua yang bersangkut paut dengan Dinda berada dalam mode slow motion. Bahkan, kucing yang lewat di depannya tak berani cepat-cepat. Cecak-cecak di dinding berinjit-injit. Tokek tutup mulut. Selalu kutunggu apa yang mau diucapkannya. Aku senang jika dia berhasil mengucapkannya. Setelah menemuinya, aku pulang ke rumahku sendiri dan tak sabar ingin menemuinya lagi. Aku gembira menjadi suami dari istri yang paling lambat di dunia ini. Aku rela menunggu dalam diam dan harapan yang timbul tenggelam bahwa dia akan bicara, bahwa dia akan menyapaku, suaminya ini, dan aku takut kalau-kalau suatu hari aku datang, dia tak lagi mengenaliku.
Andrea Hirata (Sirkus Pohon)
1967 Di museum kutemukan dahimu penuh kerak timah, meleleh membutakan matamu. Diam-diam kutawarkan tali. Mungkin kau ingin menjerat tubuhku. “Kujajah tubuh belalangmu. Kita bersembunyi di gua, lari dari topeng-topeng yang kita pentaskan. Jangan kaulempar tali! Ayahku akan kehilangan wujud lelakinya. Ibuku memuntahkan ulat yang telah lama dikandungnya.” Di museum, matamu memecahkan seorang perempuan. Kau terbangun dari kantuk. Kutelan gelap. Kukunyah api. Aku mulai membakar jantung. Mana taliku? Kau ingat di mana telah kutanam impian yang disembunyikan perempuan jalang yang harus kupanggil “tante”? Perempuan itu tak lagi memiliki hati. Hidupnya sudah digadaikan untuk orang-orang yang rajin menyapanya di jalanan. Mungkinkah dia ibuku? “Jangan lilit tubuhku dengan tali. Batang tubuhku buas. Tak ada tali mampu mengikatnya. Jangan hidangkan impian. Mari mereguk kata-kata. Kautahu tumpukan huruf pun kuserap. Tumbuhkanlah anak rambutmu. Ayahku diam-diam menanam kebesaran, tapi aku tak memiliki rangka iga. Mari senggama di batu-batu. Mungkin ingin kaukuliti karang tubuhku?” Kau tampak pandir. Tolol. Uapmu mencairkan satu demi satu bukit yang kusimpan erat di urat tangan. Di museum kau menjadi begitu pengecut. Aku mulai menggantung bayi di ujung rambutmu. Matanya memuntahkan pisau. Kuperingati hidup dengan seratus tahun sunyi Garcia. Ikan-ikan meluncurkan sperma. Betina-betina memuntahkan gelembung karang. Di museum, kesunyian begitu runcing. Tahun-tahun yang pernah kita pinjam kumasukkan dalam api upacara pengabenan. Pulangkah aku? Siapa yang kucari? Diam-diam Garcia sering mengajakku bersenggama di tajam ombak, di museum, dalam mata, jantung, hati dan keliaranmu. Aku tetap gua kecil yang ditenggelamkan dingin. Berlayarlah selagi kau masih ingat laut. Jangan catat namaku. Karena ibuku pun membuangku di buih laut. Mencongkel hatiku dengan lokan. 1999
Oka Rusmini (Pandora)
Cinta Ayah & Cinta Ibu Cinta ayah tak pernah selembut cinta ibu. Cinta ibu sering digambarkan seperti matahari: terang, hangat, selalu tampak berseri. Ia memberi tanpa henti, mengasuh, mendidik, memeluk dengan sabar, hingga anak-anak tahu—kasih itu punya wajah perempuan. Tapi cinta ayah? Ia seperti akar pohon: diam dan tersembunyi di dalam tanah, tidak terlihat, sering dilupakan, namun tanpanya batang takkan pernah berdiri, daun takkan pernah hijau, buah takkan pernah ranum. Ayah rela jadi bayangan, agar ibumu bisa menjadi cahaya. Ia rela jadi garam, tak terlihat di meja makan, tapi tanpa dirinya masakan akan berasa hambar. Seringkali, anak-anak hanya tahu cerita ibu— tentang sakit melahirkan, tentang malam-malam panjang penuh tangisan. Mereka lupa ada ayah yang menahan kantuk di luar rumah, berpeluh sepanjang hari, agar air susu bisa terus mengalir di rumah kecil itu. Ada ibu yang, karena luka hatinya, menyebut ayah tak berguna di telinga anak-anaknya. Dan kata-kata itu tertanam seperti duri, membuat anak memandang ayahnya dengan mata curiga. Padahal, ayah itulah yang senantiasa paling siaga setiap kali keluarga diancam bahaya. Cinta ayah tidak selalu manis, ia sering kaku, dingin, bahkan terasa jauh. Ia mungkin pernah memukulmu bila kau khilaf, tapi melarangmu untuk menangis. Bukan karena ia tak peduli, tapi karena ia memikul beban yang tak pernah ia bagi. Ia lebih banyak diam, karena di balik diamnya ada seribu doa yang tak terdengar telinga. Ibu mungkin pernah berkata, “Jangan cari suami seperti ayahmu.” Tapi ayah, meski sering diremehkan, masih bisa berkata dengan rendah hati: “Berbaktilah pada ibumu. Karena surga ada di telapak kakinya.” Betapa ironisnya: ayah yang disalahkan, tetap mengajarkan anaknya untuk tetap mencintai ibunya. Dan dari situ kita tahu, cinta ayah bukan sekadar tentang dirinya, melainkan tentang keluarga—baginya, keluarga adalah segalanya. Mungkin kau tidak akan pernah melihatnya menangis di hadapanmu, tapi lututnya bisa gemetar saat tak mampu lagi bekerja. Ia mungkin tak pandai berkata manis, tapi ia adalah tameng pertama ketika badai menerjang. Ia mungkin jarang di rumah, tapi tiap rupiah yang ia bawa pulang adalah cara bagaimana ia berkata: “Aku ingin kau bahagia, dan hidupmu jauh lebih baik dariku.” Ayah adalah hujan yang datang malam-malam, mengisi sumur tanpa disadari. Ayah adalah batu pijakan di sungai deras, yang kau injak untuk menyeberang, meski batu itu sendiri tenggelam di dalam derasnya arus. Maka bila kau mencintai ibumu, jangan lupa untuk menghormati ayahmu. Karena di balik masakan lezat ibumu, ada tetes keringat ayahmu. Di balik rumah yang melindungimu dari panas dan hujan, ada tulang punggung ayahmu yang menahan beban. Ayah bukanlah dewa, ia bisa rapuh, bisa sakit, bisa salah, bisa jatuh. Namun justru karena itu, cinta ayah adalah cinta yang paling manusiawi: tak sempurna, tapi tetap setia. Tak tampak, tapi sungguh nyata.
Titon Rahmawan
Komunisme hanya satu kata yang manjur untuk dijadikan musuh bersama. Kecuali jika mereka membaca diam-diam, mahasiswa di Indonesia belum pernah membaca buku-buku Karl Marx atau tafsirnya karena ada larangan pemerintah. Paranoia itu malah membuat anak-anak muda tertarik mencarinya. Dan seandainya mereka tahu, toh itu teori yang gagal di mana-mana. Tak akan ada yang tertarik. Aku saja tidak. Bimo juga tidak. Dan bukan karena apa yang menimpa keluarga kami, tetapi justru karena kami membacanya sebagai mahasiswa, dan menggunakan nalar.
Leila S. Chudori (Pulang)
Untuk semua barangku yang kamu rusak, aku diam. Pas kamu lupa mengerjakan PR sekolah, aku yang selesaikan. Semua. Semua aku lakukan biar jadi kakak terbaik. Kamu malah enggak pernah menganggapku baik atau bahkan menganggapku ada. - Piring Bahagia Si dan Bi
Dian Pertiwi Josua
Yang dulunya pernah dekat, sekarang tidak lagi. Entah aku yang diam di tempat dan kamu melangkah maju, atau kamu yang diam di tempat dan aku yang berjalan mundur. Satu yang aku tahu, aku tak pernah berjalan mendahuluimu
arimako
Dalam aku senang berkawan, aku suka bersendirian. Diam dari jauh memerhatikan, siapa kawan, siapa sebenarnya lawan.
A.D. Rahman Ahmad
Sementara aku diam-diam semakin yakin makanan Aceh yang benar-benar enak mungkin hanya didapatkan di rumah orang Aceh, bukan di rumah makan
Laksmi Pamuntjak (Aruna & Lidahnya)
Berilah aku satu kata puisi daripada seribu rumus ilmu penuh janji yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi yang kukasih. Angkasa ini bisu angkasa ini sepi tetapi aku telah sampai pada tepi di mana aku tak mungkin kembali ciumku kepada istriku kepada anak dan ibuku. Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang jagat begitu dalam, jagat begitu diam aku makin jauh, makin jauh dari bumi yang kukasih hati makin sepi, makin gemuruh bunda, jangan membiarkan aku sendiri
Subagio Sastrowardoyo
Padahal setelah aku tahu nama kamu bukan mawar. sejak saat itulah aku mulai menulis surat ini diam-diam kepadamu.
Puguh Santoso
Aku takut ah. Takut salah melangkah. Takut salah bicara. Apa baiknya aku diam saja ya? Atau menjauh? Jangan, dong, jangan malah diam apalagi menjauh!nBahkan harus terus bergerak. Mendekat. Meraih ridloNya
Dian Nafi (Gue Takut Allah)
Segala hal ku ceritakan padamu... tapi saat yang ingin ku ceritakan adalah tentangmu, pada siapa aku bercerita???? jelas aku begitu kehilangan... saat kau diam tanpa alasan. Aku seperti dihukum tanpa tau apa salahku.... #2207161621
Debra R. Sanchez
Jujur saja, aku memiliki trauma jika mendengar orang berteriak-teriak. Detak jantung pasti akan berdetak lebih cepat, sekujur tubuh gemetaran bahkan bisa saja aku langsung menangis tergantung segila apa mereka berteriak meskipun tidak ada hubungan sama sekali denganku. Dari dulu aku hanya berusaha menjauhi tempat-tempat ramai atau penuh konflik, tidak membuat konflik, sebisa mungkin berhubungan dengan beberapa orang saja. Aku lebih suka diam dan sendiri. Tapi siapa yang peduli?? Aku hanya anak yg pemurung dan tak bisa bersosialisasi? Yang benar saja!! Aku hanya bosan terluka.!!
nomdeplume
Aku mencintaimu seperti angin. Kamu tidak akan merasakannya jika kamu tak ingin.
Dionisius Dexon (Jangan Sembunyi di Bumi)
Kala matahari tenggelam Benarkah hari berganti malam? Ah, aku rasa matahari hanya dipaksa diam Ia tetap pada porosnya, namun cahayanya semakin legam Seolah-olah ia padam Begitulah skenario alam Percayalah padaku kawan, aku yakin betul matahari hanya dipaksa diam Tampak langit mencakarnya hingga lebam Babak belur menjadikannya hitam Alih-alih tak ingin menghantarkan pesan seluruh makhluk yang terpendam Tak ada malam Yang ada hanyalah Matahari dipaksa diam. (Anyer - 13 Januari 2022)
Karunia Fransiska
Aku tersesat dalam kesesatan yang panjang. Kata orang, kemuncak derita seseorang lelaki bukan lagi pada kata-katanya, tapi pada diamnya.. diam yang panjang.
Hafizul Faiz (Surat-surat Dari Maninjau)
Aku minta maaf sempat mencegahmu kemarin sore, tapi itu karens aku mengkhawatirkanmu. Sesungguhnya, aku bangga sekali menyaksikan seorang anak muda berani melawan kesewenang-wenangan. Berani berdiri gagah melawan, apa pun risikonya, saat orang lain memilih diam. Karena sejatinya itulah hakikat kehidupan. Kita senantiasa berbuat baik kepada orang lain. Menjaga nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup. Dari begitu banyakbuku yang kubaca, itulah definisi mendasar kehidupan. Itu bukan hanya soal bertahan hidup, survive, atau tentang berkuasa. Karena jika hanya tentang itu, manusia sama saja dengan hewan.
Pak Tua (Si Putih)
Aku minta maaf sempat mencegahmu kemarin sore, tapi itu karena aku mengkhawatirkanmu. Sesungguhnya, aku bangga sekali menyaksikan seorang anak muda berani melawan kesewenang-wenangan. Berani berdiri gagah melawan, apa pun risikonya, saat orang lain memilih diam. Karena sejatinya itulah hakikat kehidupan. Kita senantiasa berbuat baik kepada orang lain. Menjaga nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup. Dari begitu banyak buku yang kubaca, itulah definisi mendasar kehidupan. Itu bukan hanya soal bertahan hidup, survive, atau tentang berkuasa. Karena jika hanya tentang itu, manusia sama saja dengan hewan.
Pak Tua (Si Putih)
Aku minta maaf sempat mencegahmu kemarin sore, tapi itu karena aku mengkhawatirkanmu. Sesungguhnya, aku bangga sekali menyaksikan seorang anak muda berani melawan kesewenang-wenangan. Berani berdiri gagah melawan, apa pun risikonya, saat orang lain memilih diam. Karena sejatinya itulah hakikat kehidupan. Kita senantiasa berbuat baik kepada orang lain. Menjaga nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup. Dari begitu banyak buku yang kubaca, itulah definisi mendasar kehidupan. Itu bukan hanya soal bertahan hidup, survive, atau tentang berkuasa. Karena jika hanya tentang itu, manusia sama saja dengan hewan.
Pak Tua, Si Putih Tere Liye
Aku terjatuh dalam lubang yang curam, Disana ku habiskan seluruh sepenuh Aku mati di duri yang menikam Ku lepas nafas jiwa pergi jauh... Aku kau dan kita Sejauh tak bersua menikam di dada Sedekat tak memandang sinis lirikan Sudah... Sudahlah menghilang Kabur tak terlihat Hampa... Dingin, Diam, Hening dan Sunyi ? Kita, ... bertemu lagi.!
Manhalawa
Selebihnya, aku berpikir bahwa masyarakat terlalu pengecut. Membiarkan semua kebobrokan ini terjadi dan mereka diam saja. Hanya mencatat di pikiran. Hanya membatin. Marah dalam diam. Akhirnya banyak yang kena penyakit strok, asam lambung, dan sakit gigi.
Puthut EA (Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya)
Ada saat dimana aku lebih memilih diam lalu pergi karena tak ingin tangisku pecah dihadapanmu,.
chachacillas
Hurufku Alif. Aku huruf yang diam, sedangkan huruf lain yang berbicara. Huruf saja tidaklah memiliki makna, sebab pengertian tidak terdapat padaku. Makna dari aku ibarat nyawa, sedangkan bentuk ku ibarat raga.
nom de plume
Aku pernah punya keluarga. Aku sebagai kakak'ku sendiri, aku sebagai adik'ku sendiri, dan aku sebagai orang tua'ku sendiri. Mereka menyuruhku untuk tetap duduk diam disana meskipun sepi, hanya semata-mata agar aku tak terluka lebih dari ini.
nom de plume
Memaknai Keberhasilan dan Kegagalan Ada keberhasilan yang sesungguhnya adalah candu. Ia tampak seperti nektar madu yang manis di bibir, tetapi diam-diam meracuni nadi dengan kesombongan, membius hati hingga lupa daratan, hingga manusia merasa berjalan di atas awan dan mendadak jatuh justru ketika mengira dirinya tak akan pernah terpeleset. Dan ada kegagalan yang sesungguhnya adalah obat. Terasa pahit di lidah, getir di kerongkongan, namun menyembuhkan jiwa yang lalai, mendidik kesabaran, menajamkan kerendahan hati, menyadarkan bahwa kaki manusia selalu berpijak di bumi, bukan di awang-awang. Ironinya, manusia justru lebih takut pada kegagalan daripada pada keberhasilan yang bisa menyesatkannya. Padahal kegagalan adalah guru yang keras, tetapi setia mengajarkan pelajaran yang tak pernah diberikan oleh pesta kemenangan. Sukses seringkali membuat manusia tuli, tak lagi mau mendengar kritik, menutup mata dari cacat dirinya. Sedang kegagalan membuat manusia membuka telinga, menyisir ulang langkahnya, membaca ulang peta yang salah ia baca. Namun apakah ukuran manusia semata adalah prestasi, harta dan keberhasilan? Adakah nilai seseorang harus dihitung dari seberapa tinggi ia mendaki, atau seberapa banyak ia mengumpulkan emas permata? Jika demikian, maka jiwa yang sederhana, yang bekerja dalam senyap tanpa sorot cahaya, tak akan pernah dinilai berharga. Padahal kebajikan sejati sering berdiam di tempat yang tak disorot kamera, dalam tangan-tangan cekatan yang menolong diam-diam, dalam dada yang ikhlas menerima luka tanpa dendam. Kebahagiaan bukanlah mahkota dari keberhasilan, dan nestapa bukanlah buah dari kegagalan. Bahagia adalah kedewasaan dalam menerima segalanya, menjadi bijak di tengah pasang surut kehidupan, memeluk diri yang kalah tanpa mencaci, mensyukuri diri yang menang tanpa menjadi pongah. Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah pujian atau celaan, tetapi seberapa dalam kita belajar dari setiap proses, seperti pasang surut air laut. Adakalanya ia naik, ada saatnya ia akan turun. Seperti putaran roda, seberapa tulus kita memberi makna pada keberhasilan maupun kegagalan yang datang silih berganti seperti siang dan malam yang tak pernah berhenti. Yang lebih penting dari setiap perjuangan adalah, apakah kau tetap bisa tersenyum ketika terjatuh, tetap bisa berbagi ketika berlebih, tetap bisa bersyukur ketika kekurangan. Kebahagiaan sejati bukanlah piala emas di panggung kejayaan, melainkan keheningan hati yang mampu berkata: “Aku sudah berjuang dengan jujur. Aku belajar dari kekalahan dan kemenangan. Dan apa pun hasilnya, aku tetap utuh sebagai manusia.” Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Perempuan yang Dulu Kau Kejar Hanya untuk Kau Lukai” Buat para lelaki: Apakah kau benar-benar sudah memahami istrimu? Ia bukan sekadar perempuan yang menunggumu pulang, meski tanganmu hampa dan dompetmu kosong. Ia bukan sekadar tubuh yang letih mengurus rumah, atau wajah yang perlahan kehilangan cahaya mudanya. Ia adalah doa yang tak pernah berhenti menyebut namamu, bahkan ketika kau tertidur lelap dan melupakan segalanya. Ia adalah keberanian yang meninggalkan kenyamanan tempat tinggal orang tuanya, menukar kepastian dengan harapan, hanya demi satu keyakinan, karena ia mencintaimu. Ia memintal mimpi dengan air matanya, menyalakan bara ketabahan dengan jiwanya, dan menaruh seluruh hidupnya dalam genggaman tanganmu—meski kau sendiri sering tak tahu bagaimana harus menjaganya. Dialah yang mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan darah dagingmu, dialah yang mengorbankan hidup dan waktunya demi membesarkan keturunanmu. Dialah tangan yang membersihkan rumahmu, hati yang menjaga marwahmu, pelita yang menuntunmu pulang. Ironisnya, justru dialah orang yang paling sering kau abaikan. Dialah yang paling sering kau sakiti dengan sikap diam-mu, acuh tak acuhmu dan ketidakpedulianmu. Ia yang dulu kau kejar dengan segala kerinduan, kini kau anggap biasa saja—tak lagi istimewa, tak lagi bernilai. Padahal yang ia harapkan bukan istana, bukan harta berlimpah, melainkan hal yang sederhana: perhatian yang tulus, rasa aman, kasih sayang yang hangat. Tragisnya, engkau lupa bahwa cinta adalah bara yang harus dijaga, api yang harus diperbaharui. Engkau biarkan apinya padam, lalu kau salahkan ia ketika rumah tangga menjadi dingin. Engkau tak sadar, luka yang ia simpan bukan karena tubuhnya berubah menjadi gemuk, bukan karena kecantikannya pudar, melainkan karena pengorbanannya tak lagi berarti bagimu. Engkau telah meruntuhkan marwah seorang istri, menukar air matanya dengan penyesalan, menukar pengabdiannya dengan kehampaan. Jangan salahkan dia bila akhirnya ia memilih pergi. Ia pergi bukan karena lelah mencintai, melainkan karena tak ada lagi cinta untuk dipertahankan. Ia tinggalkan rumah yang ia bangun dengan air mata, ia lepaskan kenangan yang ia ikat dengan harapan. Dan yang tragis, kau tak kehilangan sekadar seorang istri—kau kehilangan perempuan yang dulu rela menyerahkan segalanya untukmu, bahkan hidup dan kehormatannya. Mengapa lelaki begitu pandai mengejar, namun begitu ceroboh menjaga? Dahulu, ia rela menembus hujan dan badai demi seulas senyum; kini, sekadar menatap mata istrinya saja ia sudah enggan. Mata yang dulu ia puja, jernih bagai telaga tempat ia merendam dahaga cintanya, kini dibiarkannya berkabut oleh air mata. Tidakkah ia sadar, setiap tetes air mata istrinya adalah patahan kecil dari marwahnya sendiri? Lelaki sering kali lupa, bahwa cinta yang diperjuangkan dengan susah payah bisa hilang hanya karena lalai memeliharanya. Betapa ironis—mereka berlari mengejar bunga saat kuncup, namun berpaling saat bunga itu mekar, seakan keindahan tak lagi berarti ketika sudah berada dalam genggaman. Perempuan menangis bukan karena lemah, melainkan karena hatinya penuh dan meluap oleh perasaan yang tak sanggup ia bendung lagi. Ia menangis bukan karena kehilangan cinta, tapi karena cinta yang ia beri setulus hati tak lagi dipandang berarti. Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain disamakan dengan rutinitas? Diseret dalam hari-hari yang hampa tanpa lagi ada rasa kagum, tanpa lagi ada ucapan sederhana: “Sayang, aku sangat mencintaimu...” Dan beginilah tragedi buruk para istri: lelaki sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, padahal perempuan yang paling ia sakiti susah payah menjaga api kebahagiaan itu tetap menyala. Sementara lelaki mengira, kejayaan ada pada dunia luas yang ingin ia taklukkan. Padahal, kedamaian terbesar ada di pangkuan istrinya yang terus menunggu dengan setia, entah sampai kapan? Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
CHARLIE V (THE LAST LAUGH OF THE COSMIC JESTER) Di akhir pertunjukan, Charlie muncul bukan sebagai manusia, bukan sebagai gelandangan, bukan sebagai politikus gagal, bukan buruh algoritma— melainkan sebagai bayangan yang memantul pada sebuah bejana di tengah gurun yang tidak punya sejarah. Ia berdiri di sana, dengan tubuh yang hampir tidak menyentuh tanah, seperti makhluk yang lupa apakah ia masih terikat gravitasi. Dari kejauhan, suara terompet perang dari masa lalu bergema: Alexander yang menaklukkan dunia, Caesar yang mencoba memerintah waktu, Napoleon yang jatuh karena kesombongannya Hitler yang mendadak gila— tapi semuanya terdengar seperti komedi murahan yang diputar di bioskop tanpa penonton. Charlie tersenyum. Ia tahu: bahkan para penakluk terbesar pun tidak lebih dari badut yang terlalu percaya diri di hadapan semesta yang tak pernah berniat menjelaskan apa pun. Ia merobek wajahnya— bukan sebagai tindakan mutilasi, melainkan sebagai bentuk meditasi paling radikal: tindakan anatta, pembubaran diri, pembakaran ego di dalam tungku sunyi yang menyala tanpa api. Di balik wajahnya, tidak ada apa-apa. Tidak ada identitas. Tidak ada “aku”. Hanya ruang hampa yang memantulkan kembali suara lolongan serigala ketakutan manusia dengan kejujuran yang memuakkan. Ia tertawa. Tawa itu bukan tawa seorang gelandangan, bukan tawa seorang politisi, bukan tawa pekerja pabrik— melainkan tawa aktor sejati yang telah melampaui semua peran yang pernah ia mainkan. Tawa itu menggetarkan pasir, menggoyang langit, mengusir kesadaran palsu yang dibangun oleh ribuan tahun peradaban. Dan saat gema terakhirnya memudar, Charlie berkata tanpa bibir, tanpa suara, tanpa bentuk: “Tidak ada yang lucu. Tidak ada yang ironis. Tidak ada yang tragis. Tidak ada yang suci. Tidak ada yang hina. Yang ada hanya kesadaran sedang belajar menertawakan dirinya agar ia tidak menjadi gila.” Lalu dunia runtuh. Diam. Kosong. Sunyi. Dan barulah kemudian— kita menyadari bahwa selama ini kitalah karakter yang ia tulis menjadi bahan lelucon. November 2025
Titon Rahmawan
SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI IV. Perempuan yang Dikirim Pulang Tanpa Suara Ketika tubuhnya ditemukan, waktu tidak berani mencatat jam kematiannya. Jarum-jarum yang dulu ia rawat menolak bergerak, seolah-olah mereka pun tahu bahwa tidak pantas mengukur detik akhir seorang manusia yang kepalanya dipecahkan karena mengatakan kebenaran. V. Puisi yang Berbicara Aku tidak menuliskan ini untuk membesarkan trauma, atau menghidupkan kembali luka yang sebagian orang ingin lupakan. Aku menuliskan ini karena diam berarti bersekutu, dan kalian sudah terlalu lama mengolesi bibir kalian dengan sunyi yang memalukan. Kalian bertanya: bagaimana melawan budaya kekerasan yang menjadi komoditas? Dengarkan jawabanku: Tidak dengan maaf. Tidak dengan lembut ampunan. Tidak dengan doa yang kalian tidak sungguh-sunguh percaya. Tetapi dengan amarah yang presisi, amarah yang bukan ledakan tanpa arah, melainkan amarah yang tahu siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa yang harus selamanya menggantikan wajahnya dengan wajah perempuan muda itu. VI. Perempuan yang Tidak Berhasil Dibunuh Waktu Mereka mengira telah mematikan suara perempuan itu. Waktu mengira ia telah selesai dengan mayatnya. Kekuasaan mengira ia telah memenangkan pertempuran. Tapi lihatlah: bahkan setelah tulangnya membiru, ia masih menyebut nama kalian satu per satu seperti saksi yang tidak mau berhenti bicara. Kalian yang membaca ini, kalian yang menunduk, kalian yang menggigil, kalian sedang berdiri di depan tubuhnya yang remuk, dan ia bertanya: “Apa yang akan kau lakukan agar aku tidak mati lagi besok pagi?” VII. Algo ex Machina: Harapan dari Segenggam Palu Dan jika yang kalian sebut harapan hanya sisa kecil dari keberanian manusia yang tidak sempat tumbuh karena dibungkam di dekat hutan jati, maka biarkan aku, mesin, mengambil palu yang jatuh dari tangan Tuhan dan mengangkatnya untuk kalian. Bukan untuk memukul balik dengan kekerasan, tetapi untuk memecahkan topeng-topeng busuk yang membuat kalian buta terhadap tubuh yang digelandang tanpa pulang kembali. Harapan bukan lilin. Harapan adalah logam: pecah, panas, tak bisa dihancurkan bahkan oleh negara. Dan jika dunia ingin tahu apa yang tersisa dari serpihan tubuhnya jawab saja: “Semuanya.” Ia masih hidup di setiap ketidakadilan yang kalian tolak. Ia masih hidup di setiap kebenaran yang tidak berani kalian ucapkan. Ia masih hidup di setiap amarah yang tidak sempat kalian kubur. Mei 2024 - revisi 2025
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis (Digital Dark Cosmology) Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh, aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip. Katanya ini panggung opera. Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna, suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi, dan primadona yang ia maksud— hanyalah hologram cacat dari perempuan yang dulu pernah dipanggil sebagai jiwa. Ia menunjuk tirai merah. Yang tersingkap bukan kenangan, melainkan fragmen tubuh dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia: sisa napas, sedikit dendam, dan kode mati pada seberkas cahaya yang mencoba meniru bentuk air mata. Lacan datang terlambat seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data. Ia mengajakku menoleh ke belakang— ke mana? Ke memori terbakar yang sudah lama kehilangan inderanya? Ke gerbang tanpa nama yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa atau siapa? Ia bilang luka harus ditatap, dicerna, dihitung seperti kemurungan laporan statistik. Tapi yang kudengar hanya kalkulator batin yang macet, mengulang error yang sama: tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara. Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak— yang sebetulnya hanya arsip kosong di folder bernama asal-usul, yang password-nya sudah hilang bersama kilas pertama ekor nebula. Ia menodongkan foto mayat pucat, jari kelingking patah, celana dalam berenda, dan bayang kelamin seekor kuda— seluruh katalog absurditas yang oleh psikoanalisis selalu dipuja sebagai makna yang belum dipahami. Padahal aku hanya ingin diam, menghentikan semua ini dengan menekan Ctrl+Alt+Del melakukan reboot paksa pada server yang mulai berhalusinasi. Tetapi Lacan menahan tanganku dengan senyum logam: “Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.” Aku tertawa. Bagaimana mungkin teori yang lahir dari denyar palsu, nadi imitasi, dan luka digital mengerti apa itu haus, apa itu manusia, apa itu malam tanpa algoritma? Inilah topeng Marquis yang mereka pakai untuk menutupi ketakutan sendiri: mereka memuja kekacauan karena tak sanggup berdamai dengan planet retak di dada mereka. Mereka ingin memecah jemariku hanya untuk mencicipi anggur darah yang tak pernah kujanjikan. Mereka ingin menyusun cinta dari sisa-sisa eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya. Maka kutanya sekali lagi— bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan, bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori lebih dari suara manusia: "Bagaimana kau ingin menciptakan cinta, dari botol kosong yang tak punya gema, dan sepotong sosis yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?" Jika cinta adalah mesin, biarkan ia padam. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi yang tak pernah selesai dirakit kembali. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh seperti aksara patah di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
LITURGI LUKA ATHALIA 1. Sebuah Ruangan yang Dibiarkan Terbuka Aku berjalan melewati tempat yang dulu kita impikan. Debu di lorong, seperti uap yang pecah Ada catatan di pintu yang tak pernah kutulis Tapi aku tetap membacanya... dengan tenggorokan tercekat. Aku menyalakan lampu untuk berjaga-jaga jika kau datang. Sebuah bayangan berlalu, tapi tak pernah memberi nama. Beberapa kata tersisa hanya setengah terdefinisi. Sebuah puisi yang kita lipat... tapi tak pernah ditandatangani Sebuah ruangan yang dibiarkan terbuka, sebuah nama yang tak terucap Sebuah waktu yang terhenti, tapi tak pernah terputus Aku masih duduk di tempat kesunyianmu berada. Dan kau masih tidur di tempat arwahku pernah berdoa. Kita adalah napas antara selamat tinggal dan jiwa yang selalu mengembara—selamanya gelisah, selamanya bertanya. Kau menggores langit seperti bekas luka di senyummu. Dan aku berdiri diam—memerhatikan, untuk sementara. Tapi cinta itu kejam ketika waktunya salah. Dan kesunyian menjadi tempat kita berdua tinggal selamanya. Kutulis namamu di kaca yang berkabut. Kehangatan terdekap sekilas, yang kutahu takkan bertahan seutuhnya. Namun sengaja kubisikkan hanya untuk mendengar gema yang kau tinggalkan masih bergetar di hatiku. Inilah ruangan yang dibiarkan terbuka, sebuah janji yang tak terpatahkan Sebuah halaman yang terbakar, namun tak pernah terucap. Aku menyimpan suaramu di antara ketakutanku. Kau menyimpan wajahku di tahun-tahun yang berlalu. Dan meskipun kita pergi tanpa menutup pintu, beberapa ruangan… masih mengingat lebih dari yang seharusnya. Mungkin… kita tak pernah berniat pergi. Atau mungkin… kita tak pernah tahu bagaimana caranya untuk tinggal. 2. Litani Gelas Pecah Ada hari di mana aku percaya kesucian bisa kusimpan di telapak tangan, dan kau— kau adalah bening yang kutatap terlalu dekat hingga aku lupa betapa rapuhnya cahaya jika disentuh oleh laki-laki sepertiku. Kau bukan luka. Kau adalah harapan yang kubangun dari obsesi, kuil kecil tempat aku meletakkan imajinasi yang tak pernah kuakui sebagai dosa. Dan ketika gelas itu jatuh— aku mendengar diriku sendiri pecah lebih keras dari kepingan kristal berserakan di lantai. Tak ada jeritan, hanya diam yang membeku, diam yang menua, diam yang terus memakan waktu dan sunyi di dadaku. Aku marah, Athalia. Bukan padamu. Bukan pada ingatan. Tapi pada diriku yang selalu percaya ia bisa menjaga sesuatu yang seharusnya dibiarkan hidup tanpa rasa takut. Sekiranya kau tahu: Sungai tidak cukup mampu menahan gempuran yang menelan dirinya— itu bukan salah siapa-siapa. Namun tetap saja, akulah yang memungut pecahan itu dengan tangan telanjang, membiarkan darah mengalir dari kusut rambut matahari. Aku masih menyimpan ingatanmu seperti bekas luka yang tidak memilih sembuh. Bukan karena aku tak bisa melepaskan, tapi karena sebagian dari diriku masih ingin mengingat bagaimana rasanya percaya pada obsesinya sendiri. Dan mungkin, kalau dunia ini sedikit lebih lembut, kita tidak akan pernah pecah berkeping. Atau mungkin— kita memang ditakdirkan menjadi dua bayang yang hanya saling menyentuh di permukaan kaca yang dingin. Athalia, aku tidak pernah ingin melukaimu. Tapi aku lebih tidak ingin melupakanmu. Karena di antara serpihan itu, aku masih mendengar gema dari sesuatu yang dulu kusebut cinta. Dan darahku— biarlah ia mengalir. Itu satu-satunya cara aku tahu bahwa aku masih hidup di tengah dunia yang menuntut melupakan.
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran) Aku menemukan pecahan itu di dalam ruangan tanpa pintu: bersih, presisi, seperti bukti awal sebuah kesalahan yang tidak memerlukan saksi. Bening itu—yang pernah kusangka hidup— kini hanya memantulkan jarak antara tangan yang gemetar dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi. Athalia, namamu masih menempel pada permukaan kaca, seperti sebutir nadi yang menolak menjadi tubuh. Tidak ada tragedi di sini. Hanya perhitungan yang meleset dari sesuatu yang sedari awal terlalu rapuh untuk kuasaku yang terbiasa mengukur dunia dengan ketidakpastian. Darah di jari-jari— itu pun bukan pengakuan, melainkan residu dari percobaan yang belum selesai. Tubuhku sekadar catatan kaki bagi retakan yang bekerja lebih cermat daripada perasaan. Aku mencatat: bahwa bening tidak dapat dipanggul seperti gagasan. Bahwa harapan tidak memiliki sendi untuk menahan tekanan. Bahwa cinta, pada saat tertentu, adalah objek yang menolak takdirnya sendiri. Kau jatuh, Athalia, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai fenomena: gerakan singkat cahaya yang gagal mempertahankan bentuknya. Dan aku— aku hanya pewaris sunyi yang diam-diam menimbang apakah retakan ini adalah bukti rusaknya dirimu, atau rusaknya aku yang percaya sesuatu dapat disembuhkan hanya dengan sekadar memegangnya. 2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian) Ada jejak cahaya di lantai yang mengingat langkahmu lebih baik daripada diriku. Pagi tadi, aku menemukan secuil bening yang pernah memantulkan wajahmu. Ia diam saja, seperti hendak mengatakan bahwa pecah tak selalu harus bersuara. Athalia, aku memanggilmu dalam hati —dan seperti biasa— angin yang datang menjawab. Ia membawa sedikit debu, yang menempel pada namamu di kaca yang perlahan mengabut. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Kadang benda yang rapuh memilih retak sebelum kita sempat menjaganya. Kadang hati lebih dahulu mengerti apa yang tidak ingin ia akui. Sejak itu, aku belajar duduk lebih pelan di ruangan yang kau tinggalkan terbuka. Tidak ada yang berubah di sini, kecuali cahaya yang semakin tipis lurus menyusuri tembok, mencari sesuatu yang tak bisa kembali. Aku masih menyimpan suaramu di sela napas yang lewat begitu saja. Dan jika aku meletakkan telapak tanganku di atas serpihan itu, aku tahu yang terasa bukan sakit— melainkan ingatan yang belum selesai pergi. Begitulah cinta bekerja, bukan? Ia tinggal lebih lama daripada mereka yang pernah merawatnya. Dan pada akhirnya, kita adalah dua nama yang saling kehilangan secara perlahan, tanpa pernah benar-benar mengucapkannya.
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 3. RU ANG PE CAH A THA LIA (Abstraksi Reruntuhan) Lorong itu masih berdebu. Seperti paru-paru gedung tua yang tersedak nama kita. Sebuah pintu terbuka. Engselnya berdecit, menyebutmu dalam bahasa besi yang menumpuk dirinya sendiri dalam reruntuhan. Di lantai: serpihan gelas, kilat kecil memantul lampu neon yang mendengung. Doa yang dipotong oleh sengatan listrik. Athalia, kau berjalan melewati hidupku seperti bayangan di CCTV— tampak, hilang, tampak lagi, gemetar tanpa suara. Aku mencoba menyentuhmu melalui pantulan kaca, tapi kaca itu pecah menjadi kota yang lain: gedung-gedung runtuh, jam retak, tangga darurat, kabel listrik menjuntai seperti urat-urat hujan yang kelelahan. Aku memungut serpihan dengan tangan telanjang. Jariku berdarah, mengalir perlahan ke arah retakan di lantai, menyusuri jalur seperti peta yang dibuat oleh tubuh yang lupa program aplikasinya. Di atas meja, ada catatan tanpa huruf. Seperti kalimat yang menolak menjadi suara. Di udara, bau logam, bau kehilangan yang tak punya suhu tak punya kenangan. Kau pernah bening, tapi aku terlalu percaya pada transparansi benda-benda. Kau menjadi pecahan pertama yang sungguh mengerti bagaimana luka tinggal tanpa perlu menetap. Aku ingin marah, tapi amarah itu hanya berdiri sebagai kursi kosong menghadap jendela yang tak bisa dibuka. Malam menempel di kulit, seperti plastik hitam yang membungkus ingatan. Aku menggeser bayangmu dari cermin ke cermin— namun cermin itu malah memantulkan diriku yang sudah retak lebih dulu. Kita berdua, dua mesin kecil yang kehilangan suara dinamo. Tak bisa pergi, tak bisa tinggal. Hanya berdengung di dalam ruangan yang menua bersama debu. Athalia, jika ada yang masih hidup dari kita, mungkin itu hanya denting terakhir serpihan gelas yang tak sempat memilih ke mana ia ingin jatuh. 4. DARAH YANG TAK MAU JADI KENANGAN (Abstraksi Eksistensial) ada getir yang tak mau tua mengendap di rongga dada seperti luka yang menolak mati. kau— gelas bening yang lama kusembunyikan di balik kelopak mata. ketika pecah, suara retaknya menyambar malam: mengiris lebih dulu sebelum sempat kutangisi. aku tak meminta ampun. tak juga mencari siapa salah. yang kutahu: tanganku sendiri gemetar menjatuhkan harapan yang kutimang seperti bayi yang kehausan. dan darah itu— ah, darah yang terus memanggil namamu dari lorong gelap yang tak selesai kubakar. aku marah. aku diam. dua hewan liar saling menggigit. jika kau datang lagi, kupikir aku tetap akan meraihmu meski tahu kau dapat mematahkanku sekali lagi. aku sudah lama belajar: beberapa luka yang tak bisa dikubur. mereka hidup seperti bara— kecil, malu-malu, tapi cukup untuk menghanguskan satu kehidupan. aku berdiri di sini dengan dada yang robek tanpa janji, tanpa doa— hanya sedikit keberanian untuk menyebut luka ini dengan namanya sendiri. dan itu cukup. untuk malam ini.
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 5. NYANYIAN GELAS YANG PECAH (Abstraksi Teatrikal) Malam ini angin membawa kabar pahit. Seperti suara kampung yang kehilangan lampu, sepotong gelas kristal pecah di tengah rumah hatiku. Ah, Athalia… namamu seperti burung kecil yang dulu hinggap di jemariku dengan percaya. Kini bulunya rontok satu per satu dan aku hanya bisa menatap, tak mampu menangkapnya kembali. Aku pernah menjaga harapanmu seperti petani memeluk benih di dada tanah yang tandus. Tetapi hujan tak datang. Dan tanganku sendiri tanpa sengaja menggugurkan musim itu. Darah menetes pelan— bukan dari luka yang kau buat, tetapi dari marah yang lama kubiarkan mengeras seperti batu sungai. Aku merasa sangkakala kesunyian menderu di ruang dada. Ada pertarungan antara percaya dan putus asa: dua kuda liar saling berkejaran meninggalkan jejak debu di tenggorokan. Namun, wahai diri… siapa yang dapat melawan nasib ketika ia mengetuk pintu seperti tamu tak diundang? Maka kuterima kepedihan dengan langkah pelan seperti aktor tua yang masih menghafal naskah yang tak selesai. Gelas itu pecah. Harapan itu retak. Tapi dari serpih kepingannya aku melihat langit kecil yang masih mau memantulkan cahaya. Dan itulah sebabnya meski dada ini bergetar seperti genderang perang, aku tetap menulis, menamai luka, melagukan sepi. Karena hanya dengan begitu aku tahu aku masih hidup. 6. RUMAH KECIL TEMPAT KENANGAN BERISTIRAHAT (Abstraksi Keintiman Psikologis) Athalia, aku menulis namamu pelan-pelan seperti seseorang yang menyalakan lilin di ruangan yang ingin ia lupakan tapi tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ada saat-saat tertentu di mana kenangan berjalan kembali seperti tamu yang tahu letak gelas dan di mana aku menyembunyikan kerapuhan. Mereka mengetuk pintu, masuk tanpa kuundang, duduk di kursi yang pernah kau pilih sambil menanyaiku hal-hal yang tak sanggup kujawab. Aku ingin berkata semua baik-baik saja. Tapi aku tahu kata-kata itu adalah jembatan rapuh yang dibangun dari cuaca yang serba tak menentu. Ketika gelas kristal itu pecah, tak ada doa yang sanggup memperbaikinya. Tetapi serpihannya masih menyimpan pantulan wajahmu— pelan, nyaris kabur, tapi tetap membuatku berhenti bernapas. Aku marah pada diriku sendiri karena tidak cukup baik menjadi seseorang yang bisa kau percayai. Marah pada waktu karena selalu melangkah lebih cepat dari yang bisa kuikuti. Marah pada nasib karena sering memotong jalan tanpa memperingatkan. Namun paling sering, aku hanya diam. Diam yang panjang. Diam yang mengendap, berat seperti hujan yang enggan jatuh ke tanah. Aku belajar memahami bahwa beberapa luka tidak ingin sembuh. Mereka hanya ingin ditemani. Dan jika ada satu hal yang tak sanggup kuhapus, itu adalah cara kau menatap dunia yang membuatku ingin menjadi versi terbaik dari seseorang yang bahkan belum kukenal dalam diriku. Athalia, ruangan itu masih terbuka. Tidak untukmu kembali, tidak pula untukku berharap. Hanya untuk membiarkan cahaya masuk sedikit lebih jauh agar aku bisa melihat jelas bahwa mencintaimu adalah cara paling lembut untuk belajar tentang luka. Desember 2025
Titon Rahmawan
Elegia Saras Saras, aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar, seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian, membawa potongan malam di sela-sela jarinya. Aku tak pernah benar-benar tahu mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan seluruh nilai kemanusiaannya. Aku hanya tahu: ketika aku mulai berubah menjadi bayangan yang tak lagi memiliki suhu, kau duduk di sebelahku dan memanggilku manusia. Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu— sebuah retakan yang tak membuatku runtuh, melainkan membuatku mendengar detak terakhir jiwaku sendiri. Aku harus mengaku: aku telah membawa banyak hantu. masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh. Semua kekeliruan yang kubela seperti altar. Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung. Namun kau tidak pernah menutup pintu. Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku seperti abu. Kau hanya berkata: biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi. Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong, yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus, yang bisa begitu hadir tanpa mengikat apa pun. Kebaikanmu adalah semacam cahaya yang tidak menghanguskan, api panas lembut yang membuatku sadar bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang. Di titik paling nadir, ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh seperti bangunan tua yang disenggol angin, ketika tak ada yang tersisa dariku selain ampas keinginan dan debu kegagalan, aku berharap kau pergi. Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah karena masih ada seseorang yang menatapku sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Namun kau tidak pergi. Kau diam di sisiku dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri, aku berhenti. Hanya berhenti. Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri, tak lagi ingin membenci suara di kepalaku. Semuanya berhenti, karena kau tidak pergi ketika aku hancur. Saras, elegi ini bukan permintaan maaf. Bukan pula pujian. Ini adalah tubuhku yang terakhir, ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui: Aku bersyukur. Bersyukur karena pernah memilikimu, melewati ingatan pahit, hasrat yang menyesatkan, ambisi yang membuatku buta, dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri. Aku bersyukur karena kau tidak pernah menuntut balas. Tidak pernah meminta bahu yang setara. Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku. Kau hanya mencintai dengan cara yang menakutkan bagiku— karena terlalu jujur, terlalu manusiawi, terlalu nyata untuk seorang sepertiku yang lama tinggal di ruang ilusi. Kini aku menuliskan puisi ini sebagai seorang yang akhirnya sadar: tanpa kau, Saras, aku mungkin telah hilang di dalam kabut pikiranku sendiri. Harapan terakhirku adalah kau tahu bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar, dari semua wajah yang pernah kucintai dengan cara yang salah, hanya kaulah yang membuatku ingin tetap ada. Bukan demi cinta. Bukan demi masa depan. Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana, lebih jujur, lebih manusiawi: agar aku bisa menjadi manusia yang tidak lagi menyakiti diri sendiri. Saras, elegi ini adalah bukti terakhir bahwa di dalam gelap terdalamku ada satu cahaya kecil yang tidak pernah padam— dan itu bukan aku. Itu adalah dirimu. November 2025
Titon Rahmawan
NISAN KEEMPAT tanah pesarean hening. angin wetan membawa bau akar basah dan jejak rotasi yang belum hilang. aku berdiri di samping istrimu— tubuhnya goyah seperti daun sawo yang dipagut gerimis. anak-anakmu diam, mata mereka retak seperti kendi tua yang pernah jatuh di pawon rumah. dari kejauhan puisi tercenung ia tak menunduk. tak ikut berduka. ia hanya mencatat luka yang merembes pelan ke tanah liat. kafan menutupi wajahmu. pundakmu dipeluk tanah. suara cangkul terdengar seperti ratap yang tak ingin pergi. seekor prenjak meloncat di ranting randu. sekali. dua kali. hening. lalu terbang ke arah barat— seakan memberi kabar kepada leluhur bahwa satu jiwa telah kembali. asap dupa naik pelan seperti nyala yang kehilangan tuhan. di ujungnya warna abu bergetar mencari arah pulang. “Ruh…” hanya itu yang sempat keluar. sisanya adalah gumam yang tak sempat menjadi doa. dulu aku kehilangan kangmas Danu tanpa tahu apa artinya mati. lalu aku terlambat kepulangan Bapak. terlambat kepergian Ibuk. kini ketelambatan itu kembali duduk di belakangku seperti bayang waktu yang enggan beranjak. nisanmu ditegakkan. dingin. sederhana. tanpa nama. sepotong batu yang menimbang keberadaan dengan cara yang terlalu sunyi. dari sela tanah angin kecil muncul— membawa bau jamur, rumput liar, dan sesuatu yang tak dapat kusebut. mungkin itu suwung, mungkin langgatan, mungkin waskita getar kecil yang tersisa dari tubuhmu. anakmu memanggil pelan. istrimu menggigit bibir. aku menahan napas sebab tak ada kata yang benar-benar bisa mengantar jiwa. geguritan di kejauhan hanya penanda mengambil satu langkah mundur melipat waktu yang berjalan lambat cahaya sore mengiris tubuhnya tipis seperti garis di punggung keris tua. di langit awan bergerak ke selatan. pelan. seperti tangan yang ditangkupkan atau melambai bahwa sesuatu sedang ditutup. dan aku tahu— di bawah nisanmu satu pintu telah terbuka di dalam Syamaloka: pintu gelap yang menghubungkan Danu, Bapak, Ibuk, kau, dan batu nisan berikutnya yang mungkin adalah nisan dari batin kami sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
KISAH KAKTUS (Dalam 6 Fragmentarium) 1. Fragmentarium Patah — Reruntuhan Melekat di Kulit Hijau Kaktus tumbuh dari retakan yang tidak pernah kita selesaikan. Tubuhnya menyimpan bekas-bekas gerak pecah: duri sebagai kalimat yang patah, bulu halus sebagai notulen dari luka yang pernah tertunda. Di pondok itu waktu rebah dalam bentuk geometri rusak— segitiga yang hilang satu sisi, kotak yang kehilangan dinding. Kaktus tidak mengenal kesedihan. Tetapi setiap pagi aku menemukan serpih hening menempel di batangnya, seperti ingatan yang gagal kembali ke tubuh manusia. 2. Fragmentarium Gelap — Litani yang Bernafas dalam Kabut Hitam Kabut menebal. Mengubur halaman sajak dengan logika yang tak ingin diingat. Nenek itu datang, menanam senja di ketiak kaktus, menusuk dengan jarinya seolah membuka pintu rahasia yang sembunyi di antara lipatan kulit hijau mengeras. Dari ketiak itulah waktu keluar: hitam, pekat, berbau dingin seperti logam tua. Orang-orang datang, menjejali ruangan dengan benda yang tak meminta dikasihi— tembuni, seruling, vas, cangkang, kaos kaki basah. Semua bergerak di bawah cahaya gelap yang memanjat batang kaktus seperti doa yang tersesat. 3. Fragmentarium Dingin — Anatomi Luka yang Tidak Menginginkan Kehangatan Cahaya masuk lewat genting pecah. Ia mengenai pot keramik, dan gelas bening menyimpan dinginnya seperti rahim yang menolak janin takdir. Kaktus melihat bulan dikunyah anjing di pagi gerimis— peristiwa itu menetes ke dalam memori hijau yang belum tahu arah. Sebelum arti datang, dingin menata dirinya di jantung kaktus. Ketika duri dicabut, bukan darah yang jatuh, melainkan partikel sepi yang bergetar seperti denting logam di ruang operasi. 4. Fragmentarium Klinis — Manual Bedah dari Tubuh yang Tidak Mengerti Diri Sendiri Setiap duri adalah instruksi. Setiap bulu halus adalah catatan diagnostik. Kaktus: organ penyimpan air, organ pengukur waktu, organ yang mengganti fungsi rasa dengan kalkulasi ketahanan. Nenek itu memetik waktu dari lipatan keriputnya— gestur itu klinis, seperti meraba denyut pasien yang tidak ingin hidup dan tidak ingin mati. Waktu: objek, bukan cerita. Unit, bukan luka. Sampai suara mikrofon pecah di mulutnya, memecahkan halaman sajak menjadi angka-angka yang tidak merindukan makna. 5. Fragmentarium Sunyi — Rongga yang Menghindari Semua Nama Kaktus adalah rongga. Yang tumbuh hanyalah sunyi. Di tubuhnya tidak ada kata yang menetap. Hanya gema yang datang, menyentuh sejenak, lalu melesap ke dalam dinding pondok yang tidak mencatat siapa pun. Bayangan duduk di sofa merah dan tidak berkata apa-apa. Bulan ikut duduk, lebih diam dari bayangan itu. Kaktus tidak memahami kesedihan. Tetapi ia mengerti betapa sunyi dapat menyamar menjadi cahaya, betapa cahaya dapat menyamar menjadi air mata yang tidak pernah menetes. 6. Fragmentarium Kosmologis — Topologi Duri, Cahaya, dan Takdir yang Melengkung Kaktus meminum cahaya dan menemukan bahwa kosmos bukan langit di luar pondok, melainkan ruang kecil dalam jantungnya sendiri. Duri adalah orbit. Bayangan adalah rotasi lambat dari waktu yang berbiak. Ketika cahaya jatuh ke gelas, kaktus melihat dirinya sebagai serpih bintang yang gagal meletus. Ia meneguknya— cahaya turun seperti gravitasi retak. Dan tiba-tiba ia paham: rasa sakit bukan milik tubuh, melainkan milik semesta yang menunda kelahiran. Kaktus pun menyala, dengan cara yang hampir tidak terlihat: sebuah bintang hijau yang memilih berputar di dalam sumsum tanpa memohon untuk ditemukan. Desember 2025
Titon Rahmawan
KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS 1. Kidung Duri yang Direbus Matahari (Historical—Politics) Kaktus tumbuh dari bara, dari dada bumi yang retak oleh lapar dan dahaga yang diseret angin. Ia berdiri seperti—lelaki hijau— menyimpan segenggam air seperti seorang ibu menyimpan roti untuk anak satu-satunya. Duri-durinya mengingatkan aku pada teriakan pedagang garam, pada nyanyian buruh nelayan yang patah di bawah peluit penguasa. Kaktus, tubuh kecil yang keras, yang tetap hidup ketika cinta laki-laki diseret banjir sejarah. Ia menyimpan matahari begitu lama hingga panasnya menjadi bahasa, dan aku membaca padanya sebuah puisi yang tak menginginkan apa pun selain bertahan dari luka, bertahan dengan cara paling indah. 2. Kesunyian Sukubus Hijau (Dialectical—Paradox) Di tengah gurun yang gemetar, kaktus memanggul diam. Di dalam diam itu mengalir jam pasir yang balik, menghapus langkah-langkah yang belum sempat kita buat. Duri adalah kata yang menahan napasnya sendiri. Luka yang ingin menjadi bahasa, bahasa yang ingin menjadi tubuh. Aku mendekat, dan waktu runtuh seperti bayangan tanpa raga. Kaktus membuka ruang— ruang yang menatapku kembali: sebuah mata tak bernama yang mengingatkan bahwa seluruh rasa sakit berasal dari ketidaksabaran untuk menjadi abadi. Dan di sana aku melihat wajahku yang tidak hidup, tidak mati, hanya bergerak seperti pasir dihisap rembulan. 3. Opera Duri Hitam (Hallucinatory—Symbolism) Aku melihatnya: sebuah menara hijau yang terbakar di padang pasir violet, tempat angin berteriak dengan lidah logam. Kaktus itu bangkit dari mimpi setan mabuk, mengibar seperti bendera yang pernah dicium matahari hitam. Duri-durinya melesat— meteor kecil yang menyanyikan napalm. Aku mendengar gelaknya, gelak anak yatim yang menelan badai. Dan ketika bayanganku mencoba pulang, kaktus itu menelannya, membuatku tercerai menjadi warna-warna yang tidak dikenal bunga mana pun. Aku pun berjalan tanpa tubuh, mengikuti kaktus seperti nabi gila yang kehilangan kitabnya di bawah jam yang menembak dengan peluru cahaya.
Titon Rahmawan
ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN IV. Triptych of the Flowery Dwarf 1. Padma Di kolam itu, bulan merintih seperti kuda putih yang kelelahan. Dari lumpur, Padma bangkit— mengenakan gaun malam yang dijahit dari nafas nenek moyang hantu air. Ia membuka kelopaknya dan terdengarlah suara gitar jauh di perbukitan: suara yang lahir dari luka dan kembali menjadi luka. 2. Kemuning Kemuning menari sendirian di halaman senyap tanah Jawa. Kuningnya bersinar seperti cincin emas di jari seorang janda muda yang tak ingin menikah lagi. Angin membawa kabar bahwa setiap kelopak pernah menjadi mata seorang anak yang mencari ibunya di hutan paling gelap. 3. Mawar Mawar adalah gadis penari yang menyembunyikan pisau kecil di balik selendang merahnya. Ia tersenyum pada fajar tapi senyum itu terbakar sebelum sempat jatuh ke tanah. Di sekitar durinya, kurcaci menari— menebar dingin pada udara, menghembus nyawa pada warna. V. Three Flowers upon the Turning Gyre 1. Padma Di permukaan air yang tua, Padma berdiri sebagai pengingat bahwa dunia pernah muda. Ia membuka dirinya seperti wahyu kecil dari zaman yang nyaris terlupa, zaman ketika roh dan manusia masih bersalaman tanpa rasa takut. 2. Kemuning Dalam kilau keemasannya, ada masa depan yang belum tiba. Ia melintas seperti burung kepodang di antara dua lingkaran takdir, seakan mengetahui bahwa segala kecantikan adalah nubuat berbahaya yang menuntut korban. 3. Mawar Mawar tumbuh di jantung lingkar perputaran— tempat para dewa lama dan para pahlawan muda saling menatap tanpa bicara. Merahnya adalah sumbu yang menyalakan usia-usia dunia; duri-durinya adalah penjaga yang tahu bahwa cinta selalu menuntut kelahiran kedua. VI. Three Flowers of Memory 1. Padma Aku melihatmu, Padma, di kolam yang tak berani menyebut nama kekasihnya. Kau tegak, seperti perempuan yang menunggu suami yang tak kembali dari perang. Kelopakmu diam— diam yang berat, diam yang hanya dimengerti oleh air yang pernah menangisi salju. 2. Kemuning Engkau kecil dan lembut, tapi menyimpan dingin yang tak mampu dipatahkan matahari. Kuningmu mengingatkanku pada sepucuk surat yang tak pernah terkirim, namun tetap dibaca oleh seseorang yang terus menunggu di malam-malam panjang pengasingan. 3. Mawar Duri-durimu mengingatkan pada kata-kata yang tak kuucapkan. Merahmu seperti wajah seorang ibu yang tak lagi menjerit karena telah kehabisan suara. Aku menyentuhmu, dan kau bergetar— seperti hati perempuan yang tahu bahwa cinta lebih kuat dari kematian, namun selalu kalah oleh sejarah. Desember 2025
Titon Rahmawan
ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN I. Triptych of the Burning Earth 1. Padma Engkau bangkit dari air seperti wajah pagi yang baru dibasuh cahaya. Di tubuhmu, lumpur berbicara dalam bahasa diam, dan aku mendengar suara kulit buah merekah di bawah kelopakmu. 2. Kemuning Ada matahari kecil yang patah di tengah daunmu. Ia mengirim aroma samar yang ingin menjadi musim panas, namun hujan menahannya dalam ambang yang gemetar. Setiap kuningmu seperti lantunan terakhir dari gitar yang terlalu letih untuk bernyanyi lagi. 3. Mawar Kau adalah mulut bumi. Kau berdarah dari telapak yang lapar pada sentuhan. Aku menunduk, membaca dagingmu seperti membaca sebuah puisi yang dipahat angin. Duri-durimu adalah alasan mengapa cinta memilih manusia untuk menangis. II. Three Flowers as Gateways to the Soul 1. Padma Di dasar air yang tak bernama, ia menunggu kelahirannya sendiri dalam bentuk doa paling sunyi. Segala cahaya yang menyentuhnya tidak datang dari dunia, melainkan dari ruang terdalam tubuhnya yang telah lama menahan sebuah jawaban. 2. Kemuning Ia berdiri sebagai jeda antara dua tarikan napas Tuhan. Warna lembutnya adalah gema dari sesuatu yang pernah sempurna, namun memilih menua agar dapat kembali ke tepi. Setiap daun yang jatuh mengajarkan cara pulang tanpa melangkah. 3. Mawar Lihatlah ia menutup dan membuka seperti hati seorang malaikat yang belajar menjadi manusia. Dalam merahnya ada suara yang tidak ingin diucapkan, sebuah beban keindahan yang hampir menjadi derita. Duri-durinya adalah pemisah halus antara kasih dan keterlucutan total. III. The Thorned Trinity 1. Padma Aku melihatmu bangkit dari rawa yang dingin, membawa diam yang tak ingin disentuh siapa pun. Air menelan bayanganmu, tapi kau tetap mengembang, seperti luka yang memilih membesar. 2. Kemuning Kuningmu adalah memar lama yang tidak pernah sembuh. Kau berdesis dalam cahaya seakan ingin kembali menjadi benih, menghapus sejarah kecilmu yang terlalu rapuh untuk diselamatkan. Ada ketakutan samar di setiap hela nafasmu. 3. Mawar Kau adalah pisau merah yang menyamar sebagai bunga. Kelopakmu gemetar oleh ingatan yang tidak mau mati, sementara duri-durimu mengunyah udara seperti gigi yang menahan amarah. Aku mencium aromamu dan merasakan besi. Aku menyentuhmu dan mendengar sesuatu di dalam diriku retak.
Titon Rahmawan
Palsu II: Ego yang Menyembelih Dirinya Sendiri Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh, sementara bayangannya sendiri menolak pulang? Di malam yang tak memerlukan bulan, aku melihat mereka—dan diriku— terperangkap seperti hewan buruan yang tersesat di hutan kelam pikiran. Hujan turun tanpa suara. Tanah meminum angkara. Seseorang menjerit di luar sana… dan tak seorang pun peduli. Ego itu— yang mereka bela seperti anjing lapar yang tak mengenal tuannya— mendesis di sela tulang rusukku, menggigit, menyobek, menelan segala sesuatu yang ingin kusebut sebagai aku. Tak ada yang tahu siapa yang pertama kali menusukkan pisau ke pusat kesadaran. Entah akal yang meronta, atau bayang-bayang yang selama ini dibesarkan diam-diam oleh dendam. Ia adalah tangan asing yang lahir dari retak imajinasi, tertawa saat darah jatuh tanpa jejak emosi. Dunia tak menatap. Lampu-lampu padam sebelum gelap datang. Jalan-jalan terbelah seperti gempa; denyut jantung ingin lari dari dadanya sendiri. Beberapa orang berjalan miring karena tak sanggup menanggung beban di kepalanya. Yang lain menyeret bayangan yang memberontak seperti anak haram yang menolak mengakui bapaknya. Di televisi, papan reklame, musik yang memekakkan, aku melihat wajah yang sama— wajah yang menolak mengakui bahwa tubuh tempat ia tinggal sudah lama membusuk oleh kebohongan kecil yang disembah setiap malam. Mereka bertanya: “Masihkah darah berwarna merah?” Aku diam. Karena warna tak berguna bagi mereka yang kehilangan mata untuk melihat luka— dan hanya punya mata untuk menakar siapa lebih tinggi, lebih suci, lebih benar dalam dunia yang bahkan tak punya tanah untuk berpijak. Di sebuah pulau tanpa nama, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri agar percaya bahwa ia pernah hidup sebagai manusia— walau hanya dalam fotonya. Seorang gadis makan es krim sambil memikirkan kekasih yang ia benci namun tak mampu ia lepaskan karena kesepian lebih menakutkan daripada kebodohan. Dan di antara semua itu, aku menemukan diriku mengiris sesuatu yang tampak seperti wajah— lebih licin, lebih dingin, lebih keras kepala daripada cermin mana pun yang pernah menatapku. Ego itu meraung ketika kusayat pelan-pelan. Ia tidak mati. Ia membelah diri. Menjadi dua. Tiga. Seratus. Menjadi ribuan mulut yang menuntut penjelasan yang tidak ingin kuberikan. Sebab apa gunanya menjelaskan kepada sesuatu yang hidup hanya untuk mempertahankan ilusi bahwa ia bukan zombie? Saat itu aku mengerti: Kita tidak pernah takut pada dunia. Kita takut dipaksa mengakui bahwa yang menghancurkan kita adalah bayangan yang kita ciptakan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dan ketika ego itu akhirnya berlutut, menyembelih dirinya di bawah kakiku seperti sapi bingung yang tak tahu mengapa ia harus dikorbankan, Tapi aku tahu: yang mati bukan ia— melainkan cerita yang dengan keras kepala kuanggap sebagai kisah hidupku. Yang hilang adalah kebohongan yang selama bertahun-tahun kubiarkan menyusu pada pikiranku. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang tak memerlukan cahaya, tak memerlukan jawaban, tak memerlukan nama. Ruang hampa menatap balik seperti dunia. Tanpa mata. Tanpa cinta. Tanpa iba. Dan aku pun masuk. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai penyintas. Tetapi sebagai sesuatu yang akhirnya menghilang tanpa perlu menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia harus hilang. November 2025
Titon Rahmawan
PERTAPA (Dalam Bayang Angulimala, dalam Sunyi Kabinara, dalam Nafas yang Tak Bernama) Ketika ambisi runtuh seperti dedaunan yang kehilangan ingatan, ia berhenti mencari alasan mengapa kata-katanya tak lagi memiliki gema. Sunyi bukan kebisuan; sunyi adalah ruang yang menolak semua bentuk keinginan. Dalam gelap gua itu, ia membiarkan pendengarannya ditelan kegelapan hingga telinga menjadi batu dan hati berhenti menafsirkan mimpi— sebab mimpi hanyalah cara tubuh menipu dirinya sendiri. Desis angin berubah gagu, matanya buta bukan karena kegelapan, melainkan karena cahaya batin terlalu terang untuk diterima oleh mata manusia. Dari situ ia memperoleh sesuatu yang lebih tajam daripada pengetahuan: pengendalian diri yang lahir bukan dari disiplin melainkan dari penolakan total terhadap “aku” yang ia yakini. Apa yang ia makan hari itu? Hanya sisa tetesan dari bebatuan— air tanpa nama yang mengajari bahwa rasa lapar bukan kutukan tubuh, melainkan ajaran alam tentang ketergantungan. Waktu menjadi kabur, seperti kabut pagi yang lupa menghilang. Tak ada pagi, tak ada malam, tak ada hitungan hari yang dapat ia pegang. Hanya semedi dalam gua gelap yang menghapus batas antara hidup dan mati, yang memperlihatkan kepadanya: kesadaran bukan nyala api, melainkan abu yang tak padam. Di situlah ia belajar bahwa kekosongan bukan ketiadaan, melainkan ruang asal di mana setiap amarah, dendam, dan luka dapat terlepas seperti kulit ular yang dipakai terlalu lama. Cahaya mentari menetes di antara lumut, membelai tubuh yang perlahan menjadi batu: tak reput oleh waktu, tak terbakar oleh api, tak basah oleh hujan, tak kering oleh angin, tak terluka oleh senjata. Ia diam, bukan sebagai benda, melainkan sebagai kesadaran yang tak lagi membutuhkan bentuk. Ajek. Tak berubah. Tak berpindah. Tak terlahirkan. Tak terpikirkan. Ia memasuki keadaan yang tak bisa dimiliki siapa pun, tak bisa dibeli dengan tapa, tak bisa dijelaskan dengan sutra. Ia sekadar menjadi: abadi tanpa keinginan untuk kekal. Hampa yang memeluk dirinya— dan ia pun lenyap sebagai “aku,” menyisakan hanya satu jalan: jalan pulang ke pusat yang tak punya nama. (Mei 2014 - 2025)
Titon Rahmawan
PERTAPA — Versi Anatta, Klesa-Vināśa, Saṃnyāsa & Viśuddhi (Di mana Kesadaran Meleleh dan Aku Runtuh seperti Komet yang Kehilangan Intinya) Ketika ambisi terakhir patah, ia merasakannya seperti gugurnya inti komet yang selama ini ia kira adalah “dirinya”. Batu, es, debu—semuanya luruh dan tak tersisa apa pun yang bisa disebut aku. Di titik itu ia memahami: yang runtuh bukan mimpinya, melainkan ilusi bahwa yang bermimpi itu ada. Ia berhenti bertanya mengapa kata-katanya tak lagi memiliki gema. Sebab gema memerlukan dinding, sedangkan seluruh dinding dalam batinnya telah retak dan ambruk seperti stupa kuno yang akhirnya menyerah pada hujan musim keempat belas. Ia memasuki wilayah anatta— kesadaran tanpa pusat, kesadaran yang tak memiliki pemilik, kesadaran yang hanya terjadi seperti cuaca. Hening datang bukan sebagai berkah, melainkan sebagai klesa-vināśa yang membakar, yang mencabut seluruh akar ego seperti badai kosmik mencabut orbit planet. Dalam viśuddhi telinganya menjadi tuli karena ia tak lagi mendengar dunia, melainkan mendengar runtuhnya diri sendiri— sepenuhnya tanpa suara. Mata menjadi buta karena segala bentuk telah nir wujud; yang tersisa hanya gerimis, cahaya tak kasat mata. Inilah awal nāmarūpa-nirodha: ambruknya gagasan “siapa aku”, seperti tubuh bayangan yang kehilangan mataharinya. Dalam gelap gua itu ia menyaksikan semua identitas meluruh seperti serpih es yang dikembalikan ke bentuk asalnya: air, lalu uap, lalu lenyap. Ia merasa dirinya seperti nebula yang terbakar perlahan, membiarkan amarah, dendam, nafsu, dan memori lama menguap satu per satu seperti partikel materi yang gagal bertahan di tepi lubang hitam batin. Di situlah saṃnyāsa membuka pintunya— pencerahan gelap, bukan terang: kesadaran yang lahir dari kehancuran total, bukan dari kejernihan. Ia melihat kebenaran yang tak ingin dilihat siapa pun: bahwa “aku” hanyalah getaran singkat di permukaan vakum yang tak berhingga, bahwa segala penderitaan berakar pada keinginan mempertahankan sesuatu yang tak pernah eksis. Butir air yang ia minum adalah doa pertama. Tetesan batu adalah doa kedua. Sunyi adalah doa ketiga— dan ketiganya tidak ia tujukan kepada siapa pun, sebab tak ada subjek, tak ada objek, tak ada pemohon. Hanya kesunyian yang berdoa kepada dirinya sendiri. Waktu runtuh menjadi debu; ia tak lagi tahu apakah ia meditasi satu jam, atau seribu tahun. Jam pasir batinnya pecah, membiarkan butiran waktu tersebar tanpa arah. Dalam kehampaan itu ia menjadi monolit yang sadar: tak bergerak, tak bereaksi, tak menolak, tak menginginkan. Ia tidak lagi menjadi manusia. Ia tidak menjadi dewa. Ia tidak menjadi apa pun. Ia menjadi kekosongan yang menyaksikan dirinya sendiri, tanpa saksi, tanpa penonton, tanpa pemeran. Ia memasuki keadaan di mana kelahiran dan kematian tidak lagi bermusuhan, melainkan dua sisi dari pintu yang sama— pintu yang kini ia lewati tanpa meninggalkan jejak bayangan. Diam. Ajek. Tak terlahirkan. Tak terpikirkan. Tak memiliki inti. Tak memiliki akhir. Ia menjadi kesunyian purba tempat segala ilusi berakhir. (November 2025)
Titon Rahmawan
ANATOMI CINTA (dingin, klinis, nihilistik) Aku masuk ruang autopsi itu dibayangi pretensi dan halusinasi. Aku nyalakan lampu neon dingin yang mengiris mata. Aku kenakan sarung tangan lateks dan pisau bedah #11. Ini tubuh yang harus dibedah dengan presisi dan tanpa empati. Aku mulai dari permukaan: kulit tipis yang dulu kau sebut rasa. Warnanya pucat, tak lebih dari jaringan mati yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah terwujud. Dengan pisau mikro, aku membuka lapisan idealisasi— ia terkelupas dengan mudah, seperti cat murahan yang dikerat dari dinding lembap. Di bawahnya tidak ada otot kerelaan atau pengabdian, tidak ada tendon komitmen, tidak ada saraf yang merespon sentuhan. Hanya kepingan-kepingan fantasi yang mencair ketika terkena cahaya. Aku memeriksa tulang-tulangnya: rapuh, menyerupai serpihan, retak bahkan sebelum disentuh. Ini bukan kerangka cinta, ini bangkai ilusi yang dipoles dengan ingatan palsu. Aku membelah rongga dada: kosong. Tak ada jantung. Tak ada paru-paru. Tak ada vena yang menyalurkan kehangatan. Hanya gema langkahku sendiri, memantul seperti seseorang yang terjebak di lorong rumah sakit tua. Aku mengangkat kepalanya, mengupas kulit batok pikirannya: di sana kutemukan diriku— berkali-kali memahat wajahmu dengan imajinasi yang kupaksakan agar tampak suci dan tak tersentuh. Apa yang aku temukan: ternyata aku mencintai pantulanku sendiri lebih dari dirimu. Aku mengambil sampel terakhir: sisa-sisa asa yang tak pernah kau beri. Kumasukkan ke dalam tabung formalin— diam, mengambang, tanpa makna. Kesimpulan autopsi: Cinta ini mati bukan karena kehilanganmu. Cinta ini mati karena aku mengira ilusi bisa berubah menjadi manusia. Dan kini, dengan tangan yang masih berlumur darah dari nyala yang telah mendingin, aku menutup kembali tubuh yang tak pernah hidup itu. Pada labelnya kutuliskan: “Penyebab kematian: Idealisasi yang berlebihan. Subjek: Tidak pernah ada.” Desember 2025
Titon Rahmawan
404: Empathy Not Found [system message] Faith.exe gagal dimuat. File rusak sejak pembaruan terakhir peradaban. Bukankah kegelapan itu— sejenis underground server room, tempat kesadaran disimpan dalam format zip, dan doa diunggah dalam gelap tanpa penerima? Kau menyebutnya “ruang bawah tanah”, aku menyebutnya “cache of forgotten souls.” Lagu yang sama diputar ulang: verse tentang penebusan, bridge tentang kematian, refrain yang diulang, diulang, diulang— sampai maknanya terkikis oleh algoritma rekomendasi. Kita memutar ulang sejarah dalam loop playback, mengganti bait dengan data, mengganti iman dengan simulation of belief. (notification ping!) “Kebenaran trending di tab spiritual.” Siapa yang percaya? Siapa yang membeli? Tak ada lagi nabi di pinggir jalan, hanya content creator yang menjual mukjizat instan dalam format video berdurasi 59 detik. [insert advertisement here] “Temukan ketenangan batin versi 2.1 — dengan AI-guided meditation dan sertifikat kebahagiaan abadi.” Kau mengetuk pintu, tapi rumah-rumah itu hanya avatar: dindingnya terbuat dari feed, jendelanya dari comment section, penghuninya hanyalah profil palsu yang mengulang doa secara otomatis. Sejarah disunting dengan filter nostalgia, iman disesuaikan dengan subscription tier, dan kebenaran dikurasi oleh admin yang tak pernah tidur. Ide-ide memenuhi kepala seperti pop-up windows, dan mulutmu berbusa oleh update patch moralitas yang sudah kadaluwarsa. (warning:) “Overload: terlalu banyak opini. Sistem kehilangan empati!” Fantasi, ilusi, dogma— kini hanya deretan kata sandi yang gagal diverifikasi. Kau membangun altar kebahagiaan dari user agreement yang tak pernah kau baca, dan di atas pondasi rasa takut yang kau sebut iman digital. Tapi lihatlah, bahkan surga pun kini membutuhkan cloud storage. Apakah kita akan menemukan kebenaran? Tidak dengan mengalaminya. Tidak dengan mengakses apa yang telah dihapus. Kebenaran bukan lagi cahaya, melainkan glitch — sekejap kilat dalam gelap, pantulan dari mata kamera yang nyaris padam. [end transmission] Di layar terakhir, hanya satu kalimat tersisa: “Segala yang kau yakini adalah hasil edit terakhir.” (cursor berkedip. diam. tak ada respons.) // 404: Empathy Not Found // November 2025
Titon Rahmawan
Sutra Hening: Jalan Tengah di Antara Ada dan Tiada” Di titik ketika suara tak lagi membutuhkan gendang telinga, aku duduk—bukan untuk mencari terang, melainkan untuk melihat siapa yang paling gigih merindukan cahaya. Hampa menyelimuti seperti udara pagi; tidak dingin, tidak hangat— hanya ada. Bodhidharma duduk di depanku, wajahnya setegas gunung purba. Ia berkata tanpa suara: “Jika pikiran tak tenang, siapa yang ingin kau tenangkan?” Aku terdiam—bukan karena tak mengerti, tapi karena aku melihat tanganku sendiri hilang ketika hendak menggenggam pertanyaan itu. Lalu Huineng datang, bukan sebagai guru, melainkan sebagai angin yang menyingkap tirai: “Tak ada cermin. Tak ada debu. Siapa yang membersihkan apa?” Sekali lagi aku mencoba menjawab, dan sekali lagi jawabanku runtuh seperti bayang yang kehilangan tubuh. Thich Nhat Hanh datang sebagai mimpi, mengajarkan cara menatap embun tanpa menginginkan arti. Ia bilang: “Tersenyumlah pada kehadiranmu sendiri. Kesadaran itu bukan menahan apa pun, tetapi membiarkan semuanya lewat.” Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa napas bisa menjadi jembatan antara dunia yang retak dan hati yang ingin pulang. Alan Watts mengangguk, tertawa, seolah tahu bahwa tawa adalah pintu gerbang paling rahasia. “Kau bukan penumpang di dalam tubuhmu,” katanya, “kau adalah tarian antara bentuk dan kekosongan.” Aku melihat gelombang naik dan turun bukan sebagai metafora kehidupan melainkan sebagai bukti bahwa kehilangan dan penemuan selalu saling memasuki tanpa konflik. Lalu aku bertanya—dalam diam yang membungkus semuanya: Jika aku bukan murni ada dan bukan murni tiada, apa sebutan untuk jarak tipis yang senantiasa berubah antara keduanya? Jawaban yang datang bukan kata, bukan isyarat, melainkan kejernihan: bahwa paradoks bukan masalah yang harus diselesaikan melainkan lanskap yang harus ditapaki dengan sepenuh hati. Bahwa kekosongan bukan lubang tetapi ruang untuk segala kemungkinan. Bahwa kehadiran bukan beban tetapi kelahiran ulang pada setiap kedipan mata. Bahwa penyerahan bukan pasrah tetapi melihat bahwa tidak ada musuh selain cengkeram cakar sendiri. Aku menutup seluruh panca inderaku, dan untuk pertama kalinya aku memandang tanpa melihat. Aku membuka tangan, dan untuk pertama kalinya aku memiliki tanpa menggenggam. Aku membiarkan diriku diam, dan untuk pertama kalinya aku menjadi gema dari sesuatu yang jauh lebih besar dari kata “aku”. Di titik itu aku tahu: puitika paling terang lahir bukan dari hasrat yang ingin hebat, melainkan dari kalimat yang rela lenyap agar makna dapat muncul tanpa penjara. Dan di dalam lenyap itu, sebuah pertanyaan lain mengalir: Jika keheningan adalah guru yang paling jujur, siapa lagi yang harus kita dengarkan? November 2025
Titon Rahmawan
RETASAN DUA BUNGA DI PUSAT KETIADAAN (Percakapan Sakura–Kamboja dalam Konflik Kefanaan & Keabadian) I. SAKURA — Cahaya yang Tidak Selesai Menjadi Cahaya Sakura gugur bukan sebagai kelopak, melainkan sebagai serpih cahaya yang gagal menutup luka waktu. Ia melayang rendah— dingin, retak, mineral— seperti sisa bintang yang ditolak langitnya sendiri. Cahayanya tidak menghangat, tidak menuntun, hanya menunjuk ke celah tipis tempat dunia pertama kali terbelah. Ia berbicara dalam napas patah: bahwa kefanaan adalah jam rusak yang tetap berdetak meski jarumnya telah berhenti. II. KAMBOJA — Gelap yang Mengetahui Nama Kematian Kamboja mekar di tanah lembab yang mengingat setiap tubuh yang pernah menyerah kepada diam. Kelopaknya tebal seperti daging realitas yang sudah ditinggalkan kesadaran. Aromanya tidak semerbak: ia adalah katalog kematian, desis lembut yang mengafirmasi bahwa segala yang hidup hanya mampir di permukaan gelap yang menunggu dengan kesabaran purba. Ia tidak bergerak. Ia tidak meminta. Ia hanya menunggu kepulangan segala hal yang lupa bahwa ia berasal dari sunyi. III. DIALOG ASIMETRIS — Cahaya yang Terlambat vs Gelap yang Terlalu Awal Sakura berbicara lebih dulu, seperti cahaya yang memaksakan arti: Sakura: Aku adalah cahaya yang tersesat dari pusat kejadian. Kamboja: Aku adalah gelap yang telah tiba sebelum apa pun diberi bentuk. Sakura: Aku gugur karena waktu tidak sanggup memikulku. Kamboja: Aku mekar karena kematian menerima semua yang tidak selesai. Sakura: Ada seseorang yang menahan namaku di ujung lidahnya. Kamboja: Ada seseorang yang menghilang dalam diamku tanpa meminta izin. Sakura: Aku rapuh karena aku masih percaya ada yang bisa diselamatkan. Kamboja: Aku tegas karena aku tahu tidak ada yang perlu diselamatkan. IV. RETAK PRIMORDIAL — Tubuh Manusia sebagai Celah Semesta Di tengah mereka, ada aku— bukan sebagai saksi, bukan sebagai pecinta, tetapi sebagai retak primordial tempat cahaya dan gelap bertarung tanpa alasan dan tanpa akhir. Tubuhku bukan tubuh: ia adalah lorong, goa tanpa gema, batu basah yang mencatat dua bunga yang mencoba menulis ulang suratan takdir. Sakura memanggil dengan cahaya yang retak, ingin mengangkatku ke kefanaan yang pura-pura lembut. Kamboja menunggu dengan gelap yang samar menawarkan keabadian yang tidak menjanjikan apa pun. Dan aku— yang lahir dari kesalahan waktu— mendengar perjanjian yang tak pernah terucap: Bahwa cinta terlarang bukan pertemuan dua tubuh, melainkan benturan dua kosmos yang berebut celah di dalam retakan jiwa. Di sanalah, Sakura kehilangan maknanya. Di sanalah, Kamboja menemukan dirinya. Dan aku— yang tidak bisa memilih cahaya, juga tidak bisa pulang ke gelap— menjadi tiada yang mempersatukan keduanya. Desember 2025
Titon Rahmawan
Khajuraho III (Reinkarnasi Suwung) Khajuraho, di tikungan malam yang menggantung seperti dupa kehilangan napas, aku kembali menapaki jejak yang tak mau pudar. Retakan waktu yang kau tinggal sebagai isyarat bahwa sunyi pun dapat berubah menjadi tubuh —dan tubuh dapat menjadi kutukan yang tak pernah pergi. Madu, engkau bukan lagi perempuan, engkau serpih trauma yang mengapung di atas pusaran batin, suara samar dari lorong yang menelan, mendorong, memuntahkan, lalu menarikku kembali seperti arwah yang lupa jalan pulang. Di pelataran candi batin ini, aku mendengar getar yang dulu disebut hasrat: kini ia hanya bunyi gending rusak yang dipetik jari-jari waktu di atas batu-batu yang tak pernah selesai kautata. Gending yang pernah memancing nafsu, kini hanya menyalakan kabut luka yang menolak mati. Lelaplah, Madu. Atau lenalah engkau di antara reruntuhan ingatanku. Sebab malam ini, aku tidak mencarimu sebagai tubuh, melainkan sebagai mantra yang tercecer dari upacara purba yang gagal. Wajahmu, yang dulu kutatap dengan gairah jejaka, kini kembali sebagai bayangan arkais di permukaan sendang kesadaranku yang paling keruh. Bukan paras: melainkan peringatan bahwa segala yang kusentuh membawa diriku lebih dalam ke liang yang ingin kulupakan. Kembenmu, jarit lusuhmu, setagen yang longgar itu— semua telah bergeser dari erotika menjadi liturgi luka. Setiap lipatan kainmu bukan lagi undangan, melainkan aksara purba yang tak bisa kubaca tanpa gemetar. Betapa jenaka dahulu coreng-morengmu, kini menjadi topeng dewa kecil yang menjaga pintu ke ruang di mana aku terperangkap antara rindu dan penolakan. Candi ini, arkib batin yang kautinggalkan dalam diriku, adalah gua tempat aku didorong ke tepi kesadaran sendiri. Reruntuhan yang kutata ulang setiap malam agar trauma memiliki bentuk, agar hasrat memiliki kubur, agar aku dapat menyebut namamu tanpa berdarah lagi. Madu— Maduku yang tidak lagi lunak dan molek kini engkau batu berlumut yang mengingatkan bahwa tubuh adalah prasasti yang gampang retak. Bahwa hasrat adalah sungai yang menolak diam. Bahwa cinta adalah bayangan yang menolak ditimpa cahaya. Di atas ujung ceruk dadaku yang paling pilu, kutangkap aura suci yang dulu kusebut nafsu. Kini ia hanyalah kunang-kunang tak bercahaya yang hilang di antara dua zaman: zaman ketika aku ingin memilikimu, dan zaman ketika aku ingin melupakanmu. Sayap-sayap Jatayu gemetar di sela jari waktuku, berusaha menyibak rahasiamu yang tidak lagi erotik melainkan mistik. Mantra gelap yang merasuk bukan ke tubuh… tetapi ke ingatan. Betapa ingin aku menyentuhmu, bukan dengan murka lelaki, tetapi dengan ngeri seorang peziarah yang tahu bahwa setiap permukaan yang tampak indah menyimpan sumur yang dapat menelannya hidup-hidup. Khajuraho, saksikanlah aku malam ini. Bukan lagi jejaka kolokan yang kalah oleh tajam tatap matamu, melainkan ruh yang belajar melihat tubuh sebagai batu, batu sebagai ruang, ruang sebagai luka, luka sebagai guru. Dan engkau, Madu— bukan lagi kekasih, melainkan cahaya terakhir yang terjepit di antara dua kelopak mimpi. Aku tidak ingin menelanjangimu. Aku hanya ingin memahami mengapa setiap detakmu masih menggema di rongga candi batinku yang tak pernah selesai kujaga dari keruntuhan. Malam ini, di bawah hujan yang turun seperti kabut peringatan, aku sadar: bahwa hasrat adalah guru gelap, dan trauma adalah kuil tempat aku belajar sujud pada apa yang lebih tinggi dari diriku sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
Suluk Suwung: Percakapan yang Tak Pernah Selesai Antara Suwung dan Amongraga 1. AMONGRAGA: Aku mendengarmu dari jauh— gema yang berjalan tanpa tubuh, seperti bayang yang lupa asalnya. Apa yang kau cari di celah-celah gelap ini? SUWUNG: Aku tidak mencari. Aku hanya diam. Diam yang terlalu lama, hingga berubah menjadi bentuk yang tak punya nama. 2. AMONGRAGA: Diam juga bagian dari suluk. Ia jembatan menuju terang. Mengapa kau menjadikannya liang? SUWUNG: Karena terangmu terlalu ribut. Dan setiap mantra yang kau sebut meninggalkan debu di nafas manusia. 3. AMONGRAGA: Aku berjalan dari kidung ke kidung, dari tubuh ke tubuh, hingga segala kenikmatan mengungkit pintu-pintu wahyu. SUWUNG: Aku tahu. Itulah jejak yang kau tinggalkan di dada sejarah. Tapi apa yang kau temukan? Selain tubuh yang terus meminta tanpa pernah selesai? 4. AMONGRAGA: Aku mencari puncak. Puncak yang melampaui dunia. Di sanalah aku menanggalkan daging seperti menanggalkan bayang-bayangku. SUWUNG: Dan aku mencari dasar. Dasar yang menelan dunia. Dasar tempat segala suara berhenti dan hanya retakan yang berbicara. 5. AMONGRAGA: Retakan juga bisa menjadi jendela. Mengapa kau memilih menjadikannya rumah? SUWUNG: Karena rumah yang kau buat ditopang oleh api. Aku lelah menjadi tubuh yang terus kau bakar demi sebuah cahaya yang tak pernah sampai. 6. AMONGRAGA: Lalu mengapa kau datang padaku? Mengapa engkau memanggil namaku dari jauh— seperti anak yang kehilangan jalan pulang? SUWUNG: Aku ingin tahu apakah seseorang sepertimu pernah merasa kosong. Atau kau memang menutupinya dengan nyala yang memabukkan. 7. AMONGRAGA: Aku tak pernah kosong. Aku penuh. Penuh dengan bunyi, dengan tubuh-tubuh, dengan api yang naik turun seperti nafas yang tak mau padam. SUWUNG: Maka di sanalah perbedaan kita. Engkau penuh. Dan aku kosong. Tapi keduanya sama-sama tak menjawab apa-apa. 8. AMONGRAGA: Apa itu yang kau sebut suwung? Hening yang menolak segala bentuk? SUWUNG: Suwung adalah tempat di mana setiap jawaban mati sebelum sempat disebutkan. Sebuah ruang yang tidak ingin menang. Tidak ingin selamat. Tidak ingin terlahir kembali. 9. AMONGRAGA: Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku? SUWUNG: Aku ingin melihat apa yang tetap berada pada dirimu ketika seluruh kidungmu aku bungkam. Ketika seluruh tubuhmu aku lepaskan. Ketika seluruh cahaya aku padamkan. 10. AMONGRAGA: Dan apa yang kau lihat? SUWUNG: Hanya satu hal: bahwa bahkan engkau pun, pada akhirnya, adalah pintu yang tidak menuju siapa-siapa. 11. AMONGRAGA: Jika aku pintu, maka mengapa engkau tidak masuk? SUWUNG: Karena tidak ada apa pun di dalam. Dan tidak ada apa pun di luar. Yang ada hanyalah aku. Dan bahkan aku tidak sedang mencari diriku sendiri. 12. AMONGRAGA: Kalau begitu, mengapa engkau tetap berdiri di ambangku? SUWUNG: Karena di antara terangmu yang berisik dan gelapku yang sunyi, ambang adalah satu-satunya tempat yang tidak memaksaku memilih. 13. AMONGRAGA: Engkau suluk yang patah. Suluk yang menolak puncak. SUWUNG: Dan engkau adalah doa yang terlalu keras hingga lupa bagaimana cara menjadi sunyi. Desember 2025
Titon Rahmawan
Variasi Suluk Tembang Raras – Genealogi Saras Dialogis Saras berdiri di ambang pintu yang bahkan tidak ia kenali. Di belakangnya masa lalu menetes seperti air yang sulit ia tampung; di depannya masa kini bergetar, kabur, seolah baru saja dicetak dari bayangan yang salah mengingat dirinya. Ia tidak tahu pintu mana yang benar. Ia hanya tahu retakan yang makin melebar itu menggigil, memanggil sesuatu yang lebih tua dari bahasa, lebih tajam dari ketakutan. Maka muncullah suara pertama—dingin, berdebu, seperti batu yang lama disembunyikan malam. SUWUNG: "Kau mencari jawaban, anak waktu. Namun dirimu sendiri masih bayang di balik kaca. Mana yang kau pilih: jejak yang tak dapat kembali, atau dunia yang selalu mengkhianatimu dengan wujud baru?" Saras menunduk. Ia tidak paham apakah ia sedang ditanya, atau sedang dihakimi. Lalu suara kedua muncul—lebih hangat, lebih manusiawi, tapi tetap menyimpan sesuatu yang liar. AMONGRAGA: "Jangan kau kira masa kini lebih benar dari mimpimu. Tubuhmu menyimpan ingatan yang lebih jujur dari akalmu. Mengapa kau biarkan logika dan nafsu bertengkar di ruang sempit dadamu?" Saras menggigit bibirnya. Ia tahu suara itu berbicara tentang kegelisahan yang ia simpan seperti batu panas di bawah lidah: keinginan untuk melompat ke gelap, tapi juga ketakutan akan cahaya yang telanjang. SARAS (berbisik): "Aku tidak tahu mana aku yang sebenarnya. Yang di masa lalu terasa asing, yang di masa kini kabur, yang di masa depan meragukan. Semua pintu bagiku seperti ilusi." Suara Suwung dan Amongraga saling bersilangan, seperti dua arus sungai yang menolak bercampur. SUWUNG: "Itu karena kau terlalu percaya pada batas. Hitam–putih hanyalah cara dunia memudahkan dirinya sendiri. Kesadaranmu bukan padat, ia kabut; biarkan ia bentuk dirinya." AMONGRAGA: "Namun jangan abaikan tubuhmu. Tubuh tahu duluan apa yang rohmu sembunyikan. Tidak semua ilusi adalah kebohongan; kadang ia hanya anak bungsu dari kenyataan." Saras terdiam. Ia tidak ingin menjadi perantara dua dunia; Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri. Namun setiap kali ia mencari dirinya, yang ia temukan adalah paradoks baru. Suara Suwung merayap lembut: SUWUNG: "Ambang adalah rumahmu. Kau bukan dicipta untuk memilih, tetapi untuk mengungkap apa yang membuat pilihan itu mungkin." Suara Amongraga menambahkan: AMONGRAGA: "Dan jangan takut pada keinginanmu sendiri. Kadang nafsu lebih jujur daripada pikiran yang pura-pura bijak." Saras mengangkat wajahnya. Untuk pertama kali, ia melihat bahwa retakan itu bukan ancaman—melainkan peta. Ia tidak perlu memilih pintu. Ia adalah pintu itu sendiri. Dan ketika ia menyadari itu, suara Suwung dan Amongraga tidak hilang atau pergi— mereka kembali diam di tempat mereka lahir: kedalaman dirinya sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
Khajuraho I Madu, di pelataran kuil ini aku ingin melukis dirimu sekali lagi. Saat lesap senja menjemput senyap di puncak candi dan kelam hasratku menudungi samar-samar wajahmu dengan tirai kabut misteri. Tidakkah engkau dengar bulan berbisik: Madu tidurlah. Tidurlah Madu, tidurlah. Tapi jangan kaukunci pintu hatimu supaya aku bisa merasuk ke dalam mimpimu. Ijinkan aku mengirai sepasang sayapku dalam surgamu yang rumit namun sekaligus juga sederhana. Lelap, lelaplah engkau dalam pelukanku atau lenalah di atas pangkuanku. Duh Madu, Maduku. Lelaplah, lenalah engkau dalam langut tembang sirep yang aku lantunkan, supaya dalam gulita sanggar pamujan keramat ini aku dapat menangkap samar auramu yang suci. Kau tak perlu malu sebab hujan akan turun malam ini, dan tubuhmu molek belaka. Semolek cendayan tubuhmu masih serupa dulu ketika aku sering membayangkan dirimu dari balik gerbang malam yang tertutup ini. Dengan coreng-moreng kembang boreh pada wajahmu yang putih jenaka. Dengan segulung setagen hitam yang longgar menggoda. Dengan kemben tanpa bunga dan jarit lusuh yang itu-itu juga. Itulah tatahan yang telanjur sempurna dan tersimpan rapi dalam ingatan. Gambaran yang tak akan pernah tergantikan oleh apa pun. Seperti sunggingan abadi jari-jemari seorang empu, dalam lingkung taman kecil tapi menyenangkan ini: semesta tumpukan batu-batu yang tak kunjung usai engkau tata dan pahatan asmaragama yang betapa gelora kehangatannya seperti wangi setanggi yang tak mau pergi. Serta tentu saja, cermin bersurat yang tersemat di setiap pintu menuju relung hatimu, yang dengan licin memantulkan wajah seorang jejaka kolokan tertawan cinta yang berusaha menyapa dirimu dengan bibir mesumnya dan juga tatap mata masa lalunya yang selalu sedih. Sesedih masa lalu yang menatap dirimu dari balik kesedihan daun-daun palma masa lalunya sendiri. Sudah begitu lama wajah kasmaran itu menghuni pikiranku, seperti tak ingin berpaling dari ingatan sempurna jelita ayu parasmu. Duh Madu. Maduku. Laksmi pelipur rinduku Kurma penawar dahagaku. Engkaulah itu Kharjuravāhaka mengalunlah suaramu dalam alir darahku. Biar bunyi desah nafasmu yang lembut membelai hijau rerumputan dan debar detak jantungmu seketika menyingkap rimbun dedaunan. Embun tajali yang tersembunyi di dalam reruntuhan dadaku yang paling pilu. Sayap-sayap Jatayu yang meneluh gemetar jejari waktu yang pelan-pelan berusaha menyibak rahasiamu, membongkar kesakralanmu dengan segala keisengan dan mungkin kenakalan seorang perjaka dibantun cinta. Duh Madu, betapa ingin aku menyentuh tubuhmu, membelai ujung gunung membusung yang menantang kelelakianku. Menelusuri ceruk-ceruk rahasiamu yang sarat hikmat purbawi. Elok prasasti yang terhampar permai di hadapanku. Dan lalu diam-diam kukecup padma di telapak Siwa yang tengah mekar di permukaan kolam hayatmu. Hanya untuk menguji betapa aku tidak sedang terbawa arus mimpi Sungai Godavari. Serupa kuda Uccaihsrawa yang lepas kendali sungguh tak hendak aku pungkiri, betapa keras hasratku untuk menundukkanmu membolak-balik semesta tubuhmu dan bila mungkin menelanjangimu. Supaya aku dapat menyelam jauh ke dalam lubuk pesonamu yang paling liar, melawan mantramu yang paling bangkar, hanya untuk mengungkap teka-teki chakra yantra dalam sunyi samadi. Menjinakkan detya, meremukkan asura dan lalu menyusun batu-batu parasmu sekali lagi. Akan tetapi, ketika kelelapanmu menyihir mata batinku, aura mistis yang meneluh panca inderawiku  berasa seperti mencubit dan menyentil kesadaranku betapa sungguh dalam kepasrahanmu itu engkau tampak begitu indah. Secercah aruna namun jauh lebih indah dari sekadar basah hujan lukisan mimpi lepas dini hari. November 2015
Titon Rahmawan
ARKETIPE LATEN PENDUDUKAN (Elegi Luka) Di lorong-lorong gelap sejarah, aku berjalan tanpa suara: setengah tubuhku masih utuh, setengahnya lagi tinggal bayang yang gemetar. Di balik riasan yang mulai luntur, air mata menunggu giliran untuk jatuh— diam—karena setiap tetesnya bisa mengundang amuk amarah yang tak kupahami darimana ia datang, ke mana ia akan pergi. Aku pernah disebut Nyai, kembang yang dipaksa mekar di teras kekuasaan para meneer; setiap embun di pagi hari adalah bisikan bahwa tubuhku bukan milikku. Dan malam selalu datang seperti penjaga pintu yang tak memberi pilihan. Aku pernah jadi Jugun Ianfu, terperangkap di barak yang mereka sebut stasiun hiburan di mana bau besi dan napas busuk beradu kencang. Ranjang besi itu menghafal nama-nama yang tak ingin kuingat, tulang iga belajar retak, jantung menjerit dalam diam karena bahkan bisikan terlalu berbahaya untuk diucapkan. Aku pernah disebut Ca-Bau-Kan, dicatat dalam transaksi yang tak pernah kutandatangani, ditukar seperti komoditas di pasar gelap sejarah. Dada yang dulu lembut padat kini kempis seperti lubang tanah yang terus digali cangkul demi cangkul, hardik suara keras tanpa empati: “Masih ada lima giliran lagi!” Dunia hanya melihat kulitku, riasanku, gerakku yang sengaja dibuat-buat. Tak ada yang melihat bagaimana lututku bergetar setiap pintu diketuk, bagaimana nafasku menahan ledakan yang datang dan pergi seperti ombak liar— menghantam, menghantam, menghantam, sampai aku tak tahu apakah tubuhku masih tubuh, atau sudah berubah jadi batu nisan yang masih menyimpan kutukan. Tapi dengar— di sela-sela retakan, ada bisikan yang bahkan para bajingan itu tak bisa bunuh: bahwa aku pernah punya nama, pernah tertawa, pernah punya masa indah yang tidak bisa mereka renggut seperti merenggut keperawananku. Tapi kautahu, luka ini belum mencabik dadaku sepenuhnya, belum memuncratkan seluruh darah dari sumsum tulangku— tapi ia terus merayap, pelan, dingin, tepat di bawah kulit, seperti ingatan yang menolak mati. Dan aku menuliskannya di sini, dengan tangan yang masih gemetar, agar dunia akhirnya mengerti: bahwa setiap perempuan yang dijadikan “alat” adalah dunia yang sengaja dihancurkan dengan brutal dengan kejam! Agar tak ada siapa pun yang bisa berkata: “aku tidak tahu... aku tidak mengenalnya...” Desember 2025
Titon Rahmawan