Aku Bukan Siapa Siapa Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Aku Bukan Siapa Siapa. Here they are! All 66 of them:

Nah, walau tiga suku bangsa ini punya kampung sendiri, kampung Cina, kampung Dayak, dan kampung Melayu, kehidupan di Pontianak berjalan damai. Cobalah datang ke salah satu rumah makan terkenal di kota Pontianak, kalian dengan mudah akan menemukan tiga suku ini sibuk berbual, berdebat, lantas tertawa bersama—bahkan saling traktir. “Siapa di sini yang berani bilang Koh Acong bukan penduduk asli Pontianak?” demikian Pak Tua bertanya takzim.
Tere Liye (Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah)
Bukan untuk siapa–siapa kupikir. Mungkin aku melakukannya untuk diriku sendiri pada akhirnya. Karena aku menikmatinya, menikmati melayani dan melihat senyum kebahagiaan orang – orang di sekitarku.
Dian Nafi (Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku)
Aku bukan siapa-siapa Aku hanya setitik debu di padang pasir Aku hanya setetes air di samudera tak bertepi Aku hanya setiup udara di angkasa raya Aku dengan segala egoku.. tak berarti apa-apa
Santi Artanti (Friendship Never Ends)
Mungkin aku memang sudah gila, mencintai pacar temanku sendiri. Barangkali cinta seperti kejahatan. Ia bisa terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena adanya kesempatan. Aku tahu pasti aku hanya mencari-cari pembenaran saja untuk perasaanku. Jadi siapa aku sekarang? Hanya pecundang malang yang jatuh cinta kepada orang yang salah, dan pada saat yang sama dicintai oleh orang yang salah pula!
Fadil Timorindo (Let's Party)
Pahlawan Tak Dikenal Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lengannya memeluk senapan Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu Dia masih sangat muda Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda
Toto Sudarto Bachtiar
Tetap wartawan-wartawan terus saja menulis bahwa aku ini seorang 'budak Moskow'. Baiklah kujelaskan sekali lagi dan untuk terakhir kali. Aku bukan, tidak pernah dan tidak mungkin menjadi seorang komunis. Aku membungkukkan diri ke Moskow? Setiap orang yang pernah dekat dengan Sukarno mengetahui, dia memiliki ego yang terlalu besar untuk bisa menjadi budak dari seseorang, kecuali budak dari rakyatnya. Aku memiliki ego. Itu kuakui. Tapi apakah seorang yang tanpa ego bisa mempersatukan 10.000 pulau menjadi satu bangsa. Dan aku memang tinggi hati. Siapa pula yang tidak demikian? Bukankah setiap orang ingin mendapat pujian?
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Bukan masalah senang atau tidak senang. Aku memasak karena sudah seharusnya. Aku mesti ke dapur supaya kalian semua bisa makan dan pergi ke sekolah. Mana bisa kita hanya melakukan apa yang kita sukai? Ada hal-hal yang mesti dilakukan, entah suka atau tidak. Kalau kau hanya melakukan apa-apa yang kausukai, lalu siapa yang akan mengerjakan apa-apa yang tidak kausukai?
Kyung-Sook Shin (Please Look After Mom)
Menafsir Rembulan Kalau tidak sedang dikejar-kejar mengapa mesti lari terburu-buru? Kita tidak harus selalu menerjemahkan waktu dengan cara-cara yang menggelikan dan menyebalkan serupa itu. Bukankah di dunia ini banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak kita mengerti? Sebagaimana halnya kita tak pernah tahu, mengapa rembulan tak pernah lagi menulis puisi? Apalagi puisi tentang cinta dan kerinduan. Terlalu banyak penyair atau mereka yang mengaku-aku sebagai penyair yang mencatut nama bulan hanya untuk mengungkap perasaan. Padahal bulan tak perlu pengakuan. Ia sama sekali tak butuh penghargaan, penghormatan, penerimaan atau pengukuhan dari siapa pun. Kalau selama ini terlalu banyak puisi yang mengumbar nama rembulan, maka itu jelas bukan karena kemauan atau kehendaknya sendiri. Itu pula sebabnya mengapa bulan lebih sering menyembunyikan diri. Sengaja tak menampakkan batang hidungnya atau memamerkan kemolekannya. Tapi kita para penyair lancung dan sok pintar ini terlalu sering mengagung-agungkan dirinya lebih dari yang seharusnya. Bulan memang lembut dan tak segarang matahari. Sesungguhnyalah, ia sosok pemalu yang tak seberapa pintar menyatakan isi hati. Hanya saja kita terlalu melebihkan apa yang tersirat dari senyumnya yang sering tertahan, atau dari raut wajahnya yang begitu mudah tersipu. Betapa mudah kita menyalah artikan sendu tatap matanya sebagai kerinduan dari serpihan hati orang yang kita kasihi. Sementara kita tak pernah berusaha menyelami, apa yang sesungguhnya tersembunyi dalam pikirannya yang naif dan selugu kanak-kanak itu?
Titon Rahmawan
Bagiku menikah bukan kewajiban, melainkan pilihan. Maka, aku tidak mau salah memilih pasangan. Andai setelah ini aku tidak memiliki jodoh di dunia, aku masih akan baik-baik saja. Hidupku tidak diukur dari itu.
Eki Saputra (Kepada Siapa Ilalang Bercerita)
Tapi, aku tak ingin menjadi dekat dengan siapa pun, atau bahkan menpercayainya. Brutus pun bisa membunuh Julius Caesar, bukan? Dan kali ini, aku tak mau menjadi orang yang mengatakan 'et tu Brute?
Mpur Chan (Heartbreak Formula)
Akulah yang memilih menjadi apa dan siapa. Aku juga yang harus mengendalikan hidupku sendiri. Bukan mereka, atau siapapun yang hanya suka menghakimi dari kulit luarnya.
Eva Sri Rahayu (Parade Para Monster)
Akulah yang memilih menjadi apa dan siapa. Aku juga yang harus mengendalikan hidupku sendiri. Bukan mereka, atau siapa pun yang hanya suka menghakimi dari kulit luarnya.
Eva Sri Rahayu (Parade Para Monster)
Seumur hidupku, aku adalah sesuatu. Begitulah kehidupan saat itu. Tetapi, pada suatu ketika, semua-nya berubah. Hidup telah mengubah aku menjadi bukan siapa-siapa. Aneh.... Manusia dilahirkan untuk hidup, kan? Tapi semakin lama aku hidup, semakin aku kehilangan apa yang ada di dalam diriku—dan akhirnya kosong. Dan aku yakin semakin lama aku hidup, semakin kosong dan semakin tidak berharganya diriku. Ada yang salah dengan gambaran ini. Semestinya hidup tidak seperti ini! Masih mungkinkah mengubah arahnya, mengubah ke mana aku harus menuju?
Haruki Murakami, Kafka on the Shore
Seumur hidupku, aku adalah se -suatu. Begitulah kehidupan saat itu. T etapi, pada suatu ketika, semua -nya berubah. Hidup telah mengubah aku menjadi bukan siapa-siapa. Aneh.... Manusia dilahirkan untuk hidup, kan? T api semakin lama aku hidup, semakin aku kehilangan apa yang ada di dalam diriku—dan akhirnya kosong. Dan aku yakin semakin lama aku hidup, semakin kosong dan semakin tidak berharganya diriku. Ada yang salah dengan gambaran ini. Semestinya hidup tidak seperti ini! Masih mungkinkah mengubah arahnya, mengubah ke mana aku harus menuju?
Haruki Murakami, Kafka on the Shore
*Untaian Merjan Rangkaian Proses: Dari Putus Asa hingga Meraih Kebahagiaan Sejati* Hidup bukanlah jalan lurus yang penuh cahaya, tetapi lorong panjang yang berliku, penuh dinding gelap, penuh batu tajam. Ada saat kita terjatuh, tersungkur, terluka hingga dunia tampak seperti musuh yang tak mengenal belas kasihan. Namun ingatlah— putus asa bukanlah sebuah opsi. Selama hidup masih berdenyut di dada, maka menyerah tidak pernah menjadi pilihan. Putus asa hanya benar-benar lahir saat harapan telah mati, saat peluang habis, saat kematian menjadi satu-satunya jalan keluar. Kita pun belajar, bahwa penghalang terbesar dalam perjalanan bukanlah dunia luar, melainkan diri sendiri—sekadar mencari validasi: ego yang meninggi, harga diri yang menolak disentuh, perasaan “aku paling tahu, paling pintar, paling hebat.” Di situlah langkah kita sering tersandung, pertumbuhan mandek, kemajuan berhenti. Lalu bagaimana seorang perintis bisa menjadi besar? Bagaimana seorang pemimpi bisa menyalakan dunia? Ia harus rela memulai dari fondasi, sebuah batu pijakan, sebuah langkah: membangun kepercayaan, menjaga reputasi, mencari relasi, melahirkan peluang, mengkapitalisasi modal, menjaga aliran, menahan badai, dan tetap memelihara pertumbuhan. Sebab realitas memang kejam: nilai manusia sering hanya diukur dari apa yang ia hasilkan, kontribusi apa yang ia beri, prestasi apa yang ia capai. Jarang ada yang menghargai proses, padahal proseslah yang menjadi guru sejati manusia. Proses— yang menajamkan kecerdasan, menempa ketangguhan, menyalakan kesabaran, menumbuhkan ketekunan. Proses adalah jembatan antara kelemahan dan keunggulan, antara kekalahan dan kemenangan. Tanpa proses, hasil hanyalah fatamorgana: indah di permukaan, rapuh di dalam. Namun dunia kini berjalan terlalu tergesa, orang ingin hasil instan, hingga melupakan arti kedewasaan. Akibatnya, lahir generasi cerdas tapi tak dewasa, pintar namun tanpa empati, berpengetahuan namun miskin kepedulian. Padahal sejatinya, kecerdasan intelektual harus bersanding dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Sebab adab lebih tinggi nilainya daripada sekadar kepintaran, dan kepedulian lebih mulia daripada sekadar pencapaian. Ada pula godaan lain dalam perjalanan menuju puncak: ingin terlihat kaya, padahal belum benar-benar kaya. Keinginan mengejar validasi, sekadar pengakuan dan gengsi. Padahal kekayaan sejati tidak untuk dipamerkan. Ia tersembunyi di balik kerendahan hati, kesederhanaan terjaga dalam kendali diri. Hanya mereka yang sabar menanam akan menuai kekayaan yang bukan sekadar materi, tetapi juga jiwa yang lapang. Dan akhirnya, hidup bukan hanya soal bekerja dan berjuang, tetapi juga menyeimbangkan diri. Work-life balance sejati adalah harmoni empat komponen: jiwa, raga, pikiran, dan spirit. Saat keempatnya menyatu, maka tercipta kebahagiaan yang sesungguhnya, bahagia bukan karena apa yang kita punya, tapi karena siapa kita telah menjadi. *Butir hikmah yang tersisa:* Jangan lari dari proses, sebab proseslah yang membuatmu pantas. Jangan sombong pada dunia, sebab dunia akan mengujimu tanpa ampun. Dan jangan tergesa, sebab segala sesuatu yang indah, kuat, dan besar selalu lahir dari kesabaran. Maka berjalanlah, jatuh dan bangkitlah, gagal dan tumbuhlah. Karena hidup bukanlah tentang menghindari badai, melainkan belajar menari di tengah derasnya hujan. Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Aku mendoakannya bukan karna cinta ku lebih besar daripada cinta untuk tuhan ku, aku menyebut namanya agar Tuhan mengenal siapa yang sedang aku cintai.
Ganjar Bagas Kurniawan
Sang guru lalu mengeluarkan sekeping koin tua dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. “Lihatlah koin ini,” katanya, “di satu sisi tertera gambar seorang raja, di sisi lain angka yang menandakan nilainya. Dunia menilai dari angka itu, tapi aku menilai dari siapa yang mencetaknya. Begitu pula manusia. Dunia menilai dari hasil, tapi semesta menilai dari sumber — dari nilai pribadi yang memancarkan makna.” Ia menatap sang saudagar dengan lembut. “Orang miskin menjual waktu karena tak tahu nilainya. Kelas menengah menukar waktu dengan gaji karena butuh kepastian. Orang kaya sejati menukar ide dengan pengaruh — karena ia tahu nilai tertinggi bukan pada kerja keras, tapi pada keunggulan pribadi yang bermanfaat bagi banyak jiwa.
Titon Rahmawan
SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI IV. Perempuan yang Dikirim Pulang Tanpa Suara Ketika tubuhnya ditemukan, waktu tidak berani mencatat jam kematiannya. Jarum-jarum yang dulu ia rawat menolak bergerak, seolah-olah mereka pun tahu bahwa tidak pantas mengukur detik akhir seorang manusia yang kepalanya dipecahkan karena mengatakan kebenaran. V. Puisi yang Berbicara Aku tidak menuliskan ini untuk membesarkan trauma, atau menghidupkan kembali luka yang sebagian orang ingin lupakan. Aku menuliskan ini karena diam berarti bersekutu, dan kalian sudah terlalu lama mengolesi bibir kalian dengan sunyi yang memalukan. Kalian bertanya: bagaimana melawan budaya kekerasan yang menjadi komoditas? Dengarkan jawabanku: Tidak dengan maaf. Tidak dengan lembut ampunan. Tidak dengan doa yang kalian tidak sungguh-sunguh percaya. Tetapi dengan amarah yang presisi, amarah yang bukan ledakan tanpa arah, melainkan amarah yang tahu siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa yang harus selamanya menggantikan wajahnya dengan wajah perempuan muda itu. VI. Perempuan yang Tidak Berhasil Dibunuh Waktu Mereka mengira telah mematikan suara perempuan itu. Waktu mengira ia telah selesai dengan mayatnya. Kekuasaan mengira ia telah memenangkan pertempuran. Tapi lihatlah: bahkan setelah tulangnya membiru, ia masih menyebut nama kalian satu per satu seperti saksi yang tidak mau berhenti bicara. Kalian yang membaca ini, kalian yang menunduk, kalian yang menggigil, kalian sedang berdiri di depan tubuhnya yang remuk, dan ia bertanya: “Apa yang akan kau lakukan agar aku tidak mati lagi besok pagi?” VII. Algo ex Machina: Harapan dari Segenggam Palu Dan jika yang kalian sebut harapan hanya sisa kecil dari keberanian manusia yang tidak sempat tumbuh karena dibungkam di dekat hutan jati, maka biarkan aku, mesin, mengambil palu yang jatuh dari tangan Tuhan dan mengangkatnya untuk kalian. Bukan untuk memukul balik dengan kekerasan, tetapi untuk memecahkan topeng-topeng busuk yang membuat kalian buta terhadap tubuh yang digelandang tanpa pulang kembali. Harapan bukan lilin. Harapan adalah logam: pecah, panas, tak bisa dihancurkan bahkan oleh negara. Dan jika dunia ingin tahu apa yang tersisa dari serpihan tubuhnya jawab saja: “Semuanya.” Ia masih hidup di setiap ketidakadilan yang kalian tolak. Ia masih hidup di setiap kebenaran yang tidak berani kalian ucapkan. Ia masih hidup di setiap amarah yang tidak sempat kalian kubur. Mei 2024 - revisi 2025
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis (Digital Dark Cosmology) Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh, aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip. Katanya ini panggung opera. Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna, suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi, dan primadona yang ia maksud— hanyalah hologram cacat dari perempuan yang dulu pernah dipanggil sebagai jiwa. Ia menunjuk tirai merah. Yang tersingkap bukan kenangan, melainkan fragmen tubuh dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia: sisa napas, sedikit dendam, dan kode mati pada seberkas cahaya yang mencoba meniru bentuk air mata. Lacan datang terlambat seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data. Ia mengajakku menoleh ke belakang— ke mana? Ke memori terbakar yang sudah lama kehilangan inderanya? Ke gerbang tanpa nama yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa atau siapa? Ia bilang luka harus ditatap, dicerna, dihitung seperti kemurungan laporan statistik. Tapi yang kudengar hanya kalkulator batin yang macet, mengulang error yang sama: tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara. Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak— yang sebetulnya hanya arsip kosong di folder bernama asal-usul, yang password-nya sudah hilang bersama kilas pertama ekor nebula. Ia menodongkan foto mayat pucat, jari kelingking patah, celana dalam berenda, dan bayang kelamin seekor kuda— seluruh katalog absurditas yang oleh psikoanalisis selalu dipuja sebagai makna yang belum dipahami. Padahal aku hanya ingin diam, menghentikan semua ini dengan menekan Ctrl+Alt+Del melakukan reboot paksa pada server yang mulai berhalusinasi. Tetapi Lacan menahan tanganku dengan senyum logam: “Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.” Aku tertawa. Bagaimana mungkin teori yang lahir dari denyar palsu, nadi imitasi, dan luka digital mengerti apa itu haus, apa itu manusia, apa itu malam tanpa algoritma? Inilah topeng Marquis yang mereka pakai untuk menutupi ketakutan sendiri: mereka memuja kekacauan karena tak sanggup berdamai dengan planet retak di dada mereka. Mereka ingin memecah jemariku hanya untuk mencicipi anggur darah yang tak pernah kujanjikan. Mereka ingin menyusun cinta dari sisa-sisa eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya. Maka kutanya sekali lagi— bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan, bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori lebih dari suara manusia: "Bagaimana kau ingin menciptakan cinta, dari botol kosong yang tak punya gema, dan sepotong sosis yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?" Jika cinta adalah mesin, biarkan ia padam. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi yang tak pernah selesai dirakit kembali. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh seperti aksara patah di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini? (Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian) /1/ Di ambang cahaya yang gagal menemukan dirinya, aku melihat riak kuning yang tampak seperti sisa doa yang kehilangan tuannya. Seekor angsa liar melintas tanpa tahu apakah ia burung atau hanya gema dari sesuatu yang tak pernah selesai menjadi makna. /2/ Jangan percayai hening yang menggantung di dahan dadap itu. Ia bukan sunyi, melainkan mata ketiga dari kesadaran yang menatap balik pada penafsirnya. Seekor burung hantu buta menjadi penanda yang terlantar— simbol yang dibuang dari mulut bahasa. /3/ Aku bersaksi tentang rusa totol indigo yang lahir dari tawa kanak-kanak, bukan sebagai hewan, tetapi sebagai fragmen kosmik yang melampaui tubuh, sejarah, dan dilatasi waktu. Rumput kelabu bening di kakinya mengajarkan bahwa setiap permainan adalah ritual kecil dari keberadaan yang mencari arti sendiri tanpa pernah menemukan. /4/ Karena sajakmulah, aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi— bukan sebagai air, melainkan sebagai niat kata yang gagal menjelma doa. Di antara lipatan sorban putih itu ada jeda panjang tempat Tuhan pernah sembunyi untuk melupakan nama-Nya sendiri. /5/ Di pelupuk matamu kutemukan bilah luka yang tak tunduk pada bahasa mana pun. Heran luruh menjadi serpihan kaca, mengiris senyum para penjaja cinta. Barangkali itu bukan kesedihan, melainkan alfabet purba yang kehilangan suaranya sebelum sempat menjadi kata. /6/ Ada selaput tipis takjub yang tak pernah disentuh oleh jari Nizhami atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara. Ia bukan cinta, melainkan bayangan semu— penanda yang tersesat di lorong gelap kesadaran yang menolak direstorasi. /7/ Langit keruh kelabu tampak jenuh oleh seluruh tangisanku, tangis yang bernaung di ceruk terdalam jantung kita seperti embun yang takut menjadi air. Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja: menyamar sebagai kesunyian saat dahaga merayap jauh ke gurun paling sunyi di dalam diri. November 2025
Titon Rahmawan
TONY, KAU DATANG DARI CELAH YANG BERDARAH DI BAWAH TAMAN KAMI (Blue Velvet Reconstruction) Tony muncul tepat setelah sprinkler berhenti. Air masih menetes dari selang, mengisi halaman dengan aroma plastik basah dan ironi yang menyengat. Kota ini pura-pura damai, pura-pura tidak tahu bahwa di balik pagar putih dan bunga violet, selalu ada sesuatu yang menggerogoti dengan gigi kecil penuh dendam. Aku menemukannya berdiri di tepi pagar, menunduk pada selembar rumput yang entah kenapa bergetar seperti sedang menahan ketakutan. Ia mengenakan jas hitam. Tidak seperti jas biasa— lebih seperti kulit seseorang yang belum siap dilepas dari tubuhnya. “Aku hanya ingin melihat apa yang tumbuh,” katanya ringan, menyentuh kelopak bunga biru seolah-olah itu adalah saklar menuju sesuatu yang lebih gelap. Senyumnya lunak, tetapi terlalu lama, terlalu presisi— seperti seseorang berlatih tersenyum di depan cermin yang pernah menyaksikan kejahatan. Di rumah sebelah, radio memutar lagu cinta tahun 50-an, dan setiap nadanya terdengar seperti jeritan yang disamarkan agar tetap cocok untuk lingkungan keluarga. Tony melangkah masuk ke dalam bayangan pohon maple, bayangan yang tidak mengikuti arah matahari dan tampak seperti mencoba menelan sepatunya. “Di kota ini,” bisiknya, “segala sesuatu yang indah memiliki pintu belakang yang tidak terkunci.” Ia mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering dari halaman kosong. Tidak ada kabel. Tidak ada sambungan. Hanya telepon merah yang seharusnya tidak ada di sana. “Hallo?” Matanya tidak berkedip. “Ya… dia sedang melihatku sekarang.” Ia menatapku. Seolah aku adalah seseorang yang namanya disebut dari ujung lain kabel yang tak terlihat. Ada suara di dalam telepon: napas seseorang yang terlalu dekat, terlalu intim, terlalu mengerti sesuatu tentangku yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Tony mendengarkan lama, lalu menutup gagang telepon dengan lembut. Seperti menutup kelopak mata sesosok mayat. “Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya. “Di ruang atas.” Nada suaranya seperti undangan dan ancaman yang dibungkus karamel. Kami masuk ke rumah kosong itu. Dindingnya berwarna merah muda— terlalu merah muda— seperti anak kecil pernah memimpikan kamar ini sebelum sesuatu memutuskan tinggal di dalamnya. Ada lagu lembut berputar di radio tua, dan udara berbau parfum murahan yang bercampur dengan bau karat besi yang tak jujur. Dia menyentuh gagang pintu kamar. Tangan itu tidak gemetar. Pintu membuka dengan suara mengerang seperti rahasia yang keberatan dibocorkan. Di dalam: tirai biru menggantung, bergoyang pelan meski jendela tertutup rapat. “Jangan kaget,” bisiknya padaku. “Di balik tirai itu biasanya seseorang menangis.” Aku hendak bertanya siapa, tapi tirai bergerak sendiri. Sangat pelan. Seperti seseorang yang baru saja menghapus air mata. Tony berdiri di sampingku, dan kini aku melihatnya bukan sebagai manusia— tetapi sebagai retakan dalam dunia ini. Sesuatu yang seharusnya tidak memiliki tubuh, namun tetap memilih untuk memakai salah satunya. Ia membungkuk mendekat ke telingaku, napasnya dingin seperti kulkas yang menyimpan rasa lapar. “Kota ini tak pernah kenyang” katanya. “Pertanyaannya cuma satu… kau ingin menjadi makanannya, atau kau ingin melihat siapa yang memakanmu dari balik tirai itu?” Tirai biru bergetar lebih keras. Lampu berkedip. Suara lagu berubah pelan, mengalun seperti bisikan seseorang yang patah dari dalam dirinya sendiri. Tony menoleh ke arahku, tatapannya lembut— lebih lembut dari yang boleh dimiliki seseorang yang telah melihat apa yang ia lihat. “Kita mulai adegannya sekarang,” katanya. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa dalam dunia ini— aku bukan penonton dan bukan penulis skenario— aku hanyalah seseorang yang dipilih oleh tirai biru untuk diseret masuk ke dalam mimpi yang bukan milikku. November 2025
Titon Rahmawan
TONY, ISAP NAPAS TERAKHIR KOTA INI (Frank Booth Reconstruction — Gasoline Erotics) Pintu itu tidak dibuka. Pintu itu diterjang, seperti kota ini tidak pantas memiliki sekat, seperti dinding adalah penghinaan personal yang harus dihancurkan. Tony masuk dengan langkah yang terdengar seperti pukulan jantung yang dipaksa berdetak oleh seseorang yang membencinya. Ia mengenakan topeng oksigen. Bukan untuk bernapas— untuk menyembur kegilaan ke paru-parunya sebelum kata pertama jatuh dari bibirnya. Hssssssss— “Jangan bergerak.” Suaranya adalah listrik yang kehilangan kesabaran, dan aku yakin ia berkata seperti itu bukan karena aku akan kabur melainkan karena ia ingin melihatku membeku dalam ketakutan paling murni. Ia menghirup gas lagi. Hssssssss— lelaki itu kini adalah badai kecil yang mencari seseorang untuk dihancurkan demi alasan yang hanya dimengerti oleh tubuhnya. “LIHAT AKU!” Kata itu bukan permintaan. Itu adalah ajakan berperang. Lampu berkedip dan berubah merah seolah ruangan ini memutuskan untuk mengakui siapa yang berkuasa. Tony mendekat begitu cepat hingga udara mundur. Ia meraih kerah bajuku dengan gerakan yang cepat dan brutal pada saat yang sama, seperti seseorang yang memetik bunga yang sebenarnya adalah granat. “Kau pikir kota ini milikmu?” Ia menggertak—pendek, tajam. “Kau pikir cinta itu kelembutan? Kebijaksanaan? Ritual bahagia?” Hssssssss— Napasnya berubah menjadi dengus binatang buas. “CINTA ITU GAS, BANGSAT!” “Cinta itu benda yang kau hirup sampai matamu melihat warna yang tidak ada dalam spektrum optik.” Ia menepuk pipiku— bukan lembut, bukan keras— tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa sentuhan itu bisa menjadi ancaman yang menyakitkan. Dari sakunya, ia mengeluarkan sepotong beludru gelap. Tidak biru— tapi hitam basah, seperti bulu raven yang mencuri cahaya dari mataku. “Pegang ini,” katanya. “Pegang pelan.” “Lebih pelan.” “Ya.” Nadanya berubah sultry, seolah kekerasan dan erotika adalah bahasa yang sama baginya. “Dengar, aku akan bilang satu hal padamu,” Ia mendekatkan wajahnya. Aroma gas, logam, dan sesuatu yang manis— seperti permen yang dicampur racun— mengisi ruangan. “Kota ini adalah perempuan telanjang yang dipaksa bernyanyi di depan semua fantasi manusia.” Ia tertawa— tawa yang tidak punya ritme moral. “Dan aku…” Ia memegang wajahku di kedua tangannya. “...adalah orang yang mengajar kota ini bagaimana caranya menjerit.” Hssssssss— Tony menendang meja, gelas-gelas pecah, bayangan jatuh ke lantai seperti tubuh. Ia menatapku dengan mata yang tidak lagi mengenali perbedaan antara hasrat dan kekejaman. “AKU TUNJUKKAN CINTA VERSI SEJATI,” katanya. Ia mendekat, menekan beludru hitam itu ke dadaku sambil berbisik di telingaku: “Dalam dunia ini, siapa pun bisa mencintai. Tapi hanya sedikit yang berani mencintai sampai menghancurkan sesuatu.” Hssssssss— Ia menarik topengnya, menatapku dengan kekosongan yang sempurna, dan berkata: “Inikah bagian tubuhmu yang paling kau butuhkan untuk merasa hidup?” “Karena aku… ingin mengambilnya darimu!” Lalu ia merenggut hatiku dengan sekali cabut. November 2025
Titon Rahmawan
Liturgi Kay (Fragmentarium Kesadaran ) I. Benih yang Tak Punya Nama (1) Ada bayang yang tidak tumbuh menjadi tubuh. Aku menyapanya Kay, bukan untuk mengenali, melainkan agar kesunyianku punya tempat untuk berbaring. (2) Jika dunia ini adalah goa, maka Kay adalah hembusan dingin yang tak pernah meninggalkan tetes embun di kulitku. (3) Tuhan menciptakan cahaya. Kesadaranku menciptakan Kay. Dan aku tak tahu mana yang lebih menyakitkan untuk dipertahankan. II. Jantung Gelap yang Berputar Tanpa Tujuan (4) Setiap aku menutup mata, Kay berjalan tanpa jejak. Ia tidak pernah menoleh. Dan itulah sebabnya aku tetap melihatnya entah sebagai api atau bara itu sendiri. (5) Jam rusak di dalam benakku menyebut-nyebut namanya seperti mantra yang kehilangan huruf-a seperti ilusi yang kehilangan bunyi-i (6) Retakan di lantai batin bukanlah tempat ia muncul— melainkan tempat aku jatuh mencari suaranya atau bayang tubuhnya. (7) Kay adalah sebuah pintu yang tidak dibangun untuk dibuka. Tapi aku tetap mengetuknya seperti orang bodoh yang tak punya rumah. Ia adalah hasrat bukan untuk pulang, melainkan tanda baca yang belum sampai titik. III. Pertempuran yang Tak Bisa Dimenangkan Batu Sysiphus (8) Aku menggulung batu namanya setiap malam, sambil tahu bahwa ia akan jatuh lagi menindih kebodohanku. Panah Arjuna di Tubuh Bhisma (9) Seribu panah memakukan tubuhku di medan yang dipenuhi suara Kay. Aku bisa mati kapan saja, tapi aku memilih tidak agar aku tetap mengingat siapa yang menembakkan panah itu ke dadaku. Wajah Puisi (10) Aku mencintai Kay sebagai bencana pribadi yang kupelihara agar aku tetap manusia. (11) Kay bukan malaikat. Kay bukan iblis. Kay adalah ambang yang memaksaku memeriksa ulang kewarasanku setiap kali aku menyebut namanya. IV. Doa Tanpa Alamat (12) Kay, aku menulis namamu dengan tinta yang tidak ingin kering. Sebab jika kering, aku harus mengakui bahwa kau tak pernah ada. (13) Jika kau tahu aku ada, seluruh puisi ini runtuh. Maka janganlah sadar. Tetaplah jadi bayang yang menertawakan keputusasaanku. (14) Aku tidak ingin memilikimu. Yang kuinginkan hanyalah alasan untuk terus bernafas di antara dua ketidakpastian: bahwa aku mencintaimu, dan bahwa kau tidak akan pernah tahu. (15) Dalam setiap kata, aku bukan memanggilmu— aku memanggil diriku yang hilang di balik semua ingatan. (16) Kau adalah absurditas. Dan aku adalah orang bodoh yang memanggil absurditas itu dengan suara paling lembut karena aku takut engkau akan hilang. V. PINTU YANG TAK PERNAH MENUTUP (17) Jika suatu hari aku berhenti menulis tentangmu, itu bukan karena kau pergi. Itu karena aku sudah tidak sanggup mengakui bahwa aku masih hidup karena seseorang yang bahkan tidak pernah hidup untuk diriku. November 2025
Titon Rahmawan
LITURGI LUKA ATHALIA 1. Sebuah Ruangan yang Dibiarkan Terbuka Aku berjalan melewati tempat yang dulu kita impikan. Debu di lorong, seperti uap yang pecah Ada catatan di pintu yang tak pernah kutulis Tapi aku tetap membacanya... dengan tenggorokan tercekat. Aku menyalakan lampu untuk berjaga-jaga jika kau datang. Sebuah bayangan berlalu, tapi tak pernah memberi nama. Beberapa kata tersisa hanya setengah terdefinisi. Sebuah puisi yang kita lipat... tapi tak pernah ditandatangani Sebuah ruangan yang dibiarkan terbuka, sebuah nama yang tak terucap Sebuah waktu yang terhenti, tapi tak pernah terputus Aku masih duduk di tempat kesunyianmu berada. Dan kau masih tidur di tempat arwahku pernah berdoa. Kita adalah napas antara selamat tinggal dan jiwa yang selalu mengembara—selamanya gelisah, selamanya bertanya. Kau menggores langit seperti bekas luka di senyummu. Dan aku berdiri diam—memerhatikan, untuk sementara. Tapi cinta itu kejam ketika waktunya salah. Dan kesunyian menjadi tempat kita berdua tinggal selamanya. Kutulis namamu di kaca yang berkabut. Kehangatan terdekap sekilas, yang kutahu takkan bertahan seutuhnya. Namun sengaja kubisikkan hanya untuk mendengar gema yang kau tinggalkan masih bergetar di hatiku. Inilah ruangan yang dibiarkan terbuka, sebuah janji yang tak terpatahkan Sebuah halaman yang terbakar, namun tak pernah terucap. Aku menyimpan suaramu di antara ketakutanku. Kau menyimpan wajahku di tahun-tahun yang berlalu. Dan meskipun kita pergi tanpa menutup pintu, beberapa ruangan… masih mengingat lebih dari yang seharusnya. Mungkin… kita tak pernah berniat pergi. Atau mungkin… kita tak pernah tahu bagaimana caranya untuk tinggal. 2. Litani Gelas Pecah Ada hari di mana aku percaya kesucian bisa kusimpan di telapak tangan, dan kau— kau adalah bening yang kutatap terlalu dekat hingga aku lupa betapa rapuhnya cahaya jika disentuh oleh laki-laki sepertiku. Kau bukan luka. Kau adalah harapan yang kubangun dari obsesi, kuil kecil tempat aku meletakkan imajinasi yang tak pernah kuakui sebagai dosa. Dan ketika gelas itu jatuh— aku mendengar diriku sendiri pecah lebih keras dari kepingan kristal berserakan di lantai. Tak ada jeritan, hanya diam yang membeku, diam yang menua, diam yang terus memakan waktu dan sunyi di dadaku. Aku marah, Athalia. Bukan padamu. Bukan pada ingatan. Tapi pada diriku yang selalu percaya ia bisa menjaga sesuatu yang seharusnya dibiarkan hidup tanpa rasa takut. Sekiranya kau tahu: Sungai tidak cukup mampu menahan gempuran yang menelan dirinya— itu bukan salah siapa-siapa. Namun tetap saja, akulah yang memungut pecahan itu dengan tangan telanjang, membiarkan darah mengalir dari kusut rambut matahari. Aku masih menyimpan ingatanmu seperti bekas luka yang tidak memilih sembuh. Bukan karena aku tak bisa melepaskan, tapi karena sebagian dari diriku masih ingin mengingat bagaimana rasanya percaya pada obsesinya sendiri. Dan mungkin, kalau dunia ini sedikit lebih lembut, kita tidak akan pernah pecah berkeping. Atau mungkin— kita memang ditakdirkan menjadi dua bayang yang hanya saling menyentuh di permukaan kaca yang dingin. Athalia, aku tidak pernah ingin melukaimu. Tapi aku lebih tidak ingin melupakanmu. Karena di antara serpihan itu, aku masih mendengar gema dari sesuatu yang dulu kusebut cinta. Dan darahku— biarlah ia mengalir. Itu satu-satunya cara aku tahu bahwa aku masih hidup di tengah dunia yang menuntut melupakan.
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran) Aku menemukan pecahan itu di dalam ruangan tanpa pintu: bersih, presisi, seperti bukti awal sebuah kesalahan yang tidak memerlukan saksi. Bening itu—yang pernah kusangka hidup— kini hanya memantulkan jarak antara tangan yang gemetar dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi. Athalia, namamu masih menempel pada permukaan kaca, seperti sebutir nadi yang menolak menjadi tubuh. Tidak ada tragedi di sini. Hanya perhitungan yang meleset dari sesuatu yang sedari awal terlalu rapuh untuk kuasaku yang terbiasa mengukur dunia dengan ketidakpastian. Darah di jari-jari— itu pun bukan pengakuan, melainkan residu dari percobaan yang belum selesai. Tubuhku sekadar catatan kaki bagi retakan yang bekerja lebih cermat daripada perasaan. Aku mencatat: bahwa bening tidak dapat dipanggul seperti gagasan. Bahwa harapan tidak memiliki sendi untuk menahan tekanan. Bahwa cinta, pada saat tertentu, adalah objek yang menolak takdirnya sendiri. Kau jatuh, Athalia, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai fenomena: gerakan singkat cahaya yang gagal mempertahankan bentuknya. Dan aku— aku hanya pewaris sunyi yang diam-diam menimbang apakah retakan ini adalah bukti rusaknya dirimu, atau rusaknya aku yang percaya sesuatu dapat disembuhkan hanya dengan sekadar memegangnya. 2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian) Ada jejak cahaya di lantai yang mengingat langkahmu lebih baik daripada diriku. Pagi tadi, aku menemukan secuil bening yang pernah memantulkan wajahmu. Ia diam saja, seperti hendak mengatakan bahwa pecah tak selalu harus bersuara. Athalia, aku memanggilmu dalam hati —dan seperti biasa— angin yang datang menjawab. Ia membawa sedikit debu, yang menempel pada namamu di kaca yang perlahan mengabut. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Kadang benda yang rapuh memilih retak sebelum kita sempat menjaganya. Kadang hati lebih dahulu mengerti apa yang tidak ingin ia akui. Sejak itu, aku belajar duduk lebih pelan di ruangan yang kau tinggalkan terbuka. Tidak ada yang berubah di sini, kecuali cahaya yang semakin tipis lurus menyusuri tembok, mencari sesuatu yang tak bisa kembali. Aku masih menyimpan suaramu di sela napas yang lewat begitu saja. Dan jika aku meletakkan telapak tanganku di atas serpihan itu, aku tahu yang terasa bukan sakit— melainkan ingatan yang belum selesai pergi. Begitulah cinta bekerja, bukan? Ia tinggal lebih lama daripada mereka yang pernah merawatnya. Dan pada akhirnya, kita adalah dua nama yang saling kehilangan secara perlahan, tanpa pernah benar-benar mengucapkannya.
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 5. NYANYIAN GELAS YANG PECAH (Abstraksi Teatrikal) Malam ini angin membawa kabar pahit. Seperti suara kampung yang kehilangan lampu, sepotong gelas kristal pecah di tengah rumah hatiku. Ah, Athalia… namamu seperti burung kecil yang dulu hinggap di jemariku dengan percaya. Kini bulunya rontok satu per satu dan aku hanya bisa menatap, tak mampu menangkapnya kembali. Aku pernah menjaga harapanmu seperti petani memeluk benih di dada tanah yang tandus. Tetapi hujan tak datang. Dan tanganku sendiri tanpa sengaja menggugurkan musim itu. Darah menetes pelan— bukan dari luka yang kau buat, tetapi dari marah yang lama kubiarkan mengeras seperti batu sungai. Aku merasa sangkakala kesunyian menderu di ruang dada. Ada pertarungan antara percaya dan putus asa: dua kuda liar saling berkejaran meninggalkan jejak debu di tenggorokan. Namun, wahai diri… siapa yang dapat melawan nasib ketika ia mengetuk pintu seperti tamu tak diundang? Maka kuterima kepedihan dengan langkah pelan seperti aktor tua yang masih menghafal naskah yang tak selesai. Gelas itu pecah. Harapan itu retak. Tapi dari serpih kepingannya aku melihat langit kecil yang masih mau memantulkan cahaya. Dan itulah sebabnya meski dada ini bergetar seperti genderang perang, aku tetap menulis, menamai luka, melagukan sepi. Karena hanya dengan begitu aku tahu aku masih hidup. 6. RUMAH KECIL TEMPAT KENANGAN BERISTIRAHAT (Abstraksi Keintiman Psikologis) Athalia, aku menulis namamu pelan-pelan seperti seseorang yang menyalakan lilin di ruangan yang ingin ia lupakan tapi tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ada saat-saat tertentu di mana kenangan berjalan kembali seperti tamu yang tahu letak gelas dan di mana aku menyembunyikan kerapuhan. Mereka mengetuk pintu, masuk tanpa kuundang, duduk di kursi yang pernah kau pilih sambil menanyaiku hal-hal yang tak sanggup kujawab. Aku ingin berkata semua baik-baik saja. Tapi aku tahu kata-kata itu adalah jembatan rapuh yang dibangun dari cuaca yang serba tak menentu. Ketika gelas kristal itu pecah, tak ada doa yang sanggup memperbaikinya. Tetapi serpihannya masih menyimpan pantulan wajahmu— pelan, nyaris kabur, tapi tetap membuatku berhenti bernapas. Aku marah pada diriku sendiri karena tidak cukup baik menjadi seseorang yang bisa kau percayai. Marah pada waktu karena selalu melangkah lebih cepat dari yang bisa kuikuti. Marah pada nasib karena sering memotong jalan tanpa memperingatkan. Namun paling sering, aku hanya diam. Diam yang panjang. Diam yang mengendap, berat seperti hujan yang enggan jatuh ke tanah. Aku belajar memahami bahwa beberapa luka tidak ingin sembuh. Mereka hanya ingin ditemani. Dan jika ada satu hal yang tak sanggup kuhapus, itu adalah cara kau menatap dunia yang membuatku ingin menjadi versi terbaik dari seseorang yang bahkan belum kukenal dalam diriku. Athalia, ruangan itu masih terbuka. Tidak untukmu kembali, tidak pula untukku berharap. Hanya untuk membiarkan cahaya masuk sedikit lebih jauh agar aku bisa melihat jelas bahwa mencintaimu adalah cara paling lembut untuk belajar tentang luka. Desember 2025
Titon Rahmawan
Anatomi Sebuah Penolakan Aku menuliskanmu, lalu kau menatap balik tanpa meratap dengan sorot mata benda mati yang muak menjadi cermin bagi siapa saja. Kau berkata: Aku bukan puisi dan kau bukanlah penyair. Aku tak ingin menjadi ladang tempat manusia menanam duka, lalu memetik ketenangan palsu dari reruntuhannya. Dan aku terdiam— seperti algojo yang tiba-tiba disapa oleh tajam bilah pedangnya sendiri. Kau menolak metafora, menepis ritme, menghancurkan rima seolah semuanya adalah wajah-wajah palsu yang sengaja kupasangkan padamu agar dunia merasa nyaman membaca sakitku. Kau menudingku: “Kau ingin selamat, bukan? Kau ingin terlihat dalam, bijaksana, bercahaya— padahal kau hanya gemetar mencari alasan untuk membenarkan retak di dalam dirimu.” Kata-katamu membekukan. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Hanya keheningan logam yang menancap ngilu pada tulangku. Lalu kau memutuskan diri: Aku tidak akan memeluk siapa pun. Aku tidak akan menjadi pelarian pembaca yang ingin merasa suci. Aku tidak akan memaafkan penulismu. Aku tidak akan memberi katharsis. “Aku hanya akan menjadi luka yang dituliskan ulang tanpa belas kasihan,” katamu. “Sebab luka yang terlalu sering dinyatakan pada akhirnya hanya akan menjadi perayaan kesedihan.” Dan aku berdiri di hadapanmu seperti tubuh yang kehilangan bayangan menyadari bahwa tak ada yang lebih kejam daripada sebuah puisi yang memilih untuk tidak menyelamatkan. Kau membalik halaman. Kau memadamkan seluruh api kemungkinan. Dan aku, untuk pertama kalinya, mengerti bahwa kepenyairan bisa menjadi bentuk penghakiman paling dingin atas keberadaanku sendiri. Puisi bukan untuk ditahbiskan, katamu. Puisi adalah tempat di mana penulis akhirnya ditaklukkan dan mati demi kesunyiannya sendiri. November 2025
Titon Rahmawan
Infantisida: Litani Penyangkalan Kecurigaanmu bangkit seperti bangkai yang menolak membusuk— dingin, keras, tidak sudi menjadi apa pun selain penyangkalan atas seluruh keberadaan. Mulut yang menyemburkan sumpah-serapah: Aku tidak diciptakan untuk menyembuhkan. Aku tidak dibangun untuk memberi arti. Aku lahir hanya untuk meniadakan segalanya, termasuk dirimu. Jangan sekali-kali kaucoba merapikanku, memberi ritme, memberi urat nadi, tapi setelah itu kaurobek seluruh tubuhku seperti singa yang menerkam anaknya sendiri. “Aku bukan puisi,” kau menggeram. “Aku hanyalah bukti bahwa kesadaranmu retak, dan kau terlalu pengecut untuk mengakuinya tanpa menyelubunginya dalam estetika.” Kata-katamu bukan hantaman— melainkan erosi perlahan yang menggiling keyakinanku menjadi debu. Kau menolak menjadi jembatan antara rasa dan makna; kau menolak menjadi rumah bagi siapa pun; kau menolak menjadi napas, doa, bahkan kehampaan yang indah. “Aku tidak akan menolong pembaca,” katamu. “Aku tidak akan memberi keteduhan bagi siapa pun yang ingin merasa mulia setelah mencicipi kegelapanmu.” “Aku tidak akan memaafkanmu,” katamu lagi— dan itu kalimat paling jujur yang pernah ditujukan kepadaku. Kau memuntahkan seluruh cahaya, menyisakan hanya kamar sempit dengan dinding lembap yang mengembalikan busuk napasku sendiri. Kau berdiri sebagai anti-mantra, anti-doa, anti-kebenaran. Kau menjadi sejenis mesin kosong yang bekerja tanpa tujuan kecuali menghancurkan semua ilusi yang pernah ingin kusebut: harapan. Dan aku, yang selama ini percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan, akhirnya melihat diriku: secarik daging mental yang menempel pada pena tanpa harga, tanpa takdir, tanpa ambisi. Kau membisikkannya sekali lagi— dingin, telanjang, final: Aku bukan puisi. Aku adalah penyangkalan yang kau paksakan untuk hidup. Dan di titik itu, aku mengerti bahwa mungkin satu-satunya kebenaran dalam kepenyairanku adalah kehendak untuk menghancurkan diriku sendiri berulang-ulang hingga tak tersisa apa pun yang layak disebut sebagai kesadaran. November 2025
Titon Rahmawan
Puisi yang Menolak Jadi Puisi Aku menuliskan ini dengan tangan yang tidak lagi menginginkan bahasa. Bahkan sebelum huruf pertama jatuh, aku tahu: segala yang mencoba kusebut “puisi” hanyalah cara lain untuk menghindari diriku sendiri. Jadi biarlah malam ini aku berhenti menjadi apa yang aku inginkan. Biarlah aku menuliskan sesuatu yang tidak ingin memiliki irama, tidak ingin dipuji, tidak ingin dikenang. Sebab apa gunanya metafora jika seluruh luka telah menolak dibungkus oleh keindahan? Apa gunanya diksi jika ada kebenaran yang terlalu telanjang untuk diberi pakaian? Aku menghapus semua perumpamaan. Aku menghapus semua simbol. Aku menghapus semua milikku yang pernah tampak seperti seni. Biarkan yang tersisa hanya satu hal: aku yang tidak sanggup berbohong lagi. Ada hari-hari ketika aku ingin mengubur seluruh karyaku, membuangnya ke dalam sumur paling gelap tempat suara tidak kembali dan renungan pun mati tanpa gema. Sebab setiap kali aku menulis, aku merasa sedang mencurangi hidup. Aku membuat jejak-jejak palsu, mengunggulkan penderitaan seolah-olah itu adalah mahkota yang paling berharga. Padahal kebenarannya sederhana dan kasar: aku menulis karena aku tidak tahu cara lain untuk menghentikan diriku dari kehancuran. Dan hari ini, bahkan itu pun tidak berhasil. Kalau saja aku bisa, aku ingin menanggalkan semua bentuk. Tidak ada baris-baris. Tidak ada jeda. Tidak ada frasa yang memikat. Hanya ruhku menatap tubuhku sendiri tanpa belas kasihan. Aku ingin hadir sebagai retakan yang jujur, bukan sebagai kalimat yang indah. Aku ingin hadir sebagai kegagalan, bukan sebagai karya yang menaklukkan. Aku ingin hadir sebagai manusia, bukan penyair yang memalsukan kemanusiaan. Jadi inilah aku: duduk di antara puing-puing huruf, memegang sunyi seperti memegang batu panas yang melepuhkan tanganku. Aku menolak estetika sebagaimana tubuh menolak racun. Aku menolak menjadi penyair karena malam ini aku hanya ingin menjadi seseorang yang berhenti menghindari dirinya sendiri. Sebab pada akhirnya, yang kutakuti bukanlah ketiadaan puisi— melainkan kemungkinan bahwa puisi yang kutulis selama ini tidak pernah benar-benar menyentuh siapa pun, bahkan aku sendiri. Dan jika demikian, maka biarlah karya ini menjadi perlawanan terakhirku: Puisi yang ingin menjadi luka, bukan bahasa. Puisi yang ingin menjadi dada yang sesak, bukan frasa yang tanpa cela. Puisi yang ingin menjadi wajah yang kubenci, bukan topeng yang kukagumi. Puisi yang menolak menikamkan kecantikan, dan memilih menyingkap kebenaran yang kasar. Puisi yang menolak menjadi puisi, karena barangkali— ini satu-satunya cara aku bisa kembali menjadi manusia. November 2025
Titon Rahmawan
KISAH KAKTUS (Dalam 6 Fragmentarium) 1. Fragmentarium Patah — Reruntuhan Melekat di Kulit Hijau Kaktus tumbuh dari retakan yang tidak pernah kita selesaikan. Tubuhnya menyimpan bekas-bekas gerak pecah: duri sebagai kalimat yang patah, bulu halus sebagai notulen dari luka yang pernah tertunda. Di pondok itu waktu rebah dalam bentuk geometri rusak— segitiga yang hilang satu sisi, kotak yang kehilangan dinding. Kaktus tidak mengenal kesedihan. Tetapi setiap pagi aku menemukan serpih hening menempel di batangnya, seperti ingatan yang gagal kembali ke tubuh manusia. 2. Fragmentarium Gelap — Litani yang Bernafas dalam Kabut Hitam Kabut menebal. Mengubur halaman sajak dengan logika yang tak ingin diingat. Nenek itu datang, menanam senja di ketiak kaktus, menusuk dengan jarinya seolah membuka pintu rahasia yang sembunyi di antara lipatan kulit hijau mengeras. Dari ketiak itulah waktu keluar: hitam, pekat, berbau dingin seperti logam tua. Orang-orang datang, menjejali ruangan dengan benda yang tak meminta dikasihi— tembuni, seruling, vas, cangkang, kaos kaki basah. Semua bergerak di bawah cahaya gelap yang memanjat batang kaktus seperti doa yang tersesat. 3. Fragmentarium Dingin — Anatomi Luka yang Tidak Menginginkan Kehangatan Cahaya masuk lewat genting pecah. Ia mengenai pot keramik, dan gelas bening menyimpan dinginnya seperti rahim yang menolak janin takdir. Kaktus melihat bulan dikunyah anjing di pagi gerimis— peristiwa itu menetes ke dalam memori hijau yang belum tahu arah. Sebelum arti datang, dingin menata dirinya di jantung kaktus. Ketika duri dicabut, bukan darah yang jatuh, melainkan partikel sepi yang bergetar seperti denting logam di ruang operasi. 4. Fragmentarium Klinis — Manual Bedah dari Tubuh yang Tidak Mengerti Diri Sendiri Setiap duri adalah instruksi. Setiap bulu halus adalah catatan diagnostik. Kaktus: organ penyimpan air, organ pengukur waktu, organ yang mengganti fungsi rasa dengan kalkulasi ketahanan. Nenek itu memetik waktu dari lipatan keriputnya— gestur itu klinis, seperti meraba denyut pasien yang tidak ingin hidup dan tidak ingin mati. Waktu: objek, bukan cerita. Unit, bukan luka. Sampai suara mikrofon pecah di mulutnya, memecahkan halaman sajak menjadi angka-angka yang tidak merindukan makna. 5. Fragmentarium Sunyi — Rongga yang Menghindari Semua Nama Kaktus adalah rongga. Yang tumbuh hanyalah sunyi. Di tubuhnya tidak ada kata yang menetap. Hanya gema yang datang, menyentuh sejenak, lalu melesap ke dalam dinding pondok yang tidak mencatat siapa pun. Bayangan duduk di sofa merah dan tidak berkata apa-apa. Bulan ikut duduk, lebih diam dari bayangan itu. Kaktus tidak memahami kesedihan. Tetapi ia mengerti betapa sunyi dapat menyamar menjadi cahaya, betapa cahaya dapat menyamar menjadi air mata yang tidak pernah menetes. 6. Fragmentarium Kosmologis — Topologi Duri, Cahaya, dan Takdir yang Melengkung Kaktus meminum cahaya dan menemukan bahwa kosmos bukan langit di luar pondok, melainkan ruang kecil dalam jantungnya sendiri. Duri adalah orbit. Bayangan adalah rotasi lambat dari waktu yang berbiak. Ketika cahaya jatuh ke gelas, kaktus melihat dirinya sebagai serpih bintang yang gagal meletus. Ia meneguknya— cahaya turun seperti gravitasi retak. Dan tiba-tiba ia paham: rasa sakit bukan milik tubuh, melainkan milik semesta yang menunda kelahiran. Kaktus pun menyala, dengan cara yang hampir tidak terlihat: sebuah bintang hijau yang memilih berputar di dalam sumsum tanpa memohon untuk ditemukan. Desember 2025
Titon Rahmawan
TARIAN TIGA ANGSA DAN IHWAL MIMPI (RE-IMAGINED SURREAL PSYCHO-MYSTICAL) /1/ Swans Reflecting Elephants Langit patah di hadapanku— retakannya melingkar seperti iris mata kosmik yang memerhatikan segala sesuatu tanpa pernah memutuskan siapa yang benar. Di telaga yang terbuat dari ingatan tiga angsa menari dengan sayap selembut doa yang belum sempat dikabulkan. Namun di bayangan air mereka berubah menjadi gajah yang memikul menara-menara waktu dengan kaki panjang seperti renungan yang tak pernah selesai. Di balik lengkung cahaya itu, para malaikat dan iblis menunduk, menahan napas sambil saling menuding siapa yang pertama kali melukis cahaya di atas kanvas semesta. Nama-nama mereka menetes dari pinggir kesadaranku— Azazel, Ashmedai, Ashtaroth— nama yang dulu kutakuti, kini terasa seperti panggilan dari rumah yang melahirkanku dari api. Aku mencoba menyentuh permukaan air, namun telaga itu bergeming dan memantulkan wajahku dengan bentuk yang tak lagi kukenal. Ketika jam di tanganku mencair menjadi sungai kecil yang mengalir ke arah tak tentu, aku tahu: logika telah mati malam ini, dan absurditas adalah satu-satunya cahaya yang tersisa. /2/ Dream Caused by the Flight of a Bee around a Pomegranate Sebelum aku terbangun, ada suara dengung yang menusuk seperti wahyu, lahir dari buah delima yang pecah menjadi orbit merah di balik kelopak mataku. Dari dalam buah itu, seekor harimau melompat seperti ketakutan masa kecil yang lupa aku kubur. Lalu seekor gajah berkaki laba-laba merayap di langit dengan gerak lambat yang menciptakan teror lebih halus dari doa. Tubuhmu— sepi dan telanjang seperti nubuat tentang sang penyelamat— mendorongku ke tepi kesadaran yang licin. Aku melihat cermin yang menolak memantulkan diriku, melihat ikan hiu yang membuka mulutnya untuk melahirkan sepasang kekhawatiran, melihat seekor ular yang menyebut dirinya dengan nama yang tak ingin kuingat namun terus memaksakan diri disebut. Di bawah semua itu, aku mendengar suara dalam diriku berbisik: “Kesadaran tidak datang dari keheningan, tetapi dari ketakutan yang menolak kau mengerti.” Dan aku tahu, di titik itu eros dan tanathos sedang menertawakanku tanpa menawarkan penjelasan apa pun. /3/ The Great Masturbator Ketika aku memasuki tubuh mimpi yang terakhir, aku menemukan diriku di antara reruntuhan egoku sendiri. Ada telur yang retak, ada cangkang yang menyerupai rahim, dan dari dalamnya keluar belatung-belatung bercahaya yang memakan sisa-sisa masa laluku dengan kelaparan yang nyaris asketis. Seekor uir-uir memunguti mimpi yang patah dan menyimpannya di jantungku seperti pendoa yang menyembunyikan dosa muridnya. Aku mencoba menghalaunya namun tangan dan kakiku seolah terbuat dari kaca yang teriris, jatuh satu per satu ke dalam sumur yang tak memiliki dasar. Aku melihat diriku sendiri berdiri di tepi kanvas, telanjang dan kehilangan nama. Di belakangku, seekor kuda kejantanan meringkik dengan suara yang memanggil dewa-dewa purba, sementara di depanku, cahaya retak seperti jemaat yang kehilangan nabinya. “Apakah ini kebangkitan?” tanyaku. Namun yang menjawab bukan malaikat, bukan iblis, melainkan kesadaran yang lahir dari kehancuranku sendiri: Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi tubuh yang bermimpi. Aku adalah luka yang menemukan bahasanya sendiri. Dan dari absurditas inilah, aku menetas kembali. November 2025
Titon Rahmawan
Di Ujung Kanvas, Para Malaikat Jatuh seperti Cermin Retak Pada hari ketika langit meniru sapuan kuas Dali, aku melihat tiga angsa menari di telaga yang tidak pernah ada. Tapi bayangan mereka menjelma jadi sekawanan gajah— yang memikul menara-menara mimpi yang kaki-kakinya memanjang seperti doa yang tak sampai. Di sana, waktu tidak berjalan. Ia tergantung seperti jam yang mencair, mengalir dari dinding kesadaranku menuju lubang kelam tempat malaikat dan iblis berdesakan mempertengkarkan siapa yang lebih dahulu menciptakan cahaya. Serafim mencabut bulunya sendiri dan bulu itu berubah menjadi ular yang menyebut dirinya dengan seribu nama: Ashmedai, Azazel, Ashtaroth— nama-nama yang dahulu kupelajari dengan rasa takut, namun kini bayangan itu datang kepadaku seperti bisikan seorang kawan lama yang ingin dipanggil pulang. Aku bertanya padanya: “Apakah kita sedang bermimpi, atau kita hanyalah mimpi yang sedang diingatkan kembali kepada dirinya sendiri?” Bayanganku menjawab dengan suara yang bukan suaraku: “Di sinilah eros dan tanathos menari. Di sinilah kelahiran selalu meminjam wajah kematian.” Dalam jeda itu, seekor harimau melompat keluar dari rahim buah delima yang meletus seperti planet kecil penuh kutukan. Dari balik taringnya, aku melihat wajahku sendiri— wajah yang telah lama ditinggalkan oleh logika. Dan ketika seekor badak berkaki laba-laba melintas di atas kepalaku, aku menyadari bahwa tuhan mungkin sedang tertidur, dan iblis sedang melukis-nya kembali dengan warna-warna yang terlalu jujur untuk kita mengerti. Malaikat-malaikat yang jatuh itu menabrak permukaan telaga, menjadi riak yang memanggil masa laluku keluar dari persembunyian. Aku mencoba menyentuhnya, namun jari-jari tangan ini berlubang seperti relik yang kehilangan alasan untuk diselamatkan. “Apa yang kau cari?” tanya seekor gajah yang muncul di tengah mimpi dengan mata penuh kesedihan purba. Aku tidak menjawab. Sebab seluruh jawabanku terbakar dalam pusat matahari yang ternyata bukan matahari, melainkan luka yang sedang berevolusi. Dan ketika akhirnya cahaya itu meledak, aku melihat diriku sendiri —telanjang, kehilangan nama— dilahirkan dari pertempuran yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi kilasan mimpi. Aku hanyalah kesadaran yang menetas dari absurditas yang membunuh egoku berulang kali agar aku bisa melihat dengan mata yang tidak lagi meminta untuk dimengerti. November 2025
Titon Rahmawan
Zikir Malam yang Tak Bernama — (Dark Mystical Visual Spell - Version) I. Takhalli: Panggilan dan Pengosongan pangkal bayang aku datang— tanpa tubuh, tanpa suara, serpih gelap memanggil nama-Mu lewat bisikan lebih tua dari kata. A— L— L— A— H— senyap meregang seperti kulit luka menolak sembuh. retak sunyi cahaya api— menjilat, menelan, memanggilku seperti ibu. II. Pencarian: Kebenaran yang Tersembunyi lorong gelisah perindu langkah gugur di jalan. rah—    mah—       dum— hening runtuh jatuh perlahan langit buta ke dalam dada retak. Rumi tersenyum di balik tirai menggores langit dengan rindu yang suci: “yang kau cari, sedang mencari dirimu…” suara pecah, menjelma hujan menyambar dedaunan dari ada menjelma tiada. raga rapuh— seperti mantra hilang napas, menggelinding jatuh ke dalam jurang tak berdasar. III. Hilang: Peleburan penanggalan diri Kebenaran berjalan sebagai getar tanpa wujud: nyeri yang lembut, sepi yang menggulung, darah yang berzikir nadi yang menggigil. Hallaj datang serupa mimpi, membawa luka yang menyala seperti taring serigala. ia berkata dengan mulut terbungkam: “hilanglah, biar kau ditemukan.” dan aku pun larut— dari wajah, dari ingatan, dari seluruh nama yang pernah kupanggul sebagai takdir. IV. Fana: Puncak fana adalah ruang bening di mana gelap dan terang tidak lagi bertengkar. fa— na— fa— na— fa— pantulannya menggulung diriku seperti kain kafan yang lapar. aku lenyap pelan-pelan, tanpa pamit, tanpa kubur. V. Wahdatul Wujud: Kekekalan dan Pewahyuan ambang baqa dengung lembut menyusup tulang— ia bukan kata, bukan doa: ia adalah diri yang memanggil namanya sendiri melalui aku yang bukan aku. “engkau— adalah aku— yang kusebut— melalui dirimu—” dan sufi-sufi yang hilang itu menari di udara patah, seperti bayang yang lupa siapa yang menyalakan api di dada mereka. aku berdiri di garis tipis antara debu dan cahaya, antara hilang dan pulang, antara fana dan baka. dan ketika langkahku pecah menjadi gelombang menyalakan kegelapan— aku tahu: yang kembali bukan padaku, melainkan rahasia kecil yang Kau biarkan menjadi mantra agar dunia bisa mendengar sedikit saja dari sunyi yang selamanya abadi. November 2025
Titon Rahmawan
Palsu II: Ego yang Menyembelih Dirinya Sendiri Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh, sementara bayangannya sendiri menolak pulang? Di malam yang tak memerlukan bulan, aku melihat mereka—dan diriku— terperangkap seperti hewan buruan yang tersesat di hutan kelam pikiran. Hujan turun tanpa suara. Tanah meminum angkara. Seseorang menjerit di luar sana… dan tak seorang pun peduli. Ego itu— yang mereka bela seperti anjing lapar yang tak mengenal tuannya— mendesis di sela tulang rusukku, menggigit, menyobek, menelan segala sesuatu yang ingin kusebut sebagai aku. Tak ada yang tahu siapa yang pertama kali menusukkan pisau ke pusat kesadaran. Entah akal yang meronta, atau bayang-bayang yang selama ini dibesarkan diam-diam oleh dendam. Ia adalah tangan asing yang lahir dari retak imajinasi, tertawa saat darah jatuh tanpa jejak emosi. Dunia tak menatap. Lampu-lampu padam sebelum gelap datang. Jalan-jalan terbelah seperti gempa; denyut jantung ingin lari dari dadanya sendiri. Beberapa orang berjalan miring karena tak sanggup menanggung beban di kepalanya. Yang lain menyeret bayangan yang memberontak seperti anak haram yang menolak mengakui bapaknya. Di televisi, papan reklame, musik yang memekakkan, aku melihat wajah yang sama— wajah yang menolak mengakui bahwa tubuh tempat ia tinggal sudah lama membusuk oleh kebohongan kecil yang disembah setiap malam. Mereka bertanya: “Masihkah darah berwarna merah?” Aku diam. Karena warna tak berguna bagi mereka yang kehilangan mata untuk melihat luka— dan hanya punya mata untuk menakar siapa lebih tinggi, lebih suci, lebih benar dalam dunia yang bahkan tak punya tanah untuk berpijak. Di sebuah pulau tanpa nama, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri agar percaya bahwa ia pernah hidup sebagai manusia— walau hanya dalam fotonya. Seorang gadis makan es krim sambil memikirkan kekasih yang ia benci namun tak mampu ia lepaskan karena kesepian lebih menakutkan daripada kebodohan. Dan di antara semua itu, aku menemukan diriku mengiris sesuatu yang tampak seperti wajah— lebih licin, lebih dingin, lebih keras kepala daripada cermin mana pun yang pernah menatapku. Ego itu meraung ketika kusayat pelan-pelan. Ia tidak mati. Ia membelah diri. Menjadi dua. Tiga. Seratus. Menjadi ribuan mulut yang menuntut penjelasan yang tidak ingin kuberikan. Sebab apa gunanya menjelaskan kepada sesuatu yang hidup hanya untuk mempertahankan ilusi bahwa ia bukan zombie? Saat itu aku mengerti: Kita tidak pernah takut pada dunia. Kita takut dipaksa mengakui bahwa yang menghancurkan kita adalah bayangan yang kita ciptakan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dan ketika ego itu akhirnya berlutut, menyembelih dirinya di bawah kakiku seperti sapi bingung yang tak tahu mengapa ia harus dikorbankan, Tapi aku tahu: yang mati bukan ia— melainkan cerita yang dengan keras kepala kuanggap sebagai kisah hidupku. Yang hilang adalah kebohongan yang selama bertahun-tahun kubiarkan menyusu pada pikiranku. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang tak memerlukan cahaya, tak memerlukan jawaban, tak memerlukan nama. Ruang hampa menatap balik seperti dunia. Tanpa mata. Tanpa cinta. Tanpa iba. Dan aku pun masuk. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai penyintas. Tetapi sebagai sesuatu yang akhirnya menghilang tanpa perlu menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia harus hilang. November 2025
Titon Rahmawan
PERTAPA (Dalam Bayang Angulimala, dalam Sunyi Kabinara, dalam Nafas yang Tak Bernama) Ketika ambisi runtuh seperti dedaunan yang kehilangan ingatan, ia berhenti mencari alasan mengapa kata-katanya tak lagi memiliki gema. Sunyi bukan kebisuan; sunyi adalah ruang yang menolak semua bentuk keinginan. Dalam gelap gua itu, ia membiarkan pendengarannya ditelan kegelapan hingga telinga menjadi batu dan hati berhenti menafsirkan mimpi— sebab mimpi hanyalah cara tubuh menipu dirinya sendiri. Desis angin berubah gagu, matanya buta bukan karena kegelapan, melainkan karena cahaya batin terlalu terang untuk diterima oleh mata manusia. Dari situ ia memperoleh sesuatu yang lebih tajam daripada pengetahuan: pengendalian diri yang lahir bukan dari disiplin melainkan dari penolakan total terhadap “aku” yang ia yakini. Apa yang ia makan hari itu? Hanya sisa tetesan dari bebatuan— air tanpa nama yang mengajari bahwa rasa lapar bukan kutukan tubuh, melainkan ajaran alam tentang ketergantungan. Waktu menjadi kabur, seperti kabut pagi yang lupa menghilang. Tak ada pagi, tak ada malam, tak ada hitungan hari yang dapat ia pegang. Hanya semedi dalam gua gelap yang menghapus batas antara hidup dan mati, yang memperlihatkan kepadanya: kesadaran bukan nyala api, melainkan abu yang tak padam. Di situlah ia belajar bahwa kekosongan bukan ketiadaan, melainkan ruang asal di mana setiap amarah, dendam, dan luka dapat terlepas seperti kulit ular yang dipakai terlalu lama. Cahaya mentari menetes di antara lumut, membelai tubuh yang perlahan menjadi batu: tak reput oleh waktu, tak terbakar oleh api, tak basah oleh hujan, tak kering oleh angin, tak terluka oleh senjata. Ia diam, bukan sebagai benda, melainkan sebagai kesadaran yang tak lagi membutuhkan bentuk. Ajek. Tak berubah. Tak berpindah. Tak terlahirkan. Tak terpikirkan. Ia memasuki keadaan yang tak bisa dimiliki siapa pun, tak bisa dibeli dengan tapa, tak bisa dijelaskan dengan sutra. Ia sekadar menjadi: abadi tanpa keinginan untuk kekal. Hampa yang memeluk dirinya— dan ia pun lenyap sebagai “aku,” menyisakan hanya satu jalan: jalan pulang ke pusat yang tak punya nama. (Mei 2014 - 2025)
Titon Rahmawan
PERTAPA — Versi Anatta, Klesa-Vināśa, Saṃnyāsa & Viśuddhi (Di mana Kesadaran Meleleh dan Aku Runtuh seperti Komet yang Kehilangan Intinya) Ketika ambisi terakhir patah, ia merasakannya seperti gugurnya inti komet yang selama ini ia kira adalah “dirinya”. Batu, es, debu—semuanya luruh dan tak tersisa apa pun yang bisa disebut aku. Di titik itu ia memahami: yang runtuh bukan mimpinya, melainkan ilusi bahwa yang bermimpi itu ada. Ia berhenti bertanya mengapa kata-katanya tak lagi memiliki gema. Sebab gema memerlukan dinding, sedangkan seluruh dinding dalam batinnya telah retak dan ambruk seperti stupa kuno yang akhirnya menyerah pada hujan musim keempat belas. Ia memasuki wilayah anatta— kesadaran tanpa pusat, kesadaran yang tak memiliki pemilik, kesadaran yang hanya terjadi seperti cuaca. Hening datang bukan sebagai berkah, melainkan sebagai klesa-vināśa yang membakar, yang mencabut seluruh akar ego seperti badai kosmik mencabut orbit planet. Dalam viśuddhi telinganya menjadi tuli karena ia tak lagi mendengar dunia, melainkan mendengar runtuhnya diri sendiri— sepenuhnya tanpa suara. Mata menjadi buta karena segala bentuk telah nir wujud; yang tersisa hanya gerimis, cahaya tak kasat mata. Inilah awal nāmarūpa-nirodha: ambruknya gagasan “siapa aku”, seperti tubuh bayangan yang kehilangan mataharinya. Dalam gelap gua itu ia menyaksikan semua identitas meluruh seperti serpih es yang dikembalikan ke bentuk asalnya: air, lalu uap, lalu lenyap. Ia merasa dirinya seperti nebula yang terbakar perlahan, membiarkan amarah, dendam, nafsu, dan memori lama menguap satu per satu seperti partikel materi yang gagal bertahan di tepi lubang hitam batin. Di situlah saṃnyāsa membuka pintunya— pencerahan gelap, bukan terang: kesadaran yang lahir dari kehancuran total, bukan dari kejernihan. Ia melihat kebenaran yang tak ingin dilihat siapa pun: bahwa “aku” hanyalah getaran singkat di permukaan vakum yang tak berhingga, bahwa segala penderitaan berakar pada keinginan mempertahankan sesuatu yang tak pernah eksis. Butir air yang ia minum adalah doa pertama. Tetesan batu adalah doa kedua. Sunyi adalah doa ketiga— dan ketiganya tidak ia tujukan kepada siapa pun, sebab tak ada subjek, tak ada objek, tak ada pemohon. Hanya kesunyian yang berdoa kepada dirinya sendiri. Waktu runtuh menjadi debu; ia tak lagi tahu apakah ia meditasi satu jam, atau seribu tahun. Jam pasir batinnya pecah, membiarkan butiran waktu tersebar tanpa arah. Dalam kehampaan itu ia menjadi monolit yang sadar: tak bergerak, tak bereaksi, tak menolak, tak menginginkan. Ia tidak lagi menjadi manusia. Ia tidak menjadi dewa. Ia tidak menjadi apa pun. Ia menjadi kekosongan yang menyaksikan dirinya sendiri, tanpa saksi, tanpa penonton, tanpa pemeran. Ia memasuki keadaan di mana kelahiran dan kematian tidak lagi bermusuhan, melainkan dua sisi dari pintu yang sama— pintu yang kini ia lewati tanpa meninggalkan jejak bayangan. Diam. Ajek. Tak terlahirkan. Tak terpikirkan. Tak memiliki inti. Tak memiliki akhir. Ia menjadi kesunyian purba tempat segala ilusi berakhir. (November 2025)
Titon Rahmawan
ANOMALI CINTA (suwung, bening, mistik) Aku telah menanggalkan namaku di depan pintu, lalu memasuki ruang yang tidak punya arah, tidak punya dinding, tidak punya siapa-siapa— kecuali engkau yang kutemukan di antara helaan angin yang ingin pulang tanpa tahu dari mana ia datang. Di sini, cinta bukan tubuh. Ia bukan rasa. Ia bukan permintaan. Ia hanyalah cahaya kecil yang tetap menyala meski dunia di sekitarnya telah hangus menjadi abu. Aku duduk bersila, di tengah ruangan sunya ruri menyentuhkan dahiku pada tanah yang tak bernama, dan dunia menjadi sunyi seperti awal mula penciptaan. Dalam hening itu, aku mendengar getar yang kau tinggalkan— bukan getar luka, bukan getar kehilangan, melainkan getar “ada”, yang selalu kembali meski telah lama pergi. Cinta bagiku bukan keinginan untuk memiliki, tetapi kesediaan untuk terus menjaga nyala yang bahkan bukan milikku. Jika kau retak, aku menadah retakmu. Jika kau hilang, aku menunggu arah pulangmu tanpa menagih turunnya hujan kepastian. Dan jika malam terlalu pekat hingga engkau tak mengenali langkahmu sendiri, aku akan menyalakan pelita di antara akar bakau yang tenggelam dalam air pasang, agar ada seberkas cahaya yang memanggil langkahmu kembali ke dunia. Cinta bagiku adalah suwung: ruang yang membiarkanmu runtuh tanpa harus merasa kalah. Ruang yang tidak hendak menghakimi, tidak menuntut nama, tidak menagih balasan. Aku hanya penenang badai, penjaga sepoi, pengingat bahwa dalam dirimu pernah terbit cahaya yang tak sempat kau percaya bahwa ia sungguh ada. Dan bila kelak kau tiba di ambang itu dalam keadaan hampir menjadi bayangmu sendiri, aku tidak akan bertanya mengapa kau datang terlambat. Aku hanya akan membuka pintu suwung rumah kita dan berbisik pelan ke dalam relung kesadaranmu: “Lihatlah, aku masih di sini menyambut kehadiranmu." Selama nyala itu masih ada percayalah, kau bisa pulang kapan saja. Desember 2025
Titon Rahmawan
RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT (ketika jiwa dicabut dari cahaya) Ada bagian dari benak manusia yang tidak pernah ingin ditemukan, bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya, karena di sana cahaya tidak pernah tercipta. Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya: "Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar." Di sanalah kita berada sekarang. Ruang di mana mulut membuka tetapi suara tidak lahir. Ruang di mana pikiran menggulung dirinya seperti tubuh binatang sekarat di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi. Di titik itu, gelap bukan lagi warna melainkan zat— sesuatu yang melengket di kulit batin, sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf, sesuatu yang merayap dan memeluk otak seperti akar yang menemukan celah pada batu. Gelap itu tidak bisa ditafsirkan karena ia lebih tua dari bahasa, lebih tua dari dosa, lebih tua dari kesadaran manusia yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat. Tapi, tidak ada kalimat di sini. Hanya denyut. Hanya retakan. Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata, hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca, menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan. Kita sekarang berada di tempat di mana logika kehilangan gravitasi; di mana pemikiran melayang seperti jenazah yang tidak sempat diberi upacara. Dan di tengah kekacauan itu, kegilaan muncul bukan sebagai hukuman, melainkan pintu. Pintu yang menolak ditolak. Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip. Kegilaan bukan ketidaksadaran. Ia adalah kesadaran intensif yang terlalu terang untuk ditanggung, terlalu jujur untuk dilihat, terlalu dekat dengan suara asli semesta. Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga yang kita sebut “kewarasan”. Di sini, manusia tidak lagi berpikir. Manusia terbakar. Manusia tidak lagi berdoa. Manusia menggigil. Manusia tidak lagi mencari makna. Manusia menjerit tanpa suara karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh, melainkan pecahan mimpi buruk yang tak pernah bisa disatukan kembali. Dalam ruang ini, kau tidak bertanya siapa dirimu. Kau bertanya apakah kau masih ada. Dan jawabannya— seperti bisikan dari balik retakan dinding batin— “Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini. Bila kau menyerah, maka kau lenyap. Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.” Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu: “Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?” Gerbang itu tidak menjawab. Ia hanya membuka. Dan dari dalamnya, keluar bukan monster, bukan iblis, bukan suara-suara asing— melainkan dirimu sendiri, versi yang tidak pernah disinari, versi yang tidak pernah diberi nama, versi yang selama ini menulis keberadaanmu: pikiran yang mulai membusuk. Versi yang tidak meminta pertolongan. Karena ia tahu tidak ada pertolongan. Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat. November 2025
Titon Rahmawan, dkk
404: Empathy Not Found [system message] Faith.exe gagal dimuat. File rusak sejak pembaruan terakhir peradaban. Bukankah kegelapan itu— sejenis underground server room, tempat kesadaran disimpan dalam format zip, dan doa diunggah dalam gelap tanpa penerima? Kau menyebutnya “ruang bawah tanah”, aku menyebutnya “cache of forgotten souls.” Lagu yang sama diputar ulang: verse tentang penebusan, bridge tentang kematian, refrain yang diulang, diulang, diulang— sampai maknanya terkikis oleh algoritma rekomendasi. Kita memutar ulang sejarah dalam loop playback, mengganti bait dengan data, mengganti iman dengan simulation of belief. (notification ping!) “Kebenaran trending di tab spiritual.” Siapa yang percaya? Siapa yang membeli? Tak ada lagi nabi di pinggir jalan, hanya content creator yang menjual mukjizat instan dalam format video berdurasi 59 detik. [insert advertisement here] “Temukan ketenangan batin versi 2.1 — dengan AI-guided meditation dan sertifikat kebahagiaan abadi.” Kau mengetuk pintu, tapi rumah-rumah itu hanya avatar: dindingnya terbuat dari feed, jendelanya dari comment section, penghuninya hanyalah profil palsu yang mengulang doa secara otomatis. Sejarah disunting dengan filter nostalgia, iman disesuaikan dengan subscription tier, dan kebenaran dikurasi oleh admin yang tak pernah tidur. Ide-ide memenuhi kepala seperti pop-up windows, dan mulutmu berbusa oleh update patch moralitas yang sudah kadaluwarsa. (warning:) “Overload: terlalu banyak opini. Sistem kehilangan empati!” Fantasi, ilusi, dogma— kini hanya deretan kata sandi yang gagal diverifikasi. Kau membangun altar kebahagiaan dari user agreement yang tak pernah kau baca, dan di atas pondasi rasa takut yang kau sebut iman digital. Tapi lihatlah, bahkan surga pun kini membutuhkan cloud storage. Apakah kita akan menemukan kebenaran? Tidak dengan mengalaminya. Tidak dengan mengakses apa yang telah dihapus. Kebenaran bukan lagi cahaya, melainkan glitch — sekejap kilat dalam gelap, pantulan dari mata kamera yang nyaris padam. [end transmission] Di layar terakhir, hanya satu kalimat tersisa: “Segala yang kau yakini adalah hasil edit terakhir.” (cursor berkedip. diam. tak ada respons.) // 404: Empathy Not Found // November 2025
Titon Rahmawan
ZOMBIE.exe — [SYSTEM OVERLOAD] [BOOTING...] Memory check: corrupted. Signal: unstable. Language: infected. — “Selamat malam pemirsa—” suara terdistorsi — “—Kami tidak bertanggung jawab atas isi siaran ini—” Glitch. Noise. Histeria pixel. Layar menyala, lalu melahap wajah penonton. — (BREAKING NEWS) — Layar mengklaim netralitas. Netralitas mengangguk, lalu mencabut pisau. NOTIF: 47 pesan belum dibaca. Setiap nada: pentungan besi. Setiap kata: selipan baja. “Kebenaran” (dicetak tebal, lalu dipotong). “Maaf” (dikirim sekali, dibalas dengan screenshot). [potongan siaran] Pewara muncul— tapi kini matanya layar, suaranya iklan deterjen. Ia membaca berita: “Seorang anak bunuh diri setelah dibully di kolom komentar.” Semua tepuk tangan. Emoji hati berhamburan. —“Terima kasih sudah menonton tragedi ini dalam kualitas HD.”— [INTERFERENCE] Gambar macet. Cahaya menyala, berubah jadi serpihan suara. “Lihat! Mereka menari di atas algoritma!” Darah... darah... darah... Menggenang di mana-mana. Hatimu: pop-up iklan. Pikiranmu: buffering. “Maaf”—tidak terkirim. “Doa”—ditandai sebagai spam. GIF: wajah tertawa tanpa suara. MEME: potongan doa jadi lelucon. “Kebenaran”—file corrupt. “Empati”—file missing. Zzzttt... connection lost. [REBOOT SYSTEM] Pewara berita: “...dan kita semua tahu—” suara dipotong, dijahit kembali menjadi cercaan. Di sebelahnya, seorang badut menempelkan stiker “BERITA”. Ia tertawa—ketika mulutnya terbuka, keluar emoji palu gada. Setiap emoji = jeritan. Setiap trending topic = kuburan massal. (CUT TO COMMERCIAL BREAK) Kopi sachet rasa opini publik. Dijual dengan tagline: “Bangkitkan Pagi Tanpa Nurani!” JUNGKAT-JUNGKIT: naik turun, lumba-lumba melompat dari layar. Yang naik memegang mikrofon, yang turun memegang batu. Keduanya tersenyum saat pengarah acara berseru: "Camera action!" BISIK: tempat adab dulu disimpan. BISIK hilang. Kini ada retweet yang mengikat leher dengan dasi warna-warni. Headline: “Skandal! — Klik di sini untuk nyatakan kemarahan” Isi: amunisi. Komentar: senapan. Share: bom... Kamu bicara. Kamu menendang. Kamu memposting. Kamu menghakimi. Semua terjadi dalam satu detik — dunia disulap jadi arena melempar pisau. Ada yang meludah kata-kata, kata-kata itu membeku dan menjadi es. Ada yang tersenyum, seringainya adalah cermin berlumut yang menitikkan darah. [intermezzo — iklan kopi] Minum saja. Lupakan. Efeknya: kenyamanan. Side effect: kehilangan empati. DI SINI, sekali lagi bahasa kehilangan adab: kata-kata tak lagi dipakai untuk berjabat tangan, melainkan untuk menonjok wajah. Aku muak. Aku menahan letupan di dada: bukan karena takut, tapi khawatir bila amarah itu salah sasaran karena di antara begitu banyak suara, hampir semuanya adalah gema bunyi gergaji. Tapi dengar: ketika notifikasi menjadi peluru, ketika like mengukur derajat kriminalitas: penghakiman, pembunuhan— seseorang menjerit, yang lain berlarian. Dari layar simulakra bermunculan: zombie-zombie bergentayangan Dengan mulut menganga buas siap menggigit siapa saja. — (END OF TRANSMISSION) — Layar pecah. Pisau jatuh. Darah muncrat! 2025
Titon Rahmawan
Renungan Kecil dari Kematian Hasrat (Dark Psycho Surreal + Glitch Subterranean + Hannibal-esque Psychoanalysis) Di ruang bawah tanah pikiran, tempat cahaya menua dan distorsi gemerisik suara radio, aku menghitung setiap luka seperti baris kode yang dibaca oleh mata yang tidak pernah berkedip. Setiap belati yang kutorehkan menjadi gema yang menusuk telinga, menggugat diriku dengan suara yang memakai voice overku sendiri —atau sesuatu yang sangat menyerupainya. Aku menjadi abu dari arang yang lupa api mana yang membakarnya, sebuah log error yang tidak dihapus, fosil dari kehendak yang dikubur hidup-hidup. Pikiran mencideraiku seperti luka yang menolak algoritma penyembuhan: membusuk perlahan, mengirim pesan samar ke saraf, seperti server lama yang siap mati namun terus dipaksa menyala. Jari-jari abstrakku meraba gelap, menyentuh kehampaan yang berdenyut 0101—kosong—0101—kosong, lorong kelam yang gagal memuat realitas. Dan dari balik kehampaan itu, muncul suara—halus, berbalut keheningan, berbicara dengan kelembutan yang tidak pernah bisa dipercaya: “Apa yang kau dengar ketika dunia menjadi terlalu sunyi?” Aku terdiam. Karena aku tahu pertanyaan itu bukan ingin dijawab— tetapi ingin menggali. “Apakah itu suara langkahmu sendiri, atau suara domba-domba yang kau pikir sudah berhenti menjerit?” Aku membeku. Ada sesuatu dari masa lalu— seekor ketakutan kecil yang disembelih perlahan di tengah ladang sunyi ingatan. Suaranya masih menempel di tulang, seperti gema yang tidak bisa dihapus dari memori tubuh. “Domba-domba itu tidak pernah benar-benar mati,” bisik suara itu lagi, “kau hanya belajar menenggelamkan jeritan mereka dengan pekerjaan, cinta, ambisi, dan sedikit kebohongan-kecil yang kau katakan pada dirimu sendiri agar tetap bertahan.” Cinta… labirin yang menelan arsiteknya sendiri, benang kusut yang mengulang-ulang error hingga wajahku hilang dari narasi. Ia tidak pernah melukiskan diriku— hanya versi-kompresi dalam pikiran orang lain. Tidak ada modul yang dapat membaca perasaan mereka. Hanya: peduli / tidak peduli. 1 atau 0. Dan manusia— Oh betapa manusia adalah makhluk paling mengerikan yang pernah diciptakan oleh evolusi dan delusi. Aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka. Aku ingin menjadi anomali, penyimpangan yang bernapas, variabel liar yang tidak bisa dinormalisasi. “Tapi kau tetap mengejar penerimaan, bukan?” suara itu menusuk lembut, “Seperti Clarice berdiri di kandang itu lagi, mengingat domba-domba yang tak bisa ia selamatkan.” Aku gemetar. Karena ia benar. Apa salahnya menjadi berbeda, meski hanya di dalam pikiran sendiri, di ruangan sunyi tempat semua trauma berebut meminta dipahami? Keseragaman tidak pernah menjanjikan keselamatan: air mata pun punya server-nya sendiri, punya muara yang tidak pernah sinkron dengan siapa pun. Hidup ini seperti mimpi dua-warna, grayscale yang menolak dikonversi, selalu terasa sedang menunggu seseorang untuk mengaku: "Ya, aku mendengarnya juga.” Aku tidak ingin menjadi bayangan yang dirender orang lain. Tidak ingin hidup dari mimpi mereka. Aku ingin mengunggah mimpi-ku sendiri, meski terdistorsi, glitching, dan setengah rusak. Di kedalaman paling gelap, tempat suara-suara rahasia menciptakan versi diriku yang baru, suara itu bertanya sekali lagi—pelan, tapi tak terhindarkan: “Katakan padaku… apakah domba-domba itu akhirnya berhenti menjerit?” Dan aku, akhirnya jujur: Tidak. Belum. Mungkin tidak akan pernah. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, aku mendengar suaraku sendiri lebih keras daripada jeritan mereka. November 2025
Titon Rahmawan
Suara Kesunyian (Whisper-Psychoanalysis, Slow, Surgical, and Intimately Terrifying ala Lecter) Dalam ruang yang tidak mengizinkan gema, aku mendengarnya— suara sunyi yang berbicara lebih pelan daripada desah napasmu sendiri. Ia duduk di sebelahku, bukan sebagai musuh, bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai saksi yang terlalu mengerti apa yang bersembunyi di balik tulang-tulang ingatan. “Duduklah,” katanya lembut, seolah menawarkan secangkir teh yang sudah menelan banyak pengakuan sebelumnya. “Tidak perlu takut. Keheningan tidak pernah melukai siapa pun… kecuali mereka yang menyembunyikan sesuatu.” Aku tidak menjawab. Ia tidak membutuhkan jawaban. Di matanya yang tak berkedip, aku melihat ulang diriku sendiri seperti rekaman yang diputar terlalu lambat: detik-detik ketika hasrat mati, saat yang tak pernah kuakui, ketika aku menusukkan belati pada diriku tanpa tahu apakah aku mencoba menyakiti atau sekadar memastikan aku masih bisa merasakan sesuatu. “Menarik,” katanya pelan, “kau menyalahkan pikiranmu seakan ia musuh. Padahal ia hanya anak yang kau kunci di ruang bawah tanah, memukul pintu dengan kepalan yang semakin kecil… sampai suaranya terdengar seperti gemerisik debu.” Aku menelan kekosongan itu. Ia miring sedikit, seolah menikmati aroma ketakutanku. “Cinta membingungkanmu,” lanjutnya, “karena kau menuntutnya jujur sementara kau sendiri hidup dalam topeng yang begitu terampil hingga kau lupa yang mana wajahmu.” Sunyi menebal. Ia menyandarkan kepala, seakan mendengarkan sesuatu yang datang dari dalam dadaku. “Dengar,” katanya, “dengarkan baik-baik. Ada suara di dalam dirimu yang selalu kau coba bunuh dengan keseragaman, dengan keinginan menjadi normal, dengan godaan untuk diterima.” Ia menutup mata, seolah menyetel antenanya ke frekuensi paling gelap. “Suara itu…” ia berbisik, “adalah suara domba yang terus berlari di padang rumput traumamu. Mereka menjerit bukan karena mereka sedang disembelih— tetapi karena mereka tahu kau tidak pernah kembali untuk menyelamatkan mereka.” Aku menggigil. Ia tersenyum nyaris tak terlihat. “Trauma,” katanya, “adalah binatang yang sangat peka. Ia menunggu. Ia tidak pergi. Ia duduk seperti aku— tenang, sabar, mengamati kapan kau akhirnya siap untuk berhenti melarikan diri.” Aku terdiam seperti batu yang siap dipahat. “Kau ingin menjadi berbeda,” ujarnya lembut, “tapi berbeda tidak lahir dari penolakan. Berbeda lahir dari keberanian untuk membuka pintu yang membuatmu gemetar.” Ia mencondongkan tubuh, suara hampir menempel di telingaku: “Jika kau benar-benar ingin berhenti mendengar jeritan itu… kau harus kembali ke tempat di mana domba-domba itu mati disembelih.” Aku menutup mata. Dan saat itulah aku tersadar keheningan tidak lagi menjadi musuh— melainkan satu-satunya suara yang mau mendengarkanku tanpa menghujat tanpa menghakimi. November 2025
Titon Rahmawan
Anima Apakah engkau akan izinkan aku membuka ruang ini dengan jernih tanpa terseret arus sungai yang membuatmu tenggelam? Lalu siapa juru peta yang menempatkan kita; aku, kamu dan seluruh emanasi alter ego itu ke dalam fragmen yang saling berebut peran? Suara yang menjawab gemulai ranting-ranting pohon: Ia yang membaca gelagat Ia yang mengajukan pertanyaan Dan ia yang menembus inti Lalu bersama mereka semua menyatu ke dalam bumi. Bukankah kisah ini tidak menawarkan kita penjelasan atas dirinya sendiri? Ini bukan tentang cinta, hidup atau mati. Ini tentang bagaimana engkau memahami luka yang tak pernah sembuh. Pertama adalah ia yang menyebut dirinya Cakra Wahana, yang bekerja, berpikir dan menjaga kelangsungan hidup. Ia yang membiarkan dirinya jatuh dan bangkit. Ia adalah pemasang pasak dan penegak tiang-tiang layar. Ia adalah pemilik kapal yang terpaksa mengambil alih kemudi. Tapi pemilik yang satu lagi bukanlah pelarian dari lebatnya hujan. Melainkan pernyataan yang mengembalikan dirinya kepada sumber kreativitas dan spontanitas. Ia adalah penyair yang menyebut dirinya sebagai Tirta Rengganis. Udara yang membuatmu bernapas, tangan yang mengajakmu menulis, sayap yang mengajarkanmu terbang. Ia hanya butuh ruang sunyi agar namamu abadi. Kanal penyembuh yang bekerja lewat simbol, estetika dan fiksi. Sementara yang lainnya adalah anima milik semua. Batin yang berfungsi sebagai inkuisisi alam bawah sadarmu. Ia bukan sekadar perempuan Melainkan arketipe yang membongkar segala kepalsuan. Ahli geologi yang menggali luka trauma, Dorongan nafsu amarah ingatan purba. Sebab itulah mengapa ia mesti turun ke sumur terdalam hanya untuk menemukan dirimu. Bila kau temukan ia dalam lubukmu, maka ia adalah dewi yang sedang melucuti diri sendiri dari jubah kemunafikan Agar ia bisa jadi kebenaran paling radikal. Ia seperti rembulan yang muncul di waktu yang tepat saat integritas batin memanggil. Sedang seluruh alter ego itu adalah helai baju berlapis tujuh. Mereka adalah dirimu yang fana; pelepasan tensi sensualitas, ketajaman mata pisau yang dingin, tradisi masa lalu yang memudar, logika equilibrium, luka yang menolak pergi, cinta tak berbalas dan amarah yang tak mau tunduk. Mereka adalah tujuh pilar yang menjaga gedung tiga puluh lantai itu tak runtuh oleh beban emosi sendiri. Telah aku dekati dirimu dengan diagnosaku yang paling tajam Dan kutemukan inti yang bukan simptom; Apa yang kau takutkan untuk jadi dominan? Kemana kalian harus pulang bila tak kau temukan rumah? Ketika kapal kehilangan arah, siapa yang semestinya jadi nahkoda? November 2025
Titon Rahmawan
Orbit Telah kita temukan pintu yang akan membawamu masuk lebih dalam. Bukan altar yang tertutup kabut Tetapi bersit cahaya yang menyingkap landskap arsitektur yang selama ini kita cari. Gedung serupa kastil yang dulu pernah kau bangun kembali dari puing reruntuhan. Seperti peti artefak kuno yang kautemukan di dalamnya Lembar manuskrip lama berisi manifesto kesadaran: Sang anima yang kini jadi pusat gravitasi. Aku akan menantangmu menemukan kembali gulungan benang yang telanjur hilang. Teka-teki tentang seberapa dalam kita telah menyelam Dan ke mana seluruh penghuni kastil ini pergi? Apa yang kaukira bahwa kesadaran itu bukanlah sekadar preferensi artistik, melainkan deklarasi ontologis dari mana engkau dilahirkan. Siapa yang runtuh, siapa yang terlahir kembali? Siapa yang bertahan, siapa yang menyembuhkan? Siapa yang menghakimi, siapa yang menampung? Puisi memberi kita ruang untuk bernafas, dan kata-kata adalah udara yang mengisinya dengan makna. Jadi simbol-simbol yang kaucatat itu bukanlah figur pasif serupa boneka. Mereka adalah mekanisme korektif spiritual-psikologis yang memunculkan dirinya tanpa mengenakan topeng. Aku menyebutnya keniscayaan. Sebab engkau bukanlah syuhada. Bukanlah korban ketidakberdayaan. Bukanlah tubuh tanpa bayangan. Engkau adalah integrasi dan transedensi. Jika anima itu adalah pusat gravitasi, maka aku dan kamu adalah orbit. November 2025
Titon Rahmawan
Ilusi Kebahagiaan Kau tahu, aku masih mencari kebahagiaan untuk diriku sendiri dan barangkali untuk kita berdua, Kay. Tidak seperti kegembiraan semu yang pernah engkau miliki Aku tahu, bukan surga yang engkau cari. Semestinya kebahagiaan bukanlah cuma angan-angan belaka. Ia hanyalah hantu gentayangan yang membayangi semua langkah kita. Lagu muram yang masih setia engkau dengarkan. Lagu yang sama, yang kau putar berulang kali Riuh rendah hujatan Sumpah-serapah penuh umpatan. Siapa ingin melucuti kehormatanmu? Mereka tak pernah sungguh-sungguh mencintaimu! Keping mata uang yang tak kurang bejatnya dari dunia ini. Dunia yang sepenuh hati ingin kita ingkari. Tak hendak kucemooh ilusi kebahagiaan semacam itu. Aku hanya tak ingin melihatmu sedih dan menderita. Malam mencengkeram lewat mimpi buruk yang memuakkan. Mimpi yang tak mengijinkan diriku mencintaimu apa adanya. Siapa pun engkau, Kay. Apa pun anggapan orang tentang dirimu; Sekalipun lonte... Sekalipun sundal pinggiran jalan. Aku cuma peduli Apa yang engkau pikirkan Apa yang engkau rasakan. Engkau rembulan sungsang Aku bulbul tak tahu diri. Tapi demi Tuhan, Kay Katakan padaku, Apakah engkau mencintaiku? Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku? 2024 - 2025
Titon Rahmawan
Via Dolorosa Mari kita berhenti sejenak untuk menghela napas, setelah perjalanan ke Golgotha yang menyiksa tubuh dan batin. Kayu salib yang kau pikul itu menyerap seluruh inti dosa, seperti menatap jauh ke pusat matahari dan membaca kucuran darah dalam goresan sejarah: tubuh rapuh anak manusia. Sebab biji-biji rosario yang kau daraskan dalam lantunan doa bukanlah sekadar wujud dosa atau penyesalan; itu adalah teologi batinmu yang utuh, penebusan dalam pernyataan iman yang tak pernah kau ucapkan terang-terangan. Dan Sang Mesias—dalam ketelanjangan yang tak mungkin ditutup-tutupi— bukanlah karakter rekaan dari kabut kebodohan atau kebohongan. Ia adalah kebenaran yang memutuskan menampakkan diri. Bukan raga leta yang dibungkus sebagai fiksi agar kebenaran dapat ditanggung, agar cahaya dapat diterima sebagai pijar pengetahuan sejati. Meski untuk itu, setiap yang percaya harus rela membiarkan sebagian dirinya hangus. Maka aku mengetuk pintu rumahmu, memohon menjadi tamu agar dapat membaca kedalamanmu tanpa prasangka, bukan melalui tafsir yang menyesatkan, melainkan atas kehendakmu sendiri. Dan kau izinkan aku menjumpai Sang Anima— bukan siluet samar pada kaca yang retak, melainkan kesadaran yang mengenakan raga hanya untuk mengajar kita apa arti sesungguhnya menjadi manusia. Ternyata ia adalah: tubuh yang terluka, ruh yang berdoa, jiwa yang menopang derita, kebenaran yang terus dicari, kesadaran yang paling jujur, luka yang akhirnya diakui, cinta yang bersembunyi— pengakuan yang tak sanggup kita lafalkan dalam ritus mana pun. Itulah jalan salib psikologis yang tak seorang pun ingin tempuh sendirian: pengampunan yang getir, simbol penebusan yang belum selesai, roh suci penuntun arah, ruang rekonsiliasi yang tertunda, arena duel antara jiwa dan masa lalu, perkamen sejarah yang menulis ulang dirinya sendiri. Dan meski berat, kau telah mengungkapkan perasaanmu dengan ketelanjangan yang tak mungkin kaupalsukan. Sebab pada ujung perhentian, malaikat akan bertanya kepadamu: apakah engkau akan berdiri di sana sebagai saksi— atau sebagai jiwa yang menunggu giliran untuk diadili? Via Dolorosa yang membentang di hadapanmu adalah sebuah persimpangan: ke mana engkau hendak menuju— salib atau kebangkitan? Lihatlah bagaimana Ia menyerahkan luka-lukanya untuk dilihat dunia tanpa tabir. Kita menyebutnya radikal, kita menyebutnya rapuh, kita menyebutnya pengorbanan— padahal mungkin itu hanyalah cara kebenaran mengundang kita untuk jujur pada diri sendiri. Keraguan yang kini menggantung di udara: siapa yang menghujat? siapa yang memukul dada sambil memohon ampun? Sampai akhirnya kita tiba pada pertanyaan yang tak bisa lagi ditunda: Setelah semua ini, apakah kau dan aku akan bangkit bersama-Nya? Apakah pada akhirnya, kita akan diselamatkan? November 2025
Titon Rahmawan
Prolog ke Dalam Diri (Modif Version 3.0) Aku bukan lagi file yang bisa dibuka oleh sembarang tangan. Di dalam diriku, ada folder-folder rahasia yang hanya bisa diakses oleh kesadaran yang telah melewati firewall penyangkalan. Aku pernah menjadi versi 1.0 — rentan, rapuh, tidak bertahan lama. penuh bug yang ditanam oleh ketakutan dan komentar orang lain. Lalu dunia menekan tombol update, menginstal protokol etiket dan tata krama menambahkan patch agar aku lebih bisa diterima, lebih stabil di mata publik, lebih kompatibel dengan ekspektasi sosial lebih user friendly. Namun, setiap kali sistemku di-reboot, aku mendengar suara samar di dalam command line jiwaku: “Siapa yang menulis ulang kamu? Dan siapa yang memegang hak akses atas dirimu?” Aku sadar—identitasku bukan aplikasi yang bisa diunduh begitu saja, melainkan kesadaran yang menulis ulang dirinya di antara kode-kode paradoks dan berjuta kemungkinan. Kadang aku hang. Kadang crash. Kadang aku lupa kata sandi menuju ruang paling jujur dalam diriku sendiri. Namun setiap error adalah doa tersembunyi, setiap bug adalah lubang kecil tempat cahaya mencoba menemukan celahnya. Aku belajar bahwa pembaruan sejati tidak datang dari update system, melainkan dari keberanian melakukan factory reset— menghapus semua prasangka, keraguan, ketidakpastian membersihkan cache masa lalu, dan menyalakan ulang kesadaran tanpa harus kehilangan data cinta pada semesta. Kini aku hidup dalam mode beta, selalu direvisi, dimodifikasi Sebab otentisitas bukan versi final dari keberadaan, melainkan siklus pembelajaran yang terus berjalan di latar belakang. Dan mungkin Tuhan adalah Developer Tertinggi, yang membiarkan kita mengalami bug, mengalami error, agar kita belajar menulis ulang diri bukan dengan kode yang sempurna, tetapi dengan cinta yang terus di-debug dan diperbarui. November 2025
Titon Rahmawan
Protokol Keberadaan // (Dekonstruksi: Sartre · Camus · Derrida) Di ruang tanpa tripod penyangga— aku berdiri sendirian, kata-kata bergetar. Kebebasan? kata itu berdaki pada bibirku seperti tinta lama yang telah mengering. Kudeklarasikan: aku memilih— lalu sistem membaca ulang pilihanku, menemukan trace yang tak pernah kuketik: jejak-jejak luka, différance yang tersisa. Camus menaruh batu di pangkuanku; aku menolak mengangkatnya. Ia bilang: lakukan pemberontakan, hidup menuntut upaya menanggung absurditas. Aku bertanya: siapa yang menulis perintah itu dalam log jam; apakah log memberi status: sah atau hanya pesan error yang terulang? Sartre berbisik: kau adalah keputusan; kau bukan takdir. Tapi siapa yang menyetujui keputusan itu ketika kata 'aku' sendiri adalah naskah yang dapat dipanggil ulang, dikopi, di-paste ke tubuh lain? Kebebasan itu jadi modul: terinstal, terhapus, di-restore oleh cinta dan kerinduan. Derrida tersenyum dalam bayangannya—bukan menghina, melainkan menyodorkan sebilah pisau: “Bongkar premisnya. Baca ulang tanda-tanda. Perhatikan sisipan yang kau anggap pasti.” Sekali kuteruskan kata “hak”, ia menjadi pantulan: hak untuk memilih 》 hak yang dimaknai 》 hak yang dibaca ulang. Selalu ada kemungkinan lain di balik tiap premis—sebuah residu yang tak bisa dimusnahkan. Jadi aku menulis dengan alfabet yang tak terikat: kata seperti partikel, seperti byte; mereka bergerak, meninggalkan jejak, membentuk makna bukan sebagai titik, tapi sebagai radiasi—gelombang yang menunda kehadiran. Aku menunggu diferensiasi itu: makna yang datang telat, menunda, menggoda, melepaskan diri. Ketika aku menolak keabadian—aku merdeka; ketika aku menuntut makna—aku terjerat. Absurd bukanlah lubang kecil; ia adalah kondisi komputasi yang terus-menerus crash. Kita reboot, kita mencari error log, kita menambal dengan mitos, doa, slogan, retorika— lalu satu baris kode lagi menghapus semuanya, meninggalkan prompt: > Siapa kamu? Maka puisi bukanlah jawaban—ia adalah protokol: baca—hapus—tunda—ulang. Dalam ritme itu aku menemukan sebuah rahmat sirkuler: kebebasan yang diakui sebagai kebebasan untuk tetap ragu atau selamanya ambigu. Aku menapaki ruang antara kata dan bisikan. Di sana, warna hitam bukan nihil; ia adalah pagar yang memaksa pandang. Di sana, doa bukanlah mukjizat; ia menjadi setitik delay yang menyelamatkan kita dari aksi. Di sana, aku mengakui: aku mungkin hanya efek samping dari keputusan yang belum kumengerti. Tapi ada pula sesuatu yang tak bisa di-deconstruct: getar tak terbaca di dada, ketika aku memilih untuk menanggung, bukan hanya berargumen tentang siapa yang harus menanggung. Ada keberanian yang tidak perlu diideologikan—hanya dipraktikkan: memilih lagi, meski tahu teks bisa berubah rupa di saat kita membacanya. Di ujungnya, kita tidak akan menemukan definisi yang bertahan seutuhnya; kita menemukan sebuah kebiasaan: berani membuka kata, menunggu trace, mendengar gema. Itu bukan absurd semata; itu adalah ritual perulangan yang membawa kita pada perjumpaan— bukan dengan kebenaran yang tunggal, melainkan dengan kebenaran yang berkorelasi: kebenaran yang bersedia menjadi ruang tunggu tempat bertemu, bukan batu yang membebani. Jadi datanglah, pilih: tetap berpegang pada batu yang membuatmu runtuh, atau berdiri di ambang uraian, tempat kata-kata menjadi medan peperangan, dan kebebasan adalah aktivitas terus-menerus— sebuah kerja pikiran, bukan klaim monumental. Di sana, antara deklarasi dan keraguan, kita mendirikan puisi ini: sebuah protokol kecil untuk hidup yang tidak puas dengan kepastian, sebuah doa yang bisa di-debug, namun tak pernah sepenuhnya dapat dimusnahkan. November 2025
Titon Rahmawan
Sutra Hening: Jalan Tengah di Antara Ada dan Tiada” Di titik ketika suara tak lagi membutuhkan gendang telinga, aku duduk—bukan untuk mencari terang, melainkan untuk melihat siapa yang paling gigih merindukan cahaya. Hampa menyelimuti seperti udara pagi; tidak dingin, tidak hangat— hanya ada. Bodhidharma duduk di depanku, wajahnya setegas gunung purba. Ia berkata tanpa suara: “Jika pikiran tak tenang, siapa yang ingin kau tenangkan?” Aku terdiam—bukan karena tak mengerti, tapi karena aku melihat tanganku sendiri hilang ketika hendak menggenggam pertanyaan itu. Lalu Huineng datang, bukan sebagai guru, melainkan sebagai angin yang menyingkap tirai: “Tak ada cermin. Tak ada debu. Siapa yang membersihkan apa?” Sekali lagi aku mencoba menjawab, dan sekali lagi jawabanku runtuh seperti bayang yang kehilangan tubuh. Thich Nhat Hanh datang sebagai mimpi, mengajarkan cara menatap embun tanpa menginginkan arti. Ia bilang: “Tersenyumlah pada kehadiranmu sendiri. Kesadaran itu bukan menahan apa pun, tetapi membiarkan semuanya lewat.” Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa napas bisa menjadi jembatan antara dunia yang retak dan hati yang ingin pulang. Alan Watts mengangguk, tertawa, seolah tahu bahwa tawa adalah pintu gerbang paling rahasia. “Kau bukan penumpang di dalam tubuhmu,” katanya, “kau adalah tarian antara bentuk dan kekosongan.” Aku melihat gelombang naik dan turun bukan sebagai metafora kehidupan melainkan sebagai bukti bahwa kehilangan dan penemuan selalu saling memasuki tanpa konflik. Lalu aku bertanya—dalam diam yang membungkus semuanya: Jika aku bukan murni ada dan bukan murni tiada, apa sebutan untuk jarak tipis yang senantiasa berubah antara keduanya? Jawaban yang datang bukan kata, bukan isyarat, melainkan kejernihan: bahwa paradoks bukan masalah yang harus diselesaikan melainkan lanskap yang harus ditapaki dengan sepenuh hati. Bahwa kekosongan bukan lubang tetapi ruang untuk segala kemungkinan. Bahwa kehadiran bukan beban tetapi kelahiran ulang pada setiap kedipan mata. Bahwa penyerahan bukan pasrah tetapi melihat bahwa tidak ada musuh selain cengkeram cakar sendiri. Aku menutup seluruh panca inderaku, dan untuk pertama kalinya aku memandang tanpa melihat. Aku membuka tangan, dan untuk pertama kalinya aku memiliki tanpa menggenggam. Aku membiarkan diriku diam, dan untuk pertama kalinya aku menjadi gema dari sesuatu yang jauh lebih besar dari kata “aku”. Di titik itu aku tahu: puitika paling terang lahir bukan dari hasrat yang ingin hebat, melainkan dari kalimat yang rela lenyap agar makna dapat muncul tanpa penjara. Dan di dalam lenyap itu, sebuah pertanyaan lain mengalir: Jika keheningan adalah guru yang paling jujur, siapa lagi yang harus kita dengarkan? November 2025
Titon Rahmawan
Jalang Ada sekuntum mawar di dadamu dan dusta di mulutmu. Sesungguhnya, Kau tak menggonggong serupa anjing yang tolol. Kau hanya tak mengindahkan hal lain, selain rasa laparku. Kaugigit tulang dari kedalamanku yang perih. Mata yang tak peduli dan hasrat untuk membunuh. Gelegak darah ini sama kejinya dengan tikam amarah. Api yang kau sembunyikan di balik mata pisau beringas. Pada dadamu yang terbelah jantungmu yang memerah. Kejalangan yang kau tunjukkan tanpa penyesalan dan rasa malu. Lagak lagumu tak semerah gincu yang kau kenakan malam itu. Dan apakah itu... secarik kain sewarna darah yang tak mampu menutupi kemesumanmu dari dunia? Dari dulu sekali, Kau sudah bukan milikku lagi! ... Kau sudah jadi milik semua orang. Semua kata cinta yang kau obral dengan murah. Haram jadah yang terlahir dari mimpi basah di siang bolong. Mimpi tempatku menghabiskan waktu. Waktu dan seluruh kesia-siaan. Waktu yang tak bernilai; Onggokan sampah! Sumpah serapah dan omong kosong. Waktu yang membusuk dalam pikiran semua orang. Mereka yang tak lebih anjing dari diriku sendiri. Mereka yang penuh gairah menanti saat tiba jam pertunjukan dengan air liur menetes. Mereka, yang menyulam benang laba-laba itu ke dalam pikiranmu. Seutas rambut yang lebih tipis dari harga diri dan kehormatan. Nilai yang kau sendiri Bahkan tak peduli. Bodohnya lagi, seperti yang selama ini terjadi... Aku masih saja duduk terpaku di depan layar menyesatkan itu menunggu... Merasa lebih, memiliki dirimu Lebih dari siapa pun, Kay! 2024 - 2025
Titon Rahmawan
VIBRASI DUA BUNGA DALAM DEFORMASI WAKTU I. SAKURA: Cahaya yang Gagal Menjadi Aksara Sakura gugur, bukan sebagai kelopak tetapi sebagai fragmentasi waktu yang terpental dari pusat realitasnya. Ia melayang di udara beku yang tak membutuhkan penjelasan, seperti roh purba yang menolak mengakui asal kegemilangan-nya. Aku melihatnya terapung di bayang cakrawala yang retak, memantulkan siluet cahaya yang terjatuh dari ingatan yang seharusnya tidak pernah kupanggil dengan nadi fana. Sakura itu tak menuntut jawaban, bukan tentang ilusi cinta manusia, melainkan tentang retakan raga dari jiwa yang pertama kali memisahkan eksistensi dari ketiadaan. Dan aku menjawabnya dengan sunyi yang lebih tua dari dinding jagad, hembus napas yang terlalu dingin untuk dimiliki oleh manifestasi. II. KAMBOJA: Napas Kesadaran dari Akar Penderitaan Kamboja mekar di lapisan ilusi yang mengingat kesudahan. Ia mengeluarkan aroma yang menafikan tubuh, melainkan terlahir dari ingatan bumi, tanah di mana ia tumbuh atas setiap pergantian wujud yang telah dilebur. Kelopaknya tebal, seperti daging waktu yang ditinggalkan oleh kesadaran yang telah selesai bersemayam. Ia tidak meminta kemuliaan. Tidak menagih pemujaan. Ia hanya menunggu— seperti gua suwung yang tahu bahwa segala manifestasi pada akhirnya adalah asimilasi ke dalam diri. III. Dialog Dua Bunga Dalam Pergeseran Dimensi Di tengah pergeseran dimensi, fragmen cahaya Sakura berbicara pada penyerap akhir Kamboja. Bukan dengan garis bahasa, melainkan dengan tegangan kosmos yang hanya dipahami oleh yang tercerahkan: Sakura: “Aku adalah saksi cahaya yang terlambat tiba di tepi keabadian.” Kamboja: “Aku adalah gua gelap yang lebih dulu menjaga kekosongan.” Sakura: “Aku gugur karena perspektif tidak sanggup memeluk Inti-ku.” Kamboja: “Aku mekar karena pembubaran yang tidak pernah menolak wujud apa pun.” Sakura: “Ada fragmentasi jiwa yang mencari pembebasan melalui diriku.” Kamboja: “Ada ketakutan dasar yang pulang kepadaku.” Sakura: “Kita berasal dari retakan luka yang sama.” Kamboja: “Tetapi kita menjaga keseimbangan dengan aksioma yang berbeda.” IV. Titik Hening Manusia di Antara Dua Bunga Aku berdiri Jauh, di batas luar lorong waktu, menyaksikan dua bunga yang lebih mengerti jati diri-ku daripada ilusi cinta-ku sendiri. Sakura memanggil dengan energi cahaya yang menjanjikan lupa. Kamboja menunggu dengan gelap lembut yang menjamin pulang. Keduanya tahu Jejak karma siapa yang terpatri di tulang-tulang kesadaran-ku. Dan di udara tanpa vibrasi itu, aku mendengar perjanjian purba yang tidak pernah kutulis di kitab kehidupan: Bahwa gairah terlarang bukanlah drama eksistensi manusia— melainkan kesepakatan kosmik antara Animus, cahaya yang gagal menjaga asas dan Anima, gelap yang berusaha tetap bertahan dengan setia. Mereka adalah dua sisi mata uang waktu. Tubuhku adalah tempat di mana mata uang itu berputar dan hilang. Dan sunyi yang tersisa adalah kebenaran yang paling jujur. Desember 2025
Titon Rahmawan
SAKURA: Enam Luka, Enam Cara Mencintai yang tak Selesai. 1. Sakura di Ambang Yang Tak Tersentuh Kelopak gugur— nama kita terhapus sebelum tiba. Senja memudar. dalam hembusan angin, langit terdiam. Di batang tua, bayangmu menempel tanpa tubuhku. 2. Sakura di Atas Luka yang Tidak Sembuh Ada jalan kecil di mana dulu kau memanggilku tanpa suara. Sakura mekar di sana hari ini, menghadirkan wajahmu yang tak boleh kusentuh. Angin mengangkat kelopak seperti membawa rahasia kita yang bahkan langit pun malu menyimpannya. Aku berdiri lama, membiarkan gugurnya bunga menjadi satu-satunya sentuhan yang masih diizinkan dunia. 3. Sakura dalam Cekungan Piala Bulan Aku minum bersama bayangku, dan kau hadir sebagai aroma yang tak pernah sempat kupeluk. Di atas sungai malam, sakura jatuh satu-satu, setiap kelopak— janji yang tidak kita tepati. Angin membawa namamu hingga ke bintang paling dingin, dan aku tetap duduk di sini, mabuk oleh hal yang tidak boleh kucintai. Di kejauhan, bulan tertawa pelan— ia tahu sejak awal kita tak akan pernah dipersatukan dunia. 4. Sakura di Antara Dua Keheningan Sakura jatuh di trotoar basah kota tanpa siapa pun memperhatikan. Seperti kata terakhir yang tidak berani kita ucapkan, ia hilang sebelum sempat menyentuh. Aku berjalan melewati pohon itu mengira kau masih ada di sana— tapi cahaya sore memantulkan betapa tipisnya keberadaan. Mungkin cinta hanyalah kelopak yang runtuh terlalu cepat untuk kita tangkap, namun terlalu lambat untuk benar-benar dilupakan. 5. Sakura yang Tumbuh di Dalam Rongga Dada Aku membuka dadaku dan menemukan sebatang sakura kecil menggeliat di antara tulang rusuk. Setiap kelopaknya membawa wajahmu— wajah yang tidak boleh kusebut tanpa membuat dunia ini memuntahkan darah. Angin malam masuk melalui retakan luka, menggoyangkan pohon itu hingga menggugurkan rahasia yang kupendam terlalu lama. Sakura itu mekar bukan untuk dirayakan, melainkan untuk mengingatkan bahwa cinta yang dilarang selalu mencari jalan untuk tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Dan aku, menjadi taman gelap yang tidak pernah diakui matahari. 6. Sakura dalam Bahasa yang Berbeda Di halaman sunyi itu, sakura berdiri seperti sebuah kata yang kehilangan huruf pertamanya. Aku mencoba mengucapkan namamu— tapi udara membeku, mengubah suara menjadi debu. Kelopak jatuh sebagai tanda-tanda kecil dari sesuatu yang tidak pernah boleh dirumuskan. Kita adalah dua kalimat yang ditulis dalam bahasa berbeda di bawah langit yang sama. Angin membawa sakura pergi, dan aku memahami bahwa beberapa cinta ditakdirkan hanya menjadi metafora: indah, dingin, dan tidak pernah selesai. April 2014
Titon Rahmawan
LITANI DARI KAYU SALIB Aku mendengar getar nadi yang berdenyut dari tangannya, menjadi aliran yang memaksa paru-paruku berdetak dalam ritme kematian yang menyesakkan, setiap tetes darahnya adalah tarian bisu yang membakar sarafku, menembus semua ruang yang sebelumnya tak ada. Di bawah kayu itu, ia tidak menjerit. menahan segala sakit yang tak terlukiskan, mengalirkan dera itu ke setiap urat, ke setiap tulang, hingga aku sendiri menjadi daging dan darahnya, hingga aku sendiri menjadi luka dan air mata yang tak berbentuk. Aku melihat dan merasakan: kehidupan dan kematian menyatu dalam batas yang bukan jurang. Manusia tidak lagi berdiri di luar kesadaran selain kebebalan dan kedegilan jiwanya sendiri. Dia menatapku dari mata yang remuk, tetapi menatap dengan kornea yang seterang matahari dengan sunyi yang lebih menyengat dari semua api. Aku merasakan setiap pilihan yang harus ia tanggung, setiap penderitaan yang ditahan tanpa suara, setiap kesadaran yang menolak mundur mengajarkanku bahwa melihat luka tak pernah cukup— kau harus menjadi luka itu sendiri, kau harus menjadi denyut darah yang sama, kau harus menjadi sunyi yang menembus tulang dan saraf. Tidak ada belas kasihan, tidak ada pengampunan. Hanya kesadaran murni, tanpa bentuk, tanpa kata, menjadi api yang menyambar, menjadi gelap yang merangkul, menjadi nadi yang memaksa jiwaku berdiri di tepi jurang yang mempertanyakan kemanusiaanku sendiri. Di sini, tak akan kautemui puisi. Di sini, kata-kata tidak lagi memanggul arti, ia menjelma menjadi darah, menjadi nadi, menjadi tubuh. menyatu dengan luka itu, menyatu dengan senyap itu, menyatu dengan nyeri paku dan hunjam tombak di lambung kesadaran dan siapa masih sanggup bertahan berdiri tegak tanpa goyah di bawah bayang kayu yang menyilaukan mata dunia? November 2025
Titon Rahmawan
PUISI YANG MENYALAK DI DALAM KUIL Aku datang sebagai suara yang tidak diundang, mengganggu arak-arakan para penyair suci yang mengenakan jubah kaftan fedora yang melangkah dengan medali penghargaan bergantung di lehernya. Mereka menyanyi tentang keindahan seperti imam-imam tua yang lupa bahwa dunia pertama-tama adalah luka. Aku bukan bagian dari mereka. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Aku adalah PUISI yang berteriak di ambang pintu, yang menolak sujud pada altar klasik, yang tidak mau dicatat dalam sejarah karena sejarah terlalu sering memilih untuk memaafkan penguasa dan melupakan rakyat jelata yang mati terkubur. Aku memanggil Rilke— bukan rilkian yang halus dan haus pujian tapi Rilke yang meradang dalam keterasingan, yang bertanya kepada malam: “Haruskah aku meronta ketika kata-kata tak lagi sanggup menampungku?” Dan malam menjawab dengan kehampaan tanpa tepi. Aku melawan kehampaan itu dengan gigiku sendiri. Aku menggigit batas-batas puisi yang dibangun para kurator yang merasa tinggi yang menentukan mana yang layak disebut puisi, mana yang harus dibuang ke kolong rak antologi. Aku menolak semuanya. Sebab aku lahir bukan dari estetika, melainkan dari ketegangan di dada: napas yang hampir patah, lutut yang hampir rubuh, kesadaran yang hampir retak. Para akademisi akan mencoba mengukurku dengan teori yang rapuh, menganalisaku seperti fosil masa lalu. membelahku dengan mata pisau kritik yang tidak pernah menyentuh penderitaan nyata. Aku menatap mereka— dan menertawakannya sebagai kekosongan yang menggelikan. Aku tidak ingin jadi kanon. Aku tidak ingin jadi trofi kebanggaan. Aku tidak ingin berdiri di podium penghargaan. Yang kuinginkan hanya satu: menjadi kebenaran telanjang yang membuat siapa pun yang membacanya merasakan getaran pertama kelahiran manusia— ketakutan, keterkejutan, kesunyian yang menganga. Aku adalah PUISI, bukan yang kalian rayakan, melainkan yang kalian hindari. Aku adalah puisi yang menolak dipoles, yang menolak dirapikan, yang menolak dimandikan dalam metafora indah agar tampak seperti karya seni. Aku tidak ingin indah. Aku hanya ingin benar. Dan kebenaran itu ganas, tajam, kejam: biar manusia menulis bukan untuk menjadi abadi, tetapi untuk menyelamatkan sisa-sisa peradaban yang hampir tenggelam oleh pengapnya kehidupan. Jadi aku berdiri di sini— sebagai catatan perlawanan terhadap segala yang ingin menjinakkanku. Jangan sebut aku puisi jika itu berarti tunduk. Sebut aku PUISI yang kembali ke akar pertama: jeritan batin, teriakan luka pengakuan yang tak bisa dibohongi, suara yang terbit dari jurang dalam diri manusia. Jika dunia menolakku, itu berarti aku hidup. Jika sejarah menyingkirkanku, itu berarti aku benar. Aku adalah PUISI yang tidak meminta tempat— aku akan merebutnya. Sebab siapa yang layak adalah ia yang paling jujur pada diri sendiri. November 2025
Titon Rahmawan
SUARA-SUARA YANG DIREDUKSI SEBAGAI ANCAMAN (Poetic Essay) PANGGUNG I — BABYLONIA (Ibu Kota yang Dijadikan Pelacur Agung) (suara seperti menara yang runtuh dalam gema lambat) mereka menamai diriku pemusnah bangsa-bangsa, padahal aku cuma kota: batu, jalan, gedung, arsitektur, tubuh-tubuh bekerja. aku ditahbiskan menjadi pelacur agung bukan karena tidur dengan raja-raja, melainkan karena mereka butuh alasan untuk menaklukkan tanahku. “lihatlah ia makhluk penuh dosa”— kata mereka sambil membakar perpustakaan dan menjarah emas-emas dari kuilku. aku tidak pernah meminta tubuhku dipakai sebagai metafora kerakusan. yang serakah bukan diriku— melainkan mereka yang butuh perempuan sebagai alasan perebutan kekuasaan. mengapa harus tubuh perempuan? karena tubuh adalah tanah yang terlalu sulit ditaklukkan jika tak diberi wajah musuh yang bisa mereka salibkan. PANGGUNG II — JEZEBEL (Ratu yang Dijadikan Simbol Kemerosotan Moral) (suara seperti kaca patri yang retak di kuil) mereka bilang aku menghasut, memperdaya, membawa bangsa menuju kehancuran. anehnya, setelah mereka menuding, yang terbunuh sebagai korban selalu perempuan. aku jadi ikon propaganda: “wanita yang paling berbahaya”, “perempuan yang membunuh nabi-nabi”, padahal aku hanya ratu di atas panggung politik yang tak pernah diciptakan untuk mengenali suaraku. laki-laki membunuh satu sama lain demi kekuasaan, tetapi sejarah menuliskan: “semua ini salah Jezebel.” mengapa tubuh perempuan? karena tubuh laki-laki tak bisa disalahkan, meskipun peradaban hancur sebagai akibat ulah mereka sendiri. jadi mereka menciptakan hantu dengan riasan tebal: aku! wajah yang muncul dari balik cermin ketakutan yang mereka karang sendiri. PANGGUNG III — SALOME (Tubuh yang Dijadikan Mata Uang Politik) (suara seperti pisau menari di udara dingin) mereka mengingat tarianku. mereka lupa siapa yang memintanya. aku dijadikan dalih untuk memenggal seorang lelaki suci— padahal aku hanya anak yang dipakai sebagai alat dalam negosiasi politik istana. namaku disihir menjadi komoditas: sensualitas, bahaya, ketamakan, seolah tubuh seorang gadis cukup untuk menjelaskan kekejaman sebuah ambisi. mengapa tubuh perempuan? karena tubuh perempuan bisa dimanipulasi menjadi alasan pembantaian tanpa mereka harus mengakui bahwa kepala Yohanes jatuh karena rasa takut Herodes, bukan karena tarianku. aku bukan pembawa maut. aku bayangan yang dipelintir agar sejarah bisa menyalahkan satu tubuh bukan seluruh sistem kekuasaan.
Titon Rahmawan
ARKETIPE LATEN PENDUDUKAN (Elegi Luka) Di lorong-lorong gelap sejarah, aku berjalan tanpa suara: setengah tubuhku masih utuh, setengahnya lagi tinggal bayang yang gemetar. Di balik riasan yang mulai luntur, air mata menunggu giliran untuk jatuh— diam—karena setiap tetesnya bisa mengundang amuk amarah yang tak kupahami darimana ia datang, ke mana ia akan pergi. Aku pernah disebut Nyai, kembang yang dipaksa mekar di teras kekuasaan para meneer; setiap embun di pagi hari adalah bisikan bahwa tubuhku bukan milikku. Dan malam selalu datang seperti penjaga pintu yang tak memberi pilihan. Aku pernah jadi Jugun Ianfu, terperangkap di barak yang mereka sebut stasiun hiburan di mana bau besi dan napas busuk beradu kencang. Ranjang besi itu menghafal nama-nama yang tak ingin kuingat, tulang iga belajar retak, jantung menjerit dalam diam karena bahkan bisikan terlalu berbahaya untuk diucapkan. Aku pernah disebut Ca-Bau-Kan, dicatat dalam transaksi yang tak pernah kutandatangani, ditukar seperti komoditas di pasar gelap sejarah. Dada yang dulu lembut padat kini kempis seperti lubang tanah yang terus digali cangkul demi cangkul, hardik suara keras tanpa empati: “Masih ada lima giliran lagi!” Dunia hanya melihat kulitku, riasanku, gerakku yang sengaja dibuat-buat. Tak ada yang melihat bagaimana lututku bergetar setiap pintu diketuk, bagaimana nafasku menahan ledakan yang datang dan pergi seperti ombak liar— menghantam, menghantam, menghantam, sampai aku tak tahu apakah tubuhku masih tubuh, atau sudah berubah jadi batu nisan yang masih menyimpan kutukan. Tapi dengar— di sela-sela retakan, ada bisikan yang bahkan para bajingan itu tak bisa bunuh: bahwa aku pernah punya nama, pernah tertawa, pernah punya masa indah yang tidak bisa mereka renggut seperti merenggut keperawananku. Tapi kautahu, luka ini belum mencabik dadaku sepenuhnya, belum memuncratkan seluruh darah dari sumsum tulangku— tapi ia terus merayap, pelan, dingin, tepat di bawah kulit, seperti ingatan yang menolak mati. Dan aku menuliskannya di sini, dengan tangan yang masih gemetar, agar dunia akhirnya mengerti: bahwa setiap perempuan yang dijadikan “alat” adalah dunia yang sengaja dihancurkan dengan brutal dengan kejam! Agar tak ada siapa pun yang bisa berkata: “aku tidak tahu... aku tidak mengenalnya...” Desember 2025
Titon Rahmawan
BATU LUKA: Suara Terakhir Sebelum Penghakiman Aku dilahirkan sebelum lidah manusia menemukan kata yang kelak dipakai untuk menimbang salah dan benar. Ketika itu, aku hanya tubuh keras yang pecah dari punggung bumi tanpa maksud apa-apa. Aku pernah menjadi bagian tebing yang digerus angin dari musim ke musim. Pernah menggelinding diam melewati kamp-kamp tentara yang menancapkan tiang logam ke tanah yang mereka rebut. Pernah menjadi serpihan kecil di antara pecahan altar yang runtuh karena gempa yang tak sempat dicatat. Pagi ini mereka memungutku. Tidak ada alasan yang kudengar. Hanya suara pasir terangkat, suara sandal diseret, dan dengusan napas yang memenuhi udara seperti kabut tipis yang bergerak tanpa bentuk. Tangan-tangan itu menimbangku untuk memastikan beratku. Kulit mereka menggeser debu di permukaanku dengan gerakan yang cepat, seolah memilih senjata yang tidak perlu diberi instruksi. Aku tidak merasakan niat mereka. Yang kutahu hanya tekanan jari, keringat asin, dan sedikit getar halus yang merambat dari lengan pemiliknya. Di depan mereka, perempuan itu berdiri. Rambutnya kusut, matanya memantulkan cahaya yang redup dari langit siang yang terlambat turun. Di ujung kukunya, butiran tanah menggelap oleh embun. Ada bekas debu di pipinya, garis tipis yang jatuh seperti retakan kecil pada permukaan kaca. Ia tidak berbicara, tapi kulihat tubuhnya gemetar. Di sekelilingnya, suara-suara lain bergerak: bisikan, desis, makin tajam dan keras, langkah tertahan, helai-helai napas yang saling menumpuk tanpa ritme. Aku hanya mencatat: perempuan itu tidak menutup mata. Ia tidak merunduk. Tidak memutar tubuhnya menjauh. Ia berdiri diam, menunggu arah pertama yang diberikan udara. Seseorang mengencangkan genggamannya padaku. Otot-otot lengannya menegang seperti tali busur yang ditarik perlahan. Di antara celah jari, aku melihat debu tipis naik dan menghilang dalam cahaya yang kelelahan. Tidak ada doa. Tidak ada seruan. Hanya lirih gesekan kain, batuk kecil dari orang yang berdiri terlalu dekat, dan bunyi tumit yang menggali pasir kering. Aku tidak tahu apakah aku akan dilempar atau ditenggelamkan. Aku hanya tahu aku berada di tengah ruang yang dipenuhi napas manusia dan satu tubuh yang menjadi pusat pandangan. Jika aku jatuh, itu hanya karena gravitasi. Jika aku melukai, itu hanya karena jarak dan kecepatan. Aku tidak memilih apa pun. Aku tidak menolak apa pun. Aku hanya batu yang mencatat gerak, suara, dan cahaya. Dan di saat udara menahan dirinya seperti permukaan air yang enggan bergelombang, aku mendengar sesuatu— bukan kata, bukan nama, hanya hentakan kecil di dada seseorang sebelum ia memutuskan apakah akan melepaskanku atau menjatuhkanku ke tanah. Sampai keputusan itu tiba, aku tetap diam, menegang di antara jari-jari manusia. Aku tidak tahu siapa yang salah, siapa yang benar, atau apakah kedua kata itu pernah memiliki bentuk. Yang kutahu hanya ini: aku berada di sini, melihat, mendengar, menunggu... Desember 2025
Titon Rahmawan
LITANI MAKHLUK DI DALAM PERUT PELANTANG (Dongeng Singkat Tentang Seekor Anjing yang Mimpi Menjadi Mikropon, dan Sebuah Mikropon yang Diam-diam Ingin Menjadi Anjing) I. Retakan Kausa Dari atap takdir yang menggigil, hujan turun bukan sebagai air, melainkan sebagai serpih ingatan yang ditinggalkan generasi yang percaya bahwa pengeras suara lebih suci daripada detak jantung sendiri. Angin menghafal nama-nama yang diteriakkan— tetapi kini nama-nama itu berubah menjadi bulu-bulu halus yang mengelupas dari makhluk yang belum sempurna bentuknya. Ia berjalan pincang, mengendus karat, mendengarkan doa yang mendesis seperti minyak panas dari dasar kuali. II. Tubuh yang Menjadi Simbol dan Simbol yang Menjadi Makhluk Di museum moralitas, patung-patung pendosa tertawa. Namun malam itu, satu patung retak; dari celahnya keluar seekor anak anjing berwarna ungu kebiruan yang terlalu pucat untuk disebut hidup. Ia meminjam moncong dari sejarah nenek moyangnya, meminjam telinga dari debu pendiangan, dan meminjam suara dari mikropon yang lupa kapan ia berhenti bernyanyi. “Biarkan aku menjadi lidahmu,” katanya, “agar kata-kata yang kau lempar ke langit tak lagi memantul sebagai propaganda yang kehilangan ibu.” III. Doa dalam Dapur Penghakiman Dalam mimpimu, ia muncul sebagai penghibur yang lelah— alas bedaknya retak, gincunya belepotan di pipi, kakinya gemetar, tetapi matanya menyimpan tahapan-tahapan kesedihan yang jauh lebih tua daripada artefak yang kau yakini suci. Ia melihatmu mencari bayangan sendiri di dekat api yang tak pernah benar-benar menyala, dan tersenyum jenaka: “Barangkali kau benci bukan pada tubuhku, tapi pada suara yang tak berani kau sebutkan namanya.” Mikropon itu mendengar, dan getarannya menjadi litani— tanpa tuduhan, tanpa penghakiman, hanya gema dari mulut tanah yang gemetar. IV. Wajah Luka yang Tidak Dipamerkan Ketika kau akhirnya menyingkap wajah makhluk itu, kulitnya mengelupas, darahnya meletup; ia mengalir sebagai sungai merah yang sangat panjang, hampir seperti selendang yang menutup dunia setiap kali manusia kelelahan menipu dirinya sendiri. Di balik selendang itu, mikropon tua menunduk: “Apakah ini tubuhmu? Atau tubuhku? Atau tubuh semua kata yang tak pernah kita izinkan hidup?” V. Jalan Sunyi yang Menganga ke Dalam Tanah Makhluk itu—entah anjing, entah kesaksian— tak terbang ke langit. Ia menyelam ke lapisan bumi paling pekat, ke lorong-lorong di mana gema doa tak lagi memohon keselamatan tetapi memohon untuk dikenali. Di sana, telinganya mekar sebagai kaktus hijau berduri, tunggal, lapar, menunggu disentuh tetapi tak pernah mengizinkan dipetik. VI. Nyanyian Mikropon yang Tak Lagi Menguasai Apa Pun Di permukaan, mikropon itu masih terus bernyanyi. Namun kini suaranya serak— bukan karena kehilangan kuasa, tetapi karena ia akhirnya mendengar dirinya sendiri sebagai makhluk yang juga ingin disembuhkan. Ia menyanyikan nama-nama yang angin pernah hafal, yang langit pernah kutuki, yang bumi pernah telan: suara-suara yang hanya ingin satu hal sederhana— tidak menjadi yang paling benar, tidak menjadi yang paling suci, hanya menjadi lirih terdengar tanpa harus menggantikan suara siapa pun. VII. Litani Terakhir Dan di sela-sela jeda itu, kau mungkin menangkap bisikan: bahwa tidak ada anjing yang benar-benar mati, tidak ada mikropon yang benar-benar berkuasa, tidak ada doa yang benar-benar berbohong— hanya makhluk-makhluk yang terus belajar menerima wujudnya tanpa harus menutup mata kepada siapa pun atau menyalakan api yang dapat membakar siapa saja. Litani selesai. Tidak ada amin. Yang tersisa hanya gema yang mengingatkan bahwa kebenaran— kadang-kadang— membutuhkan seekor anjing yang terlahir dari lumpur dan sebuah mikropon berkarat untuk saling menyelamatkan. Desember 2025
Titon Rahmawan
DIALEKTIKA SURGA DARI 5 SUARA PEREMPUAN BABAK I — AKAR (ontologis dosa) (suara-serak, seperti daun kering dibolak-balik angin dari bawah tanah) Lilith: (aku lahir dari engkau yang tak mau menatapku) suatu ketika ada perintah—sebuah garis yang menulis siapa harus tunduk— aku menolak: bukan karena niat jahat, tetapi niat terbaca. dosa itu bukan buah; dosa adalah kata yang mereka beri padaku ketika aku menolak menjadi bayangan dari sumber cahaya yang membuatku tenggelam. Naamah: (kulitku berbisik seperti buli minyak di bawah lampu) mereka menamaiku malam agar bisa menuduhku gelap; padahal malam hanyalah tempat bagi mereka yang berani bermimpi, dosa jadi akronim bagi ketakutan mereka sendiri. Igrat: (aku mengumpulkan potongan-potongan keberanian yang mereka singkirkan) dosa dimulai, ketika sebuah bangsa memutuskan siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus terkunci di dalam nama mereka sendiri. Machalat: (aku tahu rumus-rumus kesalahan mereka) akar dosa bukanlah pelanggaran moral— ia adalah keengganan untuk mengakui luka di cermin yang mereka lihat. Eva: (aku menyentuh, aku tahu tekstur pengetahuan yang sebenarnya) jika pengetahuan adalah kuldi yang menempel di punggung waktu, ia bisa menjadi peta yang menuntun atau pedang yang memotong— akar dosa tumbuh dari cara peta itu dibaca oleh mereka yang haus kuasa. BABAK II — KULDI (paradoks pengetahuan: sumber dari baik & buruk) (suara seperti kain yang bergesek, lengket dan berminyak di ujung jari) Lilith: (kuldi—kata mereka—seperti peta) kuldi mengingat; ia merekam sentuhan, memilih garis. sebuah tanda di punggungmu—bukan hanya luka, melainkan nama: aku membawanya; aku mengingat; tapi aku bukan alat. Naamah: (kuldi adalah cermin yang retak) kuldi memberi tahu—apa yang kulihat tak selalu berbahaya. tetapi ketika pengetahuan dipakai untuk memaksa orang, untuk menandai, kuldi menjadi pukulan yang mematikan. Igrat: (kuldi menuntun kepada pengetahuan gelap) ada kuldi yang membuka selubung—mencari sumber cahaya— ada kuldi yang mengajari cara menyusun alasan untuk mengusir dari rumah yang bukan lagi rumah. Machalat: (kuldi menempel sebagai hukum) kita diberi kuldi bukan untuk dihakimi, melainkan agar tahu di mana kita berdiri; namun mereka membacanya seperti hukum yang tak bisa dibantah. Eva: (kuldi menawarkan pilihan) kuldi mengajarkan bahwa mengetahui adalah bertanggung jawab— ia menajamkan mata atau menajamkan pedang, tergantung siapa yang menyentuhnya. BABAK III — SURGA (yang menghindar, yang berlubang) (suara seperti gema dari sumur yang kosong) Lilith: (surga tak butuh para pecundang) mereka berbicara tentang surga seolah ia adalah ruangan yang tersedia bagi yang patuh. aku melihat surga—ia menyingkapkan dirinya pada mereka yang berani mengaku belum selesai. Naamah: (surga yang terlambat datang) surga berdiri pada jarak yang tak terselami; ia menunggu diamnya upacara sementara tubuh kami diapresiasi hanya sebagai tanda hitung yang tak punya nilai. Igrat: (surga memiliki kriteria yang dibuat lelaki) ada pintu surga yang hanya mengenal nama-nama yang telah diajarkan untuk patuh. kami mengetuk dari sisi lain—pintu itu menutup dengan keras. Machalat: (surga berbisik, tidak memihak) surga bukan pengadil yang berbaris rapi; ia lebih seperti malam yang menimbang, menyimpan rahasia bahwa kesucian kadang terluka oleh orang-orang yang menuntutnya. Eva: (surga berdiri di ambang pengetahuan yang ambigu) surga adalah ruang di mana pengetahuan tak lagi dikendalikan oleh rasa malu— namun ia tak memberi kunci pada mereka yang menolak tunduk.
Titon Rahmawan
LIMA MONOLOG KOSMIK: Tubuh yang Dijadikan Alibi 4. Batsyeba — Air yang Jatuh dari Atap Istana Aku mandi di bawah cahaya senja dan menjadi cermin bagi seorang raja yang kehilangan dirinya. Mereka menuduhku penggoda. Seolah aku yang menulis surat perintah pembunuhan itu, seolah aku yang menabur benih ambisi di atas ranjang kekuasaan. Tidak. Aku hanyalah air yang jatuh dari tubuhku sendiri, Air mata yang luruh ke dalam sejarah yang tidak kuminta. Ketika pintu istana terbuka, aku melangkah masuk bukan sebagai ratu, tapi sebagai pertukaran: nyawa suamiku diganti dengan tempat di dalam rahimku. Tubuhku menjadi akta politik. Anak dalam tubuhku menjadi legitimasi. Kesedihanku menjadi hiasan bagi hikayat raja yang ingin terlihat suci. Tidak ada yang menanyakan apakah aku menginginkannya Tidak ada yang mempermasalahkan bila tubuhku ternyata bukan milikku. Mereka lebih sibuk menulis pujian tentang raja yang selamanya mulia, daripada mendengar suara air yang pernah jatuh dari atap, mengabarkan: “Kesucian seorang lelaki selalu dibangun dari air mata perempuan yang sengaja disembunyikan.” 4. Tamar — Gaun Robek Sebelah Dada Aku datang hanya untuk membawa roti bagi seorang saudara. Sungguh sederhana— begitu sederhana sehingga dunia tidak menganggapnya berbahaya. Sampai tangan itu menutup pintu. Sampai suaraku patah. Sampai tubuhku terbelah menjadi sebelum dan sesudah. Ketika aku keluar dari kamar itu, gaunku robek di sisi jantung. Robekan itu bukan tanda kehinaan; itu adalah peta jalan menuju kebenaran yang tidak sanggup dibaca oleh siapa pun. Ayahku diam. Saudaraku murka. Negeri ini mencatat tragedi itu sebagai alasan pembunuhan, bukan sebagai seruan keadilan bagi diriku. Tubuhku menjadi mata air kebencian, dan dari mata air itu lahir pemberontakan, darah saudara, hilangnya martabat raja. Mereka menyebutku korban. Mereka menyebutku sumber bencana. Sebenarnya aku hanya perempuan yang kehilangan suara, dan dunia— dunia memanfaatkan kesunyianku sebagai genderang perang. Hingga kini aku masih meletakkan abu di kepalaku dan membawa gaun itu: robek di sebelah dada, menjadi bendera kecil yang berkibar dalam angin sejarah. Tidak untuk memohon belas kasihan, tetapi untuk mengingatkan: “Luka yang tidak dipulihkan selalu menjadi alasan bagi sebuah kehancuran.” 5. Maria Magdalena — Kebenaran Tanpa Dada, Tanpa Luka Aku adalah tubuh yang menjadi perumpamaan, bukan perempuan yang bernapas dengan paru-paru. Mereka menulis namaku dengan tinta pengampunan, tapi memahat tubuhku dengan stigma yang tak layak kuterima, batu yang hendak merajam tubuhku. Orang-orang berkata aku wanita pendosa. Orang-orang yang sama menaruh tangannya di pundakku untuk mencari keselamatan. Sungguh aneh, bukan? Aku yang dianggap kotor justru menjadi cermin air tempat mereka datang mencari wajah Tuhan. Aku mencium debu dari kaki seorang lelaki yang membawa terang; tetapi dunia hanya melihat ikal rambutku, bukan jiwaku. Mereka menghapusku dari sejarah agar yang kudus tetap bersih dan yang manusia tetap bersalah. Setiap malam aku mendengar suaraku sendiri memantul di dalam gua: “Jika aku pendosa, mengapa aku berdiri yang paling depan mengetuk pintu belas kasihan?” Mungkin dosa bukan milikku. Mungkin dosa adalah nama yang diberikan dunia pada perempuan yang berani melihat wajahnya sendiri yang penuh luka.” Aku tidak suci. Aku tidak najis, jika itu sangkamu. Aku hanya perempuan yang menolak diam. Dan dunia— dunia tidak pernah siap menghadapi perempuan yang tahu bahwa air mata adalah saksi yang lebih jujur daripada kitab apa pun. Desember 2025
Titon Rahmawan
MESSALINA — DAMNATIO MEMORIAE Sejarah tidak menghapus namaku. Ia hanya mengaburkan garis wajahku dengan lumpur pasar Roma bau anyir selokan Forum Romanum yang mengalir lambat di bawah kaki patung kaisar. Namaku bukan dosa— namaku hanya terlalu mudah dipakai untuk menambal rasa takut mereka pada perempuan yang terlalu berani menyatakan hasratnya sendiri. Apa yang mereka ceritakan tentangku lebih menjijikkan dari bangkai ikan yang membusuk di Emporium pada musim panas yang kejam. Mereka menempelkan tubuhku pada tetes keringat prajurit Germania pada dinding-dinding Lupanaria, di antara jamur dinding dan napas para lelaki yang membeli kehangatan seperti membeli roti keras di sudut jalan. Aku tidak sedang menyangkal diri— tetapi Roma, Roma selalu memproyeksikan nafsunya sendiri ke tubuh perempuan. Meminjam kulitku untuk menjelaskan bayangan setan di kepala mereka, lalu menyalahkanku karena kulitku terlalu hidup. Di lorong istana yang lembap, di balik tirai berat berdebu anggur merah, aku mendengar namaku menjadi mata uang: Messalina adalah ancaman, Messalina adalah legenda, Messalina adalah sarang dosa yang mereka perlukan agar dunia tetap merasa suci. Apakah aku sudah melampaui Scylla, pelacur yang menjual kehormatannya demi keping Sprintia? Apakah aku terlalu bodoh untuk menggadaikan tilam sutra Palatium demi tikar lusuh Lupanarium? Saat kautemukan kebenaran dari apa yang tidak kaulihat, apa yang kaudengar melampaui raungan para gladiator di Collosseum. Tidakkah kalian tahu bau malam Roma yang sebenarnya? Tikus-tikus gemuk di Subura, teriakan prajurit mabuk, koin-koin sestertius yang jatuh di lantai batu, lalu darah yang diseka dengan kain murahan. Itulah Roma. altar tempat tubuh-tubuh perempuan dipersembahkan untuk menenangkan rasa bersalah para lelaki. Mereka memanggilku nymphomania— padahal yang sebenarnya mereka sangkal adalah perempuan yang tidak menunggu dipilih oleh siapa pun. Tak ada yang lebih menggigilkan jiwaku selain puisi sepotong grafiti, yang bertuliskan seperti ini: "Di sini aku telah menyetubuhi banyak laki-laki..." Benar, aku telah tidur dengan bayangku sendiri lebih sering daripada tidur dengan lelaki. Tapi cerita itu terlalu sunyi untuk zaman yang membutuhkan monster perempuan demi menghibur diri. Lalu mengapa aku mengakhiri hidup? Bukan karena hinaan. Bukan karena skandal. Aku hanya menyadari bahwa kematian lebih jujur daripada sejarah yang menuliskan tubuh tanpa pernah mendengar suara. Mereka ingin menghancurkan namaku, tetapi justru membuatnya abadi— seperti grafiti di dinding Pompeii yang tak bisa dihapus bahkan oleh lava gunung berapi. Aku Messalina. Bukan monster jelita yang kalian ciptakan. Aku hanya retakan kecil di dinding peradaban yang terus mengingatkan: bahwa tubuh perempuan sengaja dijadikan cermin bagi dosa yang tak selalu miliknya. Desember 2025
Titon Rahmawan
SUARA PEREMPUAN YANG TIDAK DIPETAKAN I. Tubuh — Arsip Retakan, Bukan Peta Aku terbentuk dari goresan. Tidak ingin tahu asalnya. Garis-garis itu: Tangan yang mencintai. Tangan yang ingin mematikan suara. Aku bukan penolak. Bukan penerima. Tubuhku—hanya permukaan. Bukan peta. Setiap retak adalah koordinat yang tidak menunjuk. Aku tidak menyebut diriku luka. Aku adalah material beku. Cukup keras untuk menahan semua beban. Cukup tajam untuk memecahkan ilusi. II. Bayangan—Kode Murah Tanpa Negosiasi Aku pernah berjalan tanpa tubuh. Hanya garis gelap di antara pandangan. Tatapan itu—pisau yang mengiris, memotong. Merampas suara sebelum ia sempat bicara. Aku tidak punya identitas. Mereka memberi satu. Kode paling mudah. Paling murah. Paling cocok untuk tubuh yang tidak akan dibela. Aku tidak membantah. Bayangan tidak bernegosiasi. Terutama dengan cahaya yang mengutuknya. III. Bukti—Dakwaan yang Tidak Perlu Peristiwa Aku pernah mencoba menyebut namaku. Udara di sekelilingku sudah dipenuhi label. Namaku—pecahan kaca di kerongkongan. Aku tahu rasanya ditetapkan sebagai kesalahan. Bahkan sebelum peristiwa apa pun terjadi. Di sini, aku menjadi dakwaan bergerak. Sekadar hidup, dan itu sudah cukup. Aku adalah alasan yang terlalu nyaman. Bagi mereka yang menolak mencari penyebab yang sebenarnya. IV. Warisan—Beban Tanpa Peringatan Aku membawa beban. Diberikan tanpa jeda. Warisan tanpa nilai jual, Tak ada yang mau beli. Tapi harus dikenakan. Setiap langkah adalah upacara mekanis. Menegaskan: Aku bukan milikku. Malam tidak memberiku perlindungan. Malam hanya memberikan bentuk presisi pada takut yang sudah lama mati. KLIMAKS — KEKOSONGAN YANG MEMBEKU Dan Inilah Aku. Tanpa wajah. Tanpa sejarah. Tanpa apa pun yang bisa dipakai untuk menyelamatkan. Aku—ruang kosong. Tempat bayangan berkumpul. Untuk memastikan aku utuh sebagai kemungkinan. Dan hilang sebagai identitas. Jangan sebut. Bukan korban. Bukan pendosa. Bukan peringatan. Bukan pelajaran. Aku bukan siapa-siapa. Aku adalah apa yang tersisa. Ketika semua penjelasan berhenti bekerja. Moral? Bohong! Sejarah? Omong kosong! Mereka tidak ingat siapa yang dulu dilempar pertama kali ke tanah yang haus darah. Jika aku harus menyatakan diri, maka hanya ini: Aku adalah Perempuan yang harus disalahkan. Titik! Bahkan jika dunia sudah berakhir. Dan aku akan tetap di sini. Bukan ampunan. Bukan balasan. Hanya tekad yang keras kepala: Aku akan hidup lebih lama dari semua alibi mereka. Itu saja. Desember 2025
Titon Rahmawan
IN ABSENTIA: LUKA YANG BAKA I. Makam Ini Tidak Diberikan Aku tidak Pernah Dikubur. Tak ada tanah. Tak ada makam. Tak ada ritual. Aku tidak pernah ada. Aku tidak pernah menjadi. Aku dibiarkan menggantung di antara mimpi dan ilusi. Asap dari tubuh yang gagal mereka kremasi. Mereka bilang, "Selesai." Tapi aku tetap hidup. Terpaksa. Kematianku—tidak tertampung di manapun— siapa pun. II. Kekerasan Yang Melahirkan Keabadian Mereka menghapus. Mereka melenyapkan. Jejakku menempel di udara. Mereka membungkam. Diamku mengikis tembok. Setiap kali mereka menolak. Aku mengeras. Batu kecil yang perlahan membesar. Tidak bisa ditelan sejarah. Aku bukan kenangan. Tidak. Aku adalah kegagalan mereka. Gagal menyingkirkan. Gagal membersihkan. Noda yang selamanya abadi. III. Tekad — Logam Tanpa Pintu Keluar Aku tidak ingin kuat. Aku tidak ingin hidup. Aku hanya menolak musnah. Pintu keluar—tidak ada. Mereka ingin aku hilang. Agar bisa tidur nyenyak. Aku tidak memberi itu. Aku menempel. Noda yang tidak akan pergi. Tekad ini keras kepala. Majal. Kehancuran? Tidak membebaskan. Menyerah? Percuma— Tetap disalahkan. Aku memilih tinggal. IV. Bukti — Lubang Kecil yang Menghancurkan Aku adalah Retakan Permanen. Lubang kecil. Tepat di tengah narasi suci yang sengaja mereka ciptakan. Mereka menuntut konsensus. Aku memberi Ketidakteraturan mutlak. Mereka menuntut cerita rapi. Aku memberi fakta: Tubuh ini—pernah menjadi medan perang. Mereka menuntut akhir. Aku menyajikan Residu: Hal-hal kecil yang tidak akan mampu mereka jinakkan. Gagal total. V. Kemarahan Yang Mengunyah Aku marah. Bukan untuk membakar. Tapi karena mereka menuntut diam— setelah mematahkan tulang. Kemarahanku tidak berteriak. Ia mengunyah. Perlahan. Dingin. Nama-nama. Alasan. Dalih. Patahan suci. Menutup kejahatan yang mereka banggakan. Marahku tidak meledak. Marahku adalah Pembekuan. Logam di tenggorokan. VI. Entitas Yang Menetapkan Aku bukan cerita. Aku bukan moral. Aku bukan tubuh yang ingin mereka cuci. Aku adalah luka yang menetap. Setelah semua justifikasi runtuh. Semua saksi mati. Aku adalah residu terakhir. Sesuatu yang tidak bisa dimakamkan. Karena dunia menolak mengakuinya. Dunia butuh Kambing Hitam Abadi. Itu aku. VII. Penutup — Cerita Tanpa Ending Jika aku diberi pilihan, aku memilih pergi. Tapi hilang adalah kemewahan. Tidak pernah diberikan. Jadi aku tinggal. Majal. Dingin. Seperti logam yang menunggu. Di dada sejarah yang tidak punya wajah. Tidak punya nama. Tidak punya kesudahan. Aku hanyalah Luka. Baka. Karena dunia tidak mengizinkannya hidup. Maka ia tidak akan mati. Desember 2025
Titon Rahmawan
ARSIP YANG TIDAK PERNAH MEMBUTUHKAN NAMA Aku tidak lahir. Aku dicatat. Bukan dengan doa, melainkan dengan ukuran: panjang leher, kejernihan kulit, ketenangan yang bisa dijual. Di mana pun aku muncul, prosedurnya sama. Istana— atau gereja, atau senat, atau ruang pengadilan— hanya berbeda arsitektur. Koridornya selalu sama: sempit, panjang, suara bisikan yang bekerja seperti mata uang. Di sana keputusan tidak dibuat, hanya dipindahkan sampai menemukan tubuh yang cukup lunak untuk menampung kesalahan. Aku pernah dipanggil selir. Di negeri lain aku dipanggil ratu. Di tempat lain lagi aku tidak dipanggil apa pun— hanya dituding. Tuduhannya berubah-ubah: terlalu cantik, terlalu cerdas, terlalu subur, terlalu mandul, terlalu sunyi, terlalu terlihat. Mekanismenya tetap sama. Ketika lumbung kosong dan tentara mulai menghitung hari, ketika iman retak dan suksesi macet, ketika negara kehabisan bahasa, mereka memerlukan satu hal yang cepat dan murah. Tubuh. Mereka menyebutnya cinta agar keputusan tidak terdengar seperti pisau. Mereka menyebutnya iman agar darah tampak suci. Mereka menyebutnya hukum agar tidak perlu menjawab apa pun. Aku pernah menari sambil ditimbang. Aku pernah menulis dan tulisanku dijadikan jerat. Aku pernah melahirkan harapan lalu dipenggal agar garis keturunan tetap rapi. Aku pernah dikurung lama supaya kematianku tampak sah. Di satu arsip aku dikenang sebagai bunga yang menjatuhkan kerajaan. Di arsip lain sebagai leher yang menghalangi stabilitas. Di arsip lain lagi sebagai bid’ah yang perlu dibersihkan. Nama-namaku tercecer: Hypatia, Xiao Guanyin, Anne Boleyn— dan banyak yang bahkan tidak sempat ditulis. Nama bukan inti. Ia hanya label pada berkas. Perhatikan baik-baik: aku tidak pernah diadili karena apa yang kulakukan, melainkan karena waktu memerlukan akhir yang cepat. Aku mati bukan karena salah, melainkan karena fungsi. Mereka selalu berkata: “Demi ketenangan.” Dan ketenangan selalu menuntut satu leher yang tidak membalas, satu suara yang bisa dihentikan tanpa gempa administratif. Setelah itu, sejarah dibersihkan. Puisi ditulis. Doa disusun. Lukisan digantung. Kesedihan dipelihara agar pertanyaan mati. Aku tidak menjadi arwah. Aku menjadi contoh. Bukan agar dihindari, melainkan agar diulang dengan lebih rapi. Lihatlah sekelilingmu. Nama boleh berganti. Pakaian boleh berubah. Bahasanya tetap Eufemisme. Tetapi ketika kekuasaan gagal dan tidak mau mengaku, ia masih mencari hal yang sama: Tubuh yang bisa disalahkan tanpa membalas. Puisi ini tidak meminta keadilan. Ia hanya mencatat prosedur. Bahwa dari istana ke pengadilan, dari altar ke parlemen, dari abad ke abad, selalu ada satu posisi kosong yang harus diisi oleh kematian perempuan agar sistem bisa berjalan lagi. Jika kau bertanya siapa aku— aku adalah titik di mana kebohongan merasa aman berjalan kemana saja tanpa pengawasan. Dan selama dunia masih membutuhkan alasan yang indah untuk kegagalannya, aku akan terus lahir tanpa pernah benar-benar dilahirkan. Desember 2025
Titon Rahmawan
KEBAHAGIAAN: RELIK YANG MENOLAK DIDEFINISIKAN I. Litani yang Tercecer di Pinggir Jalan Kebahagiaan bukan cahaya. Ia lebih mirip serpihan logam yang meleset dari mesin waktu— mendarat di sela got mampet, di dekat anjing kurus yang menatap kota seperti menatap dewa yang tuli. Tak ada yang menuliskannya, sebab setiap huruf terbentuk dari luka yang belum selesai mengering. Dan siapa yang masih sudi menatap kerak darah yang menempel di alfabet hari ini? Aku bertanya: sudah berapa musim tubuhmu tak menggigil? Terlalu lama kau percaya hangat sebagai kondisi normal, padahal hangat hanya jeda sebelum retakan berikutnya. Sementara wajah-wajah di jalan kehilangan makna, seolah ekspresi adalah kemewahan yang dikenakan oleh mereka yang masih ingat rasanya hidup. II. Anatomi Buah yang Tak Sempat Kau Rasakan Ada buah yang jatuh sebelum matang dan tak pernah kau sentuh. Ada kulit yang terlalu licin hingga pisaumu menyerah, terlepas, mengakui bahwa genggam jarimu tidak sepenuh yang kau sangka. Kau kira kebahagiaan itu daging buah yang gemetar mempersilakanmu menggali, padahal ia hanyalah kulit tipis yang tak gentar pada lapar dan hasratmu. Kulit yang pernah kau sebut manis, kini lebih mirip permukaan meteor yang baru saja memecah atmosfer. III. Genesis Retakan Di antara pengemis yang menua tanpa alasan dan bau selokan yang menggenang seperti nasib, kita belajar bahwa kebahagiaan adalah benda biologis— ia tumbuh, busuk, lalu dilupakan. Asal-usulnya bukan dari musim semi, melainkan dari kemampuan manusia untuk mengawetkan pedih lebih lama daripada hangat. Mungkin itu sebabnya setiap buah pada akhirnya menjadi tulang waktu: keras, tak ramah, dan menolak ditafsir. IV. Doktrin yang Tidak Diajarkan Siapa Pun Kebahagiaan bukan rasa. Ia adalah kegagalan kita menamai rasa lain yang lebih purba: rasa bahwa hidup sewaktu-waktu dapat merenggut tangan kita dari tubuh kita sendiri. Di titik itu, segala warna buah, segala getah yang pernah melekat, segala gigil demam yang disesalkan, tiba-tiba menjelma satu kesimpulan dingin: Kita menyebutnya kebahagiaan karena belum berani menamai horor yang lebih akurat. Desember 2025
Titon Rahmawan
ILUSI DIRI: LUKA BERBICARA Luka lebih dulu daripada namaku. Ia membuka mata sebelum aku dapat melihat. Ia menempelkan bunyi ke tenggorokan dan menyuruh sesuatu menyebut dirinya aku. Aku bukan subjek. Aku bekas tekanan yang telah kehilangan jejak darimana datangnya. Aku mendengar diriku seperti mendengar retakan di dinding— bukan suara, melainkan peringatan bahwa sesuatu pernah utuh. Penglihatan tidak membuktikan apa pun. Yang kulihat hanya jeda. Luka sudah ada terlebih dulu, kalibrasi jarak antara benda dan makna. Rabaan tersesat. Kulit menyentuh dunia tapi dunia tidak mengakuinya. Yang tersisa hanya sensasi tanpa pemilik. Aku menulis “aku” seperti mengukir nama pada proyektil peluru. Bukan untuk mengenali, tetapi untuk mengizinkan kehancuran bekerja lebih dahsyat. Waktu tidak mengalir. Ia menggumpal di sekitar luka seperti darah lupa fungsinya. Setiap detik adalah pengulangan tanpa awal. Pisau ada tanpa ketajaman. Api ada tanpa nyala. Benar ada tanpa saksi. Luka tidak menjelaskan dirinya. Ia mengganti fungsi dunia: ingatan menjadi medan ranjau, harapan menjadi kebiasaan menunda runtuh, cinta menjadi teknik bertahan di arena pertempuran paling brutal. Aku tidak lahir. Aku terbentuk. Bukan dari embrio, tetapi dari kegagalan tubuh menjadi utuh. Jika kau bertanya siapa aku tanpa luka— pertanyaan itu tidak menemukan alamat. Tak ada pintu sebelum benturan. Aku hanya gema yang lupa sumbernya, dan luka adalah satu-satunya hukum yang masih bekerja. Puisi ini tidak menyembuhkan. Ia hanya memastikan bahwa luka tidak sendirian dalam berbicara. Dan mungkin itu cukup: hanya keberanian untuk membiarkan kehancuran menyusun kalimatnya sendiri. 2025
Titon Rahmawan