“
Kosmos dalam Cangkang Retak
(Telur Ontologis)
I. Titik Nol dan Ilusi Gerak
Di sudut jalan, di antara debu waktu yang beku,
Pesulap nihil dan sorot mata culas menatap ke arah penonton.
"Mari kita hilangkan bulatan mula-mula, jejak sebelum aksara?"
Maka ruang pun terlipat, massa dicuri udara.
Bukan lenyap, hanya kembali ke nol yang kelam,
Di mana bentuk adalah sandiwara, hampa yang disulam.
Tapi beberapa detik kemudian, ia muncul lagi: arketipe bentuk yang tak pernah pergi,
Lengkung abadi, cangkang tipis dari sunyi.
II. Transmutasi dan Anatomis Luka
"Ubah ia, ukirkan takdir di kulitnya yang diam," seorang bocah berkata.
Perintah yang dingin, mencari makna dalam fatamorgana kejam.
Maka telur itu pecah, bukan menjadi janin yang utuh,
Tapi serpihan semesta, metaforis yang membunuh.
Ia jadi mata sapi, tatapan yang melihat ketiadaan,
Jadi sayap ayam, hasrat terbang tanpa pesawat.
Namun paling akhir, ia menjelma luka yang kental,
Luka kosmologis, getah dari pecahan asal.
Ada berapa kemungkinan, Kawan?
Sebanyak yang kau pikirkan dalam kekosongan.
III. Reproduksi, Cinta, dan Geometri Hampa
Ia beranak pinak, bukan lagi karena naluri hewani,
Tapi karena logika yang memaksa, rekursi yang mengkhianati.
Cinta pun dicetak darinya, lapisan bening yang mengeras,
Ciuman basah, cetakan raga yang lekas terlepas.
Satu jadi dua, dua jadi tanpa batas, deret yang dingin,
Geometri hidup yang lahir dari ketiadaan izin.
Telur yang menggandakan diri, mengklaim ruang yang sempit,
Menjadi jawaban palsu bagi lelapnya waktu.
IV. Ontologi Cangkang dan Prioritas Pedih
Di antara kerumunan, suara perempuan epistemik menjerit,
"Dari mana datangnya inti ini? Di mana ayam, si subjek yang sakit?"
Kosmogoni terbalik, asal-usul yang buram dan samar,
Bukan ayam, tapi cangkang retak yang lebih dulu terhampar.
Telur yang memproduksi lukanya sendiri.
Bukan dari nenek moyang, tapi dari retakan sejati.
Aku telur yang menghasilkan luka?
Atau lukalah yang mendahului,
batu nisan primal yang menjadikanku ada?
Aku adalah Telur.
Aku adalah Luka.
Aku adalah jawab yang tak pernah minta ditanya.
Desember 2025
~~~
Telur di Ambang Pecah: (Arkais dan Lelah)
I. Cangkang Mula dan Titik Nol
Di mana titik mula itu tersimpan,
di permukaan atau kedalaman?
Telur, lengkung abadi yang menimbang sunyi semesta.
Bukan hanya janin, ia adalah nol yang kelam,
Geometri pertama yang tak tunduk pada hukum alam.
Hanya karbon dioksida yang mampu mengukur hijau-merah aurora
Cangkang gemetar menggigil, rapuh.
Pesulap nihil merobek ruang, memintal aksara,
Membuatnya lenyap, kembali ke asal tanpa suara.
Ia tak pergi, hanya bersembunyi di balik makna:
Telur arketipe, lahir dari ketiadaan yang sempurna.
II. Anatomi Luka dan Jantung yang Terperam
Namun retak itu datang, bukan dari waktu, tapi dari perintah.
Ia menjelma, bukan menjadi awal, tapi menjadi musibah.
Hanya ingatan putih yang menolak kenangan abu-abu
Menatap tajam mata setan di sayapnya yang patah.
Telur diubah: Ia jadi sayap ayam yang mengutuk penerbangan tanpa raga.
ia jadi mata sapi yang menatap hampa,
Paling akhir: ia adalah luka kosmologis yang tak mau pergi,
Gelegak lendir trauma, di mana substansi adalah perih.
Hanya jantung yang telah hilang detaknya
dapat memahami pikiran absurd yang menjelma gairah itu.
Aku adalah luka yang diproduksi oleh diriku,
Sebanyak yang kau pikirkan di ruang tunggu.
”
”