“
Jadi kalau pas rasa lapar itu tiba tiba menyerang usus dan lambungnya, maka ia dengan santai dan seenaknya nyelonong begitu saja ke dalam rumah. Lalu berjalan berlenggang ke dapur dan membuka tudung saji di meja makan. Bila ia tak menemukan sesuatu di dalam tudung saji itu, maka ia tak akan segan untuk membuka lemari es. Dan tentu saja, seperti yang kita duga, maka apa saja yang ada di dalam lemari es itu akan disikatnya.
Ia tak butuh ijin untuk mencaplok apa saja yang ia temukan; persediaan susu buat seminggu dan botol botol minuman ringan, puding di atas talam, kue kue kecil dalam toples, roti dan selai, buah entah itu pisang, anggur, mangga atau pepaya.
Semua akan disikatnya tanpa ba, bi, atau bu. Jangan kata kalau ditemukannya potongan daging, keratan ikan, gundukan ayam atau kantongan sosis. Barangkali yang membedakan dia sama anjing atau babi adalah, dia masih merasa perlu untuk memasaknya terlebih dahulu. Dan tak kira kira, tanpa segan dia akan menggunakan semua bumbu, sayur mayur dan persediaan sambal yang ada di kulkas untuk pelengkap santapannya itu. Dan tentu saja, nasi di dalam rice cooker tak terkecuali.
”
”