Tawa Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Tawa. Here they are! All 63 of them:

Aku telah mengidap sakit gila nomor enam belas: yakni penyakit manusia yang membuat dunia sendiri dalam kepalanya, menciptakan masalah-masalahnya sendiri, terpuruk di dalamnya, lalu menyelesaikan masalah-masalah itu, sambil tertawa-tawa, juga sendirian.
Andrea Hirata (Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang)
Saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar.
Tere Liye (Rindu)
Kekasihku jangan bersedih tidurlah dan bermimpi, kenegeri kehamparan, kehampaan.. Kasih, Kenegeri Kehamparan, Kehampaan.. Tawa canda. Dan Biar kelak anak-anak mu kan percaya bualan Mu, jangan kau bersedih.....Pada Sebuah Ranjang
Sujiwo Tejo
…Dunia ini penuh dengan keajaiban karena hal-hal yang tidak masuk akal masih terus berlangsung. Seorang fotografer ingin membagi duka dunia di balik hal-hal yang kasat mata….para fotografer membagi pandangan, tetapi yang memandang fotonya ternyata buta meskipun mempunyai mata. Keajaiban dunia adalah suatu ironi, di depan kemanusiaan yang terluka, manusia tertawa-tawa.
Seno Gumira Ajidarma (Kisah Mata: Fotografi antara Dua Subyek : Perbincangan tentang Ada)
Yeah. Kip gets to guard you and I get to house-sit. Life bites the big tee-tawa. (Syn)
Sherrilyn Kenyon (Born of the Night (The League, #1))
sebuah tawa : suatu tanda kebebasan, suatu petunjuk kembalinya sifat human.
Goenawan Mohamad (CATATAN PINGGIR 2)
Atau, apakah didunia ini sebetulnya seperti didalam amplop ya Sukab, dimana kita tidak tahu apa yang berada di luar diri kita, dimana kita merasa hidup penuh dengan makna padahal yang menonton kita tertawa-tawa sambil berkata, “Ah, kasihan betul manusia.” Apakah begitu Sukab, kamu yang suka berkhayal barangkali tahu.
Seno Gumira Ajidarma (Sepotong Senja untuk Pacarku)
Tawa ceria adalah laksana cahaya matahari di dalam rumah.
William Makepeace Thackeray
Ah, sampai di sini, mungkin kau akan bertanya siapa diriku. Tapi apa perlunya kau tahu? Aku hanya bagian kecil dari cerita ini. Aku hanya seseorang yang berusaha mencatat sedikit kenangan agar tak hilang begitu saja ditelan zaman. Jika suatu peristiwa telah pergi, kau tahu, ia tak akan hilang begitu saja. Jika dulu ada tawa, gaungnya masih bisa masih bisa kau dengar di sana. Jika dulu ada air mata, kau masih bisa membasuhnya dengan tanganmu di sana, sekarang. Jika aku mati, kenangan itu akan hidup.
Iwan Setyawan (Ibuk,)
Siapakah yang dapat menjelaskan dengan memuaskan apa yang menyebabkan kita tersenyum atau tertawa? Gerak bibir yang menyunggingkan senyum atau gerak otot yang menggerakkan bibir, bahkan juga mulut dan rahang kita yang membentuk tawa: apakah itu semua suatu fenomena fisik atau lebih daripada itu? ---"Kita dan Humor", Kompas, Mei 1996
Umar Kayam
Tentu saja demokrasi, seperti teater, sebenarnya bukanlah proses untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk menghadapi kesalahan, dan mengatasinya, terkadang dengan sedih, terkadang dengan tawa.
Goenawan Mohamad (Catatan Pinggir 7)
Saat rintik-rintik itu datang, aku tahu... akan ada hujan yang hadir di antara bening kristal yang menetes perlahan di matanya... Belumkah cukupkah gumpalan awan mendung tinggal di dalam rumah hatiku? Lalu, dari mana sang matahari akan bangun dari lelap tidurnya? Andai aku bisa mengejar kunang-kunang sang pemburu waktu... akan kukunci sisa-sisa hidupku bersama nyanyian hujan. Bahagiaku terbawa angin bersama kumpulan debu menyedihkan. Hancur... tak tersisa sedikitpun tawa yang mengembang di bibir. Sebab tawa itu telah meramu emosi menjadi desakan luka. "Aku pun menyadari ada hidupku yang bias.... Namun, hujan dan kamu adalah cinta!" #NyanyianHujan - @sintiaastarina(less)
Sintia Astarina
PERNIKAHAN ADALAH -1- Pernikahan adalah akad atau ikatan. Akad untuk beribadah, akad untuk membangun rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah. -2- Pernikahan adalah akad untuk saling mencintai, akad untuk saling menghormati dan menghargai. -3- Pernikahan adalah akad untuk saling menguatkan keimanan, akad untuk saling meningkatkan ketakwaan, akad untuk mengokohkan ketaatan kepada Tuhan, akad untuk berjalan pada tuntunan Kenabian. -4- Pernikahan adalah akad untuk saling menerima apa adanya, akad untuk saling membantu dan meringankan beban, akad untuk saling menasihati, akad untuk setia kepada pasangannya dalam suka dan duka, dalam kesulitan dan kesuksesan, dalam sakit dan sehat, dalam tawa dan air mata. -5- Pernikahan berarti akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan, akad untuk saling melindungi, akad untuk saling memberikan rasa aman, akad untuk saling mempercayai, akad untuk saling menutupi aib, akad untuk saling mencurahkan perasaan, akad untuk berlomba melaksanakan peran kerumahtanggaan. -6- Pernikahan adalah akad untuk mudah mengakui kesalahan, akad untuk saling meminta maaf, akad untuk saling memaafkan, akad untuk tidak menyimpan dendam dan kemarahan, akad untuk tidak mengungkit-ungkit kelemahan, kekurangan, dan kesalahan. -7- Pernikahan adalah akad atau ikatan. Akad untuk tidak melakukan pelanggaran, akad untuk meninggalkan kemaksiatan, akad untuk tidak saling menyakiti hati dan perasaan, akad untuk tidak saling menorehkan luka, akad untuk tidak saling menyakiti badan pasangan. -8- Pernikahan adalah akad untuk mesra dalam perkataan, akad untuk santun dalam pergaulan, akad untuk indah dalam penampilan, akad untuk sopan dalam mengungkapkan keinginan, akad untuk berlaku lembut kepada pasangan, akad untuk memberikan senyum termanis, akad untuk berlaku romantis dan selalu berwajah manis. -9- Pernikahan adalah akad untuk saling mengembangkan potensi diri, akad untuk adanya saling keterbukaan yang melegakan, akad untuk saling menumpahkan kasih sayang, akad untuk saling merindukan, akad untuk saling membahagiakan, akad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak, akad untuk tidak saling membiarkan, akad untuk tidak saling mengkhianati, akad untuk tidak saling meninggalkan, akad untuk tidak saling mendiamkan. -10- Pernikahan adalah akad untuk menebarkan kebajikan, akad untuk mencari rejeki yang halal dan thayib, akad untuk menjaga hubungan kekeluargaan, akad untuk berbakti kepada orang tua dan mertua, akad untuk mencetak generasi berkualitas, akad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak-anak, akad untuk membangun peradaban masa depan. -11- Pernikahan, adalah akad untuk segala yang bernama kebaikan !
Cahyadi Takariawan (Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah)
Tertawa adalah sebuah komunikasi, bukan hanya sekedar reaksi.
Arief Subagja
Orang bilang ada saatnya menangis dan ada saatnya tertawa. Tetapi, untuk mereka dengan hati yang hanya mengenal kesedihan, tawa memang menakutkan...
Pendosa Pemimpi Surga
The Hopi tribe of North America had a goddess called Spider Woman. In their creation myth she teamed up with Tawa the sun god, and they sang the First Magic Song as a duet. This song brought the Earth, and life, into being. Spider Woman then took the threads of Tawa’s thoughts and wove them into solid form, creating fish, birds, and all other animals.
Richard Dawkins (The Magic of Reality: How We Know What's Really True)
Mungkin begitulah kalau kita berada dalam frekuensi yang sama--duka atau suka. Bahasa universal adalah tangis dan tawa.
Primadonna Angela (Yozakura - Sakura Malam)
Kita hanya perlu menikmati apa yang terjadi didalam hidup, menyantap dengan bersyukur makanan apapun yang ada didepan mata, lalu hidup dengan tawa setiap harinya
Yoshichi Shimada (Saga no Gabai Bachan - Nenek Hebat dari Saga)
Sejak ada kamu disisiku, kamu membawa tawa dalam hidupku, keceriaanmu selalu bikin aku bahagia.. Kamu membuat hidupku lebih berarti, selama ada kamu yang aku rasakan adalah cinta
LoveinParisSeason2
Canda dan Tawa adalah salah satu cara untuk membuat kita berfikir lebih jernih dari sebelumnya.
Mochamad Fathurizqon Mutiudin
Ketika jarak memisahkan kita Semua tawa dan rasa menjadi kebahagiaan yang tak tercurahkan Sampai suatu hari nanti, percayalah ketika semua Kebahagiaan yang terjalin akan di pertemukan
@Caditama_
Aku nggak pernah tau berapa banyak sesungguhnya jumlah bintang yang menghiasi langit... Hingga terangnya masih belum mampu mengalahkan satu matahari pagi Aku nggak pernah mampu menghitung berapa banyaknya tetes hujan yang jatuh tapi hal itu nggak mampu menghapus harapanku melihat tujuh warna pelangi setelah hujan itu berhenti... Aku nggak Pernah tahu... Bagaimana mungkin satu hati yang kamu miliki mampu menciptakan jutaan tawa dalam hidupku... Sekaligus menghentikan jutaan tangis dan menghapus rapuhku.... Dan bagiku, satu kali kehilanganmu mampu meninggalkan bekas luka yang nggak akan hilang seumur hidupku... Jika malam ini bintang nggak lagi bersinar buatku atau esok pagi nafas ini nggak lagi mampu kuhembus tapi aku tahu, hati ini punya ruang abadi yang akan selalu menyimpannya Bintang, Matahari, Hujan dan Pelangi Cuma sekedar hiasan langit dibanding arti kamu dalam hidupku
LoveinParisSeason2
Hidupku selalu berdasarkan dengan apa yang aku butuhkan Bukan apa yang aku impikan Tapi sejak kamu ada di hidup aku, sejak aku mulai tau menikmati tawa seseorang dan tanganku yang kasar ngerasa ada yang beda di saat aku ngapus air mata kamu, aku sadar cinta lebih dari sekedar lima huruf
LoveinParisSeason2
Cinta itu bukan cuma kata - kata Romantis, Pegangan Tangan, berbagi Pelukan tapi Cinta itu saat kita melakukan kebodohan bersama, menikmati Setiap Tawa dan Merekam Moment yang gak bisa kita lakuin dengan orang lain cuma Kita Berdua, Cinta itu saat waktu terbang begitu cepat setiap kita bersama saat setiap kesedihan dan beban berubah menjadi tawa lepas seolah tanpa akhir
LoveinParisSeason2
Bahagia itu sederhana saat aku mampu melepas setiap hal yang membuatku merasa sakit dan menderita.... Saat aku mampu menerbangkan segala kesedihan dan mengubahnya menjadi senyum dan tawa..... Saat aku tau seseorang akan menungguku diluar sana untuk menjadi bagian dari hidupku...... Bahagia itu sederhana, seperti hari ini, saat aku mewujudkan impian adikku tercinta untuk bisa berlayar di atas sungai di paris ini, meskipun aku hanya mampu melakukannya dengan Hatiku, dan Cuma kasih sayangku padanya yang mampu melihat jiwanya tersenyum di atas Perahu itu..... Bahagia itu sederhana saat keyakinanku akan sebuah cinta yang selalu jadi alasan untuk bertahan, Bertahan untuk tersenyum, Bertahan untuk percaya dan Bertahan untuk hidup..... Kita gak akan pernah mampu sungguh-sungguh bahagia, Jika kita tidak mampu melepaskan hal yang menjadi sumber kesedihan kita... Jadi, Berbahagialah selagi kita bisa karena bahagia itu sederhana sangat sederhana.... Sesederhana tuhan menciptakan kita dengan satu hati yang mampu mencintai begitu banyaknya" - Yasmin
LoveinParisSeason2
SUNYI menjelang tengah malam sehabis gerimis perempuan itu menelusuri lorong sunyi angin malam menemaninya di jalanan basah menyibak nakal rambutnya yang panjang menebar rasa dingin di sekujur tubuhnya ah, hanya angin yang menemani sunyinya ada warna-warni lampu jalan ada dentuman suara musik terdengar ada gelak tawa orang di pinggir jalan ada kepulan asap rokok menghangatkan malam tetapi dia dipeluk dan diperkosa sunyi tak kuasa meronta melepaskan diri tak ada yang tahu suara hatinya batinnya menangis! hidup ini tidak adil! kebenaran dibungkam! kezaliman meraja-lela! orang munafik bebas tertawa! apakah dewi keadilan berselingkuh dengan bandit jalanan? apakah dewi cinta berselingkuh dengan penjahat malam? jangan-jangan kebenaran itu hanya impian keadilan itu hanya utopia cinta hanya khayalan dengan mata terpejam dia bertanya mengapa keadilan selalu ada di jalan sunyi? (jakarta – 19/12/2015)
Riri Satria (Jendela, Kumpulan Puisi)
Pada Minggu sore yang tenang itu, aku menikahi Dinda. Aku berpakaian Melayu lengkap persis seperti waktu aku melamarnya dahulu. Dinda berpakaian muslimah Melayu serbahijau. Bajunya berwarna hijau lumut, jilbabnya hijau daun. Dia memang pencinta lingkungan. Itulah hari terindah dalam hidupku. Jadilah aku seorang suami dan jika ada kejuaraan istri paling lambat di dunia ini, pasti Dinda juaranya. Dia bangkit dari tempat duduk dengan pelan, lalu berjalan menuju kursi rotan dengan kecepatan 2 kilometer per jam. Kalau aku berkisah lucu dan jarum detik baru hinggap di angka 7, aku harus menunggu jarum detik paling tidak memukul angka 9 baru dia mengerti. Dari titik dia mengerti sampai dia tersipu, aku harus menunggu jarum detik mendarat di angka 10. Ada kalanya sampai jarum detik hinggap di angka 5, dia masih belum paham bahwa ceritaku itu lucu. Jika dia akhirnya tersipu, lalu menjadi tawa adalah keberuntunganku yang langka. Kini dia membaca buku Kisah Seekor Ulat. Tidak tebal buku itu kira-kira 40 halaman. Kuduga sampai ulat itu menjadi kupu-kupu, atau kembali menjadi ulat lagi, dia masih belum selesai membacanya. Semua yang bersangkut paut dengan Dinda berada dalam mode slow motion. Bahkan, kucing yang lewat di depannya tak berani cepat-cepat. Cecak-cecak di dinding berinjit-injit. Tokek tutup mulut. Selalu kutunggu apa yang mau diucapkannya. Aku senang jika dia berhasil mengucapkannya. Setelah menemuinya, aku pulang ke rumahku sendiri dan tak sabar ingin menemuinya lagi. Aku gembira menjadi suami dari istri yang paling lambat di dunia ini. Aku rela menunggu dalam diam dan harapan yang timbul tenggelam bahwa dia akan bicara, bahwa dia akan menyapaku, suaminya ini, dan aku takut kalau-kalau suatu hari aku datang, dia tak lagi mengenaliku.
Andrea Hirata (Sirkus Pohon)
Saat aku mati, mungkin akan ada dua reaksi, “Jangan pergi! Aku akan merindukanmu.” Mungkin berhias tangis. Atau, “Mampus kau! Dunia lebih baik jika tidak ada kau!” Mungkin berhias tawa. Apa pun itu, aku akan hidup dan menjadi diriku sendiri.
Achmad Aditya Avery
[K]ailangan nating tuligsain tayo, gisingin tayo. Inilalantad nito sa atin ang ating mga kahinaan at makabubuti ito sa atin. Dinadaya tayo ng labis na mga papuri, pinatutulog tayo, pero pinalilitaw tayong katawa-tawa sa iba. Kabanata 9: Mga Bagay-bagay sa Paligid
Virgilio S. Almario (Noli Me Tángere (Touch Me Not))
Ketenaran itu memang tampak manis di luar, tetapi keji di dalam.
Kai Elian (Teori Tawa dan Cara-Cara Melucu Lainnya)
Ketika Beliau pergi menjauh, menghampiri pintu saya, dapat terlihat sejumlah besar ikan yang berserdawa lebih banyak lagi. Begitu banyak, hingga mereka tidak bisa menahan diri dan meledak menjadi jutaan bintik bercahaya. Buliran kecil cahaya yang keluar dari seluruh tubuh mereka menerpa saya sebelum hilang ke ujung lain luar angkasa untuk menjadi matahari bagi galaksi yang lain. Dan, ketika saya disentuhnya, saya bisa mendengar suara bintang-bintang itu: Suara tawa. Ah, ternyata inilah maksudnya. Beliau senang saya puji. Ikan-ikan berserdawa (sampai meledak, kadang-kadang) ketika Beliau merasa senang. Cahaya-cahaya bintang itu adalah pancaran kebahagiaan Beliau. Saya tidak tahu kalau sesuatu yang begitu ajaib seperti Beliau tetap menginginkan rasa diterima. Mungkin saya dibawa oleh Beliau untuk meyakinkan dirinya bahwa, bahkan benda gembrot tanpa nyawa pun dapat menyukai Beliau dan hasil karyanya.
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Semua Ikan di Langit)
tawa jangan ditertawakan, tangis jangan ditangisi.
roki j
Bersepeda, saat itu kita mengayuh hanya untuk tawa-tawa kecil kita bukan karena takut terlambat atau mengejar sesuatu.
nom de plume
Eleanor shuffled
Madison Johns (Bigfoot In Tawas (Agnes Barton Senior Sleuths Mystery, #6))
Mulanya, Tempat ini yang paling kucinta. Bersamamu penuh canda. Menanti kereta. Kau temaniku dengan tawa. Bercerita tentang cita-cita. Akan hari nantinya kita. Tak kusangka. Kini semua berbeda. Tak lagi kudamba. Karena selalu ada bayangmu setiap senja. Andai dapat ku cabik sang surya. Biar ronanya tak lagi bicara. Ketika berselang dengan purnama. Biarkan mereka. Membaca arti air mata. Dan rindu dalam balutan doa. Hanya namamu yang kuuntai dengan sabda.
Karunia Fransiska
GANUN TALAGA" DI KITA NIYAKAP, AKALA KO’Y MAGIGING OKAY KA DI KITA KINAUSAP, AKALA KO’Y LALABAN KA LUHA KO’Y UMAGOS, SAPAGKAT SABI NILA’Y WALA KANA NANDILIM MGA MATA KO HABANG HABOL-HABOL ANG PAGHINGA. SINISI KO ANG LANGIT, BAKIT NGAUN PA, BAKIT SYA PA, BAKIT? BAKIT SA AMIN, SA AKI’Y NINAKAW KA’T PINAGKAIT? DUMALOY ANG MGA LUHA SABAY SA AKING PAGPIKIT DIBDIB KO’Y GUSTONG SUMABOG, KUMAWALA SA GALIT. NAISIP KONG IKAW AY SUNDAN NGUNIT PINIGIL AKO NG KARAMIHAN ORAS MONA DAW KAYA HAYAAN OO NA, PERO BAKIT KA’Y BILIS NAMAN? PAGKAWALA MO AMA MALALIM ANG DULOT IKINULONG AT IPINIIT AKO NITO NG LUNGKOT UMUSBONG AT NADAMA KO PATI ANG TAKOT SAKIT NA NARARANASAN, MERON PABANG GAMOT? SUSUKO NA SANA, NGUNIT BUMALIK SA BALINTATAW KO ANG IYONG TAWA AT MGA NGITI TINUYO NG PAGMAMAHAL ANG LUHA SA AKING MGA MATANG MULI HABILIN MO’Y NAGING DAAN UPANG BUMANGON SA PIGHATI MULI, LUMIWANAG AT NAGKAKULAY ITONG AKING LABI.
Venancio Mary Ann
Aku dan Hassan memandang. Menahan tawa. Anak India itu akan segera mengetahui satu hal yang dipelajari oleh orang Inggris di awal abad lalu, yang akhirnya dipelajari oleh orang Rusia di akhir 1980-an: bahwa penduduk Afganistan adalah orang-orang merdeka. Penduduk Afganistan menyukai tradisi namun membenci aturan. Begitu pula dengan adu layang-layang. Aturannya sederhana: Tidak ada aturan. Terbangkan saja layang-layangmu. Putuskan benang lawanmu. Mudah-mudahan kamu beruntung.
Khaled Hosseini (The Kite Runner)
Same batter. Same tawa. Same flame. Same amount of exposure time. But one side of dosai is dark and the other side is white. That is life.
Anand J
Duduk di teras ditemani gerimis yang hanya jatuh satu persatu. Mendung yang berlalu membawa udara segar. Memandang langit biru dengan goresan kemerahan dan layang layang bermain dengan indah di angkasa, gerakan gemulainya menyatu dengan alam sekitar.Tawa anak kecil menambah bahwa aku masih bahagia di sini. RAIN
dwi
Mereka mampu mengubah luka mnjdi tawa membentuk karya cerita sastra. Mereka uga mampu bersandiwara dalam karya tawa canda. Ahahaha. Hidup memang terlalu lucu bagi mereka!
Alfisy0107
Ah, betapa aku membenci perpisahan, ibu. Ia hanya menyisakan tawa menjelma debu.
Robi Aulia Abdi
Hari yang paling kurindu adalah hari di mana kita kembali duduk bersama. Kamu teh, aku kopi, dengan obrolan mengalir hangat dan tawa berderai di antaranya, tak ada dendam, tak ada rahasia, hanya cinta...
Indah Esjepe
Ronggeng bagi dunia Dukuh Paruk adalah citra sekaligus lambang gairah dan sukacita. Keakuannya adalah tembang dan joget. Perhiasannya adalah senyum dan lirikan mata yang memancarkan semangat hidup alami, semangat yang sama yang telah menerbangkan burung-burung dan memekarkan bunga-bunga. Jadi, ronggeng adalah dunia sukaria dan gelak tawa.
Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk)
Oke, kamu sudah connect. Ini channel-nya asyik. Gaul abis. Oh, ya, nick kamu sengaja saya bikin tetap Elektra. Pasti laku. Percaya, deh. Nama kamu komersial." "Memang yang komersial itu yang kayak apa?" tanyaku. "Yang funky, yang cool, pokoknya yang, ya, gimana gitu." Jawaban Betsye semakin membingungkan. "Lho, jadi, kamu biasanya nggak pakai nama sendiri?" aku terus bertanya. "Nggak, dong!" Ia mengeluarkan tawa kecil yang bernada oh-gobloknya-lu-Etra. "Saya biasa pakai Nadya, Nathalie, Natasya. Kata cowokku, yang nama depannya dari 'Na' biasanya cakep-cakep." "Nanang? Nasrul? Nano? Nasgor?" Betsy tidak tertawa.
Dee Lestari (Supernova: Petir)
Layaknya pertemuan, Tuhan selalu bertanggung jawab terhadap perpisahan Karena itulah Dia menciptakan rindu dan do’a untuk melangitkan nama-nama Kita tak punya kuasa memaku waktu, namun bisa memajang kenangan dalam gambar-gambar Menyulap runtutan cerita menjadi rentetan aksara Tidak ada kisah yang sempurna, karena pertemuan dicipta agar manusia bisa memaknai Bahwa di Semesta yang luas ini masing-masing kita hanya potogan-potongan puzle yang membutuhkan potongan-potongan jiwa lain untuk melengkapi Sedih, Bahagia, Canda, Tawa, Susah, senang Begitulah cara semesta bekerja dalam meramu setiap kisah anak manusia
Firman Nofeki Sastranusa
Kamu hadir di waktu yang tepat Jadi jawaban dari sebuah tanya Meski sendiri aku yakin sempat Tapi bersamamu ada gelak tawa ,.
chachacillas
Setiap orang mematahkan hatinya sendiri. Meyakini kebahagiaan adalah pencarian yang tersembunyi pada babak akhir. Ia membenci masa lalu tetapi menceritakannya sebagai bagian terbaik yang pernah mereka rayakan. Ia tak tahu, banyak orang mati dan menghabiskan tawa tanpa memahami definisi kebahagiaan.
Ibe S. Palogai (Struktur Cinta Yang Pudar)
kalo jalan di tanah licin, ati ati. jangan terlalu ke pinggir, ntar jatuh. jangan terlalu cepat, ntar kepleset. jangan saling dorong, ntar kejungkal. pelan pelan aja, setapak demi setapak, liat kanan kiri. gak usah dipikir kapan ada tanah kering... langkah langkah kecil itu yang akan mengantar ke tanah kering yang luas... di sana bisa berlari larian, berputar putar sambil teriak teriak dan gelak tawa... _wasiman waz
WAZ
Pahit Secangkir Kopi Aneh, betapa banyak manusia sibuk mencari musuh, seakan hidup ini adalah medan perang di mana setiap tatapan harus dicurigai, setiap senyum harus dicatat sebagai strategi, dan setiap kata adalah panah yang siap melukai. Padahal, hidup sudah cukup keras tanpa kita menambah lawan di dalamnya. Ironi ini nyata: kita sering lebih mudah membenci daripada menghargai. Orang membenci karena merasa kita terlalu tinggi atau terlalu rendah, terlalu pintar atau terlalu bodoh, terlalu kaya atau terlalu miskin. Benci, rupanya, tidak butuh alasan yang masuk akal—ia hanya butuh cermin untuk menampilkan kekurangan diri pada wajah orang lain. Tapi, bukankah pertemanan jauh lebih berharga daripada permusuhan? Skill bisa dipelajari, ilmu bisa dicari, uang bisa dicetak, tapi relasi—ia adalah emas cair yang mengalir di dalam nadi kehidupan. Sejenius apapun dirimu, selalu ada alasan untuk gagal jika berdiri sendirian. Sebab kepercayaan hanya tumbuh dari mereka yang mengenalmu, bukan sekadar dari kecerdasanmu. Keahlianmu menjadi sia-sia bila tidak ada yang tahu keberadaanmu. Sementara ada pintu-pintu rahasia di dunia ini yang hanya bisa dibuka oleh pemegang kunci—dan mereka itu adalah relasi, pertemanan, jaringan yang kau jalin dengan tangan dan hatimu sendiri. Circle-mu adalah cermin yang memantulkan bayanganmu. Siapa yang ada di sekelilingmu menentukan bagaimana dunia menilai keberadaanmu. Kerap kali kita kalah bukan karena kurang pintar, kurang terampil atau kurang beruntung, melainkan karena terlalu kaku berjalan sendirian. Sementara mereka yang biasa saja, yang ilmunya seadanya, justru melesat jauh karena pandai bergaul, merawat jaringan pertemanan, menyulam simpul-simpul koneksi, dan menabur benih simpati. Pertemanan adalah investasi jangka panjang. Ia membentuk mata air yang suatu hari akan mengalir balik kepadamu. Teman yang tulus akan menjadi tiang penopang di saat badai datang, menjadi pilar penyangga di saat engkau jatuh, dan menjadi cermin yang memantulkan wajahmu apa adanya. Namun berhati-hatilah: tidak semua tangan yang terulur adalah tangan yang ingin menolong. Ada pertemanan yang sejatinya racun, circle beracun yang menyeretmu ke jurang lebih dalam. Bijaklah memilih siapa yang akan duduk di mejamu, siapa yang akan mendengar ceritamu, siapa yang akan bersorak ketika engkau menang, bukan hanya bersorak ketika engkau kalah. Membangun pertemanan bukan soal berapa banyak nama di daftar kontakmu, melainkan berapa banyak hati yang benar-benar bisa kau sentuh. Bukan tentang siapa yang datang saat pesta, tapi siapa yang bertahan saat petaka. Pada akhirnya, membenci itu murah—cukup dengan asumsi, cukup dengan prasangka. Tapi berteman itu mahal—ia butuh kepercayaan, kesetiaan, dan keberanian untuk meruntuhkan ego, untuk berkorban, untuk menahan diri. Maka pilihlah, engkau ingin dikenang sebagai pembuat tembok atau sebagai pembangun jembatan? Karena dunia ini tak pernah kekurangan musuh, tapi selalu haus akan jabat tangan sahabat. Seribu tangan yang saling menggenggam tak sebanding dengan satu tangan yang menusuk dari belakang. Seribu senyum sahabat mampu menyembuhkan, tetapi satu rasa dengki di hati bisa meracuni. Sahabat adalah jembatan, musuh adalah jurang—dan pilihan kita menentukan, apakah kita akan menyeberang dengan selamat atau justru akan terperosok di dalamnya? Segelas kopi mungkin terasa pahit, tetapi ketika kita duduk bersama, tawa dan cerita menjadikannya lebih manis daripada gula. Kopi tanpa gula pun tetap bisa dinikmati, sebab persahabatanlah yang menambah rasa. Persahabatan sejati ibarat kopi hitam: sederhana, jujur, kadang pahit—namun selalu membuat kita ingin kembali. Di meja yang sama, segelas kopi menyatukan perbedaan, menjembatani jarak, dan menghangatkan hati. Sebab manisnya gula tak ada artinya bila diminum sendiri; bahkan pahitnya kopi pun terasa nikmat bila diteguk bersama sahabat sejati. Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Politik Identitas: Opera Tanpa Kepedulian Kita hidup di zaman ketika suara rakyat hanyalah gema kosong yang dipakai untuk meramaikan panggung hiburan, lalu dilupakan begitu lampu kamera padam. Politik telah berubah menjadi pasar malam, sebuah sandiwara: penuh warna, penuh janji, penuh tawa usang—tapi ketika siang datang, yang tersisa hanyalah bungkus kotoran sampah berserakan. Identitas dijadikan komoditas, bukan lagi jati diri. Agama, suku, bahkan luka sejarah—semua bisa diperdagangkan. Kita dipecah-belah, bukan untuk menguatkan, melainkan agar lebih mudah dikendalikan. Di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota, orang berdemonstrasi membakar ban merusak pembatas jalan, pengemudi ojol tewas digilas roda gila tanpa perasaan. Sementara itu, mata dari sebagian kita lebih sering menatap layar handphone daripada wajah sesama. Kepedulian direduksi menjadi like dan komentar basa-basi; simpati tak lebih dari emoji menangis di media sosial. Apakah ini pergeseran nilai, ataukah cermin lama yang baru saja kita sadari keberadaannya? Bangsa yang terlalu lama dijajah, dikebiri, dibungkam. Dan ketika akhirnya bisa bersuara, Ia kemudian memilih berteriak saling caci—bukan merangkul, bukan mendengar. Seperti kuda liar yang lepas kendali, kita berpacu kencang tanpa arah, hanya untuk menabrak seorang nenek tua yang menggandeng bocah di persimpangan jalan. Ironi itu telanjang di depan mata: Setiap hari kita dengar obrolan di warung kopi, orang bercakap tentang negeri ini dengan gelak tawa, nyengir tapi getir: “Negeri Konoha,” begitu katanya— sebuah olok-olok yang lebih populer dari semboyan resmi negara. Di negeri ini, pejabat berdasi bebas menari di ruang sidang, membagi proyek seperti kue ulang tahun yang dengan rakus mereka nikmati sendiri. Inilah negeri para koruptor, negeri para selebritas bermuka dua yang menghisap darah rakyat sambil berkhutbah moralitas di televisi. Kita hidup di tengah paradoks yang nyata-nyata menjijikkan—yang miskin disuruh tabah, kalangan menengah ditekan habis-habisan, sementara yang kaya tersenyum gembira di tengah pesta sambil menepuk bahu kolega— “Bertahanlah terus di atas, Kawan. rakyat tak akan sadar, selama kita beri mereka lebih banyak drama.” Anak muda dijejali mimpi instan: menjadi kaya tanpa kerja, terkenal tanpa karya, berkuasa tanpa tanggung jawab. Flexing jadi ideologi baru; mobil mewah dan tas bermerek lebih dihargai daripada kejujuran dan keberanian. Dan kita pun bertanya dalam hati: Apakah ini konspirasi yang diciptakan agar jarak semakin lebar? Yang miskin tetap menunduk lapar, yang kelas menengah diperas hingga kehabisan napas, dan yang di atas terus berpesta pora dengan tawa penuh tegukan brandy dan separuh ilusi. Seakan kepedulian adalah bantuan sosial yang hanya bisa dipamerkan saat kampanye, bukan dipraktikkan sehari-hari. Namun, di sela semua absurditas itu, masih ada hal-hal kecil yang menolak mati: Seseorang yang diam-diam membagi nasi bungkus kepada para tetangga, seorang guru desa yang terus mengajar meski gajinya telat berbulan-bulan, seorang anak muda yang memilih menanam pohon daripada menanam kebencian. Barangkali inilah yang tersisa dari kepedulian itu: kecil, lirih nyaris tak terdengar, tapi tetap menolak untuk padam. Dan mungkin, harapan kita sebagai bangsa terletak pada bara kecil yang terus menyala—bukan pada gedung megah parlemen, bukan pada wajah keren yang terpampang di baliho, melainkan pada kesediaan hati yang masih mau peduli, meski dunia terus berusaha mengajarkan kita untuk makin acuh tak acuh. Hati yang terusik saat dipaksa kembali pada pertanyaan purba: Apakah kepedulian bisa hidup di tengah hutan kepentingan? Atau hanya tinggal sebagai dongeng usang, yang kelak kita bacakan kepada anak cucu tentang negeri yang konon pernah punya hati, sebelum kemudian, ia digadaikan kepada para penjual janji? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
*Kenangan Dari Koridor Rindu* Dulu, di bangku ingatan Ada sepasang tangan saling menggenggam harapan. Angan yang berlompatan serupa putih debu kapur di atas papan tulis. Mimpiku, mimpimu bertemu Di dalam lembar-lembar buku. Langkah yang berjalan tergesa sepanjang lorong penghubung waktu. Dari perpustakaan dan ruang-ruang kelas, hingga kantin, uks dan ruang guru. Canda dan tawa kita bergema sepanjang koridor rindu. Ada kebahagiaan tertinggal di sana seperti hendak kembali padamu. Ada goresan sejarah yang kita tulis, Romansa percintaan purba menyisakan ratap tangis. Kisah cinta yang berakhir tragis: Marie Josephine dan Raja Louis. Kenangan yang akrab menyapa kita, lewat tutur kata pak guru tua tegak berdiri di depan kelas dengan penuh wibawa. Ada juga kisah lain yang kita baca: sebuah penghargaan tanda cinta piala citra untuk pelajaran fisika. Semua yang menempa kita demi mengejar mimpi: Pelajaran matematika yang kau benci, Atau guru biologi tampan yang diam-diam kau kagumi. Apa yang masih tertinggal dari senyum bapak dan ibu guru Suara yang akrab menyapa kita dari masa lalu. Ingatan yang selamanya belia menolak menjadi tua. Puisi yang tak akan lekang oleh matahari garang di tanah lapang. Sebuah ode pujian yang kita nyanyikan dengan khidmat: "Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru... Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..." Sekiranya saja, masih cukup waktu kita, untuk menyapa mereka hari ini. Para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tak terkira banyaknya hutang rasa yang tersimpan di dada. Rasa terima kasih dan ucapan syukur yang tulus terulur dari lubuk sanubari; Untuk setiap ilmu yang mereka beri, setiap pengetahuan yang mereka bagi, biarlah doa jadi persembahan suci: Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberkahi bapak-ibu guru yang kita cintai. Oktober 2025
Titon Rahmawan
CHARLIE V (THE LAST LAUGH OF THE COSMIC JESTER) Di akhir pertunjukan, Charlie muncul bukan sebagai manusia, bukan sebagai gelandangan, bukan sebagai politikus gagal, bukan buruh algoritma— melainkan sebagai bayangan yang memantul pada sebuah bejana di tengah gurun yang tidak punya sejarah. Ia berdiri di sana, dengan tubuh yang hampir tidak menyentuh tanah, seperti makhluk yang lupa apakah ia masih terikat gravitasi. Dari kejauhan, suara terompet perang dari masa lalu bergema: Alexander yang menaklukkan dunia, Caesar yang mencoba memerintah waktu, Napoleon yang jatuh karena kesombongannya Hitler yang mendadak gila— tapi semuanya terdengar seperti komedi murahan yang diputar di bioskop tanpa penonton. Charlie tersenyum. Ia tahu: bahkan para penakluk terbesar pun tidak lebih dari badut yang terlalu percaya diri di hadapan semesta yang tak pernah berniat menjelaskan apa pun. Ia merobek wajahnya— bukan sebagai tindakan mutilasi, melainkan sebagai bentuk meditasi paling radikal: tindakan anatta, pembubaran diri, pembakaran ego di dalam tungku sunyi yang menyala tanpa api. Di balik wajahnya, tidak ada apa-apa. Tidak ada identitas. Tidak ada “aku”. Hanya ruang hampa yang memantulkan kembali suara lolongan serigala ketakutan manusia dengan kejujuran yang memuakkan. Ia tertawa. Tawa itu bukan tawa seorang gelandangan, bukan tawa seorang politisi, bukan tawa pekerja pabrik— melainkan tawa aktor sejati yang telah melampaui semua peran yang pernah ia mainkan. Tawa itu menggetarkan pasir, menggoyang langit, mengusir kesadaran palsu yang dibangun oleh ribuan tahun peradaban. Dan saat gema terakhirnya memudar, Charlie berkata tanpa bibir, tanpa suara, tanpa bentuk: “Tidak ada yang lucu. Tidak ada yang ironis. Tidak ada yang tragis. Tidak ada yang suci. Tidak ada yang hina. Yang ada hanya kesadaran sedang belajar menertawakan dirinya agar ia tidak menjadi gila.” Lalu dunia runtuh. Diam. Kosong. Sunyi. Dan barulah kemudian— kita menyadari bahwa selama ini kitalah karakter yang ia tulis menjadi bahan lelucon. November 2025
Titon Rahmawan
Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini? (Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian) /1/ Di ambang cahaya yang gagal menemukan dirinya, aku melihat riak kuning yang tampak seperti sisa doa yang kehilangan tuannya. Seekor angsa liar melintas tanpa tahu apakah ia burung atau hanya gema dari sesuatu yang tak pernah selesai menjadi makna. /2/ Jangan percayai hening yang menggantung di dahan dadap itu. Ia bukan sunyi, melainkan mata ketiga dari kesadaran yang menatap balik pada penafsirnya. Seekor burung hantu buta menjadi penanda yang terlantar— simbol yang dibuang dari mulut bahasa. /3/ Aku bersaksi tentang rusa totol indigo yang lahir dari tawa kanak-kanak, bukan sebagai hewan, tetapi sebagai fragmen kosmik yang melampaui tubuh, sejarah, dan dilatasi waktu. Rumput kelabu bening di kakinya mengajarkan bahwa setiap permainan adalah ritual kecil dari keberadaan yang mencari arti sendiri tanpa pernah menemukan. /4/ Karena sajakmulah, aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi— bukan sebagai air, melainkan sebagai niat kata yang gagal menjelma doa. Di antara lipatan sorban putih itu ada jeda panjang tempat Tuhan pernah sembunyi untuk melupakan nama-Nya sendiri. /5/ Di pelupuk matamu kutemukan bilah luka yang tak tunduk pada bahasa mana pun. Heran luruh menjadi serpihan kaca, mengiris senyum para penjaja cinta. Barangkali itu bukan kesedihan, melainkan alfabet purba yang kehilangan suaranya sebelum sempat menjadi kata. /6/ Ada selaput tipis takjub yang tak pernah disentuh oleh jari Nizhami atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara. Ia bukan cinta, melainkan bayangan semu— penanda yang tersesat di lorong gelap kesadaran yang menolak direstorasi. /7/ Langit keruh kelabu tampak jenuh oleh seluruh tangisanku, tangis yang bernaung di ceruk terdalam jantung kita seperti embun yang takut menjadi air. Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja: menyamar sebagai kesunyian saat dahaga merayap jauh ke gurun paling sunyi di dalam diri. November 2025
Titon Rahmawan
Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini? : Alejandra Pizarnik /1/  Ada riwan kekuningan dan kawanan angsa liar di jela-jela bunga bakung. Jerit tangis yang terperangkap dalam seringai bibir si mati yang tenggelam ke dalam rawa itu tadi pagi, sebelum ia sempat menafsirkan sajak ini. /2/  Tetapi, jangan silap oleh senyap yang hinggap di pokok dadap di belakang kuburan yang dijaga oleh seekor burung hantu buta. Dalam kalap mata si nara gila yang berhasil kabur dari lembaran ungu penjara otakmu. /3/  Sebab kuyakin, ada seekor rusa totol indigo dan sejumput rumput kelabu bening dalam gelak tawa kanak-kanak yang berlarian bersicepat mengejar angin mendaki bukit Lillahi ta’ala. /4/  Karena sajakmulah maka kutemukan titik-titik hujan yang urung terperangkap dalam cangkir porselen di jejak kaki para sufi dan dalam putih sorban para pencari tuhan. /5/  Sementara di pelupuk matamu ada kudapati sesayat pisau luka. Lagu cemar yang tercabar dari derai kepingan heran. Dan entah mengapa, telanjur terpatri jadi senyum pilu di sudut bibir para penjaja cinta. /6/  Namun, kukira itu bukanlah gelembung busa biasa, melainkan selaput tipis rasa takjub yang mungkin tak tersentuh oleh jari-jemari tangan Nizhami saat ia berkisah tentang Laila dan Majnun. /7/  Barangkali langit keruh kelabu sudah telanjur jenuh oleh tangisanku. Tangis yang diam-diam terpendam dalam curam jeram jantung kita. Serupa fatamorgana, ilusi dari cekaman rasa dahaga yang sungguh tiada terperi. (Januari 2014)
Titon Rahmawan
TONY, ISAP NAPAS TERAKHIR KOTA INI (Frank Booth Reconstruction — Gasoline Erotics) Pintu itu tidak dibuka. Pintu itu diterjang, seperti kota ini tidak pantas memiliki sekat, seperti dinding adalah penghinaan personal yang harus dihancurkan. Tony masuk dengan langkah yang terdengar seperti pukulan jantung yang dipaksa berdetak oleh seseorang yang membencinya. Ia mengenakan topeng oksigen. Bukan untuk bernapas— untuk menyembur kegilaan ke paru-parunya sebelum kata pertama jatuh dari bibirnya. Hssssssss— “Jangan bergerak.” Suaranya adalah listrik yang kehilangan kesabaran, dan aku yakin ia berkata seperti itu bukan karena aku akan kabur melainkan karena ia ingin melihatku membeku dalam ketakutan paling murni. Ia menghirup gas lagi. Hssssssss— lelaki itu kini adalah badai kecil yang mencari seseorang untuk dihancurkan demi alasan yang hanya dimengerti oleh tubuhnya. “LIHAT AKU!” Kata itu bukan permintaan. Itu adalah ajakan berperang. Lampu berkedip dan berubah merah seolah ruangan ini memutuskan untuk mengakui siapa yang berkuasa. Tony mendekat begitu cepat hingga udara mundur. Ia meraih kerah bajuku dengan gerakan yang cepat dan brutal pada saat yang sama, seperti seseorang yang memetik bunga yang sebenarnya adalah granat. “Kau pikir kota ini milikmu?” Ia menggertak—pendek, tajam. “Kau pikir cinta itu kelembutan? Kebijaksanaan? Ritual bahagia?” Hssssssss— Napasnya berubah menjadi dengus binatang buas. “CINTA ITU GAS, BANGSAT!” “Cinta itu benda yang kau hirup sampai matamu melihat warna yang tidak ada dalam spektrum optik.” Ia menepuk pipiku— bukan lembut, bukan keras— tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa sentuhan itu bisa menjadi ancaman yang menyakitkan. Dari sakunya, ia mengeluarkan sepotong beludru gelap. Tidak biru— tapi hitam basah, seperti bulu raven yang mencuri cahaya dari mataku. “Pegang ini,” katanya. “Pegang pelan.” “Lebih pelan.” “Ya.” Nadanya berubah sultry, seolah kekerasan dan erotika adalah bahasa yang sama baginya. “Dengar, aku akan bilang satu hal padamu,” Ia mendekatkan wajahnya. Aroma gas, logam, dan sesuatu yang manis— seperti permen yang dicampur racun— mengisi ruangan. “Kota ini adalah perempuan telanjang yang dipaksa bernyanyi di depan semua fantasi manusia.” Ia tertawa— tawa yang tidak punya ritme moral. “Dan aku…” Ia memegang wajahku di kedua tangannya. “...adalah orang yang mengajar kota ini bagaimana caranya menjerit.” Hssssssss— Tony menendang meja, gelas-gelas pecah, bayangan jatuh ke lantai seperti tubuh. Ia menatapku dengan mata yang tidak lagi mengenali perbedaan antara hasrat dan kekejaman. “AKU TUNJUKKAN CINTA VERSI SEJATI,” katanya. Ia mendekat, menekan beludru hitam itu ke dadaku sambil berbisik di telingaku: “Dalam dunia ini, siapa pun bisa mencintai. Tapi hanya sedikit yang berani mencintai sampai menghancurkan sesuatu.” Hssssssss— Ia menarik topengnya, menatapku dengan kekosongan yang sempurna, dan berkata: “Inikah bagian tubuhmu yang paling kau butuhkan untuk merasa hidup?” “Karena aku… ingin mengambilnya darimu!” Lalu ia merenggut hatiku dengan sekali cabut. November 2025
Titon Rahmawan
BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG V. Durma — Kebrutalan yang Tak Dapat Dihindari Pada masa itu kau tumbuh seperti pohon hilang akar. Orang-orang melihat ranting garing layak dibakar. Tangan-tangan mengusirmu, kata-kata meludahkan kutuk, dunia menyumpahimu tawa sinis nasib buruk. Namun kau tetap hidup, walau setengahnya hancur di tangan kemalangan. Ada serpih mantra tua yang mengendap dalam dada— bukan sakti yang menyelamatkan, melainkan sakti yang terus bertahan melawan dunia membabi-buta hasrat yang ingin menyudahi takdir. VI. Pangkur — Nafsu Waktu yang Ingin Menegukmu Makhluk-makhluk tanpa nama membayang langkah: bayangan panjang, aroma tanah basah, bisik-bisik menjalar seperti patuk taring ular di bawah runduk pokok bambu. Mereka melihat jazad bersumpah yang nir wujud kadang jalma seperti hewan, kadang manusia tak berwajah kadang bayang menekuk cahaya, kadang tubuh kosong tanpa ruh gentong penuh suara-suara hilang melesap dari masa lalu. Kisah kembali ke orang desa kabar buruk yang malas mati. Terbawa angin serupa pesan, dipindahkan tangan serupa kayu sekeras batu tonggak peringatan, diulang mantra jopa-japu doa menakar langit hitam menyapu malam paling sangit. VII. Megatruh — Jiwa yang Memisahkan Diri Malam paling wingit adalah pisau. Bilah tajam memotong bayangan hingga terlihat inti terdalam. Di sana kau menyaksi bisu: cahaya kecil, ringkih dan rapuh, bergetar seperti bayi mencari ibu. ia bukan hantu yang menakutimu. Ia bukan kutuk yang menempel di napasmu. Ia adalah separuh jiwa yang tak sempat menjadi tubuh. Ruh mendekat perlahan. Tangannya bening, seperti embun yang tidak berhasil jatuh ke daun. Ranting garing yang bukan sampah— gores luka pohon purba yang pernah menyimpan cahaya suci. “Bukan kau yang diusir,” bisiknya melalui dingin yang merambat. “Akulah yang tidak sempat hidup— dan kaulah rumah terakhirku.” Dadamu retak menampung tangis yang tak bersuara. Untuk pertama kalinya kau tidak takut pada kesunyian— karena kau tahu kesunyian itu adalah anak kecil yang kini duduk di pangkuanmu mencari dunia yang pernah menolaknya. VIII. Pocung — Penutup Takdir Pertanyaan arkais kembali menggigil: “Kapan cendala akan berakhir?” “Kapan asal ditatap tanpa gentar?” Kubur itu tak pernah ada. Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya. Tidak ada batu nisan yang menuliskan napas yang gagal menjadi bayi. Namun malam ini, ketika kau berdiri di Tanah Suwung, ada satu pancer yang kembali— perlahan, lirih, takjub. Suwung membuka tubuhnya dan menaruh ia di tengah-tengahnya sebagai cahaya yang terlalu kecil untuk menerangi dunia, namun cukup untuk menuntunmu pulang kepada dirimu sendiri. Ia yang dulu hilang akhirnya menemukan pusatnya. Dan ranting kering yang dulu dicampakkan kini berdiri tegak menyimpan dua jiwa— satu yang hidup satu yang tidak sempat— keduanya akhirnya lengkap di bawah langit yang tidak lagi menolak kehadiranmu. Desember 2025
Titon Rahmawan
Di Bawah Matahari yang Menatap Balik Di bawah matahari yang meleleh seperti pupil dewa yang kelelahan, aku melihat bayanganku sendiri berlari sebelum aku sempat berpikir untuk bereaksi. Barangkali ini bukan dunia, barangkali ini adalah ingatan purba yang lupa pada tubuhnya. Seekor jam mencair di pundakku, menggelincir seperti sisa waktu yang tidak mau menjelaskan dirinya. Ia berbisik, bahwa keabadian hanyalah kegagalan ego dalam memahami detik yang perlahan hancur. Aku tertawa. Tawa itu memecah wajahku menjadi tiga: yang percaya, yang takut, dan yang tidak peduli lagi pada logika. Ketiganya saling mengancam untuk lahir, sementara aku — atau apa pun yang tersisa dariku — menyaksikan kelahiranku sendiri dari balik kabut. Jangan cari kebenaran di sini. Di tanah ini, kebenaran telah diseret oleh cahaya yang lumpuh, diseret ke dalam lubang di mana suara-suara masa lalu dibungkam berubah menjadi serangga kanibal yang memakan tubuhnya sendiri. Ada saat di mana aku hampir mengerti. Saat di mana absurditas itu menamparku seperti kilat: — semua upaya memahami diri adalah upaya membatalkan kelahiran. — ego adalah ranting pohon yang terus tumbuh bahkan ketika kita sudah membiarkannya mati. — pencerahan tidak datang dari kejernihan, melainkan dari ketidakpahaman yang dibiarkan membusuk sampai berlumut dan tiba-tiba menyala akibat radiasi. Kini aku tahu, matahari itu bukan sumber cahaya. Ia adalah luka yang didekap semesta sampai berubah menjadi lubang hitam di mana aku bisa pulang. Dan ketika akhirnya aku masuk ke dalamnya, aku tidak merasa utuh— aku merasa hilang… tapi justru dari kehampaan itu, aku dilahirkan lagi oleh kegelapan yang telanjur letih menampung raga dan jiwaku. November 2025
Titon Rahmawan
Helianthus “The sadness will last forever.”  ― Vincent van Gogh Sebuah ingatan tak mampu menangkap geletar sebatang kuas. Jari-jemari gagal menangkap rona mata kepedihan membayang kabur di atas kanvas. Pucat tube cat menelan harga diri ekspresi beku palet kosong.     Seekor singa diam-diam mengeram, mencabik daging sepotong demi sepotong. Langit penuh bintang tertawa menggigilkan telinga. Tawa gila perempuan sundal di perempatan jalan. Telinga mengucur darah oleh tajam sembilu tak lagi goreskan biru ke atas gaun malam. Hutan terbakar. memberang oleh kalut pikiran. Kelopak matahari luruh memenuhi liang lembab dan dingin. Sernak hujan memutar masa lalu, melaknat pias rembulan. Tapi ia belum mati, belum lagi. Ada sisa asap dari pistol teracung ke atas jidat mencabar benak. Serpihan ngeri mengiris telinga terbungkus sehelai sapu tangan berenda— sebuah tanda mata. Langit yang tak kunjung mati. Langit yang melaknat diri sendiri. Sebuah pusara, dalam keranjang     penuh kentang. Malam penuh bintang dan sansai sepasang sepatu bot usang— kamar sunyi lengang. Tertumpah gentong anggur dalam perkelahian tak terkendali bersama Theo dalam café penuh pelacur. Almanak yang menyimpan ingatan semua nama: Gachet dan Gauguin menambal luka meliang di sekujur tubuh; maut yang menolak mencium busuk bau napasnya. Rembulan mabuk di sepanjang jalan dari Borinage, Antwerpen hingga ke Paris. Jiwa yang menolak mati, sampai Arles memangilnya kembali Muram wajah rumah kuning itu, taman bunga Irish layu pohon Cypres menari-nari. Dan Saint Remy menunda kepulangannya sekali lagi. Jemari gemetar mengulang sketsa pada cemerlang warna bunga mataharinya dalam sebuah pot oranye tetap seperti dulu juga. Lelaki malang yang mencintai kepedihan begitu rupa sebagaimana ia mencintai cahaya lebih dari jiwanya sendiri.  April 2014
Titon Rahmawan
Zoyya Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan, Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci Dan lubang menganga dari separuh dunia Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi? Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku? Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan. Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya. Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah; Nama yang sengaja ia lupakan, Identitas yang tak ingin ia bagi Tapi betapa... Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki. Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri Mungkin ia lupa pulang Mungkin ia lupa jalan untuk kembali Sebab rumah hanyalah sebuah kenangan sedih yang sudah lama ingin ia tinggalkan. Oktober 2025
Titon Rahmawan
Sutra Hening: Jalan Tengah di Antara Ada dan Tiada” Di titik ketika suara tak lagi membutuhkan gendang telinga, aku duduk—bukan untuk mencari terang, melainkan untuk melihat siapa yang paling gigih merindukan cahaya. Hampa menyelimuti seperti udara pagi; tidak dingin, tidak hangat— hanya ada. Bodhidharma duduk di depanku, wajahnya setegas gunung purba. Ia berkata tanpa suara: “Jika pikiran tak tenang, siapa yang ingin kau tenangkan?” Aku terdiam—bukan karena tak mengerti, tapi karena aku melihat tanganku sendiri hilang ketika hendak menggenggam pertanyaan itu. Lalu Huineng datang, bukan sebagai guru, melainkan sebagai angin yang menyingkap tirai: “Tak ada cermin. Tak ada debu. Siapa yang membersihkan apa?” Sekali lagi aku mencoba menjawab, dan sekali lagi jawabanku runtuh seperti bayang yang kehilangan tubuh. Thich Nhat Hanh datang sebagai mimpi, mengajarkan cara menatap embun tanpa menginginkan arti. Ia bilang: “Tersenyumlah pada kehadiranmu sendiri. Kesadaran itu bukan menahan apa pun, tetapi membiarkan semuanya lewat.” Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa napas bisa menjadi jembatan antara dunia yang retak dan hati yang ingin pulang. Alan Watts mengangguk, tertawa, seolah tahu bahwa tawa adalah pintu gerbang paling rahasia. “Kau bukan penumpang di dalam tubuhmu,” katanya, “kau adalah tarian antara bentuk dan kekosongan.” Aku melihat gelombang naik dan turun bukan sebagai metafora kehidupan melainkan sebagai bukti bahwa kehilangan dan penemuan selalu saling memasuki tanpa konflik. Lalu aku bertanya—dalam diam yang membungkus semuanya: Jika aku bukan murni ada dan bukan murni tiada, apa sebutan untuk jarak tipis yang senantiasa berubah antara keduanya? Jawaban yang datang bukan kata, bukan isyarat, melainkan kejernihan: bahwa paradoks bukan masalah yang harus diselesaikan melainkan lanskap yang harus ditapaki dengan sepenuh hati. Bahwa kekosongan bukan lubang tetapi ruang untuk segala kemungkinan. Bahwa kehadiran bukan beban tetapi kelahiran ulang pada setiap kedipan mata. Bahwa penyerahan bukan pasrah tetapi melihat bahwa tidak ada musuh selain cengkeram cakar sendiri. Aku menutup seluruh panca inderaku, dan untuk pertama kalinya aku memandang tanpa melihat. Aku membuka tangan, dan untuk pertama kalinya aku memiliki tanpa menggenggam. Aku membiarkan diriku diam, dan untuk pertama kalinya aku menjadi gema dari sesuatu yang jauh lebih besar dari kata “aku”. Di titik itu aku tahu: puitika paling terang lahir bukan dari hasrat yang ingin hebat, melainkan dari kalimat yang rela lenyap agar makna dapat muncul tanpa penjara. Dan di dalam lenyap itu, sebuah pertanyaan lain mengalir: Jika keheningan adalah guru yang paling jujur, siapa lagi yang harus kita dengarkan? November 2025
Titon Rahmawan
Geografi Kesedihan yang Tidak Selesai (Nihilism-Lyrical Ver.3.0) Kesedihan tak hanya menghentikanku— ia mengukirku, menggesek tulangku seperti batu asah sampai aku berdiri di ambang kehancuran tanpa kemampuan menemukan jalan kembali. Jurang menakutkan di hadapanku lebih sabar daripada manusia mana pun. Aku menolak mengetuk pintu belas kasihan. Pasrah adalah mata uang yang tidak pernah kupahami. Aku pohon yang keras kepala, akar goyah di atas tanah retak namun menolak tumbang. Aku ingin menjadi menara agar seseorang akhirnya melihat diriku tegak berdiri. Kadang ingin menjelma jadi gapura agar aku bisa berpura-pura menjadi awal atau akhir setiap perjalanan. Namun itu semua ilusi: tidak ada yang benar-benar membaca kesedihan orang lain. Dalam setiap gerbang, aku melihat rumah ibu. Kerinduan yang menetes pelan seperti kebocoran yang tak pernah diperbaiki. Yang berubah hanya aku— lebih asing, lebih jauh, lebih sunyi, lebih sulit dicintai. Mimpi lelaki perkasa yang terbang di atas punggung kuda egonya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menatapnya pergi dalam seringai tawa yang memilukan. Hidup tidak mudah. Bahagia tidak pasti. Yang tersisa hanya keputusan kecil yang kadang disebut iman kadang keraguan. Dan Tuhan—bukan... tapi, tuhan— jika Ia berkenan hadir, walau dalam huruf kecil: sebatang lilin yang gemetar setiap kali aku menghela napas. November 2025
Titon Rahmawan
Jarak Bagaimana mungkin kupertaruhkan kebahagiaanku dalam namamu, Kay? Bukankah kau cuma jeda setelah pertunjukan? Langit yang menolak menjadi tua dan waktu yang urung menjemput pagi. Percakapan kita terhenti entah sampai di mana. Luka yang terus menerus kau torehkan di dada; Tangisan penyesalan dan nasib tak berketentuan. Apakah masih ada pengharapan di setiap renyah tawa yang kau tebarkan? Ataukah itu hanya seringai palsu di balik sebuah senyuman? Tentu saja kita tak pernah sungguh-sungguh saling mencintai. Aku hanya mengagumi keberanianmu untuk tak berpura-pura ingin menjadi matahari. Sedang tak akan kau dapati kebahagiaan yang engkau impikan dalam diriku serupa laut biru. Kita hanya saling menatap kekosongan dari balik layar ponsel yang tak lagi mampu menyatakan perasaan. Sambil barangkali menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya di antara kita. Bukankah jarak sesungguhnya hanyalah sehembus nafas? Demikian pun perasaanku padamu, yang sayangnya tak pernah kau pedulikan. Oktober 2025
Titon Rahmawan
Telur yang Pecah (Lullaby for a Machine Dying Slowly) Sebutir telur menggelinding — pecah di atas batu yang tidak berpaling. Retakannya memantul di mata orang-orang yang saling memandang tanpa alasan, tanpa kejelasan tanpa nurani. Klakson mengiris udara; sebuah roda berteriak, seorang bayi mengoceh seolah dunia belum memutuskan untuk mati malam ini. Di sudut kota, remaja-remaja tertawa dengan gelak yang menyakitkan, seperti dunia baru sedang tumbuh di atas abu yang lupa dikubur. Tidak ada struktur. Ingatan melompat, kerjap kilat seperti dejavu yang dipaksa lewat. Kereta melintas, meninggalkan rongga kosong memantul di dada semua orang. Kincir angin menggerutu di sebuah negeri biru pucat. Bola-bola salju turun: fragmen ingatan yang tidak kita perlukan, luka yang turun terlalu deras untuk ditampung oleh tubuh kecil kita. Di televisi, Muhammad Ali menari— berat, lambat, seperti bayangan malaikat yang kelelahan. Seseorang jatuh telentang; darah mengalir dari hidungnya seperti garis waktu yang disayat. Radio memutar The Beatles dengan kepolosan yang menggelikan— seakan esok masih bisa dipertaruhkan. Roket terbakar di langit Palestina; sejarah pecah. Sepotong roti yang tidak pernah lahir dari mimpi. Memori lama harapan baru; Gencatan senjata terkubur debu. Dua presiden berjabat tangan dengan wajah setengah beku. Seseorang terbaring, terpapar HIV, dan kita tidak pernah tahu namanya. Tidak pernah ingin tahu. Kepedihan menjadi statistik. Antrian beras, gula, sabun, dan sisa martabat. Terlalu banyak kemalangan untuk dicatat oleh tangan manusia. Orang-orang membakar buku; yang lain berhenti membaca. Rumah-rumah gelap seperti rongga dada yang kehilangan anak-anaknya. Tidak ada cahaya. Tidak ada tawa. Tidak ada masa depan. Dunia diambil alih oleh alien— mungkin selamanya kita adalah alien satu sama lain. Dunia pudar, retak, berdarah sendirian. Februari 2022
Titon Rahmawan