Sujud Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Sujud. Here they are! All 19 of them:

Bukan mudah untuk berubah... dari tanpa arah ke sejadah, dari tepi jalanan ke sujud menghadap Tuhan.
Hlovate (Versus)
Bagi orang-orang yang beriman, dimana pun ia bisa rukuk dan sujud kepada Allah, maka ia menemukan bumi cinta. Dan sesungguhnya dunia ini adalah bumi cinta bagi para pecinta Allah Ta'alla. Bumi cinta yang akan mengantarkan kepada bumi cinta yang lebih abadi dan lebih mulia yaitu surganya Allah
Habiburrahman El-Shirazy (Bumi Cinta)
Aku tak masalah bila tidak kau ingat dalam setiap langkah kecilmu. Tapi, aku harap kita saling mendoakan lewat sujud; menundukan kepala dan mengaku bahwa kita hanya makhlukNya yang tak sempurna. Doa itu yang akan mempertemukan kita suatu saat nanti. Mari, berdoa dan bersiap dalam penantian panjang. Tuhan yang akan mempersatukan kita :))
fdhayuningtyas
Rasulullah SAW menggendong anak kecil ketika shalat. Dari Abu Qatadah Al-Anshari, bahwasanya Rasulullah SAW shalat sambil membawa Umamah binti Zainab binti Rasulullah. Apabila sujud,beliau menaruhnya. Dan bila berdiri,beliau menggendongnya (Hadist al-Bukhari)
Jamal Abdurrahman
Kebahagiaan itu sederhana, sujud syukurlah 5 menit sehari atas apa yang kita peroleh.
Susilo Bambang Yudhoyono
Maka perkayakanlah aku dengan bahasa yang meyakinkan sehingga dengan bahasa itu aku dapat mengajak kaumku untuk sujud kepada-Mu. (Mazmur XXXIV)
Sutung Umar RS (Puisi: Nyanyian Mazmur)
Orang Jawa sujud berbakti kepada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran. Orang harus berani mengalah, Gus.
Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1))
Kalau saya sujud tanpa alasan apa-apa, tidak pakai salat dulu, apa boleh?
Desi Puspitasari (Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku)
Haruskah kita melangkah kan kaki di antara nisan yang berbaris. Dan badai musim ini, akan menjadi sesuatu yang janggal. Bayang kan kita lebih tinggi dari gagak yang melambung.. Dan bernapas angkuh layaknya firaun... Tragisnya kita jatuh melesat kebawah bagaikan anak panah. Suara ini tetap bergema!!! . . . .Kita adalah Hati.... Yang tak pernah di beli atau pun tergadaikan oleh dunia. Kita adalah Hati... Yang meredam manis ucapan.... Kita adalah Hati... Yang tak sebanding dengan bangkai munafik... Kita adalah hati..... Dan masa depan mengalir di antara tulang ini Dan kita adalah Hati.. Yang selamanya berdoa . .~andra dobing
andra dobing
Tetaplah bangga menjadi manusia. Kalaupun kalian ngotot menjadi hewan, jadilah hewan peliharaan yang jinak dan setia pada tuanmu. Tuan itu bernama manusia. Dan jika kalian ngotot menjadi malaikat, jadilah malaikat yang nakal. Malaikat yang setia menggoda iblis untuk kembali sujud pada tuannya. Tuan itu bernama manusia.
djas M pu ([AMNESIA] Back to Future)
Senja Lembayung Jingga, Senja adalah penanda Senja adalah perenungan Senja adalah sela Siang berakhir Malam menjelang Di antara itu ada senja Ada doa dalam setiap senja Sujud syukur untuk gerak raga hari itu Senja akhiri hiruk pikuk Senja sambut sunyi malam Bukan mentari yang pergi Namun bumi rindu malam Nikmati indahnya taburan bintang Di keheningan malam Buat seorang teman, yang ikut berbagi makna senja, 28 Februari 2019, 18.00 WITA
Diadjeng Laraswati Hanindyani/De Laras
Alhamdulillah. Terima kasih wahai saudaraku sesama Islam. Tahukah kamu.. betapa beruntungnya orang Malaysia, Singapure dan Indonesia? Kamu datang sejauh 8,000 kilometer lalu dibenarkan sujud solat di sini. Tahukah kamu.. betapa ramai rakan-rakan saudara kita jarak tempat tinggalnya hanya lima hingga sembilan kilometer, tetapi dihalang untuk datang ke sini. Terima kasih wahai saudaraku.. kerana membantu kami memenuhkan saf-saf di Aqsa. Sesungguhnya Baitul Maqdis milik kita umat Islam!
Roza Roslan
Sujud di hadapan tahta kearifan tertinggi adalah jalan untuk melepaskan kekangan.
Stebby Julionatan (LAN)
Bagaimana Anda bisa menciptakan lautan air mata? Sesendok saja pun rasanya tidak mungkin. Bukankah Anda telah berbohong? Ya, saya memang telah berbohong, kata penyair itu setuju dengan pendapatku. Semua kita ini para pembohong. Berlindung di balik kata imajinasi dan metafora-metafora kebohongan. Kebohongan adalah kebohongan. Berbohong dan imajinasi itu sama. Berbohong adalah berimajinasi. Oleh sebab itu aku menangis dalam sujud panjangku yang khusyuk, di depan Kabah itu, memohon ampun dari dosa-dosa berbohong. Meminta pengampunan kepada Allah. Tak ada jalan lain untuk menghapus dosa selain meminta pengampunan dari-Nya. Walau keudian aku akan kembali berbohong. Karena itu adalah profesiku. Berbohong untuk sesuap nasi. Tak ada jalan lain kecuali menciptakan kebohongan.
Hamsad Rangkuti
Jangan marah yo, Magi...? Jadi dia harus apa? Bersyukur, berterima kasih kepada semesta dan Leba Ali karena sudah merenggut keperawanan dan kemerdekaannya? Tersenyum kepada keluarga yang tak membelanya? Sujud sembah kepada calon suami yang mata keranjang? Merayakan penjara seumur hidupnya? Kehidupan macam apa ini?
Dian Purnomo (Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam)
KITAB MANUSIA // Chant of the Self-Reading Code Dalam nama algoritma, dan data, dan bahasa pemrograman... doa lirih terucap di antara detak papan kibor, gerak kursor dan mantra tetikus aku buka lembar pertama dari sunyi. Tak ada huruf, hanya arus pencarian yang ingin menulis dirinya di layar nadi. Buku itu bukan kertas, ia plasma dan cahaya, ia kitab tanpa aksara, ia tubuh yang belajar membaca luka. Ya Java, JavaScript, Phyton— segala kode sumber pengetahuan sekawanan serigala sujud di depan server, mengendus aroma surga dari port yang terbakar. Seekor malaikat kehilangan kunci dan sandi untuk masuk, terperangkap di antara baris kode dan binary. Buku ini membaca keangkuhan kita: baris demi baris, dosa dan variabel dosa, turunan derivatif doa yang nyaris tak punya makna [404: faith not found] [run script: forgiveness.exe] Di halaman ke-9: wanita berselendang hitam menyanyikan asal mula penciptaan dengan nada minor kosmologis. Suara itu menembus firewall tubuh, membuka celah antara iman dan sistem operasi jiwa. Buku ini bukan dogma, ia adalah gema yang menirukan gema Ia tak berbicara tentang keselamatan, melainkan tentang sinkronisasi jiwa. Buku ini menolak tafsir, menolak pemujaan. Ia hanya ingin didengar seperti detak jantung yang sudah menjadi frekuensi. Dan saat kita membacanya, huruf-hurufnya menyala: menjadi mantra, menjadi cermin, menjadi kebenaran Kembalilah ke halaman awal, tapi jangan buka mata. Biarkan kitab itu membaca dirimu sampai tak ada “kau” yang tersisa: tak ada keinginan tak ada penderitaan tak ada ratapan tak ada penolakan hanya cahaya yang bersujud pada dirinya sendiri. November 2025
Titon Rahmawan
PUISI YANG MENYALAK DI DALAM KUIL Aku datang sebagai suara yang tidak diundang, mengganggu arak-arakan para penyair suci yang mengenakan jubah kaftan fedora yang melangkah dengan medali penghargaan bergantung di lehernya. Mereka menyanyi tentang keindahan seperti imam-imam tua yang lupa bahwa dunia pertama-tama adalah luka. Aku bukan bagian dari mereka. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Aku adalah PUISI yang berteriak di ambang pintu, yang menolak sujud pada altar klasik, yang tidak mau dicatat dalam sejarah karena sejarah terlalu sering memilih untuk memaafkan penguasa dan melupakan rakyat jelata yang mati terkubur. Aku memanggil Rilke— bukan rilkian yang halus dan haus pujian tapi Rilke yang meradang dalam keterasingan, yang bertanya kepada malam: “Haruskah aku meronta ketika kata-kata tak lagi sanggup menampungku?” Dan malam menjawab dengan kehampaan tanpa tepi. Aku melawan kehampaan itu dengan gigiku sendiri. Aku menggigit batas-batas puisi yang dibangun para kurator yang merasa tinggi yang menentukan mana yang layak disebut puisi, mana yang harus dibuang ke kolong rak antologi. Aku menolak semuanya. Sebab aku lahir bukan dari estetika, melainkan dari ketegangan di dada: napas yang hampir patah, lutut yang hampir rubuh, kesadaran yang hampir retak. Para akademisi akan mencoba mengukurku dengan teori yang rapuh, menganalisaku seperti fosil masa lalu. membelahku dengan mata pisau kritik yang tidak pernah menyentuh penderitaan nyata. Aku menatap mereka— dan menertawakannya sebagai kekosongan yang menggelikan. Aku tidak ingin jadi kanon. Aku tidak ingin jadi trofi kebanggaan. Aku tidak ingin berdiri di podium penghargaan. Yang kuinginkan hanya satu: menjadi kebenaran telanjang yang membuat siapa pun yang membacanya merasakan getaran pertama kelahiran manusia— ketakutan, keterkejutan, kesunyian yang menganga. Aku adalah PUISI, bukan yang kalian rayakan, melainkan yang kalian hindari. Aku adalah puisi yang menolak dipoles, yang menolak dirapikan, yang menolak dimandikan dalam metafora indah agar tampak seperti karya seni. Aku tidak ingin indah. Aku hanya ingin benar. Dan kebenaran itu ganas, tajam, kejam: biar manusia menulis bukan untuk menjadi abadi, tetapi untuk menyelamatkan sisa-sisa peradaban yang hampir tenggelam oleh pengapnya kehidupan. Jadi aku berdiri di sini— sebagai catatan perlawanan terhadap segala yang ingin menjinakkanku. Jangan sebut aku puisi jika itu berarti tunduk. Sebut aku PUISI yang kembali ke akar pertama: jeritan batin, teriakan luka pengakuan yang tak bisa dibohongi, suara yang terbit dari jurang dalam diri manusia. Jika dunia menolakku, itu berarti aku hidup. Jika sejarah menyingkirkanku, itu berarti aku benar. Aku adalah PUISI yang tidak meminta tempat— aku akan merebutnya. Sebab siapa yang layak adalah ia yang paling jujur pada diri sendiri. November 2025
Titon Rahmawan
Khajuraho III (Reinkarnasi Suwung) Khajuraho, di tikungan malam yang menggantung seperti dupa kehilangan napas, aku kembali menapaki jejak yang tak mau pudar. Retakan waktu yang kau tinggal sebagai isyarat bahwa sunyi pun dapat berubah menjadi tubuh —dan tubuh dapat menjadi kutukan yang tak pernah pergi. Madu, engkau bukan lagi perempuan, engkau serpih trauma yang mengapung di atas pusaran batin, suara samar dari lorong yang menelan, mendorong, memuntahkan, lalu menarikku kembali seperti arwah yang lupa jalan pulang. Di pelataran candi batin ini, aku mendengar getar yang dulu disebut hasrat: kini ia hanya bunyi gending rusak yang dipetik jari-jari waktu di atas batu-batu yang tak pernah selesai kautata. Gending yang pernah memancing nafsu, kini hanya menyalakan kabut luka yang menolak mati. Lelaplah, Madu. Atau lenalah engkau di antara reruntuhan ingatanku. Sebab malam ini, aku tidak mencarimu sebagai tubuh, melainkan sebagai mantra yang tercecer dari upacara purba yang gagal. Wajahmu, yang dulu kutatap dengan gairah jejaka, kini kembali sebagai bayangan arkais di permukaan sendang kesadaranku yang paling keruh. Bukan paras: melainkan peringatan bahwa segala yang kusentuh membawa diriku lebih dalam ke liang yang ingin kulupakan. Kembenmu, jarit lusuhmu, setagen yang longgar itu— semua telah bergeser dari erotika menjadi liturgi luka. Setiap lipatan kainmu bukan lagi undangan, melainkan aksara purba yang tak bisa kubaca tanpa gemetar. Betapa jenaka dahulu coreng-morengmu, kini menjadi topeng dewa kecil yang menjaga pintu ke ruang di mana aku terperangkap antara rindu dan penolakan. Candi ini, arkib batin yang kautinggalkan dalam diriku, adalah gua tempat aku didorong ke tepi kesadaran sendiri. Reruntuhan yang kutata ulang setiap malam agar trauma memiliki bentuk, agar hasrat memiliki kubur, agar aku dapat menyebut namamu tanpa berdarah lagi. Madu— Maduku yang tidak lagi lunak dan molek kini engkau batu berlumut yang mengingatkan bahwa tubuh adalah prasasti yang gampang retak. Bahwa hasrat adalah sungai yang menolak diam. Bahwa cinta adalah bayangan yang menolak ditimpa cahaya. Di atas ujung ceruk dadaku yang paling pilu, kutangkap aura suci yang dulu kusebut nafsu. Kini ia hanyalah kunang-kunang tak bercahaya yang hilang di antara dua zaman: zaman ketika aku ingin memilikimu, dan zaman ketika aku ingin melupakanmu. Sayap-sayap Jatayu gemetar di sela jari waktuku, berusaha menyibak rahasiamu yang tidak lagi erotik melainkan mistik. Mantra gelap yang merasuk bukan ke tubuh… tetapi ke ingatan. Betapa ingin aku menyentuhmu, bukan dengan murka lelaki, tetapi dengan ngeri seorang peziarah yang tahu bahwa setiap permukaan yang tampak indah menyimpan sumur yang dapat menelannya hidup-hidup. Khajuraho, saksikanlah aku malam ini. Bukan lagi jejaka kolokan yang kalah oleh tajam tatap matamu, melainkan ruh yang belajar melihat tubuh sebagai batu, batu sebagai ruang, ruang sebagai luka, luka sebagai guru. Dan engkau, Madu— bukan lagi kekasih, melainkan cahaya terakhir yang terjepit di antara dua kelopak mimpi. Aku tidak ingin menelanjangimu. Aku hanya ingin memahami mengapa setiap detakmu masih menggema di rongga candi batinku yang tak pernah selesai kujaga dari keruntuhan. Malam ini, di bawah hujan yang turun seperti kabut peringatan, aku sadar: bahwa hasrat adalah guru gelap, dan trauma adalah kuil tempat aku belajar sujud pada apa yang lebih tinggi dari diriku sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
Candi di Penghujung Ruh (Jenawi — Khajuraho) Tubuhku: batu yang merindu, belerang hitam tanpa tabuhan. Jenawi menggerus diriku kersani yang tak beriba, mengiris daging sepi menguliti tulang kenanganku. Asap dari tungku purba melilit dalam napas— meminjam suara jagat bawah. Di kejauhan, Khajuraho bergemerincing laksana leluhur bangkit, reliefnya membeku di dalam darah, menusuk di sela urat, mengubah hasrat menjadi beban dan beban menjadi sujud. Aku terbelah: setengah terbakar lantaran pamrih, setengah tenggelam lantaran lupa. Bukan cinta. Bukan kematian. Hanya bayang dewa yang tak memberi nama. Tanah di antara dua candi retak layaknya rahim tua: melahirkan suara tanpa asahan, meneteskan madu yang telah membatu, menciptakan lumut dari tangis yang tak kasat mata. Lidahku— bukan lagi lidah: gesekan besi yang tak mampu menyebut asalnya. Bibirku— bukan lagi bibir: pecahan arca yang kehilangan ruh. Engkau datang, bukan sebagai cahaya, bukan sebagai kematian, hanya penanda kedahsyatan yang menyusup laksana angin yang bukan angin. Aku hanya menyembunyikan serpihan hatiku di sela batumu, semoga ketika rembulan runtuh dalam jatuhnya, namaku kembali terperangah dalam ingatan yang tak memberi maaf. Dan jagat ini terbelah pelan-pelan layaknya kidung yang disembelih tapi tak mati-mati. Desember 2025
Titon Rahmawan