Sejenak Hening Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Sejenak Hening. Here they are! All 2 of them:

Mundur sejenak, mengambi langkah diam dalam hening, mutlak diperlukan untuk sebuah proses penciptaan
Ayu Arman (LELAKI itu HUGUA)
KISAH KAKTUS (Dalam 6 Fragmentarium) 1. Fragmentarium Patah — Reruntuhan Melekat di Kulit Hijau Kaktus tumbuh dari retakan yang tidak pernah kita selesaikan. Tubuhnya menyimpan bekas-bekas gerak pecah: duri sebagai kalimat yang patah, bulu halus sebagai notulen dari luka yang pernah tertunda. Di pondok itu waktu rebah dalam bentuk geometri rusak— segitiga yang hilang satu sisi, kotak yang kehilangan dinding. Kaktus tidak mengenal kesedihan. Tetapi setiap pagi aku menemukan serpih hening menempel di batangnya, seperti ingatan yang gagal kembali ke tubuh manusia. 2. Fragmentarium Gelap — Litani yang Bernafas dalam Kabut Hitam Kabut menebal. Mengubur halaman sajak dengan logika yang tak ingin diingat. Nenek itu datang, menanam senja di ketiak kaktus, menusuk dengan jarinya seolah membuka pintu rahasia yang sembunyi di antara lipatan kulit hijau mengeras. Dari ketiak itulah waktu keluar: hitam, pekat, berbau dingin seperti logam tua. Orang-orang datang, menjejali ruangan dengan benda yang tak meminta dikasihi— tembuni, seruling, vas, cangkang, kaos kaki basah. Semua bergerak di bawah cahaya gelap yang memanjat batang kaktus seperti doa yang tersesat. 3. Fragmentarium Dingin — Anatomi Luka yang Tidak Menginginkan Kehangatan Cahaya masuk lewat genting pecah. Ia mengenai pot keramik, dan gelas bening menyimpan dinginnya seperti rahim yang menolak janin takdir. Kaktus melihat bulan dikunyah anjing di pagi gerimis— peristiwa itu menetes ke dalam memori hijau yang belum tahu arah. Sebelum arti datang, dingin menata dirinya di jantung kaktus. Ketika duri dicabut, bukan darah yang jatuh, melainkan partikel sepi yang bergetar seperti denting logam di ruang operasi. 4. Fragmentarium Klinis — Manual Bedah dari Tubuh yang Tidak Mengerti Diri Sendiri Setiap duri adalah instruksi. Setiap bulu halus adalah catatan diagnostik. Kaktus: organ penyimpan air, organ pengukur waktu, organ yang mengganti fungsi rasa dengan kalkulasi ketahanan. Nenek itu memetik waktu dari lipatan keriputnya— gestur itu klinis, seperti meraba denyut pasien yang tidak ingin hidup dan tidak ingin mati. Waktu: objek, bukan cerita. Unit, bukan luka. Sampai suara mikrofon pecah di mulutnya, memecahkan halaman sajak menjadi angka-angka yang tidak merindukan makna. 5. Fragmentarium Sunyi — Rongga yang Menghindari Semua Nama Kaktus adalah rongga. Yang tumbuh hanyalah sunyi. Di tubuhnya tidak ada kata yang menetap. Hanya gema yang datang, menyentuh sejenak, lalu melesap ke dalam dinding pondok yang tidak mencatat siapa pun. Bayangan duduk di sofa merah dan tidak berkata apa-apa. Bulan ikut duduk, lebih diam dari bayangan itu. Kaktus tidak memahami kesedihan. Tetapi ia mengerti betapa sunyi dapat menyamar menjadi cahaya, betapa cahaya dapat menyamar menjadi air mata yang tidak pernah menetes. 6. Fragmentarium Kosmologis — Topologi Duri, Cahaya, dan Takdir yang Melengkung Kaktus meminum cahaya dan menemukan bahwa kosmos bukan langit di luar pondok, melainkan ruang kecil dalam jantungnya sendiri. Duri adalah orbit. Bayangan adalah rotasi lambat dari waktu yang berbiak. Ketika cahaya jatuh ke gelas, kaktus melihat dirinya sebagai serpih bintang yang gagal meletus. Ia meneguknya— cahaya turun seperti gravitasi retak. Dan tiba-tiba ia paham: rasa sakit bukan milik tubuh, melainkan milik semesta yang menunda kelahiran. Kaktus pun menyala, dengan cara yang hampir tidak terlihat: sebuah bintang hijau yang memilih berputar di dalam sumsum tanpa memohon untuk ditemukan. Desember 2025
Titon Rahmawan