Puisi Sajak Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Puisi Sajak. Here they are! All 100 of them:

β€œ
Waktu berjalan ke Barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang. Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan. Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang, aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.
”
”
Sapardi Djoko Damono
β€œ
Kalau kukenang, dulu tidak mudah untuk bertiarap, mengengsot, merangkak, berlunjur. Alangkah payah untuk bangun berdiri menjadi manusia. Tetapi betapa mudah pula untuk menjadi tua. (Sajak 2014, Mengenang Hari Lahir)
”
”
Rosli K. Matari (Hanya Langit Meratap)
β€œ
Delusi leluasa beranjak dari linimasa, menerka jarak dari lesatnya sang warsa. Kau tau kenapa kata ingin itu ada? Itu karena kata butuh masih terasa begitu asing di kepala.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Senja melarutkanku di batas waktu Ketika ada dan tiada sejenak menyatu Ada yang beringsut menjauh Ada yang perlahan merengkuh Bayanganku mengais sisa terang Sebelum terkubur malam panjang
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Aku bercerita kepada malam Karena hanya ia yang sudi menadah keluh kesah Para pecinta yang menderita
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Dulu kita pernah tertawa, bahkan berbagi senja sepiring berdua. Dulu kita pernah merdu di telinga, namun kini ia hanya sebatas kata.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
tak ubah nya hantu di keramaian, tatapannya, seolah berkata ; Setiap perlakuan, ada harga yang harus di bayar anak adam Walau tuntas pun tak kan membuat surga di hati para pendendam. . . . . #andradobing
”
”
andra dobing
β€œ
Butiran gula larut dalam kopi hitam Taburan bintang larut dalam kelam malam Pahit manis kenangan teraduk Kuhirup semalam suntuk
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Saat hujan turun, semua menjelma jadi kenang. Bahkan rintiknya bukan lagi air. Tetapi rindu yang berguguran. Saat kopiku terseduh, semua menjelma jadi kenang. Bahkan isi cangkirnya bukan lagi air. Tetapi kau yang menggenang.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Dari Ibu, aku belajar indahnya berbagi. Berbagi makan dalam kandungannya, berbagi minum dalam pangkuannya. Dari Ibu, aku belajar indahnya berbagi. Berbagi nyawa dalam rahimnya, berbagi surga dalam do'anya.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
kepada sisa kata mu yang masih bungkam, dan dilema pada ujung pena mu, lirih saja berbisik ; tundukkan segala riuh perkara hati mu ~andra dobing
”
”
andra dobing
β€œ
Ku kira kau penyuka kata, Ribuan puisi pun sudah kurangkai dengannya. Ku kira kau suka tertawa, Bercura pun kini ku mahir dibuatnya. Ku kira kau suka kata " Kita ". Namun, nyatanya " Kita " pun kini hanya sebatas kata.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
kukalungkan jua sajak-sajak itu di leher bayanganmu dinda serupa sepi mengalungi kata-kata di kotaku yang mahatinta. kota dimana matamu, hatimu, senyummu, berpendar dalam warna yang sama
”
”
firman nofeki
β€œ
Aku tertawan Tanpa gerak Lalu tertawa Tanpa gelak Aku dan sepi Seredup semati
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Doa ku seakan paku di peti mati mu. Tajam mendalam. Menembus dadamu, menjelma dunia rapuh, penuh kegelisahan tak berarti . . #andradobing
”
”
andra dobing
β€œ
Hadirmu seperti senja, indah namun sementara.
”
”
Candhikkala
β€œ
Puisi itu sejatinya ada, bukan untuk sekedar dibaca, melainkan untuk dirasa, pun sesekali diraba dengan hati yang luka.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Memilih untuk tidak mengeluh, barangkali adalah wujud syukur yang paling jujur.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Detik-detik menuju pulang: Yang patah pada ranting bukanlah kayu, melainkan hatiku.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Biarkan saja cinta dibahasakan dengan diam Kalau kata-kata hanya akan memperkosa kekudusannya Biarkan saja seribu bahasa tetap tak terterjemahkan Kalau kata-kata hanya akan mengkhianati arti sebenarnya
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
I don't think that anyone can decide all the paths that we will take in our lives. Because in the end, we are the only ones who understand better in dealing with our own solitudes.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Adakah yang lebih menggetarkan Dari sepasang pandang Yang saling silau tapi saling mencari?
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Diam meredam seloroh bodoh mulut berkabut Sunyi menyanyi, aku terpaku, kamu jemu Cinta terlunta buta kata
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Kini kau ibarat bayangan yang tak lagi mahir kubayangkan.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Pelukmu bagiku adalah teduh, tempat berlabuh segala asa yang tiba untuk berkeluh.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Setiap orang memiliki perang yang tak pernah mereka menangkan.
”
”
Ibe S. Palogai (Struktur Cinta Yang Pudar)
β€œ
Kadang aku hilang nalar Ingin menebas segala belukar Betapa ingin kulompati waktu Untuk menyeberangkan rindu Namun denganmu aku percaya: Menunggu adalah jalan setapak menuju cahaya
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Seribu slogan dan sebuah puisi: manakah yang lebih perlu? Kedua-duanya. Tapi apabila kita sadari bahwa yang menjadi tujuan bukanlah sekadar kebersamaan yang dipergunakan untuk kekuasaan, puisi akan lebih berarti. Karena puisi memungkinkan percakapan yang bebas, ia memustahilkan kekompakan yang munafik. Seorang tiran atau seorang Hitler setiap hari bisa saja membuat seribu slogan, tapi ia tidak akan sanggup membuat sajak yang sejati.
”
”
Goenawan Mohamad
β€œ
Ketika pelukis menikah dengan seni, mereka beranak lukisan, kurator menjadi bidannya. Ketika cintaku menikah dengan cintamu, kita beranak cinta, namun tanpa bidan. Sebab cinta memang begitu.
”
”
Alfin Rizal
β€œ
Apa artinya menjadi manusia kalau cuma dijadikan binatang perahan dan mesin pelipatganda?
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Tak ada yang lebih getir Dari hujan dini hari Lirih tangis langit yang hanya bisa didengar Oleh mereka yang sudah lupa rupa pelangi
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Nada-nadamu berdenting Menjemput kata-kataku dari hening Bulan dan bintang perlahan terpejam Kau dan aku menidurkan malam
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Ku tak mengira akan sejauh selat, untuk kita yang pernah dekat tanpa sekat.
”
”
Rizaldyruben
β€œ
Tak apa kekasih, dinginnya hujan tak mampu membunuhku, yang membunuhku itu rindu.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Hanya ingat, yang akan muncul setelah kau lupa, hanya kenangan yang akan tiba, jika kau terus menerus memendam rasa.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Karena cinta sejatinya adalah segumpal tanya yang gelisah pada malam siapa saja.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Sama seperti hujan, rindu juga tak berani datang sendirian.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Bila pada suatu minggu engkau diracuni beribu rindu yang halu, maka pastikan engkau punya cukup penangkalnya; temu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Jangan jadi penyair! Jadi pengangguran saja, toh juga isunya juga akan digaji oleh negara.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Senja yang jatuh di atas pantai ini Seperti cinta yang terperangkap dalam kerinduan Berkeredapan kemilau cahayanya Menguning seperti sajak-sajak yang matang Dan kata-kata yang ranum
”
”
Lee Risar (Kata: Antologi Puisi)
β€œ
Selalu saja ada sosok yang dituju di setiap kata "Engkau" dalam sajakmu. Selalu saja ada satu nama, yang disamarkan dengan kopi, malam, senja, dan hujan. Selalu saja ada sosok palsu, dalam setiap ungkapan majasmu itu. Selalu ada sesuatu dibalik kisah pilumu, ketika engkau berurusan dengan rindu. Ceritanya akan tetap seperti itu, hingga engkau tutup buku, kecuali jika kau memutuskan untuk berhenti mengurusi rindu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Barangkali tidak ada yang benar-benar tahu ke mana perginya cinta setelah ia tiada, juga tidak ada yang benar-benar mengerti ke mana ruh pergi setelah ia beranjak dari ragawi. Barangkali tidak ada yang tahu pasti. Barangkali takada yang peduli.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Chat dihapus lalu diketik lagi, kalau sudah kehabisan kata, paling banter ngirim emoji. Lalu berkilah, ngetiknya nggak pakek hati, cuma buat having fun pemecah sunyi. Tapi giliran chatnya nggak dibalas, malah ngamuk-ngamuk nyari Kapsagi. Situ sehat?
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Liar hutan di tubuhku adalah belukar terbaik bagi penjahat bersembunyi. Aku selalu menemukan diriku di sana atau mungkin semua yang sembunyi adalah diriku. Lari dari masa lalu yang kasar, berjarak dari kemarahan yang memar, dan penyesalan selalu menukar kebahagiaan dengan trauma yang samar.
”
”
Ibe S. Palogai (Struktur Cinta Yang Pudar)
β€œ
Bagian kasihku padamu sesederhana merah kuning biru menjadi warna primer, sisanya adalah hitam putihnya rindu yang bercampur pada ketiga warna itu
”
”
Alfin Rizal (Februarindu)
β€œ
Kau dan aku mengalir Sebagaimana air Namun semakin mendekati hilir Semakin aku tak ingin ada akhir Maka mari jadilah saja hujan Yang berulang jatuh di permulaan
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Aku ingin mengajakmu Menyingkir sejenak dari coreng-moreng hari Dan menjelma sepasang warna Yang mengguratkan keabadian di kening malam
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Hanya pantai yang mampu membaca Pasang surut hatinya Hanya laut yang mampu mengeja Rasa air matanya
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Di satu sisi Aku semestinya kesepian Sudah sepantasnya gila Memamah kesendirian Di lain sisi Aku punya kamu
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Cinta adalah sungai tanpa jembatan yang memisahkan kita di dua sisi berseberangan. Maukah kau melompat, jatuh ke dalamnya, lalu hanyut berpegangan?
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Adalah hamba yang diberi karunia oleh Nya, dan aku berusaha menjaga mata ibuku, dari hal-hal yang mengecewakannya #andra dobing
”
”
andra dobing
β€œ
Jika sajak ku tak lagi mampu lembutkan hati mu yg murka, Jika puisi ku tak lagi mampu menegakkan cinta yang tersembunyi dibalik amarah, Lalu apa ???? #2107161859
”
”
Debra R. Sanchez
β€œ
Selalu akan ada bahagia, setelah melewati segala macam bahaya.
”
”
Rizaldyruben
β€œ
Dari sekian yang ku tau, Doa adalah media terbaik untuk menampung hati para perindu ❀
”
”
Rahma Sinta
β€œ
ipoh dua ekstrem: / sama ada ang benci; / atau madly jatuh hati.
”
”
Jack Malik
β€œ
Celaka! Bagaimana bisa engkau berkelakar dengan janji yang kau pintal sebelumnya.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Terkadang sebuah janji ada, namun bukan untuk ditepati, terkadang ia terikat hanya untuk sekedar berkata lalu pergi.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Cinta itu hal yang tak terduga, sekali datang ia dapat berwujud seribu rupa.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Sama seperti kopi, sajak yang indah juga memiliki penikmatnya tersendiri.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Kekasih, sederas-derasnya hujan, langit tak akan tenggelam. Begitulah seharusnya cinta.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Ada hal yang lebih aku takuti dari kehilanganmu, yaitu saat aku ingat bahwa aku akan kehilanganmu.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Terkadang memang ada satu atau dua hal yang memaksa kita berpikir untuk tidak berpikir sekali lagi.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Maka apa saja yang didasari oleh cinta, pasti ia tidak mengharapkan apa-apa.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Mencintai hujan, kau harus sudi demam tujuh hari tujuh malam. Tidak percaya? Coba saja!
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Batu sendu β€” di tengah sungai yang mengalir itu β€” tahu isi hatimu, maka diam ia tersipu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Dengan menyebut nama engkau yang kucinta, aku bersaksi! Bahwa minggu yang menggema di kepalaku ini, sepenuhnya menjadi milikmu dan sunyi.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Kuhunjamkan pedangku ke bilah dadaMu Kautikam jantungku dengan belati Lihat siapa di antara kita yang abadi!
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Tak akan sempat nisan terpahat; ribuan nama memesan bersama-sama. Sementara, mayat-mayat yang belum berangkat, terbaring berselimut puing-puing... O, Tsunami, airmu bermuara di mata kami!
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Dan janganlah engkau ragu dengan cita rasa makanan ibu, entah itu kelihatan enak atau tidak, tetap saja itu membuatmu jilat siku, lantaran dalam setiap masakannya ia sudi menumpahkan segenap bumbu rahasia, yakni cinta.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Setiap orang memiliki perang yang tak pernah mereka menangkan. Obsesi pada kesendirian terjungkal seimbang. Hari-hari muda penuh label merekayasa struktur waktu. Masa depan menghapus rahasia dan yang autentik dari diri tak pernah ada.
”
”
Ibe S. Palogai (Struktur Cinta Yang Pudar)
β€œ
Jika tak cinta seharusnya biarkan saja, tak perlu diumbar secara luas kepada media. Jika tak suka seharusnya lupakan saja, biar benci itu menghilang dengan sendirinya. Terkadang kita hanya perlu menerka, sebatas mana kita mampu mengemban rasa.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Di Munduk kasihku, dingin bermain api. Memeluk yang hampir membakar liar hutan yang tumbuh di tubuhku. Kasihku, di sini, subuh sepanjang waktu. Menawanku seperti maaf yang tak pernah tiba pada inang amarahmu. Angin timur dari lembah ini adalah separuh ingatanmu yang berusaha keras berkuasa melupakanku.
”
”
Ibe S. Palogai (Struktur Cinta Yang Pudar)
β€œ
Semesta mimpi dalam tidurmu itu sejatinya terdiri dari ingatan dan tanya yang datang silih berganti. Kadang hanya ingatan yang tiba, kadang pula tanya serupa gema. Tapi tentu, tentu kau boleh memaknainya sesuka hati.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Dalam berpuisi, bahasamu boleh saja tinggi, tapi hatimu tetap harus rendah.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Apa yang sia-sia dari manusia sejatinya adalah bertahan dalam kebodohan, kekasihku. Dan kau tak akan pernah mengerti, betapa aku lebih memilih menjadi sia-sia, dibandingkan harus melupakanmu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Kerinduan sejatinya seumpama biji anggur yang kaucampakkan di halaman rumahmu dan kini ia menjalar-jalar, kekasih.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
AKU Tanpa daya Pura-pura Dicumu nafsu Enggan terasing 2015
”
”
Alfin Rizal (Lisan Tulisan)
β€œ
Mencintaimu Seperti mencintai bayi yang belum sempurna melihat Tak tahu pasti apa yang kau tangkap dalam geliat Namun tak jemu kuselami rona kudusmu
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Telah kutemukan hatimu Tempat terhangat untuk menetaskan rasa Yang tak mampu kuerami sendiri
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Puisi bukan sekedar membaca dan menulis, tetapi merasa dan mengiris.
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
Beriku pantai untuk kubariskan serangkap sajak.
”
”
Rahimidin Zahari (Kumpulan Puisi Laut Tujuh Gelombang Buih)
β€œ
Biografi tubuh inilah yang terasa dalam 40 sajak di kumpulan puisi Pandora ini. Lihatlah bagaimana ia mengurutkan sajak-sajak di buku ini. Dari mulai Ulat, Kepompong, Kupu-kupu, 1967, dan sajak-sajak yang mengeksplorasi tema anak (Embrio, Schipol, Pasha, Den Haag), hingga Rahib dan Jejak. Deretan sajak itu tampak seperti sebuah metamorfosis tubuh. Tubuh, di tangan penyair kelahiran ini, keluar dan bahkan meloncat dari bentuk estetiknya. Ia memperlakukan tubuh bagai sebuah menu santapan (Di meja makan kusantap tubuhku, kuteguk air matakuβ€”sajak β€œKepompong”). Inilah ketangkasan seorang Oka. Ia menulis, memendam Bali, mencangkul masa lalu, membenturkan tradisi, meringkus pengalaman hidup, dan dengan tanpa sungkan menggasak tubuhnya sendiri demi memperoleh sebuah ars poetica. Inilah β€œsayap kuat” sajak-sajak Oka, penulis yang menurut saya, menjadi salah satu wakil terpenting penyair Indonesia mutakhir. (Yos Rizal Suriaji- β€œSebuah Menu Bernama Tubuh”-2008)
”
”
Oka Rusmini (Pandora)
β€œ
Hal yang paling busuk dari sebuah hubungan barangkali adalah menjadikan cinta sebagai alasan untuk melegitimasi perpisahan.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Bila suatu saat nanti engkau dijangkit penyakit goblok dan tak lagi ingin mengenaliku, maka saat itu, sebiadab mungkin kupastikan aku telah melupakanmu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Realitas kehidupan jika tidak diusik di dalam sajak, ia hanya akan menjadi keset kaki toilet yang bertuliskan W-E-L-C-O-M-E.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Pada akhirnya idealisme hanya akan jadi semacam televisi hitam putih ketika semua orang beralih pada hal yang lebih canggih.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Rindu. Kadang pahit seperti empedu, kadang manis bagai senyumanmu.
”
”
Candhikkala
β€œ
Tapi percayakah kau, kekasih, bahwa yang tak pernah tergantikan dari waktu adalah percakapan?
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
aku paling ipoh bila jauh menjadi / kata nama & kata kerja, serentak.
”
”
Jack Malik (Gampang!)
β€œ
Seperti pagi yang senantiasa menyajikan cahaya untuk langit Begitulah rasaku terbit Kicau-kicau permai Alunan-alunan rindu di setiap musim yang menyebutmu, aku ada Berusaha menyatukan pelangi yang diderai hujan kemaren sore Mungkin kisah kita masih puisi-puisi lugu yang mengendap di punggung-punggung kertas Syair-syair bisu yang tercipta dari jemari bertaut dengan kecemasan Ia belum memiliki panggung untuk menunjukkan jati diri Hanya gigil hati tak bernama yang dipeluk doa-doa Apakah kita bertemu untuk tinggal? Sebab tamu tidak pernah menetap Hanya datang sesaat, mengetuk pintu hatimu hanya untuk kepentingannya belaka Waktu tidak pernah memanipulasi keadaan Juli dimusim hujan kala itu Semua adalah keadaan yang telah direkam semesta Bahkan jauh sebelum kita ada Aku mungkin adalah cerita yang tak pernah kau impikan di diarymu sebelumnya Dan kau adalah bahasa yang acap kusebut dalam doa Yang belum mampu aku defenisikan untuk sebuah nama
”
”
firman nofeki
β€œ
BILIK KITA DI A6-12 DAN BILIK-BILIK LAIN BAKAL KITA BERADU selautan kucing kaliko langit berwarna kaki mereka seekor anjing hitam tersengih burung pipit mulutnya penuh matahari bersaiz biji-bijian bulan dalam setiap butir biji-bijian tadi & secupak tasik dipenuhi malam: beginilah cara aku mencintaimu β€”dengan seluruh lembut kemungkinan
”
”
Jack Malik (Gampang!)
β€œ
Sampai kapan.. aku harus menunggu hujan diluar itu reda? Sampai kapan aku memakai kacamata hitam ini dan berharap matahari itu akan datang, menyinari aku yang redup, yang tertutup kabut yang pekat, di olok olok oleh angin malam karena terus ku pakai kacamata hitam... dikala hujan
”
”
Form
β€œ
Cinta itu hal yang mudah binasa, maka, jika dia datang genggamlah erat, jangan biarkan ia kecewa.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Berhenti mengabari, berhenti menghakimi. Diantara kejenuhan perlu memberi jarak satu sama lain. Maka jangan cari aku bahkan disela-sela puisi para pujangga.
”
”
Galhsimager
β€œ
Lalu kenapa kini semuanya harus berdasarkan paras dan bentuk, jika sejatinya bahagia dan kenyamanan itu datang dalam bentuk segala rupa?
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Kata-kata itu semestinya berlaku seperti air, maka biarkan saja sederas mungkin ia mengalir.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Pagiku adalah pagi di mana aku harus terburu-buru menyeka kecupmu, dari bekas kasur di rona pipiku. β€’β€’β€’ IG: @crobyx Twitter: @crobyx2
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Tak perlu menggilaiku, kekasih, aku ini perokok; penikmat senja, pemikir jorok.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Kekasih, Jangan garami kopiku dengan kesedihanmu. Relakan rasa pahitnya menggantikan dukamu.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Kekasih, yang memaksaku terjaga ketika malam bukanlah rindu, melainkan doa-doa panjangku yang belum habis kulantunkan untukmu.
”
”
Robi Aulia Abdi