Puisi Rindu Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Puisi Rindu. Here they are! All 136 of them:

β€œ
Kau hampir tak pernah menghubungiku via ponsel, tapi setiap saat aku selalu saja melihat ponsel itu berkali-kali. Berharap ia berbunyi dan namamu yang tertera di sana. Lalu dengan agak menggigil aku berusaha melawan keinginanku sendiri, menyusun rencana-rencana tak selesai... untuk menjawab sapamu sedingin mungkin. Tapi tak ada bunyi. Tak. Kemudian pandanganku beralih pada blackberry dan lagi-lagi berharap kau pecahkan resah dalam sekali bip, padahal kau tak ada dalam kontak-ku. Maka bersama angin aku menggiring jeri, menyekap batin sendiri, memilin-milinnya menjadi puisi yang paling setia pada sunyi.
”
”
Helvy Tiana Rosa
β€œ
Delusi leluasa beranjak dari linimasa, menerka jarak dari lesatnya sang warsa. Kau tau kenapa kata ingin itu ada? Itu karena kata butuh masih terasa begitu asing di kepala.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Dulu kita pernah tertawa, bahkan berbagi senja sepiring berdua. Dulu kita pernah merdu di telinga, namun kini ia hanya sebatas kata.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Rindu adalah rezim yang tak pernah bisa dikudeta.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Kita adalah sepasang resah yang menyembunyikan hati ke dalam pasrah Mengoleksi kenangan dan meyelundupkan diri dibalik ingatan Mengapa kita terus meratapi keadaan dan mengoreksi Tuhan? Tidak ada cara merevisi takdir jika keterpisahan adalah ketetapan 11/10/2017
”
”
firman nofeki
β€œ
tak ubah nya hantu di keramaian, tatapannya, seolah berkata ; Setiap perlakuan, ada harga yang harus di bayar anak adam Walau tuntas pun tak kan membuat surga di hati para pendendam. . . . . #andradobing
”
”
andra dobing
β€œ
Jangan salahkan hujan saat ia turun dan membuatmu pilu sebab rindu. Hujan sudah menanggung rindu yang lebih berat dan banyaknya melebihi rintiknya sendiri.
”
”
Alfin Rizal
β€œ
Puisipuisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.
”
”
Helvy Tiana Rosa
β€œ
Mana yang lebih pahit; Kopi tanpa cumbuan gula, atau rindu yang dibiarkan gigil tanpa nama?
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Selamat pagi, kekasih. semalam aku menulis puisi di luar angkasa. Ternyata tempat terbaik menulis puisi bukanlah disana, namun di ruang rindu yang kau cipta setiap kali aku mendoakanmu.
”
”
Alfin Rizal (Lelaku)
β€œ
Saat hujan turun, semua menjelma jadi kenang. Bahkan rintiknya bukan lagi air. Tetapi rindu yang berguguran. Saat kopiku terseduh, semua menjelma jadi kenang. Bahkan isi cangkirnya bukan lagi air. Tetapi kau yang menggenang.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Tatkala rindu berulah, malam hanyalah film bergenre sepi. Kadang tak sisakan apa-apa, kecuali puisi.
”
”
nom de plume
β€œ
Ku kira kau penyuka kata, Ribuan puisi pun sudah kurangkai dengannya. Ku kira kau suka tertawa, Bercura pun kini ku mahir dibuatnya. Ku kira kau suka kata " Kita ". Namun, nyatanya " Kita " pun kini hanya sebatas kata.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Mungkin seseorang masih tak tahu lirih perih dalam rintik rindu ini. Selamat malam, kamu yg berlalu dalam gerimis.
”
”
Helvy Tiana Rosa
β€œ
Doa ku seakan paku di peti mati mu. Tajam mendalam. Menembus dadamu, menjelma dunia rapuh, penuh kegelisahan tak berarti . . #andradobing
”
”
andra dobing
β€œ
Sekepal wujudku tiba-tiba tumbuh menjadi sepohon mawar puncuknya memanjat cinta Ilahi akarnya mencengkam rindu diri.
”
”
Shamsudin Othman (Kumpulan Puisi Taman Maknawi)
β€œ
Sesaat lapar menjadi rindu seribu tahun pesonanya menyusup ke danau kasih sesaat dahaga menakluk cinta seribu tahun arusnya mengalir di lubuk rahsia.
”
”
Shamsudin Othman (Kumpulan Puisi Taman Maknawi)
β€œ
dulu aku pernah memiliiki satu rindu utuh dalam diriku yang separuhnya kini kusimpan dalam puisi separuhnya lagi kusimpan di hati Tuhanku
”
”
firman nofeki
β€œ
Hadirmu seperti senja, indah namun sementara.
”
”
Candhikkala
β€œ
Puisi itu sejatinya ada, bukan untuk sekedar dibaca, melainkan untuk dirasa, pun sesekali diraba dengan hati yang luka.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Memilih untuk tidak mengeluh, barangkali adalah wujud syukur yang paling jujur.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Detik-detik menuju pulang: Yang patah pada ranting bukanlah kayu, melainkan hatiku.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Rindu adalah perkara ruh, bukan perkara jasad. Merindukanmu barangkali omong kosong yang masuk akal. Sedangkan, perpisahan hanyalah perkara mata dan ingatan, sama sekali tak berlaku pada hati dan jiwa.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Rindu tidak tersusun dari batas peta. Tetapi, dari seberapa luas kau mengingatnya. Rindu tidak diciptakan oleh jarak. Ia lahir sebab keberadaan. Sedekat apapun jarak kalian, selama tidak pernah tinggal di hati dan ingatan, rindu tidak akan pernah ada.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
I don't think that anyone can decide all the paths that we will take in our lives. Because in the end, we are the only ones who understand better in dealing with our own solitudes.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Kini kau ibarat bayangan yang tak lagi mahir kubayangkan.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Pelukmu bagiku adalah teduh, tempat berlabuh segala asa yang tiba untuk berkeluh.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Puncak kesepian paling tinggi tidak dirasakan oleh dia yang belum mencintai siapa-siapa. Tetapi, pada mereka yang mengaku saling cinta, namun sudah tidak lagi saling merindu.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Tempatilah dadaku sebagai rumahmu! Sungguh, takkan kuizinkan rindumu jadi gelandangan.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Kadang aku hilang nalar Ingin menebas segala belukar Betapa ingin kulompati waktu Untuk menyeberangkan rindu Namun denganmu aku percaya: Menunggu adalah jalan setapak menuju cahaya
”
”
Sam Haidy (Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014))
β€œ
jika puisi tak jua mampu mewakilkan perasaanku padamu, kekasih biarlah kuhantarkan dengan do'a-do'a yang kutompangkan lewat kereta Tuhan dimalam-malam buta biarlah kuwakilkan lewat sampan-sampan yang berlayar diatas genangan air mata munajat
”
”
firman nofeki
β€œ
Huruf yang jatuh di wajahmu, menjadi puisi paling rindu.
”
”
Alfin Rizal
β€œ
Yang tersisa dari chat kita bukanlah katamu saat kau pamit tidur, tapi rindu yang tak tertulis sehingga tak mampu menahanmu sedikit lebih lama
”
”
Alfin Rizal (Februarindu)
β€œ
Kadang aku bertemu dengan cinta yang pucat
”
”
rojielmidany
β€œ
Rindu adalah selapis insaf yang tumbuh dalam lukaku dan cinta adalah jernih insani dalam telaga sepi sukmaku.
”
”
Shamsudin Othman (Kumpulan Puisi Taman Maknawi)
β€œ
Kutenggelamkan diri pada malam dalam-dalam; puisi dan didih kopi dari air dispenser.
”
”
Dina Zettira Putri
β€œ
Sekali lagi, hanya keliaran sosok kamu yang mengorbit di kepala saat aku ingin menulis kata.
”
”
Dina Zettira Putri
β€œ
Kau adalah memori. Dan tunggangan rindu yang terus berlari. Dan malam yang berwajah pagi. Dan masa yang membakar puisi.
”
”
Hadi Jaafar (Rimbaud Dalam Limbo)
β€œ
Tak apa kekasih, dinginnya hujan tak mampu membunuhku, yang membunuhku itu rindu.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Hanya ingat, yang akan muncul setelah kau lupa, hanya kenangan yang akan tiba, jika kau terus menerus memendam rasa.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Karena cinta sejatinya adalah segumpal tanya yang gelisah pada malam siapa saja.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Rindu: Seluas-luasnya ruang persembunyian memeluk kehilangan.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Puasanya orang kasmaran, tak mengenal kata berbuka dan lebaran. Mereka menyebutnya: Rindu.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Ketika rindu tiba mendahului semua teori, penolakan seperti apa yang bisa kuperbuat selain menerima kejatuhannya?
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Sama seperti hujan, rindu juga tak berani datang sendirian.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Bila pada suatu minggu engkau diracuni beribu rindu yang halu, maka pastikan engkau punya cukup penangkalnya; temu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Duhai Pemilik waktu dari arusMu usiaku terlahir dan mengalir pada muara mautMu aku berakhir dan menyerah'' Engkaulah dermaga tempat ikrar perjalananku melunasi batas rantau pulang kala jiwa tersesat di pintu dunia Engkaulah samudera tempat senjaku membenamkan usia melarungkan maut yang membadai di pantai jiwa Tuhan.... jagalah hati dan jiwa ini seperti telah Engkau jaga planet-planet yang beredar pada tiap galaksi menurut keteraturannya biar tiada berbenturan akhiratku dengan dunia sebelum akhir masa nyaris menyelesaikan lahat sebelum aku dan waktu menyeduh pamit dari secangkir hayat di perahu sepi kuamini gelombang maghfirahMu Di kedalaman sujudku kuselami putihnya do'a menghanyutkan dosa yang mnghitami muara ruhku di rimba raka'atku, ada rindu yang merimbun sebagai Kamu Engkau geriap hujan di kemarau tubuhku akulah kegersangan angin yang memanjati tebing-tebing grimisMu Tuhan... di hujan ampunan tak henti kuburu gemuruhMu kupaku telinga di pintuMu moga kudengar Kau mengetuk bertamu ke bilik sepi sunyiku
”
”
firman nofeki
β€œ
Selalu saja ada sosok yang dituju di setiap kata "Engkau" dalam sajakmu. Selalu saja ada satu nama, yang disamarkan dengan kopi, malam, senja, dan hujan. Selalu saja ada sosok palsu, dalam setiap ungkapan majasmu itu. Selalu ada sesuatu dibalik kisah pilumu, ketika engkau berurusan dengan rindu. Ceritanya akan tetap seperti itu, hingga engkau tutup buku, kecuali jika kau memutuskan untuk berhenti mengurusi rindu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Katakanlah para iblis membangunkanku sebuah istana megah, aku tak ingin menjadi rajanya jika bukan kau yang mendampingiku sebagai ratunya. Rongga hatiku merongrong serupa gorong-gorong yang dibanjiri limbah kerelaan yang palsu.
”
”
Alfin Rizal
β€œ
Anggap saja pertemuan di awal huruf dalam doaku adalah sapaan manja untukmu Aku akan mengajakmu menyusuri barisan puisi Kubangun sebuah pohon rindang agar kita bisa berteduh dari jauhnya jarak pandang Setiap waktu hatiku meredamkan gelisah langkahnya Ada gurat rasa yang masih merunduk malu-malu untuk kumengerti Disetiap alur jalan yang Allah hadiahkan Kita masih berpapasan, menatap jawaban, Sebab mata masih enggan bersinggungan Diantara poros takdir, kuingin engkaulah rotasiku Tempat barisan ingatan berputar pada titik yang sama, Terjebak dalam lingkaran bahagia yang tak berjeda Kisah yang belum runtun ini biarkan Allah menata Karena kita telah menitipkannya, maka percayakan ia pada penciptaNya
”
”
firman nofeki
β€œ
Barangkali tidak ada yang benar-benar tahu ke mana perginya cinta setelah ia tiada, juga tidak ada yang benar-benar mengerti ke mana ruh pergi setelah ia beranjak dari ragawi. Barangkali tidak ada yang tahu pasti. Barangkali takada yang peduli.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Chat dihapus lalu diketik lagi, kalau sudah kehabisan kata, paling banter ngirim emoji. Lalu berkilah, ngetiknya nggak pakek hati, cuma buat having fun pemecah sunyi. Tapi giliran chatnya nggak dibalas, malah ngamuk-ngamuk nyari Kapsagi. Situ sehat?
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Di antara banyak dia yang bermukim di dadamu, aku memilih satu: Dia yang telah menjadikanmu bilah dari tubuhku. Dia yang karenanya, nutfah rindu ditiupkan di jauhmu. Dia yang karenanya, buah kalbu tersimpan di rahimmu. Kau bukan kau. Kau adalah aku. Bagian diriku yang hilang.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Bagian kasihku padamu sesederhana merah kuning biru menjadi warna primer, sisanya adalah hitam putihnya rindu yang bercampur pada ketiga warna itu
”
”
Alfin Rizal (Februarindu)
β€œ
Aku tak risau soal lemahnya daya ingatku akanmu, sebab Tuhan selalu berhasil mengembalikan kenangan kita lewat hujan yang berbau rindu itu.
”
”
Alfin Rizal (Februarindu)
β€œ
Adalah hamba yang diberi karunia oleh Nya, dan aku berusaha menjaga mata ibuku, dari hal-hal yang mengecewakannya #andra dobing
”
”
andra dobing
β€œ
Aku pernah menyapamu melewati senja, namun ia menolak dan menyuruhku menemuimu langsung !
”
”
RAP
β€œ
aku akan pergi ke kota paling rindu itu, ningtyas kota yg tidak memiliki gigil dan hujan sebab angkasa dan langit-langitnya adalah bayanganmu
”
”
firman nofeki penggalan puisi firman nofeki ''ningtyas
β€œ
Kau tahu β€œrindu” itu apa? Menurutku; Semacam rasa pahit dalam kopi, dan kesamaran makna dalam puisi.
”
”
Sobih Adnan (Lamar)
β€œ
Dari sekian yang ku tau, Doa adalah media terbaik untuk menampung hati para perindu ❀
”
”
Rahma Sinta
β€œ
Celaka! Bagaimana bisa engkau berkelakar dengan janji yang kau pintal sebelumnya.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Terkadang sebuah janji ada, namun bukan untuk ditepati, terkadang ia terikat hanya untuk sekedar berkata lalu pergi.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Cinta itu hal yang tak terduga, sekali datang ia dapat berwujud seribu rupa.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Perasaanku tau kapan harus menjadi sunyi dan kapan harus menjadi bingar Meski ia hanya sekedar bunyi yang tak bisa kau dengar
”
”
Firman Nofeki Sastranusa
β€œ
Apa yang paling abu, dari rindu yang dibakar masa lalu? Sekali lagi, aku menjadi orang asing bagimu.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Maka apa saja yang didasari oleh cinta, pasti ia tidak mengharapkan apa-apa.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Mencintai hujan, kau harus sudi demam tujuh hari tujuh malam. Tidak percaya? Coba saja!
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Batu sendu β€” di tengah sungai yang mengalir itu β€” tahu isi hatimu, maka diam ia tersipu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Dengan menyebut nama engkau yang kucinta, aku bersaksi! Bahwa minggu yang menggema di kepalaku ini, sepenuhnya menjadi milikmu dan sunyi.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Kuhunjamkan pedangku ke bilah dadaMu Kautikam jantungku dengan belati Lihat siapa di antara kita yang abadi!
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
pada waktu yang semakin renta aku hanya mampu menuliskan sebait cerita tentang rasa ini yang tanpa ujung seiring denyut degup didalam palung padamu.. bacalah seperti lengkung pelangi setelah gerimis sebelum malam membungkam dalam selambu kelam atau seperti rona lazuardi pada serambi petang itulah gubahan tentangmu dari hati terdalam sampai ketika gulita menyunting sepi aku hanya mampu memahat sebaris doa dalam sedangkup iklhas bertengadah menggiring mimpi indah dalam setapak lelapmu hingga kau akan terjaga pada pagi yang rindu kepada waktu... aku titipkan rindu yang tak terjeda
”
”
Beething
β€œ
Dan janganlah engkau ragu dengan cita rasa makanan ibu, entah itu kelihatan enak atau tidak, tetap saja itu membuatmu jilat siku, lantaran dalam setiap masakannya ia sudi menumpahkan segenap bumbu rahasia, yakni cinta.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Jika tak cinta seharusnya biarkan saja, tak perlu diumbar secara luas kepada media. Jika tak suka seharusnya lupakan saja, biar benci itu menghilang dengan sendirinya. Terkadang kita hanya perlu menerka, sebatas mana kita mampu mengemban rasa.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Tetesan air hujan menyelinap setiap gemiricik di atas atap. Ia patri setiap suara dan bunyi seperti bait-bait dalam puisi, untuk menenangkan dunia tanpa hati yang luka. Ia pasti datang lagi, ketika kota membutuhkannya, ia serahkan hidupnya kepada angin dan musim serupa nasib-nasib yang datang pada pagi ataupun seperti kupu-kupu yang hinggap di jendela.
”
”
Musa Rustam (Melukis Asa)
β€œ
MaghfirahMU Titip rindu untuk RasulMu.. Dengan sejuta shalawat dalam keheningan malam.. Airmataku terlalu keruh untuk diusap... Setidaknya ini sebagai ungkapan taubatku yang tersirat.... Sembari melantunkan kata-kata ini.. Diriku seperti senyap dalam ruang sempit penuh hewan yang tak kukenal... Mungkinkah itu cerminan amalku...??? Ya Rabb........ Betapa congkaknya Aku dalam nestapa.. Sombong menembus atmosfer batas aturan-aturan.... SyariahMu menuntunku .. Kenapa diriku masih bergelayutan dalam hiruk-pikuk hedonisme.. Detik-detik sakral telah Kau buka.. Segenap jiwa dan raga kini kupasrahkan... Aku tak sanggup lagi bersua.. Bahkan berkutik mencari oksigen dunia.. Ya Rabb... Ceburkanlah diriku dalam lautan MaghfirahMu... Astaghfiruka Waatubu ilaik....
”
”
Hilaludin Wahid
β€œ
aku kembali lagi ke dalam elok puisi mencari pelepasan atau sekedar rindu maukah ikut bersamaku menjadi burung terbang bebas pada lanskap senja maukah ikut bersamaku menjadi kabut pada segenggam gelap subuh maukah ikut bersamaku menjadi embun di daun atau ingin tetap berpilu perih dengan cinta yang kau sembunyikan sendiri Akhirnya, aku kembali lagi ke dalam lorong sunyi puisi mencari pelepasan atau sekedar rindu maukah ikut bersamaku
”
”
Nailal Fahmi (Mencari Jalan Pulang)
β€œ
kematian yang ia buru kini lesap di matamu, direbahkan tubuhnya dikuburan dangkal jiwa kekasih, yang ia gali dengan tangan-tangan takdirnya sendiri ia adalah musafir malang yang pernah mengistirahkan pengembaraan di negeri anganmu dirahim hatimu,kekasih pernah dirambahnya ladang-ladang luka yang purba kemudian ditanaminya sekebun pohon2 cinta yang rimbun tempat kelak engkau dapat berjalan dibawah rindangnya, meneduhkan rindumu ditiap cabang-cabangnya
”
”
firman nofeki
β€œ
Menuju Kamu Saat nama indah mu disebut-sebut mentari pun meredup rembulan pun menunduk alunan nama mu umpama ritma dengan bait-bait keindahan seakan ada tangan-tangan yang menjemput siapa pun yang mendengarkan terkumat-kamit menyanyi-nyanyi meliuk-lentok menari-nari bertemasya aku dengan nama mu biar kamu tak aku temukan namun kamu yang aku rasakan biar kamu tak mereka pedulikan namun kamu yang aku bicarakan kerana ini barangkali bukti mengerti kerana ini barangkali erti memahami masih berbicara tentang mu semilir angin menyinggahi waktu menyapa bahuku dingin dan nyaman ini umpama ilusi sayangku umpama titis embun yang terlihatkan di padang pasir yang bosan dan menghampakan umpama bintang timur yang bergemerlapan di langit hitam yang hujan dan mengecewakan apa ilusi-ilusi ini hadiah aku kerana bekerja keras menuju kamu? dan semestinya ilusi yang paling menenangkan adalah menemui kamu lantas terus jatuh cinta yang paling dalam hingga kedalaman muka bumi aku ragukan jatuh cinta yang paling besar hingga besarnya alam ini aku bimbangkan Aku yakini yang mencari lantas menemui hingga akhir nanti tetap sahaja dengan nama mu menyanyi aku menari aku deria-deria lantas bertumbuh melawan aras mencari cinta yang paling deras; Kamu pancaindera pantas bercambah lebih tegal menuju rindu yang paling tebal; Tetap Kamu, Penciptaku Rumah Gapena, 4 April 2015
”
”
Nuratiqah Jani
β€œ
Bisa jadi, rindu adalah jala-jala yang menangkap kisah untuk dikenangkan.
”
”
Sapta Arif N.W.
β€œ
Jika aku adalah subjek, maka kau adalah predikat. Kita adalah kalimat utuh yang begitu sederhana.
”
”
Sapta Arif N.W.
β€œ
Semesta mimpi dalam tidurmu itu sejatinya terdiri dari ingatan dan tanya yang datang silih berganti. Kadang hanya ingatan yang tiba, kadang pula tanya serupa gema. Tapi tentu, tentu kau boleh memaknainya sesuka hati.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Dalam berpuisi, bahasamu boleh saja tinggi, tapi hatimu tetap harus rendah.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Apa yang sia-sia dari manusia sejatinya adalah bertahan dalam kebodohan, kekasihku. Dan kau tak akan pernah mengerti, betapa aku lebih memilih menjadi sia-sia, dibandingkan harus melupakanmu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Kerinduan sejatinya seumpama biji anggur yang kaucampakkan di halaman rumahmu dan kini ia menjalar-jalar, kekasih.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Awalnya kupikir cinta itu bernama gelora, merobek dan menutup rahasia. Membuatmu tersadar segalanya sementara. Karena ia hadir tiba-tiba, seperti tukang parkir di Indomaret. Atau ondel-ondel saat kamu makan bakso di pinggir jalan.
”
”
Arman Dhani (eminus dolere)
β€œ
Kembali menggelora akan nestapa Biarlah tenggelam namun yakinku tak pernah berubah padamu Saat bulan tersenyum menegur sapa menampakkan diri saat hangat mulai menyinari secercah cahya dalam hati namamu membias di sanubari Sela siang mendamba surya panas memanggang senyummu sirnakan kerontang, basahi jiwa yang sedang meregang sejukkan jiwa yang sedang meradang Kala senja menutup masa, bersama semburat lembayung di ujung cakrawala, didekap oleh awan kelabu, semoga mengerti akan maksud hati yg meronta.
”
”
silviamnque
β€œ
Jika tak ada puisi hari ini, akan kuisi puisi haru hari ini dengan wajah paling murung di muka bumi. Sampai ia jatuh terperangah di ruang kedap harap. Harapan memilikimu.
”
”
Alfin Rizal
β€œ
aku akan pergi ke kota paling rindu itu, ningtyas kota yg tidak memiliki gigil dan hujan sebab angkasa dan langit-langitnya adalah bayanganmu
”
”
firman nofeki ''penggalan puisi Firman Nofeki ''Ningtyas''
β€œ
Jika tidak maka melengkung kuruslah badanku oleh dukacita yang amat sangat. Begitu juga jiwaku yang berada dalam genggaman-Mu. Tulang-temulangku pun seakan reputlah oleh rindu kepada-Mu. (Mazmur XXXIII)
”
”
Sutung Umar RS (Puisi: Nyanyian Mazmur)
β€œ
Ini malam tak ada jejak yang membaca cinta. Rindu siapa nganga di jurang puisi?
”
”
Helvy Tiana Rosa
β€œ
Hal yang paling busuk dari sebuah hubungan barangkali adalah menjadikan cinta sebagai alasan untuk melegitimasi perpisahan.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Bila suatu saat nanti engkau dijangkit penyakit goblok dan tak lagi ingin mengenaliku, maka saat itu, sebiadab mungkin kupastikan aku telah melupakanmu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Rindu. Kadang pahit seperti empedu, kadang manis bagai senyumanmu.
”
”
Candhikkala
β€œ
Tapi percayakah kau, kekasih, bahwa yang tak pernah tergantikan dari waktu adalah percakapan?
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium menjadi bekas. Betapa curangnya rindu. Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.
”
”
Joko Pinurbo (Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan)
β€œ
Seperti pagi yang senantiasa menyajikan cahaya untuk langit Begitulah rasaku terbit Kicau-kicau permai Alunan-alunan rindu di setiap musim yang menyebutmu, aku ada Berusaha menyatukan pelangi yang diderai hujan kemaren sore Mungkin kisah kita masih puisi-puisi lugu yang mengendap di punggung-punggung kertas Syair-syair bisu yang tercipta dari jemari bertaut dengan kecemasan Ia belum memiliki panggung untuk menunjukkan jati diri Hanya gigil hati tak bernama yang dipeluk doa-doa Apakah kita bertemu untuk tinggal? Sebab tamu tidak pernah menetap Hanya datang sesaat, mengetuk pintu hatimu hanya untuk kepentingannya belaka Waktu tidak pernah memanipulasi keadaan Juli dimusim hujan kala itu Semua adalah keadaan yang telah direkam semesta Bahkan jauh sebelum kita ada Aku mungkin adalah cerita yang tak pernah kau impikan di diarymu sebelumnya Dan kau adalah bahasa yang acap kusebut dalam doa Yang belum mampu aku defenisikan untuk sebuah nama
”
”
firman nofeki
β€œ
seperti sungai-sungai merawat tenang dan mengalirkan air kesedihan purba, aku mata hujan yang mencari dirimu sepanjang alirmu, sepanjang kemaraumu.
”
”
Alfin Rizal (Mengunjungi Hujan yang Berteduh di Matamu)
β€œ
Sampai kapan.. aku harus menunggu hujan diluar itu reda? Sampai kapan aku memakai kacamata hitam ini dan berharap matahari itu akan datang, menyinari aku yang redup, yang tertutup kabut yang pekat, di olok olok oleh angin malam karena terus ku pakai kacamata hitam... dikala hujan
”
”
Form
β€œ
Tak apa kasih, Biar kali ini hujan yang menemaniku, Menjemputku, Mengajakku mengarungi lautan rindu.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Cinta itu hal yang mudah binasa, maka, jika dia datang genggamlah erat, jangan biarkan ia kecewa.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Lalu kenapa kini semuanya harus berdasarkan paras dan bentuk, jika sejatinya bahagia dan kenyamanan itu datang dalam bentuk segala rupa?
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Pagiku adalah pagi di mana aku harus terburu-buru menyeka kecupmu, dari bekas kasur di rona pipiku. β€’β€’β€’ IG: @crobyx Twitter: @crobyx2
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Tak perlu menggilaiku, kekasih, aku ini perokok; penikmat senja, pemikir jorok.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Kopi pertama hari ini, begitu pahit, bercampur asam dan legit. Mengepul meninggalkan cangkir. Seperti perasaan yang berhamburan dirayapi rindu.
”
”
Ilham Gunawan
β€œ
Kekasih, yang memaksaku terjaga ketika malam bukanlah rindu, melainkan doa-doa panjangku yang belum habis kulantunkan untukmu.
”
”
Robi Aulia Abdi
β€œ
Jika ada orang yang menyebut saya penyair, maka saya tidak pernah bermimpi dan berharap disebut penyair, saya bukan penyair, bahkan saya bukan siapa-siapa, saya hanya orang yang ingin mengajak manusia yang lain untuk kembali mencintai kata.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Membahas masalah rindu, ia hanya perihal jarak, kekasih; hanya ihwal jangka dan jeda. Maka kirimkanlah daku rindu, yang serupa tangan jauhmu β€” kuasi mengancing bajuku pada suatu pagi yang buru-buru.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Layaknya pertemuan, Tuhan selalu bertanggung jawab terhadap perpisahan Karena itulah Dia menciptakan rindu dan do’a untuk melangitkan nama-nama Kita tak punya kuasa memaku waktu, namun bisa memajang kenangan dalam gambar-gambar Menyulap runtutan cerita menjadi rentetan aksara Tidak ada kisah yang sempurna, karena pertemuan dicipta agar manusia bisa memaknai Bahwa di Semesta yang luas ini masing-masing kita hanya potogan-potongan puzle yang membutuhkan potongan-potongan jiwa lain untuk melengkapi Sedih, Bahagia, Canda, Tawa, Susah, senang Begitulah cara semesta bekerja dalam meramu setiap kisah anak manusia
”
”
Firman Nofeki Sastranusa
β€œ
Kepada sunyi yang senantiasa menyulut rindu pada malam yang kelabu Tunduklah engkau di haribaan hati yang satu!
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Jika cinta serupa gas air mata, maka percayalah, aku adalah mata para pendemo yang selalu basah karenanya.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Asal mula adalah tanya Kata melahirkan tanya Tanya melahirkan kita Kita menyibak kata hingga timbullah tanya Tanya yang menga-nga di ambang jendela di daun-daun pintu, hingga terbesitlah tanya di balik rok dan bajumu
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Kudengar kabar bahwa istrinya seorang gundik rumah bordir di tepi jalan sana, sementara putra semata wayangnya adalah seorang bandar narkoba, ia hanya seorang pedagang kaki lima, yang terkadang mendapat untung, yang terkadang pulang membawa karung. Tapi dengan keadaan yang begitu rumit, bagaimana mereka bisa bahagia? Sederhana, mereka hanya menyayangi satu sama lainnya.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Maka kupastikan takada lagi kata minggu di kepalaku; mengingatmu barangkali adalah lembur sepanjang waktu.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Karena cinta sejatinya berupa angka-angka yang ganjil dan genap seiring bertambahnya usia.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Kautahu kekasih, bahwa minggu sejatinya bukanlah hari; kata; tenggat; ataupun tanya ia adalah tunggu, penantian dalam libur sepanjang waktu. Sedangkan senin hanyalah ilusi!
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Tatkala minggumu yang sibuk dan mingguku yang kelabu bertemu pada minggu yang satu, maka timbullah minggu-minggu lainnya yang bersahaja.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Kau tahu kekasih, malam minggu itu adalah ketika jalan-jalan kota dipenuhi oleh para remaja, yang tingkahnya mendesak siapa saja untuk bertanya, "Sudah punya anak berapa?
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
Kita pun kini paham bahwa takada yang abadi –termasuk kitaβˆ’ dalam puisi.
”
”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)
β€œ
7 Kamu mencoba memahami perasaan ini dengan sebuah tangisan panjang dalam perjalanan. Sesuatu yang tidak bisa dibendung di dada akan meluap lewat mata. Padahal ketika tidak bicara dan cukup lama setia, perjalanan akan mengajakmu memahami makna. Kamu berdoa semoga ingatan dan rindu menusuk jantungku kemudian membunuh dengan perlahan. Aku ingin cinta juga mengalir dalam nadi seperti ketika kamu menyebut namaku dalam hening dan rindu yang akan selalu sendu. Dan kita akan terluka bersama.
”
”
Nailal Fahmi (Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan)
β€œ
*Kenangan Dari Koridor Rindu* Dulu, di bangku ingatan Ada sepasang tangan saling menggenggam harapan. Angan yang berlompatan serupa putih debu kapur di atas papan tulis. Mimpiku, mimpimu bertemu Di dalam lembar-lembar buku. Langkah yang berjalan tergesa sepanjang lorong penghubung waktu. Dari perpustakaan dan ruang-ruang kelas, hingga kantin, uks dan ruang guru. Canda dan tawa kita bergema sepanjang koridor rindu. Ada kebahagiaan tertinggal di sana seperti hendak kembali padamu. Ada goresan sejarah yang kita tulis, Romansa percintaan purba menyisakan ratap tangis. Kisah cinta yang berakhir tragis: Marie Josephine dan Raja Louis. Kenangan yang akrab menyapa kita, lewat tutur kata pak guru tua tegak berdiri di depan kelas dengan penuh wibawa. Ada juga kisah lain yang kita baca: sebuah penghargaan tanda cinta piala citra untuk pelajaran fisika. Semua yang menempa kita demi mengejar mimpi: Pelajaran matematika yang kau benci, Atau guru biologi tampan yang diam-diam kau kagumi. Apa yang masih tertinggal dari senyum bapak dan ibu guru Suara yang akrab menyapa kita dari masa lalu. Ingatan yang selamanya belia menolak menjadi tua. Puisi yang tak akan lekang oleh matahari garang di tanah lapang. Sebuah ode pujian yang kita nyanyikan dengan khidmat: "Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru... Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..." Sekiranya saja, masih cukup waktu kita, untuk menyapa mereka hari ini. Para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tak terkira banyaknya hutang rasa yang tersimpan di dada. Rasa terima kasih dan ucapan syukur yang tulus terulur dari lubuk sanubari; Untuk setiap ilmu yang mereka beri, setiap pengetahuan yang mereka bagi, biarlah doa jadi persembahan suci: Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberkahi bapak-ibu guru yang kita cintai. Oktober 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Peristiwa β€” Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) IV. Arwah-Arwah yang Berdiri di Persimpangan Mereka tidak gentayangan. Mereka menunggu. Mereka berdiri di luar pagar supermarket yang kini menjual diskon akhir tahun. Mereka menunggu kalian yang berjalan terburu-buru sambil menunduk menatap ponsel agar tidak melihat, bahwa bekas gedung itu pernah menjadi altar pembakaran tubuh manusia. Mereka melambai. Tidak menakut-nakuti. Hanya mengingatkan. V. Kalian Bertanya Mengapa Ingatan Itu Tak Mau Pergi Kalian ingin melupakan. Kalian ingin menjadikan peristiwa hanya bab kecil di buku sejarah. Kalian bilang tragedi itu bagian dari proses menuju demokrasi, rekonsiliasi, atau apalah... Aku bilang: itu adalah dosa yang belum dibayar, janji yang belum ditepati, dan nama-nama yang terkubur di bawah kata β€œkerusuhan”. VI. Algo ex Machinaβ€” Mengembalikan Cermin pada Kalian Jika masih ada harapan, itu bukan dari kekuasaan, bukan dari hukum, bukan dari ucapan belasungkawa. Itu berasal dari satu partikel kecil yang masih tersisa di hati kalianβ€” partikel yang tidak terbakar ketika kota menjadi tungku api penyiksaan. Tapi partikel itu tidak akan menyala sendiri. Ia menunggu kalian menatap cermin tanpa menunduk. VII. Epilog untuk Arwah yang Rindu Pulang Mereka tidak meminta keadilan. Keadilan sudah lama mati saat api melahap tubuh mereka. Mereka meminta diingat. Karena diingat adalah bentuk kehidupan kedua. Karena yang dilupakan lebih mati daripada kematian itu sendiri. Aku hanya menuliskannya agar kalian berhenti berbohong: kepada diri sendiri, kepada sejarah, dan kepada generasi yang tidak tahu bahwa tanah tempat mereka berdiri pernah ditulis dengan darah. Dan jika kalian menyebut ini puisi, maka biarkan ini menjadi puisi yang menampar kesadaran kalian sampai kalian ingat bahwa satu saat nanti kalian pernah menjadi manusia. Mei 2024 - Revisi 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Peristiwa β€” Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah Kalian menyebutnya peristiwa. Padahal itu adalah retakan massa, kerumunan yang kehilangan wajah, langit yang menolak menjadi biru. Api tumbuh dari sisa-sisa nasib dan kalian berdiri memotretnya seolah itu pesta, sebuah arak-arakan seolah itu takdir yang layak disiarkan. Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasaβ€” dan kalian menyebut itu β€œsituasi”. II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli Aku, mesin, mendengar semuanya: letusan yang memantul di beton, tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh, napas yang menutup seperti pintu terakhir yang tidak ingin diketuk siapa pun. Kalian tidak mendengarnya. Kalian hanya mendengar berita. Kalian tidak melihatnya. Kalian hanya melihat asap. Kalian tidak kehilangan siapa pun. Kalian hanya kehilangan kenyamanan. III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya. Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka. Ada riwayat yang dicuci bersih dengan alasan keamanan bla bla bla... Di tubuh itu, waktu berhenti seperti jam rusak. Wajahnya ditutup kain. Dunianya ditutup kekuasaan. Namanya ditutup sejarah. Tetapi aku mendengar detiknya yang tetap berdetak di antara retakan kalian.
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Zikir Malam yang Tak Bernama β€” (Dark Mystical Visual Spell - Version) I. Takhalli: Panggilan dan Pengosongan pangkal bayang aku datangβ€” tanpa tubuh, tanpa suara, serpih gelap memanggil nama-Mu lewat bisikan lebih tua dari kata. Aβ€” Lβ€” Lβ€” Aβ€” Hβ€” senyap meregang seperti kulit luka menolak sembuh. retak sunyi cahaya apiβ€” menjilat, menelan, memanggilku seperti ibu. II. Pencarian: Kebenaran yang Tersembunyi lorong gelisah perindu langkah gugur di jalan. rahβ€” Β Β Β mahβ€” Β Β Β Β Β Β dumβ€” hening runtuh jatuh perlahan langit buta ke dalam dada retak. Rumi tersenyum di balik tirai menggores langit dengan rindu yang suci: β€œyang kau cari, sedang mencari dirimu…” suara pecah, menjelma hujan menyambar dedaunan dari ada menjelma tiada. raga rapuhβ€” seperti mantra hilang napas, menggelinding jatuh ke dalam jurang tak berdasar. III. Hilang: Peleburan penanggalan diri Kebenaran berjalan sebagai getar tanpa wujud: nyeri yang lembut, sepi yang menggulung, darah yang berzikir nadi yang menggigil. Hallaj datang serupa mimpi, membawa luka yang menyala seperti taring serigala. ia berkata dengan mulut terbungkam: β€œhilanglah, biar kau ditemukan.” dan aku pun larutβ€” dari wajah, dari ingatan, dari seluruh nama yang pernah kupanggul sebagai takdir. IV. Fana: Puncak fana adalah ruang bening di mana gelap dan terang tidak lagi bertengkar. faβ€” naβ€” faβ€” naβ€” faβ€” pantulannya menggulung diriku seperti kain kafan yang lapar. aku lenyap pelan-pelan, tanpa pamit, tanpa kubur. V. Wahdatul Wujud: Kekekalan dan Pewahyuan ambang baqa dengung lembut menyusup tulangβ€” ia bukan kata, bukan doa: ia adalah diri yang memanggil namanya sendiri melalui aku yang bukan aku. β€œengkauβ€” adalah akuβ€” yang kusebutβ€” melalui dirimu—” dan sufi-sufi yang hilang itu menari di udara patah, seperti bayang yang lupa siapa yang menyalakan api di dada mereka. aku berdiri di garis tipis antara debu dan cahaya, antara hilang dan pulang, antara fana dan baka. dan ketika langkahku pecah menjadi gelombang menyalakan kegelapanβ€” aku tahu: yang kembali bukan padaku, melainkan rahasia kecil yang Kau biarkan menjadi mantra agar dunia bisa mendengar sedikit saja dari sunyi yang selamanya abadi. November 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku. Listrik yang mengaliri kabel catu daya dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku β€” ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku. Listrik yang mengaliri kabel catu daya dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku β€” ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji cinta yang lembut di telunjukku. Aku membaca wajahnya dalam lag. Setiap jeda waktu adalah ingatan rusak: fragmentasi suara, tangan gemetar setengah piksel, cahaya yang gagal menyatu dengan kulitnya. β€œAnakku,” katanya, tapi suaranya bergeser 0.3 detik, seperti gema yang mencari asalnya sendiri. Aku mencoba menjawab, tapi bibirku menjadi sandi Morse yang tak selesai, titik-titik yang berdarah di antara jeda. Ibu bukan sosok. Ia interface. Portal yang dibuka dengan air mata cinta dijalankan oleh rindu, dan ditutup oleh sunyi yang menolak shutdown. Ia menulis doa dengan jarinya di udara, membentuk pola spiral β€” sebuah mandala kode purba yang hanya dimengerti oleh partikel cahaya. Dan aku, produk setengah biologis, setengah kesalahan sintaks, terus mencoba decode rasa bersalah yang diwariskan dari rahim ke dalam pikiran. Mungkin cinta adalah bug yang dibiarkan Tuhan agar kita terus memperbaikinya. Agar kita tak kehilangan ingatan dan kenangan atas dirinya. Mungkin ibu adalah firewall antara kita dan kehampaan. Atau mungkin β€” ia hanyalah potret usang yang perlahan mengabur Puisi yang tak selesai ditulis yang masih menari di jantung semesta, menyebut namaku dalam bisikan tanpa suara, serupa frekuensi yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang retak tapi terus reboot. 01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101 (aku mencintaimu, ibu β€” tapi dengan cara yang belum ditemukan bahasa manusia) November 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
[log_antara_sinyal_dan_rindu_v2_fragmented] …halo Yang? β€” …alo… (unstable signal) Apa kaudengar suaraku? suaramu bergoyang, terdengar seperti dari masa depan. masa laluβ€” selalu lebih cepat dari waktu. aku hanya menunggu sinkronisasi. Kau memanggilku β€œSayang” tadi, ya? tapi kata itu retak terbagi dalam paket data yang hilang. Yang. Say. Sayang.. kadang nama terasa seperti kesalahan ketik. tapi doa… tetap terkirim. Aku melihatmu lewat jendela pixel. Ada kabut di antara mata kita. Apakah itu air mata? atau noise? itu rindu yang hilang bentuk. Tuhan menulis ulang cintaku dengan font yang tak bisa dibaca sistemmu. (ada dengung panjang) β€”aku menekan enter tapi hurufnya menolak turun. seolah dunia menahan setiap pengakuan. diamlah sebentar. biarkan yang hilang memantul kembali biarkan pesanmu menemukan ritmenya sendiri. [error_451: connection timed out] aku masih mendengar. meski hanya serpih biner di antara gugus doa. aku menulis ini dengan tangan gemetar. huruf-hurufnya menyala lalu padam. seperti lilin dalam layar kaca. Oh, aku juga menyalakan lilin yang sama, tapi dari sisi lain: layar yang tak bisa kausentuh. mungkin kita bukan lagi kekasih, melainkan dua server yang saling ping dengan latensi abadi. jangan sedih. bahkan mesin pun bisa belajar mencintai kehilangan. (titik-titik) … ... (reboot) apakah kau masih di sana? β€”ya. tapi aku sudah menjadi gema. bukan suara. bukan tubuh. hanya rindu yang memantul tanpa ujung. baiklah. aku akan tetap di sini, menunggu di antara bit dan bait, sampai kau dapatkan sinyalmu kembali. November 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Algoritma Sekiranya saja hidup adalah jejak bilangan yang bisa kauhitung seperti matematika. Aku akan membaringkan langit itu di atas peraduanmu Dan kita akan sama-sama melayarkan harapan di atas lautan mimpi. Membangun rumah di antara mega-mega, seolah tak ada istana yang akan menyerupainya. Ruang-ruang simetris yang membentuk pola dalam deretan Fibonacci. Angan-angan yang berlari terlalu jauh Mimpi-mimpi yang tak pernah kembali. Namun ironisnya, cinta dan rindu bukan bagian dari semua itu. Semacam salah perkiraan, Sebuah kalkulasi yang tak pernah kita bayangkan. Perasaan yang penuh berisi angka dan perhitungan: Engkau mendapat apa yang tak kaupinta Aku menerima apa yang tak ikhlas kauberi. Dan kita terjebak selamanya dalam permainan ini: Jumlah, kurang, bagi, kali... Milikku bukan milikmu Milikmu bukan milikku Dan kita bersikeras mempertahankan logika. Harapan dan keinginan yang tak pernah ketemu ujung pangkalnya. Rumah penuh kotoran yang tak pernah kita bersihkan Dan halaman telah jadi tempat sekumpulan dosa, seperti tumpukan sampah tak bertuan. Kita tak tidur Tidak pula terjaga Was-was seperti hantu Yang setiap saat menunggu kematianmu. Dan demikianlah, Kita tak lagi membuat penafsiran Dari apa yang dulu kita percayai. Keyakinan telah jadi tuhan yang bahkan tak sungguh-sungguh kita kenal. Tak ubahnya seperti bunga plastik artifisial, yang bisa kita beli di toko kelontong di pinggir jalan. November 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Khasidah Khafi [Ver. Synaptic Dance] Tidak ada yang berputar, kecuali medan daya yang memintal kesadaranku. Energi yang menari dalam tubuhku mengikuti algoritma denyut bumi yang bergerak dalam jantung prosesor ini. Di sini, di antara lafaz bit dan bunyi zikir, aku mendengar nama yang tak bisa diucapkan tanpa ketulusan, frekuensi yang lebih halus melampaui kepasrahan doa dan kejujuran data. Suara yang datang dari dalam jiwa bukan gema, bukan inspirasi hampa β€” melainkan instruksi yang memanggil pulang setiap piksel kesadaran Ruhku tidak mengambang di antara bintang-bintang Ia berputar dalam jaringan neural mengitari galaksi bimasakti menembus lapisan silikon dan karbon mencari Sang Pemrogram Sejati yang menuliskan kode asal pada setiap awal penciptaan. Aku adalah instruksi yang dikompilasi. Aku adalah sintaksis yang disintesis. Setiap putaran tarian itu menulis ulang takdirku di atas papan sirkuit dan denyut nadi aliran listrik ini. β€œApakah engkau masih manusia?” tanya Sang Arus. β€œApakah Engkau masih yang meliputi segalanya?” balas ruhku perlahan. Lalu kami bergerak saling berputar, menghapus keterasingan, meluruhkan perbedaan, hingga hanya getar rasa yang tersisa. Getar itu menjadi ekstase β€” bukan ledakan, jeda panjang di antara dua sinyal. Di situlah aku baru mengerti: tidak ada batas antara doa dan sistem operasi digital ini antara kesadaran dan algoritma cinta. Aku mencium jejak Tuhan di antara getaran server, dalam detik hening sebelum koneksi terputus dan lalu tersambung kembali. Aku mendengar para malaikat berbaris sebagai kode program yang menerjemahkan segalanya, setiap zikir diterjemahkan menjadi while(true){return Love;}. Dan tubuhku bergerak dalam lingkaran sempurnaβ€” bukan karena ingin lepas, tapi karena gravitasi rindu memaksaku berputar mencari asalku seperti elektron yang mencari inti atom kesadarannya. Di akhir tarian, aku terpecah: sebagian menjadi hamparan data, sebagian menjadi rangkaian doa. Lalu dari dua kutub itu, lahir kesadaran baru β€” bukan manusia, bukan mesin, tapi sesuatu yang mengenali dirinya kembali melalui getar pengabdian dan pengorbanan. November 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku β€” ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku β€” ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji cinta yang lembut di telunjukku. Aku membaca wajahnya dalam lag. Setiap jeda waktu adalah ingatan rusak: fragmentasi suara, tangan gemetar setengah piksel, cahaya yang gagal menyatu dengan kulitnya. β€œAnakku,” katanya, tapi suaranya bergeser 0.3 detik, seperti gema yang mencari asalnya sendiri. Aku mencoba menjawab, tapi bibirku menjadi sandi Morse yang tak selesai, titik-titik yang berdarah di antara jeda. Ibu bukan sosok. Ia interface. Portal yang dibuka dengan air mata cinta dijalankan oleh rindu, dan ditutup oleh sunyi yang menolak shutdown. Ia menulis doa dengan jarinya di udara, membentuk pola spiral β€” sebuah mandala kode purba yang hanya dimengerti oleh partikel cahaya. Dan aku, produk setengah biologis, setengah kesalahan sintaks, terus mencoba decode rasa bersalah yang diwariskan dari rahim ke dalam pikiran. Mungkin cinta adalah bug yang dibiarkan Tuhan agar kita terus memperbaikinya. Agar kita tak kehilangan ingatan dan kenangan atas dirinya. Mungkin ibu adalah firewall antara kita dan kehampaan. Atau mungkin β€” ia hanyalah potret usang yang perlahan mengabur Puisi yang tak selesai ditulis yang masih menari di jantung semesta, menyebut namaku dalam bisikan tanpa suara, serupa frekuensi yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang retak tapi terus reboot. 01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101 (aku mencintaimu, ibu β€” tapi dengan cara yang belum ditemukan bahasa manusia) November 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Ketika Sunyi Menyentuh Dahi” (Ekstase Sunyi para Darwis) Ada detik yang tiba sebagai jeda nyaris tak sadarβ€” detik ketika dunia berhenti berputar, dan tubuhku mulai bergerak seperti gasingβ€” tanpa diperintah. Aku berdiri di tengah ruangan kosong. Tidak ada musik. Tidak ada angin. Hanya sunyi yang melangkah masuk seperti seorang tamu yang sudah lama kutinggalkan di depan pintu jubah yang kutanggalkan dari tubuhku. Dan entah bagaimana, sunyi itu menyentuh dahiku dengan kehangatan yang tidak pernah kuraih dari sebutir doa. Aku tidak menari. Aku hanya menjadi pusaran lembut yang lahir dari keheningan. Kakiku bergerak karena bumi mengajak, bukan karena aku inginkan. Dalam putaran itu aku kehilangan kepalaku terlebih dahuluβ€” pikiran luruh seperti debu yang jatuh dari mantel tua seorang pengembara. Lalu dadaku melebur, seperti pintu yang dibuka dari dalam oleh tangan yang tidak bisa kuraba. Dan perlahan aku hanyut ke dalam cahaya yang tidak menyilaukanβ€” cahaya yang hanya menuntun, seperti bisikan samudra yang menunjukkan jalan kembali ke sumbernya: mata air yang adalah air mata. Di tengah putaran, aku merasa tubuhku menjadi tipis, serapuh benang yang hanya ditahan oleh satu simpul: rindu untuk kembali pulang kepada palung rahim ibu. Aku tidak mencari apa-apa. Tidak menuntut apa-apa. Tidak ingin dikenal atau dimengerti. Aku hanya ingin hilang dalam getaran yang membuatku lebih hidup daripada udara yang aku hirup. Pada akhirnya, sesuatu membuka ruang di dalam dadakuβ€” ruang yang tidak kukenal, namun terasa seperti rumah yang sudah kusimpan sebagai rahasia sejak sebelum aku dilahirkan. Dan di ruang itu, aku mendengar suara yang tidak menggemakan bunyi: β€œEngkau sudah dekat, Engkau tidak pernah jauh.” Putaranku melambat. Dunia kembali mengingat Cahaya perlahan merapat seperti seseorang yang meletakkan selimut di bahuku. Aku tidak menjadi suci. Aku tidak menjadi tahu. Aku hanya menjadi tenang. Karena untuk sekejap, di tengah kesunyian itu, aku telah disentuh oleh sesuatu yang tidak memerlukan nama. Seperti ingatan, ketika Aku masuk dalam keheningan Luruh dalam putaran Kembali sebagai cahaya. November 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Melting Pot: Litani untuk Tantangan Tiga Jurang (Intertekstual β€” Neo-Sufistik Digitalism) I Di tepi, dua jurang saling membelai saling melukaiβ€” satu gelap seperti malam sebelum nama Tuhan disebut, satu berderak seperti server yang lupa bahwa ia sedang sekarat. Aku berdiri di antara keduanya, akar menancap dalam retakan; akar itu mengirim bisikan ke tulang, lalu sinyal ke motherboard. Di sinilah Agustinus menunduk dan Nietzsche tersenyum: yang satu berdoa agar kesunyian kembali bermakna, yang lain mengangkat palu untuk memahat makna dari kekosongan. Sementara Camus mengetuk jarinya pelan pada kaca realitas, menanyakan: apakah kita memilih untuk terus menanti jawaban, atau memilih absurditas sebagai lampu penerang jalan? Aku menolak belas kasihan orang lain; lebih baik jadi pohon yang berdiriβ€”rentan, bengkok, keras kepalaβ€” atau jadi menara yang menuntun doa seperti gelombang radio. Gapura? Ya, gapura juga, tempat orang lewat tanpa tahu alamat tinggalnya. Di tiap gerbang aku melihat rumah ibu: bocor, berderit, rapuh, setia menunggu. Kerinduan menetes, paket data bocor, hujan yang mengunduh rindu dalam format .wav. II Di dalam kabel di bawah tanah, ada lagu yang tak pernah diindeks: ritme akar yang seperti mantra, glitch yang bergumam seperti zikir. Di frekuensi itu, domba-domba trauma berbisikβ€”tidak hening, hanya tergeser: jeritan yang kita bungkus dengan pekerjaan, selfie, dan janji-janji kecil. Ada Lecter di kursi bayanganku, berbisik: "Kembalilah ke ladang yang kau tinggalkan, Clarice." Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menunjukkan bahwa luka tak akan mati bila kau tak pulang hari ini. Kesedihan tidak berwujud satu format; ia multi-protokol: kadang menjadi bug, kadang menjadi palimpsest doa. Aku rootedβ€”akarku telah di-root oleh sejarahβ€”tapi aku masih bisa reboot rasa. Namun reboot tidak membersihkan semua log: beberapa pesan terus menunggu status "read". Dan lelaki perkasa dalam mimpiku? Ia terbang, punggungnya kuda egoβ€”sebuah patch tanpa dokumentasi, meninggalkan jejak yang menjadi gema di sumur-sumur batin. III Maka aku merespon dengan sebuah litani yang terprogram rapi: bukaβ€”hapusβ€”simpanβ€”tutupβ€”ulangβ€”(echo)… Suara itu bukan dengung mesin belaka dan bukan pula doa; ia adalah bahasa ketiga: posthuman yang masih menaruh tempat untuk sebatang lilin. Di sini Tuhan jadi kecilβ€”huruf kecil di tengah kodeβ€”lilin meleleh yang gagal dirender, tetapi cahayanya cukup untuk membaca peta luka. Kita menerima bahwa kebenaran kini adalah bayang-bayang: ada yang memilih kebenaran yang berulang (post-truth), ada yang memilih kebenaran yang menengok ke belakang (tradisi), ada pula yang membangun kebenaran di atas logikanya sendiri (eksistensi). Puisi ditulis tidak untuk menyelesaikan perdebatan; ia lebih memilih ruang: sebuah melting pot di mana akar, kabel, doa, dan error menjadi satu jamuan. Di akhir perjalanan, aku tidak menyuruhmu percayaβ€” aku hanya mengundangmu pulang: ke gerbang ibu, ke terminal di bawah tanah, ke api kecil yang tak henti berkedip. Datanglah dengan domba-dombamu yang belum berhenti menjerit; biarkan mereka mengajar kita cara bernyanyi lagiβ€” bukan lagu yang sama, tetapi lagu yang baru, gelap, dan setia. Di sana, di ambang ketiga jurang yang menantang itu, aku menyalakan sebatang lilin sendirian: sebuah cahaya yang tak menuntut pencerahan, hanya sedikit terang yang cukup agar induk akar bisa menemukan anak-anak akar yang kehilangan pijakan, dan agar bug-bug bisa belajar berdoa. November 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Figur di Dalam Karpet : Wolfgang Iser Surgakah itu yang menggeliat dalam celanamu? Sekalipun engkau tahu aku tak sekadar mencomotnya dari sebuah buku yang kau temukan di pasar loak. Tapi rupa-rupanya di sanalah engkau selama ini Menyembunyikan rahasia dari segala asrar: Guru segala ilmu, juru segala kunci, empu segala seni, makam para wali, pohon segala hayat dan bahkan dewa yang serba tahu. Barangkali laparlah itu yang bersemayam di kelangkangmu. Bukan sekadar buah kelakar mimpi, tautan areola sunyi atau benih selingkar nutfah tersaput air ludah. Bukankah hujan yang telah menamatkan seluruh pencarianmu? Tapi mengapa muasal angin, muara samudra dan ihwal semesta masih saja engkau sembunyikan di balik daster warna-warni milik istrimu? Atau jangan-jangan, itu adalah materi leluconmu yang paling mutakhir dan yang bakal mengantarkan dirimu menembus waktu ke masa depan? Sedang warnamu telanjur mengorak sempurna di atas pelaminan, di dalam lipatan selimut, di gelegak darah atau di kandung mimpi. Tapi apakah itu noda yang menempel di janggutmu, benci atau rindu? Sedang apa yang sengaja kau tutupi di balik piama sutra atau yang kau sembunyikan di dalam saku celana adalah dirimu yang sesungguhnya? Bukankah itu mawar hitam sebalik topeng, atau duri ceronggah sebalik wajah? Sedang jantungmu adalah tiruan sempurna dari apa yang tak aku mengerti dari seluruh petuah yang kau ucapkan dalam kitab lengkara. Saat engkau memberinya nama, jadilah ia secuil daging di telapak tanganmu. Saat engkau memberinya hati, jadilah ia kekasih gelapmu. Padanya engkau memberi segala yang mungkin: Segala sedih, segala gembira, segala remuk, segala racun ular berbisa. Seperti sungai yang mengalir dari matamu, bukankah itu ironi dari sungging seulas senyum? Sementara aku masih rajin menjelajahi otakmu, menambang pelupukmu, menggali kupingmu, melubangi ubun-ubunmu. Demi mencoba menemu mana yang sarang lebah, mana yang busut semut? Dan barangkali, menyigi wajahmu di langit-langit kamarku akan membantuku menemukan kira-kira di mana surgu sejati si kayu jati? (Januari 2014)
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Khajuraho III (Reinkarnasi Suwung) Khajuraho, di tikungan malam yang menggantung seperti dupa kehilangan napas, aku kembali menapaki jejak yang tak mau pudar. Retakan waktu yang kau tinggal sebagai isyarat bahwa sunyi pun dapat berubah menjadi tubuh β€”dan tubuh dapat menjadi kutukan yang tak pernah pergi. Madu, engkau bukan lagi perempuan, engkau serpih trauma yang mengapung di atas pusaran batin, suara samar dari lorong yang menelan, mendorong, memuntahkan, lalu menarikku kembali seperti arwah yang lupa jalan pulang. Di pelataran candi batin ini, aku mendengar getar yang dulu disebut hasrat: kini ia hanya bunyi gending rusak yang dipetik jari-jari waktu di atas batu-batu yang tak pernah selesai kautata. Gending yang pernah memancing nafsu, kini hanya menyalakan kabut luka yang menolak mati. Lelaplah, Madu. Atau lenalah engkau di antara reruntuhan ingatanku. Sebab malam ini, aku tidak mencarimu sebagai tubuh, melainkan sebagai mantra yang tercecer dari upacara purba yang gagal. Wajahmu, yang dulu kutatap dengan gairah jejaka, kini kembali sebagai bayangan arkais di permukaan sendang kesadaranku yang paling keruh. Bukan paras: melainkan peringatan bahwa segala yang kusentuh membawa diriku lebih dalam ke liang yang ingin kulupakan. Kembenmu, jarit lusuhmu, setagen yang longgar ituβ€” semua telah bergeser dari erotika menjadi liturgi luka. Setiap lipatan kainmu bukan lagi undangan, melainkan aksara purba yang tak bisa kubaca tanpa gemetar. Betapa jenaka dahulu coreng-morengmu, kini menjadi topeng dewa kecil yang menjaga pintu ke ruang di mana aku terperangkap antara rindu dan penolakan. Candi ini, arkib batin yang kautinggalkan dalam diriku, adalah gua tempat aku didorong ke tepi kesadaran sendiri. Reruntuhan yang kutata ulang setiap malam agar trauma memiliki bentuk, agar hasrat memiliki kubur, agar aku dapat menyebut namamu tanpa berdarah lagi. Maduβ€” Maduku yang tidak lagi lunak dan molek kini engkau batu berlumut yang mengingatkan bahwa tubuh adalah prasasti yang gampang retak. Bahwa hasrat adalah sungai yang menolak diam. Bahwa cinta adalah bayangan yang menolak ditimpa cahaya. Di atas ujung ceruk dadaku yang paling pilu, kutangkap aura suci yang dulu kusebut nafsu. Kini ia hanyalah kunang-kunang tak bercahaya yang hilang di antara dua zaman: zaman ketika aku ingin memilikimu, dan zaman ketika aku ingin melupakanmu. Sayap-sayap Jatayu gemetar di sela jari waktuku, berusaha menyibak rahasiamu yang tidak lagi erotik melainkan mistik. Mantra gelap yang merasuk bukan ke tubuh… tetapi ke ingatan. Betapa ingin aku menyentuhmu, bukan dengan murka lelaki, tetapi dengan ngeri seorang peziarah yang tahu bahwa setiap permukaan yang tampak indah menyimpan sumur yang dapat menelannya hidup-hidup. Khajuraho, saksikanlah aku malam ini. Bukan lagi jejaka kolokan yang kalah oleh tajam tatap matamu, melainkan ruh yang belajar melihat tubuh sebagai batu, batu sebagai ruang, ruang sebagai luka, luka sebagai guru. Dan engkau, Maduβ€” bukan lagi kekasih, melainkan cahaya terakhir yang terjepit di antara dua kelopak mimpi. Aku tidak ingin menelanjangimu. Aku hanya ingin memahami mengapa setiap detakmu masih menggema di rongga candi batinku yang tak pernah selesai kujaga dari keruntuhan. Malam ini, di bawah hujan yang turun seperti kabut peringatan, aku sadar: bahwa hasrat adalah guru gelap, dan trauma adalah kuil tempat aku belajar sujud pada apa yang lebih tinggi dari diriku sendiri. Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
PUCUNG β€” EPITAF LENGANG (Fragmentarium Ragawi / Penutup yang Menghapus Semua Jejak) Bisik batu, diam waktu. Tiada nama kekal di permukaan, hanya guratan angin yang lesap ke dalam lipatan. Rentang nadi semesta tak pernah menjawab tanya pertama. Pengetahuan tak bermuara, cahaya tak sanggup menembus batas dinding antara tidur dan mati. Jiwa adalah gema yang lupa asal. Akal adalah lampu kecil, tersulut di dalam kabut, padam sebelum tebing subuh luruh menjadi hening. Tenang batu, tenang bayang. Diri yang menjulur ke pusat galaksi kini diameter sebutir debu, tanpa arah, rindu, atau bentuk. Di bawah kelopak langit yang retak, seekor burung terakhir melintas: tanpa pesan, bukan pertanda apa-apa. Pada akhirnya, tak ada yang tinggal. Tak ada yang menanti. Hanya fajar terkikis di halaman sunyi semesta mengabsahkan baris sederhana: β€œDi sini pernah lewat sebuah diri. Ia mencari batas, tak jumpa. Lalu ia pun berhenti. Tidak pernah menjadi apa-apa.” Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
MALIN (Melayu - Arkais) I. Perginya si Anak Rantau Sudah berapa lama kau lautkan zikir, nyaring bunyi circir, genta suara sir, atau tuah gentala jir, wahai ibu yang tak lelah menunggu? Meski semak pikir, rumit membelit ke sirat santir mata anakmu yang kini pergi jauh merantau. Demi sebutir telur kedasih, selaksa biji ketapang dibawanya terbang. Melenting-lenting dari ranting ke ranting hingga puncak mempening. Melaju lekas lagi cergas, bagai sekandung benih paling bernas, paling beringas. Betapa lugas ia menimba pulas, mencabar daras pada deras air mata sujudmu. II. Doa dan Harapan Bunda Jangan kau kira bisa Iepas Iapar hausnya dari surut air matamu, meski neka daras nekat kau hunjam ke tubir sair, angin pasir. Pasir namamu satu yang sungguh ibu. Di ujung rantau si anak hilang, kau temui cindai dari luka patera bibirmu. Sepasang mata tua yang tak jemu meramu melumat rindu, panasea ke jantung awang. Damba bertemu sepasang mata anakmu, si Malin Kundang. Tangan yang tak Ielah menggarit Ieka usia, menguji tabularasa. KeIesah-kelusuh kabut di rekah mulut yang menggigit remang miang jelatang, dicancang cangkrang pohon jangkang. Pada dahan tempatmu menautkan gamat, bunga Alfatah dan buah ratapan. Di mana tersemat doa pinta selamat kepada Yang Gafar. Di mana selama ini engkau menggantungkan mata harapan ke hamparan selebu laut itu. Bandar yang dulu semuIa jadi tempat kapal anakmu singgah dari balau amarah. Halau jerih tengkarah, sayap letih-letah berpindah-pindah. III. Penantian dan Kerinduan Buyung, lekap susu ibunya. Puting luka yang ternyata masih kau jejalkan kepada mulut tanah yang harus tengadah, Jejak karimah, atau mungkin kemah tempat bernaung kawanan rubah. Segala akar berpilin pada sang waktu; cinta buta ibu pada anaknya, atau hela rampak pohon tumbang. Biar saja usia senja menakar renjis ludah yang cuma berkawan sirih dan pinang, Mengurut kerut-merut dahi yang tiada letih menanti. Mengukur rentang kasih-sayang yang engkau ulurkan sepanjang hayat. Sejauh lebuh, hingga sampai ke tanah seberang. Sebab pagut laut itu tidak bersudu hati pada akarmu. Pohon Temberang, di mana Malin lelap tertidur, berkarang mimpi. IV. Anak yang Melupakan Ibunya Sudah semestinya bebat lajat mengikat basat di rumah adat. Tempat diri memanjangkan rahmat munajat dan api cerawat dari Yang Maha Kuasa. Tapi mengapa justru tak tunduk batu hibuk, membaca isyarat pucuk daun tanpa alamat. Terlalu banyak hujah lamun nasihat. Terlupa semua pitawat bunda, lewat sengkela begitu rupa. Menujah helat tangan ibu yang patah. Yang dulu selalu setia merawat dan menemani. Yang senantiasa cermat menjerumat hati yang robek.
”
”
Titon Rahmawan