“
Sang Penari
IV – Wawancara dengan Malaikat Pencabut Nyawa
Ia duduk sendirian
di sebuah ruang tunggu yang tampak seperti speakeasy
era 1920-an.
Musik jazz mendesing,
lampu gantung berayun pelan,
dan kaca-kaca retak memantulkan wajahnya
seolah ia tak pernah sepenuhnya hadir.
Di sofa merah yang terlalu empuk,
duduklah Malaikat Pencabut Nyawa.
Bukan bersayap.
Bukan bersenjata.
Hanya mengenakan jas putih
seperti Gatsby sedang menunggu Daisy
yang tak akan pernah datang.
“Duduklah,” katanya.
Suaranya lembut,
seperti suara narator Kawabata
ketika membaca kalimat tentang kesepian.
“Engkau menari seperti orang yang ingin melupakan.”
Sang Penari menggigit bibir.
“Bukankah semua tarian adalah pelarian?”
Malaikat itu tersenyum samar.
“Tidak. Beberapa tarian adalah pengakuan.”
Hening jatuh.
Hening yang menyerupai jeda sebelum tembakan
di akhir adegan Smooth Criminal.
“Lalu tarian yang mana yang kulakukan?”
“Yang membuatmu retak,” jawabnya,
seperti seorang psikoanalis
yang baru saja menemukan trauma inti.
Sang Penari tak tahu apakah ia harus marah atau menangis.
Ia hanya menatap ke arah panggung kosong,
di mana bayangannya sendiri
melakukan gerakan “twist” Pulp Fiction
tanpa tubuh, tanpa wajah,
hanya ritme yang memudar.
“Apakah aku akan mati?”
tanyanya.
Malaikat itu mengangkat bahu.
“Semua orang akan mati.
Pertanyaannya adalah:
apakah engkau ingin mati sebagai manusia yang menari,
atau sebagai tubuh yang berhenti bergerak
tanpa pernah tahu apa artinya hidup?”
Tiba-tiba suasana berubah.
Lampu-lampu padam.
Satu sorot tunggal menyorot panggung.
Malaikat itu menepuk tangan.
“Ini audisi terakhirmu.”
Di panggung, bayangan Degas muncul:
ballerina yang letih,
menjatuhkan kepalanya di atas selendang.
Lalu Matisse:
warna merah, biru, kuning
meledak seperti ledakan batin
yang tak bisa ia jinakkan.
Lalu muncul MJ lagi—
kali ini lebih gelap,
lebih menyerupai siluet,
lebih seperti dewa pergerakan
yang memanggilnya:
"Come on. Show me your last move."
Sang Penari melangkah ke depan.
Ia menari:
sedikit twist ala Mia Wallace,
sedikit slide ala Gene Kelly,
sedikit lean ala MJ,
sedikit patahan tubuh ala Degas,
sedikit ledakan warna ala Matisse.
Tubuhnya menjadi arsip segala tarian dunia.
Menjadi museum luka.
Menjadi perayaan.
Menjadi ratapan.
Dan ketika tarian itu selesai,
Malaikat itu berdiri.
Bertepuk tangan.
Pelan.
Menyakitkan.
“Sekarang aku tahu,” katanya.
“Apa?”
“Engkau menari bukan untuk menjadi abadi.
Engkau menari untuk mengembalikan dirimu
dari segala kenangan yang
telah mencuri hidupmu.”
Sang Penari terdiam.
Napasnya membatu.
Dadanya retak oleh sesuatu yang bukan penyakit.
“Dan apakah aku sudah kembali?”
Malaikat itu menggeleng lembut.
“Belum.
Tapi aku akan memberitahumu,
ini adalah titik di mana
engkau menghilang.”
Agustus 2025
”
”