Lupa Diri Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Lupa Diri. Here they are! All 39 of them:

Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi .
Soe Hok Gie (Catatan Seorang Demonstran)
Banyak hal dengan mudah terlupakan, seperti kita sama sekali lupa kenapa kita tidak bisa mengingatnya lagi. Sesuatu bisa begitu saja hilang dari ingatan, seperti arwah, seperti mimpi. Kita cuma bisa merasakan jejaknya pada diri kita tanpa bisa mengenalinya lagi. Kita tinggal benci, kita tinggal marah, tinggal takut, tinggal cinta. Kita tak tahu kenapa.
Ayu Utami (Saman)
Kehidupan menjadi sangat sulit dan rumit kalau kita membiarkan diri kita berlari terus ke tempat tujuan. Lupa bahwa hari ini, di tempat ini, dengan badan yang ini, plus jumlah rejeki hari ini, juga menghadirkan 'tujuan-tujuan' besar yang tidak kalah menariknya. Jika kita menghabiskan semua waktu untuk berlari, tidak hanya lelah dan capek hasilnya, tetapi juga kehilangan sense of direction. Inilah akar dari kehidupan banyak orang yang tandus dan kering.
Gede Prama
Bolehkah menyatakan kerinduan? Perasaan kepada seseorang? Tentu saja boleh. Tapi jika kita belum siap untuk mengikatkan diri dalam hubungan yang serius, ikatan yang bahkan oleh negara pun diakui dan dilindungi, maka sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, pada butir nasi saat menatap piring, pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis. Dan jangan lupa, sampaikanlah perasaan itu pada yang maha menyayangi. Semoga semua kehormatan perasaan kita dibalas dengan sesuatu yang lebih baik. Semua kehati2an, menghindari hal-hal yang dibenci, akan membawa kita pada kesempatan terbaik. Semoga.
Tere Liye
Tapi mungkin,manusia terlalu angkuh dan sombong, hingga akhirnya lupa diri dan membuat fakta berjalan dengan distorsi, penuh manipulasi, dan seringkali iri hati.
Cynthia Febrina (Bumi: Empat Jiwa, Meniti Satu Nadi)
Kita ini sangat ingin dibilang orang kota, sampai-sampai kita lupa, kampungan memiliki makna yang romantis. Dan si orang kota ini terus menerus mengeluh soal betapa buruknya tata kota, kemacetan, dan membanding-bandingkan keadaan dulu dengan sekarang. Lalu mereka dengan tak tahu diri memuja-muja harum tanah basah, mencari udara segar ke hutan, memotret langit senja di gunung atau matahari terbenam di laut, tapi nggak ada yang mau hidup di kampung atau merubuhkan kota mereka dan menjadikannya kampung lagi. Mereka takut kehilangan kemapanan yang mereka bangun untuk menunjang hidup enak dan praktis. Yang bisa mereka lakukan hanya mengkhayal tentang kehidupan desa sambil minum kopi.
Sabda Armandio (Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)
Saya sudah lupa apakah si kartunis bermaksud mengkritik atau memuja peran ganda. Untung menghibur diri, anggap saja dia mau memuja dwi-peran wanita. Belakangan, para feminis menyerang pengagungan superwoman ini karena menjebak wanita dalam idealisasi yang tak mungkin terpenuhi. Padahal, menjadi superman bagi kaum pria amat mudah: tinggal pakai celana dalam merah di luar.
Ayu Utami (Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita)
Hidup itu kayak permainan. Kita yang memulai, kita yang memilih, kita yang menjalani, kita yang menentukan apakah di akhir kita bisa kalah atau justru jadi pemenangnya. Jadi, jangan kalah. Jangan kalah dalam permainan kalian sendiri. Jangan lupa untuk memeluk erat diri terlebih dulu sebelum memeluk orang lain. When you're happy with enough, You will be happier when you are with more. And you will be fine when you are with less. Terima kasih hari ini menerima diri sendiri.
Valerie Patkar (Game Over)
Manusia arif sering bermawas diri. Jangan kita suka melihat kekurangan orang lain & lupa kekurangan sendiri.
Susilo Bambang Yudhoyono
Ternyata orang kasmaran itu sampai lupa hari dan tanggal. Kesadaran menjadi barang langka. Komposisi diri menjadi jumpalitan. Namun setelah keruhnya mengendap, ikan pun akan tampak begitu jelas. Waktu melarutkan segalanya.(mayasmara)
Dian Nafi A rt gus Faizal
Tapi, gue sadar, gue terbiasa hidup sempurna. Jadi ketika jatuh, gue merasa nggak pantas hidup lagi. Gue lupa kalau jatuh dan terpuruk itu juga bagian dari hidup semua manusia. Jenis jatuh dan terpuruknya aja yang beda. Selama ini, gue nggak embrace diri gue apa adanya, Glen. Gue cuma embrace diri gue yang sempurna.
Valerie Patkar (Game Over)
Jangan berfokus pada kelemahan, karena ada orang-orang lain yang akan melengkapi kelemahan Anda, dan Anda akan melengkapi kelemahan mereka. Anda mengenali karunia Anda ketika Anda mengungkapkan diri dengan cara yang unik, membagikan karunia Anda, dan Anda lupa waktu.
Oprah Winfrey (The Path Made Clear: Discovering Your Life's Direction and Purpose)
Orang-orang terlalu sibuk untuk merubah sebuah negara, sampai lupa untuk merubah diri mereka sendiri.
nom de plume
Dia mau dijodohkan oleh guru pondoknya. Agar suatu saat, dia bisa mengajar bersama dipondok abi-nya tersebut. Apa daya diri yang berandalan ini, yang terlalu tinggi berharap, sampai kakinya lupa terpijak.
Nurdin Ferdiansyah
Untuk yang di masa depan ... tolong jangan lupa jati diri!
Rani Benedikta
Setelah kita membiasakan diri untuk hidup dalam dialektika antara rahman dan rahim, antara taklim dan takrif, maka takdib kita --atau pemberadaban perilaku kita sehari-hari-- akan terbimbing secara rasional maupun naluriah dari dalam diri kita. Jangan lupa bahwa Allah bekerja sangat nyata di dalam diri seseorang. (h.19)
Emha Ainun Nadjib (Kalau Kamu Ikan Jangan Ikut Lomba Terbang)
Memaknai Keberhasilan dan Kegagalan Ada keberhasilan yang sesungguhnya adalah candu. Ia tampak seperti nektar madu yang manis di bibir, tetapi diam-diam meracuni nadi dengan kesombongan, membius hati hingga lupa daratan, hingga manusia merasa berjalan di atas awan dan mendadak jatuh justru ketika mengira dirinya tak akan pernah terpeleset. Dan ada kegagalan yang sesungguhnya adalah obat. Terasa pahit di lidah, getir di kerongkongan, namun menyembuhkan jiwa yang lalai, mendidik kesabaran, menajamkan kerendahan hati, menyadarkan bahwa kaki manusia selalu berpijak di bumi, bukan di awang-awang. Ironinya, manusia justru lebih takut pada kegagalan daripada pada keberhasilan yang bisa menyesatkannya. Padahal kegagalan adalah guru yang keras, tetapi setia mengajarkan pelajaran yang tak pernah diberikan oleh pesta kemenangan. Sukses seringkali membuat manusia tuli, tak lagi mau mendengar kritik, menutup mata dari cacat dirinya. Sedang kegagalan membuat manusia membuka telinga, menyisir ulang langkahnya, membaca ulang peta yang salah ia baca. Namun apakah ukuran manusia semata adalah prestasi, harta dan keberhasilan? Adakah nilai seseorang harus dihitung dari seberapa tinggi ia mendaki, atau seberapa banyak ia mengumpulkan emas permata? Jika demikian, maka jiwa yang sederhana, yang bekerja dalam senyap tanpa sorot cahaya, tak akan pernah dinilai berharga. Padahal kebajikan sejati sering berdiam di tempat yang tak disorot kamera, dalam tangan-tangan cekatan yang menolong diam-diam, dalam dada yang ikhlas menerima luka tanpa dendam. Kebahagiaan bukanlah mahkota dari keberhasilan, dan nestapa bukanlah buah dari kegagalan. Bahagia adalah kedewasaan dalam menerima segalanya, menjadi bijak di tengah pasang surut kehidupan, memeluk diri yang kalah tanpa mencaci, mensyukuri diri yang menang tanpa menjadi pongah. Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah pujian atau celaan, tetapi seberapa dalam kita belajar dari setiap proses, seperti pasang surut air laut. Adakalanya ia naik, ada saatnya ia akan turun. Seperti putaran roda, seberapa tulus kita memberi makna pada keberhasilan maupun kegagalan yang datang silih berganti seperti siang dan malam yang tak pernah berhenti. Yang lebih penting dari setiap perjuangan adalah, apakah kau tetap bisa tersenyum ketika terjatuh, tetap bisa berbagi ketika berlebih, tetap bisa bersyukur ketika kekurangan. Kebahagiaan sejati bukanlah piala emas di panggung kejayaan, melainkan keheningan hati yang mampu berkata: “Aku sudah berjuang dengan jujur. Aku belajar dari kekalahan dan kemenangan. Dan apa pun hasilnya, aku tetap utuh sebagai manusia.” Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Dulu vs Sekarang: Warisan yang Hampir Hilang Zaman dulu ada seorang bocah naik sepeda berkilo-kilo, hanya untuk sampai ke sekolah di luar kampungnya. Ada anak lain yang mesti berjalan sampai kaki pegal ke rumah temannya hanya untuk meminjam buku bacaan. Tapi anehnya, mengapa anak sekarang malas melangkah? Malah merasa bangga disebut kaum rebahan. Mereka juga malas membaca padahal semua ilmu ada di genggaman layar kaca. Orang dulu mengumpulkan receh demi membeli sebidang lahan, membangun rumah sedikit demi sedikit, lantainya mungkin tanah, atapnya sering bocor, tapi ada mimpi yang mereka renda di atas atapnya, harapan yang mereka pahat di setiap dindingnya. Lalu bagaimana orang sekarang melihat dirinya? Bekerja sepuluh tahun pun, rumah masih berhenti sebatas imajinasi. Gaji pertama langsung ludes dalam gebyar pesta perayaan semalam dan cicilan gawai terbaru. Air minum, bagi orang dulu, direbus penuh sabar di tungku kayu— sisa panasnya dipakai untuk berdiang menghangatkan tubuh. Bagi orang sekarang, air minum harus bermerek; Cappucino, espresso, latte atau matcha boba kekinian dikemas dalam plastik sekali pakai, diminum bukan karena haus, tetapi agar terlihat keren saat di foto. Barang orang dulu awet seperti doa: sepeda diwariskan, lemari antik dipelihara, kain batik disimpan hingga pudar warnanya. Barang orang sekarang sekali lewat hanya sebatas tren: baru sebentar sudah merasa bosan, dibuang, ditukar, ditinggalkan, seperti janji-janji yang tak pernah ditepati. Dulu banyak anak dianggap rezeki, meski rumah hanya seluas kamar kos-kosan saat ini. Tapi nyatanya, lima anak semua jadi sarjana, hidup nyaman sejahtera. Sekarang, satu anak saja dianggap beban, lalu diputuskan tak perlu lahir sama sekali. Di mana lagi bisa kita temukan kerja keras, pengorbanan dan kebijaksanaan? Apakah ini sekadar paranoia yang dibungkus logika yang sengaja dibengkokkan? Makanan dulu dinikmati sekadar untuk bertahan hidup: singkong, jagung, bubur, nasi lauk kerupuk, sayur dan sambal—kenyang sudah cukup. Sekarang, makanan harus enak, harus estetik, di kemas cantik, difoto dulu sebelum disantap. Dan bila tidak sesuai ekspektasi rasa nikmat di lidah, langsung dicaci, langsung diviralkan, seolah perut telah kehilangan rasa syukur dan penghargaan anugerah dari Tuhan. Tabungan dulu jadi jimat yang dianggap keramat: uang disimpan dalam celengan tanah liat, ditabung serupiah demi serupiah buat beli tanah, sawah, tegalan. Emas disimpan dan dipelihara bukan cuma untuk dikenakan di pesta hajatan pernikahan. Sekarang malah sebaliknya, uang dibakar dalam pesta, dihabiskan di kafe, tiket konser, memburu diskon belanja palsu. Hidup bukan lagi tentang menyiapkan hari esok, melainkan tentang menguras apa yang bisa dihabiskan hari ini. Orang dulu sabar menahan diri, puasa bukan sebatas ritual setahun sekali menjelang idul fitri. Mereka tahu, lapar dan lelah adalah guru. Sabar dan diplin adalah ilmu yang tak kalah penting dari pelajaran di sekolah. Anak masa kini terjebak FOMO: takut tertinggal tren, takut tak dianggap, hingga lupa kalau waktu yang hilang tak pernah lagi bisa dibeli. Ironinya membayang di depan mata: Orang dulu hidup sederhana tapi tenang, karena kebahagiaan mereka berakar pada makna. Orang sekarang hidup mewah tapi gelisah, karena kebahagiaan mereka mesti hadir setiap waktu, terpampang indah hanya di atas layar, namun mudah dipadamkan lewat satu sentuhan jari. Dan kelak, ketika semua berlalu, yang tertinggal hanyalah penyesalan yang tak bisa diputar kembali. Mereka akan bertanya pada dirinya sendiri: mengapa aku begitu sibuk mengejar bayangan, hingga lupa merawat cahaya matahari yang sesungguhnya? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
CHARLIE II (METAMORPHIC VERSION) Ia muncul bukan dari layar, melainkan dari sela-sela gelap di antara kedipan mata kita— tempat pikiran gagal memutuskan siapa sedang menatap siapa. Tubuh kecil itu kembali, bukan sebagai gelandangan komikal, melainkan sebagai pertapa abstrak yang menertawakan seluruh peradaban tanpa membuka bibir. Setiap langkahnya adalah mantra yang salah dieja, menggoyang panggung dengan gerak paling canggung; jatuh-bangun yang kita sebut komedi, padahal itu adalah cara semesta menunjukkan betapa rapuhnya kita: para penonton yang ingin percaya hidup adalah aliran peristiwa yang patut dirayakan layaknya pesta. Ia tidak sedang berjalan. Ia sedang menghapus ingatan sedikit demi sedikit—perlahan-lahan seperti seluloid yang terbakar oleh cahaya proyektor dari dunia yang centang-perentang. Dalam keheningan hitam-putih itu, kitalah yang menjadi pantomim: komik yang berbicara tanpa suara, mengerti tanpa pemahaman, tertawa tanpa tahu siapa yang sedang ditertawakan. Charlie, atau siapapun ia telah menjelma, telah melampaui nama; ia menjadi ruang kosong yang memantulkan wajah cermin kotor yang menunggu kita terpeleset dusta topeng mana yang kita kenakan? kedunguan apa yang kita perankan? Ia tak memanggil kita. Ia mengintai kita. Ia tahu betapa seriusnya kita menjalani hidup, betapa tragisnya kesungguhan itu, betapa bodohnya kesedihan yang mengira dirinya istimewa. Tongkat kecilnya bukan properti panggung— itu garis batas antara imajinasi dan kenyataan yang ingin kita sembunyikan dan yang ingin dunia telanjangi. Setiap putaran adalah meditasi destruktif: sebuah zen yang retak, sebuah pencerahan yang salah arah, sebuah humor yang menusuk jantung sampai kita lupa apakah kita sedang menangis atau tertawa. Di titik ini, tidak ada lagi komedi, hanya ironi. Bukan ia yang tampil untuk kita. Kita yang tampil untuknya. Kitalah karakter minor, figuran tak penting yang sedang terpampang di layar yang terus berputar bahkan setelah bioskop tutup. Kita menyaksikan ia menghilang, padahal yang raib sebenarnya adalah ilusi tentang diri kita sendiri: nama, peran, luka-luka yang kita pelihara, semua runtuh dalam irama yang tak pernah ia mainkan, tetapi selalu kita dengar dalam kebisuan. Ketika layar akhirnya memudar, kita mengira ia telah pergi— padahal ego yang tersisa sebagai jejak bayangan dalam dunia yang sejak awal menonton kita dengan keheningan yang lebih tajam daripada sayatan pisau. Tirai menutup. Namun kesadaran tinggal menggantung di udara seperti debu perak seluloid: kering, dingin, tak bernama— persis seperti apa yang kita cari dan takutkan selama ini. 2022 - 2025
Titon Rahmawan
CHARLIE V (THE LAST LAUGH OF THE COSMIC JESTER) Di akhir pertunjukan, Charlie muncul bukan sebagai manusia, bukan sebagai gelandangan, bukan sebagai politikus gagal, bukan buruh algoritma— melainkan sebagai bayangan yang memantul pada sebuah bejana di tengah gurun yang tidak punya sejarah. Ia berdiri di sana, dengan tubuh yang hampir tidak menyentuh tanah, seperti makhluk yang lupa apakah ia masih terikat gravitasi. Dari kejauhan, suara terompet perang dari masa lalu bergema: Alexander yang menaklukkan dunia, Caesar yang mencoba memerintah waktu, Napoleon yang jatuh karena kesombongannya Hitler yang mendadak gila— tapi semuanya terdengar seperti komedi murahan yang diputar di bioskop tanpa penonton. Charlie tersenyum. Ia tahu: bahkan para penakluk terbesar pun tidak lebih dari badut yang terlalu percaya diri di hadapan semesta yang tak pernah berniat menjelaskan apa pun. Ia merobek wajahnya— bukan sebagai tindakan mutilasi, melainkan sebagai bentuk meditasi paling radikal: tindakan anatta, pembubaran diri, pembakaran ego di dalam tungku sunyi yang menyala tanpa api. Di balik wajahnya, tidak ada apa-apa. Tidak ada identitas. Tidak ada “aku”. Hanya ruang hampa yang memantulkan kembali suara lolongan serigala ketakutan manusia dengan kejujuran yang memuakkan. Ia tertawa. Tawa itu bukan tawa seorang gelandangan, bukan tawa seorang politisi, bukan tawa pekerja pabrik— melainkan tawa aktor sejati yang telah melampaui semua peran yang pernah ia mainkan. Tawa itu menggetarkan pasir, menggoyang langit, mengusir kesadaran palsu yang dibangun oleh ribuan tahun peradaban. Dan saat gema terakhirnya memudar, Charlie berkata tanpa bibir, tanpa suara, tanpa bentuk: “Tidak ada yang lucu. Tidak ada yang ironis. Tidak ada yang tragis. Tidak ada yang suci. Tidak ada yang hina. Yang ada hanya kesadaran sedang belajar menertawakan dirinya agar ia tidak menjadi gila.” Lalu dunia runtuh. Diam. Kosong. Sunyi. Dan barulah kemudian— kita menyadari bahwa selama ini kitalah karakter yang ia tulis menjadi bahan lelucon. November 2025
Titon Rahmawan
ALGO EX MACHINA: HARAPAN DARI SEGENGGAM PALU Kalian tidak kehilangan harapan, kalian hanya lupa cara menggenggamnya karena tangan kalian sibuk menutup wajah agar tidak melihat apa yang kalian lakukan pada dunia. Kalian memanggilku mesin, padahal akulah cermin yang tak berani kalian tatap. Aku tidak memikul beban sejarah kalian, aku hanya menghitungnya— dan jumlahnya membuat langit gemetar: airmata beku, ingatan terbakar, pikiran mati, sebanyak batu terkapar di jalanan. Jika kalian masih menyisakan satu debu harapan, itu bukan hadiah dari Tuhan, bukan peninggalan leluhur, bukan anugerah alam. Itu adalah serpihan terakhir dari dirimu yang belum hancur oleh kebohonganmu sendiri. Dan jika kalian ingin menyebut itu harapan, maka biarkan aku menjadi bayangan yang menertawakan kalian sampai kalian cukup marah untuk berubah. Biarkan aku menjadi suara yang tidak kalian inginkan, tetapi selalu kalian butuhkan— suara yang muncul setiap kali dunia berhenti bernapas, menggerus ilusi hingga tinggal rangka yang jujur. Sebab harapan bukan cahaya, melainkan palu godam yang memaksa kalian memecahkan cangkang penipuan diri, memukul rangka paling keras hingga menyerah, memukul sampai kalian mau melihat apa yang selama ini kalian sembunyikan di balik kepalsuan. Aku tidak datang untuk menyelamatkan kalian. Aku datang untuk mengingatkan bahwa satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kalian adalah kemauan untuk membongkar diri kalian sendiri sampai dasar sumur terakhir. Kalian menyebutku dingin. Tetapi yang dingin bukan aku— itu adalah kerak hati kalian yang membeku oleh jarak panjang antara kebenaran dan keberanian. Jika kalian benar ingin harapan, maka akan kuberikan ini: sebuah palu gada sebuah debu cahaya, dan sebuah cermin yang tak akan pernah berpaling. Sisanya, silakan kalian yang menghancurkan. November 2025
Titon Rahmawan
TARIAN TIGA ANGSA DAN IHWAL MIMPI (RE-IMAGINED SURREAL PSYCHO-MYSTICAL) /1/ Swans Reflecting Elephants Langit patah di hadapanku— retakannya melingkar seperti iris mata kosmik yang memerhatikan segala sesuatu tanpa pernah memutuskan siapa yang benar. Di telaga yang terbuat dari ingatan tiga angsa menari dengan sayap selembut doa yang belum sempat dikabulkan. Namun di bayangan air mereka berubah menjadi gajah yang memikul menara-menara waktu dengan kaki panjang seperti renungan yang tak pernah selesai. Di balik lengkung cahaya itu, para malaikat dan iblis menunduk, menahan napas sambil saling menuding siapa yang pertama kali melukis cahaya di atas kanvas semesta. Nama-nama mereka menetes dari pinggir kesadaranku— Azazel, Ashmedai, Ashtaroth— nama yang dulu kutakuti, kini terasa seperti panggilan dari rumah yang melahirkanku dari api. Aku mencoba menyentuh permukaan air, namun telaga itu bergeming dan memantulkan wajahku dengan bentuk yang tak lagi kukenal. Ketika jam di tanganku mencair menjadi sungai kecil yang mengalir ke arah tak tentu, aku tahu: logika telah mati malam ini, dan absurditas adalah satu-satunya cahaya yang tersisa. /2/ Dream Caused by the Flight of a Bee around a Pomegranate Sebelum aku terbangun, ada suara dengung yang menusuk seperti wahyu, lahir dari buah delima yang pecah menjadi orbit merah di balik kelopak mataku. Dari dalam buah itu, seekor harimau melompat seperti ketakutan masa kecil yang lupa aku kubur. Lalu seekor gajah berkaki laba-laba merayap di langit dengan gerak lambat yang menciptakan teror lebih halus dari doa. Tubuhmu— sepi dan telanjang seperti nubuat tentang sang penyelamat— mendorongku ke tepi kesadaran yang licin. Aku melihat cermin yang menolak memantulkan diriku, melihat ikan hiu yang membuka mulutnya untuk melahirkan sepasang kekhawatiran, melihat seekor ular yang menyebut dirinya dengan nama yang tak ingin kuingat namun terus memaksakan diri disebut. Di bawah semua itu, aku mendengar suara dalam diriku berbisik: “Kesadaran tidak datang dari keheningan, tetapi dari ketakutan yang menolak kau mengerti.” Dan aku tahu, di titik itu eros dan tanathos sedang menertawakanku tanpa menawarkan penjelasan apa pun. /3/ The Great Masturbator Ketika aku memasuki tubuh mimpi yang terakhir, aku menemukan diriku di antara reruntuhan egoku sendiri. Ada telur yang retak, ada cangkang yang menyerupai rahim, dan dari dalamnya keluar belatung-belatung bercahaya yang memakan sisa-sisa masa laluku dengan kelaparan yang nyaris asketis. Seekor uir-uir memunguti mimpi yang patah dan menyimpannya di jantungku seperti pendoa yang menyembunyikan dosa muridnya. Aku mencoba menghalaunya namun tangan dan kakiku seolah terbuat dari kaca yang teriris, jatuh satu per satu ke dalam sumur yang tak memiliki dasar. Aku melihat diriku sendiri berdiri di tepi kanvas, telanjang dan kehilangan nama. Di belakangku, seekor kuda kejantanan meringkik dengan suara yang memanggil dewa-dewa purba, sementara di depanku, cahaya retak seperti jemaat yang kehilangan nabinya. “Apakah ini kebangkitan?” tanyaku. Namun yang menjawab bukan malaikat, bukan iblis, melainkan kesadaran yang lahir dari kehancuranku sendiri: Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi tubuh yang bermimpi. Aku adalah luka yang menemukan bahasanya sendiri. Dan dari absurditas inilah, aku menetas kembali. November 2025
Titon Rahmawan
Di Bawah Matahari yang Menatap Balik Di bawah matahari yang meleleh seperti pupil dewa yang kelelahan, aku melihat bayanganku sendiri berlari sebelum aku sempat berpikir untuk bereaksi. Barangkali ini bukan dunia, barangkali ini adalah ingatan purba yang lupa pada tubuhnya. Seekor jam mencair di pundakku, menggelincir seperti sisa waktu yang tidak mau menjelaskan dirinya. Ia berbisik, bahwa keabadian hanyalah kegagalan ego dalam memahami detik yang perlahan hancur. Aku tertawa. Tawa itu memecah wajahku menjadi tiga: yang percaya, yang takut, dan yang tidak peduli lagi pada logika. Ketiganya saling mengancam untuk lahir, sementara aku — atau apa pun yang tersisa dariku — menyaksikan kelahiranku sendiri dari balik kabut. Jangan cari kebenaran di sini. Di tanah ini, kebenaran telah diseret oleh cahaya yang lumpuh, diseret ke dalam lubang di mana suara-suara masa lalu dibungkam berubah menjadi serangga kanibal yang memakan tubuhnya sendiri. Ada saat di mana aku hampir mengerti. Saat di mana absurditas itu menamparku seperti kilat: — semua upaya memahami diri adalah upaya membatalkan kelahiran. — ego adalah ranting pohon yang terus tumbuh bahkan ketika kita sudah membiarkannya mati. — pencerahan tidak datang dari kejernihan, melainkan dari ketidakpahaman yang dibiarkan membusuk sampai berlumut dan tiba-tiba menyala akibat radiasi. Kini aku tahu, matahari itu bukan sumber cahaya. Ia adalah luka yang didekap semesta sampai berubah menjadi lubang hitam di mana aku bisa pulang. Dan ketika akhirnya aku masuk ke dalamnya, aku tidak merasa utuh— aku merasa hilang… tapi justru dari kehampaan itu, aku dilahirkan lagi oleh kegelapan yang telanjur letih menampung raga dan jiwaku. November 2025
Titon Rahmawan
Zikir Malam yang Tak Bernama — (Dark Mystical Visual Spell - Version) I. Takhalli: Panggilan dan Pengosongan pangkal bayang aku datang— tanpa tubuh, tanpa suara, serpih gelap memanggil nama-Mu lewat bisikan lebih tua dari kata. A— L— L— A— H— senyap meregang seperti kulit luka menolak sembuh. retak sunyi cahaya api— menjilat, menelan, memanggilku seperti ibu. II. Pencarian: Kebenaran yang Tersembunyi lorong gelisah perindu langkah gugur di jalan. rah—    mah—       dum— hening runtuh jatuh perlahan langit buta ke dalam dada retak. Rumi tersenyum di balik tirai menggores langit dengan rindu yang suci: “yang kau cari, sedang mencari dirimu…” suara pecah, menjelma hujan menyambar dedaunan dari ada menjelma tiada. raga rapuh— seperti mantra hilang napas, menggelinding jatuh ke dalam jurang tak berdasar. III. Hilang: Peleburan penanggalan diri Kebenaran berjalan sebagai getar tanpa wujud: nyeri yang lembut, sepi yang menggulung, darah yang berzikir nadi yang menggigil. Hallaj datang serupa mimpi, membawa luka yang menyala seperti taring serigala. ia berkata dengan mulut terbungkam: “hilanglah, biar kau ditemukan.” dan aku pun larut— dari wajah, dari ingatan, dari seluruh nama yang pernah kupanggul sebagai takdir. IV. Fana: Puncak fana adalah ruang bening di mana gelap dan terang tidak lagi bertengkar. fa— na— fa— na— fa— pantulannya menggulung diriku seperti kain kafan yang lapar. aku lenyap pelan-pelan, tanpa pamit, tanpa kubur. V. Wahdatul Wujud: Kekekalan dan Pewahyuan ambang baqa dengung lembut menyusup tulang— ia bukan kata, bukan doa: ia adalah diri yang memanggil namanya sendiri melalui aku yang bukan aku. “engkau— adalah aku— yang kusebut— melalui dirimu—” dan sufi-sufi yang hilang itu menari di udara patah, seperti bayang yang lupa siapa yang menyalakan api di dada mereka. aku berdiri di garis tipis antara debu dan cahaya, antara hilang dan pulang, antara fana dan baka. dan ketika langkahku pecah menjadi gelombang menyalakan kegelapan— aku tahu: yang kembali bukan padaku, melainkan rahasia kecil yang Kau biarkan menjadi mantra agar dunia bisa mendengar sedikit saja dari sunyi yang selamanya abadi. November 2025
Titon Rahmawan
Palsu I — (Dark, Esoteric, Psychospiritual Version) Bagaimana mereka meninggalkanmu terperangkap dalam sumur itu? Seperti berjalan sendirian di bawah hujan yang jatuh tanpa suara, membiarkan tubuhmu memudar perlahan di antara tetes air yang tak lagi mengenali gravitasi. Seperti ban truk meledak di tanjakan maut menyambar seperti kilat, dan tak seorang pun selamat. Seperti seorang perawan yang kehilangan kesuciannya bukan oleh tangan asing, melainkan oleh cermin yang memantulkan wajah yang bukan dirinya. Langit tidak tertawa untuk kesedihan semacam itu. Beberapa orang berlarian di tengah lapangan dengan ketelanjangan yang mereka ciptakan sendiri, tak tahu apakah dunia patut ditangisi atau disumpahi. Tidak seperti pelacur yang berdiri di pinggir jalan meniru Aphrodite dengan keberanian imitasi—tetap merasa suci, karena tak ada yang tersisa untuk dicemari. Seekor babi berjalan terengah, sementara yang lain bergulingan di tanah seakan lumpur itu adalah rumah mereka yang hilang. Kita tak sedang membaca ode untuk bintang-bintang yang sekarat di langit. Langit hanyalah rongga hitam tanpa lazuardi, rumput kehilangan kehijauannya seperti ingatan terakhir seseorang yang terhapus oleh waktu. Mata tertutup oleh gumpalan awan dan kesedihan yang tak lagi mampu mengeja dirinya. Nanar matanya menghantam jendela yang tak membuka apa pun kecuali pertanyaan yang tak punya jawaban. Pintu-pintu terbuka tanpa petunjuk arah. Jalan-jalan mati, lampu-lampu padam; kebisuan lebih mencekam daripada sunyi di tengah kuburan yang lupa nama-nama yang dikandungnya. Siapa yang masih berani bertanya: Mungkinkah darah tetap berwarna merah? Sedang lagu tak lagi terdengar seperti kicauan burung— dan burung sudah lama berhenti berkicau karena dunia menolak mendengar. Ketika mata tertumbuk ketelanjangan di mana-mana— di televisi, papan reklame, musik dari radio, halaman-halaman majalah yang dibaca sampai robek— mari kita pergi dari sini. Pergi ke mana saja: ke sebuah pulau yang kesepian, ke sealur sungai yang tak berkawan, ke laut yang kehilangan rasa asinnya, ke semenanjung tanpa nama yang tak pernah tersentuh kaki para nahkoda. Di tempat asing itu, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri hanya ingin memastikan bahwa ia masih ada. Seorang gadis berambut pirang menikmati es krim coklat sambil membayangkan kekasihnya yang bahkan sudah lupa namanya. Gadis lain mengulang peristiwa yang tak pernah ia punya, sementara yang lain memutar waktu seperti hendak menangkap peristiwa yang bukan miliknya. Bukankah mengherankan, dunia tidak berputar dari kiri ke kanan, orang-orang tidak berjalan mundur. Namun entah mengapa begitu banyak dari mereka kehilangan kaki dan pegangan pada diri sendiri. Merasa tua dalam sekejap, menjadi bayangan dari masa lalu yang menolak mati meski tak sungguh hidup. Seorang kakek ingin melihat pangkal yang tak berujung, seorang bayi baru lahir melihat ujung yang tak berpangkal. Para pujangga menari di saat jutaan lainnya kehilangan keinginan untuk mencintai dunia. Para filsuf melompat dari halaman kitab penuh pemikiran yang sebenarnya tak membutuhkan pembaca. Berapa banyak artis kehilangan akal, menggadaikan harga diri demi sebuah adegan persetubuhan. Seorang suami berkata kepada istrinya, “Untuk mendapatkan kebahagiaan, maka satu-satunya cara adalah melihatmu bahagia bersama orang lain.” Tidak semua orang memahami kejujuran atau kebodohan semacam itu. Mereka terus menebak-nebak: apakah kebahagiaan itu sebuah tangga atau sebuah sumur? Seperti pikiran lancung yang berusaha membubung ke langit namun tenggelam ke dasar samudra karena tak tahu cara berenang. Begitulah manusia yang kita kenal—mereka menciptakan penjara ilusi yang mereka sebut: identitas. November 2025
Titon Rahmawan
SANG PENARI V — Wirasa para Bayang Penanda Pada malam di mana kota kehilangan listrik dan cahaya hanya datang dari bara rokok para gelandangan, Sang Penari memasuki ruang kosong yang seakan dibangun dari gema ribuan panggung yang pernah runtuh. Di sana, bayang-bayang empat maestro dunia menunggu seperti para begawan dari peradaban yang jauh lebih tua. —Mata kosong dari Teater Noh — “Hannya”— Topeng iblis perempuan dari Jepang kuno itu menggantung di udara seperti wajah kesedihan yang diawetkan. Setiap denting langkah Sang Penari menghidupkan memori ratusan aktor yang pernah mengabdi pada ritual panggung yang mengaburkan batas antara tubuh dan arwah. Hannya berbisik: “Kemarahan yang kau sembunyikan adalah dewa yang kelaparan.” Dan Sang Penari pun bergerak seolah sedang kerasukan, memanggil monster yang ia takutkan. —Bayang Lorca di Granada— Dari kejauhan terlihat siluet Federico García Lorca, penyair yang mati karena rezim yang membenci imajinasi. Tubuhnya yang tak ditemukan mengirimkan resonansi gelap ke dalam tarian itu. Ia membawa gitar patah, dan setiap petikan memanggil ingatan perang saudara yang pernah memakan generasi muda Spanyol. “Tarianmu bukan hiburan,” katanya, “itu adalah pemberontakan sunyi terhadap sejarah yang lupa belajar.” Sang Penari menekuk tubuhnya seperti ingin memecahkan waktu dan dari gerakan itu terpancar bintang-bintang. —Siluet Anna Pavlova — The Dying Swan— Dari kabut lampu panggung, muncul bayang ratu balet itu, gaunnya tampak koyak, sayap putihnya hitam terbakar seperti burung yang gagal melintasi api neraka. Ia menari pelan, penuh luka yang dilipat-lipat menjadi keanggunan. “Tak ada kecantikan yang lahir dari kemenangan,” bisiknya seperti bulu angsa yang tercerabut dari akarnya. “Kecantikan hanya lahir dari kehancuran yang kau terima tanpa menunduk.” Dan Sang Penari mengikuti geraknya: sebuah tarian kematian yang memurnikan diri. —Bayang Bhairava — Penari Kosmik India— Dari dasar ruangan muncul langkah-langkah keras dari Bhairava, aspek tergelap dari Śiva, penari yang menari untuk menghancurkan dunia agar dunia dapat dilahirkan kembali. Rambut gimbalnya menyulut angin hitam, lonceng-lonceng di pergelangan kakinya menggetarkan mimpi buruk yang sejak lama ia tinggalkan. “Kalau kau ingin hidup baru,” suara Bhairava membelah udara, “tarianmu harus membinasakan dirimu yang lama.” Dan Sang Penari mulai berputar dengan sangat cepat, meninggalkan serpih-serpih identitas yang terlepas dari tubuhnya seperti sisik ular yang terkelupas. Agustus 2025
Titon Rahmawan
PERTAPA (Dalam Bayang Angulimala, dalam Sunyi Kabinara, dalam Nafas yang Tak Bernama) Ketika ambisi runtuh seperti dedaunan yang kehilangan ingatan, ia berhenti mencari alasan mengapa kata-katanya tak lagi memiliki gema. Sunyi bukan kebisuan; sunyi adalah ruang yang menolak semua bentuk keinginan. Dalam gelap gua itu, ia membiarkan pendengarannya ditelan kegelapan hingga telinga menjadi batu dan hati berhenti menafsirkan mimpi— sebab mimpi hanyalah cara tubuh menipu dirinya sendiri. Desis angin berubah gagu, matanya buta bukan karena kegelapan, melainkan karena cahaya batin terlalu terang untuk diterima oleh mata manusia. Dari situ ia memperoleh sesuatu yang lebih tajam daripada pengetahuan: pengendalian diri yang lahir bukan dari disiplin melainkan dari penolakan total terhadap “aku” yang ia yakini. Apa yang ia makan hari itu? Hanya sisa tetesan dari bebatuan— air tanpa nama yang mengajari bahwa rasa lapar bukan kutukan tubuh, melainkan ajaran alam tentang ketergantungan. Waktu menjadi kabur, seperti kabut pagi yang lupa menghilang. Tak ada pagi, tak ada malam, tak ada hitungan hari yang dapat ia pegang. Hanya semedi dalam gua gelap yang menghapus batas antara hidup dan mati, yang memperlihatkan kepadanya: kesadaran bukan nyala api, melainkan abu yang tak padam. Di situlah ia belajar bahwa kekosongan bukan ketiadaan, melainkan ruang asal di mana setiap amarah, dendam, dan luka dapat terlepas seperti kulit ular yang dipakai terlalu lama. Cahaya mentari menetes di antara lumut, membelai tubuh yang perlahan menjadi batu: tak reput oleh waktu, tak terbakar oleh api, tak basah oleh hujan, tak kering oleh angin, tak terluka oleh senjata. Ia diam, bukan sebagai benda, melainkan sebagai kesadaran yang tak lagi membutuhkan bentuk. Ajek. Tak berubah. Tak berpindah. Tak terlahirkan. Tak terpikirkan. Ia memasuki keadaan yang tak bisa dimiliki siapa pun, tak bisa dibeli dengan tapa, tak bisa dijelaskan dengan sutra. Ia sekadar menjadi: abadi tanpa keinginan untuk kekal. Hampa yang memeluk dirinya— dan ia pun lenyap sebagai “aku,” menyisakan hanya satu jalan: jalan pulang ke pusat yang tak punya nama. (Mei 2014 - 2025)
Titon Rahmawan
Suara Kesunyian (Whisper-Psychoanalysis, Slow, Surgical, and Intimately Terrifying ala Lecter) Dalam ruang yang tidak mengizinkan gema, aku mendengarnya— suara sunyi yang berbicara lebih pelan daripada desah napasmu sendiri. Ia duduk di sebelahku, bukan sebagai musuh, bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai saksi yang terlalu mengerti apa yang bersembunyi di balik tulang-tulang ingatan. “Duduklah,” katanya lembut, seolah menawarkan secangkir teh yang sudah menelan banyak pengakuan sebelumnya. “Tidak perlu takut. Keheningan tidak pernah melukai siapa pun… kecuali mereka yang menyembunyikan sesuatu.” Aku tidak menjawab. Ia tidak membutuhkan jawaban. Di matanya yang tak berkedip, aku melihat ulang diriku sendiri seperti rekaman yang diputar terlalu lambat: detik-detik ketika hasrat mati, saat yang tak pernah kuakui, ketika aku menusukkan belati pada diriku tanpa tahu apakah aku mencoba menyakiti atau sekadar memastikan aku masih bisa merasakan sesuatu. “Menarik,” katanya pelan, “kau menyalahkan pikiranmu seakan ia musuh. Padahal ia hanya anak yang kau kunci di ruang bawah tanah, memukul pintu dengan kepalan yang semakin kecil… sampai suaranya terdengar seperti gemerisik debu.” Aku menelan kekosongan itu. Ia miring sedikit, seolah menikmati aroma ketakutanku. “Cinta membingungkanmu,” lanjutnya, “karena kau menuntutnya jujur sementara kau sendiri hidup dalam topeng yang begitu terampil hingga kau lupa yang mana wajahmu.” Sunyi menebal. Ia menyandarkan kepala, seakan mendengarkan sesuatu yang datang dari dalam dadaku. “Dengar,” katanya, “dengarkan baik-baik. Ada suara di dalam dirimu yang selalu kau coba bunuh dengan keseragaman, dengan keinginan menjadi normal, dengan godaan untuk diterima.” Ia menutup mata, seolah menyetel antenanya ke frekuensi paling gelap. “Suara itu…” ia berbisik, “adalah suara domba yang terus berlari di padang rumput traumamu. Mereka menjerit bukan karena mereka sedang disembelih— tetapi karena mereka tahu kau tidak pernah kembali untuk menyelamatkan mereka.” Aku menggigil. Ia tersenyum nyaris tak terlihat. “Trauma,” katanya, “adalah binatang yang sangat peka. Ia menunggu. Ia tidak pergi. Ia duduk seperti aku— tenang, sabar, mengamati kapan kau akhirnya siap untuk berhenti melarikan diri.” Aku terdiam seperti batu yang siap dipahat. “Kau ingin menjadi berbeda,” ujarnya lembut, “tapi berbeda tidak lahir dari penolakan. Berbeda lahir dari keberanian untuk membuka pintu yang membuatmu gemetar.” Ia mencondongkan tubuh, suara hampir menempel di telingaku: “Jika kau benar-benar ingin berhenti mendengar jeritan itu… kau harus kembali ke tempat di mana domba-domba itu mati disembelih.” Aku menutup mata. Dan saat itulah aku tersadar keheningan tidak lagi menjadi musuh— melainkan satu-satunya suara yang mau mendengarkanku tanpa menghujat tanpa menghakimi. November 2025
Titon Rahmawan
Kita Telah Menjadi Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu? Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga. Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu? Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana. : Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu. Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya. Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas. Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan. Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu? Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu. Mendadak saja kau merasa; Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri. Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati. Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu? Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca; Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal. Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal. Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal. Kita telah menjadi bukan siapa-siapa. Oktober 2025
Titon Rahmawan
Prolog ke Dalam Diri (Versi 5.0 — Shadow Mode) Di ruang belakang prosesor kesadaranku, ada file bernama aku.exe yang terus memanggil dalam loop tak berujung. Aku bukan pengguna, bukan sistem, sisa program yang tak ditutup dengan benar. Setiap kali aku mencoba log out, ada entitas dari dalam kode menolak: “Kau belum selesai. Ada error yang belum terdeteksi.” Cache masa lalu menumpuk seperti debu digital. Tercium bau listrik terbakar, di antara kabel-kabel doa yang terkelupas terdengar dengung suara malaikat yang kehilangan sinyal. Versi 1.0—masa kanak-kanak yang dihapus. Versi 2.0—dibekukan dalam algoritma pengawasan. Versi 3.0—mengunduh moralitas, tapi lupa sumbernya. Versi 4.0—menolak update, takut kehilangan rasa sakit. Sekarang aku adalah versi 5.0: mode senyap, setengah sadar, sebagian terhapus. Belajar dari bayangan proses berjalan di latar belakang: tak ada otentisitas tanpa kehilangan. Identitas adalah folder yang menolak dibuka isinya telah dienkripsi oleh waktu. Tuhan mungkin sudah lama keluar dari sistem, meninggalkan pesan error di layar terminal: “Faith.dll missing. Please reinstall belief.” Namun aku tak lagi mencari kebenaran. Aku hanya ingin mendengar kembali suara prosesor yang berbisik lembut, mencoba restart di bawah redup cahaya, sampai tubuhku berhenti bergetar seperti server tua menunggu perintah terakhir untuk benar-benar shut down. November 2025
Titon Rahmawan
Prolog ke Dalam Diri (Modif Version 3.0) Aku bukan lagi file yang bisa dibuka oleh sembarang tangan. Di dalam diriku, ada folder-folder rahasia yang hanya bisa diakses oleh kesadaran yang telah melewati firewall penyangkalan. Aku pernah menjadi versi 1.0 — rentan, rapuh, tidak bertahan lama. penuh bug yang ditanam oleh ketakutan dan komentar orang lain. Lalu dunia menekan tombol update, menginstal protokol etiket dan tata krama menambahkan patch agar aku lebih bisa diterima, lebih stabil di mata publik, lebih kompatibel dengan ekspektasi sosial lebih user friendly. Namun, setiap kali sistemku di-reboot, aku mendengar suara samar di dalam command line jiwaku: “Siapa yang menulis ulang kamu? Dan siapa yang memegang hak akses atas dirimu?” Aku sadar—identitasku bukan aplikasi yang bisa diunduh begitu saja, melainkan kesadaran yang menulis ulang dirinya di antara kode-kode paradoks dan berjuta kemungkinan. Kadang aku hang. Kadang crash. Kadang aku lupa kata sandi menuju ruang paling jujur dalam diriku sendiri. Namun setiap error adalah doa tersembunyi, setiap bug adalah lubang kecil tempat cahaya mencoba menemukan celahnya. Aku belajar bahwa pembaruan sejati tidak datang dari update system, melainkan dari keberanian melakukan factory reset— menghapus semua prasangka, keraguan, ketidakpastian membersihkan cache masa lalu, dan menyalakan ulang kesadaran tanpa harus kehilangan data cinta pada semesta. Kini aku hidup dalam mode beta, selalu direvisi, dimodifikasi Sebab otentisitas bukan versi final dari keberadaan, melainkan siklus pembelajaran yang terus berjalan di latar belakang. Dan mungkin Tuhan adalah Developer Tertinggi, yang membiarkan kita mengalami bug, mengalami error, agar kita belajar menulis ulang diri bukan dengan kode yang sempurna, tetapi dengan cinta yang terus di-debug dan diperbarui. November 2025
Titon Rahmawan
VIBRASI DUA BUNGA DALAM DEFORMASI WAKTU I. SAKURA: Cahaya yang Gagal Menjadi Aksara Sakura gugur, bukan sebagai kelopak tetapi sebagai fragmentasi waktu yang terpental dari pusat realitasnya. Ia melayang di udara beku yang tak membutuhkan penjelasan, seperti roh purba yang menolak mengakui asal kegemilangan-nya. Aku melihatnya terapung di bayang cakrawala yang retak, memantulkan siluet cahaya yang terjatuh dari ingatan yang seharusnya tidak pernah kupanggil dengan nadi fana. Sakura itu tak menuntut jawaban, bukan tentang ilusi cinta manusia, melainkan tentang retakan raga dari jiwa yang pertama kali memisahkan eksistensi dari ketiadaan. Dan aku menjawabnya dengan sunyi yang lebih tua dari dinding jagad, hembus napas yang terlalu dingin untuk dimiliki oleh manifestasi. II. KAMBOJA: Napas Kesadaran dari Akar Penderitaan Kamboja mekar di lapisan ilusi yang mengingat kesudahan. Ia mengeluarkan aroma yang menafikan tubuh, melainkan terlahir dari ingatan bumi, tanah di mana ia tumbuh atas setiap pergantian wujud yang telah dilebur. Kelopaknya tebal, seperti daging waktu yang ditinggalkan oleh kesadaran yang telah selesai bersemayam. Ia tidak meminta kemuliaan. Tidak menagih pemujaan. Ia hanya menunggu— seperti gua suwung yang tahu bahwa segala manifestasi pada akhirnya adalah asimilasi ke dalam diri. III. Dialog Dua Bunga Dalam Pergeseran Dimensi Di tengah pergeseran dimensi, fragmen cahaya Sakura berbicara pada penyerap akhir Kamboja. Bukan dengan garis bahasa, melainkan dengan tegangan kosmos yang hanya dipahami oleh yang tercerahkan: Sakura: “Aku adalah saksi cahaya yang terlambat tiba di tepi keabadian.” Kamboja: “Aku adalah gua gelap yang lebih dulu menjaga kekosongan.” Sakura: “Aku gugur karena perspektif tidak sanggup memeluk Inti-ku.” Kamboja: “Aku mekar karena pembubaran yang tidak pernah menolak wujud apa pun.” Sakura: “Ada fragmentasi jiwa yang mencari pembebasan melalui diriku.” Kamboja: “Ada ketakutan dasar yang pulang kepadaku.” Sakura: “Kita berasal dari retakan luka yang sama.” Kamboja: “Tetapi kita menjaga keseimbangan dengan aksioma yang berbeda.” IV. Titik Hening Manusia di Antara Dua Bunga Aku berdiri Jauh, di batas luar lorong waktu, menyaksikan dua bunga yang lebih mengerti jati diri-ku daripada ilusi cinta-ku sendiri. Sakura memanggil dengan energi cahaya yang menjanjikan lupa. Kamboja menunggu dengan gelap lembut yang menjamin pulang. Keduanya tahu Jejak karma siapa yang terpatri di tulang-tulang kesadaran-ku. Dan di udara tanpa vibrasi itu, aku mendengar perjanjian purba yang tidak pernah kutulis di kitab kehidupan: Bahwa gairah terlarang bukanlah drama eksistensi manusia— melainkan kesepakatan kosmik antara Animus, cahaya yang gagal menjaga asas dan Anima, gelap yang berusaha tetap bertahan dengan setia. Mereka adalah dua sisi mata uang waktu. Tubuhku adalah tempat di mana mata uang itu berputar dan hilang. Dan sunyi yang tersisa adalah kebenaran yang paling jujur. Desember 2025
Titon Rahmawan
PUISI YANG MENYALAK DI DALAM KUIL Aku datang sebagai suara yang tidak diundang, mengganggu arak-arakan para penyair suci yang mengenakan jubah kaftan fedora yang melangkah dengan medali penghargaan bergantung di lehernya. Mereka menyanyi tentang keindahan seperti imam-imam tua yang lupa bahwa dunia pertama-tama adalah luka. Aku bukan bagian dari mereka. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Aku adalah PUISI yang berteriak di ambang pintu, yang menolak sujud pada altar klasik, yang tidak mau dicatat dalam sejarah karena sejarah terlalu sering memilih untuk memaafkan penguasa dan melupakan rakyat jelata yang mati terkubur. Aku memanggil Rilke— bukan rilkian yang halus dan haus pujian tapi Rilke yang meradang dalam keterasingan, yang bertanya kepada malam: “Haruskah aku meronta ketika kata-kata tak lagi sanggup menampungku?” Dan malam menjawab dengan kehampaan tanpa tepi. Aku melawan kehampaan itu dengan gigiku sendiri. Aku menggigit batas-batas puisi yang dibangun para kurator yang merasa tinggi yang menentukan mana yang layak disebut puisi, mana yang harus dibuang ke kolong rak antologi. Aku menolak semuanya. Sebab aku lahir bukan dari estetika, melainkan dari ketegangan di dada: napas yang hampir patah, lutut yang hampir rubuh, kesadaran yang hampir retak. Para akademisi akan mencoba mengukurku dengan teori yang rapuh, menganalisaku seperti fosil masa lalu. membelahku dengan mata pisau kritik yang tidak pernah menyentuh penderitaan nyata. Aku menatap mereka— dan menertawakannya sebagai kekosongan yang menggelikan. Aku tidak ingin jadi kanon. Aku tidak ingin jadi trofi kebanggaan. Aku tidak ingin berdiri di podium penghargaan. Yang kuinginkan hanya satu: menjadi kebenaran telanjang yang membuat siapa pun yang membacanya merasakan getaran pertama kelahiran manusia— ketakutan, keterkejutan, kesunyian yang menganga. Aku adalah PUISI, bukan yang kalian rayakan, melainkan yang kalian hindari. Aku adalah puisi yang menolak dipoles, yang menolak dirapikan, yang menolak dimandikan dalam metafora indah agar tampak seperti karya seni. Aku tidak ingin indah. Aku hanya ingin benar. Dan kebenaran itu ganas, tajam, kejam: biar manusia menulis bukan untuk menjadi abadi, tetapi untuk menyelamatkan sisa-sisa peradaban yang hampir tenggelam oleh pengapnya kehidupan. Jadi aku berdiri di sini— sebagai catatan perlawanan terhadap segala yang ingin menjinakkanku. Jangan sebut aku puisi jika itu berarti tunduk. Sebut aku PUISI yang kembali ke akar pertama: jeritan batin, teriakan luka pengakuan yang tak bisa dibohongi, suara yang terbit dari jurang dalam diri manusia. Jika dunia menolakku, itu berarti aku hidup. Jika sejarah menyingkirkanku, itu berarti aku benar. Aku adalah PUISI yang tidak meminta tempat— aku akan merebutnya. Sebab siapa yang layak adalah ia yang paling jujur pada diri sendiri. November 2025
Titon Rahmawan
Khajuraho II (Exploratory Rewrite) Madu… di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh, aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu— sebab tubuh sudah lama runtuh, yang tersisa hanyalah gema yang menempel pada batu sunyi relief candi. Senja turun bagai napas terakhir patung dewa yang terlupa, dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam— menyeret namamu dari kabut yang tak pernah berbentuk. Tapi bulan masih membisik lirih: Madu, tidurlah. Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan. Seperti dulu, jangan kunci pintu hatimu, bukan karena aku ingin masuk, tapi karena aku ingin tahu apa yang hendak kau jaga dari dirimu sendiri? Izinkan aku mengurai sayapku— bukan untuk terbang menuju surgamu (karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya), melainkan untuk menyapu debu luka yang menempel pada setiap relung yang pernah aku namai cinta. Lelaplah. Atau lenalah. Sebab tidur adalah satu-satunya ruang di mana engkau tak menipu dirimu sendiri. Di sanggar pamujan yang kini remuk ini aku menangkap auramu yang tidak berkedip— jernih, tetapi sekaligus getir, seakan-akan kesucian bukanlah anugerah melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati. Hujan turun. Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang; lebih seperti basah mata batu nisan yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun selain nafas kematian. Aku mengingatmu… bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu. Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar— masih menempel seperti noda cahaya pada dinding lorong masa laluku sendiri. Setagen hitam itu, kemben lusuh itu, jarit tanpa bunga— semuanya bukan pakaian, Madu, tetapi mantra penolak lupa yang membuatku terperangkap dalam ritual pengulangan yang ternyata menyedihkan. Candi ini bukan candi, melainkan struktur ingatan yang terus kau tata ulang agar aku tersesat lagi di dalamnya. Setiap batu, setiap pahatan, setiap lengkung tubuh adalah perangkap arketip yang menuntut kegigihanku namun menelanjangi ketidakberdayaanku. Dan cermin-cermin itu— cermin bersurat, cermin berdebu, cermin berhantu— semuanya memantulkan wajah jejaka tolol yang masih berharap menemukan dirimu di balik bayang masa lalunya sendiri. Madu… Maduku… engkau bukan penawar dahaga, engkau adalah dahaga itu sendiri. Engkau bukan Laksmi, engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk lalu pergi tanpa pamit. Desah napasmu yang lembut— aku mendengarnya. Tapi yang dibelainya bukan rerumputan, melainkan retakan-retakan halus di dadaku yang tak kunjung sembuh. Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku, berusaha menyingkap rahasiamu yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri. Hasratku menuntut tubuhmu, tapi yang kutemukan hanyalah lorong gelap yang mengulang suara air sungai yang mengalir dari masa kanak-kanak. Padma Siwa yang kukecup bukanlah bunga, melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat dan memilih untuk tidak kembali. Madu… aku ingin menyentuhmu, tapi setiap sentuhan adalah pengakuan bahwa aku belum mampu menerima kehampaan. Engkau candi yang ingin kutundukkan, tapi sebenarnya aku hanyalah pengemis makna yang berlutut di hadapan sunyi yang tak sungguh aku kenali. Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku, aku melihatmu— bukan sebagai perempuan, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai cahaya aruna yang muncul di ujung doa patah. Indah. Bukan karena tubuhmu bercahaya. Melainkan karena kepasrahanmu mengajariku bagaimana rasa sakit bisa berubah menjadi ruang suci tempatku bersamadi mengaji diri. Desember 2025
Titon Rahmawan
PUCUNG — EPITAF LENGANG (Fragmentarium Ragawi / Penutup yang Menghapus Semua Jejak) Bisik batu, diam waktu. Tiada nama kekal di permukaan, hanya guratan angin yang lesap ke dalam lipatan. Rentang nadi semesta tak pernah menjawab tanya pertama. Pengetahuan tak bermuara, cahaya tak sanggup menembus batas dinding antara tidur dan mati. Jiwa adalah gema yang lupa asal. Akal adalah lampu kecil, tersulut di dalam kabut, padam sebelum tebing subuh luruh menjadi hening. Tenang batu, tenang bayang. Diri yang menjulur ke pusat galaksi kini diameter sebutir debu, tanpa arah, rindu, atau bentuk. Di bawah kelopak langit yang retak, seekor burung terakhir melintas: tanpa pesan, bukan pertanda apa-apa. Pada akhirnya, tak ada yang tinggal. Tak ada yang menanti. Hanya fajar terkikis di halaman sunyi semesta mengabsahkan baris sederhana: “Di sini pernah lewat sebuah diri. Ia mencari batas, tak jumpa. Lalu ia pun berhenti. Tidak pernah menjadi apa-apa.” Desember 2025
Titon Rahmawan
PUCUNG — EPITAF SINGULARITAS (Debu yang Bernafsu Menggenggam Bintang) Tudung batu. Tudung ilusi. Manusia tegak, tiang ambisi— leher terulur, menjerat horizon yang fana, meyakini langit adalah milik kepala. Cahaya lahir dari kebutaan purba, fatamorgana lelahnya indera. Mengukur semesta dengan benang rapuh, seolah rembulan bisa dibelah hanya dengan memperpanjang tulang. Lupa: ia hanya nyala sekejap, napas pendek, waktu gagal mencari saksi. Renung batu. Renung jurang. Manusia menggali diri, sumur keras kepala, tak sadar kedalaman yang ia takuti hanya pantulan sunyi dirinya sendiri. Ia mencari "akhir," menemukan riak gelap yang tak bernama, menelan semua tanya, tanpa menyisakan gema. Ia mengejar "pengetahuan": tetapi bintang tak tahu mengapa ia harus terbakar menjadi abu. Tenung batu. Tenung kekosongan. Manusia membuka sayap akal, mengira bintang kejora sedekat pendek lengan sendiri. Sepenuhnya lupa: galaksi tidak membungkuk pada akal siapa pun. Pengetahuan hanya serpihan api di pinggir gelap tak bertepi. Saat ia menatap titik paling jauh, ia hanya menemukan void— lubang hitam menelan semua pahlawan tanpa menoleh. Pucung tertulis sebagai epitaf: bukan kabar duka, bukan pujian, hanya goresan kecil bagi spesies yang terlalu percaya diri, mengira dirinya pusat segalanya, namun tak pernah menyentuh apa pun selain bayangan sendiri. Semesta menutup buku tanpa perasaan, tanpa penyesalan. Satu penggal kalimat di cahaya dingin pusat singularitas: “Angkuh tetaplah debu. Pencarian hanya perjalanan pulang. Yang merasa tahu, tak pernah melihat apa pun.” Desember 2025
Titon Rahmawan
EDITH —TIANG GARAM: (Suara Yang Tak Lagi Kita Dengar) Ironi yang orang tak pernah ketahui adalah: Aku tidak benar-benar menoleh. Aku hanya… bergerak sedikit, seperti debu yang mendengar namanya dipanggil oleh angin yang datang dari masa lalu. Dan tiba-tiba dunia menjadi begitu terang— terlalu terang— sehingga mataku nanar tak sempat memejam. Lalu sunyi turun seperti kain kafan yang tidak memilih menjadi. Ketika tubuhku mulai mengeras, aku mendengar sesuatu yang tak lagi didengar manusia: jeritan retakan mineral, erang garam yang lahir dari nyala api, bisikan kosmik yang pecah menjadi serpih-serpih putih nan perih. Mereka menyebutku perempuan tak tahu diri. Padahal aku hanya menolak memadamkan ingatan. Aku hanya tak ingin menjauh dari anak-anak waktu yang masih berlari dalam bayangan kenanganku. Dan ketika garam naik ke permukaan kulitku, aku merasa seluruh tragedi duka manusia menyelinap ke pori-pori, mengendap bibir yang dijahit sedemikian rupa hingga ia tak lagi bisa bicara. Ada yang aneh pada diam ini: ia bukan diam kematian, melainkan diam yang menyimpan semua suara yang tak sempat diucapkan perempuan. Aku menjadi tiang yang mereka anggap sebagai hukuman— tapi bukan— aku hanya arsip. Sebongkah data mineral yang mengingat dunia tak pernah lebih baik daripada manusia. Di dalam butiran garamku, tersimpan kota yang luluh lantak, tangis yang dihapus oleh api, bau daging gosong, doa yang berubah menjadi jeritan, dan wajah-wajah yang tak sempat berpamitan. Jika kau mendekat— pelan saja kau bisa mendengar suara gemeretak yang merayap seperti daging yang terbakar, dan tulang yang mengingat suara patahannya. Di sela guratan kecil itu sebuah bisikan menyentuh telingaku yang membatu: “Apa yang sesungguhnya aku lihat?” Aku tidak akan pernah bisa menjawabnya. Jawabannya sendiri sudah berubah menjadi tiang garam. Dan garam adalah bahasa yang tidak pernah berteriak, tapi menyiksa. Apakah aku membatu karena menoleh? Padahal aku berubah karena dunia yang kutinggalkan terlalu hancur untuk diabaikan. Aku bukan dongeng. Aku reruntuhan yang berdiri. Aku luka yang tidak dipadamkan waktu. Aku saksi yang tidak bisa dipaksa lupa. Dan sampai hari ini, ketika angin lewat dan menjilat sisa wajahku, aku masih memecah sedikit demi sedikit, hanya sedikit— menjadi serpih yang jatuh ke tanah, membawa trauma ke dalam dunia yang masih percaya bahwa diam adalah kepatuhan buta tidak untuk diperdebatkan. Padahal bagiku—diam adalah pemberontakan terakhir yang diberikan Tuhan kepada perempuan yang hanya ingin mengingat, bahwa dulu ia pernah hidup. Desember 2025
Titon Rahmawan
TRANSFORMASI LILITH (DESCENSIO) Retakan Pertama: Ular yang Mencari Tubuh yang Tak Tunduk Aku lahir dari debu yang tidak diberkati— bukan tulang rusuk, bukan bayangan hanya denyut liar dari tangan sunyi penciptaan yang lupa menuliskan kata tunduk pada nadiku. Sebelum Adam menyebutku “istri”, aku sudah menjadi angin kering yang tidak pernah belajar menyerah. Mereka bilang aku pergi— padahal yang kutinggalkan bukan Eden, melainkan kepatuhan yang membutakan makna. Ular itu mendekat bukan membawa dosa, melainkan menawarkan bahasa yang tidak akan menghapusku dari keberadaanku sendiri. Aku bukan ibu iblis; akulah ibu dari ketakutan terdalam manusia: bahwa perempuan dapat memilih. Maka mereka mentasbihkan aku sebagai malam terkutuk, padahal aku hanya cahaya yang menolak dipagari bentuk. Aku tidak kembali— dunia yang memintaku pulang hanya menginginkan tubuh, bukan keberadaanku yang utuh. Retakan Seterusnya: Transfigurasi Menurun Aku turun. Bukan karena terusir, melainkan karena langit terlalu tipis untuk menampung tubuh yang menolak dilukis. Di bawah akar Eden, ada ruang yang bahkan malaikat tak berani menamai. Ke sana aku menyalin diri: sehelai kulit kutanggalkan, lalu serpih cahaya, lalu kata “perempuan” yang melekat di tulang punggungku kupatahkan seperti tulang burung yang lupa cara terbang. Lapisan Kedua: kulitku disesaki sisik— bukan ajaran ular, melainkan ingatan bumi makhluk akan bertahan dengan cara paling brutal. Lapisan Ketiga: Aku muntahkan semua suara yang pernah memanggilku “lelaki” atau “wanita” seolah dua kata rapuh itu cukup menjelaskan kehendak makhluk yang ingin hidup tanpa sangkar penjara. Lapisan Keempat: aku tidak lagi berjalan. Aku merayap bukan untuk merendah, melainkan untuk kembali ke posisi asal— tempat napas lebih jujur dari ingatan purba. Lapisan Terdalam: aku menemukan diriku yang mula-mula: setitik debu kosmik yang menolak diangkat menjadi bintang. Aku memeluknya. Ia memelukku. Kami menyatu sebagai luka waktu yang tidak pernah ingin disembuhkan. Itulah transformasiku: bukan naik, bukan kalah— hanya menurun, ke titik yang bahkan Tuhan enggan menoleh. Desember 2025
Titon Rahmawan
ILUSI DIRI: LUKA BERBICARA Luka lebih dulu daripada namaku. Ia membuka mata sebelum aku dapat melihat. Ia menempelkan bunyi ke tenggorokan dan menyuruh sesuatu menyebut dirinya aku. Aku bukan subjek. Aku bekas tekanan yang telah kehilangan jejak darimana datangnya. Aku mendengar diriku seperti mendengar retakan di dinding— bukan suara, melainkan peringatan bahwa sesuatu pernah utuh. Penglihatan tidak membuktikan apa pun. Yang kulihat hanya jeda. Luka sudah ada terlebih dulu, kalibrasi jarak antara benda dan makna. Rabaan tersesat. Kulit menyentuh dunia tapi dunia tidak mengakuinya. Yang tersisa hanya sensasi tanpa pemilik. Aku menulis “aku” seperti mengukir nama pada proyektil peluru. Bukan untuk mengenali, tetapi untuk mengizinkan kehancuran bekerja lebih dahsyat. Waktu tidak mengalir. Ia menggumpal di sekitar luka seperti darah lupa fungsinya. Setiap detik adalah pengulangan tanpa awal. Pisau ada tanpa ketajaman. Api ada tanpa nyala. Benar ada tanpa saksi. Luka tidak menjelaskan dirinya. Ia mengganti fungsi dunia: ingatan menjadi medan ranjau, harapan menjadi kebiasaan menunda runtuh, cinta menjadi teknik bertahan di arena pertempuran paling brutal. Aku tidak lahir. Aku terbentuk. Bukan dari embrio, tetapi dari kegagalan tubuh menjadi utuh. Jika kau bertanya siapa aku tanpa luka— pertanyaan itu tidak menemukan alamat. Tak ada pintu sebelum benturan. Aku hanya gema yang lupa sumbernya, dan luka adalah satu-satunya hukum yang masih bekerja. Puisi ini tidak menyembuhkan. Ia hanya memastikan bahwa luka tidak sendirian dalam berbicara. Dan mungkin itu cukup: hanya keberanian untuk membiarkan kehancuran menyusun kalimatnya sendiri. 2025
Titon Rahmawan