Jatayu Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Jatayu. Here they are! All 7 of them:

Nyokap gue bilang kalau rasa sakit itu ada masanya. Nanti seiring waktu, luka di hati gue akan sembuh dengan sendirinya. Gue kira itu benar, Ras. Tapi ternyata, gue nggak bisa nunggu waktu buat nyembuhin diri gue sendiri." - Jatayu
Diego Christian (Travel in Love)
I am the most unhappy man alive, Lakshmana," said Rama. "Giving up the kingdom, I came to the forest, and here I have lost my Sita. This Jatayu, who was a second father to us, has, laid down his life for my sake. Why, if I fell into the fire, I fear my bad luck will put even the fire out. If I fell into the sea, I fear it would dry up. What a terrible sinner I am, Lakshmana! Who knows, one day I might lose you too, Lakshmana." Embracing Jatayu, he said: "O, my father! Really, did you see Sita?" But Jatayu lay speechless on the ground. After a few moments Jatayu spoke again in a low voice: "Be not afraid, Rama. You will surely find Sita. No harm will come to her. Regaining the treasure you have lost, you will greatly rejoice." With these words, he spat out blood and gave up life.
C. Rajagopalachari (Ramayana)
Jatayu
Maple Press (Ramayana Tales (Illustrated))
Jatayu,
Maple Press (Ramayana Tales (Illustrated))
Khajuraho II (Exploratory Rewrite) Madu… di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh, aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu— sebab tubuh sudah lama runtuh, yang tersisa hanyalah gema yang menempel pada batu sunyi relief candi. Senja turun bagai napas terakhir patung dewa yang terlupa, dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam— menyeret namamu dari kabut yang tak pernah berbentuk. Tapi bulan masih membisik lirih: Madu, tidurlah. Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan. Seperti dulu, jangan kunci pintu hatimu, bukan karena aku ingin masuk, tapi karena aku ingin tahu apa yang hendak kau jaga dari dirimu sendiri? Izinkan aku mengurai sayapku— bukan untuk terbang menuju surgamu (karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya), melainkan untuk menyapu debu luka yang menempel pada setiap relung yang pernah aku namai cinta. Lelaplah. Atau lenalah. Sebab tidur adalah satu-satunya ruang di mana engkau tak menipu dirimu sendiri. Di sanggar pamujan yang kini remuk ini aku menangkap auramu yang tidak berkedip— jernih, tetapi sekaligus getir, seakan-akan kesucian bukanlah anugerah melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati. Hujan turun. Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang; lebih seperti basah mata batu nisan yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun selain nafas kematian. Aku mengingatmu… bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu. Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar— masih menempel seperti noda cahaya pada dinding lorong masa laluku sendiri. Setagen hitam itu, kemben lusuh itu, jarit tanpa bunga— semuanya bukan pakaian, Madu, tetapi mantra penolak lupa yang membuatku terperangkap dalam ritual pengulangan yang ternyata menyedihkan. Candi ini bukan candi, melainkan struktur ingatan yang terus kau tata ulang agar aku tersesat lagi di dalamnya. Setiap batu, setiap pahatan, setiap lengkung tubuh adalah perangkap arketip yang menuntut kegigihanku namun menelanjangi ketidakberdayaanku. Dan cermin-cermin itu— cermin bersurat, cermin berdebu, cermin berhantu— semuanya memantulkan wajah jejaka tolol yang masih berharap menemukan dirimu di balik bayang masa lalunya sendiri. Madu… Maduku… engkau bukan penawar dahaga, engkau adalah dahaga itu sendiri. Engkau bukan Laksmi, engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk lalu pergi tanpa pamit. Desah napasmu yang lembut— aku mendengarnya. Tapi yang dibelainya bukan rerumputan, melainkan retakan-retakan halus di dadaku yang tak kunjung sembuh. Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku, berusaha menyingkap rahasiamu yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri. Hasratku menuntut tubuhmu, tapi yang kutemukan hanyalah lorong gelap yang mengulang suara air sungai yang mengalir dari masa kanak-kanak. Padma Siwa yang kukecup bukanlah bunga, melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat dan memilih untuk tidak kembali. Madu… aku ingin menyentuhmu, tapi setiap sentuhan adalah pengakuan bahwa aku belum mampu menerima kehampaan. Engkau candi yang ingin kutundukkan, tapi sebenarnya aku hanyalah pengemis makna yang berlutut di hadapan sunyi yang tak sungguh aku kenali. Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku, aku melihatmu— bukan sebagai perempuan, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai cahaya aruna yang muncul di ujung doa patah. Indah. Bukan karena tubuhmu bercahaya. Melainkan karena kepasrahanmu mengajariku bagaimana rasa sakit bisa berubah menjadi ruang suci tempatku bersamadi mengaji diri. Desember 2025
Titon Rahmawan
Khajuraho III (Reinkarnasi Suwung) Khajuraho, di tikungan malam yang menggantung seperti dupa kehilangan napas, aku kembali menapaki jejak yang tak mau pudar. Retakan waktu yang kau tinggal sebagai isyarat bahwa sunyi pun dapat berubah menjadi tubuh —dan tubuh dapat menjadi kutukan yang tak pernah pergi. Madu, engkau bukan lagi perempuan, engkau serpih trauma yang mengapung di atas pusaran batin, suara samar dari lorong yang menelan, mendorong, memuntahkan, lalu menarikku kembali seperti arwah yang lupa jalan pulang. Di pelataran candi batin ini, aku mendengar getar yang dulu disebut hasrat: kini ia hanya bunyi gending rusak yang dipetik jari-jari waktu di atas batu-batu yang tak pernah selesai kautata. Gending yang pernah memancing nafsu, kini hanya menyalakan kabut luka yang menolak mati. Lelaplah, Madu. Atau lenalah engkau di antara reruntuhan ingatanku. Sebab malam ini, aku tidak mencarimu sebagai tubuh, melainkan sebagai mantra yang tercecer dari upacara purba yang gagal. Wajahmu, yang dulu kutatap dengan gairah jejaka, kini kembali sebagai bayangan arkais di permukaan sendang kesadaranku yang paling keruh. Bukan paras: melainkan peringatan bahwa segala yang kusentuh membawa diriku lebih dalam ke liang yang ingin kulupakan. Kembenmu, jarit lusuhmu, setagen yang longgar itu— semua telah bergeser dari erotika menjadi liturgi luka. Setiap lipatan kainmu bukan lagi undangan, melainkan aksara purba yang tak bisa kubaca tanpa gemetar. Betapa jenaka dahulu coreng-morengmu, kini menjadi topeng dewa kecil yang menjaga pintu ke ruang di mana aku terperangkap antara rindu dan penolakan. Candi ini, arkib batin yang kautinggalkan dalam diriku, adalah gua tempat aku didorong ke tepi kesadaran sendiri. Reruntuhan yang kutata ulang setiap malam agar trauma memiliki bentuk, agar hasrat memiliki kubur, agar aku dapat menyebut namamu tanpa berdarah lagi. Madu— Maduku yang tidak lagi lunak dan molek kini engkau batu berlumut yang mengingatkan bahwa tubuh adalah prasasti yang gampang retak. Bahwa hasrat adalah sungai yang menolak diam. Bahwa cinta adalah bayangan yang menolak ditimpa cahaya. Di atas ujung ceruk dadaku yang paling pilu, kutangkap aura suci yang dulu kusebut nafsu. Kini ia hanyalah kunang-kunang tak bercahaya yang hilang di antara dua zaman: zaman ketika aku ingin memilikimu, dan zaman ketika aku ingin melupakanmu. Sayap-sayap Jatayu gemetar di sela jari waktuku, berusaha menyibak rahasiamu yang tidak lagi erotik melainkan mistik. Mantra gelap yang merasuk bukan ke tubuh… tetapi ke ingatan. Betapa ingin aku menyentuhmu, bukan dengan murka lelaki, tetapi dengan ngeri seorang peziarah yang tahu bahwa setiap permukaan yang tampak indah menyimpan sumur yang dapat menelannya hidup-hidup. Khajuraho, saksikanlah aku malam ini. Bukan lagi jejaka kolokan yang kalah oleh tajam tatap matamu, melainkan ruh yang belajar melihat tubuh sebagai batu, batu sebagai ruang, ruang sebagai luka, luka sebagai guru. Dan engkau, Madu— bukan lagi kekasih, melainkan cahaya terakhir yang terjepit di antara dua kelopak mimpi. Aku tidak ingin menelanjangimu. Aku hanya ingin memahami mengapa setiap detakmu masih menggema di rongga candi batinku yang tak pernah selesai kujaga dari keruntuhan. Malam ini, di bawah hujan yang turun seperti kabut peringatan, aku sadar: bahwa hasrat adalah guru gelap, dan trauma adalah kuil tempat aku belajar sujud pada apa yang lebih tinggi dari diriku sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
Khajuraho I Madu, di pelataran kuil ini aku ingin melukis dirimu sekali lagi. Saat lesap senja menjemput senyap di puncak candi dan kelam hasratku menudungi samar-samar wajahmu dengan tirai kabut misteri. Tidakkah engkau dengar bulan berbisik: Madu tidurlah. Tidurlah Madu, tidurlah. Tapi jangan kaukunci pintu hatimu supaya aku bisa merasuk ke dalam mimpimu. Ijinkan aku mengirai sepasang sayapku dalam surgamu yang rumit namun sekaligus juga sederhana. Lelap, lelaplah engkau dalam pelukanku atau lenalah di atas pangkuanku. Duh Madu, Maduku. Lelaplah, lenalah engkau dalam langut tembang sirep yang aku lantunkan, supaya dalam gulita sanggar pamujan keramat ini aku dapat menangkap samar auramu yang suci. Kau tak perlu malu sebab hujan akan turun malam ini, dan tubuhmu molek belaka. Semolek cendayan tubuhmu masih serupa dulu ketika aku sering membayangkan dirimu dari balik gerbang malam yang tertutup ini. Dengan coreng-moreng kembang boreh pada wajahmu yang putih jenaka. Dengan segulung setagen hitam yang longgar menggoda. Dengan kemben tanpa bunga dan jarit lusuh yang itu-itu juga. Itulah tatahan yang telanjur sempurna dan tersimpan rapi dalam ingatan. Gambaran yang tak akan pernah tergantikan oleh apa pun. Seperti sunggingan abadi jari-jemari seorang empu, dalam lingkung taman kecil tapi menyenangkan ini: semesta tumpukan batu-batu yang tak kunjung usai engkau tata dan pahatan asmaragama yang betapa gelora kehangatannya seperti wangi setanggi yang tak mau pergi. Serta tentu saja, cermin bersurat yang tersemat di setiap pintu menuju relung hatimu, yang dengan licin memantulkan wajah seorang jejaka kolokan tertawan cinta yang berusaha menyapa dirimu dengan bibir mesumnya dan juga tatap mata masa lalunya yang selalu sedih. Sesedih masa lalu yang menatap dirimu dari balik kesedihan daun-daun palma masa lalunya sendiri. Sudah begitu lama wajah kasmaran itu menghuni pikiranku, seperti tak ingin berpaling dari ingatan sempurna jelita ayu parasmu. Duh Madu. Maduku. Laksmi pelipur rinduku Kurma penawar dahagaku. Engkaulah itu Kharjuravāhaka mengalunlah suaramu dalam alir darahku. Biar bunyi desah nafasmu yang lembut membelai hijau rerumputan dan debar detak jantungmu seketika menyingkap rimbun dedaunan. Embun tajali yang tersembunyi di dalam reruntuhan dadaku yang paling pilu. Sayap-sayap Jatayu yang meneluh gemetar jejari waktu yang pelan-pelan berusaha menyibak rahasiamu, membongkar kesakralanmu dengan segala keisengan dan mungkin kenakalan seorang perjaka dibantun cinta. Duh Madu, betapa ingin aku menyentuh tubuhmu, membelai ujung gunung membusung yang menantang kelelakianku. Menelusuri ceruk-ceruk rahasiamu yang sarat hikmat purbawi. Elok prasasti yang terhampar permai di hadapanku. Dan lalu diam-diam kukecup padma di telapak Siwa yang tengah mekar di permukaan kolam hayatmu. Hanya untuk menguji betapa aku tidak sedang terbawa arus mimpi Sungai Godavari. Serupa kuda Uccaihsrawa yang lepas kendali sungguh tak hendak aku pungkiri, betapa keras hasratku untuk menundukkanmu membolak-balik semesta tubuhmu dan bila mungkin menelanjangimu. Supaya aku dapat menyelam jauh ke dalam lubuk pesonamu yang paling liar, melawan mantramu yang paling bangkar, hanya untuk mengungkap teka-teki chakra yantra dalam sunyi samadi. Menjinakkan detya, meremukkan asura dan lalu menyusun batu-batu parasmu sekali lagi. Akan tetapi, ketika kelelapanmu menyihir mata batinku, aura mistis yang meneluh panca inderawiku  berasa seperti mencubit dan menyentil kesadaranku betapa sungguh dalam kepasrahanmu itu engkau tampak begitu indah. Secercah aruna namun jauh lebih indah dari sekadar basah hujan lukisan mimpi lepas dini hari. November 2015
Titon Rahmawan