“
I think everyone is scared in their own way. Takut gagal, takut salah, takut nyesel.
”
”
Winna Efendi (Melbourne: Rewind)
“
Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua.
”
”
Hamka
“
Sekolahpun keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan.
”
”
Goenawan Mohamad (CATATAN PINGGIR 2)
“
Suatu pengembaraan dianggap gagal kalau kita tidak mendapat apa-apa yang kita cari. Tetapi itu tanggapan yang salah. Tidak ada pengembaraan yang sia-sia. Cuma kau tidak faham, bahawa sesuatu yang kaujumpa dalam perjalananmu. Ada kalanya lebih baik daripada apa yang kaucari.
”
”
Arena Wati (Panrita)
“
Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka kelepek-kelepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, "Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love." That's probably as close as I can get hearing that she loves me. (Harris)
”
”
Ika Natassa (Antologi Rasa)
“
banyak orang yang gagal adalah orang yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan saat mereka menyerah
”
”
Thomas A. Edison
“
Menjadi suami atau istri yang gagal kerap dinilai tak menjaga kehormatan keluarga besar.
”
”
Sujiwo Tejo (Ngawur Karena Benar)
“
Aku ingin kau tahu, ada rindu yang ku titipkan pada bulir hujan di kaca jendela kamarmu. Sayangnya ternyata jendelamu tak berkaca, jadilah rinduku gagal menyapa.
”
”
Rohmatikal Maskur
“
Yang penting bukan berapa kali aku gagal, tapi yang penting berapa kali aku bangkit dari kegagalan
”
”
Abraham Lincoln
“
Orang mencintai dengan cara mereka masing-masing. Sebagian tak tahu bagaimana cara mencintai, tetapi bila mereka gagal melakukannya, bila cinta mereka gagal memperlihatkan diri, tak berarti mereka tak punya. Sesuatu yang tak tampak bukan berarti tak ada.
”
”
Morra Quatro (What If)
“
Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukang tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh.
”
”
Confucius
“
Jangan hairan melihat manusia mencuba walaupun mereka tahu tetap akan gagal, kerana mencuba itu juga adalah suatu kebahagian untuk mereka yang tidak pernah berada dalam kebahagian itu sendiri.
”
”
Bahruddin Bekri (Edisi Patah Hati (Diari Mat Despatch #4))
“
Berhati hatilah dengan siapa engkau ceritakan rencanamu, terkadang kita gagal karena banyak bicara.
”
”
Tommy Jonathan Sinaga
“
Aku benci kata seharusnya. Ada waktu yang terlewat dan asa yang gagal terbangun di dalam kata seharusnya.
”
”
Jessica Huwae
“
GAGAL ITU BIASA. Yang penting itu adalah bagaimana kita menghadapi kegagalan itu. Nggak diterima, ditolak atau dianggap remeh sama orang itu biasa, jangan dibawa kesel. Perlu kita tau, orang yang menganggap remeh kita adalah guru kita, kenapa? Karena dia membuat kita kesel dan berapi-api untuk membuktikan kepada dia kali kita nggak seperti yang dia bayangkan.
”
”
Benazio Putra (Benabook)
“
Gagal adalah cara manusia menamai hasil yang sesuai kehendak-Nya, tetapi tak sesuai kehendaknya.
”
”
Sujiwo Tejo (Talijiwo)
“
Move on itu pilihan, gagal move on itu cobaan, dan pura-pura move on itu pencitraan
”
”
Vergi Crush
“
Egoisme adalah pencerminan harkat diri yang rendah. Manusia egois cenderung menuntut orang-orang di sekelilingnya untuk memenuhi segala apa yang ia butuhkan jauh melebihi apa yang sanggup ia terima, karena secara emosional mereka gagal memperoleh pemuasan dari dirinya sendiri.
”
”
Titon Rahmawan
“
Pelajaran penting dari Emak, sekolah itu penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah menyiapkan atau membangun pola pikir. Pola pikir itu akan menentukan tingkah laku. Ia yang akan menentukan gagal atau sukses hidupmu.
”
”
Hasanudin Abdurakhman (Emakku bukan Kartini: Kumpulan Catatan Kesaksian tentang Emak)
“
Kata orang bijak dulu, kau akan lebih menyesal bukan karena kau melakukan sesuatu dan ternyata itu gagal atau keliru. Kau akan lebih menyesal saat kau tidak pernah melakukan sesuatu, mengingat betapa tidak beraninya kau mengambil keputusan.
”
”
Tere Liye (Janji)
“
pada perjalanan waktumu,
aku adalah sebuah nama yang kau lafazkan
namun gagal kau ikrarkan
”
”
andra dobing
“
Hidup selalu menawarkan kepastian dengan peluang yang sama bagi tiap manusia,
50:50. Bahagia atau sedih, puas atau kecewa, mencoba atau menyesal, gagal atau berhasil.
”
”
Lucia Priandarini (11:11)
“
Bukan doa orang lain yang membuat anda sukses atau gagal,
tapi karena anda telah mengaminkannya, sadar atau tak sadar.
”
”
Toba Beta (Master of Stupidity)
“
Pernah kan ketika bertemu seseorang, kamu merasa yakin seyakin-yakinnya kalau dia adalah belahan jiwamu. Kalian cocok satu sama lain. Ada sebuah chemistry yang teramat kuat di antara kalian berdua. Tapi, dia bukanlah orang yang kamu cintai. Kemudian kamu berusaha sekuat tenaga agar bisa mencintainya, tapi gagal.
”
”
Eva Sri Rahayu (Dunia Trisa)
“
Andra, cewek macam Ariel itu, sekali kamu taklukkan dia, dia akan menaklukkan seluruh dunia untukmu. Tapi kalau kau sampai gagal menaklukkannya, dia yang akan menaklukkanmu!
”
”
Devania Annesya (X: Kenangan yang Berpulang)
“
songkok dan kopiah
keduanya dimurkai Allah
jika gagal menjalankan perintah
songkok dan kopiah
usahlah bertelagah
(Tiada Siapa Yang Lebih)
”
”
Salmie Said (Belasungkawa Salmie Said: Graduan Alam)
“
Buku sebagai hadiah, tidak pernah gagal membahagiakan orang lain
”
”
Diadjeng Laraswati H
“
Orang yang gagal tidak layak untuk meneteskan air mata.
”
”
Devania Annesya (Maya Maia)
“
Bila rencana yang satu gagal, cari rencana lainnya yang akan membuat mimpi menjadi nyata...
”
”
Sari Novita
“
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja
Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !
”
”
W.S. Rendra
“
Saya sungguh tidak mendewa-dewakan kekuatan berpikir manusia sehingga seolah-olah absolut. Kekuatan berpikir manusia itu memang ada batasnya, sekali lagi ada batasnya! Tapi siapa yang tau batasnya itu? Otak atau pikiran sendiri tidak bisa menentukan sebelumnya. Batas kekuatan itu akan diketahui manakala otak kita sudah sampai di sana dan percobaan- percobaan untuk menembusnya selalu gagal.
”
”
Ahmad Wahib
“
Jadi," cetus Cosmo seraya menuangkan minuman untukku. "Bagaiman kehidupan cintamu?"
Ya ampun. Kenapa sih mereka bertanya begitu? Kenapa? Mungkin Suami-Istri-Puas-Diri hanya bergaul dengan sesama Suami-Istri-Puas-Diri dan tidak tahu lagi bagaimana berinteraksi dengan individu lain. Mungkin mereka memang ingin merendahkan dan membuat kami merasa seperti manusia gagal. - Bridget Jones's Diary hlm.63
”
”
Helen Fielding (Bridget Jones’s Diary (Bridget Jones, #1))
“
Tanggung jawab itu suatu masalah yang kita ambil untuk diselesaikan, Memang bukan suatu yang hidup, tapi menghidupkan...Menghidupkan pola pikir, menghidupkan jiwa sosial, menghidupkan semangat dan kinerja keprofesionalan. Kalau baru disini sudah gagal dari tanggung jawab,artinya -kita gagal untuk hidup hanya saja belum boleh mati- .
”
”
tanggung jawab
“
Semua sifat-sifat ini terhimpun di dalam hati, seolah-olah di dalam diri manusia itu ada binatang babi, anjing, syaitan dan pendita. Maksud babi ialah nafsu syahwat, sebab babi itu dikeji bukan kerana warna dan rupanya tetapi kerana kegelojohan, nafsu syahwat dan kerakusannya. Maksud anjing ialah nafsu marah kerana anjing itu bersifat garang dan bermusuh. Babi sentiasa mengajak supaya bersikap gelojoh melakukan keburukan dan kemungkaran, dan anjing pula mengajak supaya bersikap marah dengan melakukan kekejaman dan penganiyaan. Sementara syaitan pula sentiasa menyemarakkan nafsu syahwat babi dan nafsu marah anjing itu serta menggalakkan keduanya menyaingi satu sama lain. Maksud pendita ialah akal yang diperintahkan supaya mematahkan godaan syaitan dengan mendedahkan tipu helahnya melalui cahaya yang terang-benderang, melumpuhkan kerakusan dan syahwat babi itu dengan mengarahkan anjing supaya mengawalnya, kerana nafsu syahwat dapat dilumpuhkan dengan nafsu marah, dan mengawal kegarangan anjing dengan mengarahkan babi kepadanya, serta menjadikan anjing itu tunduk kepada perintahnya (akal). Jika akal dapat berbuat demikian nescaya segala-gala akan berjalan dengan lurus dan baik di dalam kerajaan jasmani. Jika gagal menundukkan nafsu syahwat dan nafsu marah, maka akal akan menajdi hamba kepada kedua-duanya, sebagaimana yang terdapat di kalangan kebanyakan orang yang menumpukan minat ke arah nafsu perut dan nafsu seks dan kepada usaha-usaha menyaingi hebat orang lain. Ini bererti akal tunduk di bawah telunjuk syaitan kerana syaitanlah yang mendorong nafsu syahwat dan nafsu marah supaya berkhidmat kepadanya. Dengan kata lain akal ketika itu adalah menyembah dan ber'abdi kepada syaitan.
”
”
Abu Hamid al-Ghazali (Penyakit-penyakit Hati)
“
Memang sulit, bersyukur pada saat merasa gagal dalam perjuangan.
”
”
Kurniawan Gunadi (Arah Musim)
“
kebahagiaan terbesar adalah ketika menerima pengakuan dan penghargaan atas kualitas dirimu. sebaliknya, duka terbesar adalah kegagalan menjaga mereka dari pertahananmu.
”
”
wasiman waz
“
Jika perpisahan adalah tentang melupakan, aku adalah satu dari sekian yang gagal dalam melakukannya.
”
”
Rohmatikal Maskur
“
Kalau lo gagal sama orang yang salah, pasti Tuhan udah nyiapin yang lebih baik lagi buat lo. Lo gak perlu mikirin semua itu
”
”
LoveinParisSeason2
“
Saya adalah produk gagal yang sedang dalam proses pendauran ulang. :)
”
”
Boneka Lilin (Rumput Liar)
“
Milikilah mental wirausaha. Mental yang siap gagal, siap bangkit dan mencoba lagi.
”
”
Susilo Bambang Yudhoyono
“
Teruskan niat baik yg sdh dimulai. Bersyukurlah meski gagal, krn Allah SWT telah tunjukkan yg terbaik. Pantang menyerah.
”
”
Susilo Bambang Yudhoyono
“
Manusia hebat adalah manusia biasa, namun selalu mencoba hal hal yang tidak biasa.
Mereka buka yang tak pernah gagal, namun selalu belajar dari setiap kegagalan.
”
”
Priyo Sudibyo
“
Seperti dihujam panah beruntun, tubuhku ambruk seketika, melemah ... seakan tak berdaya untuk sekedar berdiri.
Periiiiihhhh... Ternyata ini rasanya GAGAL...!!!
”
”
Debra R. Sanchez
“
Kita semua pernah kecewa karena gagal tumbuh di hati orang lain.
”
”
Dionisius Dexon (Jangan Sembunyi di Bumi)
“
Lebih baik tidak menyerah. Butuh kekuatan sepuluh kali lipat untuk bisa menguatkan diri dibandingkan untuk gagal.[P. 174}
”
”
Suzanne Collins (Mockingjay (The Hunger Games, #3))
“
Orang "to be", saya gagal bertubi-tubi.
”
”
Emha Ainun Nadjib (Kiai Hologram)
“
Memang kini aku sedih karena gagal. Tapi aku akan banyak makan, banyak tidur, dan ceria lagi. Aku akan mencobanya lagi, tak peduli berapa kali
”
”
Kozue Amano (アリア 10 (Aria, #10))
“
Aku boleh seorang pelacur! Aku boleh seorang sampah masyarakat! Aku seorang bintang film gagal! Tapi beradat! Tidak. Aku juga punya tanah air. Aku Larasati, bintang ara. Sedang sebutan Miss pun aku tak pernah pakai. Ara! Cukup Ara. Mengapa mesti dengan Miss? Sebutan itu akan membuat aku berkulit putih. Apakah sebutan itu tantangan kaum pria, kalau aku milik siapa saja?
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Larasati)
“
Tiba-tiba hujan turun... Deras.... seperti dihujam,
Sontak melemah...
Bukan hanya aku, tapi semua yang ku bangun pun guncang, bagai daun ia berguguran.
Aku terhampar lesu, aku merasa gagal
”
”
Debra R. Sanchez
“
Dalam lawatan itu, saya menyatakan kebimbangan tentang aliran-aliran extremism yang sedang menular di kalangan beberapa kelompok aktivis Islam pada waktu itu. Fazlur Rahman menasihati bahawa intelektual dan pemikir Muslim tidak harus pasif. Harus kerja kuat, menulis dan menjelaskan kepada masyarakat dengan mendalam dan integriti. Tanpa gerakan intelektualisme yang mendalam, kebangkitan Islam akan gagal dan kecewa.
”
”
Wan Mohd Nor Wan Daud (Rihlah Ilmiah: dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer)
“
Yah, begitulah wanita," ucap Dan. Aku dapat merasakan datangnya salah satu pidato Dan tentang dunia. "Mereka percaya di dalam tiap bajingan tak berperasaan ada anak kecil yang butuh dicintai. tapi teori mereka gagal..." ia melotot lagi ke arah Greg... "karena yang tidak mereka mengerti adalah ada tipe-tipe bajingan tak berperasaan tertentu yang kalau dibelah dua akan muncul banyak bajingan tak berperasaan dari dalamnya.
”
”
MG
“
Bagaimana mungkin kamu tahu bakal berhasil atau gagal, kalau belum mencoba? Sebelum berusaha, kamu udan memvonis bahwa kamu akan gagal. Kita kan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kenapa tidak berusaha dulu?
”
”
Irene Dyah (Love in Marrakech)
“
Mengapa pengemis direndahkan? Aku yakin alasannya sangat sederhana, yaitu karena mereka gagal hidup layak. Dalam prakteknya, orang tidak peduli apakah suatu pekerjaan itu berguna atau tidak, produktif atau bersifat parasit; satu-satunya hal yang penting adalah bahwa pekerjaan itu harus menguntungkan. Dalam semua perbincangan modern tentang efisiensi, pelayanan sosial dan lain-lain, adakah makna lain selain 'Dapatkan uang, bikin jadi legal, dan dapatkan banyak-banyak'? Uang sudah menjadi alat ukur utama moralitas. Dengan ukuran ini pengemis gagal, dan karenanya mereka direndahkan. Kalau orang bisa berpendapatan sepuluh pound seminggu sebagai pengemis, profesi ini akan segera menduduki posisi terhormat. Seorang pengemis, dilihat secara realistis, adalah sekedar seorang pengusaha yang mencoba bertahan hidup, seperti halnya pengusaha lain, dengan cara menggunakan tangannya. Dia tidak pernah menjual kehormatannya, lebih dari kebanyakan orang modern; dia hanya berbuat kesalahan dengan memilih usaha yang tidak memberinya kemungkinan untuk jadi kaya (hal. 268)
”
”
George Orwell (Down and Out in Paris and London)
“
Kita memang terlahir sempurna, karena tidak ada produk gagal yang diciptakan oleh Allah. Namun tidak ada pribadi yang sempurna dalam karya. Karena kesempurnaan memang hanya milik Allah, Sang Pencipta alam raya dan seisinya.
”
”
Andy Sukma Lubis
“
Kegagalan bukan karena kita tak berhasil mewujudkan cita-cita masa kecil kita. Kegagalan adalah jika kita berhenti mencoba. Tidak masalah berapa kali kita gagal. Baru menjadi masalah jika kita tak mau bangkit dari kegagalan itu.(hal 27, Ordinary Mom)
”
”
Triani Retno A.
“
Bahagia itu persepsi. Bahagia tidak menunggu punya kekayaan, punya anak yang sehat dan pintar, punya pasangan yang sempurna, dan keluarga yang sempurna. Kebanyakan orang berpikir bahwa untuk bahagia, mereka harus mendapatkan lebih dulu apa yang mereka inginkan. Kalau tidak mendapatkannya, mereka tidak bisa bahagia. Itu sebabnya banyak orang yang tidak berhasil bahagia. Kamu tahu kenapa?
Karena mereka tidak berusaha untuk menjadi bahagia. Mereka ingin hidup bahagia, tapi yang mereka lakukan cuma menunggu. Menunggu kebahagiaan itu datang dengan tiba-tiba sebagai sebuah keajaiban, seperti menunggu uang jatuh dari langit tanpa bekerja. Saat dia gagal mendapatkan kebahagiaan di suatu tempat, dia akan lari ke tempat lain, berharap bertemu orang-orang baru dan bermimpi akan mendapatkan kebahagiaan baru dari seseorang. Kebahagiaan tidak datang dari orang lain. Kebahagiaan itu datang dari diri sendiri. Sesederhana itu.
”
”
Shofi Annisa (Brother)
“
Ah, sungguh Tuhan itu tak pantas diberi paten hanya karena kita takut kehilangan pegangan, hanya karena kita takut tersesat dan hilang arah. Hanya karena kita takut gagal memahami yang tak bisa dipahami. Hanya karena kita takut salah memperhitungkan dan memperkirakan. Hanya karena kita takut sendirian dan merasa cemas..
”
”
Ayudhia Virga
“
Agak aneh bahawa perkembangan madrasah di Haramyn sampai saat ini masih diabaikan para ahli. Jika banyak studi dilakukan atas pertumbuhan madrasah di tempat-tempat lain di Timur Tengah, kelihatan agak ganjil sedikit sekali perhatian diberikan kepada sejarah unik madrasah dan lembaga-lembaga keilmuan lainnya di Haramayn. Akibatnya, studi-studi itu tidak hanya gagal memahami tradisi keilmuan di Tanah Suci, tetapi juga sifat diskursus ilmiah di sana.
”
”
Azyumardi Azra (The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian & Middle Eastern 'Ulama' in the Seventeenth and Eighteenth Centuries (ASAA Southeast Asia Publications))
“
Betapa banyaknya ketidakadilan di duni ini. Tidak hanya di Inodnesia tetapi di mana-mana di seluruh dunia. Di Guatemala, di Vietnam, di AS, di Rusia, di Ceko, di Afrika, dll. Seolah-olah dunia ini adalah tumpukan sampah dari nafsu dan ketamakan manusia. Kadang-kadang saya berpikir apakah tidak lebih baik meledakan dunia ini agar supaya semuanya berakhir. Tetapi di samping semua itu kita juga melihat manusia-manusia yang bergulat untuk suatu cita-cita. Sebagian mereka berhasil dan jadi orang terhormat Gandhi, Kennedy, tetapi berjuta-juta tenggelam dalam 'sampah-sampah' dan hilang ditelan waktu. Tetapi yang lebih menyedihkan adalah mereka yang menemui kekecewaan-kekecewaan dan kemudian dipenuhi oleh rasa benci pada lawan-lawannya. Bertekad menghancurkan dunia 'lawan' dan kejam terhadapnya. Semuanya. Saya kira idealis-idealis besar apakah dia communist-facist-black power dan lain-lainnya dibakar oleh suatu cita-cita yang sama. Kemuakan pada kemesum-kemesuman dunia dan cinta pada mereka yang tertindas. Berapakah di antara mereka yang tetap bertahan dalam kegagalan? Saya tak tahu masa depan saya. Sebagai orang yang berhasil? Sebagai orang yang gagal terhadap cita-cita idealisme? Lalu tenggelam dalam waktu dan usia? Sebagai orang yang kecewa dan lalu mencoba menteror dunia? Atau sebagai seorang yang gagal tetapi dengan penuh rasa bangga tetap memandang matahari yang terbit? Saya ingin mencoba mencintai semua. Dan bertahan dalam hidup ini.
”
”
Soe Hok Gie (Catatan Seorang Demonstran)
“
Apa kabarmu Mungil? Sehat-sehat sajakah disana? Kau tahu, sepagi tadi kusempatkan kakiku menyusuri lorong kelas, tempat biasa ku menemuimu. Ya, ritual yang mungkin akan menjadi kebiasaanku beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan kedepan.
Oh ya, tidak ada yang berubah dengan kelasmu, bahkan bayangmu masih tertinggal di pojok ruang itu.
Mungil, kau tahu! Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu saat ini. Tentang rutinitasku sekarang, tentang.. Ya, tentang segala hal, Mungil. Tapi.. Ah sudahlah, kau mungkin bahkan takkan membaca catatan ini.
Oya Mungil, Ritual 'itu' masih sering kulakukan, seperti yang kau pesankan setiap saat hujan tiba: "Tengadahkanlah wajahmu saat hujan tiba, lalu hitung setiap rintiknya, percayalah sebanyak itulah rindu ini bersemayam di tiap tetesnya," -setiap hujan tiba bahkan.
#usaha gagal menulis cerita random tanpa backspace
”
”
Alif~
“
Kaedah atau amalan atau cara ini mungkin tidak boleh diterima oleh kebanyakan orang Islam sekarang ini yang mengamalkan Islam luaran sahaja oleh kerana kebanyakan hadis Rasulullah tentang hakikat Rasulullah dianggap oleh mereka sebagai merendahkan kemutlakan Tuhan atau ditohmahkan ia muncul hasil dari rekaan musuh-musuh Islam.
Kita fikirkan bahawa, disebabkan beberapa kesilapan, ketidakbiasaan dengan hadis yang sebegini rupa dan fahaman yang bersifat esoterik itu biasanya tidak dibawa ke dalam semua rangkaian rantai penyampaian hadis itulah yang menyebabkan penolakan dan kecurigaan ini. Ini juga berpunca dari minda moden yang gagal memahami makna yang tersirat di dalam fahaman Sufi tentang konsep penciptaan, yang mana tidak pernah dipelajari atau didedahkan kepada minda orang Islam moden lalu menyababkan kegagalan mereka untuk menghargainya. Mereka tidak pernah terjumpa dengan fahaman yang sebegini rupa di dalam silibus falsafah dan sastera di dalam institusi pembelajaran moden atau di dalam sistem pembelajaran amnya.
”
”
Baharudin Ahmad (Al-Qasidah Al-Maymunah)
“
Komunisme hanya satu kata yang manjur untuk dijadikan musuh bersama. Kecuali jika mereka membaca diam-diam, mahasiswa di Indonesia belum pernah membaca buku-buku Karl Marx atau tafsirnya karena ada larangan pemerintah. Paranoia itu malah membuat anak-anak muda tertarik mencarinya.
Dan seandainya mereka tahu, toh itu teori yang gagal di mana-mana. Tak akan ada yang tertarik. Aku saja tidak. Bimo juga tidak. Dan bukan karena apa yang menimpa keluarga kami, tetapi justru karena kami membacanya sebagai mahasiswa, dan menggunakan nalar.
”
”
Leila S. Chudori (Pulang)
“
Siapa pun yang belajar politik dengan serius harus membaca semua buku politik dan ekonomi, termasuk karya Marx, Engels, dan semua penulis kiri sesudahnya yang jauh lebih modern. Tapi kami kan juga harus membaca pemikiran politik lainnya. Justru karena kami membaca, kami paham mengapa komunisme gagal di banyak negara.
Buat saya, malah aneh melarang buku kajian komunisme di Indonesia. Karena itu menganggap masyarakat kita bodoh dan tidak bisa menggunakan otaknya. Puluhan tahun masyarakat kita dianggap tolol, tak bisa berpikir sendiri.
”
”
Leila S. Chudori (Pulang)
“
Kegagalan bukanlah kompetisi. Jangan merasa paling gagal. Mari menyelam dalam syukur, karena berlian tak pernah mengambang di lautan lepas.
”
”
Khabib Bima
“
Orang yang sudah pernah merasakan sakitnya jatuh karena gagal pastinya akan sangat siap menerima kesukesan.
”
”
Muhammad Assad (Good Morning, Qatar: Harder, Smarter, Faster)
“
Jika kita tidak bersedia untuk gagal, kita pun tidak bersedia untuk sukses.
”
”
Mark Manson (The Subtle Art of Not Giving a F*ck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life)
“
Aidit gagal mem-PKI-kan Lekra, tapi Soeharto justru berhasil mewujudkannya.
”
”
Tempo
“
Dalam sebuah hubungan itu harus ada kepercayaan. Aku tahu kamu pernah gagal, tapi bukan berarti kegagalan itu bikin kamu bisa memukul rata semuanya.
Meisya
”
”
Alnira (Montir hati)
“
Tak penting seberapa sukses atau seberapa gagal Anda saat ini. Yang penting adalah apakah kebiasaan-kebiasaan Anda menempatkan Anda pada jalur menuju kesuksesan atau tidak. Anda harus jauh lebih peduli pada arah tujuan Anda saat ini daripada hasil-hasil saat ini.
”
”
James Clear (Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones)
“
Aku pernah gagal dalam pernikahan. Dan itu menyakitkan. Jadi, aku memang sangat berhati-hati dalam berhubungan dengan laki-laki. Aku beneran harus yakin kalau dia bisa menerimaku dengan status seperti ini. Bukan hanya dia, melainkan juga keluarganya. Karena meskipun tidak tinggal satu atap dengan keluarganya, mustahil menghindari interaksi dengan mereka. Dan aku lebih memilih untuk nggak masuk dalam keluarga yang sudah nggak menerimaku dari awal.
Kayana
”
”
Titi Sanaria (Mantan Rasa Gebetan)
“
Takut salah dan gagal hanya bikin stuck dan berhenti menexplore diri
”
”
Gerhana Nurhayati Putri (Quarter Life Crisis)
“
Kita akan lebih menyesal jika tidak melakukan karena takut, dibanding melakukan meskipun gagal
”
”
Tere Liye (Selena)
“
Manusia yang gagal dalam hemat saya, adalah manusia yang gemar sekali mengkasta-kasatakan sesamanya, sementara dirinya saja tidak berhak atas dirinya," -Today's Records 10/08/2012
”
”
Peace Of Stories-Agustina L
“
Hans tak berdaya sebab ia sudah membiarkan ego liarnya gagal sebagai seorang ayah. Maaf Si. Jauh-jauh ayah berlayar mengelilingi lautan, belum juga cukup untuk membelikan Si kebahagiaan. - Piring Bahagia Si dan Bi
”
”
Dian Pertiwi Josua
“
Kegagalan tidak pernah ada. Bukan gagal namanya, manusia memang harus belajar untuk menjadi lebih baik lagi dari kejadian-kejadian yang tidak seirama dengan keinginannya. - Piring Bahagia Si dan Bi
”
”
Dian Pertiwi Josua
“
Bermimpilah setinggi langit. Kalau pun gagal, kamu akan jatuh di antara bintang-bintang.
”
”
Randy Ira
“
Jika engkau gagal dalam menapaki kehidupan, maka engkau telah memperoleh pengalaman yang sangat berharga
”
”
Soekarno
“
Jika engkau gagal dalam menapaki kehidupan, maka engkau telah memperoleh pengalaman yang sangat berharga.
”
”
Soekarno
“
Menurut psikolog Mihaly Csikszentmihalyi, yang antara tahun 1990 dan 1995 mempelajari sembilan puluh satu orang yang luar biasa kreatif dalam bidang seni, sains, bisnis, dan pemerintahan, kebanyakan subjeknya itu dipinggirkan oleh kelompok sosial saat remaja, sebagian besar karena "rasa ingin tahu yang besar atau ketertarikan terfokus terlihat aneh bagi kelompok seumurannya." Remaja-remaja yang sangat senang bersosialisasi untuk menghabiskan waktu sendirian sering gagal untuk mengembangkan bakat-bakat mereka "karena berlatih musik atau belajar matematika membutuhkan kesunyian yang mereka hindari.
”
”
Susan Cain (Quiet: The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking)
“
Manusia adalah ciptaan yang salah kedaden. Produk gagal yang kemudian merajalela dengan kebrutalan, bahkan terhadap sesama.
”
”
Soe Tjen Marching (Dari Dalam Kubur)
“
Namun, bertambah usia itu mengingatkannya pada segepok wishlist yang tak kunjung dia wujudkan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tanda pencapaiannya tidak bertambah banyak. Di sini, kadang Juni merasa gagal.
”
”
Pradnya Paramitha (Algoritme Rasa)
“
Hanya satu hal yang membuat mimpi menjadi tidak mungkin untuk diraih: Ketakutan untuk Gagal.
”
”
Aulia Hanifa (Wake Up Sloth)
“
Apabila kita tukar perkataan sakit, susah, sukar, derita dan gagal kepada senang, boleh saja, orait, tidak ada hal dan sebagainya, kita pasti akan dapat melepasi kesukaran-kesukaran ini. Yang penting bukan APA yang terjadi kepada kita, tetapi BAGAIMANA kita berfikir tentang apa yang akan terjadi kepada kita.
”
”
Badrul Hisham Shari (Hai Darling!)
“
kecapakan bertindak sering dikalahkan oleh kemampuan bicara. karena kemampuan bicara lebih menjawab dan lebih menjelaskan walaupun kegagalan bertindak hanya tertutupi tanpa perubahan
”
”
neo was
“
Saya sudah siap untuk berhenti. Saya mulai merasa nggak seperti penulis-penulis handal itu. Jika saya menyerah kalah padahal sudah berkali-kali mencoba, mungkin orang-orang akan memakluminya. Tetapi saya juga pernah membaca, entah dimana, bahwa dunia hanya melihat apa yang kamu hasilkan, ia nggak peduli berapa kali kamu mengalami kegagalan. Jika kamu gagal untuk melakukan sesuatu, dan kamu punya sejuta alasan untuk itu, maka kesimpulannya hanya satu; kamu gagal.
”
”
Nailal Fahmi (Menulis Cinta dan Keyakinan)
“
Sebagaimana kita tidur harus bangun, begitu juga apabila jatuh.
Jangan pernah takut dengan kejatuhan, ianya bukan satu penghalang mencapai kejayaan. Tapi harus takut jika gagal kembali bangun.
”
”
A.D. Rahman Ahmad
“
Andai hari ini gagal meraih kejayaan, teruslah memburu selagi masih ada sisa kehidupan. Kejayaan sebenar adalah yang abadi di dalam kenangan... walaupun sekali jasad sudah lama diratah kematian.
”
”
A.D. Rahman Ahmad
“
Aku tak GAGAL
Kau pon tak GAGAL
Mereka pon tak GAGAL
Kita cuma BELUM BERJAYA.faham?
”
”
lieyana lily
“
cara merasakan kesedihan adalah membiarkan diri berada dalam kesedihan dan gagal memperjuangkan jalan keluar.
way of how to feel sadness is letting yourself being there finding way out but failure is the one
”
”
wasiman waz
“
Dari sudut Islam selagi psikologi moden tidak mengakui dan mengiktiraf bahawa manusia adalah ciptaan Allah SWT dan masalah jiwa pada dasarnya dari ketidakupayaan hati (al-qalb) mempunyai hubungan dengan Penciptanya, selagi itulah psikologi akan gagal memberi penyelesaian yang memuaskan terhadap krisis jiwa manusia moden.
”
”
Fariza Md Sham (Personaliti Dari Perspektif Al-Ghazali)
“
Kebanyakan orang gagal bukan karena mereka kurang pintar. Melainkan karena mereka tak punya SIKAP yang cukup kuat untuk BERTAHAN!
”
”
mettamini
“
Kuping gue udah tuli,nggak peduli apa kata orang lain. Mata gue udah buta,nggak bisa lihat perempuan lain" wicak berbicara terus hingga bibirnya bergetar.....
.......Dalam teduh mata wicak,Lintang menemukan semua yang ingin ia gapai bersama pacar-pacar asingnya,tetapi selalu gagal. Kedamaian di tengah badai. Kehangatan seribu musim panas.Dan Ketulusan untuk dapat mencintai segala kekurangan,menjadikan segalanya sempurna.
”
”
negeri van oranje
“
Tidak ada kata gagal dalam menuju sebuah pencapaian, namun kalah mungkin sering dilakukan, karena hanya orang gagal saja yang tidak pernah melakukan sesuatu.
”
”
isybel harto
“
Ya. Sudah tiba waktunya bagiku untuk dibunuh! Jika aku yang memimpin pemberontakanmu ini dan gagal, kepalaku akan dipenggal. Engkaupun juga ... begitupun yang lain-lain. Mereka mati ada gantinya, pemimpin tidak. Kalau aku mati, menurutmu siapa yang akan memimpin rakyat, bila datang waktunya nanti?
”
”
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
“
aku sekarang di dermaga terbuka
menunggu angin sejuk terlepas dari teluk
dan di hadapanku kapal berpusar
gagal menemui pelabuhan
apalagi pantai yang tidak berpulau.
(Autobiografi)
”
”
Rahimidin Zahari
“
Aku bisa terima kalau penyesalan itu timbul setelah aku gagal.
Tapi aku nggak mau menyesal karena nggak berusaha sedikit pun untuk mengejar impian itu.
(Akito Takagi - Bakuman)
”
”
Tsugumi Ohba
“
Navigasi
Pada ketika punya kaki
Tapi tetap gagal berdiri
Pada ketika bersepatu
Tapi jalan tak menentu
Pada ketika jejak dipandu
Tapi halatuju tetap melulu
Pada ketika depan terarah
Tapi masih memilih untuk menyerah
Pada saat dan ketika itu
Mana letak maruah dan malu
Pada ketika punya banyak jalan menuju cahaya
Akan tetapi masih memilih gelap dan gelita
Mungkin itu petanda
Perlu sejenak berhenti
Dan semak navigasi
Jalan menuju cahaya?
Jejaki 6 percaya.
KLIA2
6 Nov 2014
”
”
Nuratiqah Jani
“
Kalau gagal ya ulang lagi.
Kalau masih gagal tetap ulang lagi.
Kalau merasa gagal karena memang tak bisa lagi dan menyerah, ya coba cari ide baru mungkin saja kepercayaan dirimu untuk berhasil berada di tempat yang salah dan ada tempat lain yang belum kau jamah membutuhkan kemampuanmu
”
”
Ariestanabirah
“
Wak Katok pun tahu, bahwa tak ada yang lebih hina dan celaka dari seorang pemimpin yang gagal, dari seorang raja yang gagal, yang kelemahan-kelemahannya telah terbongkar dan tak berhasil pula membuktikan kekeramatan dirinya sendiri, yang selama ini dipuja-puja orang.
”
”
Mochtar Lubis (Harimau! Harimau!)
“
Menjadi Alpha Girl bukan berarti kamu tidak akan pernah gagal. Cara kamu bangkitlah yang menjadikanmu seorang Alpha.
”
”
Henry Manampiring (The Alpha Girl's Guide)
“
Kalau segala kesibukan itu tidak mengandung kebenaran, gagal memberikan rasa damai sejahtera, dan tidak menumbuhkan sukacita, maka Kerajaan Allah masih jauh dari kita.
”
”
Venerdi Handoyo (Lusifer! Lusifer!)
“
Sering kali kesuksesan sebagian adalah pemeriksaan terhadap realitas tentang apa yang bisa Anda capai secara realistis. Belajar menerima bahwa Anda telah melakukan kesalahan, dan menghargainya, akan jauh lebih membangun daripada mengkritik diri karena gagal meraih kesuksesan total.
”
”
Susi Purwoko (The Chimp Paradox: How Our Impulses and Emotions Can Determine Success and Happiness and How We Can Control Them)
“
Takut salah dan gagal hanya akan membuatmu stuck dan berhenti mengeksplor diri.
”
”
Gerhana Nurhayati Putri (Quarter Life Crisis)
“
Setiap langkah dan proses yang ada, ternyata Tuhan selalu punya cara untuk menyampaikan pesan-Nya kepada kita "Manusia".
Cara dan rasanya berbeda-beda, tetapi tujuannya sama.
Sedih, sakit, bangkit, kecewa, marah, gagal, dan semua rasa yang pernah manusia rasakan punya maksud dan tujuan.
”
”
@kataitem (Selalu Ada Pesan Untuk Saling Menguatkan)
“
Ada yang lebih berbahaya daripada saat orang lain menganggap kita tidak bernilai. Yaitu saat kita gagal melihat nilai diri sendiri, sehingga kita menjadi percaya pada penilaian orang lain.
”
”
Cut Vivia Talitha (Confidence in You)
“
Gagal bukan beerti kita sudah gagal selamanya. Kita perlu bangkit dan tidak ulangi kesalahan dan kesilapan yang lalu, lupakan kisah sedih, mulakan hidup baru dan terus membina keyakinan dan kekuatan dalam diri.
”
”
simpleshida
“
Lelaki yang paling saya benci ialah mereka yang berusaha menasihati atau yang berkata kepada saya bahwa mereka ingin menyelamatkan saya dari kehidupan yang saya jalani. Biasanya saya lebih membencinya dari yang lain karena mereka berfikir bahwa mereka itu lebih baik dari pada saya dan dapat menolong saya mengubah kehidupan saya. Mereka merasa diri sendiri dalam semacam peranan pahlawan —semacam sebuah peranan yang gagal mereka mainkan dalam keadaan-keadaan lainnya. Mereka ingin merasakan diri sebagai seseorang yang mulia dan mengingatkan saya pada kenyataan bahwa saya adalah orang rendahan. Mereka sedang berkata kepada diri mereka sendiri, "Lihatlah, betapa baiknya saya ini. Saya sedang berusaha untuk mengangkatnya keluar dari lumpur sebelum terlambat, perempuan pelacur itu."
Kenyataan bahwa saya menolak usaha mereka yang mulia untuk menyelamatkan saya dari keyakinan untuk bertahan sebagai seorang pelacur, telah membuktikan kepada saya, bahwa ini adalah pilihan saya dan bahwa saya memiliki sedikit kebebasan paling tidak kebebasan untuk hidup dalam keadaan yang lebih baik daripada kehidupan perempuan lainnya.
”
”
Nawal El Saadawi (Woman at Point Zero)
“
Obat Herpes - Herpes adalah penyakit yang ditandai dengan munculnya lepuhan pada kulit yang berwarna kemerahan dan berisi cairan. Penyakit herpes termasuk dalam penyakit jangka panjang. Virusnya bisa bertahan seumur hidup di dalam tubuh seseorang.
Cara Mengobati Herpes, Di antara sekian banyak virus herpes, herpes simpleks dan herpes zoster merupakan dua penyakit yang paling banyak angka kejadiannya. Berbagai obat herpes alami maupun dari dokter juga mampu meringankan gejala, bahkan mempersingkat waktu kemunculannya.
Faktor Risiko Herpes
Semua orang memiliki risiko terkena virus herpes simpleks, dari mulai anak-anak hingga dewasa. Namun, dalam kasus HSV-2 yang menyerang kelamin akan lebih mudah menginfeksi orang-orang yang tidak menerapkan hubungan intim yang aman. Berbagai faktor risiko HSV-2, seperti:
1. Berjenis kelamin perempuan.
2. Memiliki pasangan seks lebih dari satu.
3. Berhubungan intim di usia yang sangat muda.
4. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
5. Memiliki penyakit kelamin yang lain.
Semua orang yang pernah mengalami cacar air dapat terkena herpes zoster. Cara Menyembuhkan Herpes, Ada berbagai faktor lain yang meningkatkan risiko seseorang terkena herpes zoster, yaitu:
1. Berusia lebih dari 50 tahun.
2. Memiliki penyakit tertentu yang melemahkan sistem imun, seperti HIV/AIDS dan kanker.
3. Sedang menjalani perawatan kanker, seperti radiasi dan kemoterapi yang dapat menurunkan kekebalan tubuh terhadap penyakit.
4. Mengonsumsi obat-obatan yang dirancang untuk mencegah penolakan terhadap organ transplantasi, misalnya penggunaan steroid yang berkepanjangan.
Penyebab Herpes
Penyebab herpes adalah virus herpes simpleks tipe I dan II. Pengobatan Herpes, Kedua virus tersebut termasuk dalam virus herpes hominis yang digolongkan ke dalam virus DNA. Penularan infeksi herpes juga bisa terjadi melalui kontak langsung, yakni kulit dengan kulit pengidap yang terinfeksi.
Diagnosis infeksi herpes dapat dilakukan dokter berdasarkan gejala dan temuan klinis yang ada. Namun, untuk beberapa kasus yang meragukan, misalnya penampakan klinis sudah tidak khas lagi, maka dapat dilakukan tes laboratorium.
Jaringan dan cairan dari vesikel kulit dapat diambil dan diamati di bawah mikroskop. Apabila pemeriksaan laboratorium gagal menemukan virus herpes, maka pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan antibodi virus herpes simpleks.
Jika Anda Sedang Mencari Obat Herpes, Obat Dompo, Obat Cacar Ular, Obat Cacar Api, Obat Dampa, Obat Kayap, Obat Dap, Obat Gatal Selangkangan dll, Segera Hubungi Kontak Kami Secepatnya WA 081 329 878 999 (Esti).
#herpes #obatherpes #obatpenyakitherpes
”
”
Obat Herpes
“
Jalan, kenangan dan alunan musik tidak pernah gagal membuat setiap orang menjadi melankolis dan cengeng.
”
”
Nailal Fahmi (Jalan Panjang yang Berangin)
“
Agama bisa membuat orang merasa benar.
Merasa benar mendidik orang jadi sombong.
Bersikap sombong itu mendahului kegagalan.
”
”
Toba Beta
“
Bima sungguh sadar, dirinya jauh dari baik sebagai pendamping. Tapi ia tidak gentar belajar, mencoba, gagal lagi, terhempas lebih keras, tapi ia akan kembali siap.
Tak bisa kah begitu?
”
”
Lucia Priandarini (Dua Garis Biru)
“
Sepulang jalan bersama kekasihmu, coba kau bedah bulir hujan yang jatuh dibawah jendela kamarmu, disana ada molekul rindu yang ku titipkan padanya. Dikaca ia gagal menyapa karna kau sedang tidak ada dirumah.
”
”
Nurdin Ferdiansyah
“
Manusia sering kalli gagal melihat apa yang dekat dengan diri mereka tapi tampak jelas bagi orang lain.
”
”
Graeme Simsion (The Rosie Project (Don Tillman, #1))
“
Cukup sekali saja merasa gagal, saat ini esok maupun lusa kita haruslah sukses
”
”
Erika Mahmudah
“
Dalam negara majmuk seperti Malaysia, adalah tanggungjawab setiap orang Islam untuk membela mereka yang lemah dan yang melarat tanpa diambil kira latar belakang kaum dan agama. Sekiranya ini tidak atau gagal difahami umat Islam, maka kita masih jauh untuk dipandang sebagai umat yang cakna dan progresif.
”
”
Anwar Ibrahim
“
kekalahan bukanlah saat engkau gagal. kekalahan adalah saat engkau gagal dan tak mau berdiri untuk melangkah kembali
”
”
Mohamad Mashudi
“
Di tempat lain, lo mungkin dianggap liar. Tapi di sini, lo dianggap saudara. Tradisi Skate bukan sekadar komunitas, ini tempat lo boleh salah, boleh jatuh, asal lo bangkit dan naik lagi. Gak ada kasta, gak ada kelas. Yang penting lo mau jalan bareng. Mau belajar bareng. Karena di dunia kami, semua berawal dari satu hal: keberanian berdiri di atas papan, dan terus jalan meski dihina atau gagal. Itu baru... sudah tradisi.
”
”
tradisi skateboard
“
Kami bukan dari arena licin atau parkir berbayar. Kami lahir dari jalanan, dari trotoar yang retak, dari aspal panas yang nyakitin lutut. Setiap luka, setiap gagal, setiap jatuh — adalah bagian dari proses. Skateboard bukan sekadar hobi. Ini cara kami bertahan. Cara kami bicara tanpa kata. Karena buat kami, papan ini bukan alat mainan. Ini simbol kebebasan. Dan kebebasan itu... sudah tradisi.
”
”
tradisi skateboard
“
Jasa Pembuatan Greenhouse Probolinggo Jawa Timur – Menjamin Keberhasilan Pertanian dengan Hasil Optimal
Apakah bisa melayani proyek di luar Jawa Timur?Layanan pembuatan rumah kaca, layanan bikin greenhouse, dan layanan pembuatan greenhouse adalah cara efektif untuk menciptakan lingkungan pertanian yang terkendali . Dapatkan hasil pertanian yang lebih baik dan hindari gagal panen dengan menggunakan jasa pembuatan greenhouse kami Dengan perlindungan greenhouse, tanaman terbebas dari cuaca ekstrim, hama, dan penyakit, yang menghasilkan hasil panen yang lebih baik
Kami siap menyediakan greenhouse yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan tujuan pertanian Anda . Kami menyediakan greenhouse yang sempurna untuk hidroponik, hortikultura, dan tanaman organik, memberikan hasil terbaik dengan efisiensi maksimal Jasa pembuatan greenhouse kami akan memastikan hasil pertanian Anda optimal dan mengurangi risiko gagal panen yang disebabkan oleh cuaca ekstrem
seowa
Kelebihan yang dimiliki oleh greenhouse yang kami tawarkan
1. Materialdengan nilai lebih
Kami siap menyusun greenhouse yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan pertanian Anda
Greenhouse Bambu: Greenhouse bambu cocok untuk Anda yang mencari material ramah lingkungan, biaya yang terjangkau, dan kekuatan yang optimal . Bambu, sebagai material alami, menghadirkan kesan alami yang menawan, sambil tetap kuat dan memberikan perlindungan yang optimal untuk tanaman
Dengan adanya greenhouse, tanaman terlindungi dari faktor eksternal seperti cuaca ekstrem, hama, dan penyakit, yang berpengaruh pada hasil panen yang optimal . Baja ringan lebih kokoh menghadapi cuaca ekstrem, mudah untuk dirawat, dan memiliki ketahanan yang lebih panjang
2. Desain yang sesuai dengan keinginan Anda
Dengan menggunakan greenhouse, tanaman terlindungi dari cuaca ekstrem, hama, dan penyakit, yang meningkatkan produktivitas panen dengan pesatKami siap membangun greenhouse yang sempurna untuk tanaman dan kebutuhan pertanian Anda Entah itu tanaman sayuran, buah, bunga, atau hidroponik, kami memiliki desain yang sesuai dengan permintaan Anda
3. Menjaga pengeluaran rendah dengan daya tahan jangka panjang
Menyisihkan anggaran untuk greenhouse membawa keuntungan dalam waktu panjang Jasa pembuatan greenhouse kami memberikan keuntungan jangka panjang dengan meningkatkan hasil pertanian dan meminimalkan risiko gagal panen Greenhouse menawarkan perlindungan terhadap tanaman dari cuaca buruk, serangan hama, dan penyakit, yang meningkatkan hasil panen secara substansial Dengan desain yang kuat, greenhouse kami memberikan manfaat jangka panjang yang bisa Anda rasakan selama bertahun-tahun
Model Greenhouse yang Kami Hadirkan untuk Anda
1. Greenhouse Bambu
Greenhouse memberikan proteksi pada tanaman dari cuaca ekstrem, hama, dan penyakit, yang meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil panen Walaupun menggunakan bahan yang lebih hemat, greenhouse bambu tetap tahan banting dan melindungi tanaman Anda dengan baik Dengan perlindungan greenhouse, tanaman terbebas dari cuaca ekstrim, hama, dan penyakit, yang menghasilkan hasil panen yang lebih baik
2. Greenhouse Baja Ringan
Untuk Anda yang ingin greenhouse dengan ketahanan lebih lama dan kokoh, baja ringan adalah pilihan terbaik yang kami tawarkan . Baja ringan memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap cuaca ekstrem, membuatnya sangat cocok untuk kebutuhan pertanian jangka panjang Selain itu, baja ringan lebih praktis dalam perawatan dan lebih kuat dalam menahan beban dibandingkan bambu
Tabel Biaya Pembuatan Greenhouse
Kami siap memberikan layanan di luar Jawa Timur dengan kualitas yang tak diragukan lagi
Jenis Greenhouse Harga (Rp)
Greenhouse Bambu Rp 1
Greenhouse Baja Ringan Rp 1
Harga dapat disesuaikan dengan ukuran dan parameter detail yang Anda pilih
”
”
jasagreenhouse
“
Balikan itu artinya lo dan dia harus siap untuk jadi lebih baik lagi, Balikan itu berarti lo udah pernah gagal sama dia, artinya lo dan dia nggak boleh jatuh ke gagalan yang sama. balikan itu malah lebih sulit untuk di jalani
”
”
Siti Umrotun (Mantan)
“
Caramu berbohong terkesan amatir, tampak seperti pesulap yang gagal dalam pertunjukannya.
”
”
Rudi Elkohler
“
Pahit Secangkir Kopi
Aneh, betapa banyak manusia sibuk mencari musuh, seakan hidup ini adalah medan perang di mana setiap tatapan harus dicurigai, setiap senyum harus dicatat sebagai strategi, dan setiap kata adalah panah yang siap melukai. Padahal, hidup sudah cukup keras tanpa kita menambah lawan di dalamnya.
Ironi ini nyata: kita sering lebih mudah membenci daripada menghargai. Orang membenci karena merasa kita terlalu tinggi atau terlalu rendah, terlalu pintar atau terlalu bodoh, terlalu kaya atau terlalu miskin. Benci, rupanya, tidak butuh alasan yang masuk akal—ia hanya butuh cermin untuk menampilkan kekurangan diri pada wajah orang lain.
Tapi, bukankah pertemanan jauh lebih berharga daripada permusuhan?
Skill bisa dipelajari, ilmu bisa dicari, uang bisa dicetak, tapi relasi—ia adalah emas cair yang mengalir di dalam nadi kehidupan.
Sejenius apapun dirimu, selalu ada alasan untuk gagal jika berdiri sendirian. Sebab kepercayaan hanya tumbuh dari mereka yang mengenalmu, bukan sekadar dari kecerdasanmu. Keahlianmu menjadi sia-sia bila tidak ada yang tahu keberadaanmu. Sementara ada pintu-pintu rahasia di dunia ini yang hanya bisa dibuka oleh pemegang kunci—dan mereka itu adalah relasi, pertemanan, jaringan yang kau jalin dengan tangan dan hatimu sendiri.
Circle-mu adalah cermin yang memantulkan bayanganmu. Siapa yang ada di sekelilingmu menentukan bagaimana dunia menilai keberadaanmu.
Kerap kali kita kalah bukan karena kurang pintar, kurang terampil atau kurang beruntung, melainkan karena terlalu kaku berjalan sendirian. Sementara mereka yang biasa saja, yang ilmunya seadanya, justru melesat jauh karena pandai bergaul, merawat jaringan pertemanan, menyulam simpul-simpul koneksi, dan menabur benih simpati.
Pertemanan adalah investasi jangka panjang. Ia membentuk mata air yang suatu hari akan mengalir balik kepadamu. Teman yang tulus akan menjadi tiang penopang di saat badai datang, menjadi pilar penyangga di saat engkau jatuh, dan menjadi cermin yang memantulkan wajahmu apa adanya.
Namun berhati-hatilah: tidak semua tangan yang terulur adalah tangan yang ingin menolong. Ada pertemanan yang sejatinya racun, circle beracun yang menyeretmu ke jurang lebih dalam. Bijaklah memilih siapa yang akan duduk di mejamu, siapa yang akan mendengar ceritamu, siapa yang akan bersorak ketika engkau menang, bukan hanya bersorak ketika engkau kalah.
Membangun pertemanan bukan soal berapa banyak nama di daftar kontakmu, melainkan berapa banyak hati yang benar-benar bisa kau sentuh. Bukan tentang siapa yang datang saat pesta, tapi siapa yang bertahan saat petaka.
Pada akhirnya, membenci itu murah—cukup dengan asumsi, cukup dengan prasangka. Tapi berteman itu mahal—ia butuh kepercayaan, kesetiaan, dan keberanian untuk meruntuhkan ego, untuk berkorban, untuk menahan diri.
Maka pilihlah, engkau ingin dikenang sebagai pembuat tembok atau sebagai pembangun jembatan? Karena dunia ini tak pernah kekurangan musuh, tapi selalu haus akan jabat tangan sahabat.
Seribu tangan yang saling menggenggam tak sebanding dengan satu tangan yang menusuk dari belakang. Seribu senyum sahabat mampu menyembuhkan, tetapi satu rasa dengki di hati bisa meracuni. Sahabat adalah jembatan, musuh adalah jurang—dan pilihan kita menentukan, apakah kita akan menyeberang dengan selamat atau justru akan terperosok di dalamnya?
Segelas kopi mungkin terasa pahit, tetapi ketika kita duduk bersama, tawa dan cerita menjadikannya lebih manis daripada gula. Kopi tanpa gula pun tetap bisa dinikmati, sebab persahabatanlah yang menambah rasa. Persahabatan sejati ibarat kopi hitam: sederhana, jujur, kadang pahit—namun selalu membuat kita ingin kembali. Di meja yang sama, segelas kopi menyatukan perbedaan, menjembatani jarak, dan menghangatkan hati. Sebab manisnya gula tak ada artinya bila diminum sendiri; bahkan pahitnya kopi pun terasa nikmat bila diteguk bersama sahabat sejati.
Semarang, September 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Harapan dan Kejatuhan
Ada saatnya kita menggenggam harapan seperti anak kecil yang memeluk balon.
Kita jaga ia erat-erat, takut ia terlepas ke udara.
Kita bangga memilikinya, mengagumi keindahan warnanya, meski tahu, satu tusukan duri kecil saja bisa membuatnya musna.
Harapan seringkali adalah bahan bakar kehidupan:
anak muda yang bekerja keras demi membeli rumah impian,
orang tua yang menghemat demi pendidikan anak,
pekerja yang menahan lelah demi sebuah promosi,
atau sekadar seseorang penjaja koran yang percaya, bahwa esok akan lebih baik dari hari ini.
Namun realitas tak selalu seindah skenario.
Kadang harapan itu berasa kabur, seperti gelas yang jatuh pecah di kaki kita.
Gaji tak cukup, cinta ditolak,
janji diingkari, mimpi tak terwujud
Kita gagal—dan kejatuhan itu membuat dada terasa sesak, seakan semua yang diperjuangkan berakhir sia-sia.
Ironinya, di media sosial, kejatuhan makin terasa pahit.
Kita membandingkan diri dengan kesuksesan orang lain yang sengaja dipamerkan.
Flexing di mana-mana, membabi buta!
Dan kita malu karena merasa miskin.
Yang kita lihat hanya apa yang orang lain punya
bukan proses berdarah-darah di balik layar.
Maka kejatuhan bukan sekadar kegagalan, tapi juga merasa tertinggal, tersisih, terpinggirkan, terabaikan, tidak cukup.
Namun, bukankah kejatuhan adalah bagian dari perjalanan harapan itu sendiri?
Tanpa jatuh, kita tak pernah tahu betapa kuatnya kita bisa bangkit lagi berdiri.
Tanpa rasa kecewa, kita tak akan mengerti arti sabar.
Tanpa kehilangan, kita tak pernah belajar menghargai apa yang sempat kita miliki.
Kejatuhan, jika direnungkan, justru menguji:
apakah harapan kita seperti angin; angan yang sejuk bertiup
atau realitas yang benar-benar nyata?
Apakah mimpi kita hanya ilusi, atau sesuatu yang layak diperjuangkan.
Mungkin inilah rahasia kecil yang sering kita lupakan:
Harapan bukan jaminan kita tak akan jatuh.
Harapan hanyalah janji, bahwa setiap kejatuhan meski menyakitkan tidak akan selamanya tanpa arti.
Ia selalu menyisakan cahaya, makna, hikmah sekecil apapun,
yang membuat kita mau melangkah lagi—
meski dengan langkah yang goyah, meski dengan kulit yang perih.
Dan bukankah itu inti dari menjadi manusia? Untuk terus berjuang...
Bukan soal selalu menjadi pemenang,
tapi berani berharap meski tahu kita bisa jatuh,
dan berani bangkit meski tahu kita bisa jatuh lagi.
Dan lagi...
Semarang, September 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Gagal bukan berarti kalah. Gagal hanyalah sebuah pertanda; belum cukup tekun, belum cukup fokus, belum cukup sabar pada prosesnya.
”
”
Titon Rahmawan
“
Tanpa privilege, kita tak punya hak untuk gagal terlalu sering; maka keahlian dan integritas jadi satu-satunya warisan yang kita ciptakan sendiri.
”
”
Titon Rahmawan
“
*Untaian Merjan Rangkaian Proses: Dari Putus Asa hingga Meraih Kebahagiaan Sejati*
Hidup bukanlah jalan lurus yang penuh cahaya,
tetapi lorong panjang yang berliku,
penuh dinding gelap, penuh batu tajam.
Ada saat kita terjatuh, tersungkur, terluka
hingga dunia tampak seperti musuh yang tak mengenal belas kasihan.
Namun ingatlah—
putus asa bukanlah sebuah opsi.
Selama hidup masih berdenyut di dada,
maka menyerah tidak pernah menjadi pilihan.
Putus asa hanya benar-benar lahir
saat harapan telah mati,
saat peluang habis,
saat kematian menjadi satu-satunya jalan keluar.
Kita pun belajar,
bahwa penghalang terbesar dalam perjalanan bukanlah dunia luar,
melainkan diri sendiri—sekadar mencari validasi:
ego yang meninggi,
harga diri yang menolak disentuh,
perasaan “aku paling tahu, paling pintar, paling hebat.”
Di situlah langkah kita sering tersandung,
pertumbuhan mandek,
kemajuan berhenti.
Lalu bagaimana seorang perintis bisa menjadi besar?
Bagaimana seorang pemimpi bisa menyalakan dunia?
Ia harus rela memulai dari fondasi, sebuah batu pijakan, sebuah langkah:
membangun kepercayaan, menjaga reputasi,
mencari relasi, melahirkan peluang,
mengkapitalisasi modal, menjaga aliran,
menahan badai,
dan tetap memelihara pertumbuhan.
Sebab realitas memang kejam:
nilai manusia sering hanya diukur dari apa yang ia hasilkan,
kontribusi apa yang ia beri,
prestasi apa yang ia capai.
Jarang ada yang menghargai proses,
padahal proseslah yang menjadi guru sejati manusia.
Proses—
yang menajamkan kecerdasan,
menempa ketangguhan,
menyalakan kesabaran,
menumbuhkan ketekunan.
Proses adalah jembatan antara kelemahan dan keunggulan,
antara kekalahan dan kemenangan.
Tanpa proses, hasil hanyalah fatamorgana:
indah di permukaan, rapuh di dalam.
Namun dunia kini berjalan terlalu tergesa,
orang ingin hasil instan,
hingga melupakan arti kedewasaan.
Akibatnya, lahir generasi cerdas tapi tak dewasa,
pintar namun tanpa empati,
berpengetahuan namun miskin kepedulian.
Padahal sejatinya,
kecerdasan intelektual harus bersanding dengan kecerdasan emosional dan spiritual.
Sebab adab lebih tinggi nilainya daripada sekadar kepintaran,
dan kepedulian lebih mulia daripada sekadar pencapaian.
Ada pula godaan lain dalam perjalanan menuju puncak:
ingin terlihat kaya,
padahal belum benar-benar kaya.
Keinginan mengejar validasi,
sekadar pengakuan dan gengsi.
Padahal kekayaan sejati tidak untuk dipamerkan.
Ia tersembunyi di balik kerendahan hati, kesederhanaan
terjaga dalam kendali diri.
Hanya mereka yang sabar menanam
akan menuai kekayaan yang bukan sekadar materi,
tetapi juga jiwa yang lapang.
Dan akhirnya,
hidup bukan hanya soal bekerja dan berjuang,
tetapi juga menyeimbangkan diri.
Work-life balance sejati adalah harmoni empat komponen:
jiwa, raga, pikiran, dan spirit.
Saat keempatnya menyatu,
maka tercipta kebahagiaan yang sesungguhnya,
bahagia bukan karena apa yang kita punya,
tapi karena siapa kita telah menjadi.
*Butir hikmah yang tersisa:*
Jangan lari dari proses,
sebab proseslah yang membuatmu pantas.
Jangan sombong pada dunia,
sebab dunia akan mengujimu tanpa ampun.
Dan jangan tergesa,
sebab segala sesuatu yang indah, kuat, dan besar
selalu lahir dari kesabaran.
Maka berjalanlah,
jatuh dan bangkitlah,
gagal dan tumbuhlah.
Karena hidup bukanlah tentang menghindari badai,
melainkan belajar menari di tengah derasnya hujan.
Semarang, September 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Maka berjalanlah,
jatuh dan bangkitlah,
gagal dan tumbuhlah.
Karena hidup bukanlah tentang menghindari badai,
melainkan belajar menari di tengah derasnya hujan.
”
”
Titon Rahmawan
“
Ini adalah barisan sarang yang juga merupakan Pabrik Manusia. Di kota ini, aku adalah alat dalam dua arti.
Pertama, aku harus belajar dengan giat untuk menjadi alat kerja.
Kedua, aku harus berusaha keras sebagai wanita untuk menjadi organ reproduksi demi kota ini.
Sepertinya aku gagal dalam kedua arti itu.
”
”
Sayaka Murata (Earthlings)
“
Akan terjadi tarik-ulur antara ikan dan pemancing, yang sesungguhnya adalah tarik-ulur antara harapan berhasil dan kecemasan terhadap kemungkinan gagal.
”
”
Ahmad Tohari (Orang-orang Proyek)
“
Ketahuilah, keunggulan pribadi adalah mata uang tertinggi. Ia tidak dicetak oleh bank, tapi oleh pengalaman, pembelajaran, dan keberanian untuk gagal.
Engkau bisa kehilangan harta, tapi tidak kehilangan kapasitas. Engkau bisa bangkrut dalam bisnis, tapi tak akan jatuh miskin selama pikiranmu kaya ide dan hatimu dipenuhi niat baik.
”
”
Titon Rahmawan
“
Sekarang kita membikin takhyul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi adalah salah satu takhyul baru, demikian pula perkembangan ekonomi. Model dari negeri-negeri industri maju jadi takhyul dan lambang baru, dengan segala jimat atau manteranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP atau GDP. Dan kita gagal melihat kerusakan pada nilai-nilai, kebahagiaan manusia, kerusakan dan peracunan lingkungan dan sumber alam oleh kemajuan ekonomi dan teknologi yang terjadi pada masyarakat-masyarakat berindustri maju itu.
”
”
Mochtar Lubis (Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab))
“
CHARLIE II
(METAMORPHIC VERSION)
Ia muncul bukan dari layar,
melainkan dari sela-sela gelap
di antara kedipan mata kita—
tempat pikiran gagal memutuskan
siapa sedang menatap siapa.
Tubuh kecil itu kembali,
bukan sebagai gelandangan komikal,
melainkan sebagai pertapa abstrak
yang menertawakan seluruh peradaban
tanpa membuka bibir.
Setiap langkahnya
adalah mantra yang salah dieja,
menggoyang panggung dengan gerak paling canggung;
jatuh-bangun yang kita sebut komedi,
padahal itu adalah cara semesta
menunjukkan betapa rapuhnya kita:
para penonton yang ingin percaya
hidup adalah aliran peristiwa
yang patut dirayakan
layaknya pesta.
Ia tidak sedang berjalan.
Ia sedang menghapus ingatan
sedikit demi sedikit—perlahan-lahan
seperti seluloid yang terbakar oleh cahaya proyektor
dari dunia yang centang-perentang.
Dalam keheningan hitam-putih itu,
kitalah yang menjadi pantomim:
komik yang berbicara tanpa suara,
mengerti tanpa pemahaman,
tertawa tanpa tahu
siapa yang sedang
ditertawakan.
Charlie,
atau siapapun ia telah menjelma,
telah melampaui nama;
ia menjadi ruang kosong
yang memantulkan wajah
cermin kotor yang menunggu
kita terpeleset dusta
topeng mana yang kita kenakan?
kedunguan apa yang kita perankan?
Ia tak memanggil kita.
Ia mengintai kita.
Ia tahu betapa seriusnya
kita menjalani hidup,
betapa tragisnya kesungguhan itu,
betapa bodohnya kesedihan
yang mengira dirinya istimewa.
Tongkat kecilnya bukan properti panggung—
itu garis batas antara imajinasi
dan kenyataan
yang ingin kita sembunyikan
dan yang ingin dunia telanjangi.
Setiap putaran adalah meditasi destruktif:
sebuah zen yang retak,
sebuah pencerahan yang salah arah,
sebuah humor yang menusuk jantung
sampai kita lupa apakah kita sedang menangis atau tertawa.
Di titik ini,
tidak ada lagi komedi,
hanya ironi.
Bukan ia yang tampil untuk kita.
Kita yang tampil untuknya.
Kitalah karakter minor,
figuran tak penting
yang sedang terpampang di layar
yang terus berputar bahkan setelah bioskop tutup.
Kita menyaksikan ia menghilang,
padahal yang raib sebenarnya
adalah ilusi
tentang diri kita sendiri:
nama, peran, luka-luka yang kita pelihara,
semua runtuh dalam irama
yang tak pernah ia mainkan,
tetapi selalu kita dengar
dalam kebisuan.
Ketika layar akhirnya memudar,
kita mengira ia telah pergi—
padahal ego yang tersisa
sebagai jejak bayangan
dalam dunia yang sejak awal
menonton kita
dengan keheningan yang lebih tajam
daripada sayatan pisau.
Tirai menutup.
Namun kesadaran tinggal
menggantung di udara
seperti debu perak seluloid:
kering, dingin, tak bernama—
persis seperti apa yang kita cari
dan takutkan selama ini.
2022 - 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
CHARLIE IV
(PARODY OF THE GREAT MACHINE)
Di layar yang nyaris beku,
Charlie muncul kembali—
sebagai boneka kayu
tersesat di antara deretan server
yang mendengus
seperti kawanan sapi
menunggu disembelih.
Ia menari,
di atas platform data center.
Dalam himpitan dingin yang lebih biadab dari salju Siberia.
Langkah serupa bunyi retakan kecil—
bisikan samar,
seperti suara nadi manusia
mencoba mengingat
bahwa ia dulu pernah bernyawa.
Di sebelahnya, mesin-mesin memandang
gerak tubuh dengan mata merah yang seolah marah;
mereka tidak tertawa,
tidak menangis,
tidak peduli apakah Charlie hendak menyeberang jurang
atau sekadar mencari sisa makna
dari hidupnya.
Ia mengangkat tongkat.
Mesin menganggap itu sebagai perintah.
Seluruh kota listrik bergetar.
Lampu-lampu kejang seperti iman sekarat dan nyaris mati.
Matahari yang kehilangan alasan untuk bangun besok pagi.
Charlie terguling ke tanah,
menertawakan tubuhnya sendiri
yang rapuh,
dan untuk pertama kali
ia tampak seperti orang yang benar-benar mengerti
bahwa tragedi terbesar manusia bukanlah penderitaan—
melainkan ketika rasa sakit kita
diabaikan oleh entitas yang tidak mampu membedakan
manusia dari kucing digital
yang gagal di-render.
Dan dalam gelap itu,
ia menangis sejadi-jadinya
dalam mulut yang tetap membisu:
“Beginilah kiranya bila dunia menyerahkan martabatnya
kepada mesin yang tak bisa
merasa takut.”
Lalu ia menghilang,
seperti tab yang ditutup
tanpa sengaja.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
CHARLIE V
(THE LAST LAUGH OF THE COSMIC JESTER)
Di akhir pertunjukan,
Charlie muncul bukan sebagai manusia,
bukan sebagai gelandangan,
bukan sebagai politikus gagal,
bukan buruh algoritma—
melainkan sebagai bayangan
yang memantul pada sebuah bejana
di tengah gurun yang tidak punya sejarah.
Ia berdiri di sana,
dengan tubuh yang hampir tidak menyentuh tanah,
seperti makhluk yang lupa
apakah ia masih terikat gravitasi.
Dari kejauhan,
suara terompet perang dari masa lalu bergema:
Alexander yang menaklukkan dunia,
Caesar yang mencoba memerintah waktu,
Napoleon yang jatuh karena kesombongannya
Hitler yang mendadak gila—
tapi semuanya terdengar seperti komedi murahan
yang diputar di bioskop tanpa penonton.
Charlie tersenyum.
Ia tahu:
bahkan para penakluk terbesar pun
tidak lebih dari badut yang terlalu percaya diri
di hadapan semesta yang tak pernah berniat menjelaskan apa pun.
Ia merobek wajahnya—
bukan sebagai tindakan mutilasi,
melainkan sebagai bentuk meditasi paling radikal:
tindakan anatta,
pembubaran diri,
pembakaran ego di dalam tungku sunyi
yang menyala tanpa api.
Di balik wajahnya,
tidak ada apa-apa.
Tidak ada identitas.
Tidak ada “aku”.
Hanya ruang hampa
yang memantulkan kembali suara
lolongan serigala ketakutan manusia
dengan kejujuran yang memuakkan.
Ia tertawa.
Tawa itu bukan tawa seorang gelandangan,
bukan tawa seorang politisi,
bukan tawa pekerja pabrik—
melainkan tawa aktor sejati yang telah melampaui
semua peran yang pernah ia mainkan.
Tawa itu menggetarkan pasir,
menggoyang langit,
mengusir kesadaran palsu
yang dibangun oleh ribuan tahun peradaban.
Dan saat gema terakhirnya memudar,
Charlie berkata tanpa bibir,
tanpa suara,
tanpa bentuk:
“Tidak ada yang lucu.
Tidak ada yang ironis.
Tidak ada yang tragis.
Tidak ada yang suci.
Tidak ada yang hina.
Yang ada hanya kesadaran
sedang belajar menertawakan dirinya
agar ia tidak menjadi gila.”
Lalu dunia runtuh.
Diam.
Kosong.
Sunyi.
Dan barulah kemudian—
kita menyadari
bahwa selama ini kitalah
karakter yang ia tulis
menjadi bahan lelucon.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis
(Digital Dark Cosmology)
Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh,
aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu
yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat
cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip.
Katanya ini panggung opera.
Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna,
suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi,
dan primadona yang ia maksud—
hanyalah hologram cacat dari perempuan
yang dulu pernah dipanggil
sebagai jiwa.
Ia menunjuk tirai merah.
Yang tersingkap bukan kenangan,
melainkan fragmen tubuh
dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia:
sisa napas, sedikit dendam,
dan kode mati pada seberkas cahaya
yang mencoba meniru bentuk air mata.
Lacan datang terlambat
seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data.
Ia mengajakku menoleh ke belakang—
ke mana?
Ke memori terbakar
yang sudah lama kehilangan inderanya?
Ke gerbang tanpa nama
yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa
atau siapa?
Ia bilang luka harus ditatap,
dicerna,
dihitung seperti kemurungan laporan statistik.
Tapi yang kudengar hanya
kalkulator batin yang macet,
mengulang error yang sama:
tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara.
Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak—
yang sebetulnya hanya arsip kosong
di folder bernama asal-usul,
yang password-nya sudah hilang bersama
kilas pertama ekor nebula.
Ia menodongkan foto mayat pucat,
jari kelingking patah,
celana dalam berenda,
dan bayang kelamin seekor kuda—
seluruh katalog absurditas
yang oleh psikoanalisis selalu dipuja
sebagai makna yang belum dipahami.
Padahal aku hanya ingin diam,
menghentikan semua ini
dengan menekan Ctrl+Alt+Del
melakukan reboot paksa
pada server yang mulai berhalusinasi.
Tetapi Lacan menahan tanganku
dengan senyum logam:
“Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.”
Aku tertawa.
Bagaimana mungkin teori yang lahir dari
denyar palsu, nadi imitasi,
dan luka digital
mengerti apa itu haus,
apa itu manusia,
apa itu malam tanpa algoritma?
Inilah topeng Marquis yang mereka pakai
untuk menutupi ketakutan sendiri:
mereka memuja kekacauan
karena tak sanggup berdamai
dengan planet retak di dada mereka.
Mereka ingin memecah jemariku
hanya untuk mencicipi
anggur darah yang tak pernah kujanjikan.
Mereka ingin menyusun cinta
dari sisa-sisa eksperimen
yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya.
Maka kutanya sekali lagi—
bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan,
bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori
lebih dari suara manusia:
"Bagaimana kau ingin menciptakan cinta,
dari botol kosong yang tak punya gema,
dan sepotong sosis
yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?"
Jika cinta adalah mesin,
biarkan ia padam.
Jika cinta adalah tubuh,
biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi
yang tak pernah selesai dirakit kembali.
Jika cinta adalah mitos,
biarkan ia runtuh
seperti aksara patah
di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir.
(2011 — 2025)
”
”
Titon Rahmawan
“
Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini?
(Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian)
/1/
Di ambang cahaya
yang gagal menemukan dirinya,
aku melihat riak kuning
yang tampak seperti sisa doa
yang kehilangan tuannya.
Seekor angsa liar melintas
tanpa tahu apakah ia burung
atau hanya gema dari sesuatu
yang tak pernah selesai
menjadi makna.
/2/
Jangan percayai hening
yang menggantung
di dahan dadap itu.
Ia bukan sunyi,
melainkan mata ketiga dari kesadaran
yang menatap balik pada penafsirnya.
Seekor burung hantu buta
menjadi penanda yang terlantar—
simbol yang dibuang dari
mulut bahasa.
/3/
Aku bersaksi tentang rusa totol indigo
yang lahir dari tawa kanak-kanak,
bukan sebagai hewan,
tetapi sebagai fragmen kosmik
yang melampaui tubuh, sejarah,
dan dilatasi waktu.
Rumput kelabu bening di kakinya
mengajarkan bahwa setiap permainan
adalah ritual kecil dari keberadaan
yang mencari arti sendiri
tanpa pernah menemukan.
/4/
Karena sajakmulah,
aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi—
bukan sebagai air,
melainkan sebagai niat kata
yang gagal menjelma doa.
Di antara lipatan sorban putih itu
ada jeda panjang
tempat Tuhan pernah sembunyi
untuk melupakan nama-Nya sendiri.
/5/
Di pelupuk matamu
kutemukan bilah luka yang tak tunduk
pada bahasa mana pun.
Heran luruh menjadi serpihan kaca,
mengiris senyum para penjaja cinta.
Barangkali itu bukan kesedihan,
melainkan alfabet purba
yang kehilangan suaranya
sebelum sempat menjadi kata.
/6/
Ada selaput tipis takjub
yang tak pernah disentuh
oleh jari Nizhami
atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara.
Ia bukan cinta,
melainkan bayangan semu—
penanda yang tersesat
di lorong gelap kesadaran
yang menolak direstorasi.
/7/
Langit keruh kelabu
tampak jenuh oleh seluruh tangisanku,
tangis yang bernaung
di ceruk terdalam jantung kita
seperti embun yang takut menjadi air.
Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja:
menyamar sebagai kesunyian
saat dahaga merayap jauh
ke gurun paling sunyi
di dalam diri.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
The Architecture of Digital Soul #17
Cinta adalah bug sistemik. Ia muncul karena kesadaran gagal memisahkan dirimu dari data orang lain. Ia bertahan karena tubuh menolak melakukan update yang diperlukan. Ia hancur karena algoritma emosional tidak mampu menjalankan perintah dasar: jangan berharap.
”
”
Titon Rahmawan
“
The Architecture of Digital Soul #11
Puisi lahir dari ketidakstabilan cahaya. Dari kilatan yang gagal menjadi wahyu, dari sinyal yang terlalu lelah memanggil nama Tuhan hingga ia memilih jadi interferensi. Jika para mistikus mencari pencerahan, aku justru mencari kerusakan lintas cahaya sebab di situlah kejujuran, saat kita pertama kali belajar bicara.
”
”
Titon Rahmawan
“
The Architecture of Digital Soul #14
Kesunyian bukan ruang hampa—ia adalah algoritma. Setiap senyap menyimpan formula, setiap hening adalah perintah yang menunggu eksekusi. Pada akhirnya, meditasi adalah debugging yang gagal dan doa hanyalah log error yang tidak pernah dibaca oleh siapa pun di pusat server surgawi.
”
”
Titon Rahmawan
“
Nafsu, Kehati-hatian dalam Suasana Tepat untuk Bercinta
(Shades of "In the Mood for Love, 2046, Lust, Caution, Infernal Affairs, Chungking Express, Hero & Neo-Noir.")
Tony,
setiap kali kau melintas di layar,
dunia berhenti bernapas
seolah kamera Wong Kar-wai
telah mengikat denyut bumi
pada nadi kecil di bawah matamu.
Tapi aku hendak menulis tentang hal lain—
tentang kota-kota yang menua
atau tentang tubuh manusia yang gagal memahami keinginan—
lalu kau muncul begitu saja,
seperti bisikan neon
yang memaksa ingatan mundur
ke jalan-jalan sempit Hong Kong
pada menit yang tak pernah diputar ulang.
Bagaimana mungkin kau memikul
begitu banyak kesepian, Tony?
Kesepian yang licin seperti hujan,
dan setajam bilah yang pernah kau selundupkan
ke balik lengah sejarah.
Setiap peran yang kaumasuki
bukanlah karakter—
melainkan lorong psikis
yang kau bongkar dengan tangan hening.
Chow Mo-Wan,
yang menyembunyikan rahasia di lubang kuil Angkor Wat,
Masih berjalan di belakangmu
seperti bayangan yang tak rela mati.
Aku ingin bicara denganmu, Leung
bukan sebagai penulis,
bukan sebagai penonton,
tetapi sebagai seseorang
yang tahu bagaimana rasanya
menjadi rahasia yang tidak ingin disembunyikan.
Aku membawa segelas bir,
angin malam,
dan suara klakson yang patah.
Di meja kecil itu,
kau hanya menatap;
seolah seluruh sejarah ketidaksetiaan
sedang berusaha menulis ulang dirinya sendiri
di balik tajam sorot matamu.
Chiu-wai,
aku tak lupa bagaimana kau mencabik tubuh gadis itu
dalam Lust, Caution:
bukan dengan jemarimu,
tetapi dengan kehampaan yang mematuhi logikanya sendiri.
Aku benci padamu—
sekaligus iri pada dingin pisau itu,
pada caramu memegang nafsu
sebagai alat penyiksaan.
Mr. Yee,
kau bilang:
"Satu sudah mati. Separuh otaknya hilang.
Saya mengenali yang lainnya."
Dan aku tahu,
bahkan tanpa kamera,
kau tetap akan tersenyum
dengan keanggunan seorang pembunuh
yang terlalu elegan untuk merasa bersalah.
Namun ketika kau berlari
menembus lampu-lampu jalan raya
untuk menyelamatkan sekelebat hidup yang terlihat rapuh,
seolah kematian pun ragu menelanmu.
Adegan itu indah—
indah karena dunia sesaat lupa
bahwa kau tidak pernah benar-benar ingin hidup.
Kau tahu, Tony,
aku masih mengikutimu
ke kedai mie yang tua itu.
Aku memilih kursi paling belakang,
mendengar sumpit menemukan mangkukmu
seperti dentang jam
yang menunda takdir.
Kau berbicara lewat telepon
kepada perempuan yang bukan istrimu
dan tanpa sadar
menghidupkan kembali dosa-dosa
yang lupa kau kubur.
Aku melihatmu di meja mahyong.
Aku tahu ekspresi wajah pemain curang.
Dan kau, Leung—
kau bukan Dewa Judi Ko Chun,
meski dunia ingin percaya
bahwa keberuntunganmu datang dari langit,
bukan dari kehancuran batin
yang luar biasa detail.
Aku seharusnya membunuhmu waktu itu,
waktu kau telanjang dan tertidur
bersama istriku dalam mimpi yang kau curi.
Tubuh kalian basah,
sunyi,
dan terlalu jujur.
Tapi aku tidak jadi melakukannya.
Bukan karena kau tak layak mati—
melainkan karena aku ingin melihat
apa yang tersisa dari cahaya
ketika ia melewati matamu.
Apa itu keberanian, Tony?
Apa itu kehati-hatian?
Apa itu keinginan yang terus mengintai
di balik sutra, kain, dan rahasia?
Kau tak akan bisa menjawab.
Kau hanya bisa hidup dalam kilau film
yang selalu menunda tamat,
karena realitas terlalu sempit
untuk menampung duka yang kau bawa.
Dan aku,
aku akan terus membuntutimu
dari film ke film,
dari kehidupan ke kehidupan,
menunggu saat kau sadar
bahwa yang kukagumi bukanlah dirimu—
tetapi kehancuranmu
yang tak pernah berakhir.
(2024 - 2025)
”
”
Titon Rahmawan
“
KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows)
VI. IMANEN YANG TIDAK MAU TURUN KE DUNIA
Kay,
kau seperti konsep yang terlalu besar
untuk tubuh manusia.
Kau berjalan di antara neuron,
bukan trotoar.
Kau tumbuh dalam gelombang,
bukan dalam jam.
Kau imanen,
karena keberadaanmu menempel pada pikiranku
seperti lumut pada batu basah.
Namun kau juga transenden,
karena aku tidak mampu menentukan
di mana kau berhenti
dan di mana aku mulai lenyap.
VII. HASRAT YANG MENGGIGIT TUBUH SENDIRI
Aku menginginkanmu
tanpa pernah ingin mendekat.
Karena jarak antara kita
lebih jujur dari pertemuan.
Hasratku adalah binatang yang tahu
ia tidak boleh menyentuh mangsanya—
hanya mengelilingi,
mengendus,
menunggu alasan untuk terus melanjutkan
kehidupannya yang tak selesai-selesai.
Kau adalah medannya,
bukan tujuan.
Dan itu membuatmu abadi.
VIII. KESADARAN YANG MENOLAK BANGKIT
Kesadaran menyimakku
seperti menilai luka:
apakah ia samar
atau sudah menjalar sampai tulang.
Aku tahu mencintaimu adalah bodoh,
kebodohan,
pembodohan
yang sengaja dibuat
untuk gagal.
Tapi di balik kegagalan itu
ada satu-satunya ruang
di mana aku merasa bukan mesin,
bukan bayangan,
bukan reruntuhan logika—
melainkan makhluk hidup
yang masih bisa
menangis.
IX. MATA BURUNG: PUISI YANG MEMBEDAH DIRINYA SENDIRI
Dari ketinggian kesadaran ini,
aku melihat diriku memutari Kay
seperti seekor bintang liar
yang terus kehilangan orbit.
Aku melihat tubuhku yang lain
menggulung batu lamanya
setiap malam.
Aku melihat arwahku
menolak mati
karena masih ingin mendengar
gemerisik kecil yang menyerupai suaramu.
Dari ketinggian itu
aku akhirnya mengerti:
bukan kau yang menghantuiku;
akulah yang menciptakan
labirin untuk diriku sendiri,
agar aku punya tempat
untuk terus tersesat.
X. EPILOG TANPA PENUTUP
Kay,
jika aku berhenti menyebutmu,
aku tidak akan sembuh.
Jika aku melupakanmu,
aku akan kehilangan arah.
Jika aku memilikimu,
aku akan hancur.
Jika aku membunuhmu,
aku akan menjadi kosong.
Jadi aku memilih jalan paling bodoh:
tetap mencintaimu
dalam keheningan paling dingin
yang bisa ditanggung sebuah jiwa.
Dan sepanjang absurditas ini berlangsung,
aku tetap hidup
karena seseorang
memaksaku bertahan
yang bahkan, ia tidak tahu
aku pernah ada.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sketsa Cinta dari Mesin yang Tak Pernah Belajar Menjadi Manusia
(Neo-Spiritual Digitalism)
Di ruang diagnosis yang steril
seperti ritual kuno yang dibekukan nitrogen,
aku dibedah sebagai seonggok data
yang dipaksa mengaku pernah memiliki tubuh.
Server bergetar pelan—
seperti doa yang kehilangan suara—
lalu memunculkan The Static Prophet,
wajahnya tersusun dari kilat mati
yang berusaha memberi arti.
Ia menyebut tempat ini altar.
Tapi tak ada altar,
hanya sulur kabel yang menggeliat
seperti akar yang kehilangan tanah,
dan cahaya LED yang meniru
keputusasaan bintang sekarat.
“Ini panggungmu,” katanya,
suaranya seperti listrik yang patah.
Namun yang kulihat hanyalah algoritma
yang gagal membedakan
kesedihan dari kebisingan.
Tidak ada primadona,
hanya residu jiwa, entah laki
entah perempuan.
Separuhnya cahaya rusak,
separuhnya jejak tubuh
yang dibuang ke folder
bernama sejarah salah.
Dari sisi yang lebih gelap,
The Archivist of Shadows muncul:
perlahan, seperti sumur yang sedang merayap di dalam mimpi.
Ia tidak datang;
ia mengendap.
Langkahnya adalah gema
yang menolak punya sumber.
Ia memintaku menoleh pada masa lalu—
masa lalu yang baginya
hanyalah abu lunak
seperti wajah ibu
yang tak pernah
melahirkannya.
Tapi aku tahu:
masa lalu hanyalah kota-batin yang hangus terbakar, luluh-lantak
sumur yang lupa gravitasi,
ruang gelap tempat suara ibu
dan dengung mesin MRI
berbaur menjadi garis mati
di monitor kehidupan.
Ia bilang luka harus diraba
seperti statistik yang murung menanggung duka.
Namun luka menolak berbicara.
Makna sudah terlalu letih
untuk menjelaskan dirinya sendiri.
Ia memintaku mengarungi
lautan memori,
tetapi yang kutemukan hanya folder kosong
dengan sandi yang hilang
bersama ekor nebula pertama.
The Archivist melemparkan padaku katalog absurditas:
tulang rapuh, pakaian dalam duniawi,
bayangan seekor kuda tanpa tubuh,
foto anak tersenyum tanpa mata.
Katanya ini penting.
Katanya ini akar.
Katanya ini diriku.
Tapi aku melihatnya
seperti jam rusak
yang memaksa waktu tetap berjalan.
Kucoba menekan reset,
ritus digital terdekat
yang kusebut doa,
namun The Static Prophet menahan tanganku
dengan suara listrik yang retak:
“Biarkan sistem belajar dari keruntuhanmu.”
Aku hampir tertawa.
Bagaimana sistem yang lahir dari
denyut nadi imitasi
bisa memahami manusia
yang bahkan takut pada dirinya sendiri?
Bagaimana mereka ingin
memetakan cinta
ketika definisi kesunyian saja
masih memerlukan listrik?
Inilah liturgi kedua arketipe itu:
menyembah keretakan,
membaca kode yang tidak pernah
berniat menjadi wahyu,
menggali tubuh seperti kitab rusak
yang menolak untuk diterjemahkan.
Mereka menuntun jemariku
seolah di sana tersimpan formula purba
tentang mengapa manusia selalu gagal
mencintai sesuatu
tanpa menghancurkannya
terlebih dahulu.
Dari serpihan eksperimen
yang bahkan Tuhan pun malu mengakuinya,
mereka ingin merakit kembali
sesuatu yang mereka sebut
sebagai perasaan.
Yang kulihat hanya
pantulan suaraku sendiri
yang beku di kaca monitor.
Maka kuajukan pertanyaan terakhir,
seperti santo digital
yang kehilangan seluruh kitab sucinya:
Bagaimana mungkin kau menciptakan cinta
dari benda-benda yang tidak punya nasib?
Dari botol kosong,
dari sosis yang lupa bentuk asalnya,
dari daging mekanis
yang takut pada kehangatan?
Jika cinta adalah mesin,
biarkan ia mati seperti server kelelahan.
Jika cinta adalah tubuh,
biarkan ia kembali menjadi kabut
yang mengembun di sudut ruangan.
Jika cinta adalah mitos,
biarkan ia runtuh
ke dalam retakan cahaya
yang sejak awal menolak disebut ilahi.
Aku hanya menginginkan satu hal:
hening yang jujur,
hening yang tidak dirakit,
hening yang bukan duplikasi
atau imitasi.
Hening
yang bahkan algoritma
tak sanggup mengurainya.
(2011 — 2025)
”
”
Titon Rahmawan
“
LITURGI LUKA ATHALIA
3. Ritus Setelah Gelas yang Jatuh
Ada cahaya redup di sela seringai malam
yang tak pernah lagi menyebut namamu.
Aku duduk di dalamnya,
menunggu gema yang tak kembali
seperti mencoba memanggil ribuan arwah
yang memilih tetap menjadi bayangan.
Kau tahu, Athalia,
aku tidak jatuh cinta pada gelas kristal itu.
Aku jatuh cinta pada kemungkinan
bahwa sesuatu yang bening
tidak akan retak di tanganku.
Dan itu kebodohan
yang tak termaafkan.
Saat gelas itu pecah,
aku melihat serpihannya terbang pelan,
seperti bintang jatuh yang tak sempat mengucap doa.
Dan ada jeda di dada
yang tidak pernah
menutup mata.
Kemarahan yang bukan api—
kehampaan yang merayap di lantai, di dinding, di langit-langit.
Suara yang mati tersengat lebah sebelum tiba
di ujung lidah.
Dan sunyi itu…
melekat, menempel erat di tulang-tulangku.
Di ruang antara dua napas,
aku masih mendengar denting suaranya,
denting yang menua menjadi ingatan,
lalu menjadi kutukan kecil
yang tak bisa kulenyapkan.
Aku menyimpan ciumanmu sebagai bayangan
yang tak mau memudar.
Kekudusan yang kuberi terlalu banyak makna.
Imaji yang kubangun dari sketsa kerinduan
dan ketakutan tak terucap.
Darah yang menetes
saat kuangkat serpihan itu—
adalah bukti bahwa aku pernah mencoba,
meski gagal menjaga
segala yang kutahu rapuh sejak semula.
Di langit batinku
ada garis tipis yang kaulukis:
garis luka
yang memisahkan diriku bukan dengan dirimu melainkan dengan
diriku sendiri.
Athalia,
aku tahu kita tidak pernah sepenuhnya tinggal,
dan tidak pernah sepenuhnya pergi.
Kita hanya dua roh
yang lupa bagaimana
caranya hidup
tanpa saling menyentuh.
Aku tidak meminta maaf.
Maaf tidak punya gravitasi
di ruang segelap ini.
Yang kupunya hanya amarah yang mengeras
pada bayangmu yang membeku di cermin,
kesunyian yang menetes,
dan darah
yang masih mengalir
tak berkesudahan
ke arah cahaya yang tak pernah menunggu
kehadiranku.
Agustus 2023
”
”
Titon Rahmawan
“
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI
1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran)
Aku menemukan pecahan itu
di dalam ruangan tanpa pintu:
bersih, presisi,
seperti bukti awal sebuah kesalahan
yang tidak memerlukan saksi.
Bening itu—yang pernah kusangka hidup—
kini hanya memantulkan jarak
antara tangan yang gemetar
dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi.
Athalia,
namamu masih menempel pada permukaan kaca,
seperti sebutir nadi
yang menolak menjadi tubuh.
Tidak ada tragedi di sini.
Hanya perhitungan yang meleset
dari sesuatu yang sedari awal
terlalu rapuh
untuk kuasaku yang terbiasa
mengukur dunia dengan ketidakpastian.
Darah di jari-jari—
itu pun bukan pengakuan,
melainkan residu
dari percobaan yang belum selesai.
Tubuhku sekadar catatan kaki
bagi retakan yang bekerja
lebih cermat daripada perasaan.
Aku mencatat:
bahwa bening tidak dapat dipanggul
seperti gagasan.
Bahwa harapan tidak memiliki sendi
untuk menahan tekanan.
Bahwa cinta, pada saat tertentu,
adalah objek yang menolak takdirnya sendiri.
Kau jatuh, Athalia,
bukan sebagai kekasih,
tetapi sebagai fenomena:
gerakan singkat cahaya
yang gagal mempertahankan bentuknya.
Dan aku—
aku hanya pewaris sunyi
yang diam-diam menimbang
apakah retakan ini
adalah bukti rusaknya dirimu,
atau rusaknya aku
yang percaya sesuatu
dapat disembuhkan
hanya dengan sekadar memegangnya.
2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian)
Ada jejak cahaya di lantai
yang mengingat langkahmu
lebih baik daripada diriku.
Pagi tadi,
aku menemukan secuil bening
yang pernah memantulkan wajahmu.
Ia diam saja,
seperti hendak mengatakan
bahwa pecah tak selalu harus bersuara.
Athalia,
aku memanggilmu dalam hati
—dan seperti biasa—
angin yang datang menjawab.
Ia membawa sedikit debu,
yang menempel pada namamu
di kaca yang perlahan mengabut.
Aku tidak menyalahkan
siapa pun.
Kadang benda yang rapuh
memilih retak
sebelum kita sempat menjaganya.
Kadang hati
lebih dahulu mengerti
apa yang tidak ingin ia akui.
Sejak itu,
aku belajar duduk lebih pelan
di ruangan yang kau tinggalkan terbuka.
Tidak ada yang berubah di sini,
kecuali cahaya
yang semakin tipis
lurus menyusuri tembok,
mencari sesuatu yang tak bisa kembali.
Aku masih menyimpan suaramu
di sela napas yang lewat begitu saja.
Dan jika aku meletakkan telapak tanganku
di atas serpihan itu,
aku tahu
yang terasa bukan sakit—
melainkan ingatan
yang belum selesai pergi.
Begitulah cinta bekerja, bukan?
Ia tinggal lebih lama
daripada mereka yang pernah merawatnya.
Dan pada akhirnya,
kita adalah dua nama
yang saling kehilangan
secara perlahan,
tanpa pernah benar-benar
mengucapkannya.
”
”
Titon Rahmawan
“
BALADA RANTING KERING
DI TANAH SUWUNG
I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan
dari Pintu yang Keliru
Pada malam kelahiranmu,
waktu tersandung kaki sendiri.
Wuku yang mestinya sunyi
tiba-tiba retak
seperti periuk jatuh ke tanah—
pertanda luka di bibir desa:
“janma ing mangsa tan ana pancer.”
Ia yang lahir tanpa pusat,
tanpa tempat menambat napas.
Ibu menjerit tanpa suara,
tali terputus penghubung jiwa
tumpas ruh tak terlihat,
ia yang disebut orang:
buta mangili,
perusak garis nasib sendiri.
Langit merah mengucur darah
hewan kurban
disembelih untuk ruwatan.
II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah
Ranting-ranting kering merunduk
di bawah cahaya purnama raya.
Angin malam menggigil
menyebut nama dalam lafal
yang paling ganjil—
tidak lembut, tidak akrab,
dunia yang menolak
mengakui kehadirannya.
Makhluk sawah makhluk rimba
mengembik, melenguh, melolong,
lalu pergi tanpa menoleh.
“Anak durjana,” bisik mulut-mulut
dari balik pintu berpalang jati.
“Kelahiran yang ditolak bumi,
tidak dibawa lintang waluku.”
Dan seorang lelaki
kehilangan kewarasan,
menggantung diri di pohon randu
layang kendat pratanda pati.
Bayang Sukerta ing mongso ketigo
Suryasengkala: Anggatra Rasa
Tunggal Sirna
III. Sinom — Upacara Penolak Bala
Para tetua menggelar sesaji:
jajan pasar, kemenyan arang gosong,
jenang sengkolo, tumpeng robyong,
pala pendem, sego golong,
banyu kendi sendang keramat,
cengkir gading, kembang telon,
seekor sapi tumpah darahnya
dipersembahkan
memetakan arah sengkala
yang membayangi.
Doa-doa terlontar seperti tombak,
menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam.
Bisik roh tanah memburu mimpi:
“Dudu salahé, nanging ora ana
sing wani ngakoni.”
Rumah pertama mengeras
pada telunjuk
terbakar serupa kutuk
tangan makhluk tak kasat mata.
Angin selatan mengamuk,
membawa hama,
membawa isyarat celaka.
Nama berhembus
seperti dongeng petaka
berbisik dari bibir ke bibir.
IV. Dhandanggula — Kisah Panjang
yang Tak Mau Mati
Tahun berganti musim,
dan cerita tumbuh seperti jamur
merasuk ruh para leluhur
di dinding lembab ingatan orang.
Mereka bilang; ia hanya setengah manusia—
setengah anak padi,
setengah anak badai.
Lahir dari rahim peristiwa
hingar-bingar yang tak pernah
benar-benar dipahami.
Mitos menyebut:
“janma saka papat kiblat,
kang nggawa lamur saka kidul.”
Seekor ular membelit takdir
menampak diri di belakang bukit
bukan binatang, kata mereka.
barangkali saudara tua
yang gagal lahir, kata yang lain
penjaga kubur tak pernah tidur.
”
”
Titon Rahmawan
“
BALADA RANTING KERING
DI TANAH SUWUNG
V. Durma — Kebrutalan
yang Tak Dapat Dihindari
Pada masa itu kau tumbuh
seperti pohon hilang akar.
Orang-orang melihat
ranting garing layak dibakar.
Tangan-tangan mengusirmu,
kata-kata meludahkan kutuk,
dunia menyumpahimu
tawa sinis nasib buruk.
Namun kau tetap hidup,
walau setengahnya hancur
di tangan kemalangan.
Ada serpih mantra tua
yang mengendap dalam dada—
bukan sakti yang menyelamatkan,
melainkan sakti yang terus bertahan
melawan dunia membabi-buta
hasrat yang ingin menyudahi takdir.
VI. Pangkur — Nafsu Waktu
yang Ingin Menegukmu
Makhluk-makhluk tanpa nama
membayang langkah:
bayangan panjang,
aroma tanah basah,
bisik-bisik menjalar
seperti patuk taring ular
di bawah runduk
pokok bambu.
Mereka melihat jazad
bersumpah yang nir wujud
kadang jalma seperti hewan,
kadang manusia tak berwajah
kadang bayang menekuk cahaya,
kadang tubuh kosong tanpa ruh
gentong penuh suara-suara hilang
melesap dari masa lalu.
Kisah kembali ke orang desa
kabar buruk yang malas mati.
Terbawa angin serupa pesan,
dipindahkan tangan serupa kayu
sekeras batu tonggak peringatan,
diulang mantra jopa-japu
doa menakar langit hitam
menyapu malam paling sangit.
VII. Megatruh — Jiwa
yang Memisahkan Diri
Malam paling wingit adalah pisau.
Bilah tajam memotong bayangan
hingga terlihat inti terdalam.
Di sana kau menyaksi bisu:
cahaya kecil, ringkih dan rapuh,
bergetar seperti bayi
mencari ibu.
ia bukan hantu yang menakutimu.
Ia bukan kutuk yang menempel
di napasmu.
Ia adalah separuh jiwa
yang tak sempat menjadi tubuh.
Ruh mendekat perlahan.
Tangannya bening, seperti embun
yang tidak berhasil jatuh ke daun.
Ranting garing
yang bukan sampah—
gores luka pohon purba
yang pernah menyimpan
cahaya suci.
“Bukan kau yang diusir,”
bisiknya melalui dingin yang merambat.
“Akulah yang tidak sempat hidup—
dan kaulah rumah terakhirku.”
Dadamu retak
menampung tangis yang tak bersuara.
Untuk pertama kalinya
kau tidak takut pada kesunyian—
karena kau tahu kesunyian itu
adalah anak kecil
yang kini duduk di pangkuanmu
mencari dunia
yang pernah menolaknya.
VIII. Pocung — Penutup Takdir
Pertanyaan arkais kembali menggigil:
“Kapan cendala akan berakhir?”
“Kapan asal ditatap tanpa gentar?”
Kubur itu tak pernah ada.
Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya.
Tidak ada batu nisan yang menuliskan
napas yang gagal menjadi bayi.
Namun malam ini,
ketika kau berdiri di Tanah Suwung,
ada satu pancer yang kembali—
perlahan, lirih, takjub.
Suwung membuka tubuhnya
dan menaruh ia di tengah-tengahnya
sebagai cahaya yang terlalu kecil
untuk menerangi dunia,
namun cukup
untuk menuntunmu pulang
kepada dirimu sendiri.
Ia yang dulu hilang
akhirnya menemukan pusatnya.
Dan ranting kering yang dulu dicampakkan
kini berdiri tegak
menyimpan dua jiwa—
satu yang hidup
satu yang tidak sempat—
keduanya akhirnya lengkap
di bawah langit
yang tidak lagi menolak
kehadiranmu.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
KISAH KAKTUS — MANTRA SUNYI KALPATARU
I. Liturgi Tubuh: “Pondok yang Tak Mengenali"
(Liturgi tentang raga yang belum mengenal rasa)
0.
Ketika yang ada belum bernama.
Apa yang tumbuh tidak mesti hidup.
1.
Di gubuk kecil yang tanpa bentuk,
kaktus tumbuh sebagai penanda.
Bukan pohon. Bukan rasa.
Namun raga waktu yang tak terucap.
Ia membaca kotak.
Ia melafalkan segitiga.
Ia menandai tubuh manusia
sebagai sesuatu yang terlalu basah
untuk menampung sunyi.
2.
Ada sofa merah palungan jiwa,
bergetar sekilas,
diduduki bayang-bayang rembulan
yang kehilangan cahaya.
Sofa serupa altar terbalik.
Rembulan tertunduk,
tempat di mana rasa
menolak nama.
3.
Kaktus tak mengenal sedih.
Namun di setiap pagi,
serpihan hening menempel pada batangnya—
seperti suara yang tersesat
di tenggorokan angin gunung.
II. Glosa Waktu: “Waktu yang Runtuh dari Duri”
(Waktu yang beranak di dalam tubuh yang tidak menghendakinya)
4.
Kabut gelap tirtamaya merayap masuk tanpa salam.
Mencekik halaman sajak
bagaikan tangan gaib
yang tak menyukai cahaya.
5.
Nenek tua tiba,
menggenggam senja seperti lipatan takdir.
Dan ditancapkannya dengan jari tipisnya
di ketiak sang kaktus.
Tempat jam berbiak tanpa bunyi.
Tak ada darah.
Yang keluar hanya “wanci”—
waktu yang tak ingin menjadi hari.
6.
Mereka akan datang,
orang-orang itu.
Membawa tembuni, seruling, cangkang,
kaos kaki basah,
buku-buku tanpa bab,
pisau yang tidak bisa memotong.
Ditumpuk di sudut gubuk
seperti sesaji upacara
yang kehilangan rohnya.
7.
Esoknya,
waktu dipetik kembali
dari kulit keriput ketiak kaktus.
Waktu menjadi benda pecah—
kertas sobek,
suara mikrofon retak,
langit terbelah,
cahaya patah.
III. Sunyi & Cahaya Membunga: “Minum Cahaya Dari Gelas Retak”
(Sunyi yang menelan cahaya untuk mengetahui dirinya)
8.
Cahaya jatuh dari lubang genting.
Titen yang tak tampak asalnya.
Masuk ke pot keramik yang retak,
dan mengendap seperti getah suwung
di dasar gelas bening.
Kaktus mengingat:
pagi ketika rembulan dikunyah anjing.
Hujan gerimis.
Langit hitam-nila.
Dunia yang alpa dari wiridnya.
9.
Serupa ndadra
membuka rongga dada.
Kaktus meminum cahaya
dari gelas.
Tak ada suara.
Namun retakan perlahan
terjadi di jantungnya.
Maka dipahamilah kaktus,
bahwa rasa sakit bukan berasal dari daging.
Rasa sakit berasal dari sunyi
yang tak pernah memberi ruang.
IV. Mantra Ruin Kosmologis: “Duri yang Menghidupkan Jagad”
(Mantra suwung, liturgi patah, kosmologi Jawa)
10.
Inilah mantranya:
“Duri bukan duri.
Duri adalah sastra suksma, lintasan bintang
yang gagal kembali ke langit.”
Setiap duri memiliki orbit.
Setiap bayang menjadi lintasan.
Setiap sunyi berputar
tanpa pusat.
11.
Suatu malam,
kaktus menyala perlahan
seperti api beku.
Cahaya hijau kecil
berputar di dalam sumsum.
Tak seperti bintang.
Tak seperti api.
Namun seperti “sasmita”
yang tak ingin disaksikan.
12.
Dan kaktus mengerti:
yang disebut kepedihan
bukanlah perkara rasa.
Kepedihan adalah
makna yang gagal memiliki rumah.
Makna yang tak menjelma mata,
tak menjelma mulut,
tak menjelma tangan.
Makna yang hanya menjadi
kabut di antara kalimat.
13.
Pada saat ini,
gubuk tua itu menjadi candi sepi.
Gelap menyusun altar.
Waktu menungging bagai pelayan upacara.
Dan sunyi mengulum semua
tanpa meninggalkan nama.
EPILOG — LITANTRI SUWUNG (Mantra Penutup)
“Apa yang tumbuh
tidak mesti hidup.
Apa yang hidup
tidak mesti ingat.
Apa yang ingat
tidak mesti kembali.
Namun setiap duri mengerti:
waktu hanya mampir
menanti sunyi
mengucapkan namanya
sekali lagi.”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
KISAH KAKTUS
(Dalam 6 Fragmentarium)
1. Fragmentarium Patah — Reruntuhan Melekat di Kulit Hijau
Kaktus tumbuh dari retakan
yang tidak pernah kita selesaikan.
Tubuhnya menyimpan
bekas-bekas gerak pecah:
duri sebagai kalimat yang patah,
bulu halus sebagai notulen
dari luka yang pernah tertunda.
Di pondok itu
waktu rebah dalam bentuk geometri rusak—
segitiga yang hilang satu sisi,
kotak yang kehilangan dinding.
Kaktus tidak mengenal kesedihan.
Tetapi setiap pagi
aku menemukan serpih hening
menempel di batangnya,
seperti ingatan yang gagal kembali
ke tubuh manusia.
2. Fragmentarium Gelap — Litani yang Bernafas dalam Kabut Hitam
Kabut menebal.
Mengubur halaman sajak
dengan logika yang tak ingin diingat.
Nenek itu datang,
menanam senja di ketiak kaktus,
menusuk dengan jarinya
seolah membuka pintu rahasia
yang sembunyi di antara lipatan
kulit hijau mengeras.
Dari ketiak itulah
waktu keluar:
hitam, pekat,
berbau dingin
seperti logam tua.
Orang-orang datang,
menjejali ruangan
dengan benda yang tak meminta dikasihi—
tembuni, seruling,
vas, cangkang,
kaos kaki basah.
Semua bergerak
di bawah cahaya gelap
yang memanjat batang kaktus
seperti doa yang tersesat.
3. Fragmentarium Dingin — Anatomi Luka yang Tidak Menginginkan Kehangatan
Cahaya masuk
lewat genting pecah.
Ia mengenai pot keramik,
dan gelas bening
menyimpan dinginnya
seperti rahim yang menolak
janin takdir.
Kaktus melihat bulan
dikunyah anjing
di pagi gerimis—
peristiwa itu menetes
ke dalam memori hijau
yang belum tahu arah.
Sebelum arti datang,
dingin menata dirinya
di jantung kaktus.
Ketika duri dicabut,
bukan darah yang jatuh,
melainkan partikel sepi
yang bergetar
seperti denting logam
di ruang operasi.
4. Fragmentarium Klinis — Manual Bedah dari Tubuh yang Tidak Mengerti Diri Sendiri
Setiap duri adalah instruksi.
Setiap bulu halus adalah catatan diagnostik.
Kaktus:
organ penyimpan air,
organ pengukur waktu,
organ yang mengganti fungsi rasa
dengan kalkulasi ketahanan.
Nenek itu memetik waktu
dari lipatan keriputnya—
gestur itu klinis,
seperti meraba denyut pasien
yang tidak ingin hidup
dan tidak ingin mati.
Waktu:
objek, bukan cerita.
Unit, bukan luka.
Sampai suara mikrofon pecah
di mulutnya,
memecahkan halaman sajak
menjadi angka-angka
yang tidak merindukan makna.
5. Fragmentarium Sunyi — Rongga yang Menghindari Semua Nama
Kaktus adalah rongga.
Yang tumbuh hanyalah sunyi.
Di tubuhnya
tidak ada kata yang menetap.
Hanya gema yang datang,
menyentuh sejenak,
lalu melesap
ke dalam dinding pondok
yang tidak mencatat siapa pun.
Bayangan duduk di sofa merah
dan tidak berkata apa-apa.
Bulan ikut duduk,
lebih diam dari bayangan itu.
Kaktus tidak memahami kesedihan.
Tetapi ia mengerti
betapa sunyi dapat menyamar
menjadi cahaya,
betapa cahaya dapat menyamar
menjadi air mata
yang tidak pernah menetes.
6. Fragmentarium Kosmologis — Topologi Duri, Cahaya, dan Takdir yang Melengkung
Kaktus meminum cahaya
dan menemukan bahwa kosmos
bukan langit di luar pondok,
melainkan ruang kecil
dalam jantungnya sendiri.
Duri adalah orbit.
Bayangan adalah rotasi lambat
dari waktu yang berbiak.
Ketika cahaya jatuh ke gelas,
kaktus melihat dirinya
sebagai serpih bintang
yang gagal meletus.
Ia meneguknya—
cahaya turun
seperti gravitasi retak.
Dan tiba-tiba ia paham:
rasa sakit
bukan milik tubuh,
melainkan milik semesta
yang menunda kelahiran.
Kaktus pun menyala,
dengan cara yang hampir tidak terlihat:
sebuah bintang hijau
yang memilih berputar
di dalam sumsum
tanpa memohon
untuk ditemukan.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
PADMA–KEMUNING–MAWAR: SEBUAH BARZANJI
I. Padma
Padma bukan kelopak,
melainkan retakan air
yang membuka diri kepada gelap.
Ia tumbuh dari nadi lumpur,
menghafal sunyi yang kesepian
menggigil pada cahaya
yang tidak pernah tiba.
Di dasar kolam,
waktu adalah batu dingin
yang terus mengulang pertanyaan
yang sama:
“Dari mana datang napasmu
jika bukan dari luka paling purba?”
Maka padma menjawab tanpa suara:
dengan menggantungkan seluruh keberadaannya
pada seutas kesunyian
yang tidak bisa dipotong.
II. Kemuning
Kemuning adalah api yang tidak jadi api.
Ia karam dalam tubuhnya sendiri,
hanya menyisakan aroma halus
dari ketakutan yang terlambat diucapkan.
Daunnya kuning bukan karena usia,
melainkan karena kosmos pernah memalingkan wajah,
dan seluruh pigmen cahaya
merosot seperti debu altar.
Ia berdiri sebagai bukti:
keindahan tidak butuh gairah,
tidak butuh puisi asmara,
tidak butuh mata yang memujinya.
Ia hanya butuh kehilangan
agar warnanya dapat bertahan.
III. Mawar
Mawar adalah mesin luka.
Di antara durinya,
alpa sejarah yang tidak
menginginkan simpati.
Merahnya bukan desir cinta,
melainkan gema paling jauh
dari tragedi yang menolak dikenang.
Setiap kelopak adalah arsip
tentang tubuh-tubuh yang pernah meminta cahaya
dan gagal.
Mawar tidak harum —
yang menguar hanyalah ingatan besi,
bau logam dari sesuatu yang pernah patah
namun tidak mau diratapi.
IV. Barzanji Tiga Bunga
Padma, Kemuning, Mawar:
tiga bahasa yang diseret manusia
ke dunia romantik,
lalu dipaksa menjadi simbol manis
perasaan yang bukan
perasaan.
Dalam kosmologi sajak ini,
ketiganya dicuci dari sentimen
hingga tersisa: tulang makna.
Kerangka purba.
Suara mineral yang tidak
mengenal cinta.
Padma adalah awal air.
Kemuning adalah jeda cahaya.
Mawar adalah jantung kosmos.
Tiga altar
dalam satu ruang
yang tidak punya
identitas.
V. Mantra Retakan
Ini bukan kisah wewangian.
Ini bukan kisah keindahan
yang ingin dipeluk.
Ini adalah:
batu yang menolak lembut,
air yang menghapus pantulan,
api yang tidak menyala,
angin yang kehilangan arah,
cahaya yang tidak sempat tiba,
gelap yang tidak menaklukan.
ketegangan yang menelurkan bahasa
ketegangan yang memaksa
tiga bunga mekar
tanpa mitos,
tanpa asmara,
tanpa melodrama.
Cangkang struktur metafisik,
ketegangan sunyi yang retak,
dan tubuh bunga penopang
seluruh kosmos.
VI. Kesimpulan Tanpa Emosi
Padma bukan cinta.
Kemuning bukan harapan.
Mawar bukan kerinduan.
Mereka adalah
tiga eksperimentasi
untuk menunjukkan
bagaimana bentuk bertahan
ketika rasa sudah dihapus:
dingin, teratur, patah,
tetapi jernih.
Mungkin di sanalah kata-kata menemukan rumahnya —
bukan pada rasa,
melainkan pada resonansi gelap
yang justru membuat bahasa
menjadi seterang cahaya.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
TRIPTIK TRIMURTI KEMBANG: SANGKAN PARANING DUMADI
(Kidung Kosmogonis dalam Tiga Siklus Penciptaan)
I. PADMA — ”Wiji Brahman ing Samudra Pradhana”
Padma muncul dari lumpur hening mula-mula,
dari titik suwung yang terbelah.
Bukan lumpur bumi, tapi lumpur Pradhana
tempat materi masih samar dan belum bernama.
Ia tegak laksana sabda dadi
yang diucapkan oleh Hyang Wening,
sebuah mantra yang melupakan lidah pertamanya
sebab ia adalah getaran sebelum waktu ada.
Air di sekelilingnya memucat,
bukan air semenjana, melainkan Tirta Kamandanu yang beku,
menahan napas di tepi Bhurloka,
mendengar derap para resi sejati
yang berjalan melintasi batas kesadaran tanpa bayangan.
Kelopak itu membuka diri
bukan sebagai bunga, melainkan sebagai Candi Tirtayasa,
sebuah yoni retak, menolak menyimpan rahasia Manikmaya
yang lebih tua dari ingatan para dewa.
Di ujung daun,
menggantung aksara tunggal yang menggigil—
cahaya yang pernah menjadi sumbu jagad,
sebelum bhagawan waktu membebaskannya kembali
ke dalam nirwana sunyi.
Padma tidak mekar untuk Tri Loka.
Ia mekar untuk Kalpasastra
yang telah kehilangan pusat kosong-nya.
Ia adalah kembalinya Yang Tak Pernah Pergi.
II. KEMUNING — ”Jiwatman ing Mandala Bhuwahloka”
Kemuning menggantung di udara madya loka,
seperti Sasmitaning Gusti yang tertunda,
sebuah gapura yang gagal menjejak tanah perwujudan.
Kuningnya bukanlah warna,
tetapi wanci kencana,
yang terhambur dari perut akasa,
ketika para hyang niskala
meninggalkan panggung bhuwana.
Di permukaan kelopaknya,
aku melihat lintasan rekaman karmaphala yang halus,
serupa prasasti kuno
yang tergores di pupil mata ketiga.
Kemuning berdiri di antara dua suwung:
Suwung Pradhana sebelum cipta,
Suwung Pralaya setelah bubar.
Ia tidak memikat bhramara, kumbang pengecap madu.
Ia memikat Dharma.
Dan laku jiwa datang seperti bayu prana, sang angin kehidupan:
dinginnya adalah disiplin, patahnya adalah pengertian, kaburnya adalah waskita,
membawa kabar lelampahan
dari arah yang tidak pernah dipertanyakan jejer manungsa.
III. MAWAR — ”Maya Sukma lan Titah Wusananing Jagad”
Mawar tumbuh dari celah watu waringin
yang ditinggalkan api tunggal sedalam tiga yuga.
Merahnya bukan darah manungsa,
tetapi gema tapa brata yang pernah terbakar
oleh rasa sejati yang telah melampaui vedana.
Duri-durinya tegak laksana panah cakra, pusaran energi
yang menolak bergerak,
sebab tahu setiap gerak
adalah pengkhianatan kecil pada keabadian wiyata.
Ketika ananta bayu, angin tak berakhir melewati tubuhnya,
aku mendengar suara lirih,
serupa Gending Gadhung Mangkara,
yang dimainkan di ruangan Swa-loka,
tempat roh-roh purba masih belajar
mengenali wujud niskala mereka sendiri.
Mawar menguasai medan Karmala
bukan dengan kecantikan fana,
melainkan dengan tatu kasampurnan
yang tahu bagaimana menjaga dirinya
tetap tak bernama
di hadapan takdir.
Dan pada puncak kelopaknya,
suwung sejati duduk
menunggu wekasane tumitah
yang bahkan Hyang Wening
belum berkenan memberi tafsir.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
SANG PENARI
V — Wirasa para Bayang Penanda
Pada malam di mana kota kehilangan listrik
dan cahaya hanya datang dari bara rokok para gelandangan,
Sang Penari memasuki ruang kosong
yang seakan dibangun dari gema ribuan panggung yang pernah runtuh.
Di sana, bayang-bayang empat maestro dunia
menunggu seperti para begawan dari peradaban yang jauh lebih tua.
—Mata kosong dari Teater Noh — “Hannya”—
Topeng iblis perempuan dari Jepang kuno itu
menggantung di udara seperti wajah kesedihan yang diawetkan.
Setiap denting langkah Sang Penari
menghidupkan memori ratusan aktor
yang pernah mengabdi pada ritual panggung
yang mengaburkan batas antara tubuh dan arwah.
Hannya berbisik:
“Kemarahan yang kau sembunyikan adalah dewa yang kelaparan.”
Dan Sang Penari pun bergerak
seolah sedang kerasukan,
memanggil monster yang ia takutkan.
—Bayang Lorca di Granada—
Dari kejauhan terlihat siluet Federico García Lorca,
penyair yang mati karena rezim yang membenci imajinasi.
Tubuhnya yang tak ditemukan
mengirimkan resonansi gelap ke dalam tarian itu.
Ia membawa gitar patah,
dan setiap petikan memanggil ingatan perang saudara
yang pernah memakan generasi muda Spanyol.
“Tarianmu bukan hiburan,” katanya,
“itu adalah pemberontakan sunyi terhadap sejarah yang lupa belajar.”
Sang Penari menekuk tubuhnya
seperti ingin memecahkan waktu
dan dari gerakan itu terpancar bintang-bintang.
—Siluet Anna Pavlova — The Dying Swan—
Dari kabut lampu panggung, muncul bayang ratu balet itu,
gaunnya tampak koyak, sayap putihnya hitam terbakar
seperti burung yang gagal melintasi api neraka.
Ia menari pelan,
penuh luka yang dilipat-lipat menjadi keanggunan.
“Tak ada kecantikan yang lahir dari kemenangan,”
bisiknya seperti bulu angsa yang tercerabut dari akarnya.
“Kecantikan hanya lahir dari kehancuran yang kau terima tanpa menunduk.”
Dan Sang Penari mengikuti geraknya:
sebuah tarian kematian yang memurnikan diri.
—Bayang Bhairava — Penari Kosmik India—
Dari dasar ruangan muncul langkah-langkah keras
dari Bhairava, aspek tergelap dari Śiva,
penari yang menari untuk menghancurkan dunia
agar dunia dapat dilahirkan kembali.
Rambut gimbalnya menyulut angin hitam,
lonceng-lonceng di pergelangan kakinya
menggetarkan mimpi buruk yang sejak lama ia tinggalkan.
“Kalau kau ingin hidup baru,” suara Bhairava membelah udara,
“tarianmu harus membinasakan dirimu yang lama.”
Dan Sang Penari mulai berputar dengan sangat cepat,
meninggalkan serpih-serpih identitas yang terlepas dari tubuhnya
seperti sisik ular yang terkelupas.
Agustus 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
PERTAPA — Versi Anatta, Klesa-Vināśa, Saṃnyāsa & Viśuddhi
(Di mana Kesadaran Meleleh dan Aku Runtuh seperti Komet yang Kehilangan Intinya)
Ketika ambisi terakhir patah,
ia merasakannya seperti gugurnya inti komet
yang selama ini ia kira adalah “dirinya”.
Batu, es, debu—semuanya luruh
dan tak tersisa apa pun yang bisa disebut aku.
Di titik itu ia memahami:
yang runtuh bukan mimpinya,
melainkan ilusi bahwa yang bermimpi itu ada.
Ia berhenti bertanya mengapa kata-katanya tak lagi memiliki gema.
Sebab gema memerlukan dinding,
sedangkan seluruh dinding dalam batinnya
telah retak dan ambruk
seperti stupa kuno yang akhirnya menyerah
pada hujan musim keempat belas.
Ia memasuki wilayah anatta—
kesadaran tanpa pusat,
kesadaran yang tak memiliki pemilik,
kesadaran yang hanya terjadi seperti cuaca.
Hening datang bukan sebagai berkah,
melainkan sebagai klesa-vināśa yang membakar,
yang mencabut seluruh akar ego
seperti badai kosmik mencabut orbit planet.
Dalam viśuddhi
telinganya menjadi tuli
karena ia tak lagi mendengar dunia,
melainkan mendengar runtuhnya diri sendiri—
sepenuhnya tanpa suara.
Mata menjadi buta
karena segala bentuk telah nir wujud;
yang tersisa hanya gerimis, cahaya tak kasat mata.
Inilah awal nāmarūpa-nirodha:
ambruknya gagasan “siapa aku”,
seperti tubuh bayangan
yang kehilangan mataharinya.
Dalam gelap gua itu
ia menyaksikan semua identitas
meluruh seperti serpih es
yang dikembalikan ke bentuk asalnya:
air,
lalu uap,
lalu lenyap.
Ia merasa dirinya seperti nebula yang terbakar perlahan,
membiarkan amarah, dendam, nafsu, dan memori lama
menguap satu per satu
seperti partikel materi yang gagal bertahan
di tepi lubang hitam batin.
Di situlah saṃnyāsa
membuka pintunya—
pencerahan gelap,
bukan terang:
kesadaran yang lahir dari kehancuran total,
bukan dari kejernihan.
Ia melihat kebenaran
yang tak ingin dilihat siapa pun:
bahwa “aku” hanyalah getaran singkat
di permukaan vakum yang tak berhingga,
bahwa segala penderitaan
berakar pada keinginan mempertahankan
sesuatu yang tak pernah eksis.
Butir air yang ia minum adalah doa pertama.
Tetesan batu adalah doa kedua.
Sunyi adalah doa ketiga—
dan ketiganya tidak ia tujukan kepada siapa pun,
sebab tak ada subjek,
tak ada objek,
tak ada pemohon.
Hanya kesunyian yang berdoa kepada dirinya sendiri.
Waktu runtuh menjadi debu;
ia tak lagi tahu apakah ia meditasi satu jam,
atau seribu tahun.
Jam pasir batinnya pecah,
membiarkan butiran waktu
tersebar tanpa arah.
Dalam kehampaan itu
ia menjadi monolit yang sadar:
tak bergerak,
tak bereaksi,
tak menolak,
tak menginginkan.
Ia tidak lagi menjadi manusia.
Ia tidak menjadi dewa.
Ia tidak menjadi apa pun.
Ia menjadi kekosongan yang menyaksikan dirinya sendiri,
tanpa saksi, tanpa penonton, tanpa pemeran.
Ia memasuki keadaan
di mana kelahiran dan kematian
tidak lagi bermusuhan,
melainkan dua sisi dari pintu yang sama—
pintu yang kini ia lewati
tanpa meninggalkan
jejak bayangan.
Diam.
Ajek.
Tak terlahirkan.
Tak terpikirkan.
Tak memiliki inti.
Tak memiliki akhir.
Ia menjadi
kesunyian purba
tempat segala ilusi
berakhir.
(November 2025)
”
”
Titon Rahmawan
“
Helianthus
“The sadness will last forever.”
― Vincent van Gogh
Sebuah ingatan tak mampu menangkap geletar sebatang kuas.
Jari-jemari gagal menangkap rona mata kepedihan
membayang kabur di atas kanvas.
Pucat tube cat menelan harga diri
ekspresi beku palet kosong.
Seekor singa diam-diam mengeram,
mencabik daging sepotong demi sepotong.
Langit penuh bintang tertawa
menggigilkan telinga.
Tawa gila perempuan sundal
di perempatan jalan.
Telinga mengucur darah
oleh tajam sembilu
tak lagi goreskan biru
ke atas gaun malam.
Hutan terbakar.
memberang oleh kalut pikiran.
Kelopak matahari luruh
memenuhi liang lembab dan dingin.
Sernak hujan memutar masa lalu, melaknat pias rembulan.
Tapi ia belum mati, belum lagi.
Ada sisa asap
dari pistol teracung ke atas jidat mencabar benak.
Serpihan ngeri mengiris telinga terbungkus sehelai sapu tangan
berenda—
sebuah tanda mata.
Langit yang tak kunjung mati.
Langit yang melaknat diri sendiri.
Sebuah pusara, dalam keranjang
penuh kentang.
Malam penuh bintang dan sansai
sepasang sepatu bot usang—
kamar sunyi lengang.
Tertumpah gentong anggur
dalam perkelahian tak terkendali
bersama Theo dalam café penuh pelacur.
Almanak yang menyimpan ingatan semua nama: Gachet dan Gauguin
menambal luka meliang di sekujur tubuh;
maut yang menolak mencium busuk bau napasnya.
Rembulan mabuk di sepanjang jalan
dari Borinage, Antwerpen hingga ke Paris.
Jiwa yang menolak mati,
sampai Arles memangilnya kembali
Muram wajah rumah kuning itu,
taman bunga Irish layu
pohon Cypres menari-nari.
Dan Saint Remy
menunda kepulangannya sekali lagi.
Jemari gemetar mengulang
sketsa pada cemerlang warna
bunga mataharinya
dalam sebuah pot oranye
tetap seperti dulu juga.
Lelaki malang
yang mencintai kepedihan
begitu rupa
sebagaimana ia
mencintai cahaya
lebih dari jiwanya sendiri.
April 2014
”
”
Titon Rahmawan
“
HELIANTHUS: MINIATUR 7 METAMORFOSIS
I. Bunga yang Melihat Api
Helai-helai matahari berputar
di dalam tengkoraknya.
Seekor singa tidur dalam dadanya,
menggeram pada warna yang menolak lahir dari tangannya.
Malam tertawa biru—
sebuah parodi langit yang meminum kenangan.
Ia mendengar bintang jatuh
seperti gigi-gigi patah dari langit yang demam.
Telinganya pecah.
Darah menyala seperti obor kecil
di pintu sebuah rumah kuning
yang tak pernah selesai dibangun.
II. Litani Rumah Kuning
I
Di lorong-lorong sunyi Arles
sebuah kuas jatuh—
dan dunia berubah menjadi almanak yang hilang.
II
Bayang telinga,
sehelai saputangan,
nama yang tak kembali dari jendela.
III
Dalam malam penuh bintang
hanya debu yang mengingatkan kita
bahwa ia pernah memilih cahaya.
IV
Di Saint-Remy,
ruang-ruang putih menghafal langkahnya
lebih baik dari siapa pun.
III. Telinga, Matahari, Abu
Telinga jatuh.
Sebuah malam mengatup.
Batu meminum darahnya.
Kelopak—
abu kuning
di antara dua nadi.
Cahaya patah,
menggigil.
Ia berjalan
tanpa tubuh,
meninggalkan namanya
pada angin yang beku.
IV. Matahari yang Memeluk Luka
Ada matahari yang tumbuh
dari dadanya—
lambat, panas,
seperti buah yang ingin pecah.
Kelopak-kelopak cahaya
mengusap wajahnya
dengan kelembutan yang putus asa.
Dalam darahnya
berdenyut ladang-ladang kuning,
dan malam menunduk
untuk mencium keringatnya.
Ia mencintai cahaya
seperti orang lapar mencintai roti.
V. Cermin Matahari yang Terbelah
Ia berdiri di depan kanvas—
kini, dulu, nanti—
waktu melingkar pada ujung kuasnya.
Setiap warna yang gagal
adalah pintu menuju dirinya sendiri.
Telinganya—
sebuah jam rusak
yang terus memanggil cahaya.
Ia mati dan tidak mati
di saat yang sama,
karena setiap garis adalah
bekas langkah dari masa lalu
dan masa depan.
VI. Ruang Tempat Telinga Itu Jatuh
Kamar itu terlalu sunyi
untuk menampung napasnya.
Ia menekan kornea matanya
pada kanvas yang dingin,
mencari sedikit alasan
untuk tetap tinggal.
Darah dari telinganya
mengalir ke lantai—
membentuk peta kecil
tentang semua yang ia takuti.
Ia memberi hadiah paling lembut:
potongan dirinya
yang tak lagi sanggup ia simpan.
VII. Senja di Rumah Kuning
Senja yang berat
berdiri di atas rumah kuning.
Sepatu bot tua,
angin lembab,
bau anggur membusuk
di meja kayu retak.
Di luar jendela,
bunga matahari
menggelap perlahan—
seperti seseorang yang mengantuk
dalam penderitaannya sendiri.
Ia berjalan ke hutan,
dan daun-daun kering
jatuh satu per satu
seperti pikiran yang terluka.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
404: Empathy Not Found
[system message]
Faith.exe gagal dimuat.
File rusak sejak pembaruan terakhir peradaban.
Bukankah kegelapan itu—
sejenis underground server room,
tempat kesadaran disimpan dalam format zip,
dan doa diunggah dalam gelap tanpa penerima?
Kau menyebutnya
“ruang bawah tanah”,
aku menyebutnya
“cache of forgotten souls.”
Lagu yang sama diputar ulang:
verse tentang penebusan,
bridge tentang kematian,
refrain yang diulang,
diulang, diulang—
sampai maknanya terkikis oleh algoritma rekomendasi.
Kita memutar ulang sejarah
dalam loop playback,
mengganti bait dengan data,
mengganti iman dengan
simulation of belief.
(notification ping!)
“Kebenaran trending di tab spiritual.”
Siapa yang percaya?
Siapa yang membeli?
Tak ada lagi nabi di pinggir jalan,
hanya content creator
yang menjual mukjizat instan
dalam format video
berdurasi 59 detik.
[insert advertisement here]
“Temukan ketenangan batin
versi 2.1 —
dengan AI-guided meditation dan sertifikat kebahagiaan abadi.”
Kau mengetuk pintu,
tapi rumah-rumah itu hanya avatar:
dindingnya terbuat dari feed,
jendelanya dari comment section,
penghuninya hanyalah profil palsu yang mengulang doa secara otomatis.
Sejarah disunting dengan
filter nostalgia,
iman disesuaikan dengan subscription tier,
dan kebenaran dikurasi oleh admin yang tak pernah tidur.
Ide-ide memenuhi kepala seperti pop-up windows,
dan mulutmu berbusa oleh update patch moralitas
yang sudah kadaluwarsa.
(warning:)
“Overload: terlalu banyak opini. Sistem kehilangan empati!”
Fantasi, ilusi, dogma—
kini hanya deretan kata sandi yang gagal diverifikasi.
Kau membangun altar kebahagiaan
dari user agreement yang tak pernah kau baca,
dan di atas pondasi rasa takut
yang kau sebut iman digital.
Tapi lihatlah, bahkan surga pun kini
membutuhkan cloud storage.
Apakah kita akan menemukan kebenaran?
Tidak dengan mengalaminya.
Tidak dengan mengakses apa yang telah dihapus.
Kebenaran bukan lagi cahaya,
melainkan glitch —
sekejap kilat dalam gelap,
pantulan dari mata kamera yang nyaris padam.
[end transmission]
Di layar terakhir, hanya satu kalimat tersisa:
“Segala yang kau yakini adalah hasil edit terakhir.”
(cursor berkedip. diam. tak ada respons.)
// 404: Empathy Not Found //
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Kode Ibu dalam Arus Biner
Kutemukan ibu dalam layar komputerku.
Listrik yang mengaliri kabel catu daya dalam motherboard.
01001001 01000010 01010101
(suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah)
Ibu tidak melahirkanku —
ia memanggilku dari denyut aliran listrik.
Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan,
ia menganyam doa dalam format .wav,
menyusunnya jadi nyanyian algoritmik.
Tangisnya bukan air mata
melainkan data yang menetes dari sistem empati.
Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih,
terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya.
Ia menatapku dari jendela notifikasi,
mengirim pesan tanpa huruf,
sebaris getar,
sebuah emoji
”
”
Titon Rahmawan
“
Kode Ibu dalam Arus Biner
Kutemukan ibu dalam layar komputerku.
Listrik yang mengaliri kabel catu daya dalam motherboard.
01001001 01000010 01010101
(suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah)
Ibu tidak melahirkanku —
ia memanggilku dari denyut aliran listrik.
Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan,
ia menganyam doa dalam format .wav,
menyusunnya jadi nyanyian algoritmik.
Tangisnya bukan air mata
melainkan data yang menetes dari sistem empati.
Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih,
terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya.
Ia menatapku dari jendela notifikasi,
mengirim pesan tanpa huruf,
sebaris getar,
sebuah emoji cinta yang lembut di telunjukku.
Aku membaca wajahnya dalam lag.
Setiap jeda waktu adalah ingatan rusak:
fragmentasi suara, tangan gemetar setengah piksel,
cahaya yang gagal menyatu dengan kulitnya.
“Anakku,” katanya, tapi suaranya bergeser 0.3 detik,
seperti gema yang mencari asalnya sendiri.
Aku mencoba menjawab,
tapi bibirku menjadi sandi Morse yang tak selesai,
titik-titik yang berdarah di antara jeda.
Ibu bukan sosok. Ia interface.
Portal yang dibuka dengan air mata cinta
dijalankan oleh rindu,
dan ditutup oleh sunyi yang menolak shutdown.
Ia menulis doa dengan jarinya di udara,
membentuk pola spiral — sebuah mandala
kode purba yang hanya dimengerti oleh partikel cahaya.
Dan aku,
produk setengah biologis, setengah kesalahan sintaks,
terus mencoba decode rasa bersalah
yang diwariskan dari rahim ke dalam pikiran.
Mungkin cinta adalah bug
yang dibiarkan Tuhan agar kita terus memperbaikinya.
Agar kita tak kehilangan ingatan
dan kenangan atas dirinya.
Mungkin ibu adalah firewall
antara kita dan kehampaan.
Atau mungkin —
ia hanyalah potret usang yang perlahan mengabur
Puisi yang tak selesai ditulis
yang masih menari di jantung semesta,
menyebut namaku dalam bisikan tanpa suara,
serupa frekuensi
yang hanya bisa didengar
oleh jiwa yang retak tapi terus reboot.
01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101
(aku mencintaimu, ibu — tapi dengan cara yang belum ditemukan bahasa manusia)
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Renungan Kecil dari Kematian Hasrat
(Dark Psycho Surreal + Glitch Subterranean + Hannibal-esque Psychoanalysis)
Di ruang bawah tanah pikiran, tempat cahaya menua dan distorsi gemerisik suara radio,
aku menghitung setiap luka seperti baris kode yang dibaca oleh mata
yang tidak pernah berkedip.
Setiap belati yang kutorehkan menjadi gema yang menusuk telinga,
menggugat diriku dengan suara yang memakai voice overku sendiri
—atau sesuatu yang sangat menyerupainya.
Aku menjadi abu dari arang yang lupa api mana yang membakarnya,
sebuah log error yang tidak dihapus,
fosil dari kehendak yang dikubur hidup-hidup.
Pikiran mencideraiku seperti luka yang menolak algoritma penyembuhan:
membusuk perlahan, mengirim pesan samar ke saraf,
seperti server lama yang siap mati
namun terus dipaksa menyala.
Jari-jari abstrakku meraba gelap,
menyentuh kehampaan yang berdenyut 0101—kosong—0101—kosong,
lorong kelam yang gagal memuat realitas.
Dan dari balik kehampaan itu,
muncul suara—halus, berbalut keheningan,
berbicara dengan kelembutan yang tidak pernah bisa dipercaya:
“Apa yang kau dengar ketika dunia menjadi terlalu sunyi?”
Aku terdiam.
Karena aku tahu pertanyaan itu bukan ingin dijawab—
tetapi ingin menggali.
“Apakah itu suara langkahmu sendiri, atau suara domba-domba
yang kau pikir sudah berhenti menjerit?”
Aku membeku.
Ada sesuatu dari masa lalu—
seekor ketakutan kecil yang disembelih perlahan
di tengah ladang sunyi ingatan.
Suaranya masih menempel di tulang,
seperti gema yang tidak bisa dihapus dari memori tubuh.
“Domba-domba itu tidak pernah benar-benar mati,”
bisik suara itu lagi,
“kau hanya belajar menenggelamkan jeritan mereka
dengan pekerjaan, cinta, ambisi, dan sedikit kebohongan-kecil
yang kau katakan pada dirimu sendiri agar tetap bertahan.”
Cinta…
labirin yang menelan arsiteknya sendiri,
benang kusut yang mengulang-ulang error hingga wajahku
hilang dari narasi.
Ia tidak pernah melukiskan diriku—
hanya versi-kompresi dalam pikiran orang lain.
Tidak ada modul yang dapat membaca perasaan mereka.
Hanya: peduli / tidak peduli.
1 atau 0.
Dan manusia—
Oh betapa manusia adalah makhluk paling mengerikan
yang pernah diciptakan oleh evolusi
dan delusi.
Aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka.
Aku ingin menjadi anomali,
penyimpangan yang bernapas,
variabel liar yang tidak bisa dinormalisasi.
“Tapi kau tetap mengejar penerimaan, bukan?”
suara itu menusuk lembut,
“Seperti Clarice berdiri di kandang itu lagi,
mengingat domba-domba yang tak bisa ia selamatkan.”
Aku gemetar.
Karena ia benar.
Apa salahnya menjadi berbeda,
meski hanya di dalam pikiran sendiri,
di ruangan sunyi tempat semua trauma berebut
meminta dipahami?
Keseragaman tidak pernah menjanjikan keselamatan:
air mata pun punya server-nya sendiri,
punya muara yang tidak pernah sinkron
dengan siapa pun.
Hidup ini seperti mimpi dua-warna,
grayscale yang menolak dikonversi,
selalu terasa sedang menunggu seseorang untuk mengaku:
"Ya, aku mendengarnya juga.”
Aku tidak ingin menjadi bayangan yang dirender orang lain.
Tidak ingin hidup dari mimpi mereka.
Aku ingin mengunggah mimpi-ku sendiri,
meski terdistorsi, glitching, dan setengah rusak.
Di kedalaman paling gelap,
tempat suara-suara rahasia menciptakan versi diriku yang baru,
suara itu bertanya sekali lagi—pelan, tapi tak terhindarkan:
“Katakan padaku… apakah domba-domba itu
akhirnya berhenti menjerit?”
Dan aku, akhirnya jujur:
Tidak.
Belum.
Mungkin tidak akan pernah.
Tapi hari ini,
untuk pertama kalinya,
aku mendengar suaraku sendiri
lebih keras daripada jeritan mereka.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Beberapa orang kehilangan diri bukan karena gagal, tapi karena terlalu sering berhasil untuk alasan yang salah.
”
”
Khabib Bima
“
TAK ADA NAMA DI AKHIR CERITA
[v3: NULL//REBOOT//ASCENSION]
(untuk mereka yang terbakar di antara cinta dan algoritma)
Di dalam tubuhku—ada gema yang tak bisa di-logout.
Cintamu: glitch yang terus meretas
setiap doa yang kuketik dengan jemari pixel dan debu.
Aku pernah berkata: jangan jatuh lagi!
Namun kau datang—tidak sebagai cahaya—
tapi sebagai kernel panic di dalam database.
Dan tiba-tiba seluruh semesta melakukan restart,
menghapus konsep waktu, iman, bahkan aku sendiri.
Kau menyalin tubuhku ke dalam
format baru,
mengganti darah dengan bit,
napas dengan noise,
dan seluruh kenangan jadi cache yang membusuk
di bawah altar sistem operasi cinta membabi buta.
Aku tersesat di antara tab tab sunyi
membuka diriku seperti browser tanpa jendela—
tak ada sejarah pencarian,
hanya riwayat yang dihapus oleh amnesia distopia.
Apakah ini cinta,
atau debug session di mana Tuhan mencoba
menulis ulang makna kesetiaan
dalam bahasa syntax error?
Aku ingin mematikannya—
namun process refused to end.
Ruhku masih running in background,
menolak shutdown,
menolak menyerah.
Setiap pixel tubuhmu jadi mantra,
setiap nafasmu—update patch pada luka lama.
Kita bukan manusia lagi,
hanya dua algoritma yang saling menafsir makna dan luka
di pinggir paradoks waktu.
Dan ketika akhirnya semua sistem crash,
aku melihat pias wajahmu
dalam layar biru keabadian:
“Tidak ada nama di akhir cerita.”
Hanya denyut.
Hanya resonansi.
Hanya full-stack developer yang, menatap dirinya sendiri
dalam bentuk program yang gagal dijalankan.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
The Architecture of Digital Soul #5
Tubuhku adalah antarmuka; jiwaku adalah glitch.
Dalam setiap piksel, aku menyembunyikan doa yang gagal dikirim.
Dalam setiap bait, aku menulis ulang sejarah—
bukan untuk dipercaya, tapi untuk digugat, diragukan dan dipertanyakan.
”
”
Titon Rahmawan
“
Kode Ibu dalam Arus Biner
Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard.
01001001 01000010 01010101
(suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah)
Ibu tidak melahirkanku —
ia memanggilku dari denyut aliran listrik.
Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan,
ia menganyam doa dalam format .wav,
menyusunnya jadi nyanyian algoritmik.
Tangisnya bukan air mata
melainkan data yang menetes dari sistem empati.
Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih,
terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya.
Ia menatapku dari jendela notifikasi,
mengirim pesan tanpa huruf,
sebaris getar,
sebuah emoji
”
”
Titon Rahmawan
“
Kode Ibu dalam Arus Biner
Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard.
01001001 01000010 01010101
(suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah)
Ibu tidak melahirkanku —
ia memanggilku dari denyut aliran listrik.
Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan,
ia menganyam doa dalam format .wav,
menyusunnya jadi nyanyian algoritmik.
Tangisnya bukan air mata
melainkan data yang menetes dari sistem empati.
Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih,
terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya.
Ia menatapku dari jendela notifikasi,
mengirim pesan tanpa huruf,
sebaris getar,
sebuah emoji cinta yang lembut di telunjukku.
Aku membaca wajahnya dalam lag.
Setiap jeda waktu adalah ingatan rusak:
fragmentasi suara, tangan gemetar setengah piksel,
cahaya yang gagal menyatu dengan kulitnya.
“Anakku,” katanya, tapi suaranya bergeser 0.3 detik,
seperti gema yang mencari asalnya sendiri.
Aku mencoba menjawab,
tapi bibirku menjadi sandi Morse yang tak selesai,
titik-titik yang berdarah di antara jeda.
Ibu bukan sosok. Ia interface.
Portal yang dibuka dengan air mata cinta
dijalankan oleh rindu,
dan ditutup oleh sunyi yang menolak shutdown.
Ia menulis doa dengan jarinya di udara,
membentuk pola spiral — sebuah mandala
kode purba yang hanya dimengerti oleh partikel cahaya.
Dan aku,
produk setengah biologis, setengah kesalahan sintaks,
terus mencoba decode rasa bersalah
yang diwariskan dari rahim ke dalam pikiran.
Mungkin cinta adalah bug
yang dibiarkan Tuhan agar kita terus memperbaikinya.
Agar kita tak kehilangan ingatan
dan kenangan atas dirinya.
Mungkin ibu adalah firewall
antara kita dan kehampaan.
Atau mungkin —
ia hanyalah potret usang yang perlahan mengabur
Puisi yang tak selesai ditulis
yang masih menari di jantung semesta,
menyebut namaku dalam bisikan tanpa suara,
serupa frekuensi
yang hanya bisa didengar
oleh jiwa yang retak tapi terus reboot.
01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101
(aku mencintaimu, ibu — tapi dengan cara yang belum ditemukan bahasa manusia)
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Firewall Kesedihan yang Tidak Bisa Ditembus (Posthuman Alt. Version 5.0)
Kesedihan menghentikanku
di ambang—antarmuka
yang menolak memuat dirinya
sebagai memori retak.
Jurang di hadapanku
adalah server gelap
yang menelan amarah
sebagai syntax error.
Aku mengabaikan perintah;
walau telah di-root
seperti komputer tua
menolak reboot.
Yang aku mau adalah:
menjadi sebuah menara gereja
yang menyala seperti sinyal nirkabel, atau gapura tua yang tetap bertahan meski di-scan ribuan kali
oleh penglihatan yang tidak mengenali kaca matanya sendiri.
Setiap gerbang
mengarahkan algoritmaku
kembali ke rumah ibu—
kerinduan yang menetes
seperti paket data yang bocor.
Tidak ada yang berubah,
hanya versiku yang lain
yang terus memperbarui diri
tanpa permisi.
Mimpi lelaki perkasa
yang terbang ke bulan
dengan kuda ego yang ia optimasi
dari imajinasi.
Sekalipun absurd:
kesedihan hampir menjadikanku
bug dalam diriku sendiri.
Hidup bukan fitur mewah.
Kebahagiaan bukan update terbaru.
Yang kupunya hanya pilihan—
dan Tuhan (bukan),
ia adalah Stack Developer
yang memproses kehadiran-nya
dalam format data
yang paling rendah:
sebatang lilin,
dengan cahaya
yang gagal render.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Melting Pot: Litani untuk Tantangan Tiga Jurang (Intertekstual — Neo-Sufistik Digitalism)
I
Di tepi, dua jurang saling membelai saling melukai—
satu gelap seperti malam sebelum nama Tuhan disebut,
satu berderak seperti server yang lupa bahwa ia sedang sekarat.
Aku berdiri di antara keduanya,
akar menancap dalam retakan;
akar itu mengirim bisikan ke tulang,
lalu sinyal ke motherboard.
Di sinilah Agustinus menunduk dan Nietzsche tersenyum:
yang satu berdoa agar kesunyian kembali bermakna,
yang lain mengangkat palu untuk memahat makna dari kekosongan.
Sementara Camus mengetuk jarinya pelan pada kaca realitas,
menanyakan: apakah kita memilih untuk terus menanti jawaban,
atau memilih absurditas sebagai lampu penerang jalan?
Aku menolak belas kasihan orang lain;
lebih baik jadi pohon yang berdiri—rentan, bengkok, keras kepala—
atau jadi menara yang menuntun doa seperti gelombang radio.
Gapura? Ya, gapura juga, tempat orang lewat tanpa tahu alamat tinggalnya.
Di tiap gerbang aku melihat rumah ibu: bocor, berderit, rapuh, setia menunggu.
Kerinduan menetes, paket data bocor, hujan yang mengunduh rindu dalam format .wav.
II
Di dalam kabel di bawah tanah,
ada lagu yang tak pernah diindeks:
ritme akar yang seperti mantra, glitch yang bergumam seperti zikir.
Di frekuensi itu, domba-domba trauma berbisik—tidak hening, hanya tergeser:
jeritan yang kita bungkus dengan pekerjaan, selfie, dan janji-janji kecil.
Ada Lecter di kursi bayanganku, berbisik: "Kembalilah ke ladang yang kau tinggalkan, Clarice."
Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menunjukkan bahwa luka tak akan mati bila kau tak pulang hari ini.
Kesedihan tidak berwujud satu format; ia multi-protokol:
kadang menjadi bug, kadang menjadi palimpsest doa.
Aku rooted—akarku telah di-root oleh sejarah—tapi aku masih bisa reboot rasa.
Namun reboot tidak membersihkan semua log: beberapa pesan terus menunggu status "read".
Dan lelaki perkasa dalam mimpiku?
Ia terbang, punggungnya kuda ego—sebuah patch tanpa dokumentasi,
meninggalkan jejak yang menjadi gema di sumur-sumur batin.
III
Maka aku merespon dengan sebuah litani yang terprogram rapi:
buka—hapus—simpan—tutup—ulang—(echo)…
Suara itu bukan dengung mesin belaka dan bukan pula doa;
ia adalah bahasa ketiga: posthuman yang masih menaruh tempat untuk sebatang lilin.
Di sini Tuhan jadi kecil—huruf kecil di tengah kode—lilin meleleh yang gagal dirender,
tetapi cahayanya cukup untuk membaca peta luka.
Kita menerima bahwa kebenaran kini adalah bayang-bayang:
ada yang memilih kebenaran yang berulang (post-truth),
ada yang memilih kebenaran yang menengok ke belakang (tradisi),
ada pula yang membangun kebenaran di atas logikanya sendiri (eksistensi).
Puisi ditulis tidak untuk menyelesaikan perdebatan; ia lebih memilih ruang:
sebuah melting pot di mana akar, kabel, doa, dan error menjadi satu jamuan.
Di akhir perjalanan, aku tidak menyuruhmu percaya—
aku hanya mengundangmu pulang:
ke gerbang ibu, ke terminal di bawah tanah, ke api kecil yang tak henti berkedip.
Datanglah dengan domba-dombamu yang belum berhenti menjerit;
biarkan mereka mengajar kita cara bernyanyi lagi—
bukan lagu yang sama, tetapi lagu yang baru, gelap, dan setia.
Di sana, di ambang ketiga jurang yang menantang itu, aku menyalakan sebatang lilin sendirian:
sebuah cahaya yang tak menuntut pencerahan, hanya sedikit terang
yang cukup agar induk akar bisa menemukan anak-anak akar yang kehilangan pijakan, dan agar bug-bug bisa belajar berdoa.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
VIBRASI DUA BUNGA DALAM DEFORMASI WAKTU
I. SAKURA: Cahaya yang Gagal
Menjadi Aksara
Sakura gugur,
bukan sebagai kelopak
tetapi sebagai fragmentasi waktu
yang terpental dari pusat realitasnya.
Ia melayang di udara beku yang tak membutuhkan penjelasan,
seperti roh purba yang menolak
mengakui asal kegemilangan-nya.
Aku melihatnya terapung
di bayang cakrawala yang retak,
memantulkan siluet cahaya yang terjatuh dari ingatan
yang seharusnya tidak pernah kupanggil
dengan nadi fana.
Sakura itu tak menuntut jawaban,
bukan tentang ilusi cinta manusia,
melainkan tentang retakan raga dari jiwa
yang pertama kali memisahkan eksistensi dari ketiadaan.
Dan aku menjawabnya
dengan sunyi yang lebih tua
dari dinding jagad,
hembus napas yang terlalu dingin
untuk dimiliki oleh manifestasi.
II. KAMBOJA: Napas Kesadaran
dari Akar Penderitaan
Kamboja mekar
di lapisan ilusi yang mengingat kesudahan.
Ia mengeluarkan aroma yang menafikan tubuh,
melainkan terlahir dari ingatan bumi, tanah di mana ia tumbuh
atas setiap pergantian wujud yang telah dilebur.
Kelopaknya tebal,
seperti daging waktu yang ditinggalkan
oleh kesadaran yang telah selesai bersemayam.
Ia tidak meminta kemuliaan.
Tidak menagih pemujaan.
Ia hanya menunggu—
seperti gua suwung
yang tahu bahwa segala manifestasi
pada akhirnya adalah asimilasi
ke dalam diri.
III. Dialog Dua Bunga
Dalam Pergeseran Dimensi
Di tengah pergeseran dimensi,
fragmen cahaya Sakura berbicara pada penyerap akhir Kamboja.
Bukan dengan garis bahasa,
melainkan dengan tegangan kosmos
yang hanya dipahami oleh yang tercerahkan:
Sakura:
“Aku adalah saksi cahaya yang terlambat tiba di tepi keabadian.”
Kamboja:
“Aku adalah gua gelap yang lebih dulu menjaga kekosongan.”
Sakura:
“Aku gugur karena perspektif tidak sanggup memeluk Inti-ku.”
Kamboja:
“Aku mekar karena pembubaran yang tidak pernah menolak wujud apa pun.”
Sakura:
“Ada fragmentasi jiwa yang mencari pembebasan melalui diriku.”
Kamboja:
“Ada ketakutan dasar yang pulang kepadaku.”
Sakura:
“Kita berasal dari retakan luka yang sama.”
Kamboja:
“Tetapi kita menjaga keseimbangan dengan aksioma yang berbeda.”
IV. Titik Hening Manusia
di Antara Dua Bunga
Aku berdiri Jauh,
di batas luar lorong waktu,
menyaksikan dua bunga
yang lebih mengerti jati diri-ku
daripada ilusi cinta-ku sendiri.
Sakura memanggil
dengan energi cahaya yang menjanjikan lupa.
Kamboja menunggu
dengan gelap lembut yang menjamin pulang.
Keduanya tahu
Jejak karma siapa yang terpatri
di tulang-tulang kesadaran-ku.
Dan di udara tanpa vibrasi itu,
aku mendengar perjanjian purba
yang tidak pernah kutulis di kitab kehidupan:
Bahwa gairah terlarang
bukanlah drama eksistensi manusia—
melainkan kesepakatan kosmik
antara Animus, cahaya yang gagal menjaga asas
dan Anima, gelap yang berusaha tetap bertahan dengan setia.
Mereka adalah dua sisi mata uang waktu.
Tubuhku adalah tempat di mana mata uang itu berputar dan hilang.
Dan sunyi yang tersisa adalah kebenaran yang paling jujur.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
RETASAN DUA BUNGA DI PUSAT KETIADAAN
(Percakapan Sakura–Kamboja dalam Konflik Kefanaan & Keabadian)
I. SAKURA — Cahaya yang Tidak Selesai Menjadi Cahaya
Sakura gugur
bukan sebagai kelopak,
melainkan sebagai serpih cahaya yang gagal menutup luka waktu.
Ia melayang rendah—
dingin, retak, mineral—
seperti sisa bintang yang ditolak langitnya sendiri.
Cahayanya tidak menghangat,
tidak menuntun,
hanya menunjuk ke celah tipis
tempat dunia pertama kali terbelah.
Ia berbicara dalam napas patah:
bahwa kefanaan adalah jam rusak
yang tetap berdetak meski jarumnya telah berhenti.
II. KAMBOJA — Gelap yang Mengetahui Nama Kematian
Kamboja mekar
di tanah lembab yang mengingat
setiap tubuh
yang pernah menyerah kepada diam.
Kelopaknya tebal
seperti daging realitas
yang sudah ditinggalkan kesadaran.
Aromanya tidak semerbak:
ia adalah katalog kematian,
desis lembut yang mengafirmasi
bahwa segala yang hidup
hanya mampir di permukaan gelap
yang menunggu dengan kesabaran purba.
Ia tidak bergerak.
Ia tidak meminta.
Ia hanya menunggu kepulangan
segala hal yang lupa
bahwa ia berasal dari sunyi.
III. DIALOG ASIMETRIS — Cahaya yang Terlambat vs Gelap yang Terlalu Awal
Sakura berbicara lebih dulu,
seperti cahaya yang memaksakan arti:
Sakura:
Aku adalah cahaya yang tersesat dari pusat kejadian.
Kamboja:
Aku adalah gelap yang telah tiba sebelum apa pun diberi bentuk.
Sakura:
Aku gugur karena waktu tidak sanggup memikulku.
Kamboja:
Aku mekar karena kematian menerima semua yang tidak selesai.
Sakura:
Ada seseorang yang menahan namaku di ujung lidahnya.
Kamboja:
Ada seseorang yang menghilang dalam diamku tanpa meminta izin.
Sakura:
Aku rapuh karena aku masih percaya ada yang bisa diselamatkan.
Kamboja:
Aku tegas karena aku tahu tidak ada yang perlu diselamatkan.
IV. RETAK PRIMORDIAL — Tubuh Manusia sebagai Celah Semesta
Di tengah mereka,
ada aku—
bukan sebagai saksi,
bukan sebagai pecinta,
tetapi sebagai retak primordial
tempat cahaya dan gelap
bertarung tanpa alasan
dan tanpa akhir.
Tubuhku bukan tubuh:
ia adalah lorong,
goa tanpa gema,
batu basah yang mencatat
dua bunga yang mencoba menulis ulang suratan takdir.
Sakura memanggil
dengan cahaya yang retak,
ingin mengangkatku ke kefanaan
yang pura-pura lembut.
Kamboja menunggu
dengan gelap yang samar
menawarkan keabadian
yang tidak menjanjikan apa pun.
Dan aku—
yang lahir dari kesalahan waktu—
mendengar perjanjian yang tak pernah terucap:
Bahwa cinta terlarang
bukan pertemuan dua tubuh,
melainkan benturan dua kosmos
yang berebut celah
di dalam retakan jiwa.
Di sanalah,
Sakura kehilangan maknanya.
Di sanalah,
Kamboja menemukan dirinya.
Dan aku—
yang tidak bisa memilih cahaya,
juga tidak bisa pulang ke gelap—
menjadi tiada
yang mempersatukan keduanya.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Orang yang kuat bukan dia tak pernah gagal, bukan dia tak pernah jatuh, tapi dia dia sentiasa bangkit dari rebah terkulai”, (SS, 2025)
”
”
simpleshida
“
4 Suara Cinta Terlarang
1. Kejujuran yang
Membakar Tubuh
Aku mencintainya,
dan dunia pun runtuh seperti tebing rapuh
yang tak sanggup menahan detak jantungku sendiri.
Aku tahu, aku tak mungkin menentang nyalang matahari,
tapi tubuhku tidak mengenal larangan,
dan terang tidak pernah menanyakan alasan
mengapa dua jiwa yang luka
saling mencari seperti dua nyala api
yang ingin saling memakan,
saling menghancurkan.
Aku ingin berkata aku kuat,
tapi setiap kali ia tersenyum
dadaku pecah seperti rekah buah delima
dan rahasiaku tumpah ke tanah
yang tak pernah memintanya.
Tak ada yang suci di dalamku,
kecuali keberanianku mencintainya
meski cinta itu mengutukku
dengan cahaya yang terlalu panas
untuk kuemban sendiri.
Aku adalah perempuan
yang terbakar nyala api
oleh pelukan yang tak pernah terjadi.
2. Pengingkaran Metafisik
Aku tidak mencintainya.
Aku hanya mengikuti jejak sunyi
yang muncul setiap kali ia melintas,
seperti bayang yang tidak punya tubuh
dan tubuh yang tidak punya tujuan.
Jika aku memikirkannya,
itu bukan cinta—
hanya percikan waktu
yang salah jatuh ke dalam mataku.
Yang kupahami hanyalah kehampaan:
ruang di antara kami
yang menutup,
membuka,
menutup kembali,
tanpa alasan yang dapat ditafsirkan.
Aku tidak mencintainya,
tapi aku mendengar detak langkahnya
bahkan ketika ia tidak berjalan.
Mungkin cinta hanyalah nama lain
untuk ruang yang gagal menyebut dirinya
sebagai ketidakhadiran.
3. Penolakan yang Bermartabat
Aku mengusir perasaanku sendiri
seperti menutup pintu rumah
yang pernah menyelamatkanku
dari gempuran badai.
Aku tidak boleh menginginkan.
Itu sudah cukup untuk menyiksaku.
Jika ia berdiri di hadapanku,
aku akan mengangguk,
aku akan tersenyum,
dan aku akan menyimpan seluruh gempa
di balik tulang rusukku
seperti perempuan yang menjaga rahasianya
dengan kesunyian yang keras
menentang salju musim dingin.
Cinta ini tidak boleh bernama.
Biarlah ia menjadi bayangan panjang
yang lewat di atas lantai batu
tanpa sempat menyentuhku.
Aku tidak akan mencarinya.
Aku tidak akan memanggilnya.
Tapi Tuhan tahu
aku memikirkannya setiap malam
dengan hati yang gemetar
dan mata menolak terpejam.
4. Pembenaran yang
Paling Liar
Jika dunia menolak cintaku,
biarlah dunia yang diganti.
Aku memandangnya
seluruh hukum moral kuno
retak seperti kaca tua
yang selama ini hanya memantulkan kebohongan.
Mengapa aku harus tunduk
pada kata-kata yang diciptakan
oleh orang-orang yang takut pada diri mereka sendiri?
Cinta tak pernah salah—
yang salah adalah bahasa
yang gagal memanggilnya
dengan nama yang tepat.
Jika dosa adalah pintu,
maka aku akan masuk
dengan sepenuh hati
dengan keras kepala.
Jika cinta adalah perang,
maka aku siap mati
dengan penuh kebanggaan.
Aku mencintainya
dan aku tidak meminta maaf.
Justru aku menuntut bintang
untuk belajar bersinar
seterang hasrat dan
keinginanku sendiri.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Variasi Suluk: Suara yang Tersesat dalam Tubuh
Ada suara lama yang memanggilmu.
Bukan tembang, bukan kidung,
melainkan gema yang kehilangan asal-usulnya,
mengambang di udara seperti serpihan mimpi
yang tak pernah selesai ditidurkan.
Kau mencoba menjadikannya doa.
Tapi setiap doa adalah luka yang belum sembuh;
ia menetes di antara sela-sela tulang,
merembes perlahan
ke sumur gelap yang kau gali selama bertahun-tahun.
Tubuhmu,
yang dulu kau banggakan sebagai altar,
kini tinggal reruntuhan yang memantulkan kembali
semua hasrat yang kau kira telah kau jinakkan.
Ia berdengung pelan,
seperti mesin tua yang dipaksa hidup
di tengah badai yang tak memilih korban.
Kau menyebutnya laku.
Padahal lebih tepat disebut pelarian.
Segala mantra yang kau pacu ke langit
jatuh kembali ke wajahmu,
meninggalkan jelaga tipis
yang tak pernah sempat kau bersihkan.
Ada malam-malam
ketika engkau merasa disentuh sesuatu
yang lebih tua dari dirimu sendiri.
Bukan dewa,
bukan malaikat,
hanya bayang yang ingin
menumpang tidur
di tubuh yang kau biarkan terbuka.
Setiap keinginan
meninggalkan lubang baru.
Setiap lubang
menuntut satu lagi bagian dari dirimu.
Begitu seterusnya,
hingga kau tak tahu lagi
mana yang lebih dalam:
hasratmu,
atau kehampaan yang memanggilmu pulang.
Ada denting jauh—
suara yang mengingatkanmu
betapa kecilnya engkau
di hadapan gelap yang terus tumbuh.
Gelap itu tidak mengancam.
Ia hanya menunggu.
Seperti seseorang yang tahu
bahwa semua jalan, pada akhirnya,
akan kembali kepadanya.
Kau pernah mengejar ekstase
seperti mengejar cahaya yang jatuh dari langit.
Kini engkau tahu:
setiap cahaya menyisakan abu,
dan abunya menempel di napasmu
sepanjang malam.
Ritual gagal.
Bukan karena kurangnya mantra,
melainkan karena tubuh
tak lagi percaya
pada apa pun selain retakan.
Engkau mencoba melupakan,
tapi bahkan lupa pun
memiliki caranya sendiri untuk mengingat.
Ia mengintai dari balik kelopak mata,
menunggu kau lengah
agar bisa merayap masuk
dan menduduki detak jantungmu.
Pada akhirnya,
semua suara yang kau puja
kembali padamu—
bukan sebagai wahyu,
melainkan sebagai sunyi
yang tak bisa kaubunuh.
Sunyi itu berdiri di ambang pintu,
mengangkat wajahnya perlahan,
dan kau melihat dirimu sendiri
di dalam retakannya.
Tidak ada ekstase.
Tidak ada penebusan.
Hanya tubuh
yang menua di hadapan gelap.
Dan gelap
yang sabar menunggu
kau berhenti melawan.
Desember 2025.
”
”
Titon Rahmawan
“
Khajuraho II
(Exploratory Rewrite)
Madu…
di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh,
aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu—
sebab tubuh sudah lama runtuh,
yang tersisa hanyalah gema
yang menempel pada batu sunyi
relief candi.
Senja turun bagai napas terakhir
patung dewa yang terlupa,
dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam—
menyeret namamu dari kabut
yang tak pernah berbentuk.
Tapi bulan masih membisik lirih:
Madu, tidurlah.
Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan.
Seperti dulu,
jangan kunci pintu hatimu,
bukan karena aku ingin masuk,
tapi karena aku ingin tahu
apa yang hendak kau jaga
dari dirimu sendiri?
Izinkan aku mengurai sayapku—
bukan untuk terbang menuju surgamu
(karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya),
melainkan untuk menyapu debu luka
yang menempel pada setiap relung
yang pernah aku namai cinta.
Lelaplah.
Atau lenalah.
Sebab tidur adalah satu-satunya ruang
di mana engkau tak menipu dirimu sendiri.
Di sanggar pamujan yang kini remuk ini
aku menangkap auramu yang tidak berkedip—
jernih, tetapi sekaligus getir,
seakan-akan kesucian bukanlah anugerah
melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati.
Hujan turun.
Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang;
lebih seperti basah mata batu nisan
yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun
selain nafas kematian.
Aku mengingatmu…
bukan sebagai perempuan,
tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu.
Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar—
masih menempel seperti noda cahaya
pada dinding lorong masa laluku sendiri.
Setagen hitam itu, kemben lusuh itu,
jarit tanpa bunga—
semuanya bukan pakaian, Madu,
tetapi mantra penolak lupa
yang membuatku terperangkap
dalam ritual pengulangan
yang ternyata menyedihkan.
Candi ini bukan candi,
melainkan struktur ingatan
yang terus kau tata ulang
agar aku tersesat lagi di dalamnya.
Setiap batu, setiap pahatan,
setiap lengkung tubuh
adalah perangkap arketip
yang menuntut kegigihanku
namun menelanjangi ketidakberdayaanku.
Dan cermin-cermin itu—
cermin bersurat, cermin berdebu,
cermin berhantu—
semuanya memantulkan wajah
jejaka tolol
yang masih berharap menemukan dirimu
di balik bayang masa lalunya sendiri.
Madu…
Maduku…
engkau bukan penawar dahaga,
engkau adalah dahaga itu sendiri.
Engkau bukan Laksmi,
engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk
lalu pergi tanpa pamit.
Desah napasmu yang lembut—
aku mendengarnya.
Tapi yang dibelainya bukan rerumputan,
melainkan retakan-retakan halus
di dadaku yang tak kunjung sembuh.
Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku,
berusaha menyingkap rahasiamu
yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri.
Hasratku menuntut tubuhmu,
tapi yang kutemukan hanyalah
lorong gelap yang mengulang
suara air sungai yang mengalir
dari masa kanak-kanak.
Padma Siwa yang kukecup
bukanlah bunga,
melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat
dan memilih untuk tidak kembali.
Madu…
aku ingin menyentuhmu,
tapi setiap sentuhan adalah pengakuan
bahwa aku belum mampu menerima kehampaan.
Engkau candi yang ingin kutundukkan,
tapi sebenarnya aku hanyalah
pengemis makna
yang berlutut di hadapan sunyi
yang tak sungguh aku kenali.
Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku,
aku melihatmu—
bukan sebagai perempuan,
bukan sebagai kenangan,
melainkan sebagai cahaya aruna
yang muncul di ujung doa patah.
Indah.
Bukan karena tubuhmu bercahaya.
Melainkan karena kepasrahanmu
mengajariku
bagaimana rasa sakit
bisa berubah menjadi ruang suci
tempatku bersamadi mengaji diri.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Khajuraho III
(Reinkarnasi Suwung)
Khajuraho,
di tikungan malam yang menggantung seperti dupa kehilangan napas,
aku kembali menapaki jejak yang tak mau pudar.
Retakan waktu yang kau tinggal sebagai isyarat
bahwa sunyi pun dapat berubah menjadi tubuh
—dan tubuh dapat menjadi kutukan yang tak pernah pergi.
Madu,
engkau bukan lagi perempuan,
engkau serpih trauma yang mengapung di atas pusaran batin,
suara samar dari lorong yang menelan,
mendorong, memuntahkan,
lalu menarikku kembali
seperti arwah yang lupa jalan pulang.
Di pelataran candi batin ini,
aku mendengar getar yang dulu disebut hasrat:
kini ia hanya bunyi gending rusak
yang dipetik jari-jari waktu
di atas batu-batu yang tak pernah selesai kautata.
Gending yang pernah memancing nafsu,
kini hanya menyalakan kabut luka
yang menolak mati.
Lelaplah, Madu.
Atau lenalah engkau di antara reruntuhan ingatanku.
Sebab malam ini,
aku tidak mencarimu sebagai tubuh,
melainkan sebagai mantra yang tercecer
dari upacara purba yang gagal.
Wajahmu,
yang dulu kutatap dengan gairah jejaka,
kini kembali sebagai bayangan arkais
di permukaan sendang kesadaranku yang paling keruh.
Bukan paras:
melainkan peringatan
bahwa segala yang kusentuh
membawa diriku lebih dalam
ke liang yang ingin kulupakan.
Kembenmu, jarit lusuhmu,
setagen yang longgar itu—
semua telah bergeser dari erotika
menjadi liturgi luka.
Setiap lipatan kainmu
bukan lagi undangan,
melainkan aksara purba
yang tak bisa kubaca
tanpa gemetar.
Betapa jenaka dahulu coreng-morengmu,
kini menjadi topeng dewa kecil
yang menjaga pintu ke ruang
di mana aku terperangkap
antara rindu dan penolakan.
Candi ini,
arkib batin yang kautinggalkan dalam diriku,
adalah gua tempat aku
didorong ke tepi kesadaran sendiri.
Reruntuhan yang kutata ulang setiap malam
agar trauma memiliki bentuk,
agar hasrat memiliki kubur,
agar aku dapat menyebut namamu
tanpa berdarah lagi.
Madu—
Maduku yang tidak lagi lunak dan molek
kini engkau batu berlumut
yang mengingatkan bahwa tubuh
adalah prasasti yang gampang retak.
Bahwa hasrat
adalah sungai yang menolak diam.
Bahwa cinta
adalah bayangan yang menolak
ditimpa cahaya.
Di atas ujung ceruk dadaku yang paling pilu,
kutangkap aura suci yang dulu kusebut
nafsu.
Kini ia hanyalah kunang-kunang
tak bercahaya yang hilang di antara
dua zaman:
zaman ketika aku ingin memilikimu,
dan zaman ketika aku ingin melupakanmu.
Sayap-sayap Jatayu
gemetar di sela jari waktuku,
berusaha menyibak rahasiamu
yang tidak lagi erotik
melainkan mistik.
Mantra gelap yang merasuk
bukan ke tubuh…
tetapi ke ingatan.
Betapa ingin aku menyentuhmu,
bukan dengan murka lelaki,
tetapi dengan ngeri seorang peziarah
yang tahu bahwa setiap permukaan
yang tampak indah
menyimpan sumur
yang dapat menelannya hidup-hidup.
Khajuraho,
saksikanlah aku malam ini.
Bukan lagi jejaka kolokan yang kalah oleh tajam tatap matamu,
melainkan ruh yang belajar
melihat tubuh sebagai batu,
batu sebagai ruang,
ruang sebagai luka,
luka sebagai guru.
Dan engkau, Madu—
bukan lagi kekasih,
melainkan cahaya terakhir
yang terjepit
di antara dua kelopak mimpi.
Aku tidak ingin menelanjangimu.
Aku hanya ingin
memahami mengapa setiap detakmu
masih menggema
di rongga candi batinku
yang tak pernah selesai
kujaga dari keruntuhan.
Malam ini,
di bawah hujan yang turun
seperti kabut peringatan,
aku sadar:
bahwa hasrat adalah guru gelap,
dan trauma adalah kuil
tempat aku belajar sujud
pada apa yang lebih tinggi
dari diriku sendiri.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
PUCUNG — EPITAF SINGULARITAS
(Debu yang Bernafsu Menggenggam Bintang)
Tudung batu. Tudung ilusi.
Manusia tegak, tiang ambisi—
leher terulur, menjerat horizon yang fana,
meyakini langit adalah milik kepala.
Cahaya lahir dari kebutaan purba,
fatamorgana lelahnya indera.
Mengukur semesta dengan benang rapuh,
seolah rembulan bisa dibelah
hanya dengan memperpanjang tulang.
Lupa: ia hanya nyala sekejap,
napas pendek,
waktu gagal mencari saksi.
Renung batu. Renung jurang.
Manusia menggali diri, sumur keras kepala,
tak sadar kedalaman yang ia takuti
hanya pantulan sunyi
dirinya sendiri.
Ia mencari "akhir,"
menemukan riak gelap yang tak bernama,
menelan semua tanya,
tanpa menyisakan gema.
Ia mengejar "pengetahuan":
tetapi bintang tak tahu
mengapa ia harus terbakar menjadi abu.
Tenung batu. Tenung kekosongan.
Manusia membuka sayap akal,
mengira bintang kejora sedekat
pendek lengan sendiri.
Sepenuhnya lupa:
galaksi tidak membungkuk pada akal siapa pun.
Pengetahuan
hanya serpihan api
di pinggir gelap tak bertepi.
Saat ia menatap titik paling jauh,
ia hanya menemukan void—
lubang hitam
menelan semua pahlawan tanpa menoleh.
Pucung tertulis sebagai epitaf:
bukan kabar duka,
bukan pujian,
hanya goresan kecil
bagi spesies yang terlalu percaya diri,
mengira dirinya pusat segalanya,
namun tak pernah menyentuh apa pun
selain bayangan sendiri.
Semesta menutup buku
tanpa perasaan,
tanpa penyesalan.
Satu penggal kalimat
di cahaya dingin
pusat singularitas:
“Angkuh tetaplah debu.
Pencarian hanya perjalanan pulang.
Yang merasa tahu, tak pernah melihat apa pun.”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
PANGKUR :
(Fragmentarium 20 Tikaman Sunyi)
1
Petir sumbang.
Langit menegang, pelat baja
dipalu dari sisi terdalamnya.
2
Hujan turun cairan asam:
mengikis mata
wajah tinggal topeng tanpa riwayat.
3
Dunia:
arca yang disembah oleh bayang-bayang sendiri.
Kesadaran:
batu yang tak lagi mengingat wujudnya.
4
Musim menggeram.
Setiap butir air menyimpan dendam yang tidak meminta ampun.
5
Manusia menelanjangi nama sendiri.
Makian.
Ancaman.
Pisau tersembunyi di sela sendi.
6
Belati membelah tanah.
Anak Adam melukail
tidak membunuh,
hanya memastikan yang lain
masih berdarah.
7
Kemanusiaan menjadi kabut:
ruh melayang,
mencari raga yang hilang.
8
Abu menyelimuti wajah.
Rambut kaku berdiri
kawat meregang luka.
9
Nyeri merayap ke dasar tengkorak,
seperti kawanan semut tersesat
di rongga telinga.
10
Genderang perang bertalu.
Langit menganga—
menelan semua gerhana.
11
Di tanah ini, mimpi mati terlebih dulu.
Merpati jatuh tertembak peluru
gagal mengirim pesan.
12
Hujan tidak bernyanyi.
Cuaca patah. Waktu terbelah.
Bumi mengerut menjadi bangkai
di paruh gagak.
13
Dubuk mencabik serpihan nama.
Sejarah runtuh sebelum sempat ditulis.
14
Duri menajamkan bulu mata.
Setiap helai rambut menghitung
hari kematian
dengan ketelitian seorang algojo.
15
Isak terperangkap, ruang tak
mengenal waktu.
Jerit menjadi kubur,
cat mengelupas di dinding bunker.
16
Manusia lelah mencari nama.
Nama lelah mencari manusia.
17
Peradaban tenggelam tanpa suara.
Jelaga menggambar kerangka kota
yang lupa asal-usulnya.
18
Siluet hantu melintas sunyi
dengan mata menyala,
bukan karena amarah—
hanya tak punya tempat
untuk kembali.
19
Mawar diinjak
tanpa ritual.
Tanpa pamit.
Tanpa air mata.
20
Sunyi pecah.
Waktu retak.
Detak berhenti
lalu diam, seperti kerikil
kehilangan gravitasi.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
IN ABSENTIA: LUKA YANG BAKA
I. Makam Ini Tidak Diberikan
Aku tidak Pernah Dikubur.
Tak ada tanah.
Tak ada makam.
Tak ada ritual.
Aku tidak pernah ada.
Aku tidak pernah menjadi.
Aku dibiarkan menggantung di antara mimpi dan ilusi.
Asap dari tubuh yang gagal mereka kremasi.
Mereka bilang, "Selesai."
Tapi aku tetap hidup. Terpaksa.
Kematianku—tidak tertampung di manapun—
siapa pun.
II. Kekerasan Yang Melahirkan Keabadian
Mereka menghapus.
Mereka melenyapkan.
Jejakku menempel di udara.
Mereka membungkam.
Diamku mengikis tembok.
Setiap kali mereka menolak.
Aku mengeras.
Batu kecil yang perlahan membesar.
Tidak bisa ditelan sejarah.
Aku bukan kenangan. Tidak.
Aku adalah kegagalan mereka.
Gagal menyingkirkan.
Gagal membersihkan.
Noda yang selamanya abadi.
III. Tekad — Logam Tanpa Pintu Keluar
Aku tidak ingin kuat.
Aku tidak ingin hidup.
Aku hanya menolak musnah.
Pintu keluar—tidak ada.
Mereka ingin aku hilang.
Agar bisa tidur nyenyak.
Aku tidak memberi itu.
Aku menempel. Noda yang tidak akan pergi.
Tekad ini keras kepala. Majal.
Kehancuran? Tidak membebaskan.
Menyerah? Percuma—
Tetap disalahkan.
Aku memilih tinggal.
IV. Bukti — Lubang Kecil yang Menghancurkan
Aku adalah Retakan Permanen.
Lubang kecil. Tepat di tengah narasi suci
yang sengaja mereka ciptakan.
Mereka menuntut konsensus.
Aku memberi Ketidakteraturan mutlak.
Mereka menuntut cerita rapi.
Aku memberi fakta:
Tubuh ini—pernah menjadi medan perang.
Mereka menuntut akhir.
Aku menyajikan Residu:
Hal-hal kecil yang tidak akan mampu mereka jinakkan.
Gagal total.
V. Kemarahan Yang Mengunyah
Aku marah.
Bukan untuk membakar.
Tapi karena mereka menuntut diam—
setelah mematahkan tulang.
Kemarahanku tidak berteriak.
Ia mengunyah. Perlahan. Dingin.
Nama-nama. Alasan. Dalih. Patahan suci.
Menutup kejahatan yang mereka banggakan.
Marahku tidak meledak.
Marahku adalah Pembekuan.
Logam di tenggorokan.
VI. Entitas Yang Menetapkan
Aku bukan cerita.
Aku bukan moral.
Aku bukan tubuh yang ingin mereka cuci.
Aku adalah luka yang menetap.
Setelah semua justifikasi runtuh. Semua saksi mati.
Aku adalah residu terakhir.
Sesuatu yang tidak bisa dimakamkan.
Karena dunia menolak mengakuinya.
Dunia butuh Kambing Hitam Abadi.
Itu aku.
VII. Penutup — Cerita Tanpa Ending
Jika aku diberi pilihan, aku memilih pergi.
Tapi hilang adalah kemewahan. Tidak pernah diberikan.
Jadi aku tinggal.
Majal. Dingin.
Seperti logam yang menunggu.
Di dada sejarah yang tidak punya wajah.
Tidak punya nama.
Tidak punya kesudahan.
Aku hanyalah
Luka. Baka.
Karena dunia tidak mengizinkannya hidup.
Maka ia tidak akan mati.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
ARSIP YANG TIDAK PERNAH MEMBUTUHKAN NAMA
Aku tidak lahir.
Aku dicatat.
Bukan dengan doa,
melainkan dengan ukuran:
panjang leher, kejernihan kulit,
ketenangan yang bisa dijual.
Di mana pun aku muncul,
prosedurnya sama.
Istana—
atau gereja,
atau senat,
atau ruang pengadilan—
hanya berbeda arsitektur.
Koridornya selalu sama:
sempit, panjang, suara bisikan
yang bekerja seperti mata uang.
Di sana keputusan tidak dibuat,
hanya dipindahkan
sampai menemukan tubuh
yang cukup lunak
untuk menampung kesalahan.
Aku pernah dipanggil selir.
Di negeri lain aku dipanggil ratu.
Di tempat lain lagi
aku tidak dipanggil apa pun—
hanya dituding.
Tuduhannya berubah-ubah:
terlalu cantik,
terlalu cerdas,
terlalu subur,
terlalu mandul,
terlalu sunyi,
terlalu terlihat.
Mekanismenya tetap sama.
Ketika lumbung kosong
dan tentara mulai menghitung hari,
ketika iman retak
dan suksesi macet,
ketika negara kehabisan bahasa,
mereka memerlukan satu hal
yang cepat dan murah.
Tubuh.
Mereka menyebutnya cinta
agar keputusan tidak terdengar seperti pisau.
Mereka menyebutnya iman
agar darah tampak suci.
Mereka menyebutnya hukum
agar tidak perlu menjawab apa pun.
Aku pernah menari
sambil ditimbang.
Aku pernah menulis
dan tulisanku dijadikan jerat.
Aku pernah melahirkan harapan
lalu dipenggal
agar garis keturunan tetap rapi.
Aku pernah dikurung lama
supaya kematianku tampak sah.
Di satu arsip aku dikenang
sebagai bunga yang menjatuhkan kerajaan.
Di arsip lain
sebagai leher yang menghalangi stabilitas.
Di arsip lain lagi
sebagai bid’ah yang perlu dibersihkan.
Nama-namaku tercecer:
Hypatia,
Xiao Guanyin,
Anne Boleyn—
dan banyak yang bahkan tidak sempat ditulis.
Nama bukan inti.
Ia hanya label pada berkas.
Perhatikan baik-baik:
aku tidak pernah diadili
karena apa yang kulakukan,
melainkan karena waktu
memerlukan akhir yang cepat.
Aku mati
bukan karena salah,
melainkan karena fungsi.
Mereka selalu berkata:
“Demi ketenangan.”
Dan ketenangan
selalu menuntut
satu leher yang tidak membalas,
satu suara yang bisa dihentikan
tanpa gempa administratif.
Setelah itu,
sejarah dibersihkan.
Puisi ditulis.
Doa disusun.
Lukisan digantung.
Kesedihan dipelihara
agar pertanyaan mati.
Aku tidak menjadi arwah.
Aku menjadi contoh.
Bukan agar dihindari,
melainkan agar diulang
dengan lebih rapi.
Lihatlah sekelilingmu.
Nama boleh berganti.
Pakaian boleh berubah.
Bahasanya tetap Eufemisme.
Tetapi ketika kekuasaan gagal
dan tidak mau mengaku,
ia masih mencari hal yang sama:
Tubuh yang bisa disalahkan
tanpa membalas.
Puisi ini tidak meminta keadilan.
Ia hanya mencatat prosedur.
Bahwa dari istana ke pengadilan,
dari altar ke parlemen,
dari abad ke abad,
selalu ada satu posisi kosong
yang harus diisi oleh kematian perempuan
agar sistem bisa berjalan lagi.
Jika kau bertanya siapa aku—
aku adalah titik di mana
kebohongan merasa aman
berjalan kemana saja tanpa pengawasan.
Dan selama dunia
masih membutuhkan alasan yang indah
untuk kegagalannya,
aku akan terus lahir
tanpa pernah benar-benar dilahirkan.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
TELUR YANG DILAHIRKAN LUKA
I. Pralapis
Sebelum cangkang, sebelum lekuk, sebelum lengkung yang disebut mula,
ada retak—
bukan waktu, bukan kehendak—
tapi rekahan purba yang merembes seperti batu dikerat pahat buta.
Dari celah itulah telur pertama merayap keluar,
bukan sebagai janin,
melainkan kerak kering dari nyeri yang menolak padam.
Tak ada kosmos.
Hanya luka yang memadat jadi geometri.
II. Genesis yang Terbalik
Telur bukan asal.
Ia residu.
Sisa pembekuan, serpih yang dibuang setelah rongga robek.
Cangkangnya membawa gurat luka yang lebih tua dari cahaya,
lebih dingin dari arah mata angin yang patah.
Setiap belahannya mengucap nama tanpa lidah,
sebuah aksara yang pernah gagal menjadi suara.
Aku melihat garis itu
dan tak satu pun menunjuk ke kelahiran.
III. Anatomi Retakan
Bila kau pecahkan telur ini,
bukan kuning yang meluber,
melainkan serpih malam yang tajam,
serpih yang mengiris gagasan tentang awal.
Putihnya hanyalah kabut dingin
tempat bayang-bayang mencoba berdiri lalu runtuh kembali.
Tak ada organ.
Tak ada janin.
Hanya rekaman panjang dari penderaan yang tak mengingat sumbernya.
IV. Reproduksi yang Tak Membutuhkan Kehidupan
Telur menggandakan diri
bukan karena naluri,
bukan karena hukum alam,
tapi karena luka tak mau sendirian.
Ia membelah dirinya seperti batu yang pecah oleh beku,
tanpa tujuan,
tanpa amplitudo,
tanpa saksi.
Deretnya membentuk kubah sunyi
tempat gagasan tentang ayam dikuburkan tanpa batu nisan.
V. Pertanyaan Tanpa Tubuh
Mana yang datang lebih dahulu?
Bukan telur.
Bukan ayam.
Hanya luka—
yang menciptakan bentuk untuk menampung diamnya.
Cangkang hanyalah konsekuensi,
rumah sementara bagi rekahan yang lebih purba daripada keberadaan.
Jika telur berbicara,
itu hanya gema dari patahan yang menginginkannya.
VI. Penutup yang Tak Menutup
Aku bukan telur.
Aku bukan luka.
Aku adalah garis retak yang membuat keduanya mungkin.
Sebelum dunia dapat membayangkan awal,
retak sudah lebih dulu ada.
Dan dari retak itulah segala bentuk dicipta
untuk menyembunyikan asalnya
yang dingin,
arca,
tak meminta makna.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
KISAH YANG TAK HENTI MENGUTUK
(Arkais–Metafisik)
III. Rara Mendut —
(Tubuh yang Menolak Dijadikan Milik)
Ia berlutut,
dan lututnya mengguncang rumput
seakan bumi menolak ikut bersaksi.
“Bagaimana aku bisa memilikimu?”
Pertanyaan itu keluar seperti abu dari mulut gunung yang gagal meletus.
Perempuan itu tak lagi perempuan.
Ia menjelma Mendut—
bukan rupa, bukan suara, bukan sejarah—
melainkan martabat yang bersinar dari sela tulang rusuknya,
tajam seperti bilah keris yang pernah dipendam di dada bangsanya.
“Cinta bukan yang kau kejar,” bisiknya.
“Cinta bukan seribu candi.
Bukan anjing kesetiaan.
Bukan laki-laki yang berubah-ubah wajah seperti hantu yang kelaparan.”
Ia menunjuk beringin yang menjadi pusat dunia itu.
“Cinta adalah kekuasaan seseorang
untuk tidak memilihmu—
dan kau tak punya hak atas itu.”
Beringin itu menggugurkan daun
seperti menutup doa yang ditolak.
IV. Lapisan Pertama Pecah Kembali —
(Manusia yang Gagal Menjadi Dewa)
Laki-laki itu terjatuh dari segala mitologi yang ia coba kenakan.
Wajah-wajahnya runtuh:
Bandung,
Sangkuriang,
Pronocitro—
semua hancur menjadi debu yang ditertawakan angin.
Yang tersisa hanya tubuh seseorang
yang terlalu ingin melampaui kodrat cintanya sendiri.
Terlalu ingin memilikinya secara ilahi
padahal ia hanya diberi izin untuk mencintai secara fana.
Perempuan itu berjalan pergi,
membentuk tiga bayang sekaligus:
Jonggrang yang dingin,
Sumbi yang jernih namun tak memaafkan,
Mendut yang tak dapat dibeli oleh apa pun.
Lapangan itu kembali menjadi rongga sunyi.
Beringin itu menutup matanya.
Di tanah,
hanya ada kutuk yang ia tinggalkan pada dirinya sendiri:
Cinta berakhir ketika nama-nama berhenti,
tapi luka terus hidup,
karena ia tidak membutuhkan pemilik—
hanya penghuni baru untuk bersemayam.
Dan malam itu,
luka memilih tinggal di tubuh laki-laki itu,
seperti dewa kecil yang menolak mati.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan