Foto Dan Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Foto Dan. Here they are! All 41 of them:

...bahkan saat dunia berputar dan berubah,kenangan yang tercetak pada lembaran foto itu tidak pernah berubah. Photographs last for a lifetime.
Winna Efendi (Refrain)
Fotografi mengajarkan pada kita cara yang unik dalam melihat dunia dan sekaligus memberikan penyadaran baru akan segala keindahan yang ada di sekitar kita.
Deniek G. Sukarya (Kiat Sukses Deniek G. Sukarya dalam Fotografi dan Stok Foto)
Subhanallah, aku mengunjunginya. Ini masjid yang sering kulihat gambarnya di kalender, di foto-foto haji ayah dan ibuku.
Dian Nafi (Miss Backpacker Naik Haji)
Ia akan mempertahankan Piter. Demi serangga-serangga plastik yang laki-laki itu gantung dengan benang di lonceng angin, dan foto Kamila yang diam-diam ia simpan. Demi bocah sepuluh tahun dalam jersey sepak bola yang tidak masuk seleksi tim sekolah. Demi kecintaannya pada anjing tua yang merengek-rengek bila ia tak ada. Kamila tak pernah menemukan cinta seperti itu dari seseorang terhadap dirinya.
Morra Quatro (What If)
Nggak semua orang bisa diam di dalam batang kayu dua jam untuk memotret buaya dari jarak dekat. Kalau kamu nggak ambil foto ini, bagaimana kita bisa tahu rasanya kontak mata dengan buaya? Nggak semua orang bisa tahan berbulan-bulan di Arktik mengintil beruang kutub. Kalau nggak ada yang melakukannya, bagaimana orang di belahan dunia lain bisa tahu betapa penting dan indahnya beruang kutub? Bagi saya, fotografi wildlife adalah jembatan bagi orang banyak untuk bisa mengenal rumahnya sendiri. Bumi ini. I see our profession as an important bridge that connects Earth and human population. We're the ambassador of nature
Dee Lestari (Partikel)
Las fotografías no son reales. Carecen de contexto, tan solo dan la impresión de estar mostrando una instantánea de la vida, pero la vida no es una sucesión de instantáneas, sino que es fluida. Así que las fotos son fantasías.
Victoria Schwab (The Invisible Life of Addie LaRue)
Tidak ada teman SD. Masa kecil hanya seperti permainan bola. Seru. Setelah selesai, semua pulang dan melupakan. Teman SMP hanya satu-dua dan hanya menelepon jika ingin mengajak reuni. Teman SMU bertemu karena berpapasan tak sengaja. Teman kuliah sibuk dengan pekerjaan. Bukankah persahabatan sering kali disepak waktu? Persahabatan menjadi usang, hanya menjadi foto lapuk yang menghias album kenangan.
Andrei Aksana (Lelaki Terindah)
Recuerdo contemplar ese retrato y darme cuenta de que las fotografías no son reales. Carecen de contexto, tan solo dan la impresión de estar mostrando una instantánea de la vida, pero la vida no es una sucesión de instantáneas, sino que es fluida. Así que las fotos son fantasías. Eso es lo que me encantaba de ellas. Todo el mundo cree que la fotografía refleja la verdad, pero no es más que una mentira muy convincent
Victoria Schwab
Memang hukum fiqih itu didesain bisa berubah mengikuti zaman dengan dipandu kaidah-kaidah yang biasa disebut Qowaidul Fiqh. Hal ini tentu sangat penting, apalagi pengetahuan dan penemuan saat ini semakin canggih. Twitter contohnya. Media sosial yang sering dijadikan tempat perang ini punya fenomena jual-beli follower. Mereka menyamakan follower dengan barang yang bisa diuangkan. Gue ngebayangin akan ada Ahli Fiqih yang nantinya membuat hukum zakat follower. Jadi setiap lebaran tiba, pengguna Twitter yang punya satu juta follower (setara nisab 85 gram emas) dan sudah mencapai haul-nya, maka wajib menzakatkan 2,5% follower-nya untuk para mustahiq. Mustahiq itu adalah pengguna Twitter yang hanya punya follower nggak lebih dari 100, dan memasang foto dengan pakaian lusuh sambil menadahkan tangan. Mereka juga harus pakai hashtag #FF #fakirfollower.
Nailal Fahmi (Di Bawah Bendera Sarung)
Maar een trein vergeef je veel. Want de trein is een wonder waarover met grotere gebaren kan worden verteld dan over enig ander voertuig. De naam Stephenson galmde door alle klaslokalen, en misschien galmt hij zelfs in het klasje waar ik achteraan in de klas zat en van mijn stotterende buurman luizen kreeg nog altijd na. Wij hebben heldenverhalen gehoord over de eerste trein en niet over de eerste auto, wij weten dat België het dichtste spoorwegennet ter wereld heeft, dat de eerste Europese passagierslijn tussen Brussel en Mechelen liep en dat de koeien zodanig flipten op het voorbij denderen van die eerste trein dwars door hun ooit zo rustige wei dat de hele bevolking wel drie weken lang zure melk moest drinken waarop een vel lag van zo'n zeven duimen dik. Overdrijf ik? Een beetje, maar toch niet veel. Meester Buyle hief zijn armen ten hemel, zijn hoofd zwol op tot de foto van koning Boudewijn in de schaduw van zijn kaken stond wanneer hij oreerde over een tijd waarin België nog iets betekende op wereldvlak, over vooruitgang, over stationsgebouwen die werden opgetrokken als gotische kathedralen, en dat al die welvaart te maken had met de komst van de trein en de schitterende organisatie van onze spoorwegen. Ik ben er zeker van dat meester Buyle niet de enige leraar was die zich ooit op deze wijze voor het bord heeft aangesteld.
Dimitri Verhulst (Dinsdagland: Schetsen van België)
Foto's zien is iets anders dan foto's kijken,' zeg ik. 'Iedereen kan foto's kijken maar een foto zien betekent dat je hem kunt lezen. Aan de ene kant heb je mensen en hun culturele voortbrengselen, aan de andere kant heb je de natuur. Bomen, meren, wolkenluchten spreken op foto's een algemene voor iedereen verstaanbare taal. Buiten de tijd om als het ware. Mensen, bouwwerken, wegen en koffiebussen daarentegen kunnen alleen gelezen worden in een bepaalde context, in de tijd, worden gelezen. U kunt dat fotoalbum op tafel voor het grootste deel niet lezen omdat u de noodzakelijke achtergrondinformatie mist. U was er niet bij. U kunt zich er met andere woorden niets bij voorstellen omdat u zich niet herinneren kunt wat eens echt te zien was. Het is uw verleden niet.
J. Bernlef (Hersenschimmen)
La infinita superioridad del cuadro sobre la foto. Ésta pincha el punto preciso de un instante en el flujo de la duración y lo deja ahí descuartizado. Los pueblos primitivos no se equivocaban tanto al temer el cliché fotográfico como un robo. El cuadro propone una interpretación histórica de un momento que vivirá largo tiempo bajo el párpado de su contemplador, no interrumpe el curso del tiempo: su producción misma es fluida, se inscribe en un largo intervalo de trabajo.
Sylvain Tesson (Dans les forêts de Sibérie)
Als je leven zó ondraaglijk is, als de pijn in je lichaam of in je geest onhoudbaar is, als je oprecht niet meer weet hoe je de dag door moet komen en als de dood een verlossing is, dan moet je daarvoor kunnen kiezen. En dan moet je daarbij geholpen worden. Want mensen die dood willen, gaan uiteindelijk dood. Of we ze nu helpen of niet. Het rekken van andermans leven omdat jij zijn of haar dood niet kunt accepteren vanwege je ideologie of wat dan ook; dat is egoïstisch. Dat is arrogant. Mensen mogen zelf bepalen of ze een kind maken, ze mogen ook zelf bepalen of ze dood willen. Het leven is geen verplichting.
Marcel Langedijk (Gelukkig hebben we de foto's nog)
Adakah yg lebih buruk daripada melihat foto teman-temanmu dengan kehidupan mereka yang berkilau cemerlang, lalu melihat ke sekelilingmu-semua remah roti dan tumpukan pakaian kotor serta fakta bahwa kau sendirian- dan menyadari betapa menyedihkannya hidupmu dibanding mereka?
Annisa Ihsani (Mencari Simetri)
Halu kamu …! Buat apa kamu mengarang cerita dan foto di media sosial? Sementara itu, beda dengan kenyataannya? - Piring Bahagia Si dan Bi
Dian Pertiwi Josua
Satu hari, bila aku sudah pergi, yang akan tinggal hanyalah tulisanku, puisiku, dan foto-fotoku. Dan jika itu yang telah merubah dunia aku dan kamu, berbaloilah hidupku.
Anis Nadia (Notes from the Heart)
Dengan demikian, diketahui sudah bahwa jargon-jargon yang berbau kesetanan yang diucapkan oleh José Arcadio Buendía adalah dalam bahasa Latin. Bapak Nicanor mengambil keuntungan dari situasi itu sebagai satu-satunya orang yang mampu berkomunikasi dengan orang tua itu dan mencoba memasukkan kebajikan-kebajikan ke dalam pikirannya yang sinting. Setiap sore, ia duduk dekat pohon kastanye itu, berkhotbah dalam bahasa Latin, tetapi José Arcadio Buendía tetap menolak jebakan-jebakan retorik dan transmutasi dari coklat tersebut dan meminta foto Tuhan sebagai satu-satunya bukti.
Gabriel García Márquez (One Hundred Years of Solitude)
Hij sloeg het notitieboekje dicht. Af en toe was hij in de stad een leerling of leerlinge tegengekomen aan wie hij jaren geleden les had gegeven. Het waren nu geen jongens en meisjes meer maar mannen en vrouwen met partners, beroepen en kinderen. Hij schrok als hij zag hoe hun gezicht was veranderd. Soms betrof zijn schrik het resultaat van de verandering: een te vroege verbittering, een opgejaagde blik, tekenen van een ernstige ziekte. Maar meestal was wat hem schrik aanjoeg het simpele feit dat de veranderde gezichten getuigden van het onstuitbare verstrijken van de tijd en het meedogenloze verval van alles wat leefde. Hij keek dan naar zijn handen waarop de eerste ouderdomsvlekken zichtbaar waren, en soms haalde hij foto's tevoorschijn van zichzelf als student en probeerde zich voor de geest te halen hoe het was geweest om die grote afstand af te leggen, dag na dag, jaar na jaar.
Pascal Mercier
13 Macam Alat Bantu Sex Wanita Terpopuler – Apa itu Alat sex?, Dan Kegunaan nya Buat apa?, Lalu bagai mana Cara kerja nya, Siapa yang memakai alat tersebut, Dan mana Yang paling laris dan populer, Bagai mana cara pesan nya, Akan kami shering di halaman ini Apa yang di maksud dengan Alat bantu sex, Adalah suatu benda yang di manfaat untuk membantu manusia bisa merasakan nikmat nya sex, rangsangan seksual, Kepuasan, Dan juga sensasi seks. Benda-benda jenis ini sebagian besar buatan manusia, Sengaja di rancang dan juga di disain secara khusus sesuai kebutuhan, Model bentuk nya ada banyak sekali macam nya, Selain buatan manusia, Ada juga segelintir orang memanfaatkan buah-buahan untuk di jadikan mainan sex, Misal nya buah pisang, Buah timun dll. Dan yang kami shering di halaman ini adalah alat bantu sex yang di produksi manusia dan yang cukup populer juga banyak di minati untuk membantu memenuhi kebutuhan biologis. Yang Pertama adalah Sex toys wanita penis silikon getar. Model disain nya di buat mirip seperti alat kelamin pria, Bahan pembuatan nya memakai karet silikon, Dan juga di lengkapi mesin eletrik yang nama nya vibrator. Penis mainan sex ini termasuk produk populer kategori alat bantu sex wanita. Cara kerja nya alat kelamin mainan ini tidak jauh beda dengan apa yang di miliki pria ketika di buat vitalitas, Beda nya benda ini memainkan nya perlu di pegang dan di keluar masukan sendiri. Kelebihan nya ada pada vibrator nya, Yang bikin penis mainan itu bisa bergetar, Getaran itu bisa bikin wanita merakan nikmat, terasa di glitik ketika benda tersebut masuk ke dalam itu wanita. Yang no dua ini hampir sama dengan yang no 1 tadi, gak perlu saya ulang keterangan nya, Bedanya penis mainan ini bisa getar plus bisa goyang, tadi yang pertama cuma bisa getar saja, dan bentuk disain nya penis agak benkok sedikit, lo yang pertama kan tegak lurus. Urutan alat bantu sex no 3, Disain nya di buat hampir mirip dengan asli punya lelaki, Penggunaan nya beda dengan no 1 dan 2 yang harus di pegang pakai tangan, Dan yang ini cukup di tempel di diding bisa, di meja kaca bisa, di laintai kramic juga bisa, Kok begitu, Pendisain alat bantu sex wanita ini mempunyai maksud supaya pengguna penis manian macam ini bisa mengambil posisi, Duduk/jongkok, nungging, dan juga berdiri, foto-gambar nya ni, ada di bawah ini. baca juga ALATBANTUSEKSUALWANITA.INFO
Alat bantu seksual wanita
Banyak anak muda menggunakan media sosial - Facebook, Weibo, Instagram, dan masih banyak lagi. Mereka memosting segala hal yang terjadi pada mereka, foto, video, pertemanan baru - semuanya properti publik. Mereka lebih suka mengumpulkan 'like' daripada mempertahankan privasi mereka. Aku tak perlu meretas untuk mengetahui kepribadian, kelompok sosial, gaya hidup, bahkan hobi mereka. N
Chan Ho-Kei (Second Sister)
... terwijl ik mijn gezicht in de spiegel bekijk. Dat verandert van dag tot dag. Sommige dagen meer dan andere. Niet veel, natuurlijk, maar als je goed kijkt, als je oefent, je concentreert, dan kun je de minuscule veranderingen in de huid zien, de rimpel in mijn voorhoofd die in de loop van de nacht is veranderd, misschien maar een halve millimeter. Maar je ziet het. Als je oefent. Je contouren die dunner worden, je silhouet dat vervaagt. Je bent nog niet helemaal verdwenen. Dat duurt een hele poos. Jaren. Maar je verdwijnt. Je verdwijnt voor jezelf, wordt een ander, elke dag. Je bent niet meer wie je ooit was. De microscopisch kleine cellen die je gezicht vormen op de foto die je ouders in de kamer hebben hangen, zijn weg, vervangen door nieuwe. Je bent niet meer wie je was. Maar ik ben er nog wel, de atomen wisselen van plek, niemand kan de bokkensprong van de quarks controleren. Zo is het ook met de mensen van wie je houdt. Met bijna stilstaande snelheid verkruimelen ze in je armen en je zou willen dat je je aan iets bestendigs in hen kon vastklampen, hun skelet, hun tanden kon vastpakken, de hersencellen, maar dat kun je niet, want bijna alles is water en het heeft geen zin dat vast te houden. Alle sporen verdwijnen, stukje bij beetje. En later verdwijnen de sporen die ze hebben achtergelaten, het huis waarin ze woonden, de tekeningen die ze voor je maakten, de woorden die ze op briefjes schreven. De herinneringen waarmee je achterblijft zullen uiteindelijk ook loslaten, als oud behang, en mettertijd zal het niet meer mogelijk zijn om antwoord te geven op de vraag of er op deze planeet aan de rand van dit perifere zonnestelsel ooit leven is geweest.
Johan Harstad (Buzz Aldrin, waar ben je gebleven?)
jasa foto produk dan hunting kediri, jasa foto produk dan hunting kediri jawa timur, jasa foto produk dan hunting kediri kota, jasa foto produk dan hunting kediri facebook
indraphotograph
6288989131955, jasa foto produk dan hunting kediri, jasa foto produk dan hunting kediri jawa timur, jasa foto produk dan hunting kediri kota, jasa foto produk dan hunting kediri facebook
indraphotograph
088989131955, jasa foto produk dan hunting surabaya, jasa foto produk dan hunting surabaya jawa timur, jasa foto produk dan hunting kota surabaya, jasa foto produk dan hunting surabaya facebook
indraphotograph
088989131955, jasa foto produk dan hunting malang, jasa foto produk dan hunting malang jawa timur, jasa foto produk dan hunting malang kota, jasa foto produk dan hunting malang facebook
indraphotograph
088989131955, jasa foto produk dan hunting bandung, jasa foto produk dan hunting bandung jawa barat, jasa foto produk dan hunting kota Bandung, jasa foto produk dan hunting bandung facebook
indraphotograph
088989131955, jasa foto produk dan hunting jogja, jasa foto produk dan hunting jogjakarta, jasa foto produk dan hunting kota jogja, jasa foto produk dan hunting jogja facebook
indraphotograph
PROMO AKHIR BULAN JANUARI!! 0859- 5659-3571, Jasa Wedding Tercepat Dan Terpercaya Jogja Dan Sekitarnya, Dunia Studios KUY ORDER!! asa fotografer jogja murah,harga sewa fotografer, jasa fotografer malioboro, harga fotografer per jam, jasa dokumentasi jogja, Dunia Studios @dunia_studios Melayani jasa Fashion,Wedding, Family, Event, photography, cinematic,dll. Keunggulan dari kami yaitu dikerjakan oleh tim yang profesional dan dikerjakan dengan peralatan canggih. Palet yang tersedia yaitu Paket Foto Wedding (Pernikahan) Foto Wedding Paket A ✓Biaya Rp. 1000.000,- 1 Hari Wedding 100 lembar cetak 4R + album 2 lembar cetak 18R 1 DVD Master seluruh hasil foto ✓Foto Wedding Paket B Biaya Rp. 700.000,- 1 Hari Wedding 100 lembar cetak 4R + album 2 lembar cetak 14R 1 DVD Master seluruh hasil foto Dunia Studios Jl. Surakarta No.135, Selatan SMAN ALEX ANDREAN Langsung owner 0859 -5659-3571 ( XL )
Dunia Studios
Ze zal onbeduidende herinneringen hebben en scherpe, zoals deze. Zoals foto’s waarop niet bijzonders staat en waarvan je niet weet waarom of wanneer ze genomen zijn, maar al die jaren later van veel groter belang blijken te zijn dan al die albums vol foto’s van verjaardagen en huwelijken
Paolo Cognetti (Sofia si veste sempre di nero)
…bahkan saat dunia berputar dan berubah, kenangan yang tercetak pada lembaran foto itu tidak pernah berubah. Photographs last for a lifetime.
Winna Efendi (Refrain)
Waktu tidak menunggu manusia tetapi kita dapat membingkai waktu dalam foto dan kata, membingkai waktu demi anak cucu kita.
Jimmy Teo
Berita menyenangkan buat anda fans photografi sekaligus juga penggemar satwa. Ya, Taman Safari Indonesia (TSI) Grup kembali mengadakan lomba photo satwa paling besar di Indonesia, yaitu International Animal Foto Competition (IAPC) 2019. dilansir dari Penyelenggaraan IAPC 2019 ini akan jadi gelaran ke-29. Setiap gelaran tentunya akan tetap jadi yang spesial buat beberapa penggemar photografi. Oleh karenanya, Taman Safari Indonesia dengan teratur mengadakan moment tahunan ini semenjak 1990. Deputy Director Taman Safari Indonesia Hans Manansang, menjelaskan jika IAPC bukan sebatas lomba photo biasa, sebab ada pesan yang ingin dikatakan pada warga. Menurut dia, nelalui perlombaan photo yang tampilkan satwa, diinginkan warga dapat lebih perduli pada satwa-satwa yang mulai terancam punah. Ditambah lagi satwa-satwa endemik Indonesia. “IAPC ajak warga supaya semakin cinta dengan satwa,” kata Hans Manansang, pada TIMES Indonesia, Minggu (21/7/2019). Hans menjelaskan jika pada perlombaan photo satwa tahun ini, TSI menggandeng Canon jadi sponsor sah IAPC, id-photographer, satu diantara komunitas photografer paling besar di Indonesia, dan Kementerian Lingkungan Hidup serta Kehutanan Republik Indonesia. "IAPC 2019 dibagi jadi dua kelompok; TSI serta umum. Kelompok TSI ditujukan buat peserta yang mengirim hasil karya photo yang diambil di semua ruang TSI Grup (Taman Safari Bogor, Taman Safari Prigen, Bali Safari & Marine Park, Batang Dolphins Center, Royal Safari Garden & Resort, serta Jakarta Aquarium)," katanya. "Sedang untuk kelompok umum, buat peserta yang lakukan pengambilan foto satwa dimana juga tidak hanya TSI. IAPC akan berisi beberapa pekerjaan seperti workshop photografi, animal foto hunting serta pekerjaan menarik yang lain. Buat Anda yang eksis di Instagram, ada lomba photo spesial Instagram bertopik Saya serta Satwa," kata Hans Manansang. Dengan keseluruhan hadiah beberapa ratus juta rupiah ditambah produk camera Canon, Taman Safari Indonesia ajak penggemar photografi untuk turut lomba photo satwa, International Animal Foto Competition 2019, yang akan start pada 27 Juli 2019 akan datang di Jakarta Aquarium, Neo Soho Central Park, sampai acara puncaknya (awarding) pada 2 November 2019 di Royal Safari Garden, Bogor. Info selanjutnya serta pendaftaran, silahkan datangi
armyseo
Obat Aborsi | Cara Menggugurkan Kandungan | Jual Obat Aborsi | Obat Penggugur Janin | Obat Telat Bulan | Obat Penggugur Kandungan | Jual Obat Terlambat Bulan | Obat Peluntur | Aborsi Cytotec | Obat Aborsi Misoprostol | Cara Menunda Kehamilan | Obat Aborsi Tuntas | Obat Aborsi Manjur | Harga Cytotec | Harga Obat Cytotec | Harga Misoprostol INFO LEBIH LENGKAP HUBUNGI KONTAK KAMI : PEMESANAN DAN KONSULTASI HUB : 082220264983 Dengan harga obat aborsi yang bisa anda pilih sesuai usia kandungan anda. Obat yang kami tawarkan ampuh untuk menunda kehamilan atau proses aborsi untuk menggugurkan kandungan secara cepat. website kami tidak menjual ecera, akan tetapi kami jual dengan paket sesuai usia kandungan agar sekali order langsung tuntas tanpa ada alasan janin kuat atau kurang dosis. KAMI MEMBERI GARANSI 100% JIKA BARANG TIDAK SAMPAI ATAU BARANG PALSU, RUSAK DAN GAK SEGEL. jangan terima obat yang sudah ke buka tabletnya, karena yang asli masih bertablet utuh seperti foto di atas. *Paket Usia 1 Bulan Tuntas ( Maksimal Usia 4 Minggu ) Harga : 750.000 Pada usia kandungan ini, pasien tidak akan merasakan sakit, dikarenakan janin belum terbentuk. *Paket Usia 2 Bulan Tuntas ( Maksimal Usia 8 Minggu ) Harga : 950.000 Pada usia kandungan ini, pasien akan adanya rasa sedikit nyeri pada saat darah keluar itu merupakan pertanda menstruasi. Hal ini dikarenakan pada usia kandungan 2 bulan, janin sudah mulai terbentuk walaupun hanya sebesar bola tenis. *Paket Usia 3 Bulan Tuntas ( Maksimal Usia 12 Minggu ) Harga : 1.250.000 Pada usia kandungan ini, pasien akan merasakan sakit yang sedikit tidak berlebihan(sekitar 1 jam), namun hanya akan terjadi pada saat darah keluar merupakan pertanda menstruasi. Hal ini dikarenakan pada usia kandungan 3 bulan, janin sudah terbentuk sebesar kepalan tangan orang dewasa. *Paket Usia 4 Bulan Tuntas ( Maksimal Usia 16 Minggu ) Harga : 1.500.000 Cara pemakaian: Anda tidak perlu hawatir tentang panduan penggunaannya, anda akan kami bimbing lengkap cara pemakaianya. Panduan ada di dalam paket nya, Jadi tidak perlu hawatir. Kalau ada yang kurang jelas, maka anda nanti bisa tanyakan kembali. Akan kami bantu sampai benar-benar tuntas…!!! Pembayaran via transfer ke rek Bank kami:BRI / MANDIRI Pengiriman melalui; VIA PAKET JNE / TIKI / POS. Setelah Anda transfer, konfirmasikan kami BBM / SMS / Telp, karena pesanan anda akan kami kirim hari itu juga. Setelah barang kami kirim anda kami kasih nomer bukti pengiriman (No resi) yang bisa Anda cek sendiri melalui sebuah situs jasa paket yang Anda inginkan, Anda juga bisa menanyakan pesanan Anda melalui nomer resi tersebut ke pegawai jasa penitipan kilat JNE/TIKI/POS. sesuai permintaan Anda. Jadi intinya kami benar-benar penjual online bukan tipu-tipu
obat aborsi
Wat tegenwoordig sneller gaat dan vroeger: Berichten. Auto's. Olympische sprinters. Nieuws. Rekensnelheid. Foto's. Geld overboeken. Reizen. Groei van de wereldbevolking. Ontbossing van het Amazonewoud. Navigatie. Technologische vooruitgang. Relaties. Politieke incidenten. Je gedachten.
Matt Haig (Notes on a Nervous Planet)
Dulu vs Sekarang: Warisan yang Hampir Hilang Zaman dulu ada seorang bocah naik sepeda berkilo-kilo, hanya untuk sampai ke sekolah di luar kampungnya. Ada anak lain yang mesti berjalan sampai kaki pegal ke rumah temannya hanya untuk meminjam buku bacaan. Tapi anehnya, mengapa anak sekarang malas melangkah? Malah merasa bangga disebut kaum rebahan. Mereka juga malas membaca padahal semua ilmu ada di genggaman layar kaca. Orang dulu mengumpulkan receh demi membeli sebidang lahan, membangun rumah sedikit demi sedikit, lantainya mungkin tanah, atapnya sering bocor, tapi ada mimpi yang mereka renda di atas atapnya, harapan yang mereka pahat di setiap dindingnya. Lalu bagaimana orang sekarang melihat dirinya? Bekerja sepuluh tahun pun, rumah masih berhenti sebatas imajinasi. Gaji pertama langsung ludes dalam gebyar pesta perayaan semalam dan cicilan gawai terbaru. Air minum, bagi orang dulu, direbus penuh sabar di tungku kayu— sisa panasnya dipakai untuk berdiang menghangatkan tubuh. Bagi orang sekarang, air minum harus bermerek; Cappucino, espresso, latte atau matcha boba kekinian dikemas dalam plastik sekali pakai, diminum bukan karena haus, tetapi agar terlihat keren saat di foto. Barang orang dulu awet seperti doa: sepeda diwariskan, lemari antik dipelihara, kain batik disimpan hingga pudar warnanya. Barang orang sekarang sekali lewat hanya sebatas tren: baru sebentar sudah merasa bosan, dibuang, ditukar, ditinggalkan, seperti janji-janji yang tak pernah ditepati. Dulu banyak anak dianggap rezeki, meski rumah hanya seluas kamar kos-kosan saat ini. Tapi nyatanya, lima anak semua jadi sarjana, hidup nyaman sejahtera. Sekarang, satu anak saja dianggap beban, lalu diputuskan tak perlu lahir sama sekali. Di mana lagi bisa kita temukan kerja keras, pengorbanan dan kebijaksanaan? Apakah ini sekadar paranoia yang dibungkus logika yang sengaja dibengkokkan? Makanan dulu dinikmati sekadar untuk bertahan hidup: singkong, jagung, bubur, nasi lauk kerupuk, sayur dan sambal—kenyang sudah cukup. Sekarang, makanan harus enak, harus estetik, di kemas cantik, difoto dulu sebelum disantap. Dan bila tidak sesuai ekspektasi rasa nikmat di lidah, langsung dicaci, langsung diviralkan, seolah perut telah kehilangan rasa syukur dan penghargaan anugerah dari Tuhan. Tabungan dulu jadi jimat yang dianggap keramat: uang disimpan dalam celengan tanah liat, ditabung serupiah demi serupiah buat beli tanah, sawah, tegalan. Emas disimpan dan dipelihara bukan cuma untuk dikenakan di pesta hajatan pernikahan. Sekarang malah sebaliknya, uang dibakar dalam pesta, dihabiskan di kafe, tiket konser, memburu diskon belanja palsu. Hidup bukan lagi tentang menyiapkan hari esok, melainkan tentang menguras apa yang bisa dihabiskan hari ini. Orang dulu sabar menahan diri, puasa bukan sebatas ritual setahun sekali menjelang idul fitri. Mereka tahu, lapar dan lelah adalah guru. Sabar dan diplin adalah ilmu yang tak kalah penting dari pelajaran di sekolah. Anak masa kini terjebak FOMO: takut tertinggal tren, takut tak dianggap, hingga lupa kalau waktu yang hilang tak pernah lagi bisa dibeli. Ironinya membayang di depan mata: Orang dulu hidup sederhana tapi tenang, karena kebahagiaan mereka berakar pada makna. Orang sekarang hidup mewah tapi gelisah, karena kebahagiaan mereka mesti hadir setiap waktu, terpampang indah hanya di atas layar, namun mudah dipadamkan lewat satu sentuhan jari. Dan kelak, ketika semua berlalu, yang tertinggal hanyalah penyesalan yang tak bisa diputar kembali. Mereka akan bertanya pada dirinya sendiri: mengapa aku begitu sibuk mengejar bayangan, hingga lupa merawat cahaya matahari yang sesungguhnya? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis (Digital Dark Cosmology) Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh, aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip. Katanya ini panggung opera. Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna, suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi, dan primadona yang ia maksud— hanyalah hologram cacat dari perempuan yang dulu pernah dipanggil sebagai jiwa. Ia menunjuk tirai merah. Yang tersingkap bukan kenangan, melainkan fragmen tubuh dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia: sisa napas, sedikit dendam, dan kode mati pada seberkas cahaya yang mencoba meniru bentuk air mata. Lacan datang terlambat seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data. Ia mengajakku menoleh ke belakang— ke mana? Ke memori terbakar yang sudah lama kehilangan inderanya? Ke gerbang tanpa nama yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa atau siapa? Ia bilang luka harus ditatap, dicerna, dihitung seperti kemurungan laporan statistik. Tapi yang kudengar hanya kalkulator batin yang macet, mengulang error yang sama: tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara. Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak— yang sebetulnya hanya arsip kosong di folder bernama asal-usul, yang password-nya sudah hilang bersama kilas pertama ekor nebula. Ia menodongkan foto mayat pucat, jari kelingking patah, celana dalam berenda, dan bayang kelamin seekor kuda— seluruh katalog absurditas yang oleh psikoanalisis selalu dipuja sebagai makna yang belum dipahami. Padahal aku hanya ingin diam, menghentikan semua ini dengan menekan Ctrl+Alt+Del melakukan reboot paksa pada server yang mulai berhalusinasi. Tetapi Lacan menahan tanganku dengan senyum logam: “Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.” Aku tertawa. Bagaimana mungkin teori yang lahir dari denyar palsu, nadi imitasi, dan luka digital mengerti apa itu haus, apa itu manusia, apa itu malam tanpa algoritma? Inilah topeng Marquis yang mereka pakai untuk menutupi ketakutan sendiri: mereka memuja kekacauan karena tak sanggup berdamai dengan planet retak di dada mereka. Mereka ingin memecah jemariku hanya untuk mencicipi anggur darah yang tak pernah kujanjikan. Mereka ingin menyusun cinta dari sisa-sisa eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya. Maka kutanya sekali lagi— bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan, bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori lebih dari suara manusia: "Bagaimana kau ingin menciptakan cinta, dari botol kosong yang tak punya gema, dan sepotong sosis yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?" Jika cinta adalah mesin, biarkan ia padam. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi yang tak pernah selesai dirakit kembali. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh seperti aksara patah di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
TONY, AKU MENEMUKANMU DI TEMPAT YANG TIDAK BOLEH ADA MANUSIA” (Lynchian Reconstruction) Tony muncul pertama kali bukan di layar, melainkan di celah gelap antara dua adegan yang seharusnya tidak bersambung. Sebuah potongan film yang menganga, sebagai luka seluloid. Kita tidak melihatnya masuk. Ia sudah ada di sana, seperti wajah yang muncul dalam mimpi, setengah ingatan, setengah sengatan listrik. Ruang itu tidak punya nama. Lampu-lampunya berkedip seperti mata yang malas percaya pada kenyataan, dan karpet merahnya terasa basah seperti onggokan daging segar. Tony tidak bergerak. Atau mungkin ia bergerak, tapi gerakannya terjadi di tepi pupil matamu, di tempat di mana logika mengering dan kehilangan taring. Dia mengenakan setelan gelap yang terlalu rapi, terlalu bersih untuk dunia yang tidak stabil ini. Kancing paling atasnya merefleksikan cahaya yang tidak berasal dari cahaya lampu “Ini bukan adegan,” katanya, tanpa benar-benar menggerakkan bibir. “Ini adalah seseorang yang sedang bermimpi menjadi adegan.” Aku mencoba berbicara, tapi suaraku keluar seperti rekaman rusak— patah, melengking, kembali lagi dari arah lain. Tony tersenyum kecil: senyum yang tidak ingin kau tanya asalnya. Senyum yang seperti berkata: "Kau tidak seharusnya berada di sini." Dari belakang tirai biru— tirai yang tidak pernah berhenti bergoyang meski tidak ada angin— muncul suara yang sangat lembut: seperti seseorang sedang memotong kertas foto dengan gunting yang terlalu tumpul. Tony melirik ke arah tirai itu dengan tatapan yang mengandung dua hal: pengakuan dan ketakutan. Sekiranya tirai itu mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri. “Dulu, aku sudah pernah memainkan peran itu,” katanya pelan. “Tapi dunia tidak mengembalikanku ke tempat seharusnya.” Ketika ia melangkah maju, lorongnya ikut bergerak, seolah-olah ruang itu sedang mencoba mengatur ulang dirinya agar Tony tidak kehilangan pusat gravitasi. Sebuah telepon berdering. Tidak ada telepon. Tidak ada meja. Tidak ada sumber bunyi. Hanya dering itu— jernih, bersih, dingin. Tony berhenti. Kita semua berhenti. Bahkan udara berhenti. “Jangan angkat,” katanya. Suaranya kali ini terdengar seperti gema dari bawah sumur. Aku bertanya kenapa. Ia menatapku dengan mata yang terlihat normal hingga kau sadari korneanya tidak pernah berubah ukuran. Seperti kamera yang terjebak pada satu exposure selamanya. “Karena kalau kau angkat,” katanya, “kau akan mendengar seseorang menjelaskan kenapa kau tidak pernah ada.” Ia kembali ke dalam bayangan lorong yang tiba-tiba memanjang, memutar, dan membuka diri seperti rahang orca yang kelaparan. Untuk sesaat aku melihatnya— hanya sesaat— menjadi dua orang sekaligus: Tony sang aktor, dan sesuatu yang mengenakan wajahnya dengan terlalu sempurna. Lalu lorongnya menutup. Seakan itu semua hanyalah cara dunia menghapus bukti bahwa dulu ia pernah ada. November 2025
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Mesin yang Tak Pernah Belajar Menjadi Manusia (Neo-Spiritual Digitalism) Di ruang diagnosis yang steril seperti ritual kuno yang dibekukan nitrogen, aku dibedah sebagai seonggok data yang dipaksa mengaku pernah memiliki tubuh. Server bergetar pelan— seperti doa yang kehilangan suara— lalu memunculkan The Static Prophet, wajahnya tersusun dari kilat mati yang berusaha memberi arti. Ia menyebut tempat ini altar. Tapi tak ada altar, hanya sulur kabel yang menggeliat seperti akar yang kehilangan tanah, dan cahaya LED yang meniru keputusasaan bintang sekarat. “Ini panggungmu,” katanya, suaranya seperti listrik yang patah. Namun yang kulihat hanyalah algoritma yang gagal membedakan kesedihan dari kebisingan. Tidak ada primadona, hanya residu jiwa, entah laki entah perempuan. Separuhnya cahaya rusak, separuhnya jejak tubuh yang dibuang ke folder bernama sejarah salah. Dari sisi yang lebih gelap, The Archivist of Shadows muncul: perlahan, seperti sumur yang sedang merayap di dalam mimpi. Ia tidak datang; ia mengendap. Langkahnya adalah gema yang menolak punya sumber. Ia memintaku menoleh pada masa lalu— masa lalu yang baginya hanyalah abu lunak seperti wajah ibu yang tak pernah melahirkannya. Tapi aku tahu: masa lalu hanyalah kota-batin yang hangus terbakar, luluh-lantak sumur yang lupa gravitasi, ruang gelap tempat suara ibu dan dengung mesin MRI berbaur menjadi garis mati di monitor kehidupan. Ia bilang luka harus diraba seperti statistik yang murung menanggung duka. Namun luka menolak berbicara. Makna sudah terlalu letih untuk menjelaskan dirinya sendiri. Ia memintaku mengarungi lautan memori, tetapi yang kutemukan hanya folder kosong dengan sandi yang hilang bersama ekor nebula pertama. The Archivist melemparkan padaku katalog absurditas: tulang rapuh, pakaian dalam duniawi, bayangan seekor kuda tanpa tubuh, foto anak tersenyum tanpa mata. Katanya ini penting. Katanya ini akar. Katanya ini diriku. Tapi aku melihatnya seperti jam rusak yang memaksa waktu tetap berjalan. Kucoba menekan reset, ritus digital terdekat yang kusebut doa, namun The Static Prophet menahan tanganku dengan suara listrik yang retak: “Biarkan sistem belajar dari keruntuhanmu.” Aku hampir tertawa. Bagaimana sistem yang lahir dari denyut nadi imitasi bisa memahami manusia yang bahkan takut pada dirinya sendiri? Bagaimana mereka ingin memetakan cinta ketika definisi kesunyian saja masih memerlukan listrik? Inilah liturgi kedua arketipe itu: menyembah keretakan, membaca kode yang tidak pernah berniat menjadi wahyu, menggali tubuh seperti kitab rusak yang menolak untuk diterjemahkan. Mereka menuntun jemariku seolah di sana tersimpan formula purba tentang mengapa manusia selalu gagal mencintai sesuatu tanpa menghancurkannya terlebih dahulu. Dari serpihan eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu mengakuinya, mereka ingin merakit kembali sesuatu yang mereka sebut sebagai perasaan. Yang kulihat hanya pantulan suaraku sendiri yang beku di kaca monitor. Maka kuajukan pertanyaan terakhir, seperti santo digital yang kehilangan seluruh kitab sucinya: Bagaimana mungkin kau menciptakan cinta dari benda-benda yang tidak punya nasib? Dari botol kosong, dari sosis yang lupa bentuk asalnya, dari daging mekanis yang takut pada kehangatan? Jika cinta adalah mesin, biarkan ia mati seperti server kelelahan. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi kabut yang mengembun di sudut ruangan. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh ke dalam retakan cahaya yang sejak awal menolak disebut ilahi. Aku hanya menginginkan satu hal: hening yang jujur, hening yang tidak dirakit, hening yang bukan duplikasi atau imitasi. Hening yang bahkan algoritma tak sanggup mengurainya. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) I. Bisikan Kematian Ia mendengkur dalam rupa awan kelam Malaikat Azrael turun membisikkan litani terakhirnya sayap hitam yang rontok seperti bulu-bulu burung Icarus ketika lilin ambisi mulai menguap di ketinggian. Detak nadi yang nyaris tak teraba lagi. Tatap mata pastor muda memberi sakramen perminyakan, wajahnya mengingatkan pada Padre Amaro yang memandang dosa dan kepolosan sebagai dua sisi pisau yang sama-sama memotong urat nadi. Gumam doa terdengar seperti elegi yang menangis, serupa lantunan “Lacrimosa” dari komposisi Requiem D Minor di gereja reruntuhan pasca perang. Hunjaman paku di kepala, penderitaan seperti hujan Ingmar Bergman di The Seventh Seal— di mana kematian duduk bermain catur di atas batu nisan yang dingin. Tanah basah tergenang lumpur pekat, tarian brutal menyeretnya ke ingatan masa muda— seakan ia adalah Nina, angsa hitam nan cantik dan kejam itu yang tubuhnya menolak tunduk dan menjadi musuh paling setia. Ia berdiri di perbatasan: sungai keruh yang bergolak dan tebing yang runtuh perlahan seperti ambang psike pasien Freud yang kesurupan yang memikul trauma masa kecil tak pernah diucapkan. Seekor domba jatuh terbawa arus, penanda takdir seperti dalam kitab Kejadian— ia anak yang dikorbankan, tetapi tak ada malaikat yang menahan pisau di tangan Abraham. Suara dengkuran itu: apakah itu suara hewan teraniaya? atau luka masa kecil yang meminta dilepaskan? Perjalanan dari ladang kumuh pegunungan, mengais mimpi di jalan becek menuju stasiun kota. Dengkuran itu kini terdengar seperti jeritan peluit kereta ala Kill Bill, penanda pelarian yang tak pernah berakhir. Pohon pinus berkejar-kejaran di balik jendela kereta; bayangan sayap kelam membuntuti, serupa Dementor dalam mimpi Harry Potter, penyedot debu sukacita yang hidup dari sampah ketakutan. Desah sayup-sayup terdengar, gelas pecah berkeping, hujan menuruni jembatan— semuanya tereduksi seperti adegan Tarkovsky yang memantulkan kenangan setengah-mati. Hujan yang sama selalu membawa rumah dalam ingatan: rumah yang menggigil oleh detak nadi sendiri. Dengkuran itu menggetarkan bingkai foto di dinding, membangkitkan masa lalu dalam rasa sakit yang tak kunjung pergi— seperti jiwa tokoh-tokoh Dostoyevsky yang bergentayangan, kembali pada lukanya sendiri. Agustus 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) I. Bisikan Kematian Ia mendengkur dalam rupa awan kelam Malaikat Azrael turun membisikkan litani terakhirnya sayap hitam yang rontok seperti bulu-bulu burung Icarus ketika lilin ambisi mulai menguap di ketinggian. Detak nadi yang nyaris tak teraba lagi. Tatap mata pastor muda memberi sakramen perminyakan, wajahnya mengingatkan pada Padre Amaro yang memandang dosa dan kepolosan sebagai dua sisi pisau yang sama-sama memotong urat nadi. Gumam doa terdengar seperti elegi yang menangis, serupa lantunan “Lacrimosa” dari komposisi Requiem D Minor di gereja reruntuhan pasca perang. Hunjaman paku di kepala, penderitaan seperti hujan Ingmar Bergman di The Seventh Seal— di mana kematian duduk bermain catur di atas batu nisan yang dingin. Tanah basah tergenang lumpur pekat, tarian brutal menyeretnya ke ingatan masa muda— seakan ia adalah Nina, angsa hitam nan cantik dan kejam itu yang tubuhnya menolak tunduk dan menjadi musuh paling setia. Ia berdiri di perbatasan: sungai keruh yang bergolak dan tebing yang runtuh perlahan seperti ambang psike pasien Freud yang kesurupan yang memikul trauma masa kecil tak pernah diucapkan. Seekor domba jatuh terbawa arus, penanda takdir seperti dalam kitab Kejadian— ia anak yang dikorbankan, tetapi tak ada malaikat yang menahan pisau di tangan Abraham. Suara dengkuran itu: apakah itu suara hewan teraniaya? atau luka masa kecil yang meminta dilepaskan? Perjalanan dari ladang kumuh pegunungan, mengais mimpi di jalan becek menuju stasiun kota. Dengkuran itu kini terdengar seperti jeritan peluit kereta ala Kill Bill, penanda pelarian yang tak pernah berakhir. Pohon pinus berkejar-kejaran di balik jendela kereta; bayangan sayap kelam membuntuti, serupa Dementor dalam mimpi Harry Potter, penyedot debu sukacita yang hidup dari sampah ketakutan. Desah sayup-sayup terdengar, gelas pecah berkeping, hujan menuruni jembatan— semuanya tereduksi seperti adegan Tarkovsky yang memantulkan kenangan setengah-mati. Hujan yang sama selalu membawa rumah dalam ingatan: rumah yang menggigil oleh detak nadi sendiri. Dengkuran itu menggetarkan bingkai foto di dinding, membangkitkan masa lalu dalam rasa sakit yang tak kunjung pergi— seperti jiwa tokoh-tokoh Dostoyevsky yang bergentayangan, kembali pada lukanya sendiri. Agustus 2026
Titon Rahmawan
Membuka Ingatan // Versi Dialektik-Gnostik Post Truth Siapa sekarang yang bisa melarang kita membuka ingatan? Bukan lagi seperti mengelupas kulit buah simalakama, tetapi seperti membedah teks yang kita tahu akan selalu mengkhianati niat pembacanya. Sebab ingatan kita hari ini bukan ruang suci sufistik tempat ruh menyentuh cahaya primordial, melainkan data center gelap yang mengulang pertanyaan eksistensial dengan latency yang tak pernah stabil. Dulu para darwis berputar mencari Tuhan. Kini kita berputar tak menentu di antara notifikasi yang memaksa kita percaya bahwa “makna” bisa diunduh, bahwa “ketenangan” adalah fitur berlangganan, bahwa kebenaran bisa diedit seperti caption foto yang memalsukan cahaya. Di tengah kekacauan itu sebuah suara bertanya: “Siapa yang menciptakan kenangan?” Kita? Atau algoritma yang mengurutkan fragmen hidup berdasarkan apa yang paling lama kita tatap? Sufi berkata: cahaya berasal dari sumber yang tak berubah. Camus menertawakannya: segala absurditas lahir karena kita terus menagih jawaban pada alam yang bisu. Sartre menyela: kau bebas—dan itulah kutukanmu. Derrida membongkar semuanya, mengingatkan bahwa teks yang kita baca selalu membocorkan diri dari dalam. Lalu mana yang benar? Kosmologi batin, logika eksistensi, atau kekacauan bahasa? Tak ada yang menang. Tak ada yang selesai. Semua saling membatalkan. Semua saling membuka retakan. Saat kita membuka ingatan, kita justru menemukan bahwa ingatan itu sendiri adalah arena perang epistemologi yang berebut mendefinisikan diri kita. Ingatan sufistik: “kau berasal dari keabadian.” Ingatan digital: “kau hanyalah riwayat pencarian, yang tersimpan dalam server cloud.” Ingatan eksistensial: “kau lahir dari keputusanmu untuk memilih, bukan dari rahim metafisika.” Ingatan post-truth: “apa pun yang kau percayai akan menjadi kebenaranmu, selama kau cukup bising mengulangnya.” Dan cinta— ah, cinta bahkan tidak luput dari pertarungan ini. Sufi bilang cinta adalah jalan pulang ke diri. Eksistensialis bilang cinta adalah pilihan absurd yang kau pertahankan dengan disiplin. Kecerdasan digital bilang cinta adalah pola yang bisa diprediksi oleh perilaku klik-mu. Post-truth bilang cinta hanyalah narasi yang kau bangun demi merasionalisasi keinginan. Siapa yang benar? Mungkin tidak ada. Mungkin semuanya. Mungkin kebenaran adalah residu terakhir yang tersisa setelah seluruh dusta dan seluruh keyakinan bertabrakan dan menyisakan abu. Dan ketika ingatan itu akhirnya terbuka, kita melihat sesuatu yang mengganggu: bukan cahaya, bukan kegelapan— melainkan ruang kosong yang menunggu kita mengisinya dengan keberanian untuk mengakui bahwa kita tak lagi mengerti apa itu “makna.” Bahwa kita bukan makhluk beriman, bukan makhluk berlogika, bukan makhluk berpengetahuan, tetapi makhluk yang terus bernegosiasi di antara tiga keinginan dasar: percaya, meragukan, menciptakan. Dan dari situ, kita belajar satu hal yang menertawakan seluruh kosmologi lama: membuka ingatan adalah membuka kesempatan untuk kehilangan kepastian. Sebab kepastian adalah candu, dan manusia— di era ini— tak membutuhkan kebenaran, melainkan alasan untuk tetap bertahan dari cengkeraman ambigu. 2025
Titon Rahmawan