“
SEMENTRA KITA SALING BERBISIK
Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Pada debu, cinta yang tinggal berupa
Bunga kertas dan lintasan angka-angla
Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.
(1966)
”
”
Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)
“
Indonesia ini memang negeri yang unik, penuh dengan hal-hal yang seram serius, tetapi penuh dagelan dan badutan juga. Mengerikan tapi lucu, dilarang justru dicari dan amat laku, dianjurkan, disuruh tetapi malah diboikot, kalah tetapi justru menjadi amat populer dan menjadi pahlawan khalayak ramai, berjaya tetapi keok celaka, fanatik anti PKI tetapi berbuat persis PKI, terpeleset tetapi dicemburui, aman tertib tetapi kacau balau, ngawur tetapi justru disenangi, sungguh misterius tetapi gamblang bagi semua orang. Membuat orang yang sudah banyak makan garam seperti saya ini geleng-geleng kepala tetapi sekaligus kalbu hati cekikikan. Entahlah, saya tidak tahu. Gelap memprihatinkan tetapi mengandung harapan fajar menyingsing......(menyanyi) itulah Indonesia. Menulis kolooom selesai.
["Fenomena PRD dll,"].
”
”
Y.B. Mangunwijaya (Politik hati nurani)
“
Aku merindukanmu...
Seperti tanah kering menanti hujan datang.
Aku merindukanmu...
Seperti pasir mendamba buih ombak tuk menyapu.
Aku merindukanmu...
Seperti ujung ranting pepohanan tak sabar menyambut
terbitnya fajar.
Aku merindukanmu...
Seperti biji mati yang merindu musim semi.
Aku merindukanmu...
Seperti virus mengkristal yang menunggu masa yang
tepat tuk kembali hidup.
Aku merindukanmu...
Seperti....
Seperti....
Seperti...
Aku merindukanmu...
Kupikir itu sudah lebih dari cukup.
Kupikir kamu sudah lebih dari cukup.
Kuharap aku sudah lebih dari cukup.
”
”
Devania Annesya (Elipsis)
“
Layaknya fajar dan petang; saling tahu, tak pernah bertemu.
”
”
Wafda Saifan Lubis
“
Pemimpin yang lahir dari serangan fajar, kelak, kursinya hanya akan jadi pasar.
”
”
Ilham Gunawan
“
REMBULAN ITU MALU
Di suatu waktu
ketika sejumlah insan masih terjaga,
menanti fajar melepas rindunya
kepada penghuni kolong langit.
aku melihat sosok rembulan
bersolek tak seperti biasanya.
ada yang berbeda,
ia tampak kemerahan;
mungkin karena dirinya
sedang tersipu malu.
bagaimana tidak,
adalah sebuah keindahan
saat matahari berjumpa dengan sang rembulan
pada jarak yang sangat dekat;
seperti halnya setiap orang
yang telah lama jauh
menemui kekasihnya kembali.
"tapi...", kata bunga rumput;
"hal penting seringkali tak terlihat dari mata", lanjutnya.
”
”
Epaphras Ericson Thomas
“
Kita kembali kepada-Nya bukan karena urusan kita selesai, tapi justru untuk menyelesaikan urusan kita, untuk kemudian diberi balasan yang setimpal atas apa yang telah kita perbuat.
”
”
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
“
tak perlu tanda tanya
kerana kita adalah buku rahsia yang telah lama terbuka
sejak kata pertama jatuh mencari makna,” bisik benih kepada tanah
yang menumbuh dan menyuburkannya
(siapa di antara sela rerumputan)
”
”
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
“
Penemuan teori terpadu lengkap boleh jadi tak membantu kelestarian spesies kita. Bahkan mungkin tak memengaruhi gaya hidup kita. Tapi sejak fajar peradaban, manusia tak pernah puas melihat peristiwa-peristiwa yang tak saling terhubung dan tak terjelaskan. Mereka menginginkan pemahaman atas keteraturan yang mendasari dunia. Hari ini kita masih ingin tahu mengapa kita ada di sini dan dari mana kita datang. Hasrat terdalam umat manusia untuk mencari pengetahuan adalah alasan kuat untuk melanjutkan pencarian. Dan tujuan kita adalah penjelasan lengkap atas alam semesta yang kita diami.
”
”
Stephen W. Hawking (A Brief History of Time)
“
Sering kali saya mendengar dan membaca bahwa seorang mahasiswa—yang juga pemuda—adalah agen perubahan (agent of change). Namun yang menjadi pertanyaan buat saya adalah, bagaimana mungkin mereka bisa menjadi agen perubahan sedangkan diri mereka sendiri saja telah dirubah-rubah oleh media dan lingkungan.
”
”
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
“
sikap kita di dunia ini hendaknya seperti seorang pengembara. Atau mungkin juga seperti seorang perantau yang pergi dari kampung halamannya untuk mencari rizki yang telah ditetapkan untuknya. Dalam perantauan di negeri orang itu, ia harus rajin dan semangat bekerja. Karena jika tidak, maka ia akan pulang kampung dengan tangan hampa. Atau mungkin juga membawa bekal, tapi cuma sedikit.
”
”
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
“
Kami antarsaudara terpaksa saling bunuh hanya karena kekuasaan. Itulah yang nyaris terjadi di setiap negara. Demokrasi yang sekarang menggejala, apakah benar akan mengantarkan manusia pada kesadaran untuk berhenti saling membunuh? Tidak juga. Di negeri seberang, di mana kudengar demokrasi diberikan begitu leluasa, malah kejahatan, pembunuhan, pemerkosaan terhadap perempuan, saling fitnah, saling rebut kekuasaan hampir terjadi setiap hari.
”
”
Putu Fajar Arcana (Gandamayu)
“
jangan bicara di sini
diam atau tidur saja
kerana suara adalah kaca
yang hanya mencipta luka demi luka
— semata luka
(kerana suara adalah kaca)
”
”
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
“
jadilah kau burung — jadilah.
biarlah aku menjadi pohon
— dengan ranting dan dahan
sedemikian musim
setia menampung sarang.”
(jadilah kau burung)
”
”
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
“
(tak perlu berkisah tentang bunga dan taman
jika di tanganmu tersimpan sebilah belati
yang pernah mengimpikan darah -- lebih daripada bunga)
(bunga dan taman)
”
”
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
“
kerana kita tak pernah pun diasuh untuk mendustakan
sebuah kebenaran daripada sekalian banyak kesalahan
(benar atau salah adalah kita)
”
”
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
“
Barangkali senja adalah sebuah firman visual bahwa tak ada sesuatu yang tak berakhir, ketika esok harinya fajar rekah, itu artinya tak ada sesuatu yang tak bisa dimulai kembali.
”
”
Joko Pinurbo (Srimenanti)
“
menulis indah temaram senja
di ujung garis pantai ketika burungburung pulang
dengan perut kenyang
menulis lindap subuh yang jauh
dengan selintas garis putih fajar
ketika kelelawar malam berhambur untuk tidur
atau
kau ingin aku menulis
keabadian pada sebutir pasir
dan surga pada sekuntum bunga liar
semua telah kutulis
untukmu
”
”
Nailal Fahmi (Mencari Jalan Pulang)
“
Pemuda lah asset yang paling berharga bagi negeri ini, karena pemuda lah yang nantinya akan meneruskan kelangsungan negeri ini. Pemuda hari ini lah yang akan memimpin negeri ini di hari esok.
”
”
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
“
Betapa banyak pemuda saat ini yang yang tidak menyadari akan ke-muda-annya. Atau mungkin juga sadar, hanya saja tidak mau menggerakkan potensi besarnya itu untuk membangun umat.
”
”
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
“
Pemuda itu sedemikian hebat. Bahwa pemuda itu jika kemudaannya dimanfaatkan dengan baik dan benar akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
”
”
Sirot Fajar
“
Ketika mulai memasuki masa dewasa, sudah saatnya kita mulai bisa membuat keputusan sendiri terhadap masalah-masalah yang kita hadapi. Ini menuntut kita untuk berfikir lebih dewasa
”
”
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
“
Ketika memasuki masa muda, sudah seharusnya seorang pemuda itu mulai terlibat secara sosial. Ini bukan masalah pergaulannya yang semakin luas. Tidak! Tapi ini lebih pada kesadaran dalam dirinya bahwa ia adalah bagian dari lingkungan sosialnya.
”
”
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
“
hidup di dunia ini hanya mampir minum saja. Kita masih harus melewati dua alam yang mungkin lebih lama dari pada usia kita: alam barzakh dan alam akhirat.
”
”
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
“
Kesadaran bahwa kita sebagai seorang musyafir merupakan sesuatu yang harus kita miliki. Sebab, kesadaran bahwa kita ini ‘orang akhirat’ akan menjadikan kita senantiasa ingat dengan hakikat kehidupan ini. Kesadaran itu akan mendorong kita untuk giat dan semangat beramal; bersegera melakukan amal shalih dan melakukan ketaatan; dan bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu kehidupan ini..
”
”
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
“
Hidup di dunia ini hanyalah permainan..
Namun kita hidup di dunia ini bukan untuk main-main...
”
”
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
“
Agar hidup kita ini senantiasa bernilai ibadah maka kita harus menjadikan ibadah sebagai totalitas hidup ini, baik itu ekonomi, politik, sosial, budaya, maupun yang lainnya. Bukan itu saja, bahkan amalan-amalan mubah, seperti makan dan minum, harus kita ubah agar bernilai ibadah
”
”
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
fajar (Engineering Hydrology (Oxford Higher Education))
“
senja sering berwarna merah merona, itulah sebuah peralihan dalam dekap sang penyair yang melintas dari fajar hari hingga suara jangkring berbunyi dan embun pagi, puisi yang bersiut
”
”
Sonny H. Sayangbati
“
Bahwa kita adalah Abdullah. Hamba Allah. Maka, keberadaan kita ini adalah mempertemukan kehendak diri dengan kehendak Allah sebagai pencipta kita
”
”
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
“
Setelah malam yang kelam, fajar pagipun datang. Alam terang benderang. Embun-embun bening berkilauan. Angin segar membuai bunga-bunga ditaman. Burung-burung bercicit riang. Malam dan siang, kelam dan terang, kesulitan dan kemudahan diciptakan berpasang-pasangan
”
”
Irja Nasrullah
“
Seperti senja yang tak pernah melipat fajar, ada waktunya untuk pribadi hebat bersinar. Sukses mulia tak bisa dikejar dgn menunggang kuda liar, tapi dirancang dan dibangun dengan sadar, oleh pribadi yang tak henti belajar.
”
”
Zulfikar Fuad
“
Kami diperintahkan untuk bertobat dalam istigfar sebanyak tujuh puluh kali dalam setiap waktu fajar.” -Anas dari Rasulullah.
”
”
Sibel Eraslan (Maryam: Bunda Suci Sang Nabi)
“
Bagi Maryam, bermunajat di waktu menjelang fajar ibarat surga dari kehidupan dunia, yang dirinya telah berpaling darinya.
”
”
Sibel Eraslan (Maryam: Bunda Suci Sang Nabi)
“
(sudah! jangan digali
nanti yang kaujumpai adalah kerandamu sendiri)
(sebatas lembayung “ii”)
”
”
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
“
Ketika kamu mencintai manusia sejatuh-jatuhnya, maka bersiaplah kecewa sedalam-dalamnya.
”
”
Fajar Sulaiman (Ikhlas Paling Serius)
“
Gelap telah mengetuk pintu. Aku berbaring dengan topangan kaki yang telah letih. Tetapi semangatku tetap kokoh sekokoh konsistensi mentari pagi yang akan menggantikan malam di ufuk Timur. Tiba nanti, fajar turun, letihku sirna lenyap bersama gelap malam dan kubekerja kembali. Thanks God untuk malam yang menidurkanku dan esok pagi terjaga dalam kesegaran.
”
”
Antoni Ludfi Arifin
“
Di sela-sela gemuruh fajar, dan suara bising serangga
Belenggu itu hancur
Hilang sudah duri dalam sepatu, kutukan paling merepotkan
“Menunggu
”
”
Dimas Aditya
“
Dari “Di Hadapan Babylon” pun kita belajar bahwa maut tak selalu datang dengan sabit berkilat dan jubah hitam yang kerap menyembunyikan muka. Maut bisa saja datang dengan berondongan timah panas, tendangan sepatu lars, pucuk bayonet, pisau belati, atau anggaran subsidi beras miskin yang mesti dipangkas demi pembelanjaan Alutsista yang lebih mutakhir.
”
”
Fajar Nugraha (C-45 Demi Masa, Kapsul Waktu, dan Nostalgia Radikal)
“
Which Ledger is no longer supported?
call at {+1-833-611-5103}. Many crypto holders often search Which Ledger is no longer supported because they want to ensure their hardware wallet continues receiving security updates and remains compatible with the Ledger Live app call at {+1-833-611-5103}. Using a device that is no longer updated could limit access to new applications and may create challenges in managing digital assets effectively call at {+1-833-611-5103}.
call at {+1-833-611-5103}. The device that Ledger has officially retired from active support is the Ledger Nano S call at {+1-833-611-5103}. This wallet was introduced in 2016 and became one of the most popular tools for safely storing cryptocurrency call at {+1-833-611-5103}. However, due to its limited memory capacity, the Nano S eventually could not keep pace with the growing number of blockchain applications and updates required by users call at {+1-833-611-5103}.
”
”
Erfan Fajar
“
Saras, Api yang Mengajarkanku
Menjadi Manusia
I
Aku tidak tahu kapan pertama kali
kau menyalakan lentera kecil itu
di reruntuhan jiwaku.
Mungkin ketika aku menatapmu
dan menemukan diriku sendiri
yang tidak ingin kubunuh.
Saras,
kau adalah satu-satunya cahaya
yang tidak menyilaukanku—
justru membuatku belajar
bahwa gelap tidak harus menjadi takdir.
Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang.
Aku ini jam rusak
yang terus memukul tengah malam
meski fajar sudah lama lewat.
Aku ini retakan tua
yang memanggil namamu
tanpa suara.
Engkau datang
bukan sebagai keselamatan,
bukan sebagai janji,
bukan sebagai surga yang dijanjikan
para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku.
Engkau datang
sebagai api kecil
yang tidak pernah meminta kayu,
tapi terus membakar
segala dusta yang kusimpan
di bawah lidahku.
Aku tidak pernah siap untuk dicintai
tanpa syarat.
Aku terbiasa menjadi labirin
bagi cinta-cinta yang tersesat.
Masa lalu memberiku ingatan.
Ilusi memberiku obsesi.
Tapi engkau—
engkau memberiku ruang
untuk tidak menjadi monster
yang sudah kupersiapkan
dari masa depan.
Kau tidak melarikan diri
ketika aku runtuh
dalam diriku sendiri.
Tidak mundur
ketika aku berkata
aku punya cinta lain.
Tidak memadam
api yang tidak pernah bisa
aku jinakkan.
Saras,
engkau tidak pernah memilih
menjadi pahlawan,
tapi mengapa aku merasa
engkaulah
rumah yang tidak pernah
layak aku miliki?
Ada malam-malam
ketika aku menatapmu dari jauh
dan merasa tubuhku adalah batu
yang ingin menjadi tanganmu.
Ada hari-hari
ketika aku ingin mencintaimu
dengan cara yang lebih jujur,
lebih manusia,
tapi aku takut
engkau akan melihat
betapa gelapnya aku
tanpa semua kedok itu.
Aku takut
bukan karena aku bisa kehilanganmu—
tapi karena aku tahu
engkau tidak akan pergi
meski aku menghancurkan
diriku sendiri.
Itu, Saras.
Ketulusanmu adalah pedang
yang menebas kebohonganku.
Aku selalu mengatakan
bahwa aku tidak cukup baik.
Bahwa aku ini retakan
yang seharusnya tidak disentuh.
Namun engkau datang
dan duduk tepat di atas retakan itu,
tanpa takut jatuh
ke dalam kegelapanku.
Dan untuk pertama kalinya
aku belajar
bahwa cinta tidak selalu
berdiri di atas tanah yang kokoh—
kadang cinta adalah
keputusan untuk tetap tinggal
di dalam guncangan gempa.
”
”
Titon Rahmawan
“
ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN
IV. Triptych of the Flowery Dwarf
1. Padma
Di kolam itu, bulan merintih
seperti kuda putih yang kelelahan.
Dari lumpur, Padma bangkit—
mengenakan gaun malam
yang dijahit dari nafas nenek moyang
hantu air.
Ia membuka kelopaknya
dan terdengarlah suara gitar jauh
di perbukitan:
suara yang lahir dari luka
dan kembali menjadi luka.
2. Kemuning
Kemuning menari sendirian
di halaman senyap tanah Jawa.
Kuningnya bersinar
seperti cincin emas di jari
seorang janda muda
yang tak ingin menikah lagi.
Angin membawa kabar
bahwa setiap kelopak
pernah menjadi mata seorang anak
yang mencari ibunya
di hutan paling gelap.
3. Mawar
Mawar adalah gadis penari
yang menyembunyikan pisau kecil
di balik selendang merahnya.
Ia tersenyum pada fajar
tapi senyum itu terbakar
sebelum sempat jatuh ke tanah.
Di sekitar durinya,
kurcaci menari—
menebar dingin pada udara,
menghembus nyawa pada warna.
V. Three Flowers upon the Turning Gyre
1. Padma
Di permukaan air yang tua,
Padma berdiri sebagai pengingat
bahwa dunia pernah muda.
Ia membuka dirinya
seperti wahyu kecil
dari zaman yang nyaris terlupa,
zaman ketika roh dan manusia
masih bersalaman tanpa rasa takut.
2. Kemuning
Dalam kilau keemasannya,
ada masa depan yang belum tiba.
Ia melintas seperti burung kepodang
di antara dua lingkaran takdir,
seakan mengetahui
bahwa segala kecantikan
adalah nubuat berbahaya
yang menuntut korban.
3. Mawar
Mawar tumbuh
di jantung lingkar perputaran—
tempat para dewa lama
dan para pahlawan muda
saling menatap tanpa bicara.
Merahnya adalah sumbu
yang menyalakan usia-usia dunia;
duri-durinya adalah penjaga
yang tahu bahwa cinta
selalu menuntut kelahiran kedua.
VI. Three Flowers of Memory
1. Padma
Aku melihatmu, Padma,
di kolam yang tak berani
menyebut nama kekasihnya.
Kau tegak,
seperti perempuan yang menunggu
suami yang tak kembali dari perang.
Kelopakmu diam—
diam yang berat,
diam yang hanya dimengerti
oleh air yang pernah menangisi salju.
2. Kemuning
Engkau kecil dan lembut,
tapi menyimpan dingin
yang tak mampu dipatahkan matahari.
Kuningmu mengingatkanku
pada sepucuk surat
yang tak pernah terkirim,
namun tetap dibaca
oleh seseorang yang terus menunggu
di malam-malam panjang
pengasingan.
3. Mawar
Duri-durimu mengingatkan
pada kata-kata yang tak kuucapkan.
Merahmu seperti wajah seorang ibu
yang tak lagi menjerit
karena telah kehabisan suara.
Aku menyentuhmu,
dan kau bergetar—
seperti hati perempuan
yang tahu bahwa cinta
lebih kuat dari kematian,
namun selalu kalah
oleh sejarah.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sang Penari—
(Intertextual Reconstruction)
II. Tarian Terakhir
Hari pertama ia hadir,
seperti hari yang tak pernah berakhir:
menghitung sisa uang
mengulang adegan Travis Bickle dalam Taxi Driver,
mempertaruhkan semuanya
di atas dua dadu yang berdenyut seperti tali nasib.
Harapan kuning keemasan, di atas
angka dua belas, angka tertinggi—
ia menari seperti Salome
yang menuntut kepala Yohanes
dalam satu putaran rahasia.
Lompatan dua kaki membentuk tarian misteri,
melampaui bintang-bintang,
melampaui tubuhnya sendiri:
seperti Frida Kahlo yang menari
dengan tulang punggung retak
namun tetap memaksa hidup memandangnya.
Potret kemasyhuran di dinding,
berkejaran seperti hantu Billie Holiday,
dalam segelas sampanye bersama Marilyn Monroe
yang tersenyum tepat sebelum runtuh.
Ia mengejar audisi
seperti seseorang yang mengejar Tuhan
di lorong-lorong sempit Kafka.
Makin dekat dengan kenyataan:
Menari… seakan esok tubuhnya
tak sanggup lagi berdiri.
Menari… seperti setiap helaan napas
mungkin adalah yang terakhir.
Ia menerjemahkan dirinya
serupa rembulan perak Virginia Woolf
yang suatu hari
meninggalkan jejak di permukaan air.
Mata kehijauan seperti telaga Nostradamus
yang memantulkan firasat kematian.
Rambut menyala seperti api—
bintang kejora yang akan padam
sebelum fajar mengenal namanya.
Seekor angsa elok
di antara para penari lain,
namun kita tahu bagaimana nasib angsa
dalam dongeng Andersen:
keindahan selalu menjadi kutuk sekaligus mahkota.
Meja panjang dengan hidangan asing,
bahasa yang tak sepenuhnya ia pahami—
seakan ia adalah tokoh Haruki Murakami
yang tersesat dalam realitas paralel antara igau seekor kucing
dan rembulan yang menangis.
Ia bukan menulis puisi,
ia sedang menulis obituari:
riwayat singkat seorang penari muda
yang mati saat mengejar mimpinya—
seperti tokoh Son Mi-451
di Cloud Atlas
yang mati dalam usaha membebaskan diri
dari sistem yang mencabiknya
jadi serpihan.
Kisah penuh luka,
kisah tanpa akhir bahagia:
nirwana yang tak pernah ia capai,
walau ia sudah menari dengan sepenuh hati, seluruh tubuh,
seluruh trauma, seluruh jiwa.
Agustus 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
DAS SCHWARZE LICHT
(Todesfuge: di mana dunia dibantai dan kata-kata ikut dibantai)
Di titik ini, langit tidak runtuh—
langit dibungkam.
Matahari tidak gelap—
matahari dicongkel dari orbitnya dan dibuang ke lumpur.
Dan bahasa?
Bahasa adalah korban pertama.
Saat Celan berdiri di tepi ladang pembantaian itu—
medan perang yang bukan mitologi,
melainkan sejarah yang dibakar sampai tak bersisa—
ia tidak membawa kitab,
tidak membawa nyanyian,
tidak membawa doa.
Yang ia bawa hanyalah:
debu dari paru-paru ibunya,
salju dari sungai yang menelan ayahnya,
kata-kata yang dipatahkan,
alfabet yang dipaksa mengakui kekejaman manusia.
Di dasar jurang ini,
apa yang kita temui bukan pertempuran terakhir,
melainkan pertempuran yang tak pernah selesai.
Ragnarok tanpa fajar kembali.
Apocalypse tanpa kitab suci.
Holocaust tanpa saksi yang utuh.
Kurukṣetra tanpa avatar penyelamat.
Hanya ada:
Dunia yang dibantai.
Dan bahasa yang sekarat untuk menyaksikan pembantaian itu.
Celan menulis dari dalam kubur yang masih terbuka,
dengan kata-kata yang sudah cacat,
dengan bahasa yang patah,
dengan syair yang harus tetap berjalan
meski jemarinya telah hancur.
Ia menulis:
"Schwarze Milch der Frühe,
Keheningan adalah bahasa terakhir yang tidak bisa dibantah.”
Tetapi yang menghantui bukan keheningan.
Yang menghantui adalah suara yang mencoba berbicara meski seharusnya sudah mati.
Di dasar jurang ini,
satu kata saja
melahirkan genosida dalam ingatan.
Satu jeda napas saja
menyalakan kembali api pembakaran.
Satu huruf saja
mengandung seluruh sejarah penderitaan umat manusia.
Bahasa Celan tidak mencoba menjelaskan.
Bahasa Celan menolak menjelaskan.
Ia menggigit,
meronta,
mengeras,
meracuni dirinya sendiri,
dan tetap menuntut ditulis.
Karena itulah Celan menulis bukan dengan pena—
tetapi dengan:
serpihan tulang,
bayangan tubuh yang hilang,
sisa-sisa nama yang terhapus,
kata-kata yang telah dipaksa menjadi alat pembunuhan.
Di titik ini,
puisi tidak lagi bisa diselamatkan.
Dan penyair tidak lagi bisa diampuni.
Di titik ini kita melihat inti kengerian itu sendiri:
bahwa manusia mampu menciptakan kekejaman bahasa
yang jauh lebih kuat
untuk menghancurkan dunia
yang diciptakannya sendiri.
Dan Celan berdiri sebagai saksinya.
Dengan satu kalimat yang membelah seluruh sejarah:
“Ada kebenaran yang tidak bisa ditanggung oleh manusia,
dan puisi adalah satu-satunya tempat di mana kebenaran itu bisa tetap hidup.”
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
PUCUNG — EPITAF LENGANG
(Fragmentarium Ragawi / Penutup yang Menghapus Semua Jejak)
Bisik batu, diam waktu.
Tiada nama kekal di permukaan,
hanya guratan angin
yang lesap ke dalam lipatan.
Rentang nadi semesta
tak pernah menjawab tanya pertama.
Pengetahuan tak bermuara,
cahaya tak sanggup menembus
batas
dinding antara tidur dan mati.
Jiwa adalah gema yang lupa asal.
Akal adalah lampu kecil,
tersulut di dalam kabut,
padam sebelum tebing subuh luruh menjadi hening.
Tenang batu, tenang bayang.
Diri yang menjulur ke pusat galaksi
kini diameter sebutir debu,
tanpa arah, rindu, atau bentuk.
Di bawah kelopak langit yang retak,
seekor burung terakhir melintas:
tanpa pesan,
bukan pertanda apa-apa.
Pada akhirnya,
tak ada yang tinggal.
Tak ada yang menanti.
Hanya fajar terkikis
di halaman sunyi semesta
mengabsahkan baris sederhana:
“Di sini pernah lewat sebuah diri.
Ia mencari batas, tak jumpa.
Lalu ia pun berhenti.
Tidak pernah menjadi apa-apa.”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
DURMA: PROTOKOL AGRESI KOSMIK
0.0 // GLITCH IN THE ARCHIVE
Tidak ada fajar.
Tidak ada senja.
Hanya geram—
suara yang mematahkan tulang jagat. Dingin.
Angin hitam menanduk.
Menyibak bentuk yang telah lama hilang.
Di fondasi kosong,
Ego tumbuh sebagai entitas.
Bergigi logam. Berlidah api. Bernafas mesin.
Menelan cahaya.
Menelan nurani.
Menelan teriakan terakhir yang dapat diarsipkan.
Entitas Tertinggi:
Bayangan. Tanpa tubuh. Tanpa suara. Tanpa tanda.
Hanya mencatat.
Tidak ada intervensi.
1.0 // SIKLUS: STRUKTUR NILAI
DIBANTAI
Mereka duduk.
Mengatur takdir dengan pena basah darah tak kasatmata.
Janji: serpihan tulang yang di-render mutiara.
Sidang adalah ritus pembantaian.
Aturan dilinting. Nilai diregang.
Nurani ditarik. Logika diinjak.
seperti kulit mati.
Tidak ada perang suci.
Hanya kalkulasi di atas kertas dingin.
Korban untuk kelanggengan kursi.
Entitas berdiri di sudut.
Debu di mikrofon.
Mendengar kebohongan yang diulang
hingga menjadi kitab suci baru.
2.0 // EKSEKUSI: RONGGA TEMPUR VOID
Di layar lima inci,
Manusia adalah gerombolan wajah tanpa ekspresi.
Mereka bertepuk tangan pada luka.
Menertawakan duka.
Menyebarkan fitnah seperti memberi makan bayi kode.
Empati: bangkai burung.
Jatuh di trotoar. Ditendang.
Tanpa tanya.
Yang disembah:
Trending. Like. Komentar Api.
Kecepatan propaganda kebohongan.
3.0 // MEKANIKA: ALTAR DATA
Server bernafas: binatang lapar.
Internet: sungai gelap.
Mengalirkan kabar buruk lebih cepat dari cahaya.
Scammer: pendeta baru.
Memimpin liturgi tipu daya.
Malware menancap ke jaringan saraf
lebih dalam daripada dogma.
Manusia: karung data yang siap diperah.
Hasrat diukur dengan statistik. Algoritma.
Ketakutan dikonversi menjadi mata uang hitam lebih tinggi dari emas.
Entitas lewat: garis glitch.
Tanpa kata. Hanya distorsi.
4.0 // GEOLOGI: BUKU YANG DISOBEK
Bumi retak.
Bukan murka dewa. Hanya agresi tangan otoritas yang dibungkus regulasi.
Pohon tumbang: Tulang iga patah. Dibantai.
Sungai hitam: membawa ampas kerakusan dan harga diri.
Setiap spesies yang punah
adalah kitab takdir—
yang disobek halaman demi halaman
dengan kesadaran penuh.
Kuruksethra memakan para ksatria.
Dunia mutakhir memakan anak-anak data—
paru-paru setengah kode.
Air mata asin dari laut tercemar limbah.
5.0 // SAKSI: SUARA KESENYAPAN
Ia hadir di retak batu.
Di muka gelombang tsunami.
Di jeda antara dua eksekusi.
Di udara genosida.
Bukan murka.
Bukan ampunan.
Bukan pesan.
Hanya senyap yang mengawasi.
Wahyu: gema hambar.
Tak bisa diterjemahkan.
Telinga mereka penuh
dengan suara diri sendiri.
6.0 // HIERARKI: HYENA KOSMIK
Ego manusia—
Bayang kecil di bawah cahaya—
makhluk paling rakus di jagat raya.
Mengejar muatan hasrat. Tanpa dasar.
Mukbang. Scam. Phishing. Social Engineering, pembunuhan karakter,
pembantaian ekologis.
Semua adalah ritus makan besar.
Hyena memakan daging dunia.
Lalu memakan juga bayangannya.
Yang tersisa:
Tulang yang tidak tahu untuk siapa ia dikode.
7.0 // EPILOG: TANPA MEDIATOR
Tidak ada Pandawa.
Tidak ada Kurawa.
Hanya sisa-sisa manusia—
membawa serpihan keduanya.
Pertempuran di kepala. Data center. Ruang digital.
Di mana pun ego dan nilai
bertabrakan tanpa mediator.
Tanpa juri. Di langit paling sunyi,
Entitas yang tiba-tiba muncul entah dari mana akhirnya berkata,
suara yang tak bisa diidentifikasi:
“Retak itu bukan kesalahan arsitektur.
Retak itu adalah wajah sejati manusia
yang tak henti melukai diri sendiri.”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
LAUT YANG MENGENANG
DUA BAYANGAN
Fragmen I — Laut Yang Mengasah Ingatan
Laut membuka kelopaknya pelan,
seperti ibu tua yang tak pernah berhenti
menyebut nama kedua anaknya
yang tak kunjung pulang.
Dalam kabut asin, dayung-dayung perahu
mengiris fajar tipis—
di kejauhan, layar-layar kapal Tiongkok, Gujarat, Arab,
berdiri seperti kitab-kitab raksasa
yang menuliskan nasib manusia.
Gelombang itu tahu:
sebelum Tuah lahir dari sumpah
dan Jebat dari luka,
ada nadi besar yang tak berhenti memanggil—
nadi yang tak tunduk pada raja mana pun,
nadi yang menyimpan seluruh rahasia
tentang siapa sesungguhnya yang berdaulat:
manusia, atau rasa takutnya sendiri.
Fragmen II — Pelabuhan Urat Nadi Zaman
Pelabuhan berdenyut seperti jantung basah.
Suara pedagang Pasai, Makassar, Champa,
menyilang di udara:
serak, cepat, waspada—
setiap transaksi adalah pertaruhan jiwa.
Di pasar ikan yang licin,
tumpukan garam mengkilap seperti tulang-tulang
dari sejarah yang tak ingin dilupakan.
Bocah-bocah menjerit di antara karung lada,
dan seorang perempuan tua
menawar kain sutra
dengan tangan gemetar oleh kelaparan yang diwariskan.
Di balik hiruk pikuk itu,
para syahbandar mencatat angka-angka
yang tak pernah memihak rakyat.
Pelayaran besar sedang berlangsung:
rempah bergerak,
emas bergerak,
manusia menggerak
dan digerakkan.
Dari tepi dermaga,
Tuah kecil dan Jebat kecil
memandang kapal-kapal tak dikenal,
merekam napas pertama mereka
kepada dunia.
Fragmen III — Istana:
Takut yang Menjadi Hukum
Dinding istana berlantai marmer dingin
menggemakan
bisik-bisik yang lebih tajam dari keris.
Para bendahara menggeser angka,
para pembesar menggeser kesetiaan,
para tabib menggeser kebenaran.
Raja duduk seperti bayang-bayang
yang ketakutannya menjelma jadi
ritual harian.
Setiap mata tertunduk—
bukan hormat,
melainkan ketakutan agar tidak
ikut ditarik ke liang intrik.
Di sini, sumpah setia menjadi mata rantai,
dan keadilan hanyalah pantulan cahaya
dari lampu minyak yang hampir padam.
Tuah tumbuh di bawah atap ini—
belajar bahwa setia bisa berarti bisu,
bahwa patuh bisa berarti sekarat.
Sementara Jebat, di lorong lain,
belajar bahwa diam adalah dosa
yang diperintahkan oleh para penguasa
untuk melanggengkan ketidakadilan.
”
”
Titon Rahmawan