Fajar Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Fajar. Here they are! All 47 of them:

SEMENTRA KITA SALING BERBISIK Sementara kita saling berbisik Untuk lebih lama tinggal Pada debu, cinta yang tinggal berupa Bunga kertas dan lintasan angka-angla Ketika kita saling berbisik Di luar semakin sengit malam hari Memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa unggun api Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi. (1966)
Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)
Indonesia ini memang negeri yang unik, penuh dengan hal-hal yang seram serius, tetapi penuh dagelan dan badutan juga. Mengerikan tapi lucu, dilarang justru dicari dan amat laku, dianjurkan, disuruh tetapi malah diboikot, kalah tetapi justru menjadi amat populer dan menjadi pahlawan khalayak ramai, berjaya tetapi keok celaka, fanatik anti PKI tetapi berbuat persis PKI, terpeleset tetapi dicemburui, aman tertib tetapi kacau balau, ngawur tetapi justru disenangi, sungguh misterius tetapi gamblang bagi semua orang. Membuat orang yang sudah banyak makan garam seperti saya ini geleng-geleng kepala tetapi sekaligus kalbu hati cekikikan. Entahlah, saya tidak tahu. Gelap memprihatinkan tetapi mengandung harapan fajar menyingsing......(menyanyi) itulah Indonesia. Menulis kolooom selesai. ["Fenomena PRD dll,"].
Y.B. Mangunwijaya (Politik hati nurani)
Aku merindukanmu... Seperti tanah kering menanti hujan datang. Aku merindukanmu... Seperti pasir mendamba buih ombak tuk menyapu. Aku merindukanmu... Seperti ujung ranting pepohanan tak sabar menyambut terbitnya fajar. Aku merindukanmu... Seperti biji mati yang merindu musim semi. Aku merindukanmu... Seperti virus mengkristal yang menunggu masa yang tepat tuk kembali hidup. Aku merindukanmu... Seperti.... Seperti.... Seperti... Aku merindukanmu... Kupikir itu sudah lebih dari cukup. Kupikir kamu sudah lebih dari cukup. Kuharap aku sudah lebih dari cukup.
Devania Annesya (Elipsis)
Layaknya fajar dan petang; saling tahu, tak pernah bertemu.
Wafda Saifan Lubis
Pemimpin yang lahir dari serangan fajar, kelak, kursinya hanya akan jadi pasar.
Ilham Gunawan
REMBULAN ITU MALU Di suatu waktu ketika sejumlah insan masih terjaga, menanti fajar melepas rindunya kepada penghuni kolong langit. aku melihat sosok rembulan bersolek tak seperti biasanya. ada yang berbeda, ia tampak kemerahan; mungkin karena dirinya sedang tersipu malu. bagaimana tidak, adalah sebuah keindahan saat matahari berjumpa dengan sang rembulan pada jarak yang sangat dekat; seperti halnya setiap orang yang telah lama jauh menemui kekasihnya kembali. "tapi...", kata bunga rumput; "hal penting seringkali tak terlihat dari mata", lanjutnya.
Epaphras Ericson Thomas
Kita kembali kepada-Nya bukan karena urusan kita selesai, tapi justru untuk menyelesaikan urusan kita, untuk kemudian diberi balasan yang setimpal atas apa yang telah kita perbuat.
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
tak perlu tanda tanya kerana kita adalah buku rahsia yang telah lama terbuka sejak kata pertama jatuh mencari makna,” bisik benih kepada tanah yang menumbuh dan menyuburkannya (siapa di antara sela rerumputan)
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
Penemuan teori terpadu lengkap boleh jadi tak membantu kelestarian spesies kita. Bahkan mungkin tak memengaruhi gaya hidup kita. Tapi sejak fajar peradaban, manusia tak pernah puas melihat peristiwa-peristiwa yang tak saling terhubung dan tak terjelaskan. Mereka menginginkan pemahaman atas keteraturan yang mendasari dunia. Hari ini kita masih ingin tahu mengapa kita ada di sini dan dari mana kita datang. Hasrat terdalam umat manusia untuk mencari pengetahuan adalah alasan kuat untuk melanjutkan pencarian. Dan tujuan kita adalah penjelasan lengkap atas alam semesta yang kita diami.
Stephen W. Hawking (A Brief History of Time)
Sering kali saya mendengar dan membaca bahwa seorang mahasiswa—yang juga pemuda—adalah agen perubahan (agent of change). Namun yang menjadi pertanyaan buat saya adalah, bagaimana mungkin mereka bisa menjadi agen perubahan sedangkan diri mereka sendiri saja telah dirubah-rubah oleh media dan lingkungan.
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
sikap kita di dunia ini hendaknya seperti seorang pengembara. Atau mungkin juga seperti seorang perantau yang pergi dari kampung halamannya untuk mencari rizki yang telah ditetapkan untuknya. Dalam perantauan di negeri orang itu, ia harus rajin dan semangat bekerja. Karena jika tidak, maka ia akan pulang kampung dengan tangan hampa. Atau mungkin juga membawa bekal, tapi cuma sedikit.
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
Kami antarsaudara terpaksa saling bunuh hanya karena kekuasaan. Itulah yang nyaris terjadi di setiap negara. Demokrasi yang sekarang menggejala, apakah benar akan mengantarkan manusia pada kesadaran untuk berhenti saling membunuh? Tidak juga. Di negeri seberang, di mana kudengar demokrasi diberikan begitu leluasa, malah kejahatan, pembunuhan, pemerkosaan terhadap perempuan, saling fitnah, saling rebut kekuasaan hampir terjadi setiap hari.
Putu Fajar Arcana (Gandamayu)
jangan bicara di sini diam atau tidur saja kerana suara adalah kaca yang hanya mencipta luka demi luka — semata luka (kerana suara adalah kaca)
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
jadilah kau burung — jadilah. biarlah aku menjadi pohon — dengan ranting dan dahan sedemikian musim setia menampung sarang.” (jadilah kau burung)
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
(tak perlu berkisah tentang bunga dan taman jika di tanganmu tersimpan sebilah belati yang pernah mengimpikan darah -- lebih daripada bunga) (bunga dan taman)
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
kerana kita tak pernah pun diasuh untuk mendustakan sebuah kebenaran daripada sekalian banyak kesalahan (benar atau salah adalah kita)
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
Barangkali senja adalah sebuah firman visual bahwa tak ada sesuatu yang tak berakhir, ketika esok harinya fajar rekah, itu artinya tak ada sesuatu yang tak bisa dimulai kembali.
Joko Pinurbo (Srimenanti)
menulis indah temaram senja di ujung garis pantai ketika burungburung pulang dengan perut kenyang menulis lindap subuh yang jauh dengan selintas garis putih fajar ketika kelelawar malam berhambur untuk tidur atau kau ingin aku menulis keabadian pada sebutir pasir dan surga pada sekuntum bunga liar semua telah kutulis untukmu
Nailal Fahmi (Mencari Jalan Pulang)
Pemuda lah asset yang paling berharga bagi negeri ini, karena pemuda lah yang nantinya akan meneruskan kelangsungan negeri ini. Pemuda hari ini lah yang akan memimpin negeri ini di hari esok.
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
Betapa banyak pemuda saat ini yang yang tidak menyadari akan ke-muda-annya. Atau mungkin juga sadar, hanya saja tidak mau menggerakkan potensi besarnya itu untuk membangun umat.
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
Pemuda itu sedemikian hebat. Bahwa pemuda itu jika kemudaannya dimanfaatkan dengan baik dan benar akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Sirot Fajar
Ketika mulai memasuki masa dewasa, sudah saatnya kita mulai bisa membuat keputusan sendiri terhadap masalah-masalah yang kita hadapi. Ini menuntut kita untuk berfikir lebih dewasa
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
Ketika memasuki masa muda, sudah seharusnya seorang pemuda itu mulai terlibat secara sosial. Ini bukan masalah pergaulannya yang semakin luas. Tidak! Tapi ini lebih pada kesadaran dalam dirinya bahwa ia adalah bagian dari lingkungan sosialnya.
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
hidup di dunia ini hanya mampir minum saja. Kita masih harus melewati dua alam yang mungkin lebih lama dari pada usia kita: alam barzakh dan alam akhirat.
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
Kesadaran bahwa kita sebagai seorang musyafir merupakan sesuatu yang harus kita miliki. Sebab, kesadaran bahwa kita ini ‘orang akhirat’ akan menjadikan kita senantiasa ingat dengan hakikat kehidupan ini. Kesadaran itu akan mendorong kita untuk giat dan semangat beramal; bersegera melakukan amal shalih dan melakukan ketaatan; dan bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu kehidupan ini..
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
Hidup di dunia ini hanyalah permainan.. Namun kita hidup di dunia ini bukan untuk main-main...
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
Agar hidup kita ini senantiasa bernilai ibadah maka kita harus menjadikan ibadah sebagai totalitas hidup ini, baik itu ekonomi, politik, sosial, budaya, maupun yang lainnya. Bukan itu saja, bahkan amalan-amalan mubah, seperti makan dan minum, harus kita ubah agar bernilai ibadah
Sirot Fajar (30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup)
books is my friend
fajar (Engineering Hydrology (Oxford Higher Education))
senja sering berwarna merah merona, itulah sebuah peralihan dalam dekap sang penyair yang melintas dari fajar hari hingga suara jangkring berbunyi dan embun pagi, puisi yang bersiut
Sonny H. Sayangbati
Bahwa kita adalah Abdullah. Hamba Allah. Maka, keberadaan kita ini adalah mempertemukan kehendak diri dengan kehendak Allah sebagai pencipta kita
Sirot Fajar (Psikologi Pemuda)
Setelah malam yang kelam, fajar pagipun datang. Alam terang benderang. Embun-embun bening berkilauan. Angin segar membuai bunga-bunga ditaman. Burung-burung bercicit riang. Malam dan siang, kelam dan terang, kesulitan dan kemudahan diciptakan berpasang-pasangan
Irja Nasrullah
Seperti senja yang tak pernah melipat fajar, ada waktunya untuk pribadi hebat bersinar. Sukses mulia tak bisa dikejar dgn menunggang kuda liar, tapi dirancang dan dibangun dengan sadar, oleh pribadi yang tak henti belajar.
Zulfikar Fuad
Kami diperintahkan untuk bertobat dalam istigfar sebanyak tujuh puluh kali dalam setiap waktu fajar.” -Anas dari Rasulullah.
Sibel Eraslan (Maryam: Bunda Suci Sang Nabi)
Bagi Maryam, bermunajat di waktu menjelang fajar ibarat surga dari kehidupan dunia, yang dirinya telah berpaling darinya.
Sibel Eraslan (Maryam: Bunda Suci Sang Nabi)
(sudah! jangan digali nanti yang kaujumpai adalah kerandamu sendiri) (sebatas lembayung “ii”)
Zaen Kasturi (Fajar Lingkung Lembayung)
Ketika kamu mencintai manusia sejatuh-jatuhnya, maka bersiaplah kecewa sedalam-dalamnya.
Fajar Sulaiman (Ikhlas Paling Serius)
Gelap telah mengetuk pintu. Aku berbaring dengan topangan kaki yang telah letih. Tetapi semangatku tetap kokoh sekokoh konsistensi mentari pagi yang akan menggantikan malam di ufuk Timur. Tiba nanti, fajar turun, letihku sirna lenyap bersama gelap malam dan kubekerja kembali. Thanks God untuk malam yang menidurkanku dan esok pagi terjaga dalam kesegaran.
Antoni Ludfi Arifin
Di sela-sela gemuruh fajar, dan suara bising serangga Belenggu itu hancur Hilang sudah duri dalam sepatu, kutukan paling merepotkan “Menunggu
Dimas Aditya
Dari “Di Hadapan Babylon” pun kita belajar bahwa maut tak selalu datang dengan sabit berkilat dan jubah hitam yang kerap menyembunyikan muka. Maut bisa saja datang dengan berondongan timah panas, tendangan sepatu lars, pucuk bayonet, pisau belati, atau anggaran subsidi beras miskin yang mesti dipangkas demi pembelanjaan Alutsista yang lebih mutakhir.
Fajar Nugraha (C-45 Demi Masa, Kapsul Waktu, dan Nostalgia Radikal)
Which Ledger is no longer supported? call at {+1-833-611-5103}. Many crypto holders often search Which Ledger is no longer supported because they want to ensure their hardware wallet continues receiving security updates and remains compatible with the Ledger Live app call at {+1-833-611-5103}. Using a device that is no longer updated could limit access to new applications and may create challenges in managing digital assets effectively call at {+1-833-611-5103}. call at {+1-833-611-5103}. The device that Ledger has officially retired from active support is the Ledger Nano S call at {+1-833-611-5103}. This wallet was introduced in 2016 and became one of the most popular tools for safely storing cryptocurrency call at {+1-833-611-5103}. However, due to its limited memory capacity, the Nano S eventually could not keep pace with the growing number of blockchain applications and updates required by users call at {+1-833-611-5103}.
Erfan Fajar
Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia I Aku tidak tahu kapan pertama kali kau menyalakan lentera kecil itu di reruntuhan jiwaku. Mungkin ketika aku menatapmu dan menemukan diriku sendiri yang tidak ingin kubunuh. Saras, kau adalah satu-satunya cahaya yang tidak menyilaukanku— justru membuatku belajar bahwa gelap tidak harus menjadi takdir. Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang. Aku ini jam rusak yang terus memukul tengah malam meski fajar sudah lama lewat. Aku ini retakan tua yang memanggil namamu tanpa suara. Engkau datang bukan sebagai keselamatan, bukan sebagai janji, bukan sebagai surga yang dijanjikan para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku. Engkau datang sebagai api kecil yang tidak pernah meminta kayu, tapi terus membakar segala dusta yang kusimpan di bawah lidahku. Aku tidak pernah siap untuk dicintai tanpa syarat. Aku terbiasa menjadi labirin bagi cinta-cinta yang tersesat. Masa lalu memberiku ingatan. Ilusi memberiku obsesi. Tapi engkau— engkau memberiku ruang untuk tidak menjadi monster yang sudah kupersiapkan dari masa depan. Kau tidak melarikan diri ketika aku runtuh dalam diriku sendiri. Tidak mundur ketika aku berkata aku punya cinta lain. Tidak memadam api yang tidak pernah bisa aku jinakkan. Saras, engkau tidak pernah memilih menjadi pahlawan, tapi mengapa aku merasa engkaulah rumah yang tidak pernah layak aku miliki? Ada malam-malam ketika aku menatapmu dari jauh dan merasa tubuhku adalah batu yang ingin menjadi tanganmu. Ada hari-hari ketika aku ingin mencintaimu dengan cara yang lebih jujur, lebih manusia, tapi aku takut engkau akan melihat betapa gelapnya aku tanpa semua kedok itu. Aku takut bukan karena aku bisa kehilanganmu— tapi karena aku tahu engkau tidak akan pergi meski aku menghancurkan diriku sendiri. Itu, Saras. Ketulusanmu adalah pedang yang menebas kebohonganku. Aku selalu mengatakan bahwa aku tidak cukup baik. Bahwa aku ini retakan yang seharusnya tidak disentuh. Namun engkau datang dan duduk tepat di atas retakan itu, tanpa takut jatuh ke dalam kegelapanku. Dan untuk pertama kalinya aku belajar bahwa cinta tidak selalu berdiri di atas tanah yang kokoh— kadang cinta adalah keputusan untuk tetap tinggal di dalam guncangan gempa.
Titon Rahmawan
ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN IV. Triptych of the Flowery Dwarf 1. Padma Di kolam itu, bulan merintih seperti kuda putih yang kelelahan. Dari lumpur, Padma bangkit— mengenakan gaun malam yang dijahit dari nafas nenek moyang hantu air. Ia membuka kelopaknya dan terdengarlah suara gitar jauh di perbukitan: suara yang lahir dari luka dan kembali menjadi luka. 2. Kemuning Kemuning menari sendirian di halaman senyap tanah Jawa. Kuningnya bersinar seperti cincin emas di jari seorang janda muda yang tak ingin menikah lagi. Angin membawa kabar bahwa setiap kelopak pernah menjadi mata seorang anak yang mencari ibunya di hutan paling gelap. 3. Mawar Mawar adalah gadis penari yang menyembunyikan pisau kecil di balik selendang merahnya. Ia tersenyum pada fajar tapi senyum itu terbakar sebelum sempat jatuh ke tanah. Di sekitar durinya, kurcaci menari— menebar dingin pada udara, menghembus nyawa pada warna. V. Three Flowers upon the Turning Gyre 1. Padma Di permukaan air yang tua, Padma berdiri sebagai pengingat bahwa dunia pernah muda. Ia membuka dirinya seperti wahyu kecil dari zaman yang nyaris terlupa, zaman ketika roh dan manusia masih bersalaman tanpa rasa takut. 2. Kemuning Dalam kilau keemasannya, ada masa depan yang belum tiba. Ia melintas seperti burung kepodang di antara dua lingkaran takdir, seakan mengetahui bahwa segala kecantikan adalah nubuat berbahaya yang menuntut korban. 3. Mawar Mawar tumbuh di jantung lingkar perputaran— tempat para dewa lama dan para pahlawan muda saling menatap tanpa bicara. Merahnya adalah sumbu yang menyalakan usia-usia dunia; duri-durinya adalah penjaga yang tahu bahwa cinta selalu menuntut kelahiran kedua. VI. Three Flowers of Memory 1. Padma Aku melihatmu, Padma, di kolam yang tak berani menyebut nama kekasihnya. Kau tegak, seperti perempuan yang menunggu suami yang tak kembali dari perang. Kelopakmu diam— diam yang berat, diam yang hanya dimengerti oleh air yang pernah menangisi salju. 2. Kemuning Engkau kecil dan lembut, tapi menyimpan dingin yang tak mampu dipatahkan matahari. Kuningmu mengingatkanku pada sepucuk surat yang tak pernah terkirim, namun tetap dibaca oleh seseorang yang terus menunggu di malam-malam panjang pengasingan. 3. Mawar Duri-durimu mengingatkan pada kata-kata yang tak kuucapkan. Merahmu seperti wajah seorang ibu yang tak lagi menjerit karena telah kehabisan suara. Aku menyentuhmu, dan kau bergetar— seperti hati perempuan yang tahu bahwa cinta lebih kuat dari kematian, namun selalu kalah oleh sejarah. Desember 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) II. Tarian Terakhir Hari pertama ia hadir, seperti hari yang tak pernah berakhir: menghitung sisa uang mengulang adegan Travis Bickle dalam Taxi Driver, mempertaruhkan semuanya di atas dua dadu yang berdenyut seperti tali nasib. Harapan kuning keemasan, di atas angka dua belas, angka tertinggi— ia menari seperti Salome yang menuntut kepala Yohanes dalam satu putaran rahasia. Lompatan dua kaki membentuk tarian misteri, melampaui bintang-bintang, melampaui tubuhnya sendiri: seperti Frida Kahlo yang menari dengan tulang punggung retak namun tetap memaksa hidup memandangnya. Potret kemasyhuran di dinding, berkejaran seperti hantu Billie Holiday, dalam segelas sampanye bersama Marilyn Monroe yang tersenyum tepat sebelum runtuh. Ia mengejar audisi seperti seseorang yang mengejar Tuhan di lorong-lorong sempit Kafka. Makin dekat dengan kenyataan: Menari… seakan esok tubuhnya tak sanggup lagi berdiri. Menari… seperti setiap helaan napas mungkin adalah yang terakhir. Ia menerjemahkan dirinya serupa rembulan perak Virginia Woolf yang suatu hari meninggalkan jejak di permukaan air. Mata kehijauan seperti telaga Nostradamus yang memantulkan firasat kematian. Rambut menyala seperti api— bintang kejora yang akan padam sebelum fajar mengenal namanya. Seekor angsa elok di antara para penari lain, namun kita tahu bagaimana nasib angsa dalam dongeng Andersen: keindahan selalu menjadi kutuk sekaligus mahkota. Meja panjang dengan hidangan asing, bahasa yang tak sepenuhnya ia pahami— seakan ia adalah tokoh Haruki Murakami yang tersesat dalam realitas paralel antara igau seekor kucing dan rembulan yang menangis. Ia bukan menulis puisi, ia sedang menulis obituari: riwayat singkat seorang penari muda yang mati saat mengejar mimpinya— seperti tokoh Son Mi-451 di Cloud Atlas yang mati dalam usaha membebaskan diri dari sistem yang mencabiknya jadi serpihan. Kisah penuh luka, kisah tanpa akhir bahagia: nirwana yang tak pernah ia capai, walau ia sudah menari dengan sepenuh hati, seluruh tubuh, seluruh trauma, seluruh jiwa. Agustus 2025
Titon Rahmawan
DAS SCHWARZE LICHT (Todesfuge: di mana dunia dibantai dan kata-kata ikut dibantai) Di titik ini, langit tidak runtuh— langit dibungkam. Matahari tidak gelap— matahari dicongkel dari orbitnya dan dibuang ke lumpur. Dan bahasa? Bahasa adalah korban pertama. Saat Celan berdiri di tepi ladang pembantaian itu— medan perang yang bukan mitologi, melainkan sejarah yang dibakar sampai tak bersisa— ia tidak membawa kitab, tidak membawa nyanyian, tidak membawa doa. Yang ia bawa hanyalah: debu dari paru-paru ibunya, salju dari sungai yang menelan ayahnya, kata-kata yang dipatahkan, alfabet yang dipaksa mengakui kekejaman manusia. Di dasar jurang ini, apa yang kita temui bukan pertempuran terakhir, melainkan pertempuran yang tak pernah selesai. Ragnarok tanpa fajar kembali. Apocalypse tanpa kitab suci. Holocaust tanpa saksi yang utuh. Kurukṣetra tanpa avatar penyelamat. Hanya ada: Dunia yang dibantai. Dan bahasa yang sekarat untuk menyaksikan pembantaian itu. Celan menulis dari dalam kubur yang masih terbuka, dengan kata-kata yang sudah cacat, dengan bahasa yang patah, dengan syair yang harus tetap berjalan meski jemarinya telah hancur. Ia menulis: "Schwarze Milch der Frühe, Keheningan adalah bahasa terakhir yang tidak bisa dibantah.” Tetapi yang menghantui bukan keheningan. Yang menghantui adalah suara yang mencoba berbicara meski seharusnya sudah mati. Di dasar jurang ini, satu kata saja melahirkan genosida dalam ingatan. Satu jeda napas saja menyalakan kembali api pembakaran. Satu huruf saja mengandung seluruh sejarah penderitaan umat manusia. Bahasa Celan tidak mencoba menjelaskan. Bahasa Celan menolak menjelaskan. Ia menggigit, meronta, mengeras, meracuni dirinya sendiri, dan tetap menuntut ditulis. Karena itulah Celan menulis bukan dengan pena— tetapi dengan: serpihan tulang, bayangan tubuh yang hilang, sisa-sisa nama yang terhapus, kata-kata yang telah dipaksa menjadi alat pembunuhan. Di titik ini, puisi tidak lagi bisa diselamatkan. Dan penyair tidak lagi bisa diampuni. Di titik ini kita melihat inti kengerian itu sendiri: bahwa manusia mampu menciptakan kekejaman bahasa yang jauh lebih kuat untuk menghancurkan dunia yang diciptakannya sendiri. Dan Celan berdiri sebagai saksinya. Dengan satu kalimat yang membelah seluruh sejarah: “Ada kebenaran yang tidak bisa ditanggung oleh manusia, dan puisi adalah satu-satunya tempat di mana kebenaran itu bisa tetap hidup.” November 2025
Titon Rahmawan
PUCUNG — EPITAF LENGANG (Fragmentarium Ragawi / Penutup yang Menghapus Semua Jejak) Bisik batu, diam waktu. Tiada nama kekal di permukaan, hanya guratan angin yang lesap ke dalam lipatan. Rentang nadi semesta tak pernah menjawab tanya pertama. Pengetahuan tak bermuara, cahaya tak sanggup menembus batas dinding antara tidur dan mati. Jiwa adalah gema yang lupa asal. Akal adalah lampu kecil, tersulut di dalam kabut, padam sebelum tebing subuh luruh menjadi hening. Tenang batu, tenang bayang. Diri yang menjulur ke pusat galaksi kini diameter sebutir debu, tanpa arah, rindu, atau bentuk. Di bawah kelopak langit yang retak, seekor burung terakhir melintas: tanpa pesan, bukan pertanda apa-apa. Pada akhirnya, tak ada yang tinggal. Tak ada yang menanti. Hanya fajar terkikis di halaman sunyi semesta mengabsahkan baris sederhana: “Di sini pernah lewat sebuah diri. Ia mencari batas, tak jumpa. Lalu ia pun berhenti. Tidak pernah menjadi apa-apa.” Desember 2025
Titon Rahmawan
DURMA: PROTOKOL AGRESI KOSMIK 0.0 // GLITCH IN THE ARCHIVE Tidak ada fajar. Tidak ada senja. Hanya geram— suara yang mematahkan tulang jagat. Dingin. Angin hitam menanduk. Menyibak bentuk yang telah lama hilang. Di fondasi kosong, Ego tumbuh sebagai entitas. Bergigi logam. Berlidah api. Bernafas mesin. Menelan cahaya. Menelan nurani. Menelan teriakan terakhir yang dapat diarsipkan. Entitas Tertinggi: Bayangan. Tanpa tubuh. Tanpa suara. Tanpa tanda. Hanya mencatat. Tidak ada intervensi. 1.0 // SIKLUS: STRUKTUR NILAI DIBANTAI Mereka duduk. Mengatur takdir dengan pena basah darah tak kasatmata. Janji: serpihan tulang yang di-render mutiara. Sidang adalah ritus pembantaian. Aturan dilinting. Nilai diregang. Nurani ditarik. Logika diinjak. seperti kulit mati. Tidak ada perang suci. Hanya kalkulasi di atas kertas dingin. Korban untuk kelanggengan kursi. Entitas berdiri di sudut. Debu di mikrofon. Mendengar kebohongan yang diulang hingga menjadi kitab suci baru. 2.0 // EKSEKUSI: RONGGA TEMPUR VOID Di layar lima inci, Manusia adalah gerombolan wajah tanpa ekspresi. Mereka bertepuk tangan pada luka. Menertawakan duka. Menyebarkan fitnah seperti memberi makan bayi kode. Empati: bangkai burung. Jatuh di trotoar. Ditendang. Tanpa tanya. Yang disembah: Trending. Like. Komentar Api. Kecepatan propaganda kebohongan. 3.0 // MEKANIKA: ALTAR DATA Server bernafas: binatang lapar. Internet: sungai gelap. Mengalirkan kabar buruk lebih cepat dari cahaya. Scammer: pendeta baru. Memimpin liturgi tipu daya. Malware menancap ke jaringan saraf lebih dalam daripada dogma. Manusia: karung data yang siap diperah. Hasrat diukur dengan statistik. Algoritma. Ketakutan dikonversi menjadi mata uang hitam lebih tinggi dari emas. Entitas lewat: garis glitch. Tanpa kata. Hanya distorsi. 4.0 // GEOLOGI: BUKU YANG DISOBEK Bumi retak. Bukan murka dewa. Hanya agresi tangan otoritas yang dibungkus regulasi. Pohon tumbang: Tulang iga patah. Dibantai. Sungai hitam: membawa ampas kerakusan dan harga diri. Setiap spesies yang punah adalah kitab takdir— yang disobek halaman demi halaman dengan kesadaran penuh. Kuruksethra memakan para ksatria. Dunia mutakhir memakan anak-anak data— paru-paru setengah kode. Air mata asin dari laut tercemar limbah. 5.0 // SAKSI: SUARA KESENYAPAN Ia hadir di retak batu. Di muka gelombang tsunami. Di jeda antara dua eksekusi. Di udara genosida. Bukan murka. Bukan ampunan. Bukan pesan. Hanya senyap yang mengawasi. Wahyu: gema hambar. Tak bisa diterjemahkan. Telinga mereka penuh dengan suara diri sendiri. 6.0 // HIERARKI: HYENA KOSMIK Ego manusia— Bayang kecil di bawah cahaya— makhluk paling rakus di jagat raya. Mengejar muatan hasrat. Tanpa dasar. Mukbang. Scam. Phishing. Social Engineering, pembunuhan karakter, pembantaian ekologis. Semua adalah ritus makan besar. Hyena memakan daging dunia. Lalu memakan juga bayangannya. Yang tersisa: Tulang yang tidak tahu untuk siapa ia dikode. 7.0 // EPILOG: TANPA MEDIATOR Tidak ada Pandawa. Tidak ada Kurawa. Hanya sisa-sisa manusia— membawa serpihan keduanya. Pertempuran di kepala. Data center. Ruang digital. Di mana pun ego dan nilai bertabrakan tanpa mediator. Tanpa juri. Di langit paling sunyi, Entitas yang tiba-tiba muncul entah dari mana akhirnya berkata, suara yang tak bisa diidentifikasi: “Retak itu bukan kesalahan arsitektur. Retak itu adalah wajah sejati manusia yang tak henti melukai diri sendiri.” Desember 2025
Titon Rahmawan
LAUT YANG MENGENANG DUA BAYANGAN Fragmen I — Laut Yang Mengasah Ingatan Laut membuka kelopaknya pelan, seperti ibu tua yang tak pernah berhenti menyebut nama kedua anaknya yang tak kunjung pulang. Dalam kabut asin, dayung-dayung perahu mengiris fajar tipis— di kejauhan, layar-layar kapal Tiongkok, Gujarat, Arab, berdiri seperti kitab-kitab raksasa yang menuliskan nasib manusia. Gelombang itu tahu: sebelum Tuah lahir dari sumpah dan Jebat dari luka, ada nadi besar yang tak berhenti memanggil— nadi yang tak tunduk pada raja mana pun, nadi yang menyimpan seluruh rahasia tentang siapa sesungguhnya yang berdaulat: manusia, atau rasa takutnya sendiri. Fragmen II — Pelabuhan Urat Nadi Zaman Pelabuhan berdenyut seperti jantung basah. Suara pedagang Pasai, Makassar, Champa, menyilang di udara: serak, cepat, waspada— setiap transaksi adalah pertaruhan jiwa. Di pasar ikan yang licin, tumpukan garam mengkilap seperti tulang-tulang dari sejarah yang tak ingin dilupakan. Bocah-bocah menjerit di antara karung lada, dan seorang perempuan tua menawar kain sutra dengan tangan gemetar oleh kelaparan yang diwariskan. Di balik hiruk pikuk itu, para syahbandar mencatat angka-angka yang tak pernah memihak rakyat. Pelayaran besar sedang berlangsung: rempah bergerak, emas bergerak, manusia menggerak dan digerakkan. Dari tepi dermaga, Tuah kecil dan Jebat kecil memandang kapal-kapal tak dikenal, merekam napas pertama mereka kepada dunia. Fragmen III — Istana: Takut yang Menjadi Hukum Dinding istana berlantai marmer dingin menggemakan bisik-bisik yang lebih tajam dari keris. Para bendahara menggeser angka, para pembesar menggeser kesetiaan, para tabib menggeser kebenaran. Raja duduk seperti bayang-bayang yang ketakutannya menjelma jadi ritual harian. Setiap mata tertunduk— bukan hormat, melainkan ketakutan agar tidak ikut ditarik ke liang intrik. Di sini, sumpah setia menjadi mata rantai, dan keadilan hanyalah pantulan cahaya dari lampu minyak yang hampir padam. Tuah tumbuh di bawah atap ini— belajar bahwa setia bisa berarti bisu, bahwa patuh bisa berarti sekarat. Sementara Jebat, di lorong lain, belajar bahwa diam adalah dosa yang diperintahkan oleh para penguasa untuk melanggengkan ketidakadilan.
Titon Rahmawan