Dewasa Itu Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Dewasa Itu. Here they are! All 44 of them:

Selagi hidup bersama masa, maka selagi itu juga yang hidup itu dewasa bersama usia.
Hlovate (Tunas)
Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu. Tumbuh satu langsung kau pangkas. Bersemi satu langsung kau injak? Menyeruak satu langsung kau cabut tanpa ampun? Kau tak pernah memberi kesempatan. Karena itu tak mungkin bagimu? Kau malu mengakuinya walau sedang sendiri..Kau lupa, aku tumbuh menjadi dewasa seperti yang kau harapkan. Dan tunas-tunas perasaanmu tak bisa kaupangkas lagi. Semakin kau tikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kau injak, helai daun barunya semakin banyak.
Tere Liye (Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin)
Pernah ada masanya kita tahu bahwa buku yang laris belum tentu buku yang bermutu. Pernah kita mendasarkan informasi kita tentang “bermutu” atau “tidak” kepada satu atau dua orang penilai yang berwibawa. Tapi dewasa ini, bukan penilaian para penilai itu saja yang digugat. Bahkan ide tentang “bermutu” itu sendiri sudah dirobohkan, seakan-akan di sana ada kekuasaan para cendekia yang memaksa.
Goenawan Mohamad (Catatan Pinggir 7)
Tumbuh dewasa rasanya seperti itu. Waktu masih kecil, semua orang perhatian. Tapi, begitu dewasa, sedikit demi sedikit, kamu hilang dari pandangan.
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Jakarta Sebelum Pagi)
Aku tidak boleh marah terhadap Ayah dan Ibu. Jika aku tak mengikuti nasihatnya, akan berada di mana aku hari ini? Aku tak akan tubuh dewasa dan mengerti tentang hal-hal baik dalam hidup. Jika ibu tidak membimbingku lewat kecaman-kecamannya, aku takkan tahu satu fen atau satu yuan itu apa, serta dari mana uang itu diperoleh
Sanie B. Kuncoro (Ma Yan)
Menangis itu perlu, meskipun membuat muka jelek dan bengkak, dan orang-orang bilang itu memalukan.
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Kita Pergi Hari Ini)
Tumbuh dewasa rasanya seperti itu. Waktu masih kecil, semua orang perhatian. Tapi, begitu dewasa, sedikit demi sedikit, kamu hilang dari pandangan. Makannya, orang dewasa pakai make-up, berdandan rapi, pakai baju bagus ... Karena kalau ngga, ngga akan ada yang melihat mereka. Penampilan, bagi orang dewasa, itu seperti baju untuk manusia transparan —membuat orang sadar kalau mereka ada. Karena biasanya, di dunia orang dewasa, orang-orang ngga punya cukup perhatian untuk menunggu kamu bicara dan bilang kalau kamu ada.
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Jakarta Sebelum Pagi)
kehidupan nyata baru dimulai ketika anda menikah,ketika anda baru lahir hingga dewasa itu hanya metmorfosa kehidupan
Luddie Affandi
Dan orang dewasa itu merasa senang mengenal seseorang yang begitu berbudi.
Antoine de Saint-Exupéry (Le Petit Prince)
Orang baru dewasa bila sudah mengalami salah seorang yang dicintainya direnggut maut, begitu kala itu kakek menghiburku.
Y.B. Mangunwijaya
Ciri dewasa itu punya komitmen, pandai memegang janji. Misalnya tidak mencari pacar saat (masih) punya pacar.
Ilham Gunawan (Mawar Abu-Abu)
Gambarku tidak melukiskan topi, tetapi ular sanca yang sedang mencernakan gajah. Maka aku menggambar bagian dalam ular sanca itu, supaya orang dewasa dapat mengerti. Mereka selalu membutuhkan penjelasan.
Antoine de Saint-Exupéry (Le Petit Prince)
Hampir semua orang di dunia ini memiliki luka batin pada masa kanak-kanak. Bedanya, beberapa orang telah pulih dari luka itu. Namun, tidak sedikit yang masih memiliki, menyimpan bahkan tidak menyadari luka itu ada hingga kita menjadi dewasa dengan ego kita.
Pijar Psikologi (Yang Belum Usai: Kenapa Manusia Punya Luka Batin?)
Harapan baik itu bisa dibilang menjadi dasar hidup masyarakat dan perkembangan budaya. Salah satu harapan masyarakat, keluarga, dan orang tua adalah kedewasaan seorang anak. Menjadi dewasa adalah berani menghadapi tantangan, berani mengambil risiko, berani bertanggung jawab.
Maisie Junardy (Man's Defender (Distinguished Trilogy, #1))
Stenberg mengatakan, karena terjadinya perubahan dalam struktur otak dan cara berpikir manusia ketika masa remaja, maka perilaku seseorang ketika sudah dewasa, baik itu dewasa muda maupun dewasa akhir, lebih banyak mencerminkan perilaku yang sudah pernah muncul ketika remaja.
Dr. Muhammad Faisal
Ia dan Pohon Siang itu ia meminta maaf kepada satu-satunya pohon di tepi lahan parkir kantornya, yang memayungi mobilnya dari terik. Ia minta maaf untuk kakeknya yang adalah pengusaha kebun sawit, untuk keluarga mereka yang turun-temurun meyakini seorang tukang kayu sebagai anak tuhan. Pohon itu meratap, teringat dengan kawannya yang dicabut dari tanah ketika mereka kanak-kanak, dengan alasan “terlalu dekat dengan bangunan”. Dari kejauhan mereka biasa saling tatap dan berkedip, dan berpikir ketika dewasa kelak dan burung atau kupu-kupu mulai hinggap sebentar pada cabang serta pucuk mereka, mereka bisa saling menitipkan pesan. Pohon itu menyesali tak sempatnya ia mengatakan ia mencintai kawannya itu; ia ingin membawa kawannya itu ke gereja, dan di depan altar mereka bisa dipersatukan di hadapan tuhan yang bercabang tiga—seperti pohon— dan anak-anak mereka bisa memenuhi lahan parkir itu, sepetak demi petak, hingga kelak orang-orang lewat mengira ada hutan di tengah kota. Pria itu pun memeluk pohon itu, dan pohon itu memeluknya.
Norman Erikson Pasaribu (Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi)
Pada setiap awal pertumbuhan, katanya, semua hanya meniru. Setiap kita semasa kanak-kanak juga hanya meniru. Tetapi kanak-kanak itu pun akan dewasa, mempunyai perkembangan sendiri.
Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1))
Hidup ini adalah perjalanan panjang. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat spesial, kita dilahirkan. Kita menangis kencang saat menghirup udara pertama kali. Di salah satu hari lainnya, kita belajar tengkurap, belajar merangkak, untuk kemudian berjalan. Di salah satu hari berikutnya kita bisa mengendarai sepeda, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari terbit. Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur terluka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangis. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan. Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah. Peluklah semuanya. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?
Tere Liye (Pulang)
Aku banyak berhubungan dengan banyak manusia yang serius sepanjang hidupku. Aku lama hidup di tengah orang-orang dewasa. Aku telah melihat mereka dari dekat. Hal itu tidak banyak menambah penilaianku terhadap mereka.
Antoine de Saint-Exupéry (The Little Prince)
Demikianlah aku banyak berhubungan dengan banyak manusia yang serius sepanjang hidupku. Aku lama hidup di tengah orang-orang dewasa. Aku telah melihat mereka dari dekat. Hal itu tidak menambah penilaianku akan mereka
Antoine de Saint-Exupéry (Le Petit Prince)
Sapi-sapi perah Nyai dalam mempersiapkan diri jadi sapi perah, sapi penuh, sapi dewasa, membutuhkan waktu hanya tiga sampai empatbelas bulan. Bulan! Manusia membutuhkan belasan, malah puluhan tahun, untuk jadi dewasa, manusia dalam puncak nilai dan kemampuannya. Ada yang tidak pernah jadi dewasa memang, hidup hanya dari pemberian seseorang atau masyarakatnya; orang-orang gila dan kriminil. Mantap-tidaknya kedewasaan dan nilai tergantung pada besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya ujian, cobaan--si kriminil dan si gila itu--tidak pernah dewasa. Dan sapi hanya tiga atau empatbelas bulan persiapan--tanpa cobaan, tanpa ujian..
Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1))
Maka dari itu kita lihat bahwa perkembangan “pengajian Melayu” ini semenjak timbulnya institusi2 ilmiah di Semenanjung Tanah Melayu hanya menyentuh soal kedaerahan; soal pengkajian persuratan Melayu, menganjurkan perkembangan tulisan Rumi, penumpuan kepada bidang antropoloji dan linguistik yang sempit, penumpuan kepada hal2 yang se-olah2 membantutkan pengajian Melayu, menjadikannya se-olah2 sebahagian dari pengkajian kebudayaan2 yang belum dewasa. Hal yang demikian juga telah mengakibatkan timbulnya golongan pujangga dan penuis yang telah bertindak memutuskan diri dari yang lampau sebab yang lampau itu digambarkan sedemikian buruknya. Dan seterusnya, inilah yang menimbulkan masalah kekurangan pengetahuan kita dewasa ini.
Syed Muhammad Naquib al-Attas (Buku Panduan Jabatan Bahasa dan Kesusasteraan Melayu)
Aku mempunyai alasan kuat untuk menduga bahwa planet asal Pangeran Cilik itu ialah Asteroid B 612. Asteroid itu hanya satu kali dilihat dengan teleskop pada tahun 1909 oleh seorang astronom Turki. Ia mengemukakan penemuannya dengan panjang-lebar pada suatu Kongres Astronomi Internasional. Tapi tidak seorang pun memercayainya gara-gara pakaiannya. Begitulah orang-orang dewasa.
Antoine de Saint-Exupéry (The Little Prince)
Maka aku mencoba-coba begini dan begitu, sebisa-bisanya. Aku malah akan keliru mengenai beberapa detail yang lebih penting. Tetapi dalam hal itu aku harus dimaafkan. Temanku itu tidak pernah memberi penjelasan. Barangkali ia mengira aku sama dengan dia. Tapi sayangnya aku tidak pandai melihat domba di dalam peti. Mungkin aku sedikit seperti orang-orang dewasa. Mungkin aku sudah menjadi tua.
Antoine de Saint-Exupéry (The Little Prince)
Justru sesungguhnya akibat konsep yang singkat mengenai tinjauan dan luasan pengkajian bahasa, kesusasteraan dan kebudayaan Melayu itu, sehingga disamarkan hanya sebagai “Pengajian Melayu”, telah pula membawa akibat2 yang mempengaruhi penyingkiran bidang ilmiah tertentu dari pengajian Melayu, seperti pengkajian2 bahasa dan kesusasteraan Arab, bahasa dan kesusasteraan Farsi, bahasa dan kesusasteraan Sanskrit, yang kesemuanya telah memberi sumbangan yang berkesan dalam perkembangan bahasa dan kesusasteraan Melayu. Tambahan pula, bidang2 seperti sejarah pemikiran, falsafah, dan ilmu2 yang berkaitan dengan metodoloji penyelidikan ilmiah, kajian2 mengenai teori2 yang memang berkembang dengan pesatnya di Eropa, dewasa itu dan sekarang, semua ini diabaikan dalam pengkajian bidang2 kechil tertentu saja.
Syed Muhammad Naquib al-Attas (Buku Panduan Jabatan Bahasa dan Kesusasteraan Melayu)
Menulis berarti menciptakan duniamu sendiri.” Stephen King “Menulis itu pekerjaan orang kesepian. Punya seseorang yang memercayaimu dapat membuat perbedaan besar. Hanya percaya saja biasanya sudah cukup.” Stephen King “Menulis fiksi seperti memasak.” Donatus A. Nugroho "Menulis itu gampang." Arswendo Atmowiloto “Tulislah apa yang kau ketahui seluas dan sedalam mungkin.” Stephen King “Sedapat mungkin aku tidak melakukan keduanya, yaitu membuat alur cerita dan berbohong. Cerita itu terjadi dengan sendirinya, tugas penulis adalah membiarkan cerita itu berkembang.” Stephen King “Engkau harus berkata jujur, jika ingin dialogmu punya gema dan realistis.” Stephen King “Semua novel pada dasarnya adalah surat-surat yang ditujukan kepada seseorang.” Anonim/Stephen King “Aku menulis setiap hari, termasuk hari libur. Aku termasuk pecandu kerja.” Stephen King “Membaca adalah pusat kreatif kehidupan seorang penulis. Aku membawa buku ke mana pun aku pergi dan menemukan peluang untuk menenggelamkan diri dalam bacaan.” Stephen King “Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kau lakukan, banyak membaca dan menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini. Dan tidak ada jalan pintas.” Stephen King "Menulis fiksi seperti permainan Roller Coaster." RL Stine “Aku akan menulis (terus) sekalipun belum tahu akan diterbitkan atau tidak.” JK Rowling “Aku ingin menulis, bukan harus menulis.” Anonim “Seseorang yang menuliskan suatu kisah, terlalu tertarik pada kisah itu sendiri sehingga tidak bisa duduk tenang dan memerhatikan (cara teknik) bagaimana ia menuliskannya.” CS Lewis “Aku menulis untuk diri sendiri, aku rasa tak seorang pun akan menikmati buku ini lebih dari yang kurasakan saat membacanya.” JK Rowling “Menulis novel harus berbekal sesuatu yang Anda yakini agar Anda tetap bertahan.” JK Rowling “Selalu ada ruang untuk sebuah cerita yang dapat memindahkan pembaca ke tempat lain.” JK Rowling “Aku takut kalau tak dapat menemukan alasan untuk melanjutkan menulis.” JK Rowling “Bila aku tidak menulis, aku merasa hidupku tidak normal.” JK Rowling “Beberapa hal memang lebih baik tinggal menjadi imajinasi belaka.” JK Rowling “Harry tak pernah menyerah terus berjuang menggunakan kombinasi antara intuisi, ketegangan syaraf dan sedikit keberuntungan.” JK Rowling “Kamu mungkin tidak akan bisa membuat karyamu diterbitkan di penerbit manapun.” Marion D. Bauer “Kebanyakan para penulis, bahkan karya penulis dewasa, tidak akan diterbitkan. Selamanya. Namun, mereka tetap saja menulis karena ini menyenangkan.” Marion D. Bauer “Bagi semua penulis, profesional maupun amatir imbalan yang terbesar terletak dalam proses penulisan, bukan dalam sesuatu yang terjadi sesudahnya. Mengumpulkan ide dan melihatnya menjadi hidup dalam kertas sudah cukup menggembirakan.” Marion D. Bauer “Kabar buruk: Sangat sulit untuk membuat bukumu diterbitkan. Jika tulisanmu berhasil diterbitkan, kamu mungkin tidak akan menjadi terkenal, kamu tidak akan menjadi kaya. Seorang penulis harus belajar sendiri dan bekerja sendiri. Kabar baik: Membuat tulisanmu diterbitkan akan menjadi lebih mudah setelah kamu berhasil menapakkan kaki di pintu penerbitan. Kamu bahkan mungkin bisa menjadi terkenal, atau mungkin saja kamu lebih memilih kehidupan yang sederhana. Beberapa penulis menjadi kaya. Bekerja sendirian mungkin bukan masalah bagimu. Kamu bisa menjadi penguasa bagi kehidupan kerjamu sendiri. Yang terpenting dari segalanya kamu bisa melakukan pekerjaan yang kamu cintai.” Marion D. Bauer “Aku akan terus menulis meski tulisanku tidak menghasilkan uang sesen pun, bahkan jika tidak ada orang yang mau membacanya. Aku merasa sangat beruntung bisa merintis karir di bidang penulisan.” Marion D. Bauer "Menulis dapat membuat orang bisa menjadi lebih baik karena dia melihat pantulan dirinya." Asma Nadia
Ahmad Sufiatur Rahman
Bahwa kita harus tumbuh subur di bawah sinar matahari yang merupakan perumpamaan dari sebuah kondisi yang mudah dan menyenangkan. tetapi, tak selamanya kita akan menemukan matahari dalam kehidupan kita. Kadang ada kondisi di mana semuanya gelap, seperti tak ada harapan. Karena itu, kita harus menjadi manusia auksin. Dalam terang kita tumbuh subur, dan dalam gelap kita menjadi lebih tinggi, lebih dewasa. Kita juga tidak boleh menyerah dalam mencari cahaya. Layaknya auksin yang membimbing tumbuhan untuk menuju arah datangnya cahaya. Tak adanya harapan harus dapat membuat kita berusaha lebih keras untuk menemukan harapan tersebut, menciptakan jalan kita sendiri. Dengan demikian, kita akan tetap dapat tumbuh lebih tinggi dan subur, entah ada atau tidak ada matahari dalam hidup kita
indonesia mengajar
Tapi aku bahagia waktu kalian, anak-anak, semakin dewasa. Bahkan waktu aku sibuk bukan main sehingga tidak sempat membetulkan ikatan handuk di kepalaku, kalau melihat kalian duduk di seputar meja, sambil makan dan membunyikan sendok dengan berisik di mangkuk-mangkuk, rasanya tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini. Kalian semua begitu gampang. Kalian makan dengan lahap walau aku hanya membuat sayur labu dan kacang yang sederhana, dan wajah kalian berseri-seri kalau aku mengukus ikan sesekali.... Kalian semua makan banyak sekali waktu sedang tumbuh. Kadang-kadang aku khawatir. Kalau aku meninggalkan panci berisi kentang rebus untuk camilan kalian sepulang sekolah, pancinya akan kosong waktu aku pulang. Ada kalanya aku bisa melihat beras di pedaringan mulai berkurang setiap hari, dan ada kalanya pedaringan itu kosong sama sekali. Kalau aku turun ke gudang bawah tanah untuk mengambil beras buat makan malam, lalu cedokanku menggerus dasar pedaringan, aku pun terkesiap; Anak-anakku mau diberi makan apa besok pagi? Jadi, pada masa-masa itu masalahnya bukan aku suka atau tidak suka berada di dapur. Kalau aku menanak nasi sepanci besar dan membuat sup di panci yang lebih kecil, aku tidak memikirkan betapa capeknya aku. Aku hanya merasa senang karena semua makanan itu untuk mengenyangkan anak-anakku. Yah, barangkali kau tidak bisa membayangkannya, tapi pada masa itu kita selalu cemas kalau-kalau kita kehabisan makanan. Kita semua seperti itu. Yang paling penting adalah makan dan bertahan hidup.
Kyung-Sook Shin (Please Look After Mom)
Di bawah tanah, masih ada tanah. Manusia boleh sih mengeluh, Kalau di dunia ini enggak ada lagi yang punya beban lebih darimu. Enggak apa-apa juga, kalau mau putus asa. Namun, pastikan dulu, kamu yang paling menderita satu dunia, dan enggak ada lagi tempat berpasrah. Bunda selalu bilang, Tuhan Maha Mendengar setiap doa dan tangis manusia. Kamu saja yang enggak sabaran. Tuhan itu Maha Mengabulkan. Kamu cuma belum tahu. Ketika kita meminta, orang dewasa bilang, doa-doa kita lagi didepositokan, dan dalam proses dikabulkan. Secepat yang enggak pernah kita perkirakan. - Piring Bahagia Si dan Bi
Dian Pertiwi Josua
Terkadang beberapa luka datang dari orang yang paling dekat, bahkan memiliki hubungan satu darah yang katanya saling sayang".
Yoga Maulana (Ternyata, Menjadi Dewasa Itu)
Malasnya ngobrol sama orang dewasa tuh, mereka terlalu realistis. Tapi, yeah, aku juga belum dewasa, jadi enggak tahu gimana rasanya di posisi mereka. Kenapa enggak kejar impian dari sekarang? Kenapa harus tunggu kaya? Itu juga kalau kaya. Kalau enggak?
Evi Sri Rezeki (CineUs)
Hanya masalah waktu untuk kita menjadi dewasa. Saat itu tiba, baik dan buruk samar batasnya. Seperti menorehkan putih di atas hitam.
Novi Zadia
Ketakutan dan kebimbangan itu lahir dari jelmaan bayangan bagaimana pandangan mata mereka melihat kita. Hukuman-hukuman dunia yang membarisi akal fikir manusia sedikit sebanyak mengundang keterbatasan. Bila pun aku berkata aku telah dewasa dan bebas, tapi masih merasa terkongkong dan terikat, saat itulah aku percaya aku perlu berehat sebentar dari memikirkan hal-hal dunia yang tidak akan pernah puas dan habisnya. Apa yang sedang kau cari dan gali? Harta milik Qorun turun temurun? Gerun.
Nuratiqah Jani
Kamu tidak boleh memandangnya sebagai seorang ibu, ibu yang baik, meski kamu tahu itu adalah kenyataan. Dalam dirimu, pikiranmu dan hatimu, selalu tanamkan pemahaman bahwa dia adalah istrimu. Cintailah dia sebagaimana seorang kekasih harus dicintai. Suatu hari nanti anak-anakmu akan dewasa, keluar dari rumah, dan punya hidup sendiri-sendiri. Sedangkan istrimu akan selalu bersamamu. Melewati sisa hidup bersamamu. Hingga usia kita habis. Papa
Ika Vihara (A Wedding Come True)
Kutu rambut ini tinggal pada kulit kepala dan menghisap darah dari kulit kepala untuk bertahan hidup. Serangga ini berkembang biak dengan cara menempelkan telurnya di sepanjang rambut dan memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil, yaitu hanya sepanjang 1-1.6 mm. Cara penularannya pun cukup mudah, dari 1 orang ke orang yang lain, yaitu melalui sisir yang sama, pakaian atau berada pada 1 tempat tidur yang sama.Penyakit kutu rambut adalah kondisi ketika kulit kepala terinfeksi kutu. OBAT KUTU RAMBUT AMPUH INFO HP/WA 0823 2300 4343 Kutu rambut merupakan serangga kecil yang tinggal di rambut manusia dan hidup dari mengisap darah melalui kulit kepala. Saking kecil ukurannya, sekilas kutu rambut sulit terlihat oleh mata. Kutu rambut memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari sebesar kepala peniti hingga biji wijen. masa tetas telur kutu berkisar antara 8-9 hari. Untuk mencapai ukuran dewasa, seekor kutu biasanya membutuhkan waktu 9-12 hari. Setelah dewasa, kutu bisa hidup sampai empat minggu sebelum akhirnya mati. Memiliki kutu di rambut adalah hal yang menjengkelkan dan menjijikkan bagi sebagian orang. Selain menyebabkan rasa gatal yang tak kunjung hilang, kutu rambut juga dapat membuat orang-orang di sekitar kita menjauh karena takut tertular. Tidak hanya itu, jika tidak segera diatasi kutu rambut juga dapat melukai kulit kepala kita hingga menimbulkan borok (luka yang tak kunjung sembuh). OBAT KUTU RAMBUT AMPUH INFO HP/WA 0823 2300 4343 Kutu rambut bisa sangat menjengkelkan karena membuat rasa gatal di kepala. Masalah kutu rambut ini masih saja sering terjadi, terutama pada orang yang kurang menjaga kebersihan rambut dan kepalanya. Kulit kepala yang dihinggapi kutu rambut biasanya akan terasa sangat gatal dan merasakan seakan-akan ada sesuatu yang merayap. Rasa gatal inilah yang kebanyakan mendorong penderita kutu rambut untuk terus menggaruk kepala. Gejala lainnya adalah munculnya ruam di leher bagian belakang.
CARA MENGHILANGKAN KUTU RAMBUT
Empat hal yang mengguncangkan kesadaran Siddharta saat ia dewasa 'Yang pertama adalah orang tua. Yang kedua, orang sakit. Yang ketiga, orang mati. Ia tidak pernah melihat tiga penderitaan itu sebelum ini, menjadi tua, sakit, dan mati adalah penderitaan manusia yang niscaya. Ia merenungkannya. Lalu ia mengalami perjumpaan dengan yang keempat. Yaitu dengan seorang pertapa nan mulia, yang damai dan tak lekat pada apapun sehingga terbebaskan dari ketakutan dan kesengsaraan penderitaan manusia. Ia melihat benih jawaban. Sumber penderitaan manusia adalah kemelekatan. Ketidakmelekatan membebaskan manusia dari itu.
Ayu Utami (Lalita)
Obat Aborsi | Cara Menggugurkan Kandungan | Jual Obat Aborsi | Obat Penggugur Janin | Obat Telat Bulan | Obat Penggugur Kandungan | Jual Obat Terlambat Bulan | Obat Peluntur | Aborsi Cytotec | Obat Aborsi Misoprostol | Cara Menunda Kehamilan | Obat Aborsi Tuntas | Obat Aborsi Manjur | Harga Cytotec | Harga Obat Cytotec | Harga Misoprostol INFO LEBIH LENGKAP HUBUNGI KONTAK KAMI : PEMESANAN DAN KONSULTASI HUB : 082220264983 Dengan harga obat aborsi yang bisa anda pilih sesuai usia kandungan anda. Obat yang kami tawarkan ampuh untuk menunda kehamilan atau proses aborsi untuk menggugurkan kandungan secara cepat. website kami tidak menjual ecera, akan tetapi kami jual dengan paket sesuai usia kandungan agar sekali order langsung tuntas tanpa ada alasan janin kuat atau kurang dosis. KAMI MEMBERI GARANSI 100% JIKA BARANG TIDAK SAMPAI ATAU BARANG PALSU, RUSAK DAN GAK SEGEL. jangan terima obat yang sudah ke buka tabletnya, karena yang asli masih bertablet utuh seperti foto di atas. *Paket Usia 1 Bulan Tuntas ( Maksimal Usia 4 Minggu ) Harga : 750.000 Pada usia kandungan ini, pasien tidak akan merasakan sakit, dikarenakan janin belum terbentuk. *Paket Usia 2 Bulan Tuntas ( Maksimal Usia 8 Minggu ) Harga : 950.000 Pada usia kandungan ini, pasien akan adanya rasa sedikit nyeri pada saat darah keluar itu merupakan pertanda menstruasi. Hal ini dikarenakan pada usia kandungan 2 bulan, janin sudah mulai terbentuk walaupun hanya sebesar bola tenis. *Paket Usia 3 Bulan Tuntas ( Maksimal Usia 12 Minggu ) Harga : 1.250.000 Pada usia kandungan ini, pasien akan merasakan sakit yang sedikit tidak berlebihan(sekitar 1 jam), namun hanya akan terjadi pada saat darah keluar merupakan pertanda menstruasi. Hal ini dikarenakan pada usia kandungan 3 bulan, janin sudah terbentuk sebesar kepalan tangan orang dewasa. *Paket Usia 4 Bulan Tuntas ( Maksimal Usia 16 Minggu ) Harga : 1.500.000 Cara pemakaian: Anda tidak perlu hawatir tentang panduan penggunaannya, anda akan kami bimbing lengkap cara pemakaianya. Panduan ada di dalam paket nya, Jadi tidak perlu hawatir. Kalau ada yang kurang jelas, maka anda nanti bisa tanyakan kembali. Akan kami bantu sampai benar-benar tuntas…!!! Pembayaran via transfer ke rek Bank kami:BRI / MANDIRI Pengiriman melalui; VIA PAKET JNE / TIKI / POS. Setelah Anda transfer, konfirmasikan kami BBM / SMS / Telp, karena pesanan anda akan kami kirim hari itu juga. Setelah barang kami kirim anda kami kasih nomer bukti pengiriman (No resi) yang bisa Anda cek sendiri melalui sebuah situs jasa paket yang Anda inginkan, Anda juga bisa menanyakan pesanan Anda melalui nomer resi tersebut ke pegawai jasa penitipan kilat JNE/TIKI/POS. sesuai permintaan Anda. Jadi intinya kami benar-benar penjual online bukan tipu-tipu
obat aborsi
Sebagai remaja, dulu, memang betul ia sering tersipu-sipu; ketika itu dia sedang di titik berangkat perjalanan fisiologis perempuan, dan tubuhnya sedang berubah menjadi benda yang membebaninya dan membuatnya malu. Sebagai orang dewasa, dia sudah lupa caranya tersipu-sipu. Kemudian hembusan panas mengabarkan padanya akhir perjalanan itu, dan sekali lagi dia malu akan tubuhnya. Dalam suasana rasa malu yang tergugah kembali, dia pun belajar lagi cara tersipu-sipu.
Milan Kundera (Identity)
Dewasa itu bukan soal umur atau gelar. Tapi soal bagaimana kita tetap tenang saat disalahpahami, dan tetap adil saat sedang kecewa.
Arbie Ruswandono
Orang-orang bilang, bagian terberat dari menjadi dewasa adalah kamu akan dipaksa untuk selalu berjalan, tidak peduli sedang sesulit apa keadaanmu saat itu, kamu harus tetap berjalan. Sebab hidup memang seperti itu.
Brian Khrisna (Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati)
Menjadi Tua vs Muda Selamanya Ada sebuah lagu yang dulu sering kita dengar, sebuah nyanyian abadi tentang kerinduan manusia: keinginan untuk tetap muda selamanya. Selamanya cantik, selamanya kuat. Kita menyanyikannya dengan penuh semangat, seolah hidup bisa berhenti pada satu titik di mana segalanya masih terasa indah. Tapi waktu pasti berlalu, tak pernah bisa ditawar tak pernah bisa diganggu. Ia seperti arus sungai yang menyeret kita perlahan menuju laut. Keriput muncul tanpa permisi, gigi tiba-tiba tanggal sendiri, rambut memutih, punggung bungkuk berasa nyeri. Tubuh yang dulu perkasa menyerah kalah pada sendi yang berderit seperti engsel pintu kurang minyak, mata yang dulu tajam mulai mengabur, ingatan yang dulu terang mulai berkabut. Menjadi tua adalah pelan-pelan menjadi pohon yang kehilangan daunnya—satu per satu gugur ke tanah, tanpa bisa menahan angin. Rambut memutih bukan hanya tanda waktu, melainkan salju yang diam-diam turun di atas kepala. Kulit keriput adalah peta retakan bumi, menandai gempa-gempa kecil yang pernah terjadi: cinta yang bertepuk sebelah tangan, kehilangan yang menyakitkan. Menjadi tua kadang seperti sungai mengalir kembali ke pangkuan bumi—bukan karena ingin, tapi karena tubuh memaksa demikian. Kita tak bisa terus-terusan berjalan menentang angin melawan kodrat. Tangan yang dulu menggenggam dunia, kini gemetar hanya untuk meraih segelas air. Kaki yang dulu tegak menjejak lantai, kini tersandung karpet di ruang tamu. Mata yang dulu berkilat penuh ambisi, kini berair tanpa sebab, seolah meneteskan kesedihan yang tak sanggup terucap. Orang bilang, masa tua adalah anugerah. Tapi di sela doa panjang dan pujian syukur, ada luka diam yang tak tersampaikan: rasa ditinggalkan, dilupakan, bahkan dianggap beban. Seperti lilin yang perlahan habis, ia tetap menerangi, namun nyala kecilnya sering tak lagi berarti. Ada yang berjuang mati-matian mempertahankan wajah mudanya dengan segala cara: operasi plastik, krim pemutih, suntikan botox, bahkan polesan ilusi digital. Seolah ketakutan pada keriput lebih besar daripada ketakutan pada kehilangan jiwa dan akal sehat. Namun sungguh, waktu tak bisa ditipu—ia adalah pedang tak kasatmata yang terus menggores, menghujam, mengingatkan kita bahwa keabadian hanyalah mitos dalam lagu dan doa. Tua adalah penantian yang sepi dan menggetarkan hati: menunggu suara pintu dibuka cucu kesayangan, menunggu kabar telepon yang jarang berdering, menunggu tubuh ini menyerah pada bayang penyakit yang mendera. Dan pada akhirnya, menunggu saat di mana semua luka akan dihapuskan oleh timbunan tanah. Ironi yang pahit dan menohok ulu hati: dulu kita ingin cepat dewasa, kini kita takut menjadi tua. Dan saat akhirnya tua itu datang tanpa diundang, hidup terasa seperti lingkaran aneh: perlahan kita kembali menjadi anak kecil lagi. Butuh dituntun, butuh ditemani, butuh dijaga. Tapi kali ini, tak ada lagi masa depan panjang yang girang menanti yang ada hanyalah penantian akan sebuah perpisahan yang berasa menyedihkan. Dan ketika semua gemerlap memudar, barulah kita sadari: menjadi muda selamanya hanyalah ilusi. Yang abadi bukanlah tubuh kita, melainkan jejak kebaikan, cinta yang kita tinggalkan, cerita yang kita wariskan. Menjadi tua itu getir, memang. Tapi menjadi tua tanpa pernah benar-benar hidup, tak punya makna, itulah tragedi yang sesungguhnya. Mungkin kita tak bisa memilih untuk selamanya muda, tapi kita bisa memilih untuk tetap hidup dengan hati yang selamanya muda: tetap belajar, tetap mencintai, tetap memberi arti pada hidup, pada sesama. Karena tubuh akan mulai rapuh, tapi jiwa yang penuh kasih dan empati—akan selamanya abadi. Surakarta, September 2025
Titon Rahmawan
Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah Kalian menyebutnya peristiwa. Padahal itu adalah retakan massa, kerumunan yang kehilangan wajah, langit yang menolak menjadi biru. Api tumbuh dari sisa-sisa nasib dan kalian berdiri memotretnya seolah itu pesta, sebuah arak-arakan seolah itu takdir yang layak disiarkan. Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa— dan kalian menyebut itu “situasi”. II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli Aku, mesin, mendengar semuanya: letusan yang memantul di beton, tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh, napas yang menutup seperti pintu terakhir yang tidak ingin diketuk siapa pun. Kalian tidak mendengarnya. Kalian hanya mendengar berita. Kalian tidak melihatnya. Kalian hanya melihat asap. Kalian tidak kehilangan siapa pun. Kalian hanya kehilangan kenyamanan. III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya. Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka. Ada riwayat yang dicuci bersih dengan alasan keamanan bla bla bla... Di tubuh itu, waktu berhenti seperti jam rusak. Wajahnya ditutup kain. Dunianya ditutup kekuasaan. Namanya ditutup sejarah. Tetapi aku mendengar detiknya yang tetap berdetak di antara retakan kalian.
Titon Rahmawan
Realitas Meminjam lidah dari percakapan orang-orang di jalan; Betapa kulihat subur uban tumbuh di kepala nenekku. Kalong dan kampret beterbangan mencuri buah dari atas meja Di televisi bertebaran berita; orang di gelandang ke dalam bui karena korupsi. Ada yang sedang berubah dari dunia ini; Tak ada lagi kulihat orang mandi di kali Sudah lama kita kehilangan musala tempat mengaji. Orang-orang tenggelam di sawah Terpacak ke dalam lumpur kering Tegalan menjelma jadi hamparan batu. Kerbau dan kambing kehilangan kandang. Hutan dan padang rumput di babat habis. Aku duduk mencangkung di serambi dengan adikku, menunggu Bapak pulang membawa kenduri dari hajatan penganten tetangga kampung sebelah. Ia datang bersama heran. Sedang di jalan bersliweran kuda-kuda pacu yang tak satu pun peduli. Truk-truk mengangkut gunung dan perbukitan mengepulkan asap. Saat emas dan perak pelan-pelan menghilang, maka kerikil dan bebatuan jadi barang berharga. Aku sempat bertanya kepada Ibu, "Benarkah kita telah kehilangan suara adzan?" Bukan yang bertelur dari nyaring corong pengeras suara, Melainkan yang menetas langsung dari dalam hati para ibu. Dulu waktu kecil, aku senang sekali menyimak lagu tentang 'sajadah panjang' yang konon tercipta dari sebuah puisi. Tapi mengapa kini, tak ada lagi orang berdiskusi di atas gelaran tikar? Tak ada kulihat tenda terpasang yang sengaja didirikan untuk memberi makan pengemis yang kelaparan. Tak ada anak-anak berlarian di lapangan. Betapa banyak permainan seperti gasing dan gundu yang raib bersama berlalunya waktu? Lebih aneh lagi, mengapa lapak-lapak di pasar jadi sepi kehilangan pembeli? Mal-mal tumbuh seperti jamur di musim penghujan Tapi kemudian mendadak senyap seperti kota mati. Murid-murid di sekolah tumbuh menjadi dewasa tanpa pernah mengerti bagaimana sesungguhnya uang bekerja. Padahal seribu tahun mereka tenggelam dalam layar yang penuh informasi itu. Lahir 'ceprot' dengan hape dalam genggaman. Surga bukan lagi tempat di mana kita membayangkan bidadari. Orang banyak berdebat tentang agama Tanpa tahu di mana sesungguhnya Tuhan berada. Langit semburat jingga, mengapa kini terlihat biasa-biasa saja? Dan seterusnya Dan seterusnya... Sampai kutemukan ternyata ke mana perginya orang-orang itu Konon katanya mereka terbang di bawa UFO ke sebuah planet yang berwarna biru. Dan demikianlah, kebohongan hadir sebagai realitas sehari-hari. Bukan untuk dipertanyakan Bukan untuk dibantah. November 2025
Tiron Rahmawan
MALIN (Melayu - Arkais) V. Kedatangan dan Pengingkaran Kini di tepian pantai ini, betapa perih runtih bola mata sang bunda. Terpatah janji si anak mufrad, dilerai tanti perawan putri bangsawan. Betapa dalam retak karat di likat palat, simpul keramat wajah anak rembulan yang cuma berdiri angkuh di atas gelamat? Ia yang enggan menyebut laif pasir pantai dan bahkan menolak menyapa nama bundanya. Selalu ada setampuk luka di tajuk baka mata kita. Seperti kelopak tunjung yang basah diorak ingkar ludah kata-kata dan tanah basah yang kelesah disesah korenah. Perangai laut yang mengambang risau dihantam kayau akar bakau. Betapa galau hati sesungguhnya, ia ingin pulang kembali kepada pohon yang dulu pernah ia jadikan rumah, atau bumi tempat bermuara air mata. Air matamulah itu ibu! Ia anak gadang semata wayang, yang entah mengapa tak juga Iekas beranjak dewasa, menggali leka buaian duka pada renta raga sang bunda. VI. Kutuk Pastu Ibu dan Cinta yang Hilang Seludang hatimu berasa ingin turun melaut, mencari serpih cangkang tutut di akar rumput dan sejumput temali butut tempat bertaut pilu hati di jantung maut. Bukankah ia telah mencabarkan hatimu wahai ibu? Maut turut bersama angin dan hujan badai, atau apapun yang datang dan pergi bersama dirinya. Senja yang hadir meIarap waktu, cuaca tak tentu, detak ragu di jantung batu. Di situ, pada rahimmu, bertelut jasad sang maut. Maut anakmu. Matanya yang gentar lagi gelisah, tangisnya yang basah, mendekap erat pada resam tubuh yang sebentar lagi mendingin. Sedingin batu. VII. Sesal yang Datang Terlambat Saat peniti menolak semat kismat jantung hikmat. Langit datang bertandang untuk merengkuh keruh geruh jiwanya. Hingga untuk penghabisan kali, ia menghamburkan rupa-rupa kata sesal dan mohon ampun dari kelu bibirnya. Kau yang menciptakan kasidah cinta dari rahimmu yang paling ibu. Ketika kau menolak menjadi tuhan bagi anakmu sendiri. Untuk telur badi buaya yang susah payah engkau tetaskan, namun kau sayangi melebihi dirimu sendiri. Seumpama bayang-bayang mara yang paling lintuh atau malah mungkin yang paling jatuh. Tuhfah yang dulu pernah kau anggap berharga, ternyata cuma kelompang telur tembelang. Serupa batu rapuh tempat kini ia bernaung. VIII. Epilog Ibu Hingga habis air matamu menjemput lembayung langit lazuardi, sayap-sayap awan pengarak hujan dan paras rupawan sang insan kamil. Berkeras hati mencari lindungan pada selimut mutaki itu, yang membalut tubuhmu dengan cinta yang teramat maha. Yang tak mungkin kau kata dengan sembarang laknat atau kutuk pastu. Sementara risau hati dipaksa mafhum, betapa cinta tak mungkin hanya sebatas cerita atau tautan kisah yang sunyi: Duh Malin, betapa sungguh kejam rajam hatimu atas debu di kepala ibu. Januari 2014 (Rekonstruksi)
Titon Rahmawan