Delay Lama Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Delay Lama. Here they are! All 3 of them:

“
Think of one of your limitations, human faults, or foibles. Think of something about yourself that is actually quite funny when you can have some perspective. The Dalai Lama can laugh at his limited English. The Archbishop can laugh at his big nose. What can you laugh at about yourself? When you can laugh at yourself, you will let others feel closer to you and inspire them to accept their own limitations, faults, and foibles. Laugh at yourself. The next time you are in a situation where you act in a funny way, or say something in a funny way, or are just less than perfect, chuckle at yourself and make a joke of it. Humor is one of the best ways to end conflict, especially when you are able to make fun of yourself or admit that you are overreacting or being silly. Laugh at life. The next time you are delayed or something does not go your way, try being amused by the situation rather than getting angry or outraged. You will notice how your amusement puts others at ease and can often smooth the situation. Similarly, when you encounter certain ironies in your day-to-day life, try to see the
”
”
Dalai Lama XIV (The Book of Joy: Lasting Happiness in a Changing World)
“
Laughing at Ourselves to Develop Humor Humor seems like something that is spontaneous and natural and cannot be cultivated, but the ability to laugh at ourselves and to see the rich ironies and funny realities in our lives is actually, like perspective, something that we can learn with practice over time. 1. Think of one of your limitations, human faults, or foibles. Think of something about yourself that is actually quite funny when you can have some perspective. The Dalai Lama can laugh at his limited English. The Archbishop can laugh at his big nose. What can you laugh at about yourself? When you can laugh at yourself, you will let others feel closer to you and inspire them to accept their own limitations, faults, and foibles. 2. Laugh at yourself. The next time you are in a situation where you act in a funny way, or say something in a funny way, or are just less than perfect, chuckle at yourself and make a joke of it. Humor is one of the best ways to end conflict, especially when you are able to make fun of yourself or admit that you are overreacting or being silly. 3. Laugh at life. The next time you are delayed or something does not go your way, try being amused by the situation rather than getting angry or outraged. You will notice how your amusement puts others at ease and can often smooth the situation. Similarly, when you encounter certain ironies in your day-to-day life, try to see the humor.
”
”
Dalai Lama XIV (The Book of Joy: Lasting Happiness in a Changing World)
“
Protokol Keberadaan // (Dekonstruksi: Sartre · Camus · Derrida) Di ruang tanpa tripod penyangga— aku berdiri sendirian, kata-kata bergetar. Kebebasan? kata itu berdaki pada bibirku seperti tinta lama yang telah mengering. Kudeklarasikan: aku memilih— lalu sistem membaca ulang pilihanku, menemukan trace yang tak pernah kuketik: jejak-jejak luka, différance yang tersisa. Camus menaruh batu di pangkuanku; aku menolak mengangkatnya. Ia bilang: lakukan pemberontakan, hidup menuntut upaya menanggung absurditas. Aku bertanya: siapa yang menulis perintah itu dalam log jam; apakah log memberi status: sah atau hanya pesan error yang terulang? Sartre berbisik: kau adalah keputusan; kau bukan takdir. Tapi siapa yang menyetujui keputusan itu ketika kata 'aku' sendiri adalah naskah yang dapat dipanggil ulang, dikopi, di-paste ke tubuh lain? Kebebasan itu jadi modul: terinstal, terhapus, di-restore oleh cinta dan kerinduan. Derrida tersenyum dalam bayangannya—bukan menghina, melainkan menyodorkan sebilah pisau: “Bongkar premisnya. Baca ulang tanda-tanda. Perhatikan sisipan yang kau anggap pasti.” Sekali kuteruskan kata “hak”, ia menjadi pantulan: hak untuk memilih 》 hak yang dimaknai 》 hak yang dibaca ulang. Selalu ada kemungkinan lain di balik tiap premis—sebuah residu yang tak bisa dimusnahkan. Jadi aku menulis dengan alfabet yang tak terikat: kata seperti partikel, seperti byte; mereka bergerak, meninggalkan jejak, membentuk makna bukan sebagai titik, tapi sebagai radiasi—gelombang yang menunda kehadiran. Aku menunggu diferensiasi itu: makna yang datang telat, menunda, menggoda, melepaskan diri. Ketika aku menolak keabadian—aku merdeka; ketika aku menuntut makna—aku terjerat. Absurd bukanlah lubang kecil; ia adalah kondisi komputasi yang terus-menerus crash. Kita reboot, kita mencari error log, kita menambal dengan mitos, doa, slogan, retorika— lalu satu baris kode lagi menghapus semuanya, meninggalkan prompt: > Siapa kamu? Maka puisi bukanlah jawaban—ia adalah protokol: baca—hapus—tunda—ulang. Dalam ritme itu aku menemukan sebuah rahmat sirkuler: kebebasan yang diakui sebagai kebebasan untuk tetap ragu atau selamanya ambigu. Aku menapaki ruang antara kata dan bisikan. Di sana, warna hitam bukan nihil; ia adalah pagar yang memaksa pandang. Di sana, doa bukanlah mukjizat; ia menjadi setitik delay yang menyelamatkan kita dari aksi. Di sana, aku mengakui: aku mungkin hanya efek samping dari keputusan yang belum kumengerti. Tapi ada pula sesuatu yang tak bisa di-deconstruct: getar tak terbaca di dada, ketika aku memilih untuk menanggung, bukan hanya berargumen tentang siapa yang harus menanggung. Ada keberanian yang tidak perlu diideologikan—hanya dipraktikkan: memilih lagi, meski tahu teks bisa berubah rupa di saat kita membacanya. Di ujungnya, kita tidak akan menemukan definisi yang bertahan seutuhnya; kita menemukan sebuah kebiasaan: berani membuka kata, menunggu trace, mendengar gema. Itu bukan absurd semata; itu adalah ritual perulangan yang membawa kita pada perjumpaan— bukan dengan kebenaran yang tunggal, melainkan dengan kebenaran yang berkorelasi: kebenaran yang bersedia menjadi ruang tunggu tempat bertemu, bukan batu yang membebani. Jadi datanglah, pilih: tetap berpegang pada batu yang membuatmu runtuh, atau berdiri di ambang uraian, tempat kata-kata menjadi medan peperangan, dan kebebasan adalah aktivitas terus-menerus— sebuah kerja pikiran, bukan klaim monumental. Di sana, antara deklarasi dan keraguan, kita mendirikan puisi ini: sebuah protokol kecil untuk hidup yang tidak puas dengan kepastian, sebuah doa yang bisa di-debug, namun tak pernah sepenuhnya dapat dimusnahkan. November 2025
”
”
Titon Rahmawan