Cucu Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Cucu. Here they are! All 17 of them:

β€œ
Tulisan tertinggal, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, menginspirasi anak, cucu, buyut.... Lalu, lahirlah petualang-petualang muda, yang menggenggam tulisan warisan kuno laksana nubuat, melakukan napak tilas dan melihat kembali bagaimana zaman berlayar.
”
”
Agustinus Wibowo (Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah)
β€œ
Kadang-kadang kita perlukan drama dalam hidup untuk menambahkan rencah dalam cerita yang bakal kita ulang kepada anak cucu. Khir adalah "bunjut dalam sup" hidup aku ini, ia menambah rasa, namun bukan untuk ditelan!
”
”
Nurul Syahida (Plain Jane)
β€œ
Ghosts are not what I remember of my childhood; but somehow they infuse memories of myself as a child, the little girl in a storybook, with ghosts hovering around her.
”
”
Yolanda A. Reid (Porridge and Cucu: My Childhood)
β€œ
. di hamparan dunia yang penuh perdebatan ini. tuhan menjanjikan akhir zaman untuk sepasang mata. dan cucu adam menciptakan resah,gelap dan kerusuhan saja. . . mungkin kita hanya debu atau sebuah sejarah, yang berjalan di bawah samudera. atau dengan ke tidak berdayaan ini. berambisi menembus firmament ~Andra dobing
”
”
andra dobing
β€œ
Kemerdekaan adalah warisan pejuang. Kita memikulnya dengan tanggung jawab sejahterakan masa depan anak cucu.
”
”
Susilo Bambang Yudhoyono
β€œ
Budaya toleransi dan patuh hukum adalah proses belajar. Kita harus jaga itu untuk kejayaan anak cucu.
”
”
Susilo Bambang Yudhoyono
β€œ
Apa karena semua orang punya jalan hidup : Lahir, remaja, dewasa, nikah, punya anak, menua, punya cucu, mati, kita juga harus gitu?
”
”
Okke Sepatumerah (Pre Wedding Rush)
β€œ
Apa yg kita tanam pagi ini, pasti tidak dapat kita nikmati buahnya hari ini, namun yang pasti dapat dipanen anak cucu kita pada waktunya tergantung baik buruknya bibit yg kita tanam
”
”
Diadjeng Laraswati H
β€œ
Roman, his breath hoarse and ragged, his body trembling like a leaf in an autumn storm, hugged himself in unspeakable fear as the thing’s face finally came into view: two round empty eyes in which sable night roiled forever and a gaping mouth that hungered for his very soul. It was the cucu, come at last to claim its prize, the life of a child who defied the dark.
”
”
David Bowles (Creature Feature: 13 Frightening Folktales of the Rio Grande Valley)
β€œ
Apa yang kita lakukan dan tidak kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan anak cucu kita, generasi penerus kita selanjutnya; we simply cannot afford the price of inaction and egotism.
”
”
Agus Harimurti Yudhoyono
β€œ
Kesimpulannya, jika dikaji pada definisi ahlul-bait dalam hubungkaitnya dengan masyarakat Islam di Asia Tenggara ini, kita bolehlah menganggarkan betapa ramainya ahlul-bait Rasulullah serta 'peranakan' ahlul-bait baginda di kalangan masyarakat Melayu, walaupun pada zahirnya rupa, identiti, adat dan budaya mereka telah sebati dan secocok dengan bangsa Melayu yang asal. Namun begitu, darah Rasulullah SAW yang mengalir di tubuh mereka kadangkala tetap akan menyinarkan ciri-ciri istimewa ahlul-bait yang menjadi resam anak cucu Rasulullah SAW di merata pelosok muka bumi ini. Sesungguhnya bumi Nusantara ini 'redup' dengan kehadiran ramainya ahlul-bait. Sedikit sebanyak ianya menyebabkan turunnya rahmat Allah SWT pada rantau ini, berlebih lagi jika kedapatan ramai ahlul-bait di sini yang masih tetap mewarisi kemolekan serta keelokan sifat mahupun pengamalan Islam pegangan nenek moyang mereka dari kalangan ahlul-bait 'awwalun' dari bumi Mekah, Madinah, Hadhramaut dan sebagainya.
”
”
(Tun) Suzana (Tun) Hj Othman (Ahlul-Bait (Keluarga) Rasulullah SAW & Kesultanan Melayu)
β€œ
selalu yakin bahwa benih tomat tidak akan berbuah mangga, apa yang diperbuat sekarang, akan berdampak kelak hasilnya, bagaimana kita memperlakukan orang lain, itu juga yang akan terjadi pada anak cucu kita
”
”
Diadjeng Laraswati H
β€œ
Demikianlah nasib setiap manusia yang dikaruniai Tuhan umur yang panjang. Makin lama hidupnya makin jauhlah dia tercercer di belakang anak, cucu, keluarga, masyarakat, dan bahkan kaumnya; sehingga akhirnya terbaringlah dia seorang diri, dalam kuburnya.
”
”
Marah Rusli (Memang Jodoh)
β€œ
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Telah meninggal dunia ibu, oma, nenek kami tercinta.... Requiescat in pace et in amore, Telah dipanggil ke rumah Bapa di surga, anak, cucu kami terkasih.... Dalam sehari, Bunda menerima dua kabar (duka cita / suka cita) sekaligus. Apakah kesedihan serupa cucuran air hujan yang jatuh dan mengusik keheningan kolam? Apakah kebahagiaan seperti sebuah syair yang mesti dipertanyakan mengapa ia digubah? Bagaimana kita mesti menjawab pertanyaan tentang kematian orang orang terdekat? Mengapa mereka pergi? Kemana mereka akan pergi? Memento mori, serupa nyala api dan ngengat yang terbakar. Seperti juga lilin yang padam, bunga yang layu, ranting yang kering, pohon yang meranggas. Mereka hanyalah sebuah pertanda, bahwa semua yang hidup pasti akan mati. Agar kita senantiasa teringat pada tempus fugit, bahwa waktu yang berlaluΒ  tak akan pernah kembali. Ketika Bunda masih muda, sesungguhnya Bunda sudah tidak lagi muda, tak akan pernah bertambah muda, tak akan kembali muda. Waktu telah merenggut kemudaan kita pelan pelan. Ketuaan adalah sebuah keniscayaan, dan kematian adalah sebuah kepastian. Tak ada sesuatu pun yang abadi, Anakku. Ingatan tentang mati semestinya memberi kita pelajaran berharga. Jangan pernah menyia nyiakan waktu. Jangan hilang niat untuk bangkit dari ranjang. Jangan terlalu malas untuk bekerja. Jangan terlalu letih untuk menuntaskan hari. Jangan pernah lupa untuk berdoa. Jangan lalai untuk bersyukur. Jadikan hari ini sebagai milikmu. Ketika semua perkara seakan menggiring langkahmu pada kesulitan, kegagalan, ketidakpastian dan rasa sakit. Pikirkanlah siapa yang akan jadi malaikat pelindung dan penolongmu? Bagaimana engkau akan menemukan eudaimonia? Bagaimana engkau hendak memaknai hidup? Dalam sekejap mata hidup bisa berubah. Waktu berlalu dan ia tak akan pernah kembali. Gunakan kesempatan untuk bercermin pada permukaan air yang jernih. Tatap langsung kedalaman telaga yang balik menatap kepada dirimu. Abaikan rasa sakit dan penderitaan, sebab puncak gunung sudah membayang di depan mata dan terbit matahari akan menghangatkan kalbumu. Cuma dirimu yang punya kendali atas pikiran, hasrat dan nafsu, perasaan dan kesadaran inderawi, persepsi, naluri dan semua tindakanmu sendiri. Ketika kita mengingat kematian, kita tidak akan lagi merasa gentar. Sebab ia lembut, ia tak lagi menakutkan. Ia justru menuntaskan segala rasa sakit dan penderitaan. Ia pengejawantahan waktu yang berharga, kecantikan yang abadi, indahnya rasa syukur, dan kemuliaan di balik setiap ucapan terima kasih. Ia mengajarkan kita bagaimana menghargai kehidupan yang sesungguhnya. Ia membimbing kita menemukan pintu takdir kita sendiri. Apapun perubahan yang menghampiri dirimu. Ia adalah pintu rahasia yang menjanjikan kejutan yang tak akan pernah kamu sangka sangka. Yang terbaik adalah menerimanya sebagai berkat. Apa yang ada dalam dirimu adalah kekuatanmu. Engkau akan membuatnya berarti. Bagi mereka yang paham, takdir dan kematian adalah sebuah karunia, seperti juga kehidupan. Sesungguhnyalah kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali.
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Mutiara dan marjan adalah kata sebutan untuk baginda Hasan dan Husein, cucu baginda Rasulullah SAW. Demikian disebutkan dalam puisi-puisi.
”
”
Sibel Eraslan (Fatimah az-Zahra: Kerinduan dari Karbala)
β€œ
Waktu tidak menunggu manusia tetapi kita dapat membingkai waktu dalam foto dan kata, membingkai waktu demi anak cucu kita.
”
”
Jimmy Teo
β€œ
Kita tidak mewarisi bumi dari orang tua kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita.
”
”
Pepatah Indian Amerika