Cuaca Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Cuaca. Here they are! All 37 of them:

seperti udara, aku mencintaimu, selalu terikat ruang. seperti cuaca, aku menyayangimu selalu terikat waktu. seperti hujan, aku membencimu, sewaktu-waktu.
Fahd Pahdepie
Hidup juga kayak cuaca. Hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. Tapi, lo nggak akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya. Kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, sebuah bentuk keseimbangan.
Winna Efendi
Cuaca demi cuaca melalui kami, dan kebenaran akan semakin dipojokkan. Sampai akhirnya nanti, badai meletus dan menyisakan kejujuran yang bersinar. Entah menghangatkan, atau menghanguskan.
Dee Lestari (Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade)
Serupa cuaca, aku mencintaimu, selalu terikat waktu. Serupa udara, aku menyayangimu, selalu terikat ruang. Serupa hujan, aku membencimu, sewaktu-waktu.
Fahd Pahdepie (A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa)
Cinta adalah rasa yang kuucap dalam setiap desah dan cuaca, tak sampai-sampai getarnya padamu.
Helvy Tiana Rosa
hidup itu kaya cuaca. hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. tapi lo ga akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya. kita butuh pahit dan manis secara bersamaan sebagai bentuk keseimbangan.
Winna Efendi Remember When
Kereta datang. Melompat malas. Mencari kursi dalam gerbong yang nyaris kosong. Senja mulai tua, mendung menambah tua cuaca. Gerimis turun di luar. Dari jendela muram itu bayang-bayang berkelebat. Kota-kota mulai bersolek dengan lampu. Hujan menderas di luar. Kereta semakin cepat. Naik kereta api untuk bisa menangis sendirian. Tangisan sepi.
Puthut EA
Jika ada yang ingin kuberikan untukmu, itu hanyalah sekotak Crayon. . . Untuk mewarnai langitmu yang kelabu. Dipagi hari. . .kamu bisa mewarnainya dengan merah muda yah langit dengan matahari terbit memang indah. Disiang hari buatlah banyak cahaya matahari dengan kuning keemasan dan campurkan juga biru yang menenangkan. Namun jika kau ingin cuaca sejuk segar, kau boleh gunakan warna perak dan putih untuk cahaya kilat dan hujan yang lebat. Ada apa dibalik hujan? kutemukan jawaban. . .mari gunakan semua warna yang kau punya, ciptakan Pelangi. Pita indah warna-warni. Biarkan harimu berseri. Dan senja datang. . . ayo gunakan sang Jingga yang jelita, ucapkan selamat tinggal pada bola cahaya raksasa. Hari menggelap?belum! mari kita torehkan Ungu dengan titik-titik cahaya . . .selanjutnya kau boleh menghitamkannya, biarkan gelap menemani mimpimu tapi jangan lupa simpan sebuah bintang díbawah bantal, bersama dengan kotak warnamu . . . Esok warnai lagi langitmu dengan warna apapun yang kau mau. . . Berjanjilah jangan biarkan langitmu kelabu!
Citra Rizcha Maya
Jika Anda akan atau telah memulai satu perjuangan yang mantap untuk bisa menyejahterakan hidup, ajaklah pasangan untuk mengerti dan memahami passion Anda. Doa dan dukungan pendampingan sangat besar artinya untuk menambah kekuatan hati saat kita berjalan. Karena perjuangan memiliki jalan misterius. Perubahan cuaca bisa terjadi dalam rupa yang tidak kita duga. Keberadaan pasangan hidup yang suportif dan apresiatif terhadap apa yang kita buat akan begitu bermakna. Kita bisa merasakan perbedaan, berjuang dengan dukungan dan berjuang dalam tekanan adalah dua hal yang berbeda. Aku harus bersyukur bahwa diriku berjodoh dengan seseorang yang sangat memahami napas perjuanganku.
Alberthiene Endah (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar)
Menantimu dengan kerinduan, menjemputmu dengan kekhusyu’an, menikahimu dengan keimanan. Itulah caraku memuliakanmu, duhai pendamping impian.
Ikhsanun Kamil Pratama & Foezi Citra Cuaca Elmart (Jodoh Dunia Akhirat)
Pernikahan yang harmonis bukan pernikahan yang tiada konflik sama sekali, tapi kondisi ketika suami istri bisa menangani konflik yang muncul secara dewasa.
Ikhsanun Kamil Pratama & Foezi Citra Cuaca Elmart (Rumah Tangga Surga)
Seperti bunga yang baru saja mekar terbawa oleh angin kencang. Kita tidak bisa menyalahkan bunga yang baru saja mekar di cuaca berangin. Bunga itu hanya terbawa oleh angin itu dan terlepas dari tangkainya.
Armadi S. Pambudi (Seriously I'm In Love)
Bila menikah sudah menjadi azzam yang begitu dirindukan, taruhlah ia dalam iman, agar setiap jalan untuk menujunya adalah kebaikan.
Ikhsanun Kamil Pratama & Foezi Citra Cuaca Elmart (Jodoh Dunia Akhirat)
Izinkan aku, Rabb Menantinya dengan sepenuh khusyu’ Bukan dengan berleha, Melainkan segenap ikhtiar yang menghimpun berserak rindu Izinkan aku, Rabb Berjumpa dengannya dalam restu cintaMu Bukan dengan tergesa, Melainkan segera menujunya untuk semakin dekat denganMu Izinkan aku, Rabb Menikah dengannya, agar orang tua bahagia, Rasulullah bangga, dan Engkau semakin Cinta.
Ikhsanun Kamil Pratama & Foezi Citra Cuaca Elmart
terhempas, takluk, digerus dingin angin, suara truk, debu menyelip di mataku betapa dancuk hidup ini! betapa dancuk lonte yang setengah mati kukasihi dan menusukku dari belakang! betapa dancuk Tuhan! bergetar, mabuk bayang-bayang, tuak kegelapan, mabuk keramaian yang kubenci, mengambang, tersesat, terhisap angin, luka menganga, nanah tembaga meleleh dari lutut Apolo emas yang dipenggal sebelum perang meledak; sulap kata-kata Homer dengan mata piceknya. terkutuklah bayangan, pohon-pohon meronta karena tak ada satu pun cuaca baik menawarkan minuman dari langit. aku biarkan itu semua menyalipku, dalam metafora, mata binatang, bibir lebar mirip kemaluan wanita sombong yang merasa imannya takkan tumbang meski dijejali kata-kata jorok nan mesum. bergerak, tenggelam, sinar patah di lingkar air dalam gelas mineral yang kokoh dan kau bilang air abadi dan kau bilang api bisa mati sendiri terkutuklah engkau yang menelan masa laluku dan menghibahkan kehancuran ini lobang nganga di dadaku. oh, kau yang memuntahkan abu tulangku, yang akan tetap kuingat meski Tuhan atau apapun itu menyeretku ke neraka omong kosong di alam kubur dan bertanya bagaimana imanku sebenarnya. oh, terkutuklah engkau!
Bagus Dwi Hananto (Dinosaurus Malam Hari)
Mencintaimu seperti berharap pada cuaca laut ketika badai hendak terjadi. Kamu tak pernah tahu apa yang ada di dalamnya. Petir, taifun, atau ombak besar yang bisa membuat perompak paling jahil ciut nyali. Aku ingin sekali saja tidak percaya bahwa semesta itu demikian adil, bahwa kesalahanku di masa silam akan dibalaskan setimpal.
Arman Dhani (eminus dolere)
Seseorang tidak mungkin mendarar, memuat senjata, mengisi bahan-bakar, menerima suplai, diberi pengamanan, laporan cuaca dan yang lain-lain, tanpa izin. Anda dan pemerintah Amerika bermain api. Apakah anda menyadari, bahwa kalau satu pihak menyokong pihak lawan, pihak lain pun bisa membantu kami? Cara minta bantuan itu mudah sekali, hanya dengan satu kedipan mata para sukarelawan dari negara-negara yang sudah mengajukan diri segera berkumpul. Tetapi kami tidak berbuat demikian. Akibatnya, dapat berupa perang dunia ketiga.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Seseorang memberiku gaun puisi. "Pakailah,"katanya."Kau tak kan jenuh lagi." Tetiba cuaca mesra, matari biru, aku menapak di atas laut.
Helvy Tiana Rosa
Move On itu bukan melupakan, tapi mengikhlaskan
Ikhsanun Kamil Pratama & Foezi Citra Cuaca Elmart (Jodoh Dunia Akhirat)
Mencintai sesorang itu ibarat pindah ke sebuah rumah. Mula-mula kau akan jatuh cinta dengan semua hal baru, takjub setiap pagi bahwa semua ini milikmu, seolah takut seseorang tiba-tiba berlari masuk dari pinu dan menjelaskan bahwa telah terjadi kesalahan besar, kau seharusnya tidak tingga di tempat indah ini. Lalu tahun demi tahun, tembok-tembok mulai aus, kayu pecah di sana-sini, dan kau mulai mencintai rumah itu bukan karena kesempurnaannya, tapi justru karena ketidaksempurnaannya. Kau berkenalan dengan setiap ceruk dan celahnya. Bagaimana caranya supaya kunci tidak tersangkut di lubangnya kalau cuaca di luar sedang dingin. Papan lantai mana yang melekuk sedikit kalau diinjak, atau bagaimana persisnya membuka pintu lemari baju agar tidak berderak. Inilah rahasia-rahasia kecil yang menjadikan rumah itu rumahmu.
Fredrick Backman, A Man Called Ove
Dia seperti cuaca di Kota Dublin; mudah berubah tanpa bisa diprediksi
Puji Eka Lestari (Dear Ellie)
Tak ada ranting yang tak patah tak ada daun yang tak rebah Namun semangat tetap harus terus menjulang, keyakinan padaNya harus tetap tumbuh dan mengakar Bahwa cuaca pasti berubah Percaya bahwa tiap-tiap kehidupan punya musimnya sendiri
Firman Nofeki Sastranusa
Cuaca cerah pagi ini Persis menggambarkan hatiku Tetapi awan mendung terlihat diujung langit Seperti menunjukkan pemikiranku Apakah aku benar-benar menyukaimu Atau aku yang jatuh cinta pada perasaanku sendiri
Zakiyahdini Hanifah
Aku menunggu cuaca yang tepat untuk berbicara denganmu, katanya Sang lajang bertanya-tanya Bagaimana kau memilihnya untuk hidup bersama? Ya memang tak sesederhana yang kau ucapkan Berpikir dan takut bagaimana kedepannya memang baik Tapi lebih baik pula, untuk tidak overthinking Bahwa, temuilah orang yang kau anggap tepat untuk berjuang bersama Karena hidup bersama bukan hanya perihal cinta Terlebih lagi, apakah ia juga memperjuangkan hidupnya untukmu Apakah dia pantas?
Zakiyahdini Hanifah
ia saksikan angin retak di luar jendela sebelum menyatakan ke mana rembuk dingin memintal igau malam lalu hening terkelupas dari jaring-jaring udara sebab suara yang hinggap di ranting hanya pialang menyusup dari tawaran silang dedaunan dan serumpun nasib yang turut gugur
Ibe S. Palogai (Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi)
tetapi ia luput mangamati risau gelagat tanda yang tercemar itu pernah lebih berarti sebelum menjadi mesti kekosongan terekam di luar jendela tak ada yang mengingat mengapa tabir membiarkan kau melihat apa yang gelap rahasiakan atau dirinya sendiri dalam gapai jahitan dan subuh yang tercekal pasal-pasal perantauan dipatuhi tanpa ada hari pasti mendengar pulang bunyi sauh.
Ibe S. Palogai (Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi)
apa yang kau amati di tubuh dinding itu? rencana tiba lebih awal di pasak taksiran yang kerap diganggu peristiwa-peristiwa menjelang kantuk tiang rumah menawarkan bentuk baku pelarian kau menghaluskan diri di ambang tidur mengundang aku merantau ke masa dahulu menebingkan lekuk waktu bagi curam peristiwa di dalamnya kita jatuh terkutuk atau hilang sebagai cerita tetapi ini memang tak pernah ada dalam tanggal desah dahan kamboja tua dan anyaman ganjil pada daun kelapa ada amarah bersembunyi dari upaya angin turut merapalkan gigil pada embus sesal sementara di luar tubuh dan di dalam angan reputasi malam memelihara kekacauan.
Ibe S. Palogai (Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi)
apakah dedaunan yang turut itu kau sebut gugur atau hanya penderitaan yang terus kita beri nama?
Ibe S. Palogai (Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi)
Jasa Pembuatan Greenhouse Probolinggo Jawa Timur – Menjamin Keberhasilan Pertanian dengan Hasil Optimal Apakah bisa melayani proyek di luar Jawa Timur?Layanan pembuatan rumah kaca, layanan bikin greenhouse, dan layanan pembuatan greenhouse adalah cara efektif untuk menciptakan lingkungan pertanian yang terkendali . Dapatkan hasil pertanian yang lebih baik dan hindari gagal panen dengan menggunakan jasa pembuatan greenhouse kami Dengan perlindungan greenhouse, tanaman terbebas dari cuaca ekstrim, hama, dan penyakit, yang menghasilkan hasil panen yang lebih baik Kami siap menyediakan greenhouse yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan tujuan pertanian Anda . Kami menyediakan greenhouse yang sempurna untuk hidroponik, hortikultura, dan tanaman organik, memberikan hasil terbaik dengan efisiensi maksimal Jasa pembuatan greenhouse kami akan memastikan hasil pertanian Anda optimal dan mengurangi risiko gagal panen yang disebabkan oleh cuaca ekstrem seowa Kelebihan yang dimiliki oleh greenhouse yang kami tawarkan 1. Materialdengan nilai lebih Kami siap menyusun greenhouse yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan pertanian Anda Greenhouse Bambu: Greenhouse bambu cocok untuk Anda yang mencari material ramah lingkungan, biaya yang terjangkau, dan kekuatan yang optimal . Bambu, sebagai material alami, menghadirkan kesan alami yang menawan, sambil tetap kuat dan memberikan perlindungan yang optimal untuk tanaman Dengan adanya greenhouse, tanaman terlindungi dari faktor eksternal seperti cuaca ekstrem, hama, dan penyakit, yang berpengaruh pada hasil panen yang optimal . Baja ringan lebih kokoh menghadapi cuaca ekstrem, mudah untuk dirawat, dan memiliki ketahanan yang lebih panjang 2. Desain yang sesuai dengan keinginan Anda Dengan menggunakan greenhouse, tanaman terlindungi dari cuaca ekstrem, hama, dan penyakit, yang meningkatkan produktivitas panen dengan pesatKami siap membangun greenhouse yang sempurna untuk tanaman dan kebutuhan pertanian Anda Entah itu tanaman sayuran, buah, bunga, atau hidroponik, kami memiliki desain yang sesuai dengan permintaan Anda 3. Menjaga pengeluaran rendah dengan daya tahan jangka panjang Menyisihkan anggaran untuk greenhouse membawa keuntungan dalam waktu panjang Jasa pembuatan greenhouse kami memberikan keuntungan jangka panjang dengan meningkatkan hasil pertanian dan meminimalkan risiko gagal panen Greenhouse menawarkan perlindungan terhadap tanaman dari cuaca buruk, serangan hama, dan penyakit, yang meningkatkan hasil panen secara substansial Dengan desain yang kuat, greenhouse kami memberikan manfaat jangka panjang yang bisa Anda rasakan selama bertahun-tahun Model Greenhouse yang Kami Hadirkan untuk Anda 1. Greenhouse Bambu Greenhouse memberikan proteksi pada tanaman dari cuaca ekstrem, hama, dan penyakit, yang meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil panen Walaupun menggunakan bahan yang lebih hemat, greenhouse bambu tetap tahan banting dan melindungi tanaman Anda dengan baik Dengan perlindungan greenhouse, tanaman terbebas dari cuaca ekstrim, hama, dan penyakit, yang menghasilkan hasil panen yang lebih baik 2. Greenhouse Baja Ringan Untuk Anda yang ingin greenhouse dengan ketahanan lebih lama dan kokoh, baja ringan adalah pilihan terbaik yang kami tawarkan . Baja ringan memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap cuaca ekstrem, membuatnya sangat cocok untuk kebutuhan pertanian jangka panjang Selain itu, baja ringan lebih praktis dalam perawatan dan lebih kuat dalam menahan beban dibandingkan bambu Tabel Biaya Pembuatan Greenhouse Kami siap memberikan layanan di luar Jawa Timur dengan kualitas yang tak diragukan lagi Jenis Greenhouse Harga (Rp) Greenhouse Bambu Rp 1 Greenhouse Baja Ringan Rp 1 Harga dapat disesuaikan dengan ukuran dan parameter detail yang Anda pilih
jasagreenhouse
HILDAN SAFETY menawarkan Tenda Sarnafil Promosi untuk kebutuhan branding, event, dan pameran. Tenda kokoh, mudah dipasang, dan tahan cuaca. Kami telah dipercaya lebih dari 300 klien sejak 2011, menjangkau instansi pemerintah, BUMN, dan swasta dari Aceh hingga Jayapura.
Hildan Safety
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 5. NYANYIAN GELAS YANG PECAH (Abstraksi Teatrikal) Malam ini angin membawa kabar pahit. Seperti suara kampung yang kehilangan lampu, sepotong gelas kristal pecah di tengah rumah hatiku. Ah, Athalia… namamu seperti burung kecil yang dulu hinggap di jemariku dengan percaya. Kini bulunya rontok satu per satu dan aku hanya bisa menatap, tak mampu menangkapnya kembali. Aku pernah menjaga harapanmu seperti petani memeluk benih di dada tanah yang tandus. Tetapi hujan tak datang. Dan tanganku sendiri tanpa sengaja menggugurkan musim itu. Darah menetes pelan— bukan dari luka yang kau buat, tetapi dari marah yang lama kubiarkan mengeras seperti batu sungai. Aku merasa sangkakala kesunyian menderu di ruang dada. Ada pertarungan antara percaya dan putus asa: dua kuda liar saling berkejaran meninggalkan jejak debu di tenggorokan. Namun, wahai diri… siapa yang dapat melawan nasib ketika ia mengetuk pintu seperti tamu tak diundang? Maka kuterima kepedihan dengan langkah pelan seperti aktor tua yang masih menghafal naskah yang tak selesai. Gelas itu pecah. Harapan itu retak. Tapi dari serpih kepingannya aku melihat langit kecil yang masih mau memantulkan cahaya. Dan itulah sebabnya meski dada ini bergetar seperti genderang perang, aku tetap menulis, menamai luka, melagukan sepi. Karena hanya dengan begitu aku tahu aku masih hidup. 6. RUMAH KECIL TEMPAT KENANGAN BERISTIRAHAT (Abstraksi Keintiman Psikologis) Athalia, aku menulis namamu pelan-pelan seperti seseorang yang menyalakan lilin di ruangan yang ingin ia lupakan tapi tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ada saat-saat tertentu di mana kenangan berjalan kembali seperti tamu yang tahu letak gelas dan di mana aku menyembunyikan kerapuhan. Mereka mengetuk pintu, masuk tanpa kuundang, duduk di kursi yang pernah kau pilih sambil menanyaiku hal-hal yang tak sanggup kujawab. Aku ingin berkata semua baik-baik saja. Tapi aku tahu kata-kata itu adalah jembatan rapuh yang dibangun dari cuaca yang serba tak menentu. Ketika gelas kristal itu pecah, tak ada doa yang sanggup memperbaikinya. Tetapi serpihannya masih menyimpan pantulan wajahmu— pelan, nyaris kabur, tapi tetap membuatku berhenti bernapas. Aku marah pada diriku sendiri karena tidak cukup baik menjadi seseorang yang bisa kau percayai. Marah pada waktu karena selalu melangkah lebih cepat dari yang bisa kuikuti. Marah pada nasib karena sering memotong jalan tanpa memperingatkan. Namun paling sering, aku hanya diam. Diam yang panjang. Diam yang mengendap, berat seperti hujan yang enggan jatuh ke tanah. Aku belajar memahami bahwa beberapa luka tidak ingin sembuh. Mereka hanya ingin ditemani. Dan jika ada satu hal yang tak sanggup kuhapus, itu adalah cara kau menatap dunia yang membuatku ingin menjadi versi terbaik dari seseorang yang bahkan belum kukenal dalam diriku. Athalia, ruangan itu masih terbuka. Tidak untukmu kembali, tidak pula untukku berharap. Hanya untuk membiarkan cahaya masuk sedikit lebih jauh agar aku bisa melihat jelas bahwa mencintaimu adalah cara paling lembut untuk belajar tentang luka. Desember 2025
Titon Rahmawan
PERTAPA — Versi Anatta, Klesa-Vināśa, Saṃnyāsa & Viśuddhi (Di mana Kesadaran Meleleh dan Aku Runtuh seperti Komet yang Kehilangan Intinya) Ketika ambisi terakhir patah, ia merasakannya seperti gugurnya inti komet yang selama ini ia kira adalah “dirinya”. Batu, es, debu—semuanya luruh dan tak tersisa apa pun yang bisa disebut aku. Di titik itu ia memahami: yang runtuh bukan mimpinya, melainkan ilusi bahwa yang bermimpi itu ada. Ia berhenti bertanya mengapa kata-katanya tak lagi memiliki gema. Sebab gema memerlukan dinding, sedangkan seluruh dinding dalam batinnya telah retak dan ambruk seperti stupa kuno yang akhirnya menyerah pada hujan musim keempat belas. Ia memasuki wilayah anatta— kesadaran tanpa pusat, kesadaran yang tak memiliki pemilik, kesadaran yang hanya terjadi seperti cuaca. Hening datang bukan sebagai berkah, melainkan sebagai klesa-vināśa yang membakar, yang mencabut seluruh akar ego seperti badai kosmik mencabut orbit planet. Dalam viśuddhi telinganya menjadi tuli karena ia tak lagi mendengar dunia, melainkan mendengar runtuhnya diri sendiri— sepenuhnya tanpa suara. Mata menjadi buta karena segala bentuk telah nir wujud; yang tersisa hanya gerimis, cahaya tak kasat mata. Inilah awal nāmarūpa-nirodha: ambruknya gagasan “siapa aku”, seperti tubuh bayangan yang kehilangan mataharinya. Dalam gelap gua itu ia menyaksikan semua identitas meluruh seperti serpih es yang dikembalikan ke bentuk asalnya: air, lalu uap, lalu lenyap. Ia merasa dirinya seperti nebula yang terbakar perlahan, membiarkan amarah, dendam, nafsu, dan memori lama menguap satu per satu seperti partikel materi yang gagal bertahan di tepi lubang hitam batin. Di situlah saṃnyāsa membuka pintunya— pencerahan gelap, bukan terang: kesadaran yang lahir dari kehancuran total, bukan dari kejernihan. Ia melihat kebenaran yang tak ingin dilihat siapa pun: bahwa “aku” hanyalah getaran singkat di permukaan vakum yang tak berhingga, bahwa segala penderitaan berakar pada keinginan mempertahankan sesuatu yang tak pernah eksis. Butir air yang ia minum adalah doa pertama. Tetesan batu adalah doa kedua. Sunyi adalah doa ketiga— dan ketiganya tidak ia tujukan kepada siapa pun, sebab tak ada subjek, tak ada objek, tak ada pemohon. Hanya kesunyian yang berdoa kepada dirinya sendiri. Waktu runtuh menjadi debu; ia tak lagi tahu apakah ia meditasi satu jam, atau seribu tahun. Jam pasir batinnya pecah, membiarkan butiran waktu tersebar tanpa arah. Dalam kehampaan itu ia menjadi monolit yang sadar: tak bergerak, tak bereaksi, tak menolak, tak menginginkan. Ia tidak lagi menjadi manusia. Ia tidak menjadi dewa. Ia tidak menjadi apa pun. Ia menjadi kekosongan yang menyaksikan dirinya sendiri, tanpa saksi, tanpa penonton, tanpa pemeran. Ia memasuki keadaan di mana kelahiran dan kematian tidak lagi bermusuhan, melainkan dua sisi dari pintu yang sama— pintu yang kini ia lewati tanpa meninggalkan jejak bayangan. Diam. Ajek. Tak terlahirkan. Tak terpikirkan. Tak memiliki inti. Tak memiliki akhir. Ia menjadi kesunyian purba tempat segala ilusi berakhir. (November 2025)
Titon Rahmawan
Kita Telah Menjadi Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu? Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga. Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu? Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana. : Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu. Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya. Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas. Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan. Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu? Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu. Mendadak saja kau merasa; Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri. Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati. Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu? Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca; Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal. Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal. Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal. Kita telah menjadi bukan siapa-siapa. Oktober 2025
Titon Rahmawan
PANGKUR : (Fragmentarium 20 Tikaman Sunyi) 1 Petir sumbang. Langit menegang, pelat baja dipalu dari sisi terdalamnya. 2 Hujan turun cairan asam: mengikis mata wajah tinggal topeng tanpa riwayat. 3 Dunia: arca yang disembah oleh bayang-bayang sendiri. Kesadaran: batu yang tak lagi mengingat wujudnya. 4 Musim menggeram. Setiap butir air menyimpan dendam yang tidak meminta ampun. 5 Manusia menelanjangi nama sendiri. Makian. Ancaman. Pisau tersembunyi di sela sendi. 6 Belati membelah tanah. Anak Adam melukail tidak membunuh, hanya memastikan yang lain masih berdarah. 7 Kemanusiaan menjadi kabut: ruh melayang, mencari raga yang hilang. 8 Abu menyelimuti wajah. Rambut kaku berdiri kawat meregang luka. 9 Nyeri merayap ke dasar tengkorak, seperti kawanan semut tersesat di rongga telinga. 10 Genderang perang bertalu. Langit menganga— menelan semua gerhana. 11 Di tanah ini, mimpi mati terlebih dulu. Merpati jatuh tertembak peluru gagal mengirim pesan. 12 Hujan tidak bernyanyi. Cuaca patah. Waktu terbelah. Bumi mengerut menjadi bangkai di paruh gagak. 13 Dubuk mencabik serpihan nama. Sejarah runtuh sebelum sempat ditulis. 14 Duri menajamkan bulu mata. Setiap helai rambut menghitung hari kematian dengan ketelitian seorang algojo. 15 Isak terperangkap, ruang tak mengenal waktu. Jerit menjadi kubur, cat mengelupas di dinding bunker. 16 Manusia lelah mencari nama. Nama lelah mencari manusia. 17 Peradaban tenggelam tanpa suara. Jelaga menggambar kerangka kota yang lupa asal-usulnya. 18 Siluet hantu melintas sunyi dengan mata menyala, bukan karena amarah— hanya tak punya tempat untuk kembali. 19 Mawar diinjak tanpa ritual. Tanpa pamit. Tanpa air mata. 20 Sunyi pecah. Waktu retak. Detak berhenti lalu diam, seperti kerikil kehilangan gravitasi. Desember 2025
Titon Rahmawan
PANGKUR: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca Langit pecah. Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia. Air turun tanpa ampun—bukan hujan, melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak. Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah yang tak sanggup lagi membentuk doa. Di sela retakan tanah, ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan, atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita. Air melesat dari segala penjuru seperti pemburu mengejar mangsa, melumpuhkan harapan, ingatan, kemanusiaan. Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran: sebagai kadar yang tak tertanggungkan. Air mata membeku seperti tulang tua. Jalan tenggelam dalam dendam. Setiap langkah memantulkan gema dari sesuatu yang lama mati, tapi belum selesai dikuburkan: hutan ingatan. Rimbun cahaya bergulung seperti batang kayu terpenggal di bawah cahaya yang dingin. Angka mengambang ratusan jumlahnya serupa wajah-wajah saling melewati tanpa saling mengenal, seolah mata mereka terbuat dari beling yang baru saja diangkat dari perut api. Ribuan gergaji jatuh di tanah. Tak ada suara. Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi, menyentuh dengkul manusia yang tiba-tiba ingin runtuh. Kata-kata saling menikam di layar kaca tanpa niat, tanpa dendam pribadi. Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua, terlalu lama menunggu belas kasihan dari langit yang kini berlubang sebesar telapak tangan raksasa. Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi. Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur. Manusia berjalan seperti bangkai yang belum selesai dikremasi, menyisakan bau asin kemanusiaan yang remuk. Segala keegoisan berhamburan di jalan: orang-orang saling mendahului, saling memotong napas, berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada. Kedunguan merayap di ubun-ubun seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang. Ada bayi diangkat dari air— suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan. Ada ibu yang memeluk nama anaknya tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya. Di kejauhan, seekor anjing berdiri di atas atap rumah— matanya merah, bukan karena marah, tapi karena dunia telah menolak mengenangnya. Mawar liar terhanyut di selokan: keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa. Air melahap kelopaknya secepat manusia melupakan peristiwa. Bau bangkai menyelinap ke bulu mata. Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua yang tak pernah berhasil ditebus oleh siapa pun. Meraba denyut lirih paru-paru bumi yang tersengal seperti ingin berhenti bernapas. Baru menyadari— yang tenggelam bukan hanya tubuh, melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia. Desember 2025
Titon Rahmawan
DURMA: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca Langit pecah. Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia. Air turun tanpa ampun—bukan hujan, melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak. Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah yang tak sanggup lagi membentuk doa. Di sela retakan tanah, ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan, atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita. Air melesat dari segala penjuru seperti pemburu mengejar mangsa, melumpuhkan harapan, ingatan, kemanusiaan. Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran: sebagai kadar yang tak tertanggungkan. Air mata membeku seperti tulang tua. Jalan tenggelam dalam dendam. Setiap langkah memantulkan gema dari sesuatu yang lama mati, tapi belum selesai dikuburkan: hutan ingatan. Rimbun cahaya bergulung seperti batang kayu terpenggal di bawah cahaya yang dingin. Angka mengambang ratusan jumlahnya serupa wajah-wajah saling melewati tanpa saling mengenal, seolah mata mereka terbuat dari beling yang baru saja diangkat dari perut api. Ribuan gergaji jatuh di tanah. Tak ada suara. Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi, menyentuh dengkul manusia yang tiba-tiba ingin runtuh. Kata-kata saling menikam di layar kaca tanpa niat, tanpa dendam pribadi. Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua, terlalu lama menunggu belas kasihan dari langit yang kini berlubang sebesar telapak tangan raksasa. Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi. Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur. Manusia berjalan seperti bangkai yang belum selesai dikremasi, menyisakan bau asin kemanusiaan yang remuk. Segala keegoisan berhamburan di jalan: orang-orang saling mendahului, saling memotong napas, berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada. Kedunguan merayap di ubun-ubun seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang. Ada bayi diangkat dari air— suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan. Ada ibu yang memeluk nama anaknya tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya. Di kejauhan, seekor anjing berdiri di atas atap rumah— matanya merah, bukan karena marah, tapi karena dunia telah menolak mengenangnya. Mawar liar terhanyut di selokan: keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa. Air melahap kelopaknya secepat manusia melupakan peristiwa. Bau bangkai menyelinap ke bulu mata. Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua yang tak pernah berhasil ditebus oleh siapa pun. Meraba denyut lirih paru-paru bumi yang tersengal seperti ingin berhenti bernapas. Baru menyadari— yang tenggelam bukan hanya tubuh, melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia. Desember 2025
Titon Rahmawan
MALIN (Melayu - Arkais) V. Kedatangan dan Pengingkaran Kini di tepian pantai ini, betapa perih runtih bola mata sang bunda. Terpatah janji si anak mufrad, dilerai tanti perawan putri bangsawan. Betapa dalam retak karat di likat palat, simpul keramat wajah anak rembulan yang cuma berdiri angkuh di atas gelamat? Ia yang enggan menyebut laif pasir pantai dan bahkan menolak menyapa nama bundanya. Selalu ada setampuk luka di tajuk baka mata kita. Seperti kelopak tunjung yang basah diorak ingkar ludah kata-kata dan tanah basah yang kelesah disesah korenah. Perangai laut yang mengambang risau dihantam kayau akar bakau. Betapa galau hati sesungguhnya, ia ingin pulang kembali kepada pohon yang dulu pernah ia jadikan rumah, atau bumi tempat bermuara air mata. Air matamulah itu ibu! Ia anak gadang semata wayang, yang entah mengapa tak juga Iekas beranjak dewasa, menggali leka buaian duka pada renta raga sang bunda. VI. Kutuk Pastu Ibu dan Cinta yang Hilang Seludang hatimu berasa ingin turun melaut, mencari serpih cangkang tutut di akar rumput dan sejumput temali butut tempat bertaut pilu hati di jantung maut. Bukankah ia telah mencabarkan hatimu wahai ibu? Maut turut bersama angin dan hujan badai, atau apapun yang datang dan pergi bersama dirinya. Senja yang hadir meIarap waktu, cuaca tak tentu, detak ragu di jantung batu. Di situ, pada rahimmu, bertelut jasad sang maut. Maut anakmu. Matanya yang gentar lagi gelisah, tangisnya yang basah, mendekap erat pada resam tubuh yang sebentar lagi mendingin. Sedingin batu. VII. Sesal yang Datang Terlambat Saat peniti menolak semat kismat jantung hikmat. Langit datang bertandang untuk merengkuh keruh geruh jiwanya. Hingga untuk penghabisan kali, ia menghamburkan rupa-rupa kata sesal dan mohon ampun dari kelu bibirnya. Kau yang menciptakan kasidah cinta dari rahimmu yang paling ibu. Ketika kau menolak menjadi tuhan bagi anakmu sendiri. Untuk telur badi buaya yang susah payah engkau tetaskan, namun kau sayangi melebihi dirimu sendiri. Seumpama bayang-bayang mara yang paling lintuh atau malah mungkin yang paling jatuh. Tuhfah yang dulu pernah kau anggap berharga, ternyata cuma kelompang telur tembelang. Serupa batu rapuh tempat kini ia bernaung. VIII. Epilog Ibu Hingga habis air matamu menjemput lembayung langit lazuardi, sayap-sayap awan pengarak hujan dan paras rupawan sang insan kamil. Berkeras hati mencari lindungan pada selimut mutaki itu, yang membalut tubuhmu dengan cinta yang teramat maha. Yang tak mungkin kau kata dengan sembarang laknat atau kutuk pastu. Sementara risau hati dipaksa mafhum, betapa cinta tak mungkin hanya sebatas cerita atau tautan kisah yang sunyi: Duh Malin, betapa sungguh kejam rajam hatimu atas debu di kepala ibu. Januari 2014 (Rekonstruksi)
Titon Rahmawan