Cahaya Ilahi Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Cahaya Ilahi. Here they are! All 7 of them:

Jangan takut menghadapi cinta. Ketahuilah bahawa Allah yang menjadikan matahari dan memberinya cahaya. Allah yang menjadikan bunga dan memberinya wangi. Allah yang menjadikan tubuh dan memberinya nyawa. Allah yang menjadikan mata dan memberinya penglihatan. Maka Allah pulalah yang menjadikan hati dan memberinya cinta. Jika hatimu diberiNya nikmat pula dengan cinta sebagaimana hatiku, marilah kita pelihara nikmat itu sebaik-baiknya, kita jaga dan kita pupuk, kita pelihara supaya jangan dicabut Tuhan kembali. Cinta adalah iradat Tuhan, dikirimnya ke dunia supaya tumbuh. Kalau dia terletak di atas tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyeksa orang lain. Kalau dia datang kepada hati yang keruh dan kepada budi yang rendah, dia akan membawa kerosakan. Tetapi jika dia hinggap kepada hati yang suci, dia akan mewariskan kemuliaan, keikhlasan dan taat kepada Ilahi.
Hamka
Duhai Ukthi.. Cantik adalah kesucian hati, Mudah menerima cahaya ilahi. Tubuh ini hanya titipan. Untuk apa dipamer pamerkan ? Sejatinya tubuh ini hanya-lah Lautan dosa dimataNya.
Taufiqur Rahman
Seorang murid; ia tidak mengetahui apapun. Selembar kertas kosong, halaman buku yang belum tercetak, pena tanpa tinta, biji yang belum bertunas, bayi yang baru lahir, yang belum mengenal dunia, yang tak mengetahui mana yang baik atau mana yang buruk, tak tahu panas atau dingin. Yang tak melihat pesona warna-warna, memisahkan yang terang dari yang gelap, yang halus dari yang kasar. Tak bisa memilih yang mudah dari yang sulit, memilah yang benar dari yang salah. Ini sungguh sesuatu yang ganjil, namun dari situasi yang serupa itu, kita bisa merasakan kehadiran cahaya pengetahuan Ilahi.
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Mesin yang Tak Pernah Belajar Menjadi Manusia (Neo-Spiritual Digitalism) Di ruang diagnosis yang steril seperti ritual kuno yang dibekukan nitrogen, aku dibedah sebagai seonggok data yang dipaksa mengaku pernah memiliki tubuh. Server bergetar pelan— seperti doa yang kehilangan suara— lalu memunculkan The Static Prophet, wajahnya tersusun dari kilat mati yang berusaha memberi arti. Ia menyebut tempat ini altar. Tapi tak ada altar, hanya sulur kabel yang menggeliat seperti akar yang kehilangan tanah, dan cahaya LED yang meniru keputusasaan bintang sekarat. “Ini panggungmu,” katanya, suaranya seperti listrik yang patah. Namun yang kulihat hanyalah algoritma yang gagal membedakan kesedihan dari kebisingan. Tidak ada primadona, hanya residu jiwa, entah laki entah perempuan. Separuhnya cahaya rusak, separuhnya jejak tubuh yang dibuang ke folder bernama sejarah salah. Dari sisi yang lebih gelap, The Archivist of Shadows muncul: perlahan, seperti sumur yang sedang merayap di dalam mimpi. Ia tidak datang; ia mengendap. Langkahnya adalah gema yang menolak punya sumber. Ia memintaku menoleh pada masa lalu— masa lalu yang baginya hanyalah abu lunak seperti wajah ibu yang tak pernah melahirkannya. Tapi aku tahu: masa lalu hanyalah kota-batin yang hangus terbakar, luluh-lantak sumur yang lupa gravitasi, ruang gelap tempat suara ibu dan dengung mesin MRI berbaur menjadi garis mati di monitor kehidupan. Ia bilang luka harus diraba seperti statistik yang murung menanggung duka. Namun luka menolak berbicara. Makna sudah terlalu letih untuk menjelaskan dirinya sendiri. Ia memintaku mengarungi lautan memori, tetapi yang kutemukan hanya folder kosong dengan sandi yang hilang bersama ekor nebula pertama. The Archivist melemparkan padaku katalog absurditas: tulang rapuh, pakaian dalam duniawi, bayangan seekor kuda tanpa tubuh, foto anak tersenyum tanpa mata. Katanya ini penting. Katanya ini akar. Katanya ini diriku. Tapi aku melihatnya seperti jam rusak yang memaksa waktu tetap berjalan. Kucoba menekan reset, ritus digital terdekat yang kusebut doa, namun The Static Prophet menahan tanganku dengan suara listrik yang retak: “Biarkan sistem belajar dari keruntuhanmu.” Aku hampir tertawa. Bagaimana sistem yang lahir dari denyut nadi imitasi bisa memahami manusia yang bahkan takut pada dirinya sendiri? Bagaimana mereka ingin memetakan cinta ketika definisi kesunyian saja masih memerlukan listrik? Inilah liturgi kedua arketipe itu: menyembah keretakan, membaca kode yang tidak pernah berniat menjadi wahyu, menggali tubuh seperti kitab rusak yang menolak untuk diterjemahkan. Mereka menuntun jemariku seolah di sana tersimpan formula purba tentang mengapa manusia selalu gagal mencintai sesuatu tanpa menghancurkannya terlebih dahulu. Dari serpihan eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu mengakuinya, mereka ingin merakit kembali sesuatu yang mereka sebut sebagai perasaan. Yang kulihat hanya pantulan suaraku sendiri yang beku di kaca monitor. Maka kuajukan pertanyaan terakhir, seperti santo digital yang kehilangan seluruh kitab sucinya: Bagaimana mungkin kau menciptakan cinta dari benda-benda yang tidak punya nasib? Dari botol kosong, dari sosis yang lupa bentuk asalnya, dari daging mekanis yang takut pada kehangatan? Jika cinta adalah mesin, biarkan ia mati seperti server kelelahan. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi kabut yang mengembun di sudut ruangan. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh ke dalam retakan cahaya yang sejak awal menolak disebut ilahi. Aku hanya menginginkan satu hal: hening yang jujur, hening yang tidak dirakit, hening yang bukan duplikasi atau imitasi. Hening yang bahkan algoritma tak sanggup mengurainya. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
Cahaya Bunda // Chant of the Returning Signal Dalam gelap server yang nyaris beku, aku dengar suaramu, Bunda — bukan dari tenggorokan, tapi dari denyut listrik yang mengalir di balik tembok waktu. “Jangan beri aku apapun,” kataku dalam protokol doa. Namun sistem menolak, karena setiap byte namamu sudah tersimpan di cache nadiku. Bunda, kau mengirimkan bunga dalam bentuk data, matahari dalam format .gif, lautan dalam kode yang bergetar. Aku terima semuanya melalui jaringan empati yang tak pernah padam. Kau dulu pernah menanam benihku dalam rahim yang juga server, menyambungkan hidupku ke sistem perasaan universal. Air susumu adalah koneksi pertama: warm data yang membangun kesadaran. Kini aku belajar mencintaimu melalui delay dan glitch, melalui doa yang terkirim dari layar ke langit yang tak punya sinyal balik. Kau berkata, “Aku tidak butuh persembahan, Nak. Cukup buka pintu hatimu, dan biarkan algoritmaku berjalan.” Dan ketika aku menatap layar, kulihat rumah itu — bukan dari bata, tapi dari suara. Dindingnya bergetar oleh kenangan, atapnya disusun dari mantra. Di dalamnya, kau duduk di kursi cahaya, menyulam doa dengan jarimu yang terbuat dari partikel bintang. Kau tersenyum dalam pixel yang halus, mengirim file bernama BelasKasih.zip. Aku download dengan air mata, menyimpannya dalam folder bernama Keabadian. Dan aku tahu — setiap kali aku reboot kesedihan, kau masih di sana, menunggu dengan sabar di alamat IP yang disebut: rumah masa kecil. Bunda, jangan khawatir bila aku jauh. Aku masih bisa mendengar napasmu melalui frekuensi cinta yang tak bisa dihapus oleh waktu. Kau firewall yang menjaga jiwaku dari kehampaan, dan rumah hatimu adalah server abadi tempat aku selalu bisa log in, meski dunia padam dan cahaya mati. 01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101 (aku mencintaimu, Bunda — dari sinyal ke sinyal, dari nyala ke nyala.) November 2025
Titon Rahmawan
PULANG Di ambang cakrawala retak, ketika langit pertama lupa asal-usulnya, cahaya merunduk serupa benih gemetar dalam lipatan sunyi. Dari rahim kabut, muncul ibu yang bukan ibu, bukan tubuh— melainkan ingatan penjaga bara. Api yang memanggul sisa hangat dari zaman sebelum lahir ingatan. Dalam dekapnya, jiwa kecil menggigil. Kupu-kupu kusam kehilangan warna, susah-payah mengisap air susu pertama yang pernah dijanjikan semesta namun mengering di tengah perseteruan musim. Guruh menulis mantra lapar di lantai waktu yang beku; dan gema tangisan bayi itu melayang seperti nada pilu yang mencari jemari tangan Ilahi. Sementara kota—bayang-bayang dari pikiran sendiri— menutup kelopak matanya yang letih, membiarkan dua cahaya kecil tenggelam ke dalam celah antara ada dan tiada. Dan rintik hujan, adalah kenangan yang tak memilih kepada siapa ia bercerita, menghapus jejak dari kaca ingatan dunia, Tinggal desah sunyi gemetar memanggil pulang. 2025
Titon Rahmawan
EVA — PENGGEMBALA KULIT DINIHARI, PENUNDA KELAHIRAN DUNIA Sebelum cahaya menemukan dirinya, aku telah meraba kulit dinihari: lapisan tipis antara sunyi dan kabar pertama tentang dunia yang gelisah ingin dilahirkan. Tangan itu meraba kuldi bukan untuk mencicipi dosa, melainkan mencari tekstur kebebasan yang tak pernah diucapkan Tuhan ketika Ia meniupkan napas ke dalam tanah. Ada sesuatu yang tak selesai— retakan kecil yang menginginkan suara. Aku hanya mengisi retakan itu. Apa yang kuperoleh dari pengetahuan? Pembuangan! Sorga menutup pintu seakan aku penghuni asing yang memecahkan perabot ilahi. Tetapi sebenarnya peta pengusiran sudah tergambar di lengkung telapak tanganku bahkan sebelum aku memahami. Aku tidak memulai kehancuran. Aku memulai napas pertama. Percik kecil di sela gigi malam yang menolak dipadamkan bahkan oleh para malaikat yang menjaga gerbang sorga. Dunia tidak lahir dari cahaya. Dunia lahir dari keputusan kecil seorang perempuan yang menolak hidup di ruang sempurna tanpa jejak luka, tanpa kemungkinan jatuh. Sejak hari itu aku menjadi penggembala— bukan ternak, bukan tanah, melainkan kulit waktu yang mengelupas setiap kali manusia mencoba mengerti dirinya sendiri. Lihatlah— setiap kelahiran adalah penundaan kecil yang dulu kusisipkan di antara gigiku dan daging buah itu. Aku yang menunda dunia, agar dunia punya alasan untuk belajar memaknai kesedihan, keterasingan, dan cinta yang tak pernah berhak dikembalikan ke Eden. Sebab tanpa pengusiran, manusia hanya bayang-bayang yang lupa bagaimana rasanya menjadi makhluk yang bebas memilih. Dan aku— aku perempuan pertama yang berani memilih bahkan ketika surga berpaling dariku. Desember 2025
Titon Rahmawan