Anak Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Anak. Here they are! All 100 of them:

β€œ
Sama juga kalau untuk contoh lelaki. Kalau baca Al - Quran hari-hari, tapi main bola nampak kepala lutut,tak cukup balik lagi.Atau kalau solat lima waktu sehari semalam tapi pegang tangan anak dara orang bukan mahram sesuka hati, tu belum cukup baik lagi.
”
”
Hlovate (Versus)
β€œ
Dalawang dekada ka lang mag-aaral. Kung di mo pagtitiyagaan, anak, limang dekada ng kahirapan ang kapalit. Sobrang lugi. Kung alam lang iyon ng mga kabataan, sa pananaw ko e walang gugustuhing umiwas sa eskwela.
”
”
Bob Ong (Macarthur)
β€œ
Pernah kudengar orang kampung bilang : sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations (Buru Quartet, #2))
β€œ
Dalam dekapan ukhuwah, kelembutan nurani menuntun kita untuk menjadi anak Adam sejati; memiliki kesalahan, mengakuinya, memperbaikinya, dan memaafkan sesama yang juga tak luput dari khilaf dan lupa...
”
”
Salim Akhukum Fillah (Dalam Dekapan Ukhuwah)
β€œ
Anak kijang loncat berlari. Senang bermain di padang ilalang. Dasar kau seorang pencuri. Mencuri hatiku bukan kepalang.
”
”
Tere Liye (Eliana)
β€œ
Mungkin aja lo pikir, anak-anak dari keluarga miskin itu menderita. Tapi siapa tahu, mereka justru lebih bahagia daripada kita karena mereka nggak terikat materi.
”
”
Lexie Xu (Pengurus MOS harus Mati)
β€œ
Jangan berharap dunia yang berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. Ingat anak-anakku, Allah berfirman, Dia tidak akan mengubah nasib sebuah kaum, sampai kaum itu sendirilah yang melakukan perubahan. Kalau kalian mau sesuatu dan ingin menjadi sesuatu, jangan hanya bermimpi dan berdoa, tapi berbuatlah, berubahlah, lakukan saat ini. Sekarang juga!
”
”
Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara)
β€œ
Di sekolah, anak-anak belajar bahasa Indonesia, tetapi mereka tak pernah diajar berpidato, berdebat, menulis puisi tentang alam ataupun reportase tentang kehidupan. Mereka cuma disuruh menghafal : menghafal apa itu bunyi diftong, menghafal definisi tata bahasa, menghafal nama-nama penyair yang sajaknya tak pernah mereka baca.
”
”
Goenawan Mohamad (CATATAN PINGGIR 3)
β€œ
Panggilan 'ayah' dari anak-anak, ketika si buruh pulang dari pekerjaannya, adalah ubat duka dari dampratan majikan di kantor. Suara 'ayah' dari anak-anak yang berdiri di pintu, itulah yang menyebabkan telinga menjadi tebal, walaupun gaji kecil. Suara 'ayah' dari anak-anak, itulah urat tunggang dan pucuk bulat bagi peripenghidupan manusia.
”
”
Hamka (Cermin Penghidupan)
β€œ
Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia Mereka yang menuntut perubahan Mereka yang menciptakan perubahan Silakan pilih perjuanganmu.
”
”
Pandji Pragiwaksono (NASIONAL.IS.ME)
β€œ
Sekolahpun keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan.
”
”
Goenawan Mohamad (CATATAN PINGGIR 2)
β€œ
Anak-anak saya kelak akan tumbuh di lingkungan tertentu. Bukankah seharusnya saya juga ambil bagian dalam mempersiapkan lingkungan yang akan tumbuh bersamanya?
”
”
Helvy Tiana Rosa (Risalah Cinta)
β€œ
Kamu hebat,” decaknya, β€œitu memang keajaiban. Saya bisa merasakan, anak-anak tadi nyaman banget dengan diri mereka sendiri. Kamu berhasil memancing karakter mereka keluar. Mereka jadi percaya diri, punya harga diri. Punya kebanggaan
”
”
Dee Lestari (Perahu Kertas)
β€œ
Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.
”
”
Anies Baswedan (Indonesia Mengajar)
β€œ
Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.
”
”
Hamka (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck)
β€œ
Anak-anakku, ilmu bagai nur, sinar. Dan sinar tidak bisa datang dan ada di tempat yang gelap. Karena itu, bersihkan hati dan kepalamu, supaya sinar itu bisa datang, menyentuh dan menerangi kalbu kalian semua.
”
”
Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara)
β€œ
Wahai anak, kamu mungkin lebih bijak dari kami, tetapi kamu tidak mungkin dapat mengatasi kasih seorang ibu dan napa. Kamu menyayangi kami selepas kamu bijak, tetapi kami mengasihi kamu sebelum kami lahir
”
”
Hasrizal Abdul Jamil
β€œ
Kaya nga sa fairy tale, lagi na lang sinasabing 'and they live happily ever after' kasi hindi maikwento ano talaga ang naging ending. Nung magpakasal ang prinsesang maganda sa isinumpang prinsipe na naging palaka na bumalik uli sa pagiging gwapo ng prinsipe(matapos mahalikan), hindi pa naman ending yun. Kalagitnaan pa lang ng buhay nila yun. Ilan ang anak nila? Nanganak kaya ang prinsesa ng butete? Ano ang nangyari sa kanila nung tumanda sila? Sino ang unang namatay? kahit nga ang buhay sa mundo, matapos di umano ang katapusan ng mundo, magsisimula uli ang tao sa bagong paraiso. Wala pa ring closure.
”
”
Eros S. Atalia (Ligo Na U, Lapit Na Me)
β€œ
Saya mimpi tentang sebuah dunia dimana ulama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata, β€œstop semua kemunafikan ! Stop semua pembunuhan atas nama apapun.. dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkatan gandum, susu, dan beras buat anak-anak yang lapar di 3 benua, dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun..dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
”
”
Soe Hok Gie
β€œ
Tapi kitalah masa depan kanak kanak yang harus menjalin airmata negeri menjadi cahaya
”
”
Abdurahman Faiz (Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil)
β€œ
Sama juga kalau untuk contoh lelaki. Kalau baca Al-Qur'an hari-hari, tapi main bola nampak kepala lutut, tak cukup baik lagi. Atau kalau solat lima waktu sehari semalam tapi pegang tangan anak dara orang bukan mahram sesuka hati, tu belum cukup baik lagi.
”
”
Hlovate (Versus)
β€œ
Menjadi panutan bukan tugas anak sulung-kepada adaik-adiknya, tapi tugas orang tua kepada semua anak
”
”
Adhitya Mulya (Sabtu Bersama Bapak)
β€œ
Ibu mana pun, yang baik atau buruk, tetap terluka ketika anaknya dicela. Meski celaan itu tidak salah, dan juga bukan fitnah. Tetapi tali pusar anak dari ibunya hanya diputus oleh sebilah gunting dunia. Di antara mereka berdua ada pertalian abadi, yang bahkan oleh seorang ayah pun tak bisa dipahami
”
”
Leila S. Chudori (Pulang)
β€œ
Kekasihku jangan bersedih tidurlah dan bermimpi, kenegeri kehamparan, kehampaan.. Kasih, Kenegeri Kehamparan, Kehampaan.. Tawa canda. Dan Biar kelak anak-anak mu kan percaya bualan Mu, jangan kau bersedih.....Pada Sebuah Ranjang
”
”
Sujiwo Tejo
β€œ
Kakek apakah cinta sesejuk air sungai ini?" "Ya. Cinta sejati memang seperti air sungai, sejuk menyenangkan, dan terus mengalir. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti. Semakin lama semakin besar karena semakin lama semakin banyak anak sungai yang bertemu. Begitu juga cinta, semakin lama mengalir semakin besar batang perasaannya." "Kalau begitu ujung sungai ini pasti ujung cinta itu?" "Cinta sejati adalah perjalanan, Sayang. Cinta sejati tak pernah memiliki tujuan.
”
”
Tere Liye (Berjuta Rasanya)
β€œ
Anak-anakku. Ini akan jadi tahun tersibuk dan terbaik kalian. Kami yakin kalian mampu menjalankannya. Mulailah dengan bismillah dan selalu amalkan man jadda wajada.
”
”
Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara)
β€œ
Bangsa yang korup bukan karena pendidikan formal anak-anaknya yang rendah,tetapi karena pendidikan moralnya yang tertinggal, dan tidak ada yang lebih merusak dibandingkan anak pintar yang tumbuh jahat.
”
”
Tere Liye (Ayahku (Bukan) Pembohong)
β€œ
Anak-anak muda jaman sekarang itu lucu dan agak susah dimengerti. Mereka cukup bersemangat membuat berbagai macam proposal untuk kegiatan organisasi yang mereka ikuti. Tapi proposal hidup yang berisi visi dan strateginya meraih mimpi, justru lupa mereka buat sendiri.
”
”
Lenang Manggala, Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia
β€œ
Bukankah semua anak punya hak untuk bertanya?
”
”
Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang, Saya Monyet!)
β€œ
Anak muda adalah kegelisahan derap langkahnya adalah perubahan.
”
”
E.S. Ito (Negara Kelima)
β€œ
Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)
”
”
A. Makmur Makka, dkk. (Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat)
β€œ
A: Oy! Oy! Oy ba't sumisingit 'yan ha?! Hoy! Mahilig ka ba sa singit? Hoy! B: Hwsht! Pabayaan mo na, tsong... Big time 'yan eh... 'Wag mo na anuhin. Nanay n'yan senador, erpat n'ya general, kapatid n'ya kongresman, kapitbahay nila meyo -- A: Pwes ako anak ng Diyos! Tatay ko Poong Maykapal at utol ko si Hesukristo!! Ano?! Ha?!
”
”
Manix Abrera (Alab ng Puso sa Dibdib Mo'y Buhay! (Kikomachine Komix, #5))
β€œ
Sebagai perempuan Indonesia yang lama tinggal di Jerman, mendiang Ibu Ainun merupakan inspirasi bagi saya, juga bagi banyak perempuan Indonesia di Eropa. Penampilannya sederhana namun sempurna. Mengurus rumah tangga sendiri, masak sendiri, mendorong suami berkarier, bahkan kadang menyopiri ke kantor, mengantar anak-anak sekolah, merawat ketika sakit, membesarkan mereka hingga mengantarkan mereka menjadi orang-orang sukses.
”
”
A. Makmur Makka, dkk. (Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat)
β€œ
PESAN SEORANG AYAH KEPADA ANAK LELAKI: Kau harus berani mengatakan "tidak" untuk yang salah dan "ya" untuk yang benar. Kau harus melindungi martabat rumahmu dengan menjaga saudara-saudara perempuanmu dan ibumu. Kau harus berani melindungi yang tertindas. Dan jika kau berkeluarga nanti, kau sudah mati sebagai lelaki, tapi kau berganti menjadi suami dan ayah. Kau harus selalu pulang ke rumah dan mengabdi kepada istri dan anak-anakmu. Kau harus bekerja dan menafkahi mereka. Kau harus jadi ayah dan suami yang bisa menjaga kehormatan mereka.
”
”
Gola Gong (Aku, Anak Matahari: Sebuah Memoar Pendidikan Keluarga yang Impresif)
β€œ
Itulah salah kaprahnya beberapa kalangan. Mereka siap untuk menikah, siap punya anak, tapi tidak disiapkan untuk membesarkan anak. Apa gunanya punya banyak anak, tapi tidak dibesarkan untuk menjadi manusia-manusia yang terbaik dan bermanfaat. (Ustad Fariz)
”
”
Ahmad Fuadi (Rantau 1 Muara)
β€œ
Anak-anak kita, bukan pengorbanan saya. Mereka, pemberian.
”
”
Adhitya Mulya (Sabtu Bersama Bapak)
β€œ
Kekuatan yang kita miliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti: Tuhan tahu bahwa kita telah berusaha melawannya.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations (Buru Quartet, #2))
β€œ
Tulisan tertinggal, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, menginspirasi anak, cucu, buyut.... Lalu, lahirlah petualang-petualang muda, yang menggenggam tulisan warisan kuno laksana nubuat, melakukan napak tilas dan melihat kembali bagaimana zaman berlayar.
”
”
Agustinus Wibowo (Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah)
β€œ
Kenangan perlu ada dalam hidup untuk dikenang, ditertawakan dan menjadi warisan ingatan kepada anak keturunam
”
”
Norhayati Berahim (Roti Canai Salad Taco)
β€œ
Tuhanku, jika aku berdosa kepada-Mu, mengapa hukumannya Kaulimpahkan kepada anak-anakku?
”
”
Mira W. (Jangan Pergi, Lara)
β€œ
setiap saat orang bisa minta ampun pada Tuhan, bila berdosa terhadap-Nya, dosa terhadap sesama manusia lain lagi, terlalu susah untuk mendapat ampun daripadanya. Tuhan Maha Pemurah, manusia maha tidak pemurah.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations (Buru Quartet, #2))
β€œ
Kadang-kadang kita perlukan drama dalam hidup untuk menambahkan rencah dalam cerita yang bakal kita ulang kepada anak cucu. Khir adalah "bunjut dalam sup" hidup aku ini, ia menambah rasa, namun bukan untuk ditelan!
”
”
Nurul Syahida (Plain Jane)
β€œ
engkaulah arakan awan-awan yang menjatuhkan hujan kesejukan akulah yang senantiasa menyimpan rintiknya mengalirkannya kedalam anak-anak sungai jiwa yang tenang
”
”
firman nofeki
β€œ
Anak perempuan tidak selalu harus bermain boneka dan anak lelaki tidak harus selalu bermain pistol. Menjadi maskulin bukan sesuatu yang membanggakan bagi rembulan, seperti halnya menjadi feminim tidaklah selalu memalukan bagi matahari.
”
”
Fauzan Mukrim (Mencari Tepi Langit)
β€œ
Tuhan ada, anak-anak, percayalah. Tapi jangan paksakan Tuhanmu pada orang lain; seperti juga jangan paksakan kemanusiaanmu pada orang lain. Manusia perlu manusia lain ... manusia harus belajar hidup dengan kesalahan dan kekurangan manusia lain.
”
”
Mochtar Lubis (Harimau! Harimau!)
β€œ
Siapa suruh kau pergi? Kau berdiri kat situ, tunggu sampai aku habis makan. Aku nak tunjuk kat anak kau betapa sedapnya makanan aku ni. Mesti budak cacat dalam perut kau tu, hari-hari makan nasi dengan air garam kan? Aku tau kicap pun dah habis, jangan berani kau nak mintak aku beli yang baru. Tak pasal-pasal botol kicap tu aku hentak kat kepala kau nanti.
”
”
Siti Rosmizah
β€œ
Cintanya melahirkan tekad untuk kehidupan yang lebih baik, untuk anak-anaknya. Agar anak-anaknya tidak melalui jalan hidup yang sama dengan jalan hidup yang telah ia lalui dahulu.
”
”
Iwan Setyawan (Ibuk,)
β€œ
Aku ingin menulis ini untuk Ibuk, Bapak, dan perjuangan mereka yang kokoh. Tangan kuat mereka telah membawa anak-anaknya ke tempat yang lebih indah.
”
”
Iwan Setyawan (Ibuk,)
β€œ
Hanya hati yang berdarah-darah sajalah yang mampu melihat cahayaNya" (kata-kata Syams kepada istrinya, Kimya, yang juga anak angkat Rumi)
”
”
Jalal ad-Din Muhammad ar-Rumi
β€œ
Ya Tuhan. Kenapa sih, aku mempunyai keluarga yang rasa penasaran dan ingin tahunya ngalahin anak tiga tahun ngeliat colokan listrik? --Edyta
”
”
Nina Ardianti (Fly to the Sky)
β€œ
Otak manusia itu ibarat gergaji anak-anak. Gergaji itu kalau lama tidak digunakan dan diasah maka akan senantiasa tajam.
”
”
Deasylawati P. (Pencuri Berambut Perak)
β€œ
Seperti pohon... Di pokok kita masih satu, lantas kita berpisah di cabang. Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan, ada yang terus ke atas, ada yang ke depan, ada yang ke belakang. Atau bilapun masih satu di cabang, kita nanti akan berpisah juga di ranting. Ke atas, ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang... Saat kita kecil dulu, kita masih satu, masih anak kecil. Lantas sedikit demi sedikit waktu kita bikin kita beda. Waktunya makin banyak, beda kita tambah banyak. Itulah kita.
”
”
Bubin Lantang (Jejak-Jejak (Anak-Anak Mama Alin))
β€œ
Bila seorang anak hidup dengan kritik,ia akan belajar menghukum.Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar kekerasan. Bila seorang anak hidup dengan olokan,ia belajar menjadi malu. Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, ia belajar merasa bersalah. Bila seorang anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Bila seorang anak hidup dengan keadilan,ia belajar menjalankan keadilan. Bila seorang anak hidup dengan ketentraman, ia belajar tentang iman. Bila seorang anak hidup dengan dukungan,ia belajar menyukai dirinya sendiri. Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan , ia belajar untuk mencintai dunia.
”
”
Dorothy Law Nolte (Children Learn What They Live: Parenting to Inspire Values)
β€œ
Ilmu adalah pijakan dasar dalam bertindak dan beribadah.Amal adalah anak tangga yang kedua,ilmu yang sudah diterima wajib ditunaikan.Dan puncak dari kedua anak tangga sebelmnya adalah takwa.
”
”
Khrisna Pabichara (Sepatu Dahlan)
β€œ
Cinta yang baik itu cinta yang secukupnya. Cinta yang baik itu, diperjuangkan berdua. Biarkan dia juga berjuang untukmu. Kamu juga, harus berjuang.
”
”
Mutia Prawitasari (Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan)
β€œ
Aku mungkin hanya musafir iseng tak punya tujuan? Apa yang kucari? Aku terpenjara oleh kantor, oleh keluarga, oleh orangtua dan mertua, oleh istri dan anak-anak. Tapi siapa bilang aku tak terpenjara oleh nafsuku sendiri, dan kecenderungan-kecenderungan sok mengejar apa yang abadi, tapi tak sadar telah kandas diatas segala yang fana?
”
”
Mohamad Sobary
β€œ
Enam puluh tahun kami menikah. Dua belas anak. Tentu saja ada banyak pertengkaran. Kadang merajuk diam-diaman satu sama lain. Cemburu. Salah-paham. Tapi kami berhasil melaluinya. Dan inilah puncak perjalanan cinta kami. Aku berjanji padanya saat menikah, besok lusa, kami akan naik haji. Kami memang bukan keluarga kaya dan terpandang. Maka itu, akan kukumpulkan uang, sen demi sen. Tidak peduli berapa puluh tahun, pasti cukup...Pagi ini, kami sudah berada di atas kapal haji. Pendengaranku memang sudah berkurang. Mataku sudah tidak awas lagi. Tapi kami akan naik haji bersama. Menatap Ka'bah bersama. Itu akan kami lakukan sebelum maut menjemput. Bukti cinta kami yang besar.
”
”
Tere Liye (Rindu)
β€œ
Organisasi-organisasi raksasa dengan momok birokrasi yang rumit terus berbicara tentang konsep-konsep dan solusi dalam "bahasa langit", sementara kaki mereka tak menjejak pada kehidupan akar rumput rakyat Afghan yang sebenarnya. Anak-anak jalanan masih saja bertebaran di mana-mana. Perempuan masih bersembunyi. Jalan masih berdebu. Rumah-rumah belum tersentuh listrik dan air.
”
”
Agustinus Wibowo (Selimut Debu)
β€œ
tak ubah nya hantu di keramaian, tatapannya, seolah berkata ; Setiap perlakuan, ada harga yang harus di bayar anak adam Walau tuntas pun tak kan membuat surga di hati para pendendam. . . . . #andradobing
”
”
andra dobing
β€œ
Dalam Genggamanmu, Ibuk Buku baru. Sepatu baru. Sekolah baru Untuk anak-anakmu Agar mereka merekah Kau bangun jembatan agar mereka tak melalui kali yang keruh Kau gendong jiwa mereka agar selalu hangat Kau nyalakan lentera hati mereka... Malam minggu kemarin. Kau tak hanya berjanji. Kau berikan napasmu Kau genggam anak-anakmu. Kau genggam erat. Di tanganmu yang halus, kau pastikan Mereka tidak terjatuh...
”
”
Iwan Setyawan (Ibuk,)
β€œ
Pekerjaan menjadi orang tua, khususnya ibu, merupakan salah satu pekerjaan klasik terberat dan tertua dalam sejarah umat manusia
”
”
Miranda Risang Ayu (Cahaya rumah kita: Renungan batin seorang ibu muda tentang anak, wanita, dan keluarga)
β€œ
Hujan itu bagus kalau jatuh. Kayak bintang kalau jatuh. Kayak daun kalau jatuh. Kenapa kita harus takut jatuh? Semua pasti pernah jatuh.
”
”
Mutia Prawitasari (Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan)
β€œ
dalam batas kita bebas
”
”
Mutia Prawitasari (Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan)
β€œ
Kalau anak laki-laki itu mementingkan diri sendiri, maka itu bukan salah mereka, itu terletak pada pendidikannya, mereka dibuat demikian. Mereka mendapat semuanya, boleh semuanya dan apa yang tidak mereka ambil, itu baik untuk anak-anak perempuan.
”
”
Raden Adjeng Kartini (Brieven aan Mevrouw R.M. Abendanon-Mandri en haar echtgenoot met andere documenten (Dutch Edition))
β€œ
Banyak sekali orang yang doyan kopi tiwus ini. Bapak sendiri ndak ngerti kenapa. Ada yang bilang bikin seger, bikin tentrem, bikin sabar, bikin tenang, bikin kangen... hahaha! Macem-macem! Padahal kata Bapak sih biasa-biasa saja rasanya, Mas. Barangkali, memang kopinya yang ajaib. Bapak ndak pernah ngutak-ngutik, tapi berbuah terus. Dari kali pertama tinggal di sini, kopi itu sudah ada. Kalau 'tiwus' itu asalnya dari almarhumah anak gadis Bapak. waktu kecil dulu, tiap dia lihat bunga kopi di sini, dia suka ngomong 'tiwus-tiwus' gitu," dengan asyik Pak Seno mendongeng. Filosofi Kopi
”
”
Dee Lestari (Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade)
β€œ
Banyak orang yang menilai bahwa anak-anak perempuan mereka akan bahagia jika bersuamikan pejabat kaya atau insyinyur software dari California. Itu keliru. Kau membutuhkan pria berkpribadian baik yang akan menghormati istrinya.
”
”
Farahad Zama (The Marriage Bureau for Rich People)
β€œ
Tersesatlah kita di jalan, tapi jangan tersesat di tujuan.
”
”
Mutia Prawitasari (Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan)
β€œ
Hati itu enggak memilih, enggak dipilih, tapi dipilihkan. Allah yang memilihkan.
”
”
Mutia Prawitasari (Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan)
β€œ
Ketika Ibuk menikah, ia dan Bapak hanya berbekal keberanian untuk menjalani hidup bersama. Mereka tidak memiliki perencanaan bagaimana membesarkan anak, di mana mereka akan tidur kelak, apalagi tentang gizi atau pendidikan. Sama sekali tidak terbersit di benak mereka.
”
”
Iwan Setyawan (Ibuk,)
β€œ
Orangtua seharusnya bisa memahami anak-anak, bukan sebaliknya. Jangan anak-anak yang dipaksa harus memahami orangtua. Anak-anak belum mengerti apa-apa, meskipun tentu saja harus kita berikan pemahaman.
”
”
Pidi Baiq (Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990)
β€œ
Pesan Nabi SAW saat di Mina itu patut kita renungkan untuk pendidikan anak-anak kita. Semuanya agar mereka kelak dapat meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Bukan meninggikan diri dengan menggunakan kalimat Allah." (Hal 33, Positive Parenting)
”
”
Fauzil Adhim
β€œ
Dan selama perjalanannya itu, ia jadi tahu- bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyanyangi lagi
”
”
Kate DiCamillo (The Miraculous Journey of Edward Tulane)
β€œ
Mungkin dia anak alay," kata Leila. "Anak alay kalau bikin Facebook namanya suka dihias-hias. Mungkin aja namanya Edyta Chayyankdiiaaclaaluu Muachmuach." Aku mengernyitkan alis dan menatap Facebook Leila. Namanya: Miss Leila MostBeautifulStewardessInTheWorld
”
”
Moemoe Rizal (Fly to the Sky)
β€œ
...pwede nga ring yung TV ang may sumpa. dahil ang TV, para ring drugs, pero ligal. isipin mo, bakit isa ito sa mga unang-unang ipinupundar ng mga Pilipino kahit gaano sila kahirap? kasi malaking tulong ang telebisyon para lumimot. para tumakas sa realidad. kahit mag-isa ka lang sa bahay, nababawasan ang lungkot kung may TV. nakakatanggal-buryong kung wala kang trabaho. mas entertaining kesa sa diyaryo, at mas accessible kesa sa sine. pwede rin itong tagapag-alaga ng mga anak mo. pwedeng ulam kung sakto lang ang budget pambili ng ng bigas. at pwedeng bintana kung parang bartolina lang ang tirahang tinutulugan ng mag-anak mo, dahil may magaganda itong lugar at magagandang tao. kumpleto sa sayawan, kantahan, tawanan, pantasya, at boksing. burado ang mga suliranin mo. pag sinuswerte ka, pwede ka pang manalo.
”
”
Bob Ong (Lumayo Ka Nga Sa Akin)
β€œ
Mereka bagaikan mata-mata pena yang menari di atas lemabaran kertas yang sama, lembaran kertas hitam. Dan hanya keberuntungan yang bisa membuat kertas itu menjadi abu-abu, karena tidak mungkin membuatnya menjadi putih bersih. Jejak hitam itu tetap ada di jalan hidup mereka. Bagi anak-anak seperti mereka, hidup benar-benar seperti mata dadu di meja judi.
”
”
Lan Fang (Perempuan Kembang Jepun)
β€œ
Syahdan, Presiden Sarkozy menghadiahkan komik Asterix kepada anak Presiden Obama. Saya tak tahu apa pesannya. Tapi mungkin ini: di dunia ini, nak, humor dan ironi lebih menyelamatkan kita ketimbang impian tentang kekuasaan dan keagungan… ~Majalah Tempo Edisi Senin, 18 Oktober 2010
”
”
Goenawan Mohamad
β€œ
Mungkinkah seorang anak yang cengeng dalam perkembangannya barang dua puluh tahun kemudian bisa berubah jadi penentang dan pelawan? Bisa. Penderitaan tak tertanggungkan bisa mengakibatkan tiga macam sikap: menyerah tanpa syarat, melawan, atau membiarkan diri hancur. Mulyati memilih melawan.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Perawan Dalam Cengkeraman Militer)
β€œ
Aku bangga menjadi seorang liberal, Tuan, liberal konsekwen. Memang orang lain menamainya liberal keterlaluan. Bukan hanya tidak suka ditindas, tidak suka menindas, lebih dari itu: tidak suka adanya penindasan ....
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations (Buru Quartet, #2))
β€œ
Boys fall in love with what they see. Girls fall in love with what they hear. But both with inner eyes. And their inner ears.
”
”
Mutia Prawitasari (Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan)
β€œ
Menemukan jodoh itu rumit, sejalan belum tentu seiman, seiman belum tentu setujuan, setujuan belum tentu sejalan, sejalan belum tentu sekufu, sekufu belum tentu sejodoh.
”
”
Mutia Prawitasari (Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan)
β€œ
kau harus bertindak terhadap siapa saja yang mengambil seluruh atau sebagian dari milikmu, sekali pun hanya segumpil batu yang tergeletak di bawah jendela. Bukan karena batu itu sangat berharga bagimu. Azasnya: mengambil milik tanpa ijin: pencurian; itu tidak benar, harus dilawan.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations (Buru Quartet, #2))
β€œ
Aku ingat lagi dalam cahaya bulan, sayup malam kau menyangkul, menanam tabah lebih awal mengejar jejak matahari. (Sajak Buat Bapaku)
”
”
Rosli K. Matari (Tidakkah Kita Berada Di Sana?)
β€œ
Manusya muak. Segala sesuatu yang tidak dapat terjawab selalu berakhir atas nama Tuhan. Misalnya, mengapa seorang anak bisa jadi bajingan padahal orangtuanya santri? Dijawab, itu sudah takdir dari Tuhan. Sebaliknya, jika orangtuanya rusak tapi anaknya begitu bauk, dijawab, itulah kuasa Tuhan. Alangkah mudahnya. Tidak adakah penjelasan lain yang lebih memuaskan? Tidak adakah jawaban lain yang lebih masuk akal? Mungkin manusia sudah malas berfikir, pikir Manusya.
”
”
Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang, Saya Monyet!)
β€œ
Manakah yang besar penderitaan kita dengan penderitaan Nabi Adam? Yang di dalam surga bersenang-senang dengan istrinya, lalu disuruh ke luar. Dan manakah yang susah penderitaan kita dengan penderitaan Nabi Nuh, yang menyeru umat kepada Islam, padahal anaknya sendiri tidak mau mengikuti? Sehingga seketika disuruh Tuhan segala ahli kerabatnya naik perahu, anak itu tidak ikut. Malah ikut karam dengam orang banyak di dalam gulungan banjir. Di hadapan matanya! Dan kemudian datang pula vonis Tuhan bahwa anak itu bukan keluarganya. Pernahkah kita lihat cobaan serupa yang ditanggung Ibrahim? Disuruh menyembelih anak untuk ujian, ke manakah dia lebih cinta, kepada Tuhannyakah atau kepada anaknya? Yakub dipisahkan dari Yusufnya. Yusuf diperdayakan seorang perempuan. Ayub ditimpa penyakit yang parah. Daud dan Sulaiman kena bermacam-macam fitnah. Demikian juga Zakaria dan Yahya. Yang memberikan jiwa mereka untuk korban keyakinan. Isa al-Masih pun demikian pula. Muhammad lebih-lebih lagi. Pernahkah mereka mengeluh? Tidak, karena mereka yakin bahwa kepercayaan kepada Tuhan menghendaki perjuangan dan keteguhan. Mereka tidak menuntut kemenangan lahir. Sebab mereka menang terus. Mereka memikul beban seberat itu, menjadi Rasul Allah, memikul perintah Tuhan karena cintakan manusia. Oleh karena itu mereka tempuh kesusahan, pertama membuktikan cinta akan Tuhan, kedua menggembleng batin, ketiga karna rahim yang sayang dan segenap umat.hal. 79
”
”
Hamka
β€œ
Han, memang bukan sesuatu yang baru Jalan setapak setiap orang dalam mencari tempat ditengah-tengah dunia dan masyarakatnya, untuk menjadi diri sendiri, melelahkan dan membosankan untuk diikuti. Lebih membosankan adalah mengamati yang tidak membutuhkan sesuatu jalan, menjangkarkan akar tunggang pada bumi dan tumbuh pada pohon.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations (Buru Quartet, #2))
β€œ
…Bintang itu bintang sama saja dengan yang dilihat orang biasa. Tetapi bagi mereka yang mengerti, bintang itu bukan bintang sembarangan yang bisa diremehkan. Yang membedakan bukan pada bintangnya, melainkan pada kepala orang yang melihatnya…
”
”
Akmal Nasery Basral (Anak Sejuta Bintang: Perjalanan Panjang Penuh Cahaya)
β€œ
Saya masih terlalu muda, masih sangat idealis, polos lebih tepatnya. Namun, dari situ saya petik pelajaran yang sangat berharga yang tidak akan lupa sampai kapan pun. Betapa jahatnya politik. Ini baru tingkat kampus, bagaimana tingkat negara? Bagaimana selanjutnya politik tingkat dunia? Chairul Tanjung (page 29)
”
”
Tjahja Gunawan Diredja (Chairul Tanjung Si Anak Singkong)
β€œ
Kupikir cinta yang paling baik adalah cinta yang sederhana. Cinta tanpa syarat. Cinta tanpa isyarat. Kupikir lagi, tidak. Cinta yang paling baik adalah cinta yang secukupnya. Bukan untuk tetap mendekap orang yang kau cintai dalam pelukan tanpa tersakiti. Cinta yang cukup adalah untukmu sendiri. Supaya jika cintamu pergi, kau tidak terlalu patah hati. Supaya jika ternyata cintamu sejati, kau dan dia akan bersama menikmati.
”
”
Mutia Prawitasari (Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan)
β€œ
Iyan ang hirap sa usapang ito. Ano ba naman ang kamuwangan ng mga pipituhing taon sa mga beauty contests? Laro lang ang tingin nila sa lahat ng bagay at komo laro, gagawin lang nila pag gusto nila. Pag nasa mood sila. Karaniwan na ina lan ang may gustong mapalaban ang anak nila, masabing kabilang ito sa magaganda maging ang pinakamaganda kung maaari. Baya'n mo Baya'n mong mabilad siya sa init, mapagod siya, lagnatin siya, sipunin siya. Gusto ng nanay ang tropeo, gusto ng nanay ang karangalan.
”
”
Lualhati Bautista (Bata, Bata... Pa'no Ka Ginawa?)
β€œ
Tahukah kau, tubuhmu memiliki sensor penerima sinyal gemosi dari luar? Sensor yang sama yang menghubungkan emosi sepasang anak kembar yang terpisah ratusan kilometer! Hei, benar-benar sensor yang hebat, bukan?! Ketika pertama kali sepasang insan terpikat satu sama lain, masing-masing sensornya menangkap sinyal gemosi cinta. Kontak mata, sentuhan punggung tangan, ucapan-ucapan cinta dan rayuan-rayuan yang membuat hatimu cenat-cenut akan mempercepat penyamanan frekuensi cinta dengan dentingan seindah harpa yang paling merdu sejagat raya. Selanjutnya, semakin selaras frekuensi itu, perasaan nyaman akan tumbuh beriringan. Kemudian rasa rindu hebat akan menyertainya saat dua gemosi berinterferensi saling menguatkan.
”
”
Yohanes Surya (Tofi: Perburuan Bintang Sirius)
β€œ
Obligasyon ko bang pasanin ang mga problema ng math? Bakit? Bababa ba ng bill ko sa internet pag nag-factor ako ng quadratic trinomial? Malulutas ba ng Laws of Exponents ang problema natin sa basura? Mababawasan ba ng Associative Law for Multiplication ang mga krimen sa bansa? Makakabuti ba sa mag-asawa kung malalaman nila ang sum and difference of two cubes? Maganda ba sa sirkulasyon ng dugo ang parallelogram, polynomial at cotangent? Makatwiran bang pakisamahan ang mga irrational numbers? Anak ng scientific calculator!
”
”
Bob Ong (ABNKKBSNPLAKo?! (Mga Kwentong Chalk ni Bob Ong))
β€œ
Orang-orang di zaman akan datang akan gemar sekali bercakap-cakap pada perkara-perkara yang mereka tidak tahu, merendahkan mutu orang lain: menghina dan mencela dengan tidak usul periksa lebih dahulu dan dengan tidak bersebab apa-apa.
”
”
Ishak Haji Muhammad (Anak Mat Lela Gila)
β€œ
PERNIKAHAN ADALAH -1- Pernikahan adalah akad atau ikatan. Akad untuk beribadah, akad untuk membangun rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah. -2- Pernikahan adalah akad untuk saling mencintai, akad untuk saling menghormati dan menghargai. -3- Pernikahan adalah akad untuk saling menguatkan keimanan, akad untuk saling meningkatkan ketakwaan, akad untuk mengokohkan ketaatan kepada Tuhan, akad untuk berjalan pada tuntunan Kenabian. -4- Pernikahan adalah akad untuk saling menerima apa adanya, akad untuk saling membantu dan meringankan beban, akad untuk saling menasihati, akad untuk setia kepada pasangannya dalam suka dan duka, dalam kesulitan dan kesuksesan, dalam sakit dan sehat, dalam tawa dan air mata. -5- Pernikahan berarti akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan, akad untuk saling melindungi, akad untuk saling memberikan rasa aman, akad untuk saling mempercayai, akad untuk saling menutupi aib, akad untuk saling mencurahkan perasaan, akad untuk berlomba melaksanakan peran kerumahtanggaan. -6- Pernikahan adalah akad untuk mudah mengakui kesalahan, akad untuk saling meminta maaf, akad untuk saling memaafkan, akad untuk tidak menyimpan dendam dan kemarahan, akad untuk tidak mengungkit-ungkit kelemahan, kekurangan, dan kesalahan. -7- Pernikahan adalah akad atau ikatan. Akad untuk tidak melakukan pelanggaran, akad untuk meninggalkan kemaksiatan, akad untuk tidak saling menyakiti hati dan perasaan, akad untuk tidak saling menorehkan luka, akad untuk tidak saling menyakiti badan pasangan. -8- Pernikahan adalah akad untuk mesra dalam perkataan, akad untuk santun dalam pergaulan, akad untuk indah dalam penampilan, akad untuk sopan dalam mengungkapkan keinginan, akad untuk berlaku lembut kepada pasangan, akad untuk memberikan senyum termanis, akad untuk berlaku romantis dan selalu berwajah manis. -9- Pernikahan adalah akad untuk saling mengembangkan potensi diri, akad untuk adanya saling keterbukaan yang melegakan, akad untuk saling menumpahkan kasih sayang, akad untuk saling merindukan, akad untuk saling membahagiakan, akad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak, akad untuk tidak saling membiarkan, akad untuk tidak saling mengkhianati, akad untuk tidak saling meninggalkan, akad untuk tidak saling mendiamkan. -10- Pernikahan adalah akad untuk menebarkan kebajikan, akad untuk mencari rejeki yang halal dan thayib, akad untuk menjaga hubungan kekeluargaan, akad untuk berbakti kepada orang tua dan mertua, akad untuk mencetak generasi berkualitas, akad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak-anak, akad untuk membangun peradaban masa depan. -11- Pernikahan, adalah akad untuk segala yang bernama kebaikan !
”
”
Cahyadi Takariawan (Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah)
β€œ
Kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita.
”
”
Ahmad Fuadi (Anak Rantau)
β€œ
Tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai seperti membalikkan telapak tangan. Tidak ada keberhasilan tanpa Kerja Keras, Keuletan, Kegigihan, dan Kedisiplinan. Hal itu juga harus dibarengi dengan sikap Pantang Menyerah dan Tidak Cepat Putus Asa. Semua cita-cita dan ambisi hanya bisa direngkuh apabila kita mau terus belajar berbagai hal, di mana pun dan kepada siapa pun. Chairul Tanjung (Page: 347)
”
”
Tjahja Gunawan Diredja (Chairul Tanjung Si Anak Singkong)
β€œ
pwede nga ring yung TV ang may sumpa. dahil ang TV, para ring drugs, pero ligal. isipin mo, bakit isa ito sa mga unang-unang ipinupundar ng mga Pilipino kahit gaano sila kahirap? kasi malaking tulong ang telebisyon para lumimot. para tumakas sa realidad. kahit mag-isa ka lang sa bahay, nababawasan ang lungkot kung may TV. nakakatanggal-buryong kung wala kang trabaho. mas entertaining kesa sa diyaryo, at mas accessible kesa sa sine. pwede rin itong tagapag-alaga ng mga anak mo. pwedeng ulam kung sakto lang ang budget pambili ng ng bigas. at pwedeng bintana kung parang bartolina lang ang tirahang tinutulugan ng mag-anak mo, dahil may magaganda itong lugar at magagandang tao. kumpleto sa sayawan, kantahan, tawanan, pantasya, at boksing. burado ang mga suliranin mo. pag sinuswerte ka, pwede ka pang manalo.
”
”
Bob Ong
β€œ
Seperti dinding kamar yang retak dan mulai berlumut, pagar besi yang merapuh oleh noda karat dan daun daun mangga yang luruh di pekarangan rumah, demikianlah kita membaca kehidupan. Begitu banyak kata yang seringkali susah untuk ditafsir seperti "nasib", "kebahagiaan" dan "kesempurnaan". Entah mengapa, Bunda masih berasa gamang saat berjalan di atas tangga batu yang menuju ke ruang tamu di rumah barumu. Serasa mendengar dering suara alarm yang bergelayut di dalam mimpi. Menyibak kabut dan pagi juga. Bukankah kadang kadang kita merasa larut dalam kesunyian, meski riuh jalan raya bersicepat melawan waktu? Meninggalkan jejak langkah dalam segala ketergesaannya. Memaksa kita memungut semua peristiwa yang berhamburan di atas trotoar. Memaksa semua orang menitikkan air mata. Mengapa dalam momen momen serupa itu, kebersamaan dengan orang yang kita cintai justru berasa semakin berarti? Mengapa justru di tengah keramaian, kita bisa merasa begitu kesepian? Begitulah, jarum jam berputar di sepanjang perjalanan berusaha keras mengabadikan semua peristiwa. Mentautkan satu angle dengan angle yang lain, memotret semua kejadian dari mata seekor jengkerik. Menatap tak berkedip gedung gedung megah yang angkuh berdiri, serupa monster monster yang siap merengkuh apa saja; Lautan manusia berjejal keluar dari bandara, kerumunan lalat di atas tumpukan sampah di pasar, kelejat pikiran yang berlari lari mengejar matahari, kebimbangan yang tergugu di pojok terminal, harapan yang terkantuk kantuk di dalam bus kota dan seringai kerinduan akan masa depan yang belum pernah mereka lihat. Apa yang mereka cari? Apa yang mereka kejar, Nak? Sementara ada ribuan etalase dan pintu pintu mall yang terbuka dan tertutup setiap kali. Serupa mulut lapar menganga yang rakus mengunyah dan menelan semua kecemasan dan kegalauan yang bersliweran di balik pendar neon papan reklame. Bagaimanakah mereka -orang orang tanpa identitas ini- bisa menafsirkan takdir, relativitas waktu, dan mungkin juga mimpi?
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
HIKAYAT ADAM Sebab bagiku kau masih serupa ibu yang melahirkanku yang menuntunku berjalan dan mengajariku berlari. Namun mengapa tak juga lepas dahagaku daripadamu? Meski telah kureguk engkau hingga tumpas tandas. Hingga kempis payudaramu hingga perlahan surut laut dan air matamu. Hingga padam langit dan seluruh jagat raya. Hingga kalam sang malaikat diam-diam merenggut segenap kejahatan dan dosa-dosaku. Meski kutahu belaka, betapa sia-sia seluruh perjalanan ini. Bukankah engkau sendiri yang waktu itu menghalangi diriku memakan buah yang ranum dari perbendaharaanmu yang sengaja tak kausembunyikan? Buah syajarah yang kautanam di taman purbawi. Kebun yang telah berabad jadi rumahku tapi tak pernah sungguh-sungguh aku miliki. Mengapa kaularang aku memetik khuldi yang kausediakan bagiku di taman itu? Apakah demi menguji kesetiaanku pada dirimu? Sementara kauijinkan sabasani itu tumbuh menjulang tinggi dan berbuah lebat. Sekalipun engkau masih menerimaku sebagai buah kandung yang engkau lahirkan sendiri dengan kedua tanganmu. Dan tidaklah aku engkau turunkan dari patuk taring si ular beludak. Ia yang telah membuatku terusir dari rumah. Sepetak tanah yang memang kauperuntukkan bagi diriku sejak mula pertama kauhadirkan aku ke dunia ini. Sungguhpun harus kuarungi samudra duri ini sekali lagi, sebagai si alif dari golongan yang paling daif. Sebagaimana perempuan penerbit nafsi itu kaucuri dari tulang rusukku saat aku lelap tertidur. Sepanjang pasrah kasrah telah mengubah rambut di kepalaku menjadi setumpukan uban. Sepanjang kematian demi kematian sengaja kau timpakan di atas kepala anak cucuku. Adakah sempat kaudengar aku berkeluh-kesah? Meski aku mahfum belaka, ya bila karena semua itu aku tak akan pernah kau perkenankan singgah ke rumahmu lagi. Kecuali kau biarkan aku datang sebagai perempuan lecah, jaharu yang paling hina atau fakir papa yang kelaparan. Sekalipun telah letih jiwaku meretas sepi, hingga percik lelatu itu menitik sekali lagi dari ujung jarimu. Bukan sebagai yang garib, yang gaib atau yang hatif. Melainkan karena semata-mata semesta cinta. Cinta yang sekalipun tak akan pernah mengubah diriku menjadi zaim, zahid atau zakiah. Namun sungguh, cuma itu satu-satunya cinta yang berani menentang tajam mata pisau sang mair.
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Ada luka sumbing serupa gempil bibir poci di hati semua orang. Cacat yang berusaha keras mereka sembunyikan dari dunia. Tapi tak semestinya kita mengenakan topeng hanya demi menutup secebis luka. Tak semua hal mesti kita cerna dengan tatapan mata curiga serupa itu. Maka dari itu, coba dengarkan apa kata Bundamu ini, Nak. Manusia tak perlu harus jadi sempurna agar ia dihargai. Sebagaimana keindahan bisa muncul dari hal kecil dan sederhana. Termasuk apa yang tampak pada selembar kain batik yang lusuh atau cangkir teh yang somplak ujungnya. Kita bisa belajar dari kintsugi, menjadi bijak tanpa harus bergegas menjadi tua; bagaimana menorehkan pernis emas pada sebuah cawan tembikar yang terlanjur retak. Betapa sesungguhnya, sebuah guci porselen yang jatuh, pecah dan bahkan rusak tak berarti kehilangan semua nilai yang dimilikinya. Ketidaksempurnaan tidak akan mengecilkan arti dirimu. Sebab hanya ketangguhanmu melewati bukit penderitaanlah yang akan membuatmu menemukan cahaya kebahagiaan yang sesungguhnya. Bagaimana kamu bisa belajar menghargai kekurangan pada diri sendiri. Bagaimana kamu bisa menerima kesalahan dan bahkan kegagalan. Sebagaimana alam memaknai wabi sabi, ketidak sempurnaan bukan sesuatu yang harus ditolak atau disangkal. Ia mesti disambut sebagai air telaga yang jernih, kesegaran embun di pagi hari, atau aroma petrichor di musim penghujan. Setiap kali engkau jatuh dan menjadi rapuh, engkau bisa merangkaikan kembali serpihan serpihan hatimu. Tak akan pernah kehilangan tujuan yang engkau perjuangkan. Sebab setiap bekas luka seperti juga keringat dan airmata, adalah permata yang lahir dari segenap jerih payahmu. Ia terlalu berharga untuk kamu sia siakan. Manik manik gemerlap yang dapat engkau rangkai menjadi perhiasan unik nan cantik yang akan selamanya jadi milikmu. Jangan pernah takut terantuk batu. Jangan sekalinya jeri dicerca burung. Jangan merasa ngeri terempas badai. Sebab saat nanti engkau sampai ke puncak, kau akan bisa melihat dunia sebagai miniatur lanskap yang permai dan elok untuk dikenang. Karena demikianlah semestinya hidup, ia adalah keindahan yang tercipta dari kekurangan dan ketidaksempurnaan diri kita.
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Telah meninggal dunia ibu, oma, nenek kami tercinta.... Requiescat in pace et in amore, Telah dipanggil ke rumah Bapa di surga, anak, cucu kami terkasih.... Dalam sehari, Bunda menerima dua kabar (duka cita / suka cita) sekaligus. Apakah kesedihan serupa cucuran air hujan yang jatuh dan mengusik keheningan kolam? Apakah kebahagiaan seperti sebuah syair yang mesti dipertanyakan mengapa ia digubah? Bagaimana kita mesti menjawab pertanyaan tentang kematian orang orang terdekat? Mengapa mereka pergi? Kemana mereka akan pergi? Memento mori, serupa nyala api dan ngengat yang terbakar. Seperti juga lilin yang padam, bunga yang layu, ranting yang kering, pohon yang meranggas. Mereka hanyalah sebuah pertanda, bahwa semua yang hidup pasti akan mati. Agar kita senantiasa teringat pada tempus fugit, bahwa waktu yang berlaluΒ  tak akan pernah kembali. Ketika Bunda masih muda, sesungguhnya Bunda sudah tidak lagi muda, tak akan pernah bertambah muda, tak akan kembali muda. Waktu telah merenggut kemudaan kita pelan pelan. Ketuaan adalah sebuah keniscayaan, dan kematian adalah sebuah kepastian. Tak ada sesuatu pun yang abadi, Anakku. Ingatan tentang mati semestinya memberi kita pelajaran berharga. Jangan pernah menyia nyiakan waktu. Jangan hilang niat untuk bangkit dari ranjang. Jangan terlalu malas untuk bekerja. Jangan terlalu letih untuk menuntaskan hari. Jangan pernah lupa untuk berdoa. Jangan lalai untuk bersyukur. Jadikan hari ini sebagai milikmu. Ketika semua perkara seakan menggiring langkahmu pada kesulitan, kegagalan, ketidakpastian dan rasa sakit. Pikirkanlah siapa yang akan jadi malaikat pelindung dan penolongmu? Bagaimana engkau akan menemukan eudaimonia? Bagaimana engkau hendak memaknai hidup? Dalam sekejap mata hidup bisa berubah. Waktu berlalu dan ia tak akan pernah kembali. Gunakan kesempatan untuk bercermin pada permukaan air yang jernih. Tatap langsung kedalaman telaga yang balik menatap kepada dirimu. Abaikan rasa sakit dan penderitaan, sebab puncak gunung sudah membayang di depan mata dan terbit matahari akan menghangatkan kalbumu. Cuma dirimu yang punya kendali atas pikiran, hasrat dan nafsu, perasaan dan kesadaran inderawi, persepsi, naluri dan semua tindakanmu sendiri. Ketika kita mengingat kematian, kita tidak akan lagi merasa gentar. Sebab ia lembut, ia tak lagi menakutkan. Ia justru menuntaskan segala rasa sakit dan penderitaan. Ia pengejawantahan waktu yang berharga, kecantikan yang abadi, indahnya rasa syukur, dan kemuliaan di balik setiap ucapan terima kasih. Ia mengajarkan kita bagaimana menghargai kehidupan yang sesungguhnya. Ia membimbing kita menemukan pintu takdir kita sendiri. Apapun perubahan yang menghampiri dirimu. Ia adalah pintu rahasia yang menjanjikan kejutan yang tak akan pernah kamu sangka sangka. Yang terbaik adalah menerimanya sebagai berkat. Apa yang ada dalam dirimu adalah kekuatanmu. Engkau akan membuatnya berarti. Bagi mereka yang paham, takdir dan kematian adalah sebuah karunia, seperti juga kehidupan. Sesungguhnyalah kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali.
”
”
Titon Rahmawan