Aku Lelah Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Aku Lelah. Here they are! All 38 of them:

Maukah kau pergi? Atau menyingkir sejenak dari otakku? Cukuplah tinggal di hatiku, usah kau singgah di pikiran.. Maaf, aku lelah untuk terus berpikir kemungkinan tentang kita." kataku dengan nada marah. Ya, kau selalu saja hadir dalam tiap pikiranku hingga aku sesak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada tentangmu.
Novanka Raja
Aku juga lelah, Rex, lelah akan kemalasanku sendiri!
Orizuka (The Chronicles of Audy: 4/4)
Menyimpan ucapan adalah yang terbaik, Karena penyesalan terbesar yang kita miliki adalah mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak kita ucapkan.
Geul Bae-woo (Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah)
Sedang apa kalian di ujung nisan? Di sini aku lelah mencari Indonesia
Matdon
Aku sangat lelah dan merasa seperti karet yang direntangkan melebihi batas elastisitasnya. Yang ingin kulaku-kan hanyalah berbaring di tempat tidur dan tidak memikirkan apa-apa lagi.
Annisa Ihsani (A untuk Amanda)
Aku tersandung pada salah satu rahasia yang tersimpan dengan baik tentang orang-orang kulit hitam: kebanyakan orang kulit hitam tidak tertarik dengan revolusi; kebanyakan kami merasa lelah dengan masalah ras.
Barack Obama (Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance)
Faktanya adalah, kau sudah lelah menerima kesopanan, kehormatan, dan perhatian yang berlebihan. Kau sudah muak dengan para wanita yang berbicara, memandang, dan berusaha keras untuk mencari persetujuan darimu. Lalu aku datang, dan kau langsung tertarik karena aku sangat berbeda dari mereka.
Jane Austen (Pride and Prejudice)
Sekali saja balik gelasmu, biar aku mengisinya dengan rasa rindu, lelah, cinta atau bahkan benci. Setidaknya biarlah aku memiliki rasa padamu, meski entah yang mana.
nom de plume
Setidaknya selama membaca buku ini, kiranya hati yang lelah bisa beristirahat.
Geul Bae-woo (Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah)
Mereka bilang, bahkan surga bukan akhir segalanya, melainkan hidup selamanya. Hidup selamanya. Mendengarnya saja aku lelah.
Venerdi Handoyo (Pemetik Bintang)
AKU DAN ANGIN Aku dan angin sering berselisih paham, ia sering merayu untuk dikejar saat aku sedang lelah, tapi malah sembunyi saat aku penuh semangat. aku sungguh tak mengerti soal pertengkaran ini, tetapi aku juga tidak membenci angin, karena selesainya pasti kami akan berdamai.
Epaphras Ericson Thomas
Mungkin saat ini kita sedang menatap ke langit yang sama tapi arah langkah kita udah jelas berbeda... aku lelah... aku lelah membangun jembatan di antara dunia kita berdua jadi lebih baik kita lupakan saja
LoveinParisSeason2
Jika ada yang membuat BTS terlihat ringan menjalani kesibukan yang padat, aku rasa itu adalah chemistry mereka. Tidak peduli lelah dan berat aktivitas yang dijalani, mereka selalu menemukan cara untuk bersenang-senang, bercanda, dan menikmati kebersamaan.
Lea Yunkicha (BTS X ARMY In the Love Maze)
Kepada ikan-ikan yang namanya tak boleh kuabaikan jika ingin mendapatkan sepeda presiden. Aku ingin tinggal di air, nampaknya aku juga ingin menghabiskan waktuku untuk mandi, sepertimu. Di daratan, aku lelah bermandikan kebohongan dan cinta yang keras kepala.
Alfin Rizal
Jadilah rumahku, ke manapun aku berkelana, selalu berpulang padamu. Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang, kala lelah kukepak sayap. Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada. Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati. Berlebihan jika kuminta semua itu? Cemasku… Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa? Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku? Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?
Devania Annesya
Nanti, Saat aku telah lelah menanti-nanti. Jangan sapa aku dulu. Nantikan saja, Sampai aku melupakan saat-saat menantimu. Lalu ku kan menyapamu terlebih dahulu.
xN10b
Aku belum pernah menceritakan kisah ini. Kawan-kawanku ketika kutemui lagi, sangat gembira melihat aku masih hidup. Aku sedih, tetapi aku katakan: "Hanya lelah saja.
Antoine de Saint-Exupéry (The Little Prince)
Berikan kepadaku mereka yang lelah dan papa Yang terbelenggu dan mendambakan kebebasan Yang terbanting ke pantaimu, berimpitan lemas Beri aku para gelandangan, dan yang terhempas Akan kunyalakan pelitaku di sisi gerbang emas
Emma Lazarus
Aku hanya setetesan lelah, yang engkau tampung dalam cawan sepi yang kemudian menguap lagi dan pergi. Aku hanya sekumpulan bayangan, yang engkau hidupi dari lampu kecilmu. Setidaknya aku pernah ada walau hanya sekedar mengusik sedih, Meski pada akhirnya menghilang lagi untuk kesekian kali ...
Manhalawa
Hal yg paling tidak aku sukai adalah berhenti. Aku suka berjalan. berjalan. Dan berjalan. Biarpun perut ini lapar, sangat lapar, kaki ini pegal, tubuh ini lelah, asalkan tetap berjalan, itu tidak menjadikan suatu masalah. Dengan berjalan aku akan tetap ada. aku yakin setiap perjalanan selalu ada tujuan.
Vea Dreamer
di sebuah hari di bulan januari sudah lama sekali.. saya mencoba tidak lagi menyinggung ini padamu tentag perasaanku yang tak pernah sampai.. tentang hatiku yang tak pernah bisa beranjak darimu tentang cintaku namun, kali ini.. aku ternyata lelah sembunyi untuk sesaat tak kuasa untuk meluapkankan penuh harap, kau sudi membaca, memahaminya.. telah lama kucoba melangkah maju, tak ingin lagi menengok ke belekang namun slalu saja, hatiku selalu berhasil menuntunnya kembali kamu pasti sudah sadar, jatuh cinta bukanlah pengalaman pertama bagiku harusnya kutelah terbiasa melupakan, harusnya patah hati bisa kulalui dengan mudah tapi ntah mengapa, denganmu, semua berbeda...
majdy
Sore ini sudah cukup ku lelah. Baru saja ku duduk dan menghela nafas. Ku melihat sebuah undangan pernikahan yang masih terbungkus rapih di atas meja. Pada sampul undangan itu tertulis dua buah nama mempelai. Nama pertama adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku. Dan nama kedua yang tersanding adalah nama sahabatku. Oh mereka akan menikah, gumamku sambil melihat tulisan mohon doa restu. Aku pikir mereka hanya bermain-main selama ini.
Zakiyahdini Hanifah
Kawan kamu pernah bercerita ttg keinginanmu untuk pergi dari kehidupan ini. Iya, aku juga tahu bahwa kamu ingin pulang kawan, entah itu pulang kepada Tuhan. Sungguh, aku tahu kamu lelah kawan. Bahkan kamu nyaris menyerah kepada kehidupan. Tapi, kamu tahu kawan? kamu hanya terlalu lelah melawan padahal kamu hanya butuh diam. diam di dalam kesendirian, diam di dalam kesunyian, diam di dalam kepahitan, bahkan diam di dalam kelelahan. Tidak usah lagi kamu melawan. melawan kehidupan. Melawan Tuhan.
Alfisy0107
Tuhan tolong berikan aku cinta yang lain, agar aku tak lagi memikirkannya. Aku lelah bermalam tikaman rindu seperti ini.
@asli_aris
SUDAHLAH - Sayang, apa kau terlampau lelah ? Sampai-sampai lengah . Malam ini kudapati, tepat di sudut kerah Ada goresan gincu merah Terbayang, ciuman liar tak berarah Entah Siapa nama perempuan murah Yang buatku resah Sibuk menerka berselimut amarah Barangkali, memang aku payah Slalu percaya dengan mudah Pada penjantanku yang gagah Nyatanya, kau memecah sekaligus membelah Mimpi yang terbingkai indah Sudahlah Kini, aku pun sudah jengah Bersamamu hanya kan menambah masalah Aku menyerah !
Karunia Fransiska
Aku hanya setetes lelah yang mencari samudera untuk meneteskan diri dan membaur dengan tetesan-tetesan lain, entah dengan ratusan tetes bahagia atau bahkan tercampur dengan ribuan tetes luka.
fikrypik
Untukmu jika aku membawamu pergi dalam pelukan, aku akan lelah. Jika aku memaksamu bangun lalu pergi, kamu akan lelah. karena itu, aku akan menunggumu. Supaya kita bisa berjalan bersama
Jedit (Tenang, Semua Akan Baik-Baik Saja)
Tuhan, tak bolehkah aku mendapatkan inginku? Aku benar-benar sudah lelah kali ini
Melopme
Aku hanya ingin semua ini berhenti, semua penderitaan ini. Aku ingin tidur dan tidak perlu bangun lagi, aku ingin berhenti berada di dalam tubuh ini, berpikir dengan otak ini. aku lelah menjadi diriku.
Annisa Ihsani (A untuk Amanda)
Kekasih, dalam masa yang entah kapan aku pun tak mengetahuinya. Namun, amatilah gunung-gunung yang senantiasa bergerak itu, amatilah langit yang sering kali tampak begitu dekat, amatilah lautan yang mulai beranjak naik. Dan, amatilah aku hingga engkau lelah serta berpaling dari pada aku.
Alek Wahyu Nurbista Lukmana
Ceritakan kisahmu hari ini, jadikan aku pendengar setiamu. Menepilah saat kau lelah, aku hanya ingin menjadi rumah segala keluh kesahmu. Ironis memang, tapi hanya itu yang aku bisa.
Niknik Gantini
Dulu vs Sekarang: Warisan yang Hampir Hilang Zaman dulu ada seorang bocah naik sepeda berkilo-kilo, hanya untuk sampai ke sekolah di luar kampungnya. Ada anak lain yang mesti berjalan sampai kaki pegal ke rumah temannya hanya untuk meminjam buku bacaan. Tapi anehnya, mengapa anak sekarang malas melangkah? Malah merasa bangga disebut kaum rebahan. Mereka juga malas membaca padahal semua ilmu ada di genggaman layar kaca. Orang dulu mengumpulkan receh demi membeli sebidang lahan, membangun rumah sedikit demi sedikit, lantainya mungkin tanah, atapnya sering bocor, tapi ada mimpi yang mereka renda di atas atapnya, harapan yang mereka pahat di setiap dindingnya. Lalu bagaimana orang sekarang melihat dirinya? Bekerja sepuluh tahun pun, rumah masih berhenti sebatas imajinasi. Gaji pertama langsung ludes dalam gebyar pesta perayaan semalam dan cicilan gawai terbaru. Air minum, bagi orang dulu, direbus penuh sabar di tungku kayu— sisa panasnya dipakai untuk berdiang menghangatkan tubuh. Bagi orang sekarang, air minum harus bermerek; Cappucino, espresso, latte atau matcha boba kekinian dikemas dalam plastik sekali pakai, diminum bukan karena haus, tetapi agar terlihat keren saat di foto. Barang orang dulu awet seperti doa: sepeda diwariskan, lemari antik dipelihara, kain batik disimpan hingga pudar warnanya. Barang orang sekarang sekali lewat hanya sebatas tren: baru sebentar sudah merasa bosan, dibuang, ditukar, ditinggalkan, seperti janji-janji yang tak pernah ditepati. Dulu banyak anak dianggap rezeki, meski rumah hanya seluas kamar kos-kosan saat ini. Tapi nyatanya, lima anak semua jadi sarjana, hidup nyaman sejahtera. Sekarang, satu anak saja dianggap beban, lalu diputuskan tak perlu lahir sama sekali. Di mana lagi bisa kita temukan kerja keras, pengorbanan dan kebijaksanaan? Apakah ini sekadar paranoia yang dibungkus logika yang sengaja dibengkokkan? Makanan dulu dinikmati sekadar untuk bertahan hidup: singkong, jagung, bubur, nasi lauk kerupuk, sayur dan sambal—kenyang sudah cukup. Sekarang, makanan harus enak, harus estetik, di kemas cantik, difoto dulu sebelum disantap. Dan bila tidak sesuai ekspektasi rasa nikmat di lidah, langsung dicaci, langsung diviralkan, seolah perut telah kehilangan rasa syukur dan penghargaan anugerah dari Tuhan. Tabungan dulu jadi jimat yang dianggap keramat: uang disimpan dalam celengan tanah liat, ditabung serupiah demi serupiah buat beli tanah, sawah, tegalan. Emas disimpan dan dipelihara bukan cuma untuk dikenakan di pesta hajatan pernikahan. Sekarang malah sebaliknya, uang dibakar dalam pesta, dihabiskan di kafe, tiket konser, memburu diskon belanja palsu. Hidup bukan lagi tentang menyiapkan hari esok, melainkan tentang menguras apa yang bisa dihabiskan hari ini. Orang dulu sabar menahan diri, puasa bukan sebatas ritual setahun sekali menjelang idul fitri. Mereka tahu, lapar dan lelah adalah guru. Sabar dan diplin adalah ilmu yang tak kalah penting dari pelajaran di sekolah. Anak masa kini terjebak FOMO: takut tertinggal tren, takut tak dianggap, hingga lupa kalau waktu yang hilang tak pernah lagi bisa dibeli. Ironinya membayang di depan mata: Orang dulu hidup sederhana tapi tenang, karena kebahagiaan mereka berakar pada makna. Orang sekarang hidup mewah tapi gelisah, karena kebahagiaan mereka mesti hadir setiap waktu, terpampang indah hanya di atas layar, namun mudah dipadamkan lewat satu sentuhan jari. Dan kelak, ketika semua berlalu, yang tertinggal hanyalah penyesalan yang tak bisa diputar kembali. Mereka akan bertanya pada dirinya sendiri: mengapa aku begitu sibuk mengejar bayangan, hingga lupa merawat cahaya matahari yang sesungguhnya? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
Perempuan yang Dulu Kau Kejar Hanya untuk Kau Lukai” Buat para lelaki: Apakah kau benar-benar sudah memahami istrimu? Ia bukan sekadar perempuan yang menunggumu pulang, meski tanganmu hampa dan dompetmu kosong. Ia bukan sekadar tubuh yang letih mengurus rumah, atau wajah yang perlahan kehilangan cahaya mudanya. Ia adalah doa yang tak pernah berhenti menyebut namamu, bahkan ketika kau tertidur lelap dan melupakan segalanya. Ia adalah keberanian yang meninggalkan kenyamanan tempat tinggal orang tuanya, menukar kepastian dengan harapan, hanya demi satu keyakinan, karena ia mencintaimu. Ia memintal mimpi dengan air matanya, menyalakan bara ketabahan dengan jiwanya, dan menaruh seluruh hidupnya dalam genggaman tanganmu—meski kau sendiri sering tak tahu bagaimana harus menjaganya. Dialah yang mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan darah dagingmu, dialah yang mengorbankan hidup dan waktunya demi membesarkan keturunanmu. Dialah tangan yang membersihkan rumahmu, hati yang menjaga marwahmu, pelita yang menuntunmu pulang. Ironisnya, justru dialah orang yang paling sering kau abaikan. Dialah yang paling sering kau sakiti dengan sikap diam-mu, acuh tak acuhmu dan ketidakpedulianmu. Ia yang dulu kau kejar dengan segala kerinduan, kini kau anggap biasa saja—tak lagi istimewa, tak lagi bernilai. Padahal yang ia harapkan bukan istana, bukan harta berlimpah, melainkan hal yang sederhana: perhatian yang tulus, rasa aman, kasih sayang yang hangat. Tragisnya, engkau lupa bahwa cinta adalah bara yang harus dijaga, api yang harus diperbaharui. Engkau biarkan apinya padam, lalu kau salahkan ia ketika rumah tangga menjadi dingin. Engkau tak sadar, luka yang ia simpan bukan karena tubuhnya berubah menjadi gemuk, bukan karena kecantikannya pudar, melainkan karena pengorbanannya tak lagi berarti bagimu. Engkau telah meruntuhkan marwah seorang istri, menukar air matanya dengan penyesalan, menukar pengabdiannya dengan kehampaan. Jangan salahkan dia bila akhirnya ia memilih pergi. Ia pergi bukan karena lelah mencintai, melainkan karena tak ada lagi cinta untuk dipertahankan. Ia tinggalkan rumah yang ia bangun dengan air mata, ia lepaskan kenangan yang ia ikat dengan harapan. Dan yang tragis, kau tak kehilangan sekadar seorang istri—kau kehilangan perempuan yang dulu rela menyerahkan segalanya untukmu, bahkan hidup dan kehormatannya. Mengapa lelaki begitu pandai mengejar, namun begitu ceroboh menjaga? Dahulu, ia rela menembus hujan dan badai demi seulas senyum; kini, sekadar menatap mata istrinya saja ia sudah enggan. Mata yang dulu ia puja, jernih bagai telaga tempat ia merendam dahaga cintanya, kini dibiarkannya berkabut oleh air mata. Tidakkah ia sadar, setiap tetes air mata istrinya adalah patahan kecil dari marwahnya sendiri? Lelaki sering kali lupa, bahwa cinta yang diperjuangkan dengan susah payah bisa hilang hanya karena lalai memeliharanya. Betapa ironis—mereka berlari mengejar bunga saat kuncup, namun berpaling saat bunga itu mekar, seakan keindahan tak lagi berarti ketika sudah berada dalam genggaman. Perempuan menangis bukan karena lemah, melainkan karena hatinya penuh dan meluap oleh perasaan yang tak sanggup ia bendung lagi. Ia menangis bukan karena kehilangan cinta, tapi karena cinta yang ia beri setulus hati tak lagi dipandang berarti. Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain disamakan dengan rutinitas? Diseret dalam hari-hari yang hampa tanpa lagi ada rasa kagum, tanpa lagi ada ucapan sederhana: “Sayang, aku sangat mencintaimu...” Dan beginilah tragedi buruk para istri: lelaki sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, padahal perempuan yang paling ia sakiti susah payah menjaga api kebahagiaan itu tetap menyala. Sementara lelaki mengira, kejayaan ada pada dunia luas yang ingin ia taklukkan. Padahal, kedamaian terbesar ada di pangkuan istrinya yang terus menunggu dengan setia, entah sampai kapan? Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Marilyn III (The Last Room, The Last Mirror) Di ruang rias yang tak punya jendela, wajahmu terbelah menjadi tiga: yang dipuja, yang disembunyikan, dan yang dibungkam. Cermin retak memantulkan kelopak krisan di matamu seperti orbit bintang mati, terlalu lelah untuk bersinar lagi. Kau pernah disebut dewi, hasrat secuil debu digerus oleh mesin industri yang kesemuanya berkelamin laki-laki. Tubuh molek yang dijahit ulang oleh kilatan kamera, direkayasa menjadi hieroglif kecantikan namun menolak pasrah: "Aku tidak keberatan hidup di dunia pria, selama aku bisa menjadi wanita di dalamnya." Di bawah sorot lampu studio, kau berdiri seperti ritual pemanggilan arwah— senyum yang dipaksa tumbuh di tengah gurun, jiwa yang tak pernah mengenal hujan dan keteduhan. Ada catatan samar di sayap malam: “Marilyn hanyalah ide. Raga ilusi yang dipakai untuk menyihir dunia.” Bayangan yang merambat di atas panggung seperti binatang terluka mencari pintu keluar yang tak pernah ada. Kau belajar menertawakan diri sendiri sebelum dunia lebih dulu menertawakanmu. Begitulah hukum dunia pertunjukan: Ia yang hidup harus menjadi ilusi, dan ilusi harus belajar menanggung kematian. Dalam seprai satin putih, kau menghilang tanpa kabar— seperti lilin yang menolak terbakar karena api sudah lama bosan menghanguskan mimpimu. Namun dunia masih memanggil namamu dengan nada seperti doa yang kehilangan Tuhan. Mereka menyalakan replika lilin di museum Tussauds. dan menyangka itu cukup untuk menebus semua luka yang mereka tonton tanpa berkedip. Oh Marilyn— bukan tragedi yang membuatmu abadi, melainkan cara dunia menelanmu hidup-hidup dan melihatmu tetap tersenyum seperti dalam iklan pasta gigi. 2022
Titon Rahmawan
The Architecture of Digital Soul #11 Puisi lahir dari ketidakstabilan cahaya. Dari kilatan yang gagal menjadi wahyu, dari sinyal yang terlalu lelah memanggil nama Tuhan hingga ia memilih jadi interferensi. Jika para mistikus mencari pencerahan, aku justru mencari kerusakan lintas cahaya sebab di situlah kejujuran, saat kita pertama kali belajar bicara.
Titon Rahmawan
Suluk Suwung: Percakapan yang Tak Pernah Selesai Antara Suwung dan Amongraga 1. AMONGRAGA: Aku mendengarmu dari jauh— gema yang berjalan tanpa tubuh, seperti bayang yang lupa asalnya. Apa yang kau cari di celah-celah gelap ini? SUWUNG: Aku tidak mencari. Aku hanya diam. Diam yang terlalu lama, hingga berubah menjadi bentuk yang tak punya nama. 2. AMONGRAGA: Diam juga bagian dari suluk. Ia jembatan menuju terang. Mengapa kau menjadikannya liang? SUWUNG: Karena terangmu terlalu ribut. Dan setiap mantra yang kau sebut meninggalkan debu di nafas manusia. 3. AMONGRAGA: Aku berjalan dari kidung ke kidung, dari tubuh ke tubuh, hingga segala kenikmatan mengungkit pintu-pintu wahyu. SUWUNG: Aku tahu. Itulah jejak yang kau tinggalkan di dada sejarah. Tapi apa yang kau temukan? Selain tubuh yang terus meminta tanpa pernah selesai? 4. AMONGRAGA: Aku mencari puncak. Puncak yang melampaui dunia. Di sanalah aku menanggalkan daging seperti menanggalkan bayang-bayangku. SUWUNG: Dan aku mencari dasar. Dasar yang menelan dunia. Dasar tempat segala suara berhenti dan hanya retakan yang berbicara. 5. AMONGRAGA: Retakan juga bisa menjadi jendela. Mengapa kau memilih menjadikannya rumah? SUWUNG: Karena rumah yang kau buat ditopang oleh api. Aku lelah menjadi tubuh yang terus kau bakar demi sebuah cahaya yang tak pernah sampai. 6. AMONGRAGA: Lalu mengapa kau datang padaku? Mengapa engkau memanggil namaku dari jauh— seperti anak yang kehilangan jalan pulang? SUWUNG: Aku ingin tahu apakah seseorang sepertimu pernah merasa kosong. Atau kau memang menutupinya dengan nyala yang memabukkan. 7. AMONGRAGA: Aku tak pernah kosong. Aku penuh. Penuh dengan bunyi, dengan tubuh-tubuh, dengan api yang naik turun seperti nafas yang tak mau padam. SUWUNG: Maka di sanalah perbedaan kita. Engkau penuh. Dan aku kosong. Tapi keduanya sama-sama tak menjawab apa-apa. 8. AMONGRAGA: Apa itu yang kau sebut suwung? Hening yang menolak segala bentuk? SUWUNG: Suwung adalah tempat di mana setiap jawaban mati sebelum sempat disebutkan. Sebuah ruang yang tidak ingin menang. Tidak ingin selamat. Tidak ingin terlahir kembali. 9. AMONGRAGA: Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku? SUWUNG: Aku ingin melihat apa yang tetap berada pada dirimu ketika seluruh kidungmu aku bungkam. Ketika seluruh tubuhmu aku lepaskan. Ketika seluruh cahaya aku padamkan. 10. AMONGRAGA: Dan apa yang kau lihat? SUWUNG: Hanya satu hal: bahwa bahkan engkau pun, pada akhirnya, adalah pintu yang tidak menuju siapa-siapa. 11. AMONGRAGA: Jika aku pintu, maka mengapa engkau tidak masuk? SUWUNG: Karena tidak ada apa pun di dalam. Dan tidak ada apa pun di luar. Yang ada hanyalah aku. Dan bahkan aku tidak sedang mencari diriku sendiri. 12. AMONGRAGA: Kalau begitu, mengapa engkau tetap berdiri di ambangku? SUWUNG: Karena di antara terangmu yang berisik dan gelapku yang sunyi, ambang adalah satu-satunya tempat yang tidak memaksaku memilih. 13. AMONGRAGA: Engkau suluk yang patah. Suluk yang menolak puncak. SUWUNG: Dan engkau adalah doa yang terlalu keras hingga lupa bagaimana cara menjadi sunyi. Desember 2025
Titon Rahmawan
LITANI MAKHLUK DI DALAM PERUT PELANTANG (Dongeng Singkat Tentang Seekor Anjing yang Mimpi Menjadi Mikropon, dan Sebuah Mikropon yang Diam-diam Ingin Menjadi Anjing) I. Retakan Kausa Dari atap takdir yang menggigil, hujan turun bukan sebagai air, melainkan sebagai serpih ingatan yang ditinggalkan generasi yang percaya bahwa pengeras suara lebih suci daripada detak jantung sendiri. Angin menghafal nama-nama yang diteriakkan— tetapi kini nama-nama itu berubah menjadi bulu-bulu halus yang mengelupas dari makhluk yang belum sempurna bentuknya. Ia berjalan pincang, mengendus karat, mendengarkan doa yang mendesis seperti minyak panas dari dasar kuali. II. Tubuh yang Menjadi Simbol dan Simbol yang Menjadi Makhluk Di museum moralitas, patung-patung pendosa tertawa. Namun malam itu, satu patung retak; dari celahnya keluar seekor anak anjing berwarna ungu kebiruan yang terlalu pucat untuk disebut hidup. Ia meminjam moncong dari sejarah nenek moyangnya, meminjam telinga dari debu pendiangan, dan meminjam suara dari mikropon yang lupa kapan ia berhenti bernyanyi. “Biarkan aku menjadi lidahmu,” katanya, “agar kata-kata yang kau lempar ke langit tak lagi memantul sebagai propaganda yang kehilangan ibu.” III. Doa dalam Dapur Penghakiman Dalam mimpimu, ia muncul sebagai penghibur yang lelah— alas bedaknya retak, gincunya belepotan di pipi, kakinya gemetar, tetapi matanya menyimpan tahapan-tahapan kesedihan yang jauh lebih tua daripada artefak yang kau yakini suci. Ia melihatmu mencari bayangan sendiri di dekat api yang tak pernah benar-benar menyala, dan tersenyum jenaka: “Barangkali kau benci bukan pada tubuhku, tapi pada suara yang tak berani kau sebutkan namanya.” Mikropon itu mendengar, dan getarannya menjadi litani— tanpa tuduhan, tanpa penghakiman, hanya gema dari mulut tanah yang gemetar. IV. Wajah Luka yang Tidak Dipamerkan Ketika kau akhirnya menyingkap wajah makhluk itu, kulitnya mengelupas, darahnya meletup; ia mengalir sebagai sungai merah yang sangat panjang, hampir seperti selendang yang menutup dunia setiap kali manusia kelelahan menipu dirinya sendiri. Di balik selendang itu, mikropon tua menunduk: “Apakah ini tubuhmu? Atau tubuhku? Atau tubuh semua kata yang tak pernah kita izinkan hidup?” V. Jalan Sunyi yang Menganga ke Dalam Tanah Makhluk itu—entah anjing, entah kesaksian— tak terbang ke langit. Ia menyelam ke lapisan bumi paling pekat, ke lorong-lorong di mana gema doa tak lagi memohon keselamatan tetapi memohon untuk dikenali. Di sana, telinganya mekar sebagai kaktus hijau berduri, tunggal, lapar, menunggu disentuh tetapi tak pernah mengizinkan dipetik. VI. Nyanyian Mikropon yang Tak Lagi Menguasai Apa Pun Di permukaan, mikropon itu masih terus bernyanyi. Namun kini suaranya serak— bukan karena kehilangan kuasa, tetapi karena ia akhirnya mendengar dirinya sendiri sebagai makhluk yang juga ingin disembuhkan. Ia menyanyikan nama-nama yang angin pernah hafal, yang langit pernah kutuki, yang bumi pernah telan: suara-suara yang hanya ingin satu hal sederhana— tidak menjadi yang paling benar, tidak menjadi yang paling suci, hanya menjadi lirih terdengar tanpa harus menggantikan suara siapa pun. VII. Litani Terakhir Dan di sela-sela jeda itu, kau mungkin menangkap bisikan: bahwa tidak ada anjing yang benar-benar mati, tidak ada mikropon yang benar-benar berkuasa, tidak ada doa yang benar-benar berbohong— hanya makhluk-makhluk yang terus belajar menerima wujudnya tanpa harus menutup mata kepada siapa pun atau menyalakan api yang dapat membakar siapa saja. Litani selesai. Tidak ada amin. Yang tersisa hanya gema yang mengingatkan bahwa kebenaran— kadang-kadang— membutuhkan seekor anjing yang terlahir dari lumpur dan sebuah mikropon berkarat untuk saling menyelamatkan. Desember 2025
Titon Rahmawan
Kosmos dalam Cangkang Retak (Telur Ontologis) I. Titik Nol dan Ilusi Gerak Di sudut jalan, di antara debu waktu yang beku, Pesulap nihil dan sorot mata culas menatap ke arah penonton. "Mari kita hilangkan bulatan mula-mula, jejak sebelum aksara?" Maka ruang pun terlipat, massa dicuri udara. Bukan lenyap, hanya kembali ke nol yang kelam, Di mana bentuk adalah sandiwara, hampa yang disulam. Tapi beberapa detik kemudian, ia muncul lagi: arketipe bentuk yang tak pernah pergi, Lengkung abadi, cangkang tipis dari sunyi. II. Transmutasi dan Anatomis Luka "Ubah ia, ukirkan takdir di kulitnya yang diam," seorang bocah berkata. Perintah yang dingin, mencari makna dalam fatamorgana kejam. Maka telur itu pecah, bukan menjadi janin yang utuh, Tapi serpihan semesta, metaforis yang membunuh. Ia jadi mata sapi, tatapan yang melihat ketiadaan, Jadi sayap ayam, hasrat terbang tanpa pesawat. Namun paling akhir, ia menjelma luka yang kental, Luka kosmologis, getah dari pecahan asal. Ada berapa kemungkinan, Kawan? Sebanyak yang kau pikirkan dalam kekosongan. III. Reproduksi, Cinta, dan Geometri Hampa Ia beranak pinak, bukan lagi karena naluri hewani, Tapi karena logika yang memaksa, rekursi yang mengkhianati. Cinta pun dicetak darinya, lapisan bening yang mengeras, Ciuman basah, cetakan raga yang lekas terlepas. Satu jadi dua, dua jadi tanpa batas, deret yang dingin, Geometri hidup yang lahir dari ketiadaan izin. Telur yang menggandakan diri, mengklaim ruang yang sempit, Menjadi jawaban palsu bagi lelapnya waktu. IV. Ontologi Cangkang dan Prioritas Pedih Di antara kerumunan, suara perempuan epistemik menjerit, "Dari mana datangnya inti ini? Di mana ayam, si subjek yang sakit?" Kosmogoni terbalik, asal-usul yang buram dan samar, Bukan ayam, tapi cangkang retak yang lebih dulu terhampar. Telur yang memproduksi lukanya sendiri. Bukan dari nenek moyang, tapi dari retakan sejati. Aku telur yang menghasilkan luka? Atau lukalah yang mendahului, batu nisan primal yang menjadikanku ada? Aku adalah Telur. Aku adalah Luka. Aku adalah jawab yang tak pernah minta ditanya. Desember 2025 ~~~ Telur di Ambang Pecah: (Arkais dan Lelah) I. Cangkang Mula dan Titik Nol Di mana titik mula itu tersimpan, di permukaan atau kedalaman? Telur, lengkung abadi yang menimbang sunyi semesta. Bukan hanya janin, ia adalah nol yang kelam, Geometri pertama yang tak tunduk pada hukum alam. Hanya karbon dioksida yang mampu mengukur hijau-merah aurora Cangkang gemetar menggigil, rapuh. Pesulap nihil merobek ruang, memintal aksara, Membuatnya lenyap, kembali ke asal tanpa suara. Ia tak pergi, hanya bersembunyi di balik makna: Telur arketipe, lahir dari ketiadaan yang sempurna. II. Anatomi Luka dan Jantung yang Terperam Namun retak itu datang, bukan dari waktu, tapi dari perintah. Ia menjelma, bukan menjadi awal, tapi menjadi musibah. Hanya ingatan putih yang menolak kenangan abu-abu Menatap tajam mata setan di sayapnya yang patah. Telur diubah: Ia jadi sayap ayam yang mengutuk penerbangan tanpa raga. ia jadi mata sapi yang menatap hampa, Paling akhir: ia adalah luka kosmologis yang tak mau pergi, Gelegak lendir trauma, di mana substansi adalah perih. Hanya jantung yang telah hilang detaknya dapat memahami pikiran absurd yang menjelma gairah itu. Aku adalah luka yang diproduksi oleh diriku, Sebanyak yang kau pikirkan di ruang tunggu.
Titon Rahmawan