Adzan Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Adzan. Here they are! All 2 of them:

Setiap pagi, Mama merengkuhnya sambil berbisik di telinga: "Hiduplah Sara. Jangan menyerah" seolah ia tidak saja sedang menyalurkan suaranya pada telinga itu, tapi juga jiwanya. Ia menjadi litani yang berulang tanpa henti Hiduplah, Sara. Hiduplah... Namun suara-suara lain yang hidup. Kokok ayam, adzan menggelegar, disusul dengan gesekan sepatu di aspal, motor dan klaksin yang bertambah keras menggantikan litani yang makin sayup dan kemudian lenyap.
Soe Tjen Marching
Realitas Meminjam lidah dari percakapan orang-orang di jalan; Betapa kulihat subur uban tumbuh di kepala nenekku. Kalong dan kampret beterbangan mencuri buah dari atas meja Di televisi bertebaran berita; orang di gelandang ke dalam bui karena korupsi. Ada yang sedang berubah dari dunia ini; Tak ada lagi kulihat orang mandi di kali Sudah lama kita kehilangan musala tempat mengaji. Orang-orang tenggelam di sawah Terpacak ke dalam lumpur kering Tegalan menjelma jadi hamparan batu. Kerbau dan kambing kehilangan kandang. Hutan dan padang rumput di babat habis. Aku duduk mencangkung di serambi dengan adikku, menunggu Bapak pulang membawa kenduri dari hajatan penganten tetangga kampung sebelah. Ia datang bersama heran. Sedang di jalan bersliweran kuda-kuda pacu yang tak satu pun peduli. Truk-truk mengangkut gunung dan perbukitan mengepulkan asap. Saat emas dan perak pelan-pelan menghilang, maka kerikil dan bebatuan jadi barang berharga. Aku sempat bertanya kepada Ibu, "Benarkah kita telah kehilangan suara adzan?" Bukan yang bertelur dari nyaring corong pengeras suara, Melainkan yang menetas langsung dari dalam hati para ibu. Dulu waktu kecil, aku senang sekali menyimak lagu tentang 'sajadah panjang' yang konon tercipta dari sebuah puisi. Tapi mengapa kini, tak ada lagi orang berdiskusi di atas gelaran tikar? Tak ada kulihat tenda terpasang yang sengaja didirikan untuk memberi makan pengemis yang kelaparan. Tak ada anak-anak berlarian di lapangan. Betapa banyak permainan seperti gasing dan gundu yang raib bersama berlalunya waktu? Lebih aneh lagi, mengapa lapak-lapak di pasar jadi sepi kehilangan pembeli? Mal-mal tumbuh seperti jamur di musim penghujan Tapi kemudian mendadak senyap seperti kota mati. Murid-murid di sekolah tumbuh menjadi dewasa tanpa pernah mengerti bagaimana sesungguhnya uang bekerja. Padahal seribu tahun mereka tenggelam dalam layar yang penuh informasi itu. Lahir 'ceprot' dengan hape dalam genggaman. Surga bukan lagi tempat di mana kita membayangkan bidadari. Orang banyak berdebat tentang agama Tanpa tahu di mana sesungguhnya Tuhan berada. Langit semburat jingga, mengapa kini terlihat biasa-biasa saja? Dan seterusnya Dan seterusnya... Sampai kutemukan ternyata ke mana perginya orang-orang itu Konon katanya mereka terbang di bawa UFO ke sebuah planet yang berwarna biru. Dan demikianlah, kebohongan hadir sebagai realitas sehari-hari. Bukan untuk dipertanyakan Bukan untuk dibantah. November 2025
Tiron Rahmawan