Yohane Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Yohane. Here they are! All 29 of them:

Ketika seseorang yang kau sayangi menjadi bagian memorimu, itu adalah harta yang paling berharga
Yohanes Surya (Tofi: Perburuan Bintang Sirius)
Betapapun fisika mencobamembagi rahasianya, bagi para ilmuwan, cinta tetap menjadi keajaiban yang menakjubkan. Yang jelas Einstein ingin sekali menghubungkan cinta dan teori terkenalnya, sampai-sampai dia dengan serius berkata : "Letakkan tanganmu di tungku panas selama semenit, rasanya seperti satu jam, duduklah bersama dengan gadis pujaanmu selama satu jam, rasanya seperti semenit. itulah makna relativitas
Yohanes Surya (Tofi: Perburuan Bintang Sirius)
Tahukah kau, tubuhmu memiliki sensor penerima sinyal gemosi dari luar? Sensor yang sama yang menghubungkan emosi sepasang anak kembar yang terpisah ratusan kilometer! Hei, benar-benar sensor yang hebat, bukan?! Ketika pertama kali sepasang insan terpikat satu sama lain, masing-masing sensornya menangkap sinyal gemosi cinta. Kontak mata, sentuhan punggung tangan, ucapan-ucapan cinta dan rayuan-rayuan yang membuat hatimu cenat-cenut akan mempercepat penyamanan frekuensi cinta dengan dentingan seindah harpa yang paling merdu sejagat raya. Selanjutnya, semakin selaras frekuensi itu, perasaan nyaman akan tumbuh beriringan. Kemudian rasa rindu hebat akan menyertainya saat dua gemosi berinterferensi saling menguatkan.
Yohanes Surya (Tofi: Perburuan Bintang Sirius)
pleasant weather, elegant cherry blossoms ,the tickling sound of a cat's cry, the scent of coffee and a slightly awkward conversation maybe this is how it feels like to be in twenty
Yohan
The life of humans, with sympathy for other living beings...if we can travel halfway between those two paths..How precious that would be. I would be able to feel that with all my heart.
Yohan (열아홉 스물하나 1 (Nineteen, Twenty-One, #1))
The snow had ceased, but it caked the ground deeply now and the sleek ground car advanced through the deserted streets with lumbering effort. The murky gray light of incipient dawn was cold not only in the poetical sense but also in a very literal way—and even in the then turbulent state of the Foundation’s politics, no one, whether Actionist or pro-Hardin, found his spirits sufficiently ardent to begin street activity that early. Yohan Lee did not like that and his grumblings grew audible. “It’s going to look bad, Hardin. They’re going to say you sneaked away.” “Let them say it if they wish. I’ve got to get to Anacreon and I want to do it without trouble. Now that’s enough, Lee.” Hardin leaned back into the cushioned seat and shivered slightly. It wasn’t cold inside the well-heated car, but there was something frigid about a snow-covered world, even through glass, that annoyed him. He said, reflectively, “Some day when we get around
Isaac Asimov
The blazing sun beat down on the concrete of the museum's front yard- Reverend Ryu Yosop felt as if the heat were sucking up all the moisture in his brain and heart. What different colors he and his brother Yohan must have used as each of them painted their own picture of home, of the carnage. These people have constructed yet a different vision of their own, Yosop thought to himself, but it all stems from the same nightmare, the one we created together.
Hwang Sok-yong (The Guest)
the life of animals, without self-pity and simply devoted to the time given . the life of humans, with sympathy for other living beings ..if we can travel halfway between those two paths, Don't you think our lives would be wonderful ?
Yohan
Yohan was right when he said humans are strange, and she was right when she said we all carry darkness inside of us. Humans are strange. Life is strange. And the world is strange beyond measure.
Min-gyu Park (Pavane for a Dead Princess)
Wasn't born to have validation from humans or be measured by this world's standard
Yohanes Kabes
Wasn't born to have validation from humans or be measured by this world's standards
Yohanes Kabes
The people your brother killed - well, they all had souls. They weren't Satan. Ryu Yohan wasn't Satan, either. His faith was twisted, that's all. I know now. I know that God is innocent. (2007: 143)
Hwang Sok-yong (The Guest)
Their words flitted past, like short sentences typed out on a keyboard, typing away Yosop's past and future. They all said "American troops," but Yosop knew for a fact that the troops had simply been passing through. They were never stationed in Sinchon; they were in a rush to get further north. Both Yosop and his brother Yohan knew for a fact that during those forty-five days, before the arrival of the U.S. troops and after their departure, most of the military strength in the area had consisted of the security forces and the Youth Corps - all Korean. (2007: 99)
Hwang Sok-yong (The Guest)
Sol makes a fist in Yohan’s shirt. And he exists. He exists. He exists.
Beau Van Dalen (To Wield The Darkest Night)
Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) II. Tarian Terakhir Hari pertama ia hadir, seperti hari yang tak pernah berakhir: menghitung sisa uang mengulang adegan Travis Bickle dalam Taxi Driver, mempertaruhkan semuanya di atas dua dadu yang berdenyut seperti tali nasib. Harapan kuning keemasan, di atas angka dua belas, angka tertinggi— ia menari seperti Salome yang menuntut kepala Yohanes dalam satu putaran rahasia. Lompatan dua kaki membentuk tarian misteri, melampaui bintang-bintang, melampaui tubuhnya sendiri: seperti Frida Kahlo yang menari dengan tulang punggung retak namun tetap memaksa hidup memandangnya. Potret kemasyhuran di dinding, berkejaran seperti hantu Billie Holiday, dalam segelas sampanye bersama Marilyn Monroe yang tersenyum tepat sebelum runtuh. Ia mengejar audisi seperti seseorang yang mengejar Tuhan di lorong-lorong sempit Kafka. Makin dekat dengan kenyataan: Menari… seakan esok tubuhnya tak sanggup lagi berdiri. Menari… seperti setiap helaan napas mungkin adalah yang terakhir. Ia menerjemahkan dirinya serupa rembulan perak Virginia Woolf yang suatu hari meninggalkan jejak di permukaan air. Mata kehijauan seperti telaga Nostradamus yang memantulkan firasat kematian. Rambut menyala seperti api— bintang kejora yang akan padam sebelum fajar mengenal namanya. Seekor angsa elok di antara para penari lain, namun kita tahu bagaimana nasib angsa dalam dongeng Andersen: keindahan selalu menjadi kutuk sekaligus mahkota. Meja panjang dengan hidangan asing, bahasa yang tak sepenuhnya ia pahami— seakan ia adalah tokoh Haruki Murakami yang tersesat dalam realitas paralel antara igau seekor kucing dan rembulan yang menangis. Ia bukan menulis puisi, ia sedang menulis obituari: riwayat singkat seorang penari muda yang mati saat mengejar mimpinya— seperti tokoh Son Mi-451 di Cloud Atlas yang mati dalam usaha membebaskan diri dari sistem yang mencabiknya jadi serpihan. Kisah penuh luka, kisah tanpa akhir bahagia: nirwana yang tak pernah ia capai, walau ia sudah menari dengan sepenuh hati, seluruh tubuh, seluruh trauma, seluruh jiwa. Agustus 2025
Titon Rahmawan
SUARA-SUARA YANG DIREDUKSI SEBAGAI ANCAMAN (Poetic Essay) PANGGUNG I — BABYLONIA (Ibu Kota yang Dijadikan Pelacur Agung) (suara seperti menara yang runtuh dalam gema lambat) mereka menamai diriku pemusnah bangsa-bangsa, padahal aku cuma kota: batu, jalan, gedung, arsitektur, tubuh-tubuh bekerja. aku ditahbiskan menjadi pelacur agung bukan karena tidur dengan raja-raja, melainkan karena mereka butuh alasan untuk menaklukkan tanahku. “lihatlah ia makhluk penuh dosa”— kata mereka sambil membakar perpustakaan dan menjarah emas-emas dari kuilku. aku tidak pernah meminta tubuhku dipakai sebagai metafora kerakusan. yang serakah bukan diriku— melainkan mereka yang butuh perempuan sebagai alasan perebutan kekuasaan. mengapa harus tubuh perempuan? karena tubuh adalah tanah yang terlalu sulit ditaklukkan jika tak diberi wajah musuh yang bisa mereka salibkan. PANGGUNG II — JEZEBEL (Ratu yang Dijadikan Simbol Kemerosotan Moral) (suara seperti kaca patri yang retak di kuil) mereka bilang aku menghasut, memperdaya, membawa bangsa menuju kehancuran. anehnya, setelah mereka menuding, yang terbunuh sebagai korban selalu perempuan. aku jadi ikon propaganda: “wanita yang paling berbahaya”, “perempuan yang membunuh nabi-nabi”, padahal aku hanya ratu di atas panggung politik yang tak pernah diciptakan untuk mengenali suaraku. laki-laki membunuh satu sama lain demi kekuasaan, tetapi sejarah menuliskan: “semua ini salah Jezebel.” mengapa tubuh perempuan? karena tubuh laki-laki tak bisa disalahkan, meskipun peradaban hancur sebagai akibat ulah mereka sendiri. jadi mereka menciptakan hantu dengan riasan tebal: aku! wajah yang muncul dari balik cermin ketakutan yang mereka karang sendiri. PANGGUNG III — SALOME (Tubuh yang Dijadikan Mata Uang Politik) (suara seperti pisau menari di udara dingin) mereka mengingat tarianku. mereka lupa siapa yang memintanya. aku dijadikan dalih untuk memenggal seorang lelaki suci— padahal aku hanya anak yang dipakai sebagai alat dalam negosiasi politik istana. namaku disihir menjadi komoditas: sensualitas, bahaya, ketamakan, seolah tubuh seorang gadis cukup untuk menjelaskan kekejaman sebuah ambisi. mengapa tubuh perempuan? karena tubuh perempuan bisa dimanipulasi menjadi alasan pembantaian tanpa mereka harus mengakui bahwa kepala Yohanes jatuh karena rasa takut Herodes, bukan karena tarianku. aku bukan pembawa maut. aku bayangan yang dipelintir agar sejarah bisa menyalahkan satu tubuh bukan seluruh sistem kekuasaan.
Titon Rahmawan
Comprado Pelo Bilionário” é um dramalhão erótico —ou seja
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
Suspeito que algumas pessoas ricas sintam prazer em humilhar pessoas pobres.
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
Não
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
Vou ser um bom garoto.
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
… Para o meu doce garoto
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
— Gosta de apanhar na cara? — De você
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
Os meus olhos pareciam ainda mais coloridos e em cima da minha cabeça havia uma coroa.
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
— O que você está fazendo comigo
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
— Serei um pouco bruto hoje. Posso? — Você pode tudo
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
— Fique comigo
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
Em qualquer outra ocasião
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
— Vai mostrar a alguém? — Por que eu faria isso? Você é meu.
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))
Estou lhe enviando este presente
Yohan Bell (Comprado Pelo Bilionário (Agência Golden Boys! Livro 1) (Portuguese Edition))