Sore Hari Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Sore Hari. Here they are! All 11 of them:

β€œ
Saat itu ku lihat senja dimana-mana. Di sawah, di jalan raya, di atap rumah, di layar kaca, senja dimana-mana. Pagi, siang, sore, malam, setiap waktu menjadi senja. Ia tak begitu menjadi istimewa. Saat itu ku lihat senja hanya sekedar senja. Senja yang sudah kelebihan kata-kata, kekurangan makna. Sial, Aku merindukanmu lagi.
”
”
silviamnque
β€œ
Hujan lebat telah mengguyur kota sore ini. Namun selepas itu, senja pun masih saja ingin hadir menemani perjalanan pulang para pecintanya. Ia nampak mengintip di balik gelapnya awan mendung. Menyiratkan semburat indah warna jingganya. Dan seiring kepergiannya di balik horizon, rindu ini kembali menyeruak masuk ke dalam dada. Memaksa hati turut merasakan pilunya. Tak sabar menantikan hari esok tiba. Hari dimana kita bisa saling bertatap mata. Meleburkan rindu yang telah lama beku, sekali lagi.
”
”
imeragustin
β€œ
Pada Minggu sore yang tenang itu, aku menikahi Dinda. Aku berpakaian Melayu lengkap persis seperti waktu aku melamarnya dahulu. Dinda berpakaian muslimah Melayu serbahijau. Bajunya berwarna hijau lumut, jilbabnya hijau daun. Dia memang pencinta lingkungan. Itulah hari terindah dalam hidupku. Jadilah aku seorang suami dan jika ada kejuaraan istri paling lambat di dunia ini, pasti Dinda juaranya. Dia bangkit dari tempat duduk dengan pelan, lalu berjalan menuju kursi rotan dengan kecepatan 2 kilometer per jam. Kalau aku berkisah lucu dan jarum detik baru hinggap di angka 7, aku harus menunggu jarum detik paling tidak memukul angka 9 baru dia mengerti. Dari titik dia mengerti sampai dia tersipu, aku harus menunggu jarum detik mendarat di angka 10. Ada kalanya sampai jarum detik hinggap di angka 5, dia masih belum paham bahwa ceritaku itu lucu. Jika dia akhirnya tersipu, lalu menjadi tawa adalah keberuntunganku yang langka. Kini dia membaca buku Kisah Seekor Ulat. Tidak tebal buku itu kira-kira 40 halaman. Kuduga sampai ulat itu menjadi kupu-kupu, atau kembali menjadi ulat lagi, dia masih belum selesai membacanya. Semua yang bersangkut paut dengan Dinda berada dalam mode slow motion. Bahkan, kucing yang lewat di depannya tak berani cepat-cepat. Cecak-cecak di dinding berinjit-injit. Tokek tutup mulut. Selalu kutunggu apa yang mau diucapkannya. Aku senang jika dia berhasil mengucapkannya. Setelah menemuinya, aku pulang ke rumahku sendiri dan tak sabar ingin menemuinya lagi. Aku gembira menjadi suami dari istri yang paling lambat di dunia ini. Aku rela menunggu dalam diam dan harapan yang timbul tenggelam bahwa dia akan bicara, bahwa dia akan menyapaku, suaminya ini, dan aku takut kalau-kalau suatu hari aku datang, dia tak lagi mengenaliku.
”
”
Andrea Hirata (Sirkus Pohon)
β€œ
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kafein pada sore hari dapat meningkatkan kemungkinan Anda berhenti merokok
”
”
Charles Duhigg (The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business)
β€œ
Sore itu mengantarkanku pada hari-hari lalu, saat semua terasa begitu sederhana Percakapan yang mengalir deras, bising klakson yang bersahutan di depan lapas, suara azan yang sesekali terputus saat sang muazzin menarik nafas Alun-alun malam itu masih tak terasa dingin walau hujan tak henti-hentinya mengguyur tubuh Sampai semua kesepian itu memelukku di penghujung jalan memasuki Tarogong rasa dingin terasa menusuk tulang saat melewati jalanan Dangdeur yang gelap Sesekali kulirik percakapan kita dan mencari kehangatan di situ, saat dada mulai remuk oleh rasa kehilangan yang menghantui sepanjang gang Aku benci saat mengingatnya, tak pernah menyadari kata-katamu yang bagai sembilu, menggores luka yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah Tak pernah kurasakan sakit saat itu, dan pikirku, mungkin semua akan baik-baik saja pada akhirnya Tak ada sesuatu yang menanti di ujung jalan itu selain rayuan dan tipuanmu, mengatasnamakan luka seorang wanita Aku tersesat di labirin gelap dengan kaki yang membusuk Dan kau di sana, dalam kehangatan di dalam selimut ranjang dalam pelukan seseorang, mengantarkan huruf-demi huruf, baris-demi-baris, bualan penuh muslihat Aku terlena dalam kehangatan palsu sepanjang tahun-tahun yang kelak akan kau buang dengan sia-sia Aku terlena dalam kata-katamu bahwa aku adalah satu-satunya Namun aku tak punya kuasa untuk memutar waktu, pun tak sanggup membuang semua racun itu yang telah membusukkanku dari dalam Sore ini mengantarkanku pada hari-hari lalu, saat semua terasa begitu sederhana Dan aku membencimu (Untuk Fadila Nazian)
”
”
Hurairo-san
β€œ
The Lord God had caused a cursing to come upon the Lamanites, a sore cursing because of their iniquity.
”
”
Hari Kunzru (Gods Without Men (Vintage Contemporaries))
β€œ
Ada matahari terbit dan terbenam setiap hari, dan mereka benar-benar gratis. Jangan sering-sering melewatkannya!
”
”
Vergi Crush
β€œ
Sepasrah rembulan yang berpendar di pasifik, setegar karang di waka tobi Sekuat salmon menuju hulu sungai, setenang semilir angin di sore hari Sebanyak buih di lautan, serumit kalkulus tingkat expert Seasyik menuai kopi dari gilingan, setakut kehilangan nyawa Seperti itu berjuang padamu?
”
”
Elvina Mahdyah
β€œ
Mengenakan iman setiap pagi, dan melucutinya di siang hari, mengenakan lagi di sore hari, melucuti kembali di malam hari. Bahkan keyakinan itu sendiri harus di periksa, agar menjadi sempurna.
”
”
Ayudhia Virga
β€œ
Jangan mempermainkanku dengan kata kata yang mempunyai banyak ilusi Jangan mengecokkanku ribuan majas yang makin tak bertepi Sejenuh, sejenak, mengapung menggantung, Apakah kau menganggapku selirih sepandang seperjalanan menanti berlalu? Jujur, kau seindah, semenarik, terpandang Memang, kau sejernih, selugu, segala terpancar Lalu mengapa kau, adapun mau, adapun membaur Berdatang dan berlalu Tiba-tiba kau tertarik dengan angin yang terasakan mengepoi-sepoi sore hari segala terlalu Sungguh, kini kau sesulit ini dipahami? Ber-entah kata jika ditata berbaris Ber-jenaka di alun syair Berujung ku me-nyudahi Terbegitukah ku lakui...? ... #medan, April 2020 Judul: MengapaKah
”
”
Manhalawa
β€œ
SAKURA: Enam Luka, Enam Cara Mencintai yang tak Selesai. 1. Sakura di Ambang Yang Tak Tersentuh Kelopak gugurβ€” nama kita terhapus sebelum tiba. Senja memudar. dalam hembusan angin, langit terdiam. Di batang tua, bayangmu menempel tanpa tubuhku. 2. Sakura di Atas Luka yang Tidak Sembuh Ada jalan kecil di mana dulu kau memanggilku tanpa suara. Sakura mekar di sana hari ini, menghadirkan wajahmu yang tak boleh kusentuh. Angin mengangkat kelopak seperti membawa rahasia kita yang bahkan langit pun malu menyimpannya. Aku berdiri lama, membiarkan gugurnya bunga menjadi satu-satunya sentuhan yang masih diizinkan dunia. 3. Sakura dalam Cekungan Piala Bulan Aku minum bersama bayangku, dan kau hadir sebagai aroma yang tak pernah sempat kupeluk. Di atas sungai malam, sakura jatuh satu-satu, setiap kelopakβ€” janji yang tidak kita tepati. Angin membawa namamu hingga ke bintang paling dingin, dan aku tetap duduk di sini, mabuk oleh hal yang tidak boleh kucintai. Di kejauhan, bulan tertawa pelanβ€” ia tahu sejak awal kita tak akan pernah dipersatukan dunia. 4. Sakura di Antara Dua Keheningan Sakura jatuh di trotoar basah kota tanpa siapa pun memperhatikan. Seperti kata terakhir yang tidak berani kita ucapkan, ia hilang sebelum sempat menyentuh. Aku berjalan melewati pohon itu mengira kau masih ada di sanaβ€” tapi cahaya sore memantulkan betapa tipisnya keberadaan. Mungkin cinta hanyalah kelopak yang runtuh terlalu cepat untuk kita tangkap, namun terlalu lambat untuk benar-benar dilupakan. 5. Sakura yang Tumbuh di Dalam Rongga Dada Aku membuka dadaku dan menemukan sebatang sakura kecil menggeliat di antara tulang rusuk. Setiap kelopaknya membawa wajahmuβ€” wajah yang tidak boleh kusebut tanpa membuat dunia ini memuntahkan darah. Angin malam masuk melalui retakan luka, menggoyangkan pohon itu hingga menggugurkan rahasia yang kupendam terlalu lama. Sakura itu mekar bukan untuk dirayakan, melainkan untuk mengingatkan bahwa cinta yang dilarang selalu mencari jalan untuk tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Dan aku, menjadi taman gelap yang tidak pernah diakui matahari. 6. Sakura dalam Bahasa yang Berbeda Di halaman sunyi itu, sakura berdiri seperti sebuah kata yang kehilangan huruf pertamanya. Aku mencoba mengucapkan namamuβ€” tapi udara membeku, mengubah suara menjadi debu. Kelopak jatuh sebagai tanda-tanda kecil dari sesuatu yang tidak pernah boleh dirumuskan. Kita adalah dua kalimat yang ditulis dalam bahasa berbeda di bawah langit yang sama. Angin membawa sakura pergi, dan aku memahami bahwa beberapa cinta ditakdirkan hanya menjadi metafora: indah, dingin, dan tidak pernah selesai. April 2014
”
”
Titon Rahmawan