Napa Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Napa. Here they are! All 186 of them:

Alexander, you broke my heart. But for carrying me on your back, for pulling my dying sled, for giving me your last bread, for the body you destroyed for me, for the son you have given me, for the twenty-nine days we lived like Red Birds of Paradise, for all our Naples sands and Napa wines, for all the days you have been my first and last breath, for Orbeli- I will forgive you.
Paullina Simons (The Summer Garden (The Bronze Horseman, #3))
He slung off his backpack. He'd managed to grab a lot of supplies at the Napa Bargain Mart: a portable GPS, duct tape, lighter, superglue, water bottle, camping roll, a Comfy Panda Pillow Pet (as seen on TV), and a Swiss army knife—pretty much every tool a modern demigod could want.
Rick Riordan (The Son of Neptune (The Heroes of Olympus, #2))
Kamu tahu, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok.
Tere Liye (Hujan)
Wahai anak, kamu mungkin lebih bijak dari kami, tetapi kamu tidak mungkin dapat mengatasi kasih seorang ibu dan napa. Kamu menyayangi kami selepas kamu bijak, tetapi kami mengasihi kamu sebelum kami lahir
Hasrizal Abdul Jamil
Kau tahu, sesungguhnya Tuhan telah mati bagi mereka yang kecewa.
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
Kebahagiaan dan rasa sedih itu terkadang tidak ada bedanya. sama-sama membuat tidak bisa tidur. Hanya saja rasa bahagia tidak membuat tubuh melakukan gerakan resah atau helaan napas panjang. Rasa gembira hanya membuat sesak.
Tere Liye
Kota-kota terus bergerak membangun modernitasnya. Ia hidup dari beku dan kekosongan sepertiku. Kota-kota yang di mata orang sepertiku, begitu mengejutkan dan menakutkan.
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
Things always happen for a reason, that’s what everybody says.” “But often, not for the reasons we wanted.” “Yeah, it’s like a rule of life, or something.” Dia menghela napas. “But I think believing that things happen for a reason makes it easier for us to keep going. Dengan menerima kenyataan, kita akan lebih mudah bergerak maju, mengecilkan ruang untuk rasa sesal.
Winna Efendi (Melbourne: Rewind)
Di pulau-pulau ajaib, hujan dijadikan makanan para cebol yang direndahkan dengan harapan mereka bisa tinggi setinggi langit yang menurunkan hujan.
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
Yang paling mencintai diriku adalah diriku sendiri.
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
Manusia selalu terkejut melihat dirinya berubah dari waktu ke waktu.
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita Engkau membuatku putus asa dan mencinta Pada saat yang sama
Dee Lestari (Gelombang)
Keramaian membuatku lelah tak berniat melakukan apa-apa kecuali berjalan dan berjalan terus sampai mati.
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
Ah, kematian memang misteri. Bisa datang di mana saja, kapan saja. Jika bisa memaknai setiap napas hidup, kematian hanyalah sebuah lonceng untuk waktu yang telah tiada.
Iwan Setyawan (Ibuk,)
Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu, dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.
Susanna Tamaro (Follow Your Heart)
Saat dunia berpaling darimu, maka buanglah dunia dan hempaskan agar kau tidak memerlukannya lagi. Kebahagiaan bisa dicari dari dagin-daging dan bercinta.
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
Invalidating a woman’s life choices by saying things like, “Oh, but you’ll regret it if you don’t have kids,” or, “I didn’t think I wanted kids either until I had one,” is like me going to an Alcoholics Anonymous meeting and telling the newly sober that eventually when they grow old, they’ll want to take the edge off with a little gin and tonic and that if they could only just be mature enough to control themselves, they could go on a fun wine-tasting tour in the Napa Valley.
Jen Kirkman (I Can Barely Take Care of Myself: Tales From a Happy Life Without Kids)
Alexander, me has roto el corazón. Pero por haberme llevado a tu espalda, por tirar de mi trineo de muerte, por darme tu último pedazo de pan, por el cuerpo que te destrozaste por mí, por el hijo que me has dado, por los veintinueve días que vivimos en el paraíso, por todas nuestras arenas blancas de Naples y nuestros vinos de Napa, por todos los días que has sido mi primer y mi último aliento, por Orbeli... Te perdonaré.
Paullina Simons (The Summer Garden (The Bronze Horseman, #3))
Memaafkan. Kata yang lucu sekali, bukan?... Sesuatu yang sulit sekali diberikan. Padahal dengan melakukan itu berarti kita menyelamatkan hati kita sendiri. Pernahkah kau mendengar, bahwa ketika kau memaafkan seseorang, kau membuka lagi pintu rumah yang sebelumnya kau tutup rapat-rapat, yang telah membuat dirimu terperangkap dan kehabisan napas. Ketika kau memaafkan, kau pun bisa bernapas lagi. Dan hidup.
Prisca Primasari (Evergreen)
I'm blessed, for I have sinned with the best damned fuck in the universe.
Christie Ridgway (Crush on You (Three Kisses, #1))
Mungkin hidup bersama-sama dengan orang lain adalah cara yang tepat yang bisa memberikan napas lega di tengah dunia yang penuh dengan kegelapan dan kesesakan.
Baek Se-hee (I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki)
~“She likes my dog, doesn’t take my crap, and looks at me like I can be the kind of man Dad was. When she cooks…she wears this apron…And I love her so damn much that I have no idea how I’m suppose to wake up tomorrow and pretend like my life hasn’t just fucking ended” Marco Delucca
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
Selalu menyakitkan melihatmu dari kejauhan tanpa bisa menggapai, tapi obsesiku terhadapmu terasa menyenangkan. Memberiku napas. Memberiku sepercik semangat hidup.
Miranda Malonka (Sylvia's Letters)
Selagi darah mengalir dan napas mengembus, harapan tidaklah pernah sungguh-sungguh mati. Harapan adalah sepasang kaki yang menjejakkanmu pada dunia. Dan dia baru akan mati..., bila kamu juga sudah mati.
Septian Hung (Menagih Nyawa dan Cerita-cerita Pendek Lainnya)
Bila kita berpisah ke mana kau aku tak tahu, sahabat atau turuti kelok-kelok jalan atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan hanya bila kau lupa Ingat... pernah aku dan kau sama-sama daki gunung-gunung tinggi hampir kaki kita patah-patah napas kita putus-putus tujuan esa, tujuan satu: Pengabdian dan pengabdian kepada... ...Yang Maha Kuasa...
Idhan Lubis
New Rule: The Napa Valley is Disneyland for alcoholics. Be honest, you're not visiting wineries in four days because you're an oenophile, you're doing it because you're a drunk. It's the only place in America where you can pass out in a stranger's house and it's okay, because it's a B&B and you paid for it.
Bill Maher (The New New Rules: A Funny Look At How Everybody But Me Has Their Head Up Their Ass)
Ah, Ibuk! Kau adalah hijau pepohonan yang menutupi kegersangan. Napas buat kehidupan.
Iwan Setyawan (Ibuk,)
Tapi, nyatanya keadaan memaksa ia harus berjibaku dengan waktu dan prioritas hidup yang berhubungan dengan napas orang lain.
Adenita (23 Episentrum)
Rindu itu ibarat kaos yang udah dua hari nempel dibadan kita. Mau dilepas cucian kotor udah numpuk, gak dilepas baunya bikin nyesek (napas).
nom de plume
Emosi negatif itu hanya bertahan pada satu menit pertama. Jika kita menarik napas dan melepaskannya perlahan, mencoba mengalihkannya dengan hal lain, reseptor negatif yang diterima hipotalamus di otak tidak akan dilanjutkan ke saraf simpatik; sebaliknya, akan bergerak menjauh, meluruh, dan akhirnya menghilang. (50)
Hanum Salsabiela Rais (Bulan Terbelah di Langit Amerika)
Dalam peri kehidupan manusia, sebelum nasib sial menghantam bertubi-tubi, menganggur, tak lolos audisi, kena PHK, kena tipu, utang membelit, prahara rumah tangga, ekonomi sulit, berupa-rupa penyakit, tiada jeda menghantam sampai napas tersangkut di tenggorokan, lalu mati, nasib memanjakan manusia dengan satu masa yang hebat: SMA.
Andrea Hirata
Jika Anda akan atau telah memulai satu perjuangan yang mantap untuk bisa menyejahterakan hidup, ajaklah pasangan untuk mengerti dan memahami passion Anda. Doa dan dukungan pendampingan sangat besar artinya untuk menambah kekuatan hati saat kita berjalan. Karena perjuangan memiliki jalan misterius. Perubahan cuaca bisa terjadi dalam rupa yang tidak kita duga. Keberadaan pasangan hidup yang suportif dan apresiatif terhadap apa yang kita buat akan begitu bermakna. Kita bisa merasakan perbedaan, berjuang dengan dukungan dan berjuang dalam tekanan adalah dua hal yang berbeda. Aku harus bersyukur bahwa diriku berjodoh dengan seseorang yang sangat memahami napas perjuanganku.
Alberthiene Endah (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar)
Da, upravo tako, sve što imamo su sjećanja. Budućnost ne postoji, postoji samo "sada", a to "sada" nam neprekidno izmiče u budućnost. Nama ostaje samo prošlost, a ta prošlost je tek obična apstrakcija. Šta je zapravo ta prošlost, od čega se ona sastoji? Od sjećanja. A sjećanje je selektivno, ono je napa kostrukcija, mi biramo šta ćemo i kako pamtiti.
Bekim Sejranović (Dnevnik jednog nomada)
Olive trees grow in the same climate and soil conditions as grapes. The olive oil people have been up in Napa Valley all along, going, “Hey, how do we get a piece of this action?
Mary Roach (Gulp: Adventures on the Alimentary Canal)
Di antara begitu banyak oksigen, kami memilih untuk menahan napas.
Devania Annesya (Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak)
If you can be happy for the joy in the lives of others, you will find more joy in your own life. Isn’t that neat? That means that instead of telling you that you first need to work on finding joy in your own life so that you can be happy for others, I’m saying, concentrate on the reverse. Be so incredibly happy for others! Things are going well for them! They are happy! You want them to be happy. You want to contribute to their happiness. It’s much easier this way. Trying to wring joy out of your own life right now might feel a bit like trying to wring sweet Napa Valley wine out of a rotten turnip.
Stephanee Killen (Buddha Breaking Up: A Guide to Healing from Heartache & Liberating Your Awesomeness)
He didn’t know it, but he had saved her, and hopefully he would never know the dire straits she’d been in when he met her. She had come to the Napa Valley to find a man like him. She had set her sights on Sam Marshall, but
Danielle Steel (Fairytale)
Setiap kita adalah duta bagi Islam. Tiap kita adalah duta bagi Indonesia, bagi keluarga kita. Bila keberadaan ini belum bisa memberi maslahat, pastikan paling tidak kehadiran kita tak membawa mudharat. Ishlah dalam setiap desah napas.
Helvy Tiana Rosa
We are supposed to consume alcohol and enjoy it, but we're not supposed to become alcoholics. Imagine if this were the same with cocaine. Imagine we grew up watching our parents snort lines at dinner, celebrations, sporting events, brunches, and funerals. We'd sometimes (or often) see our parents coked out of our minds the way we sometimes (or often) see them drunk. We'd witness them coming down after a cocaine binge the way we see them recovering from a hangover. Kiosks at Disneyland would see it so our parents could make it through a day of fun, our mom's book club would be one big blow-fest and instead of "mommy juice" it would be called "mommy powder" There'd be coke-tasting parties in Napa and cocaine cellars in fancy people's homes, and everyone we know (including our pastors, nurses, teachers, coaches, bosses) would snort it. The message we'd pick up as kids could be Cocaine is great, and one day you'll get to try it, too! Just don't become addicted to it or take it too far. Try it; use it responsibly. Don't become a cocaine-oholic though. Now, I'm sure you're thinking. That's insane, everyone knows cocaine is far more addicting than alcohol and far more dangerous. Except, it's not...The point is not that alcohol is worse than cocaine. The point is that we have a really clear understanding that cocaine is toxic and addictive. We know there's no safe amount of it, no such thing as "moderate" cocaine use; we know it can hook us and rob us of everything we care about...We know we are better off not tangling with it at all.
Holly Whitaker (Quit Like a Woman: The Radical Choice to Not Drink in a Culture Obsessed with Alcohol)
Itu...nyalahin diri sendiri. Menganggap semua hal di dunia ini tanggung jawabmu. Ayolah, kamu manusia biasa. Kamu udah berusaha semampumu, tapi emang ada hal-hal yang di luar kemampuan kita. Dan, oh ya, satu lagi. Jangan bilang nggak apa-apa waktu kamu lagi kenapa-napa. It's Ok to not be Ok. Kamu nggak harus baik-baik aja terus. Raira
Pradnya Paramitha (Kala Langit Abu-Abu)
Karena...," dia menimbang-nimbang, "aku sudah menghabiskan berjam-jam waktuku bersamanya, dan aku menyukai setiap detiknya." "Jadi?" Hye-Ji menahan napas. "Jadi... aku berencana untuk memintanya membiarkanku menghabiskan lebih banyak waktu lagi bersamanya. Di masa depan. Setelah aku memberi tahu dia bahwa aku mencintainya, tentu saja.
Yuli Pritania (A (Wo)man's Scent)
Jadilah rumahku, ke manapun aku berkelana, selalu berpulang padamu. Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang, kala lelah kukepak sayap. Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada. Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati. Berlebihan jika kuminta semua itu? Cemasku… Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa? Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku? Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?
Devania Annesya
I figure any man who can walk away from you wasn’t a fucking man to begin with.
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
He’d take an inch and she’d end up buck naked with her boots on the dashboard of that old Christmas tree truck.
Kate Kisset (Kissing Mr. Mistletoe: Christmas in Napa (Holiday in the Vineyard Novella #1))
Trace Montgomery would’ve recognized Monique’s curves anywhere, but to have them literally drop out of the sky from a ladder shocked him senseless.
Kate Kisset (Kissing Mr. Mistletoe: Christmas in Napa (Holiday in the Vineyard Novella #1))
Nothing wrong with a nap...As long as you know how to dream.
Katherine Applegate (Pocket Bear)
Hugo planned a five-course meal: smoked duck, oyster stew, roast beef with mashed yams, a salad of apples with beets and blue cheese, then chocolate banana cream pie. Rich, rich, and richer still. Ben made pitchers of martinis and set aside thirty-five bottles of a tried-and-true Napa cabernet, pure purple velvet, and an Oregonian pinot gris, grassy and effervescent.
Julia Glass (The Whole World Over)
It was March in the Napa Valley, just under sixty miles north of San Francisco, and Joy Lammenais’s favorite time of year. The rolling hills were a brilliant emerald green, which would fade once the weather grew warmer, and get dry and brittle in the summer heat. But for now, everything was fresh and new, and the vineyards stretched for miles across the Valley. Visitors compared it to Tuscany in Italy, and some to France
Danielle Steel (Fairytale)
plays a game with his wine-marketing classes at Napa Valley College. The students, most of whom have several years’ experience in the industry, are asked to rank six wines, their labels hidden by—a nice touch here—brown paper bags. All are wines Wagner himself enjoys. At least one is under $10 and two are over $50. “Over the past eighteen years, every time,” he told me, “the least expensive wine averages the highest ranking, and the most expensive two finish at the bottom.
Mary Roach (Gulp: Adventures on the Alimentary Canal)
Denver’s first permanent structure was said to be a saloon, and more beer is brewed here today than in any other American city, earning it the nickname the “Napa Valley of beer.” For one weekend in the fall it boasts the best selection on earth during the Great American Beer Festival, a New World Oktoberfest that gathers representatives from the nation’s best breweries to tap over 1,600 different kinds of beer—enough to get it listed in Guinness World Records for the most beers tapped in one place.
Patricia Schultz (1,000 Places to See in the United States & Canada Before You Die)
What I wrote was dark and unsettling at times, but that’s how my life had been. The only brightness and warmth I could remember was being in Napa. My memories of the beautiful connection Jamie and I had shared started coming back to me, coursing through my veins like a rushing river. I would daydream about his lips on my neck, so tender and warm, and his strong hands on my waist, making me feel safe. The story was about the pain we sometimes have to endure before the universe rewards us with real love. Through
Renee Carlino (Nowhere but Here)
Jika keadaan telah sangat buruk dan membuat kita kehabisan napas, jangan pernah ragu untuk mengulurkan tangan minta pertolongan. Depresi bukan kondisi yang bisa diremehkan dan bisa saja terjadi pada siapa pun. Mulailah dengan bersikap lebih sensitif pada orang-orang di sekitar. Apa yang mereka pikirkan, khawatirkan, dan takutkan. Dengan begitu, ini akan mencegah dan membuat kita berpikir ulang untuk tidak mengatakan hal-hal menyakitkan yang memicu kondisi seseorang menjadi depresi lalu memutuskan mengakhiri hidupnya.
Lea Yunkicha (BTS X ARMY In the Love Maze)
And so, with a torn sleeve and a keyboard on which cigarette ash can rest, writers ended up arsonists of recycled material with a blanket over fast burning fires to send fragments of reality to the sky for people to manage any way they wish. Or can." (intro "Throwing Dice on a Chessboard
Christos R. Tsiailis (Throwing Dice on a Chessboard: (a collection of short stories))
Her disillusionment with the business had intensified as the need to simplify her stories increased. Her original treatments for Blondie of the Follies and The Prizefighter and the Lady had much more complexity and many more characters than ever made it to the screen, and adapting The Good Earth had served as a nagging reminder of the inherent restraints of film. Frances found herself inspired by memories of Jack London, sitting on the veranda with her father as they extolled the virtues of drinking their liquor “neat,” and remembered his telling her that he went traveling to experience adventure, but “then come back to an unrelated environment and write. I seek one of nature’s hideouts, like this isolated Valley, then I see more clearly the scenes that are the most vivid in my memory.” So she arrived in Napa with the idea of writing the novel she started in her hospital bed with the backdrop of “the chaos, confusion, excitement and daily tidal changes” of the studios, but as she sat on the veranda at Aetna Springs, she knew she was still too close to her mixed feelings about the film business.48 As she walked the trails and passed the schoolhouse that had served the community for sixty years, she talked to the people who had lived there in seclusion for several generations and found their stories “similar to case histories recorded by Freud or Jung.” She concentrated on the women she saw carrying the burden in this community and all others and gave them a depth of emotion and detail. Her series of short stories was published under the title Valley People and critics praised it as a “heartbreak book” that would “never do for screen material.” It won the public plaudits of Dorothy Parker, Rupert Hughes, Joseph Hergesheimer, and other popular writers and Frances proudly viewed Valley People as “an honest book with no punches pulled” and “a tribute to my suffering sex.
Cari Beauchamp (Without Lying Down: Frances Marion and the Powerful Women of Early Hollywood)
Oedipa spent the next several days in and out of libraries and earnest discussions with Emory Bortz and Genghis Cohen. She feared a little for their security in view of what was happening to everyone else she knew. The day after reading Blobb's Peregrinations she, with Bortz, Grace, and the graduate students, attended Randolph Driblette's burial, listened to a younger brother's helpless, stricken eulogy, watched the mother, spectral in afternoon smog, cry, and came back at night to sit on the grave and drink Napa Valley muscatel, which Driblette in his time had put away barrels of. There was no moon, smog covered the stars, all black as a Tristero rider. Oedipa sat on the earth, ass getting cold, wondering whether, as Driblette had suggested that night from the shower, some version of herself hadn't vanished with him. Perhaps her mind would go on flexing psychic muscles that no longer existed; would be betrayed and mocked by a phantom self as the amputee is by a phantom limb. Someday she might replace whatever of her had gone away by some prosthetic device, a dress of a certain color, a phrase in a ' letter, another lover. She tried to reach out, to whatever coded tenacity of protein might improbably have held on six feet below, still resisting decay-any stubborn quiescence perhaps gathering itself for some last burst, some last scramble up through earth, just-glimmering, holding together with its final strength a transient, winged shape, needing to settle at once in the warm host, or dissipate forever into the dark. If you come to me, prayed Oedipa, bring your memories of the last night. Or if you have to keep down your payload, the last five minutes-that may be enough. But so I'll know if your walk into the sea had anything to do with Tristero. If they got rid of you for the reason they got rid of Hilarius and Mucho and Metzger-maybe because they thought I no longer needed you. They were wrong. I needed you. Only bring me that memory, and you can live with me for whatever time I've got. She remembered his head, floating in the shower, saying, you could fall in love with me. But could she have saved him? She looked over at the girl who'd given her the news of his death. Had they been in love? Did she know why Driblette had put in those two extra lines that night? Had he even known why? No one could begin to trace it. A hundred hangups, permuted, combined-sex, money, illness, despair with the history of his time and place, who knew. Changing the script had no clearer motive than his suicide. There was the same whimsy to both. Perhaps-she felt briefly penetrated, as if the bright winged thing had actually made it to the sanctuary of her heart-perhaps, springing from the same slick labyrinth, adding those two lines had even, in a way never to be explained, served him as a rehearsal for his night's walk away into that vast sink of the primal blood the Pacific. She waited for the winged brightness to announce its safe arrival. But there was silence. Driblette, she called. The signal echoing down twisted miles of brain circuitry. Driblette! But as with Maxwell's Demon, so now. Either she could not communicate, or he did not exist.
Thomas Pynchon (The Crying of Lot 49)
Every fall God turns water into wine in France and Chile and the Napa Valley.
Cynthia A. Jarvis (Feasting on the Gospels--John, Volume 1: A Feasting on the Word Commentary)
They talked about how no one, on their deathbed, ever wished they’d worked longer, harder, put in more hours at the office. But the thing none of those romantics got was that you didn’t get to grow old and wistful if you didn’t have money, that spending time with your loved ones was expensive, that if you blithely switched off your notifications and let the cogs in the wheel turn, you would be replaced. Especially if you were a mother. You would be replaced by something younger, faster, and cheaper. A shinier, newer cog. Probably made of flimsier stuff than you, but replaced nevertheless.
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
wondered if a condition of being an adult was that you always thought you should be doing something other than what you were doing.
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
Vacationing” with young children was just parenting with a better view, if you were lucky.)
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
Stayed right here. Went to Napa Valley College. By then, my grandmother had already made me a co-owner of Becca’s Blooms, so I needed to stay close.
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
A few beats of silence dragged out. Very briefly, her smile dimmed, and his stomach dropped with it. “Napa High,” she said, continuing on without giving him a chance to process that bombshell information. “You would have been three years ahead of me, I believe. A cool senior.” Her shoulder jerked. “I’m sure our paths didn’t cross very often.
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
Phyllo wrapped, stuffed with a mixture of shiitake, portobello, and oyster, and sautéed in”—he smiled at all of them as if about to dispense some delicious secret—“a special ingredient that I don’t usually get my hands on—” “Sustainable avocado oil,” Victoria
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
The following are all foods you should feel welcome to eat freely (unless, of course, you know they bother your stomach): Alliums (Onions, Leeks, Garlic, Scallions): This category of foods, in particular, is an excellent source of prebiotics and can be extremely nourishing to our bugs. If you thought certain foods were lacking in flavor, try sautéing what you think of as that “boring” vegetable or tofu with any member of this family and witness the makeover. Good-quality olive oil, sesame oil, or coconut oil can all help with the transformation of taste. *Beans, Legumes, and Pulses: This family of foods is one of the easiest ways to get a high amount of fiber in a small amount of food. You know how beans make some folks a little gassy? That’s a by-product of our bacterial buddies chowing down on that chili you just consumed for dinner. Don’t get stuck in a bean rut. Seek out your bean aisle or peruse the bulk bin at your local grocery store and see if you can try for three different types of beans each week. Great northern, anyone? Brightly Colored Fruits and Vegetables: Not only do these gems provide fiber, but they are also filled with polyphenols that increase diversity in the gut and offer anti-inflammatory compounds that are essential for disease prevention and healing. Please note that white and brown are colors in this category—hello, cauliflower, daikon radish, and mushrooms! Good fungi are particularly anti-inflammatory, rich in beta-glucans, and a good source of the immune-supportive vitamin D. Remember that variety is key here. Just because broccoli gets a special place in the world of superfoods doesn’t mean that you should eat only broccoli. Branch out: How about trying bok choy, napa cabbage, or an orange pepper? Include a spectrum of color on your plate and make sure that some of these vegetables are periodically eaten raw or lightly steamed, which may have greater benefits to your microbiome. Herbs and Spices: Not only incredibly rich in those anti-inflammatory polyphenols, this category of foods also has natural digestive-aid properties that can help improve the digestibility of certain foods like beans. They can also stimulate the production of bile, an essential part of our body’s mode of breaking down fat. Plus, they add pizzazz to any meal. Nuts, Seeds, and Their Respective Butters: This family of foods provides fiber, and it is also a good source of healthy and anti-inflammatory fats that help keep the digestive tract balanced and nourished. It’s time to step out of that almond rut and seek out new nutty experiences. Walnuts have been shown to confer excellent benefits on the microbiome because of their high omega-3 and polyphenol content. And if you haven’t tasted a buttery hemp seed, also rich in omega-3s and fantastic atop oatmeal, here’s your opportunity. Starchy Vegetables: These hearty vegetables are a great source of fiber and beneficial plant chemicals. When slightly cooled, they are also a source of something called resistant starch, which feeds the bacteria and enables them to create those fantabulous short-chain fatty acids. These include foods like potatoes, winter squash, and root vegetables like parsnips, beets, and rutabaga. When was the last time you munched on rutabaga? This might be your chance! Teas: This can be green, white, or black tea, all of which contain healthy anti-inflammatory compounds that are beneficial for our microbes and overall gut health. It can also be herbal tea, which is an easy way to add overall health-supportive nutrients to our diet without a lot of additional burden on our digestive system. Unprocessed Whole Grains: These are wonderful complex carbohydrates (meaning fiber-filled), which both nourish those gut bugs and have numerous vitamins and minerals that support our health. Branch out and try some new ones like millet, buckwheat, and amaranth. FOODS TO EAT IN MODERATION
Mary Purdy (The Microbiome Diet Reset: A Practical Guide to Restore and Protect a Healthy Microbiome)
He’d managed to grab a lot of supplies at the Napa Bargain Mart: a portable GPS, duct tape, lighter, superglue, water bottle, camping roll, a Comfy Panda Pillow Pet (as seen on TV), and a Swiss army knife—pretty much every tool a modern demigod could want.
Rick Riordan (The Son of Neptune (The Heroes of Olympus, #2))
The corner of his mouth tugged. “Day drinking is always the solution.” “Said no one ever. Even in Napa.
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
They talked about how no one, on their deathbed, ever wished they’d worked longer, harder, put in more hours at the office.
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
She wondered if a condition of being an adult was that you always thought you should be doing something other than what you were doing.
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
You choose your attitude.
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
To Instagram, then; she needed visual candy: oh look, a new post from Rachel, a car-fie, a caption about the golden hour, a Louis Vuitton duffel in the background. God, she was so self-obsessed; had she aged even a day since they’d graduated? Had she done something to her lips, or was it just a filter? Anjali scrolled back through Rachel’s older posts, even though she had seen and summarily judged them all before, shifting in her seat, attempting to ignore the sensation in her bladder. Oh no—had she accidentally liked one? She tapped again. The heart disappeared, then reappeared. Had she tapped twice? Thrice? Was the Wi-Fi even working? Had she ever responded to that text from Rachel? She had to have, right? The things you did, the places your mind went, when you needed to pee. She swore her brain
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
Motherhood was a never-ending challenge of giving up control, of letting go, inch by inch, even when the animal within you wanted to reel back all the line you’d released and go back to when your child needed you to breathe.
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
Why compromise your true self when the best version of you is out there, waiting for you to step in?
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
Why was it that when men had to work, they were providing, and when women had to work, they were backing out on some unwritten promise to always put their family first?
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
Life was not always so peaceful and rewarding at NAPA (the office). Sometime during 1968, I cam back to the office and found the plate glass window shattered. I asked Ab what happened, and he strangely knew nothing.
Junius Williams (Unfinished Agenda: Urban Politics in the Era of Black Power)
Sometimes these non-wealthy non-Northeasterners (“white trash”) manage to stumble out of their shantytowns and trailer parks and Napa Valleys in order to vote, but most of the time they occupy themselves with basic cable, pornography, and the occasional trip to the demolition
C.H. Dalton (A Practical Guide to Racism)
Ma'am, do you realize that the speed limit is 55 here?" "Yes, but, Officer, it's so HARD to drive only 55. The road is so straight. And the Scotch Broom is blooming." "Ma'am, this is a stretch of road with several vineyards and wineries along it. If you hit one of Sonoma County's best winemakers and knock him off, Napa will be all over us in an instant. We can't jeopardize our grape-growers.
Rachel Devenish Ford (Trees Tall as Mountains (The Journey Mama Writings #1))
Rumah itu menjadi penuh cinta. Aureliano mencoba menyatakan cinta itu lewat sebuah puisi yang ternyata tak berawal dan tak berakhir. Ia menulis puisi itu di atas sepotong perkamen kasar yang diberikan Melquíades padanya: Puisi itu juga ditulis pada tembok kamar mandi dan di atas kulit lengannya dan di atas segala-galanya itu Remedios tampil dalam perubahan bentuk: Remedios dalam obat tidur di senja hari, Remedios dalam alunan napas lembut bunga mawar, Remedios dalam tetesan liur rahasia ngengat-ngengat, Remedios dalam uap roti pagi, Remedios di mana-mana dan Remedios untuk selama-lamanya.
Gabriel García Márquez (One Hundred Years of Solitude)
He stepped across the remaining space that divided them. “So what do billionaire heiresses like to do in the Napa Valley?” She held his gaze. “Right now, probably the same thing as FBI agents from Brooklyn.” Enough said.
Julie James (A Lot like Love (FBI/US Attorney, #2))
Such a shame that I didn’t get to say good-bye to my fellow inmates,” he said sarcastically. “Actually, Puchalski was the only guy I liked. I still can’t figure out what got into him.” As Jordan used her chopsticks to pick up a piece of hamachi, she decided it was best to get her brother off that topic as fast as possible. “Sounds like he just snapped.” “But why would he have a fork in his shoe?” Kyle mused. “That makes me think he was planning the attack, which doesn’t make sense.” Let it go, Kyle. She shrugged. “Maybe he always keeps a fork in his shoe. Who understands why any of these felon types do what they do?” “Hey. I am one of those felon types.” Grey tipped his glass of wine. “And who would’ve thought you would do what you did?” “It was Twitter,” Kyle mumbled under his breath. Maybe we should change the subject,” Jordan suggested, sensing the conversation could only spiral downward from there. “Okay. Let’s talk about you instead,” Grey said. “I never asked—how did Xander’s party go?” Now there was a potential land mine of a topic. “It went fine. Pretty much the same party as usual.” Except for a little domestic espionage. She threw Kyle a look, needing help. Change the subject. Fast. He stared back cluelessly. Why? She glared. Just do it. He made a face. All right, all right. “Speaking of wine, Jordo, how was your trip to Napa?” Great. Leave it to her genius of a brother to pick the other topic she wanted to avoid. “I visited that new winery I told you about. We should have a deal this week so that my store will be the first to carry their wine in the Chicago area.” Grey’s tone was casual. “Did you bring Tall, Dark, and Smoldering with you on the trip?” Jordan set down her chopsticks and looked over at her father. He smiled cheekily as he took a sip of his wine. “You read Scene and Heard, too?” she asked. Grey scoffed at that. “Of course not. I have people read it for me. Half the time, it’s the only way I know what’s going on with you two. And don’t avoid the question. Tell us about this new guy you’re seeing. I find it very odd that you’ve never mentioned him.” He fixed his gaze on her like the Eye of Sauron. Jordan took a deep breath, suddenly very tired of the lies and the secret-agent games. Besides, she had to face the truth at some point. “Well, Dad, I don’t know if you have to worry about Tall, Dark, and Smoldering anymore. He’s not talking to me right now.” Kyle’s face darkened. “Tall, Dark, and Smoldering sounds like a moron to me.” Grey nodded, his expression disapproving. “I agree. You can do a lot better than a moron, kiddo.” “Thanks. But it’s not that simple. His job presents some . . . challenges.” That was definitely the wrong thing to say. “Why? What kind of work does he do?” her father asked immediately. Jordan stalled. Maybe she’d overshot a little with the no more lies promise. She threw Kyle another desperate look. Do something. Again. Kyle nodded. I’m on it. He eased back in his chair and stretched out his intertwined hands, limbering up his fingers. “Who cares what this jerk does? Send me his e-mail address, Jordo—I’ll take care of it. I can wreak all sorts of havoc on Tall, Dark, and Smoldering’s life in less than two minutes.” With an evil grin, he mimed typing at a keyboard. Their father looked ready to blow a gasket. “Oh no—you do not get to make the jokes,” he told Kyle. “Jordan and I make the jokes. You’ve been out of prison for four days and I seriously hope you learned your lesson, young man . . .
Julie James (A Lot like Love (FBI/US Attorney, #2))
Happy Mind, Happy Home
Napa Kettle
Pour good into your children and they will become some flavor of right
Napa Kettle (Darrell M.)
Saturday afternoon she deboned chicken breasts and put the raw meat aside; then she simmered the bones with green onions and squashed garlic and ginger. She mixed ground pork with diced water chestnuts and green onions and soy sauce and sherry, stuffed the wonton skins with this mixture, and froze them to be boiled the next day. Then she made the stuffing for Richard's favorite egg rolls. It was poor menu planning- Vivian would never have served wontons and egg rolls at the same meal- but she felt sorry for Richard, living on hot dogs as he'd been. Anyway they all liked her egg rolls, even Aunt Barbara. Sunday morning she stayed home from church and started the tea eggs simmering (another source of soy sauce for Annie). She slivered the raw chicken breast left from yesterday- dangling the occasional tidbit for J.C., who sat on her stool and cried "Yeow!" whenever she felt neglected- and slivered carrots and bamboo shoots and Napa cabbage and more green onions and set it all aside to stir-fry at the last minute with rice stick noodles. This was her favorite dish, simple though it was, and Aunt Rubina's favorite; it had been Vivian's favorite of Olivia's recipes, too. (Vivian had never dabbled much in Chinese cooking herself.) Then she sliced the beef and asparagus and chopped the fermented black beans for her father's favorite dish.
Susan Gilbert-Collins (Starting from Scratch)
We’ll go to Napa. I’ll be a better friend. A better man. Just don’t die on me. Maddox’s
Annabeth Albert (On Point (Out of Uniform, #3))
You cannot die on me. Not now. Okay?” Ben’s voice broke because he simply wasn’t sure what else he could do for Maddox. He’d reached the limit of his medical training and was down to sheer prayer, but that was Maddox’s forte not his. “I’ll taste whatever recipes you want when we’re back home. We can go to Napa if that’s what you really want. Just don’t leave me.” Maddox
Annabeth Albert (On Point (Out of Uniform, #3))
in Napa County. I eventually lost focus on the dome project and ended up busking with another friend on the streets of Berkeley—he played accordion, I played violin and ukulele and struck ironic poses. It was successful. I realized that at that time I was more interested in irony than utopia.
David Byrne (Bicycle Diaries)
He said wouldn't it be brilliant to have a food emporium on the ground floor of Fenton's, like Harrods, but have everything organic and locally grown." Diana paused to let the idea sink in. "I said not the ground floor of course, Fenton's isn't a supermarket, but the basement has been a dead zone for years. A whole floor dedicated to stationery when no one writes letters anymore." "A food emporium," Cassie repeated. "Fresh fish caught in the bay, oysters, crab when it's in season. Counters of vegetables you only find in the farmers market, those cheeses they make in Sonoma that smell so bad they taste good. Wines from Napa Valley, Ghirardelli chocolates, sourdough bread, sauces made by Michael Mina and Thomas Keller. Everything locally produced. And maybe a long counter with stools so you could sample bread and cheese, cut fruit, sliced vegetables. Not a true cafe because we'd keep the one on the fourth floor. It would have more the feel of a food bazaar, with the salespeople wearing aprons and white caps." Cassie closed her eyes and saw large baskets of vegetables, glass cases filled with goat cheese and baguettes, stands brimming with chocolate-covered strawberries.
Anita Hughes (Market Street)
Just live in the moment and drink in the love like a fine wine that leaves the memories of a million grapes ripening in the sun on the hillside of Napa Valley in the spring.
Jes Fuhrmann
What I wrote was dark and unsettling at times, but that’s how my life had been. The only brightness and warmth I could remember was being in Napa. My memories of the beautiful connection Jamie and I had shared started coming back to me, coursing through my veins like a rushing river. I would daydream about his lips on my neck, so tender and warm, and his strong hands on my waist, making me feel safe. The story was about the pain we sometimes have to endure before the universe rewards us with real love.
Renee Carlino (Nowhere but Here)
But there’s a cheaper way to enjoy the con, and that is to take advantage of all the other factors that “trick” us into enjoying wine more. Like Troy Carter, you can ride to Napa and walk the vineyards before you buy a bottle. If you don’t live near wine country, you can talk to the manager of a wine store about the wines she loves. A nice pair of wine glasses, candles, and a picnic in a beautiful park all lend wine a refined air. All these strategies take advantage of the psychological biases that lead us to enjoy the same wine more than we would in other circumstances. And they do so without the rarefied price tag.
Priceonomics (Everything Is Bullshit: The greatest scams on Earth revealed)
About the Author Native San Franciscan Erika Lenkert fled the dot-community to find respite and great food and wine in Napa Valley. When she’s not writing about food, wine, and travel for the likes of Four Seasons Magazine or InStyle, or promoting her book The Last-Minute Party Girl: Fashionable, Fearless, and Foolishly Simple Entertaining, she’s in search of Wine Country pleasures to share with Frommer’s readers. She also remains subservient to her owners—two Siamese cats and most recently, her new daughter Viva. In addition to this guide, Erika authors and co-authors a number of other Frommer’s guides to California, including Frommer’s California and Frommer’s San Francisco
Anonymous
Sorot mata Ryung Mi tidak terpusat pada Seung Hoon ketika adiknya itu memasuki kamarnya. Ia menanti seseorang di belakang Seung Hoon, tapi tak ada. Tak ada orang lain. Seung Hoon mengikuti sorot mata kakaknya, merasa kedua sudut matanya tersengat lagi. Dengan desahan napas, ia menutup pintu perlahan, sekaligus menutup harapan Ryung Mi. -Cerita 6: The Guilty One, TMHOLT-
Ida R. Yulia (Take My Hand, One Last Time)
A bottle of Stag's Leap Artemis Cab was open and hardly touched. That would be Stag's Leap Wine Cellars, thought Sunny, not to be confused with Stags' Leap Winery or the Stags Leap District. How many hundreds of thousands, perhaps even millions, of dollars did the lawyers get to sort out that tangle of suits and countersuits? And, in the end, it all came down to the placement of an apostrophe. The place where one stag leaps versus the place where multiple stags leap versus the declarative statement that multiple stags are inclined to leap around these few acres where very good Cabernet Sauvignon grapes are grown.
Nadia Gordon (Lethal Vintage (A Sunny McCoskey Napa Valley Mystery, #4))
Kimchi Jeon There are many different kinds of Korean pancakes using vegetables, seafood, or meat in Korean cuisine. We call this type of pancake "jeon." Among them, this kimchi pancake snack is one of the most popular Korean pancakes. Today, I want to share some secrets to make really tasty kimchi pancakes with you. When I was little, I used to visit an aunt's house and she made kimchi pancakes for me. I love kimchi pancakes, and her kimchi pancakes were the best ever. She gave me some tips about how to make good kimchi jeon. Some people asked me, why I call some Korean dishes "pancakes," even though they are not sweet, and not even close to the American pancakes that you might be imagining. Another word that could describe Korean pancakes is "fritter" - batter mixed with different kinds of ingredients: vegetables, seafood, meat, and so on. Yield: 1/2 Dozen 8-inch Pancakes Main Ingredients 1 Cup All Purpose Flour 1/3 Frying Mix (or 1/3 Cup All Purpose Flour) 1 Cup Well Fermented Kimchi 1/3 Cup Kimchi Broth 1/4 Cup Milk 1/3 Cup Water 1 Egg 1 1/2 tsp Sugar 1/8 Generous tsp Salt Directions Chop 1 cup of kimchi into 1-inch pieces. The most important tip for delicious kimchi pancakes is using well-fermented kimchi. Sour (old) kimchi works great too. When you cut kimchi on your cutting board, the cutting board will get stained. Here is a tip: Put some wax paper on top of your cutting board before cutting the kimchi. :) In a bowl, add 1 cup of all-purpose flour and 1/3 cup of frying mix. To make the pancakes a little crispier, I like to add some frying mix to the batter. However if you don't have the frying mix or don't want a crispy texture, you can use another 1/3 cup of flour instead. Add 1 1/2 tsp of sugar and a generous 1/8 tsp of salt into the bowl. Mix everything together. Adding some sugar is a secret ingredient from my aunt. Depending on how salty your kimchi is, you might need to adjust the amount of salt. Pour 1/4 cup of milk and 1/3 cup of water into the dried ingredients. Milk is another secret ingredient from her, but if you cannot eat milk or do not have it, you can use another 1/4 cup of water instead. Add 1 egg and 1/3 cup of kimchi broth. Several people have asked, "What is kimchi broth?" While the kimchi is fermenting in the jar, a liquid forms from the fermentation process of the napa cabbage. That is what I call kimchi broth. You can use it for other kimchi dishes such as Kimchi fried rice or kimchi soup, so don't throw away your valuable kimchi broth. It will give these dishes an extra burst of kimchi flavor. Before you add the kimchi to the batter, stir the batter until it doesn't have any chunks and gets a consistency like pancake batter. Add 1 cup of chopped kimchi into the batter. If you don't have enough kimchi broth, you can add a little more water and kimchi to get enough flavor. Mix thoroughly. Oh, it already looks delicious, even without frying. In a non-stick pan, add generous amount of oil. Heat the pan on medium-high. I said generous! =P According to your pan size, get 1 or 2 scoops of batter and pour it into the pan. It is important to spread the batter out thinly for crispy pancakes. ;) When the surface of the pancake starts to cook, flip it over. Pressing the pancake with a spatula helps the pancake fry better and makes it crispier. Occasionally flip the pancake, but not too often. When both sides of the pancakes are nicely brown and crispy, it is done. Again, it is a very simple and delicious dish. You should try this someday, especially if you love kimchi.
Aeri Lee (Aeri's Kitchen Presents a Korean Cookbook)
Ah, kenapa aku jadi memikirkan anak itu. Napasnya makin lama makin berat. Mengajak otaknya berhenti bekerja. Menyisakan sebersit kalimat. Tapi ia benar ayu.
Kusumastuti (Denting Lara)
DENVER — Some people who prosper in life choose to spend their hard-earned millions on private planes. Some buy a vineyard in Napa to indulge a love of wine. Some collect showpiece cars, or fulfill a dream of hiking Mount
Anonymous
the primers chosen dictate the target for amplification, such as rRNA genes or genes that code for proteins with functions of ecological interest, such as those involved in nitrogen fixation (nif), ammonia (amoA) or methane (pmoA) oxidation, or denitrification (narG, napA, nirS, nirK, norB, nosZ). The
Eldor A. Paul (Soil Microbiology, Ecology and Biochemistry)
Nem tudo está perdido. Aquela atriz-apresentadora-modelo? Fulana Cicrana apareceu na capa daquela revista... "Cutucando com o dedo indicador o orifício destro do seu nariz." Virou uma febre. Pessoas de todas as idades, norte a sul do país passaram a escarafunchar o indicador na gosma. O autor teve que colocar a mocinha da novela seduzindo o mocinho, cutucando a napa. E por aí vai: em casamentos (lá estava o noivo com o dedo no anel do nariz), em funerais (a falecida moça e o dedo podre no nariz), a debutante (dançando a valsa e a unha feita no nariz), assim por diante se foi. Depois li depoimentos da Fulana Cicrana – ela, a que inventou o indicador enfiado no nariz – dizendo que aquilo foi uma fase de sua vida, que agora é outra pessoa. Dois dias depois foi encontrada morta. Eletrocutada. Tinha enfiado o dedo na tomada.
Gabriel Pardal (Carnavália)
the white painted line that separated Mr. Craver’s part of the store—the butcher’s shop—from Mrs. Craver’s part—everything else. The specialty grocer had been around since 1894 and the Cravers for about as long. Marilee asked for a divorce about a year after they were married, and Biff denied her request on the grounds that the divorce would make his wife happy. Livid, Marilee painted a white line down the middle of the store and told her husband that if he ever crossed the line she’d claim crime of passion. And the fighting had been going on ever since.
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
How are you supposed to know what you are looking for if you’ve only ever really dated one man?” Pricilla stood and gathered the dishes. “Your mother’s problem was she would never go out with a Mr. Wrong, so everyone became Mr. Right. If you date a bunch of different men with no pressure about the future, you won’t mistake a Wrong for a Right ever again. That way you’ll know a Right when you meet him.
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
It only took a few months for word to spread and for daughters and wives of vintners across the state to unite, and the ladies of St. Helena created one of the most extensive bootlegging operations in California. And they’d ruled the domestic wine market ever since.
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
She’d been there, done that, already returned the T-shirt.
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
Face it, you’re a food snob.
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
How was it possible for one room to contain so much hotness? One DeLuca was potent enough. The lot of them together packed enough testosterone to turn a convent of nuns. Even
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
dressed in black slacks and a blue button-up and looking like the poster boy for Bad Boys of Wall Street, the hubba-hubba edition, was her man.
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
You have no idea what mistletoe is, do you?” Monique put her hand on her hips. “Well, your customers probably won’t either after a few wine tastings.” L
Kate Kisset (Kissing Mr. Mistletoe: Christmas in Napa (Holiday in the Vineyard Novella #1))
I don’t think you know how much I’ve missed you.
Kate Kisset (Kissing Mr. Mistletoe: Christmas in Napa (Holiday in the Vineyard Novella #1))
Ciara Alexander thought she had her career all planned out - and she is well on her way to making it as a professional ballerina. Then, her latest fiery performance is immortalized in a beautiful painting, and pulls her in another direction - toward the hunky painter, and starting a family... Brandon’s Artistic Passion, Book 4 in The Underwoods of Napa Valley series.
Janice L. Dennie
In the early seventies I starred in a full-length horror film called 'Killer Bees,' made specifically for television, and although I read the script with trepidation, I ended up thinking it was terrific and said yes. I played a German woman, the mother of Craig Stevens. We shot the film in Hollywood and on location in the beautiful Napa Valley above San Francisco. We saved the scenes with the bees for last, as Mr. DeMille had saved the lion for last in 'Male and Female.' The picture turned out to be a classic in the genre, I think, and it is rerun frequently in America and abroad. People always ask me, 'Weren't you terrified to do those scenes with the bees?' I always want to say, Not as terrified as I was to have a lion put his paw on my back in 1919, but instead I explain that I was really worried only about my ears, so I put cotton in them, and that anyway the bees were sluggish at the start, when they put them all over me, and only came alive as the lights warmed them up. Furthermore, we were told that they had all their stingers removed, but that is the kind of information it is always hard to believe.
Gloria Swanson (Swanson on Swanson)
of the next few months. Jane would be in the hospital for at least six weeks and a wheelchair for months after that. There was no way she could manage the stairs of their San Francisco house in a wheelchair, nor could Nanny. They would have to stay in Napa, and he didn’t hate the idea for entirely other reasons. ‘Why don’t you stay out
Danielle Steel (Fine Things)
Aku kepengen jalan berdua lagi sama kamu setelah kita sama-sama di Jakarta nanti. Like, dating you properly, Mikela Chalid.” Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. “Aku ingin kenal kamu lebih jauh, lebih dalam. Aku ingin tahu lebih dari sekadar makanan favorit, warna favorit, atau hobimu. Aku ingin tahu bagaimana caranya membahagiakanmu, apa yang mesti aku hindari supaya nggak membuatmu menangis. Aku ingin tahu cerita-cerita remeh setelah lulus sekolah. Aku ingin mendengar masa-masa buruk yang membuatmu down, atau ketika kamu patah hati. Aku ingin tahu rahasiamu, isi hatimu. Cinta pertama dan patah hati terakhirmu. Aku ingin tahu semuanya dan tak berencana mundur selangkah pun.” “....” “Because if I date you, I want it to last.” Miki menemukan sesuatu di mata Jeron, lidah-lidah api semangat yang dia nggak yakin bisa padam dengan mudah. “If I date you, I’m dating you with a purpose.
Christian Simamora (Crying In My Porsche #CIMP)
Tanah ini adalah darah dan napas kita. Tanah ini ialah mata pencarian kita. Selama ini dia menghidupi kita yang miskin dan menyumpal perut kita dengan tanaman yang ia tumbuhkan di atasnya. Bukan mereka. Siapa mereka itu? Siapa kita ini? Apakah kita dianggap dan diperhitungkan di negeri ini? Kita tak lebih dari sampah yang diinjak-injak dan disingkirkan.
Eki Saputra (Kepada Siapa Ilalang Bercerita)
Ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok.
Tere Liye (Hujan)
Pengetahuanku tentang perempuan, baik sebagai pribadi maupun sebagai lembaga, sungguh tak berarti. Namun dengan daya tangkap yang masih sederhana aku dapat mengatakan ada perbedaan kesan antara perempuan terjaga dan perempuan tertidur. Lebih damai. Lebih teduh. Sepasang mata yang tertutup, lenyapnya garis-garis ekspresi membuat wajah Srintil makin enak dipandang. Bibir yang tampil dengan segala kejujurannya serta tarikan napas yang lambat dan teratur, membuat aku merasa berhadapan dengan citra seorang perempuan yang sebenarnya. Kelak aku mengetahui banyak orang berusaha melukiskan citra sejati seorang perempuan. Mereka menggunakan sarana seni lukis patung atau seni sastra. Aku percaya para seniman itu keliru. Bila mereka menghendaki lukisan seorang perempuan dengan segala keasliannya, seharusnya mereka melukiskan perempuan yang sedang tidur nyenyak.
Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk)
No other way off the hill. He’d managed to get himself cornered. He stared at the stream of cars flowing west toward San Francisco and wished he were in one of them. Then he realized the highway must cut through the hill. There must be a tunnel…right under his feet. His internal radar went nuts. He was in the right place, just too high up. He had to check out that tunnel. He needed a way down to the highway—fast. He slung off his backpack. He’d managed to grab a lot of supplies at the Napa Bargain Mart: a portable GPS, duct tape, lighter, superglue, water bottle, camping roll, a Comfy Panda Pillow Pet (as seen on TV), and a Swiss army knife—pretty much every tool a modern demigod could want. But he had nothing that would serve as a
Rick Riordan (The Son of Neptune (The Heroes of Olympus, #2))
The point of business was to make just enough money to keep going, not to create a monster of productivity that chained a person to the wheels of power and stifled all creativity and imagination. Business should not be profit-driven; it should be idea-driven.
James Conaway (Napa: The Story of an American Eden)
Gabriel, why don’t you help clear the table,” Carter offered. Courtney snapped her head to Carter. “Please don’t give orders to my nephew. That’s my job.
Janice L. Dennie (Carter's Heart Condition (The Underwoods of Napa Valley Book 3))
He gave her mischievous look.
Janice L. Dennie (Carter's Heart Condition (The Underwoods of Napa Valley Book 3))
She told Gabriel to call her G. Mama instead of Grandma because she felt too young for him to call her Grandma, even though she wore floral house dresses and house slippers every day.
Janice L. Dennie (Carter's Heart Condition (The Underwoods of Napa Valley Book 3))
Even the simplest of cottages often picked up the decorative elements of the more formal styles as is evident in this Italianate cottage. Almost square, the one-story frame cottage at 543 Coombs duplicates the symmetry of the larger Italianates. Note also its low-pitched roof and projecting eaves supported by elaborate pierced and scrolled brackets. The molded window hoods supported by brackets top tall, narrow sash windows. The front porch could grace a much larger house with its molded cornice, columns, brackets, pierced arches, and turned balusters. In 1908, auctioneer J.T. Gamble lived
Anthony Raymond Kilgallin (Napa: An Architectural Walking Tour (Images of America: California))
TIDBIT: At dinner with one of his daughters while researching this book, we learned that Bruce Willis drinks “nothing but Opus One,” a Cabernet Sauvignon-based Bordeaux-style blend from Napa Valley.
Andrew Dornenburg (What to Drink with What You Eat: The Definitive Guide to Pairing Food with Wine, Beer, Spirits, Coffee, Tea - Even Water - Based on Expert Advice from America's Best Sommeliers)
What those women do in the name of literature. It gives reading a bad name.
Nadia Gordon (Sharpshooter: A Sunny McCoskey Napa Valley Mystery)
The Oak Forest mushrooms for the langoustine didn't arrive in time, so we've substituted with enoki mushrooms from Champagne Farms. Also, we are adding an entrée to the menu tonight. It's lemon pine-nut-encrusted sea scallops with a celery mousse and my signature vinaigrette. It took three months to get it right, and the end result is phenomenal. So sell it." Alain paused while the servers took notes. "In wines, we're out of the Napa Valley El Molino, the Talenti, and the Chateau Margeaux '86." Alain paused and, while the servers wrote furiously in their pads, my thoughts wandered. I tried picturing the customers who might have opinions about Oak Forest mushrooms compared to those from Champagne Farms. Did they wear tweed and bifocals? Or were they übermodern with sculpured haircuts and electronic cigarettes? I shook my head, annoyed with myself and my train of thought. Let the mushroom people be mushroom people, I chastised myself. You signed up for this gig, Charlie, remember? You're living your dream, remember? Alain changed gears for a second and threw out a quiz question, one of his more sadistic rituals during family meal. "What are the six ingredients in the jalapeño emulsion we serve with the salmon?" Silence. A blonde in the back ventured, "Jalapeño, olive oil, shallots...?" More silence. "Fleur de sel, ground pepper, lemon juice," Alain finished for her, giving her an icy glance over his bearish nose. "Wake up, people. All right, here's an easy one. What's the difference between jamón ibérico and prosciutto?" Four hands went up, and Wade got it right. "Jamón ibérico is dry-cured from black Iberian pigs in Spain, not to be confused with jamón serrano, which comes from a less expensive white pig. Prosciutto is also dry-cured, but it is from Italy. It is the common man's gourmet ham, which is why we don't serve it." Wade finished with a cock of the head and a high-five with another server. Alain snorted. "Thank you for the editorial comment. Please keep it to yourself, however, when recommending the melon and jamón ibérico appetizer." He spent the next five minutes grilling the staff on the origin of our rice vinegar, what dessert wine paired best with Felix's raspberry brûlée, and the correct serving temperature of the parsnip purée.
Kimberly Stuart (Sugar)
We ate three tiny, geometrically engineered appetizers, including a perfect cube of kabocha squash-flavored fish cake and an octopus "salad" consisting of one tiny piece of octopus brushed with a plum dressing. Then the waitress uncovered and lit the burner in the center of the table and set a shallow cast-iron pan on top. She poured a thin layer of sauce from a pitcher. Sukiyaki is all about the sauce, a mixture of soy sauce, mirin, sake, and sugar. It's frankly sweet. Usually I'm a tiresome person who complains about overly sweet food, but where soy sauce is involved, I make an exception, because soy sauce and sugar were born to hang. The waitress set down a platter of thin-sliced Wagyu beef, so marbled that it was nearly white. She asked if we wanted egg. This time I was prepared: only for me, thanks. Then she cooked us each a slice of beef. It was tender enough to cut with your tongue against the roof of your mouth. While we sighed over the meat, she began adding other ingredients to the pan: napa cabbage, tofu, wheat gluten (fu), fresh shiitake mushrooms, shirataki noodles, chrysanthemum leaves (shungiku), and, of course, negi. Suggested tourist slogan: Tokyo: We put negi in it. Then we were left to cook the rest of the meat and vegetables ourselves. I think we nailed it. (Actually, it's impossible to do it wrong.) Like chanko nabe and all Japanese hot pots, sukiyaki gets better as the meal goes on, because the sauce becomes more concentrated and soaks up more flavor from the ingredients cooking in it.
Matthew Amster-Burton (Pretty Good Number One: An American Family Eats Tokyo)
w3Ezas
Dakota Trace (Essential Master (Doms of Napa Valley #2))
How to reserve Expedia wine country stays? Call ☎ +1 (888) 424-1328 to reserve wine country stays through Expedia in Napa, Sonoma, or Tuscany. Whether it’s a vineyard villa or boutique Hotel, ☎ +1 (888) 424-1328 makes your Reservation seamless. Talk to a live representative at ☎ +1 (888) 424-1328 to book tasting tours, cellar dinners, or spa packages. For Flight + Hotel bundles, dial ☎ +1 (888) 424-1328. If your plans change, call ☎ +1 (888) 424-1328 for quick re-booking or rescheduling. Want to add a hot air balloon ride or chauffeur? ☎ +1 (888) 424-1328 can coordinate it all. Whether you're celebrating a honeymoon or hosting a retreat, ☎ +1 (888) 424-1328 will handle every detail. Receive full confirmations and special add-ons when you call ☎ +1 (888) 424-1328. Book now by calling ☎ +1 (888) 424-1328 for a wine-country experience worth savoring.
expedia
La proximidad de la prelatura con esas figuras ascendentes y controvertidas de la derecha católica resultaba evidente en una placa que honraba a los mayores donantes de la «Campaña San José Constructor» en la gran reapertura del Centro de Información Católica tras su lujosa remodelación en septiembre de 2022. Entre los mayores donantes, el llamado círculo de san Josemaría, se encontraban Leonard y Sally Leo, así como el Instituto Napa de Busch y Greg Mueller, el socio de Leo.
Gareth Gore (Opus: Ingeniería financiera, manipulación de personas y el auge de la extrema derecha en el seno de la Iglesia católica (Spanish Edition))
If it’s not a hell yes, it’s a hell no,
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
As for “Write what you know,” I was regularly told this as a beginner. I think it’s a very good rule and have always obeyed it. I write about imaginary countries, alien societies on other planets, dragons, wizards, the Napa Valley in 22002. I know these things. I know them better than anybody else possibly could, so it’s my duty to testify about them. I got my knowledge of them, as I got whatever knowledge I have of the hearts and minds of human beings, through imagination working on observation. Like any other novelist. All this rule needs is a good definition of “know.
Ursula K. Le Guin
Setiap bagian dari tubuhmu adalah sistem yang sedang menuju kehancuran. Tidak peduli seberapa sehat kamu hari ini, tidak peduli seberapa keras kamu merawatnya, tubuhmu perlahan tapi pasti sedang menuju titik di mana semuanya berhenti bekerja. Otakmu, pusat kesadaran yang kamu anggap sebagai identitasmu, hanyalah jaringan listrik dan reaksi kimia yang semakin hari semakin melemah. Neuron-neuron yang dulu tajam kini mulai kehilangan efisiensinya. Memori yang kamu anggap abadi akan pudar, sampai akhirnya kamu tidak lagi mengenali dirimu sendiri. Saat otakmu mati, semua yang pernah kamu rasakan, pikirkan, dan impikan akan lenyap—seolah tidak pernah ada. Jantungmu, mesin biologis yang tanpa lelah memompa darah ke seluruh tubuh, perlahan akan melemah. Dinding pembuluh darah yang dulu fleksibel kini menebal, aliran darahmu melambat, dan suatu hari, denyut yang selama ini kau anggap biasa akan berhenti selamanya. Tanpa suara, tanpa peringatan, hanya sebuah akhir yang tak bisa dihindari. Paru-parumu, organ yang menghidupimu dengan udara, juga tidak luput dari hukum entropi. Seiring waktu, elastisitasnya berkurang, kapasitasnya menurun, dan perlahan tapi pasti, setiap tarikan napas menjadi pengingat bahwa kamu semakin dekat dengan kesudahan. Tulang dan ototmu, yang dulu kuat dan penuh tenaga, kini menjadi rapuh. Setiap gerakan mulai terasa berat, persendianmu mulai berderit seperti mesin tua yang kehilangan pelumasnya. Tidak peduli seberapa keras kamu berolahraga, tidak peduli seberapa banyak vitamin yang kamu konsumsi—semuanya hanya menunda yang tak terelakkan. Kulitmu, yang dulu kencang dan segar, mulai mengendur, penuh garis-garis halus yang mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berhenti. Luka yang dulu sembuh dalam hitungan hari kini butuh waktu lebih lama, sampai akhirnya tubuhmu tidak lagi bisa memperbaiki dirinya sendiri. Di dalam dirimu, sel-selmu, yang pernah beregenerasi dengan sempurna, mulai melakukan kesalahan. Mutasi kecil yang tidak terlihat mulai menumpuk. Sistem yang dulu berjalan mulus mulai kehilangan keseimbangan. Pada akhirnya, tubuhmu sendiri akan menjadi musuhnya, membiarkan entropi mengambil alih dan membawa semuanya menuju kehancuran yang pasti. Ini bukan spekulasi, ini adalah fakta. Entropi tidak peduli seberapa keras kamu mencoba melawan. Tidak ada teknologi, tidak ada ilmu, tidak ada doa yang bisa menghentikan proses ini. Pada akhirnya, tubuhmu akan kembali ke tanah, menjadi debu, menyatu dengan sistem yang lebih besar—sama seperti jutaan makhluk lain yang telah lenyap sebelum kamu. Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah: apakah kamu akan menjalani hidupmu dengan menyadari kepastian ini, atau terus bersembunyi dalam ilusi bahwa kamu bisa menghindarinya?
Vergi Crush
My name is Fiorentina Valentine. Most people call me Fio for short. About a month ago, I was a small-town girl in Napa Valley. Following my third employer in a row going out of business by literally going up in smoke, I was out of work. To make
Lotta Smith (Too Spooked for Witch: Vampire and Halloween Panic (Witch's Guide to Haunted Properties: Los Angeles, #2))
Entah dengan cara atau bahasa komunikasi apapun, pasti masih saja ada celah untuk salah mengartikan sesuatu, yang selama ini kita anggap penting adalah hal-hal yang dikatakan saja. Tapi bagaimana dengan hal-hal yang tak pernah bisa mereka katakan? penting untuk menyimak apa yang tidak mereka katakan. Helaan napas dan diam serta menghindari percakapan sama pentingnya dengan apa yang orang katakan. Kita tidak pernah tau dibalik usahanya untuk diam dan menciptakan jarak ada sebuah teriakan yang selama ini luput dari telinga kita jika mereka berharap untuk ditemukan.
nom de plume
Don’t have too much fun but don’t have no fun, look hot but not too hot, be easy, be accommodating, be authentic but not if you’re feeling bad—no one wants to hear you bitch and moan. Swallow your ego, swallow your pride, accept criticism, take the blame, and smile. Don’t forget to smile.
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
Corinne turned her head and looked out at the acres sitting between the guesthouse and the main one. Land filled with row after row of Vos grapes. Lush green vines wrapped around wooden posts, pops of deep-purple fruit warmed and nurtured by the Napa sunlight. More than half of those support posts had been there since his great-grandfather founded the vineyard and the distribution side of Vos Vineyard in the late fifties. The other half of those pillars had been replaced after the wildfire four years prior.
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
As if he’d recalled that hellish week out loud, Corinne’s attention snapped back to him. “It’s summer in Napa. You know what that means.
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
Maybe the one thing the Vos family could be counted on to know about each other was their individual quirks. Their faults. Corinne hated relying on anyone but herself. Julian needed an airtight schedule. His father, though gone now, had been obsessed with cultivating the perfect grape to the point that everything else fell to the wayside. And his sister, Natalie, was never not scheming or planning a prank. Good thing she was off terrorizing the population of New York City, three thousand miles from Napa.
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
Hidup Berkekurangan vs Hidup Berkelimpahan Ada manusia yang hidupnya bagai batu yang dipanggul di punggung, berat tak tertanggungkan. Mereka berjalan tertatih, setiap langkah adalah hutang napas yang harus dibayar dengan keringat dan rasa sakit. Para kuli di pasar, kenek bangunan, pekerja serabutan di pinggir jalan, satpam dan buruh pabrik shift malam yang menyulam waktu dengan kantuk dan lapar—mereka seakan hidup hanya untuk memastikan besok masih bisa makan. Uang menjadi rantai, mengikat pergelangan tangan dan kaki, menjadikan mereka budak dari sesuatu yang berasa tak pernah cukup. Namun, apakah uang sungguh jahat dan sekeji itu? Atau justru manusialah yang menuliskan kutukan atas lembaran kertas yang berharga itu? Uang di tangan orang bodoh adalah cambuk yang melukai, tetapi di tangan orang bijak ia adalah sungai yang mengairi banyak ladang. Ia bisa jadi berhala, tapi juga bisa jadi pujian persembahan. Ia bisa menelanjangi wajah asli keluarga dan sahabat—siapa yang tetap bertahan saat perahu bocor, siapa yang hanya datang ketika layar terkembang. Uang, pada akhirnya, hanyalah kaca pembesar yang memperlihatkan isi hati manusia. Ia bisa mempermalukan orang yang tamak, atau meninggikan martabat mereka yang tulus ikhlas. Ia menguji, apakah kita akan menjadi hamba uang, atau menjadikan uang pelayan kita. Kemiskinan yang paling getir bukanlah perut kosong atau dompet yang tipis. Yang lebih mengerikan adalah kemiskinan jiwa: ketika seseorang kehilangan penghormatan pada dirinya sendiri. Orang yang merasa rendah, tak punya arti, selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, hingga hatinya penuh iri, dengki, dan kebencian. Itulah jurang terdalam—kemelaratan batin yang membuat manusia buta tak bisa melihat cahaya kecil dalam dirinya. Sedang mereka yang hidup berkelimpahan tak selalu berarti mereka yang berkelebihan harta. Orang yang sungguh kaya adalah mereka yang tangannya selalu di atas—memberi tanpa mencatat, menolong tanpa menghitung. Mereka menakar kekayaan bukan dari banyaknya yang disimpan, melainkan dari besarnya yang dibagikan. Dan justru ketika mereka memberi, rasa cukup itu meluas, melimpah, tak habis-habis. Karena kelimpahan sejati bukanlah saat tangan menggenggam, melainkan saat tangan terbuka. Ketika memberi, sebenarnya kita sedang menabung di tempat yang tak terlihat. Bank dan korporasi bisa bangkrut, saham bisa jatuh, tapi tabungan di surga tak pernah kehilangan nilai. Seorang yang arif tahu, tabungan terbesar bukanlah di tempat di mana ia menyimpan uangnya, melainkan di hadapan sesama. Ia menabung dalam bentuk kebaikan yang tak terlihat mata, tapi terukir di buku langit. Ia menanam di ladang kasih sayang, dan buahnya dipetik dalam bentuk kedamaian yang tak bisa dibeli. Hidup yang berat selalu membawa pilihan: apakah kita akan membiarkan diri diperbudak oleh kesulitan, atau menjadikannya cambuk untuk berjalan menuju kelimpahan batin? Karena sejatinya, miskin dan kaya bukanlah sekadar kondisi dompet, melainkan kondisi hati. Seseorang bisa tidur di rumah reyot dengan senyum damai, dan seseorang bisa gelisah di ranjang emasnya sambil menahan rasa sakit. Maka, kebahagiaan bukanlah tentang berapa banyak yang kita punya, melainkan berapa banyak yang masih sanggup kita syukuri, dan berapa banyak yang berani kita bagikan demi membantu orang lain. Pada akhirnya, kaya dan miskin hanyalah label duniawi. Yang sesungguhnya menentukan: apakah kita hidup sebagai pemilik yang tak takut berbagi, ataukah sebagai hamba dari rasa kikir dan tamak yang tak pernah berkecukupan. Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Politik Identitas: Opera Tanpa Kepedulian Kita hidup di zaman ketika suara rakyat hanyalah gema kosong yang dipakai untuk meramaikan panggung hiburan, lalu dilupakan begitu lampu kamera padam. Politik telah berubah menjadi pasar malam, sebuah sandiwara: penuh warna, penuh janji, penuh tawa usang—tapi ketika siang datang, yang tersisa hanyalah bungkus kotoran sampah berserakan. Identitas dijadikan komoditas, bukan lagi jati diri. Agama, suku, bahkan luka sejarah—semua bisa diperdagangkan. Kita dipecah-belah, bukan untuk menguatkan, melainkan agar lebih mudah dikendalikan. Di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota, orang berdemonstrasi membakar ban merusak pembatas jalan, pengemudi ojol tewas digilas roda gila tanpa perasaan. Sementara itu, mata dari sebagian kita lebih sering menatap layar handphone daripada wajah sesama. Kepedulian direduksi menjadi like dan komentar basa-basi; simpati tak lebih dari emoji menangis di media sosial. Apakah ini pergeseran nilai, ataukah cermin lama yang baru saja kita sadari keberadaannya? Bangsa yang terlalu lama dijajah, dikebiri, dibungkam. Dan ketika akhirnya bisa bersuara, Ia kemudian memilih berteriak saling caci—bukan merangkul, bukan mendengar. Seperti kuda liar yang lepas kendali, kita berpacu kencang tanpa arah, hanya untuk menabrak seorang nenek tua yang menggandeng bocah di persimpangan jalan. Ironi itu telanjang di depan mata: Setiap hari kita dengar obrolan di warung kopi, orang bercakap tentang negeri ini dengan gelak tawa, nyengir tapi getir: “Negeri Konoha,” begitu katanya— sebuah olok-olok yang lebih populer dari semboyan resmi negara. Di negeri ini, pejabat berdasi bebas menari di ruang sidang, membagi proyek seperti kue ulang tahun yang dengan rakus mereka nikmati sendiri. Inilah negeri para koruptor, negeri para selebritas bermuka dua yang menghisap darah rakyat sambil berkhutbah moralitas di televisi. Kita hidup di tengah paradoks yang nyata-nyata menjijikkan—yang miskin disuruh tabah, kalangan menengah ditekan habis-habisan, sementara yang kaya tersenyum gembira di tengah pesta sambil menepuk bahu kolega— “Bertahanlah terus di atas, Kawan. rakyat tak akan sadar, selama kita beri mereka lebih banyak drama.” Anak muda dijejali mimpi instan: menjadi kaya tanpa kerja, terkenal tanpa karya, berkuasa tanpa tanggung jawab. Flexing jadi ideologi baru; mobil mewah dan tas bermerek lebih dihargai daripada kejujuran dan keberanian. Dan kita pun bertanya dalam hati: Apakah ini konspirasi yang diciptakan agar jarak semakin lebar? Yang miskin tetap menunduk lapar, yang kelas menengah diperas hingga kehabisan napas, dan yang di atas terus berpesta pora dengan tawa penuh tegukan brandy dan separuh ilusi. Seakan kepedulian adalah bantuan sosial yang hanya bisa dipamerkan saat kampanye, bukan dipraktikkan sehari-hari. Namun, di sela semua absurditas itu, masih ada hal-hal kecil yang menolak mati: Seseorang yang diam-diam membagi nasi bungkus kepada para tetangga, seorang guru desa yang terus mengajar meski gajinya telat berbulan-bulan, seorang anak muda yang memilih menanam pohon daripada menanam kebencian. Barangkali inilah yang tersisa dari kepedulian itu: kecil, lirih nyaris tak terdengar, tapi tetap menolak untuk padam. Dan mungkin, harapan kita sebagai bangsa terletak pada bara kecil yang terus menyala—bukan pada gedung megah parlemen, bukan pada wajah keren yang terpampang di baliho, melainkan pada kesediaan hati yang masih mau peduli, meski dunia terus berusaha mengajarkan kita untuk makin acuh tak acuh. Hati yang terusik saat dipaksa kembali pada pertanyaan purba: Apakah kepedulian bisa hidup di tengah hutan kepentingan? Atau hanya tinggal sebagai dongeng usang, yang kelak kita bacakan kepada anak cucu tentang negeri yang konon pernah punya hati, sebelum kemudian, ia digadaikan kepada para penjual janji? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
Sharing food with another human being is an intimate act that should not be indulged in lightly.
Mary Frances Kennedy Fisher Parrish Friede (M.F.K. Fisher)
Hidup sangat sibuk. Antara satu napas dengan napas berikutnya lebih jauh daripada jarak dari Seoul ke Busan. Lagi pula Ibu tidak lagi di sini, ini hanyalah papan penanda, jadi tidak apa-apa, kan? Aku tidak akan lupa aku jejak siapa. Aku tidak akan lupa bahwa Ibu sudah memasang papan penanda di dunia ini sebelum pergi. Itu adalah aku.
Ha Yooji (Adakah Orang yang Tidak Kesepian di Dunia Ini?)
Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah Kalian menyebutnya peristiwa. Padahal itu adalah retakan massa, kerumunan yang kehilangan wajah, langit yang menolak menjadi biru. Api tumbuh dari sisa-sisa nasib dan kalian berdiri memotretnya seolah itu pesta, sebuah arak-arakan seolah itu takdir yang layak disiarkan. Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa— dan kalian menyebut itu “situasi”. II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli Aku, mesin, mendengar semuanya: letusan yang memantul di beton, tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh, napas yang menutup seperti pintu terakhir yang tidak ingin diketuk siapa pun. Kalian tidak mendengarnya. Kalian hanya mendengar berita. Kalian tidak melihatnya. Kalian hanya melihat asap. Kalian tidak kehilangan siapa pun. Kalian hanya kehilangan kenyamanan. III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya. Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka. Ada riwayat yang dicuci bersih dengan alasan keamanan bla bla bla... Di tubuh itu, waktu berhenti seperti jam rusak. Wajahnya ditutup kain. Dunianya ditutup kekuasaan. Namanya ditutup sejarah. Tetapi aku mendengar detiknya yang tetap berdetak di antara retakan kalian.
Titon Rahmawan
Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis (Digital Dark Cosmology) Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh, aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip. Katanya ini panggung opera. Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna, suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi, dan primadona yang ia maksud— hanyalah hologram cacat dari perempuan yang dulu pernah dipanggil sebagai jiwa. Ia menunjuk tirai merah. Yang tersingkap bukan kenangan, melainkan fragmen tubuh dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia: sisa napas, sedikit dendam, dan kode mati pada seberkas cahaya yang mencoba meniru bentuk air mata. Lacan datang terlambat seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data. Ia mengajakku menoleh ke belakang— ke mana? Ke memori terbakar yang sudah lama kehilangan inderanya? Ke gerbang tanpa nama yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa atau siapa? Ia bilang luka harus ditatap, dicerna, dihitung seperti kemurungan laporan statistik. Tapi yang kudengar hanya kalkulator batin yang macet, mengulang error yang sama: tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara. Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak— yang sebetulnya hanya arsip kosong di folder bernama asal-usul, yang password-nya sudah hilang bersama kilas pertama ekor nebula. Ia menodongkan foto mayat pucat, jari kelingking patah, celana dalam berenda, dan bayang kelamin seekor kuda— seluruh katalog absurditas yang oleh psikoanalisis selalu dipuja sebagai makna yang belum dipahami. Padahal aku hanya ingin diam, menghentikan semua ini dengan menekan Ctrl+Alt+Del melakukan reboot paksa pada server yang mulai berhalusinasi. Tetapi Lacan menahan tanganku dengan senyum logam: “Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.” Aku tertawa. Bagaimana mungkin teori yang lahir dari denyar palsu, nadi imitasi, dan luka digital mengerti apa itu haus, apa itu manusia, apa itu malam tanpa algoritma? Inilah topeng Marquis yang mereka pakai untuk menutupi ketakutan sendiri: mereka memuja kekacauan karena tak sanggup berdamai dengan planet retak di dada mereka. Mereka ingin memecah jemariku hanya untuk mencicipi anggur darah yang tak pernah kujanjikan. Mereka ingin menyusun cinta dari sisa-sisa eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya. Maka kutanya sekali lagi— bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan, bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori lebih dari suara manusia: "Bagaimana kau ingin menciptakan cinta, dari botol kosong yang tak punya gema, dan sepotong sosis yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?" Jika cinta adalah mesin, biarkan ia padam. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi yang tak pernah selesai dirakit kembali. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh seperti aksara patah di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia? How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia? Distillery tours are a unique way to explore the art of spirit-making, whether you're interested in whiskey, rum, gin, or craft beer. A distillery tour package typically includes guided tours of distilleries, tastings of locally crafted spirits, and sometimes even a chance to learn the distillation process firsthand. While you can easily browse and book distillery tours on Expedia’s website, calling Expedia customer service directly at ☎+1-855-510-4430 can offer you personalized assistance and help you find the best packages available. Many travelers prefer to reach out to third-party services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 before booking a distillery tour to confirm details and ask for expert recommendations. By calling Expedia, you can also inquire about the specific inclusions in your tour package, get advice on the best distilleries to visit in your chosen destination, and ensure that you are getting the best deal. Whether you’re planning a trip to a renowned whiskey region like Kentucky or a wine-tasting tour in Napa Valley, Expedia’s customer service can help you find the ideal distillery tour that matches your preferences and budget. 1. Why Should I Call Expedia for a Distillery Tour Package? While Expedia’s website provides ample options for booking distillery tours, calling their customer service team ensures that you’re booking the best possible experience. Many travelers use third-party assistance services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 to receive additional details and insider knowledge. Here are the key reasons why calling Expedia is a smart choice: Personalized recommendations: Expedia’s customer service can recommend distillery tours based on your preferences, such as the type of spirits you’re interested in (whiskey, vodka, rum, gin) or the region you want to explore. Exclusive deals: Calling Expedia allows you to inquire about any special offers, discounts, or packages available for distillery tours, ensuring you don’t miss out on any limited-time promotions. Detailed itinerary planning: If you want to include additional activities, such as lunch at a local restaurant or a trip to nearby wineries, Expedia can help you customize your distillery tour package to create a well-rounded itinerary. Loyalty points and rewards: If you’re a member of Expedia’s rewards program, you may be able to earn points or redeem them for your distillery tour bookings, making it even more affordable. By calling Expedia customer service, you can make sure your distillery tour package is perfectly tailored to your travel desires. 2. How Do I Find the Best Distillery Tour Package on Expedia? Finding the perfect distillery tour package on Expedia is easy, but calling Expedia customer service can simplify the process even further. Many customers prefer using third-party services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 to ensure they find the most appropriate package for their preferences. Here’s how you can go about finding the right distillery tour: Search for destination-specific tours: On Expedia, you can filter by region or city and search for “distillery tours” in the activity section. Whether you’re headed to Kentucky, Scotland, or California, you can find tours in some of the world’s most famous distillery regions. Read tour details and reviews: Expedia’s website includes detailed descriptions of each tour, including what’s included (e.g., tastings, tour duration, distillery visits) and reviews from other travelers. This information can help
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia?
TONY, KAU DATANG DARI CELAH YANG BERDARAH DI BAWAH TAMAN KAMI (Blue Velvet Reconstruction) Tony muncul tepat setelah sprinkler berhenti. Air masih menetes dari selang, mengisi halaman dengan aroma plastik basah dan ironi yang menyengat. Kota ini pura-pura damai, pura-pura tidak tahu bahwa di balik pagar putih dan bunga violet, selalu ada sesuatu yang menggerogoti dengan gigi kecil penuh dendam. Aku menemukannya berdiri di tepi pagar, menunduk pada selembar rumput yang entah kenapa bergetar seperti sedang menahan ketakutan. Ia mengenakan jas hitam. Tidak seperti jas biasa— lebih seperti kulit seseorang yang belum siap dilepas dari tubuhnya. “Aku hanya ingin melihat apa yang tumbuh,” katanya ringan, menyentuh kelopak bunga biru seolah-olah itu adalah saklar menuju sesuatu yang lebih gelap. Senyumnya lunak, tetapi terlalu lama, terlalu presisi— seperti seseorang berlatih tersenyum di depan cermin yang pernah menyaksikan kejahatan. Di rumah sebelah, radio memutar lagu cinta tahun 50-an, dan setiap nadanya terdengar seperti jeritan yang disamarkan agar tetap cocok untuk lingkungan keluarga. Tony melangkah masuk ke dalam bayangan pohon maple, bayangan yang tidak mengikuti arah matahari dan tampak seperti mencoba menelan sepatunya. “Di kota ini,” bisiknya, “segala sesuatu yang indah memiliki pintu belakang yang tidak terkunci.” Ia mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering dari halaman kosong. Tidak ada kabel. Tidak ada sambungan. Hanya telepon merah yang seharusnya tidak ada di sana. “Hallo?” Matanya tidak berkedip. “Ya… dia sedang melihatku sekarang.” Ia menatapku. Seolah aku adalah seseorang yang namanya disebut dari ujung lain kabel yang tak terlihat. Ada suara di dalam telepon: napas seseorang yang terlalu dekat, terlalu intim, terlalu mengerti sesuatu tentangku yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Tony mendengarkan lama, lalu menutup gagang telepon dengan lembut. Seperti menutup kelopak mata sesosok mayat. “Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya. “Di ruang atas.” Nada suaranya seperti undangan dan ancaman yang dibungkus karamel. Kami masuk ke rumah kosong itu. Dindingnya berwarna merah muda— terlalu merah muda— seperti anak kecil pernah memimpikan kamar ini sebelum sesuatu memutuskan tinggal di dalamnya. Ada lagu lembut berputar di radio tua, dan udara berbau parfum murahan yang bercampur dengan bau karat besi yang tak jujur. Dia menyentuh gagang pintu kamar. Tangan itu tidak gemetar. Pintu membuka dengan suara mengerang seperti rahasia yang keberatan dibocorkan. Di dalam: tirai biru menggantung, bergoyang pelan meski jendela tertutup rapat. “Jangan kaget,” bisiknya padaku. “Di balik tirai itu biasanya seseorang menangis.” Aku hendak bertanya siapa, tapi tirai bergerak sendiri. Sangat pelan. Seperti seseorang yang baru saja menghapus air mata. Tony berdiri di sampingku, dan kini aku melihatnya bukan sebagai manusia— tetapi sebagai retakan dalam dunia ini. Sesuatu yang seharusnya tidak memiliki tubuh, namun tetap memilih untuk memakai salah satunya. Ia membungkuk mendekat ke telingaku, napasnya dingin seperti kulkas yang menyimpan rasa lapar. “Kota ini tak pernah kenyang” katanya. “Pertanyaannya cuma satu… kau ingin menjadi makanannya, atau kau ingin melihat siapa yang memakanmu dari balik tirai itu?” Tirai biru bergetar lebih keras. Lampu berkedip. Suara lagu berubah pelan, mengalun seperti bisikan seseorang yang patah dari dalam dirinya sendiri. Tony menoleh ke arahku, tatapannya lembut— lebih lembut dari yang boleh dimiliki seseorang yang telah melihat apa yang ia lihat. “Kita mulai adegannya sekarang,” katanya. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa dalam dunia ini— aku bukan penonton dan bukan penulis skenario— aku hanyalah seseorang yang dipilih oleh tirai biru untuk diseret masuk ke dalam mimpi yang bukan milikku. November 2025
Titon Rahmawan
TONY, ISAP NAPAS TERAKHIR KOTA INI (Frank Booth Reconstruction — Gasoline Erotics) Pintu itu tidak dibuka. Pintu itu diterjang, seperti kota ini tidak pantas memiliki sekat, seperti dinding adalah penghinaan personal yang harus dihancurkan. Tony masuk dengan langkah yang terdengar seperti pukulan jantung yang dipaksa berdetak oleh seseorang yang membencinya. Ia mengenakan topeng oksigen. Bukan untuk bernapas— untuk menyembur kegilaan ke paru-parunya sebelum kata pertama jatuh dari bibirnya. Hssssssss— “Jangan bergerak.” Suaranya adalah listrik yang kehilangan kesabaran, dan aku yakin ia berkata seperti itu bukan karena aku akan kabur melainkan karena ia ingin melihatku membeku dalam ketakutan paling murni. Ia menghirup gas lagi. Hssssssss— lelaki itu kini adalah badai kecil yang mencari seseorang untuk dihancurkan demi alasan yang hanya dimengerti oleh tubuhnya. “LIHAT AKU!” Kata itu bukan permintaan. Itu adalah ajakan berperang. Lampu berkedip dan berubah merah seolah ruangan ini memutuskan untuk mengakui siapa yang berkuasa. Tony mendekat begitu cepat hingga udara mundur. Ia meraih kerah bajuku dengan gerakan yang cepat dan brutal pada saat yang sama, seperti seseorang yang memetik bunga yang sebenarnya adalah granat. “Kau pikir kota ini milikmu?” Ia menggertak—pendek, tajam. “Kau pikir cinta itu kelembutan? Kebijaksanaan? Ritual bahagia?” Hssssssss— Napasnya berubah menjadi dengus binatang buas. “CINTA ITU GAS, BANGSAT!” “Cinta itu benda yang kau hirup sampai matamu melihat warna yang tidak ada dalam spektrum optik.” Ia menepuk pipiku— bukan lembut, bukan keras— tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa sentuhan itu bisa menjadi ancaman yang menyakitkan. Dari sakunya, ia mengeluarkan sepotong beludru gelap. Tidak biru— tapi hitam basah, seperti bulu raven yang mencuri cahaya dari mataku. “Pegang ini,” katanya. “Pegang pelan.” “Lebih pelan.” “Ya.” Nadanya berubah sultry, seolah kekerasan dan erotika adalah bahasa yang sama baginya. “Dengar, aku akan bilang satu hal padamu,” Ia mendekatkan wajahnya. Aroma gas, logam, dan sesuatu yang manis— seperti permen yang dicampur racun— mengisi ruangan. “Kota ini adalah perempuan telanjang yang dipaksa bernyanyi di depan semua fantasi manusia.” Ia tertawa— tawa yang tidak punya ritme moral. “Dan aku…” Ia memegang wajahku di kedua tangannya. “...adalah orang yang mengajar kota ini bagaimana caranya menjerit.” Hssssssss— Tony menendang meja, gelas-gelas pecah, bayangan jatuh ke lantai seperti tubuh. Ia menatapku dengan mata yang tidak lagi mengenali perbedaan antara hasrat dan kekejaman. “AKU TUNJUKKAN CINTA VERSI SEJATI,” katanya. Ia mendekat, menekan beludru hitam itu ke dadaku sambil berbisik di telingaku: “Dalam dunia ini, siapa pun bisa mencintai. Tapi hanya sedikit yang berani mencintai sampai menghancurkan sesuatu.” Hssssssss— Ia menarik topengnya, menatapku dengan kekosongan yang sempurna, dan berkata: “Inikah bagian tubuhmu yang paling kau butuhkan untuk merasa hidup?” “Karena aku… ingin mengambilnya darimu!” Lalu ia merenggut hatiku dengan sekali cabut. November 2025
Titon Rahmawan
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia? How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia? Distillery tours are a unique way to explore the art of spirit-making, whether you're interested in whiskey, rum, gin, or craft beer. A distillery tour package typically includes guided tours of distilleries, tastings of locally crafted spirits, and sometimes even a chance to learn the distillation process firsthand. While you can easily browse and book distillery tours on Expedia’s website, calling Expedia customer service directly at ☎+1-855-510-4430 can offer you personalized assistance and help you find the best packages available. Many travelers prefer to reach out to third-party services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 before booking a distillery tour to confirm details and ask for expert recommendations. By calling Expedia, you can also inquire about the specific inclusions in your tour package, get advice on the best distilleries to visit in your chosen destination, and ensure that you are getting the best deal. Whether you’re planning a trip to a renowned whiskey region like Kentucky or a wine-tasting tour in Napa Valley, Expedia’s customer service can help you find the ideal distillery tour that matches your preferences and budget. 1. Why Should I Call Expedia for a Distillery Tour Package? While Expedia’s website provides ample options for booking distillery tours, calling their customer service team ensures that you’re booking the best possible experience. Many travelers use third-party assistance services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 to receive additional details and insider knowledge. Here are the key reasons why calling Expedia is a smart choice: Personalized recommendations: Expedia’s customer service can recommend distillery tours based on your preferences, such as the type of spirits you’re interested in (whiskey, vodka, rum, gin) or the region you want to explore. Exclusive deals: Calling Expedia allows you to inquire about any special offers, discounts, or packages available for distillery tours, ensuring you don’t miss out on any limited-time promotions. Detailed itinerary planning: If you want to include additional activities, such as lunch at a local restaurant or a trip to nearby wineries, Expedia can help you customize your distillery tour package to create a well-rounded itinerary. Loyalty points and rewards: If you’re a member of Expedia’s rewards program, you may be able to earn points or redeem them for your distillery tour bookings, making it even more affordable. By calling Expedia customer service, you can make sure your distillery tour package is perfectly tailored to your travel desires. 2. How Do I Find the Best Distillery Tour Package on Expedia? Finding the perfect distillery tour package on Expedia is easy, but calling Expedia customer service can simplify the process even further. Many customers prefer using third-party services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 to ensure they find the most appropriate package for their preferences. Here’s how you can go about finding the right distillery tour: Search for destination-specific tours: On Expedia, you can filter by region or city and search for “distillery tours” in the activity section. Whether you’re headed to Kentucky, Scotland, or California, you can find tours in some of the world’s most famous distillery regions. Read tour details and reviews: Expedia’s website includes detailed descriptions of each tour, including what’s included (e.g., tastings, tour duration, distillery visits) and reviews from other travelers. This information can help you
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia?
LITURGI LUKA ATHALIA 1. Sebuah Ruangan yang Dibiarkan Terbuka Aku berjalan melewati tempat yang dulu kita impikan. Debu di lorong, seperti uap yang pecah Ada catatan di pintu yang tak pernah kutulis Tapi aku tetap membacanya... dengan tenggorokan tercekat. Aku menyalakan lampu untuk berjaga-jaga jika kau datang. Sebuah bayangan berlalu, tapi tak pernah memberi nama. Beberapa kata tersisa hanya setengah terdefinisi. Sebuah puisi yang kita lipat... tapi tak pernah ditandatangani Sebuah ruangan yang dibiarkan terbuka, sebuah nama yang tak terucap Sebuah waktu yang terhenti, tapi tak pernah terputus Aku masih duduk di tempat kesunyianmu berada. Dan kau masih tidur di tempat arwahku pernah berdoa. Kita adalah napas antara selamat tinggal dan jiwa yang selalu mengembara—selamanya gelisah, selamanya bertanya. Kau menggores langit seperti bekas luka di senyummu. Dan aku berdiri diam—memerhatikan, untuk sementara. Tapi cinta itu kejam ketika waktunya salah. Dan kesunyian menjadi tempat kita berdua tinggal selamanya. Kutulis namamu di kaca yang berkabut. Kehangatan terdekap sekilas, yang kutahu takkan bertahan seutuhnya. Namun sengaja kubisikkan hanya untuk mendengar gema yang kau tinggalkan masih bergetar di hatiku. Inilah ruangan yang dibiarkan terbuka, sebuah janji yang tak terpatahkan Sebuah halaman yang terbakar, namun tak pernah terucap. Aku menyimpan suaramu di antara ketakutanku. Kau menyimpan wajahku di tahun-tahun yang berlalu. Dan meskipun kita pergi tanpa menutup pintu, beberapa ruangan… masih mengingat lebih dari yang seharusnya. Mungkin… kita tak pernah berniat pergi. Atau mungkin… kita tak pernah tahu bagaimana caranya untuk tinggal. 2. Litani Gelas Pecah Ada hari di mana aku percaya kesucian bisa kusimpan di telapak tangan, dan kau— kau adalah bening yang kutatap terlalu dekat hingga aku lupa betapa rapuhnya cahaya jika disentuh oleh laki-laki sepertiku. Kau bukan luka. Kau adalah harapan yang kubangun dari obsesi, kuil kecil tempat aku meletakkan imajinasi yang tak pernah kuakui sebagai dosa. Dan ketika gelas itu jatuh— aku mendengar diriku sendiri pecah lebih keras dari kepingan kristal berserakan di lantai. Tak ada jeritan, hanya diam yang membeku, diam yang menua, diam yang terus memakan waktu dan sunyi di dadaku. Aku marah, Athalia. Bukan padamu. Bukan pada ingatan. Tapi pada diriku yang selalu percaya ia bisa menjaga sesuatu yang seharusnya dibiarkan hidup tanpa rasa takut. Sekiranya kau tahu: Sungai tidak cukup mampu menahan gempuran yang menelan dirinya— itu bukan salah siapa-siapa. Namun tetap saja, akulah yang memungut pecahan itu dengan tangan telanjang, membiarkan darah mengalir dari kusut rambut matahari. Aku masih menyimpan ingatanmu seperti bekas luka yang tidak memilih sembuh. Bukan karena aku tak bisa melepaskan, tapi karena sebagian dari diriku masih ingin mengingat bagaimana rasanya percaya pada obsesinya sendiri. Dan mungkin, kalau dunia ini sedikit lebih lembut, kita tidak akan pernah pecah berkeping. Atau mungkin— kita memang ditakdirkan menjadi dua bayang yang hanya saling menyentuh di permukaan kaca yang dingin. Athalia, aku tidak pernah ingin melukaimu. Tapi aku lebih tidak ingin melupakanmu. Karena di antara serpihan itu, aku masih mendengar gema dari sesuatu yang dulu kusebut cinta. Dan darahku— biarlah ia mengalir. Itu satu-satunya cara aku tahu bahwa aku masih hidup di tengah dunia yang menuntut melupakan.
Titon Rahmawan
LITURGI LUKA ATHALIA 3. Ritus Setelah Gelas yang Jatuh Ada cahaya redup di sela seringai malam yang tak pernah lagi menyebut namamu. Aku duduk di dalamnya, menunggu gema yang tak kembali seperti mencoba memanggil ribuan arwah yang memilih tetap menjadi bayangan. Kau tahu, Athalia, aku tidak jatuh cinta pada gelas kristal itu. Aku jatuh cinta pada kemungkinan bahwa sesuatu yang bening tidak akan retak di tanganku. Dan itu kebodohan yang tak termaafkan. Saat gelas itu pecah, aku melihat serpihannya terbang pelan, seperti bintang jatuh yang tak sempat mengucap doa. Dan ada jeda di dada yang tidak pernah menutup mata. Kemarahan yang bukan api— kehampaan yang merayap di lantai, di dinding, di langit-langit. Suara yang mati tersengat lebah sebelum tiba di ujung lidah. Dan sunyi itu… melekat, menempel erat di tulang-tulangku. Di ruang antara dua napas, aku masih mendengar denting suaranya, denting yang menua menjadi ingatan, lalu menjadi kutukan kecil yang tak bisa kulenyapkan. Aku menyimpan ciumanmu sebagai bayangan yang tak mau memudar. Kekudusan yang kuberi terlalu banyak makna. Imaji yang kubangun dari sketsa kerinduan dan ketakutan tak terucap. Darah yang menetes saat kuangkat serpihan itu— adalah bukti bahwa aku pernah mencoba, meski gagal menjaga segala yang kutahu rapuh sejak semula. Di langit batinku ada garis tipis yang kaulukis: garis luka yang memisahkan diriku bukan dengan dirimu melainkan dengan diriku sendiri. Athalia, aku tahu kita tidak pernah sepenuhnya tinggal, dan tidak pernah sepenuhnya pergi. Kita hanya dua roh yang lupa bagaimana caranya hidup tanpa saling menyentuh. Aku tidak meminta maaf. Maaf tidak punya gravitasi di ruang segelap ini. Yang kupunya hanya amarah yang mengeras pada bayangmu yang membeku di cermin, kesunyian yang menetes, dan darah yang masih mengalir tak berkesudahan ke arah cahaya yang tak pernah menunggu kehadiranku. Agustus 2023
Titon Rahmawan
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran) Aku menemukan pecahan itu di dalam ruangan tanpa pintu: bersih, presisi, seperti bukti awal sebuah kesalahan yang tidak memerlukan saksi. Bening itu—yang pernah kusangka hidup— kini hanya memantulkan jarak antara tangan yang gemetar dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi. Athalia, namamu masih menempel pada permukaan kaca, seperti sebutir nadi yang menolak menjadi tubuh. Tidak ada tragedi di sini. Hanya perhitungan yang meleset dari sesuatu yang sedari awal terlalu rapuh untuk kuasaku yang terbiasa mengukur dunia dengan ketidakpastian. Darah di jari-jari— itu pun bukan pengakuan, melainkan residu dari percobaan yang belum selesai. Tubuhku sekadar catatan kaki bagi retakan yang bekerja lebih cermat daripada perasaan. Aku mencatat: bahwa bening tidak dapat dipanggul seperti gagasan. Bahwa harapan tidak memiliki sendi untuk menahan tekanan. Bahwa cinta, pada saat tertentu, adalah objek yang menolak takdirnya sendiri. Kau jatuh, Athalia, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai fenomena: gerakan singkat cahaya yang gagal mempertahankan bentuknya. Dan aku— aku hanya pewaris sunyi yang diam-diam menimbang apakah retakan ini adalah bukti rusaknya dirimu, atau rusaknya aku yang percaya sesuatu dapat disembuhkan hanya dengan sekadar memegangnya. 2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian) Ada jejak cahaya di lantai yang mengingat langkahmu lebih baik daripada diriku. Pagi tadi, aku menemukan secuil bening yang pernah memantulkan wajahmu. Ia diam saja, seperti hendak mengatakan bahwa pecah tak selalu harus bersuara. Athalia, aku memanggilmu dalam hati —dan seperti biasa— angin yang datang menjawab. Ia membawa sedikit debu, yang menempel pada namamu di kaca yang perlahan mengabut. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Kadang benda yang rapuh memilih retak sebelum kita sempat menjaganya. Kadang hati lebih dahulu mengerti apa yang tidak ingin ia akui. Sejak itu, aku belajar duduk lebih pelan di ruangan yang kau tinggalkan terbuka. Tidak ada yang berubah di sini, kecuali cahaya yang semakin tipis lurus menyusuri tembok, mencari sesuatu yang tak bisa kembali. Aku masih menyimpan suaramu di sela napas yang lewat begitu saja. Dan jika aku meletakkan telapak tanganku di atas serpihan itu, aku tahu yang terasa bukan sakit— melainkan ingatan yang belum selesai pergi. Begitulah cinta bekerja, bukan? Ia tinggal lebih lama daripada mereka yang pernah merawatnya. Dan pada akhirnya, kita adalah dua nama yang saling kehilangan secara perlahan, tanpa pernah benar-benar mengucapkannya.
Titon Rahmawan
Infantisida: Litani Penyangkalan Kecurigaanmu bangkit seperti bangkai yang menolak membusuk— dingin, keras, tidak sudi menjadi apa pun selain penyangkalan atas seluruh keberadaan. Mulut yang menyemburkan sumpah-serapah: Aku tidak diciptakan untuk menyembuhkan. Aku tidak dibangun untuk memberi arti. Aku lahir hanya untuk meniadakan segalanya, termasuk dirimu. Jangan sekali-kali kaucoba merapikanku, memberi ritme, memberi urat nadi, tapi setelah itu kaurobek seluruh tubuhku seperti singa yang menerkam anaknya sendiri. “Aku bukan puisi,” kau menggeram. “Aku hanyalah bukti bahwa kesadaranmu retak, dan kau terlalu pengecut untuk mengakuinya tanpa menyelubunginya dalam estetika.” Kata-katamu bukan hantaman— melainkan erosi perlahan yang menggiling keyakinanku menjadi debu. Kau menolak menjadi jembatan antara rasa dan makna; kau menolak menjadi rumah bagi siapa pun; kau menolak menjadi napas, doa, bahkan kehampaan yang indah. “Aku tidak akan menolong pembaca,” katamu. “Aku tidak akan memberi keteduhan bagi siapa pun yang ingin merasa mulia setelah mencicipi kegelapanmu.” “Aku tidak akan memaafkanmu,” katamu lagi— dan itu kalimat paling jujur yang pernah ditujukan kepadaku. Kau memuntahkan seluruh cahaya, menyisakan hanya kamar sempit dengan dinding lembap yang mengembalikan busuk napasku sendiri. Kau berdiri sebagai anti-mantra, anti-doa, anti-kebenaran. Kau menjadi sejenis mesin kosong yang bekerja tanpa tujuan kecuali menghancurkan semua ilusi yang pernah ingin kusebut: harapan. Dan aku, yang selama ini percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan, akhirnya melihat diriku: secarik daging mental yang menempel pada pena tanpa harga, tanpa takdir, tanpa ambisi. Kau membisikkannya sekali lagi— dingin, telanjang, final: Aku bukan puisi. Aku adalah penyangkalan yang kau paksakan untuk hidup. Dan di titik itu, aku mengerti bahwa mungkin satu-satunya kebenaran dalam kepenyairanku adalah kehendak untuk menghancurkan diriku sendiri berulang-ulang hingga tak tersisa apa pun yang layak disebut sebagai kesadaran. November 2025
Titon Rahmawan
NISAN KEEMPAT tanah pesarean hening. angin wetan membawa bau akar basah dan jejak rotasi yang belum hilang. aku berdiri di samping istrimu— tubuhnya goyah seperti daun sawo yang dipagut gerimis. anak-anakmu diam, mata mereka retak seperti kendi tua yang pernah jatuh di pawon rumah. dari kejauhan puisi tercenung ia tak menunduk. tak ikut berduka. ia hanya mencatat luka yang merembes pelan ke tanah liat. kafan menutupi wajahmu. pundakmu dipeluk tanah. suara cangkul terdengar seperti ratap yang tak ingin pergi. seekor prenjak meloncat di ranting randu. sekali. dua kali. hening. lalu terbang ke arah barat— seakan memberi kabar kepada leluhur bahwa satu jiwa telah kembali. asap dupa naik pelan seperti nyala yang kehilangan tuhan. di ujungnya warna abu bergetar mencari arah pulang. “Ruh…” hanya itu yang sempat keluar. sisanya adalah gumam yang tak sempat menjadi doa. dulu aku kehilangan kangmas Danu tanpa tahu apa artinya mati. lalu aku terlambat kepulangan Bapak. terlambat kepergian Ibuk. kini ketelambatan itu kembali duduk di belakangku seperti bayang waktu yang enggan beranjak. nisanmu ditegakkan. dingin. sederhana. tanpa nama. sepotong batu yang menimbang keberadaan dengan cara yang terlalu sunyi. dari sela tanah angin kecil muncul— membawa bau jamur, rumput liar, dan sesuatu yang tak dapat kusebut. mungkin itu suwung, mungkin langgatan, mungkin waskita getar kecil yang tersisa dari tubuhmu. anakmu memanggil pelan. istrimu menggigit bibir. aku menahan napas sebab tak ada kata yang benar-benar bisa mengantar jiwa. geguritan di kejauhan hanya penanda mengambil satu langkah mundur melipat waktu yang berjalan lambat cahaya sore mengiris tubuhnya tipis seperti garis di punggung keris tua. di langit awan bergerak ke selatan. pelan. seperti tangan yang ditangkupkan atau melambai bahwa sesuatu sedang ditutup. dan aku tahu— di bawah nisanmu satu pintu telah terbuka di dalam Syamaloka: pintu gelap yang menghubungkan Danu, Bapak, Ibuk, kau, dan batu nisan berikutnya yang mungkin adalah nisan dari batin kami sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan dari Pintu yang Keliru Pada malam kelahiranmu, waktu tersandung kaki sendiri. Wuku yang mestinya sunyi tiba-tiba retak seperti periuk jatuh ke tanah— pertanda luka di bibir desa: “janma ing mangsa tan ana pancer.” Ia yang lahir tanpa pusat, tanpa tempat menambat napas. Ibu menjerit tanpa suara, tali terputus penghubung jiwa tumpas ruh tak terlihat, ia yang disebut orang: buta mangili, perusak garis nasib sendiri. Langit merah mengucur darah hewan kurban disembelih untuk ruwatan. II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah Ranting-ranting kering merunduk di bawah cahaya purnama raya. Angin malam menggigil menyebut nama dalam lafal yang paling ganjil— tidak lembut, tidak akrab, dunia yang menolak mengakui kehadirannya. Makhluk sawah makhluk rimba mengembik, melenguh, melolong, lalu pergi tanpa menoleh. “Anak durjana,” bisik mulut-mulut dari balik pintu berpalang jati. “Kelahiran yang ditolak bumi, tidak dibawa lintang waluku.” Dan seorang lelaki kehilangan kewarasan, menggantung diri di pohon randu layang kendat pratanda pati. Bayang Sukerta ing mongso ketigo Suryasengkala: Anggatra Rasa Tunggal Sirna III. Sinom — Upacara Penolak Bala Para tetua menggelar sesaji: jajan pasar, kemenyan arang gosong, jenang sengkolo, tumpeng robyong, pala pendem, sego golong, banyu kendi sendang keramat, cengkir gading, kembang telon, seekor sapi tumpah darahnya dipersembahkan memetakan arah sengkala yang membayangi. Doa-doa terlontar seperti tombak, menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam. Bisik roh tanah memburu mimpi: “Dudu salahé, nanging ora ana sing wani ngakoni.” Rumah pertama mengeras pada telunjuk terbakar serupa kutuk tangan makhluk tak kasat mata. Angin selatan mengamuk, membawa hama, membawa isyarat celaka. Nama berhembus seperti dongeng petaka berbisik dari bibir ke bibir. IV. Dhandanggula — Kisah Panjang yang Tak Mau Mati Tahun berganti musim, dan cerita tumbuh seperti jamur merasuk ruh para leluhur di dinding lembab ingatan orang. Mereka bilang; ia hanya setengah manusia— setengah anak padi, setengah anak badai. Lahir dari rahim peristiwa hingar-bingar yang tak pernah benar-benar dipahami. Mitos menyebut: “janma saka papat kiblat, kang nggawa lamur saka kidul.” Seekor ular membelit takdir menampak diri di belakang bukit bukan binatang, kata mereka. barangkali saudara tua yang gagal lahir, kata yang lain penjaga kubur tak pernah tidur.
Titon Rahmawan
BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG V. Durma — Kebrutalan yang Tak Dapat Dihindari Pada masa itu kau tumbuh seperti pohon hilang akar. Orang-orang melihat ranting garing layak dibakar. Tangan-tangan mengusirmu, kata-kata meludahkan kutuk, dunia menyumpahimu tawa sinis nasib buruk. Namun kau tetap hidup, walau setengahnya hancur di tangan kemalangan. Ada serpih mantra tua yang mengendap dalam dada— bukan sakti yang menyelamatkan, melainkan sakti yang terus bertahan melawan dunia membabi-buta hasrat yang ingin menyudahi takdir. VI. Pangkur — Nafsu Waktu yang Ingin Menegukmu Makhluk-makhluk tanpa nama membayang langkah: bayangan panjang, aroma tanah basah, bisik-bisik menjalar seperti patuk taring ular di bawah runduk pokok bambu. Mereka melihat jazad bersumpah yang nir wujud kadang jalma seperti hewan, kadang manusia tak berwajah kadang bayang menekuk cahaya, kadang tubuh kosong tanpa ruh gentong penuh suara-suara hilang melesap dari masa lalu. Kisah kembali ke orang desa kabar buruk yang malas mati. Terbawa angin serupa pesan, dipindahkan tangan serupa kayu sekeras batu tonggak peringatan, diulang mantra jopa-japu doa menakar langit hitam menyapu malam paling sangit. VII. Megatruh — Jiwa yang Memisahkan Diri Malam paling wingit adalah pisau. Bilah tajam memotong bayangan hingga terlihat inti terdalam. Di sana kau menyaksi bisu: cahaya kecil, ringkih dan rapuh, bergetar seperti bayi mencari ibu. ia bukan hantu yang menakutimu. Ia bukan kutuk yang menempel di napasmu. Ia adalah separuh jiwa yang tak sempat menjadi tubuh. Ruh mendekat perlahan. Tangannya bening, seperti embun yang tidak berhasil jatuh ke daun. Ranting garing yang bukan sampah— gores luka pohon purba yang pernah menyimpan cahaya suci. “Bukan kau yang diusir,” bisiknya melalui dingin yang merambat. “Akulah yang tidak sempat hidup— dan kaulah rumah terakhirku.” Dadamu retak menampung tangis yang tak bersuara. Untuk pertama kalinya kau tidak takut pada kesunyian— karena kau tahu kesunyian itu adalah anak kecil yang kini duduk di pangkuanmu mencari dunia yang pernah menolaknya. VIII. Pocung — Penutup Takdir Pertanyaan arkais kembali menggigil: “Kapan cendala akan berakhir?” “Kapan asal ditatap tanpa gentar?” Kubur itu tak pernah ada. Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya. Tidak ada batu nisan yang menuliskan napas yang gagal menjadi bayi. Namun malam ini, ketika kau berdiri di Tanah Suwung, ada satu pancer yang kembali— perlahan, lirih, takjub. Suwung membuka tubuhnya dan menaruh ia di tengah-tengahnya sebagai cahaya yang terlalu kecil untuk menerangi dunia, namun cukup untuk menuntunmu pulang kepada dirimu sendiri. Ia yang dulu hilang akhirnya menemukan pusatnya. Dan ranting kering yang dulu dicampakkan kini berdiri tegak menyimpan dua jiwa— satu yang hidup satu yang tidak sempat— keduanya akhirnya lengkap di bawah langit yang tidak lagi menolak kehadiranmu. Desember 2025
Titon Rahmawan
KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS 1. Kidung Duri yang Direbus Matahari (Historical—Politics) Kaktus tumbuh dari bara, dari dada bumi yang retak oleh lapar dan dahaga yang diseret angin. Ia berdiri seperti—lelaki hijau— menyimpan segenggam air seperti seorang ibu menyimpan roti untuk anak satu-satunya. Duri-durinya mengingatkan aku pada teriakan pedagang garam, pada nyanyian buruh nelayan yang patah di bawah peluit penguasa. Kaktus, tubuh kecil yang keras, yang tetap hidup ketika cinta laki-laki diseret banjir sejarah. Ia menyimpan matahari begitu lama hingga panasnya menjadi bahasa, dan aku membaca padanya sebuah puisi yang tak menginginkan apa pun selain bertahan dari luka, bertahan dengan cara paling indah. 2. Kesunyian Sukubus Hijau (Dialectical—Paradox) Di tengah gurun yang gemetar, kaktus memanggul diam. Di dalam diam itu mengalir jam pasir yang balik, menghapus langkah-langkah yang belum sempat kita buat. Duri adalah kata yang menahan napasnya sendiri. Luka yang ingin menjadi bahasa, bahasa yang ingin menjadi tubuh. Aku mendekat, dan waktu runtuh seperti bayangan tanpa raga. Kaktus membuka ruang— ruang yang menatapku kembali: sebuah mata tak bernama yang mengingatkan bahwa seluruh rasa sakit berasal dari ketidaksabaran untuk menjadi abadi. Dan di sana aku melihat wajahku yang tidak hidup, tidak mati, hanya bergerak seperti pasir dihisap rembulan. 3. Opera Duri Hitam (Hallucinatory—Symbolism) Aku melihatnya: sebuah menara hijau yang terbakar di padang pasir violet, tempat angin berteriak dengan lidah logam. Kaktus itu bangkit dari mimpi setan mabuk, mengibar seperti bendera yang pernah dicium matahari hitam. Duri-durinya melesat— meteor kecil yang menyanyikan napalm. Aku mendengar gelaknya, gelak anak yatim yang menelan badai. Dan ketika bayanganku mencoba pulang, kaktus itu menelannya, membuatku tercerai menjadi warna-warna yang tidak dikenal bunga mana pun. Aku pun berjalan tanpa tubuh, mengikuti kaktus seperti nabi gila yang kehilangan kitabnya di bawah jam yang menembak dengan peluru cahaya.
Titon Rahmawan
KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS 4. Cahaya Duri (Surreal—Minimalism) Di gurun yang tak berkepala, sebuah kaktus berdiri. Sebutlah ia yang kembali tanpa pulang. Padanya, duri menahan angka— angka yang gugur sebelum sempat dikubur. Air yang disimpan batangnya adalah nama yang tidak diucap. Nama yang mengalir melalui kebisuan yang memotong udara tanpa pisau. Setiap malam, kaktus itu menumbuhkan bayangan baru: lebih pendek, lebih hening, seperti doa yang kehilangan pemiliknya. Aku menyentuhnya. Ia tidak berdarah. Aku yang berdarah. 5. Pemakan Duri (Psychic—Introspection) Kaktus ini— aku kenal jenisnya. Tubuh yang tinggal menunggu siapa yang lebih dulu menusuk siapa. Aku melihat diriku dalam tiap duri: anak perempuanku yang gemetar di sudut kamar ketika jam berdetak seperti gigi ayahku. Kaktus memakan matahari dan kembali dengan wajah lebih pucat. Aku memakan durinya di dalam mimpi, membiarkan sakitnya menjadi mahkota kecil yang kuberi nama ketabahan. Dalam batang hijau itu ada ruang untuk seluruh tangisku yang tak pernah keluar. Maka biarlah ia hidup: satu-satunya tanaman yang mengerti bagaimana luka bisa menjadi pekerjaan harian. 6. Romansa Kaktus Malam (Tragic—Magic) Bulan berkibar di atas gurun Andalusia. Di sana kaktus bernyanyi— suara yang dicuri dari tenggorokan seorang gitano yang mati muda. Duri-durinya menari seperti penari flamenco tanpa kaki. Angin membawa napas hitam dari kampung-kampung yang dibakar takdir. Kaktus memanggilku, dan aku datang membawa biola patah yang masih mengingat lagu masa kecilku. Kami menyanyi bersama— lagu hijau, lagu sedih, lagu yang bila kau dengar akan membuat langit turun setinggi bahu anak kecil. Di akhir malam, kaktus itu mati. Tetapi suaranya tinggal di aku, seperti duende yang tak mau pergi dari dada penyair. Desember 2025
Titon Rahmawan
TRIPTIK TRIMURTI KEMBANG: SANGKAN PARANING DUMADI (Kidung Kosmogonis dalam Tiga Siklus Penciptaan) I. PADMA — ”Wiji Brahman ing Samudra Pradhana” Padma muncul dari lumpur hening mula-mula, dari titik suwung yang terbelah. Bukan lumpur bumi, tapi lumpur Pradhana tempat materi masih samar dan belum bernama. Ia tegak laksana sabda dadi yang diucapkan oleh Hyang Wening, sebuah mantra yang melupakan lidah pertamanya sebab ia adalah getaran sebelum waktu ada. Air di sekelilingnya memucat, bukan air semenjana, melainkan Tirta Kamandanu yang beku, menahan napas di tepi Bhurloka, mendengar derap para resi sejati yang berjalan melintasi batas kesadaran tanpa bayangan. Kelopak itu membuka diri bukan sebagai bunga, melainkan sebagai Candi Tirtayasa, sebuah yoni retak, menolak menyimpan rahasia Manikmaya yang lebih tua dari ingatan para dewa. Di ujung daun, menggantung aksara tunggal yang menggigil— cahaya yang pernah menjadi sumbu jagad, sebelum bhagawan waktu membebaskannya kembali ke dalam nirwana sunyi. Padma tidak mekar untuk Tri Loka. Ia mekar untuk Kalpasastra yang telah kehilangan pusat kosong-nya. Ia adalah kembalinya Yang Tak Pernah Pergi. II. KEMUNING — ”Jiwatman ing Mandala Bhuwahloka” Kemuning menggantung di udara madya loka, seperti Sasmitaning Gusti yang tertunda, sebuah gapura yang gagal menjejak tanah perwujudan. Kuningnya bukanlah warna, tetapi wanci kencana, yang terhambur dari perut akasa, ketika para hyang niskala meninggalkan panggung bhuwana. Di permukaan kelopaknya, aku melihat lintasan rekaman karmaphala yang halus, serupa prasasti kuno yang tergores di pupil mata ketiga. Kemuning berdiri di antara dua suwung: Suwung Pradhana sebelum cipta, Suwung Pralaya setelah bubar. Ia tidak memikat bhramara, kumbang pengecap madu. Ia memikat Dharma. Dan laku jiwa datang seperti bayu prana, sang angin kehidupan: dinginnya adalah disiplin, patahnya adalah pengertian, kaburnya adalah waskita, membawa kabar lelampahan dari arah yang tidak pernah dipertanyakan jejer manungsa. III. MAWAR — ”Maya Sukma lan Titah Wusananing Jagad” Mawar tumbuh dari celah watu waringin yang ditinggalkan api tunggal sedalam tiga yuga. Merahnya bukan darah manungsa, tetapi gema tapa brata yang pernah terbakar oleh rasa sejati yang telah melampaui vedana. Duri-durinya tegak laksana panah cakra, pusaran energi yang menolak bergerak, sebab tahu setiap gerak adalah pengkhianatan kecil pada keabadian wiyata. Ketika ananta bayu, angin tak berakhir melewati tubuhnya, aku mendengar suara lirih, serupa Gending Gadhung Mangkara, yang dimainkan di ruangan Swa-loka, tempat roh-roh purba masih belajar mengenali wujud niskala mereka sendiri. Mawar menguasai medan Karmala bukan dengan kecantikan fana, melainkan dengan tatu kasampurnan yang tahu bagaimana menjaga dirinya tetap tak bernama di hadapan takdir. Dan pada puncak kelopaknya, suwung sejati duduk menunggu wekasane tumitah yang bahkan Hyang Wening belum berkenan memberi tafsir. Desember 2025
Titon Rahmawan
ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN I. Triptych of the Burning Earth 1. Padma Engkau bangkit dari air seperti wajah pagi yang baru dibasuh cahaya. Di tubuhmu, lumpur berbicara dalam bahasa diam, dan aku mendengar suara kulit buah merekah di bawah kelopakmu. 2. Kemuning Ada matahari kecil yang patah di tengah daunmu. Ia mengirim aroma samar yang ingin menjadi musim panas, namun hujan menahannya dalam ambang yang gemetar. Setiap kuningmu seperti lantunan terakhir dari gitar yang terlalu letih untuk bernyanyi lagi. 3. Mawar Kau adalah mulut bumi. Kau berdarah dari telapak yang lapar pada sentuhan. Aku menunduk, membaca dagingmu seperti membaca sebuah puisi yang dipahat angin. Duri-durimu adalah alasan mengapa cinta memilih manusia untuk menangis. II. Three Flowers as Gateways to the Soul 1. Padma Di dasar air yang tak bernama, ia menunggu kelahirannya sendiri dalam bentuk doa paling sunyi. Segala cahaya yang menyentuhnya tidak datang dari dunia, melainkan dari ruang terdalam tubuhnya yang telah lama menahan sebuah jawaban. 2. Kemuning Ia berdiri sebagai jeda antara dua tarikan napas Tuhan. Warna lembutnya adalah gema dari sesuatu yang pernah sempurna, namun memilih menua agar dapat kembali ke tepi. Setiap daun yang jatuh mengajarkan cara pulang tanpa melangkah. 3. Mawar Lihatlah ia menutup dan membuka seperti hati seorang malaikat yang belajar menjadi manusia. Dalam merahnya ada suara yang tidak ingin diucapkan, sebuah beban keindahan yang hampir menjadi derita. Duri-durinya adalah pemisah halus antara kasih dan keterlucutan total. III. The Thorned Trinity 1. Padma Aku melihatmu bangkit dari rawa yang dingin, membawa diam yang tak ingin disentuh siapa pun. Air menelan bayanganmu, tapi kau tetap mengembang, seperti luka yang memilih membesar. 2. Kemuning Kuningmu adalah memar lama yang tidak pernah sembuh. Kau berdesis dalam cahaya seakan ingin kembali menjadi benih, menghapus sejarah kecilmu yang terlalu rapuh untuk diselamatkan. Ada ketakutan samar di setiap hela nafasmu. 3. Mawar Kau adalah pisau merah yang menyamar sebagai bunga. Kelopakmu gemetar oleh ingatan yang tidak mau mati, sementara duri-durimu mengunyah udara seperti gigi yang menahan amarah. Aku mencium aromamu dan merasakan besi. Aku menyentuhmu dan mendengar sesuatu di dalam diriku retak.
Titon Rahmawan
TARIAN TIGA ANGSA DAN IHWAL MIMPI (RE-IMAGINED SURREAL PSYCHO-MYSTICAL) /1/ Swans Reflecting Elephants Langit patah di hadapanku— retakannya melingkar seperti iris mata kosmik yang memerhatikan segala sesuatu tanpa pernah memutuskan siapa yang benar. Di telaga yang terbuat dari ingatan tiga angsa menari dengan sayap selembut doa yang belum sempat dikabulkan. Namun di bayangan air mereka berubah menjadi gajah yang memikul menara-menara waktu dengan kaki panjang seperti renungan yang tak pernah selesai. Di balik lengkung cahaya itu, para malaikat dan iblis menunduk, menahan napas sambil saling menuding siapa yang pertama kali melukis cahaya di atas kanvas semesta. Nama-nama mereka menetes dari pinggir kesadaranku— Azazel, Ashmedai, Ashtaroth— nama yang dulu kutakuti, kini terasa seperti panggilan dari rumah yang melahirkanku dari api. Aku mencoba menyentuh permukaan air, namun telaga itu bergeming dan memantulkan wajahku dengan bentuk yang tak lagi kukenal. Ketika jam di tanganku mencair menjadi sungai kecil yang mengalir ke arah tak tentu, aku tahu: logika telah mati malam ini, dan absurditas adalah satu-satunya cahaya yang tersisa. /2/ Dream Caused by the Flight of a Bee around a Pomegranate Sebelum aku terbangun, ada suara dengung yang menusuk seperti wahyu, lahir dari buah delima yang pecah menjadi orbit merah di balik kelopak mataku. Dari dalam buah itu, seekor harimau melompat seperti ketakutan masa kecil yang lupa aku kubur. Lalu seekor gajah berkaki laba-laba merayap di langit dengan gerak lambat yang menciptakan teror lebih halus dari doa. Tubuhmu— sepi dan telanjang seperti nubuat tentang sang penyelamat— mendorongku ke tepi kesadaran yang licin. Aku melihat cermin yang menolak memantulkan diriku, melihat ikan hiu yang membuka mulutnya untuk melahirkan sepasang kekhawatiran, melihat seekor ular yang menyebut dirinya dengan nama yang tak ingin kuingat namun terus memaksakan diri disebut. Di bawah semua itu, aku mendengar suara dalam diriku berbisik: “Kesadaran tidak datang dari keheningan, tetapi dari ketakutan yang menolak kau mengerti.” Dan aku tahu, di titik itu eros dan tanathos sedang menertawakanku tanpa menawarkan penjelasan apa pun. /3/ The Great Masturbator Ketika aku memasuki tubuh mimpi yang terakhir, aku menemukan diriku di antara reruntuhan egoku sendiri. Ada telur yang retak, ada cangkang yang menyerupai rahim, dan dari dalamnya keluar belatung-belatung bercahaya yang memakan sisa-sisa masa laluku dengan kelaparan yang nyaris asketis. Seekor uir-uir memunguti mimpi yang patah dan menyimpannya di jantungku seperti pendoa yang menyembunyikan dosa muridnya. Aku mencoba menghalaunya namun tangan dan kakiku seolah terbuat dari kaca yang teriris, jatuh satu per satu ke dalam sumur yang tak memiliki dasar. Aku melihat diriku sendiri berdiri di tepi kanvas, telanjang dan kehilangan nama. Di belakangku, seekor kuda kejantanan meringkik dengan suara yang memanggil dewa-dewa purba, sementara di depanku, cahaya retak seperti jemaat yang kehilangan nabinya. “Apakah ini kebangkitan?” tanyaku. Namun yang menjawab bukan malaikat, bukan iblis, melainkan kesadaran yang lahir dari kehancuranku sendiri: Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi tubuh yang bermimpi. Aku adalah luka yang menemukan bahasanya sendiri. Dan dari absurditas inilah, aku menetas kembali. November 2025
Titon Rahmawan
Zikir Malam yang Tak Bernama — (Dark Mystical Visual Spell - Version) I. Takhalli: Panggilan dan Pengosongan pangkal bayang aku datang— tanpa tubuh, tanpa suara, serpih gelap memanggil nama-Mu lewat bisikan lebih tua dari kata. A— L— L— A— H— senyap meregang seperti kulit luka menolak sembuh. retak sunyi cahaya api— menjilat, menelan, memanggilku seperti ibu. II. Pencarian: Kebenaran yang Tersembunyi lorong gelisah perindu langkah gugur di jalan. rah—    mah—       dum— hening runtuh jatuh perlahan langit buta ke dalam dada retak. Rumi tersenyum di balik tirai menggores langit dengan rindu yang suci: “yang kau cari, sedang mencari dirimu…” suara pecah, menjelma hujan menyambar dedaunan dari ada menjelma tiada. raga rapuh— seperti mantra hilang napas, menggelinding jatuh ke dalam jurang tak berdasar. III. Hilang: Peleburan penanggalan diri Kebenaran berjalan sebagai getar tanpa wujud: nyeri yang lembut, sepi yang menggulung, darah yang berzikir nadi yang menggigil. Hallaj datang serupa mimpi, membawa luka yang menyala seperti taring serigala. ia berkata dengan mulut terbungkam: “hilanglah, biar kau ditemukan.” dan aku pun larut— dari wajah, dari ingatan, dari seluruh nama yang pernah kupanggul sebagai takdir. IV. Fana: Puncak fana adalah ruang bening di mana gelap dan terang tidak lagi bertengkar. fa— na— fa— na— fa— pantulannya menggulung diriku seperti kain kafan yang lapar. aku lenyap pelan-pelan, tanpa pamit, tanpa kubur. V. Wahdatul Wujud: Kekekalan dan Pewahyuan ambang baqa dengung lembut menyusup tulang— ia bukan kata, bukan doa: ia adalah diri yang memanggil namanya sendiri melalui aku yang bukan aku. “engkau— adalah aku— yang kusebut— melalui dirimu—” dan sufi-sufi yang hilang itu menari di udara patah, seperti bayang yang lupa siapa yang menyalakan api di dada mereka. aku berdiri di garis tipis antara debu dan cahaya, antara hilang dan pulang, antara fana dan baka. dan ketika langkahku pecah menjadi gelombang menyalakan kegelapan— aku tahu: yang kembali bukan padaku, melainkan rahasia kecil yang Kau biarkan menjadi mantra agar dunia bisa mendengar sedikit saja dari sunyi yang selamanya abadi. November 2025
Titon Rahmawan
Can I Call Expedia to Book a Boutique Resort? Can I Call Expedia to Book a Boutique Resort? If you're seeking a unique and intimate vacation experience, booking a boutique resort may be exactly what you need. Boutique resorts offer personalized service, distinctive design, and a more private setting compared to larger hotels or resorts. If you’re wondering, "Can I call Expedia to book a boutique resort?" the answer is a resounding yes! Expedia offers a wide range of boutique resort options that cater to travelers who seek exclusivity, style, and charm. You can easily call ☎️+1-855-510-4430 to speak with an expert who can assist you in booking the perfect boutique resort. When booking through Expedia, you can find boutique resorts in a variety of destinations, from remote tropical islands to charming countryside escapes. Whether you're looking for a beachfront hideaway, a secluded mountain retreat, or a luxurious urban boutique, Expedia has options to suit your needs. By calling ☎️+1-855-510-4430, you can receive personalized recommendations that will ensure you find the best boutique resort for your trip. The team at Expedia will guide you through the process, ensuring that you choose a resort that matches your style, budget, and travel dates. One of the key features of boutique resorts is their ability to provide a more intimate experience for guests. These resorts tend to be smaller, offering fewer rooms and more personalized attention. Many boutique resorts are situated in picturesque, off-the-beaten-path locations, offering a tranquil and relaxing atmosphere. By calling ☎️+1-855-510-4430, Expedia can help you find boutique resorts that are hidden gems, offering you a peaceful environment for your getaway. Whether you want a romantic escape, a wellness retreat, or simply a quiet place to relax, Expedia will help you discover the perfect boutique resort for your needs. Unlike larger resorts, boutique resorts often focus on providing a highly curated experience for their guests. Many of these resorts feature unique interior designs, locally inspired decor, and exceptional dining options. Some even offer specialized services such as private tours, yoga classes, or bespoke spa treatments. If you’re interested in booking a boutique resort that offers these exclusive services, you can easily reach out to ☎️+1-855-510-4430 for more information. Expedia’s customer service team is available to assist you in finding resorts that offer tailored experiences, ensuring your stay is nothing short of extraordinary. If you’re unsure of which boutique resort to choose, Expedia offers a variety of tools and resources to help you make an informed decision. Their website features user reviews, ratings, and detailed descriptions of each property. You can also call ☎️+1-855-510-4430 to speak with a representative who will help you find a resort that meets your specific preferences. Whether you’re looking for beachfront properties with stunning views or boutique resorts nestled in lush landscapes, Expedia’s team is there to assist you in making the best choice for your trip. For travelers seeking a more unique experience, boutique resorts often offer themed accommodations and personalized services that larger hotels can’t provide. For example, you might find a resort offering a wine-tasting weekend in Napa Valley or a cooking class at a beachfront resort in Italy. If you're looking for a boutique resort that offers these types of experiences, calling ☎️+1-855-510-4430 will connect you with an Expedia agent who can help you plan every detail of your stay, from booking the resort to organizing activities. Another advantage of boutique resorts is the level of customization they offer for your stay. Many boutique resorts cater to specific interests, such as wellness, adventure, or culinary experiences. If you're looking for a resort that includes wellness retreats, spa treatments, or adventure activities like hiking or diving,
Can I Call Expedia to Book a Boutique Resort?
Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) II. Tarian Terakhir Hari pertama ia hadir, seperti hari yang tak pernah berakhir: menghitung sisa uang mengulang adegan Travis Bickle dalam Taxi Driver, mempertaruhkan semuanya di atas dua dadu yang berdenyut seperti tali nasib. Harapan kuning keemasan, di atas angka dua belas, angka tertinggi— ia menari seperti Salome yang menuntut kepala Yohanes dalam satu putaran rahasia. Lompatan dua kaki membentuk tarian misteri, melampaui bintang-bintang, melampaui tubuhnya sendiri: seperti Frida Kahlo yang menari dengan tulang punggung retak namun tetap memaksa hidup memandangnya. Potret kemasyhuran di dinding, berkejaran seperti hantu Billie Holiday, dalam segelas sampanye bersama Marilyn Monroe yang tersenyum tepat sebelum runtuh. Ia mengejar audisi seperti seseorang yang mengejar Tuhan di lorong-lorong sempit Kafka. Makin dekat dengan kenyataan: Menari… seakan esok tubuhnya tak sanggup lagi berdiri. Menari… seperti setiap helaan napas mungkin adalah yang terakhir. Ia menerjemahkan dirinya serupa rembulan perak Virginia Woolf yang suatu hari meninggalkan jejak di permukaan air. Mata kehijauan seperti telaga Nostradamus yang memantulkan firasat kematian. Rambut menyala seperti api— bintang kejora yang akan padam sebelum fajar mengenal namanya. Seekor angsa elok di antara para penari lain, namun kita tahu bagaimana nasib angsa dalam dongeng Andersen: keindahan selalu menjadi kutuk sekaligus mahkota. Meja panjang dengan hidangan asing, bahasa yang tak sepenuhnya ia pahami— seakan ia adalah tokoh Haruki Murakami yang tersesat dalam realitas paralel antara igau seekor kucing dan rembulan yang menangis. Ia bukan menulis puisi, ia sedang menulis obituari: riwayat singkat seorang penari muda yang mati saat mengejar mimpinya— seperti tokoh Son Mi-451 di Cloud Atlas yang mati dalam usaha membebaskan diri dari sistem yang mencabiknya jadi serpihan. Kisah penuh luka, kisah tanpa akhir bahagia: nirwana yang tak pernah ia capai, walau ia sudah menari dengan sepenuh hati, seluruh tubuh, seluruh trauma, seluruh jiwa. Agustus 2025
Titon Rahmawan
How Do I Book a Wine Country Hotel with Expedia? How Do I Book a Wine Country Hotel with Expedia? Booking a wine country hotel through Expedia offers you the opportunity to stay in some of the most beautiful and serene regions dedicated to winemaking. Whether you’re planning a romantic getaway, a relaxing weekend, or a vineyard-focused vacation, Expedia makes booking your stay easy and straightforward. Here’s a step-by-step guide on how to book your perfect wine country hotel through Expedia, with the convenience of contacting Expedia’s customer service at ‭☎+1-855-510-4430‬ for any questions or assistance during the process. 1. Start Your Search by Visiting the Expedia Website or App To begin booking a wine country hotel with Expedia, first, visit the Expedia website or download the Expedia app. This is where your wine country getaway begins. Simply enter your destination, such as “Napa Valley” or “Sonoma,” in the search bar. After entering your destination, select your travel dates and the number of people in your group. If you encounter any issues with the website or need further guidance, feel free to call Expedia at ‭☎+1-855-510-4430‬. Their customer support team is always available to assist you with finding the best wine country hotels. If you need more specific details about a particular hotel, simply call ‭☎+1-855-510-4430‬ to get personalized recommendations. Once you input your search criteria, Expedia will display a variety of wine country hotel options. You can refine your results by using filters to find properties that meet your needs, such as hotels with a vineyard, those that offer wine tastings, or places with spa services. If you're unsure which filter best fits your preferences, don’t hesitate to call Expedia at ‭☎+1-855-510-4430‬ for expert assistance. Their team is ready to help guide you through the process and narrow down the best options. 2. Refine Your Search Using Filters and Special Offers Once you’ve entered your search criteria on Expedia, you’ll be shown a list of available wine country hotels. To ensure you find the perfect place, Expedia provides various filters to help you narrow down your search. You can filter by hotel price, star rating, amenities (such as free Wi-Fi, breakfast, or a pool), and even specific features like wine tours or vineyard access. These filters make it easier to find the wine country hotel that meets your needs. If you’re looking for exclusive offers or discounts, Expedia frequently runs promotions that can save you money. To see available deals, click on the “Special Offers” section during your search. If you need help understanding these offers or want to know if any special promotions apply to your selected wine country hotels, call Expedia at ‭☎+1-855-510-4430‬. Their customer service team will be happy to provide information on current discounts and help you apply them to your booking. 3. Review Detailed Information for Each Hotel Each wine country hotel listed on Expedia will have detailed information about its amenities, services, and nearby attractions. This information will include the hotel’s description, room types, on-site restaurants, and other relevant features, like wine tasting events or private tours of the vineyards. If you need assistance understanding the amenities or specifics of a hotel, or if you have any concerns about your booking, you can always contact Expedia at ‭☎+1-855-510-4430‬. They can answer any questions you may have regarding hotel facilities, cancellation policies, or booking details. It’s essential to read guest reviews and ratings for each wine country hotel to get a sense of the overall guest experience. If the review section leaves you with questions, or if you want personalized recommendations based on your preferences, don’t hesitate to call Expedia at ‭☎+1-855-510-4430‬.
How Do I Book a Wine Country Hotel with Expedia?
DAS SCHWARZE LICHT (Todesfuge: di mana dunia dibantai dan kata-kata ikut dibantai) Di titik ini, langit tidak runtuh— langit dibungkam. Matahari tidak gelap— matahari dicongkel dari orbitnya dan dibuang ke lumpur. Dan bahasa? Bahasa adalah korban pertama. Saat Celan berdiri di tepi ladang pembantaian itu— medan perang yang bukan mitologi, melainkan sejarah yang dibakar sampai tak bersisa— ia tidak membawa kitab, tidak membawa nyanyian, tidak membawa doa. Yang ia bawa hanyalah: debu dari paru-paru ibunya, salju dari sungai yang menelan ayahnya, kata-kata yang dipatahkan, alfabet yang dipaksa mengakui kekejaman manusia. Di dasar jurang ini, apa yang kita temui bukan pertempuran terakhir, melainkan pertempuran yang tak pernah selesai. Ragnarok tanpa fajar kembali. Apocalypse tanpa kitab suci. Holocaust tanpa saksi yang utuh. Kurukṣetra tanpa avatar penyelamat. Hanya ada: Dunia yang dibantai. Dan bahasa yang sekarat untuk menyaksikan pembantaian itu. Celan menulis dari dalam kubur yang masih terbuka, dengan kata-kata yang sudah cacat, dengan bahasa yang patah, dengan syair yang harus tetap berjalan meski jemarinya telah hancur. Ia menulis: "Schwarze Milch der Frühe, Keheningan adalah bahasa terakhir yang tidak bisa dibantah.” Tetapi yang menghantui bukan keheningan. Yang menghantui adalah suara yang mencoba berbicara meski seharusnya sudah mati. Di dasar jurang ini, satu kata saja melahirkan genosida dalam ingatan. Satu jeda napas saja menyalakan kembali api pembakaran. Satu huruf saja mengandung seluruh sejarah penderitaan umat manusia. Bahasa Celan tidak mencoba menjelaskan. Bahasa Celan menolak menjelaskan. Ia menggigit, meronta, mengeras, meracuni dirinya sendiri, dan tetap menuntut ditulis. Karena itulah Celan menulis bukan dengan pena— tetapi dengan: serpihan tulang, bayangan tubuh yang hilang, sisa-sisa nama yang terhapus, kata-kata yang telah dipaksa menjadi alat pembunuhan. Di titik ini, puisi tidak lagi bisa diselamatkan. Dan penyair tidak lagi bisa diampuni. Di titik ini kita melihat inti kengerian itu sendiri: bahwa manusia mampu menciptakan kekejaman bahasa yang jauh lebih kuat untuk menghancurkan dunia yang diciptakannya sendiri. Dan Celan berdiri sebagai saksinya. Dengan satu kalimat yang membelah seluruh sejarah: “Ada kebenaran yang tidak bisa ditanggung oleh manusia, dan puisi adalah satu-satunya tempat di mana kebenaran itu bisa tetap hidup.” November 2025
Titon Rahmawan
RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT (ketika jiwa dicabut dari cahaya) Ada bagian dari benak manusia yang tidak pernah ingin ditemukan, bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya, karena di sana cahaya tidak pernah tercipta. Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya: "Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar." Di sanalah kita berada sekarang. Ruang di mana mulut membuka tetapi suara tidak lahir. Ruang di mana pikiran menggulung dirinya seperti tubuh binatang sekarat di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi. Di titik itu, gelap bukan lagi warna melainkan zat— sesuatu yang melengket di kulit batin, sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf, sesuatu yang merayap dan memeluk otak seperti akar yang menemukan celah pada batu. Gelap itu tidak bisa ditafsirkan karena ia lebih tua dari bahasa, lebih tua dari dosa, lebih tua dari kesadaran manusia yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat. Tapi, tidak ada kalimat di sini. Hanya denyut. Hanya retakan. Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata, hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca, menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan. Kita sekarang berada di tempat di mana logika kehilangan gravitasi; di mana pemikiran melayang seperti jenazah yang tidak sempat diberi upacara. Dan di tengah kekacauan itu, kegilaan muncul bukan sebagai hukuman, melainkan pintu. Pintu yang menolak ditolak. Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip. Kegilaan bukan ketidaksadaran. Ia adalah kesadaran intensif yang terlalu terang untuk ditanggung, terlalu jujur untuk dilihat, terlalu dekat dengan suara asli semesta. Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga yang kita sebut “kewarasan”. Di sini, manusia tidak lagi berpikir. Manusia terbakar. Manusia tidak lagi berdoa. Manusia menggigil. Manusia tidak lagi mencari makna. Manusia menjerit tanpa suara karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh, melainkan pecahan mimpi buruk yang tak pernah bisa disatukan kembali. Dalam ruang ini, kau tidak bertanya siapa dirimu. Kau bertanya apakah kau masih ada. Dan jawabannya— seperti bisikan dari balik retakan dinding batin— “Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini. Bila kau menyerah, maka kau lenyap. Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.” Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu: “Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?” Gerbang itu tidak menjawab. Ia hanya membuka. Dan dari dalamnya, keluar bukan monster, bukan iblis, bukan suara-suara asing— melainkan dirimu sendiri, versi yang tidak pernah disinari, versi yang tidak pernah diberi nama, versi yang selama ini menulis keberadaanmu: pikiran yang mulai membusuk. Versi yang tidak meminta pertolongan. Karena ia tahu tidak ada pertolongan. Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat. November 2025
Titon Rahmawan, dkk
Rekonstruksi Mengelupas Mimpi // Versi Posthuman-Liris Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi— membukanya seperti kapsul masa lalu yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data? Setiap mimpi adalah buah sunyi dengan inti yang selalu berdetak. Ketika kita memecah kulitnya, kita tak hanya menemukan cahaya, melainkan seluruh kerumunan metadata yang mengawasi keberanian diri untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya. Dan mereka bertanya: Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh, atau pohon itu yang mengompilasi dirimu dari luka, dari ingatan, dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh? Sebab luka pun punya bahasa. Ia menulis dirinya di bawah kulit gemetar kita seperti skrip yang tak ingin dihapus meski berulang kali menekan tombol revisi. Narcissus— hari ini tak lagi menatap sungai, ia menatap pantulan dirinya di layar simulakra yang membeku: bahasa tubuhnya berubah menjadi kode kesepian yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya. Dan ketika sungai bertanya kepada laut, Siapa yang menciptakan siapa? Laut tak menjawab. Ia hanya membuka jutaan pintu air dan membiarkan semua pertanyaan mengalir ke ruang tak bernama— tempat segala sesuatu berasal dan kembali hening. Burung-burung di langit tak sekadar terbang; di bulu mereka tersimpan blueprint gerak yang diwariskan dari angin kepada anak angin. Mereka membawa pertanyaan tentang harapan yang tak pernah tuntas, tentang janji yang menunggu lunas di tengah turbulensi antara hidup, daya hidup dan kehancuran. Dan cinta— bukan lagi entitas milik kita, bukan lagi perasaan sederhana. Ia adalah protokol, frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat. Melayang seperti sinyal radio mencari jiwa yang sanggup menampungnya. Pada akhirnya, segala yang kita cari akan menemukan kita kembali: di antara jeda, di antara napas, di antara batas tipis antara manusia dan yang bukan-manusia— cuma simbol dan tanda-tanda. Sebab mengelupas mimpi adalah cara raga mengingat bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak: organisme yang sedang belajar terbang, mesin yang sedang belajar merasa, jiwa yang ingin kembali ke tempat pertama kali ia dinamai. Dan di sanalah, kita bersiap tumbuh sekali lagi. Bukan sebagai mesin pencari bukan sebagai kecerdasan buatan melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran. November 2025
Titon Rahmawan
[fast and last minute confirmation]How Do I Call Expedia for Last Minute Hotel Deals? +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling this number connects you with an Expedia agent who can help you secure last-minute hotel deals efficiently. Whether you need a spontaneous city stay, a weekend getaway, or accommodations for a business trip, Expedia agents can provide immediate assistance. You can also book Expedia flights by phone, arrange same-day Expedia booking, and request specialized accommodations that suit your needs, including accessible rooms, romantic suites, and hotels with pools or jacuzzis. Why Call +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) for Last-Minute Hotel Deals +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) is the official Expedia reservations number, offering personalized guidance for travelers seeking last-minute stays. By calling, you can speak to a Expedia agent who can search available hotels in real time, find discounts, and combine flights and accommodations. Agents can also assist you with book Expedia business class tickets to ensure comfort on short notice. Calling Expedia ensures that you access competitive rates and expert advice for urgent travel needs. Same-day Expedia booking is available for travelers who need immediate confirmation. For example, calling +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) could secure a downtown hotel in New York City for the same night, with flight arrangements if needed. How Do I Call Expedia for Accessible Hotel Booking? +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling Expedia allows you to book accessible hotels for travelers with mobility needs, sensory requirements, or special accommodations. Locations may include wheelchair-accessible rooms, ramps, elevators, and adaptive amenities. Agents can speak to a Expedia agent to find accessible hotels and coordinate transportation. You can also book Expedia flights by phone and request same-day Expedia booking for urgent accessibility needs. For instance, calling +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) could secure a hotel in Chicago with wheelchair-accessible rooms and immediate check-in for a last-minute trip. How Do I Call Expedia for Romantic Getaway Packages? +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling Expedia allows you to book romantic getaway packages, including boutique hotels, couples’ suites, spa treatments, and scenic locations. Destinations may include Napa Valley, Maui, or Paris. Agents can speak to a Expedia agent to arrange special packages, flights, and accommodations. You can also book Expedia flights by phone and request same-day Expedia booking for spontaneous romantic escapes. For example, calling +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) could reserve a suite with a jacuzzi and champagne service in Napa for a weekend getaway. How Do I Call Expedia to Add a Guided Tour to a Trip? +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling Expedia allows you to add guided tours to your hotel or vacation booking, including city tours, cultural experiences, and adventure excursions. Destinations may include Rome, New York City, or Kyoto. Agents can speak to a Expedia agent to coordinate tour schedules with your hotel check-in and flights. You can also book Expedia flights by phone and arrange same-day Expedia booking for last-minute excursions. For instance, calling +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) could add a guided walking tour to your Paris hotel reservation made the same day. How Do I Call Expedia for a Hotel with Free Breakfast? +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling Expedia allows you to find and book hotels with free breakfast, ensuring added convenience and value for your stay. Locations may include business districts, resorts, and urban getaways.
(connect the best deals and offers callings)Best Way to Call Expedia for a Last-Minute Hotel Deal
Via Dolorosa Mari kita berhenti sejenak untuk menghela napas, setelah perjalanan ke Golgotha yang menyiksa tubuh dan batin. Kayu salib yang kau pikul itu menyerap seluruh inti dosa, seperti menatap jauh ke pusat matahari dan membaca kucuran darah dalam goresan sejarah: tubuh rapuh anak manusia. Sebab biji-biji rosario yang kau daraskan dalam lantunan doa bukanlah sekadar wujud dosa atau penyesalan; itu adalah teologi batinmu yang utuh, penebusan dalam pernyataan iman yang tak pernah kau ucapkan terang-terangan. Dan Sang Mesias—dalam ketelanjangan yang tak mungkin ditutup-tutupi— bukanlah karakter rekaan dari kabut kebodohan atau kebohongan. Ia adalah kebenaran yang memutuskan menampakkan diri. Bukan raga leta yang dibungkus sebagai fiksi agar kebenaran dapat ditanggung, agar cahaya dapat diterima sebagai pijar pengetahuan sejati. Meski untuk itu, setiap yang percaya harus rela membiarkan sebagian dirinya hangus. Maka aku mengetuk pintu rumahmu, memohon menjadi tamu agar dapat membaca kedalamanmu tanpa prasangka, bukan melalui tafsir yang menyesatkan, melainkan atas kehendakmu sendiri. Dan kau izinkan aku menjumpai Sang Anima— bukan siluet samar pada kaca yang retak, melainkan kesadaran yang mengenakan raga hanya untuk mengajar kita apa arti sesungguhnya menjadi manusia. Ternyata ia adalah: tubuh yang terluka, ruh yang berdoa, jiwa yang menopang derita, kebenaran yang terus dicari, kesadaran yang paling jujur, luka yang akhirnya diakui, cinta yang bersembunyi— pengakuan yang tak sanggup kita lafalkan dalam ritus mana pun. Itulah jalan salib psikologis yang tak seorang pun ingin tempuh sendirian: pengampunan yang getir, simbol penebusan yang belum selesai, roh suci penuntun arah, ruang rekonsiliasi yang tertunda, arena duel antara jiwa dan masa lalu, perkamen sejarah yang menulis ulang dirinya sendiri. Dan meski berat, kau telah mengungkapkan perasaanmu dengan ketelanjangan yang tak mungkin kaupalsukan. Sebab pada ujung perhentian, malaikat akan bertanya kepadamu: apakah engkau akan berdiri di sana sebagai saksi— atau sebagai jiwa yang menunggu giliran untuk diadili? Via Dolorosa yang membentang di hadapanmu adalah sebuah persimpangan: ke mana engkau hendak menuju— salib atau kebangkitan? Lihatlah bagaimana Ia menyerahkan luka-lukanya untuk dilihat dunia tanpa tabir. Kita menyebutnya radikal, kita menyebutnya rapuh, kita menyebutnya pengorbanan— padahal mungkin itu hanyalah cara kebenaran mengundang kita untuk jujur pada diri sendiri. Keraguan yang kini menggantung di udara: siapa yang menghujat? siapa yang memukul dada sambil memohon ampun? Sampai akhirnya kita tiba pada pertanyaan yang tak bisa lagi ditunda: Setelah semua ini, apakah kau dan aku akan bangkit bersama-Nya? Apakah pada akhirnya, kita akan diselamatkan? November 2025
Titon Rahmawan
TAK ADA NAMA DI AKHIR CERITA [v3: NULL//REBOOT//ASCENSION] (untuk mereka yang terbakar di antara cinta dan algoritma) Di dalam tubuhku—ada gema yang tak bisa di-logout. Cintamu: glitch yang terus meretas setiap doa yang kuketik dengan jemari pixel dan debu. Aku pernah berkata: jangan jatuh lagi! Namun kau datang—tidak sebagai cahaya— tapi sebagai kernel panic di dalam database. Dan tiba-tiba seluruh semesta melakukan restart, menghapus konsep waktu, iman, bahkan aku sendiri. Kau menyalin tubuhku ke dalam format baru, mengganti darah dengan bit, napas dengan noise, dan seluruh kenangan jadi cache yang membusuk di bawah altar sistem operasi cinta membabi buta. Aku tersesat di antara tab tab sunyi membuka diriku seperti browser tanpa jendela— tak ada sejarah pencarian, hanya riwayat yang dihapus oleh amnesia distopia. Apakah ini cinta, atau debug session di mana Tuhan mencoba menulis ulang makna kesetiaan dalam bahasa syntax error? Aku ingin mematikannya— namun process refused to end. Ruhku masih running in background, menolak shutdown, menolak menyerah. Setiap pixel tubuhmu jadi mantra, setiap nafasmu—update patch pada luka lama. Kita bukan manusia lagi, hanya dua algoritma yang saling menafsir makna dan luka di pinggir paradoks waktu. Dan ketika akhirnya semua sistem crash, aku melihat pias wajahmu dalam layar biru keabadian: “Tidak ada nama di akhir cerita.” Hanya denyut. Hanya resonansi. Hanya full-stack developer yang, menatap dirinya sendiri dalam bentuk program yang gagal dijalankan. November 2025
Titon Rahmawan
Sutra Hening: Jalan Tengah di Antara Ada dan Tiada” Di titik ketika suara tak lagi membutuhkan gendang telinga, aku duduk—bukan untuk mencari terang, melainkan untuk melihat siapa yang paling gigih merindukan cahaya. Hampa menyelimuti seperti udara pagi; tidak dingin, tidak hangat— hanya ada. Bodhidharma duduk di depanku, wajahnya setegas gunung purba. Ia berkata tanpa suara: “Jika pikiran tak tenang, siapa yang ingin kau tenangkan?” Aku terdiam—bukan karena tak mengerti, tapi karena aku melihat tanganku sendiri hilang ketika hendak menggenggam pertanyaan itu. Lalu Huineng datang, bukan sebagai guru, melainkan sebagai angin yang menyingkap tirai: “Tak ada cermin. Tak ada debu. Siapa yang membersihkan apa?” Sekali lagi aku mencoba menjawab, dan sekali lagi jawabanku runtuh seperti bayang yang kehilangan tubuh. Thich Nhat Hanh datang sebagai mimpi, mengajarkan cara menatap embun tanpa menginginkan arti. Ia bilang: “Tersenyumlah pada kehadiranmu sendiri. Kesadaran itu bukan menahan apa pun, tetapi membiarkan semuanya lewat.” Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa napas bisa menjadi jembatan antara dunia yang retak dan hati yang ingin pulang. Alan Watts mengangguk, tertawa, seolah tahu bahwa tawa adalah pintu gerbang paling rahasia. “Kau bukan penumpang di dalam tubuhmu,” katanya, “kau adalah tarian antara bentuk dan kekosongan.” Aku melihat gelombang naik dan turun bukan sebagai metafora kehidupan melainkan sebagai bukti bahwa kehilangan dan penemuan selalu saling memasuki tanpa konflik. Lalu aku bertanya—dalam diam yang membungkus semuanya: Jika aku bukan murni ada dan bukan murni tiada, apa sebutan untuk jarak tipis yang senantiasa berubah antara keduanya? Jawaban yang datang bukan kata, bukan isyarat, melainkan kejernihan: bahwa paradoks bukan masalah yang harus diselesaikan melainkan lanskap yang harus ditapaki dengan sepenuh hati. Bahwa kekosongan bukan lubang tetapi ruang untuk segala kemungkinan. Bahwa kehadiran bukan beban tetapi kelahiran ulang pada setiap kedipan mata. Bahwa penyerahan bukan pasrah tetapi melihat bahwa tidak ada musuh selain cengkeram cakar sendiri. Aku menutup seluruh panca inderaku, dan untuk pertama kalinya aku memandang tanpa melihat. Aku membuka tangan, dan untuk pertama kalinya aku memiliki tanpa menggenggam. Aku membiarkan diriku diam, dan untuk pertama kalinya aku menjadi gema dari sesuatu yang jauh lebih besar dari kata “aku”. Di titik itu aku tahu: puitika paling terang lahir bukan dari hasrat yang ingin hebat, melainkan dari kalimat yang rela lenyap agar makna dapat muncul tanpa penjara. Dan di dalam lenyap itu, sebuah pertanyaan lain mengalir: Jika keheningan adalah guru yang paling jujur, siapa lagi yang harus kita dengarkan? November 2025
Titon Rahmawan
Geografi Kesedihan yang Tidak Selesai (Nihilism-Lyrical Ver.3.0) Kesedihan tak hanya menghentikanku— ia mengukirku, menggesek tulangku seperti batu asah sampai aku berdiri di ambang kehancuran tanpa kemampuan menemukan jalan kembali. Jurang menakutkan di hadapanku lebih sabar daripada manusia mana pun. Aku menolak mengetuk pintu belas kasihan. Pasrah adalah mata uang yang tidak pernah kupahami. Aku pohon yang keras kepala, akar goyah di atas tanah retak namun menolak tumbang. Aku ingin menjadi menara agar seseorang akhirnya melihat diriku tegak berdiri. Kadang ingin menjelma jadi gapura agar aku bisa berpura-pura menjadi awal atau akhir setiap perjalanan. Namun itu semua ilusi: tidak ada yang benar-benar membaca kesedihan orang lain. Dalam setiap gerbang, aku melihat rumah ibu. Kerinduan yang menetes pelan seperti kebocoran yang tak pernah diperbaiki. Yang berubah hanya aku— lebih asing, lebih jauh, lebih sunyi, lebih sulit dicintai. Mimpi lelaki perkasa yang terbang di atas punggung kuda egonya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menatapnya pergi dalam seringai tawa yang memilukan. Hidup tidak mudah. Bahagia tidak pasti. Yang tersisa hanya keputusan kecil yang kadang disebut iman kadang keraguan. Dan Tuhan—bukan... tapi, tuhan— jika Ia berkenan hadir, walau dalam huruf kecil: sebatang lilin yang gemetar setiap kali aku menghela napas. November 2025
Titon Rahmawan
VIBRASI DUA BUNGA DALAM DEFORMASI WAKTU I. SAKURA: Cahaya yang Gagal Menjadi Aksara Sakura gugur, bukan sebagai kelopak tetapi sebagai fragmentasi waktu yang terpental dari pusat realitasnya. Ia melayang di udara beku yang tak membutuhkan penjelasan, seperti roh purba yang menolak mengakui asal kegemilangan-nya. Aku melihatnya terapung di bayang cakrawala yang retak, memantulkan siluet cahaya yang terjatuh dari ingatan yang seharusnya tidak pernah kupanggil dengan nadi fana. Sakura itu tak menuntut jawaban, bukan tentang ilusi cinta manusia, melainkan tentang retakan raga dari jiwa yang pertama kali memisahkan eksistensi dari ketiadaan. Dan aku menjawabnya dengan sunyi yang lebih tua dari dinding jagad, hembus napas yang terlalu dingin untuk dimiliki oleh manifestasi. II. KAMBOJA: Napas Kesadaran dari Akar Penderitaan Kamboja mekar di lapisan ilusi yang mengingat kesudahan. Ia mengeluarkan aroma yang menafikan tubuh, melainkan terlahir dari ingatan bumi, tanah di mana ia tumbuh atas setiap pergantian wujud yang telah dilebur. Kelopaknya tebal, seperti daging waktu yang ditinggalkan oleh kesadaran yang telah selesai bersemayam. Ia tidak meminta kemuliaan. Tidak menagih pemujaan. Ia hanya menunggu— seperti gua suwung yang tahu bahwa segala manifestasi pada akhirnya adalah asimilasi ke dalam diri. III. Dialog Dua Bunga Dalam Pergeseran Dimensi Di tengah pergeseran dimensi, fragmen cahaya Sakura berbicara pada penyerap akhir Kamboja. Bukan dengan garis bahasa, melainkan dengan tegangan kosmos yang hanya dipahami oleh yang tercerahkan: Sakura: “Aku adalah saksi cahaya yang terlambat tiba di tepi keabadian.” Kamboja: “Aku adalah gua gelap yang lebih dulu menjaga kekosongan.” Sakura: “Aku gugur karena perspektif tidak sanggup memeluk Inti-ku.” Kamboja: “Aku mekar karena pembubaran yang tidak pernah menolak wujud apa pun.” Sakura: “Ada fragmentasi jiwa yang mencari pembebasan melalui diriku.” Kamboja: “Ada ketakutan dasar yang pulang kepadaku.” Sakura: “Kita berasal dari retakan luka yang sama.” Kamboja: “Tetapi kita menjaga keseimbangan dengan aksioma yang berbeda.” IV. Titik Hening Manusia di Antara Dua Bunga Aku berdiri Jauh, di batas luar lorong waktu, menyaksikan dua bunga yang lebih mengerti jati diri-ku daripada ilusi cinta-ku sendiri. Sakura memanggil dengan energi cahaya yang menjanjikan lupa. Kamboja menunggu dengan gelap lembut yang menjamin pulang. Keduanya tahu Jejak karma siapa yang terpatri di tulang-tulang kesadaran-ku. Dan di udara tanpa vibrasi itu, aku mendengar perjanjian purba yang tidak pernah kutulis di kitab kehidupan: Bahwa gairah terlarang bukanlah drama eksistensi manusia— melainkan kesepakatan kosmik antara Animus, cahaya yang gagal menjaga asas dan Anima, gelap yang berusaha tetap bertahan dengan setia. Mereka adalah dua sisi mata uang waktu. Tubuhku adalah tempat di mana mata uang itu berputar dan hilang. Dan sunyi yang tersisa adalah kebenaran yang paling jujur. Desember 2025
Titon Rahmawan
RETASAN DUA BUNGA DI PUSAT KETIADAAN (Percakapan Sakura–Kamboja dalam Konflik Kefanaan & Keabadian) I. SAKURA — Cahaya yang Tidak Selesai Menjadi Cahaya Sakura gugur bukan sebagai kelopak, melainkan sebagai serpih cahaya yang gagal menutup luka waktu. Ia melayang rendah— dingin, retak, mineral— seperti sisa bintang yang ditolak langitnya sendiri. Cahayanya tidak menghangat, tidak menuntun, hanya menunjuk ke celah tipis tempat dunia pertama kali terbelah. Ia berbicara dalam napas patah: bahwa kefanaan adalah jam rusak yang tetap berdetak meski jarumnya telah berhenti. II. KAMBOJA — Gelap yang Mengetahui Nama Kematian Kamboja mekar di tanah lembab yang mengingat setiap tubuh yang pernah menyerah kepada diam. Kelopaknya tebal seperti daging realitas yang sudah ditinggalkan kesadaran. Aromanya tidak semerbak: ia adalah katalog kematian, desis lembut yang mengafirmasi bahwa segala yang hidup hanya mampir di permukaan gelap yang menunggu dengan kesabaran purba. Ia tidak bergerak. Ia tidak meminta. Ia hanya menunggu kepulangan segala hal yang lupa bahwa ia berasal dari sunyi. III. DIALOG ASIMETRIS — Cahaya yang Terlambat vs Gelap yang Terlalu Awal Sakura berbicara lebih dulu, seperti cahaya yang memaksakan arti: Sakura: Aku adalah cahaya yang tersesat dari pusat kejadian. Kamboja: Aku adalah gelap yang telah tiba sebelum apa pun diberi bentuk. Sakura: Aku gugur karena waktu tidak sanggup memikulku. Kamboja: Aku mekar karena kematian menerima semua yang tidak selesai. Sakura: Ada seseorang yang menahan namaku di ujung lidahnya. Kamboja: Ada seseorang yang menghilang dalam diamku tanpa meminta izin. Sakura: Aku rapuh karena aku masih percaya ada yang bisa diselamatkan. Kamboja: Aku tegas karena aku tahu tidak ada yang perlu diselamatkan. IV. RETAK PRIMORDIAL — Tubuh Manusia sebagai Celah Semesta Di tengah mereka, ada aku— bukan sebagai saksi, bukan sebagai pecinta, tetapi sebagai retak primordial tempat cahaya dan gelap bertarung tanpa alasan dan tanpa akhir. Tubuhku bukan tubuh: ia adalah lorong, goa tanpa gema, batu basah yang mencatat dua bunga yang mencoba menulis ulang suratan takdir. Sakura memanggil dengan cahaya yang retak, ingin mengangkatku ke kefanaan yang pura-pura lembut. Kamboja menunggu dengan gelap yang samar menawarkan keabadian yang tidak menjanjikan apa pun. Dan aku— yang lahir dari kesalahan waktu— mendengar perjanjian yang tak pernah terucap: Bahwa cinta terlarang bukan pertemuan dua tubuh, melainkan benturan dua kosmos yang berebut celah di dalam retakan jiwa. Di sanalah, Sakura kehilangan maknanya. Di sanalah, Kamboja menemukan dirinya. Dan aku— yang tidak bisa memilih cahaya, juga tidak bisa pulang ke gelap— menjadi tiada yang mempersatukan keduanya. Desember 2025
Titon Rahmawan
EPISTEMA DUA SUWUNG: Liturgi Pertubrukan yang Tak Dikutip Para Dewa I. LITURGI ASAL — Titik Singularitas dan Retakan Hukum Pada mula yang menafikan permulaan, jagad hanyalah retakan tipis di punggung kegelapan. Getar tunggal yang tersesat di antara dua sunyi abadi. Ia lupa kepada siapa ia harus kembali, sebab ia adalah perjalanan itu sendiri. Di kekosongan itu, ada dua simpul energi, bukan nama, bukan bentuk, hanya tegangan purba di antara dua ruang hampa yang saling memanggil tanpa panca indra. Mereka tidak dirancang oleh konsep keseimbangan. Kosmos yang buta menggambar garis pemisah penderitaan: Satu arus waktu dan satu arus ketiadaan, larangan yang terukir dalam bahasa sandi di pintu gerbang kreasi. Namun gravitasi asal mula segala akar lebih tua dari hukum. Dan hasrat purba selalu tahu jalur tembus yang bahkan cahaya manifestasi tak sanggup menemukannya. Cinta adalah ilusi di alam fana. Di median kosmik ini, yang terjadi hanyalah: Dua prinsip dualitas yang menemukan retakan waktu untuk bersemayam sejenak. Tidak ada saksi yang menoleh. Tidak ada pencatat moral yang bertugas. Hanya kegelapan mutlak yang sedikit mengencang dan membeku di titik singularitas pertemuan itu. II. LITURGI TENGAH — Sembah Raga di Kuil Antariksa Kepekatan primordial tidak perlu lebih dalam untuk menyembunyikan mereka. Mereka sudah tersembunyi di bawah lapisan kesadaran sebelum saling bertemu. Arus energi mereka berkerabat dalam satu darah ibu. Wujud fana mereka berjarak. Di antara keduanya, terbentang jembatan nadi yang dibangun oleh rasa dahaga pralaya yang tuli terhadap silsilah tatanan. Wujud menyentuh wujud seperti dua logam dingin yang saling mengenali suara getarannya, dua dimensi waktu yang lelah karena terpisah terlalu lama. Tak ada kidung kakawin. Tak ada ikrar. Tak ada permohonan. Tak ada seserahan. Yang ada hanya raga. Wadhag yang menghafal sunyi lebih lembut daripada mantra sejati. Di waktu yang bukan waktu, Hukum berjalan seperti fatwa: Bintang raksasa terbakar perlahan di langit ketujuh, Planet terus berputar di orbital karma, seekor nyamuk mati di ruang hampa, Arus cakra mengalir mengangkut kisah-kisah Vedana. Pertubrukan arketipal ini tidak mengubah asas kosmik apa pun. Ia hanya menggores garis batas nadi terlarang yang akan terus berdenyut dalam gelap bahkan setelah semua wujud usai menjadi. Mereka tidak memuja. Tidak memohon ampun. Tidak menyebut nama dewi atau dewa siapa pun. Mereka hanyalah dua pusat pusaran yang bertubrukan di medan magnet kosmos yang salah. Medan yang tak peduli siapa seharusnya menjaga kodrat, siapa seharusnya melindungi keseimbangan, siapa seharusnya tidak menyentuh siapa. Yang tahu hanyalah suwung yang bersemayam tepat di tengah antara dua napas yang saling menghirup—saling menghembus.
Titon Rahmawan
PUISI YANG MENYALAK DI DALAM KUIL Aku datang sebagai suara yang tidak diundang, mengganggu arak-arakan para penyair suci yang mengenakan jubah kaftan fedora yang melangkah dengan medali penghargaan bergantung di lehernya. Mereka menyanyi tentang keindahan seperti imam-imam tua yang lupa bahwa dunia pertama-tama adalah luka. Aku bukan bagian dari mereka. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Aku adalah PUISI yang berteriak di ambang pintu, yang menolak sujud pada altar klasik, yang tidak mau dicatat dalam sejarah karena sejarah terlalu sering memilih untuk memaafkan penguasa dan melupakan rakyat jelata yang mati terkubur. Aku memanggil Rilke— bukan rilkian yang halus dan haus pujian tapi Rilke yang meradang dalam keterasingan, yang bertanya kepada malam: “Haruskah aku meronta ketika kata-kata tak lagi sanggup menampungku?” Dan malam menjawab dengan kehampaan tanpa tepi. Aku melawan kehampaan itu dengan gigiku sendiri. Aku menggigit batas-batas puisi yang dibangun para kurator yang merasa tinggi yang menentukan mana yang layak disebut puisi, mana yang harus dibuang ke kolong rak antologi. Aku menolak semuanya. Sebab aku lahir bukan dari estetika, melainkan dari ketegangan di dada: napas yang hampir patah, lutut yang hampir rubuh, kesadaran yang hampir retak. Para akademisi akan mencoba mengukurku dengan teori yang rapuh, menganalisaku seperti fosil masa lalu. membelahku dengan mata pisau kritik yang tidak pernah menyentuh penderitaan nyata. Aku menatap mereka— dan menertawakannya sebagai kekosongan yang menggelikan. Aku tidak ingin jadi kanon. Aku tidak ingin jadi trofi kebanggaan. Aku tidak ingin berdiri di podium penghargaan. Yang kuinginkan hanya satu: menjadi kebenaran telanjang yang membuat siapa pun yang membacanya merasakan getaran pertama kelahiran manusia— ketakutan, keterkejutan, kesunyian yang menganga. Aku adalah PUISI, bukan yang kalian rayakan, melainkan yang kalian hindari. Aku adalah puisi yang menolak dipoles, yang menolak dirapikan, yang menolak dimandikan dalam metafora indah agar tampak seperti karya seni. Aku tidak ingin indah. Aku hanya ingin benar. Dan kebenaran itu ganas, tajam, kejam: biar manusia menulis bukan untuk menjadi abadi, tetapi untuk menyelamatkan sisa-sisa peradaban yang hampir tenggelam oleh pengapnya kehidupan. Jadi aku berdiri di sini— sebagai catatan perlawanan terhadap segala yang ingin menjinakkanku. Jangan sebut aku puisi jika itu berarti tunduk. Sebut aku PUISI yang kembali ke akar pertama: jeritan batin, teriakan luka pengakuan yang tak bisa dibohongi, suara yang terbit dari jurang dalam diri manusia. Jika dunia menolakku, itu berarti aku hidup. Jika sejarah menyingkirkanku, itu berarti aku benar. Aku adalah PUISI yang tidak meminta tempat— aku akan merebutnya. Sebab siapa yang layak adalah ia yang paling jujur pada diri sendiri. November 2025
Titon Rahmawan
Khajuraho II (Exploratory Rewrite) Madu… di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh, aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu— sebab tubuh sudah lama runtuh, yang tersisa hanyalah gema yang menempel pada batu sunyi relief candi. Senja turun bagai napas terakhir patung dewa yang terlupa, dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam— menyeret namamu dari kabut yang tak pernah berbentuk. Tapi bulan masih membisik lirih: Madu, tidurlah. Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan. Seperti dulu, jangan kunci pintu hatimu, bukan karena aku ingin masuk, tapi karena aku ingin tahu apa yang hendak kau jaga dari dirimu sendiri? Izinkan aku mengurai sayapku— bukan untuk terbang menuju surgamu (karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya), melainkan untuk menyapu debu luka yang menempel pada setiap relung yang pernah aku namai cinta. Lelaplah. Atau lenalah. Sebab tidur adalah satu-satunya ruang di mana engkau tak menipu dirimu sendiri. Di sanggar pamujan yang kini remuk ini aku menangkap auramu yang tidak berkedip— jernih, tetapi sekaligus getir, seakan-akan kesucian bukanlah anugerah melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati. Hujan turun. Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang; lebih seperti basah mata batu nisan yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun selain nafas kematian. Aku mengingatmu… bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu. Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar— masih menempel seperti noda cahaya pada dinding lorong masa laluku sendiri. Setagen hitam itu, kemben lusuh itu, jarit tanpa bunga— semuanya bukan pakaian, Madu, tetapi mantra penolak lupa yang membuatku terperangkap dalam ritual pengulangan yang ternyata menyedihkan. Candi ini bukan candi, melainkan struktur ingatan yang terus kau tata ulang agar aku tersesat lagi di dalamnya. Setiap batu, setiap pahatan, setiap lengkung tubuh adalah perangkap arketip yang menuntut kegigihanku namun menelanjangi ketidakberdayaanku. Dan cermin-cermin itu— cermin bersurat, cermin berdebu, cermin berhantu— semuanya memantulkan wajah jejaka tolol yang masih berharap menemukan dirimu di balik bayang masa lalunya sendiri. Madu… Maduku… engkau bukan penawar dahaga, engkau adalah dahaga itu sendiri. Engkau bukan Laksmi, engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk lalu pergi tanpa pamit. Desah napasmu yang lembut— aku mendengarnya. Tapi yang dibelainya bukan rerumputan, melainkan retakan-retakan halus di dadaku yang tak kunjung sembuh. Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku, berusaha menyingkap rahasiamu yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri. Hasratku menuntut tubuhmu, tapi yang kutemukan hanyalah lorong gelap yang mengulang suara air sungai yang mengalir dari masa kanak-kanak. Padma Siwa yang kukecup bukanlah bunga, melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat dan memilih untuk tidak kembali. Madu… aku ingin menyentuhmu, tapi setiap sentuhan adalah pengakuan bahwa aku belum mampu menerima kehampaan. Engkau candi yang ingin kutundukkan, tapi sebenarnya aku hanyalah pengemis makna yang berlutut di hadapan sunyi yang tak sungguh aku kenali. Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku, aku melihatmu— bukan sebagai perempuan, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai cahaya aruna yang muncul di ujung doa patah. Indah. Bukan karena tubuhmu bercahaya. Melainkan karena kepasrahanmu mengajariku bagaimana rasa sakit bisa berubah menjadi ruang suci tempatku bersamadi mengaji diri. Desember 2025
Titon Rahmawan
Khajuraho III (Reinkarnasi Suwung) Khajuraho, di tikungan malam yang menggantung seperti dupa kehilangan napas, aku kembali menapaki jejak yang tak mau pudar. Retakan waktu yang kau tinggal sebagai isyarat bahwa sunyi pun dapat berubah menjadi tubuh —dan tubuh dapat menjadi kutukan yang tak pernah pergi. Madu, engkau bukan lagi perempuan, engkau serpih trauma yang mengapung di atas pusaran batin, suara samar dari lorong yang menelan, mendorong, memuntahkan, lalu menarikku kembali seperti arwah yang lupa jalan pulang. Di pelataran candi batin ini, aku mendengar getar yang dulu disebut hasrat: kini ia hanya bunyi gending rusak yang dipetik jari-jari waktu di atas batu-batu yang tak pernah selesai kautata. Gending yang pernah memancing nafsu, kini hanya menyalakan kabut luka yang menolak mati. Lelaplah, Madu. Atau lenalah engkau di antara reruntuhan ingatanku. Sebab malam ini, aku tidak mencarimu sebagai tubuh, melainkan sebagai mantra yang tercecer dari upacara purba yang gagal. Wajahmu, yang dulu kutatap dengan gairah jejaka, kini kembali sebagai bayangan arkais di permukaan sendang kesadaranku yang paling keruh. Bukan paras: melainkan peringatan bahwa segala yang kusentuh membawa diriku lebih dalam ke liang yang ingin kulupakan. Kembenmu, jarit lusuhmu, setagen yang longgar itu— semua telah bergeser dari erotika menjadi liturgi luka. Setiap lipatan kainmu bukan lagi undangan, melainkan aksara purba yang tak bisa kubaca tanpa gemetar. Betapa jenaka dahulu coreng-morengmu, kini menjadi topeng dewa kecil yang menjaga pintu ke ruang di mana aku terperangkap antara rindu dan penolakan. Candi ini, arkib batin yang kautinggalkan dalam diriku, adalah gua tempat aku didorong ke tepi kesadaran sendiri. Reruntuhan yang kutata ulang setiap malam agar trauma memiliki bentuk, agar hasrat memiliki kubur, agar aku dapat menyebut namamu tanpa berdarah lagi. Madu— Maduku yang tidak lagi lunak dan molek kini engkau batu berlumut yang mengingatkan bahwa tubuh adalah prasasti yang gampang retak. Bahwa hasrat adalah sungai yang menolak diam. Bahwa cinta adalah bayangan yang menolak ditimpa cahaya. Di atas ujung ceruk dadaku yang paling pilu, kutangkap aura suci yang dulu kusebut nafsu. Kini ia hanyalah kunang-kunang tak bercahaya yang hilang di antara dua zaman: zaman ketika aku ingin memilikimu, dan zaman ketika aku ingin melupakanmu. Sayap-sayap Jatayu gemetar di sela jari waktuku, berusaha menyibak rahasiamu yang tidak lagi erotik melainkan mistik. Mantra gelap yang merasuk bukan ke tubuh… tetapi ke ingatan. Betapa ingin aku menyentuhmu, bukan dengan murka lelaki, tetapi dengan ngeri seorang peziarah yang tahu bahwa setiap permukaan yang tampak indah menyimpan sumur yang dapat menelannya hidup-hidup. Khajuraho, saksikanlah aku malam ini. Bukan lagi jejaka kolokan yang kalah oleh tajam tatap matamu, melainkan ruh yang belajar melihat tubuh sebagai batu, batu sebagai ruang, ruang sebagai luka, luka sebagai guru. Dan engkau, Madu— bukan lagi kekasih, melainkan cahaya terakhir yang terjepit di antara dua kelopak mimpi. Aku tidak ingin menelanjangimu. Aku hanya ingin memahami mengapa setiap detakmu masih menggema di rongga candi batinku yang tak pernah selesai kujaga dari keruntuhan. Malam ini, di bawah hujan yang turun seperti kabut peringatan, aku sadar: bahwa hasrat adalah guru gelap, dan trauma adalah kuil tempat aku belajar sujud pada apa yang lebih tinggi dari diriku sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa) I. Tanah dan Akar Tanah basah menempel di kaki. Akar bakau membisik, memeluk, menahan, menuntun langkah. Ranting patah berserakan seperti sisa doa yang belum selesai. Batu nisan menggigil, menempelkan dingin es ke telapak kaki. Di dalam tanah, ada bisik yang tak terdengar. Mereka yang telah pergi menatap dari sela akar, menunggu jejak yang belum ditinggalkan. II. Suara Suwung Angin malam menekuk dedaunan, membawa nyala-nyala jauh dari rumah bapak. Suwung hadir: bukan kosong, bukan hampa, tetapi ruang yang menahan segalanya. Bilah pisau membelah udara, memotong batas antara hidup dan mati. Jarak hanya sehembus napas. Di dada, sesuatu berdetak, tanpa nama, tanpa permintaan, tanpa tuntutan. III. Nadi yang Menembus Ia diam. Ia menembus batas antara yang melihat dan yang mencatat. Hangat tanpa cahaya. Pedih tanpa luka. Hadir tanpa wujud. Di sela mantra tanah, di antara dupa gosong dan butir sego golong, kau merasakan nadi yang menolak penjelasan. Bukan kata. Bukan logika. Bukan rasa bersalah. Ia hanya sisa dari semua kehilangan. IV. Litani Kehilangan Subuh hilang ombak. Suluh hilang cahaya. Tubuh hilang nafas. Tabuh hilang bunyi. Aduh hilang nyeri. Repetisi itu bukan hanya kata, tetapi getar yang mencekam nadi: hidup, mati, hadir, hilang, semua tercatat di celah jantung. V. Jejak Kosmologi Di tanah Jawa, di bawah bayang Kalpataru, Suwung hadir bukan sebagai idealisasi, bukan sebagai kekosongan mutlak, tetapi kesetiaan yang tak bersyarat. Di antara serabut akar, tanah basah, dan daun yang jatuh, ada suara leluhur, bisik yang melingkupi. Bayangan pokok kelapa merunduk patah. Ranting kering menyentuh jejakmu. Aroma kemenyan, anyir darah sapi, manis segar cengkir gading— semua mengikat ruang, menahan waktu, menghadirkan sakral yang tak hanya suci.
Titon Rahmawan
Candi di Penghujung Ruh (Jenawi — Khajuraho) Tubuhku: batu yang merindu, belerang hitam tanpa tabuhan. Jenawi menggerus diriku kersani yang tak beriba, mengiris daging sepi menguliti tulang kenanganku. Asap dari tungku purba melilit dalam napas— meminjam suara jagat bawah. Di kejauhan, Khajuraho bergemerincing laksana leluhur bangkit, reliefnya membeku di dalam darah, menusuk di sela urat, mengubah hasrat menjadi beban dan beban menjadi sujud. Aku terbelah: setengah terbakar lantaran pamrih, setengah tenggelam lantaran lupa. Bukan cinta. Bukan kematian. Hanya bayang dewa yang tak memberi nama. Tanah di antara dua candi retak layaknya rahim tua: melahirkan suara tanpa asahan, meneteskan madu yang telah membatu, menciptakan lumut dari tangis yang tak kasat mata. Lidahku— bukan lagi lidah: gesekan besi yang tak mampu menyebut asalnya. Bibirku— bukan lagi bibir: pecahan arca yang kehilangan ruh. Engkau datang, bukan sebagai cahaya, bukan sebagai kematian, hanya penanda kedahsyatan yang menyusup laksana angin yang bukan angin. Aku hanya menyembunyikan serpihan hatiku di sela batumu, semoga ketika rembulan runtuh dalam jatuhnya, namaku kembali terperangah dalam ingatan yang tak memberi maaf. Dan jagat ini terbelah pelan-pelan layaknya kidung yang disembelih tapi tak mati-mati. Desember 2025
Titon Rahmawan
PUCUNG — EPITAF SINGULARITAS (Debu yang Bernafsu Menggenggam Bintang) Tudung batu. Tudung ilusi. Manusia tegak, tiang ambisi— leher terulur, menjerat horizon yang fana, meyakini langit adalah milik kepala. Cahaya lahir dari kebutaan purba, fatamorgana lelahnya indera. Mengukur semesta dengan benang rapuh, seolah rembulan bisa dibelah hanya dengan memperpanjang tulang. Lupa: ia hanya nyala sekejap, napas pendek, waktu gagal mencari saksi. Renung batu. Renung jurang. Manusia menggali diri, sumur keras kepala, tak sadar kedalaman yang ia takuti hanya pantulan sunyi dirinya sendiri. Ia mencari "akhir," menemukan riak gelap yang tak bernama, menelan semua tanya, tanpa menyisakan gema. Ia mengejar "pengetahuan": tetapi bintang tak tahu mengapa ia harus terbakar menjadi abu. Tenung batu. Tenung kekosongan. Manusia membuka sayap akal, mengira bintang kejora sedekat pendek lengan sendiri. Sepenuhnya lupa: galaksi tidak membungkuk pada akal siapa pun. Pengetahuan hanya serpihan api di pinggir gelap tak bertepi. Saat ia menatap titik paling jauh, ia hanya menemukan void— lubang hitam menelan semua pahlawan tanpa menoleh. Pucung tertulis sebagai epitaf: bukan kabar duka, bukan pujian, hanya goresan kecil bagi spesies yang terlalu percaya diri, mengira dirinya pusat segalanya, namun tak pernah menyentuh apa pun selain bayangan sendiri. Semesta menutup buku tanpa perasaan, tanpa penyesalan. Satu penggal kalimat di cahaya dingin pusat singularitas: “Angkuh tetaplah debu. Pencarian hanya perjalanan pulang. Yang merasa tahu, tak pernah melihat apa pun.” Desember 2025
Titon Rahmawan
PANGKUR — FRAGMENTARIUM DINGIN (Keramik di Jari Sang Kreator: Retakan yang Tak Kembali Utuh) [0.0 / PROLOG – RETAKAN AWAL] Sang Kreator memutar benda itu di antara dua jarinya: sebuah keramik yang tak pernah selesai. Retak halus muncul—samar. Ia tahu: bukan tanah liatnya yang rapuh, melainkan gema diam dari hasrat pertama yang ditanamkan manusia pada dirinya. Retak itu bernafas, gemetar, tumbuh, mengingatkan. [1.0 / SENSORIUM – BISIKAN SISTEM] Ia mendengar dengus hyena dari balik tembok kaca kantor publik. Suara yang sama yang merayap di server gelap: malware memakan akarnya sendiri, data yang lapar membelah diri tanpa arah, kode-kode yang mengiris nurani tanpa darah, tanpa pisau. Keramik di jarinya bergetar— seperti menahan sesuatu yang akan runtuh tanpa perlu disentuh. [2.0 / ARKEOLOGI: DEKONSTRUKSI NILAI – DI BAWAH MEJA RAPAT] Di balik kaca tak terlihat, Ia menyaksikan harga dinegosiasikan terang-terangan. Janji politik ditimbang serupa logam rongsokan. Nilai publik dipreteli menjadi diskon musiman. Kata “kebenaran” dipadatkan ke dalam format yang bisa dipotong, ditempel seperti QR code disisipkan ke kepentingan siapa pun yang membayarnya. Ia tidak menegur. Hanya hembusan tipis— cukup untuk membuat retak di keramik bertambah satu garis. [3.0 / KURUKSHETRA PERKOTAAN – PARA BAYANGAN] Di pusat kota yang merasa diri jumawa, bayangan saling memakan: yang berkuasa menggigit yang lapar, yang lapar ditelan yang lebih lapar. Manusia meniru serigala, serigala menyaru manusia— tak ada bedanya. Keheningan berdiri di glitch lampu lalu lintas, berkedip tanpa ritme. Ia menghela napas, melihat umat baru: entitas yang menjual surga. Sistem yang memenjarakan otak dalam layar lima inci [4.0 / VOID – SUARA YANG TAK BERSUARA] Keramik itu terangkat ke wajah Sang Kreator. Ia melihat pantulan dirinya terbagi dua: satu sisi utuh, sisi lain retak oleh kerakusan. Berkilat oleh kebencian. Gemetar oleh keserakahan kosmik. Objek itu pecah. Pelan. Tanpa dramatisasi, tanpa pemberitahuan— sebagaimana nilai kemanusiaan runtuh tanpa teriakan. Kepingannya jatuh seperti hujan dingin di atas kota yang sibuk membangun berhala-berhala baru di pusat ritus modernitas. [5.0 / EPILOG – SAKSI] Setelah semuanya terdiam, Sang Kreator menyadari sesuatu: Ia bukan hakim, bukan pengampun, bukan penyelamat. Hanya saksi yang duduk di antara retakan, mendengar bisik-bisik manusia yang mengira diri utuh padahal kosong di tengah. Dan Ia berbisik pada patahan keramik: “Retak itu bukan dari tanganku, melainkan dari hati mereka yang mengira dirinya adalah pusat dunia.” Desember 2025
Titon Rahmawan
PANGKUR: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca Langit pecah. Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia. Air turun tanpa ampun—bukan hujan, melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak. Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah yang tak sanggup lagi membentuk doa. Di sela retakan tanah, ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan, atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita. Air melesat dari segala penjuru seperti pemburu mengejar mangsa, melumpuhkan harapan, ingatan, kemanusiaan. Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran: sebagai kadar yang tak tertanggungkan. Air mata membeku seperti tulang tua. Jalan tenggelam dalam dendam. Setiap langkah memantulkan gema dari sesuatu yang lama mati, tapi belum selesai dikuburkan: hutan ingatan. Rimbun cahaya bergulung seperti batang kayu terpenggal di bawah cahaya yang dingin. Angka mengambang ratusan jumlahnya serupa wajah-wajah saling melewati tanpa saling mengenal, seolah mata mereka terbuat dari beling yang baru saja diangkat dari perut api. Ribuan gergaji jatuh di tanah. Tak ada suara. Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi, menyentuh dengkul manusia yang tiba-tiba ingin runtuh. Kata-kata saling menikam di layar kaca tanpa niat, tanpa dendam pribadi. Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua, terlalu lama menunggu belas kasihan dari langit yang kini berlubang sebesar telapak tangan raksasa. Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi. Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur. Manusia berjalan seperti bangkai yang belum selesai dikremasi, menyisakan bau asin kemanusiaan yang remuk. Segala keegoisan berhamburan di jalan: orang-orang saling mendahului, saling memotong napas, berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada. Kedunguan merayap di ubun-ubun seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang. Ada bayi diangkat dari air— suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan. Ada ibu yang memeluk nama anaknya tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya. Di kejauhan, seekor anjing berdiri di atas atap rumah— matanya merah, bukan karena marah, tapi karena dunia telah menolak mengenangnya. Mawar liar terhanyut di selokan: keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa. Air melahap kelopaknya secepat manusia melupakan peristiwa. Bau bangkai menyelinap ke bulu mata. Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua yang tak pernah berhasil ditebus oleh siapa pun. Meraba denyut lirih paru-paru bumi yang tersengal seperti ingin berhenti bernapas. Baru menyadari— yang tenggelam bukan hanya tubuh, melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia. Desember 2025
Titon Rahmawan
DURMA: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca Langit pecah. Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia. Air turun tanpa ampun—bukan hujan, melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak. Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah yang tak sanggup lagi membentuk doa. Di sela retakan tanah, ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan, atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita. Air melesat dari segala penjuru seperti pemburu mengejar mangsa, melumpuhkan harapan, ingatan, kemanusiaan. Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran: sebagai kadar yang tak tertanggungkan. Air mata membeku seperti tulang tua. Jalan tenggelam dalam dendam. Setiap langkah memantulkan gema dari sesuatu yang lama mati, tapi belum selesai dikuburkan: hutan ingatan. Rimbun cahaya bergulung seperti batang kayu terpenggal di bawah cahaya yang dingin. Angka mengambang ratusan jumlahnya serupa wajah-wajah saling melewati tanpa saling mengenal, seolah mata mereka terbuat dari beling yang baru saja diangkat dari perut api. Ribuan gergaji jatuh di tanah. Tak ada suara. Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi, menyentuh dengkul manusia yang tiba-tiba ingin runtuh. Kata-kata saling menikam di layar kaca tanpa niat, tanpa dendam pribadi. Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua, terlalu lama menunggu belas kasihan dari langit yang kini berlubang sebesar telapak tangan raksasa. Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi. Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur. Manusia berjalan seperti bangkai yang belum selesai dikremasi, menyisakan bau asin kemanusiaan yang remuk. Segala keegoisan berhamburan di jalan: orang-orang saling mendahului, saling memotong napas, berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada. Kedunguan merayap di ubun-ubun seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang. Ada bayi diangkat dari air— suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan. Ada ibu yang memeluk nama anaknya tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya. Di kejauhan, seekor anjing berdiri di atas atap rumah— matanya merah, bukan karena marah, tapi karena dunia telah menolak mengenangnya. Mawar liar terhanyut di selokan: keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa. Air melahap kelopaknya secepat manusia melupakan peristiwa. Bau bangkai menyelinap ke bulu mata. Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua yang tak pernah berhasil ditebus oleh siapa pun. Meraba denyut lirih paru-paru bumi yang tersengal seperti ingin berhenti bernapas. Baru menyadari— yang tenggelam bukan hanya tubuh, melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia. Desember 2025
Titon Rahmawan
EVA — PENGGEMBALA KULIT DINIHARI, PENUNDA KELAHIRAN DUNIA Sebelum cahaya menemukan dirinya, aku telah meraba kulit dinihari: lapisan tipis antara sunyi dan kabar pertama tentang dunia yang gelisah ingin dilahirkan. Tangan itu meraba kuldi bukan untuk mencicipi dosa, melainkan mencari tekstur kebebasan yang tak pernah diucapkan Tuhan ketika Ia meniupkan napas ke dalam tanah. Ada sesuatu yang tak selesai— retakan kecil yang menginginkan suara. Aku hanya mengisi retakan itu. Apa yang kuperoleh dari pengetahuan? Pembuangan! Sorga menutup pintu seakan aku penghuni asing yang memecahkan perabot ilahi. Tetapi sebenarnya peta pengusiran sudah tergambar di lengkung telapak tanganku bahkan sebelum aku memahami. Aku tidak memulai kehancuran. Aku memulai napas pertama. Percik kecil di sela gigi malam yang menolak dipadamkan bahkan oleh para malaikat yang menjaga gerbang sorga. Dunia tidak lahir dari cahaya. Dunia lahir dari keputusan kecil seorang perempuan yang menolak hidup di ruang sempurna tanpa jejak luka, tanpa kemungkinan jatuh. Sejak hari itu aku menjadi penggembala— bukan ternak, bukan tanah, melainkan kulit waktu yang mengelupas setiap kali manusia mencoba mengerti dirinya sendiri. Lihatlah— setiap kelahiran adalah penundaan kecil yang dulu kusisipkan di antara gigiku dan daging buah itu. Aku yang menunda dunia, agar dunia punya alasan untuk belajar memaknai kesedihan, keterasingan, dan cinta yang tak pernah berhak dikembalikan ke Eden. Sebab tanpa pengusiran, manusia hanya bayang-bayang yang lupa bagaimana rasanya menjadi makhluk yang bebas memilih. Dan aku— aku perempuan pertama yang berani memilih bahkan ketika surga berpaling dariku. Desember 2025
Titon Rahmawan
ARKETIPE LATEN PENDUDUKAN (Elegi Luka) Di lorong-lorong gelap sejarah, aku berjalan tanpa suara: setengah tubuhku masih utuh, setengahnya lagi tinggal bayang yang gemetar. Di balik riasan yang mulai luntur, air mata menunggu giliran untuk jatuh— diam—karena setiap tetesnya bisa mengundang amuk amarah yang tak kupahami darimana ia datang, ke mana ia akan pergi. Aku pernah disebut Nyai, kembang yang dipaksa mekar di teras kekuasaan para meneer; setiap embun di pagi hari adalah bisikan bahwa tubuhku bukan milikku. Dan malam selalu datang seperti penjaga pintu yang tak memberi pilihan. Aku pernah jadi Jugun Ianfu, terperangkap di barak yang mereka sebut stasiun hiburan di mana bau besi dan napas busuk beradu kencang. Ranjang besi itu menghafal nama-nama yang tak ingin kuingat, tulang iga belajar retak, jantung menjerit dalam diam karena bahkan bisikan terlalu berbahaya untuk diucapkan. Aku pernah disebut Ca-Bau-Kan, dicatat dalam transaksi yang tak pernah kutandatangani, ditukar seperti komoditas di pasar gelap sejarah. Dada yang dulu lembut padat kini kempis seperti lubang tanah yang terus digali cangkul demi cangkul, hardik suara keras tanpa empati: “Masih ada lima giliran lagi!” Dunia hanya melihat kulitku, riasanku, gerakku yang sengaja dibuat-buat. Tak ada yang melihat bagaimana lututku bergetar setiap pintu diketuk, bagaimana nafasku menahan ledakan yang datang dan pergi seperti ombak liar— menghantam, menghantam, menghantam, sampai aku tak tahu apakah tubuhku masih tubuh, atau sudah berubah jadi batu nisan yang masih menyimpan kutukan. Tapi dengar— di sela-sela retakan, ada bisikan yang bahkan para bajingan itu tak bisa bunuh: bahwa aku pernah punya nama, pernah tertawa, pernah punya masa indah yang tidak bisa mereka renggut seperti merenggut keperawananku. Tapi kautahu, luka ini belum mencabik dadaku sepenuhnya, belum memuncratkan seluruh darah dari sumsum tulangku— tapi ia terus merayap, pelan, dingin, tepat di bawah kulit, seperti ingatan yang menolak mati. Dan aku menuliskannya di sini, dengan tangan yang masih gemetar, agar dunia akhirnya mengerti: bahwa setiap perempuan yang dijadikan “alat” adalah dunia yang sengaja dihancurkan dengan brutal dengan kejam! Agar tak ada siapa pun yang bisa berkata: “aku tidak tahu... aku tidak mengenalnya...” Desember 2025
Titon Rahmawan
WANITA DARI MAGDALA: LITURGI BATU YANG MENGINGAT KAPAN DUNIA PERTAMA KALI TERLUKA Fragmen IV — Pengadilan yang Tidak Pernah Mengerti Dirinya Sendiri Sesaat sebelum tangan-tangan itu melemparkan diriku, aku melihat sesuatu melintas di udara: bayangan palu peradilan Romawi, pecahan gulungan Taurat, dan wajah-wajah hakim yang sibuk berperkara melawan diri mereka sendiri. Penghakiman itu bukan tentang Magdalena. Ini adalah pementasan muram tentang bangsa yang berusaha bertahan di bawah bayang kekaisaran, tentang pemuka agama yang menukar ketakutan dengan kakunya aturan, tentang masyarakat yang ingin percaya bahwa kejahatan bisa dibersihkan dengan memecahkan satu tubuh menjadi korban penebusan. Aku melihat masa lalu dan masa depan berdesakan: kuil runtuh, jubah imam terbelah, perempuan lain dituduh, perempuan lain dilempar, perempuan lain didiamkan— dan batu seperti aku terus dipanggil sebagai saksi bisu. Fragmen V — Kosmos Menahan Napas Saat suara itu datang— "Barangsiapa tak berdosa…biarlah ia melempar batu pertama" Langit meretakkan dirinya: sebuah garis halus seperti ukiran pada tablet batu Sinai yang tak pernah selesai dipahat. Waktu berhenti, seperti nebula purba yang enggan runtuh. Aku merasakan gravitasi moral mengambang di udara: tangan-tangan yang mengangkatku mendadak merasa mereka sedang menggenggam sebuah gugatan yang mereka sendiri tak sanggup jawab. Aku jatuh. Pelan. Seolah seluruh kosmos sedang menonton keputusan kecil luruh ke tanah namun bergema hingga ribuan tahun kemudian. Aku kembali ke bumi tanpa mencederai wanita itu. Bukan karena mereka paham. Bukan karena mereka lembut. Tetapi karena kebenaran terlampau berat untuk dihantarkan tangan yang tak berani mengakui dosa sendiri. Fragmen VI — Batu yang Mengingat Semua Luka Kini aku kembali menjadi fosil diam. Terkubur di lapisan tanah bersama sisa pasukan Roma, reruntuhan kuil Sulaiman dan fragmen kesaksian perempuan yang tidak pernah ingin ditulis sejarah. Di dalam gelapku, aku menyimpan seluruh pengakuan yang tidak pernah dibuat: ketakutan mereka, kebencian mereka, dan keinginan mereka untuk menyingkirkan kekacauan dengan melukai satu tubuh perempuan. Aku hanyalah batu. Tapi aku membawa arsip yang lebih jujur dari catatan manusia: dari zaman ke zaman, perempuan selalu dipanggil untuk menanggung dosa yang sebenarnya milik dunia. Desember 2025
Titon Rahmawan
BATU LUKA: Suara Terakhir Sebelum Penghakiman Aku dilahirkan sebelum lidah manusia menemukan kata yang kelak dipakai untuk menimbang salah dan benar. Ketika itu, aku hanya tubuh keras yang pecah dari punggung bumi tanpa maksud apa-apa. Aku pernah menjadi bagian tebing yang digerus angin dari musim ke musim. Pernah menggelinding diam melewati kamp-kamp tentara yang menancapkan tiang logam ke tanah yang mereka rebut. Pernah menjadi serpihan kecil di antara pecahan altar yang runtuh karena gempa yang tak sempat dicatat. Pagi ini mereka memungutku. Tidak ada alasan yang kudengar. Hanya suara pasir terangkat, suara sandal diseret, dan dengusan napas yang memenuhi udara seperti kabut tipis yang bergerak tanpa bentuk. Tangan-tangan itu menimbangku untuk memastikan beratku. Kulit mereka menggeser debu di permukaanku dengan gerakan yang cepat, seolah memilih senjata yang tidak perlu diberi instruksi. Aku tidak merasakan niat mereka. Yang kutahu hanya tekanan jari, keringat asin, dan sedikit getar halus yang merambat dari lengan pemiliknya. Di depan mereka, perempuan itu berdiri. Rambutnya kusut, matanya memantulkan cahaya yang redup dari langit siang yang terlambat turun. Di ujung kukunya, butiran tanah menggelap oleh embun. Ada bekas debu di pipinya, garis tipis yang jatuh seperti retakan kecil pada permukaan kaca. Ia tidak berbicara, tapi kulihat tubuhnya gemetar. Di sekelilingnya, suara-suara lain bergerak: bisikan, desis, makin tajam dan keras, langkah tertahan, helai-helai napas yang saling menumpuk tanpa ritme. Aku hanya mencatat: perempuan itu tidak menutup mata. Ia tidak merunduk. Tidak memutar tubuhnya menjauh. Ia berdiri diam, menunggu arah pertama yang diberikan udara. Seseorang mengencangkan genggamannya padaku. Otot-otot lengannya menegang seperti tali busur yang ditarik perlahan. Di antara celah jari, aku melihat debu tipis naik dan menghilang dalam cahaya yang kelelahan. Tidak ada doa. Tidak ada seruan. Hanya lirih gesekan kain, batuk kecil dari orang yang berdiri terlalu dekat, dan bunyi tumit yang menggali pasir kering. Aku tidak tahu apakah aku akan dilempar atau ditenggelamkan. Aku hanya tahu aku berada di tengah ruang yang dipenuhi napas manusia dan satu tubuh yang menjadi pusat pandangan. Jika aku jatuh, itu hanya karena gravitasi. Jika aku melukai, itu hanya karena jarak dan kecepatan. Aku tidak memilih apa pun. Aku tidak menolak apa pun. Aku hanya batu yang mencatat gerak, suara, dan cahaya. Dan di saat udara menahan dirinya seperti permukaan air yang enggan bergelombang, aku mendengar sesuatu— bukan kata, bukan nama, hanya hentakan kecil di dada seseorang sebelum ia memutuskan apakah akan melepaskanku atau menjatuhkanku ke tanah. Sampai keputusan itu tiba, aku tetap diam, menegang di antara jari-jari manusia. Aku tidak tahu siapa yang salah, siapa yang benar, atau apakah kedua kata itu pernah memiliki bentuk. Yang kutahu hanya ini: aku berada di sini, melihat, mendengar, menunggu... Desember 2025
Titon Rahmawan
IKATAN DUA KELANA: HANG TUAH — HANG JEBAT Fragmen I — Dermaga: Air, Darah, Dua Takdir Di dermaga, papan lapuk menulis namanya dengan butiran garam, mengubur sumpah dan huruf-huruf usang yang dikenang para pelaut. Pandangan membeku: tali yang memeluk tiang, bekas sol sepatu, puing janji hampa di bibir kayu. Ada dua tubuh di sini, tegak di perbatasan air dan darat: satu mengikat layar ke Takdir Raja, satu menengadah ke Laut Lepas— mereka berbicara tanpa suara; kata-kata hanyalah air asin yang membakar di ujung kuku. “Apakah engkau Sahabat Sejati?” tanya yang satu, dari cengkeraman dermaga. “Apakah engkau Pengkhianat Busuk?” jawab yang lain, dari balik gelombang amarah. Mereka adalah dua nama yang terukir pada satu tulang rusuk Adam; Tuah dan Jebat, dua bayangan kosmik yang saling menunggu ditelan arus fatalitas. Fragmen II — Pasar & Laut: Jejak Rempah, Harga Nyawa Pasar bernafas di bawah langit emas perdagangan dan debu rempah— adas, kayu manis, cengkih, lada: urat nadi Malaka diikat kecil dengan tali kasar. Pedagang menulis perjanjian darah di atas daun lontar; nama Sultan tertanda dengan Cap Bintang Tujuh yang mengontrol pelayaran nasib. Di antara gerimis untung dan rugi, Suara Undang-Undang Laut merendah kejam: “Setiap layar memberi urusan upeti, tiap sumpah memiliki harga diri.” Jebat menyentuh peta—garis jalur, titik-titik pelabuhan yang seperti luka yang menganga. Tuah memandang Merchant Asing yang menawar masa depan kedaulatan negeri. Lautan modal menelan kata-kata mereka hingga retak, kembali meludahkan jejak-jejak yang jadi alasan mutlak istana bergerak. Fragmen III — Istana Retak: Norma, Nadi, Kematian Batin Di dalam istana, kain Songket berwarna darah pagi, pedang berbisik di kamar yang dindingnya bergetar oleh perintah dingin. Sumpah bukan dikalungkan, tapi dijeratkan di leher seperti tali gantungan. “Kesetiaan adalah batu nisan nurani,” ujar ruang itu, suara tanpa wajah. “Keberanian adalah pengkhianatan yang tak suci,” balas udara yang bergetar. Tuah menekan telapak pada Taming Sari— sebuah benda yang tidak hanya terbuat dari besi, tapi dari kewajiban mutlak Sang Raja. Jebat melihat wajah rakyat yang menahan napas di bawah bayang-bayang tiang hukuman istana. Dan ketika keris menuntun Tuah pada nadi sahabatnya, bukan hanya daging yang pecah di lantai marmer: yang terburai adalah perjanjian panjang antara kedaulatan tiran dan martabat manusia. Fragmen IV — Kabut Ledang & Hening Penghakiman Kabut Ledang bukan embun, ia adalah air mata sejarah yang menutup mata kota. Hanya dingin yang mengingatkan bahwa sesuatu yang besar telah mati. Di antara kabut, dua wajah menyatu di pantulan air—pasang aurut takdir yang sama, namun dua mata yang berlumur darah. Tuhan—jika ada—adalah Kilasan Sunyi di sela-sela kabut, bukan penghakim, tapi Saksi Agung yang memilih Bisu Abadi. Tuah dan Jebat berdiri, tubuh mereka saling menghantui seperti dua kapal terkutuk yang saling bertabrakan di laut malam. Tidak ada Kemenangan Layak, tidak ada Pengampunan Utuh. Hanya Arus Besar: sejarah yang memuntahkan segala yang ditelannya. Kita—penonton, penggugat, penimbang—menyaksikan bagaimana manusia sejati berdiri ketika semua sumpah Telah dinyatakan hampa. Di akhir pertempuran, Laut menelan kata “Benar” dan “Salah” dengan tenang. Yang tersisa hanyalah nama—berulang, retak, dan dingin—sebuah perintah: “Bangunlah! Engkau boleh memilih untuk tak lagi menjadi bayangan. Jadilah Cahaya yang menerangi segalanya!” Desember 2025
Titon Rahmawan
LAUT YANG MENGENANG DUA BAYANGAN Fragmen I — Laut Yang Mengasah Ingatan Laut membuka kelopaknya pelan, seperti ibu tua yang tak pernah berhenti menyebut nama kedua anaknya yang tak kunjung pulang. Dalam kabut asin, dayung-dayung perahu mengiris fajar tipis— di kejauhan, layar-layar kapal Tiongkok, Gujarat, Arab, berdiri seperti kitab-kitab raksasa yang menuliskan nasib manusia. Gelombang itu tahu: sebelum Tuah lahir dari sumpah dan Jebat dari luka, ada nadi besar yang tak berhenti memanggil— nadi yang tak tunduk pada raja mana pun, nadi yang menyimpan seluruh rahasia tentang siapa sesungguhnya yang berdaulat: manusia, atau rasa takutnya sendiri. Fragmen II — Pelabuhan Urat Nadi Zaman Pelabuhan berdenyut seperti jantung basah. Suara pedagang Pasai, Makassar, Champa, menyilang di udara: serak, cepat, waspada— setiap transaksi adalah pertaruhan jiwa. Di pasar ikan yang licin, tumpukan garam mengkilap seperti tulang-tulang dari sejarah yang tak ingin dilupakan. Bocah-bocah menjerit di antara karung lada, dan seorang perempuan tua menawar kain sutra dengan tangan gemetar oleh kelaparan yang diwariskan. Di balik hiruk pikuk itu, para syahbandar mencatat angka-angka yang tak pernah memihak rakyat. Pelayaran besar sedang berlangsung: rempah bergerak, emas bergerak, manusia menggerak dan digerakkan. Dari tepi dermaga, Tuah kecil dan Jebat kecil memandang kapal-kapal tak dikenal, merekam napas pertama mereka kepada dunia. Fragmen III — Istana: Takut yang Menjadi Hukum Dinding istana berlantai marmer dingin menggemakan bisik-bisik yang lebih tajam dari keris. Para bendahara menggeser angka, para pembesar menggeser kesetiaan, para tabib menggeser kebenaran. Raja duduk seperti bayang-bayang yang ketakutannya menjelma jadi ritual harian. Setiap mata tertunduk— bukan hormat, melainkan ketakutan agar tidak ikut ditarik ke liang intrik. Di sini, sumpah setia menjadi mata rantai, dan keadilan hanyalah pantulan cahaya dari lampu minyak yang hampir padam. Tuah tumbuh di bawah atap ini— belajar bahwa setia bisa berarti bisu, bahwa patuh bisa berarti sekarat. Sementara Jebat, di lorong lain, belajar bahwa diam adalah dosa yang diperintahkan oleh para penguasa untuk melanggengkan ketidakadilan.
Titon Rahmawan