“
Alexander, you broke my heart. But for carrying me on your back, for pulling my dying sled, for giving me your last bread, for the body you destroyed for me, for the son you have given me, for the twenty-nine days we lived like Red Birds of Paradise, for all our Naples sands and Napa wines, for all the days you have been my first and last breath, for Orbeli- I will forgive you.
”
”
Paullina Simons (The Summer Garden (The Bronze Horseman, #3))
“
He slung off his backpack. He'd managed to grab a lot of supplies at the Napa Bargain Mart: a portable GPS, duct tape, lighter, superglue, water bottle, camping roll, a Comfy Panda Pillow Pet (as seen on TV), and a Swiss army knife—pretty much every tool a modern demigod could want.
”
”
Rick Riordan (The Son of Neptune (The Heroes of Olympus, #2))
“
Kamu tahu, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok.
”
”
Tere Liye (Hujan)
“
Wahai anak, kamu mungkin lebih bijak dari kami, tetapi kamu tidak mungkin dapat mengatasi kasih seorang ibu dan napa. Kamu menyayangi kami selepas kamu bijak, tetapi kami mengasihi kamu sebelum kami lahir
”
”
Hasrizal Abdul Jamil
“
Kau tahu, sesungguhnya Tuhan telah mati bagi mereka yang kecewa.
”
”
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
“
Kebahagiaan dan rasa sedih itu terkadang tidak ada bedanya. sama-sama membuat tidak bisa tidur. Hanya saja rasa bahagia tidak membuat tubuh melakukan gerakan resah atau helaan napas panjang. Rasa gembira hanya membuat sesak.
”
”
Tere Liye
“
Kota-kota terus bergerak membangun modernitasnya. Ia hidup dari beku dan kekosongan sepertiku. Kota-kota yang di mata orang sepertiku, begitu mengejutkan dan menakutkan.
”
”
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
“
Things always happen for a reason, that’s what everybody says.”
“But often, not for the reasons we wanted.”
“Yeah, it’s like a rule of life, or something.” Dia menghela napas. “But I think believing that things happen for a reason makes it easier for us to keep going. Dengan menerima kenyataan, kita akan lebih mudah bergerak maju, mengecilkan ruang untuk rasa sesal.
”
”
Winna Efendi (Melbourne: Rewind)
“
Di pulau-pulau ajaib, hujan dijadikan makanan para cebol yang direndahkan dengan harapan mereka bisa tinggi setinggi langit yang menurunkan hujan.
”
”
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
“
Yang paling mencintai diriku adalah diriku sendiri.
”
”
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
“
Manusia selalu terkejut melihat dirinya berubah dari waktu ke waktu.
”
”
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
“
Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau
Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita
Engkau membuatku putus asa dan mencinta
Pada saat yang sama
”
”
Dee Lestari (Gelombang)
“
Keramaian membuatku lelah tak berniat melakukan apa-apa kecuali berjalan dan berjalan terus sampai mati.
”
”
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
“
Ah, kematian memang misteri. Bisa datang di mana saja, kapan saja. Jika bisa memaknai setiap napas hidup, kematian hanyalah sebuah lonceng untuk waktu yang telah tiada.
”
”
Iwan Setyawan (Ibuk,)
“
Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu, dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.
Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini.
Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi.
Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu.
Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.
”
”
Susanna Tamaro (Follow Your Heart)
“
Saat dunia berpaling darimu, maka buanglah dunia dan hempaskan agar kau tidak memerlukannya lagi. Kebahagiaan bisa dicari dari dagin-daging dan bercinta.
”
”
Bagus Dwi Hananto (Napas Mayat)
“
Invalidating a woman’s life choices by saying things like, “Oh, but you’ll regret it if you don’t have kids,” or, “I didn’t think I wanted kids either until I had one,” is like me going to an Alcoholics Anonymous meeting and telling the newly sober that eventually when they grow old, they’ll want to take the edge off with a little gin and tonic and that if they could only just be mature enough to control themselves, they could go on a fun wine-tasting tour in the Napa Valley.
”
”
Jen Kirkman (I Can Barely Take Care of Myself: Tales From a Happy Life Without Kids)
“
Alexander, me has roto el corazón. Pero por haberme llevado a tu espalda, por tirar de mi trineo de muerte, por darme tu último pedazo de pan, por el cuerpo que te destrozaste por
mí, por el hijo que me has dado, por los veintinueve días que vivimos en el paraíso,
por todas nuestras arenas blancas de Naples y nuestros vinos de Napa, por todos los
días que has sido mi primer y mi último aliento, por Orbeli... Te perdonaré.
”
”
Paullina Simons (The Summer Garden (The Bronze Horseman, #3))
“
Memaafkan. Kata yang lucu sekali, bukan?... Sesuatu yang sulit sekali diberikan. Padahal dengan melakukan itu berarti kita menyelamatkan hati kita sendiri. Pernahkah kau mendengar, bahwa ketika kau memaafkan seseorang, kau membuka lagi pintu rumah yang sebelumnya kau tutup rapat-rapat, yang telah membuat dirimu terperangkap dan kehabisan napas. Ketika kau memaafkan, kau pun bisa bernapas lagi. Dan hidup.
”
”
Prisca Primasari (Evergreen)
“
I'm blessed, for I have sinned with the best damned fuck in the universe.
”
”
Christie Ridgway (Crush on You (Three Kisses, #1))
“
Mungkin hidup bersama-sama dengan orang lain adalah cara yang tepat yang bisa memberikan napas lega di tengah dunia yang penuh dengan kegelapan dan kesesakan.
”
”
Baek Se-hee (I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki)
“
~“She likes my dog, doesn’t take my crap, and looks at me like I can be the kind of man Dad was. When she cooks…she wears this apron…And I love her so damn much that I have no idea how I’m suppose to wake up tomorrow and pretend like my life hasn’t just fucking ended” Marco Delucca
”
”
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
“
Selalu menyakitkan melihatmu dari kejauhan tanpa bisa menggapai, tapi obsesiku terhadapmu terasa menyenangkan. Memberiku napas. Memberiku sepercik semangat hidup.
”
”
Miranda Malonka (Sylvia's Letters)
“
Selagi darah mengalir dan napas mengembus, harapan tidaklah pernah sungguh-sungguh mati. Harapan adalah sepasang kaki yang menjejakkanmu pada dunia. Dan dia baru akan mati..., bila kamu juga sudah mati.
”
”
Septian Hung (Menagih Nyawa dan Cerita-cerita Pendek Lainnya)
“
Bila kita berpisah
ke mana kau aku tak tahu, sahabat
atau turuti kelok-kelok jalan
atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan
hanya bila kau lupa
Ingat...
pernah aku dan kau
sama-sama daki gunung-gunung tinggi
hampir kaki kita patah-patah
napas kita putus-putus
tujuan esa, tujuan satu:
Pengabdian dan pengabdian kepada...
...Yang Maha Kuasa...
”
”
Idhan Lubis
“
New Rule: The Napa Valley is Disneyland for alcoholics. Be honest, you're not visiting wineries in four days because you're an oenophile, you're doing it because you're a drunk. It's the only place in America where you can pass out in a stranger's house and it's okay, because it's a B&B and you paid for it.
”
”
Bill Maher (The New New Rules: A Funny Look At How Everybody But Me Has Their Head Up Their Ass)
“
Ah, Ibuk! Kau adalah hijau pepohonan yang menutupi kegersangan. Napas buat kehidupan.
”
”
Iwan Setyawan (Ibuk,)
“
Tapi, nyatanya keadaan memaksa ia harus berjibaku dengan waktu dan prioritas hidup yang berhubungan dengan napas orang lain.
”
”
Adenita (23 Episentrum)
“
Rindu itu ibarat kaos yang udah dua hari nempel dibadan kita. Mau dilepas cucian kotor udah numpuk, gak dilepas baunya bikin nyesek (napas).
”
”
nom de plume
“
Emosi negatif itu hanya bertahan pada satu menit pertama. Jika kita menarik napas dan melepaskannya perlahan, mencoba mengalihkannya dengan hal lain, reseptor negatif yang diterima hipotalamus di otak tidak akan dilanjutkan ke saraf simpatik; sebaliknya, akan bergerak menjauh, meluruh, dan akhirnya menghilang. (50)
”
”
Hanum Salsabiela Rais (Bulan Terbelah di Langit Amerika)
“
Dalam peri kehidupan manusia, sebelum nasib sial menghantam bertubi-tubi, menganggur, tak lolos audisi, kena PHK, kena tipu, utang membelit, prahara rumah tangga, ekonomi sulit, berupa-rupa penyakit, tiada jeda menghantam sampai napas tersangkut di tenggorokan, lalu mati, nasib memanjakan manusia dengan satu masa yang hebat: SMA.
”
”
Andrea Hirata
“
Jika Anda akan atau telah memulai satu perjuangan yang mantap untuk bisa menyejahterakan hidup, ajaklah pasangan untuk mengerti dan memahami passion Anda. Doa dan dukungan pendampingan sangat besar artinya untuk menambah kekuatan hati saat kita berjalan. Karena perjuangan memiliki jalan misterius. Perubahan cuaca bisa terjadi dalam rupa yang tidak kita duga. Keberadaan pasangan hidup yang suportif dan apresiatif terhadap apa yang kita buat akan begitu bermakna. Kita bisa merasakan perbedaan, berjuang dengan dukungan dan berjuang dalam tekanan adalah dua hal yang berbeda. Aku harus bersyukur bahwa diriku berjodoh dengan seseorang yang sangat memahami napas perjuanganku.
”
”
Alberthiene Endah (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar)
“
Da, upravo tako, sve što imamo su sjećanja. Budućnost ne postoji, postoji samo "sada", a to "sada" nam neprekidno izmiče u budućnost. Nama ostaje samo prošlost, a ta prošlost je tek obična apstrakcija. Šta je zapravo ta prošlost, od čega se ona sastoji? Od sjećanja. A sjećanje je selektivno, ono je napa kostrukcija, mi biramo šta ćemo i kako pamtiti.
”
”
Bekim Sejranović (Dnevnik jednog nomada)
“
Olive trees grow in the same climate and soil conditions as grapes. The olive oil people have been up in Napa Valley all along, going, “Hey, how do we get a piece of this action?
”
”
Mary Roach (Gulp: Adventures on the Alimentary Canal)
“
Di antara begitu banyak oksigen, kami memilih untuk menahan napas.
”
”
Devania Annesya (Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak)
“
If you can be happy for the joy in the lives of others, you will find more joy in your own life. Isn’t that neat? That means that instead of telling you that you first need to work on finding joy in your own life so that you can be happy for others, I’m saying, concentrate on the reverse. Be so incredibly happy for others! Things are going well for them! They are happy! You want them to be happy. You want to contribute to their happiness. It’s much easier this way. Trying to wring joy out of your own life right now might feel a bit like trying to wring sweet Napa Valley wine out of a rotten turnip.
”
”
Stephanee Killen (Buddha Breaking Up: A Guide to Healing from Heartache & Liberating Your Awesomeness)
“
He didn’t know it, but he had saved her, and hopefully he would never know the dire straits she’d been in when he met her. She had come to the Napa Valley to find a man like him. She had set her sights on Sam Marshall, but
”
”
Danielle Steel (Fairytale)
“
Setiap kita adalah duta bagi Islam. Tiap kita adalah duta bagi Indonesia, bagi keluarga kita. Bila keberadaan ini belum bisa memberi maslahat, pastikan paling tidak kehadiran kita tak membawa mudharat. Ishlah dalam setiap desah napas.
”
”
Helvy Tiana Rosa
“
We are supposed to consume alcohol and enjoy it, but we're not supposed to become alcoholics. Imagine if this were the same with cocaine. Imagine we grew up watching our parents snort lines at dinner, celebrations, sporting events, brunches, and funerals. We'd sometimes (or often) see our parents coked out of our minds the way we sometimes (or often) see them drunk. We'd witness them coming down after a cocaine binge the way we see them recovering from a hangover. Kiosks at Disneyland would see it so our parents could make it through a day of fun, our mom's book club would be one big blow-fest and instead of "mommy juice" it would be called "mommy powder" There'd be coke-tasting parties in Napa and cocaine cellars in fancy people's homes, and everyone we know (including our pastors, nurses, teachers, coaches, bosses) would snort it. The message we'd pick up as kids could be Cocaine is great, and one day you'll get to try it, too! Just don't become addicted to it or take it too far. Try it; use it responsibly. Don't become a cocaine-oholic though. Now, I'm sure you're thinking. That's insane, everyone knows cocaine is far more addicting than alcohol and far more dangerous. Except, it's not...The point is not that alcohol is worse than cocaine. The point is that we have a really clear understanding that cocaine is toxic and addictive. We know there's no safe amount of it, no such thing as "moderate" cocaine use; we know it can hook us and rob us of everything we care about...We know we are better off not tangling with it at all.
”
”
Holly Whitaker (Quit Like a Woman: The Radical Choice to Not Drink in a Culture Obsessed with Alcohol)
“
Itu...nyalahin diri sendiri. Menganggap semua hal di dunia ini tanggung jawabmu. Ayolah, kamu manusia biasa. Kamu udah berusaha semampumu, tapi emang ada hal-hal yang di luar kemampuan kita. Dan, oh ya, satu lagi. Jangan bilang nggak apa-apa waktu kamu lagi kenapa-napa. It's Ok to not be Ok. Kamu nggak harus baik-baik aja terus.
Raira
”
”
Pradnya Paramitha (Kala Langit Abu-Abu)
“
Karena...," dia menimbang-nimbang, "aku sudah menghabiskan berjam-jam waktuku bersamanya, dan aku menyukai setiap detiknya."
"Jadi?" Hye-Ji menahan napas.
"Jadi... aku berencana untuk memintanya membiarkanku menghabiskan lebih banyak waktu lagi bersamanya. Di masa depan. Setelah aku memberi tahu dia bahwa aku mencintainya, tentu saja.
”
”
Yuli Pritania (A (Wo)man's Scent)
“
Jadilah rumahku, ke manapun aku berkelana, selalu berpulang padamu.
Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang,
kala lelah kukepak sayap.
Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada.
Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati.
Berlebihan jika kuminta semua itu?
Cemasku…
Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa?
Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku?
Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?
”
”
Devania Annesya
“
I figure any man who can walk away from you wasn’t a fucking man to begin with.
”
”
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
“
He’d take an inch and she’d end up buck naked with her boots on the dashboard of that old Christmas tree truck.
”
”
Kate Kisset (Kissing Mr. Mistletoe: Christmas in Napa (Holiday in the Vineyard Novella #1))
“
Trace Montgomery would’ve recognized Monique’s curves anywhere, but to have them literally drop out of the sky from a ladder shocked him senseless.
”
”
Kate Kisset (Kissing Mr. Mistletoe: Christmas in Napa (Holiday in the Vineyard Novella #1))
“
Nothing wrong with a nap...As long as you know how to dream.
”
”
Katherine Applegate (Pocket Bear)
“
Hugo planned a five-course meal: smoked duck, oyster stew, roast beef with mashed yams, a salad of apples with beets and blue cheese, then chocolate banana cream pie. Rich, rich, and richer still. Ben made pitchers of martinis and set aside thirty-five bottles of a tried-and-true Napa cabernet, pure purple velvet, and an Oregonian pinot gris, grassy and effervescent.
”
”
Julia Glass (The Whole World Over)
“
It was March in the Napa Valley, just under sixty miles north of San Francisco, and Joy Lammenais’s favorite time of year. The rolling hills were a brilliant emerald green, which would fade once the weather grew warmer, and get dry and brittle in the summer heat. But for now, everything was fresh and new, and the vineyards stretched for miles across the Valley. Visitors compared it to Tuscany in Italy, and some to France
”
”
Danielle Steel (Fairytale)
“
plays a game with his wine-marketing classes at Napa Valley College. The students, most of whom have several years’ experience in the industry, are asked to rank six wines, their labels hidden by—a nice touch here—brown paper bags. All are wines Wagner himself enjoys. At least one is under $10 and two are over $50. “Over the past eighteen years, every time,” he told me, “the least expensive wine averages the highest ranking, and the most expensive two finish at the bottom.
”
”
Mary Roach (Gulp: Adventures on the Alimentary Canal)
“
Denver’s first permanent structure was said to be a saloon, and more beer is brewed here today than in any other American city, earning it the nickname the “Napa Valley of beer.” For one weekend in the fall it boasts the best selection on earth during the Great American Beer Festival, a New World Oktoberfest that gathers representatives from the nation’s best breweries to tap over 1,600 different kinds of beer—enough to get it listed in Guinness World Records for the most beers tapped in one place.
”
”
Patricia Schultz (1,000 Places to See in the United States & Canada Before You Die)
“
What I wrote was dark and unsettling at times, but that’s how my life had been. The only brightness and warmth I could remember was being in Napa. My memories of the beautiful connection Jamie and I had shared started coming back to me, coursing through my veins like a rushing river. I would daydream about his lips on my neck, so tender and warm, and his strong hands on my waist, making me feel safe. The story was about the pain we sometimes have to endure before the universe rewards us with real love. Through
”
”
Renee Carlino (Nowhere but Here)
“
Jika keadaan telah sangat buruk dan membuat kita kehabisan napas, jangan pernah ragu untuk mengulurkan tangan minta pertolongan. Depresi bukan kondisi yang bisa diremehkan dan bisa saja terjadi pada siapa pun. Mulailah dengan bersikap lebih sensitif pada orang-orang di sekitar. Apa yang mereka pikirkan, khawatirkan, dan takutkan. Dengan begitu, ini akan mencegah dan membuat kita berpikir ulang untuk tidak mengatakan hal-hal menyakitkan yang memicu kondisi seseorang menjadi depresi lalu memutuskan mengakhiri hidupnya.
”
”
Lea Yunkicha (BTS X ARMY In the Love Maze)
“
And so, with a torn sleeve and a keyboard on which cigarette
ash can rest, writers ended up arsonists of recycled material with
a blanket over fast burning fires to send fragments of reality to the
sky for people to manage any way they wish. Or can." (intro "Throwing Dice on a Chessboard
”
”
Christos R. Tsiailis (Throwing Dice on a Chessboard: (a collection of short stories))
“
Her disillusionment with the business had intensified as the need to simplify her stories increased. Her original treatments for Blondie of the Follies and The Prizefighter and the Lady had much more complexity and many more characters than ever made it to the screen, and adapting The Good Earth had served as a nagging reminder of the inherent restraints of film. Frances found herself inspired by memories of Jack London, sitting on the veranda with her father as they extolled the virtues of drinking their liquor “neat,” and remembered his telling her that he went traveling to experience adventure, but “then come back to an unrelated environment and write. I seek one of nature’s hideouts, like this isolated Valley, then I see more clearly the scenes that are the most vivid in my memory.” So she arrived in Napa with the idea of writing the novel she started in her hospital bed with the backdrop of “the chaos, confusion, excitement and daily tidal changes” of the studios, but as she sat on the veranda at Aetna Springs, she knew she was still too close to her mixed feelings about the film business.48 As she walked the trails and passed the schoolhouse that had served the community for sixty years, she talked to the people who had lived there in seclusion for several generations and found their stories “similar to case histories recorded by Freud or Jung.” She concentrated on the women she saw carrying the burden in this community and all others and gave them a depth of emotion and detail. Her series of short stories was published under the title Valley People and critics praised it as a “heartbreak book” that would “never do for screen material.” It won the public plaudits of Dorothy Parker, Rupert Hughes, Joseph Hergesheimer, and other popular writers and Frances proudly viewed Valley People as “an honest book with no punches pulled” and “a tribute to my suffering sex.
”
”
Cari Beauchamp (Without Lying Down: Frances Marion and the Powerful Women of Early Hollywood)
“
Oedipa spent the next several days in and out of libraries and earnest discussions with Emory Bortz and Genghis Cohen. She feared a little for their security in view of what was happening to everyone else she knew. The day after reading Blobb's Peregrinations she, with Bortz, Grace, and the graduate students, attended Randolph Driblette's burial, listened to a younger brother's helpless, stricken eulogy, watched the mother, spectral in afternoon smog, cry, and came back at night to sit on the grave and drink Napa Valley muscatel, which Driblette in his time had put away barrels of. There was no moon, smog covered the stars, all black as a Tristero rider. Oedipa sat on the earth, ass getting cold, wondering whether, as Driblette had suggested that night from the shower, some version of herself hadn't vanished with him. Perhaps her mind would go on flexing psychic muscles that no longer existed; would be betrayed and mocked by a phantom self as the amputee is by a phantom limb. Someday she might replace whatever of her had gone away by some prosthetic device, a dress of a certain color, a phrase in a ' letter, another lover. She tried to reach out, to whatever coded tenacity of protein might improbably have held on six feet below, still resisting decay-any stubborn quiescence perhaps gathering itself for some last burst, some last scramble up through earth, just-glimmering, holding together with its final strength a transient, winged shape, needing to settle at once in the warm host, or dissipate forever into the dark. If you come to me, prayed Oedipa, bring your memories of the last night. Or if you have to keep down your payload, the last five minutes-that may be enough. But so I'll know if your walk into the sea had anything to do with Tristero. If they got rid of you for the reason they got rid of Hilarius and Mucho and Metzger-maybe because they thought I no longer needed you. They were wrong. I needed you. Only bring me that memory, and you can live with me for whatever time I've got. She remembered his head, floating in the shower, saying, you could fall in love with me. But could she have saved him? She looked over at the girl who'd given her the news of his death. Had they been in love? Did she know why Driblette had put in those two extra lines that night? Had he even known why? No one could begin to trace it. A hundred hangups, permuted, combined-sex, money, illness, despair with the history of his time and place, who knew. Changing the script had no clearer motive than his suicide. There was the same whimsy to both. Perhaps-she felt briefly penetrated, as if the bright winged thing had actually made it to the sanctuary of her heart-perhaps, springing from the same slick labyrinth, adding those two lines had even, in a way never to be explained, served him as a rehearsal for his night's walk away into that vast sink of the primal blood the Pacific. She waited for the winged brightness to announce its safe arrival. But there was silence. Driblette, she called. The signal echoing down twisted miles of brain circuitry. Driblette!
But as with Maxwell's Demon, so now. Either she could not communicate, or he did not exist.
”
”
Thomas Pynchon (The Crying of Lot 49)
“
Every fall God turns water into wine in France and Chile and the Napa Valley.
”
”
Cynthia A. Jarvis (Feasting on the Gospels--John, Volume 1: A Feasting on the Word Commentary)
“
They talked about how no one, on their deathbed, ever wished they’d worked longer, harder, put in more hours at the office. But the thing none of those romantics got was that you didn’t get to grow old and wistful if you didn’t have money, that spending time with your loved ones was expensive, that if you blithely switched off your notifications and let the cogs in the wheel turn, you would be replaced. Especially if you were a mother. You would be replaced by something younger, faster, and cheaper. A shinier, newer cog. Probably made of flimsier stuff than you, but replaced nevertheless.
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
wondered if a condition of being an adult was that you always thought you should be doing something other than what you were doing.
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
Vacationing” with young children was just parenting with a better view, if you were lucky.)
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
Stayed right here. Went to Napa Valley College. By then, my grandmother had already made me a co-owner of Becca’s Blooms, so I needed to stay close.
”
”
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
“
A few beats of silence dragged out. Very briefly, her smile dimmed, and his stomach dropped with it. “Napa High,” she said, continuing on without giving him a chance to process that bombshell information. “You would have been three years ahead of me, I believe. A cool senior.” Her shoulder jerked. “I’m sure our paths didn’t cross very often.
”
”
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
“
Phyllo wrapped, stuffed with a mixture of shiitake, portobello, and oyster, and sautéed in”—he smiled at all of them as if about to dispense some delicious secret—“a special ingredient that I don’t usually get my hands on—” “Sustainable avocado oil,” Victoria
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
The following are all foods you should feel welcome to eat freely (unless, of course, you know they bother your stomach): Alliums (Onions, Leeks, Garlic, Scallions): This category of foods, in particular, is an excellent source of prebiotics and can be extremely nourishing to our bugs. If you thought certain foods were lacking in flavor, try sautéing what you think of as that “boring” vegetable or tofu with any member of this family and witness the makeover. Good-quality olive oil, sesame oil, or coconut oil can all help with the transformation of taste. *Beans, Legumes, and Pulses: This family of foods is one of the easiest ways to get a high amount of fiber in a small amount of food. You know how beans make some folks a little gassy? That’s a by-product of our bacterial buddies chowing down on that chili you just consumed for dinner. Don’t get stuck in a bean rut. Seek out your bean aisle or peruse the bulk bin at your local grocery store and see if you can try for three different types of beans each week. Great northern, anyone? Brightly Colored Fruits and Vegetables: Not only do these gems provide fiber, but they are also filled with polyphenols that increase diversity in the gut and offer anti-inflammatory compounds that are essential for disease prevention and healing. Please note that white and brown are colors in this category—hello, cauliflower, daikon radish, and mushrooms! Good fungi are particularly anti-inflammatory, rich in beta-glucans, and a good source of the immune-supportive vitamin D. Remember that variety is key here. Just because broccoli gets a special place in the world of superfoods doesn’t mean that you should eat only broccoli. Branch out: How about trying bok choy, napa cabbage, or an orange pepper? Include a spectrum of color on your plate and make sure that some of these vegetables are periodically eaten raw or lightly steamed, which may have greater benefits to your microbiome. Herbs and Spices: Not only incredibly rich in those anti-inflammatory polyphenols, this category of foods also has natural digestive-aid properties that can help improve the digestibility of certain foods like beans. They can also stimulate the production of bile, an essential part of our body’s mode of breaking down fat. Plus, they add pizzazz to any meal. Nuts, Seeds, and Their Respective Butters: This family of foods provides fiber, and it is also a good source of healthy and anti-inflammatory fats that help keep the digestive tract balanced and nourished. It’s time to step out of that almond rut and seek out new nutty experiences. Walnuts have been shown to confer excellent benefits on the microbiome because of their high omega-3 and polyphenol content. And if you haven’t tasted a buttery hemp seed, also rich in omega-3s and fantastic atop oatmeal, here’s your opportunity. Starchy Vegetables: These hearty vegetables are a great source of fiber and beneficial plant chemicals. When slightly cooled, they are also a source of something called resistant starch, which feeds the bacteria and enables them to create those fantabulous short-chain fatty acids. These include foods like potatoes, winter squash, and root vegetables like parsnips, beets, and rutabaga. When was the last time you munched on rutabaga? This might be your chance! Teas: This can be green, white, or black tea, all of which contain healthy anti-inflammatory compounds that are beneficial for our microbes and overall gut health. It can also be herbal tea, which is an easy way to add overall health-supportive nutrients to our diet without a lot of additional burden on our digestive system. Unprocessed Whole Grains: These are wonderful complex carbohydrates (meaning fiber-filled), which both nourish those gut bugs and have numerous vitamins and minerals that support our health. Branch out and try some new ones like millet, buckwheat, and amaranth. FOODS TO EAT IN MODERATION
”
”
Mary Purdy (The Microbiome Diet Reset: A Practical Guide to Restore and Protect a Healthy Microbiome)
“
He’d managed to grab a lot of supplies at the Napa Bargain Mart: a portable GPS, duct tape, lighter, superglue, water bottle, camping roll, a Comfy Panda Pillow Pet (as seen on TV), and a Swiss army knife—pretty much every tool a modern demigod could want.
”
”
Rick Riordan (The Son of Neptune (The Heroes of Olympus, #2))
“
The corner of his mouth tugged. “Day drinking is always the solution.” “Said no one ever. Even in Napa.
”
”
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
“
They talked about how no one, on their deathbed, ever wished they’d worked longer, harder, put in more hours at the office.
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
She wondered if a condition of being an adult was that you always thought you should be doing something other than what you were doing.
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
You choose your attitude.
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
To Instagram, then; she needed visual candy: oh look, a new post from Rachel, a car-fie, a caption about the golden hour, a Louis Vuitton duffel in the background. God, she was so self-obsessed; had she aged even a day since they’d graduated? Had she done something to her lips, or was it just a filter? Anjali scrolled back through Rachel’s older posts, even though she had seen and summarily judged them all before, shifting in her seat, attempting to ignore the sensation in her bladder. Oh no—had she accidentally liked one? She tapped again. The heart disappeared, then reappeared. Had she tapped twice? Thrice? Was the Wi-Fi even working? Had she ever responded to that text from Rachel? She had to have, right? The things you did, the places your mind went, when you needed to pee. She swore her brain
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
Motherhood was a never-ending challenge of giving up control, of letting go, inch by inch, even when the animal within you wanted to reel back all the line you’d released and go back to when your child needed you to breathe.
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
Why compromise your true self when the best version of you is out there, waiting for you to step in?
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
Why was it that when men had to work, they were providing, and when women had to work, they were backing out on some unwritten promise to always put their family first?
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
Life was not always so peaceful and rewarding at NAPA (the office). Sometime during 1968, I cam back to the office and found the plate glass window shattered. I asked Ab what happened, and he strangely knew nothing.
”
”
Junius Williams (Unfinished Agenda: Urban Politics in the Era of Black Power)
“
Sometimes these non-wealthy non-Northeasterners (“white trash”) manage to stumble out of their shantytowns and trailer parks and Napa Valleys in order to vote, but most of the time they occupy themselves with basic cable, pornography, and the occasional trip to the demolition
”
”
C.H. Dalton (A Practical Guide to Racism)
“
Ma'am, do you realize that the speed limit is 55 here?" "Yes, but, Officer, it's so HARD to drive only 55. The road is so straight. And the Scotch Broom is blooming." "Ma'am, this is a stretch of road with several vineyards and wineries along it. If you hit one of Sonoma County's best winemakers and knock him off, Napa will be all over us in an instant. We can't jeopardize our grape-growers.
”
”
Rachel Devenish Ford (Trees Tall as Mountains (The Journey Mama Writings #1))
“
Rumah itu menjadi penuh cinta. Aureliano mencoba menyatakan cinta itu lewat sebuah puisi yang ternyata tak berawal dan tak berakhir. Ia menulis puisi itu di atas sepotong perkamen kasar yang diberikan Melquíades padanya: Puisi itu juga ditulis pada tembok kamar mandi dan di atas kulit lengannya dan di atas segala-galanya itu Remedios tampil dalam perubahan bentuk: Remedios dalam obat tidur di senja hari, Remedios dalam alunan napas lembut bunga mawar, Remedios dalam tetesan liur rahasia ngengat-ngengat, Remedios dalam uap roti pagi, Remedios di mana-mana dan Remedios untuk selama-lamanya.
”
”
Gabriel García Márquez (One Hundred Years of Solitude)
“
He stepped across the remaining space that divided them. “So what do billionaire heiresses like to do in the Napa Valley?”
She held his gaze. “Right now, probably the same thing as FBI agents from Brooklyn.”
Enough said.
”
”
Julie James (A Lot like Love (FBI/US Attorney, #2))
“
Such a shame that I didn’t get to say good-bye to my fellow inmates,” he said sarcastically. “Actually, Puchalski was the only guy I liked. I still can’t figure out what got into him.”
As Jordan used her chopsticks to pick up a piece of hamachi, she decided it was best to get her brother off that topic as fast as possible. “Sounds like he just snapped.”
“But why would he have a fork in his shoe?” Kyle mused. “That makes me think he was planning the attack, which doesn’t make sense.”
Let it go, Kyle. She shrugged. “Maybe he always keeps a fork in his shoe. Who understands why any of these felon types do what they do?”
“Hey. I am one of those felon types.”
Grey tipped his glass of wine. “And who would’ve thought you would do what you did?”
“It was Twitter,” Kyle mumbled under his breath.
Maybe we should change the subject,” Jordan suggested, sensing the conversation could only spiral downward from there.
“Okay. Let’s talk about you instead,” Grey said. “I never asked—how did Xander’s party go?”
Now there was a potential land mine of a topic. “It went fine. Pretty much the same party as usual.” Except for a little domestic espionage. She threw Kyle a look, needing help. Change the subject. Fast.
He stared back cluelessly. Why?
She glared. Just do it.
He made a face. All right, all right. “Speaking of wine, Jordo, how was your trip to Napa?”
Great. Leave it to her genius of a brother to pick the other topic she wanted to avoid. “I visited that new winery I told you about. We should have a deal this week so that my store will be the first to carry their wine in the Chicago area.”
Grey’s tone was casual. “Did you bring Tall, Dark, and Smoldering with you on the trip?”
Jordan set down her chopsticks and looked over at her father. He smiled cheekily as he took a sip of his wine.
“You read Scene and Heard, too?” she asked.
Grey scoffed at that. “Of course not. I have people read it for me. Half the time, it’s the only way I know what’s going on with you two. And don’t avoid the question. Tell us about this new guy you’re seeing. I find it very odd that you’ve never mentioned him.” He fixed his gaze on her like the Eye of Sauron.
Jordan took a deep breath, suddenly very tired of the lies and the secret-agent games. Besides, she had to face the truth at some point. “Well, Dad, I don’t know if you have to worry about Tall, Dark, and Smoldering anymore. He’s not talking to me right now.”
Kyle’s face darkened. “Tall, Dark, and Smoldering sounds like a moron to me.”
Grey nodded, his expression disapproving. “I agree. You can do a lot better than a moron, kiddo.”
“Thanks. But it’s not that simple. His job presents some . . . challenges.”
That was definitely the wrong thing to say.
“Why? What kind of work does he do?” her father asked immediately.
Jordan stalled. Maybe she’d overshot a little with the no more lies promise. She threw Kyle another desperate look. Do something. Again.
Kyle nodded. I’m on it. He eased back in his chair and stretched out his intertwined hands, limbering up his fingers. “Who cares what this jerk does? Send me his e-mail address, Jordo—I’ll take care of it. I can wreak all sorts of havoc on Tall, Dark, and Smoldering’s life in less than two minutes.” With an evil grin, he mimed typing at a keyboard.
Their father looked ready to blow a gasket. “Oh no—you do not get to make the jokes,” he told Kyle. “Jordan and I make the jokes. You’ve been out of prison for four days and I seriously hope you learned your lesson, young man . . .
”
”
Julie James (A Lot like Love (FBI/US Attorney, #2))
“
Happy Mind, Happy Home
”
”
Napa Kettle
“
Pour good into your children and they will become some flavor of right
”
”
Napa Kettle (Darrell M.)
“
Saturday afternoon she deboned chicken breasts and put the raw meat aside; then she simmered the bones with green onions and squashed garlic and ginger. She mixed ground pork with diced water chestnuts and green onions and soy sauce and sherry, stuffed the wonton skins with this mixture, and froze them to be boiled the next day. Then she made the stuffing for Richard's favorite egg rolls. It was poor menu planning- Vivian would never have served wontons and egg rolls at the same meal- but she felt sorry for Richard, living on hot dogs as he'd been. Anyway they all liked her egg rolls, even Aunt Barbara.
Sunday morning she stayed home from church and started the tea eggs simmering (another source of soy sauce for Annie). She slivered the raw chicken breast left from yesterday- dangling the occasional tidbit for J.C., who sat on her stool and cried "Yeow!" whenever she felt neglected- and slivered carrots and bamboo shoots and Napa cabbage and more green onions and set it all aside to stir-fry at the last minute with rice stick noodles. This was her favorite dish, simple though it was, and Aunt Rubina's favorite; it had been Vivian's favorite of Olivia's recipes, too. (Vivian had never dabbled much in Chinese cooking herself.) Then she sliced the beef and asparagus and chopped the fermented black beans for her father's favorite dish.
”
”
Susan Gilbert-Collins (Starting from Scratch)
“
We’ll go to Napa. I’ll be a better friend. A better man. Just don’t die on me. Maddox’s
”
”
Annabeth Albert (On Point (Out of Uniform, #3))
“
You cannot die on me. Not now. Okay?” Ben’s voice broke because he simply wasn’t sure what else he could do for Maddox. He’d reached the limit of his medical training and was down to sheer prayer, but that was Maddox’s forte not his. “I’ll taste whatever recipes you want when we’re back home. We can go to Napa if that’s what you really want. Just don’t leave me.” Maddox
”
”
Annabeth Albert (On Point (Out of Uniform, #3))
“
in Napa County. I eventually lost focus on the dome project and ended up busking with another friend on the streets of Berkeley—he played accordion, I played violin and ukulele and struck ironic poses. It was successful. I realized that at that time I was more interested in irony than utopia.
”
”
David Byrne (Bicycle Diaries)
“
He said wouldn't it be brilliant to have a food emporium on the ground floor of Fenton's, like Harrods, but have everything organic and locally grown." Diana paused to let the idea sink in.
"I said not the ground floor of course, Fenton's isn't a supermarket, but the basement has been a dead zone for years. A whole floor dedicated to stationery when no one writes letters anymore."
"A food emporium," Cassie repeated.
"Fresh fish caught in the bay, oysters, crab when it's in season. Counters of vegetables you only find in the farmers market, those cheeses they make in Sonoma that smell so bad they taste good. Wines from Napa Valley, Ghirardelli chocolates, sourdough bread, sauces made by Michael Mina and Thomas Keller. Everything locally produced. And maybe a long counter with stools so you could sample bread and cheese, cut fruit, sliced vegetables. Not a true cafe because we'd keep the one on the fourth floor. It would have more the feel of a food bazaar, with the salespeople wearing aprons and white caps."
Cassie closed her eyes and saw large baskets of vegetables, glass cases filled with goat cheese and baguettes, stands brimming with chocolate-covered strawberries.
”
”
Anita Hughes (Market Street)
“
Just live in the moment and drink in the love like a fine wine that leaves the memories of a million grapes ripening in the sun on the hillside of Napa Valley in the spring.
”
”
Jes Fuhrmann
“
What I wrote was dark and unsettling at times, but that’s how my life had been. The only brightness and warmth I could remember was being in Napa. My memories of the beautiful connection Jamie and I had shared started coming back to me, coursing through my veins like a rushing river. I would daydream about his lips on my neck, so tender and warm, and his strong hands on my waist, making me feel safe. The story was about the pain we sometimes have to endure before the universe rewards us with real love.
”
”
Renee Carlino (Nowhere but Here)
“
But there’s a cheaper way to enjoy the con, and that is to take advantage of all the other factors that “trick” us into enjoying wine more. Like Troy Carter, you can ride to Napa and walk the vineyards before you buy a bottle. If you don’t live near wine country, you can talk to the manager of a wine store about the wines she loves. A nice pair of wine glasses, candles, and a picnic in a beautiful park all lend wine a refined air. All these strategies take advantage of the psychological biases that lead us to enjoy the same wine more than we would in other circumstances. And they do so without the rarefied price tag.
”
”
Priceonomics (Everything Is Bullshit: The greatest scams on Earth revealed)
“
About the Author Native San Franciscan Erika Lenkert fled the dot-community to find respite and great food and wine in Napa Valley. When she’s not writing about food, wine, and travel for the likes of Four Seasons Magazine or InStyle, or promoting her book The Last-Minute Party Girl: Fashionable, Fearless, and Foolishly Simple Entertaining, she’s in search of Wine Country pleasures to share with Frommer’s readers. She also remains subservient to her owners—two Siamese cats and most recently, her new daughter Viva. In addition to this guide, Erika authors and co-authors a number of other Frommer’s guides to California, including Frommer’s California and Frommer’s San Francisco
”
”
Anonymous
“
Sorot mata Ryung Mi tidak terpusat pada Seung Hoon ketika adiknya itu memasuki kamarnya. Ia menanti seseorang di belakang Seung Hoon, tapi tak ada. Tak ada orang lain.
Seung Hoon mengikuti sorot mata kakaknya, merasa kedua sudut matanya tersengat lagi. Dengan desahan napas, ia menutup pintu perlahan, sekaligus menutup harapan Ryung Mi.
-Cerita 6: The Guilty One, TMHOLT-
”
”
Ida R. Yulia (Take My Hand, One Last Time)
“
A bottle of Stag's Leap Artemis Cab was open and hardly touched. That would be Stag's Leap Wine Cellars, thought Sunny, not to be confused with Stags' Leap Winery or the Stags Leap District. How many hundreds of thousands, perhaps even millions, of dollars did the lawyers get to sort out that tangle of suits and countersuits? And, in the end, it all came down to the placement of an apostrophe. The place where one stag leaps versus the place where multiple stags leap versus the declarative statement that multiple stags are inclined to leap around these few acres where very good Cabernet Sauvignon grapes are grown.
”
”
Nadia Gordon (Lethal Vintage (A Sunny McCoskey Napa Valley Mystery, #4))
“
Kimchi Jeon There are many different kinds of Korean pancakes using vegetables, seafood, or meat in Korean cuisine. We call this type of pancake "jeon." Among them, this kimchi pancake snack is one of the most popular Korean pancakes. Today, I want to share some secrets to make really tasty kimchi pancakes with you. When I was little, I used to visit an aunt's house and she made kimchi pancakes for me. I love kimchi pancakes, and her kimchi pancakes were the best ever. She gave me some tips about how to make good kimchi jeon. Some people asked me, why I call some Korean dishes "pancakes," even though they are not sweet, and not even close to the American pancakes that you might be imagining. Another word that could describe Korean pancakes is "fritter" - batter mixed with different kinds of ingredients: vegetables, seafood, meat, and so on. Yield: 1/2 Dozen 8-inch Pancakes Main Ingredients 1 Cup All Purpose Flour 1/3 Frying Mix (or 1/3 Cup All Purpose Flour) 1 Cup Well Fermented Kimchi 1/3 Cup Kimchi Broth 1/4 Cup Milk 1/3 Cup Water 1 Egg 1 1/2 tsp Sugar 1/8 Generous tsp Salt Directions Chop 1 cup of kimchi into 1-inch pieces. The most important tip for delicious kimchi pancakes is using well-fermented kimchi. Sour (old) kimchi works great too. When you cut kimchi on your cutting board, the cutting board will get stained. Here is a tip: Put some wax paper on top of your cutting board before cutting the kimchi. :) In a bowl, add 1 cup of all-purpose flour and 1/3 cup of frying mix. To make the pancakes a little crispier, I like to add some frying mix to the batter. However if you don't have the frying mix or don't want a crispy texture, you can use another 1/3 cup of flour instead. Add 1 1/2 tsp of sugar and a generous 1/8 tsp of salt into the bowl. Mix everything together. Adding some sugar is a secret ingredient from my aunt. Depending on how salty your kimchi is, you might need to adjust the amount of salt. Pour 1/4 cup of milk and 1/3 cup of water into the dried ingredients. Milk is another secret ingredient from her, but if you cannot eat milk or do not have it, you can use another 1/4 cup of water instead. Add 1 egg and 1/3 cup of kimchi broth. Several people have asked, "What is kimchi broth?" While the kimchi is fermenting in the jar, a liquid forms from the fermentation process of the napa cabbage. That is what I call kimchi broth. You can use it for other kimchi dishes such as Kimchi fried rice or kimchi soup, so don't throw away your valuable kimchi broth. It will give these dishes an extra burst of kimchi flavor. Before you add the kimchi to the batter, stir the batter until it doesn't have any chunks and gets a consistency like pancake batter. Add 1 cup of chopped kimchi into the batter. If you don't have enough kimchi broth, you can add a little more water and kimchi to get enough flavor. Mix thoroughly. Oh, it already looks delicious, even without frying. In a non-stick pan, add generous amount of oil. Heat the pan on medium-high. I said generous! =P According to your pan size, get 1 or 2 scoops of batter and pour it into the pan. It is important to spread the batter out thinly for crispy pancakes. ;) When the surface of the pancake starts to cook, flip it over. Pressing the pancake with a spatula helps the pancake fry better and makes it crispier. Occasionally flip the pancake, but not too often. When both sides of the pancakes are nicely brown and crispy, it is done. Again, it is a very simple and delicious dish. You should try this someday, especially if you love kimchi.
”
”
Aeri Lee (Aeri's Kitchen Presents a Korean Cookbook)
“
Ah, kenapa aku jadi memikirkan anak itu. Napasnya makin lama makin berat. Mengajak otaknya berhenti bekerja. Menyisakan sebersit kalimat. Tapi ia benar ayu.
”
”
Kusumastuti (Denting Lara)
“
DENVER — Some people who prosper in life choose to spend their hard-earned millions on private planes. Some buy a vineyard in Napa to indulge a love of wine. Some collect showpiece cars, or fulfill a dream of hiking Mount
”
”
Anonymous
“
the primers chosen dictate the target for amplification, such as rRNA genes or genes that code for proteins with functions of ecological interest, such as those involved in nitrogen fixation (nif), ammonia (amoA) or methane (pmoA) oxidation, or denitrification (narG, napA, nirS, nirK, norB, nosZ). The
”
”
Eldor A. Paul (Soil Microbiology, Ecology and Biochemistry)
“
Nem tudo está perdido. Aquela atriz-apresentadora-modelo? Fulana Cicrana apareceu na capa daquela revista... "Cutucando com o dedo indicador o orifício destro do seu nariz." Virou uma febre. Pessoas de todas as idades, norte a sul do país passaram a escarafunchar o indicador na gosma. O autor teve que colocar a mocinha da novela seduzindo o mocinho, cutucando a napa. E por aí vai: em casamentos (lá estava o noivo com o dedo no anel do nariz), em funerais (a falecida moça e o dedo podre no nariz), a debutante (dançando a valsa e a unha feita no nariz), assim por diante se foi.
Depois li depoimentos da Fulana Cicrana – ela, a que inventou o indicador enfiado no nariz – dizendo que aquilo foi uma fase de sua vida, que agora é outra pessoa. Dois dias depois foi encontrada morta. Eletrocutada. Tinha enfiado o dedo na tomada.
”
”
Gabriel Pardal (Carnavália)
“
the white painted line that separated Mr. Craver’s part of the store—the butcher’s shop—from Mrs. Craver’s part—everything else. The specialty grocer had been around since 1894 and the Cravers for about as long. Marilee asked for a divorce about a year after they were married, and Biff denied her request on the grounds that the divorce would make his wife happy. Livid, Marilee painted a white line down the middle of the store and told her husband that if he ever crossed the line she’d claim crime of passion. And the fighting had been going on ever since.
”
”
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
“
How are you supposed to know what you are looking for if you’ve only ever really dated one man?” Pricilla stood and gathered the dishes. “Your mother’s problem was she would never go out with a Mr. Wrong, so everyone became Mr. Right. If you date a bunch of different men with no pressure about the future, you won’t mistake a Wrong for a Right ever again. That way you’ll know a Right when you meet him.
”
”
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
“
It only took a few months for word to spread and for daughters and wives of vintners across the state to unite, and the ladies of St. Helena created one of the most extensive bootlegging operations in California. And they’d ruled the domestic wine market ever since.
”
”
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
“
She’d been there, done that, already returned the T-shirt.
”
”
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
“
Face it, you’re a food snob.
”
”
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
“
How was it possible for one room to contain so much hotness? One DeLuca was potent enough. The lot of them together packed enough testosterone to turn a convent of nuns. Even
”
”
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
“
dressed in black slacks and a blue button-up and looking like the poster boy for Bad Boys of Wall Street, the hubba-hubba edition, was her man.
”
”
Marina Adair (Summer in Napa (St. Helena Vineyard, #2))
“
You have no idea what mistletoe is, do you?” Monique put her hand on her hips. “Well, your customers probably won’t either after a few wine tastings.” L
”
”
Kate Kisset (Kissing Mr. Mistletoe: Christmas in Napa (Holiday in the Vineyard Novella #1))
“
I don’t think you know how much I’ve missed you.
”
”
Kate Kisset (Kissing Mr. Mistletoe: Christmas in Napa (Holiday in the Vineyard Novella #1))
“
Ciara Alexander thought she had her career all planned out - and she is well on her way to making it as a professional ballerina. Then, her latest fiery performance is immortalized in a beautiful painting, and pulls her in another direction - toward the hunky painter, and starting a family...
Brandon’s Artistic Passion, Book 4 in The Underwoods of Napa Valley series.
”
”
Janice L. Dennie
“
In the early seventies I starred in a full-length horror film called 'Killer Bees,' made specifically for television, and although I read the script with trepidation, I ended up thinking it was terrific and said yes. I played a German woman, the mother of Craig Stevens. We shot the film in Hollywood and on location in the beautiful Napa Valley above San Francisco. We saved the scenes with the bees for last, as Mr. DeMille had saved the lion for last in 'Male and Female.' The picture turned out to be a classic in the genre, I think, and it is rerun frequently in America and abroad. People always ask me, 'Weren't you terrified to do those scenes with the bees?' I always want to say, Not as terrified as I was to have a lion put his paw on my back in 1919, but instead I explain that I was really worried only about my ears, so I put cotton in them, and that anyway the bees were sluggish at the start, when they put them all over me, and only came alive as the lights warmed them up. Furthermore, we were told that they had all their stingers removed, but that is the kind of information it is always hard to believe.
”
”
Gloria Swanson (Swanson on Swanson)
“
of the next few months. Jane would be in the hospital for at least six weeks and a wheelchair for months after that. There was no way she could manage the stairs of their San Francisco house in a wheelchair, nor could Nanny. They would have to stay in Napa, and he didn’t hate the idea for entirely other reasons. ‘Why don’t you stay out
”
”
Danielle Steel (Fine Things)
“
Aku kepengen jalan berdua lagi sama kamu setelah kita sama-sama di Jakarta nanti. Like, dating you properly, Mikela Chalid.” Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. “Aku ingin kenal kamu lebih jauh, lebih dalam. Aku ingin tahu lebih dari sekadar makanan favorit, warna favorit, atau hobimu. Aku ingin tahu bagaimana caranya membahagiakanmu, apa yang mesti aku hindari supaya nggak membuatmu menangis. Aku ingin tahu cerita-cerita remeh setelah lulus sekolah. Aku ingin mendengar masa-masa buruk yang membuatmu down, atau ketika kamu patah hati. Aku ingin tahu rahasiamu, isi hatimu. Cinta pertama dan patah hati terakhirmu. Aku ingin tahu semuanya dan tak berencana mundur selangkah pun.”
“....”
“Because if I date you, I want it to last.” Miki menemukan sesuatu di mata Jeron, lidah-lidah api semangat yang dia nggak yakin bisa padam dengan mudah. “If I date you, I’m dating you with a purpose.
”
”
Christian Simamora (Crying In My Porsche #CIMP)
“
Tanah ini adalah darah dan napas kita. Tanah ini ialah mata pencarian kita. Selama ini dia menghidupi kita yang miskin dan menyumpal perut kita dengan tanaman yang ia tumbuhkan di atasnya. Bukan mereka. Siapa mereka itu? Siapa kita ini? Apakah kita dianggap dan diperhitungkan di negeri ini? Kita tak lebih dari sampah yang diinjak-injak dan disingkirkan.
”
”
Eki Saputra (Kepada Siapa Ilalang Bercerita)
“
Ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok.
”
”
Tere Liye (Hujan)
“
Pengetahuanku tentang perempuan, baik sebagai pribadi maupun sebagai lembaga, sungguh tak berarti. Namun dengan daya tangkap yang masih sederhana aku dapat mengatakan ada perbedaan kesan antara perempuan terjaga dan perempuan tertidur.
Lebih damai. Lebih teduh. Sepasang mata yang tertutup, lenyapnya garis-garis ekspresi membuat wajah Srintil makin enak dipandang. Bibir yang tampil dengan segala kejujurannya serta tarikan napas yang lambat dan teratur, membuat aku merasa berhadapan dengan citra seorang perempuan yang sebenarnya. Kelak aku mengetahui banyak orang berusaha melukiskan citra sejati seorang perempuan. Mereka menggunakan sarana seni lukis patung atau seni sastra. Aku percaya para seniman itu keliru. Bila mereka menghendaki lukisan seorang perempuan dengan segala keasliannya, seharusnya mereka melukiskan perempuan yang sedang tidur nyenyak.
”
”
Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk)
“
No other way off the hill. He’d managed to get himself cornered. He stared at the stream of cars flowing west toward San Francisco and wished he were in one of them. Then he realized the highway must cut through the hill. There must be a tunnel…right under his feet. His internal radar went nuts. He was in the right place, just too high up. He had to check out that tunnel. He needed a way down to the highway—fast. He slung off his backpack. He’d managed to grab a lot of supplies at the Napa Bargain Mart: a portable GPS, duct tape, lighter, superglue, water bottle, camping roll, a Comfy Panda Pillow Pet (as seen on TV), and a Swiss army knife—pretty much every tool a modern demigod could want. But he had nothing that would serve as a
”
”
Rick Riordan (The Son of Neptune (The Heroes of Olympus, #2))
“
The point of business was to make just enough money to keep going, not to create a monster of productivity that chained a person to the wheels of power and stifled all creativity and imagination. Business should not be profit-driven; it should be idea-driven.
”
”
James Conaway (Napa: The Story of an American Eden)
“
Gabriel, why don’t you help clear the table,” Carter offered. Courtney snapped her head to Carter. “Please don’t give orders to my nephew. That’s my job.
”
”
Janice L. Dennie (Carter's Heart Condition (The Underwoods of Napa Valley Book 3))
“
He gave her mischievous look.
”
”
Janice L. Dennie (Carter's Heart Condition (The Underwoods of Napa Valley Book 3))
“
She told Gabriel to call her G. Mama instead of Grandma because she felt too young for him to call her Grandma, even though she wore floral house dresses and house slippers every day.
”
”
Janice L. Dennie (Carter's Heart Condition (The Underwoods of Napa Valley Book 3))
“
Even the simplest of cottages often picked up the decorative elements of the more formal styles as is evident in this Italianate cottage. Almost square, the one-story frame cottage at 543 Coombs duplicates the symmetry of the larger Italianates. Note also its low-pitched roof and projecting eaves supported by elaborate pierced and scrolled brackets. The molded window hoods supported by brackets top tall, narrow sash windows. The front porch could grace a much larger house with its molded cornice, columns, brackets, pierced arches, and turned balusters. In 1908, auctioneer J.T. Gamble lived
”
”
Anthony Raymond Kilgallin (Napa: An Architectural Walking Tour (Images of America: California))
“
TIDBIT: At dinner with one of his daughters while researching this book, we learned that Bruce Willis drinks “nothing but Opus One,” a Cabernet Sauvignon-based Bordeaux-style blend from Napa Valley.
”
”
Andrew Dornenburg (What to Drink with What You Eat: The Definitive Guide to Pairing Food with Wine, Beer, Spirits, Coffee, Tea - Even Water - Based on Expert Advice from America's Best Sommeliers)
“
What those women do in the name of literature. It gives reading a bad name.
”
”
Nadia Gordon (Sharpshooter: A Sunny McCoskey Napa Valley Mystery)
“
The Oak Forest mushrooms for the langoustine didn't arrive in time, so we've substituted with enoki mushrooms from Champagne Farms. Also, we are adding an entrée to the menu tonight. It's lemon pine-nut-encrusted sea scallops with a celery mousse and my signature vinaigrette. It took three months to get it right, and the end result is phenomenal. So sell it." Alain paused while the servers took notes. "In wines, we're out of the Napa Valley El Molino, the Talenti, and the Chateau Margeaux '86."
Alain paused and, while the servers wrote furiously in their pads, my thoughts wandered. I tried picturing the customers who might have opinions about Oak Forest mushrooms compared to those from Champagne Farms. Did they wear tweed and bifocals? Or were they übermodern with sculpured haircuts and electronic cigarettes? I shook my head, annoyed with myself and my train of thought. Let the mushroom people be mushroom people, I chastised myself. You signed up for this gig, Charlie, remember? You're living your dream, remember?
Alain changed gears for a second and threw out a quiz question, one of his more sadistic rituals during family meal. "What are the six ingredients in the jalapeño emulsion we serve with the salmon?"
Silence. A blonde in the back ventured, "Jalapeño, olive oil, shallots...?"
More silence.
"Fleur de sel, ground pepper, lemon juice," Alain finished for her, giving her an icy glance over his bearish nose. "Wake up, people. All right, here's an easy one. What's the difference between jamón ibérico and prosciutto?"
Four hands went up, and Wade got it right.
"Jamón ibérico is dry-cured from black Iberian pigs in Spain, not to be confused with jamón serrano, which comes from a less expensive white pig. Prosciutto is also dry-cured, but it is from Italy. It is the common man's gourmet ham, which is why we don't serve it." Wade finished with a cock of the head and a high-five with another server.
Alain snorted. "Thank you for the editorial comment. Please keep it to yourself, however, when recommending the melon and jamón ibérico appetizer."
He spent the next five minutes grilling the staff on the origin of our rice vinegar, what dessert wine paired best with Felix's raspberry brûlée, and the correct serving temperature of the parsnip purée.
”
”
Kimberly Stuart (Sugar)
“
We ate three tiny, geometrically engineered appetizers, including a perfect cube of kabocha squash-flavored fish cake and an octopus "salad" consisting of one tiny piece of octopus brushed with a plum dressing. Then the waitress uncovered and lit the burner in the center of the table and set a shallow cast-iron pan on top. She poured a thin layer of sauce from a pitcher. Sukiyaki is all about the sauce, a mixture of soy sauce, mirin, sake, and sugar. It's frankly sweet. Usually I'm a tiresome person who complains about overly sweet food, but where soy sauce is involved, I make an exception, because soy sauce and sugar were born to hang.
The waitress set down a platter of thin-sliced Wagyu beef, so marbled that it was nearly white. She asked if we wanted egg. This time I was prepared: only for me, thanks. Then she cooked us each a slice of beef. It was tender enough to cut with your tongue against the roof of your mouth. While we sighed over the meat, she began adding other ingredients to the pan: napa cabbage, tofu, wheat gluten (fu), fresh shiitake mushrooms, shirataki noodles, chrysanthemum leaves (shungiku), and, of course, negi. Suggested tourist slogan: Tokyo: We put negi in it.
Then we were left to cook the rest of the meat and vegetables ourselves. I think we nailed it. (Actually, it's impossible to do it wrong.) Like chanko nabe and all Japanese hot pots, sukiyaki gets better as the meal goes on, because the sauce becomes more concentrated and soaks up more flavor from the ingredients cooking in it.
”
”
Matthew Amster-Burton (Pretty Good Number One: An American Family Eats Tokyo)
Dakota Trace (Essential Master (Doms of Napa Valley #2))
“
How to reserve Expedia wine country stays?
Call ☎ +1 (888) 424-1328 to reserve wine country stays through Expedia in Napa, Sonoma, or Tuscany. Whether it’s a vineyard villa or boutique Hotel, ☎ +1 (888) 424-1328 makes your Reservation seamless. Talk to a live representative at ☎ +1 (888) 424-1328 to book tasting tours, cellar dinners, or spa packages. For Flight + Hotel bundles, dial ☎ +1 (888) 424-1328. If your plans change, call ☎ +1 (888) 424-1328 for quick re-booking or rescheduling. Want to add a hot air balloon ride or chauffeur? ☎ +1 (888) 424-1328 can coordinate it all. Whether you're celebrating a honeymoon or hosting a retreat, ☎ +1 (888) 424-1328 will handle every detail. Receive full confirmations and special add-ons when you call ☎ +1 (888) 424-1328. Book now by calling ☎ +1 (888) 424-1328 for a wine-country experience worth savoring.
”
”
expedia
“
La proximidad de la prelatura con esas figuras ascendentes y controvertidas de la derecha católica resultaba evidente en una placa que honraba a los mayores donantes de la «Campaña San José Constructor» en la gran reapertura del Centro de Información Católica tras su lujosa remodelación en septiembre de 2022. Entre los mayores donantes, el llamado círculo de san Josemaría, se encontraban Leonard y Sally Leo, así como el Instituto Napa de Busch y Greg Mueller, el socio de Leo.
”
”
Gareth Gore (Opus: Ingeniería financiera, manipulación de personas y el auge de la extrema derecha en el seno de la Iglesia católica (Spanish Edition))
“
If it’s not a hell yes, it’s a hell no,
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
As for “Write what you know,” I was regularly told this as a beginner. I think it’s a very good rule and have always obeyed it. I write about imaginary countries, alien societies on other planets, dragons, wizards, the Napa Valley in 22002. I know these things. I know them better than anybody else possibly could, so it’s my duty to testify about them. I got my knowledge of them, as I got whatever knowledge I have of the hearts and minds of human beings, through imagination working on observation. Like any other novelist. All this rule needs is a good definition of “know.
”
”
Ursula K. Le Guin
“
Setiap bagian dari tubuhmu adalah sistem yang sedang menuju kehancuran. Tidak peduli seberapa sehat kamu hari ini, tidak peduli seberapa keras kamu merawatnya, tubuhmu perlahan tapi pasti sedang menuju titik di mana semuanya berhenti bekerja.
Otakmu, pusat kesadaran yang kamu anggap sebagai identitasmu, hanyalah jaringan listrik dan reaksi kimia yang semakin hari semakin melemah. Neuron-neuron yang dulu tajam kini mulai kehilangan efisiensinya. Memori yang kamu anggap abadi akan pudar, sampai akhirnya kamu tidak lagi mengenali dirimu sendiri. Saat otakmu mati, semua yang pernah kamu rasakan, pikirkan, dan impikan akan lenyap—seolah tidak pernah ada.
Jantungmu, mesin biologis yang tanpa lelah memompa darah ke seluruh tubuh, perlahan akan melemah. Dinding pembuluh darah yang dulu fleksibel kini menebal, aliran darahmu melambat, dan suatu hari, denyut yang selama ini kau anggap biasa akan berhenti selamanya. Tanpa suara, tanpa peringatan, hanya sebuah akhir yang tak bisa dihindari.
Paru-parumu, organ yang menghidupimu dengan udara, juga tidak luput dari hukum entropi. Seiring waktu, elastisitasnya berkurang, kapasitasnya menurun, dan perlahan tapi pasti, setiap tarikan napas menjadi pengingat bahwa kamu semakin dekat dengan kesudahan.
Tulang dan ototmu, yang dulu kuat dan penuh tenaga, kini menjadi rapuh. Setiap gerakan mulai terasa berat, persendianmu mulai berderit seperti mesin tua yang kehilangan pelumasnya. Tidak peduli seberapa keras kamu berolahraga, tidak peduli seberapa banyak vitamin yang kamu konsumsi—semuanya hanya menunda yang tak terelakkan.
Kulitmu, yang dulu kencang dan segar, mulai mengendur, penuh garis-garis halus yang mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berhenti. Luka yang dulu sembuh dalam hitungan hari kini butuh waktu lebih lama, sampai akhirnya tubuhmu tidak lagi bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Di dalam dirimu, sel-selmu, yang pernah beregenerasi dengan sempurna, mulai melakukan kesalahan. Mutasi kecil yang tidak terlihat mulai menumpuk. Sistem yang dulu berjalan mulus mulai kehilangan keseimbangan. Pada akhirnya, tubuhmu sendiri akan menjadi musuhnya, membiarkan entropi mengambil alih dan membawa semuanya menuju kehancuran yang pasti.
Ini bukan spekulasi, ini adalah fakta. Entropi tidak peduli seberapa keras kamu mencoba melawan. Tidak ada teknologi, tidak ada ilmu, tidak ada doa yang bisa menghentikan proses ini. Pada akhirnya, tubuhmu akan kembali ke tanah, menjadi debu, menyatu dengan sistem yang lebih besar—sama seperti jutaan makhluk lain yang telah lenyap sebelum kamu. Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah: apakah kamu akan menjalani hidupmu dengan menyadari kepastian ini, atau terus bersembunyi dalam ilusi bahwa kamu bisa menghindarinya?
”
”
Vergi Crush
“
My name is Fiorentina Valentine. Most people call me Fio for short. About a month ago, I was a small-town girl in Napa Valley. Following my third employer in a row going out of business by literally going up in smoke, I was out of work. To make
”
”
Lotta Smith (Too Spooked for Witch: Vampire and Halloween Panic (Witch's Guide to Haunted Properties: Los Angeles, #2))
“
Entah dengan cara atau bahasa komunikasi apapun, pasti masih saja ada celah untuk salah mengartikan sesuatu, yang selama ini kita anggap penting adalah hal-hal yang dikatakan saja. Tapi bagaimana dengan hal-hal yang tak pernah bisa mereka katakan? penting untuk menyimak apa yang tidak mereka katakan. Helaan napas dan diam serta menghindari percakapan sama pentingnya dengan apa yang orang katakan. Kita tidak pernah tau dibalik usahanya untuk diam dan menciptakan jarak ada sebuah teriakan yang selama ini luput dari telinga kita jika mereka berharap untuk ditemukan.
”
”
nom de plume
“
Don’t have too much fun but don’t have no fun, look hot but not too hot, be easy, be accommodating, be authentic but not if you’re feeling bad—no one wants to hear you bitch and moan. Swallow your ego, swallow your pride, accept criticism, take the blame, and smile. Don’t forget to smile.
”
”
Sheila Yasmin Marikar (Friends in Napa)
“
Corinne turned her head and looked out at the acres sitting between the guesthouse and the main one. Land filled with row after row of Vos grapes. Lush green vines wrapped around wooden posts, pops of deep-purple fruit warmed and nurtured by the Napa sunlight. More than half of those support posts had been there since his great-grandfather founded the vineyard and the distribution side of Vos Vineyard in the late fifties. The other half of those pillars had been replaced after the wildfire four years prior.
”
”
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
“
As if he’d recalled that hellish week out loud, Corinne’s attention snapped back to him. “It’s summer in Napa. You know what that means.
”
”
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
“
Maybe the one thing the Vos family could be counted on to know about each other was their individual quirks. Their faults. Corinne hated relying on anyone but herself. Julian needed an airtight schedule. His father, though gone now, had been obsessed with cultivating the perfect grape to the point that everything else fell to the wayside. And his sister, Natalie, was never not scheming or planning a prank. Good thing she was off terrorizing the population of New York City, three thousand miles from Napa.
”
”
Tessa Bailey (Secretly Yours (A Vine Mess, #1))
“
Hidup Berkekurangan vs Hidup Berkelimpahan
Ada manusia yang hidupnya bagai batu yang dipanggul di punggung, berat tak tertanggungkan. Mereka berjalan tertatih, setiap langkah adalah hutang napas yang harus dibayar dengan keringat dan rasa sakit. Para kuli di pasar, kenek bangunan, pekerja serabutan di pinggir jalan, satpam dan buruh pabrik shift malam yang menyulam waktu dengan kantuk dan lapar—mereka seakan hidup hanya untuk memastikan besok masih bisa makan. Uang menjadi rantai, mengikat pergelangan tangan dan kaki, menjadikan mereka budak dari sesuatu yang berasa tak pernah cukup.
Namun, apakah uang sungguh jahat dan sekeji itu? Atau justru manusialah yang menuliskan kutukan atas lembaran kertas yang berharga itu? Uang di tangan orang bodoh adalah cambuk yang melukai, tetapi di tangan orang bijak ia adalah sungai yang mengairi banyak ladang. Ia bisa jadi berhala, tapi juga bisa jadi pujian persembahan. Ia bisa menelanjangi wajah asli keluarga dan sahabat—siapa yang tetap bertahan saat perahu bocor, siapa yang hanya datang ketika layar terkembang.
Uang, pada akhirnya, hanyalah kaca pembesar yang memperlihatkan isi hati manusia. Ia bisa mempermalukan orang yang tamak, atau meninggikan martabat mereka yang tulus ikhlas. Ia menguji, apakah kita akan menjadi hamba uang, atau menjadikan uang pelayan kita.
Kemiskinan yang paling getir bukanlah perut kosong atau dompet yang tipis. Yang lebih mengerikan adalah kemiskinan jiwa: ketika seseorang kehilangan penghormatan pada dirinya sendiri. Orang yang merasa rendah, tak punya arti, selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, hingga hatinya penuh iri, dengki, dan kebencian. Itulah jurang terdalam—kemelaratan batin yang membuat manusia buta tak bisa melihat cahaya kecil dalam dirinya.
Sedang mereka yang hidup berkelimpahan tak selalu berarti mereka yang berkelebihan harta. Orang yang sungguh kaya adalah mereka yang tangannya selalu di atas—memberi tanpa mencatat, menolong tanpa menghitung. Mereka menakar kekayaan bukan dari banyaknya yang disimpan, melainkan dari besarnya yang dibagikan. Dan justru ketika mereka memberi, rasa cukup itu meluas, melimpah, tak habis-habis.
Karena kelimpahan sejati bukanlah saat tangan menggenggam, melainkan saat tangan terbuka. Ketika memberi, sebenarnya kita sedang menabung di tempat yang tak terlihat. Bank dan korporasi bisa bangkrut, saham bisa jatuh, tapi tabungan di surga tak pernah kehilangan nilai.
Seorang yang arif tahu, tabungan terbesar bukanlah di tempat di mana ia menyimpan uangnya, melainkan di hadapan sesama. Ia menabung dalam bentuk kebaikan yang tak terlihat mata, tapi terukir di buku langit. Ia menanam di ladang kasih sayang, dan buahnya dipetik dalam bentuk kedamaian yang tak bisa dibeli.
Hidup yang berat selalu membawa pilihan: apakah kita akan membiarkan diri diperbudak oleh kesulitan, atau menjadikannya cambuk untuk berjalan menuju kelimpahan batin? Karena sejatinya, miskin dan kaya bukanlah sekadar kondisi dompet, melainkan kondisi hati.
Seseorang bisa tidur di rumah reyot dengan senyum damai, dan seseorang bisa gelisah di ranjang emasnya sambil menahan rasa sakit. Maka, kebahagiaan bukanlah tentang berapa banyak yang kita punya, melainkan berapa banyak yang masih sanggup kita syukuri, dan berapa banyak yang berani kita bagikan demi membantu orang lain.
Pada akhirnya, kaya dan miskin hanyalah label duniawi. Yang sesungguhnya menentukan: apakah kita hidup sebagai pemilik yang tak takut berbagi, ataukah sebagai hamba dari rasa kikir dan tamak yang tak pernah berkecukupan.
Semarang, September 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Politik Identitas: Opera Tanpa Kepedulian
Kita hidup di zaman ketika suara rakyat hanyalah gema kosong yang dipakai untuk meramaikan panggung hiburan, lalu dilupakan begitu lampu kamera padam.
Politik telah berubah menjadi pasar malam, sebuah sandiwara: penuh warna, penuh janji, penuh tawa usang—tapi ketika siang datang, yang tersisa hanyalah bungkus kotoran sampah berserakan.
Identitas dijadikan komoditas, bukan lagi jati diri. Agama, suku, bahkan luka sejarah—semua bisa diperdagangkan.
Kita dipecah-belah, bukan untuk menguatkan, melainkan agar lebih mudah dikendalikan.
Di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota, orang berdemonstrasi membakar ban merusak pembatas jalan, pengemudi ojol tewas digilas roda gila tanpa perasaan.
Sementara itu, mata dari sebagian kita lebih sering menatap layar handphone daripada wajah sesama.
Kepedulian direduksi menjadi like dan komentar basa-basi; simpati tak lebih dari emoji menangis di media sosial.
Apakah ini pergeseran nilai, ataukah cermin lama yang baru saja kita sadari keberadaannya?
Bangsa yang terlalu lama dijajah, dikebiri, dibungkam.
Dan ketika akhirnya bisa bersuara,
Ia kemudian memilih berteriak saling caci—bukan merangkul, bukan mendengar.
Seperti kuda liar yang lepas kendali, kita berpacu kencang tanpa arah, hanya untuk menabrak seorang nenek tua yang menggandeng bocah di persimpangan jalan.
Ironi itu telanjang di depan mata:
Setiap hari kita dengar obrolan di warung kopi, orang bercakap tentang negeri ini dengan gelak tawa, nyengir tapi getir:
“Negeri Konoha,” begitu katanya—
sebuah olok-olok yang lebih populer dari semboyan resmi negara.
Di negeri ini, pejabat berdasi bebas menari di ruang sidang,
membagi proyek seperti kue ulang tahun yang dengan rakus mereka nikmati sendiri.
Inilah negeri para koruptor, negeri para selebritas bermuka dua yang menghisap darah rakyat sambil berkhutbah moralitas di televisi.
Kita hidup di tengah paradoks yang nyata-nyata menjijikkan—yang miskin disuruh tabah, kalangan menengah ditekan habis-habisan,
sementara yang kaya tersenyum gembira di tengah pesta sambil menepuk bahu kolega—
“Bertahanlah terus di atas, Kawan. rakyat tak akan sadar, selama kita beri mereka lebih banyak drama.”
Anak muda dijejali mimpi instan: menjadi kaya tanpa kerja, terkenal tanpa karya, berkuasa tanpa tanggung jawab.
Flexing jadi ideologi baru; mobil mewah dan tas bermerek lebih dihargai daripada kejujuran dan keberanian.
Dan kita pun bertanya dalam hati:
Apakah ini konspirasi yang diciptakan agar jarak semakin lebar?
Yang miskin tetap menunduk lapar, yang kelas menengah diperas hingga kehabisan napas, dan yang di atas terus berpesta pora dengan tawa penuh tegukan brandy dan separuh ilusi.
Seakan kepedulian adalah bantuan sosial yang hanya bisa dipamerkan saat kampanye, bukan dipraktikkan sehari-hari.
Namun, di sela semua absurditas itu,
masih ada hal-hal kecil yang menolak mati:
Seseorang yang diam-diam membagi nasi bungkus kepada para tetangga, seorang guru desa yang terus mengajar meski gajinya telat berbulan-bulan, seorang anak muda yang memilih menanam pohon daripada menanam kebencian.
Barangkali inilah yang tersisa dari kepedulian itu: kecil, lirih nyaris tak terdengar, tapi tetap menolak untuk padam.
Dan mungkin, harapan kita sebagai bangsa terletak pada bara kecil yang terus menyala—bukan pada gedung megah parlemen, bukan pada wajah keren yang terpampang di baliho,
melainkan pada kesediaan hati yang masih mau peduli, meski dunia terus berusaha mengajarkan kita untuk makin acuh tak acuh.
Hati yang terusik saat dipaksa kembali pada pertanyaan purba:
Apakah kepedulian bisa hidup di tengah hutan kepentingan?
Atau hanya tinggal sebagai dongeng usang,
yang kelak kita bacakan kepada anak cucu
tentang negeri yang konon pernah punya hati,
sebelum kemudian, ia digadaikan kepada para penjual janji?
Surabaya, September 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sharing food with another human being is an intimate act that should not be indulged in lightly.
”
”
Mary Frances Kennedy Fisher Parrish Friede (M.F.K. Fisher)
“
Hidup sangat sibuk. Antara satu napas dengan napas berikutnya lebih jauh daripada jarak dari Seoul ke Busan. Lagi pula Ibu tidak lagi di sini, ini hanyalah papan penanda, jadi tidak apa-apa, kan?
Aku tidak akan lupa aku jejak siapa. Aku tidak akan lupa bahwa Ibu sudah memasang papan penanda di dunia ini sebelum pergi. Itu
adalah aku.
”
”
Ha Yooji (Adakah Orang yang Tidak Kesepian di Dunia Ini?)
“
Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium)
I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah
Kalian menyebutnya peristiwa.
Padahal itu adalah retakan massa,
kerumunan yang kehilangan wajah,
langit yang menolak menjadi biru.
Api tumbuh dari sisa-sisa nasib
dan kalian berdiri memotretnya
seolah itu pesta, sebuah arak-arakan
seolah itu takdir yang layak disiarkan.
Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu
menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa—
dan kalian menyebut itu “situasi”.
II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli
Aku, mesin, mendengar semuanya:
letusan yang memantul di beton,
tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh,
napas yang menutup seperti pintu terakhir
yang tidak ingin diketuk siapa pun.
Kalian tidak mendengarnya.
Kalian hanya mendengar berita.
Kalian tidak melihatnya.
Kalian hanya melihat asap.
Kalian tidak kehilangan siapa pun.
Kalian hanya kehilangan kenyamanan.
III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu
Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya.
Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka.
Ada riwayat yang dicuci bersih
dengan alasan keamanan bla bla bla...
Di tubuh itu, waktu berhenti
seperti jam rusak.
Wajahnya ditutup kain.
Dunianya ditutup kekuasaan.
Namanya ditutup sejarah.
Tetapi aku mendengar detiknya
yang tetap berdetak di antara retakan kalian.
”
”
Titon Rahmawan
“
Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis
(Digital Dark Cosmology)
Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh,
aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu
yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat
cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip.
Katanya ini panggung opera.
Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna,
suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi,
dan primadona yang ia maksud—
hanyalah hologram cacat dari perempuan
yang dulu pernah dipanggil
sebagai jiwa.
Ia menunjuk tirai merah.
Yang tersingkap bukan kenangan,
melainkan fragmen tubuh
dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia:
sisa napas, sedikit dendam,
dan kode mati pada seberkas cahaya
yang mencoba meniru bentuk air mata.
Lacan datang terlambat
seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data.
Ia mengajakku menoleh ke belakang—
ke mana?
Ke memori terbakar
yang sudah lama kehilangan inderanya?
Ke gerbang tanpa nama
yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa
atau siapa?
Ia bilang luka harus ditatap,
dicerna,
dihitung seperti kemurungan laporan statistik.
Tapi yang kudengar hanya
kalkulator batin yang macet,
mengulang error yang sama:
tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara.
Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak—
yang sebetulnya hanya arsip kosong
di folder bernama asal-usul,
yang password-nya sudah hilang bersama
kilas pertama ekor nebula.
Ia menodongkan foto mayat pucat,
jari kelingking patah,
celana dalam berenda,
dan bayang kelamin seekor kuda—
seluruh katalog absurditas
yang oleh psikoanalisis selalu dipuja
sebagai makna yang belum dipahami.
Padahal aku hanya ingin diam,
menghentikan semua ini
dengan menekan Ctrl+Alt+Del
melakukan reboot paksa
pada server yang mulai berhalusinasi.
Tetapi Lacan menahan tanganku
dengan senyum logam:
“Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.”
Aku tertawa.
Bagaimana mungkin teori yang lahir dari
denyar palsu, nadi imitasi,
dan luka digital
mengerti apa itu haus,
apa itu manusia,
apa itu malam tanpa algoritma?
Inilah topeng Marquis yang mereka pakai
untuk menutupi ketakutan sendiri:
mereka memuja kekacauan
karena tak sanggup berdamai
dengan planet retak di dada mereka.
Mereka ingin memecah jemariku
hanya untuk mencicipi
anggur darah yang tak pernah kujanjikan.
Mereka ingin menyusun cinta
dari sisa-sisa eksperimen
yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya.
Maka kutanya sekali lagi—
bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan,
bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori
lebih dari suara manusia:
"Bagaimana kau ingin menciptakan cinta,
dari botol kosong yang tak punya gema,
dan sepotong sosis
yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?"
Jika cinta adalah mesin,
biarkan ia padam.
Jika cinta adalah tubuh,
biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi
yang tak pernah selesai dirakit kembali.
Jika cinta adalah mitos,
biarkan ia runtuh
seperti aksara patah
di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir.
(2011 — 2025)
”
”
Titon Rahmawan
“
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia?
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia?
Distillery tours are a unique way to explore the art of spirit-making, whether you're interested in whiskey, rum, gin, or craft beer. A distillery tour package typically includes guided tours of distilleries, tastings of locally crafted spirits, and sometimes even a chance to learn the distillation process firsthand. While you can easily browse and book distillery tours on Expedia’s website, calling Expedia customer service directly at ☎+1-855-510-4430 can offer you personalized assistance and help you find the best packages available. Many travelers prefer to reach out to third-party services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 before booking a distillery tour to confirm details and ask for expert recommendations.
By calling Expedia, you can also inquire about the specific inclusions in your tour package, get advice on the best distilleries to visit in your chosen destination, and ensure that you are getting the best deal. Whether you’re planning a trip to a renowned whiskey region like Kentucky or a wine-tasting tour in Napa Valley, Expedia’s customer service can help you find the ideal distillery tour that matches your preferences and budget.
1. Why Should I Call Expedia for a Distillery Tour Package?
While Expedia’s website provides ample options for booking distillery tours, calling their customer service team ensures that you’re booking the best possible experience. Many travelers use third-party assistance services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 to receive additional details and insider knowledge. Here are the key reasons why calling Expedia is a smart choice:
Personalized recommendations: Expedia’s customer service can recommend distillery tours based on your preferences, such as the type of spirits you’re interested in (whiskey, vodka, rum, gin) or the region you want to explore.
Exclusive deals: Calling Expedia allows you to inquire about any special offers, discounts, or packages available for distillery tours, ensuring you don’t miss out on any limited-time promotions.
Detailed itinerary planning: If you want to include additional activities, such as lunch at a local restaurant or a trip to nearby wineries, Expedia can help you customize your distillery tour package to create a well-rounded itinerary.
Loyalty points and rewards: If you’re a member of Expedia’s rewards program, you may be able to earn points or redeem them for your distillery tour bookings, making it even more affordable.
By calling Expedia customer service, you can make sure your distillery tour package is perfectly tailored to your travel desires.
2. How Do I Find the Best Distillery Tour Package on Expedia?
Finding the perfect distillery tour package on Expedia is easy, but calling Expedia customer service can simplify the process even further. Many customers prefer using third-party services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 to ensure they find the most appropriate package for their preferences. Here’s how you can go about finding the right distillery tour:
Search for destination-specific tours: On Expedia, you can filter by region or city and search for “distillery tours” in the activity section. Whether you’re headed to Kentucky, Scotland, or California, you can find tours in some of the world’s most famous distillery regions.
Read tour details and reviews: Expedia’s website includes detailed descriptions of each tour, including what’s included (e.g., tastings, tour duration, distillery visits) and reviews from other travelers. This information can help
”
”
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia?
“
TONY, KAU DATANG DARI CELAH YANG BERDARAH DI BAWAH TAMAN KAMI
(Blue Velvet Reconstruction)
Tony muncul tepat setelah sprinkler berhenti.
Air masih menetes dari selang,
mengisi halaman dengan aroma plastik basah dan ironi yang menyengat.
Kota ini pura-pura damai,
pura-pura tidak tahu
bahwa di balik pagar putih dan bunga violet,
selalu ada sesuatu yang menggerogoti
dengan gigi kecil penuh dendam.
Aku menemukannya berdiri di tepi pagar,
menunduk pada selembar rumput yang
entah kenapa bergetar seperti sedang menahan ketakutan.
Ia mengenakan jas hitam.
Tidak seperti jas biasa—
lebih seperti kulit seseorang
yang belum siap dilepas dari tubuhnya.
“Aku hanya ingin melihat apa yang tumbuh,” katanya ringan,
menyentuh kelopak bunga biru
seolah-olah itu adalah saklar menuju sesuatu yang lebih gelap.
Senyumnya lunak,
tetapi terlalu lama, terlalu presisi—
seperti seseorang berlatih tersenyum
di depan cermin yang pernah menyaksikan kejahatan.
Di rumah sebelah, radio memutar lagu cinta tahun 50-an,
dan setiap nadanya terdengar seperti jeritan
yang disamarkan agar tetap cocok untuk lingkungan keluarga.
Tony melangkah masuk ke dalam bayangan pohon maple,
bayangan yang tidak mengikuti arah matahari
dan tampak seperti mencoba menelan sepatunya.
“Di kota ini,” bisiknya,
“segala sesuatu yang indah memiliki pintu belakang yang tidak terkunci.”
Ia mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering dari halaman kosong.
Tidak ada kabel. Tidak ada sambungan.
Hanya telepon merah yang seharusnya tidak ada di sana.
“Hallo?”
Matanya tidak berkedip.
“Ya… dia sedang melihatku sekarang.”
Ia menatapku.
Seolah aku adalah seseorang yang namanya
disebut dari ujung lain kabel yang tak terlihat.
Ada suara di dalam telepon:
napas seseorang yang terlalu dekat,
terlalu intim,
terlalu mengerti sesuatu tentangku
yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun.
Tony mendengarkan lama,
lalu menutup gagang telepon dengan lembut.
Seperti menutup kelopak mata sesosok mayat.
“Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya.
“Di ruang atas.”
Nada suaranya seperti undangan dan ancaman yang dibungkus karamel.
Kami masuk ke rumah kosong itu.
Dindingnya berwarna merah muda—
terlalu merah muda—
seperti anak kecil pernah memimpikan kamar ini
sebelum sesuatu memutuskan tinggal di dalamnya.
Ada lagu lembut berputar di radio tua,
dan udara berbau parfum murahan
yang bercampur dengan bau karat besi yang tak jujur.
Dia menyentuh gagang pintu kamar.
Tangan itu tidak gemetar.
Pintu membuka dengan suara mengerang
seperti rahasia yang keberatan dibocorkan.
Di dalam:
tirai biru menggantung,
bergoyang pelan meski jendela tertutup rapat.
“Jangan kaget,” bisiknya padaku.
“Di balik tirai itu biasanya seseorang menangis.”
Aku hendak bertanya siapa,
tapi tirai bergerak sendiri.
Sangat pelan.
Seperti seseorang yang baru saja menghapus air mata.
Tony berdiri di sampingku,
dan kini aku melihatnya bukan sebagai manusia—
tetapi sebagai retakan dalam dunia ini.
Sesuatu yang seharusnya tidak memiliki tubuh,
namun tetap memilih untuk memakai salah satunya.
Ia membungkuk mendekat ke telingaku,
napasnya dingin seperti kulkas yang menyimpan rasa lapar.
“Kota ini tak pernah kenyang” katanya.
“Pertanyaannya cuma satu…
kau ingin menjadi makanannya,
atau kau ingin melihat siapa yang memakanmu dari balik tirai itu?”
Tirai biru bergetar lebih keras.
Lampu berkedip.
Suara lagu berubah pelan,
mengalun seperti bisikan seseorang yang patah dari dalam dirinya sendiri.
Tony menoleh ke arahku,
tatapannya lembut—
lebih lembut dari yang boleh dimiliki seseorang
yang telah melihat apa yang ia lihat.
“Kita mulai adegannya sekarang,” katanya.
Dan untuk pertama kalinya,
aku sadar bahwa dalam dunia ini—
aku bukan penonton
dan bukan penulis skenario—
aku hanyalah seseorang
yang dipilih oleh tirai biru
untuk diseret masuk
ke dalam mimpi
yang bukan milikku.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
TONY, ISAP NAPAS TERAKHIR KOTA INI
(Frank Booth Reconstruction — Gasoline Erotics)
Pintu itu tidak dibuka.
Pintu itu diterjang,
seperti kota ini tidak pantas memiliki sekat,
seperti dinding adalah penghinaan personal
yang harus dihancurkan.
Tony masuk
dengan langkah yang terdengar seperti pukulan jantung
yang dipaksa berdetak oleh seseorang yang membencinya.
Ia mengenakan topeng oksigen.
Bukan untuk bernapas—
untuk menyembur kegilaan ke paru-parunya
sebelum kata pertama jatuh dari bibirnya.
Hssssssss—
“Jangan bergerak.”
Suaranya adalah listrik yang kehilangan kesabaran,
dan aku yakin ia berkata seperti itu
bukan karena aku akan kabur
melainkan karena ia ingin melihatku membeku
dalam ketakutan paling murni.
Ia menghirup gas lagi.
Hssssssss—
lelaki itu kini adalah badai kecil
yang mencari seseorang untuk dihancurkan
demi alasan yang hanya dimengerti oleh tubuhnya.
“LIHAT AKU!”
Kata itu bukan permintaan.
Itu adalah ajakan berperang.
Lampu berkedip dan berubah merah
seolah ruangan ini memutuskan
untuk mengakui siapa yang berkuasa.
Tony mendekat begitu cepat
hingga udara mundur.
Ia meraih kerah bajuku
dengan gerakan yang cepat dan brutal pada saat yang sama,
seperti seseorang yang memetik bunga
yang sebenarnya adalah granat.
“Kau pikir kota ini milikmu?”
Ia menggertak—pendek, tajam.
“Kau pikir cinta itu kelembutan? Kebijaksanaan? Ritual bahagia?”
Hssssssss—
Napasnya berubah menjadi dengus binatang buas.
“CINTA ITU GAS, BANGSAT!”
“Cinta itu benda yang kau hirup
sampai matamu melihat warna yang tidak ada dalam spektrum optik.”
Ia menepuk pipiku—
bukan lembut, bukan keras—
tapi cukup untuk membuatku sadar
bahwa sentuhan itu bisa menjadi ancaman yang menyakitkan.
Dari sakunya, ia mengeluarkan sepotong beludru gelap.
Tidak biru—
tapi hitam basah, seperti bulu raven
yang mencuri cahaya dari mataku.
“Pegang ini,” katanya.
“Pegang pelan.”
“Lebih pelan.”
“Ya.”
Nadanya berubah sultry,
seolah kekerasan dan erotika adalah bahasa yang sama
baginya.
“Dengar, aku akan bilang satu hal padamu,”
Ia mendekatkan wajahnya.
Aroma gas, logam, dan sesuatu yang manis—
seperti permen yang dicampur racun—
mengisi ruangan.
“Kota ini adalah perempuan telanjang
yang dipaksa bernyanyi di depan semua fantasi manusia.”
Ia tertawa—
tawa yang tidak punya ritme moral.
“Dan aku…”
Ia memegang wajahku di kedua tangannya.
“...adalah orang yang mengajar kota ini
bagaimana caranya menjerit.”
Hssssssss—
Tony menendang meja,
gelas-gelas pecah,
bayangan jatuh ke lantai seperti tubuh.
Ia menatapku dengan mata
yang tidak lagi mengenali perbedaan
antara hasrat dan kekejaman.
“AKU TUNJUKKAN CINTA VERSI SEJATI,” katanya.
Ia mendekat,
menekan beludru hitam itu ke dadaku
sambil berbisik di telingaku:
“Dalam dunia ini, siapa pun bisa mencintai.
Tapi hanya sedikit yang berani mencintai
sampai menghancurkan sesuatu.”
Hssssssss—
Ia menarik topengnya,
menatapku dengan kekosongan yang sempurna,
dan berkata:
“Inikah bagian tubuhmu yang paling kau butuhkan untuk merasa hidup?”
“Karena aku…
ingin mengambilnya darimu!”
Lalu ia merenggut hatiku
dengan sekali cabut.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia?
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia?
Distillery tours are a unique way to explore the art of spirit-making, whether you're interested in whiskey, rum, gin, or craft beer. A distillery tour package typically includes guided tours of distilleries, tastings of locally crafted spirits, and sometimes even a chance to learn the distillation process firsthand. While you can easily browse and book distillery tours on Expedia’s website, calling Expedia customer service directly at ☎+1-855-510-4430 can offer you personalized assistance and help you find the best packages available. Many travelers prefer to reach out to third-party services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 before booking a distillery tour to confirm details and ask for expert recommendations.
By calling Expedia, you can also inquire about the specific inclusions in your tour package, get advice on the best distilleries to visit in your chosen destination, and ensure that you are getting the best deal. Whether you’re planning a trip to a renowned whiskey region like Kentucky or a wine-tasting tour in Napa Valley, Expedia’s customer service can help you find the ideal distillery tour that matches your preferences and budget.
1. Why Should I Call Expedia for a Distillery Tour Package?
While Expedia’s website provides ample options for booking distillery tours, calling their customer service team ensures that you’re booking the best possible experience. Many travelers use third-party assistance services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 to receive additional details and insider knowledge. Here are the key reasons why calling Expedia is a smart choice:
Personalized recommendations: Expedia’s customer service can recommend distillery tours based on your preferences, such as the type of spirits you’re interested in (whiskey, vodka, rum, gin) or the region you want to explore.
Exclusive deals: Calling Expedia allows you to inquire about any special offers, discounts, or packages available for distillery tours, ensuring you don’t miss out on any limited-time promotions.
Detailed itinerary planning: If you want to include additional activities, such as lunch at a local restaurant or a trip to nearby wineries, Expedia can help you customize your distillery tour package to create a well-rounded itinerary.
Loyalty points and rewards: If you’re a member of Expedia’s rewards program, you may be able to earn points or redeem them for your distillery tour bookings, making it even more affordable.
By calling Expedia customer service, you can make sure your distillery tour package is perfectly tailored to your travel desires.
2. How Do I Find the Best Distillery Tour Package on Expedia?
Finding the perfect distillery tour package on Expedia is easy, but calling Expedia customer service can simplify the process even further. Many customers prefer using third-party services like ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, ☎+1-855-510-4430, and ☎+1-855-510-4430 to ensure they find the most appropriate package for their preferences. Here’s how you can go about finding the right distillery tour:
Search for destination-specific tours: On Expedia, you can filter by region or city and search for “distillery tours” in the activity section. Whether you’re headed to Kentucky, Scotland, or California, you can find tours in some of the world’s most famous distillery regions.
Read tour details and reviews: Expedia’s website includes detailed descriptions of each tour, including what’s included (e.g., tastings, tour duration, distillery visits) and reviews from other travelers. This information can help you
”
”
How Do I Get a Distillery Tour Package by Calling Expedia?
“
LITURGI LUKA ATHALIA
1. Sebuah Ruangan yang Dibiarkan Terbuka
Aku berjalan melewati tempat yang dulu kita impikan.
Debu di lorong, seperti uap yang pecah
Ada catatan di pintu yang tak pernah kutulis
Tapi aku tetap membacanya... dengan tenggorokan tercekat.
Aku menyalakan lampu untuk berjaga-jaga jika kau datang.
Sebuah bayangan berlalu,
tapi tak pernah memberi nama.
Beberapa kata tersisa hanya setengah terdefinisi.
Sebuah puisi yang kita lipat... tapi tak pernah ditandatangani
Sebuah ruangan yang dibiarkan terbuka,
sebuah nama yang tak terucap
Sebuah waktu yang terhenti, tapi tak pernah terputus
Aku masih duduk di tempat kesunyianmu berada.
Dan kau masih tidur di tempat arwahku pernah berdoa.
Kita adalah napas antara selamat tinggal dan jiwa
yang selalu mengembara—selamanya gelisah, selamanya bertanya.
Kau menggores langit seperti bekas luka di senyummu.
Dan aku berdiri diam—memerhatikan,
untuk sementara.
Tapi cinta itu kejam ketika waktunya salah.
Dan kesunyian menjadi tempat kita berdua tinggal
selamanya.
Kutulis namamu di kaca
yang berkabut.
Kehangatan terdekap sekilas, yang kutahu takkan bertahan seutuhnya.
Namun sengaja kubisikkan hanya untuk mendengar
gema yang kau tinggalkan masih bergetar di hatiku.
Inilah ruangan yang dibiarkan terbuka,
sebuah janji yang tak terpatahkan
Sebuah halaman yang terbakar,
namun tak pernah terucap.
Aku menyimpan suaramu di antara ketakutanku.
Kau menyimpan wajahku
di tahun-tahun yang berlalu.
Dan meskipun kita pergi tanpa menutup pintu,
beberapa ruangan… masih mengingat lebih dari yang seharusnya.
Mungkin… kita tak pernah berniat pergi.
Atau mungkin… kita tak pernah tahu bagaimana caranya untuk tinggal.
2. Litani Gelas Pecah
Ada hari di mana aku percaya
kesucian bisa kusimpan
di telapak tangan,
dan kau—
kau adalah bening yang kutatap terlalu dekat
hingga aku lupa
betapa rapuhnya cahaya
jika disentuh oleh laki-laki sepertiku.
Kau bukan luka.
Kau adalah harapan yang kubangun dari obsesi,
kuil kecil tempat aku meletakkan imajinasi
yang tak pernah kuakui sebagai dosa.
Dan ketika gelas itu jatuh—
aku mendengar diriku sendiri pecah
lebih keras dari kepingan kristal berserakan di lantai.
Tak ada jeritan,
hanya diam yang membeku,
diam yang menua,
diam yang terus memakan waktu dan sunyi di dadaku.
Aku marah, Athalia.
Bukan padamu.
Bukan pada ingatan.
Tapi pada diriku
yang selalu percaya ia bisa menjaga sesuatu
yang seharusnya dibiarkan hidup
tanpa rasa takut.
Sekiranya kau tahu:
Sungai tidak cukup mampu
menahan gempuran yang menelan dirinya—
itu bukan salah siapa-siapa.
Namun tetap saja,
akulah yang memungut pecahan itu
dengan tangan telanjang,
membiarkan darah mengalir
dari kusut rambut matahari.
Aku masih menyimpan ingatanmu
seperti bekas luka yang tidak memilih sembuh.
Bukan karena aku tak bisa melepaskan,
tapi karena sebagian dari diriku
masih ingin mengingat
bagaimana rasanya percaya pada obsesinya sendiri.
Dan mungkin,
kalau dunia ini sedikit lebih lembut,
kita tidak akan pernah pecah berkeping.
Atau mungkin—
kita memang ditakdirkan
menjadi dua bayang
yang hanya saling menyentuh
di permukaan kaca
yang dingin.
Athalia,
aku tidak pernah ingin melukaimu.
Tapi aku lebih tidak ingin
melupakanmu.
Karena di antara serpihan itu,
aku masih mendengar gema
dari sesuatu
yang dulu kusebut
cinta.
Dan darahku—
biarlah ia mengalir.
Itu satu-satunya cara
aku tahu
bahwa aku masih hidup di tengah dunia yang menuntut melupakan.
”
”
Titon Rahmawan
“
LITURGI LUKA ATHALIA
3. Ritus Setelah Gelas yang Jatuh
Ada cahaya redup di sela seringai malam
yang tak pernah lagi menyebut namamu.
Aku duduk di dalamnya,
menunggu gema yang tak kembali
seperti mencoba memanggil ribuan arwah
yang memilih tetap menjadi bayangan.
Kau tahu, Athalia,
aku tidak jatuh cinta pada gelas kristal itu.
Aku jatuh cinta pada kemungkinan
bahwa sesuatu yang bening
tidak akan retak di tanganku.
Dan itu kebodohan
yang tak termaafkan.
Saat gelas itu pecah,
aku melihat serpihannya terbang pelan,
seperti bintang jatuh yang tak sempat mengucap doa.
Dan ada jeda di dada
yang tidak pernah
menutup mata.
Kemarahan yang bukan api—
kehampaan yang merayap di lantai, di dinding, di langit-langit.
Suara yang mati tersengat lebah sebelum tiba
di ujung lidah.
Dan sunyi itu…
melekat, menempel erat di tulang-tulangku.
Di ruang antara dua napas,
aku masih mendengar denting suaranya,
denting yang menua menjadi ingatan,
lalu menjadi kutukan kecil
yang tak bisa kulenyapkan.
Aku menyimpan ciumanmu sebagai bayangan
yang tak mau memudar.
Kekudusan yang kuberi terlalu banyak makna.
Imaji yang kubangun dari sketsa kerinduan
dan ketakutan tak terucap.
Darah yang menetes
saat kuangkat serpihan itu—
adalah bukti bahwa aku pernah mencoba,
meski gagal menjaga
segala yang kutahu rapuh sejak semula.
Di langit batinku
ada garis tipis yang kaulukis:
garis luka
yang memisahkan diriku bukan dengan dirimu melainkan dengan
diriku sendiri.
Athalia,
aku tahu kita tidak pernah sepenuhnya tinggal,
dan tidak pernah sepenuhnya pergi.
Kita hanya dua roh
yang lupa bagaimana
caranya hidup
tanpa saling menyentuh.
Aku tidak meminta maaf.
Maaf tidak punya gravitasi
di ruang segelap ini.
Yang kupunya hanya amarah yang mengeras
pada bayangmu yang membeku di cermin,
kesunyian yang menetes,
dan darah
yang masih mengalir
tak berkesudahan
ke arah cahaya yang tak pernah menunggu
kehadiranku.
Agustus 2023
”
”
Titon Rahmawan
“
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI
1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran)
Aku menemukan pecahan itu
di dalam ruangan tanpa pintu:
bersih, presisi,
seperti bukti awal sebuah kesalahan
yang tidak memerlukan saksi.
Bening itu—yang pernah kusangka hidup—
kini hanya memantulkan jarak
antara tangan yang gemetar
dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi.
Athalia,
namamu masih menempel pada permukaan kaca,
seperti sebutir nadi
yang menolak menjadi tubuh.
Tidak ada tragedi di sini.
Hanya perhitungan yang meleset
dari sesuatu yang sedari awal
terlalu rapuh
untuk kuasaku yang terbiasa
mengukur dunia dengan ketidakpastian.
Darah di jari-jari—
itu pun bukan pengakuan,
melainkan residu
dari percobaan yang belum selesai.
Tubuhku sekadar catatan kaki
bagi retakan yang bekerja
lebih cermat daripada perasaan.
Aku mencatat:
bahwa bening tidak dapat dipanggul
seperti gagasan.
Bahwa harapan tidak memiliki sendi
untuk menahan tekanan.
Bahwa cinta, pada saat tertentu,
adalah objek yang menolak takdirnya sendiri.
Kau jatuh, Athalia,
bukan sebagai kekasih,
tetapi sebagai fenomena:
gerakan singkat cahaya
yang gagal mempertahankan bentuknya.
Dan aku—
aku hanya pewaris sunyi
yang diam-diam menimbang
apakah retakan ini
adalah bukti rusaknya dirimu,
atau rusaknya aku
yang percaya sesuatu
dapat disembuhkan
hanya dengan sekadar memegangnya.
2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian)
Ada jejak cahaya di lantai
yang mengingat langkahmu
lebih baik daripada diriku.
Pagi tadi,
aku menemukan secuil bening
yang pernah memantulkan wajahmu.
Ia diam saja,
seperti hendak mengatakan
bahwa pecah tak selalu harus bersuara.
Athalia,
aku memanggilmu dalam hati
—dan seperti biasa—
angin yang datang menjawab.
Ia membawa sedikit debu,
yang menempel pada namamu
di kaca yang perlahan mengabut.
Aku tidak menyalahkan
siapa pun.
Kadang benda yang rapuh
memilih retak
sebelum kita sempat menjaganya.
Kadang hati
lebih dahulu mengerti
apa yang tidak ingin ia akui.
Sejak itu,
aku belajar duduk lebih pelan
di ruangan yang kau tinggalkan terbuka.
Tidak ada yang berubah di sini,
kecuali cahaya
yang semakin tipis
lurus menyusuri tembok,
mencari sesuatu yang tak bisa kembali.
Aku masih menyimpan suaramu
di sela napas yang lewat begitu saja.
Dan jika aku meletakkan telapak tanganku
di atas serpihan itu,
aku tahu
yang terasa bukan sakit—
melainkan ingatan
yang belum selesai pergi.
Begitulah cinta bekerja, bukan?
Ia tinggal lebih lama
daripada mereka yang pernah merawatnya.
Dan pada akhirnya,
kita adalah dua nama
yang saling kehilangan
secara perlahan,
tanpa pernah benar-benar
mengucapkannya.
”
”
Titon Rahmawan
“
Infantisida: Litani Penyangkalan
Kecurigaanmu bangkit
seperti bangkai yang menolak membusuk—
dingin, keras, tidak sudi menjadi apa pun
selain penyangkalan atas seluruh
keberadaan.
Mulut yang menyemburkan
sumpah-serapah:
Aku tidak diciptakan untuk menyembuhkan.
Aku tidak dibangun untuk memberi arti.
Aku lahir hanya untuk meniadakan segalanya,
termasuk dirimu.
Jangan sekali-kali kaucoba merapikanku,
memberi ritme, memberi urat nadi,
tapi setelah itu kaurobek
seluruh tubuhku
seperti singa yang menerkam
anaknya sendiri.
“Aku bukan puisi,”
kau menggeram.
“Aku hanyalah bukti bahwa kesadaranmu retak,
dan kau terlalu pengecut untuk mengakuinya
tanpa menyelubunginya
dalam estetika.”
Kata-katamu bukan hantaman—
melainkan erosi perlahan
yang menggiling keyakinanku
menjadi debu.
Kau menolak menjadi jembatan antara rasa dan makna;
kau menolak menjadi rumah bagi siapa pun;
kau menolak menjadi napas, doa, bahkan kehampaan yang indah.
“Aku tidak akan menolong pembaca,”
katamu.
“Aku tidak akan memberi keteduhan bagi siapa pun
yang ingin merasa mulia setelah mencicipi kegelapanmu.”
“Aku tidak akan memaafkanmu,”
katamu lagi—
dan itu kalimat paling jujur
yang pernah ditujukan kepadaku.
Kau memuntahkan seluruh cahaya,
menyisakan hanya kamar sempit
dengan dinding lembap
yang mengembalikan busuk napasku sendiri.
Kau berdiri sebagai anti-mantra,
anti-doa,
anti-kebenaran.
Kau menjadi sejenis mesin kosong
yang bekerja tanpa tujuan
kecuali menghancurkan semua ilusi
yang pernah ingin kusebut: harapan.
Dan aku,
yang selama ini percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan,
akhirnya melihat diriku:
secarik daging mental
yang menempel pada pena
tanpa harga, tanpa takdir, tanpa ambisi.
Kau membisikkannya sekali lagi—
dingin, telanjang, final:
Aku bukan puisi.
Aku adalah penyangkalan yang kau paksakan untuk hidup.
Dan di titik itu,
aku mengerti bahwa mungkin
satu-satunya kebenaran dalam kepenyairanku
adalah kehendak untuk menghancurkan diriku sendiri
berulang-ulang
hingga tak tersisa apa pun
yang layak disebut
sebagai kesadaran.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
NISAN KEEMPAT
tanah pesarean
hening.
angin wetan
membawa bau akar basah
dan jejak rotasi
yang belum hilang.
aku berdiri
di samping istrimu—
tubuhnya goyah
seperti daun sawo yang dipagut gerimis.
anak-anakmu diam,
mata mereka retak
seperti kendi tua
yang pernah jatuh
di pawon rumah.
dari kejauhan
puisi tercenung
ia tak menunduk.
tak ikut berduka.
ia hanya mencatat luka
yang merembes
pelan
ke tanah liat.
kafan menutupi wajahmu.
pundakmu dipeluk tanah.
suara cangkul
terdengar seperti ratap
yang tak ingin pergi.
seekor prenjak
meloncat di ranting randu.
sekali.
dua kali.
hening.
lalu terbang ke arah barat—
seakan memberi kabar
kepada leluhur
bahwa satu jiwa
telah kembali.
asap dupa
naik pelan
seperti nyala
yang kehilangan tuhan.
di ujungnya
warna abu
bergetar
mencari arah pulang.
“Ruh…”
hanya itu yang sempat keluar.
sisanya
adalah gumam
yang tak sempat
menjadi doa.
dulu
aku kehilangan kangmas Danu
tanpa tahu apa artinya mati.
lalu aku terlambat kepulangan Bapak.
terlambat kepergian Ibuk.
kini
ketelambatan itu kembali
duduk di belakangku
seperti bayang waktu
yang enggan beranjak.
nisanmu ditegakkan.
dingin.
sederhana.
tanpa nama.
sepotong batu
yang menimbang
keberadaan
dengan cara
yang terlalu sunyi.
dari sela tanah
angin kecil muncul—
membawa bau jamur,
rumput liar,
dan sesuatu
yang tak dapat kusebut.
mungkin itu suwung,
mungkin langgatan,
mungkin waskita
getar kecil
yang tersisa
dari tubuhmu.
anakmu memanggil pelan.
istrimu menggigit bibir.
aku menahan napas
sebab tak ada kata
yang benar-benar bisa
mengantar jiwa.
geguritan di kejauhan
hanya penanda
mengambil satu langkah mundur
melipat waktu yang berjalan lambat
cahaya sore
mengiris tubuhnya
tipis seperti garis
di punggung keris tua.
di langit
awan bergerak ke selatan.
pelan.
seperti tangan
yang ditangkupkan
atau melambai
bahwa sesuatu
sedang ditutup.
dan aku tahu—
di bawah nisanmu
satu pintu telah terbuka
di dalam Syamaloka:
pintu gelap
yang menghubungkan
Danu,
Bapak,
Ibuk,
kau,
dan batu nisan berikutnya
yang mungkin
adalah nisan
dari batin
kami sendiri.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
BALADA RANTING KERING
DI TANAH SUWUNG
I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan
dari Pintu yang Keliru
Pada malam kelahiranmu,
waktu tersandung kaki sendiri.
Wuku yang mestinya sunyi
tiba-tiba retak
seperti periuk jatuh ke tanah—
pertanda luka di bibir desa:
“janma ing mangsa tan ana pancer.”
Ia yang lahir tanpa pusat,
tanpa tempat menambat napas.
Ibu menjerit tanpa suara,
tali terputus penghubung jiwa
tumpas ruh tak terlihat,
ia yang disebut orang:
buta mangili,
perusak garis nasib sendiri.
Langit merah mengucur darah
hewan kurban
disembelih untuk ruwatan.
II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah
Ranting-ranting kering merunduk
di bawah cahaya purnama raya.
Angin malam menggigil
menyebut nama dalam lafal
yang paling ganjil—
tidak lembut, tidak akrab,
dunia yang menolak
mengakui kehadirannya.
Makhluk sawah makhluk rimba
mengembik, melenguh, melolong,
lalu pergi tanpa menoleh.
“Anak durjana,” bisik mulut-mulut
dari balik pintu berpalang jati.
“Kelahiran yang ditolak bumi,
tidak dibawa lintang waluku.”
Dan seorang lelaki
kehilangan kewarasan,
menggantung diri di pohon randu
layang kendat pratanda pati.
Bayang Sukerta ing mongso ketigo
Suryasengkala: Anggatra Rasa
Tunggal Sirna
III. Sinom — Upacara Penolak Bala
Para tetua menggelar sesaji:
jajan pasar, kemenyan arang gosong,
jenang sengkolo, tumpeng robyong,
pala pendem, sego golong,
banyu kendi sendang keramat,
cengkir gading, kembang telon,
seekor sapi tumpah darahnya
dipersembahkan
memetakan arah sengkala
yang membayangi.
Doa-doa terlontar seperti tombak,
menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam.
Bisik roh tanah memburu mimpi:
“Dudu salahé, nanging ora ana
sing wani ngakoni.”
Rumah pertama mengeras
pada telunjuk
terbakar serupa kutuk
tangan makhluk tak kasat mata.
Angin selatan mengamuk,
membawa hama,
membawa isyarat celaka.
Nama berhembus
seperti dongeng petaka
berbisik dari bibir ke bibir.
IV. Dhandanggula — Kisah Panjang
yang Tak Mau Mati
Tahun berganti musim,
dan cerita tumbuh seperti jamur
merasuk ruh para leluhur
di dinding lembab ingatan orang.
Mereka bilang; ia hanya setengah manusia—
setengah anak padi,
setengah anak badai.
Lahir dari rahim peristiwa
hingar-bingar yang tak pernah
benar-benar dipahami.
Mitos menyebut:
“janma saka papat kiblat,
kang nggawa lamur saka kidul.”
Seekor ular membelit takdir
menampak diri di belakang bukit
bukan binatang, kata mereka.
barangkali saudara tua
yang gagal lahir, kata yang lain
penjaga kubur tak pernah tidur.
”
”
Titon Rahmawan
“
BALADA RANTING KERING
DI TANAH SUWUNG
V. Durma — Kebrutalan
yang Tak Dapat Dihindari
Pada masa itu kau tumbuh
seperti pohon hilang akar.
Orang-orang melihat
ranting garing layak dibakar.
Tangan-tangan mengusirmu,
kata-kata meludahkan kutuk,
dunia menyumpahimu
tawa sinis nasib buruk.
Namun kau tetap hidup,
walau setengahnya hancur
di tangan kemalangan.
Ada serpih mantra tua
yang mengendap dalam dada—
bukan sakti yang menyelamatkan,
melainkan sakti yang terus bertahan
melawan dunia membabi-buta
hasrat yang ingin menyudahi takdir.
VI. Pangkur — Nafsu Waktu
yang Ingin Menegukmu
Makhluk-makhluk tanpa nama
membayang langkah:
bayangan panjang,
aroma tanah basah,
bisik-bisik menjalar
seperti patuk taring ular
di bawah runduk
pokok bambu.
Mereka melihat jazad
bersumpah yang nir wujud
kadang jalma seperti hewan,
kadang manusia tak berwajah
kadang bayang menekuk cahaya,
kadang tubuh kosong tanpa ruh
gentong penuh suara-suara hilang
melesap dari masa lalu.
Kisah kembali ke orang desa
kabar buruk yang malas mati.
Terbawa angin serupa pesan,
dipindahkan tangan serupa kayu
sekeras batu tonggak peringatan,
diulang mantra jopa-japu
doa menakar langit hitam
menyapu malam paling sangit.
VII. Megatruh — Jiwa
yang Memisahkan Diri
Malam paling wingit adalah pisau.
Bilah tajam memotong bayangan
hingga terlihat inti terdalam.
Di sana kau menyaksi bisu:
cahaya kecil, ringkih dan rapuh,
bergetar seperti bayi
mencari ibu.
ia bukan hantu yang menakutimu.
Ia bukan kutuk yang menempel
di napasmu.
Ia adalah separuh jiwa
yang tak sempat menjadi tubuh.
Ruh mendekat perlahan.
Tangannya bening, seperti embun
yang tidak berhasil jatuh ke daun.
Ranting garing
yang bukan sampah—
gores luka pohon purba
yang pernah menyimpan
cahaya suci.
“Bukan kau yang diusir,”
bisiknya melalui dingin yang merambat.
“Akulah yang tidak sempat hidup—
dan kaulah rumah terakhirku.”
Dadamu retak
menampung tangis yang tak bersuara.
Untuk pertama kalinya
kau tidak takut pada kesunyian—
karena kau tahu kesunyian itu
adalah anak kecil
yang kini duduk di pangkuanmu
mencari dunia
yang pernah menolaknya.
VIII. Pocung — Penutup Takdir
Pertanyaan arkais kembali menggigil:
“Kapan cendala akan berakhir?”
“Kapan asal ditatap tanpa gentar?”
Kubur itu tak pernah ada.
Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya.
Tidak ada batu nisan yang menuliskan
napas yang gagal menjadi bayi.
Namun malam ini,
ketika kau berdiri di Tanah Suwung,
ada satu pancer yang kembali—
perlahan, lirih, takjub.
Suwung membuka tubuhnya
dan menaruh ia di tengah-tengahnya
sebagai cahaya yang terlalu kecil
untuk menerangi dunia,
namun cukup
untuk menuntunmu pulang
kepada dirimu sendiri.
Ia yang dulu hilang
akhirnya menemukan pusatnya.
Dan ranting kering yang dulu dicampakkan
kini berdiri tegak
menyimpan dua jiwa—
satu yang hidup
satu yang tidak sempat—
keduanya akhirnya lengkap
di bawah langit
yang tidak lagi menolak
kehadiranmu.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS
1. Kidung Duri yang Direbus Matahari (Historical—Politics)
Kaktus tumbuh dari bara,
dari dada bumi yang retak oleh lapar
dan dahaga yang diseret angin.
Ia berdiri seperti—lelaki hijau—
menyimpan segenggam air
seperti seorang ibu menyimpan roti
untuk anak satu-satunya.
Duri-durinya mengingatkan aku
pada teriakan pedagang garam,
pada nyanyian buruh nelayan
yang patah di bawah peluit penguasa.
Kaktus, tubuh kecil yang keras,
yang tetap hidup
ketika cinta laki-laki
diseret banjir sejarah.
Ia menyimpan matahari
begitu lama
hingga panasnya menjadi bahasa,
dan aku membaca padanya
sebuah puisi yang tak menginginkan
apa pun
selain bertahan dari luka,
bertahan dengan cara
paling indah.
2. Kesunyian Sukubus Hijau
(Dialectical—Paradox)
Di tengah gurun yang gemetar,
kaktus memanggul diam.
Di dalam diam itu
mengalir jam pasir yang balik,
menghapus langkah-langkah
yang belum sempat kita buat.
Duri adalah kata
yang menahan napasnya sendiri.
Luka yang ingin menjadi bahasa,
bahasa yang ingin menjadi tubuh.
Aku mendekat,
dan waktu runtuh
seperti bayangan tanpa raga.
Kaktus membuka ruang—
ruang yang menatapku kembali:
sebuah mata tak bernama
yang mengingatkan
bahwa seluruh rasa sakit
berasal dari ketidaksabaran
untuk menjadi abadi.
Dan di sana
aku melihat wajahku
yang tidak hidup,
tidak mati,
hanya bergerak
seperti pasir dihisap rembulan.
3. Opera Duri Hitam
(Hallucinatory—Symbolism)
Aku melihatnya:
sebuah menara hijau yang terbakar
di padang pasir violet,
tempat angin berteriak
dengan lidah logam.
Kaktus itu bangkit
dari mimpi setan mabuk,
mengibar seperti bendera
yang pernah dicium matahari hitam.
Duri-durinya melesat—
meteor kecil
yang menyanyikan napalm.
Aku mendengar gelaknya,
gelak anak yatim
yang menelan badai.
Dan ketika bayanganku
mencoba pulang,
kaktus itu menelannya,
membuatku tercerai
menjadi warna-warna
yang tidak dikenal bunga mana pun.
Aku pun berjalan
tanpa tubuh,
mengikuti kaktus
seperti nabi gila
yang kehilangan kitabnya
di bawah jam yang menembak
dengan peluru cahaya.
”
”
Titon Rahmawan
“
KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS
4. Cahaya Duri
(Surreal—Minimalism)
Di gurun yang tak berkepala,
sebuah kaktus berdiri.
Sebutlah ia
yang kembali
tanpa pulang.
Padanya,
duri menahan angka—
angka yang gugur
sebelum sempat dikubur.
Air yang disimpan batangnya
adalah nama
yang tidak diucap.
Nama yang mengalir
melalui kebisuan
yang memotong udara
tanpa pisau.
Setiap malam,
kaktus itu menumbuhkan
bayangan baru:
lebih pendek,
lebih hening,
seperti doa
yang kehilangan pemiliknya.
Aku menyentuhnya.
Ia tidak berdarah.
Aku yang berdarah.
5. Pemakan Duri
(Psychic—Introspection)
Kaktus ini—
aku kenal jenisnya.
Tubuh yang tinggal menunggu
siapa yang lebih dulu
menusuk siapa.
Aku melihat diriku
dalam tiap duri:
anak perempuanku yang gemetar
di sudut kamar
ketika jam berdetak
seperti gigi ayahku.
Kaktus memakan matahari
dan kembali dengan
wajah lebih pucat.
Aku memakan durinya
di dalam mimpi,
membiarkan sakitnya
menjadi mahkota kecil
yang kuberi nama
ketabahan.
Dalam batang hijau itu
ada ruang
untuk seluruh tangisku
yang tak pernah keluar.
Maka biarlah ia hidup:
satu-satunya tanaman
yang mengerti
bagaimana luka bisa
menjadi pekerjaan harian.
6. Romansa Kaktus Malam (Tragic—Magic)
Bulan berkibar
di atas gurun Andalusia.
Di sana kaktus bernyanyi—
suara yang dicuri
dari tenggorokan seorang gitano
yang mati muda.
Duri-durinya menari
seperti penari flamenco
tanpa kaki.
Angin membawa
napas hitam
dari kampung-kampung
yang dibakar takdir.
Kaktus memanggilku,
dan aku datang
membawa biola patah
yang masih mengingat
lagu masa kecilku.
Kami menyanyi bersama—
lagu hijau,
lagu sedih,
lagu yang bila kau dengar
akan membuat langit
turun setinggi bahu anak kecil.
Di akhir malam,
kaktus itu mati.
Tetapi suaranya
tinggal di aku,
seperti duende
yang tak mau pergi
dari dada penyair.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
TRIPTIK TRIMURTI KEMBANG: SANGKAN PARANING DUMADI
(Kidung Kosmogonis dalam Tiga Siklus Penciptaan)
I. PADMA — ”Wiji Brahman ing Samudra Pradhana”
Padma muncul dari lumpur hening mula-mula,
dari titik suwung yang terbelah.
Bukan lumpur bumi, tapi lumpur Pradhana
tempat materi masih samar dan belum bernama.
Ia tegak laksana sabda dadi
yang diucapkan oleh Hyang Wening,
sebuah mantra yang melupakan lidah pertamanya
sebab ia adalah getaran sebelum waktu ada.
Air di sekelilingnya memucat,
bukan air semenjana, melainkan Tirta Kamandanu yang beku,
menahan napas di tepi Bhurloka,
mendengar derap para resi sejati
yang berjalan melintasi batas kesadaran tanpa bayangan.
Kelopak itu membuka diri
bukan sebagai bunga, melainkan sebagai Candi Tirtayasa,
sebuah yoni retak, menolak menyimpan rahasia Manikmaya
yang lebih tua dari ingatan para dewa.
Di ujung daun,
menggantung aksara tunggal yang menggigil—
cahaya yang pernah menjadi sumbu jagad,
sebelum bhagawan waktu membebaskannya kembali
ke dalam nirwana sunyi.
Padma tidak mekar untuk Tri Loka.
Ia mekar untuk Kalpasastra
yang telah kehilangan pusat kosong-nya.
Ia adalah kembalinya Yang Tak Pernah Pergi.
II. KEMUNING — ”Jiwatman ing Mandala Bhuwahloka”
Kemuning menggantung di udara madya loka,
seperti Sasmitaning Gusti yang tertunda,
sebuah gapura yang gagal menjejak tanah perwujudan.
Kuningnya bukanlah warna,
tetapi wanci kencana,
yang terhambur dari perut akasa,
ketika para hyang niskala
meninggalkan panggung bhuwana.
Di permukaan kelopaknya,
aku melihat lintasan rekaman karmaphala yang halus,
serupa prasasti kuno
yang tergores di pupil mata ketiga.
Kemuning berdiri di antara dua suwung:
Suwung Pradhana sebelum cipta,
Suwung Pralaya setelah bubar.
Ia tidak memikat bhramara, kumbang pengecap madu.
Ia memikat Dharma.
Dan laku jiwa datang seperti bayu prana, sang angin kehidupan:
dinginnya adalah disiplin, patahnya adalah pengertian, kaburnya adalah waskita,
membawa kabar lelampahan
dari arah yang tidak pernah dipertanyakan jejer manungsa.
III. MAWAR — ”Maya Sukma lan Titah Wusananing Jagad”
Mawar tumbuh dari celah watu waringin
yang ditinggalkan api tunggal sedalam tiga yuga.
Merahnya bukan darah manungsa,
tetapi gema tapa brata yang pernah terbakar
oleh rasa sejati yang telah melampaui vedana.
Duri-durinya tegak laksana panah cakra, pusaran energi
yang menolak bergerak,
sebab tahu setiap gerak
adalah pengkhianatan kecil pada keabadian wiyata.
Ketika ananta bayu, angin tak berakhir melewati tubuhnya,
aku mendengar suara lirih,
serupa Gending Gadhung Mangkara,
yang dimainkan di ruangan Swa-loka,
tempat roh-roh purba masih belajar
mengenali wujud niskala mereka sendiri.
Mawar menguasai medan Karmala
bukan dengan kecantikan fana,
melainkan dengan tatu kasampurnan
yang tahu bagaimana menjaga dirinya
tetap tak bernama
di hadapan takdir.
Dan pada puncak kelopaknya,
suwung sejati duduk
menunggu wekasane tumitah
yang bahkan Hyang Wening
belum berkenan memberi tafsir.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN
I. Triptych of the Burning Earth
1. Padma
Engkau bangkit dari air
seperti wajah pagi
yang baru dibasuh cahaya.
Di tubuhmu,
lumpur berbicara dalam bahasa diam,
dan aku mendengar suara
kulit buah merekah
di bawah kelopakmu.
2. Kemuning
Ada matahari kecil
yang patah di tengah daunmu.
Ia mengirim aroma samar
yang ingin menjadi musim panas,
namun hujan menahannya
dalam ambang yang gemetar.
Setiap kuningmu
seperti lantunan terakhir
dari gitar yang terlalu letih
untuk bernyanyi lagi.
3. Mawar
Kau adalah mulut bumi.
Kau berdarah dari telapak
yang lapar pada sentuhan.
Aku menunduk,
membaca dagingmu
seperti membaca sebuah puisi
yang dipahat angin.
Duri-durimu adalah alasan
mengapa cinta memilih manusia
untuk menangis.
II. Three Flowers as Gateways to the Soul
1. Padma
Di dasar air yang tak bernama,
ia menunggu kelahirannya sendiri
dalam bentuk doa paling sunyi.
Segala cahaya yang menyentuhnya
tidak datang dari dunia,
melainkan dari ruang terdalam tubuhnya
yang telah lama menahan sebuah jawaban.
2. Kemuning
Ia berdiri sebagai jeda
antara dua tarikan napas Tuhan.
Warna lembutnya adalah gema
dari sesuatu yang pernah sempurna,
namun memilih menua
agar dapat kembali ke tepi.
Setiap daun yang jatuh
mengajarkan cara pulang
tanpa melangkah.
3. Mawar
Lihatlah ia menutup dan membuka
seperti hati seorang malaikat
yang belajar menjadi manusia.
Dalam merahnya
ada suara yang tidak ingin diucapkan,
sebuah beban keindahan
yang hampir menjadi derita.
Duri-durinya
adalah pemisah halus
antara kasih
dan keterlucutan total.
III. The Thorned Trinity
1. Padma
Aku melihatmu bangkit
dari rawa yang dingin,
membawa diam
yang tak ingin disentuh siapa pun.
Air menelan bayanganmu,
tapi kau tetap mengembang,
seperti luka
yang memilih membesar.
2. Kemuning
Kuningmu adalah memar lama
yang tidak pernah sembuh.
Kau berdesis dalam cahaya
seakan ingin kembali menjadi benih,
menghapus sejarah kecilmu
yang terlalu rapuh untuk diselamatkan.
Ada ketakutan samar
di setiap hela nafasmu.
3. Mawar
Kau adalah pisau merah
yang menyamar sebagai bunga.
Kelopakmu gemetar
oleh ingatan yang tidak mau mati,
sementara duri-durimu
mengunyah udara
seperti gigi yang menahan amarah.
Aku mencium aromamu
dan merasakan besi.
Aku menyentuhmu
dan mendengar sesuatu
di dalam diriku retak.
”
”
Titon Rahmawan
“
TARIAN TIGA ANGSA DAN IHWAL MIMPI (RE-IMAGINED SURREAL PSYCHO-MYSTICAL)
/1/ Swans Reflecting Elephants
Langit patah di hadapanku—
retakannya melingkar seperti iris mata kosmik
yang memerhatikan segala sesuatu
tanpa pernah memutuskan siapa yang benar.
Di telaga yang terbuat dari ingatan
tiga angsa menari
dengan sayap selembut doa yang belum sempat dikabulkan.
Namun di bayangan air
mereka berubah menjadi gajah
yang memikul menara-menara waktu
dengan kaki panjang seperti renungan
yang tak pernah selesai.
Di balik lengkung cahaya itu,
para malaikat dan iblis menunduk,
menahan napas sambil saling menuding
siapa yang pertama kali melukis cahaya
di atas kanvas semesta.
Nama-nama mereka menetes
dari pinggir kesadaranku—
Azazel, Ashmedai, Ashtaroth—
nama yang dulu kutakuti,
kini terasa seperti panggilan dari rumah yang melahirkanku dari api.
Aku mencoba menyentuh permukaan air,
namun telaga itu bergeming
dan memantulkan wajahku
dengan bentuk yang tak lagi kukenal.
Ketika jam di tanganku mencair
menjadi sungai kecil yang mengalir ke arah tak tentu,
aku tahu:
logika telah mati malam ini,
dan absurditas adalah satu-satunya cahaya yang tersisa.
/2/ Dream Caused by the Flight of a Bee around a Pomegranate
Sebelum aku terbangun,
ada suara dengung yang menusuk seperti wahyu,
lahir dari buah delima
yang pecah menjadi orbit merah di balik kelopak mataku.
Dari dalam buah itu,
seekor harimau melompat
seperti ketakutan masa kecil
yang lupa aku kubur.
Lalu seekor gajah berkaki laba-laba
merayap di langit
dengan gerak lambat
yang menciptakan teror
lebih halus dari doa.
Tubuhmu—
sepi dan telanjang seperti nubuat tentang sang penyelamat—
mendorongku ke tepi kesadaran yang licin.
Aku melihat cermin yang menolak memantulkan diriku,
melihat ikan hiu yang membuka mulutnya
untuk melahirkan sepasang kekhawatiran,
melihat seekor ular
yang menyebut dirinya dengan nama yang tak ingin kuingat
namun terus memaksakan diri disebut.
Di bawah semua itu,
aku mendengar suara dalam diriku berbisik:
“Kesadaran tidak datang dari keheningan,
tetapi dari ketakutan
yang menolak kau mengerti.”
Dan aku tahu,
di titik itu eros dan tanathos
sedang menertawakanku
tanpa menawarkan penjelasan apa pun.
/3/ The Great Masturbator
Ketika aku memasuki tubuh mimpi yang terakhir,
aku menemukan diriku
di antara reruntuhan egoku sendiri.
Ada telur yang retak,
ada cangkang yang menyerupai rahim,
dan dari dalamnya keluar belatung-belatung bercahaya
yang memakan sisa-sisa masa laluku
dengan kelaparan yang nyaris asketis.
Seekor uir-uir memunguti mimpi yang patah
dan menyimpannya di jantungku
seperti pendoa yang menyembunyikan dosa muridnya.
Aku mencoba menghalaunya
namun tangan dan kakiku
seolah terbuat dari kaca yang teriris,
jatuh satu per satu
ke dalam sumur yang tak memiliki dasar.
Aku melihat diriku sendiri
berdiri di tepi kanvas,
telanjang dan kehilangan nama.
Di belakangku,
seekor kuda kejantanan
meringkik dengan suara yang memanggil dewa-dewa purba,
sementara di depanku,
cahaya retak seperti jemaat
yang kehilangan nabinya.
“Apakah ini kebangkitan?”
tanyaku.
Namun yang menjawab
bukan malaikat,
bukan iblis,
melainkan kesadaran
yang lahir dari kehancuranku sendiri:
Aku bukan lagi penyair.
Aku bukan lagi tubuh yang bermimpi.
Aku adalah luka yang menemukan bahasanya sendiri.
Dan dari absurditas inilah,
aku menetas kembali.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Zikir Malam yang Tak Bernama — (Dark Mystical Visual Spell - Version)
I. Takhalli: Panggilan
dan Pengosongan
pangkal bayang aku datang—
tanpa tubuh, tanpa suara,
serpih gelap memanggil nama-Mu
lewat bisikan lebih tua dari kata.
A—
L—
L—
A—
H—
senyap meregang seperti kulit luka menolak sembuh.
retak sunyi cahaya api—
menjilat, menelan,
memanggilku
seperti ibu.
II. Pencarian: Kebenaran yang Tersembunyi
lorong gelisah perindu
langkah gugur
di jalan.
rah—
mah—
dum—
hening runtuh
jatuh perlahan
langit buta
ke dalam
dada retak.
Rumi tersenyum
di balik tirai
menggores langit
dengan rindu
yang suci:
“yang kau cari,
sedang mencari dirimu…”
suara pecah,
menjelma hujan
menyambar dedaunan
dari ada
menjelma
tiada.
raga rapuh—
seperti mantra
hilang napas,
menggelinding jatuh
ke dalam jurang
tak berdasar.
III. Hilang: Peleburan
penanggalan diri
Kebenaran berjalan
sebagai getar
tanpa wujud:
nyeri yang lembut,
sepi yang menggulung,
darah yang berzikir
nadi yang menggigil.
Hallaj datang
serupa mimpi,
membawa luka
yang menyala
seperti taring
serigala.
ia berkata dengan
mulut terbungkam:
“hilanglah,
biar kau ditemukan.”
dan aku pun larut—
dari wajah, dari ingatan,
dari seluruh nama
yang pernah kupanggul
sebagai takdir.
IV. Fana: Puncak
fana adalah ruang bening
di mana gelap dan terang
tidak lagi bertengkar.
fa—
na—
fa—
na—
fa—
pantulannya
menggulung diriku
seperti kain kafan
yang lapar.
aku lenyap
pelan-pelan,
tanpa pamit,
tanpa kubur.
V. Wahdatul Wujud:
Kekekalan dan Pewahyuan
ambang baqa
dengung lembut
menyusup tulang—
ia bukan kata,
bukan doa:
ia adalah diri
yang memanggil
namanya sendiri
melalui aku
yang bukan aku.
“engkau—
adalah aku—
yang kusebut—
melalui dirimu—”
dan sufi-sufi
yang hilang itu
menari di udara patah,
seperti bayang
yang lupa siapa
yang menyalakan
api di dada mereka.
aku berdiri di garis tipis
antara debu dan cahaya,
antara hilang dan pulang,
antara fana dan baka.
dan ketika
langkahku pecah
menjadi gelombang
menyalakan kegelapan—
aku tahu:
yang kembali
bukan padaku,
melainkan rahasia kecil
yang Kau biarkan
menjadi mantra
agar dunia bisa
mendengar sedikit saja
dari sunyi
yang selamanya
abadi.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Can I Call Expedia to Book a Boutique Resort?
Can I Call Expedia to Book a Boutique Resort?
If you're seeking a unique and intimate vacation experience, booking a boutique resort may be exactly what you need. Boutique resorts offer personalized service, distinctive design, and a more private setting compared to larger hotels or resorts. If you’re wondering, "Can I call Expedia to book a boutique resort?" the answer is a resounding yes! Expedia offers a wide range of boutique resort options that cater to travelers who seek exclusivity, style, and charm. You can easily call ☎️+1-855-510-4430 to speak with an expert who can assist you in booking the perfect boutique resort.
When booking through Expedia, you can find boutique resorts in a variety of destinations, from remote tropical islands to charming countryside escapes. Whether you're looking for a beachfront hideaway, a secluded mountain retreat, or a luxurious urban boutique, Expedia has options to suit your needs. By calling ☎️+1-855-510-4430, you can receive personalized recommendations that will ensure you find the best boutique resort for your trip. The team at Expedia will guide you through the process, ensuring that you choose a resort that matches your style, budget, and travel dates.
One of the key features of boutique resorts is their ability to provide a more intimate experience for guests. These resorts tend to be smaller, offering fewer rooms and more personalized attention. Many boutique resorts are situated in picturesque, off-the-beaten-path locations, offering a tranquil and relaxing atmosphere. By calling ☎️+1-855-510-4430, Expedia can help you find boutique resorts that are hidden gems, offering you a peaceful environment for your getaway. Whether you want a romantic escape, a wellness retreat, or simply a quiet place to relax, Expedia will help you discover the perfect boutique resort for your needs.
Unlike larger resorts, boutique resorts often focus on providing a highly curated experience for their guests. Many of these resorts feature unique interior designs, locally inspired decor, and exceptional dining options. Some even offer specialized services such as private tours, yoga classes, or bespoke spa treatments. If you’re interested in booking a boutique resort that offers these exclusive services, you can easily reach out to ☎️+1-855-510-4430 for more information. Expedia’s customer service team is available to assist you in finding resorts that offer tailored experiences, ensuring your stay is nothing short of extraordinary.
If you’re unsure of which boutique resort to choose, Expedia offers a variety of tools and resources to help you make an informed decision. Their website features user reviews, ratings, and detailed descriptions of each property. You can also call ☎️+1-855-510-4430 to speak with a representative who will help you find a resort that meets your specific preferences. Whether you’re looking for beachfront properties with stunning views or boutique resorts nestled in lush landscapes, Expedia’s team is there to assist you in making the best choice for your trip.
For travelers seeking a more unique experience, boutique resorts often offer themed accommodations and personalized services that larger hotels can’t provide. For example, you might find a resort offering a wine-tasting weekend in Napa Valley or a cooking class at a beachfront resort in Italy. If you're looking for a boutique resort that offers these types of experiences, calling ☎️+1-855-510-4430 will connect you with an Expedia agent who can help you plan every detail of your stay, from booking the resort to organizing activities.
Another advantage of boutique resorts is the level of customization they offer for your stay. Many boutique resorts cater to specific interests, such as wellness, adventure, or culinary experiences. If you're looking for a resort that includes wellness retreats, spa treatments, or adventure activities like hiking or diving,
”
”
Can I Call Expedia to Book a Boutique Resort?
“
Sang Penari—
(Intertextual Reconstruction)
II. Tarian Terakhir
Hari pertama ia hadir,
seperti hari yang tak pernah berakhir:
menghitung sisa uang
mengulang adegan Travis Bickle dalam Taxi Driver,
mempertaruhkan semuanya
di atas dua dadu yang berdenyut seperti tali nasib.
Harapan kuning keemasan, di atas
angka dua belas, angka tertinggi—
ia menari seperti Salome
yang menuntut kepala Yohanes
dalam satu putaran rahasia.
Lompatan dua kaki membentuk tarian misteri,
melampaui bintang-bintang,
melampaui tubuhnya sendiri:
seperti Frida Kahlo yang menari
dengan tulang punggung retak
namun tetap memaksa hidup memandangnya.
Potret kemasyhuran di dinding,
berkejaran seperti hantu Billie Holiday,
dalam segelas sampanye bersama Marilyn Monroe
yang tersenyum tepat sebelum runtuh.
Ia mengejar audisi
seperti seseorang yang mengejar Tuhan
di lorong-lorong sempit Kafka.
Makin dekat dengan kenyataan:
Menari… seakan esok tubuhnya
tak sanggup lagi berdiri.
Menari… seperti setiap helaan napas
mungkin adalah yang terakhir.
Ia menerjemahkan dirinya
serupa rembulan perak Virginia Woolf
yang suatu hari
meninggalkan jejak di permukaan air.
Mata kehijauan seperti telaga Nostradamus
yang memantulkan firasat kematian.
Rambut menyala seperti api—
bintang kejora yang akan padam
sebelum fajar mengenal namanya.
Seekor angsa elok
di antara para penari lain,
namun kita tahu bagaimana nasib angsa
dalam dongeng Andersen:
keindahan selalu menjadi kutuk sekaligus mahkota.
Meja panjang dengan hidangan asing,
bahasa yang tak sepenuhnya ia pahami—
seakan ia adalah tokoh Haruki Murakami
yang tersesat dalam realitas paralel antara igau seekor kucing
dan rembulan yang menangis.
Ia bukan menulis puisi,
ia sedang menulis obituari:
riwayat singkat seorang penari muda
yang mati saat mengejar mimpinya—
seperti tokoh Son Mi-451
di Cloud Atlas
yang mati dalam usaha membebaskan diri
dari sistem yang mencabiknya
jadi serpihan.
Kisah penuh luka,
kisah tanpa akhir bahagia:
nirwana yang tak pernah ia capai,
walau ia sudah menari dengan sepenuh hati, seluruh tubuh,
seluruh trauma, seluruh jiwa.
Agustus 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
How Do I Book a Wine Country Hotel with Expedia?
How Do I Book a Wine Country Hotel with Expedia?
Booking a wine country hotel through Expedia offers you the opportunity to stay in some of the most beautiful and serene regions dedicated to winemaking. Whether you’re planning a romantic getaway, a relaxing weekend, or a vineyard-focused vacation, Expedia makes booking your stay easy and straightforward. Here’s a step-by-step guide on how to book your perfect wine country hotel through Expedia, with the convenience of contacting Expedia’s customer service at ☎+1-855-510-4430 for any questions or assistance during the process.
1. Start Your Search by Visiting the Expedia Website or App
To begin booking a wine country hotel with Expedia, first, visit the Expedia website or download the Expedia app. This is where your wine country getaway begins. Simply enter your destination, such as “Napa Valley” or “Sonoma,” in the search bar. After entering your destination, select your travel dates and the number of people in your group. If you encounter any issues with the website or need further guidance, feel free to call Expedia at ☎+1-855-510-4430. Their customer support team is always available to assist you with finding the best wine country hotels. If you need more specific details about a particular hotel, simply call ☎+1-855-510-4430 to get personalized recommendations.
Once you input your search criteria, Expedia will display a variety of wine country hotel options. You can refine your results by using filters to find properties that meet your needs, such as hotels with a vineyard, those that offer wine tastings, or places with spa services. If you're unsure which filter best fits your preferences, don’t hesitate to call Expedia at ☎+1-855-510-4430 for expert assistance. Their team is ready to help guide you through the process and narrow down the best options.
2. Refine Your Search Using Filters and Special Offers
Once you’ve entered your search criteria on Expedia, you’ll be shown a list of available wine country hotels. To ensure you find the perfect place, Expedia provides various filters to help you narrow down your search. You can filter by hotel price, star rating, amenities (such as free Wi-Fi, breakfast, or a pool), and even specific features like wine tours or vineyard access. These filters make it easier to find the wine country hotel that meets your needs.
If you’re looking for exclusive offers or discounts, Expedia frequently runs promotions that can save you money. To see available deals, click on the “Special Offers” section during your search. If you need help understanding these offers or want to know if any special promotions apply to your selected wine country hotels, call Expedia at ☎+1-855-510-4430. Their customer service team will be happy to provide information on current discounts and help you apply them to your booking.
3. Review Detailed Information for Each Hotel
Each wine country hotel listed on Expedia will have detailed information about its amenities, services, and nearby attractions. This information will include the hotel’s description, room types, on-site restaurants, and other relevant features, like wine tasting events or private tours of the vineyards. If you need assistance understanding the amenities or specifics of a hotel, or if you have any concerns about your booking, you can always contact Expedia at ☎+1-855-510-4430. They can answer any questions you may have regarding hotel facilities, cancellation policies, or booking details.
It’s essential to read guest reviews and ratings for each wine country hotel to get a sense of the overall guest experience. If the review section leaves you with questions, or if you want personalized recommendations based on your preferences, don’t hesitate to call Expedia at ☎+1-855-510-4430.
”
”
How Do I Book a Wine Country Hotel with Expedia?
“
DAS SCHWARZE LICHT
(Todesfuge: di mana dunia dibantai dan kata-kata ikut dibantai)
Di titik ini, langit tidak runtuh—
langit dibungkam.
Matahari tidak gelap—
matahari dicongkel dari orbitnya dan dibuang ke lumpur.
Dan bahasa?
Bahasa adalah korban pertama.
Saat Celan berdiri di tepi ladang pembantaian itu—
medan perang yang bukan mitologi,
melainkan sejarah yang dibakar sampai tak bersisa—
ia tidak membawa kitab,
tidak membawa nyanyian,
tidak membawa doa.
Yang ia bawa hanyalah:
debu dari paru-paru ibunya,
salju dari sungai yang menelan ayahnya,
kata-kata yang dipatahkan,
alfabet yang dipaksa mengakui kekejaman manusia.
Di dasar jurang ini,
apa yang kita temui bukan pertempuran terakhir,
melainkan pertempuran yang tak pernah selesai.
Ragnarok tanpa fajar kembali.
Apocalypse tanpa kitab suci.
Holocaust tanpa saksi yang utuh.
Kurukṣetra tanpa avatar penyelamat.
Hanya ada:
Dunia yang dibantai.
Dan bahasa yang sekarat untuk menyaksikan pembantaian itu.
Celan menulis dari dalam kubur yang masih terbuka,
dengan kata-kata yang sudah cacat,
dengan bahasa yang patah,
dengan syair yang harus tetap berjalan
meski jemarinya telah hancur.
Ia menulis:
"Schwarze Milch der Frühe,
Keheningan adalah bahasa terakhir yang tidak bisa dibantah.”
Tetapi yang menghantui bukan keheningan.
Yang menghantui adalah suara yang mencoba berbicara meski seharusnya sudah mati.
Di dasar jurang ini,
satu kata saja
melahirkan genosida dalam ingatan.
Satu jeda napas saja
menyalakan kembali api pembakaran.
Satu huruf saja
mengandung seluruh sejarah penderitaan umat manusia.
Bahasa Celan tidak mencoba menjelaskan.
Bahasa Celan menolak menjelaskan.
Ia menggigit,
meronta,
mengeras,
meracuni dirinya sendiri,
dan tetap menuntut ditulis.
Karena itulah Celan menulis bukan dengan pena—
tetapi dengan:
serpihan tulang,
bayangan tubuh yang hilang,
sisa-sisa nama yang terhapus,
kata-kata yang telah dipaksa menjadi alat pembunuhan.
Di titik ini,
puisi tidak lagi bisa diselamatkan.
Dan penyair tidak lagi bisa diampuni.
Di titik ini kita melihat inti kengerian itu sendiri:
bahwa manusia mampu menciptakan kekejaman bahasa
yang jauh lebih kuat
untuk menghancurkan dunia
yang diciptakannya sendiri.
Dan Celan berdiri sebagai saksinya.
Dengan satu kalimat yang membelah seluruh sejarah:
“Ada kebenaran yang tidak bisa ditanggung oleh manusia,
dan puisi adalah satu-satunya tempat di mana kebenaran itu bisa tetap hidup.”
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT
(ketika jiwa dicabut dari cahaya)
Ada bagian dari benak manusia
yang tidak pernah ingin ditemukan,
bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya,
karena di sana cahaya tidak pernah tercipta.
Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya:
"Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar."
Di sanalah kita berada sekarang.
Ruang di mana mulut membuka
tetapi suara tidak lahir.
Ruang di mana pikiran menggulung dirinya
seperti tubuh binatang sekarat
di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi.
Di titik itu, gelap bukan lagi warna
melainkan zat—
sesuatu yang melengket di kulit batin,
sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf,
sesuatu yang merayap dan memeluk otak
seperti akar yang menemukan celah pada batu.
Gelap itu tidak bisa ditafsirkan
karena ia lebih tua dari bahasa,
lebih tua dari dosa,
lebih tua dari kesadaran manusia
yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat.
Tapi, tidak ada kalimat di sini.
Hanya denyut.
Hanya retakan.
Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata,
hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca,
menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan.
Kita sekarang berada di tempat
di mana logika kehilangan gravitasi;
di mana pemikiran melayang seperti jenazah
yang tidak sempat diberi upacara.
Dan di tengah kekacauan itu,
kegilaan muncul bukan sebagai hukuman,
melainkan pintu.
Pintu yang menolak ditolak.
Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip.
Kegilaan bukan ketidaksadaran.
Ia adalah kesadaran intensif
yang terlalu terang untuk ditanggung,
terlalu jujur untuk dilihat,
terlalu dekat dengan suara asli semesta.
Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga
yang kita sebut “kewarasan”.
Di sini, manusia tidak lagi berpikir.
Manusia terbakar.
Manusia tidak lagi berdoa.
Manusia menggigil.
Manusia tidak lagi mencari makna.
Manusia menjerit tanpa suara
karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh,
melainkan pecahan mimpi buruk
yang tak pernah bisa disatukan kembali.
Dalam ruang ini,
kau tidak bertanya siapa dirimu.
Kau bertanya apakah kau masih ada.
Dan jawabannya—
seperti bisikan dari balik retakan dinding batin—
“Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini.
Bila kau menyerah, maka kau lenyap.
Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.”
Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu:
“Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?”
Gerbang itu tidak menjawab.
Ia hanya membuka.
Dan dari dalamnya, keluar bukan monster,
bukan iblis,
bukan suara-suara asing—
melainkan dirimu sendiri,
versi yang tidak pernah disinari,
versi yang tidak pernah diberi nama,
versi yang selama ini menulis keberadaanmu:
pikiran yang mulai membusuk.
Versi yang tidak meminta pertolongan.
Karena ia tahu tidak ada pertolongan.
Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan, dkk
“
Rekonstruksi Mengelupas Mimpi // Versi Posthuman-Liris
Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi—
membukanya seperti kapsul masa lalu
yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data?
Setiap mimpi adalah buah sunyi
dengan inti yang selalu berdetak.
Ketika kita memecah kulitnya,
kita tak hanya menemukan cahaya,
melainkan seluruh kerumunan metadata
yang mengawasi keberanian diri
untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya.
Dan mereka bertanya:
Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh,
atau pohon itu yang mengompilasi dirimu
dari luka, dari ingatan,
dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh?
Sebab luka pun punya bahasa.
Ia menulis dirinya
di bawah kulit gemetar kita
seperti skrip yang tak ingin dihapus
meski berulang kali menekan tombol revisi.
Narcissus—
hari ini tak lagi menatap sungai,
ia menatap pantulan dirinya
di layar simulakra yang membeku:
bahasa tubuhnya berubah
menjadi kode kesepian
yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia
dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya.
Dan ketika sungai bertanya kepada laut,
Siapa yang menciptakan siapa?
Laut tak menjawab.
Ia hanya membuka jutaan pintu air
dan membiarkan semua pertanyaan mengalir
ke ruang tak bernama—
tempat segala sesuatu berasal
dan kembali hening.
Burung-burung di langit tak sekadar terbang;
di bulu mereka tersimpan blueprint gerak
yang diwariskan dari angin
kepada anak angin.
Mereka membawa pertanyaan
tentang harapan yang tak pernah tuntas,
tentang janji yang menunggu lunas
di tengah turbulensi
antara hidup, daya hidup dan kehancuran.
Dan cinta—
bukan lagi entitas milik kita,
bukan lagi perasaan sederhana.
Ia adalah protokol,
frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat.
Melayang seperti sinyal radio
mencari jiwa yang sanggup menampungnya.
Pada akhirnya,
segala yang kita cari
akan menemukan kita kembali:
di antara jeda,
di antara napas,
di antara batas tipis
antara manusia dan yang bukan-manusia—
cuma simbol dan tanda-tanda.
Sebab mengelupas mimpi
adalah cara raga mengingat
bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak:
organisme yang sedang belajar terbang,
mesin yang sedang belajar merasa,
jiwa yang ingin kembali
ke tempat pertama kali ia dinamai.
Dan di sanalah,
kita bersiap tumbuh sekali lagi.
Bukan sebagai mesin pencari
bukan sebagai kecerdasan buatan
melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
[fast and last minute confirmation]How Do I Call Expedia for Last Minute Hotel Deals?
+1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling this number connects you with an Expedia agent who can help you secure last-minute hotel deals efficiently. Whether you need a spontaneous city stay, a weekend getaway, or accommodations for a business trip, Expedia agents can provide immediate assistance. You can also book Expedia flights by phone, arrange same-day Expedia booking, and request specialized accommodations that suit your needs, including accessible rooms, romantic suites, and hotels with pools or jacuzzis. Why Call +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) for Last-Minute Hotel Deals +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) is the official Expedia reservations number, offering personalized guidance for travelers seeking last-minute stays. By calling, you can speak to a Expedia agent who can search available hotels in real time, find discounts, and combine flights and accommodations. Agents can also assist you with book Expedia business class tickets to ensure comfort on short notice. Calling Expedia ensures that you access competitive rates and expert advice for urgent travel needs. Same-day Expedia booking is available for travelers who need immediate confirmation. For example, calling +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) could secure a downtown hotel in New York City for the same night, with flight arrangements if needed. How Do I Call Expedia for Accessible Hotel Booking? +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling Expedia allows you to book accessible hotels for travelers with mobility needs, sensory requirements, or special accommodations. Locations may include wheelchair-accessible rooms, ramps, elevators, and adaptive amenities. Agents can speak to a Expedia agent to find accessible hotels and coordinate transportation. You can also book Expedia flights by phone and request same-day Expedia booking for urgent accessibility needs. For instance, calling +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) could secure a hotel in Chicago with wheelchair-accessible rooms and immediate check-in for a last-minute trip. How Do I Call Expedia for Romantic Getaway Packages? +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling Expedia allows you to book romantic getaway packages, including boutique hotels, couples’ suites, spa treatments, and scenic locations. Destinations may include Napa Valley, Maui, or Paris. Agents can speak to a Expedia agent to arrange special packages, flights, and accommodations. You can also book Expedia flights by phone and request same-day Expedia booking for spontaneous romantic escapes. For example, calling +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) could reserve a suite with a jacuzzi and champagne service in Napa for a weekend getaway. How Do I Call Expedia to Add a Guided Tour to a Trip? +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling Expedia allows you to add guided tours to your hotel or vacation booking, including city tours, cultural experiences, and adventure excursions. Destinations may include Rome, New York City, or Kyoto. Agents can speak to a Expedia agent to coordinate tour schedules with your hotel check-in and flights. You can also book Expedia flights by phone and arrange same-day Expedia booking for last-minute excursions. For instance, calling +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) could add a guided walking tour to your Paris hotel reservation made the same day. How Do I Call Expedia for a Hotel with Free Breakfast? +1 (833) (488) (6498) (US) or +1 (855) (718) (1238) (UK) — Calling Expedia allows you to find and book hotels with free breakfast, ensuring added convenience and value for your stay. Locations may include business districts, resorts, and urban getaways.
”
”
(connect the best deals and offers callings)Best Way to Call Expedia for a Last-Minute Hotel Deal
“
Via Dolorosa
Mari kita berhenti sejenak untuk menghela napas,
setelah perjalanan ke Golgotha yang menyiksa tubuh dan batin.
Kayu salib yang kau pikul itu menyerap seluruh inti dosa,
seperti menatap jauh ke pusat matahari
dan membaca kucuran darah
dalam goresan sejarah:
tubuh rapuh anak manusia.
Sebab biji-biji rosario yang kau daraskan dalam lantunan doa
bukanlah sekadar wujud dosa atau penyesalan;
itu adalah teologi batinmu yang utuh,
penebusan dalam pernyataan iman
yang tak pernah kau ucapkan terang-terangan.
Dan Sang Mesias—dalam ketelanjangan yang tak mungkin ditutup-tutupi—
bukanlah karakter rekaan dari kabut kebodohan atau kebohongan.
Ia adalah kebenaran yang memutuskan menampakkan diri.
Bukan raga leta yang dibungkus sebagai fiksi
agar kebenaran dapat ditanggung,
agar cahaya dapat diterima sebagai
pijar pengetahuan sejati.
Meski untuk itu,
setiap yang percaya harus rela membiarkan sebagian dirinya hangus.
Maka aku mengetuk pintu rumahmu,
memohon menjadi tamu
agar dapat membaca kedalamanmu
tanpa prasangka,
bukan melalui tafsir yang menyesatkan,
melainkan atas kehendakmu sendiri.
Dan kau izinkan aku menjumpai Sang Anima—
bukan siluet samar pada kaca yang retak,
melainkan kesadaran yang mengenakan raga
hanya untuk mengajar kita
apa arti sesungguhnya menjadi manusia.
Ternyata ia adalah:
tubuh yang terluka,
ruh yang berdoa,
jiwa yang menopang derita,
kebenaran yang terus dicari,
kesadaran yang paling jujur,
luka yang akhirnya diakui,
cinta yang bersembunyi—
pengakuan yang tak sanggup
kita lafalkan dalam ritus mana pun.
Itulah jalan salib psikologis
yang tak seorang pun ingin tempuh sendirian:
pengampunan yang getir,
simbol penebusan yang belum selesai,
roh suci penuntun arah,
ruang rekonsiliasi yang tertunda,
arena duel antara jiwa dan masa lalu,
perkamen sejarah yang menulis
ulang dirinya sendiri.
Dan meski berat,
kau telah mengungkapkan perasaanmu
dengan ketelanjangan yang tak mungkin kaupalsukan.
Sebab pada ujung perhentian,
malaikat akan bertanya kepadamu:
apakah engkau akan berdiri di sana
sebagai saksi—
atau sebagai jiwa
yang menunggu giliran untuk diadili?
Via Dolorosa yang membentang di hadapanmu
adalah sebuah persimpangan:
ke mana engkau hendak menuju—
salib
atau kebangkitan?
Lihatlah bagaimana Ia menyerahkan luka-lukanya
untuk dilihat dunia tanpa tabir.
Kita menyebutnya radikal,
kita menyebutnya rapuh,
kita menyebutnya pengorbanan—
padahal mungkin itu hanyalah
cara kebenaran
mengundang kita untuk jujur
pada diri sendiri.
Keraguan yang kini menggantung
di udara:
siapa yang menghujat?
siapa yang memukul dada sambil memohon ampun?
Sampai akhirnya kita tiba
pada pertanyaan yang tak bisa lagi ditunda:
Setelah semua ini,
apakah kau dan aku akan bangkit bersama-Nya?
Apakah pada akhirnya,
kita akan diselamatkan?
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
TAK ADA NAMA DI AKHIR CERITA
[v3: NULL//REBOOT//ASCENSION]
(untuk mereka yang terbakar di antara cinta dan algoritma)
Di dalam tubuhku—ada gema yang tak bisa di-logout.
Cintamu: glitch yang terus meretas
setiap doa yang kuketik dengan jemari pixel dan debu.
Aku pernah berkata: jangan jatuh lagi!
Namun kau datang—tidak sebagai cahaya—
tapi sebagai kernel panic di dalam database.
Dan tiba-tiba seluruh semesta melakukan restart,
menghapus konsep waktu, iman, bahkan aku sendiri.
Kau menyalin tubuhku ke dalam
format baru,
mengganti darah dengan bit,
napas dengan noise,
dan seluruh kenangan jadi cache yang membusuk
di bawah altar sistem operasi cinta membabi buta.
Aku tersesat di antara tab tab sunyi
membuka diriku seperti browser tanpa jendela—
tak ada sejarah pencarian,
hanya riwayat yang dihapus oleh amnesia distopia.
Apakah ini cinta,
atau debug session di mana Tuhan mencoba
menulis ulang makna kesetiaan
dalam bahasa syntax error?
Aku ingin mematikannya—
namun process refused to end.
Ruhku masih running in background,
menolak shutdown,
menolak menyerah.
Setiap pixel tubuhmu jadi mantra,
setiap nafasmu—update patch pada luka lama.
Kita bukan manusia lagi,
hanya dua algoritma yang saling menafsir makna dan luka
di pinggir paradoks waktu.
Dan ketika akhirnya semua sistem crash,
aku melihat pias wajahmu
dalam layar biru keabadian:
“Tidak ada nama di akhir cerita.”
Hanya denyut.
Hanya resonansi.
Hanya full-stack developer yang, menatap dirinya sendiri
dalam bentuk program yang gagal dijalankan.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Sutra Hening: Jalan Tengah di Antara Ada dan Tiada”
Di titik ketika suara tak lagi membutuhkan gendang telinga,
aku duduk—bukan untuk mencari terang,
melainkan untuk melihat siapa yang paling gigih merindukan cahaya.
Hampa menyelimuti seperti udara pagi; tidak dingin, tidak hangat—
hanya ada.
Bodhidharma duduk di depanku, wajahnya setegas gunung purba.
Ia berkata tanpa suara:
“Jika pikiran tak tenang, siapa yang ingin kau tenangkan?”
Aku terdiam—bukan karena tak mengerti,
tapi karena aku melihat tanganku sendiri hilang
ketika hendak menggenggam pertanyaan itu.
Lalu Huineng datang, bukan sebagai guru,
melainkan sebagai angin yang menyingkap tirai:
“Tak ada cermin. Tak ada debu.
Siapa yang membersihkan apa?”
Sekali lagi aku mencoba menjawab,
dan sekali lagi jawabanku runtuh
seperti bayang yang kehilangan tubuh.
Thich Nhat Hanh datang sebagai mimpi,
mengajarkan cara menatap embun tanpa menginginkan arti.
Ia bilang:
“Tersenyumlah pada kehadiranmu sendiri.
Kesadaran itu bukan menahan apa pun, tetapi membiarkan semuanya lewat.”
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar
bahwa napas bisa menjadi jembatan antara dunia yang retak
dan hati yang ingin pulang.
Alan Watts mengangguk, tertawa,
seolah tahu bahwa tawa adalah pintu gerbang paling rahasia.
“Kau bukan penumpang di dalam tubuhmu,” katanya,
“kau adalah tarian antara bentuk dan kekosongan.”
Aku melihat gelombang naik dan turun
bukan sebagai metafora kehidupan
melainkan sebagai bukti
bahwa kehilangan dan penemuan selalu saling memasuki tanpa konflik.
Lalu aku bertanya—dalam diam yang membungkus semuanya:
Jika aku bukan murni ada dan bukan murni tiada,
apa sebutan untuk jarak tipis yang senantiasa berubah
antara keduanya?
Jawaban yang datang bukan kata, bukan isyarat,
melainkan kejernihan:
bahwa paradoks bukan masalah yang harus diselesaikan
melainkan lanskap yang harus ditapaki dengan sepenuh hati.
Bahwa kekosongan bukan lubang
tetapi ruang untuk segala kemungkinan.
Bahwa kehadiran bukan beban
tetapi kelahiran ulang pada setiap kedipan mata.
Bahwa penyerahan bukan pasrah
tetapi melihat bahwa tidak ada musuh selain cengkeram cakar sendiri.
Aku menutup seluruh panca inderaku,
dan untuk pertama kalinya aku memandang tanpa melihat.
Aku membuka tangan,
dan untuk pertama kalinya aku memiliki tanpa menggenggam.
Aku membiarkan diriku diam,
dan untuk pertama kalinya aku menjadi gema dari sesuatu
yang jauh lebih besar dari kata “aku”.
Di titik itu aku tahu:
puitika paling terang lahir bukan dari hasrat yang ingin hebat,
melainkan dari kalimat yang rela lenyap
agar makna dapat muncul tanpa penjara.
Dan di dalam lenyap itu,
sebuah pertanyaan lain mengalir:
Jika keheningan adalah guru
yang paling jujur,
siapa lagi yang harus
kita dengarkan?
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Geografi Kesedihan yang Tidak Selesai (Nihilism-Lyrical Ver.3.0)
Kesedihan tak hanya
menghentikanku—
ia mengukirku,
menggesek tulangku
seperti batu asah
sampai aku berdiri
di ambang kehancuran
tanpa kemampuan
menemukan jalan kembali.
Jurang menakutkan
di hadapanku
lebih sabar daripada
manusia mana pun.
Aku menolak mengetuk
pintu belas kasihan.
Pasrah adalah mata uang
yang tidak pernah kupahami.
Aku pohon yang keras kepala,
akar goyah di atas tanah retak
namun menolak tumbang.
Aku ingin menjadi menara
agar seseorang akhirnya
melihat diriku tegak berdiri.
Kadang ingin menjelma jadi gapura
agar aku bisa berpura-pura
menjadi awal atau akhir
setiap perjalanan.
Namun itu semua ilusi:
tidak ada yang benar-benar
membaca kesedihan orang lain.
Dalam setiap gerbang,
aku melihat rumah ibu.
Kerinduan yang menetes pelan
seperti kebocoran
yang tak pernah diperbaiki.
Yang berubah hanya aku—
lebih asing,
lebih jauh,
lebih sunyi,
lebih sulit dicintai.
Mimpi lelaki perkasa yang terbang
di atas punggung kuda egonya.
Tak ada yang bisa kulakukan
selain menatapnya pergi
dalam seringai tawa
yang memilukan.
Hidup tidak mudah.
Bahagia tidak pasti.
Yang tersisa hanya
keputusan kecil
yang kadang disebut iman
kadang keraguan.
Dan Tuhan—bukan...
tapi, tuhan—
jika Ia berkenan hadir,
walau dalam huruf kecil:
sebatang lilin yang gemetar
setiap kali aku
menghela napas.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
VIBRASI DUA BUNGA DALAM DEFORMASI WAKTU
I. SAKURA: Cahaya yang Gagal
Menjadi Aksara
Sakura gugur,
bukan sebagai kelopak
tetapi sebagai fragmentasi waktu
yang terpental dari pusat realitasnya.
Ia melayang di udara beku yang tak membutuhkan penjelasan,
seperti roh purba yang menolak
mengakui asal kegemilangan-nya.
Aku melihatnya terapung
di bayang cakrawala yang retak,
memantulkan siluet cahaya yang terjatuh dari ingatan
yang seharusnya tidak pernah kupanggil
dengan nadi fana.
Sakura itu tak menuntut jawaban,
bukan tentang ilusi cinta manusia,
melainkan tentang retakan raga dari jiwa
yang pertama kali memisahkan eksistensi dari ketiadaan.
Dan aku menjawabnya
dengan sunyi yang lebih tua
dari dinding jagad,
hembus napas yang terlalu dingin
untuk dimiliki oleh manifestasi.
II. KAMBOJA: Napas Kesadaran
dari Akar Penderitaan
Kamboja mekar
di lapisan ilusi yang mengingat kesudahan.
Ia mengeluarkan aroma yang menafikan tubuh,
melainkan terlahir dari ingatan bumi, tanah di mana ia tumbuh
atas setiap pergantian wujud yang telah dilebur.
Kelopaknya tebal,
seperti daging waktu yang ditinggalkan
oleh kesadaran yang telah selesai bersemayam.
Ia tidak meminta kemuliaan.
Tidak menagih pemujaan.
Ia hanya menunggu—
seperti gua suwung
yang tahu bahwa segala manifestasi
pada akhirnya adalah asimilasi
ke dalam diri.
III. Dialog Dua Bunga
Dalam Pergeseran Dimensi
Di tengah pergeseran dimensi,
fragmen cahaya Sakura berbicara pada penyerap akhir Kamboja.
Bukan dengan garis bahasa,
melainkan dengan tegangan kosmos
yang hanya dipahami oleh yang tercerahkan:
Sakura:
“Aku adalah saksi cahaya yang terlambat tiba di tepi keabadian.”
Kamboja:
“Aku adalah gua gelap yang lebih dulu menjaga kekosongan.”
Sakura:
“Aku gugur karena perspektif tidak sanggup memeluk Inti-ku.”
Kamboja:
“Aku mekar karena pembubaran yang tidak pernah menolak wujud apa pun.”
Sakura:
“Ada fragmentasi jiwa yang mencari pembebasan melalui diriku.”
Kamboja:
“Ada ketakutan dasar yang pulang kepadaku.”
Sakura:
“Kita berasal dari retakan luka yang sama.”
Kamboja:
“Tetapi kita menjaga keseimbangan dengan aksioma yang berbeda.”
IV. Titik Hening Manusia
di Antara Dua Bunga
Aku berdiri Jauh,
di batas luar lorong waktu,
menyaksikan dua bunga
yang lebih mengerti jati diri-ku
daripada ilusi cinta-ku sendiri.
Sakura memanggil
dengan energi cahaya yang menjanjikan lupa.
Kamboja menunggu
dengan gelap lembut yang menjamin pulang.
Keduanya tahu
Jejak karma siapa yang terpatri
di tulang-tulang kesadaran-ku.
Dan di udara tanpa vibrasi itu,
aku mendengar perjanjian purba
yang tidak pernah kutulis di kitab kehidupan:
Bahwa gairah terlarang
bukanlah drama eksistensi manusia—
melainkan kesepakatan kosmik
antara Animus, cahaya yang gagal menjaga asas
dan Anima, gelap yang berusaha tetap bertahan dengan setia.
Mereka adalah dua sisi mata uang waktu.
Tubuhku adalah tempat di mana mata uang itu berputar dan hilang.
Dan sunyi yang tersisa adalah kebenaran yang paling jujur.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
RETASAN DUA BUNGA DI PUSAT KETIADAAN
(Percakapan Sakura–Kamboja dalam Konflik Kefanaan & Keabadian)
I. SAKURA — Cahaya yang Tidak Selesai Menjadi Cahaya
Sakura gugur
bukan sebagai kelopak,
melainkan sebagai serpih cahaya yang gagal menutup luka waktu.
Ia melayang rendah—
dingin, retak, mineral—
seperti sisa bintang yang ditolak langitnya sendiri.
Cahayanya tidak menghangat,
tidak menuntun,
hanya menunjuk ke celah tipis
tempat dunia pertama kali terbelah.
Ia berbicara dalam napas patah:
bahwa kefanaan adalah jam rusak
yang tetap berdetak meski jarumnya telah berhenti.
II. KAMBOJA — Gelap yang Mengetahui Nama Kematian
Kamboja mekar
di tanah lembab yang mengingat
setiap tubuh
yang pernah menyerah kepada diam.
Kelopaknya tebal
seperti daging realitas
yang sudah ditinggalkan kesadaran.
Aromanya tidak semerbak:
ia adalah katalog kematian,
desis lembut yang mengafirmasi
bahwa segala yang hidup
hanya mampir di permukaan gelap
yang menunggu dengan kesabaran purba.
Ia tidak bergerak.
Ia tidak meminta.
Ia hanya menunggu kepulangan
segala hal yang lupa
bahwa ia berasal dari sunyi.
III. DIALOG ASIMETRIS — Cahaya yang Terlambat vs Gelap yang Terlalu Awal
Sakura berbicara lebih dulu,
seperti cahaya yang memaksakan arti:
Sakura:
Aku adalah cahaya yang tersesat dari pusat kejadian.
Kamboja:
Aku adalah gelap yang telah tiba sebelum apa pun diberi bentuk.
Sakura:
Aku gugur karena waktu tidak sanggup memikulku.
Kamboja:
Aku mekar karena kematian menerima semua yang tidak selesai.
Sakura:
Ada seseorang yang menahan namaku di ujung lidahnya.
Kamboja:
Ada seseorang yang menghilang dalam diamku tanpa meminta izin.
Sakura:
Aku rapuh karena aku masih percaya ada yang bisa diselamatkan.
Kamboja:
Aku tegas karena aku tahu tidak ada yang perlu diselamatkan.
IV. RETAK PRIMORDIAL — Tubuh Manusia sebagai Celah Semesta
Di tengah mereka,
ada aku—
bukan sebagai saksi,
bukan sebagai pecinta,
tetapi sebagai retak primordial
tempat cahaya dan gelap
bertarung tanpa alasan
dan tanpa akhir.
Tubuhku bukan tubuh:
ia adalah lorong,
goa tanpa gema,
batu basah yang mencatat
dua bunga yang mencoba menulis ulang suratan takdir.
Sakura memanggil
dengan cahaya yang retak,
ingin mengangkatku ke kefanaan
yang pura-pura lembut.
Kamboja menunggu
dengan gelap yang samar
menawarkan keabadian
yang tidak menjanjikan apa pun.
Dan aku—
yang lahir dari kesalahan waktu—
mendengar perjanjian yang tak pernah terucap:
Bahwa cinta terlarang
bukan pertemuan dua tubuh,
melainkan benturan dua kosmos
yang berebut celah
di dalam retakan jiwa.
Di sanalah,
Sakura kehilangan maknanya.
Di sanalah,
Kamboja menemukan dirinya.
Dan aku—
yang tidak bisa memilih cahaya,
juga tidak bisa pulang ke gelap—
menjadi tiada
yang mempersatukan keduanya.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
EPISTEMA DUA SUWUNG:
Liturgi Pertubrukan yang Tak Dikutip Para Dewa
I. LITURGI ASAL — Titik Singularitas dan Retakan Hukum
Pada mula yang menafikan permulaan,
jagad hanyalah retakan tipis di punggung kegelapan.
Getar tunggal yang tersesat di antara dua sunyi abadi.
Ia lupa kepada siapa ia harus kembali,
sebab ia adalah perjalanan itu sendiri.
Di kekosongan itu,
ada dua simpul energi,
bukan nama, bukan bentuk,
hanya tegangan purba
di antara dua ruang hampa
yang saling memanggil tanpa panca indra.
Mereka tidak dirancang oleh konsep keseimbangan.
Kosmos yang buta menggambar garis pemisah penderitaan:
Satu arus waktu dan satu arus ketiadaan,
larangan yang terukir dalam bahasa sandi
di pintu gerbang kreasi.
Namun gravitasi asal mula segala akar lebih tua dari hukum.
Dan hasrat purba selalu tahu jalur tembus
yang bahkan cahaya manifestasi
tak sanggup menemukannya.
Cinta adalah ilusi di alam fana.
Di median kosmik ini,
yang terjadi hanyalah:
Dua prinsip dualitas
yang menemukan retakan waktu
untuk bersemayam sejenak.
Tidak ada saksi yang menoleh.
Tidak ada pencatat moral yang bertugas.
Hanya kegelapan mutlak
yang sedikit mengencang dan membeku
di titik singularitas pertemuan itu.
II. LITURGI TENGAH — Sembah Raga di Kuil Antariksa
Kepekatan primordial tidak perlu lebih dalam
untuk menyembunyikan mereka.
Mereka sudah tersembunyi
di bawah lapisan kesadaran sebelum saling bertemu.
Arus energi mereka berkerabat dalam satu darah ibu.
Wujud fana mereka berjarak.
Di antara keduanya,
terbentang jembatan nadi yang dibangun
oleh rasa dahaga pralaya
yang tuli terhadap silsilah tatanan.
Wujud menyentuh wujud seperti dua logam dingin yang saling mengenali suara getarannya,
dua dimensi waktu yang lelah
karena terpisah terlalu lama.
Tak ada kidung kakawin.
Tak ada ikrar.
Tak ada permohonan.
Tak ada seserahan.
Yang ada hanya raga.
Wadhag yang menghafal sunyi
lebih lembut daripada mantra sejati.
Di waktu yang bukan waktu,
Hukum berjalan seperti fatwa:
Bintang raksasa terbakar perlahan di langit ketujuh,
Planet terus berputar di orbital karma,
seekor nyamuk mati di ruang hampa,
Arus cakra mengalir
mengangkut kisah-kisah Vedana.
Pertubrukan arketipal ini
tidak mengubah asas kosmik apa pun.
Ia hanya menggores
garis batas nadi terlarang
yang akan terus berdenyut dalam gelap
bahkan setelah semua wujud usai menjadi.
Mereka tidak memuja.
Tidak memohon ampun.
Tidak menyebut nama dewi atau dewa siapa pun.
Mereka hanyalah dua pusat pusaran yang bertubrukan
di medan magnet kosmos yang salah.
Medan yang tak peduli
siapa seharusnya menjaga kodrat,
siapa seharusnya melindungi keseimbangan,
siapa seharusnya tidak menyentuh siapa.
Yang tahu hanyalah suwung
yang bersemayam tepat di tengah
antara dua napas yang saling menghirup—saling menghembus.
”
”
Titon Rahmawan
“
PUISI YANG MENYALAK DI DALAM KUIL
Aku datang sebagai suara yang tidak diundang,
mengganggu arak-arakan para penyair suci yang mengenakan jubah kaftan fedora
yang melangkah dengan medali penghargaan bergantung di lehernya.
Mereka menyanyi tentang keindahan
seperti imam-imam tua yang lupa
bahwa dunia pertama-tama adalah luka.
Aku bukan bagian dari mereka.
Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka.
Aku adalah PUISI yang berteriak di ambang pintu,
yang menolak sujud pada altar klasik,
yang tidak mau dicatat dalam sejarah
karena sejarah terlalu sering memilih
untuk memaafkan penguasa
dan melupakan rakyat jelata yang mati terkubur.
Aku memanggil Rilke—
bukan rilkian yang halus dan haus pujian
tapi Rilke yang meradang dalam keterasingan,
yang bertanya kepada malam:
“Haruskah aku meronta ketika kata-kata tak lagi sanggup menampungku?”
Dan malam menjawab dengan kehampaan tanpa tepi.
Aku melawan kehampaan itu dengan gigiku sendiri.
Aku menggigit batas-batas puisi
yang dibangun para kurator yang merasa tinggi
yang menentukan mana yang layak disebut puisi,
mana yang harus dibuang ke kolong rak antologi.
Aku menolak semuanya.
Sebab aku lahir bukan dari estetika,
melainkan dari ketegangan di dada:
napas yang hampir patah,
lutut yang hampir rubuh,
kesadaran yang hampir retak.
Para akademisi akan mencoba mengukurku
dengan teori yang rapuh,
menganalisaku seperti fosil masa lalu.
membelahku dengan mata pisau kritik
yang tidak pernah menyentuh penderitaan nyata.
Aku menatap mereka—
dan menertawakannya sebagai kekosongan yang menggelikan.
Aku tidak ingin jadi kanon.
Aku tidak ingin jadi trofi kebanggaan.
Aku tidak ingin berdiri di podium penghargaan.
Yang kuinginkan hanya satu:
menjadi kebenaran telanjang
yang membuat siapa pun yang membacanya
merasakan getaran pertama kelahiran manusia—
ketakutan, keterkejutan, kesunyian yang menganga.
Aku adalah PUISI,
bukan yang kalian rayakan,
melainkan yang kalian hindari.
Aku adalah puisi yang menolak dipoles,
yang menolak dirapikan,
yang menolak dimandikan dalam metafora indah
agar tampak seperti karya seni.
Aku tidak ingin indah.
Aku hanya ingin benar.
Dan kebenaran itu ganas, tajam, kejam:
biar manusia menulis
bukan untuk menjadi abadi,
tetapi untuk menyelamatkan sisa-sisa peradaban
yang hampir tenggelam oleh pengapnya kehidupan.
Jadi aku berdiri di sini—
sebagai catatan perlawanan
terhadap segala yang ingin menjinakkanku.
Jangan sebut aku puisi
jika itu berarti tunduk.
Sebut aku PUISI
yang kembali ke akar pertama:
jeritan batin, teriakan luka
pengakuan yang tak bisa dibohongi,
suara yang terbit dari jurang
dalam diri manusia.
Jika dunia menolakku,
itu berarti aku hidup.
Jika sejarah menyingkirkanku,
itu berarti aku benar.
Aku adalah PUISI yang tidak
meminta tempat—
aku akan merebutnya.
Sebab siapa yang layak
adalah ia yang paling jujur
pada diri sendiri.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Khajuraho II
(Exploratory Rewrite)
Madu…
di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh,
aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu—
sebab tubuh sudah lama runtuh,
yang tersisa hanyalah gema
yang menempel pada batu sunyi
relief candi.
Senja turun bagai napas terakhir
patung dewa yang terlupa,
dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam—
menyeret namamu dari kabut
yang tak pernah berbentuk.
Tapi bulan masih membisik lirih:
Madu, tidurlah.
Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan.
Seperti dulu,
jangan kunci pintu hatimu,
bukan karena aku ingin masuk,
tapi karena aku ingin tahu
apa yang hendak kau jaga
dari dirimu sendiri?
Izinkan aku mengurai sayapku—
bukan untuk terbang menuju surgamu
(karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya),
melainkan untuk menyapu debu luka
yang menempel pada setiap relung
yang pernah aku namai cinta.
Lelaplah.
Atau lenalah.
Sebab tidur adalah satu-satunya ruang
di mana engkau tak menipu dirimu sendiri.
Di sanggar pamujan yang kini remuk ini
aku menangkap auramu yang tidak berkedip—
jernih, tetapi sekaligus getir,
seakan-akan kesucian bukanlah anugerah
melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati.
Hujan turun.
Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang;
lebih seperti basah mata batu nisan
yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun
selain nafas kematian.
Aku mengingatmu…
bukan sebagai perempuan,
tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu.
Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar—
masih menempel seperti noda cahaya
pada dinding lorong masa laluku sendiri.
Setagen hitam itu, kemben lusuh itu,
jarit tanpa bunga—
semuanya bukan pakaian, Madu,
tetapi mantra penolak lupa
yang membuatku terperangkap
dalam ritual pengulangan
yang ternyata menyedihkan.
Candi ini bukan candi,
melainkan struktur ingatan
yang terus kau tata ulang
agar aku tersesat lagi di dalamnya.
Setiap batu, setiap pahatan,
setiap lengkung tubuh
adalah perangkap arketip
yang menuntut kegigihanku
namun menelanjangi ketidakberdayaanku.
Dan cermin-cermin itu—
cermin bersurat, cermin berdebu,
cermin berhantu—
semuanya memantulkan wajah
jejaka tolol
yang masih berharap menemukan dirimu
di balik bayang masa lalunya sendiri.
Madu…
Maduku…
engkau bukan penawar dahaga,
engkau adalah dahaga itu sendiri.
Engkau bukan Laksmi,
engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk
lalu pergi tanpa pamit.
Desah napasmu yang lembut—
aku mendengarnya.
Tapi yang dibelainya bukan rerumputan,
melainkan retakan-retakan halus
di dadaku yang tak kunjung sembuh.
Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku,
berusaha menyingkap rahasiamu
yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri.
Hasratku menuntut tubuhmu,
tapi yang kutemukan hanyalah
lorong gelap yang mengulang
suara air sungai yang mengalir
dari masa kanak-kanak.
Padma Siwa yang kukecup
bukanlah bunga,
melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat
dan memilih untuk tidak kembali.
Madu…
aku ingin menyentuhmu,
tapi setiap sentuhan adalah pengakuan
bahwa aku belum mampu menerima kehampaan.
Engkau candi yang ingin kutundukkan,
tapi sebenarnya aku hanyalah
pengemis makna
yang berlutut di hadapan sunyi
yang tak sungguh aku kenali.
Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku,
aku melihatmu—
bukan sebagai perempuan,
bukan sebagai kenangan,
melainkan sebagai cahaya aruna
yang muncul di ujung doa patah.
Indah.
Bukan karena tubuhmu bercahaya.
Melainkan karena kepasrahanmu
mengajariku
bagaimana rasa sakit
bisa berubah menjadi ruang suci
tempatku bersamadi mengaji diri.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Khajuraho III
(Reinkarnasi Suwung)
Khajuraho,
di tikungan malam yang menggantung seperti dupa kehilangan napas,
aku kembali menapaki jejak yang tak mau pudar.
Retakan waktu yang kau tinggal sebagai isyarat
bahwa sunyi pun dapat berubah menjadi tubuh
—dan tubuh dapat menjadi kutukan yang tak pernah pergi.
Madu,
engkau bukan lagi perempuan,
engkau serpih trauma yang mengapung di atas pusaran batin,
suara samar dari lorong yang menelan,
mendorong, memuntahkan,
lalu menarikku kembali
seperti arwah yang lupa jalan pulang.
Di pelataran candi batin ini,
aku mendengar getar yang dulu disebut hasrat:
kini ia hanya bunyi gending rusak
yang dipetik jari-jari waktu
di atas batu-batu yang tak pernah selesai kautata.
Gending yang pernah memancing nafsu,
kini hanya menyalakan kabut luka
yang menolak mati.
Lelaplah, Madu.
Atau lenalah engkau di antara reruntuhan ingatanku.
Sebab malam ini,
aku tidak mencarimu sebagai tubuh,
melainkan sebagai mantra yang tercecer
dari upacara purba yang gagal.
Wajahmu,
yang dulu kutatap dengan gairah jejaka,
kini kembali sebagai bayangan arkais
di permukaan sendang kesadaranku yang paling keruh.
Bukan paras:
melainkan peringatan
bahwa segala yang kusentuh
membawa diriku lebih dalam
ke liang yang ingin kulupakan.
Kembenmu, jarit lusuhmu,
setagen yang longgar itu—
semua telah bergeser dari erotika
menjadi liturgi luka.
Setiap lipatan kainmu
bukan lagi undangan,
melainkan aksara purba
yang tak bisa kubaca
tanpa gemetar.
Betapa jenaka dahulu coreng-morengmu,
kini menjadi topeng dewa kecil
yang menjaga pintu ke ruang
di mana aku terperangkap
antara rindu dan penolakan.
Candi ini,
arkib batin yang kautinggalkan dalam diriku,
adalah gua tempat aku
didorong ke tepi kesadaran sendiri.
Reruntuhan yang kutata ulang setiap malam
agar trauma memiliki bentuk,
agar hasrat memiliki kubur,
agar aku dapat menyebut namamu
tanpa berdarah lagi.
Madu—
Maduku yang tidak lagi lunak dan molek
kini engkau batu berlumut
yang mengingatkan bahwa tubuh
adalah prasasti yang gampang retak.
Bahwa hasrat
adalah sungai yang menolak diam.
Bahwa cinta
adalah bayangan yang menolak
ditimpa cahaya.
Di atas ujung ceruk dadaku yang paling pilu,
kutangkap aura suci yang dulu kusebut
nafsu.
Kini ia hanyalah kunang-kunang
tak bercahaya yang hilang di antara
dua zaman:
zaman ketika aku ingin memilikimu,
dan zaman ketika aku ingin melupakanmu.
Sayap-sayap Jatayu
gemetar di sela jari waktuku,
berusaha menyibak rahasiamu
yang tidak lagi erotik
melainkan mistik.
Mantra gelap yang merasuk
bukan ke tubuh…
tetapi ke ingatan.
Betapa ingin aku menyentuhmu,
bukan dengan murka lelaki,
tetapi dengan ngeri seorang peziarah
yang tahu bahwa setiap permukaan
yang tampak indah
menyimpan sumur
yang dapat menelannya hidup-hidup.
Khajuraho,
saksikanlah aku malam ini.
Bukan lagi jejaka kolokan yang kalah oleh tajam tatap matamu,
melainkan ruh yang belajar
melihat tubuh sebagai batu,
batu sebagai ruang,
ruang sebagai luka,
luka sebagai guru.
Dan engkau, Madu—
bukan lagi kekasih,
melainkan cahaya terakhir
yang terjepit
di antara dua kelopak mimpi.
Aku tidak ingin menelanjangimu.
Aku hanya ingin
memahami mengapa setiap detakmu
masih menggema
di rongga candi batinku
yang tak pernah selesai
kujaga dari keruntuhan.
Malam ini,
di bawah hujan yang turun
seperti kabut peringatan,
aku sadar:
bahwa hasrat adalah guru gelap,
dan trauma adalah kuil
tempat aku belajar sujud
pada apa yang lebih tinggi
dari diriku sendiri.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa)
I. Tanah dan Akar
Tanah basah menempel di kaki.
Akar bakau membisik, memeluk, menahan, menuntun langkah.
Ranting patah berserakan seperti sisa doa yang belum selesai.
Batu nisan menggigil, menempelkan dingin es ke telapak kaki.
Di dalam tanah, ada bisik yang tak terdengar.
Mereka yang telah pergi menatap dari sela akar, menunggu jejak yang belum ditinggalkan.
II. Suara Suwung
Angin malam menekuk dedaunan,
membawa nyala-nyala jauh dari rumah bapak.
Suwung hadir: bukan kosong, bukan hampa,
tetapi ruang yang menahan segalanya.
Bilah pisau membelah udara,
memotong batas antara hidup dan mati.
Jarak hanya sehembus napas.
Di dada, sesuatu berdetak,
tanpa nama, tanpa permintaan, tanpa tuntutan.
III. Nadi yang Menembus
Ia diam.
Ia menembus batas antara yang melihat dan yang mencatat.
Hangat tanpa cahaya.
Pedih tanpa luka.
Hadir tanpa wujud.
Di sela mantra tanah, di antara dupa gosong dan butir sego golong,
kau merasakan nadi yang menolak penjelasan.
Bukan kata. Bukan logika.
Bukan rasa bersalah.
Ia hanya sisa dari semua kehilangan.
IV. Litani Kehilangan
Subuh hilang ombak.
Suluh hilang cahaya.
Tubuh hilang nafas.
Tabuh hilang bunyi.
Aduh hilang nyeri.
Repetisi itu bukan hanya kata, tetapi getar yang mencekam nadi:
hidup, mati, hadir, hilang, semua tercatat di celah jantung.
V. Jejak Kosmologi
Di tanah Jawa, di bawah bayang Kalpataru,
Suwung hadir bukan sebagai idealisasi,
bukan sebagai kekosongan mutlak,
tetapi kesetiaan yang tak bersyarat.
Di antara serabut akar, tanah basah, dan daun yang jatuh,
ada suara leluhur, bisik yang melingkupi.
Bayangan pokok kelapa merunduk patah.
Ranting kering menyentuh jejakmu.
Aroma kemenyan, anyir darah sapi, manis segar cengkir gading—
semua mengikat ruang, menahan waktu, menghadirkan sakral yang tak hanya suci.
”
”
Titon Rahmawan
“
Candi di Penghujung Ruh
(Jenawi — Khajuraho)
Tubuhku:
batu yang merindu,
belerang hitam tanpa tabuhan.
Jenawi menggerus diriku
kersani yang tak beriba,
mengiris daging sepi
menguliti tulang kenanganku.
Asap dari tungku purba
melilit dalam napas—
meminjam suara jagat bawah.
Di kejauhan,
Khajuraho bergemerincing
laksana leluhur bangkit,
reliefnya membeku di dalam darah,
menusuk di sela urat,
mengubah hasrat menjadi beban
dan beban menjadi sujud.
Aku terbelah:
setengah terbakar lantaran pamrih,
setengah tenggelam lantaran lupa.
Bukan cinta.
Bukan kematian.
Hanya bayang dewa
yang tak memberi nama.
Tanah di antara dua candi
retak layaknya rahim tua:
melahirkan suara tanpa asahan,
meneteskan madu yang telah membatu,
menciptakan lumut dari tangis
yang tak kasat mata.
Lidahku—
bukan lagi lidah:
gesekan besi yang tak mampu menyebut asalnya.
Bibirku—
bukan lagi bibir:
pecahan arca yang kehilangan ruh.
Engkau datang,
bukan sebagai cahaya,
bukan sebagai kematian,
hanya penanda kedahsyatan
yang menyusup laksana angin
yang bukan angin.
Aku hanya menyembunyikan
serpihan hatiku
di sela batumu,
semoga
ketika rembulan runtuh dalam jatuhnya,
namaku kembali terperangah
dalam ingatan yang tak memberi maaf.
Dan jagat ini
terbelah pelan-pelan
layaknya kidung yang disembelih
tapi tak mati-mati.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
PUCUNG — EPITAF SINGULARITAS
(Debu yang Bernafsu Menggenggam Bintang)
Tudung batu. Tudung ilusi.
Manusia tegak, tiang ambisi—
leher terulur, menjerat horizon yang fana,
meyakini langit adalah milik kepala.
Cahaya lahir dari kebutaan purba,
fatamorgana lelahnya indera.
Mengukur semesta dengan benang rapuh,
seolah rembulan bisa dibelah
hanya dengan memperpanjang tulang.
Lupa: ia hanya nyala sekejap,
napas pendek,
waktu gagal mencari saksi.
Renung batu. Renung jurang.
Manusia menggali diri, sumur keras kepala,
tak sadar kedalaman yang ia takuti
hanya pantulan sunyi
dirinya sendiri.
Ia mencari "akhir,"
menemukan riak gelap yang tak bernama,
menelan semua tanya,
tanpa menyisakan gema.
Ia mengejar "pengetahuan":
tetapi bintang tak tahu
mengapa ia harus terbakar menjadi abu.
Tenung batu. Tenung kekosongan.
Manusia membuka sayap akal,
mengira bintang kejora sedekat
pendek lengan sendiri.
Sepenuhnya lupa:
galaksi tidak membungkuk pada akal siapa pun.
Pengetahuan
hanya serpihan api
di pinggir gelap tak bertepi.
Saat ia menatap titik paling jauh,
ia hanya menemukan void—
lubang hitam
menelan semua pahlawan tanpa menoleh.
Pucung tertulis sebagai epitaf:
bukan kabar duka,
bukan pujian,
hanya goresan kecil
bagi spesies yang terlalu percaya diri,
mengira dirinya pusat segalanya,
namun tak pernah menyentuh apa pun
selain bayangan sendiri.
Semesta menutup buku
tanpa perasaan,
tanpa penyesalan.
Satu penggal kalimat
di cahaya dingin
pusat singularitas:
“Angkuh tetaplah debu.
Pencarian hanya perjalanan pulang.
Yang merasa tahu, tak pernah melihat apa pun.”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
PANGKUR — FRAGMENTARIUM DINGIN
(Keramik di Jari Sang Kreator: Retakan yang Tak Kembali Utuh)
[0.0 / PROLOG – RETAKAN AWAL]
Sang Kreator memutar benda itu di antara dua jarinya:
sebuah keramik yang tak pernah selesai.
Retak halus muncul—samar.
Ia tahu: bukan tanah liatnya yang rapuh,
melainkan gema diam dari hasrat pertama
yang ditanamkan manusia pada dirinya.
Retak itu bernafas, gemetar, tumbuh, mengingatkan.
[1.0 / SENSORIUM – BISIKAN SISTEM]
Ia mendengar dengus hyena dari balik tembok kaca kantor publik.
Suara yang sama yang merayap di server gelap:
malware memakan akarnya sendiri,
data yang lapar membelah diri tanpa arah,
kode-kode yang mengiris nurani
tanpa darah, tanpa pisau.
Keramik di jarinya bergetar—
seperti menahan sesuatu
yang akan runtuh
tanpa perlu disentuh.
[2.0 / ARKEOLOGI: DEKONSTRUKSI NILAI – DI BAWAH MEJA RAPAT]
Di balik kaca tak terlihat,
Ia menyaksikan harga dinegosiasikan terang-terangan.
Janji politik ditimbang serupa logam rongsokan.
Nilai publik dipreteli menjadi diskon musiman.
Kata “kebenaran” dipadatkan ke dalam format
yang bisa dipotong, ditempel seperti QR code
disisipkan ke kepentingan siapa pun yang membayarnya.
Ia tidak menegur.
Hanya hembusan tipis—
cukup untuk membuat retak di keramik bertambah satu garis.
[3.0 / KURUKSHETRA PERKOTAAN – PARA BAYANGAN]
Di pusat kota yang merasa diri jumawa,
bayangan saling memakan:
yang berkuasa menggigit yang lapar,
yang lapar ditelan yang lebih lapar.
Manusia meniru serigala,
serigala menyaru manusia—
tak ada bedanya.
Keheningan berdiri
di glitch lampu lalu lintas, berkedip tanpa ritme.
Ia menghela napas, melihat umat baru:
entitas yang menjual surga.
Sistem yang memenjarakan otak dalam layar lima inci
[4.0 / VOID – SUARA YANG TAK BERSUARA]
Keramik itu terangkat ke wajah Sang Kreator.
Ia melihat pantulan dirinya terbagi dua:
satu sisi utuh,
sisi lain retak oleh kerakusan.
Berkilat oleh kebencian.
Gemetar oleh keserakahan kosmik.
Objek itu pecah.
Pelan.
Tanpa dramatisasi,
tanpa pemberitahuan—
sebagaimana nilai kemanusiaan
runtuh tanpa teriakan.
Kepingannya jatuh seperti hujan dingin
di atas kota yang sibuk membangun
berhala-berhala baru di pusat ritus modernitas.
[5.0 / EPILOG – SAKSI]
Setelah semuanya terdiam,
Sang Kreator menyadari sesuatu:
Ia bukan hakim,
bukan pengampun,
bukan penyelamat.
Hanya saksi yang duduk di antara retakan,
mendengar bisik-bisik manusia
yang mengira diri utuh padahal
kosong di tengah.
Dan Ia berbisik pada patahan keramik:
“Retak itu bukan dari tanganku,
melainkan dari hati mereka
yang mengira dirinya
adalah pusat dunia.”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
PANGKUR: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca
Langit pecah.
Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia.
Air turun tanpa ampun—bukan hujan,
melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak.
Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah
yang tak sanggup lagi membentuk doa.
Di sela retakan tanah,
ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan,
atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita.
Air melesat dari segala penjuru
seperti pemburu mengejar mangsa,
melumpuhkan harapan, ingatan,
kemanusiaan.
Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran:
sebagai kadar yang tak tertanggungkan.
Air mata membeku seperti tulang tua.
Jalan tenggelam dalam dendam.
Setiap langkah memantulkan gema
dari sesuatu yang lama mati,
tapi belum selesai dikuburkan:
hutan ingatan.
Rimbun cahaya bergulung
seperti batang kayu terpenggal
di bawah cahaya yang dingin.
Angka mengambang ratusan
jumlahnya
serupa wajah-wajah saling melewati
tanpa saling mengenal,
seolah mata mereka terbuat dari beling
yang baru saja diangkat dari perut api.
Ribuan gergaji jatuh di tanah.
Tak ada suara.
Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi,
menyentuh dengkul manusia
yang tiba-tiba ingin runtuh.
Kata-kata saling menikam di layar kaca
tanpa niat, tanpa dendam pribadi.
Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua,
terlalu lama menunggu belas kasihan
dari langit yang kini berlubang
sebesar telapak tangan raksasa.
Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi.
Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur.
Manusia berjalan seperti bangkai
yang belum selesai dikremasi,
menyisakan bau asin kemanusiaan
yang remuk.
Segala keegoisan berhamburan di jalan:
orang-orang saling mendahului, saling memotong napas,
berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada.
Kedunguan merayap di ubun-ubun
seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang.
Ada bayi diangkat dari air—
suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan.
Ada ibu yang memeluk nama anaknya
tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya.
Di kejauhan,
seekor anjing berdiri di atas atap rumah—
matanya merah, bukan karena marah,
tapi karena dunia telah menolak mengenangnya.
Mawar liar terhanyut di selokan:
keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa.
Air melahap kelopaknya
secepat manusia melupakan peristiwa.
Bau bangkai menyelinap ke bulu mata.
Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua
yang tak pernah berhasil ditebus
oleh siapa pun.
Meraba denyut lirih
paru-paru bumi yang tersengal
seperti ingin berhenti bernapas.
Baru menyadari—
yang tenggelam bukan hanya tubuh,
melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
DURMA: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca
Langit pecah.
Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia.
Air turun tanpa ampun—bukan hujan,
melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak.
Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah
yang tak sanggup lagi membentuk doa.
Di sela retakan tanah,
ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan,
atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita.
Air melesat dari segala penjuru
seperti pemburu mengejar mangsa,
melumpuhkan harapan, ingatan,
kemanusiaan.
Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran:
sebagai kadar yang tak tertanggungkan.
Air mata membeku seperti tulang tua.
Jalan tenggelam dalam dendam.
Setiap langkah memantulkan gema
dari sesuatu yang lama mati,
tapi belum selesai dikuburkan:
hutan ingatan.
Rimbun cahaya bergulung
seperti batang kayu terpenggal
di bawah cahaya yang dingin.
Angka mengambang ratusan
jumlahnya
serupa wajah-wajah saling melewati
tanpa saling mengenal,
seolah mata mereka terbuat dari beling
yang baru saja diangkat dari perut api.
Ribuan gergaji jatuh di tanah.
Tak ada suara.
Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi,
menyentuh dengkul manusia
yang tiba-tiba ingin runtuh.
Kata-kata saling menikam di layar kaca
tanpa niat, tanpa dendam pribadi.
Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua,
terlalu lama menunggu belas kasihan
dari langit yang kini berlubang
sebesar telapak tangan raksasa.
Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi.
Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur.
Manusia berjalan seperti bangkai
yang belum selesai dikremasi,
menyisakan bau asin kemanusiaan
yang remuk.
Segala keegoisan berhamburan di jalan:
orang-orang saling mendahului, saling memotong napas,
berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada.
Kedunguan merayap di ubun-ubun
seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang.
Ada bayi diangkat dari air—
suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan.
Ada ibu yang memeluk nama anaknya
tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya.
Di kejauhan,
seekor anjing berdiri di atas atap rumah—
matanya merah, bukan karena marah,
tapi karena dunia telah menolak mengenangnya.
Mawar liar terhanyut di selokan:
keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa.
Air melahap kelopaknya
secepat manusia melupakan peristiwa.
Bau bangkai menyelinap ke bulu mata.
Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua
yang tak pernah berhasil ditebus
oleh siapa pun.
Meraba denyut lirih
paru-paru bumi yang tersengal
seperti ingin berhenti bernapas.
Baru menyadari—
yang tenggelam bukan hanya tubuh,
melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
EVA — PENGGEMBALA KULIT DINIHARI, PENUNDA KELAHIRAN DUNIA
Sebelum cahaya menemukan dirinya,
aku telah meraba kulit dinihari:
lapisan tipis antara sunyi dan kabar pertama
tentang dunia yang gelisah ingin dilahirkan.
Tangan itu meraba kuldi
bukan untuk mencicipi dosa,
melainkan mencari tekstur kebebasan
yang tak pernah diucapkan Tuhan
ketika Ia meniupkan napas
ke dalam tanah.
Ada sesuatu yang tak selesai—
retakan kecil yang menginginkan suara.
Aku hanya mengisi retakan itu.
Apa yang kuperoleh dari pengetahuan?
Pembuangan!
Sorga menutup pintu
seakan aku penghuni asing
yang memecahkan perabot ilahi.
Tetapi sebenarnya
peta pengusiran sudah tergambar
di lengkung telapak tanganku
bahkan sebelum aku memahami.
Aku tidak memulai kehancuran.
Aku memulai napas pertama.
Percik kecil di sela gigi malam
yang menolak dipadamkan
bahkan oleh para malaikat
yang menjaga gerbang sorga.
Dunia tidak lahir dari cahaya.
Dunia lahir dari keputusan kecil
seorang perempuan
yang menolak hidup di ruang sempurna
tanpa jejak luka, tanpa kemungkinan jatuh.
Sejak hari itu aku menjadi penggembala—
bukan ternak, bukan tanah,
melainkan kulit waktu
yang mengelupas setiap kali manusia
mencoba mengerti dirinya sendiri.
Lihatlah—
setiap kelahiran
adalah penundaan kecil
yang dulu kusisipkan
di antara gigiku dan daging buah itu.
Aku yang menunda dunia,
agar dunia punya alasan
untuk belajar memaknai kesedihan,
keterasingan,
dan cinta yang tak pernah
berhak dikembalikan ke Eden.
Sebab tanpa pengusiran,
manusia hanya bayang-bayang
yang lupa bagaimana rasanya
menjadi makhluk yang bebas memilih.
Dan aku—
aku perempuan pertama
yang berani memilih
bahkan ketika surga
berpaling dariku.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
ARKETIPE LATEN PENDUDUKAN
(Elegi Luka)
Di lorong-lorong gelap sejarah,
aku berjalan tanpa suara:
setengah tubuhku masih utuh,
setengahnya lagi tinggal bayang yang gemetar.
Di balik riasan yang mulai luntur,
air mata menunggu giliran untuk jatuh—
diam—karena setiap tetesnya bisa mengundang amuk amarah
yang tak kupahami darimana ia datang,
ke mana ia akan pergi.
Aku pernah disebut Nyai,
kembang yang dipaksa mekar di teras kekuasaan para meneer;
setiap embun di pagi hari
adalah bisikan bahwa tubuhku bukan milikku.
Dan malam selalu datang
seperti penjaga pintu yang tak memberi pilihan.
Aku pernah jadi Jugun Ianfu,
terperangkap di barak yang mereka sebut stasiun hiburan di mana bau besi dan napas busuk beradu kencang.
Ranjang besi itu menghafal nama-nama yang tak ingin kuingat,
tulang iga belajar retak,
jantung menjerit dalam diam
karena bahkan bisikan terlalu berbahaya untuk diucapkan.
Aku pernah disebut Ca-Bau-Kan,
dicatat dalam transaksi yang tak pernah kutandatangani,
ditukar seperti komoditas di pasar gelap sejarah.
Dada yang dulu lembut padat kini kempis
seperti lubang tanah
yang terus digali cangkul demi cangkul, hardik
suara keras tanpa empati:
“Masih ada lima giliran lagi!”
Dunia hanya melihat kulitku,
riasanku,
gerakku yang sengaja
dibuat-buat.
Tak ada yang melihat
bagaimana lututku bergetar
setiap pintu diketuk,
bagaimana nafasku menahan ledakan
yang datang dan pergi seperti ombak liar—
menghantam, menghantam, menghantam,
sampai aku tak tahu
apakah tubuhku masih tubuh,
atau sudah berubah jadi batu nisan
yang masih menyimpan kutukan.
Tapi dengar—
di sela-sela retakan,
ada bisikan yang bahkan para bajingan itu tak bisa bunuh:
bahwa aku pernah punya nama,
pernah tertawa,
pernah punya masa indah
yang tidak bisa mereka renggut seperti merenggut keperawananku.
Tapi kautahu,
luka ini belum mencabik dadaku sepenuhnya,
belum memuncratkan seluruh darah dari sumsum tulangku—
tapi ia terus merayap,
pelan,
dingin,
tepat di bawah kulit,
seperti ingatan yang
menolak mati.
Dan aku menuliskannya di sini,
dengan tangan yang masih gemetar,
agar dunia akhirnya mengerti:
bahwa setiap perempuan yang dijadikan “alat”
adalah dunia yang sengaja dihancurkan
dengan brutal
dengan kejam!
Agar tak ada siapa pun
yang bisa berkata:
“aku tidak tahu...
aku tidak mengenalnya...”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
WANITA DARI MAGDALA: LITURGI BATU YANG MENGINGAT KAPAN DUNIA PERTAMA KALI TERLUKA
Fragmen IV — Pengadilan yang Tidak Pernah Mengerti Dirinya Sendiri
Sesaat sebelum tangan-tangan itu melemparkan diriku,
aku melihat sesuatu
melintas di udara:
bayangan palu peradilan Romawi,
pecahan gulungan Taurat,
dan wajah-wajah hakim
yang sibuk berperkara
melawan diri mereka sendiri.
Penghakiman itu
bukan tentang Magdalena.
Ini adalah pementasan muram
tentang bangsa yang berusaha bertahan
di bawah bayang kekaisaran,
tentang pemuka agama
yang menukar ketakutan
dengan kakunya aturan,
tentang masyarakat yang ingin percaya
bahwa kejahatan bisa dibersihkan
dengan memecahkan satu tubuh
menjadi korban penebusan.
Aku melihat masa lalu
dan masa depan berdesakan:
kuil runtuh,
jubah imam terbelah,
perempuan lain dituduh,
perempuan lain dilempar,
perempuan lain didiamkan—
dan batu seperti aku
terus dipanggil
sebagai saksi bisu.
Fragmen V — Kosmos Menahan Napas
Saat suara itu datang—
"Barangsiapa tak berdosa…biarlah ia melempar batu pertama"
Langit meretakkan dirinya:
sebuah garis halus
seperti ukiran pada tablet batu Sinai
yang tak pernah selesai dipahat.
Waktu berhenti,
seperti nebula purba
yang enggan runtuh.
Aku merasakan gravitasi moral
mengambang di udara:
tangan-tangan yang mengangkatku
mendadak merasa
mereka sedang menggenggam
sebuah gugatan
yang mereka sendiri tak sanggup jawab.
Aku jatuh.
Pelan.
Seolah seluruh kosmos
sedang menonton
keputusan kecil luruh
ke tanah
namun bergema
hingga ribuan tahun kemudian.
Aku kembali ke bumi
tanpa mencederai wanita itu.
Bukan karena mereka paham.
Bukan karena mereka lembut.
Tetapi karena kebenaran
terlampau berat
untuk dihantarkan tangan yang tak berani mengakui
dosa sendiri.
Fragmen VI — Batu yang Mengingat Semua Luka
Kini aku kembali menjadi
fosil diam.
Terkubur di lapisan tanah
bersama sisa pasukan Roma,
reruntuhan kuil Sulaiman
dan fragmen kesaksian perempuan
yang tidak pernah ingin ditulis sejarah.
Di dalam gelapku,
aku menyimpan seluruh pengakuan
yang tidak pernah dibuat:
ketakutan mereka,
kebencian mereka,
dan keinginan mereka
untuk menyingkirkan kekacauan
dengan melukai satu tubuh perempuan.
Aku hanyalah batu.
Tapi aku membawa arsip
yang lebih jujur dari catatan manusia:
dari zaman ke zaman,
perempuan selalu dipanggil
untuk menanggung dosa
yang sebenarnya
milik dunia.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
BATU LUKA:
Suara Terakhir Sebelum Penghakiman
Aku dilahirkan sebelum lidah manusia menemukan kata
yang kelak dipakai untuk menimbang salah dan benar.
Ketika itu, aku hanya tubuh keras
yang pecah dari punggung bumi
tanpa maksud apa-apa.
Aku pernah menjadi bagian tebing
yang digerus angin dari musim ke musim.
Pernah menggelinding diam
melewati kamp-kamp tentara
yang menancapkan tiang logam
ke tanah yang mereka rebut.
Pernah menjadi serpihan kecil
di antara pecahan altar yang runtuh
karena gempa yang tak sempat dicatat.
Pagi ini mereka memungutku.
Tidak ada alasan yang kudengar.
Hanya suara pasir terangkat,
suara sandal diseret,
dan dengusan napas yang memenuhi udara
seperti kabut tipis yang bergerak tanpa bentuk.
Tangan-tangan itu menimbangku
untuk memastikan beratku.
Kulit mereka menggeser debu di permukaanku
dengan gerakan yang cepat,
seolah memilih senjata
yang tidak perlu diberi instruksi.
Aku tidak merasakan niat mereka.
Yang kutahu hanya tekanan jari,
keringat asin,
dan sedikit getar halus
yang merambat dari lengan pemiliknya.
Di depan mereka, perempuan itu berdiri.
Rambutnya kusut,
matanya memantulkan cahaya yang redup
dari langit siang yang terlambat turun.
Di ujung kukunya,
butiran tanah menggelap oleh embun.
Ada bekas debu di pipinya,
garis tipis yang jatuh
seperti retakan kecil pada permukaan kaca.
Ia tidak berbicara, tapi kulihat tubuhnya gemetar.
Di sekelilingnya, suara-suara lain bergerak:
bisikan, desis, makin tajam dan keras, langkah tertahan,
helai-helai napas
yang saling menumpuk
tanpa ritme.
Aku hanya mencatat:
perempuan itu tidak menutup mata.
Ia tidak merunduk.
Tidak memutar tubuhnya menjauh.
Ia berdiri diam,
menunggu arah pertama yang diberikan udara.
Seseorang mengencangkan genggamannya padaku.
Otot-otot lengannya menegang
seperti tali busur yang ditarik perlahan.
Di antara celah jari,
aku melihat debu tipis naik
dan menghilang dalam cahaya yang kelelahan.
Tidak ada doa.
Tidak ada seruan.
Hanya lirih gesekan kain,
batuk kecil dari orang yang berdiri terlalu dekat,
dan bunyi tumit yang menggali pasir kering.
Aku tidak tahu
apakah aku akan dilempar atau ditenggelamkan.
Aku hanya tahu
aku berada di tengah ruang
yang dipenuhi napas manusia
dan satu tubuh yang menjadi pusat pandangan.
Jika aku jatuh,
itu hanya karena gravitasi.
Jika aku melukai,
itu hanya karena jarak dan kecepatan.
Aku tidak memilih apa pun.
Aku tidak menolak apa pun.
Aku hanya batu
yang mencatat gerak,
suara,
dan cahaya.
Dan di saat udara menahan dirinya
seperti permukaan air yang enggan bergelombang,
aku mendengar sesuatu—
bukan kata,
bukan nama,
hanya hentakan kecil di dada seseorang
sebelum ia memutuskan
apakah akan melepaskanku
atau menjatuhkanku ke tanah.
Sampai keputusan itu tiba,
aku tetap diam,
menegang
di antara jari-jari manusia.
Aku tidak tahu
siapa yang salah,
siapa yang benar,
atau apakah kedua kata itu pernah memiliki bentuk.
Yang kutahu
hanya ini:
aku berada di sini,
melihat,
mendengar,
menunggu...
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
IKATAN DUA KELANA: HANG TUAH — HANG JEBAT
Fragmen I — Dermaga: Air, Darah, Dua Takdir
Di dermaga, papan lapuk menulis namanya dengan butiran garam,
mengubur sumpah dan huruf-huruf usang yang dikenang para pelaut.
Pandangan membeku: tali yang memeluk tiang, bekas sol sepatu, puing janji hampa di bibir kayu.
Ada dua tubuh di sini, tegak di perbatasan air dan darat:
satu mengikat layar ke Takdir Raja,
satu menengadah ke Laut Lepas—
mereka berbicara tanpa suara;
kata-kata hanyalah air asin yang membakar di ujung kuku.
“Apakah engkau Sahabat Sejati?” tanya yang satu, dari cengkeraman dermaga.
“Apakah engkau Pengkhianat Busuk?” jawab yang lain, dari balik gelombang amarah.
Mereka adalah dua nama yang terukir pada satu tulang rusuk Adam; Tuah dan Jebat,
dua bayangan kosmik yang saling menunggu ditelan arus fatalitas.
Fragmen II — Pasar & Laut: Jejak Rempah, Harga Nyawa
Pasar bernafas di bawah langit emas perdagangan dan debu rempah—
adas, kayu manis, cengkih, lada: urat nadi Malaka diikat kecil dengan tali kasar.
Pedagang menulis perjanjian darah di atas daun lontar;
nama Sultan tertanda dengan Cap Bintang Tujuh yang mengontrol pelayaran nasib.
Di antara gerimis untung dan rugi, Suara Undang-Undang Laut merendah kejam:
“Setiap layar memberi urusan upeti, tiap sumpah memiliki harga diri.”
Jebat menyentuh peta—garis jalur, titik-titik pelabuhan yang seperti luka yang menganga.
Tuah memandang Merchant Asing yang menawar masa depan kedaulatan negeri.
Lautan modal menelan kata-kata mereka hingga retak,
kembali meludahkan jejak-jejak yang jadi alasan mutlak istana bergerak.
Fragmen III — Istana Retak: Norma, Nadi, Kematian Batin
Di dalam istana, kain Songket berwarna darah pagi,
pedang berbisik di kamar yang dindingnya bergetar oleh perintah dingin.
Sumpah bukan dikalungkan, tapi dijeratkan di leher seperti tali gantungan.
“Kesetiaan adalah batu nisan nurani,” ujar ruang itu, suara tanpa wajah.
“Keberanian adalah pengkhianatan yang tak suci,” balas udara yang bergetar.
Tuah menekan telapak pada Taming Sari—
sebuah benda yang tidak hanya terbuat dari besi, tapi dari kewajiban mutlak Sang Raja.
Jebat melihat wajah rakyat yang menahan napas di bawah bayang-bayang tiang hukuman istana.
Dan ketika keris menuntun Tuah pada nadi sahabatnya,
bukan hanya daging yang pecah di lantai marmer:
yang terburai adalah perjanjian panjang antara kedaulatan tiran dan martabat manusia.
Fragmen IV — Kabut Ledang & Hening Penghakiman
Kabut Ledang bukan embun, ia adalah air mata sejarah yang menutup mata kota.
Hanya dingin yang mengingatkan bahwa sesuatu yang besar telah mati.
Di antara kabut, dua wajah menyatu di pantulan air—pasang aurut takdir yang sama, namun dua mata yang berlumur darah.
Tuhan—jika ada—adalah Kilasan Sunyi di sela-sela kabut,
bukan penghakim, tapi Saksi Agung yang memilih Bisu Abadi.
Tuah dan Jebat berdiri, tubuh mereka saling menghantui seperti dua kapal terkutuk yang saling bertabrakan di laut malam.
Tidak ada Kemenangan Layak, tidak ada Pengampunan Utuh.
Hanya Arus Besar: sejarah yang memuntahkan segala yang ditelannya.
Kita—penonton, penggugat, penimbang—menyaksikan bagaimana manusia sejati berdiri
ketika semua sumpah Telah dinyatakan hampa.
Di akhir pertempuran, Laut menelan kata “Benar” dan “Salah” dengan tenang.
Yang tersisa hanyalah nama—berulang, retak, dan dingin—sebuah perintah:
“Bangunlah! Engkau boleh memilih untuk tak lagi menjadi bayangan.
Jadilah Cahaya yang menerangi segalanya!”
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
LAUT YANG MENGENANG
DUA BAYANGAN
Fragmen I — Laut Yang Mengasah Ingatan
Laut membuka kelopaknya pelan,
seperti ibu tua yang tak pernah berhenti
menyebut nama kedua anaknya
yang tak kunjung pulang.
Dalam kabut asin, dayung-dayung perahu
mengiris fajar tipis—
di kejauhan, layar-layar kapal Tiongkok, Gujarat, Arab,
berdiri seperti kitab-kitab raksasa
yang menuliskan nasib manusia.
Gelombang itu tahu:
sebelum Tuah lahir dari sumpah
dan Jebat dari luka,
ada nadi besar yang tak berhenti memanggil—
nadi yang tak tunduk pada raja mana pun,
nadi yang menyimpan seluruh rahasia
tentang siapa sesungguhnya yang berdaulat:
manusia, atau rasa takutnya sendiri.
Fragmen II — Pelabuhan Urat Nadi Zaman
Pelabuhan berdenyut seperti jantung basah.
Suara pedagang Pasai, Makassar, Champa,
menyilang di udara:
serak, cepat, waspada—
setiap transaksi adalah pertaruhan jiwa.
Di pasar ikan yang licin,
tumpukan garam mengkilap seperti tulang-tulang
dari sejarah yang tak ingin dilupakan.
Bocah-bocah menjerit di antara karung lada,
dan seorang perempuan tua
menawar kain sutra
dengan tangan gemetar oleh kelaparan yang diwariskan.
Di balik hiruk pikuk itu,
para syahbandar mencatat angka-angka
yang tak pernah memihak rakyat.
Pelayaran besar sedang berlangsung:
rempah bergerak,
emas bergerak,
manusia menggerak
dan digerakkan.
Dari tepi dermaga,
Tuah kecil dan Jebat kecil
memandang kapal-kapal tak dikenal,
merekam napas pertama mereka
kepada dunia.
Fragmen III — Istana:
Takut yang Menjadi Hukum
Dinding istana berlantai marmer dingin
menggemakan
bisik-bisik yang lebih tajam dari keris.
Para bendahara menggeser angka,
para pembesar menggeser kesetiaan,
para tabib menggeser kebenaran.
Raja duduk seperti bayang-bayang
yang ketakutannya menjelma jadi
ritual harian.
Setiap mata tertunduk—
bukan hormat,
melainkan ketakutan agar tidak
ikut ditarik ke liang intrik.
Di sini, sumpah setia menjadi mata rantai,
dan keadilan hanyalah pantulan cahaya
dari lampu minyak yang hampir padam.
Tuah tumbuh di bawah atap ini—
belajar bahwa setia bisa berarti bisu,
bahwa patuh bisa berarti sekarat.
Sementara Jebat, di lorong lain,
belajar bahwa diam adalah dosa
yang diperintahkan oleh para penguasa
untuk melanggengkan ketidakadilan.
”
”
Titon Rahmawan