“
Sang Penari
III – Tarian di Antara Dua Dunia
Ia terbangun di sebuah ruang yang tak memiliki dinding.
Seolah ia masuk ke panggung mimpi Yasunari—
di mana tubuh perempuan menari bukan sebagai gerakan,
melainkan sebagai bayangan rasa bersalah
yang lembut dan sekaligus mematikan.
Dalam jarak yang liminal itu,
ia melihat sosok dirinya menari seperti
Chieko dari Beauty and Sadness—
kesendirian yang membelah tubuh menjadi dua:
yang menari demi cinta,
dan yang menari demi luka
yang tak terucap.
Di ujung ruang itu, lampu neon berkedip.
Tiba-tiba, sepasang kekasih
muncul dari balik kegelapan—
seperti dua hantu pop yang tersesat
di klub malam muram era Tarantino.
Mia Wallace menggigit bibir;
Vincent Vega mengangkat bahu.
Dan mereka mulai menari—
gerakan pinggul, jentikan jari, putaran kepala—
yang menertawakan kematian seakan ia sekadar
“babak tanpa dialog” dalam kisah hidup manusia.
Sang Penari menatap mereka,
baik terpukau maupun tersayat:
begitu ringannya mereka bercanda dengan kehancuran.
Begitu mudahnya mereka menari
di atas mayat takdir.
Ia mencoba mengikuti langkah:
dua ayunan tangan, rotasi kecil pinggang,
gerak “twist” yang meminjam ritme rockabilly.
Namun setiap gerakan membuatnya merasa
seolah tulang-tulangnya adalah serat kaca
yang akan pecah kapan saja.
Dan dari jauh, hujan mulai turun—
tapi bukan hujan muram seperti Bergman,
melainkan hujan musikal ala Singin’ in the Rain.
Saat Gene Kelly melompat dengan payungnya,
memercikkan air ke segala arah
dengan senyum polos yang mustahil
dipercaya manusia modern.
Sang Penari melihat keriangan itu
dan mendadak dadanya ngilu:
Bagaimana mungkin dunia sempat merasa sebahagia itu?
Atau mungkin
kebahagiaan itu cuma propaganda nostalgia
yang kita tempelkan pada masa lalu
agar ia tak terlihat mengerikan?
Di belakangnya, dua lukisan muncul:
Degas dengan para ballerina pucat
yang tersenyum hanya untuk menutupi
rasa nyeri di kaki mereka,
dan Matisse dengan warna-warna api
yang memaksa tubuh menari
dalam dunia yang terlalu terang untuk manusia menyandang kesedihan.
Keduanya seperti dua dewa kecil—
satu merayakan disiplin,
yang lain memuja ledakan spontan.
Sang Penari merasa tubuhnya ditarik
di antara dua estetika:
kesempurnaan yang memaksa,
atau kegilaan yang membebaskan.
Dan ketika ia mulai menari,
bayangan lain muncul:
Michael Jackson mengenakan fedora putih,
meluncur ke depan dengan anti-gravity lean.
Siluetnya seperti tokoh malaikat jatuh
yang memilih menjadi legenda
daripada mati sebagai manusia biasa.
“Beat it,” bisik MJ dalam seringai misterius,
seakan menantang siapa saja yang berani
menghalangi takdirnya.
“Smooth criminal,” lanjutnya,
seakan menegaskan bahwa kehidupan adalah
perampokan yang dilakukan
oleh waktu terhadap tubuh manusia.
Sang Penari menutup mata.
Ia menari.
Ia hanyut.
Ia memutar lingkaran-lingkaran mitos,
mengumpulkan semua tarian dari zaman ke zaman
dalam satu tubuh yang retak.
Dan ketika ia membuka mata,
ia sudah berada di pesta yang tak pernah tidur—
rumah megah Fitzgerald,
dengan lampu-lampu Gatsby
berkedip seakan dunia tak akan pernah runtuh.
Namun ia tahu:
di balik pesta, selalu ada reruntuhan.
Di balik tarian, selalu ada kubur.
Di balik tubuh, selalu ada hantu.
Dan semua itu menyatu
dalam satu tarikan nafas.
Agustus 2025
”
”