Musik Untuk Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Musik Untuk. Here they are! All 18 of them:

Menjadi muda adalah suatu kelebihan. Tidak ada yang lebih tepat untuk menggerakkan emosi dan menginspirasi anak muda agar bangun dari tidur dan mulai bergerak meraih mimpi, selain dengan lagu bertempo cepat dengan koreografi yang sangat on point dalam MV "Dope" ini.
Lea Yunkicha (BTS X ARMY In the Love Maze)
Sebuah lagu laksana mimpi, dan kita berusaha untuk membuatnya jadi kenyataan.
Bob Dylan (Chronicles, Volume One)
Dan bahwa, melalui nilai-nilai kesusastraan, drama, tari, musik, dan seni rupa, manusia bisa menemukan manusia, Tuhan dan alam. Sehingga menambah kekayaan jiwa dan mempertinggi budi.
Nasjah Djamin (Gairah untuk Hidup dan untuk Mati)
Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, kalau bisa kena, tetapi ingat , membunuh mockingbird itu dosa. Mocking bird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa.
Harper Lee
Aku selalu berpikir tentang laki laki. Yang aku kenal atau pun yang tidak. Akan tetapi, aku mungkin saja tidak memikirkan mereka. Banyak laki laki cerdas dan menyenangkan. Tapi tak sedikit pula laki laki bodoh yang menjemukan dan membosankan. Laki laki yang tak pernah membaca buku, tak pernah mendengarkan musik, tak pernah nonton film. Laki laki botak yang tidak menarik. Laki laki yang jadi suami ibuku. Laki laki kurus yang membesarkanku. Laki laki ramah yang menyapaku di jalan. Laki laki tua yang menyenangkan dan mengajakku ngobrol di taman. Laki laki muda yang mencuri lihat untuk mengambil sesuatu dari diriku. Laki laki berkumis yang berpikir diriku terlalu sexy. Laki laki yang tidak punya pikiran lain kecuali mencari kesempatan untuk mengajakku tidur. Laki laki gombal. Laki laki palsu. Laki laki yang mengejar ngejar diriku. Laki laki yang sama sekali tak peduli pada penampilanku. Laki laki gembrot berkacamata. Laki laki pengantar makanan, supir gojek, pengangkut barang barang di terminal. Laki laki yang aku temui di media sosial. Laki laki yang setiap malam mengirim pesan pesan mesum. Laki laki yang mengajakku video call. Laki laki hidung belang yang menggodaku. Laki laki yang berusaha menjadikan diriku selingkuhannya. Laki laki biasa dan luar biasa. Laki laki istimewa. Laki laki yang dulu pernah aku cintai dan tak bisa kuhapus dari ingatan. Laki laki yang aku benci karena pergi meninggalkanku. Laki laki yang kepadanya ingin aku serahkan seluruh hidupku. Laki laki yang memintaku jadi istrinya. Laki laki yang aku nikahi. Laki laki yang jadi bapak anak anakku. Laki laki yang tak bisa hidup tanpaku. Laki laki yang selalu ingin tahu apa yang aku pikirkan. Laki laki baik yang tak pernah membenci siapa pun. Laki laki yang tak pernah lahir dan tak pernah ada.
Titon Rahmawan
Bagiku, tiap-tiap hari ibarat nada musik yang kugunakan untuk menciptakan simfoni kehidupanku.
Paulo Coelho
Menurut psikolog Mihaly Csikszentmihalyi, yang antara tahun 1990 dan 1995 mempelajari sembilan puluh satu orang yang luar biasa kreatif dalam bidang seni, sains, bisnis, dan pemerintahan, kebanyakan subjeknya itu dipinggirkan oleh kelompok sosial saat remaja, sebagian besar karena "rasa ingin tahu yang besar atau ketertarikan terfokus terlihat aneh bagi kelompok seumurannya." Remaja-remaja yang sangat senang bersosialisasi untuk menghabiskan waktu sendirian sering gagal untuk mengembangkan bakat-bakat mereka "karena berlatih musik atau belajar matematika membutuhkan kesunyian yang mereka hindari.
Susan Cain (Quiet: The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking)
Tidak ada musik yang paling pas untuk menyatu dengan kota New York selain jazz dan klasik dan blues
Ika Natassa (The Architecture of Love)
Temukan pengalaman bermain yang berbeda dari biasanya hanya di Musik Game AMPMBET – perpaduan epik antara dentuman musik yang energik dan gameplay yang adiktif! Didesain khusus untuk para pencinta hiburan digital, fitur musik game ini membawa Anda ke dalam dunia di mana setiap ketukan membawa kemenangan.
Ampmbet
Namun, musik seperti ini memberi kesadaran baru bahwa kerugian terbesar dalam hidup adalah menolak untuk menemukan hal-hal baru di luar horizon yang sudah kita akrabi.
Taufiq Rahman (New Dawn Fades: Panduan Mendengarkan Musik Awal Milenium)
Beruntung jika Anda memiliki musik untuk menjaga ingatan akan masa lalu.
Taufiq Rahman (New Dawn Fades: Panduan Mendengarkan Musik Awal Milenium)
Jadi, saya pikir selama musik masih hadir di hadapan kita untuk dinikmati, jurnalisme musik tak akan hilang. Boleh jadi, ia hanya akan berubah format dan cara untuk hadir di hadapan kita.
Idhar Resmadi (Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya)
Kita Telah Menjadi Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu? Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga. Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu? Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana. : Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu. Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya. Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas. Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan. Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu? Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu. Mendadak saja kau merasa; Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri. Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati. Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu? Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca; Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal. Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal. Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal. Kita telah menjadi bukan siapa-siapa. Oktober 2025
Titon Rahmawan
Ketika Sunyi Menyentuh Dahi” (Ekstase Sunyi para Darwis) Ada detik yang tiba sebagai jeda nyaris tak sadar— detik ketika dunia berhenti berputar, dan tubuhku mulai bergerak seperti gasing— tanpa diperintah. Aku berdiri di tengah ruangan kosong. Tidak ada musik. Tidak ada angin. Hanya sunyi yang melangkah masuk seperti seorang tamu yang sudah lama kutinggalkan di depan pintu jubah yang kutanggalkan dari tubuhku. Dan entah bagaimana, sunyi itu menyentuh dahiku dengan kehangatan yang tidak pernah kuraih dari sebutir doa. Aku tidak menari. Aku hanya menjadi pusaran lembut yang lahir dari keheningan. Kakiku bergerak karena bumi mengajak, bukan karena aku inginkan. Dalam putaran itu aku kehilangan kepalaku terlebih dahulu— pikiran luruh seperti debu yang jatuh dari mantel tua seorang pengembara. Lalu dadaku melebur, seperti pintu yang dibuka dari dalam oleh tangan yang tidak bisa kuraba. Dan perlahan aku hanyut ke dalam cahaya yang tidak menyilaukan— cahaya yang hanya menuntun, seperti bisikan samudra yang menunjukkan jalan kembali ke sumbernya: mata air yang adalah air mata. Di tengah putaran, aku merasa tubuhku menjadi tipis, serapuh benang yang hanya ditahan oleh satu simpul: rindu untuk kembali pulang kepada palung rahim ibu. Aku tidak mencari apa-apa. Tidak menuntut apa-apa. Tidak ingin dikenal atau dimengerti. Aku hanya ingin hilang dalam getaran yang membuatku lebih hidup daripada udara yang aku hirup. Pada akhirnya, sesuatu membuka ruang di dalam dadaku— ruang yang tidak kukenal, namun terasa seperti rumah yang sudah kusimpan sebagai rahasia sejak sebelum aku dilahirkan. Dan di ruang itu, aku mendengar suara yang tidak menggemakan bunyi: “Engkau sudah dekat, Engkau tidak pernah jauh.” Putaranku melambat. Dunia kembali mengingat Cahaya perlahan merapat seperti seseorang yang meletakkan selimut di bahuku. Aku tidak menjadi suci. Aku tidak menjadi tahu. Aku hanya menjadi tenang. Karena untuk sekejap, di tengah kesunyian itu, aku telah disentuh oleh sesuatu yang tidak memerlukan nama. Seperti ingatan, ketika Aku masuk dalam keheningan Luruh dalam putaran Kembali sebagai cahaya. November 2025
Titon Rahmawan
Palsu I — (Dark, Esoteric, Psychospiritual Version) Bagaimana mereka meninggalkanmu terperangkap dalam sumur itu? Seperti berjalan sendirian di bawah hujan yang jatuh tanpa suara, membiarkan tubuhmu memudar perlahan di antara tetes air yang tak lagi mengenali gravitasi. Seperti ban truk meledak di tanjakan maut menyambar seperti kilat, dan tak seorang pun selamat. Seperti seorang perawan yang kehilangan kesuciannya bukan oleh tangan asing, melainkan oleh cermin yang memantulkan wajah yang bukan dirinya. Langit tidak tertawa untuk kesedihan semacam itu. Beberapa orang berlarian di tengah lapangan dengan ketelanjangan yang mereka ciptakan sendiri, tak tahu apakah dunia patut ditangisi atau disumpahi. Tidak seperti pelacur yang berdiri di pinggir jalan meniru Aphrodite dengan keberanian imitasi—tetap merasa suci, karena tak ada yang tersisa untuk dicemari. Seekor babi berjalan terengah, sementara yang lain bergulingan di tanah seakan lumpur itu adalah rumah mereka yang hilang. Kita tak sedang membaca ode untuk bintang-bintang yang sekarat di langit. Langit hanyalah rongga hitam tanpa lazuardi, rumput kehilangan kehijauannya seperti ingatan terakhir seseorang yang terhapus oleh waktu. Mata tertutup oleh gumpalan awan dan kesedihan yang tak lagi mampu mengeja dirinya. Nanar matanya menghantam jendela yang tak membuka apa pun kecuali pertanyaan yang tak punya jawaban. Pintu-pintu terbuka tanpa petunjuk arah. Jalan-jalan mati, lampu-lampu padam; kebisuan lebih mencekam daripada sunyi di tengah kuburan yang lupa nama-nama yang dikandungnya. Siapa yang masih berani bertanya: Mungkinkah darah tetap berwarna merah? Sedang lagu tak lagi terdengar seperti kicauan burung— dan burung sudah lama berhenti berkicau karena dunia menolak mendengar. Ketika mata tertumbuk ketelanjangan di mana-mana— di televisi, papan reklame, musik dari radio, halaman-halaman majalah yang dibaca sampai robek— mari kita pergi dari sini. Pergi ke mana saja: ke sebuah pulau yang kesepian, ke sealur sungai yang tak berkawan, ke laut yang kehilangan rasa asinnya, ke semenanjung tanpa nama yang tak pernah tersentuh kaki para nahkoda. Di tempat asing itu, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri hanya ingin memastikan bahwa ia masih ada. Seorang gadis berambut pirang menikmati es krim coklat sambil membayangkan kekasihnya yang bahkan sudah lupa namanya. Gadis lain mengulang peristiwa yang tak pernah ia punya, sementara yang lain memutar waktu seperti hendak menangkap peristiwa yang bukan miliknya. Bukankah mengherankan, dunia tidak berputar dari kiri ke kanan, orang-orang tidak berjalan mundur. Namun entah mengapa begitu banyak dari mereka kehilangan kaki dan pegangan pada diri sendiri. Merasa tua dalam sekejap, menjadi bayangan dari masa lalu yang menolak mati meski tak sungguh hidup. Seorang kakek ingin melihat pangkal yang tak berujung, seorang bayi baru lahir melihat ujung yang tak berpangkal. Para pujangga menari di saat jutaan lainnya kehilangan keinginan untuk mencintai dunia. Para filsuf melompat dari halaman kitab penuh pemikiran yang sebenarnya tak membutuhkan pembaca. Berapa banyak artis kehilangan akal, menggadaikan harga diri demi sebuah adegan persetubuhan. Seorang suami berkata kepada istrinya, “Untuk mendapatkan kebahagiaan, maka satu-satunya cara adalah melihatmu bahagia bersama orang lain.” Tidak semua orang memahami kejujuran atau kebodohan semacam itu. Mereka terus menebak-nebak: apakah kebahagiaan itu sebuah tangga atau sebuah sumur? Seperti pikiran lancung yang berusaha membubung ke langit namun tenggelam ke dasar samudra karena tak tahu cara berenang. Begitulah manusia yang kita kenal—mereka menciptakan penjara ilusi yang mereka sebut: identitas. November 2025
Titon Rahmawan
Palsu II: Ego yang Menyembelih Dirinya Sendiri Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh, sementara bayangannya sendiri menolak pulang? Di malam yang tak memerlukan bulan, aku melihat mereka—dan diriku— terperangkap seperti hewan buruan yang tersesat di hutan kelam pikiran. Hujan turun tanpa suara. Tanah meminum angkara. Seseorang menjerit di luar sana… dan tak seorang pun peduli. Ego itu— yang mereka bela seperti anjing lapar yang tak mengenal tuannya— mendesis di sela tulang rusukku, menggigit, menyobek, menelan segala sesuatu yang ingin kusebut sebagai aku. Tak ada yang tahu siapa yang pertama kali menusukkan pisau ke pusat kesadaran. Entah akal yang meronta, atau bayang-bayang yang selama ini dibesarkan diam-diam oleh dendam. Ia adalah tangan asing yang lahir dari retak imajinasi, tertawa saat darah jatuh tanpa jejak emosi. Dunia tak menatap. Lampu-lampu padam sebelum gelap datang. Jalan-jalan terbelah seperti gempa; denyut jantung ingin lari dari dadanya sendiri. Beberapa orang berjalan miring karena tak sanggup menanggung beban di kepalanya. Yang lain menyeret bayangan yang memberontak seperti anak haram yang menolak mengakui bapaknya. Di televisi, papan reklame, musik yang memekakkan, aku melihat wajah yang sama— wajah yang menolak mengakui bahwa tubuh tempat ia tinggal sudah lama membusuk oleh kebohongan kecil yang disembah setiap malam. Mereka bertanya: “Masihkah darah berwarna merah?” Aku diam. Karena warna tak berguna bagi mereka yang kehilangan mata untuk melihat luka— dan hanya punya mata untuk menakar siapa lebih tinggi, lebih suci, lebih benar dalam dunia yang bahkan tak punya tanah untuk berpijak. Di sebuah pulau tanpa nama, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri agar percaya bahwa ia pernah hidup sebagai manusia— walau hanya dalam fotonya. Seorang gadis makan es krim sambil memikirkan kekasih yang ia benci namun tak mampu ia lepaskan karena kesepian lebih menakutkan daripada kebodohan. Dan di antara semua itu, aku menemukan diriku mengiris sesuatu yang tampak seperti wajah— lebih licin, lebih dingin, lebih keras kepala daripada cermin mana pun yang pernah menatapku. Ego itu meraung ketika kusayat pelan-pelan. Ia tidak mati. Ia membelah diri. Menjadi dua. Tiga. Seratus. Menjadi ribuan mulut yang menuntut penjelasan yang tidak ingin kuberikan. Sebab apa gunanya menjelaskan kepada sesuatu yang hidup hanya untuk mempertahankan ilusi bahwa ia bukan zombie? Saat itu aku mengerti: Kita tidak pernah takut pada dunia. Kita takut dipaksa mengakui bahwa yang menghancurkan kita adalah bayangan yang kita ciptakan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dan ketika ego itu akhirnya berlutut, menyembelih dirinya di bawah kakiku seperti sapi bingung yang tak tahu mengapa ia harus dikorbankan, Tapi aku tahu: yang mati bukan ia— melainkan cerita yang dengan keras kepala kuanggap sebagai kisah hidupku. Yang hilang adalah kebohongan yang selama bertahun-tahun kubiarkan menyusu pada pikiranku. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang tak memerlukan cahaya, tak memerlukan jawaban, tak memerlukan nama. Ruang hampa menatap balik seperti dunia. Tanpa mata. Tanpa cinta. Tanpa iba. Dan aku pun masuk. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai penyintas. Tetapi sebagai sesuatu yang akhirnya menghilang tanpa perlu menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia harus hilang. November 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari III – Tarian di Antara Dua Dunia Ia terbangun di sebuah ruang yang tak memiliki dinding. Seolah ia masuk ke panggung mimpi Yasunari— di mana tubuh perempuan menari bukan sebagai gerakan, melainkan sebagai bayangan rasa bersalah yang lembut dan sekaligus mematikan. Dalam jarak yang liminal itu, ia melihat sosok dirinya menari seperti Chieko dari Beauty and Sadness— kesendirian yang membelah tubuh menjadi dua: yang menari demi cinta, dan yang menari demi luka yang tak terucap. Di ujung ruang itu, lampu neon berkedip. Tiba-tiba, sepasang kekasih muncul dari balik kegelapan— seperti dua hantu pop yang tersesat di klub malam muram era Tarantino. Mia Wallace menggigit bibir; Vincent Vega mengangkat bahu. Dan mereka mulai menari— gerakan pinggul, jentikan jari, putaran kepala— yang menertawakan kematian seakan ia sekadar “babak tanpa dialog” dalam kisah hidup manusia. Sang Penari menatap mereka, baik terpukau maupun tersayat: begitu ringannya mereka bercanda dengan kehancuran. Begitu mudahnya mereka menari di atas mayat takdir. Ia mencoba mengikuti langkah: dua ayunan tangan, rotasi kecil pinggang, gerak “twist” yang meminjam ritme rockabilly. Namun setiap gerakan membuatnya merasa seolah tulang-tulangnya adalah serat kaca yang akan pecah kapan saja. Dan dari jauh, hujan mulai turun— tapi bukan hujan muram seperti Bergman, melainkan hujan musikal ala Singin’ in the Rain. Saat Gene Kelly melompat dengan payungnya, memercikkan air ke segala arah dengan senyum polos yang mustahil dipercaya manusia modern. Sang Penari melihat keriangan itu dan mendadak dadanya ngilu: Bagaimana mungkin dunia sempat merasa sebahagia itu? Atau mungkin kebahagiaan itu cuma propaganda nostalgia yang kita tempelkan pada masa lalu agar ia tak terlihat mengerikan? Di belakangnya, dua lukisan muncul: Degas dengan para ballerina pucat yang tersenyum hanya untuk menutupi rasa nyeri di kaki mereka, dan Matisse dengan warna-warna api yang memaksa tubuh menari dalam dunia yang terlalu terang untuk manusia menyandang kesedihan. Keduanya seperti dua dewa kecil— satu merayakan disiplin, yang lain memuja ledakan spontan. Sang Penari merasa tubuhnya ditarik di antara dua estetika: kesempurnaan yang memaksa, atau kegilaan yang membebaskan. Dan ketika ia mulai menari, bayangan lain muncul: Michael Jackson mengenakan fedora putih, meluncur ke depan dengan anti-gravity lean. Siluetnya seperti tokoh malaikat jatuh yang memilih menjadi legenda daripada mati sebagai manusia biasa. “Beat it,” bisik MJ dalam seringai misterius, seakan menantang siapa saja yang berani menghalangi takdirnya. “Smooth criminal,” lanjutnya, seakan menegaskan bahwa kehidupan adalah perampokan yang dilakukan oleh waktu terhadap tubuh manusia. Sang Penari menutup mata. Ia menari. Ia hanyut. Ia memutar lingkaran-lingkaran mitos, mengumpulkan semua tarian dari zaman ke zaman dalam satu tubuh yang retak. Dan ketika ia membuka mata, ia sudah berada di pesta yang tak pernah tidur— rumah megah Fitzgerald, dengan lampu-lampu Gatsby berkedip seakan dunia tak akan pernah runtuh. Namun ia tahu: di balik pesta, selalu ada reruntuhan. Di balik tarian, selalu ada kubur. Di balik tubuh, selalu ada hantu. Dan semua itu menyatu dalam satu tarikan nafas. Agustus 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari IV – Wawancara dengan Malaikat Pencabut Nyawa Ia duduk sendirian di sebuah ruang tunggu yang tampak seperti speakeasy era 1920-an. Musik jazz mendesing, lampu gantung berayun pelan, dan kaca-kaca retak memantulkan wajahnya seolah ia tak pernah sepenuhnya hadir. Di sofa merah yang terlalu empuk, duduklah Malaikat Pencabut Nyawa. Bukan bersayap. Bukan bersenjata. Hanya mengenakan jas putih seperti Gatsby sedang menunggu Daisy yang tak akan pernah datang. “Duduklah,” katanya. Suaranya lembut, seperti suara narator Kawabata ketika membaca kalimat tentang kesepian. “Engkau menari seperti orang yang ingin melupakan.” Sang Penari menggigit bibir. “Bukankah semua tarian adalah pelarian?” Malaikat itu tersenyum samar. “Tidak. Beberapa tarian adalah pengakuan.” Hening jatuh. Hening yang menyerupai jeda sebelum tembakan di akhir adegan Smooth Criminal. “Lalu tarian yang mana yang kulakukan?” “Yang membuatmu retak,” jawabnya, seperti seorang psikoanalis yang baru saja menemukan trauma inti. Sang Penari tak tahu apakah ia harus marah atau menangis. Ia hanya menatap ke arah panggung kosong, di mana bayangannya sendiri melakukan gerakan “twist” Pulp Fiction tanpa tubuh, tanpa wajah, hanya ritme yang memudar. “Apakah aku akan mati?” tanyanya. Malaikat itu mengangkat bahu. “Semua orang akan mati. Pertanyaannya adalah: apakah engkau ingin mati sebagai manusia yang menari, atau sebagai tubuh yang berhenti bergerak tanpa pernah tahu apa artinya hidup?” Tiba-tiba suasana berubah. Lampu-lampu padam. Satu sorot tunggal menyorot panggung. Malaikat itu menepuk tangan. “Ini audisi terakhirmu.” Di panggung, bayangan Degas muncul: ballerina yang letih, menjatuhkan kepalanya di atas selendang. Lalu Matisse: warna merah, biru, kuning meledak seperti ledakan batin yang tak bisa ia jinakkan. Lalu muncul MJ lagi— kali ini lebih gelap, lebih menyerupai siluet, lebih seperti dewa pergerakan yang memanggilnya: "Come on. Show me your last move." Sang Penari melangkah ke depan. Ia menari: sedikit twist ala Mia Wallace, sedikit slide ala Gene Kelly, sedikit lean ala MJ, sedikit patahan tubuh ala Degas, sedikit ledakan warna ala Matisse. Tubuhnya menjadi arsip segala tarian dunia. Menjadi museum luka. Menjadi perayaan. Menjadi ratapan. Dan ketika tarian itu selesai, Malaikat itu berdiri. Bertepuk tangan. Pelan. Menyakitkan. “Sekarang aku tahu,” katanya. “Apa?” “Engkau menari bukan untuk menjadi abadi. Engkau menari untuk mengembalikan dirimu dari segala kenangan yang telah mencuri hidupmu.” Sang Penari terdiam. Napasnya membatu. Dadanya retak oleh sesuatu yang bukan penyakit. “Dan apakah aku sudah kembali?” Malaikat itu menggeleng lembut. “Belum. Tapi aku akan memberitahumu, ini adalah titik di mana engkau menghilang.” Agustus 2025
Titon Rahmawan