“
sesungguhnya hati manusia itu berkarat seperti berkaratnya besi.
sahabat bertanya : apakah pengilapnya wahai Rasulullah?
Rasulullah menjawap: membaca alQuran dan mengingati maut
”
”
Hlovate (Anthem)
“
Kelak ia sadar, bahwa perasaan takut terhadap maut, berarti berani terhadap hidup.
”
”
Remy Sylado (Kembang Jepun)
“
Di balik setiap kehormatan mengintip kebinasaan. Di balik hidup adalah maut. Di balik persatuan adalah perpecahan. Di balik sembah adalah umpat. Maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. Jangan terima kehormatan atau kebinasaan sepenuhnya. Jalan tengah—jalan ke arah kelestarian.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
“
Seperti manusia, kelak berakhir sendiri dalam maut yang sangat pribadi. Kesendirian tak pernah menakutkanmu, kau lebih takut pada ketiadaan kata berpisah.
”
”
Nukila Amal (Cala Ibi)
“
Karena cepat atau lambat, entah maut atau orang lain yang menyebabkan hubungan selanggeng apa pun akan dapat dipisahkan. Maka, yang terbaik adalah mencintai dalam keikhlasan.
”
”
Wira Nagara (Distilasi Alkena)
“
Hidup ini begitu indah, hingga maut pun jatuh cinta padanya
”
”
Yann Martel
“
Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan
”
”
Pramoedya Ananta Toer
“
Selama orang masih suka bekerja, dia masih suka hidup dan selama orang tidak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (House of Glass (Buru Quartet, #4))
“
Kematian selalu membuntuti Kehidupan dengan begitu dekat, bukanlah karena keharusan biologis, melainkan karena rasa iri. Kehidupan ini begitu indah, sehingga maut pun jatuh cinta padanya. Cinta yang pencemburu dan posesif, yang menyambar apapun yang bisa diambilnya
”
”
Yann Martel (Life of Pi)
“
Tidak perlu," sahut Febrian tegas. "Karena aku tidak takut mati bersamamu. Kita akan selalu bersama. Bahkan maut tidak bisa memisahkan kita.
”
”
Mira W. (Sampai Maut Memisahkan Kita)
“
Peristiwa itu mengingatkan kembali bahwa maut itu bisa datang kapan saja, di mana saja. Bisa jadi ketika jauh dari orang-orang yang kita cintai. Tanpa berpamitan dulu.
”
”
Iwan Setyawan (Ibuk,)
“
Dia adalah segalanya bagiku. Apa pun yang datang darinya adalah satu satunya sumber kebahagiaanku. Tak ada yang dapat merenggutnya dariku. Bahkan maut sekalipun tak akan mampu memisahkan jiwa kami.
- Harsimran Tapasvi, Tawanan Kepedihan
”
”
Titon Rahmawan
“
Enam puluh tahun kami menikah. Dua belas anak. Tentu saja ada banyak pertengkaran. Kadang merajuk diam-diaman satu sama lain. Cemburu. Salah-paham. Tapi kami berhasil melaluinya. Dan inilah puncak perjalanan cinta kami. Aku berjanji padanya saat menikah, besok lusa, kami akan naik haji. Kami memang bukan keluarga kaya dan terpandang. Maka itu, akan kukumpulkan uang, sen demi sen. Tidak peduli berapa puluh tahun, pasti cukup...Pagi ini, kami sudah berada di atas kapal haji. Pendengaranku memang sudah berkurang. Mataku sudah tidak awas lagi. Tapi kami akan naik haji bersama. Menatap Ka'bah bersama. Itu akan kami lakukan sebelum maut menjemput. Bukti cinta kami yang besar.
”
”
Tere Liye (Rindu)
“
Ayahku selalu bilang, jodoh itu seperti sepatu. Sejak awal dibuat, sudah ditentukan pasangannya. Itulah jodoh sejati. Jodoh yang hanya akan dipisahkan oleh maut.
”
”
Dahlian (Casablanca: Forget Me Not)
“
Saya percaya bahwa orang bukannya takut mati. Mereka takut sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih menggelisahkan dan lebih tragis daripada maut itu sendiri. Kita takut tidak pernah hidup, menjelang akhir hayat kita dengan perasaan bahwa kita tidak pernah benar-benar hidup. Bahwa kita tidak pernah memahami, untuk apa kehidupan kita itu.
”
”
Harold S. Kushner
“
Maut tak perlu digoda sedemikian intim
”
”
Yusi Avianto Pareanom (Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi)
“
Persamaan Maut dengan Cinta lebih banyak daripada yang mungkin kalian bayangkan.
”
”
Rick Riordan (The Son of Neptune (The Heroes of Olympus, #2))
“
Thanatos sering kali salah dikira sebagai Dewa Cinta. Persamaan Maut dengan Cinta lebih banyak daripada yang mungkin kalian bayangkan.
”
”
Rick Riordan (The Son of Neptune (The Heroes of Olympus, #2))
“
Maut tak mengenal keadilan.
”
”
Rick Riordan (The Son of Neptune (The Heroes of Olympus, #2))
“
Peluru, kamu panas, dan kamu membawa kematian, tetapi bukankah kamu abdiku yang setia? Tanah hitam, kamu akan menyelimutiku, tetapi bukankah aku menginjakmu dengan kudaku? Kamu, maut, kamu dingin, tetapi akulah tuanmu.Tanah akan mengambil tubuhku, langit akan mengambil jiwaku.
”
”
Leo Tolstoy (Hadji Murád)
“
suatu hari jika aku tak lagi ada
maka ikutilah iring-iringan angin yang mengantar kepergianku, Azzahra
padanya telah kutitip alamat kepulangan sebuah perjalanan tanpa muara
juga suara lengking pilu jiwa yang mendendam diburu maut
dibelakang sudut kamar sepi, suatu hari
”
”
firman nofeki
“
Maut lebih suka kepada kaum lelaki
justeru, lelaki lebih banyak
menghadapi kemusnahan
”
”
Suhaimi Haji Muhammad (Menterjemah Bintang)
“
jika aku tak lagi ada, kekasih
maka tenangkanlah isak hujan yang menangisi kepergianku
biar tak terbentang sebuah lautan diatas tanah pusara
walau beribu bahkan berjuta samudera air garam
tak akan sanggup mengasinkan pahit kepedihan
perahu umur yang berlayar jauh
pun telah tertambat jangkar maut sa'at menepi
di satu hari
”
”
firman nofeki
“
dan pada bait yang di tunggangi agitasi ini, sesungguhnya rindu sudah berujung pada maut, dalam arena adu mata seorang pemuda yang masih sendiri
”
”
andra dobing
“
Rah chalta hun toh yeh manzilein kho jati hain,
Har mod par bas tu nazar aati hai;
Kya hai zindgi tere bna, ek pal sochta hu,
Agle he pal yeh zindgi bhi maut nazar aati hai.
”
”
Anuj Tiwari
“
Apa ertinya hidup kalau bukan
bersabung dengan sengsara dan maut.
”
”
Rahimidin Zahari (Rawana: Selected Poems/Sajak-sajak Terpilih)
“
Di sekeliling kami, langit yang sudah semakin gelap. Di celah-celahnya, tersembunyi maut yang sedang menyeringai taring, berkuku panjang tajam.
(Arah Yang Tidak Pernah Ada)
”
”
Rosli K. Matari (Tidakkah Kita Berada Di Sana?)
“
Duhai Pemilik waktu
dari arusMu usiaku terlahir dan mengalir
pada muara mautMu aku berakhir dan menyerah''
Engkaulah dermaga
tempat ikrar perjalananku melunasi batas
rantau pulang kala jiwa tersesat di pintu dunia
Engkaulah samudera
tempat senjaku membenamkan usia
melarungkan maut yang membadai di pantai jiwa
Tuhan....
jagalah hati dan jiwa ini
seperti telah Engkau jaga planet-planet yang beredar pada tiap galaksi
menurut keteraturannya
biar tiada berbenturan akhiratku dengan dunia
sebelum akhir masa nyaris menyelesaikan lahat
sebelum aku dan waktu menyeduh pamit dari secangkir hayat
di perahu sepi
kuamini gelombang maghfirahMu
Di kedalaman sujudku
kuselami putihnya do'a
menghanyutkan dosa yang mnghitami muara ruhku
di rimba raka'atku, ada rindu yang merimbun sebagai Kamu
Engkau geriap hujan di kemarau tubuhku
akulah kegersangan angin yang memanjati tebing-tebing grimisMu
Tuhan...
di hujan ampunan tak henti kuburu gemuruhMu
kupaku telinga di pintuMu
moga kudengar Kau mengetuk
bertamu ke bilik sepi sunyiku
”
”
firman nofeki
“
Ciumlah bau maut setiap detik dan masa, kerana ia adalah sedekat-dekat perkara ghaib yang ditunggu. Sediakanlah dirimu untuk menemuinya, kerana dalam banyak hal maut itu akan datang menyambarmu.
”
”
الحبيب عبد الله بن علوي الحداد الحضرمي الشافعي (Penuntun Hidup Bahagia)
“
Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati, bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut,yang abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul di mana awal dan akhir menyatu.
”
”
Emha Ainun Nadjib (Anak Asuh Bernama Indonesia)
“
Mereka membela apa yang mereka anggap menjadi haknya tanpa mengindahkan maut. Semua orang, sampai pun kanak-kanak! Mereka kalah, tapi tetap melawan. Melawan, Minke, dengan segala kemampuan dan ketakmampuan.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1))
“
kesakitan bagai
ikan dalam arus. tak seorang sedar maut mera-
yap di luar kamar dan tertiarap di antara
gelas-gelas air. lalu bertanya anak: berapa
hari lagi aku harus begini?
(suatu dinihari di sebuah hospital)
”
”
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
“
Karena sudah demikian mestinya hidup itu, habis kesulitan yang satu akan menimpa pula kesulitan yang lain. Kita hanya beristirahat buat sementara guna mengumpulkan kekuatan untuk menempuh perjuangan yang baru dan mengatasinya. Sebab itulah maka tak usah kita menangis diwaktu mendaki, sebab di bau pucak perhentian pendakian itu telah menunggu daerah yang menurun. Hanya satu yang akan kita jaga di sana, yaitu kuatkan kaki, supaya jangan tergelincir. Dan tak usah kita tertawa di waktu menurun, karena kelak kita akan menempuh pendakian pula, yang biasanya lebih tinggi dan menggoyahkan lutut dari pada pendakian yang dahulu. Dan barulah kelak di akhir sekali, akan berhenti pendakian dan penurunan itu, di satu sawang luas terbentang, bernama maut.
Di sana akan bertemu alam datar, tak berpendakian, tak berpenurunan lagi.
”
”
Hamka (Merantau ke Deli)
“
Revolusi, dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun adalah harapan. Jangan khianati revolusi! Kembali ia pandangi dua orang tua itu, yang mungkin beberapa tahun lagi tewas digulung maut. Namun mereka meletakkan harapannya pada revolusi. Betapa mereka mengagumi lembaran uang, perwujudan revolusi.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Larasati)
“
Aku selalu ingat juga
pada daun kering,
hidup ini tidak panjang
bagai sependek ranting,
dan aku akan mati.
(Tiada Suatu Yang Kecil)
”
”
Rosli K. Matari (Tidakkah Kita Berada Di Sana?)
“
usia cepat pergi, hilang seperti bayang
meninggalkan kenangan, sayup-sayup di belakang.
(Tangga dan Keladi)
”
”
Rosli K. Matari (Anak Dusun)
“
Sekian lama,
aku sering lupa pada
jalan yang tidak akan berkelok,
tidak akan bersimpang lagi,
Terus lurus ke kubur,
di sanalah aku akan berhenti.
(Ke Mana Aku Akan Pergi)
”
”
Rosli K. Matari (Matahari Itu Jauh)
“
Alangkah anehnya perasaan kita! Kita merasa begitu mencintai hidup pada saat-saat kita terancam bahaya maut!
”
”
Mary Wollstonecraft Shelley (Frankenstein)
“
Mereka membela apa yang menjadi haknya tanpa mengindahkan maut.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1))
“
Orang baru dewasa bila sudah mengalami salah seorang yang dicintainya direnggut maut, begitu kala itu kakek menghiburku.
”
”
Y.B. Mangunwijaya
“
Kawan-kawan semua, dimasa yang akan datang tidak boleh lagi ada kegelapan, tidak juga desingan peluru. tidak ada lagi kebodohan yang begitu keji atau pertimpahan darah. Karena tak ada lagi setan, maka tak akan ada lagi malaikat. Di masa depan tidak boleh ada lagi manusia membantai sesamanya, bumi akan menjadi terang, umat manusia akan saling mencinta. akan tiba suatu hari ketika semuanya terasa damai, harmonis, terang benderang, menggembirakan dan begitu hidup. Hari itu akan datang dan itulah sebabnya mengapa kita akan menyongsong maut.
”
”
Victor Hugo (Les Misérables)
“
sekali-sekali
ibu dilambung bimbang, menatap anaknya bagai
ranting kering. ia sedar kini maut menyelinap
ke dalam kamar dan menetap di antara gelas-
gelas air. lalu berkata ibu: tak lama lagi
kau duduk di sini.
”
”
T. Alias Taib (Seberkas Kunci)
“
Ya, mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seirang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah manusia, dan orang itu pun mencintai kita. Seperti mendiang kawan kita itu misalnya–mengapa kemudian kita harus bercerai-cerai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Bukan Pasar Malam)
“
Lady Harris's Fool is a cornucopia of sacred images, many of which reveal themselves only after long meditation (and the aid of a magnifying glass). He bursts into midair of existence from behind three swirling rings that issue from and return to his heart. These are the three veils of negativity (Ain, Ain Soph, and Ain Soph Aur)23 that Qabalists teach gave birth to the singularity of creation. His satchel is filled with the entire universe in the form of planetary and zodiacal coins. The Fool is the Holy Spirit itself. The dove, symbol of the Holy Spirit; the butterfly, symbol of transformation; winged globe, symbol of Mercurial air; and the Egyptian vulture-goddess Mauf24 pour from the Holy Grail in the Fool's right hand. Like the Virgin Mary, Maut became impregnated by the spirit (breath) of the wind. “The whole picture,” Crowley tells us, “is a glyph of the creative light.
”
”
Lon Milo DuQuette (Understanding Aleister Crowley's Thoth Tarot)
“
Call me Azrael. Também podem chamar-me outros nomes, como Malak-al-maut ou simplesmente Anjo da Morte, tanto me faz, vai bem com flores e para complicado já basta a minha atividade extremamente especializada e técnica, que consiste em retirar a alma do corpo, exercício que faço a todo o instante e em todos os lugares de todos os universos, mas cuja dificuldade, ó imensuráveis mortais, além da carga emocional envolvida, do nervosismo que não consigo evitar e do equilíbrio/absurdamente/ moralmente/esteticamente desequilibrado do universo, a dificuldade, dizia, reside na delicadeza necessária para separar algo que não pode ser separado, separar uma gota da água que a compõe, separar uma folha verde da sua cor, separar uma vela da sua luz, separar. Ó doces efémeros, pergunto-vos, como é que se retira a alma do corpo, sem qualquer contaminação, ela que está aninhada como um gatinho no colo de uma velha? É que separá-los é como separar o dia da noite. Onde é que está a linha divisória entre ambos, a linha precisa?Para que compreendam a natureza deste milagre, porque é disso que se trata, de um milagre, este consiste, atentai, em separar as palavras do seu significado. O que eu levo de mãos dadas para o lugar para onde vão os guarda-chuvas ( como eu chamo à casa de todos nós, à definitiva, desde que ouvi uma senhora a nomeá-la assim) é isso mesmo, significados. O mecanismo é atroz ao mesmo tempo que é admirável: primeiro a diérese, que é o corte dos tecidos que possibilita o acesso à região a ser operada, neste caso específico, a alma; depois, a exérese, que é o retirar da alma; e, por fim, a síntese, que é fechar os tecidos e deixar o corpo tal como o encontramos, sem qualquer trauma evidente, pois o meu trabalho é imaculado.
”
”
Afonso Cruz (Para Onde Vão Os Guarda-Chuvas)
“
Dengan pindah rumah dapat dimisalkan dari alam sempit, kandungan ibu, menangis ketika lahir. Padahal lama di dunia, kita pun betah tinggal di sini. Demikian pula pindah dari dunia ke akhirat, melalui maut. Yang gulut hanyalah di hari kita pindah itu. Dan hari pindah itu tidaklah lama.
”
”
Hamka (Tasauf Modern)
“
Dibuka pintu langit
cukup luas rahmat Dia.
Dibuka pintu tanah
sekadar muat jasad engkau.
”
”
Darma Mohammad (Langit Membuka Lipatan)
“
Maut adalah akhir dari hidup. Maut adalah akhir perjuangan mencari kebebasan - kebebasan yang membawa kebahagiaan. Sekalipun kebebasan itu kebebasan yang getir.
”
”
Gerson Poyk (Perempuan dan Anak-anaknya)
सुरेन्द्र मोहन पाठक (Maut Ka Farmaan (Vimal Book 7) (Hindi Edition))
“
इससे ज्यादा गर्म ड्रिंक्स के शौकीन हो” - वह शरारतभरे स्वर में बोली - “तो तुम्हें शेखावत साहब के आने तक इन्तजार करना पड़ेगा ।” “जी नहीं ।” - मैं बोला - “इस वक्त यही ठीक है । मुझे इतनी ज्यादा गर्म चीजों का शौक नहीं कि मुंह ही जल जाये और” - मैं एक क्षण ठिठका और बोला - “कलेजा भी ।” वह हंसी । मैंने कॉफी का कप उठाया और बड़े अर्थपूर्ण ढंग से उसे देखता हुआ बोला -
”
”
सुरेन्द्र मोहन पाठक (Maut Ka Farmaan (Vimal Book 7) (Hindi Edition))
“
Maut tak perlu ditantang, bila waktunya datang ia pasti menang.
”
”
Yusi Avianto Pareanom (Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi)
“
Sang malaikat maut adalah juga sang pengampun.
”
”
Mike Carey (The Steel Seraglio)
“
Aduh maut. Kenapa kamu disebut kebengisan, kamu yang membebaskan manusia dari hidup yang kejam. Ni akan mengikuti dengan penuh rasa terimakasih dan kegembiraan.
”
”
Sulastin Sutrisno (Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya)
“
Zindagi aur maut uparwale ke haath hai, jahanpanah. Hum sab toh rangmanch ki kathputliyan hain jinki dor uparwale ki ungliyon main bandhi hai. Kab kaun kaise uthega yeh koi nahin bata sakta.
”
”
Anupama Chopra (100 Films to See before You Die)
“
Menguraikan misteri ibarat mencari sebuah ruang dalam gedung kuno yang mahabesar. Gedung kuno yang sisa-sisa kemegahannya masih tampak, tanpa pemilik, dan ada sebuah ruang di dalamnya yang konon digunakan untuk menyimpan berbagai jejak kehidupan yang dijemput maut: pedang, pistol, tali tambang untuk gantung diri, tengkorak dan tulang-belulang, juga bau anyir darah. Begitu banyak ruang di gedung itu, tapi kunci-kuncinya berhamburan, bahkan ada yang hilang. Ia tak tahu ruang mana yang harus dibuka, bahkan tak tahu di mana akan menemukan kunci untuk membuka ruang yang tepat.
”
”
Sidik Nugroho
“
Muhabbat jissey baksh de zindagani,
Nahi maut per khatam uski kahaani.
”
”
Quadri & Kamal (Anwar: the movie)
“
Daripada sawang, terbiar
aku belajar mengerti
hidup ini berakhir
di hujung sepi.
(Tiada Suatu Yang Kecil)
”
”
Rosli K. Matari (Tidakkah Kita Berada Di Sana?)
“
Sambil berbalik, ia menitikkan setetes air mata bagi provinsinya, lalu tiba-tiba memacu kudanya. "Maut! Aku takkan mencemarkan nama Yang Mulia Shingen!"
Suaranya tenggelam dalam lautan musuh.
(Jendral Baba Nobufusa)
”
”
Eiji Yoshikawa
“
Dia termenung mengingat untungnya, yang hanya mengecap lazat cinta laksana bayang-bayang dalam mimpi.
Tetapi cinta suci bersedia menempuh kurban, bersedia hilang, kalau hilang itu untuk kemaslahatan kecintaan, bersedia menempuh maut pun, kalau maut itu perlu.
Karena bagi cinta yang murni, tertinggal jauh di belakang pertemuan jasmani dengan jasmani, terlupa pergabungan badan dan badan, hanyalah keikhlasan dan kesucian jiwa yang diharapnya.
”
”
Hamka (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck)
“
Maut tu garib ke ghar to jaldi aaya kar
Kafan ke paise bhi khatam ho jate hai dawai
kharidate kharidate
”
”
Pankaj Dubey
“
SAD SHAYARI
taras aata hai mujhe masoon si palkho par
jab bheeg kar kahti hai ke ab aur roya nahi jata
aye hawa unse kahde kabhar meri maut ki
aur son kahena ki kafan ki khuwaish mein meri laash
unke aanchal ka intezaar kar rahi hai
SAD SHAYRI
Yeh Tuɱ Se keh Diya kis Ne,
ke Baazi Haar Baithay Huɱ!
Abhi Tuɱ Pay Lutanay ko
Humari Jaan Baqi Hai.
SAD SHAYARI
Usse yeh weham hai ke ɱai usse chor na paaungi
Huɱe ye khauf hai ke r๏yega azɱa ke mujhe !!
Jise Tum Sacche Dil Se Pyar Karo Use
Kabhi Mat Aazmana…!
Kyo Ki
Agar Woh Gunehgar Bhi Hua
Toh Dil Tumhara Hi Tutega
”
”
Hinsmeer.blogspot.com
“
maut se kyuu.n itnii vahshat jaan kyuu.n itnii aziiz
maut aane ke liye hai jaan jaane ke liye
(The poet wonders at why man has a fear of death and why he holds life so dear. The plain truth is that death will definitely come and life will definitely go.)
”
”
Random Quote Sunil K
“
But death listened to no one, not even the Amir al-Maut. And Nasir watched as her butterfly wings fluttered once, and Zafira Iskandar fell to the ground, a silver star driving the light from his world.
His yesterdays and his tomorrows, gone just like that.
”
”
Hafsah Faizal (We Free the Stars (Sands of Arawiya, #2))
“
Dari “Di Hadapan Babylon” pun kita belajar bahwa maut tak selalu datang dengan sabit berkilat dan jubah hitam yang kerap menyembunyikan muka. Maut bisa saja datang dengan berondongan timah panas, tendangan sepatu lars, pucuk bayonet, pisau belati, atau anggaran subsidi beras miskin yang mesti dipangkas demi pembelanjaan Alutsista yang lebih mutakhir.
”
”
Fajar Nugraha (C-45 Demi Masa, Kapsul Waktu, dan Nostalgia Radikal)
“
Maut aur tatti kabhi bhi aa sakti hai,’ said Javed, my guide on the Kolahoi glacier trek in Kashmir, as he quickly ran behind a rock.
”
”
Rujuta Diwekar (Don't Lose Out, Work Out!)
“
Manusia akan memilih maut yang lebih jauh dari maut yang lebih dekat.
”
”
Mochtar Lubis (Harimau! Harimau!)
“
Maut tetap maut, bagaimanapun rupa dan caranya.
”
”
E-Jazzy (Indigenous: Indigo (Indigenous, #2))
“
Saahas-maut. ..meant something like the pleasure you take in hardship...A peculiarly Belter emotion, something that the winners didn't name because they didn't feel it.
”
”
Corey, James S. A.
“
Dulu aku takut akan dua hal: kekelaman dan maut. Aku akan menyelinap keluar dari tempat tidurku yang kecil pada tengah malam dan mengendap masuk ke tempat tidur ibuku. Kususupkan tubuhku ke tubuhnya yang hangat dan aku tak mau berpisah dari ibuku. Kulengkungkan tubuhku agar menjadi lebih kecil dan kucoba untuk menciutkan diriku hingga ukuran janin yang dapat kembali ke rahim ibuku. Segenap tubuhku bergetar dengan keinginan yag kuat ini dan getar seperti dalam demam. Kupikir tak ada yang dapat menyelamatkan diriku dari maut yang mendekat dalam kelam kecuali jika aku menghilang ke dalam rahim yang hangat dan lembut itu yang akan membungkus diriku sendirian di sana.
”
”
Nawal El Saadawi (موت معالي الوزير سابقاً)
“
Kebanyakan aku tak tahu perbedaan antara hidup dan mati. Kadang-kadang, hidupku tampak bagiku seperti maut, sedang pada saat-saat lain, maut tiba-tiba tampak bagiku seperti harapan satu-satunya untuk hidup. Suatu rasa sakit yang dalam menembus jauh lebih dalam daripada pisau. Kulihat sekelilingku, mencari-cari orang lain seperti diriku yang membawa pisau di tubuhnya, dan mencari seorang lain yang dapat mengatakan kepadaku, 'Ya, engkau benar dan dunia ini salah. Kau katakan yang sebenarnya dan dunia ini berdusta.
”
”
Nawal El Saadawi (موت معالي الوزير سابقاً)
“
Palsu I — (Dark, Esoteric, Psychospiritual Version)
Bagaimana mereka meninggalkanmu terperangkap dalam sumur itu?
Seperti berjalan sendirian di bawah hujan yang jatuh tanpa suara,
membiarkan tubuhmu memudar perlahan
di antara tetes air yang tak lagi mengenali gravitasi.
Seperti ban truk meledak di tanjakan
maut menyambar seperti kilat,
dan tak seorang pun selamat.
Seperti seorang perawan yang kehilangan kesuciannya
bukan oleh tangan asing,
melainkan oleh cermin yang memantulkan wajah yang bukan dirinya.
Langit tidak tertawa untuk kesedihan semacam itu.
Beberapa orang berlarian di tengah lapangan
dengan ketelanjangan yang mereka ciptakan sendiri,
tak tahu apakah dunia patut ditangisi atau disumpahi.
Tidak seperti pelacur yang berdiri
di pinggir jalan
meniru Aphrodite dengan keberanian imitasi—tetap merasa suci,
karena tak ada yang tersisa
untuk dicemari.
Seekor babi berjalan terengah,
sementara yang lain bergulingan di tanah
seakan lumpur itu adalah rumah mereka yang hilang.
Kita tak sedang membaca ode
untuk bintang-bintang yang sekarat di langit.
Langit hanyalah rongga hitam tanpa lazuardi,
rumput kehilangan kehijauannya
seperti ingatan terakhir seseorang yang terhapus oleh waktu.
Mata tertutup oleh gumpalan awan
dan kesedihan yang tak lagi mampu mengeja dirinya.
Nanar matanya menghantam jendela
yang tak membuka apa pun kecuali pertanyaan yang tak punya jawaban.
Pintu-pintu terbuka tanpa petunjuk arah.
Jalan-jalan mati, lampu-lampu padam;
kebisuan lebih mencekam
daripada sunyi di tengah kuburan
yang lupa nama-nama yang dikandungnya.
Siapa yang masih berani bertanya:
Mungkinkah darah tetap berwarna merah?
Sedang lagu tak lagi terdengar seperti kicauan burung—
dan burung sudah lama berhenti berkicau
karena dunia menolak mendengar.
Ketika mata tertumbuk ketelanjangan di mana-mana—
di televisi, papan reklame, musik dari radio,
halaman-halaman majalah yang dibaca sampai robek—
mari kita pergi dari sini.
Pergi ke mana saja:
ke sebuah pulau yang kesepian,
ke sealur sungai yang tak berkawan,
ke laut yang kehilangan rasa asinnya,
ke semenanjung tanpa nama
yang tak pernah tersentuh kaki para nahkoda.
Di tempat asing itu,
seseorang menyalakan api
lalu memotret dirinya sendiri
hanya ingin memastikan
bahwa ia masih ada.
Seorang gadis berambut pirang
menikmati es krim coklat sambil membayangkan kekasihnya
yang bahkan sudah lupa namanya.
Gadis lain mengulang peristiwa yang tak pernah ia punya,
sementara yang lain memutar waktu
seperti hendak menangkap peristiwa
yang bukan miliknya.
Bukankah mengherankan,
dunia tidak berputar dari kiri ke kanan,
orang-orang tidak berjalan mundur.
Namun entah mengapa
begitu banyak dari mereka kehilangan kaki
dan pegangan pada diri sendiri.
Merasa tua dalam sekejap,
menjadi bayangan dari masa lalu
yang menolak mati meski tak sungguh hidup.
Seorang kakek ingin melihat pangkal yang tak berujung,
seorang bayi baru lahir melihat ujung yang tak berpangkal.
Para pujangga menari
di saat jutaan lainnya kehilangan keinginan
untuk mencintai dunia.
Para filsuf melompat dari halaman kitab penuh pemikiran
yang sebenarnya tak membutuhkan pembaca.
Berapa banyak artis kehilangan akal,
menggadaikan harga diri
demi sebuah adegan persetubuhan.
Seorang suami berkata kepada istrinya,
“Untuk mendapatkan kebahagiaan,
maka satu-satunya cara adalah melihatmu bahagia
bersama orang lain.”
Tidak semua orang memahami kejujuran atau kebodohan
semacam itu.
Mereka terus menebak-nebak:
apakah kebahagiaan itu sebuah tangga
atau sebuah sumur?
Seperti pikiran lancung
yang berusaha membubung ke langit
namun tenggelam ke dasar samudra
karena tak tahu cara berenang.
Begitulah manusia yang kita kenal—mereka menciptakan
penjara ilusi yang mereka sebut:
identitas.
November 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Helianthus
“The sadness will last forever.”
― Vincent van Gogh
Sebuah ingatan tak mampu menangkap geletar sebatang kuas.
Jari-jemari gagal menangkap rona mata kepedihan
membayang kabur di atas kanvas.
Pucat tube cat menelan harga diri
ekspresi beku palet kosong.
Seekor singa diam-diam mengeram,
mencabik daging sepotong demi sepotong.
Langit penuh bintang tertawa
menggigilkan telinga.
Tawa gila perempuan sundal
di perempatan jalan.
Telinga mengucur darah
oleh tajam sembilu
tak lagi goreskan biru
ke atas gaun malam.
Hutan terbakar.
memberang oleh kalut pikiran.
Kelopak matahari luruh
memenuhi liang lembab dan dingin.
Sernak hujan memutar masa lalu, melaknat pias rembulan.
Tapi ia belum mati, belum lagi.
Ada sisa asap
dari pistol teracung ke atas jidat mencabar benak.
Serpihan ngeri mengiris telinga terbungkus sehelai sapu tangan
berenda—
sebuah tanda mata.
Langit yang tak kunjung mati.
Langit yang melaknat diri sendiri.
Sebuah pusara, dalam keranjang
penuh kentang.
Malam penuh bintang dan sansai
sepasang sepatu bot usang—
kamar sunyi lengang.
Tertumpah gentong anggur
dalam perkelahian tak terkendali
bersama Theo dalam café penuh pelacur.
Almanak yang menyimpan ingatan semua nama: Gachet dan Gauguin
menambal luka meliang di sekujur tubuh;
maut yang menolak mencium busuk bau napasnya.
Rembulan mabuk di sepanjang jalan
dari Borinage, Antwerpen hingga ke Paris.
Jiwa yang menolak mati,
sampai Arles memangilnya kembali
Muram wajah rumah kuning itu,
taman bunga Irish layu
pohon Cypres menari-nari.
Dan Saint Remy
menunda kepulangannya sekali lagi.
Jemari gemetar mengulang
sketsa pada cemerlang warna
bunga mataharinya
dalam sebuah pot oranye
tetap seperti dulu juga.
Lelaki malang
yang mencintai kepedihan
begitu rupa
sebagaimana ia
mencintai cahaya
lebih dari jiwanya sendiri.
April 2014
”
”
Titon Rahmawan
“
HELIANTHUS:
DARK MANUSCRIPT
(7 Luka Vincent, yang Tak Pernah Selesai Dibaca Cahaya)
I. Asal Cahaya
Kuning adalah luka paling tua
yang menetes dari tubuh matahari
ke nadi seorang lelaki
yang tak pernah sanggup
menanggung pagi.
Setiap tetesnya
menggores helai urat syaraf
retak dan denyut seperti
lonceng gereja yang kehilangan doa.
Arles memanggilnya
dengan suara serak
dari tembok lembab
sebuah rumah kuning
yang lebih mirip mulut cacing
yang menelan sepi.
II. Anatomi Sebuah Telinga
Di tubuhnya tumbuh seekor singa
yang menggigiti dagingnya
dari dalam ke luar.
Orang-orang menyebutnya “gila”
karena mereka takut pada binatang yang selalu lapar.
Namun ia tahu:
yang mengaum itu adalah cahaya
yang tak sanggup ia jinakkan.
Cahaya yang mengelupas kulit
seperti kuku Gauguin
yang meninggalkan jejak garam
di punggung.
Maka ia memotong telinganya
sebagai tumbal—
segumpal daging kecil
yang ia bungkus rapi
dalam sapu tangan putih
dan ia persembahkan
kepada suara yang ia kejar
sejak kanak-kanak.
III. Perjamuan Orang-Orang
yang Tak Selesai
Theo hanya memandangnya
seperti memandang sumur retak
tak berair.
Gachet mengukur nadinya
seperti menakar jarak
antara iman dan putus asa.
Gauguin menutup pintu
dan membiarkan lorong panjang itu
menjerit sendiri.
Di sudut café,
sebotol anggur pecah
seperti pecahnya bintang
di langit malam yang murung.
Nama-nama kalender
tergantung di dinding
seperti kepala-kepala
yang terpenggal.
Tak satu pun
cukup tajam
untuk menebas sunyi
yang bergema di benaknya.
IV. Kanvas yang Tak Menghendaki
Jiwa Pemiliknya
Ia menatap bunga-bunga matahari itu
yang rontok satu per satu
seperti gigi para martir.
Kuning di situ bukan warna.
Kuning adalah jeritan.
Kuning adalah mimpi buruk
yang merayap ke pori-pori
dan memakan tidur malamnya
hingga tak bersisa.
Setiap helai kelopak
adalah surat yang tak pernah ia kirim
kepada Tuhan
yang ia yakini sedang bersembunyi
di balik sepotong cermin retak.
V. Ladang Gandum dengan Langit
yang Tak Mengampuni
Pistol di tangannya
lebih dingin dari Saint-Remy.
Ia menembak bukan untuk mati.
Ia menembak untuk menutup suara
yang terus berbisik
dari sisi lain cahaya.
Asap kecil itu
terhenti di udara
seperti doa
yang ragu-ragu.
Namun maut menolak.
Bahkan kematian pun
tak ingin menginap
di tubuh seorang lelaki
yang terluka oleh cahaya.
Ia berjalan pulang
sambil menyeret bayangannya
yang terbelah dua.
VI. Epilog di Bawah Cahaya
yang Makin Pucat
Pada akhirnya,
lelaki itu hanya ingin
membiarkan cahaya
menembus tubuhnya
tanpa menyisakan nama.
Kanvas yang koyak
mengapung di udara
seperti burung-burung gagak
yang terlambat pulang.
Dunia tak akan pernah mengerti
mengapa seseorang
mencintai cahaya
lebih dari jiwanya sendiri.
Di liang lembab itu,
kelopak-kelopak bunga matahari
yang ia bawa sepanjang hidup
luruh satu demi satu
seperti mantra
yang kehilangan tuhan.
Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
“
Maut hanyalah cara lain yang bicara tentang kehidupan.
”
”
Remmy Rocco (Agony Game)
“
JENAWI
I. Kincah Belanga
Di antara gemeretak lentik kayu api gamang tualang di atas tempaan besi gabak mata di balik tungku pembakaran dan bayang kuasi samudra air mata teraduk sempurna dalam kincah belanga. Adakah sebuah perasaan lain yang mungkin, selain cinta? Jerih sebatang besi atau mungkin perih kersani yang niscaya beradu di antara hati dan jantung maut, saat keduanya bertaut?
Duhai pemutus rantap, jangan sekali-kali mata ditentang nyata, sebab kena tuahnya mati Belanda Duhai engkau penetak leher lembu betina. Akankah kaubawa keping secuil hatiku ke mana pun engkau pergi berkelana? Seperti kerat jangat dalam bungkus selampai putih Pada tajam mulut atau garit luka dingin parasmu yang hadir dalam ruap mimpi dan balau igauanku. Engkau mungkin saja sekadar fatamorgana di mana aku mengada dalam tiap tetes bening air mata rembulan, tempat di mana dulu aku melabuhkan segala kerinduan.
”
”
Titon Rahmawan
“
石嘴山大武口区哪里有小妹子服务「官方约炮m217.cc谷歌旗舰店」石嘴山大武口区怎么叫洋妞叫炮服务-石嘴山大武口区怎么找外围约炮「官方约炮m217.cc谷歌旗舰店」石嘴山大武口区找小姐全套服务、洋妞、姑娘、网红、模特、妹子、空姐、白领、大学生、小妹-石嘴山大武口区哪里有大学生上课服务(Yh05Kc)8MAUT
”
”
约炮
“
SUARA-SUARA YANG DIREDUKSI SEBAGAI ANCAMAN (Poetic Essay)
PANGGUNG I — BABYLONIA (Ibu Kota yang Dijadikan Pelacur Agung)
(suara seperti menara yang runtuh dalam gema lambat)
mereka menamai diriku pemusnah bangsa-bangsa,
padahal aku cuma kota:
batu, jalan, gedung, arsitektur, tubuh-tubuh bekerja.
aku ditahbiskan menjadi pelacur agung bukan karena tidur dengan raja-raja,
melainkan karena mereka butuh alasan
untuk menaklukkan tanahku.
“lihatlah ia makhluk penuh dosa”—
kata mereka sambil membakar perpustakaan
dan menjarah emas-emas dari kuilku.
aku tidak pernah meminta tubuhku
dipakai sebagai metafora kerakusan.
yang serakah bukan diriku—
melainkan mereka yang butuh perempuan sebagai alasan perebutan kekuasaan.
mengapa harus tubuh perempuan?
karena tubuh adalah tanah yang terlalu sulit ditaklukkan
jika tak diberi wajah musuh yang bisa mereka salibkan.
PANGGUNG II — JEZEBEL (Ratu yang Dijadikan Simbol Kemerosotan Moral)
(suara seperti kaca patri yang retak di kuil)
mereka bilang aku menghasut,
memperdaya,
membawa bangsa menuju kehancuran.
anehnya, setelah mereka menuding,
yang terbunuh sebagai korban selalu perempuan.
aku jadi ikon propaganda:
“wanita yang paling berbahaya”,
“perempuan yang membunuh nabi-nabi”,
padahal aku hanya ratu di atas panggung politik
yang tak pernah diciptakan untuk mengenali suaraku.
laki-laki membunuh satu sama lain demi kekuasaan,
tetapi sejarah menuliskan:
“semua ini salah Jezebel.”
mengapa tubuh perempuan?
karena tubuh laki-laki tak bisa disalahkan,
meskipun peradaban hancur sebagai akibat ulah mereka sendiri.
jadi mereka menciptakan hantu dengan riasan tebal:
aku!
wajah yang muncul dari balik cermin ketakutan yang mereka karang sendiri.
PANGGUNG III — SALOME (Tubuh yang Dijadikan Mata Uang Politik)
(suara seperti pisau menari di udara dingin)
mereka mengingat tarianku.
mereka lupa siapa yang memintanya.
aku dijadikan dalih
untuk memenggal seorang lelaki suci—
padahal aku hanya anak
yang dipakai sebagai alat dalam negosiasi politik istana.
namaku disihir menjadi komoditas:
sensualitas, bahaya, ketamakan,
seolah tubuh seorang gadis
cukup untuk menjelaskan kekejaman sebuah ambisi.
mengapa tubuh perempuan?
karena tubuh perempuan bisa dimanipulasi
menjadi alasan pembantaian
tanpa mereka harus mengakui
bahwa kepala Yohanes jatuh
karena rasa takut Herodes, bukan karena tarianku.
aku bukan pembawa maut.
aku bayangan yang dipelintir
agar sejarah bisa menyalahkan satu tubuh
bukan seluruh sistem kekuasaan.
”
”
Titon Rahmawan
“
MALIN
(Melayu - Arkais)
V. Kedatangan dan Pengingkaran
Kini di tepian pantai ini,
betapa perih runtih bola mata sang bunda.
Terpatah janji si anak mufrad, dilerai tanti perawan putri bangsawan.
Betapa dalam retak karat di likat palat,
simpul keramat wajah anak rembulan yang cuma berdiri angkuh di atas gelamat?
Ia yang enggan menyebut laif pasir pantai dan bahkan menolak menyapa nama bundanya.
Selalu ada setampuk luka di tajuk baka mata kita.
Seperti kelopak tunjung yang basah diorak ingkar ludah kata-kata dan tanah basah yang kelesah disesah korenah.
Perangai laut yang mengambang risau dihantam kayau akar bakau.
Betapa galau hati sesungguhnya,
ia ingin pulang kembali kepada pohon yang dulu pernah ia jadikan rumah,
atau bumi tempat bermuara air mata.
Air matamulah itu ibu!
Ia anak gadang semata wayang, yang entah mengapa tak juga Iekas beranjak dewasa,
menggali leka buaian duka pada renta raga sang bunda.
VI. Kutuk Pastu Ibu dan Cinta yang Hilang
Seludang hatimu berasa ingin turun melaut,
mencari serpih cangkang tutut di akar rumput
dan sejumput temali butut tempat bertaut pilu hati di jantung maut. Bukankah ia telah mencabarkan hatimu wahai ibu?
Maut turut bersama angin dan hujan badai,
atau apapun yang datang dan pergi bersama dirinya.
Senja yang hadir meIarap waktu, cuaca tak tentu,
detak ragu di jantung batu.
Di situ, pada rahimmu, bertelut jasad sang maut. Maut anakmu.
Matanya yang gentar lagi gelisah, tangisnya yang basah,
mendekap erat pada resam tubuh yang sebentar lagi mendingin. Sedingin batu.
VII. Sesal yang Datang Terlambat
Saat peniti menolak semat kismat jantung hikmat. Langit datang bertandang untuk merengkuh keruh geruh jiwanya. Hingga untuk penghabisan kali,
ia menghamburkan rupa-rupa kata sesal dan mohon ampun dari kelu bibirnya.
Kau yang menciptakan kasidah cinta dari rahimmu yang paling ibu. Ketika kau menolak menjadi tuhan bagi anakmu sendiri.
Untuk telur badi buaya yang susah payah engkau tetaskan,
namun kau sayangi melebihi dirimu sendiri.
Seumpama bayang-bayang mara yang paling lintuh atau malah mungkin yang paling jatuh.
Tuhfah yang dulu pernah kau anggap berharga, ternyata cuma kelompang telur tembelang.
Serupa batu rapuh tempat kini ia bernaung.
VIII. Epilog Ibu
Hingga habis air matamu menjemput lembayung langit lazuardi,
sayap-sayap awan pengarak hujan dan paras rupawan sang insan kamil.
Berkeras hati mencari lindungan pada selimut mutaki itu,
yang membalut tubuhmu dengan cinta yang teramat maha.
Yang tak mungkin kau kata dengan sembarang laknat atau kutuk pastu. Sementara risau hati dipaksa mafhum,
betapa cinta tak mungkin hanya sebatas cerita
atau tautan kisah yang sunyi:
Duh Malin, betapa sungguh kejam rajam hatimu atas debu di kepala ibu.
Januari 2014
(Rekonstruksi)
”
”
Titon Rahmawan