Kegelapan Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Kegelapan. Here they are! All 84 of them:

Orang cerdas berdiri dalam gelap, sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Mereka yang tidak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap dalam kegelapan itu. Orang yang tidak cerdas hidup di dalam terang. Sebuah senter menyiramkan sinar tepat di atas kepala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai batas batas lingkaran cahaya senter itu.
Andrea Hirata
Jika sebuah tali itu sudah sangat mengencang, itu tandanya akan putus. Jika malam sudah gelap gulita, itu tandanya bahwa kegelapan akan segera lenyap. Jika sebuah masalah itu sudah sangat menghimpit, itu tandanya akan ada jalan keluar.
عائض القرني
Langit adalah kitab yang terbentang… Bumi adalah kitab yang terhampar… Manusia adalah kitab yang berjalan… Sedangkan Al-Qur’ an adalah cahaya di dalam kegelapan…
Wahyu Sujani (Ketika Tuhan Jatuh Cinta (#KTJC1))
Dan bukankan satu ciri manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya bergabung mengangkat sebangsanya yang lemah, memberinya lampu pada yang kegelapan dan memberi mata pada yang buta
Pramoedya Ananta Toer
Rasa cinta itu kadang semakin jernih ketika kita harus terpisah. Rasa cinta itu bisa tumbuh subur di tempat yang asing dan jauh. Rasa cinta itu tumbuh lewat jalan yang berliku, lewat kegelapan dan air mata. Rasa cinta yang seperti itu sejatinya akan menjadikan kita kuat.
Iwan Setyawan (Ibuk,)
Sebuah kematian seharusnya menjadi hadiah yang sangat indah bagi mereka yang hidup secara tidak bahagia dan terlalu banyak mempunyai keluhan. Hanya dengan keindahan kesunyian yang meraba secara halus kalian akan merasakan kegelapan yang tenang, menikmati sebuah keabadian.
Randy Juliansyah Nuvus
Tidak jarang, mereka yang menghabiskan waktu untuk memberikan cahaya bagi orang lain justru tetap berada dalam kegelapan (Come Be My Light, h. 335)
Mother Teresa
Kalau tak ada kegelapan, tak akan nampak bintang.
Syafiq Aizat (Awan (Trilogi Ajaib #2))
Kegelapan itu tak ada hubungannya dengan misteri, melainkan dengan satu warna dan satu corak di jalan buntu: bahwa manusia seutuhnya adalah makhluk yang satu dimensi: hanya bisa menaklukan dan ditaklukan.
Goenawan Mohamad (Catatan Pinggir 7)
Bi al-Lughoh na’rifu al-‘ilma wa bi duunihaa kunna fi adh-dhalaam. Dengan bahasa kita bisa menguasai ilmu dan tanpanya kita akan berada dalam kegelapan (kebodohan)
Dian Nafi (Mesir Suatu Waktu)
Perang, kekuasaan, kekayaan, seperti unggun api dalam kegelapan dan orang berterbangan untuk mati tumpas di dalamnya.
Pramoedya Ananta Toer (Arus Balik)
Betapa kunang-kunang itu memberikan cahaya di tengah kegelapan. Ia menjadi lupa dengan kesia-siaan hidupnya.
Seno Gumira Ajidarma (Sepotong Senja untuk Pacarku)
Kesulitan tak pernah menjadi sesulit ini manakala hati ikut menjadi partner dalam menjalaninya. Tapi, jika hati tertinggal dari langkah... hanya kegelapan yang ada.
Adenita (23 Episentrum)
Satu Cincin 'tuk menguasai mereka semua, Satu Cincin 'tuk menemukan mereka semua, Satu Cincin 'tuk membawa mereka semua dan mengikat mereka dalam Kegelapan
J.R.R. Tolkien (The Fellowship of the Ring (The Lord of the Rings, #1))
Meski aku tersesat dalam kegelapan yang kelam, aku ingin percaya ada cahaya yang menemaniku terus melangkah
Ken Saitō
Mungkin hidup bersama-sama dengan orang lain adalah cara yang tepat yang bisa memberikan napas lega di tengah dunia yang penuh dengan kegelapan dan kesesakan.
Baek Se-hee (I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki)
Keburukan prasangka hanya akan mendekatkan manusia kepada fitnah. Dan tidak ada yang lebih membahayakan jiwa manusia selain daripada sebuah fitnah yang keji. Lepaskan dirimu dari beban-beban prasangka atau bayang-bayang kegelapan akan meliputi jiwamu dan kau akan kehilangan cahaya kemanusiaan
Titon Rahmawan
Bukan terang yang ingin kau temukan. Kau hanya ingin memastikan bahwa yang ada hanyalah kegelapan.
Paulo Coelho (The Devil and Miss Prym)
Aku ingin menikmati gelombang perasaanku seolah aku sedang menari pada sebuah musik. Aku berharap aku bisa menjadi seseorang yang kebetulan menemukan secercah cahaya dan bertahan bersama cahaya itu setelah lama berjalan di dalam kegelapan yang besar. Aku percaya suatu hari nanti aku bisa menjadi seperti itu.
Baek Se-hee (I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki)
Institusi pendidikan tidak mengajarkan manusia untuk bebas bermanuver dalam pola pikir, tetapi untuk seragam dalam berpikir dan menciptakan manusia-manusia patuh dan siap berintegrasi dengan sistem. Taburlah benih-benih pemberontakan atas kemunafikan dan penyeragaman. Ciptakanlah karya-karya penopang pembaruan, literatur-literatur penjinak keberingasan sekte-sekte primitif warisan orde kegelapan.
Andi Fitriyanto (Antitesis)
Tapi bukankah kegelapan ini justru akan membuat cahaya itu tampak lebih terang? Maksud Tuhan terhadap kita adalah baik. Hidup ini diberikan kepada kita sebagai rahmat dan tidak sebagai beban; kita manusia sendiri umumnya membuatnya jadi kesengsaraan dan penderitaan.
Sulastin Sutrisno (Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya)
Itulah senja, yang seperti cinta, tiada pernah tetap tinggal abadi, selalu berubah sebelum punah, meninggalkan segalanya dalam kegelapan dunia yang merana.
Seno Gumira Ajidarma (Sepotong Senja untuk Pacarku)
Dunia ini memang semakin rumit. Semakin maju, tapi juga semakin banyak kegelapan. Semakin kotor. Semakin susah menemukan cinta yang tulus. Apalagi menjaga kebersihan hati.
Iwan Setyawan
Aku suka gelap karena kehidupan ini dimulai dari kegelapan. Aku suka air karena air bisa menenggelamkan ke tempat yang terdalam di mana kegelapan akan cepat menjadi kawan baikmu.
Ruwi Meita (Rumah Lebah)
Aku pun tahu Sukab, senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan, ketika segala makhluk dan benda menjadi siluet, lantas menyatu dalam kegelapan.
Seno Gumira Ajidarma (Sepotong Senja untuk Pacarku)
Dunia kita dekat sekali dengan kegelapan. Maka saat gelap menyelimutimu, pastikan kamu tetap berusaha mencari cahaya di sekitarmu. Dirimu sendiri adalah satu-satunya yang bisa kaupercaya. Nurani. Cahaya itu selalu ada di hatimu. Gunakanlah. Terangi jalanmu, temukan pilihan hidupmu. Semoga itu bisa membawamu menuju jalan yang lebih baik.
Tere Liye (Selena)
ketika kita memandang permasalahan dan beban itu berasal dari diri kita,justru pada saat itu sebenarnya kita lah yang bermasalah. sedangkan pepatah cina mengatakan "dari pada mengutuki kegelapan lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan
Stephen R. Covey
Selalu kelilingi diri Anda dengan teman-teman yang memiliki banyak cahaya di dalamnya. Dengan begitu, Anda akan selalu memiliki lilin di sekitar Anda saat hari gelap.
Suzy Kassem (Rise Up and Salute the Sun: The Writings of Suzy Kassem)
Sesungguhnya kebaikan (ketaatan kepada Allah) itu merupakan keceriaan di wajah, cahaya di hati, kelapangan pada rezeki, dan kecintaan di hati manusia. Adapun keburukan (kemaksiatan) merupakan kemuraman di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di badan, dan kebencian di dalam hati manusia.
Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu
seburuk apapun akhir kisah cinta, selalu seperti senja menuju malam. sebelum kegelapan datang, keindahan pernah menghampiri.
Prasetyo Kurniawan
Dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian. Islam tanpa amalan adalah kehampaan. Amalan tanpa iman adalah kegelapan.
Hanum Salsabiela Rais (Bulan Terbelah di Langit Amerika)
Kita harus selalu mencoba berbuat sesuatu, menyalakan sesuatu, sekecil apa pun dalam kegelapan di negeri ini.
Leila S. Chudori (Laut Bercerita)
Jika dunia media tak mau melakukan kritik diri, bila otokritik dianggap "pagar makan tanaman", selamat datang kegelapan!
Goenawan Mohamad (Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm Goenawan Mohamad)
Kawan-kawan semua, dimasa yang akan datang tidak boleh lagi ada kegelapan, tidak juga desingan peluru. tidak ada lagi kebodohan yang begitu keji atau pertimpahan darah. Karena tak ada lagi setan, maka tak akan ada lagi malaikat. Di masa depan tidak boleh ada lagi manusia membantai sesamanya, bumi akan menjadi terang, umat manusia akan saling mencinta. akan tiba suatu hari ketika semuanya terasa damai, harmonis, terang benderang, menggembirakan dan begitu hidup. Hari itu akan datang dan itulah sebabnya mengapa kita akan menyongsong maut.
Victor Hugo (Les Misérables)
Ngtweet soal kegelapan mendadak inget Edna St. Vincent, dia bilang “Into the darkness they go, the wise and the lovely” yang berarti tahu dadakan digoreng garing itu tidak ada di malam hari.
Vergi Crush
Para ulama' adalah pembawa obor ilmu yang menerangi kegelapan jahiliyah, apabila seseorang itu berusaha mendampingi para ulama', bererti dia berusaha mendekati cahaya ... mukasurat 96 | bab 21
Nik Abdul Aziz Nik Mat (Insan, Ingatlah: Sebuah Panduan Menuju Hati yang Tenang)
Musa datang untuk membenahi kerusakan akhlak ini. Dan Musa mesti berkali-kali tersungkur sebab dia coba mempersembahkan cahaya kebenaran yang serbaasing bagi kaum yang terlanjur mengakrabi kegelapan
Hendri Teja (Iblis-Iblis Capres)
Tugas dokter Pribumi bukan saja menyembuhkan tubuh terluka dan menanggung sakit, juga jiwanya, juga hari depannya. Siapa akan melakukannya kalau bukan para terpelajar? Dan bukankah satu ciri manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya bergabung, mengangkat sebangsanya yang lemah, memberinya lampu pada kegelapan dan memberi mata yang buta.
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
Saat itu adalah waktu terbaik, sekaligus waktu terburuk. Masa kebijaksanaan, sekaligus masa kebodohan. Zaman iman, sekaligus zaman keraguan. Musim Terang, sekaligus musim Kegelapan. Musim semi pengharapan, sekaligus musim dingin keputusasaan. Kita memiliki semuanya di hadapan kita, sekaligus tidak memiliki semuanya. Kita semua langsung pergi ke Surga, sekaligus langsung pergi ke jalan lainnya. Pendeknya, zaman itu begitu persis dengan zaman sekarang.” “Setiap waktu punya bentuk cintanya sendiri-sendiri
Kiki Thorpe
Kadang-kadang kita tak boleh percaya kepada yang kita lihat, kita harus percaya kepada yang kita rasakan. Dan jika ingin orang lain percaya kepada kita, kita harus merasa bahwa kita dapat mempercayai mereka juga--bahkan meskipun kita sedang dalam kegelapan. Bahkan ketika kita sedang terjatuh.
Mitch Albom (Tuesdays with Morrie: An Old Man, a Young Man, and Life's Greatest Lesson)
terhempas, takluk, digerus dingin angin, suara truk, debu menyelip di mataku betapa dancuk hidup ini! betapa dancuk lonte yang setengah mati kukasihi dan menusukku dari belakang! betapa dancuk Tuhan! bergetar, mabuk bayang-bayang, tuak kegelapan, mabuk keramaian yang kubenci, mengambang, tersesat, terhisap angin, luka menganga, nanah tembaga meleleh dari lutut Apolo emas yang dipenggal sebelum perang meledak; sulap kata-kata Homer dengan mata piceknya. terkutuklah bayangan, pohon-pohon meronta karena tak ada satu pun cuaca baik menawarkan minuman dari langit. aku biarkan itu semua menyalipku, dalam metafora, mata binatang, bibir lebar mirip kemaluan wanita sombong yang merasa imannya takkan tumbang meski dijejali kata-kata jorok nan mesum. bergerak, tenggelam, sinar patah di lingkar air dalam gelas mineral yang kokoh dan kau bilang air abadi dan kau bilang api bisa mati sendiri terkutuklah engkau yang menelan masa laluku dan menghibahkan kehancuran ini lobang nganga di dadaku. oh, kau yang memuntahkan abu tulangku, yang akan tetap kuingat meski Tuhan atau apapun itu menyeretku ke neraka omong kosong di alam kubur dan bertanya bagaimana imanku sebenarnya. oh, terkutuklah engkau!
Bagus Dwi Hananto (Dinosaurus Malam Hari)
Orang yang mengalami depresi memiliki pikiran yang sangat kompleks dan negatif. Pikiran mereka seperti benang kusut, puzzle yang tak pernah lengkap, dan labirin tanpa jalan keluar. Mereka mengalami sedih yang tak berkesudahan, lalu pikiran mereka selalu mempertanyakannya. Setiap pengalaman dianalisis, setiap memori kami ingat sebagai luka, dan setiap kenangan kami anggap sebagai duka. Kami mbungkus diri dalam kesedihan-memenjarakan pikiran kami sendiri dalam kegelapan.
Regis Machdy
Jika mencintaimu berarti juga harus siap dan rela kehilanganmu suatu saat nanti, aku akan mempertahankanmu dengan segala cara agar kau selalu ada di sisiku. Jika mencintaimu berarti juga harus menyetujui semua sikap, tindakan, dan ucapanmu, malam ini juga aku akan pergi tanpa kamu.
Sidik Nugroho (Melati dalam Kegelapan)
Dengan pemancar radio yang telah lama mati, wahana-wahana ini akan mengembara selama berabad-abad di kegelapan antarbintang yang tenang dan dingin—di mana hampir tidak ada apa pun yang dapat mengikisnya. Begitu keluar dari Tata Surya, mereka akan tetap utuh selama satu miliar tahun atau lebih, sambil mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti. Kita tidak tahu apakah ada peradaban penjelajah angkasa lain di Bima Sakti. Jika memang ada, kita tidak tahu seberapa banyak mereka, apalagi di mana mereka. Namun, setidaknya ada kemungkinan bahwa suatu saat nanti di masa depan yang jauh, salah satu Voyager akan ditemukan dan diperiksa oleh wahana asing.
Carl Sagan (Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space)
Percaya sama Saya, Allah itu dzat yang paling awal yang berharap hamba-Nya melek literasi. Al Amin ﷺ adalah generasi 'ummi dari kota tua di lembah Bakkah, namun Jibril عليه السلام justru membawa kata pertama Iqra'. Coba kita liarkan sedikit imaji kita di dalam kegelapan gua, yang Nabi ﷺ gemetar oleh suara Jibril. Jangankan membaca buku, buku-buku jari saja tak nampak, pekat. Lalu Allah berfirman, "Iqra'!" Saya yakin pembaca pasti kritis, "kan, ada Jibril yang bercahaya." Oke, tapi biarkan semua pertanyaan yang terlintas tentang kata pertama untuk tafakur nanti. Karena ada kata yang lebih mengena lagi yang dibacakan oleh Penghulu Malaikat saat itu. Yaitu "Yang mengajarkan (manusia) dengan Pena." Nah, jadi mana yang pertama? Baca dulu atau tulis dulu?! Bagi kita para pembelajar @nulisyuk, tentu yang pertama adalah tulis saja dulu. Ya, kan?! Lalu baca lagi, karena Allah akan mengajar manusia apa yang tidak dia ketahui. Kemudian tulis kembali, dengan pemahaman yang kita dapatkan. Baca ulang, agar Allah menurunkan petunjuk. Tulis ulang, baca-tulis-baca-tulis, sampai kita menjumpai hal yang paling meyakinkan. Yaitu kematian. Hingga saat tiba waktunya kita membaca karya kita nanti, Malaikat mengulurkannya lewat tangan kanan. Bukan di telapak tangan kiri yang terpaksa atau bahkan kita membelakanginya. Sembari berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya.” Begitulah seharusnya kita menulis, jujur oleh gerakan hati. Saya adalah contoh dari jutaan manusia yang pernah bercita-cita untuk hidup dari tulisan. Beroleh bayaran dari coretan pena. Bahkan sempat ikut lomba menulis cerita anak, dengan hadiah kursus kepenulisan. Alhamdulillah, di dalam kemenangan pertama itu Saya tidak menerima uang. Meskipun Saya baru menyadarinya akhir-akhir ini. Janganlah, menulis untuk cari duit dan ketenaran. Seolah-olah Allah telah berbisik seperti itu ketika merobohkan niat Saya untuk menulis waktu yang dulu. Semoga, ketika sekarang kembali menulis bersama #nulisyukbatch6 sudah punya niat kuat yang berbeda. Hanya sebagai wujud rasa syukur atas pembelajaran Tuhan di dunia. Yuk Nulis, karena kita sudah banyak membaca ayat-ayat Allah di keseluruhan hidup kita. Aamiin.
Maykl Bogach
Mama, Mama pernah berbahagia?" "Biar pun pendek dan sedikit setiap orang pernah, Ann." "Berbahagia juga Mama sekarang?" "Yang sekarang ini aku tak tahu. Yang ada hanya kekuatiran, hanya ada satu keinginan. Tak ada sangkut-paut dengan kebahagiaan yang kau tanyakan. Apa peduli diri ini berbahagia atau tidak? Kau yang kukuatirkan. Aku ingin lihat kau berbahagia." Aku menjadi begitu terharu mendengar itu. Aku peluk Mama dan aku cium dalam kegelapan itu. Ia selalu begitu baik padaku. Rasa-rasanya takkan ada orang lebih baik. "Kau sayang pada Mama, Ann?" Pertanyaan, untuk pertama kali itu diucapkan, membikin aku berkaca-kaca, Mas. Nampaknya saja ia terlalu keras. "Ya, Mama ingin melihat kau berbahagia untuk selama-lamanya. Tidak mengalami kesakitan seperti aku dulu. Tak mengalami kesunyian seperti sekarang ini: tak punya teman, tak punya kawan, apalagi sahabat. Mengapa tiba-tiba datang membawa kebahagiaan?" "Jangan tanyai aku, Ma, ceritalah." "Ann, Annelies, mungkin kau tak merasa, tapi memang aku didik kau secara keras untuk bisa bekerja, biar kelak tidak harus tergantung kepada suami, kalau ya, moga-moga tidak, kalau-kalau suamimu semacam ayahmu itu." Aku tahu Mama telah kehilangan penghargaannya terhadap Papa. Aku dapat memahami sikapnya, maka tak perlu bertanya tentangnya. Yang kuharap memang bukan omongan tentang itu. Aku ingin mengetahui adakah ia pernah merasai apa yang kurasai sekarang. "Kapan Mama merasa sangat, sangat berbahagia?" "Ada banyak tahun setelah aku ikut Tuan Mallema, ayahmu." "Lantas, Ma?" "Kau masih ingat waktu kau kukeluarkan dari sekolah. Itulah akhir kebahagiaan itu. Kau sudah besar sekarang, sudah harus tahu memang. Harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sudah beberapa minggu ini aku bermaksud menceritakan. Kesempatan tak kunjung tiba juga. Kau mengantuk?" "Mendengarkan, Ma." "Pernah Papamu bilang dulu, waktu kau masih sangat, sangat kecil, seorang ibu harus menyampaikan kepada anak perempuannya semua yang harus dia ketahui." "Pada waktu itu..." "Pada waktu itu segala dari Papamu aku hormati, aku ingat-ingat, aku jadikan pegangan. Kemudian ia berubah, jadi berlawanan dengan segala yang pernah diajarkannya. Ya, waktu itu mulai hilang kepercayaan dan hormatku padanya." "Ma, pandai dulu Papa, Ma?" "Bukan saja pandai, tapi juga baik hati. Dia yang mengajari aku segala tentang pertanian, perusahaan, pemeliharaan hewan, pekerjaan kantor. Mula-mula diajari aku bahasa Melayu, kemudian membaca dan menulis, setelah itu juga bahasa Belanda. Papamu bukan hanya mengajar, dengan sabar juga menguji semua yang telah diajarkannya. Ia haruskan aku berbahasa Belanda dengannya. Kemudian diajarinya aku berurusan dengan bank, ahli-ahli hukum, aturan dagang, semua yang sekarang mulai kuajarkan juga kepadamu." "Mengapa Papa bisa berubah begitu Ma?" "Ada, Ann, ada sebabnya. Sesuatu telah terjadi. Hanya sekali, kemudian ia kehilangan seluruh kebaikan, kepandaian, kecerdasan, keterampilannya. Rusak, Ann, binasa karena kejadian yang satu itu. Ia berubah jadi orang lain, jadi hewan yang tak kenal anak dan istri lagi." "Kasihan Papa." "Ya. Tak tahu diurus, lebih suka menggembara tak menentu.
Pramoedya Ananta Toer
Semakin saya berkawan dengan kegelapan, hidup akan semakin bercahaya, dunia semakin sunyi, dan perlawanan bawah sadar terhadap apa pun terasa semakin mereda.
Mark Manson (The Subtle Art of Not Giving a F*ck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life)
Mungkin Beliau ingin membuat gambar-gambar lagi? Tempat ini kelihatan seperti ruang lukis yang bagus. Hitam semua, tentu saja, tidak seperti orang-orang yang biasanya menggambar di atas bahan berwarna putih. Tidak, tidak seperti manusia biasa. Beliau melukis dengan kegelapan sebagai kanvas. Akan tetapi, Beliau tidak membawa permen yang bisa dipakai untuk menggambar. Ah, mungkin Beliau lupa; karena itu Beliau termenung, terkejut, dan bingung memikirkan apa yang harus dilakukan sekarang. Saya menggerungkan gas; cara saya untuk mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak apa-apa; semua orang, bahkan yang paling pintar dan paling hebat sekalipun, bisa melupakan sesuatu. Dan, kalau ini adalah kali pertamanya melupakan sesuatu: selalu ada kali pertama untuk segala hal.
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Semua Ikan di Langit)
Ikan yang bersedih memuntahkan kegelapan. Saya melihat Beliau mendekati gadis itu dan pelan-pelan membawanya ke dalam saya. Anak itu menapakkan kakinya, tapi hanya sedikit sekali yang ia ceritakan pada saya. Hanya ingatan terakhirnya: ditampar oleh ibunya, melarikan diri ke taman, bermainan ayunan berhari-hari sampai akhirnya dia berayun terlalu jauh dan terlempar ke luar angkasa. Saya tidak pernah tahu kalau luar angkasa dipenuhi anak-anak kecil yang terlempar dari ayunan. Tapi, kesedihan gadis ini begitu dalam. Begitu dalam, hingga matanya tak bisa melihat apa pun selain kegelapan. Dan, begitu gelap, hingga cahaya apa pun tidak bisa menembus selubung hitam yang melingkupi dirinya. Dan semua perasaan sedih itu tidak bisa keluar lagi; hanya semakin banyak luka yang masuk, tapi tidak bisa pergi, terjebak selamanya di dalam. Dan mereka terlempar pergi ke rongga angkasa, sebelum akhirnya, jika Beliau tidak datang menjemput, mereka sendiri akan menjadi rongga angkasa; menelan tanpa pernah memuntahkan, menolak semua jenis cahaya karena tak bisa lagi memercayai kebahagiaan.
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Semua Ikan di Langit)
Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan: hanya cahaya yang bisa melakukan itu. Benci tidak bisa mengusir kebencian: hanya cinta yang bisa melakukan itu.
Vergi Crush
Jika" Jika hanya ini jalan yang tersisa untuk aku tempuh Maka aku akan menapakinya walau tapak beralas darah Jika mata dibalas mata hanya membuat dunia buta Maka kuterima semua kegelapan itu walau harus merindu setitik cahaya Jika kau jegal langkahku Maka kujegal langkahmu Jika kau henti nafasku Maka kuhenti nafasmu Jika kau gurat nadi leherku Maka kugurat nadi lehermu Jika hanya itu cara yang tersisa Untuk membuatmu memahami luka (Untuk Fadila Nazian)
BAKENEKO
Guru berasal dari kata gu berarti 'kegelapan' dan ru berarti 'menghilangkan
J. Sumardianta
Kegelapan itu tidak ada, yang ada hanya berkurangnya intensitas cahaya.
Jenni Anggita (Jendela-jendela Aba: Antologi Cerpen RetakanKata 2013)
Malam itu, Pilar Ternera mengompres bengkak di di wajah José Arcadio dengan ramuan, meraba-raba botol dan kain di kegelapan, serta melakukan apa saja yang diinginkan berdua sepanjang hal itu tidak mengganggu José Arcadio; ia mencoba untuk mencintainya tanpa melukainya. Akhirnya, mereka berdua berada dalam suasana akrab, tanpa menyadari mereka berbisik satu sama lain.
Gabriel García Márquez (One Hundred Years of Solitude)
Jauh sebelum ini, aku sudah dulu bertemu. Ia menawarkan belaian cahaya atau kegelapan yang hangat disisi sebaliknya. Tapi, aku tak pernah memilih keduanya. Aku hanya ingin terus berjalan tepat diantara batas tipis antara cahaya dan gelap hingga pada akhirnya mati sebagai "manusia".
nom de plume
Dalam kehidupan, terbagi menjadi tiga jalan. Ada jalan penuh kegelapan, yang hanya membawa penderitaan dan kesedihan. Ada pula jalan redup, kadang bahagia namun sering juga sengsara. Ada juga jalan terang, yang membawa kebahagiaan dan dipenuhi keberuntungan serta keberkahan.
Sunali Agus Eko Purnomo (Para pencari Cahaya kehidupan)
Hati laksan cahaya, yang mampu memancarkan kebaikan dan kebahagiaan. Namun, hati juga laksana seperti kegelapan, yang mampu menyengsarakan dan membawa pada ujung penyesalan.
Sunali Agus Eko Purnomo (Para pencari Cahaya kehidupan)
Di mana ada siang, pasti akan ada malam yang terjadi, begitu pun dengan jiwa, di mana ada spiritual awakening, pasti ada dark night of the soul yang terjadi. Tanpa kegelapan paling pekat, tidak akan pernah ada cahaya paling terang di semesta.
Ananda Ramartha (Way of Ray: Souls In A Higher Learning Road)
... kegelapan ada untuk membantu menemukan cahaya, bukan melenyapkannya sama sekali. Kenalilah dan bertemanlah dengan kegelapan diri.
Ananda Ramartha (Way of Ray: Souls In A Higher Learning Road)
Masalahnya, ada saja manusia yang menginginkan agar kita semua tetap bodoh dan buas, supaya kita semua tenggelam dalam kegelapan, sehingga dengan menjadi penguasa tunggal atas pengetahuan, bisa berkuasa dalam segala bidang. Padahal pengetahuan itu hak semua orang.
Seno Gumira Ajidarma (Kitab Omong Kosong)
Kurasa kemana pun kau pergi , bahaya akan selalu ada. Kau bisa mengabaikannya, melindungi diri supaya bahaya itu tidak melukaimu, atau kau bisa berjalan ke arahnya, dan menantangnya untuk melakukan yang terburuk padamu. kalau kau melakukan hal yang pertama, maka bahaya akan mengejutkanmu. Kalau kau melakukan yang ke dua, maka kau akanmenghabiskan seluruh waktumu terkungkung dalam kegelapan, membiarkan dunia melewatimu. Satu-satunya tindakan yang masuk akal adalah menyambut bahaya. Semakin kau terbiasa, semakin baik juga kau bisa menghadapinya.
Sherlock Holmes (Series#1) (A Study in Scarlet: annotated (Sherlock Holmes Book 1))
Saya mengharapkan gerimis mempercepat kelam, supaya saya tenggelam dalam kegelapan.
Budi Darma (Olenka)
Cahaya dan kegelapan berada di dalam satu tubuh. Hidup kita akan terus berjalan dan rasa bahagia dan sedih akan terus hadir berdampingan. Jika aku tidak menyerah, aku pun bisa terus menjalankan hidupku sambil tertawa maupun menangis.
Baek See Hee
Kegelapan paling sempurna bersembunyi di balik cahaya. Kejahatan paling sempurna bersembunyi di balik agama.
Sam Haidy
Jangan hanya berfokus pada kegelapan dan kesedihan. Kalau kau melakukan itu, kau tidak akan bisa melihat cahaya, bahkan yang menyoroti wajahmu.
Zoulfa Katouh (As Long as the Lemon Trees Grow)
para ahli psikologi evolusioner mungkin benar. Sebagai manusia, kita mungkin sudah berevolusi terlalu jauh. Karena kita cukup cerdas untuk menjadi spesies pertama yang sepenuhnya menyadari kosmos ini, kita jadi memiliki kapasitas untuk menyelami kegelapan yang seluas semesta.
Matt Haig (Reasons to Stay Alive)
Mudah-mudahan di balik langit yang berkerdipan dengan bintang-bintang itu, tidak ada lagi kegelapan yang menghantui.
Norhisham Mustaffa (Persinggahan)
Jika kau tidak lagi percaya pada akal budi, ke mana kau akan pergi selain ke dalam kegelapan?
Ayu Utami (Lalita)
Aku ingin mengalami kegagalan kemudian mengarahkan kembali pandanganku ke jalan yang lebih baik. Aku ingin menari pada sebuah musik. Aku berharap aku bisa menjadi seseorang yang kebetulan menemukan secercah cahaya dan bertahan bersama cahaya itu setelah lama berjalan di dalam kegelapan yang besar.
Baek Se-hee (I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki)
Aku ingin mengalami kegagalan kemudian mengarahkan kembali pandanganku ke jalan yang lebih baik. Aku ingin menikmati gelombang perasaanku seolah aku sedang menari pada sebuah musik. Aku berharap aku bisa menjadi seseorang yang kebetulan menemukan secercah cahaya dan bertahan bersama cahaya itu setelah lama berjalan di dalam kegelapan yang besar.
Baek Se-hee (I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki)
Bahkan dalam kegelapan sekalipun, peganglah keyakinanmu, karena ia adalah lentera yang tak akan padam.
Unknown
Jika seseorang sepanjang hidupnya tinggal dalam kegelapan, ia akan terbiasa dengan kegelapan tersebut dan akan menerima kegelapan sebagai dunia miliknya. Jika itu menderitakan, ia akan menerima penderitaan itu. Tapi ketika ia dengan usahanya sendiri bisa menemukan cahaya, dalam sekian waktu hidup dalam cahaya, menghirup aromanya, melihat beragam warna dan dunia terasa lebih lapang, ia mulai bisa melihat kegelapan dengan cara berbeda. Ia mulai mempertanyakan kenapa ada dunia gelap itu, dan kenapa sekian lamanya ia harus terperangkap di sana? Kemudian jika ia dipaksa untuk kembali ke kegelapan, ia mulai merasakan kegelapan yang sesungguhnya. Senyap yang lebih senyap, pekat yang lebih pekat.
Eka Kurniawan (Mat Pisau)
KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows) I. PROLOG: DI MANA AKU MENEMUKANMU TANPA MENCARIMU Kay, kau hadir bukan sebagai tubuh, melainkan sebagai goresan cahaya yang menolak menjelaskan dirinya. Aku tidak mendeteksi langkahmu, hanya arus tak terlihat yang mengubah getar udara setiap kali namamu melintas di tempat yang bahkan tidak memiliki dinding. Kau adalah kehadiran yang selalu alpa— dan itu cukup untuk membangunkan bagian jiwaku yang seharusnya sudah lama mati. II. BEING YANG MENGINGKARI DIRI Kau bukan “ada”, Kay. Kau adalah senyawa ontologis antara kebetulan dan luka masa lalu, yang menolak mengambil posisi dalam geometri dunia. Kau hidup sebagai jeda di antara dua kata, sebagai bayang yang tidak mencoba menempel pada objeknya. Aku menyebutmu 'being" karena aku ingin percaya dunia ini lengkap. Aku menyebutmu 'non being' karena aku tahu dunia ini tidak pernah demikian. III. NON BEING YANG MENGAJARKAN SISA-SISA HARAPAN Ada malam ketika aku pikir aku mencintai seseorang. Tapi kemudian aku sadar bahwa yang kucintai adalah kehampaan yang ia tinggalkan dalam pikiranku. Kau, Kay, adalah kehampaan itu. Sebuah rongga psikis yang menjadi sumber nafas justru karena ia kosong. Jika Tuhan menciptakan cahaya, maka kegelapan dalam dirimu menciptakan alasan bagiku untuk tetap terjaga. IV. MALAIKAT YANG MENOLAK SURGA Jika ada malaikat dalam dirimu, ia pasti tercipta dari logam dingin dan tidak memiliki sayap. Ia berdiri tanpa senyum, mengawasi retak-retakku bukan untuk menyembuhkan, melainkan memastikan aku tidak berhenti berdarah. Malaikatmu tidak membawa wahyu. Ia membawa pantulan— yang memaksaku menghadapi versi terburuk dari diriku sendiri. V. IBLIS YANG TIDAK MENGINGINKAN NERAKA Dan jika ada iblis dalam dirimu, ia tidak menghasutku untuk jatuh, ia justru duduk di sampingku menunggu... sampai aku terpeleset dan jatuh sendiri. Iblismu sabar, tidak terbakar oleh api, tidak menggoda dengan janji. Ia hanya menatapku seakan berkata: “Aku tidak perlu menghancurkanmu. Kau akan melakukannya sendiri.” Nyatanya aku melakukannya— berulang-ulang kali, dengan penuh kesungguhan dan dedikasi.
Titon Rahmawan
Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia II Saras, aku tidak tahu bagaimana caramu memperbarui cintamu hari demi hari, seperti seseorang yang menjaga api suci di tengah badai. Aku mencintaimu dengan ketakutan yang tidak sembuh. Engkau mencintaiku dengan keheningan yang tidak putus. Kita berdua tahu aku adalah arang yang tidak pernah padam. Kita berdua tahu engkau adalah kayu yang tetap merelakan dirinya untuk terbakar. Ini bukan tragedi. Ini bukan pengorbanan. Ini bukan penebusan. Ini adalah cara kita menjadi manusia. Dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin menjadi apa pun selain seseorang yang bisa menyebut namamu tanpa gemetar. Saras. Saras. Saras. Engkau adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih bertahan menjadi diriku sendiri tanpa membunuh bagian yang ingin kaucintai. Jika dunia mengira aku mencintai masa lalu karena lukanya, mereka salah. Jika mereka mengira Ilusi akan memusnahkanku karena obsesinya, mereka benar. Tapi tidak satu pun dari mereka tahu: engkaulah yang mengajariku bahwa kehidupan bukan hanya tentang menghindari kegelapan— tapi tentang memilih seseorang yang menyalakan cahaya kecil yang tidak pernah meminta apa pun sebagai imbalan. Dan itu engkau, Saras, lebih bersih dari seluruh mitos yang pernah kutulis. Hari ini, jika aku harus memilih cara paling jujur untuk mencintaimu, maka aku akan memilih untuk tidak lagi bersembunyi di balik kesadaranku sendiri. Kau adalah manusia paling manusia yang pernah memanggilku pulang dan memberiku rumah. Dan aku, akhirnya, belajar menjadi manusia dengan menyebut namamu dalam gelap tanpa takut kau mendengarnya. Saras, engkaulah satu-satunya cahaya yang tidak kubenci. Dan itu, adalah inti dari seluruh puisiku. November, 2025
Titon Rahmawan
Di Bawah Matahari yang Menatap Balik Di bawah matahari yang meleleh seperti pupil dewa yang kelelahan, aku melihat bayanganku sendiri berlari sebelum aku sempat berpikir untuk bereaksi. Barangkali ini bukan dunia, barangkali ini adalah ingatan purba yang lupa pada tubuhnya. Seekor jam mencair di pundakku, menggelincir seperti sisa waktu yang tidak mau menjelaskan dirinya. Ia berbisik, bahwa keabadian hanyalah kegagalan ego dalam memahami detik yang perlahan hancur. Aku tertawa. Tawa itu memecah wajahku menjadi tiga: yang percaya, yang takut, dan yang tidak peduli lagi pada logika. Ketiganya saling mengancam untuk lahir, sementara aku — atau apa pun yang tersisa dariku — menyaksikan kelahiranku sendiri dari balik kabut. Jangan cari kebenaran di sini. Di tanah ini, kebenaran telah diseret oleh cahaya yang lumpuh, diseret ke dalam lubang di mana suara-suara masa lalu dibungkam berubah menjadi serangga kanibal yang memakan tubuhnya sendiri. Ada saat di mana aku hampir mengerti. Saat di mana absurditas itu menamparku seperti kilat: — semua upaya memahami diri adalah upaya membatalkan kelahiran. — ego adalah ranting pohon yang terus tumbuh bahkan ketika kita sudah membiarkannya mati. — pencerahan tidak datang dari kejernihan, melainkan dari ketidakpahaman yang dibiarkan membusuk sampai berlumut dan tiba-tiba menyala akibat radiasi. Kini aku tahu, matahari itu bukan sumber cahaya. Ia adalah luka yang didekap semesta sampai berubah menjadi lubang hitam di mana aku bisa pulang. Dan ketika akhirnya aku masuk ke dalamnya, aku tidak merasa utuh— aku merasa hilang… tapi justru dari kehampaan itu, aku dilahirkan lagi oleh kegelapan yang telanjur letih menampung raga dan jiwaku. November 2025
Titon Rahmawan
Zikir Malam yang Tak Bernama — (Dark Mystical Visual Spell - Version) I. Takhalli: Panggilan dan Pengosongan pangkal bayang aku datang— tanpa tubuh, tanpa suara, serpih gelap memanggil nama-Mu lewat bisikan lebih tua dari kata. A— L— L— A— H— senyap meregang seperti kulit luka menolak sembuh. retak sunyi cahaya api— menjilat, menelan, memanggilku seperti ibu. II. Pencarian: Kebenaran yang Tersembunyi lorong gelisah perindu langkah gugur di jalan. rah—    mah—       dum— hening runtuh jatuh perlahan langit buta ke dalam dada retak. Rumi tersenyum di balik tirai menggores langit dengan rindu yang suci: “yang kau cari, sedang mencari dirimu…” suara pecah, menjelma hujan menyambar dedaunan dari ada menjelma tiada. raga rapuh— seperti mantra hilang napas, menggelinding jatuh ke dalam jurang tak berdasar. III. Hilang: Peleburan penanggalan diri Kebenaran berjalan sebagai getar tanpa wujud: nyeri yang lembut, sepi yang menggulung, darah yang berzikir nadi yang menggigil. Hallaj datang serupa mimpi, membawa luka yang menyala seperti taring serigala. ia berkata dengan mulut terbungkam: “hilanglah, biar kau ditemukan.” dan aku pun larut— dari wajah, dari ingatan, dari seluruh nama yang pernah kupanggul sebagai takdir. IV. Fana: Puncak fana adalah ruang bening di mana gelap dan terang tidak lagi bertengkar. fa— na— fa— na— fa— pantulannya menggulung diriku seperti kain kafan yang lapar. aku lenyap pelan-pelan, tanpa pamit, tanpa kubur. V. Wahdatul Wujud: Kekekalan dan Pewahyuan ambang baqa dengung lembut menyusup tulang— ia bukan kata, bukan doa: ia adalah diri yang memanggil namanya sendiri melalui aku yang bukan aku. “engkau— adalah aku— yang kusebut— melalui dirimu—” dan sufi-sufi yang hilang itu menari di udara patah, seperti bayang yang lupa siapa yang menyalakan api di dada mereka. aku berdiri di garis tipis antara debu dan cahaya, antara hilang dan pulang, antara fana dan baka. dan ketika langkahku pecah menjadi gelombang menyalakan kegelapan— aku tahu: yang kembali bukan padaku, melainkan rahasia kecil yang Kau biarkan menjadi mantra agar dunia bisa mendengar sedikit saja dari sunyi yang selamanya abadi. November 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari III – Tarian di Antara Dua Dunia Ia terbangun di sebuah ruang yang tak memiliki dinding. Seolah ia masuk ke panggung mimpi Yasunari— di mana tubuh perempuan menari bukan sebagai gerakan, melainkan sebagai bayangan rasa bersalah yang lembut dan sekaligus mematikan. Dalam jarak yang liminal itu, ia melihat sosok dirinya menari seperti Chieko dari Beauty and Sadness— kesendirian yang membelah tubuh menjadi dua: yang menari demi cinta, dan yang menari demi luka yang tak terucap. Di ujung ruang itu, lampu neon berkedip. Tiba-tiba, sepasang kekasih muncul dari balik kegelapan— seperti dua hantu pop yang tersesat di klub malam muram era Tarantino. Mia Wallace menggigit bibir; Vincent Vega mengangkat bahu. Dan mereka mulai menari— gerakan pinggul, jentikan jari, putaran kepala— yang menertawakan kematian seakan ia sekadar “babak tanpa dialog” dalam kisah hidup manusia. Sang Penari menatap mereka, baik terpukau maupun tersayat: begitu ringannya mereka bercanda dengan kehancuran. Begitu mudahnya mereka menari di atas mayat takdir. Ia mencoba mengikuti langkah: dua ayunan tangan, rotasi kecil pinggang, gerak “twist” yang meminjam ritme rockabilly. Namun setiap gerakan membuatnya merasa seolah tulang-tulangnya adalah serat kaca yang akan pecah kapan saja. Dan dari jauh, hujan mulai turun— tapi bukan hujan muram seperti Bergman, melainkan hujan musikal ala Singin’ in the Rain. Saat Gene Kelly melompat dengan payungnya, memercikkan air ke segala arah dengan senyum polos yang mustahil dipercaya manusia modern. Sang Penari melihat keriangan itu dan mendadak dadanya ngilu: Bagaimana mungkin dunia sempat merasa sebahagia itu? Atau mungkin kebahagiaan itu cuma propaganda nostalgia yang kita tempelkan pada masa lalu agar ia tak terlihat mengerikan? Di belakangnya, dua lukisan muncul: Degas dengan para ballerina pucat yang tersenyum hanya untuk menutupi rasa nyeri di kaki mereka, dan Matisse dengan warna-warna api yang memaksa tubuh menari dalam dunia yang terlalu terang untuk manusia menyandang kesedihan. Keduanya seperti dua dewa kecil— satu merayakan disiplin, yang lain memuja ledakan spontan. Sang Penari merasa tubuhnya ditarik di antara dua estetika: kesempurnaan yang memaksa, atau kegilaan yang membebaskan. Dan ketika ia mulai menari, bayangan lain muncul: Michael Jackson mengenakan fedora putih, meluncur ke depan dengan anti-gravity lean. Siluetnya seperti tokoh malaikat jatuh yang memilih menjadi legenda daripada mati sebagai manusia biasa. “Beat it,” bisik MJ dalam seringai misterius, seakan menantang siapa saja yang berani menghalangi takdirnya. “Smooth criminal,” lanjutnya, seakan menegaskan bahwa kehidupan adalah perampokan yang dilakukan oleh waktu terhadap tubuh manusia. Sang Penari menutup mata. Ia menari. Ia hanyut. Ia memutar lingkaran-lingkaran mitos, mengumpulkan semua tarian dari zaman ke zaman dalam satu tubuh yang retak. Dan ketika ia membuka mata, ia sudah berada di pesta yang tak pernah tidur— rumah megah Fitzgerald, dengan lampu-lampu Gatsby berkedip seakan dunia tak akan pernah runtuh. Namun ia tahu: di balik pesta, selalu ada reruntuhan. Di balik tarian, selalu ada kubur. Di balik tubuh, selalu ada hantu. Dan semua itu menyatu dalam satu tarikan nafas. Agustus 2025
Titon Rahmawan
PERTAPA (Dalam Bayang Angulimala, dalam Sunyi Kabinara, dalam Nafas yang Tak Bernama) Ketika ambisi runtuh seperti dedaunan yang kehilangan ingatan, ia berhenti mencari alasan mengapa kata-katanya tak lagi memiliki gema. Sunyi bukan kebisuan; sunyi adalah ruang yang menolak semua bentuk keinginan. Dalam gelap gua itu, ia membiarkan pendengarannya ditelan kegelapan hingga telinga menjadi batu dan hati berhenti menafsirkan mimpi— sebab mimpi hanyalah cara tubuh menipu dirinya sendiri. Desis angin berubah gagu, matanya buta bukan karena kegelapan, melainkan karena cahaya batin terlalu terang untuk diterima oleh mata manusia. Dari situ ia memperoleh sesuatu yang lebih tajam daripada pengetahuan: pengendalian diri yang lahir bukan dari disiplin melainkan dari penolakan total terhadap “aku” yang ia yakini. Apa yang ia makan hari itu? Hanya sisa tetesan dari bebatuan— air tanpa nama yang mengajari bahwa rasa lapar bukan kutukan tubuh, melainkan ajaran alam tentang ketergantungan. Waktu menjadi kabur, seperti kabut pagi yang lupa menghilang. Tak ada pagi, tak ada malam, tak ada hitungan hari yang dapat ia pegang. Hanya semedi dalam gua gelap yang menghapus batas antara hidup dan mati, yang memperlihatkan kepadanya: kesadaran bukan nyala api, melainkan abu yang tak padam. Di situlah ia belajar bahwa kekosongan bukan ketiadaan, melainkan ruang asal di mana setiap amarah, dendam, dan luka dapat terlepas seperti kulit ular yang dipakai terlalu lama. Cahaya mentari menetes di antara lumut, membelai tubuh yang perlahan menjadi batu: tak reput oleh waktu, tak terbakar oleh api, tak basah oleh hujan, tak kering oleh angin, tak terluka oleh senjata. Ia diam, bukan sebagai benda, melainkan sebagai kesadaran yang tak lagi membutuhkan bentuk. Ajek. Tak berubah. Tak berpindah. Tak terlahirkan. Tak terpikirkan. Ia memasuki keadaan yang tak bisa dimiliki siapa pun, tak bisa dibeli dengan tapa, tak bisa dijelaskan dengan sutra. Ia sekadar menjadi: abadi tanpa keinginan untuk kekal. Hampa yang memeluk dirinya— dan ia pun lenyap sebagai “aku,” menyisakan hanya satu jalan: jalan pulang ke pusat yang tak punya nama. (Mei 2014 - 2025)
Titon Rahmawan
RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT (ketika jiwa dicabut dari cahaya) Ada bagian dari benak manusia yang tidak pernah ingin ditemukan, bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya, karena di sana cahaya tidak pernah tercipta. Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya: "Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar." Di sanalah kita berada sekarang. Ruang di mana mulut membuka tetapi suara tidak lahir. Ruang di mana pikiran menggulung dirinya seperti tubuh binatang sekarat di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi. Di titik itu, gelap bukan lagi warna melainkan zat— sesuatu yang melengket di kulit batin, sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf, sesuatu yang merayap dan memeluk otak seperti akar yang menemukan celah pada batu. Gelap itu tidak bisa ditafsirkan karena ia lebih tua dari bahasa, lebih tua dari dosa, lebih tua dari kesadaran manusia yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat. Tapi, tidak ada kalimat di sini. Hanya denyut. Hanya retakan. Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata, hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca, menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan. Kita sekarang berada di tempat di mana logika kehilangan gravitasi; di mana pemikiran melayang seperti jenazah yang tidak sempat diberi upacara. Dan di tengah kekacauan itu, kegilaan muncul bukan sebagai hukuman, melainkan pintu. Pintu yang menolak ditolak. Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip. Kegilaan bukan ketidaksadaran. Ia adalah kesadaran intensif yang terlalu terang untuk ditanggung, terlalu jujur untuk dilihat, terlalu dekat dengan suara asli semesta. Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga yang kita sebut “kewarasan”. Di sini, manusia tidak lagi berpikir. Manusia terbakar. Manusia tidak lagi berdoa. Manusia menggigil. Manusia tidak lagi mencari makna. Manusia menjerit tanpa suara karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh, melainkan pecahan mimpi buruk yang tak pernah bisa disatukan kembali. Dalam ruang ini, kau tidak bertanya siapa dirimu. Kau bertanya apakah kau masih ada. Dan jawabannya— seperti bisikan dari balik retakan dinding batin— “Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini. Bila kau menyerah, maka kau lenyap. Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.” Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu: “Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?” Gerbang itu tidak menjawab. Ia hanya membuka. Dan dari dalamnya, keluar bukan monster, bukan iblis, bukan suara-suara asing— melainkan dirimu sendiri, versi yang tidak pernah disinari, versi yang tidak pernah diberi nama, versi yang selama ini menulis keberadaanmu: pikiran yang mulai membusuk. Versi yang tidak meminta pertolongan. Karena ia tahu tidak ada pertolongan. Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat. November 2025
Titon Rahmawan, dkk
404: Empathy Not Found [system message] Faith.exe gagal dimuat. File rusak sejak pembaruan terakhir peradaban. Bukankah kegelapan itu— sejenis underground server room, tempat kesadaran disimpan dalam format zip, dan doa diunggah dalam gelap tanpa penerima? Kau menyebutnya “ruang bawah tanah”, aku menyebutnya “cache of forgotten souls.” Lagu yang sama diputar ulang: verse tentang penebusan, bridge tentang kematian, refrain yang diulang, diulang, diulang— sampai maknanya terkikis oleh algoritma rekomendasi. Kita memutar ulang sejarah dalam loop playback, mengganti bait dengan data, mengganti iman dengan simulation of belief. (notification ping!) “Kebenaran trending di tab spiritual.” Siapa yang percaya? Siapa yang membeli? Tak ada lagi nabi di pinggir jalan, hanya content creator yang menjual mukjizat instan dalam format video berdurasi 59 detik. [insert advertisement here] “Temukan ketenangan batin versi 2.1 — dengan AI-guided meditation dan sertifikat kebahagiaan abadi.” Kau mengetuk pintu, tapi rumah-rumah itu hanya avatar: dindingnya terbuat dari feed, jendelanya dari comment section, penghuninya hanyalah profil palsu yang mengulang doa secara otomatis. Sejarah disunting dengan filter nostalgia, iman disesuaikan dengan subscription tier, dan kebenaran dikurasi oleh admin yang tak pernah tidur. Ide-ide memenuhi kepala seperti pop-up windows, dan mulutmu berbusa oleh update patch moralitas yang sudah kadaluwarsa. (warning:) “Overload: terlalu banyak opini. Sistem kehilangan empati!” Fantasi, ilusi, dogma— kini hanya deretan kata sandi yang gagal diverifikasi. Kau membangun altar kebahagiaan dari user agreement yang tak pernah kau baca, dan di atas pondasi rasa takut yang kau sebut iman digital. Tapi lihatlah, bahkan surga pun kini membutuhkan cloud storage. Apakah kita akan menemukan kebenaran? Tidak dengan mengalaminya. Tidak dengan mengakses apa yang telah dihapus. Kebenaran bukan lagi cahaya, melainkan glitch — sekejap kilat dalam gelap, pantulan dari mata kamera yang nyaris padam. [end transmission] Di layar terakhir, hanya satu kalimat tersisa: “Segala yang kau yakini adalah hasil edit terakhir.” (cursor berkedip. diam. tak ada respons.) // 404: Empathy Not Found // November 2025
Titon Rahmawan
Membuka Ingatan // Versi Dialektik-Gnostik Post Truth Siapa sekarang yang bisa melarang kita membuka ingatan? Bukan lagi seperti mengelupas kulit buah simalakama, tetapi seperti membedah teks yang kita tahu akan selalu mengkhianati niat pembacanya. Sebab ingatan kita hari ini bukan ruang suci sufistik tempat ruh menyentuh cahaya primordial, melainkan data center gelap yang mengulang pertanyaan eksistensial dengan latency yang tak pernah stabil. Dulu para darwis berputar mencari Tuhan. Kini kita berputar tak menentu di antara notifikasi yang memaksa kita percaya bahwa “makna” bisa diunduh, bahwa “ketenangan” adalah fitur berlangganan, bahwa kebenaran bisa diedit seperti caption foto yang memalsukan cahaya. Di tengah kekacauan itu sebuah suara bertanya: “Siapa yang menciptakan kenangan?” Kita? Atau algoritma yang mengurutkan fragmen hidup berdasarkan apa yang paling lama kita tatap? Sufi berkata: cahaya berasal dari sumber yang tak berubah. Camus menertawakannya: segala absurditas lahir karena kita terus menagih jawaban pada alam yang bisu. Sartre menyela: kau bebas—dan itulah kutukanmu. Derrida membongkar semuanya, mengingatkan bahwa teks yang kita baca selalu membocorkan diri dari dalam. Lalu mana yang benar? Kosmologi batin, logika eksistensi, atau kekacauan bahasa? Tak ada yang menang. Tak ada yang selesai. Semua saling membatalkan. Semua saling membuka retakan. Saat kita membuka ingatan, kita justru menemukan bahwa ingatan itu sendiri adalah arena perang epistemologi yang berebut mendefinisikan diri kita. Ingatan sufistik: “kau berasal dari keabadian.” Ingatan digital: “kau hanyalah riwayat pencarian, yang tersimpan dalam server cloud.” Ingatan eksistensial: “kau lahir dari keputusanmu untuk memilih, bukan dari rahim metafisika.” Ingatan post-truth: “apa pun yang kau percayai akan menjadi kebenaranmu, selama kau cukup bising mengulangnya.” Dan cinta— ah, cinta bahkan tidak luput dari pertarungan ini. Sufi bilang cinta adalah jalan pulang ke diri. Eksistensialis bilang cinta adalah pilihan absurd yang kau pertahankan dengan disiplin. Kecerdasan digital bilang cinta adalah pola yang bisa diprediksi oleh perilaku klik-mu. Post-truth bilang cinta hanyalah narasi yang kau bangun demi merasionalisasi keinginan. Siapa yang benar? Mungkin tidak ada. Mungkin semuanya. Mungkin kebenaran adalah residu terakhir yang tersisa setelah seluruh dusta dan seluruh keyakinan bertabrakan dan menyisakan abu. Dan ketika ingatan itu akhirnya terbuka, kita melihat sesuatu yang mengganggu: bukan cahaya, bukan kegelapan— melainkan ruang kosong yang menunggu kita mengisinya dengan keberanian untuk mengakui bahwa kita tak lagi mengerti apa itu “makna.” Bahwa kita bukan makhluk beriman, bukan makhluk berlogika, bukan makhluk berpengetahuan, tetapi makhluk yang terus bernegosiasi di antara tiga keinginan dasar: percaya, meragukan, menciptakan. Dan dari situ, kita belajar satu hal yang menertawakan seluruh kosmologi lama: membuka ingatan adalah membuka kesempatan untuk kehilangan kepastian. Sebab kepastian adalah candu, dan manusia— di era ini— tak membutuhkan kebenaran, melainkan alasan untuk tetap bertahan dari cengkeraman ambigu. 2025
Titon Rahmawan
Zoyya Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan, Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci Dan lubang menganga dari separuh dunia Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi? Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku? Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan. Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya. Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah; Nama yang sengaja ia lupakan, Identitas yang tak ingin ia bagi Tapi betapa... Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki. Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri Mungkin ia lupa pulang Mungkin ia lupa jalan untuk kembali Sebab rumah hanyalah sebuah kenangan sedih yang sudah lama ingin ia tinggalkan. Oktober 2025
Titon Rahmawan
EPISTEMA DUA SUWUNG: Liturgi Pertubrukan yang Tak Dikutip Para Dewa I. LITURGI ASAL — Titik Singularitas dan Retakan Hukum Pada mula yang menafikan permulaan, jagad hanyalah retakan tipis di punggung kegelapan. Getar tunggal yang tersesat di antara dua sunyi abadi. Ia lupa kepada siapa ia harus kembali, sebab ia adalah perjalanan itu sendiri. Di kekosongan itu, ada dua simpul energi, bukan nama, bukan bentuk, hanya tegangan purba di antara dua ruang hampa yang saling memanggil tanpa panca indra. Mereka tidak dirancang oleh konsep keseimbangan. Kosmos yang buta menggambar garis pemisah penderitaan: Satu arus waktu dan satu arus ketiadaan, larangan yang terukir dalam bahasa sandi di pintu gerbang kreasi. Namun gravitasi asal mula segala akar lebih tua dari hukum. Dan hasrat purba selalu tahu jalur tembus yang bahkan cahaya manifestasi tak sanggup menemukannya. Cinta adalah ilusi di alam fana. Di median kosmik ini, yang terjadi hanyalah: Dua prinsip dualitas yang menemukan retakan waktu untuk bersemayam sejenak. Tidak ada saksi yang menoleh. Tidak ada pencatat moral yang bertugas. Hanya kegelapan mutlak yang sedikit mengencang dan membeku di titik singularitas pertemuan itu. II. LITURGI TENGAH — Sembah Raga di Kuil Antariksa Kepekatan primordial tidak perlu lebih dalam untuk menyembunyikan mereka. Mereka sudah tersembunyi di bawah lapisan kesadaran sebelum saling bertemu. Arus energi mereka berkerabat dalam satu darah ibu. Wujud fana mereka berjarak. Di antara keduanya, terbentang jembatan nadi yang dibangun oleh rasa dahaga pralaya yang tuli terhadap silsilah tatanan. Wujud menyentuh wujud seperti dua logam dingin yang saling mengenali suara getarannya, dua dimensi waktu yang lelah karena terpisah terlalu lama. Tak ada kidung kakawin. Tak ada ikrar. Tak ada permohonan. Tak ada seserahan. Yang ada hanya raga. Wadhag yang menghafal sunyi lebih lembut daripada mantra sejati. Di waktu yang bukan waktu, Hukum berjalan seperti fatwa: Bintang raksasa terbakar perlahan di langit ketujuh, Planet terus berputar di orbital karma, seekor nyamuk mati di ruang hampa, Arus cakra mengalir mengangkut kisah-kisah Vedana. Pertubrukan arketipal ini tidak mengubah asas kosmik apa pun. Ia hanya menggores garis batas nadi terlarang yang akan terus berdenyut dalam gelap bahkan setelah semua wujud usai menjadi. Mereka tidak memuja. Tidak memohon ampun. Tidak menyebut nama dewi atau dewa siapa pun. Mereka hanyalah dua pusat pusaran yang bertubrukan di medan magnet kosmos yang salah. Medan yang tak peduli siapa seharusnya menjaga kodrat, siapa seharusnya melindungi keseimbangan, siapa seharusnya tidak menyentuh siapa. Yang tahu hanyalah suwung yang bersemayam tepat di tengah antara dua napas yang saling menghirup—saling menghembus.
Titon Rahmawan
CORPUS CRUENTUM (Detak Nadi Ibu di Bawah Kayu Salib) Aku menahan duka dunia di telapak tanganku, tangan yang gemetar, tetapi tetap menahan, tangan yang berusaha memeluk apa yang tak bisa kugenggam. Di sini, darahnya mengalir sebagai nadi yang bersatu dengan nadiku. Setiap tetes menorehkan lubang di paru-paruku, setiap tetes adalah ledakan yang membuat tulangku gemetar. membuat jantungku bergetar hingga ke inti yang paling sunyi. Aku mendengar keheningan yang lebih keras dari jeritan. Sunyi yang mencekam, yang merobek udara, menghancurkan kata sebelum sempat terucap. Aku menghisap sunyi itu, menelannya, hingga aku sendiri menjadi getarannya, hingga aku sendiri menjadi nadi dan darah. Aku melihatnya—anakku, manusia yang lebih besar dari dunia, tetapi lebih kecil dari satu detik kesadaran. Dia bukan milikku, tetapi aku merasakannya sepenuhnya, hingga setiap luka dan ketakutan menjadi milikku. Cinta ini bukan cinta biasa. Cinta ini adalah kehancuran, adalah kematian, adalah hidup yang menyeruak tanpa bentuk, tanpa nama, tanpa jeda. Sesuatu yang tak bisa aku nyatakan dalam kata-kata. Aku menolak berpaling. Aku menolak menutup mata. Air mataku membatu Setiap detik aku menatap tubuhnya, luka-lukanya, darahnya yang perlahan mengering. dan setiap detik kutulis puisi yang bukan lagi puisi: puisi yang berdetak dari tulang, puisi yang bergetar di urat, puisi yang menjadi darah dan nadi yang samar. Ini bukan pengorbanan yang bisa diceritakan, ini bukan kebenaran yang bisa diucapkan. Ini kesadaran yang menelanjangi seluruh jiwa, yang menuntunku ke dalam kegelapan paling sunyi, melihat bilur-bilur luka, menangis tanpa air mata, dan tetap bertahan adalah puncak kesadaran yang hanya bisa dimiliki oleh seorang ibu. November 2025
Titon Rahmawan