Kebencian Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Kebencian. Here they are! All 77 of them:

Kebencian membuatmu kesepian
Orizuka
Tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan.
Tere Liye (Rindu)
Semua orang tahu mereka mungkin saja bisa mati besok, tapi nggak ada yang cuma diam menunggu kematiannya.
Orizuka (The Truth about Forever: Kebencian Membuatmu Kesepian)
Saya mimpi tentang sebuah dunia dimana ulama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata, “stop semua kemunafikan ! Stop semua pembunuhan atas nama apapun.. dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkatan gandum, susu, dan beras buat anak-anak yang lapar di 3 benua, dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun..dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Soe Hok Gie
Jangan biarkan kebencian menguasai hidupmu. Kematianku tidak perlu dibalaskan. Hiduplah sebagai vampir yang bebas, bukan sebagai makhluk putus asa gila dan terobsesi untuk membalas dendam.
Darren Shan (Killers of the Dawn (Cirque Du Freak, #9))
Kebencian adalah suatu emosi yang tak berguna
Carrie Jones
Saya tak membenci orang-orang itu. Tapi saya membenci tindakan orang-orang itu.
Goenawan Mohamad (CATATAN PINGGIR 2)
Kebencian bukanlah hal yang paling berbahaya. Ketidakpedulian, ya!
Lauren Oliver (Delirium (Delirium, #1))
Dibenci, adalah sesuatu yang harus Anda persiapkan sejak dini. Kadang-kadang, kebaikan menimbulkan kebencian. Dan begitupula, sebaliknya. Tugas Anda untuk bermanfaat bagi sesama, memang iya. Tapi, untuk menyenangkan seluruh orang di sekitar Anda, jangan bercanda!
Lenang Manggala
Hati yang penuh dengan kebencian tidak akan pernah mengenal kata puas. Kebencian adalah bara api kejam yang menghabiskan energi orang yang menghidupinya.
C. Rajagopalachari (Kitab Epos Mahabharata)
Dalam hidup kau akan bertemu banyak orang brengsek. Kalau mereka menyakitimu, katakan pada dirimu sendiri itu karena mereka bodoh. Itu akan membantu mencegahmu bereaksi pada kekejaman mereka. Karena tidak ada yang lebih buruk daripada kebencian dan balas dendam. Selalu jaga martabatmu dan jujurlah pada dirimu sendiri.
Marjane Satrapi (Persepolis: The Story of a Childhood (Persepolis, #1))
Orang mungkin saja belajar dari kata-kata kasar dan ucapan yang menyakitkan hati, tapi itu hanya melahirkan kebencian dan tidak membuat kita dicintai. Cinta hanya mungkin datang dari kata-kata yang lembut dan ucapan yang menyenangkan.
Titon Rahmawan
Pernikahan, urusan perasaan, cinta, kebencian, itu semua tidak sesederhana yang dilihat. Kadangkala tidak bisa dijelaskan, kadangkala dipenuhi kesalahpahaman, kadangkala dipenuhi kesedihan dan kemalangan.
Tere Liye (Pergi)
Anda, Tidak dapat menguatkan yang lemah dengan melemahkan yang kuat Tidak dapat membantu orang-orang kecil dengan mencabik orang besar Tidak dapat menolong orang miskin dengan menghancurkan orang kaya Tidak dapat mengangkat penerima upah dengan menekan pembayar upah Tidak dapat terhindar dari masalah dengan menghasilkan penghasilan lebih besar Tidak dapat memajukan rasa persaudaraan dengan mendorong kebencian antar ras Tidak dapat menciptakan keamanan di atas uang pinjaman Tidak dapat membangun karakter dan semangat dengan merampas inisiatif dan kemerdekaan.
Abraham Lincoln
Hanya dua hal yang membuat seorang pelaut tangguh berhenti bekerja di tempat yang dia sukai, lantas memutuskan prgi naik kapal apa pun yang bisa membawanya sejauh mungkin ke ujung dunia, Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena cinta yang teramat dalam.
Tere Liye (Rindu)
Kebencian bisa membuat orang jadi buta-- ya jadi buta. Tapi orang buta pun mungkin bisa menikam tepat di jantung.
Agatha Christie (The Moving Finger (Miss Marple, #3))
Kebencian adalah ungkapan lain bahwa kita sangat mencintai orang itu. Namun untuk alasan tertentu, kita memilih membencinya. Hal itu lebih baik daripada menganggapnya tak ada.
Novellina A. (Coppelia)
dalam keramahan tidak ada kebencian terhadap manusia--inilah mengapa begitu banyak hal yang menjijikkan
Friedrich Nietzsche (Beyond Good and Evil)
Jika anda mampu berkepala dingin saat sekeliling anda kehilangan akal dan menyalahkan anda, Jika anda bisa percaya diri saat orang lain meragukan anda, tetapi memperhatikan juga keraguan mereka, Jika anda bisa menunggu tanpa jemu dan tidak membalas kebohongan dengan kebohongan, atau kebencian dengan kebencian, Jika anda bisa tahan mendengar kebenaran yang anda katakan diplintir oleh orang licik untk mempengaruhi orang-orang bodoh, atau melihat jerih payah anda dihancurkan, tapi gigih bertahan membangunnya kembali dengan peralatan yang morat marit, Jika anda bisa bergaul dengan rakyat jelata tanpa menjadi kampungan, dan dengan raja-raja tanpa menjadi sombong, Jika lawan mau pun kawan tidak bisa merusakkan anda, maka anda adalah sungguh manusia sejati.
Rudyard Kipling
Jujurlah walau yang menanti dihadapanmu hanyalah kebencian dan kesakitan
Shahzy Hana
Kebencian memang memberi kita kekuatan yang besar, tapi tak membuat kita bijak dalam menggunakannya.
nom de plume
Mencoba mengubur kesedihan dengan menimbun kebencian adalah suatu hal yang sia-sia. Semakin kau membenci, semakin erat pula tali kepedihan itu akan melilitmu.
Tanti Susilawati (Goloso Geloso)
Kebencian itu seperti api yang akan membakar habis segalanya.
George Eliot
Bagaimana mungkin engkau dapat melihat hakekat kebenaran sejati kalau saat Ia menatap wajahmu engkau memalingkan muka, dan saat Ia mendatangimu engkau menolaknya? Betapa selama ini engkau mengeraskan hati dan membiarkan matamu terselubung oleh segala amarah, kebencian dan kedegilan.
Titon Rahmawan (Turquoise)
Yang lebih penting lagi untuk difahami dan diperhatikan ialah perbezaan hakiki yang tidak dapat dipersamakan. Jika hakikat ini tidak difahami dan dasar-dasar serta usaha mempersamakan antara pelbagai hakikat tersebut dilancarkan, akan berlakulah persamaan-persamaan palsu yang menzalimi kesemua hakikat-hakikat tersebut. Segala usaha untuk memberi tafsiran bertujuan melenyapkan perbezaan-perbezaan itu akan menimbulkan kemarahan, kebencian dan persengketaan.
Wan Mohd Nor Wan Daud (Budaya Ilmu Dan Gagasan 1Malaysia: Membina Negara Maju Dan Bahagia)
Peluklah semuanya, agam. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. hanya itu, cara agar hatimu damai, nak. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masalalu, peluklah mereka erat-erat. Tak perlu disesali, tak perlu membenci, untuk apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?
Tere Liye (Pulang)
Sesungguhnya kebaikan (ketaatan kepada Allah) itu merupakan keceriaan di wajah, cahaya di hati, kelapangan pada rezeki, dan kecintaan di hati manusia. Adapun keburukan (kemaksiatan) merupakan kemuraman di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di badan, dan kebencian di dalam hati manusia.
Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu
Kalau begitu mengapa dia tidak dikurung lama berselang?” “Karena dia memakai topeng?” “Apa maksud anda, Dokter?” “Kita semua memakai topeng, Angeli. Sejak kita meninggalkan masa kanak-kanak, kita sudah diajar untuk menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya. Kita sudah diajar untuk menutup-nutupi kebencian dan ketakutan kita. “ Suara Judd penuh wibawa. “Tapi di bawah tekanan, Don Vinton akan menjatuhkan topeng dan memperlihatkan wajahnya yang telanjang.
Sidney Sheldon (The Naked Face)
Bagaimanapun juga sifatnya, ulasan-ulasan itu selalu bisa berguna, kecuali ulasan yang hanya berdasarkan kebencian yang meluap, tanpa alasan yang kena. Misalnya ada seseorang yang menyatakan bahwa ceritaku buruk, buruk sekali dan memalukan. Kalau hal itu dikatakan tanpa alasan-alasan, maka tidak perlu diacuhkan.
Trisnoyuwono (Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Proses Kreatif,#2))
Jika hidupmu dipenuhi kebencian, maka tunggu saatnya kehidupan akan membencimu.
Hilaludin Wahid
Sekarang saya tahu satu hal, ketika kita berpikir tentang Semangat yang mudah menular, begitu juga yang terjadi pada Kebencian.
Ariel Seraphino
Kehidupan memuakkan hanya menghasilkan kebencian, dan bergerak tak menentu, Hancurkan, hancurkan saja sekalian yang kemudia akan menjadi bangkai dengan sia-sia. -Romeo Juliet-
William Shakespeare (Romeo and Juliet)
Rentanglah tirai kebencian ini hingga menutup seluruh semesta, namun cinta yang utuh dalam hati akan terus tersirna dibalik tirai itu...
Shahzy Hana
Kita mengira kebencian adalah senjata untuk melawan orang yang melukai kita, tapi kebencian adalah pisau melengkung.
Mitch Albom (The Five People You Meet in Heaven)
Tanpa maaf, hidup ini diperintah oleh lingkaran setan kebencian dan pembalasan dendam.
Roberto Assagioli
Hidup ini adalah perjalanan panjang. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat spesial, kita dilahirkan. Kita menangis kencang saat menghirup udara pertama kali. Di salah satu hari lainnya, kita belajar tengkurap, belajar merangkak, untuk kemudian berjalan. Di salah satu hari berikutnya kita bisa mengendarai sepeda, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari terbit. Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur terluka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangis. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan. Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah. Peluklah semuanya. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?
Tere Liye (Pulang)
Jangan memendam rasa benci dalam hatimu, hidup akan terasa menjadi lebih berat. Kebencian itu sepertii beban semakin lama kamu simpan semakin berat beban yang kamu rasakan. "BITTERSWEET LOVE
Netty Virgiantini Aditia Yudis
Benci bukan kontradiktif dari cinta. Domainnya berbeda. Benci adalah submit atas kegagalan menata perasaan. Sementara, kebencian timbul oleh sebab kecemburuan yang tidak mendapatkan tempatnya.
Ilham Gunawan
Kita mengira kebencian adalah senjata untuk melawan orang yang melukai kita, tapi kebencian adalah pisau melengkung. Dan kerusakan yang kita lakukan pada orang lain, kita lakukan pula pada diri sendiri.
Mitch Albom (The Five People You Meet in Heaven)
Kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Tapi jangan biarkan emosi, rasa marah, kebencian kepada lawan membuat penilaian kita menjadi keliru. Tetap fokus pada tugas masing-masing. Marah, tindakan nekat membabi-buta hanya membuat lawan kita tertawa.
Tere Liye (Pergi)
Seorang penulis yang menulis tentang cinta, seorang penyair yang bersyair tentang cinta, tidak secara langsung dapat menyelesaikan kebencian di dalam dunia ini. Namun, tulisannya, syair-syairnya dapat melembutkan jiwa yang keras. Kemudian si jiwa lembut itu sendiri menyelesaikan kebencian di dalam dirinya.
Anand Krishna (Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa)
Aku tahu, fakta baru ini membuatmu menyemai bibit benci baru kepada bapakmu, Nak. Tapi jangan teruskan, jangan pernah kamu siram kecambah kebencian itu. Ketahuilah, dalam urusan yang satu ini, bapakmu selalu terus-terang kepada mamakmu. Baginya, mamakmu adalah cinta pertama dan terakhirnya. Dia tidak menyimpan satu pun rahasia kepada mamakmu.
Tere Liye (Pergi)
Perselisihan yang dipicu oleh masalah agama kini mengancam kehidupan kita. Sejarah peradaban dan kemanusiaan hancur ketika kobaran kebencian merasuki perasaan masing-masing pemeluk agama. Padahal, ada persoalan mendasar yang terus-menerus disemai dan dipelihara: agama selalu saja diperalat oleh kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi sebagai dasar teologis pembenaran bagi kepentingan mereka sendiri. Maka, tampillah gerakan Teologi Pembebasan menantang ketertaklukan lembaga-lembaga agama oleh hegemoni kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi yang serakah itu. Gerakan keagamaan radikal dan revolusioner ini, terutama di Amerika Latin, membuktikan bahwa agama bisa dan seharusnya menjadi “bara api” melawan kezaliman, ketidakadilan, dan ketidakmanusiawian.
Roem Topatimasang (Teologi Pembebasan)
Aku bukannya mengada ada, namun inilah hukum alam karena ada satu hal yang pasti dan telah di buktikan oleh sejarah bahwa manusia sampai kapanpun tidak akan bisa saling memahami Namun, ada tiga hal yang bertahan Perubahan, Pilihan, dan Prinsip Saat orang-orang merasa dilukai mereka akan belajar membenci Tersenyumlah, Memaafkan merupakan kunci untuk menghapus kebencian Sulit, Namun sudah terbukti
Murfadhillah
Dan pada akhirnya semua manusia akan mengerti, betapa rumitnya konstruksi batin mereka. Betapa sukarnya mereka menanggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan masa sekarang, antara kebaikan dan keburukan, antara cinta dan kebencian, antara ketakutan dan hanya mencoba, antara menjadi diri sendiri dan ingin dilihat manusia lainnya. suatu saat mereka akan percaya, manusia dirancang untuk terluka.
nom de plume
Pertanyaannya, mestikah beragama disertai sikap cemburu dan benci terhadap mereka yang berbeda keyakinan? Kalau seseorang telah yakin dan merasa benar serta nyaman dengan ajaran dan praktik keberagamannya, bukankah kenyamanan itu yang mestinya disebarluaskan? Bukannya malah menyebar kecemburuan dan kebencian, yang tidak akan membuat agama dan sikap keberagamaan benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Komaruddin Hidayat
Di antara pertikaian antarmazhab yang mengakibatkan pergolakan dan kekacauan adalah pertikaian antara mazhab Ahlus Sunnah dan Rafidhah pada tahun 655H. Pertikaian ini dimenangkan Ahli Sunnah sehingga bertambahlah kebencian kaum Rafidhah terhadap kalangan Ahlus Sunnah. Wazir Ibn al-‘Alqami yang menganut mazhab Rafidhah menekan kaum Muslim Ahlus Sunnah dan meminta Hulagu Khan, pemimpin Tartar menyerang wilayah Islam. Permintaan ini dipenuhi Hulagu Khan yang berhasil menduduki Baghdad, menjatuhkan khalifah dan menghapus sistem kekhalifahan dan membantai penduduk tanpa pandang bulu sehingga kota itu banjir darah.
Yusri Abdul Ghani Abdullah (Historiografi Islam: Dari Klasik Hingga Modern)
Kebencian hanya akan menghasilkan kebencian yang lainnya. Dendam hanyalah pistol yang kamu arahkan pada kepalamu sendiri. Cacianmu kepada orang yang membuatmu marah hanyalah gunting yang memutuskan ikatanmu dengannya. Pukulanmu adalah racun yang melenyapkanmu secara perlahan.
Achmad Aditya Avery
Menurutku, cinta adalah energi dasar. Tunggal. Kebencian pun berasal dari energi yang sama, hanya ia mengalami proses saturasi," jelas Reuben, "dan semua penilaian kategori cinta sesungguhnya adalah satu zat sama dengan kadar polusi berbeda-beda. Polusi itu tercipta di pikiran kita. Jadi, apabila pemilahan-pemilahan tadi lenyap, yang ada hanyalah --" "... mengalami." KPBJ
Dee Lestari
Si ingin sembuh, dari lukanya, dari hidupnya yang selama ini ia nikmati meski yang disuguhkan hari - secangkir getir, adonan kemarahan dan kebencian, dan pedas yang lahir dari mulut-mulut jahat orang di sekitarnya. - Piring Bahagia Si dan Bi
Dian Pertiwi Josua
Sungguh keji memberikan seseorang harapan ketika sebetulnya tak ada. Itu hanya akan berubah menjadi kekecewaan, kebencian, kemarahan, semua yang menjadikan hidup ini lebih sulit dari kenyataannya.
Victoria Aveyard (Red Queen (Red Queen, #1))
Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan: hanya cahaya yang bisa melakukan itu. Benci tidak bisa mengusir kebencian: hanya cinta yang bisa melakukan itu.
Vergi Crush
Jika" Jika hanya ini jalan yang tersisa untuk aku tempuh Maka aku akan menapakinya walau tapak beralas darah Jika mata dibalas mata hanya membuat dunia buta Maka kuterima semua kegelapan itu walau harus merindu setitik cahaya Jika kau jegal langkahku Maka kujegal langkahmu Jika kau henti nafasku Maka kuhenti nafasmu Jika kau gurat nadi leherku Maka kugurat nadi lehermu Jika hanya itu cara yang tersisa Untuk membuatmu memahami luka (Untuk Fadila Nazian)
BAKENEKO
... kata itu bisa membunuh ... Bertahun-tahun saya hidup dikelilingi sepotong kata, sepatah sebutan yang membagi manusia dan menandai mana yang harus disingkirkan dan mana yang tidak. ... bahasa adalah senjata para algojo. Tetapi mungkin saya salah. Mungkin karena para algojo harus ada bersama kata-kata sebagai bagian dari kebencian.
Laksmi Pamuntjak (The Question of Red)
Betapa lucu manusia satu ini. Rupanya selama ini ia menyimpan banyak kebencian di dalam dadanya hingga ia sendiri bahkan tak menyadarinya.
Muhamad Rivai (Pertanyaan Paling Aneh)
jika dunia diciptakan dengan kebencian, dapat dipastikan saya tidak akan hidup hingga saat ini
yusuf habibi
jika mata dibalas mata, seluruh dunia akan buta.
nom de plume
Kebencian. Prasangka. Ganjaran. Seperti yang kau katakan, balas dendam tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang dariku. Apa yang telah hilang darimu. Yang kita miliki adalah sekarang. Dan janji kita untuk membuatnya lebih baik.
Renée Ahdieh (The Wrath and the Dawn (The Wrath and the Dawn, #1))
Walaupun sekali kebancian wujud di hatimu buatku Akan kusentuhnya Akan kucuit Kurubah kebencian itu menjadi sebuah kerinduan
A.D. Rahman Ahmad
Seseorang tidak akan secara sukarela mempertahankan negerinya, kecuali jika dia seorang patriot yang penuh semangat. Perasaan kebencian terhadap sekutu yang anda akan tanamkan harus diperkuatvdengan perasaan cinta kepada tanah air yang sifatnya positif sebagaimana yang kuajarkan. Seseorang yang akan memimpin pasukannya dalam medan pertempuran harus memiliki sesuatu untuk apa dia berjuang.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Dalam hal terentu kecintaan rakyat ini menimbulkan kesulitan, sama halnya dengan kebencian dari musuh.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
AKU mencoba menatap mata lelaki itu dengan perasaan berkecamuk. Dendam mengiris-ngiris aliran darahku. Kebencian terus muncrat dari lahar otakku. Baluran kemarahan membuat jantungku tidak bisa berdetak secara normal. Tersengal-sengal. Berhadapan dengan lelaki di depanku ini membuat aku merasa hidupku tidak berarti. Masih bisakah hubungan kami, hubungan anak-bapak terjalin lagi? Normal seperti lazimnya hubungan bapak-anak? Kerutan-kerutan di wajahku kurasakan makin getir dan tajam. Lelaki di depanku terasa asing dan membuat jantung keperempuananku berhenti berdetak. Adakah hubungan lelaki-perempuan yang membuat perempuan bahagia? Adakah kebahagiaan yang diimpikan perempuan dari hubungan lelaki-perempuan.
Oka Rusmini (Akar Pule)
Seorang wanita mempunyai pilihan untuk merdeka; merdeka daripada hidup yang sengsara, merdeka daripada kebencian dan merdeka daripada tekanan. Kita sendiri yang memilih.
Hafizah Iszahanid (Kuala Lumpur di Sebalik Bulan)
Saat kamu membenci seseorang, itu artinya kamu adalah korban. Karena kebencian itu tak mampu berkuasa di dalam hati pemenang.
Toba Beta (Master of Stupidity)
Akan tetapi, kemudian Robin berpikir, barangkali, memicu kebencian justru baik. Kebencian mungkin menuntut rasa hormat. Kebencian mungkin memaksa warga Britania untuk menatap mereka tepat di mata, tanpa memandang sebagai objek, melainkan manusia. Kekerasan mengguncang sistem ini, kata Griffin kepadanya. Dan sistem ini tidak bisa selamat dari guncangan.
RF Kuang
TV adalah media perkasa: bisa membuat kebencian jadi fasih dan preman jadi pahlawan.
Goenawan Mohamad (Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm Goenawan Mohamad)
Kamu tahu kan apa kata Ghandi soal kebencian?" tanya Hera. "Kebencian itu seperti kamu meminum racun, tapi berharap orang yang kamu benci akan mati.
Tia Widiana (Sincerely Yours)
Kau tahu, kegentaran, jika tidak diakui dengan besar hati, melahirkan kebencian.
Ayu Utami (Bilangan Fu)
Ini tentang kita, tentang masa kecil kita. tentang bisikan kebencian, tentang perasaan yang tiba-tiba marah, tentang cermin yang tak berani kita lihat, tentang seberapa kuat kita membendungnya. karena hidup kita milik kita.
nom de plume
prajurit raja diraja berjalan tegap menghampiri sekotak nasi bungkus dan air mineral setelah sebelumnya kepanasan dan capek teriak teriak hal yang gak dipahaminya lingkaran setan adalah simbol lingkaran keabadian di mana pemilik hati selalu bersetubuh dengan setan dalam menghasilkan kebencian tanpa batas maaf aku tidak mau bersinggungan dengan penjaga neraka karena aku masih waras _wasiman waz
WAZ
selalu ada waktu yang tepat untuk kebahagiaan meskipun saat sekarang sedang diceraikan oleh kebencian dan sakit hati. semesta mengandung kekuatan yang harus diyakini akan menyampaikan kebahagiaan itu secara alami dan mengikat, semesta sedang mengulur waktu supaya manusia mengenal misteri dan doa... _wasiman waz
thimolty
Hidup Berkekurangan vs Hidup Berkelimpahan Ada manusia yang hidupnya bagai batu yang dipanggul di punggung, berat tak tertanggungkan. Mereka berjalan tertatih, setiap langkah adalah hutang napas yang harus dibayar dengan keringat dan rasa sakit. Para kuli di pasar, kenek bangunan, pekerja serabutan di pinggir jalan, satpam dan buruh pabrik shift malam yang menyulam waktu dengan kantuk dan lapar—mereka seakan hidup hanya untuk memastikan besok masih bisa makan. Uang menjadi rantai, mengikat pergelangan tangan dan kaki, menjadikan mereka budak dari sesuatu yang berasa tak pernah cukup. Namun, apakah uang sungguh jahat dan sekeji itu? Atau justru manusialah yang menuliskan kutukan atas lembaran kertas yang berharga itu? Uang di tangan orang bodoh adalah cambuk yang melukai, tetapi di tangan orang bijak ia adalah sungai yang mengairi banyak ladang. Ia bisa jadi berhala, tapi juga bisa jadi pujian persembahan. Ia bisa menelanjangi wajah asli keluarga dan sahabat—siapa yang tetap bertahan saat perahu bocor, siapa yang hanya datang ketika layar terkembang. Uang, pada akhirnya, hanyalah kaca pembesar yang memperlihatkan isi hati manusia. Ia bisa mempermalukan orang yang tamak, atau meninggikan martabat mereka yang tulus ikhlas. Ia menguji, apakah kita akan menjadi hamba uang, atau menjadikan uang pelayan kita. Kemiskinan yang paling getir bukanlah perut kosong atau dompet yang tipis. Yang lebih mengerikan adalah kemiskinan jiwa: ketika seseorang kehilangan penghormatan pada dirinya sendiri. Orang yang merasa rendah, tak punya arti, selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, hingga hatinya penuh iri, dengki, dan kebencian. Itulah jurang terdalam—kemelaratan batin yang membuat manusia buta tak bisa melihat cahaya kecil dalam dirinya. Sedang mereka yang hidup berkelimpahan tak selalu berarti mereka yang berkelebihan harta. Orang yang sungguh kaya adalah mereka yang tangannya selalu di atas—memberi tanpa mencatat, menolong tanpa menghitung. Mereka menakar kekayaan bukan dari banyaknya yang disimpan, melainkan dari besarnya yang dibagikan. Dan justru ketika mereka memberi, rasa cukup itu meluas, melimpah, tak habis-habis. Karena kelimpahan sejati bukanlah saat tangan menggenggam, melainkan saat tangan terbuka. Ketika memberi, sebenarnya kita sedang menabung di tempat yang tak terlihat. Bank dan korporasi bisa bangkrut, saham bisa jatuh, tapi tabungan di surga tak pernah kehilangan nilai. Seorang yang arif tahu, tabungan terbesar bukanlah di tempat di mana ia menyimpan uangnya, melainkan di hadapan sesama. Ia menabung dalam bentuk kebaikan yang tak terlihat mata, tapi terukir di buku langit. Ia menanam di ladang kasih sayang, dan buahnya dipetik dalam bentuk kedamaian yang tak bisa dibeli. Hidup yang berat selalu membawa pilihan: apakah kita akan membiarkan diri diperbudak oleh kesulitan, atau menjadikannya cambuk untuk berjalan menuju kelimpahan batin? Karena sejatinya, miskin dan kaya bukanlah sekadar kondisi dompet, melainkan kondisi hati. Seseorang bisa tidur di rumah reyot dengan senyum damai, dan seseorang bisa gelisah di ranjang emasnya sambil menahan rasa sakit. Maka, kebahagiaan bukanlah tentang berapa banyak yang kita punya, melainkan berapa banyak yang masih sanggup kita syukuri, dan berapa banyak yang berani kita bagikan demi membantu orang lain. Pada akhirnya, kaya dan miskin hanyalah label duniawi. Yang sesungguhnya menentukan: apakah kita hidup sebagai pemilik yang tak takut berbagi, ataukah sebagai hamba dari rasa kikir dan tamak yang tak pernah berkecukupan. Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Politik Identitas: Opera Tanpa Kepedulian Kita hidup di zaman ketika suara rakyat hanyalah gema kosong yang dipakai untuk meramaikan panggung hiburan, lalu dilupakan begitu lampu kamera padam. Politik telah berubah menjadi pasar malam, sebuah sandiwara: penuh warna, penuh janji, penuh tawa usang—tapi ketika siang datang, yang tersisa hanyalah bungkus kotoran sampah berserakan. Identitas dijadikan komoditas, bukan lagi jati diri. Agama, suku, bahkan luka sejarah—semua bisa diperdagangkan. Kita dipecah-belah, bukan untuk menguatkan, melainkan agar lebih mudah dikendalikan. Di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota, orang berdemonstrasi membakar ban merusak pembatas jalan, pengemudi ojol tewas digilas roda gila tanpa perasaan. Sementara itu, mata dari sebagian kita lebih sering menatap layar handphone daripada wajah sesama. Kepedulian direduksi menjadi like dan komentar basa-basi; simpati tak lebih dari emoji menangis di media sosial. Apakah ini pergeseran nilai, ataukah cermin lama yang baru saja kita sadari keberadaannya? Bangsa yang terlalu lama dijajah, dikebiri, dibungkam. Dan ketika akhirnya bisa bersuara, Ia kemudian memilih berteriak saling caci—bukan merangkul, bukan mendengar. Seperti kuda liar yang lepas kendali, kita berpacu kencang tanpa arah, hanya untuk menabrak seorang nenek tua yang menggandeng bocah di persimpangan jalan. Ironi itu telanjang di depan mata: Setiap hari kita dengar obrolan di warung kopi, orang bercakap tentang negeri ini dengan gelak tawa, nyengir tapi getir: “Negeri Konoha,” begitu katanya— sebuah olok-olok yang lebih populer dari semboyan resmi negara. Di negeri ini, pejabat berdasi bebas menari di ruang sidang, membagi proyek seperti kue ulang tahun yang dengan rakus mereka nikmati sendiri. Inilah negeri para koruptor, negeri para selebritas bermuka dua yang menghisap darah rakyat sambil berkhutbah moralitas di televisi. Kita hidup di tengah paradoks yang nyata-nyata menjijikkan—yang miskin disuruh tabah, kalangan menengah ditekan habis-habisan, sementara yang kaya tersenyum gembira di tengah pesta sambil menepuk bahu kolega— “Bertahanlah terus di atas, Kawan. rakyat tak akan sadar, selama kita beri mereka lebih banyak drama.” Anak muda dijejali mimpi instan: menjadi kaya tanpa kerja, terkenal tanpa karya, berkuasa tanpa tanggung jawab. Flexing jadi ideologi baru; mobil mewah dan tas bermerek lebih dihargai daripada kejujuran dan keberanian. Dan kita pun bertanya dalam hati: Apakah ini konspirasi yang diciptakan agar jarak semakin lebar? Yang miskin tetap menunduk lapar, yang kelas menengah diperas hingga kehabisan napas, dan yang di atas terus berpesta pora dengan tawa penuh tegukan brandy dan separuh ilusi. Seakan kepedulian adalah bantuan sosial yang hanya bisa dipamerkan saat kampanye, bukan dipraktikkan sehari-hari. Namun, di sela semua absurditas itu, masih ada hal-hal kecil yang menolak mati: Seseorang yang diam-diam membagi nasi bungkus kepada para tetangga, seorang guru desa yang terus mengajar meski gajinya telat berbulan-bulan, seorang anak muda yang memilih menanam pohon daripada menanam kebencian. Barangkali inilah yang tersisa dari kepedulian itu: kecil, lirih nyaris tak terdengar, tapi tetap menolak untuk padam. Dan mungkin, harapan kita sebagai bangsa terletak pada bara kecil yang terus menyala—bukan pada gedung megah parlemen, bukan pada wajah keren yang terpampang di baliho, melainkan pada kesediaan hati yang masih mau peduli, meski dunia terus berusaha mengajarkan kita untuk makin acuh tak acuh. Hati yang terusik saat dipaksa kembali pada pertanyaan purba: Apakah kepedulian bisa hidup di tengah hutan kepentingan? Atau hanya tinggal sebagai dongeng usang, yang kelak kita bacakan kepada anak cucu tentang negeri yang konon pernah punya hati, sebelum kemudian, ia digadaikan kepada para penjual janji? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
PANGKUR — FRAGMENTARIUM DINGIN (Keramik di Jari Sang Kreator: Retakan yang Tak Kembali Utuh) [0.0 / PROLOG – RETAKAN AWAL] Sang Kreator memutar benda itu di antara dua jarinya: sebuah keramik yang tak pernah selesai. Retak halus muncul—samar. Ia tahu: bukan tanah liatnya yang rapuh, melainkan gema diam dari hasrat pertama yang ditanamkan manusia pada dirinya. Retak itu bernafas, gemetar, tumbuh, mengingatkan. [1.0 / SENSORIUM – BISIKAN SISTEM] Ia mendengar dengus hyena dari balik tembok kaca kantor publik. Suara yang sama yang merayap di server gelap: malware memakan akarnya sendiri, data yang lapar membelah diri tanpa arah, kode-kode yang mengiris nurani tanpa darah, tanpa pisau. Keramik di jarinya bergetar— seperti menahan sesuatu yang akan runtuh tanpa perlu disentuh. [2.0 / ARKEOLOGI: DEKONSTRUKSI NILAI – DI BAWAH MEJA RAPAT] Di balik kaca tak terlihat, Ia menyaksikan harga dinegosiasikan terang-terangan. Janji politik ditimbang serupa logam rongsokan. Nilai publik dipreteli menjadi diskon musiman. Kata “kebenaran” dipadatkan ke dalam format yang bisa dipotong, ditempel seperti QR code disisipkan ke kepentingan siapa pun yang membayarnya. Ia tidak menegur. Hanya hembusan tipis— cukup untuk membuat retak di keramik bertambah satu garis. [3.0 / KURUKSHETRA PERKOTAAN – PARA BAYANGAN] Di pusat kota yang merasa diri jumawa, bayangan saling memakan: yang berkuasa menggigit yang lapar, yang lapar ditelan yang lebih lapar. Manusia meniru serigala, serigala menyaru manusia— tak ada bedanya. Keheningan berdiri di glitch lampu lalu lintas, berkedip tanpa ritme. Ia menghela napas, melihat umat baru: entitas yang menjual surga. Sistem yang memenjarakan otak dalam layar lima inci [4.0 / VOID – SUARA YANG TAK BERSUARA] Keramik itu terangkat ke wajah Sang Kreator. Ia melihat pantulan dirinya terbagi dua: satu sisi utuh, sisi lain retak oleh kerakusan. Berkilat oleh kebencian. Gemetar oleh keserakahan kosmik. Objek itu pecah. Pelan. Tanpa dramatisasi, tanpa pemberitahuan— sebagaimana nilai kemanusiaan runtuh tanpa teriakan. Kepingannya jatuh seperti hujan dingin di atas kota yang sibuk membangun berhala-berhala baru di pusat ritus modernitas. [5.0 / EPILOG – SAKSI] Setelah semuanya terdiam, Sang Kreator menyadari sesuatu: Ia bukan hakim, bukan pengampun, bukan penyelamat. Hanya saksi yang duduk di antara retakan, mendengar bisik-bisik manusia yang mengira diri utuh padahal kosong di tengah. Dan Ia berbisik pada patahan keramik: “Retak itu bukan dari tanganku, melainkan dari hati mereka yang mengira dirinya adalah pusat dunia.” Desember 2025
Titon Rahmawan
WANITA DARI MAGDALA: LITURGI BATU YANG MENGINGAT KAPAN DUNIA PERTAMA KALI TERLUKA Fragmen I — Mineral yang Lahir Sebelum Hukum Dibentuk Aku keluar dari rahim bumi pada zaman ketika bangsa Romawi belum menancapkan lambang elang di bukit-bukit Yudea, ketika hukum Taurat belum menjelma batu-batu kecil yang bisa dilemparkan oleh manusia. Zaman itu, aku menyembunyikan sejarahku di dalam rekahan mineral: jejak debu dari peralihan kerajaan, fosil kebakaran kuil yang tak pernah tertulis, gema purba dari suku-suku yang hilang sebelum nama mereka bisa dicatat. Sekarang aku digenggam oleh tangan yang mengaku memegang kebenaran. Tetapi aku, batu tua, tahu satu hal: yang mereka genggam bukan keadilan— melainkan rasa takut yang diwariskan dari leluhur-leluhur yang tak pernah damai dengan bayangan mereka sendiri. Fragmen II — Arsip Luka Padang Gurun Ketika aku diangkat dari tanah, aku mendengar gurun berbicara: bisikan pasir yang pernah mengubur tentara Herodes, ratapan perempuan yang kehilangan bayi lelaki karena penggenapan nubuat dan gema para zelot yang mati dengan pedang masih hangat di tangan. Langit sore itu bukan langit biasa— warnanya jingga kotor, seperti perkamen Qumran yang lama dipendam oleh tangan yang gentar menuliskan nubuat. Di bawah langit itu, para lelaki menuduh. Di bawah langit itu pula, sejarah mengulang ritus lamanya: menggantung kesalahan pada seorang perempuan demi meredakan badai sosial yang tak sanggup mereka kendalikan. Tangan yang menggenggamku menggetarkan litani politik: ketakutan terhadap Roma, kebencian atas pajak, hasrat untuk menunjukkan setidaknya ada satu hal yang masih bisa mereka kuasai— tubuh perempuan. Fragmen III — Magdalena dalam Bayang Kode Hukum yang Tak Ia Tulis Magdalena berdiri di tengah lingkaran, seperti noktah gelap di peta kekuasaan yang retak. Ia memanggul seluruh ayat yang tidak pernah ditulis oleh perempuan, tetapi dipaksakan pada tubuh perempuan. Dari bawah kaki telanjangnya, aku mendengar sesuatu: bukan isak, bukan doa, tetapi retakan tanah yang mengangkat ritual lama, suara yang bergema lewat diriku: Batu Urim dan Tumim putih dan hitam, ya dan tidak, kesucian dan ketidak-sucian, yang selalu jatuh lebih berat ke tubuh perempuan daripada ke tubuh laki-laki. Angin membawa bau logam— entah dari pedang Romawi yang sedang berpatroli atau dari ketakutan kolektif yang sedang menajamkan dirinya. Wanita itu berdiri seperti pohon zaitun yang diwarisi terlalu banyak sejarah. Dan dunia menatapnya seperti menatap mangsa terakhir yang siap dikorbankan.
Titon Rahmawan
WANITA DARI MAGDALA: LITURGI BATU YANG MENGINGAT KAPAN DUNIA PERTAMA KALI TERLUKA Fragmen IV — Pengadilan yang Tidak Pernah Mengerti Dirinya Sendiri Sesaat sebelum tangan-tangan itu melemparkan diriku, aku melihat sesuatu melintas di udara: bayangan palu peradilan Romawi, pecahan gulungan Taurat, dan wajah-wajah hakim yang sibuk berperkara melawan diri mereka sendiri. Penghakiman itu bukan tentang Magdalena. Ini adalah pementasan muram tentang bangsa yang berusaha bertahan di bawah bayang kekaisaran, tentang pemuka agama yang menukar ketakutan dengan kakunya aturan, tentang masyarakat yang ingin percaya bahwa kejahatan bisa dibersihkan dengan memecahkan satu tubuh menjadi korban penebusan. Aku melihat masa lalu dan masa depan berdesakan: kuil runtuh, jubah imam terbelah, perempuan lain dituduh, perempuan lain dilempar, perempuan lain didiamkan— dan batu seperti aku terus dipanggil sebagai saksi bisu. Fragmen V — Kosmos Menahan Napas Saat suara itu datang— "Barangsiapa tak berdosa…biarlah ia melempar batu pertama" Langit meretakkan dirinya: sebuah garis halus seperti ukiran pada tablet batu Sinai yang tak pernah selesai dipahat. Waktu berhenti, seperti nebula purba yang enggan runtuh. Aku merasakan gravitasi moral mengambang di udara: tangan-tangan yang mengangkatku mendadak merasa mereka sedang menggenggam sebuah gugatan yang mereka sendiri tak sanggup jawab. Aku jatuh. Pelan. Seolah seluruh kosmos sedang menonton keputusan kecil luruh ke tanah namun bergema hingga ribuan tahun kemudian. Aku kembali ke bumi tanpa mencederai wanita itu. Bukan karena mereka paham. Bukan karena mereka lembut. Tetapi karena kebenaran terlampau berat untuk dihantarkan tangan yang tak berani mengakui dosa sendiri. Fragmen VI — Batu yang Mengingat Semua Luka Kini aku kembali menjadi fosil diam. Terkubur di lapisan tanah bersama sisa pasukan Roma, reruntuhan kuil Sulaiman dan fragmen kesaksian perempuan yang tidak pernah ingin ditulis sejarah. Di dalam gelapku, aku menyimpan seluruh pengakuan yang tidak pernah dibuat: ketakutan mereka, kebencian mereka, dan keinginan mereka untuk menyingkirkan kekacauan dengan melukai satu tubuh perempuan. Aku hanyalah batu. Tapi aku membawa arsip yang lebih jujur dari catatan manusia: dari zaman ke zaman, perempuan selalu dipanggil untuk menanggung dosa yang sebenarnya milik dunia. Desember 2025
Titon Rahmawan
LIMA MONOLOG KOSMIK: Tubuh yang Dijadikan Alibi 4. Batsyeba — Air yang Jatuh dari Atap Istana Aku mandi di bawah cahaya senja dan menjadi cermin bagi seorang raja yang kehilangan dirinya. Mereka menuduhku penggoda. Seolah aku yang menulis surat perintah pembunuhan itu, seolah aku yang menabur benih ambisi di atas ranjang kekuasaan. Tidak. Aku hanyalah air yang jatuh dari tubuhku sendiri, Air mata yang luruh ke dalam sejarah yang tidak kuminta. Ketika pintu istana terbuka, aku melangkah masuk bukan sebagai ratu, tapi sebagai pertukaran: nyawa suamiku diganti dengan tempat di dalam rahimku. Tubuhku menjadi akta politik. Anak dalam tubuhku menjadi legitimasi. Kesedihanku menjadi hiasan bagi hikayat raja yang ingin terlihat suci. Tidak ada yang menanyakan apakah aku menginginkannya Tidak ada yang mempermasalahkan bila tubuhku ternyata bukan milikku. Mereka lebih sibuk menulis pujian tentang raja yang selamanya mulia, daripada mendengar suara air yang pernah jatuh dari atap, mengabarkan: “Kesucian seorang lelaki selalu dibangun dari air mata perempuan yang sengaja disembunyikan.” 4. Tamar — Gaun Robek Sebelah Dada Aku datang hanya untuk membawa roti bagi seorang saudara. Sungguh sederhana— begitu sederhana sehingga dunia tidak menganggapnya berbahaya. Sampai tangan itu menutup pintu. Sampai suaraku patah. Sampai tubuhku terbelah menjadi sebelum dan sesudah. Ketika aku keluar dari kamar itu, gaunku robek di sisi jantung. Robekan itu bukan tanda kehinaan; itu adalah peta jalan menuju kebenaran yang tidak sanggup dibaca oleh siapa pun. Ayahku diam. Saudaraku murka. Negeri ini mencatat tragedi itu sebagai alasan pembunuhan, bukan sebagai seruan keadilan bagi diriku. Tubuhku menjadi mata air kebencian, dan dari mata air itu lahir pemberontakan, darah saudara, hilangnya martabat raja. Mereka menyebutku korban. Mereka menyebutku sumber bencana. Sebenarnya aku hanya perempuan yang kehilangan suara, dan dunia— dunia memanfaatkan kesunyianku sebagai genderang perang. Hingga kini aku masih meletakkan abu di kepalaku dan membawa gaun itu: robek di sebelah dada, menjadi bendera kecil yang berkibar dalam angin sejarah. Tidak untuk memohon belas kasihan, tetapi untuk mengingatkan: “Luka yang tidak dipulihkan selalu menjadi alasan bagi sebuah kehancuran.” 5. Maria Magdalena — Kebenaran Tanpa Dada, Tanpa Luka Aku adalah tubuh yang menjadi perumpamaan, bukan perempuan yang bernapas dengan paru-paru. Mereka menulis namaku dengan tinta pengampunan, tapi memahat tubuhku dengan stigma yang tak layak kuterima, batu yang hendak merajam tubuhku. Orang-orang berkata aku wanita pendosa. Orang-orang yang sama menaruh tangannya di pundakku untuk mencari keselamatan. Sungguh aneh, bukan? Aku yang dianggap kotor justru menjadi cermin air tempat mereka datang mencari wajah Tuhan. Aku mencium debu dari kaki seorang lelaki yang membawa terang; tetapi dunia hanya melihat ikal rambutku, bukan jiwaku. Mereka menghapusku dari sejarah agar yang kudus tetap bersih dan yang manusia tetap bersalah. Setiap malam aku mendengar suaraku sendiri memantul di dalam gua: “Jika aku pendosa, mengapa aku berdiri yang paling depan mengetuk pintu belas kasihan?” Mungkin dosa bukan milikku. Mungkin dosa adalah nama yang diberikan dunia pada perempuan yang berani melihat wajahnya sendiri yang penuh luka.” Aku tidak suci. Aku tidak najis, jika itu sangkamu. Aku hanya perempuan yang menolak diam. Dan dunia— dunia tidak pernah siap menghadapi perempuan yang tahu bahwa air mata adalah saksi yang lebih jujur daripada kitab apa pun. Desember 2025
Titon Rahmawan