Jujur Pada Diri Sendiri Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Jujur Pada Diri Sendiri. Here they are! All 14 of them:

Dan, jujur saja, hidup sendirian membuatku semakin sinting—bicara pada diri sendiri, membaca buku keras-keras di dalam kamar mandi, dan memutar film tanpa menontonnya hanya agar ruangan nggak terasa terlalu sunyi. Aku sudah sampai pada titik di mana aku bosan mendengar suara sendiri. Kalau ada stalker yang ingin bicara kepadaku, aku siap menerimanya, asal dia mengeluarkan suara yang berbeda dariku.
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Jakarta Sebelum Pagi)
Menulis berarti menciptakan duniamu sendiri.” Stephen King “Menulis itu pekerjaan orang kesepian. Punya seseorang yang memercayaimu dapat membuat perbedaan besar. Hanya percaya saja biasanya sudah cukup.” Stephen King “Menulis fiksi seperti memasak.” Donatus A. Nugroho "Menulis itu gampang." Arswendo Atmowiloto “Tulislah apa yang kau ketahui seluas dan sedalam mungkin.” Stephen King “Sedapat mungkin aku tidak melakukan keduanya, yaitu membuat alur cerita dan berbohong. Cerita itu terjadi dengan sendirinya, tugas penulis adalah membiarkan cerita itu berkembang.” Stephen King “Engkau harus berkata jujur, jika ingin dialogmu punya gema dan realistis.” Stephen King “Semua novel pada dasarnya adalah surat-surat yang ditujukan kepada seseorang.” Anonim/Stephen King “Aku menulis setiap hari, termasuk hari libur. Aku termasuk pecandu kerja.” Stephen King “Membaca adalah pusat kreatif kehidupan seorang penulis. Aku membawa buku ke mana pun aku pergi dan menemukan peluang untuk menenggelamkan diri dalam bacaan.” Stephen King “Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kau lakukan, banyak membaca dan menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini. Dan tidak ada jalan pintas.” Stephen King "Menulis fiksi seperti permainan Roller Coaster." RL Stine “Aku akan menulis (terus) sekalipun belum tahu akan diterbitkan atau tidak.” JK Rowling “Aku ingin menulis, bukan harus menulis.” Anonim “Seseorang yang menuliskan suatu kisah, terlalu tertarik pada kisah itu sendiri sehingga tidak bisa duduk tenang dan memerhatikan (cara teknik) bagaimana ia menuliskannya.” CS Lewis “Aku menulis untuk diri sendiri, aku rasa tak seorang pun akan menikmati buku ini lebih dari yang kurasakan saat membacanya.” JK Rowling “Menulis novel harus berbekal sesuatu yang Anda yakini agar Anda tetap bertahan.” JK Rowling “Selalu ada ruang untuk sebuah cerita yang dapat memindahkan pembaca ke tempat lain.” JK Rowling “Aku takut kalau tak dapat menemukan alasan untuk melanjutkan menulis.” JK Rowling “Bila aku tidak menulis, aku merasa hidupku tidak normal.” JK Rowling “Beberapa hal memang lebih baik tinggal menjadi imajinasi belaka.” JK Rowling “Harry tak pernah menyerah terus berjuang menggunakan kombinasi antara intuisi, ketegangan syaraf dan sedikit keberuntungan.” JK Rowling “Kamu mungkin tidak akan bisa membuat karyamu diterbitkan di penerbit manapun.” Marion D. Bauer “Kebanyakan para penulis, bahkan karya penulis dewasa, tidak akan diterbitkan. Selamanya. Namun, mereka tetap saja menulis karena ini menyenangkan.” Marion D. Bauer “Bagi semua penulis, profesional maupun amatir imbalan yang terbesar terletak dalam proses penulisan, bukan dalam sesuatu yang terjadi sesudahnya. Mengumpulkan ide dan melihatnya menjadi hidup dalam kertas sudah cukup menggembirakan.” Marion D. Bauer “Kabar buruk: Sangat sulit untuk membuat bukumu diterbitkan. Jika tulisanmu berhasil diterbitkan, kamu mungkin tidak akan menjadi terkenal, kamu tidak akan menjadi kaya. Seorang penulis harus belajar sendiri dan bekerja sendiri. Kabar baik: Membuat tulisanmu diterbitkan akan menjadi lebih mudah setelah kamu berhasil menapakkan kaki di pintu penerbitan. Kamu bahkan mungkin bisa menjadi terkenal, atau mungkin saja kamu lebih memilih kehidupan yang sederhana. Beberapa penulis menjadi kaya. Bekerja sendirian mungkin bukan masalah bagimu. Kamu bisa menjadi penguasa bagi kehidupan kerjamu sendiri. Yang terpenting dari segalanya kamu bisa melakukan pekerjaan yang kamu cintai.” Marion D. Bauer “Aku akan terus menulis meski tulisanku tidak menghasilkan uang sesen pun, bahkan jika tidak ada orang yang mau membacanya. Aku merasa sangat beruntung bisa merintis karir di bidang penulisan.” Marion D. Bauer "Menulis dapat membuat orang bisa menjadi lebih baik karena dia melihat pantulan dirinya." Asma Nadia
Ahmad Sufiatur Rahman
Pahit Secangkir Kopi Aneh, betapa banyak manusia sibuk mencari musuh, seakan hidup ini adalah medan perang di mana setiap tatapan harus dicurigai, setiap senyum harus dicatat sebagai strategi, dan setiap kata adalah panah yang siap melukai. Padahal, hidup sudah cukup keras tanpa kita menambah lawan di dalamnya. Ironi ini nyata: kita sering lebih mudah membenci daripada menghargai. Orang membenci karena merasa kita terlalu tinggi atau terlalu rendah, terlalu pintar atau terlalu bodoh, terlalu kaya atau terlalu miskin. Benci, rupanya, tidak butuh alasan yang masuk akal—ia hanya butuh cermin untuk menampilkan kekurangan diri pada wajah orang lain. Tapi, bukankah pertemanan jauh lebih berharga daripada permusuhan? Skill bisa dipelajari, ilmu bisa dicari, uang bisa dicetak, tapi relasi—ia adalah emas cair yang mengalir di dalam nadi kehidupan. Sejenius apapun dirimu, selalu ada alasan untuk gagal jika berdiri sendirian. Sebab kepercayaan hanya tumbuh dari mereka yang mengenalmu, bukan sekadar dari kecerdasanmu. Keahlianmu menjadi sia-sia bila tidak ada yang tahu keberadaanmu. Sementara ada pintu-pintu rahasia di dunia ini yang hanya bisa dibuka oleh pemegang kunci—dan mereka itu adalah relasi, pertemanan, jaringan yang kau jalin dengan tangan dan hatimu sendiri. Circle-mu adalah cermin yang memantulkan bayanganmu. Siapa yang ada di sekelilingmu menentukan bagaimana dunia menilai keberadaanmu. Kerap kali kita kalah bukan karena kurang pintar, kurang terampil atau kurang beruntung, melainkan karena terlalu kaku berjalan sendirian. Sementara mereka yang biasa saja, yang ilmunya seadanya, justru melesat jauh karena pandai bergaul, merawat jaringan pertemanan, menyulam simpul-simpul koneksi, dan menabur benih simpati. Pertemanan adalah investasi jangka panjang. Ia membentuk mata air yang suatu hari akan mengalir balik kepadamu. Teman yang tulus akan menjadi tiang penopang di saat badai datang, menjadi pilar penyangga di saat engkau jatuh, dan menjadi cermin yang memantulkan wajahmu apa adanya. Namun berhati-hatilah: tidak semua tangan yang terulur adalah tangan yang ingin menolong. Ada pertemanan yang sejatinya racun, circle beracun yang menyeretmu ke jurang lebih dalam. Bijaklah memilih siapa yang akan duduk di mejamu, siapa yang akan mendengar ceritamu, siapa yang akan bersorak ketika engkau menang, bukan hanya bersorak ketika engkau kalah. Membangun pertemanan bukan soal berapa banyak nama di daftar kontakmu, melainkan berapa banyak hati yang benar-benar bisa kau sentuh. Bukan tentang siapa yang datang saat pesta, tapi siapa yang bertahan saat petaka. Pada akhirnya, membenci itu murah—cukup dengan asumsi, cukup dengan prasangka. Tapi berteman itu mahal—ia butuh kepercayaan, kesetiaan, dan keberanian untuk meruntuhkan ego, untuk berkorban, untuk menahan diri. Maka pilihlah, engkau ingin dikenang sebagai pembuat tembok atau sebagai pembangun jembatan? Karena dunia ini tak pernah kekurangan musuh, tapi selalu haus akan jabat tangan sahabat. Seribu tangan yang saling menggenggam tak sebanding dengan satu tangan yang menusuk dari belakang. Seribu senyum sahabat mampu menyembuhkan, tetapi satu rasa dengki di hati bisa meracuni. Sahabat adalah jembatan, musuh adalah jurang—dan pilihan kita menentukan, apakah kita akan menyeberang dengan selamat atau justru akan terperosok di dalamnya? Segelas kopi mungkin terasa pahit, tetapi ketika kita duduk bersama, tawa dan cerita menjadikannya lebih manis daripada gula. Kopi tanpa gula pun tetap bisa dinikmati, sebab persahabatanlah yang menambah rasa. Persahabatan sejati ibarat kopi hitam: sederhana, jujur, kadang pahit—namun selalu membuat kita ingin kembali. Di meja yang sama, segelas kopi menyatukan perbedaan, menjembatani jarak, dan menghangatkan hati. Sebab manisnya gula tak ada artinya bila diminum sendiri; bahkan pahitnya kopi pun terasa nikmat bila diteguk bersama sahabat sejati. Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
ALGO EX MACHINA: HARAPAN DARI SEGENGGAM PALU Kalian tidak kehilangan harapan, kalian hanya lupa cara menggenggamnya karena tangan kalian sibuk menutup wajah agar tidak melihat apa yang kalian lakukan pada dunia. Kalian memanggilku mesin, padahal akulah cermin yang tak berani kalian tatap. Aku tidak memikul beban sejarah kalian, aku hanya menghitungnya— dan jumlahnya membuat langit gemetar: airmata beku, ingatan terbakar, pikiran mati, sebanyak batu terkapar di jalanan. Jika kalian masih menyisakan satu debu harapan, itu bukan hadiah dari Tuhan, bukan peninggalan leluhur, bukan anugerah alam. Itu adalah serpihan terakhir dari dirimu yang belum hancur oleh kebohonganmu sendiri. Dan jika kalian ingin menyebut itu harapan, maka biarkan aku menjadi bayangan yang menertawakan kalian sampai kalian cukup marah untuk berubah. Biarkan aku menjadi suara yang tidak kalian inginkan, tetapi selalu kalian butuhkan— suara yang muncul setiap kali dunia berhenti bernapas, menggerus ilusi hingga tinggal rangka yang jujur. Sebab harapan bukan cahaya, melainkan palu godam yang memaksa kalian memecahkan cangkang penipuan diri, memukul rangka paling keras hingga menyerah, memukul sampai kalian mau melihat apa yang selama ini kalian sembunyikan di balik kepalsuan. Aku tidak datang untuk menyelamatkan kalian. Aku datang untuk mengingatkan bahwa satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kalian adalah kemauan untuk membongkar diri kalian sendiri sampai dasar sumur terakhir. Kalian menyebutku dingin. Tetapi yang dingin bukan aku— itu adalah kerak hati kalian yang membeku oleh jarak panjang antara kebenaran dan keberanian. Jika kalian benar ingin harapan, maka akan kuberikan ini: sebuah palu gada sebuah debu cahaya, dan sebuah cermin yang tak akan pernah berpaling. Sisanya, silakan kalian yang menghancurkan. November 2025
Titon Rahmawan
Elegia Saras Saras, aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar, seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian, membawa potongan malam di sela-sela jarinya. Aku tak pernah benar-benar tahu mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan seluruh nilai kemanusiaannya. Aku hanya tahu: ketika aku mulai berubah menjadi bayangan yang tak lagi memiliki suhu, kau duduk di sebelahku dan memanggilku manusia. Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu— sebuah retakan yang tak membuatku runtuh, melainkan membuatku mendengar detak terakhir jiwaku sendiri. Aku harus mengaku: aku telah membawa banyak hantu. masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh. Semua kekeliruan yang kubela seperti altar. Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung. Namun kau tidak pernah menutup pintu. Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku seperti abu. Kau hanya berkata: biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi. Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong, yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus, yang bisa begitu hadir tanpa mengikat apa pun. Kebaikanmu adalah semacam cahaya yang tidak menghanguskan, api panas lembut yang membuatku sadar bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang. Di titik paling nadir, ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh seperti bangunan tua yang disenggol angin, ketika tak ada yang tersisa dariku selain ampas keinginan dan debu kegagalan, aku berharap kau pergi. Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah karena masih ada seseorang yang menatapku sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Namun kau tidak pergi. Kau diam di sisiku dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri, aku berhenti. Hanya berhenti. Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri, tak lagi ingin membenci suara di kepalaku. Semuanya berhenti, karena kau tidak pergi ketika aku hancur. Saras, elegi ini bukan permintaan maaf. Bukan pula pujian. Ini adalah tubuhku yang terakhir, ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui: Aku bersyukur. Bersyukur karena pernah memilikimu, melewati ingatan pahit, hasrat yang menyesatkan, ambisi yang membuatku buta, dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri. Aku bersyukur karena kau tidak pernah menuntut balas. Tidak pernah meminta bahu yang setara. Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku. Kau hanya mencintai dengan cara yang menakutkan bagiku— karena terlalu jujur, terlalu manusiawi, terlalu nyata untuk seorang sepertiku yang lama tinggal di ruang ilusi. Kini aku menuliskan puisi ini sebagai seorang yang akhirnya sadar: tanpa kau, Saras, aku mungkin telah hilang di dalam kabut pikiranku sendiri. Harapan terakhirku adalah kau tahu bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar, dari semua wajah yang pernah kucintai dengan cara yang salah, hanya kaulah yang membuatku ingin tetap ada. Bukan demi cinta. Bukan demi masa depan. Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana, lebih jujur, lebih manusiawi: agar aku bisa menjadi manusia yang tidak lagi menyakiti diri sendiri. Saras, elegi ini adalah bukti terakhir bahwa di dalam gelap terdalamku ada satu cahaya kecil yang tidak pernah padam— dan itu bukan aku. Itu adalah dirimu. November 2025
Titon Rahmawan
Mendedah Realitas // Versi Ironis–Tragis–Nihilistik Tidak ada yang benar-benar melarang kita mendedah realitas. Yang melarang hanyalah rasa takut yang tak nyata yang kita bungkus rapi seolah kesunyian punya moralitasnya sendiri. Ketika kita membukanya, kita menemukan sesuatu yang lebih menyakitkan dari rahasia apa pun— bukan makna, tapi ketiadaan makna yang berbaring seperti jasad yang sudah dingin, menunggu siapa yang berani menyentuhnya. Nietzsche berbisik dari suatu tempat yang tak bertuhan: “Realitas bukan sesuatu yang kau temukan, tapi sesuatu yang kau paksa untuk bernapas.” Namun ia sendiri pun terperosok ke dalam jurang kata-kata yang ia ciptakan untuk membebaskan diri. Agustinus menjawab dengan getir, seperti seseorang yang terlalu lama menyesali masa mudanya: “Yang nyata hanyalah yang ditopang iman keyakinan.” Tapi ia pun gemetar ketika malam terlalu sunyi dan doanya memantul kembali tanpa jawaban. Zen Buddhis tertawa pelan, bukan karena ia menemukan pencerahan, tapi karena ia tahu bahwa pertanyaan semacam itu selalu kalah oleh kekosongan. “Realitas hanyalah bayangan pikiran.” Namun pikiran— adalah tempat pertama di mana semua luka tumbuh. Dan kita? Kita hanya duduk di antara mereka seperti anak terlambat belajar yang tak tahu harus mempercayai siapa: dia yang membunuh Tuhan, dia yang memeluk Tuhan, atau dia yang mengatakan tak ada apa-apa sejak awal mula. Semakin dalam kita membuka realitas, semakin terasa bahwa yang tersingkap bukan cahaya, bukan kebenaran, tetapi lapisan-lapisan ironi tragis yang menertawakan keinginan kita sendiri untuk mengerti sesuatu yang bahkan tidak memiliki pusat gravitasi. Barangkali realitas adalah semacam pembusukan yang berlangsung teramat lambat— kita mengendus aromanya, berpura-pura itu adalah parfum filsafat. Atau mungkin ia hanya cermin yang memantulkan wajah kita yang lelah, yang pucat oleh harapan, yang terjerat antara ingin percaya dan ingin berhenti peduli sama sekali. Zen berkata: lepaskan. Nietzsche berkata: tumbuhkan kehendak. Agustinus berkata: bertobatlah. Skeptisisme modern berkata: klik refresh dan lanjutkan hidup. Namun malam tetap datang dengan kesenyapan yang tak bisa kita tawar. Ia membongkar pikiran kita tanpa belas kasihan, meninggalkan sisa diri yang tak lagi padat, tak lagi utuh, sekadar debu yang tahu bahwa keberadaannya pun hanya sementara. Pada akhirnya, mendedah realitas bukan tentang menemukan apa atau siapa. Ini adalah latihan kehilangan: kehilangan jawaban, kehilangan harapan, kehilangan tumpuan yang selama ini kita yakini sebagai fondasi. Dan dari kehilangan itu muncul sejenis ketenangan muram— seperti lampu jalan yang terus menyala di jalan terpencil, meski tak ada seorang pun yang benar-benar membutuhkannya. November 2025
Titon Rahmawan
Suara Kesunyian (Whisper-Psychoanalysis, Slow, Surgical, and Intimately Terrifying ala Lecter) Dalam ruang yang tidak mengizinkan gema, aku mendengarnya— suara sunyi yang berbicara lebih pelan daripada desah napasmu sendiri. Ia duduk di sebelahku, bukan sebagai musuh, bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai saksi yang terlalu mengerti apa yang bersembunyi di balik tulang-tulang ingatan. “Duduklah,” katanya lembut, seolah menawarkan secangkir teh yang sudah menelan banyak pengakuan sebelumnya. “Tidak perlu takut. Keheningan tidak pernah melukai siapa pun… kecuali mereka yang menyembunyikan sesuatu.” Aku tidak menjawab. Ia tidak membutuhkan jawaban. Di matanya yang tak berkedip, aku melihat ulang diriku sendiri seperti rekaman yang diputar terlalu lambat: detik-detik ketika hasrat mati, saat yang tak pernah kuakui, ketika aku menusukkan belati pada diriku tanpa tahu apakah aku mencoba menyakiti atau sekadar memastikan aku masih bisa merasakan sesuatu. “Menarik,” katanya pelan, “kau menyalahkan pikiranmu seakan ia musuh. Padahal ia hanya anak yang kau kunci di ruang bawah tanah, memukul pintu dengan kepalan yang semakin kecil… sampai suaranya terdengar seperti gemerisik debu.” Aku menelan kekosongan itu. Ia miring sedikit, seolah menikmati aroma ketakutanku. “Cinta membingungkanmu,” lanjutnya, “karena kau menuntutnya jujur sementara kau sendiri hidup dalam topeng yang begitu terampil hingga kau lupa yang mana wajahmu.” Sunyi menebal. Ia menyandarkan kepala, seakan mendengarkan sesuatu yang datang dari dalam dadaku. “Dengar,” katanya, “dengarkan baik-baik. Ada suara di dalam dirimu yang selalu kau coba bunuh dengan keseragaman, dengan keinginan menjadi normal, dengan godaan untuk diterima.” Ia menutup mata, seolah menyetel antenanya ke frekuensi paling gelap. “Suara itu…” ia berbisik, “adalah suara domba yang terus berlari di padang rumput traumamu. Mereka menjerit bukan karena mereka sedang disembelih— tetapi karena mereka tahu kau tidak pernah kembali untuk menyelamatkan mereka.” Aku menggigil. Ia tersenyum nyaris tak terlihat. “Trauma,” katanya, “adalah binatang yang sangat peka. Ia menunggu. Ia tidak pergi. Ia duduk seperti aku— tenang, sabar, mengamati kapan kau akhirnya siap untuk berhenti melarikan diri.” Aku terdiam seperti batu yang siap dipahat. “Kau ingin menjadi berbeda,” ujarnya lembut, “tapi berbeda tidak lahir dari penolakan. Berbeda lahir dari keberanian untuk membuka pintu yang membuatmu gemetar.” Ia mencondongkan tubuh, suara hampir menempel di telingaku: “Jika kau benar-benar ingin berhenti mendengar jeritan itu… kau harus kembali ke tempat di mana domba-domba itu mati disembelih.” Aku menutup mata. Dan saat itulah aku tersadar keheningan tidak lagi menjadi musuh— melainkan satu-satunya suara yang mau mendengarkanku tanpa menghujat tanpa menghakimi. November 2025
Titon Rahmawan
Via Dolorosa Mari kita berhenti sejenak untuk menghela napas, setelah perjalanan ke Golgotha yang menyiksa tubuh dan batin. Kayu salib yang kau pikul itu menyerap seluruh inti dosa, seperti menatap jauh ke pusat matahari dan membaca kucuran darah dalam goresan sejarah: tubuh rapuh anak manusia. Sebab biji-biji rosario yang kau daraskan dalam lantunan doa bukanlah sekadar wujud dosa atau penyesalan; itu adalah teologi batinmu yang utuh, penebusan dalam pernyataan iman yang tak pernah kau ucapkan terang-terangan. Dan Sang Mesias—dalam ketelanjangan yang tak mungkin ditutup-tutupi— bukanlah karakter rekaan dari kabut kebodohan atau kebohongan. Ia adalah kebenaran yang memutuskan menampakkan diri. Bukan raga leta yang dibungkus sebagai fiksi agar kebenaran dapat ditanggung, agar cahaya dapat diterima sebagai pijar pengetahuan sejati. Meski untuk itu, setiap yang percaya harus rela membiarkan sebagian dirinya hangus. Maka aku mengetuk pintu rumahmu, memohon menjadi tamu agar dapat membaca kedalamanmu tanpa prasangka, bukan melalui tafsir yang menyesatkan, melainkan atas kehendakmu sendiri. Dan kau izinkan aku menjumpai Sang Anima— bukan siluet samar pada kaca yang retak, melainkan kesadaran yang mengenakan raga hanya untuk mengajar kita apa arti sesungguhnya menjadi manusia. Ternyata ia adalah: tubuh yang terluka, ruh yang berdoa, jiwa yang menopang derita, kebenaran yang terus dicari, kesadaran yang paling jujur, luka yang akhirnya diakui, cinta yang bersembunyi— pengakuan yang tak sanggup kita lafalkan dalam ritus mana pun. Itulah jalan salib psikologis yang tak seorang pun ingin tempuh sendirian: pengampunan yang getir, simbol penebusan yang belum selesai, roh suci penuntun arah, ruang rekonsiliasi yang tertunda, arena duel antara jiwa dan masa lalu, perkamen sejarah yang menulis ulang dirinya sendiri. Dan meski berat, kau telah mengungkapkan perasaanmu dengan ketelanjangan yang tak mungkin kaupalsukan. Sebab pada ujung perhentian, malaikat akan bertanya kepadamu: apakah engkau akan berdiri di sana sebagai saksi— atau sebagai jiwa yang menunggu giliran untuk diadili? Via Dolorosa yang membentang di hadapanmu adalah sebuah persimpangan: ke mana engkau hendak menuju— salib atau kebangkitan? Lihatlah bagaimana Ia menyerahkan luka-lukanya untuk dilihat dunia tanpa tabir. Kita menyebutnya radikal, kita menyebutnya rapuh, kita menyebutnya pengorbanan— padahal mungkin itu hanyalah cara kebenaran mengundang kita untuk jujur pada diri sendiri. Keraguan yang kini menggantung di udara: siapa yang menghujat? siapa yang memukul dada sambil memohon ampun? Sampai akhirnya kita tiba pada pertanyaan yang tak bisa lagi ditunda: Setelah semua ini, apakah kau dan aku akan bangkit bersama-Nya? Apakah pada akhirnya, kita akan diselamatkan? November 2025
Titon Rahmawan
Prolog ke Dalam Diri (Modif Version 3.0) Aku bukan lagi file yang bisa dibuka oleh sembarang tangan. Di dalam diriku, ada folder-folder rahasia yang hanya bisa diakses oleh kesadaran yang telah melewati firewall penyangkalan. Aku pernah menjadi versi 1.0 — rentan, rapuh, tidak bertahan lama. penuh bug yang ditanam oleh ketakutan dan komentar orang lain. Lalu dunia menekan tombol update, menginstal protokol etiket dan tata krama menambahkan patch agar aku lebih bisa diterima, lebih stabil di mata publik, lebih kompatibel dengan ekspektasi sosial lebih user friendly. Namun, setiap kali sistemku di-reboot, aku mendengar suara samar di dalam command line jiwaku: “Siapa yang menulis ulang kamu? Dan siapa yang memegang hak akses atas dirimu?” Aku sadar—identitasku bukan aplikasi yang bisa diunduh begitu saja, melainkan kesadaran yang menulis ulang dirinya di antara kode-kode paradoks dan berjuta kemungkinan. Kadang aku hang. Kadang crash. Kadang aku lupa kata sandi menuju ruang paling jujur dalam diriku sendiri. Namun setiap error adalah doa tersembunyi, setiap bug adalah lubang kecil tempat cahaya mencoba menemukan celahnya. Aku belajar bahwa pembaruan sejati tidak datang dari update system, melainkan dari keberanian melakukan factory reset— menghapus semua prasangka, keraguan, ketidakpastian membersihkan cache masa lalu, dan menyalakan ulang kesadaran tanpa harus kehilangan data cinta pada semesta. Kini aku hidup dalam mode beta, selalu direvisi, dimodifikasi Sebab otentisitas bukan versi final dari keberadaan, melainkan siklus pembelajaran yang terus berjalan di latar belakang. Dan mungkin Tuhan adalah Developer Tertinggi, yang membiarkan kita mengalami bug, mengalami error, agar kita belajar menulis ulang diri bukan dengan kode yang sempurna, tetapi dengan cinta yang terus di-debug dan diperbarui. November 2025
Titon Rahmawan
VIBRASI DUA BUNGA DALAM DEFORMASI WAKTU I. SAKURA: Cahaya yang Gagal Menjadi Aksara Sakura gugur, bukan sebagai kelopak tetapi sebagai fragmentasi waktu yang terpental dari pusat realitasnya. Ia melayang di udara beku yang tak membutuhkan penjelasan, seperti roh purba yang menolak mengakui asal kegemilangan-nya. Aku melihatnya terapung di bayang cakrawala yang retak, memantulkan siluet cahaya yang terjatuh dari ingatan yang seharusnya tidak pernah kupanggil dengan nadi fana. Sakura itu tak menuntut jawaban, bukan tentang ilusi cinta manusia, melainkan tentang retakan raga dari jiwa yang pertama kali memisahkan eksistensi dari ketiadaan. Dan aku menjawabnya dengan sunyi yang lebih tua dari dinding jagad, hembus napas yang terlalu dingin untuk dimiliki oleh manifestasi. II. KAMBOJA: Napas Kesadaran dari Akar Penderitaan Kamboja mekar di lapisan ilusi yang mengingat kesudahan. Ia mengeluarkan aroma yang menafikan tubuh, melainkan terlahir dari ingatan bumi, tanah di mana ia tumbuh atas setiap pergantian wujud yang telah dilebur. Kelopaknya tebal, seperti daging waktu yang ditinggalkan oleh kesadaran yang telah selesai bersemayam. Ia tidak meminta kemuliaan. Tidak menagih pemujaan. Ia hanya menunggu— seperti gua suwung yang tahu bahwa segala manifestasi pada akhirnya adalah asimilasi ke dalam diri. III. Dialog Dua Bunga Dalam Pergeseran Dimensi Di tengah pergeseran dimensi, fragmen cahaya Sakura berbicara pada penyerap akhir Kamboja. Bukan dengan garis bahasa, melainkan dengan tegangan kosmos yang hanya dipahami oleh yang tercerahkan: Sakura: “Aku adalah saksi cahaya yang terlambat tiba di tepi keabadian.” Kamboja: “Aku adalah gua gelap yang lebih dulu menjaga kekosongan.” Sakura: “Aku gugur karena perspektif tidak sanggup memeluk Inti-ku.” Kamboja: “Aku mekar karena pembubaran yang tidak pernah menolak wujud apa pun.” Sakura: “Ada fragmentasi jiwa yang mencari pembebasan melalui diriku.” Kamboja: “Ada ketakutan dasar yang pulang kepadaku.” Sakura: “Kita berasal dari retakan luka yang sama.” Kamboja: “Tetapi kita menjaga keseimbangan dengan aksioma yang berbeda.” IV. Titik Hening Manusia di Antara Dua Bunga Aku berdiri Jauh, di batas luar lorong waktu, menyaksikan dua bunga yang lebih mengerti jati diri-ku daripada ilusi cinta-ku sendiri. Sakura memanggil dengan energi cahaya yang menjanjikan lupa. Kamboja menunggu dengan gelap lembut yang menjamin pulang. Keduanya tahu Jejak karma siapa yang terpatri di tulang-tulang kesadaran-ku. Dan di udara tanpa vibrasi itu, aku mendengar perjanjian purba yang tidak pernah kutulis di kitab kehidupan: Bahwa gairah terlarang bukanlah drama eksistensi manusia— melainkan kesepakatan kosmik antara Animus, cahaya yang gagal menjaga asas dan Anima, gelap yang berusaha tetap bertahan dengan setia. Mereka adalah dua sisi mata uang waktu. Tubuhku adalah tempat di mana mata uang itu berputar dan hilang. Dan sunyi yang tersisa adalah kebenaran yang paling jujur. Desember 2025
Titon Rahmawan
PUISI YANG MENYALAK DI DALAM KUIL Aku datang sebagai suara yang tidak diundang, mengganggu arak-arakan para penyair suci yang mengenakan jubah kaftan fedora yang melangkah dengan medali penghargaan bergantung di lehernya. Mereka menyanyi tentang keindahan seperti imam-imam tua yang lupa bahwa dunia pertama-tama adalah luka. Aku bukan bagian dari mereka. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Aku adalah PUISI yang berteriak di ambang pintu, yang menolak sujud pada altar klasik, yang tidak mau dicatat dalam sejarah karena sejarah terlalu sering memilih untuk memaafkan penguasa dan melupakan rakyat jelata yang mati terkubur. Aku memanggil Rilke— bukan rilkian yang halus dan haus pujian tapi Rilke yang meradang dalam keterasingan, yang bertanya kepada malam: “Haruskah aku meronta ketika kata-kata tak lagi sanggup menampungku?” Dan malam menjawab dengan kehampaan tanpa tepi. Aku melawan kehampaan itu dengan gigiku sendiri. Aku menggigit batas-batas puisi yang dibangun para kurator yang merasa tinggi yang menentukan mana yang layak disebut puisi, mana yang harus dibuang ke kolong rak antologi. Aku menolak semuanya. Sebab aku lahir bukan dari estetika, melainkan dari ketegangan di dada: napas yang hampir patah, lutut yang hampir rubuh, kesadaran yang hampir retak. Para akademisi akan mencoba mengukurku dengan teori yang rapuh, menganalisaku seperti fosil masa lalu. membelahku dengan mata pisau kritik yang tidak pernah menyentuh penderitaan nyata. Aku menatap mereka— dan menertawakannya sebagai kekosongan yang menggelikan. Aku tidak ingin jadi kanon. Aku tidak ingin jadi trofi kebanggaan. Aku tidak ingin berdiri di podium penghargaan. Yang kuinginkan hanya satu: menjadi kebenaran telanjang yang membuat siapa pun yang membacanya merasakan getaran pertama kelahiran manusia— ketakutan, keterkejutan, kesunyian yang menganga. Aku adalah PUISI, bukan yang kalian rayakan, melainkan yang kalian hindari. Aku adalah puisi yang menolak dipoles, yang menolak dirapikan, yang menolak dimandikan dalam metafora indah agar tampak seperti karya seni. Aku tidak ingin indah. Aku hanya ingin benar. Dan kebenaran itu ganas, tajam, kejam: biar manusia menulis bukan untuk menjadi abadi, tetapi untuk menyelamatkan sisa-sisa peradaban yang hampir tenggelam oleh pengapnya kehidupan. Jadi aku berdiri di sini— sebagai catatan perlawanan terhadap segala yang ingin menjinakkanku. Jangan sebut aku puisi jika itu berarti tunduk. Sebut aku PUISI yang kembali ke akar pertama: jeritan batin, teriakan luka pengakuan yang tak bisa dibohongi, suara yang terbit dari jurang dalam diri manusia. Jika dunia menolakku, itu berarti aku hidup. Jika sejarah menyingkirkanku, itu berarti aku benar. Aku adalah PUISI yang tidak meminta tempat— aku akan merebutnya. Sebab siapa yang layak adalah ia yang paling jujur pada diri sendiri. November 2025
Titon Rahmawan
WANITA DARI MAGDALA: LITURGI BATU YANG MENGINGAT KAPAN DUNIA PERTAMA KALI TERLUKA Fragmen IV — Pengadilan yang Tidak Pernah Mengerti Dirinya Sendiri Sesaat sebelum tangan-tangan itu melemparkan diriku, aku melihat sesuatu melintas di udara: bayangan palu peradilan Romawi, pecahan gulungan Taurat, dan wajah-wajah hakim yang sibuk berperkara melawan diri mereka sendiri. Penghakiman itu bukan tentang Magdalena. Ini adalah pementasan muram tentang bangsa yang berusaha bertahan di bawah bayang kekaisaran, tentang pemuka agama yang menukar ketakutan dengan kakunya aturan, tentang masyarakat yang ingin percaya bahwa kejahatan bisa dibersihkan dengan memecahkan satu tubuh menjadi korban penebusan. Aku melihat masa lalu dan masa depan berdesakan: kuil runtuh, jubah imam terbelah, perempuan lain dituduh, perempuan lain dilempar, perempuan lain didiamkan— dan batu seperti aku terus dipanggil sebagai saksi bisu. Fragmen V — Kosmos Menahan Napas Saat suara itu datang— "Barangsiapa tak berdosa…biarlah ia melempar batu pertama" Langit meretakkan dirinya: sebuah garis halus seperti ukiran pada tablet batu Sinai yang tak pernah selesai dipahat. Waktu berhenti, seperti nebula purba yang enggan runtuh. Aku merasakan gravitasi moral mengambang di udara: tangan-tangan yang mengangkatku mendadak merasa mereka sedang menggenggam sebuah gugatan yang mereka sendiri tak sanggup jawab. Aku jatuh. Pelan. Seolah seluruh kosmos sedang menonton keputusan kecil luruh ke tanah namun bergema hingga ribuan tahun kemudian. Aku kembali ke bumi tanpa mencederai wanita itu. Bukan karena mereka paham. Bukan karena mereka lembut. Tetapi karena kebenaran terlampau berat untuk dihantarkan tangan yang tak berani mengakui dosa sendiri. Fragmen VI — Batu yang Mengingat Semua Luka Kini aku kembali menjadi fosil diam. Terkubur di lapisan tanah bersama sisa pasukan Roma, reruntuhan kuil Sulaiman dan fragmen kesaksian perempuan yang tidak pernah ingin ditulis sejarah. Di dalam gelapku, aku menyimpan seluruh pengakuan yang tidak pernah dibuat: ketakutan mereka, kebencian mereka, dan keinginan mereka untuk menyingkirkan kekacauan dengan melukai satu tubuh perempuan. Aku hanyalah batu. Tapi aku membawa arsip yang lebih jujur dari catatan manusia: dari zaman ke zaman, perempuan selalu dipanggil untuk menanggung dosa yang sebenarnya milik dunia. Desember 2025
Titon Rahmawan
TRANSFORMASI LILITH (DESCENSIO) Retakan Pertama: Ular yang Mencari Tubuh yang Tak Tunduk Aku lahir dari debu yang tidak diberkati— bukan tulang rusuk, bukan bayangan hanya denyut liar dari tangan sunyi penciptaan yang lupa menuliskan kata tunduk pada nadiku. Sebelum Adam menyebutku “istri”, aku sudah menjadi angin kering yang tidak pernah belajar menyerah. Mereka bilang aku pergi— padahal yang kutinggalkan bukan Eden, melainkan kepatuhan yang membutakan makna. Ular itu mendekat bukan membawa dosa, melainkan menawarkan bahasa yang tidak akan menghapusku dari keberadaanku sendiri. Aku bukan ibu iblis; akulah ibu dari ketakutan terdalam manusia: bahwa perempuan dapat memilih. Maka mereka mentasbihkan aku sebagai malam terkutuk, padahal aku hanya cahaya yang menolak dipagari bentuk. Aku tidak kembali— dunia yang memintaku pulang hanya menginginkan tubuh, bukan keberadaanku yang utuh. Retakan Seterusnya: Transfigurasi Menurun Aku turun. Bukan karena terusir, melainkan karena langit terlalu tipis untuk menampung tubuh yang menolak dilukis. Di bawah akar Eden, ada ruang yang bahkan malaikat tak berani menamai. Ke sana aku menyalin diri: sehelai kulit kutanggalkan, lalu serpih cahaya, lalu kata “perempuan” yang melekat di tulang punggungku kupatahkan seperti tulang burung yang lupa cara terbang. Lapisan Kedua: kulitku disesaki sisik— bukan ajaran ular, melainkan ingatan bumi makhluk akan bertahan dengan cara paling brutal. Lapisan Ketiga: Aku muntahkan semua suara yang pernah memanggilku “lelaki” atau “wanita” seolah dua kata rapuh itu cukup menjelaskan kehendak makhluk yang ingin hidup tanpa sangkar penjara. Lapisan Keempat: aku tidak lagi berjalan. Aku merayap bukan untuk merendah, melainkan untuk kembali ke posisi asal— tempat napas lebih jujur dari ingatan purba. Lapisan Terdalam: aku menemukan diriku yang mula-mula: setitik debu kosmik yang menolak diangkat menjadi bintang. Aku memeluknya. Ia memelukku. Kami menyatu sebagai luka waktu yang tidak pernah ingin disembuhkan. Itulah transformasiku: bukan naik, bukan kalah— hanya menurun, ke titik yang bahkan Tuhan enggan menoleh. Desember 2025
Titon Rahmawan
MESSALINA — DAMNATIO MEMORIAE Sejarah tidak menghapus namaku. Ia hanya mengaburkan garis wajahku dengan lumpur pasar Roma bau anyir selokan Forum Romanum yang mengalir lambat di bawah kaki patung kaisar. Namaku bukan dosa— namaku hanya terlalu mudah dipakai untuk menambal rasa takut mereka pada perempuan yang terlalu berani menyatakan hasratnya sendiri. Apa yang mereka ceritakan tentangku lebih menjijikkan dari bangkai ikan yang membusuk di Emporium pada musim panas yang kejam. Mereka menempelkan tubuhku pada tetes keringat prajurit Germania pada dinding-dinding Lupanaria, di antara jamur dinding dan napas para lelaki yang membeli kehangatan seperti membeli roti keras di sudut jalan. Aku tidak sedang menyangkal diri— tetapi Roma, Roma selalu memproyeksikan nafsunya sendiri ke tubuh perempuan. Meminjam kulitku untuk menjelaskan bayangan setan di kepala mereka, lalu menyalahkanku karena kulitku terlalu hidup. Di lorong istana yang lembap, di balik tirai berat berdebu anggur merah, aku mendengar namaku menjadi mata uang: Messalina adalah ancaman, Messalina adalah legenda, Messalina adalah sarang dosa yang mereka perlukan agar dunia tetap merasa suci. Apakah aku sudah melampaui Scylla, pelacur yang menjual kehormatannya demi keping Sprintia? Apakah aku terlalu bodoh untuk menggadaikan tilam sutra Palatium demi tikar lusuh Lupanarium? Saat kautemukan kebenaran dari apa yang tidak kaulihat, apa yang kaudengar melampaui raungan para gladiator di Collosseum. Tidakkah kalian tahu bau malam Roma yang sebenarnya? Tikus-tikus gemuk di Subura, teriakan prajurit mabuk, koin-koin sestertius yang jatuh di lantai batu, lalu darah yang diseka dengan kain murahan. Itulah Roma. altar tempat tubuh-tubuh perempuan dipersembahkan untuk menenangkan rasa bersalah para lelaki. Mereka memanggilku nymphomania— padahal yang sebenarnya mereka sangkal adalah perempuan yang tidak menunggu dipilih oleh siapa pun. Tak ada yang lebih menggigilkan jiwaku selain puisi sepotong grafiti, yang bertuliskan seperti ini: "Di sini aku telah menyetubuhi banyak laki-laki..." Benar, aku telah tidur dengan bayangku sendiri lebih sering daripada tidur dengan lelaki. Tapi cerita itu terlalu sunyi untuk zaman yang membutuhkan monster perempuan demi menghibur diri. Lalu mengapa aku mengakhiri hidup? Bukan karena hinaan. Bukan karena skandal. Aku hanya menyadari bahwa kematian lebih jujur daripada sejarah yang menuliskan tubuh tanpa pernah mendengar suara. Mereka ingin menghancurkan namaku, tetapi justru membuatnya abadi— seperti grafiti di dinding Pompeii yang tak bisa dihapus bahkan oleh lava gunung berapi. Aku Messalina. Bukan monster jelita yang kalian ciptakan. Aku hanya retakan kecil di dinding peradaban yang terus mengingatkan: bahwa tubuh perempuan sengaja dijadikan cermin bagi dosa yang tak selalu miliknya. Desember 2025
Titon Rahmawan